0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan52 halaman

Dermatitis Alergi pada Pekerja Rumput Laut

Dokumen tersebut membahas tentang dermatitis kontak alergi pada pekerja rumput laut. Faktor risiko yang diteliti antara lain penggunaan alat pelindung diri dan lingkungan kerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko terjadinya dermatitis kontak alergi pada pekerja rumput laut.

Diunggah oleh

shendy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan52 halaman

Dermatitis Alergi pada Pekerja Rumput Laut

Dokumen tersebut membahas tentang dermatitis kontak alergi pada pekerja rumput laut. Faktor risiko yang diteliti antara lain penggunaan alat pelindung diri dan lingkungan kerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko terjadinya dermatitis kontak alergi pada pekerja rumput laut.

Diunggah oleh

shendy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MINI PROJECT

Nunukan, September 2019


KEMENTERIAN KESEHATAN

GAMBARAN KEJADIAN DERMATITIS KONTAK ALERGI PADA


PEKERJA RUMPUT LAUT BERDASARKAN FAKTOR RESIKO DI
KELURAHAN TANJUNG HARAPAN KECAMATAN NUNUKAN
SELATAN, KALIMANTAN UTARA
TAHUN 2019

PENYUSUN
dr. Qudrotur Rahman
dr. Oktafira Eka A
dr. Novita Limbu Tasik
dr. Masliah Oroh
dr. Yunellia Z Patasik
dr. Nur Laela Sari

PEMBIMBING

dr. EVI MARYANI

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


PUSKESMAS SEDADAP
NUNUKAN
2019
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Gangguan kesehatan kulit pada pekerja rumput laut merupakan salah satu
penyakit berbasis lingkungan. Penyakit ini timbul akibat dari beberapa faktor
seperti faktor lingkungan, karakteristik paparan, faktor-faktor individu seperti
umur, jenis kelamin serta higiene perorangan. terhadap kelainan kulit dipengaruhi
oleh faktor umur, jenis kelamin, lama paparan, kepatuhan Higiene perorangan
yang tidak memadai dapat mengakibatkan infeksi jamur, infeksi bakteri, virus,
parasit, gangguan kulit dan keluhan [Link] kondisi lingkungan kerja
dalam keadaan kotor dan lembab, hal ini akan mengakibatkan penyakit kulit lebih
mudah berkembang1,2.
Data di Inggris menunjukan bahwa dari 1,29 kasus/1000 pekerja
merupakan dermatitis akibat kerja. Apabila ditinjau dari jenis penyakit kulit akibat
kerja, maka lebih dari 95 % merupakan dermatitis kontak3.
Prevalensi dermatitis di indonesia sangat bervariasi. pada pertemuan
spesialis kulit tahun 2009 dinyatakan sekitar 90% penyakit kulit akibat kerja
merupakan dermatitis kontak, baik iritan maupun alergik penyakit kulit akibat
kerja yang merupakan dermatitis kontak sebesar 92,5%, sekitar 5,4% karena
infeksi kulit dan 2,1% penyakit kulit karena sebab lain. pada studi epidemiologi,
indonesia memperlihatkan bahwa 97% dari 389 kasus adalah dermatitis kontak,
dimana 66,3% diantaranya adalah dermatitis kontak iritan dan 33,7% adalah
dermatitis kontak alergi2,4.
Rumput laut merupakan salah satu komuditi hasil laut yang penting,karena
mudah dibudidayakan dan mempunyai kegunaan yang sangat luas, yaitu untuk
bahan makanan, industri farmasi, industri kosmetik, industri tekstil, industri kulit,
obat-obatan dan lain-lain untuk pasaran luar negeri maupun ekspor. Oleh karena
itu, disaat krisis ekonomi dan moneter saat ini sangat cocok untuk melakukan
deversifikasi usaha lain selain menangkap dan melakukan budidaya ikan. Oleh
karena itu banyak masyarakat disekitar daerah pesisir yang beralih pekerjaan yang
dulunya nelayan sekarang menjadi pekerja rumput laut 2,5.
Gangguan kesehatan kulit pada pekerja rumput laut merupakan salahsatu
penyakit berbasis lingkungan. PenyakitPenyakit ini timbul akibat dari beberapa
faktor seperti faktor lingkungan, karakteristik paparan, karakteristik agen, dan
faktor-faktor individu. Higiene perorangan yang tidak memadai dapat
mengakibatkan infeksi jamur, infeksi bakteri, virus, parasit, gangguan kulit dan
keluhan lainnya5.
Masyarakat umumnya beranggapan bahwa penyakit kulit bukan penyakit
yang membahayakan sehinggga tidak perlu penanganan dengan segera jika belum
dalam keadaan parah. Jika keluhan gangguan kulit tidak dengan cepat
ditanggulangi maka lama kelamaan akan menjurus ke arah gangguan kulit yang
lebih serius.
Insiden Kejadian Dermatitis Kontak Alergi pada pasien yang berobat di
Puskesmas Sedadap termasuk 10 penyakit terbanyak di urutan ke 5 selama
beberapa bulan terakhir di tahun 2019. Maka dari itu timbulah keinginan kami
untuk mengetahui faktor resiko apa saja yang menjadi penyebab DKA.

1.2. Rumusan Masalah


Bagaimana pengaruh Penggunaan APD ( Alat Pelindung Diri ) terhadap
kejadian dermatitis kontak alergi pada Pekerja lumput laut di wilayah kerja
Pukesmas Sedadap ?

1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum


Untuk mengetahui Faktor Resiko terjadinya Dermatitis kontak
alergi pada pekerja rumput laut di wilayah kerja Puskesmas Sedadap tahun
2019 .

1.3.2. Tujuan Khusus


Untuk mengetahui Faktor risiko ketaatan pemakaian Alat
Pelindung Diri (APD) dengan kejadian dermatitis kontak alergi
pada pekerja rumput laut di wilayah kerja Puskesmas Sedadap
tahun 2019.

1.4. Manfaat Penelitian


1. Memberikan informasi kepada Puskesmas dan Dinas Kesehatan
mengenai faktor resiko terjadinya Dermatitis Kontak Alergi pada
pekerja rumput laut.
2. Menambah ilmu pengetahuan kepada para sejawat maupun tenaga
medis lainnya
3. Bagi peneliti sendiri merupakan pengalaman berharga dalam
memperluas wawasan dan pengetahuaan. Terkhusus apa yang diteliti
olehpeneliti.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Umum Tentang Dermatitis Kontak

2.1.1. Definisi dermatitis kontak


Dermatitis kontak adalah respon peradangan kulit akut atau kronik
terhadap paparan bahan iritan eksternal yang mengenai kulit. Dikenal dua macam
jenis dermatitis kontak yaitu dermatitis kontak iritan yang timbul melalui
mekanisme non imunologik dan dermatitis kontak alergik yang diakibatkan
mekanisme imunologik dan dermatitis kontak alergik yang diakibatkan
mekanisme imunologik yang spesifik6.

2.2. Jenis Dermatitis Kontak

2.2.1. Definisi Dermatitis Kontak Iritasi


1) Definisi
Dermatitis kontak iritasi adalah efek sitotoksik lokal langsung dari
bahan iritan baik fisik maupun kimia, yang bersifat tidak spesifik, pada
sel-sel epidermis dengan respon peradangan pada dermis dalam waktu dan
konsetrasi yang cukup. Dermatitis kontak iritan peradangan yang
disebabkan oleh zatyang ditemukan pada tempat kerja yang bersentuhan
langsungdengan kulit7,8.
2) Epidemiologi
Di Amerika, Dermatitis Kontak Iritan sering terjadi pada pekerjaan
yang melibatkan kegiatan mencuci tangan atau paparan berulang pada
kulit terhadap air, bahan makanan atau iritan lainnya. Pekerjaan yang
berisiko tinggi meliputi pembatu rumah tangga, pelayan rumah sakit,
tukang masak, dan penata rambut. Pekerjaan yang berisiko tinggi meliputi
pembatu rumah tangga, pelayan rumah sakit, tukang masak, dan penata
rambut. Prevalensi dermatitisermatitis tangan karena pekerjaan ditemukan
sebesar 55,6% di intensive care unit dan 69,7% pada pekerja yang sering
terpapar (dilaporkan dengan frekuensi mencuci tangan >35 kali setiap
pergantian). Penelitian menyebutkan frekuensi mencuci tangan >35 kali
setiap pergantian memiliki hubungan kuat dengan dermatitis tangan karena
pekerjaan (odds ratio 4,13) 10.
Insidensi dermatitis kontak iritan ini sebenarnya sulitditentukan
dengan akurat, hal ini dikarenakan data epidemiologi yang terbatas, selain
itu banyak pula pasien dengan dermatitis kontak iritasi yang tidak datang
ke sarana kesehatan dan lebih memilihmenanganinya dengan menghindari
paparan terhadap agen9.
3) Etiologi
Penyebab munculnya DKI adalah bahan yang bersifat
iritan,misalnya bahan pelarut, deterjen, minyak pelumas, asam alkali,
serbuk kayu, bahan abrasif, enzim, minyak, larutan garam konsentrat,
plastik berat molekul rendah atau bahan atau bahan kimia higroskopik.
Kelainan kulit yang muncul bergantung pada beberapa faktor, meliputi
faktor dari iritan itu sendiri, faktor lingkungan dan faktor individu
penderita10.
Faktor lingkungan juga berpengaruh pada dermatitis kontak iritan,
misalnya perbedaan ketebalan kulit di berbagai tempat menyebabkan
perbedaan permeabilitas; usia (anak dibawah umur 8 tahun lebih muda
teriritasi); ras (kulit hitam lebih tahan daripada kulit putih), jenis kelamin
(insidensi dermatitis kontak alergi lebih tinggi pada wanita), penyakit kulit
yang pernah atau sedang dialami (ambang rangsang terhadap bahan iritan
turun), misalnya dermatitis atopik6.
Sistem imun tubuh juga berpengaruh pada terjadinya dermatitis ini.
Pada orang-orang yang immunocompromised, baik yang diakibatkan oleh
penyakit yang sedang diderita, penggunaan obat-obatan, maupun karena
kemoterapi, akan lebih mudah untuk mengalami dermatitis kontak6
4) Gambaran Klinis
Kelainan kulit yang terjadi sanagat beragam, bergantung pada sifat
iritan. Iritan kuat memberi gejala akut, sedang iritan lemah memberi gejala
kronis. Selain itu juga banyak faktor yang mempengaruhi sebagaimana
yang telah disebutkan, yaitu faktor individu (misalny, ras, usia,loassi,atopi,
penyakit kulit lain), faktor lingkungan (misalnya, suhu dan kelembaban
udara, oklusi). Berdasarkan penyebab dan pengaruh faktor-faktor tersebut
ada yang mengklasifikasi DKI (Dermatitis Kontak Iritasi) menjadi sepuluh
macam yaitu : DKI akut, lambat akut (acute delayed ICD), reaksi iritan,
kumulatif, traumatik, eksikasi ekzematik, pustular dan akneformis, non
eritematosa, dan subjekif. Ada pula yang membaginya menjadi dua
kategori yaitu kategori mayor terdiri atas DKI akut termasuk luka bakar
kimiawi, dan DKI kumulatif. Kategori lain terdiri atas : DKI lambat akut,
reaksi iritasi, DKI traumatik, DKI eritemtosa dan DKI subyektif6.
5) Diagnosis
Diagnosis DKI didasarkan anamnesis yang cermat danpengamatan
gambaran klinis. DKI akut lebih mudah diketahuikarena munculnya lebih
cepat sehingga penderita pada umumnya masih ingat apa yang menjadi
penyebabnya. Sebaliknya DKI kronis timbul lambat serta mempunyai
variasi gambaran klinis yang luas, sehingga kadang sulit dibedakan dengan
DKA. Untuk ini diperlukan uji tempel dengan bahan yang dicuriga. Pada
kasus dermatitis kontak akibat kerja, anamnesis yang bisa digali pada
pasien adalah sebagai berikut2,6:
a) Waktu pertama kali munculnya gejala klinis. Biasanya orang
cenderung mengingat fase eksaserbasi yang menyebabkan
orangorang pergi ke pelayanan medis daripada awal munculnya
gejala.
b) Lokasi pertama munculnya gejala [Link] biasanya
muncul pertama kali pada tangan, pada kasus yang jarang bisa
mucul pada pergelangan tangan, lengan bawah, kaki bagian bawah
dana wajah.
c) Penyebaran klinis, penyebaran dari tangan sampai kaki atau ke
muka biasanya terjadi pada dermatitis kontak alergik, tapi
kadangkadangbisa terjadi pada dermatitis kontak iritan yang berat.
d) Riwayat penyakit sebelumnya dan status kesehatan pasien
perludipertanyakan kulit. Adanya riwayat dermatitis
atopikmempermudah pekerja terkena dermatitis kontak iritan pada
pekerjaannya yang sering dan berulang-ulang kontak dengan bahan
iritan. Selain itu, kebiasaan kebersihan diri, terutama dalam
mencuci tangan, juga patut ditanyakan. Pekerja sering mencuci
dengan menggunakan bahan pelarut atau iritan kuat untuk
menghilangkan material yang susah dibersihkan.
e) Riwayat pekerjaan. Pertanyaan penting yang perlu ditanyakan
tentang pekerjannya, seperti apa jenis pekerjannya, lama bekerja,
bagaimana proses kerjanya, bahan apa saja dan seberapa
seringkahbahan tersebut terpajan dengan kulitnya, apakah pekerja
menggunakan pelindung dan bagaimana cara pembersihan kulit
disana uji tempel digunakan untuk menentukan bahan-bahan
alergen yang menyebabkan dermatitis kontak, seperti
chromatepada semen. Konsentrasi yang digunakan harus tepat.
karena itu, intepretasi hasil reaksi uji tempel harus dilakukandengan hati-
hati. Reaksi yang positif mungkin mendukung diagnosis DKA sebaliknya reaksi
yang negatif dapat mendukung diagnosis DKI.
Uji tempel wajib dilakukan pada semua kasus dermatitis tangan. Ketika
bahan alergen dicurigai, pemeriksa harus melakukan uji tempel untuk
menegakkan diagnosis. Hal ini perlu diingat bahwa diagnosis uji tempel dirancang
sebagai tes untuk alergik dan bukan untuk bahan iritan.
2.2.2 Dermatitis Kontak Alergi
1) Definisi
Dermatitis Kontak Alergik adalah reaksi hipersensitivitas tipeIV
terhadap agen kimiaeksternal. Bukti menunjukkan bahwa kemampuan
untuk disentasitasi terhadap agen spesifik, mempunyai basis genetik.
Sedangkan menurut NationalOccupational Health and Safety Commision,
2006 menjelaskan Dermatitis kontak alergi adalah dermatitis yang
disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas tipe lambat terhadap bahan-bahan
kimia yang kontak dengan kulit dan dapat mengaktivasi reaksi alergi6,11.
2) Epidemiologi
Bila dibandingkan dengan dermatitis kontak iritan, jumlahpenderita
dermatitis kontak alergik lebih sedikit, karena hanya mengenai orang yang
kulitnya sangat peka (hipersensitif). Dermatitis kontak iritan timbul pada
80% dari seluruh penderita dermatitis kontak sedangkan dermatitis kontak
alergik kira-kira hanya 20%. Sedangkan insiden dermatitis kontak alergik
terjadi pada 3-4% dari populasi penduduk. Menurut laporan Internasional
Labour Organization terbanyak dijumpai pada tukang batu &semen 33%,
pekerja rumah tangga 17% dan pekerja industri logam dan mesin 11%
sedangkan tenaga kesehatan 1%. 15 Sejak tahuan 1974 insiden penyakit
kulit akibat kerja telah menurun di Amerika Serikat, namun banyak kasus-
kasus yang tidak pernah dilaporkan, baik akibat tidak terdiagnosis sebagai
penyakit akibat kerja oleh dokter atau penderita atau telah diterapi sebagai
dermatosis yang bukan disebabkan oleh pekerjaan. Kasus-kasus yang tidak
dilaporkan ini diperkirakan mencapai 20-50 kali lipat dari jumlah yang
dilaporkan6.
3) Etiologi
Penyebab dermatitis kontak alergik adalah alergen, paling seringberupa
bahan kimia dengan berat molekul kurang dari 500-1000 Da, yang juga disebut
bahan kimia sederhana. Dermatitis yang timbul dipengaruhi oleh potensi
sensitisasi alergen, derajat pajanan, dan luasnya penetrasi di kulit. Penyebab
utama kontak alergen di Amerika Serikat yaitu dari tumbuh-tumbuhan. Sembilan
puluh persen dari populasi mengalami sensitisasi terhadap tanaman dari genus
Toxicodendron, misalnya poison ivy, poison oak dan poison sumac.
Toxicodendron mengandung urushiol yaitu suatu campuran dari highly antigenic
3- enta decylcathecols. Bahan lainnya adalah nikel sulfat (bahan-bahan
logam),potassium dichromat (semen, pembersih alat -alat rumah tangga),
formaldehid, etilendiamin (cat rambut, obat-obatan), mercaptobenzotiazol (karet),
tiuram (fungisida) dan parafenilendiamin (cat rambut, bahan kimia fotografi)6.
4) Gambaran Klinis
Penderita umumnya mengeluh gatal. Kelainan kulit bergantungpada
keparahan dermatits dan lokasinya. Pada yang akut dimulai dengan bercak
eritematosa yang berbatas jelas kemudian diikuti edema, papulovesikel, vesikel
atau bula. Vesikel atau bula dapat pecah
menimbulkan erosi dan eksudasi (basah). DKA akut di tempat tertentu, misalnya
kelopak mata, penis, skrotum, eritema, dan edema lebih dominan daripada vesikel.
Pada yang kronis terlihat kulit kering, berskuama, papul, likenifikasi, dan
mungkin juga fisur, batasnya tidak
jelas. Kelainan ini sulit dibedakan dengan dermatitis kontak iritan kronis:
mungkin penyebabnya juga campuran. DKA dapat meluas ke tempat lain,
misalnya dengan cara autosentitisasi. Skalp, telapak tangan dan kaki relatif
resisten terhadap DKA6,11.
a) Fase akut
Kelainan kulit umumnya muncul 24-48 jam pada tempat
terjadinyakontak dengan bahan penyebab. Derajat kelainan kulit yang
timbul bervariasi ada yang ringan ada pula yang berat. Pada yang ringan
mungkin hanya berupa eritema dan edema, sedang pada yang berat selain
eritema dan edema yang lebih hebat disertai pula vesikel atau bula yang
bila pecah akan terjadi erosi dan eksudasi. Lesi cenderung menyebar dan
batasnya kurang jelas. Keluhan subyektif berupa gatal6.
b) Fase Sub Akut
Jika tidak diberi pengobatan dan kontak dengan alergen sudahtidak ada
maka proses akut akan menjadi subakut atau kronis. Pada fase ini akan
terlihat eritema, edema ringan, vesikula, krusta dan pembentukan papul-
papul6.
c) Fase Kronis
Dermatitis jenis ini dapat primer atau merupakan kelanjutan
darifase akut yang hilang timbul karena kontak yang berulang-ulang. Lesi
cenderung simetris, batasnya kabur, kelainan kulit berupa likenifikasi,
papula, skuama, terlihat pula bekas garukan berupa erosi atau ekskoriasi,
krusta serta eritema ringan. Walaupun bahan yang dicurigai telah dapat
dihindari, bentuk kronis ini sulit sembuh spontan oleh karena umumnya
terjadi kontak dengan bahan lain yang tidak dikenal6.

5) Diagnosis
Untuk menetapkan bahan alergen penyebab dermatitis kontakalergik
diperlukan anamnesis yang teliti, riwayat penyakit yanglengkap, pemeriksaan
fisik dan uji tempel data yang berasal darianamnesis mengenai kontakan yang
dicurigai selain itu pertanyaan mengenai hobi, pekerjaan, obat yang pernah
digunakan, kosmetik dan bahan-bahan yang menimbulkan alergi, penyakit kulit
yang pernah dialami, riwayat atopik keluarga. Dengan melihat lokasi dan pola
kelainan kulit dapat diketahui kemungkinan penyebabnya Kelainan kulit
seringkali dapat diketahui kemungkinan penyebabnya. Misalnya, di ketiak oleh
deodoran, di pergelangan tangan oleh jam tangan, dan di kedua kaki oleh sepatu.
Pemeriksaan hendaknya dilakukan pada seluruh permukaan kulit, untuk melihat
kemungkinan kelainan kulit lain karena sebab-sebab endogen Pelaksanaan uji
tempel dilakukan setelah dermatitisnya sembuh (tenang), bila mungkin setelah 3
minggu. Tempat melakukan uji tempel biasanya di punggung, dapat pula di
bagian luar lengan atas. Bahan uji diletakkan pada sepotong kain atau kertas,
ditempelkan pada kulit yang utuh, ditutup dengan bahan impermeabel, kemudian
direkat dengan plester. Setelah 48 jam dibuka. Reaksi dibaca setelah 48 jam (pada
waktu dibuka), 72 jam dan atau 96 jam. Untuk bahan tertentu bahkan baru
memberi reaksi setelah satu minggu. Hasil positif dapat berupa eritema dengan
urtikaria sampai vesikel atau bula. Penting dibedakan, apakah reaksi karena alergi
kontak atau karena iritasi, sehubungan dengan konsentrasi bahan uji terlalu tinggi.
Bila oleh karena iritasi, reaksi
akan menurun setelah 48 jam (reaksi tipe decresendo), sedangkan reaksi alergi
kontak makin meningkat (reaksi tipe crescendo)6.

2.2.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Dermatitis Kontak


Berdasarkan tinjauan kepustakaan faktor-faktor yang mempengarhui
kejadian dermatitis, maka peneliti sependapat untuk mengelompokkannya
menjadi dua seperti pendapat Suryani (2011), yaitu:
a. Faktor Langsung
1) Bahan kimia
2) Lama kontak

b. Faktor Tidak Langsung


1) Suhu dan kelembaban
2) Masa kerja
3) Usia
4) Jenis kelamin
5) Ras
6) Riwayat penyakit sebelumnya
7) Personal higiene
8) Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
Gambar 2. Gambaran dermatitis kontak akibat rumpur laut.

2.2.4. Pengobatan
Pengobatan dermatitis akibat kerja yang tepat harus didasarkan
pemeriksaan medis, dengan menyingkirkan penyebabnya. Tetapi, seperti
diketahui penyebab dermatitis multi faktor, kadang juga tidak diketahui pasti.
Pengobatan bersifat simtomatis, yaitu dengan menghilangkan atau mengurangi
keluhan dan menekan peradangan. Pekerja harus segera menghindari agen
penyebab bila dermatitis yang terjadi berat. Perubahan [Link]
mungkin diperlukan. Pekerja yang terkena sakit berat harus diberi cuti sakit atau
rawat inap rumah sakit. Pekerja denganpenyakit kulit yang ringan harus
dianjurkan bekerja lagi dengan pakaian pelindung dan diberi saran untuk
memperhatikan kerja yang baik. Pengobatan dermatitis tergantung dari berat
ringannya penyakit. Dermatitis akut harus diobati dengan kompres basah
menggunakan air garam atau larutan kalium (1:10.000) sampai mongering.
Dermatitis kronis diobati dengan steroid topikal dalam bentuk krim atau salep
potensi ringan misalnya hidrokortison, betamason valerat, fliokinolon. Steroid
kuat seperti klobetasol dipropinat harus dihindari atau hanya dipakai dalam jangka
waktu pendek karenaterdapat kemungkinan efek samping obat6.
Dianjurkan untuk menghindari preparat kombinasi steroid atau antibiotika
dan antijamur karena dapat menimbulkan masalah berupa sensitisasi. Alergi
kontak terhadap kandungan preparat yaitu neomisin dan kuinolin tidak jarang
terjadi. Antibiotikal oral harus diberikan bila ada kecurigaan infeksi bakteri
sekunder. Antihistamin oral harus diberikan untuk mengurangi rasa gatal.
Penyakit kulit akibat kerja yang lain diobati sesuai diagnosis, misalnya kutaneus
larva migran dengan cryotherapy atau obat antihelmintik per oral dan
kromomikosis dengan obat antijamur per oral6,12.

2.3 Tinjauan Umum Tentang Rumput laut


1. Jenis Rumput Laut
Jenis rumput laut yang paling banyak dibudidayakan di Indonesia
adalah dari kelas Rhodophyceace, sebagian besar rumput laut yang
diperjualbelikam merupakan rumput laut kelas ini yaitu Eucheuma
spinosum. Eucheuma spinosum merupakan rumput laut lokal Sulawesi
Selatan dengan ciri-ciri yaitu thallus berbentuk silindris, percabangan
thallus berujung runcing atau tumpul dan ditumbuhi nodulus (tonjolan-
tonjolan), berupa duri lunak yang mengelilingi cabang. Habitat Eucheuma
spinosum tubuh melekat pada rataan terumbu karang, batuan, benda keras
dan cangkang kerang. Eucheuma spinosum memerlukan sinar matahari
untuk proses fotosintesis sehingga hanya hidup pada lapisan [Link]
satu jenis rumput laut lainnya yang banyakdibudidayakan adalah
Eucheuma cottonii. Jenis ini mempunyai nilaiekonomis penting karena
sebagai penghasil karaginan dan seringkali ditanam pada waktu musim
hujan. Menurut Jannah (2006) rumput laut jenis Eucheuma
alvarezii(Eucheuma cottonii) telah dibudidayakan dengan cara diikat pada
tali sehingga tidak perlu melekat pada substrat karang atau benda lain.
Selanjutnya Atmadja, dkk (1996), menyatakan bahwa rumput laut jenis
Eucheuma cotonii memiliki cirri-ciri yaitu: thallus silidris, permukaan
licin, mempunyai tulang rawan (cartilageneus), serta berwarna hijau
terang, hijau olive dan coklat kemerahan. Percabangan thallus berujung
runcing atau tumpul, ditumbuhi nodulus (tonjolan tonjolan) dan duri
lunak/tumpul, percabangan bersifat alternates (berseling), tidak teratur,
serta dapat bersifat dichotomus (percabangan dua-dua) atau trichotomus
(atau system percabangan tiga-tiga)13,14.
Gambar 2. Dikutip dari [Link]
jenis-rumput-laut.

2. Cara Pengolahan Rumput Laut


Menurut Anggadiredja dkk (2010) dalam Putri (2012).Menyebutkan bahwa
penanaman rumput laut dapat dilakukandengan beberapa metode, yaitu: metode
rakit apung (floating rackmethod), lepas dasar (off bottom method) dan rawai
(long linemethod)14.
a. Metode Rakit Apung (Floating Rack Method): Metode iniditerapkan
pada perairan yang lebih dalam, caranya yaitu: rumput laut diikatkan pada rakit
apung yang terbuat dari bambu dengan ukuran 2,5 x 5 m, rakit apung dibuat
dalam satu rangkaian yang
masing-masing rangkaian terdiri dari lima unit dengan jarak antar unit satu meter,
kedua ujung rangkaian diikatkan dengan tali yang ujungnya diberi pemberat atau
jangkar agar rakit tidak hanyut oleh arus atau gelombang. Jarak tanam antar
rumput laut sekitar 25 x 25 cm dengan berat rumput laut 100 g untuk setiap
ikatan.
b. Metode Lepas Dasar (Off Bottom Method): Penanaman rumputlaut
dengan metode ini dilakukan pada dasar perairan, caranya yaitu: dua buah patok
dipancangkan pada dasar perairan denganjarak 2,5- 5 m, kedua patok
dihubungkan dengan tali pancing atau
tali yang kuat, tinggi kedudukan tali penghubung dari dasar antara 10-50 cm.
Sebaiknya juga jarak disesuaikan dengan kedalaman pada air surut terendah.
Ikatkan bibit masing-masing seberat 75- 150 g, yang diikat dengan menggunakan
tali rafia, tiap ikatan terdiri dari 2-3 thalus, kemudian diikatkan pada tali pancing
dengan jarak 20-25 cm.
c. Metode Rawai (Long Line Method): merupakan metode yangpaling
banyak diminati karena disamping fleksibel dalam pemilihan lokasi juga biaya
yang dikeluarkan jauh lebih murah.
Caranya: ikat bibit rumput laut pada
tali utama yang panjangnya
mencapai 50-75 m dengan jarak 25
cm ikatkan tali jangkar pada kedua ujung tali utama yang di bawahnya
sudahdiikatkan pada jangkar, batu karang atau batu pemberat, untukpengapungan
rumput laut ikatkan pelampung yang terbuat dari styrofoam, botol polietilen atau
pelampung khusus pada tali, ikat pelampung-pelampung tersebut dengan tali
penghubung ke tali utama sepanjang 10-15 cm, agar rumput laut tidak mengapung
dipermukaan dan diupayakan tetap berada pada kedalaman 10-15 cm di bawah
permukaan air laut, pada tali
utama diberikan tambahan beban. Pemanenan dilakukan bila rumput laut telah
mencapai
berat tertentu, yakni sekitar empat kali berat awal (dalam waktu pemeliharaan 1,5-
4 bulan). Untuk jenis Eucheuma dapat mencapai sekitar 400-600 gram, maka jenis
ini biasanya sudah
bisa dipanen. Rumput laut (Eucheuma spinosum) dicuci dengan air laut sebelum
diangkat ke darat, rumput laut yang telah bersih dikeringkan di atas para-para
bambu atau di atas plastik atau terpal sehingga tidak terkontaminasi oleh tanaman
atau pasir. Pada kondisi panas matahari, rumput laut akan kering dalam waktu 2-3
hari2,14.
3. Risiko Pekerja Rumput Laut
Proses pengolahan rumput laut membutuhkan waktu yangtidak sebentar
sehingga memungkinkan pekerja terpapar material/zat/agent yang bisa saja
membahayakan kesehatan pekerja. Banyaknya organisme/faktor biologis yang
berada di laut mampu mengancam kesehatan pekerja rumput laut. Menurut
Mustikawati dkk (2012) terdapat beberapa faktor risiko yang mempengaruhi
kesehatan dan keselamatan kerja pekerja rumput laut, yaitu4:
a. Cuaca, cuaca yang panas pekerja rumput laut menghabiskan banyak
waktu di bawah terik matahari hal ini memungkinkanpekerja rumput laut
mengeluarkan keringat yang banyak dan menyebabkan gatal-gatal. Panas
matahari pun membakar kulit pekerja sehingga menyebabkan adanya
perubahan warna kulit menjadi lebih gelap. Cuaca yang dingin pun
menjadi masalah karena meski rumput laut tumbuh dengan baik, namun
mengeringkan butuh waktu yang cukup lama hingga larut malam sehingga
meningkatkan risiko keselamatan pekerja.
b. Tersengat biota laut seperti stonefish, ubur-ubur, bulu babi, ikan pari
dan lainnya yang bisa menyebabkan luka biasa hingga tetanus.
c. Sakit mata yang disebabkan terkena air laut yang mengandunggaram
atau partikel saat bekerja.
d. Terjatuh, karena tidak rapinya penataan alat-alat kerja di
sekitarlingkungan kerja mengakibatkan pekerja tersandung.
e. Iritasi pada kulit yang disebabkan oleh biota laut
f. Musculaskeletal. Pekerja rumput laut merupakan jenis pekerjaanyang
tergolong berat, butuh tenaga yang besar dan kerja keras dalam
pemeliharaan rumput laut seperti mengangkat rumputlaut dari laut ke darat
ataupun ke tempat penjemuran, sehinggaberisiko menyebabkan stress fisik
pada pekerja.
Azhar dan Hananto (2011) menyatakan Pembagi proses pengelolaan
rumput laut menjadi lima, yaitu bagian pembibitan, pemeliharaan,
pemanenann, penjemuran dan lainnya berupa pencucian botol. Dari lima
tahap pengelolaan rumput laut, bagian pembibitan merupakan bagian yang
paling berisiko terkena penyakit dermatitis rumput laut yang disebabkan
oleh agent berupa hydroid. Menurut Harryanto (2005), pekerja rumput laut
diperkirakan agen yang berperan adalah toksin yang dihasilkan oleh
hydroid, yaitu golongan invertebrata primitif berbentuk polip yang
menempel pada rumput laut dan pada tali pengikat. Monfrecola (2003)
mengemukakan bahwa hydroid yang merupakan anggota dari orde
Hydrozoa memiliki penampilan seperti tanaman, mempunyai tiga tahap
dalam siklus hidupnya. Tahap pertama adalah larva yang sangat kecil dan
berenang bebas di perairan, tahap kedua adalah sessile yang membentuk
koloni hydroid, kemudian berubah menjadi medusa. Organisme ini
memiliki nematocytes atau stingingapparatus yang tersusun dari
cnidoblast, apabila mengenai kulit akan menusuk dan mengeluarkan toksin
yang menimbulkan reaksi gatal. Reaksi ini tetap ada meskipun
nematocytes tersebut dikeringkan. Memiliki toksisitas yang bervariasi
mulai sedang hingga tinggi2.
Hydroid merupakan biota laut yang masuk dalam kelas Hydrozoa
filum Cnidarian. Cnidarian merupakan hewan invertebrata dengan
struktur tubuh simetris radikal, berongga, serta memiliki kemampuan yang
menyengat. Hydroid memiliki nematocysts yang digunakan untuk
menyuntikkan toksin ke mangsa atau hal yang lain yang mengancam.
Hydrozoa tidak berbahaya namun dapat menimbulkan ruam dan cedera
pada kulit. Hydroid menyerupai rumput laut dan tumbuh di sekitar batu
dan rumput laut di daerah tropis Indo-Pasifik dan jika disentuh dapat
menyebabkan ruam pada kulit beberapa hari, namun akan berlangsung
lama jika terjadi infeksi2.

2.3. Tinjauan Umum mengenai APD

2.3.1. Pengertian Alat Pelindung Diri


Alat pelindung diri adalah alat yang mempunyai kemampuan untuk
melindungi seseorang dalam bekerja, yang berfungsi melindungi tenaga kerja dari
bahaya- bahaya secara fisik maupun kimiawi. Alat Pelindung Diri (APD) adalah
seperangkat alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi seseorang dalam
pekerjaannya yang mengisolasi tenaga kerja dari bahaya tempat kerja. APD
dipakai setelah usaha rekayasa dan cara kerja yang aman APD yang dipakai
memenuhi syarat enak dipakai, tidak mengganggu kerja memberikan
perlindungan efektif terhadap bahaya (Sartika, 2005).
Menurut OSHA atau Occupational Safety and Health Administration,
personal protective equipment atau alat pelindung diri (APD) didefinisikan
sebagai alat yang digunakan untuk melindungi pekerja dari luka atau penyakit
yang diakibatkan oleh adanya kontak dengan bahaya (hazards) di tempat kerja,
baik yang bersifat kimia, biologis, radiasi, fisik, elektrik, mekanik dan lainnya.
Fungsi dari alat pelindung diri yang dirancang adalah untuk mencegah
adanya bahaya agar tidak mengenai tubuh pekerja. Alat pelindung atau proteksi
diri yang dapat dipakai pekerja beragam jenisnya, misalnya topi atau helm,
pakaian kerja, masker, sarung tangan dan sepatu boot. Alat pelindung diri sarung
tangan berguna untuk melindungi tangan dan bagian dari benda tajam atau
goresan, bahan kimia padat atau larut, benda panas atau dingin, atau kontak arus
listrik. Sarung tangan merupakan alat pelindung diri yang paling
banyakdigunakan.
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
[Link].08/MEN/VII/2010 tentang Alat Pelindung Diri. Pasal 2 ayat (2)
menyebutkan pelaksanaan ketentuan Pasal 3, Pasal 4 ayat (1) tentang keselamatan
kerja perlu diatur mengenai alat pelindung diri sesuai dengan ketentuan tersebut,
para pekerja harus mendapatkan Alat Pelindung Diri yang layak, walaupun
pekerja tersebut tidak bekerja dibawah pemilik atau justru pemilik dari usaha.

2.3.4. Syarat-syarat Alat Pelindung Diri


Ada beberapa hal yang menjadikan alat pelindung diri berdampak negative
seperti berkurangnya produktivitas kerja akibat penyakit atau kecelakaan yang
dialami oleh pekerja karena tidak menggunakan alat pelindung diri tersebut. Oleh
sebab itu alat-alat pelindung diri harus mempunyai persyaratan sesuai dengan
pernyataan Suma’mur (2006) alat pelindung diri yang akan digunakan di tempat
kerja harus memperhatikan beberapa hal, yaitu:
1) Berat alat pelindung diri hendaknya seringan mungkin dan alat
tersebut tidak menyebabkan rasa tidak nyaman yangberlebihan.
2) Alat harus dapat dipakai secara fleksibel.
3) Alat pelindung diri harus tahan untuk pemakaianlama.
4) Alat pelindung diri tidak menimbulkan bahaya bagipenggunanya.

2.3.5. Jenis-jenis Alat Pelindung Diri


Alat pelindung diri sangat diperlukan oleh pekerja atau pekerja dalam
mengaplikasikan pestsida. Adapun jenis-jenis alat pelindung diri sebagai
berikut :

1) Pakaian pelindung
Untuk melindungi badan dari paparan pestisida, kita harus
menggunakan pakaian pelindung yang terdiri dari:

a. Baju lengan panjang

Baju lengan panjang tidak boleh memiliki lipatan-lipatan terlalu banyak,


jika perlu tidak diberikan kantong pada bagian depan dan kerah leher
harus diikat atau setidaknya menutupi bagian leher.
b. Celana panjang
Celana panjang tidak boleh ada lipatan, karena lipatan-lipatan itu akan
berfungsi sebagai tempat berkumpulnya partikel-partikel dari pestisida.
c. Pakaian terusan
Merupakan pakaian dengan model tangan panjang dan menutupi seluruh
tubuh, praktis dan lebih khusus.

2) Alat pelindung tangan

Alat pelindung tangan merupakan alat yang paling banyak


digunakan karena kecelakaan pada tangan adalah yang paling banyak
dari seluruh kecelakaan yang terjadi ditempat kerja. Pekerja harus
memakai alat pelindung tangan ketika terdapat kemungkinan terjadinya
kecelakaan seperti luka pada tangan karena benda-benda keras, luka
gores, terkena bahan kimia berbahaya dan juga luka sengatan
[Link] pekerja yang terpapar terhadap bahan yang mempunyai
konsentrasi yang tinggi (high concentration) maka diperlukan sarung
tangan.

Syarat-syarat sarung tangan yang digunakan bagi pekerja adalah:

a. Sarung tangan harus panjang sehingga menutupi bagian


pergelangantangan.
b. Sarung tangan untuk menangani rumput laut tidak boleh terbuat dari
kulit karena toksin yang dihasilkan rumput laut terhadap kulit pekerja
akan melekat dan akan sulit untuk dibersihkan.
c. Sarung tangan harus dipakai untuk menutupi lengan baju bagian
bawah. Agar kemungkinan toksin kedalam tubuh melalui tangan
dapat di cegah, atau kemungkinan mengalirnya sifat korosif rumput
laut ke dalam sarung tangan dapat dihindari.

3) Alat pelindung kepala


Untuk mencegah masuknya racun melalui kulit kepala, maka
diperlukan topi penutup kepala. Beberapa persyaratan topi yang perlu
diperhatikan adalah:

a. Topi harus terbuat dari bahan yang kedap cairan dan tidak terbuat dari
kain atau kulit.

b. Topi yang digunakan sedapat mungkin dapat melindungi bagian-


bagian kepala (Tengkuk, mulut, mata, dan muka). Oleh karena itu
topi harus berpinggiran lebar.

c. Topi yang dipergunakan tidak menyebabkan keadaan tidak nyaman


bila dipakai dibawah terikmatahari.

4) Alat pelindungkaki
Sepatu boot sangat penting bila pekerja pekerja rumput laut yang
terpapar terhadap rumput laut yang bersifat toksin terhadap kulit pekerja
tersebut. Sepatu boot dapat terbuat dari neoprene. Sepatu pelindung dan
boot harus dapat menahan kebocoran. Ketika bekerja ditempat yang
mengandung aliran listrik, maka harus menggunakan sepatu tanpa
logam yang dapat menghantarkan aliran listrik. Jika bekerja ditempat
biasa semacam persawahan maka harus menggunakan sepatu yang tidak
mudah tergelincir, sepatu yang terbuat dari karet ketika bekerja dengan
bahankimia.

5) Alat Pelindung wajah

Pelindung wajah merupakan suatu pelindung yang terbuat dari


bahan transparan yang anti api dan terikat menggantung pada kepala
juga dapat dengan mudah untuk dinaikkan maupun diturunkan di depan
wajah. Alat tersebut ringan dan dapat digunakan untuk mencegah dari
kemasukan debu dan bahan-bahan yang bersifat iritatif terhadap saluran
pernafasan.

Masker adalah sebuah alat yang digunakan untuk menutupi hidung,


mulut, bagian bawah dagu, dan rambut pada wajah (jenggot) untuk
mencegah terjadinya penularan penyakit infeksi melalui saluran
pernapasan (Depkes RI, 2017). Biasanya masker terbuat dari bahan yang
anti air, sehingga wajah tidak terkena percikan partikel-partikel dari
rumput laut. Masker merupakan alat pelindung pernapasan berfungsi
memberikan perlindungan organ pernapasan akibat pencemaran udara
oleh faktor kimia seperti debu, asap, gas beracun, dan sebagainya (Uhud
dkk, 2010). Penggunaan masker secara umum yaitu untuk mencegah
terhirupnya zat-zat polutan, debu, bakteri, bahkan virus yang mungkin
dapat mengakibatkan penyakit infeksi saluran pernapasan
(Wijayakusuma, 2013).

6) Alat pelindung telinga

Hilangnya pendengaran adalah kejadian umum ditempat kerja dan


sering tidak dihiraukan karena gangguan itu tidak menimbulkan luka.
Alat pelindung telinga bekerja sebagai penghalang antara bising dengan
telinga dalam. Alat pelindung telinga dapat dibedakan menjadi dua,
yaitu:
a. Sumbat telinga
Sumbat telinga memberikan perlindungan paling efektif karena
langsung dimasukkan kedalam telinga.
b. Tutup telinga
Alat ini dipakai diluar telinga dan penutupnya terbuat dar spons untuk
membuat perlindungan yang baik.

Dalam bekerja yang terpapar pada paparan yang berbentuk cairan atau
debu maka pekerja memerlukan alat pelindung diri yang sesuai. Alat pelindung
diri yang wajib digunakan oleh pekerja saat bekerja adalah:
a. Topi
Jenis topi yang digunakan yang bertujuan untuk mencegah masuknya
racun melalui kulit kepala, maka diperlukan topi sebagai penutup
kepala. Jenis topi yang digunakan adalah jenis topi yang berpinggiran
lebar agar dapat melindungi area tengkuk dan tentunya area kulit kepala
agar terhindar dari percikan pestisida yang terbang dan kemungkinan
dapat menempel pada kulit kepala. Topi yangdigunakan harus terbuat
dari bahan yang tidak kedap air seperti kain dan karet tetapi topi yang
harus digunakan adalah topi yang berbahan dari bahan plastic.

b. Sarung tangan
Sarung tangan yang digunakan yaitu sarung tangan yang terbuat dari
bahan karet yang panjang hingga menutupi bagian pergelangan tangan.
Hal ini bertujuan untuk melindungi tangan dari air laut dari rumput laut
yang bersifat [Link] memilih sarung tangan perlu dipertimbangkan
beberapa factor yaitu Bahaya terpapar, apakah terbentuk bahan korosif,
panas, dingin, tajam, atau kasar, daya tahan terhadap bahaya kimia.
Sarung tangan merupakan alat pelindung diri yang melindungi daerah
tangan dari segala jenis bahayabahan kimia. Sarung tangan sebaiknya
bukan hanya melindungi pekerja dari bahaya tapi juga memudahkan
daerah tangan dan jari bergerak bebas.

c. Sepatu boots

Sepatu boots digunakan untuk mencegah toksin rumput laut


menempelpada punggung kaki. Sepatu boot dapat terbuat dari neoprene.

d. Pakaian lengan panjang dan celana panjang


Pakaian lengan panjang yang digunakan dalam bekerja adalah jenis
pakaian lengan panjang tanpa kantong dan tanpa lipatan pada lengan
dan dan leher serta untuk celana panjang yang digunakan adalah jenis
celana tanpa kantong dan juga lipatan.
2.4. Tinjauan umum tentang personal hygiene

Personal hygiene disebut juga sebagai kesehatan perorangan atau


kebersihan perorangan adalah suatu tindakan serta upaya untuk memelihara
kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik maupun psikis.
Oleh karena itu, personal hygiene merupakan salah satu pencegahan primer yang
spesifik terutama yang berhubungan dengan kebersihan diri yang buruk. Personal
hygiene menjadi aspek yang penting dalam menjaga kesehatan individu karena
dapat meminimalisir masuknya mikroorganisme penyebab penyakit, baik penyakit
kulit, penyakit infeksi, penyakit saluran pernapasan dan saluran cerna atau bahkan
dapat menghilangkan fungsi bagian tubuh tertentu. (LailyI, Sulistyo A.
[Link] Hygiene, Yogyakarta: GrahaIlmu.)

Menurut Undang-Undang No.2 Tahun 1996 pasal 2 tentang hygiene ialah


kesehatan masyarakat yang khusus meliputi segala usaha untuk melindungi,
memelihara dan mempertinggi derajat kesehatan badan dan jiwa, baik untuk
umum, maupun untuk perseorangan, dengan tujuan meberi dasar-dasar kelanjutan
hidup yang sehat serta mempertinggi kesejatheraan dan daya guna peri kehidupan
manusia. Dengan kata lain, personal hygiene adalah suatu pengetahuan tentang
usaha-usaha kesehatan perorangan untuk dapat memelihara diri sendiri dan
mencegah timbulnya penyakit. (Nursyamri. [Link] risiko kejadian
dermatitis kontak alergi pada pekerja rumput laut di wilayah kerja Puskesmas
Lasepang Kabupaten Bantaeng 2011. Skripsi. UIN Alauddin Makassar;
Makassar.)

Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi personal hygiene yaitu,


tingkat pengetahuan, status sosial ekonomi, budaya, kebiasaan seseorang serta
kondisi fisik. Tingkat pengetahuan berpengaruh besar padatercapainya personal
hygiene karena bagi individu yang mempunyai tingkat pengetahuan yang baik
maka akan melakukan kebersihan diri yang optimal berbeda dengan tingkat
pengetahuan yang rendah, personal hygiene yang dilakukan kurang maksimal.
(Prahayuni, AP. 2018. Hubungan personal hygiene dan penggunaan APD
dengan kejadian dermatitis pada pekerja padi di Desa Kebonsari Kecamatan
Kebonsari Kabupaten Madiun tahun 2018, Skripsi. STIKES Bhakti Husada
Mulia Madiun; Madiun)
Personal hyigienebagi para pekerja rumput laut sangat penting dan
berdampak besar, karena merupakan salah satu usaha pencegahan terhadap
penyakit kulit. Hasil dari kerja dan lamanya kontak dengan rumput laut memberi
pengaruh yang besar pada kesehatan bahkan mempengaruhi kualitas hidup para
pekerja rumput laut, akibat pajanan secara langsung pada kulit yang menjadi
tempat berkembangbiaknya pejamu atau kuman bakteri.
Adapun jenis-jenis personal hygiene bagi pekerja rumput laut yaitu
pemeliharaan kebersihan rambut, pemeliharaan kebersihan tubuh, pemeliharaan
kebersihan tangan, kaki dan kuku dengan cara mencuci tangan dan kaki setelah
melakukan pekerjaan, serta pemeliharaan kebersihan pakaian. (Jeyaratnam J, Koh
D, 2010, Buku Ajar PraktikKedokteranKerja. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.) (Suma’mur PK, Soedirman. 2014. Hygiene Perusahaan dan
Kesehatan [Link]: SagungSeto.) (Susanty E. 2015. Hubungan personal
hygiene dan karakteristik individu terhadap kejadian dermatitis pada pekerja
rumput laut di Dusun Puntondo Kabupaten Takalar. Skripsi. Universitas
Hasanuddin; Makassar)

2.4.1. Jenis-jenis personal hygiene pada pekerja rumput laut meliputi:

1) Kebersihan rambut

Saat beraktivitas dibawah terik matahari, kulit


mengeluarkan keringat menyebabkan rambut menjadi lepek
dan lembab sehingga debu atau kotoran mudah menempel yang
akan mengakibatkan gatal pada kulit kepala. Oleh karena itu,
dianjurkan untuk mencuci rambut minimal 3 kali seminggu.

2) Kebersihan tubuh

Kebersihan tubuh terutama kulit perlu diperhatikan secara


rutin terutama bagi pekerja diluar ruangan. Aktivitas seharian
diluar ruangan menyebabkan tubuh mengeluarkan keringat
serta bau badan sehingga rentan ditumbuhi jamur yang
menyebabkan gatal-gatal dan jalan masuk kuman-kuman
penyakit penyebab infeksi kulit. Kulit merupakan pembungkus
yang elastik, yang melindungi tubuh dari pengaruh lingkungan
dan bersambungan dengan selaput lendir yang melapisi rongga-
rongga tubuh. Sebagai organ yang berfungsi sebagai proteksi,
kulit memengang peranan penting dalam meminimalkan setiap
gangguan dan ancaman yang akan masuk melewati kulit.
Untuk itu, bagi para pekerja rumput laut perlu untuk selalu
menjaga kebersihan tubuh terutama kulit. Maka dianjurkan
untuk selalu membersihkan diri dan mandi minimal 2 kali
sehari menggunakan sabun serta air mengalir agar
menghilangkan kotoran, debu serta bau badan sebagai sumber
berbagai penyakit.

3) Kebersihan tangan, kaki dan kuku

Tangan, kaki dan kuku merupakan bagian tubuh yang


kontak langsung dengan penyebab penyakit kulit terutama bagi
pekerja rumput laut. Maka dari itu dianjurkan untuk
menggunakan alat pelindung diri (APD) saat bekerja untuk
menghindari serta mengurangi kontak langsung, serta wajib
mencuci tangan dan kaki setelah kontak dengan rumput laut
menggunakan air mengalir dan sabun secara benar dan teratur.

4) Kebersihan pakaian

Kebersihan pakaian kerja berpengaruh langsung pada kulit


sebab menimbulkan pergesekan dan juga menimbulkan bau
tidak sedap apabila pakaian kerja tidak dicuci, karena pakaian
kotor dapat menjadi tempat bersarangnya kuman penyebab
penyakit. Dalam hal ini pekerja perlu memperhatikan
kebersihan pakaian yang digunakan dengan cara mencuci
pakaian yang digunakan setelah bekerja sehingga kotoran, debu
ataupun keringat yang menempel menjadi bersih.

2.5. LAMA PAPARAN KERJA


Makin lama waktu yang digunakan seseorang untuk bekerja setiap harinya
berarti makin lama pula kemungkinan untuk terpapar rumput laut di tempat kerja,
yang mana berarti makin mudah mengalami dermatitis kontak alergi. Apabila
tidak memenuhi ketentuan lama pemaparan yang diperkenankan untuk kontak
dengan rumput laut.
Waktu kerja bagi seseorang menentukan efisiensi dan produktifitas. Segi–
segi terpenting bagi persoalan waktu kerja meliputi:
1. Lamanya seseorang mampu bekerja dengan baik
2. Hubungan waktu kerja dengan istirahat
3. Waktu kerja sehari menurut periode yang meliputi (pagi, siang, sore,
malam)

Lamanya seseorang bekerja dalam sehari secara baik pada umumnya 6-8
jam, sisanya (16-18) jam dipergunakan untuk keluarganya, masyarakat, istirahat,
tidur dan lain lain. Memperpanjang waktu kerja dari kemampuan tersebut
biasanya tidak disertai efisien yang tinggi, bahkan biasanya terlihat penurunan
produktifitas serta kecenderungan untuk timbulnya kelelahan, penyakit dan
kecelakaan. Dalam seminggu seseorang biasanya dapat bekerja selama 40-50 jm.
Lebih dari itu terlihat kecenderungan hal-hal negative. Makin panjang waktu
kerja, makin besar kemungkinan hal-hal yang tidak di inginkan. Jumlah 40 jam
kerja dalam seminggu ini dapat dibuat 5-6 hari kerja tergantung dari berbagai
factor.
Suatu pekerjaan biasa tidak berat atau ringan, produktifitas sudh mulai
menurun sesudh 4 jam bekerja, keadaan ini terutama sejalan dengan kadar gula
dalam darah. Untuk hal ini perlu istirahat dan kesempatan untuk makan yang
menyangkut kembalinya bahan bakar didalam tubuh. Oleh sebab itu, istirahat
setelah 4 jam bekerja terus menerus sangat penting artinya.
Bagi rumput laut, khususnya pada saat melakukan pembibitan terkadang
memakan waktu beberapa jam, hal ini tergantung dari banyaknya pekerja dan
bibit yang tersedia.
Dari beberapa studi yang dilakukan, pada saat melakukan pembibitan
rumput laut para pekerja mengemukakan bahwa dari 200 bentangan yang
dikerjkan untuk pembibitan rumput laut biasanya 7-8 jam sehari. Sedangkan rata-
rata pekerja mempunyai jumlah bentangan 500-4000 bentangan. Lamanya pekerja
kontak dengan rumput laut cukup lama, hal ini dapat mempengaruhi terjadinya
dermatitis kontak alergi.
Disisi lain, Menurut Makheev (1986), status kesehatan pekerja
dipengaruhi 4 faktor yaitu lingkungan pekerja, perilaku pekerja, pelayanan
kesehatan kerja dan factor genetic. Dari keempat factor tersebut yang paling
berperan adalah lingkungan pekerja (Sulistomo,2002). Pekerjaan sebagai pekerja
ruput laut mengharuskan seseorang akan sering terpapar langsung dengan cuaca di
udara terbuka dan agen iritan akan langsung merusak kulit dengan cara mengubah
pH kulit, reaksi dengan protein (denaturasi), ekstraksi lemak dari lapisan luar kulit
atau dengan menurunkan daya tahan kulit (McCunney, 1988).
Sedangkan reaksi tubuh akibat alergi dari agen iritan adalah dengan
membentuk komplek hapten hapten yang merangsang pembentukan antibody.
Selanjutnya akan terjadi penyumbatan pada kelenjar dan saluran sebacea sehingga
timbul peradangan local. Perlu diketahui bahwa substansi yang sama bisa
menimbulkan reaksi iritasi sekaligus reaksi alergi, bisanya konsentrasi yang lebih
tinggi akan menyebabkan reaksi iritasi.
Sehingga dari beberapa studi yang telah dilakukan, bahwa lama kerja
berhubungan dengan dermatitis kontak. Dimana secara teori, lama dan intensitas
paparan substansi dengan manusia adalah factor yang menyebabkan DKI
disamping jenis dan jumlah/ konsentrasi substansi tersebut. Hal ini juga didukung
dari hasil wawancara responden di studi tersebut bahwa sebagian besar mengakui
keluhan penyakit ini mulai diderita sejak bekerja sebagia pekerja rumput laut.

2.5.1. TAHAPAN KERJA


Rumput laut yang paling banyak di manfaatkan adalah jenis ganggang
merah karena menagndung agaragar, keraginan, parpikan, maupun furcelatan,
untuk jenis yang ada di Indonesia selain hanya mengandung agar agar dan
keraginan juga mengandung pigmen, fokobilin, terdiri dari firoeretin dan
fikosianin, maupun cadangan makanan berupa karbohidrat (Floridian stratch).
Manfaat dari rumput laut dalam dunia industry:
1. Makanan : pembuat eskrin, serbat, susu, es, roti, kue, permen, pengalengan
daging selai, sirup dan pudding
2. Farmasi : tablet, salep, kapsul, plester, filter
3. Kosmetik : cream, lotion, shampoo, cat rambut
4. Tekstil : kertas, keramik, fotografi, insektisida, peptisida dan bahan
pengawet kayu

Segala bentuk produktifitas makanan yang terbuat dari rumput laut dapat
dikonsumsi oleh manusia dikarenakan begitu sangat banyak mengandung protein
dan karbohidrat serta asupan gizi yang tinggi.
Adapun pembudayaan rumput laut memiliki peranan penting dalam usaha
meningkatkan produksi perikanan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi
serta memenuhi kebutuhan pasar dalam dan luar negeri, memperluas kesempatan
kerja, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan nelayan dan pekerja serta
menjaga kelestarian sumber daya perairan.
Pembudidayaan dan pengelolaan rumput laut berdampak positif berupa
tersedianyalapangan kerja baru bagi keluarga miskin, selain karena tidak
memerlukan keterampilan khusus juga karena penghasilan yang didapatkan dari
pekerjaan ini sedikit lebih banyak dibandingkan dengan nelayan dan buruh
pekerja lainnya.
Secara umum, budidaya rumput laut di perairan pantai ( laut ) amat cocok
dipersiapkan pada daerah yang memilki lahan sedikit (sempit) serta berpenduduk
padat, sehingga di harapkan dapat membuka lahan budidaya rumput laut di
perairan tersebut bias menjadi salah satu alternative terbaik, untuk membantu
mengatasi lapangan kerja yang makin kecil, khususnya di Kabupaten Bantaeng.
Berhasil tidaknya pembudi dayaan rumput laut dapat disebabkan beberapa
factor lingkungan seperti:

1. Cahaya
Mutu dan kwalitas cahaya berpengaruh terhadap produksi spora dan
pertumbuhanya. Misalnya merangsang perspoeran porphyra tetapi
menghambat persporaan Eucheuma. Kebutuhan cahaya pada algae merah
agak rendah dibanding dengan algae coklat. Persporaan Gracilaria Verrucosa
misalnya, berkembang biak pada intensitas cahaya 400 lux, sedangkan
Ectocarpus tambah cepat pada intensitas cahaya antara 6500-7500 lux.
2. Musim dan Suhu
Perkembangan stadia reproduksi beberapa jenis algae tergantung pada
kondisisuhu dan intensitas cahaya atau pada kombinasi di antara kedua
parameter tersebut. Perkembangan tetraspora polisiphonia misalnya
berlangsung pada suhu antara 25–300C, tetapi terhambat pada kombinasi suhu
rendah dan intensitas cahaya tinggi.
3. Kadar Garam
Kesuburan algae dapat dipengaruhi oleh kadar garam atau salinitasi
misalnyaGracilaria Verrucosa kebanyakan mandul pada bulan-bulan yang
bersalinitas tinggi (30 – 35 permil) Gracilia yang berasal dari atlantik dan
fasipik timur pertumbuhan maksimun pada saat dibudidayakan adalah dengan
salinitas 15 - 38 permil dengan kadar optimum, yang ditunjang kadar nitrogen
dan fosfat yang rendah dan berhubungan langsung dengan pasang surut dan
curah hujan.
4. Standar mutu/ pH air Laut
Standar mutu secara umum dari algin adalah ber-pH 3,5 – 10,0 viskolitas 10 –
5000 cps per 1% larutan air ,kadar air 5 – 20 % dan ukuran pertikel 10 –
200mrh, ada penilaian lain bahwa mutunya tergantung pada penggunaanya .
Algin ini mempunyai persyaratan tersendiri yaitu kadar air maksimun 5%,
kadar organik asing maksimal 1% dan kadar bau tidak larut dalam asam
maksimal 1% (Hety Indriani, catalog 2005).
5. Gerakan air
Gerakan air berperan penting pula di dalam memperbaiki kondisi pertukaran
Zat hara dan menghindarkan pengendapan untuk menunjung pertumbuhan.
6. Zat hara
Kadar nitrat dan fosfat mempengaruhi stadia reproduksi algae bila zat
haratersebut melimpah di perairan. Kadar nitrat dan fosfat di perairan akan
mempengaruhi keseburan gametofit algae coklat (laminaria nigrescence).
Namun kita harus waspada terhadap unsur-unsur yang diserap oleh rumput
laut karena rumput laut dapat juga menyerap logam berat seperti Hg dan Pb.
Logam berat ini tidak berbahaya bagi tanaman tetapi sangat berbahaya bagi
manusia.
7. Binatang laut
Binatang laut seperti moliska dan ikan dapat mempengaruhi perspora algae.
Hewan moluskan dapat memakan spora dan menghambat prtumbuhan stadia
muda algae, sedangkan ikan herbivora memakan algae sehingga merusak
thalli dan akan mengurangi jumlah spora yang dihasilkan oleh algae.

Hal-hal yang perlu diperhatiakan dalam pembudidayakan rumput laut


diperaiaran pantai (laut) adalah:

a. Pemilihan Lokasi
Lokasi yang di harapkan untuk budidaya rumput laut merupakan syarat
utama yang harus di perhatikan. Kegagalan awal yang mungkin dapat terjadi.
1. Peraiaran harus tenang, terlindungi dari pengaruh angin dan ombak yang
kuat
2. Dasar perairan cocok untuk budidaya yang di gunakan. Tipe dan sifat
substratum atau dasar perairan dapat menjadi indikator (petunjuk)
tentang keadaan oseonografi setempat yang dapat di gunakan untuk
menentukan tingkat kemudahan dalam pembangunan konstruksi budi
daya yang kita gunakan.
3. Jauh dari sumber air tawar, seperti muara sungai atau di mana daerah
tersebut banyak di masuki air tawar.
4. Pergerakan air dianggap sebagai kunci di antar factor-faktor, oseonografi
lain, karena massa air dapat menjadi homogen dan pengangkut zat-zat
makanan berlangsung lebih baik dan lancar.
5. Tersedianya sediaan rumput alami setempat.
6. Kedalaman perairan tidak boleh kurang dari 2 kaki ( sekitar 60 cm ) pada
saat surau terendah dan tidak boleh lebih dari 7 kaki ( sekitar 210 cm )
saat pasang tinggi.
7. Harus bebas dari predator seperti ikan herbivore, bulu babi dan landak
laut.
8. Kemudahan memperoleh tenaga kerja akan sangat menunjang dalam
mempersiapkan lahan, penanaman dan saat panen.
9. Bahan pencemar yang mungkin berasal dari buangan industri, rumah
tangga dan tumpuhan minyak harus dihindari akan menggangu dan
merasuk konstuksi dan tanaman yang kita pelihara.

b. Memilih Budidaya yang akan digunakan


Saat kita akan memilih metode yang kita akan gunakan. Metode yang
digunakan tergantung dari kondisi lingkungan (lahan) yang kita akan
gunakan.
Ada tiga macam metode berdasarkan posisi tanaman terhadap dasar
perairan yaitu:
1. Bottom method (metode dasar), yang terdiri atas:
a) Broadcast method (metode sebarang)
b) Bottom farm method (metode budidaya dasar laut).
2. Of- bottom- method (metode lepas dasar) yang terdiri atas:
a) Off-bottom - monoline method (tali tunggal lepas dasar)
b) Off-bottom – net method (metode jarring lepas dasar)
c) Off Bottom- tubular net method (metode jaring lepas dasar
berbentuk tabung).
3. Floating method (metode apung), yang terdiri atas:
a) Floating monocline method (Metode tali tunggal apung)
b) Floating net method (Metode jaring apung)

c. Penyediaan bibit (pembibitan)


Setelah kita dapatkan dan menentukan metode yang akan kita gunakan
sertamempersiapkan meteril peralatan dan budi daya rumput laut, maka tahap
selanhutnya adalah menyediakan dan menyiapkan bibit rumput laut, baik
yang bersal dari alam maupun yang merupakan hasil pembibitan langsung.
Adanya bibit dari alam disekitar perairan lokasi penanaman, merupakan
indicator bahwa lingkungan perairan tersebut cocok untuk kehidupan spesies
rumput laut, khususnya yang ingin kita budi dayakan.
Ciri-ciri bibit yang baik adalah:
a) Bila dipegang tersah elastis.
b) Mempunyai cabang yang banyak dengan ujungnya yang berwarna
kuning kemera- merahan
c) Mempunyai batang yang tebal dan berat.
d) Bebas dari tanaman lain atau benda-benda asing

d. Penanaman Bibit
Saat yang baik untuk penebaran maupun penanaman bibit adalah pada
saatcuaca teduh (tidak mendung) dan yang paling baik adalah pada pagi hari
atau sore hari menjelang malam. Bila kita menanam bibit tanaman tersebut
dengan mengunakan metode selain metode dasar maka sebelum pengikatan
kita menyiapkan rakit-rakit yang siap tanam dan kokoh.
e. Perawatan selama pemeliharaan
Perawatan yang dilakukan setelah menjelang seminggu penanamanya yaitu:
1. Menyingkirkan semua duri babi yang terdapat di sekitar ataupun pada
tanaman
2. Mengusakan tanaman bersih dari pengaruh dasar seperti pasir maupun
karang-karang kecil
3. Mengganti tanaman yang hilang dengan tanaman baru.

f. Pemanenan
Pemanenan dilakukan bila rumput laut telah mencapai berat tertentu,
yaknisekitar empat kali berat awal (dalam waktu pemeliharaan 15 hari - 4
bulan), hal-hal yang harus diperhatikan saat pemanenan adalh persiapan
sebelum pemanenan:
1) Menyiapkan 1-2 buah perahu yang cukup besar untuk mengangkut hasil
panen.
2) Beberapa keranjang rotan dan sejenisnya yang cukup besar
3) Timbangan dengan ukuran 100Kg
4) Karung goni secukupnya beserta tali untuk mengangkat.
5) Menyiapkan lokasi penjemuran seluas 0,5 hektar, sebaiknya
berlapissemen dan kondisinya bersih.
6) Ada bangunan kecil untuk menyimpan rumput laut yang sudah
dikeringkan.
7) Persiapan tenaga kariyawan untuk mempercepat proses pemanenan

Pelaksanaan pemanenan:
1. Pemanenan rumput laut dilakukan dengan cara dipetik atau di potong
setiap percabangnya.
2. Masukkan hasil panen kedalam perahu yang telah disiapkan dekatdengan
tempat panen.
3. Bila perahu sudah penuh, hasil panen di bawah ke daerah penjemuran
dimana rumput laut akan di bongkar untuk di timbun, kemudian di jemur
4. Sesudah selesai panen, kita kembali ke lokasi penanaman
5. memeriksa rakit dan tanaman yang rusak ataupun hilang

g. Pengeringan/Penjemuran Hasil Panen


Beberapa langkah yang perlu kita lakukan dalam
prosespengeringan/penjemuran hasil panen adalah :
1. Sesudah ditimbang, kemudian disebar untuk dikeringkan di atas
daunkelapa, tarpal, rak-rak penjemuran yang telah di siapkan,
disebarkansecara tipis-tipis dan merata.
2. Setelah 2-3 hari, rumput yang sudah cukup kering lantas dicuci.
3. Pencucian dengan menggunakan air laut selama lima menit dengan
caramemasukkan rumput laut kedalam keranjang rotan, kemudian di
gosokgosokdengan tangan.
4. Setelah pencucian selama lima menit, kita sebarkan kembali ke
tempatpenjemuran selama 0,5-1 hari sampai tidak kelihatan lagi partikel
garamdi bagian permukaan rumput laut yang di keringkan.
5. Untuk memudahkan kita mengontrol kualitas serta lama
pengeringanya,kita harus memisahkan antara rumput laut yang sudah di
jemur selama 2hari dengan yang di jemur 1 hari.
6. Selalu ditutup dengan terpal pada malam hari/pada saat hujan
7. Sesudah di cuci dan di keringkan, lalu dimasukkan ke dalam karung
goniyang telah di siapkan
8. Sesudah dimasukkan ke dalam wadah tersebut, setiap kantong ditimbang
dan dicatat beratnya.
BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1. Rancangan Penelitian


Desain penelitian yang di gunakan adalah desain dekriptif. Penelitian
deskriptif adalah penelitian yang tujuannya untuk menjelaskan atau mendeskripsikan
suatu peristiwa, keadaan, objek apakah orang, atau segala sesuatu yang terkait dengan
variabel- variabel yang bisa dijelaskan baik menggunakan angka–angka maupun
kata–kata (Setyosari,2010) bertujuan untuk mengetahui faktor risiko penyakit
dermatitis kontak alergi pada pekerja rumput laut di wilayah kerja Puskesmas
Sedadap, Nunukan Selatan kabupaten Nunukan.

3.2. Populasi, Sampel, Besar Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel

3.2.1. Populasi
Populasi merupakan keseluruhan individu yang menjadi acuan hasil penelitian
yang akan diberlakukan. Populasi disebut juga universal, yakni sekelompok individu
atau objek yang memiliki karakteristik sama (Sudibyo, 2009). Populasi dalam
penelitian ini adalahmasyarakat kelurahan Tanjung Harapan yang bekerja sebagai
pengelolala rumput laut dan menderita dermatitis kontak alergi.

3.2.2. Sampel
Sampel adalah bagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan
dianggap mewakili seluruh populasi (Notoadjmodjo,2005). Sampel penelitian ini di
ambil dari hasil survey yang kami lakukan. ditentukan berdasarkan kriteria penelitian
sebagai berikut :
1. Kriteria inklusi :
a. Semua pekerja rumput laut yang menderita Dermatitis Kontak
Alergi di daerah kelurahan mamolo.
b. Pekerja laki-laki dan perempuan
2. Kriteria Eklusi
a. Pekerja yang tidak mau dimintai keterangan
b. Pekerja yang tidak kooperatif

3.2.3. Rumus Besar Sampel

Karena besar populasi subyek penelitian kurang dari 10.000 maka


banyaknya sampel dapat menggunakan rumus untuk populasi besar sampel
(Budiharto 2004):

Keterangan :
Z1-/22= nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada  tertentu
P = persentase Pekerja Rumput laut = 30 %
d = kesalahan (absolut) yang dapat ditolerir = 0,1
N = besar populasi
Dari rumus diatas, didapatkan sampel sebesar :
1,962 × 0,3(1 − 0,3)
𝑛=
0,12
𝑛 = 80,06
Jadi, besar sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah 80,06 yang
dibulatkan menjadi 80 orang.

3.2.4. Tekhnik Pengambilan Sampel


Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah
purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu
(Sugiyono, 2012). Yang di ambil dari data wawancara.
3.3. Variabel Penelitian

3.3.1. Variabel Bebas


Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Faktor resiko yakni, usia, umur,
jenis kelamin, Penggunaan APD, Lamanya Paparan ,

3.3.2. Variabel Terikat


Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kejadian Dermatitis Kontak Alergi

3.3.3. Definisi Operasional Variabel


Variable Definisi operasional Instrumen skala

Umur Lama hidup pasien Data Wawancara


dihitung sejak lahir Ordinal
(dalam tahun)
Jenis Kelamin Laki-laki / Data Wawancara
Perempuan Nominal

Lama Paparan Berapa jam kontak Data Wawancara Nominal


dengan rumput laut
Penggunaan Pakai / Tidak Data Wawancara
APD
Hygine Mencuci tangan Data Wawancara
Perorangan dengan sabun atau
tidak
Predileksi Daerah tubuh yang Data Wawancara
paling banyak
terkena
3.4. Lokasi dan Waktu Penelitian
Pengambilan data akan dilkukan hari Selasa, 1 Oktober 2019 di Kampung
nelayan , Mamolo, Tanjung Harapan , Nunukan Selatan, Kalimantan Utara.
BAB 4
HASIL PENELITIAN

Berdasarkan hasil penelitian dari data wawancara yang kami ambil di tempat
pekerja rumput laut. Didapatkan sampel sebanyak 80 orang yang diambil di 4 tempat
kelompok pekerja. Selanjutnya data yang di peroleh tersebut di analisa lebih lanjut.

4.1. Data Populasi

Penelitian ini mengambil sampel di tempat pekerja rumput laut di Kelurahan


Tanjung Harapan, Nunukan Selatan, Kalimantan Utara.

4.2. Distribusi Data


Karakteristik sampel dalam penelitian ini meliputi usia,jenis kelamin,
penggunaan APD, hygienitas, predileksi dan lama paparan .Di bawah ini karakteristik
tersebut akan di sajikan dalam bentuk tabel dan diagram.

4.2.1. Distribusi Data Berdasarkan Jenis Kelamin

No. Jenis Kelamin Jumlah Yang Persentse


menderita
1. Laki-laki 15 11 18,75%
2. Perempuan 65 50 81,25%
Tabel 4.1. Dristibusi data berdasarkan jenis kelamin

Berdasarkan Tabel 4.1. didapatkan hasil bahwa pekerja rumput laut paling
banyak adalah Perempuan sebesar 81,25% atau sebanyak 65 orang dan yang
menderita alergi sebanyak 50 orang. Sedangkan yang laki-laki sebanyak 18,75% atau
sebanyak 15 orang dan yang menderita alergi sebanyak 11 orang.
4.2.2. Distribusi Data Berdasarkan Usia

No. Usia Jumlah Yang Menderita Presentase


1. Anak (5-15) 15 14 17.5%
2. Muda (16-35) 39 26 32.5%
3. Tua (>35) 26 20 25%
Tabel 4.2 Distribusi data berdasarkan usia

Berdasarkan tabel 4.2 didapatkan bahwa usia pekerja rumput laut didapatkan
paling banyak pada usia muda (16-35) sebesar 32.5% atau sebanyak 26 penderita,
kemudian diikuti usia tua (>35) sebesar 25% atau sebanyak 20 penderita, danusia
anak (15-15) sebesar 17.5% atau sebanyak 14 penderita.

4.2.3. Distribusi Data Berdsarkan Penggunan APD

No. Penggunaan APD Jumlah Yang Menderita Persentase


1. Menggunakan APD 44 40 90%
2. Tidak Menggunakan APD 36 22 61%
Tabel 4.3. Distribusi data berdasarkan penggunaan APD

Berdasarkan tabel 4.3. didapatkan hasil bahwa pekerja rumput laut yang
menggunakan APD adalah sebanyak 43 orang dan tidak menggunakan APD
sebanyak 36 orang. Sementara jumlah pekerja rumput laut yang menderita dan
menggunakan APD sebesar 90% atau sebanyak 39 orang sementara pekerja rumput
laut yang tidak menggunakan APD dan menderita sebesar 61% atau sebanyak 22
orang.
4.2.4. Distribusi Data Berdasarkan Hygiene

No. Personal hygiene Jumlah Menderita dermatitis Persentase


kontak
1. Tidakcucitangan 54 48 67,5%
setelahbekerja
2. Cucitangan 26 13 32.5%
setelahbekerja
Total 80 61 100 %
Tabel 4.4. Distribusi data berdasarkan hygiene.

Berdasarkan tabel 4.4. menunjukkan bahwa dari 80 responden, jumlah


responden dengan personal hygiene yang buruk yaitu tidak mencucitangan sebanyak
54 orang (67,5%) dan responden dengan personal hygiene yang baik yaitu mencuci
tangan sebanyak 26 orang (32,5%). Dari 80 responden tersebut, beberapa diantaranya
mengalami dermatitis kontak, responden dengan personal hygiene yang buruk sekitar
48 orang dan responden dengan personal hygiene yang baiksebanyak 13 orang.
Sedangkan 19 orang sisanya tidak mengalami dermatitis kontak.

4.2.5. Distribusi Data Berdasarkan Predileksi

No Predileksi gangguan kulit Persentase (%)


1. Tangan 76,25%
2. Perut 5%
3. Wajah 2,5%
4. Leher 7,5%
5. Bokong 2,5%
6. Lipatan Paha 2,5%
7. Kaki 15%
Tabel 4.5. Distribusi data berdasarkan predileksi

Dari tabel 4.5 didapatkan lokasi predileksi gangguan kulit pada responden
yaitu ditangan dengan persentase tertinggi (76,25%).

4.2.6. Distribusi Data Berdasarkan Lama Paparan

No Lama Paparan Jumlah Yang Menderita Presentase


1 Lama Kerja
a. ≤ 1 tahun 15 12 18,7
b. ≥ 1 tahun 65 50 81,3
2 Jumlah jam kerja per hari
a. ≤ 8 jam 16 10 20
b. ≥ 8 jam 64 52 80
Tabel 4.6. Distribusi data berdasarkan lama paparan

Berdasarkan tabel lama paparan di atas di dapatkan hasil bahwa pekerja


rumput laut yang menderita dermatitis kontak paling banyak adalah yang bekerja
lebih dari satu tahun sebesar 81,3% atau sebanyak 65 orang dan yang menderita
alergi sebanyak 50 orang, sedangkan yang bekerja kurang dari satu tahun sebesar
18,7% atau sebanyak 15 orang dan yang menderita alergi sebanyak 12 orang.
Sedangkan, berdasarkan jumlah jam kerja per hari, pekerja rumput laut yang
menderita dermatitis kontak paling banyak adalah yang bekerja lebih dari 8 jam yaitu
sebesar 80% atau sebanyak 64 orang dan yang menderita alergi sebanyak 52 orang,
sedangkan yang bekerja kurang dari 8 jam per hari yaitu sebesar 20% atau sebanyak
16 orang dan yang menderita alergi sebanyak 10 orang.
BAB 6
PEMBAHASAN

Dalam pembahasan berikut ini membahas tentang gambaran mengenai faktor


resiko terjadinya dermatitis kontak alergi pada pekerja rumput laut di kelurahan
Tanjung Harapan Nunukan Selatan, Kalimantan Utara.
Dermatitis kontak adalah respon keadaan keradangan dari kulit yang ditandai
oleh piltrasi sel mononuclear, periveskuler pada dermis dan epidermis. Spogiosis dan
hiperplasi, lesinya di tandai oleh eritema, popula, vesikula dan bale pada fase akut
dan jika kronik menjadi lebih berskuama dan likhanifikasi. Determatitis kontak
ditemukan pada 4-7 % semua kasus dermatologi dan hamper sepenuhnya merupakan
determatitis kontak yang ada hubungannya dengan pekerjaan

1. Kejadian Dermatitis Kontak Alergi berdasarkan Jenis Kelamin


Berdasarkan Tabel 4.1 didapatkan hasil bahwa pekerja rumput laut
paling banyak adalah Perempuan sebesar 81,25% atau sebanyak 65 orang dan
yang menderita alergi sebanyak 50 orang. Sedangkan yang laki-laki sebanyak
18,75% atau sebanyak 15 orang dan yang menderita alergi sebanyak 11 orang.
Menurut Arie (2017) dalam penelitiannya kejadian dermatitis kontak
sebenarnya memiliki frekuensi yang sama pada pria maupun perempuan.
Namun dermatitis secara signifikan lebih bnayak pada perempuan
dibandingkan laki-laki. Tingginya kejadian tersebut akibat faktor lingkungan
dan seringnya terkena paparan.

2. Kejadian Dermatitis Kontak Alergi berdasarkan Usia


Pada data ini didapatkan usia muda (32.5%) lebih rentan terkena
dermatitis kontak alergi dibandingkan usia tua (25%) dan usia anak (17.5%).
Hal ini dapat diambil kesimpulan bahwa pekerja muda lebih mudah terkena
dermatitis kontak. Salah satu faktor yang dapat menjadi penyebab fenomena
ini adalah bahwa pekerja dengan usia yang lebih muda memiliki pengalaman
yang lebih sedikit dibandingkan dengan pekerja yang lebih tua. Sehingga
kontak bahan allergen dengan pekerja masih sering terjadi pada pekerja
muda.1 Dermatitis dapat diderita oleh semua golongan usia, namun usia hanya
sedikit berpengaruh pada kapasitas sensitasi dan setiap kelompok usia
memiliki polakarak teristik sensitifitas yang berbeda. Pada dewasa muda,
cenderung didapati kejadian dermatitis kontak karena pekerjaan. Pada usia
tua, cenderung didapati dermatitis kontak karena adanya riwayat sensifitas
terdahulu.2 Pada usia tua reaksi terhadap bahan iritan mungkin meningkat,
tetapi bentuk kelainan kulit berupa kemerahan yang terlihat pada usia tua
berkurang. Usia setelah 30 tahun, produksi hormon-hormon penting seperti
tertosteron, growth hormone dan esterogen mulai menurun. Produksi hormone
yang dapat mempengaruhi kesehatan kulit, seperti terjadinya penuaan pada
kulit.3

3. Kejadian Dermatitis kontak Alergi berdasarkan Penggunaan APD


Berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
[Link].08/MEN/VII/2010 tentang Alat Pelindung Diri. Pasal 2 ayat (2)
menyebutkan pelaksanaan ketentuan Pasal 3, Pasal 4 ayat (1) tentang
keselamatan kerja perlu diatur mengenai alat pelindung diri sesuai dengan
ketentuan tersebut, para pekerja harus mendapatkan Alat Pelindung Diri yang
layak, walaupun pekerja tersebut tidak bekerja dibawah pemilik atau justru
pemilik dari usaha.(1)
Berdasarkan variable alat pelindung diri (APD) ditemukan pekerja
Rumput Laut yang tidak memakai alat pelindung diri sebanyak 45.5% dan
yang memakai sebanyak 54,5 % ini berarti bahwa kesadaran pekerja rumput
laut untuk memakai alat pelindung lebih tinggi walaupun jumlahnya tidak
terlalu signifikan.
Jumlah pekerja rumput laut yang menggunakan APD dan tetap
menderita DKI sebanyak 90% sementara pekerja yang tidak menggunakan
APD dan menderita sebanyak 61%. Berdasarkan data yang ditemukan dapat
ditarik kesimpulan penggunaan APD pekerja rumput laut tidak memberikan
kontribusi yang baik dalam mencegah terjadinya Dermatitis Kontak. Begitu
juga terhadap pekerja rumput laut yang bekerja tanpa menggunakan APD.
Fungsi dari alat pelindung diri yang dirancang adalah untuk
mencegah adanya bahaya agar tidak mengenai tubuh pekerja. Alat pelindung
atau proteksi diri yang dapat dipakai pekerja beragam jenisnya. Alat
pelindung diri sarung tangan berguna untuk melindungi tangan dan bagian
dari benda tajam atau goresan, Sarung tangan merupakan alat pelindung diri
yang paling banyakdigunakan oleh pekerja rumput laut daerah penilitian.
Dalam hal ini, pekerja memilih untuk memakai sarung tangan berbahan
latex dan sesuai dengan penelitian Andhika Fitri Ningtiyas dkk, sarung
tangan berbahan latex dianjurkan sebagai upaya pencegahan dermatitis
kontak.(2)
Namun kenyataannya dilapangan mayoritas pekerja rumput laut
mulai memakai APD jika terdapat keluhan pada kulit dan tidak akan
memakainya jika tidak punya keluhan. Cara pemakaian APD yang salah
juga memberikan kontribusi terhadap faktor kejadian Dermatitis Kontak
Alergi yang dialami oleh pekerja rumput laut.

4. Kejadian Dermatitis Kontak Alergi Berdasarkan Hygien.


Personal hygiene adalah suatu tindakan serta upaya untuk memelihara
kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejah teraan fisik maupun psikis.
Dimana hal tersebut tercantum dalam Undang-Undang No. 2 Tahun 1996
pasal [Link] karena itu, personal hygiene termasuk salah satu pencegahan
primer yang spesifik yang berhubungan dengan kebersihan diri yang buruk.
Berdasarkan hasil penelitian pada pekerja rumput laut diketahui ada
hubungan yang signifikan antara personal hygiene yang buruk dengan
kejadian dermatitis kontak. Personal hygiene dalam penelitian ini meliputi
kebiasaan mencuci tangan setelah bekerja. Berdasarkan data distribusidari 80
responden didapatkan sekitar 54 orang tidak mencuci tangan setelah bekerja
yaitu sebesar 67,5% dan 48 orang diantaranya mengalami dermatitis kontak.
Hal ini menunjukkan bahwa personal hygiene mempengaruhi kejadian
dermatitis kontak pada pekerja rumput laut. Hasil penelitian juga
menunjukkan bahwa dari 26 orang atau sebesar 32,5% yang mencuci tangan
setelah bekerja, 13 orang diantaranya mengalami dermatitis kontak. Hal ini
dapat terjadi kemungkinan karena adanya faktorlain yang mempengaruhi
seperti tingkat sensitifitas kulit dan lama paparan. Kemudian terdapat 6 orang
responden yang mencucitangan setelah bekerja dan 13 orang yang tidak
mencuci tangan setelah bekerja namun tidak mengalami dermatitis kontak hal
ini dapat terjadi dikarenakan beberapa responden memiliki kebersihan diri
yang baikserta lama paparan tidak melebihi normal. Adanya perilaku personal
hygiene yang buruk ini tentu menjadi penyebab terjadinya dermatitis kontak
bahkan dapat memperparah gejala klinis serta mengurangi kualitas hidup para
pekerja rum putlaut.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Safriyanti dkk (2016)
mengenai hubungan personal hygiene, lama kontak dan riwayat penyakit
kulit dengan kejadian dermatitis kontak pada pekerja rumput laut di Desa
Akuni Kecamatan Tinenggea Kabupaten Konawe Sulawesi Selatan 2016
dinyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara personal hygiene
dengan kejadian dermatitis kontak dengan p-value sebesar 0,045.
Sama halnya pada penelitian yang dilakukan oleh Reni dkk (2014)
mengenai hubungan masakerja, hygiene perorangan dan penggunaan alat
pelindung diri dengan keluhan gangguan kulit pekerja rumput laut di
Kelurahan Kalumeme Bulukumba dinyatakan adahu bungan yang signifikan
dengan hygiene perorangan yaitup-value sebesar 0,000.

5. Gambaran kejadian Dermatitis Kontak Alergi berdasarkan Lama Paparan


Lamanya seseorang bekerja dalam sehari secara baik pada umumnya
6-8 jam, sisanya (16-18) jam dipergunakan untuk keluarganya, masyarakat,
istirahat, tidur dan lain lain. Memperpanjang waktu kerja dari kemampuan
tersebut biasanya tidak disertai efisien yang tinggi, bahkan biasanya terlihat
penurunan produktifitas serta kecenderungan untuk timbulnya kelelahan,
penyakit dan kecelakaan.
Dari hasil penelitian diatas dibuktikan bahwa lama paparan serta
banyaknya jam kerja per harinya pada pekerja rumput laut mempunyai
hubungan yang signifikan terhadap terjadinya dermatitis kontak.
Menurut penelitian yang dilakukan Azhar dan Hananto, gangguan
kulit yang terjadi pada pekerja rumput laut di Kelurahan Mamolo,
diperkirakan karena adanya agen yang berperan yaitu toksin yang dihasilkan
oleh hydroid (Heryanto,2005). Yaitu golongan invertebra primitive berbentuk
polip yang menempel pada rumput laut dan pada tali pengikat. Hydroid yang
merupakan anggota dari orde Hydrozoa memiliki penampilan seperti tanaman,
mempunya tiga tahapan dalam siklus hidupnya. Tahap pertama adalah larva
yang sangat kecil dan berenang bebas di perairan, tahap kedua adalah sessile
yang membentuk koloni hydroid, kemudian berubah menjadi medusa.
Organisme ini memiliki nematocytes atau stinging apparatus yang tersusun
dari cnidoblast, apabila mengenai kulit akan menusuk dan mengeluarkan
toksin yang menimbulkan reaksi gatal. Reaksi ini tetap ada meskipun
nematocytes tersebut di keringkan, dimana ia memiliki toksisitas yang
bervariasi mulai sedang hingga tinggi (Monfrecola, 2003). Dimana kontak
dengan agen penyakit di laut dalam waktu yang semakin lama tentu saja
menyebabkan dampak yang berkepanjangan.
Sedangkan menurut Reni, Ruslan dan Syamsuar, selain karena adanya
toksin dari agen hydroid, gangguan kulit pekerja rumput laut juga dapat
disebabkan oleh adanya pemberian pupuk pada rumput laut. Rumput laut
yang diberikan pupuk akan meningkatkan terjadinya gangguan kulit. Hal ini
berdasarkan wawancara yang dilakukan terhadap responden. Pupuk yang
digunakan terkenal dengan pupuk alam hijau. Pupuk alam hijau berfungsi
dalam perkembangan rumput laut semakin besar. Namun sampai saat ini
belum ditemukan penelitian yang terkait dengan kandungan organic terdapat
dalam pupuk alam hijau yang dapat mempengaruhi terjadinya gangguan kulit.
Hal ini diperkuat pula dengan pengakuan pekerja rumput laut yang merasakan
gangguan kulit sejak beralih profesi menjadi pekerja rumput laut.
Selain itu, disisi lain Reni mengungkapkan bahwa seseorang yang
terkena gangguan toksik tidak serta merta akan terkena gangguan kulit. Hal
ini tergantung dari system imun tubuh masing masing. Seseorang yang
didukung dengan system imun tubuh yang baik akan lebih sulit terkena
gangguan kulit. System imun adalah mekanisme pertahanan tubuh dari
serangan benda asing seperti racun dan bahan bahan berbahaya lainnya.
Makin baik sitem imun tubuh seseorang, maka akan semakin baik system
pertahanan tubuhnya.
Sehingga selain karena lama paparan, dermatitis kontak tersebut dapat
dipengaruhi oleh jenis pupuk yang di pakai serta system imun tubuh
perorangan.

6. Gambaran Kejadian Dermatitis Kontak Alergi berdasarkan Predileksi


Dari hasil penelitian didapatkan lokasi predileksi gangguan kulit pada
responden yaitu ditangan dengan persentase tertinggi (76,25%) dan hal ini
telah dibuktikan oleh penelitian Khadijah Azhar dan Miko Hananto (2011)
yang menjelaskan bahwa Lokasi terjadinya penyakit kulit pada bagian tubuh
sebelah kanan dan kiri sebagian besar berada di tangan (49,5% - 51,4%). hal
ini berhubungan dengan dengan intensitas dan frekuensi kontak pekerja
terhadap alergen penyebab dermatitis, khususnya yang dialami oleh mereka
yang bertugas melakukan pembibitan.

BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan
mengenai faktor resiko dermatitis kontak alergi pada pekerja rumput Laut di
Mamolo Kelurahan Tanjung Harapan, Nunukan Selatan diperoleh kesimpulan
sebagai berikut:
1. Perempuan menjadi penderita terbanyak yang terjangkit Dermatitis kontak
alergi dari pada laki-laki.
2. Usia Muda ( 16-35 ) menjadi penderita terbanyak yang terjangkit
Dermatitis kontak Alergi dibandingkan usia anak-anak dan usia Tua
3. Lama paparan juga menjadi salah satu faktor resiko terjadinya dermatitis
kontak alergi pada pekerja rumput laut.
4. Ketaatan penggunaan APD dan cara pakai APD yang tidak benar yang
menjadikan kejadian dermatotis kontak alergi pada pekerja rumput laut
meningkat.
5. Personal hygine juga menjadi faktor resiko terjadinya Dermattis kontak
alergi pada pekerja rumput laut.
6. Keebanyakan Tangan yang terpapar sehingga paling banyak kejadiannya
di area tersebut.

6.2. SARAN

1. Dianjurkan agar pekerja rumput Laut memakai alat pelindung Diri setiap
kerja dan menjaga kebersihan pakaian kerjanya
2. Dianjurkan setelah bekerja rumput Laut aagar dapat mencuci tangan
dengan sabun sampai bersih.
3. Perlunya di tingkatkan penyuluhan mengenai hygiene perorangan
dianjurkan mengenai perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
4. Dianjurkan petugas kesehatan (Dinkes, Rumah Sakit, Puskesmas)
Melakukan penyuluhan tentang resiko yang dapat di timbulkan rumput
Laut dan pengobatanya.
5. Lama kerja hendaknya di peratikan agar efisiensi dan produktifitas kerja
dapat di tingkatkan serta perlunya pengaturan istirahsat pada saat bekerja
dan makan makanan bergizi.
6. Dianjurkan untuk setiap tahapan pekerjaan (Pembibitan, pemanenan,
penjemuran) agar memakai Alat Pelindung Diri (APD), meningkatkan
hygiene perorangan (HPO), mengatur lama kerja (LK) dalam rangka
preventif Dermatitis kontak alergi
7. Pemerintah setempat hendaknya mengeluarkan kebijakan bagi pekerja
rumput laut tentang pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai
dan nyaman di pakai saat bekerja Rumput Laut.
8. Masyarakat dan pemerintah dapat mengaplikasikan nilai-nilai yang
terkandung dalam agama islam pada setiap faktor pekerjaan yang dapat
menimbulkan resiko penyakit apapun.
DAFTAR PUSTAKA

1. Effendi, F. (2007). Ergonomi Bagi Pekerja Sektor Informal Bagian Ilmu


Kesehatan Kerja. Jakarta: Cermin Dunia Kedokteran.
2. Evi Susanty. (2015). Hubungan personal hygiene dan karakteristik Individu
terhadap kejadian dermatitis pada Pekerja rumput laut di dusun puntondo
Kabupaten takalar. Departemen Keselamatan Dan kesehatan Kerja Fakultas
Kesehatan Masyarakat: Universitas Hasanuddin Makassar.
3. Suryani, F. (2011).Faktor-faktor yangberhubungan dengan dermatitis kontak
pada pekerja bagian prosessing dan filling PT. Cosmar Indonesia: Tangerang
Selatan.
4. Mustikawati, I. S., Budiman, F., & Rahmawati, R. (2012). Hubungan
PerilakuPenggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dengan Keluhan Gangguan
Kulitpada Pemulung di TPA Kedaung Wetan Tangerang. Jakarta
5. Taylor JS, Sood A, & Amando A. (2008). Irritant Contact Dermatitis (Vol.1).
New York: Mc Graw Hill Medical.
6. Djuanda, A. (2007). Ilmu Penyakit Kulit dan KelaminEdisi 5 Bagian
IlmuPenyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: Fakultas Kedokteran
UniversitasIndonesia.
7. HSE. (2000). The Prevalence of Ocuupational Dermatitis Amongst Printers in
TheMidlands.
8. Cahyawati, & Budiyono. (2011). Faktor Dermatitis Nelayan. Jurnal
IlmuKesehatan Masyarakat Universitas Negeri Semarang Indonesia, 6 (2),
hal;131-141.
9. Afifah, A. (2012). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan
TerjadinyaDermatitis Kontak Akibat Kerja pada Karyawan Binatu. Fakultas
Kedokteran Universitas Diponegoro: Semarang.
10. Hogan, D. (2001). Allergic Contact Dermatitis. medicine Journal, vol 2,11.
11. Trihapsoro, I. (2008). Dermatitis Kontak Alergik Pada Pasien Rawat Jalan
[Link] Haji Adam Malik Medan. Universitas Sumatera Utara, Medan.
12. Laila Fitri. (2015) Hubungan Antara Pemakaian Alat Pelindung diri
(APD),Masa Kerja,Dan Personal Hygiene dengan Kejadian Dermatosis Pada
Pekerja Pengupas Singkong Di UD. Gondosari Kabupaten Pati. Universitas
Negeri Semarang
13. Akbar, A. R. (2014). Analisis Tingkat Produksi Pekerja Rumput Laut di
Kabupaten Jenneponto. Universitas Hasanuddin, Makassar.
14. Putri, N. K. (2012.). Rumput Laut (Eucheuma Spinosum (Linnaeus) J.
Agardh) sebagai Sumber Serat Pangan Tak Larut Pada Naget Ayam.
UniversitasSumatera Utara: Medan

Anda mungkin juga menyukai