BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bioteknologi adalah teknologi pemanfaat mikroba atau produk mikroba yang bertujuan
menghasikan bahan atau jasa tertentu. Secara istilah bioteknologi terdiri dari bio (hidup), teknos
(penerapan), dan logos (ilmu), dapat didefinisikan ilmu yang menerapkan prinsip – prinsip
biologi.
Bioteknologi adalah teknologi yang berbasis pada organisme hidup, bioteknologi
merupakan usaha terpadu dari berbagai disiplin ilmu seperti biokimia, mikrobiologi, teknik
kimia, dan genetika, yang kemudian mengkristal menjadi suatu disiplin ilmu yang baru, dan
Bioteknologi Farmasi adalah teknologi yang berbasis organisme hidup menghasilkan produk –
produk farmasi dalam jumlah besar yang sangat diperlukan dalam dunia kedokteran
Salah satu bidang dalam Ilmu Bioteknologi adalah Proteomik dan Genomik. Dalam
makalah ini akan dibahas mengenai pengertian proteomic dan genomic, pemisahan protei,
analisis protein, interaksi protein, perkembangan proteomic dan genomic serta aplikasi
Proteomik dan Genomik dalam bidang farmasi.
1
1.2 Tujuan
Untuk Mengetahui Pengertian dari Proteomik dan metabolik
Untuk Mengetahui Manfaat Proteomik dan metabolik dalam bidang Farmasi
1.3 Manfaat
Makalah ini diharapkan mampu menambah wawasan mahasiswa Farmasi dalam ilmu
Bioteknologi khususnya dalam bidang Proteomik dan metabolik serta pemanfaatannya dalam
bidang Farmasi.
2
BAB II
ISI
2.1 Proteomik
Proteomik adalah studi skala besar protein, khususnya struktur dan fungsi. Protein adalah
bagian penting dari organisme hidup, karena mereka adalah komponen utama dari jalur
metabolisme fisiologis sel. Istilah "proteomik" pertama kali diciptakan pada tahun 1997 untuk
membuat analogi dengan genomik, penelitian gen. Kata "proteome" adalah campuran dari
"protein" dan "genom", dan diciptakan oleh Marc Wilkins pada tahun 1994 ketika bekerja pada
konsep sebagai mahasiswa PhD.
Proteome adalah komplemen seluruh protein, Sekarang diketahui bahwa mRNA tidak selalu
diterjemahkan menjadi protein, dan jumlah protein yang dihasilkan untuk suatu jumlah tertentu
tergantung pada mRNA gen itu ditranskripsi dari dan pada keadaan fisiologis saat ini sel.
Proteomika menegaskan kehadiran protein dan menyediakan ukuran langsung dari jumlah ini.
Para ilmuwan sangat tertarik di proteomik karena memberikan pemahaman yang lebih baik dari
suatu organisme dari genomik. Pertama, tingkat transkripsi gen hanya memberikan perkiraan
kasar dari tingkat ekspresi menjadi protein.
2.1.1 Pemisahan Protein
Alat pemisahan yang baik terdiri dari dua dimensi gel elektroforesis, yang diciptakan
pada tahun 1970. Sehebat-hebatnya teknik yang ada, tidak akan dapat memisahkan semua
puluhan ribu protein dalam proteome manusia. Rata-rata gel 2-D dapat memisahkan hanya
3
sekitar 2000 protein sedangkan menggunakan gel yang terbaik hanya bisa memisahkan
sekitar 11000 protein. Masalah ini diperparah oleh kenyataan bahwa kinerja 2-D
elektroforesis tidak dapat diprediksi. Masalah lainnya membran protein terlalu hidrofobik
untuk larut dalam buffer yang digunakan dalam 2D elektroforesis, sehingga tidak bisa
dilihat sama sekali. Akhirnya, banyak protein dalam jumlah kecil seperti dalam sel tidak
dapat dideteksi oleh gel 2-D. Sebagian besar masalah ini sulit dipecahkan namun ilmuwan
telah berusaha menangani masalah resolusi gel 2D dengan menganalisis kompartemen
selular yang berbeda secara terpisah misalnya mereka dapat memulai dengan inti atau
bahkan subcompartment seperti nucleolus atau perakitan protein seperti kompleks pori
nuklir. Penelitian proteomic saat ini mengharuskan protein untuk dipisahkan dalam skala
besar. Alat terbaik yang tersedia untuk pemisahan protein adalah 2-D elektroforesis.
2.1.2 Analisis Protein
Setelah protein dipisahkan dan dihitung, bagaimana mereka dianalisis? protein harus
diidentifikasi dan metode terbaik yang tersedia sekarang ini seperti: setiap lokasi yang
dipotong dari gel dan dibelah menjadi peptida dengan bantuan enzim proteolitik. Peptida ini
kemudian dapat diidentifikasi dengan spektrometri massa.
4
Gambar diatas menggambarkan teknik yang popular dikenal dengan matrixassisted
laser yang waktu desorpsi-ionisasi rumit dari time of flight (MALDI-TOF) sistem
spektrometri massa. Dalam prosedur ini peptida ditempatkan pada matriks, yang
menyebabkan peptida membentuk cystals. maka peptida pada matriks terionisasi dengan
sinar laser dan peningkatan tegangan pada matriks digunakan untuk menembak ion menuju
detektor. dengan asumsi semua ion hanya memiliki satu biaya, waktu untuk membuat ion
mencapai detektor tergantung pada massanya. Massa yg tinggi, semakin lama waktu time of
flight dari ion. Dalam spektrometer massa MALDI-TOF, ion-ion juga dapat dibelokkan
dengan reflektor elektrostatik yang juga memfokuskan sinar ion. sehingga kita dapat
menentukan massa dari ion untuk mencapai detektor kedua dengan presisi yang tinggi dan
massa ini dapat mengungkapkan komposisi kimia yang tepat dari peptida. jika seluruh
urutan genom diketahui, kita tahu apa yang dibutuhkan protein, komputer dapat
memberikan informasi dari spektrometer massa untuk mencocokkan setiap tempat di gel 2D
dengan salah satu gen dalam genom, oleh karena itu dapat memprediksi urutan seluruh
protein. Namun dengan mengetahui urutan protein tidak selalu memberi informasi tentang
aktivitas protein, sehingga penelitian lebih lanjut akan diperlukan untuk menentukan
aktivitas pada protein.
2.1.3 Interaksi Protein
5
Kebanyakan protein bekerja dengan protein lain untuk menghasilkan suatu fungsi
biologis, misalnya pada jalur transduksi sinyal. Banyak protein lain dari kompleks
multiprotein besar berperan pada tugas spesifik, misal :
Ribosom sintesis protein
Proteasom degradasi protein
Beberapa teknik yang digunakan untuk analisa interaksi protein :
Analisis dua hibrid ragi
Merupakan analisa tidak langsung menggunakan aktifasi gen reporter untuk
mwngamati interaksi antara dua bagian aktifator transkripsi kimerik, namun
teknik ini sering gagal untuk mendeteksi interaksi yang diketahui.
Protein microarrays
Protein microarrays dibuat dengan protin yang ditotolkan pada dua sisi
berdampingan dan diperiksa dengan antibody α-GST (baris 1 dan 3)
Antibody α-GST dideteksi dengan fluoresens untuk menghasilkan titik merah.
Intensitas fluoresens merah mengindikasikan jumlah protein di tiap titik.
Pada pemeriksaan baris ke 2 dan 4 dipasangkan dengan biotin yang dideteksi
dengan streptavidin untuk tandas fluoresens hijau.
Hasilnya kalmodulin, protein yang terlibat pada banyak proses yang
membutuhkan kalsium dan Liposom.
6
Kromatografi imunoafinitas diikuti spektrometri massa
Langkah-langkahnya :
Memilih protein umpan yang mampu berinteraksi dengan protein yang lain.
Protein umpan mewakili beberapa kelas yang berbeda, yakni protein kinase,
protein fosfatase, dan protein yang berpartisipasi pada respon kerusakan
DNA.
Pemurnian kompleks protein yang mengandung protein umpan dari ekstrak
sel menggunakan kromatografi imunoaktifitas.
Pemisahan protein di dalam kompleks menggunakan SDS-PAGE
Identifikasi protein. Protein dipotong dari gel dan dicerna dengan tripsin,
peptida yang dihasilkan dianalisis dengan spektrometri massa.
7
Gambar 1. Skema Kromatografi Imunoafinitas
2.2.4 Aplikasi dan Manfaat Proteomik
Berdasarkan jurnal Application of Genomics of Toxicology Research, aplikasi dari informasi
ekspresi gen dan polimorfis memencakup 4 area dalam toksikologi yaitu :
1. Toxicity testing
2. Cross spesies extrapolation
3. Understanding mechanism of action
4. Dan susceptibility
Aplikasi Proteomic juga digunakan dalam :
8
1. Diagnosa kanker dibahas dalam jurnal From genomics to proteomics : techniques and
applications in cancer research oleh Daniel B. Martin, et al tahun 2001
2. Diagnosa kanker juga dibahas pada jurnal Applications of proteomic techniques in
cancer Research oleh Preeti Roy, et al tahun 2008.
3. Diagnosa penyakit diabetes dibahas pada jurnal Proteomic Identification of Salivary
Biomarkers of Type-2 Diabetes oleh Paturi V. et al tahun 2009.
2.2 Metabolik
Metabolomik merupakan salah satu teknologi yang melibatkan multidisiplin ilmu untuk
menyediakan pendekatan sistematik dalam mempelajari sistem biologi dan hubungannya.
Metabolomik merupakan studi yang mempelajari mengenai metabolit yang terkandung dalam
suatu organisme sebagai salah satu produk akhir dari proses sintesis sel dan level dari
metabolomik diketahui sebagai hasil akhir dari sistem biologi terhadap perubahan genetik dan
lingkungan sekitar dari organisme tersebut (Putri, Nakayama, et al., 2013; Putri, Yamamoto,
Tsugawa, & Fukusaki, 2013).
Sejalan dengan transkriptom dan proteom, metabolit yang disintesis dari suatu organisme
menjelaskan metabolom. Sama seperti definisi dari transkriptom dan proteome, metabolome
dapat mendefinisikan berbagai macam level kompleksitas seperti organisme, jaringan, sel, dan
bagian-bagian terkecil dari sel. Hal tersebut didukung dengan kondisi lingkungan yang dapat
mempengaruhi beberapa penelitian yang berkaitan dengan biologi dasar yang membutuhkan data
yang cukup detail (Shiratake & Suzuki, 2016; Verpoorte, Choi, & Kim, 2010).
9
Pengetahuan ilmu biologi dasar mengenai tanaman sendiri mencakup anatomi, fisiologis,
genetik, genomik, proteomik, biologi perkembangan, biologi sel, dan interaksi tanaman dengan
lingkungannya. Semua pengetahuan itu akan terus berkembang seiring dengan berkembangnya
masing-masing disiplin [Link] itu sendiri. Berkembangnya masing-masing disiplin ilmu
ini lebih dikarenakan masih besarnya black box yang tersisa dari tanaman secara keseluruhan.
Besarnya black box tersebut dikarenakan kondisi metabolit dari tanaman diatur secara dinamis
sebagai akibat dari respons yang mereka dapat di lingkungan tanaman itu sendiri(Fiehn, 2002;
Jansen, Smit, Hoefsloot, & Smilde, 2010).
Studi metabolomik menawarkan investigasi lebih mendalam mengenai perubahan-
perubahan metabolit yang terjadi dalam sistem tanaman itu sendiri. Studi mengenai sistem
metabolit tanaman yang berubah secara dinamis masih menjadi tantangan tersendiri bagi para
peneliti yang berkecimpung di bidang metabolit tanaman. Akan tetapi, metabolomik
menawarkan strategi menjanjikan untuk meninjau secara global ekspresi gen, dan akumulasi
metabolit untuk memperkirakan mekanisme yang terjadi dalam suatu sistem biologi dalam hal
ini tanaman.
10
2.2.1 contoh aplikasi metabolomik di bidang ilmu tanaman
Beberapa aplikasi awal metabolomik yang diintegrasikan bersama dengan beberapa studi
lainnya seperti metabolomik-genomik sudah dilakukan untuk melakukan tinjauan mengenai
mekanisme yang terjadi pada tanaman yang mengalami stres seperti biotik (Tenenboim &
Brotman, 2016) maupun abiotik (Rudell et al. 2011; B. Zhang et al. 2011; António et al. 2016).
Analisis terintegrasi ini menghasilkan bahwa metabolit primer dan sekunder terkoordinasi satu
sama lain akibat adanya induksi stres kekurangan nutrient sulfur pada tanah (Hirai et al., 2004;
Nikiforova et al., 2005).
Tak hanya untuk mengetahui beberapa metabolit yang berpengaruh kepada beberapa
stress biotik dan abiotik tetapi juga diskriminasi perbedaan-perbedaan nutrien yang berada pada
tanaman dengan lokasi geografis yang berbeda menjadi salah satu penggunaan studi
metabolomik dalam pemetan nutrisi dari masing-masing asal geografis dari tanaman-tanaman itu
(Kobayashi et al., 2012; Tianniam, Tarachiwin, Bamba, Kobayashi, & Fukusaki, 2008; Wahyuni
et al., 2013).
Aplikasi metabolomik juga bisa digunakan untuk menentukan peringkat dari suatu
produk pertanian yang diperlombakan setiap tahunnya seperti teh hijau yang berasal dari Jepang.
Beberapa riset sebelumnya pun menunjukan bahwa metabolomik mampu menginvestigasi
metabolit apa yang berpengaruh kepada tinggi nya peringkat yang diperoleh dari suatu produk
pertanian. Sehingga hasil dari metabolomik itu dapat digunakan untuk peningkatan kualitas dan
nutrisi yang dibutuhkan suatu tanaman produk pertaniannya (Jumtee, Komura, Bamba, &
Fukusaki, 2011).
11
Perkembangan studi metabolomik yang telah dibuktikan sebagai produk akhir dari suatu
sistem biologi seperti proses pematangan buah. Proses pematangan buah merupakan salah satu
fenomena yang melibatkan genetika, ekologi, transkriptomik, hingga fisiologis. Akan tetapi
proses pematangan buah ini belum sepenuhnya dipahami dikarenakan masih banyaknya black
box yang masih tidak bisa dijelaskan menggunakan pendekatan genomik ataupun transkriptomik
(Asif et al., 2014; Dussert et al., 2013; Gapper, Giovannoni, & Watkins, 2014; Karlova et al.,
2014; Pirrello, 2009). Metabolomik dalam hal ini menyediakan beberapa pendekatan dan
memberikan petunjuk terhadap black box tersebut dikarenakan pendekatan metabolomik
merupakan pendekatan yang cukup dekat dengan ekspresi fenotip yang bisa diamati dengan
kasat mata dalam hal ini seperti warna, kekerasan, rasa manis atau asam dari buah itu sendiri .
Studi mengenai pematangan buah sendiri sudah banyak dilakukan dengan menggunakan
pendekatan metabolomik baik buah klimakterik ataupun non-klimaterik. Sejauh ini, studi
mengenai pamatangan buah hanya fokus kepada perubahan secara genetik dan fenotip yang
dapat diamati secara kasat mata. Sedangkan perkembangan studi mengenai pematangan buah
sendiri dibutuhkan untuk meningkatkan teknologi pasca-panen dalam memperlambat umur
simpan buah agar dapat disimpan dalam waktu yang cukup lama dengan metode yang efektif dan
efisien. Efektif dan efisien yang dimaksud disini adalah bahwa buah yang sudah diberi perlakuan
tidak mengalami perubahan rasa atau struktur, tetapi juga memerlukan biaya yang cukup mudah
dijangkau untuk semua kalangan.
Studi metabolomik mengenai pematangan buah menjelaskan beberapa metabolit yang
memiliki korelasi positif atau intensitasnya terus meningkat dan terakumulasi pada tahap akhir
dari pematangan buah tersebut. Studi komperatif antara kedua jenis buah juga dilakukan oleh
Klie et al (2013) memperlihatkan adanya pebedaan metabolites di kedua jenis buah tersebut.
12
Studi yang menjelaskan korelasi antara warna dan perubahan metabolit yang terjadi
selama pematangan buah juga dilakukan oleh grup kami pada buah manggis (Garcinia
mangostana) oleh Parijadi et al (2017). Studi mengenai hubungan perubahan warna dan
perubahan metabolit berhasil dijelaskan melalui penggambaran model statistic PLS (Projection
to latent square) dengan beberapa kandidat metabolit yang berkorelasi secara positif di ketiga
bagian dari manggis diantaranya adalah bagian kulit buah, daging buah, dan biji dari buah
manggis sendiri.
Studi serupa juga dilakukan oleh Yamamoto et al (*unpublished data) dengan
menggunakan perlakuan kitosan untuk memperpanjang umur simpan buah pisang Cavendish
(Musa acuminate CV AAA). Pendekatan metabolomik menjelaskan bahwa perlakuan kitosan
berhasil memperpanjang umur simpan buah pisang apabila ditinjau oleh perubahan metabolit
yang terjadi. Selain itu, adanya temuan bahwa ACC (1-aminocyclopropane-1-carboxylic acid)
terakumulasi dan tidak diubah menjadi gas etilen.
2.2.2 tahapan kerja dan teknik metabolomik
13
Upaya peningkatan serta pengembangan teknik analisis metabolomik pun terus dilakukan
untuk meningkatkan jumlah metabolit yang bisa dideteksi mengingat banyaknya metabolit yang
dihasilkan oleh suatu organisme khususnya oleh tanaman. Tanaman sendiri akan menghasilkan
berbagai macam senyawa kimia yang sangat berguna untuk mekanisme pertahanan diri,
pembentukan senyawa-senyawa yang berfungsi dalam bidang farmasi, ataupun menyediakan
informasi mendalam mengenai produksi metabolit sekunder yang dihasilkan tanaman. Studi ini
diperlukan mengingat banyaknya peneliti yang memanfaatkan produksi senyawa metabolit
sekunder untuk meningkatkan produksinya dalam jumlah yang banyak.
Produk metabolit sekunder yang cukup penting dalam produksi senyawa yang
bermanfaat, metabolomik menawarkan tiga jenis data yang dibutuhkan untuk menjelaskan
struktur metabolit dari senyawa metabolit sekunder tersebut. Pertama, kita harus menggunakan
tandem mass (MS/MS) data spektrum untuk menjelaskan struktur metabolit yang kita inginkan.
Kedua, kita membutuhkan data base spectrum berat dari senyawa kimia yang kita inginkan
meskipun diperlukan usaha yang cukup besar untuk membuat database dari MS/MS data.
Langkah lanjutan untuk memperkaya database ini masih diperlukan untuk menjelaskan struktur
dengan jangkauan metabolit yang lebih luas. Ketiga, kita memerlukan metode untuk menentukan
kemungkinan kesalahan yang terjadi apabila akan diproduksi dalam skala besar. Beragamnya
senyawa metabolit sekunder yang ada di tanaman memerlukan perkembangan yang lebih lanjut
dalam hal database dan metode yang digunakan. Hal ini yang akan menjadi tantangan
selanjutnya dalam perkembangan teknologi metabolomik itu sendiri.
Studi metabolomik sendiri terdiri dari beberapa tahapan diantaranya preparasi sampel,
ekstraksi, analisis metabolit menggunakan beberapa jenis instrumen, analisa data dan interpretasi
14
data. Penjelasan mendalam mengenai masing-masing tahapan akan dijelaskan per point di bawah
ini:
15
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Proteomik adalah studi skala besar protein, khususnya struktur dan fungsi. Protein
adalah bagian penting dari organisme hidup, karena mereka adalah komponen
utama dari jalur metabolisme fisiologis sel.
Aplikasi Proteomic juga digunakan dalam :
Diagnosa kanker dibahas dalam jurnal From genomics to proteomics :
techniques and applications in cancer research oleh Daniel B. Martin, et
al tahun 2001
Diagnosa kanker juga dibahas pada jurnal Applications of proteomic
techniques in cancer Research oleh Preeti Roy, et al tahun 2008.
Diagnosa penyakit diabetes dibahas pada jurnal Proteomic Identification
of Salivary Biomarkers of Type-2 Diabetes oleh Paturi V. et al tahun 2009.
16
DAFTAR PUSTAKA
Daniel B. Martin, et [Link] genomics to proteomics:trchniques and applications in cancer
research.
Preeti Roy, et [Link] of proteomic techniques in cancer Research.
Thomas, S [Link] of Genomics of Toxicology Research.
V. Paturi, et al. 2009. Proteomic Identification of Salivary Biomarkers of Type-2 Diabetes
New Goals for the U.S. Human Genome Project:[Link] vol 282.1998
[Link]
17