0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
60 tayangan10 halaman

Contoh Program K3 di Tempat Kerja

Dokumen tersebut memberikan 25 contoh program K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) yang dapat diterapkan di tempat kerja. Program-program K3 yang dijelaskan antara lain identifikasi bahaya, pelatihan K3, komunikasi K3, rambu K3, pelaporan insiden, konsultasi K3, manajemen risiko proses, dan Lock Out Tag Out.

Diunggah oleh

fikatri santi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
60 tayangan10 halaman

Contoh Program K3 di Tempat Kerja

Dokumen tersebut memberikan 25 contoh program K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) yang dapat diterapkan di tempat kerja. Program-program K3 yang dijelaskan antara lain identifikasi bahaya, pelatihan K3, komunikasi K3, rambu K3, pelaporan insiden, konsultasi K3, manajemen risiko proses, dan Lock Out Tag Out.

Diunggah oleh

fikatri santi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Ads

 Tentang Kami
 Teknis
 Organisasi
 Personal
 Berita K3
 Kerja sama
 Forum K3
 Search for







Home/Aspek Organisasi/25 Contoh Program K3 untuk Anda
Aspek OrganisasiDasar K3

25 Contoh Program K3 untuk


Anda

Agung Supriyadi, M.K.K.K. 26/10/2018


0 7 menit baca
Program K3 (keselamatan dan kesehatan kerja) menurut Canadian Centre for
Occupational Health and Safety(CCOHS) merupakan rencana tindakan yang pasti dan
dirancang untuk mencegah kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Sebagai
profesional di bidang Keselamatan dan Kerja, kita pastinya harus memiliki kemampuan
untuk membuat program K3.
[Link] memberikan inspirasi 25 contoh program K3 yang bisa diterapkan di
tempat kerja manapun baik di pabrik, rumah sakit, gedung, sekolah, proyek konstruksi,
dan lain-lain. Simak contoh program K3 dalam penjelasan berikut:

1. Identifikasi bahaya dan penilaian risiko


Program identifikasi bahaya dan penilaian risiko merupakan contoh program K3 yang
paling dasar dan sangat mempengaruhi program-program yang lain. Program ini
mengharuskan pekerja untuk dapat menyebutkan semua aktifitas yang ada di tempat
kerja baik rutin, non rutin, ataupun dalam keadaan darurat untuk kemudian diidentifikasi
bahaya serta risikonya. Setelah identifikasi dilakukan, kita kemudian dapat merencanakan
pengendalian terhadap risiko yang disebutkan.

Bentuk dari identifikasi bahaya dan penilaian risiko ini dapat bermacam-macam. Kita
mungkin paling sering menemukan job safety analysis dan Hazard Identification, Risk
Assessment and Determination Control (HIRADC). Adapun beberapa metode identifikasi
bahaya lain dikembangkan untuk mengidentifikasi bahaya dan risiko yang spesifik
seperti Hazop yang mengidentifikasi risiko keselamatan proses, REBA untuk risiko
ergonomik dan Kuesioner Survei Diagnosis Stres dalam Permenaker 5 Tahun 2018 untuk
mengidentifikasi faktor risiko psikologi di tempat kerja.
2. Identifikasi peraturan dan perundangan
Peraturan dan perundangan keselamatan dan kesehatan kerja dapat berasal dari
pemerintah dan kementerian, korporat perusahaan pusat dan sumber peraturan
perundangan K3 yang lain. Identifikasi peraturan perundangan ini berguna untuk
memastikan kepatuhan terhadap peraturan serta sebagai bekal untuk negosiasi kepada
manajemen dan pekerja juga sebagai bagian untuk memastikan kepatuhan terhadap
peraturan.

3. Penetapan tujuan dan program


Penetapan tujuan dan program K3 biasanya dilakukan di awal tahun. Program ini
haruslah disepakati oleh pihak manajemen dan juga pihak pekerja. Program ini
memberikan kita panduan untuk bekerja dan menjadi ukuran bagi kita tentang
kesuksesan sebuah program K3.

4. Pelatihan K3
Pelatihan K3 berfungsi untuk meningkatkan kompetensi pekerja dan juga bagi beberapa
pelatihan menjadi sarana kepatuhan terhadap peraturan dan perundangan K3. Pelatihan
K3 dapat dilakukan dari pihak internal seperti Ahli K3 Umum, tim HRD, dan tim P2K3
atau juga bisa dilakukan dari pihak eksternal seperti lembaga sertifikasi, PJK3, dan juga
dinas atau kementerian terkait. Sebelum dilakukan pelatihan, hendaknya pihak HRD
membuat identifikasi kebutuhan pelatihan dan juga rencana untuk pemenuhan pelatihan
tersebut.

Contoh pelatihan K3 misalnya adalah safety induction untuk pekerja baru, pengenalan
bahaya kimia, pengenalan alat pelindung diri. Adapun contoh pelatihan K3 untuk
memenuhi peraturan perundangan K3 misalnya adalah pelatihan Ahli K3 Umum,
pelatihan operator K3 forklift, pelatihan petugas utama K3 ruang terbatas.
5. Media Komunikasi K3 Cetak
Media komunikasi K3 cetak meliputi poster K3, spanduk K3, buku sosialisasi K3, dan lain-
lain. Program K3 ini biasanya yang paling terlihat ketika kita memasuki tempat kerja yang
menerapkan sistem manajemen K3. Dalam penyusunan media komunikasi K3 cetak ini,
kita diharapkan memilih material komunikasi yang paling efektif dan tidak menyinggung
para pekerja.

Kelebihan dari media komunikasi K3 cetak adalah mudah dalam pembuatan dan
pemasangannya. Kekurangan dalam program ini adalah perlu diganti secara berkala
karena pekerja yang sudah melihat bisa saja merasa bosan dan kemudian tidak dilihat
lagi oleh pekerja.

6. Media komunikasi K3 elektronik


Seiring dengan perkembangan zaman, muncul pula tekhnologi-tekhnologi yang
memberikan kita kesempatan dalam komunikasi K3. Contoh media elektronik yang
dapat kita manfaatkan adalah email perusahaan dan juga whatsapp di mana kita bisa
membuat grup yang khusus membahas tentang keselamatan dan kesehatan kerja.
7. Rambu K3
Rambu K3 merupakan salah satu media komunikasi K3 yang sederhana namun efektif
dalam penyampaian pesan. Rambu K3 ini bisa saja berupa rambu K3 larangan, perintah
ataupun peringatan. Rambu ini harus dipasang di tempat yang tepat dan mudah terlihat
sehingga akan menjadi lebih efektif.
8. Pelaporan K3
Ada beberapa pelaporan yang wajib dilaporkan kepada dinas terkait. Pelaporan tersebut
seperti pelaporan kegiatan P2K3 per 3 bulan sekali kepada dinas tenaga kerja dan
pelaporan kecelakaan kerja kepada BPJS Ketenagakerjaan ataupun kepada Dinas
Ketenagakerjaan. Setelah melaporkan, kita harus menyimpan bukti pelaporan kita agar
memastikan mampu telusur.
9. Konsultasi K3
Program ini memberikan kesempatan bagi seluruh pekerja untuk mendiskusikan
permasalahan K3 di area kerjanya. Apabila bisa, kita harus memberikan tindakan lanjutan
(follow up) terhadap konsultasi yang dilakukan. Jikalau tidak mungkin untuk diberikan
tindakan lanjutan, maka kita harus menjelaskan alasan-alasannya.
10. Ide berkelanjutan
Program ide berkelanjutan memungkinkan pekerja untuk memberikan solusi terhadap
permasalahan-permasalahan K3 yang ia temukan. Semua ide berkelanjutan ini dapat
dikompilasi dalam sebuah dokumen dan terus dipantau.

11. Kiken Yoochi Training (KYT)


Kiken Yoochi Training merupakan sebuah pelatihan yang dapat digunakan untuk
mengidentifikasi bahaya. Sebuah gambar bisa ditujukan kepada pekerja dan pekerja bisa
diskusi satu sama lain untuk menyepakati bahaya dan bagaimana cara pengendaliannya.
KYT ini biasanya dilakukan oleh perusahaan Jepang, namun tentunya tidak menjadi
masalah apabila perusahaan lain ingin menerapkannya. KYT ini bisa menjadi target dari
setiap department agar masing-masing department mau untuk melaksanakaan KYT.

12. Management visit


Program K3 yang ada, janganlah hanya berfokus kepada pekerja di lapangan tapi juga
harus mengarah ke setiap pihak termasuk kepada manajemen. Salah satu program yang
bisa kita lakukan adalah management visit yang merupakan program rutin bagi
manajemen untuk meninjau penerapan keselamatan dan kesehatan kerja di lapangan
serta berdialog kepada para pekerja.
Management visit ini dapat diintegrasikan dengan key performance indicator baik bagi
individu ataupun bagi departemen. Dalam management visit ini, manajemen akan
datang langsung ke lapangan, mengamati aktivitas yang dilakukan oleh pekerja,
memberikan solusi terhadap permasalahan yang ada dan melakukan pemeriksaan
terhadap program-program K3 yang telah dijalankan.
13. Safety talk
Safety talk merupakan briefing terkait keselamatan dan kesehatan kerja yang
disampaikan di hadapan para pekerja. Dalam safety talk, biasanya pekerja dikumpulkan
dalam sebuah area yang lapang untuk mendengarkan orasi, semangat, pengarahan,
penjelasan terkait dengan keselamatan dan kesehatan kerja. Biasanya pula, safety
talk hanya diberikan selama 5 menit sehingga sering disebut P5M (pembicaraan 5
menit).
14. Bulan K3
Bulan K3 dilaksanakan di setiap bulan Januari-Februari pada setiap tahunnya. Bulan K3
dirayakan sebab pada bulan Januari lah disepakati Undang-undang nomor 1 Tahun
1970. Berbagai macam perayaan terkait dengan Keselamatan dan kesehatan kerja dapat
dilaksanakan pada bulan ini. Berikut adalah inspirasi pelaksanaan program Bulan K3.
15. Prosedur K3
Prosedur keselamatan dan kesehatan kerja digunakan untuk memberikan panduan
tertulis kepada para pekerja untuk dapat bekerja dengan selamat dan sehat. Berbagai
macam prosedur dapat dibuat seperti prosedur dalam pembuatan sebuah produk,
prosedur pemeriksaan alat, dan prosedur tanggap darurat. Prosedur K3 ini haruslah
ditandatangani oleh pihak-pihak yang terkait seperti manajer HSE, manajer departemen
yang terdampak serta Plant Director.
16. Pemeriksaan alat dan mesin
Pemeriksaan alat dan mesin merupakan program K3 yang wajib untuk dilakukan karena
telah banyak diatur dalam regulasi K3. Contohnya pemeriksaan tangki timbun dan
bejana yang diatur dalam Permenaker nomor 37 Tahun 2016 dan Pesawat Tenaga
Produksi yang diatur dalam Permenaker nomor 38 Tahun 2016. Pemeriksaan alat dan
mesin ini dapat dilakukan secara internal oleh ahli yang berkompetensi dan dilakukan
secara eksternal yang dilakukan oleh Perusahaan Jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(PJK3).

Setelah dilakukan pemeriksaan, kita bisa menempelkan stiker terkait dengan status
keselamatan sebuah alat dan mesin. Stiker tersebut haruslah memliki jangka waktu
efektif sehingga jika masa efektif sudah habis, kita bisa melakukan pemeriksaan kembali.

17. Lock out Tag out (LOTO)


Lock out tag out merupakan mekanisme untuk mencegah energi berbahaya seperti
energi mekanik, tekanan, steam, listrik, dan lain-lain agar tidak memapar pekerja yang
sedang melakukan perbaikan. LOTO biasanya berbentuk gembok dan disertai dengan
label atau tagging. LOTO ini dipasang di sumber energi seperti breaker, valve dan switch.
Pemasangan LOTO ini harus benar dengan mengeliminasi secara sempurna energi yang
ada. Tulisan lebih lengkap tentang LOTO bisa dibaca di sini.
18. Process safety management
Secara umum Process Safety Management (PSM)/ Manajemen Keselamatan Proses (MKP)
mengacu kepada prinsip dan sistem manajemen kepada identifikasi, pengertian dan
pengontrolan pada bahaya akibat kegiatan proses produksi sebagai upaya perlindungan
pada area kerja.
PSM/MKP berfokus kepada:
– Pencegahan
– Persiapan
– Mitigasi
– Respons
– Pemulihan
dari bencana industri
Proses yang dimaksud dalam PSM tersebut adalah untuk perusahaan yang menyimpan,
memproduksi dan menggunakan bahan kimia berbahaya ataupun kombinasi dari
aktifitas tersebut.

19. Contractor safety management system


Kontraktor adalah perusahaan/orang yang diminta oleh pemilik bisnis untuk jasa/produk
tertentu yang dibutuhkan oleh pemilik bisnis. Dalam banyak kasus, pekerjaan yang
dilakukan kontraktor memiliki bahaya-bahaya keselamatan kerja baik untuk kontraktor
itu sendiri ataupun untuk tempat kerjanya. Hal ini disebabkan karena kontraktor belum
mengerti tentang bahaya-bahaya dan standar keselamatan yang ada di tempat kerja
pemilik bisnis, beberapa kontraktor juga bukanlah tenaga kerja terlatih/terdidik.

Ilustrasi Pekerjaan Kontraktor

Untuk menghindari kecelakaan kerja yang disebabkan oleh kontraktor, setiap pemilik
bisnis harus mengembangkan Sistem Manajemen Keselamatan Kerja Kontraktor
(Contractor Safety Management System) di tempat kerjanya. Sistem Manajemen
Keselamatan Kerja Kontraktor ini merupakan persyaratan wajib bagi semua perusahaan
yang ingin mendapatkan sertifikasi OHSAS 18001 karena sistem ini telah diatur pada
klausul 4.4.6 Operational Control.
CSMS ini akan berbeda pada setiap jenis industri dan berbeda pula pada setiap tempat
kerja. Namun, apabila kita generalisir, CSMS akan mencakup 3 bagian yaitu pelaksanaan
sebelum pekerjaan, saat pekerjaan dan setelah pekerjaan.

20. Ergonomi
Faktor ergonomi adalah faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas tenaga kerja,
disebabkan oleh ketidaksesuaian antara fasilitas kerja yang meliputi cara kerja, posisi
kerja, alat kerja, dan beban angkat terhadap Tenaga Kerja. Tempat kerja yang tidak
memperhatikan faktor ergonomic dapat menimbulkan penyakit akibat kerja ataupun
kecelakaan kerja.

Faktor ergonomi dapat dimulai dengan analisa risiko ergonomi menggunakan RULA,
REBA, ROSA ataupun alat penilaian yang lain. Kemudian berdasarkan analisa, kita dapat
melakukan tindakan perbaikan dalam hal ergonomi.

21. Investigasi kecelakaan


Investigasi kecelakaan berfungsi untuk mencari penyebab dari kecelakaan dan mampu
untuk mencegah kecelakaan yang sama di masa depan kelak. Investigasi kecelakaan
dapat menggunakan beberapa metode seperti 5 why, fishbone, fault tree analysis, FRAM,
dan lain-lain.
22. Pengukuran lingkungan kerja
Pengukuran lingkungan kerja dapat dilakukan dengan berdasarkan Peraturan Menteri
Tenaga Kerja Nomor 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Lingkungan Kerja. Faktor-faktor lingkungan kerja yang diukur meliputi Faktor Kimia,
Faktor Biologi, Faktor Fisika, Faktor Ergonomi, dan Faktor Psikologi.

Pengukuran dapat dilakukan dalam jangka waktu tertentu dengan penguji bisa dari
Perusahaan Jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PJK3) ataupun dari tenaga kerja yang
berkompeten. Hasil dari pengukuran dapat digunakan untuk meningkatkan keselamatan
dan kesehatan kerja lingkungan kerja.

23. Medical Check UP


Medical Check Up merupakan pemeriksaan kesehatan rutin yang dilakukan oleh
perusahaan kepada para pekerjanya. Pemeriksaan kesehatan harus disesuaikan dengan
risiko yang terdapat pada tempat kerja, misalnya ketika terdapat kebisingan di tempat
kerja maka harus disediakan audiometri, ketika ada banyak paparan kepada pernafasan,
maka seharusnya dilakukan pemeriksaan spirometri.
24. Tanggap Darurat
Program tanggap darurat meliputi seluruh program yang berfungsi untuk memperkuat
organisasi ketika ada hal yang bersifat darurat seperti kebakaran, gempa bumi,
keracunan, dan lain-lain. Program ini meliputi persiapan sumber daya manusia yang
berkompeten terhadap tanggap darurat, peralatan tanggap darurat yang memadai,
pelatihan yang rutin dan lain-lain.

25. Audit K3
Audit Keselamatan dan kesehatan kerja bisa membantu kita untuk memeriksa
implementasi program K3 yang telah kita jalankan. Melalui audit, kita dapat memperoleh
masukan pandangan yang baru dari auditor. Temuan-temuan audit yang ditentukan
merupakan kesempatan bagi kita untuk meningkatkan manajemen K3. Audit yang
dilaksanakan bisa berdasarkan Sistem Manajemen K3 PP 50 Tahun 2012, OHSAS 18001
dan peraturan lain yang terkait dengan keselamatan dan kesehatan kerja.

Ilustrasi audit K3

Itulah 25 program K3 yang bisa diterapkan di tempat kerja Anda. Apakah Anda memiliki
contoh program K3 lain yang bisa kita terapkan? Tulis saja di kolom komentar.
Bagikan

Anda mungkin juga menyukai