MINI RESEARCH
“TITIK DIDIH CAIRAN”
(Disusun untuk memenuhi tugas terstruktur dalam Mata Kuliah Fisika Umum)
Dosen Pengampu :
Sabani, [Link], [Link]
Disusun Oleh :
• ANDINI NUR KATON (4192121001)
• DIAN RONALDO SIHOTANG ( 4193321011)
• HERAWATI BANJARNAHOR ( 4192421007)
• WURI CAHYANINGRUM ( 4193121007 )
KELOMPOK VI
FISIKA DIK’A 2019
PENDIDIKAN FISIKA - A
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGRI MEDAN
2019
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan
rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas Mini Research yang berjudul
“Titik Didih Cairan” tepat waktu dalam rangka pemenuhan tugas mata kuliah Fisika Umum.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan tugas Mini Research ini. Penulis juga berterima kasih kepada Bapak Sabani,
[Link], [Link] selaku dosen mata kuliah “Fisika Umum” yang telah memberikan arahan dan
bimbingan dalam penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang terdapat pada tugas Mini
Research ini. Oleh karena itu, penulis berharap adanya kritik, saran dan usulan yang
membangun demi perbaikan makalah ini di masa yang akan datang. Akhir kata, semoga
makalah ini dapat memberikan manfaat bagi penulis dan pembaca.
Medan, 15 November 2019
Penulis
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I. LATAR RUMUSAN MASALAH 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Rumusan masalah.................................................................................1
1.3. Tujuan...................................................................................................2
BAB II. KONSEP DAN HIPOTESIS ....................................................................3
2.1. Konsep .................................................................................................3
2.2. Hipotesis ..............................................................................................3
BAB III. TEKNIK PENGUMPULAN DATA ......................................................4
BAB IV. ANALISIS DATA...................................................................................5
4.1. Tabel Hasil Percobaan 5
4.2. Pembahasan Kuantitatif 5
5.2. Pembahasan Kualitatif..........................................................................9
BAB V. PENUTUP 11
5.1. Kesimpulan...........................................................................................11
5.2. Saran.....................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA 12
LAMPIRAN............................................................................................................13
ii
BAB I
LATAR RUMUSAN MASALAH
1.1 Latar Belakang
Fisika merupakan suatu mata pelajaran yang diajarkan pada setiap jenjang pendidikan
di Indonesia mulai dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) sampai Sekolah Menengah Atas
(SMA). Pelajaran fisika merupakan pelajaran yang sedikit sulit dimengerti dikarenakan oleh
rumus-rumus yang banyak dan juga diperlukan gambar-gambar yang sesuai dengan materi
yang diajarkan maka untuk itu dibutuhkan suatu sistem pembelajaran untuk mempermudah
siswa dalam mempelajari suatu pelajaran dengan cepat dan menarik.
Fisika merupakan suatu disiplin ilmu yang mempelajari fenomena alam semesta,
hukum - hukum, dan interaksinya. Setiap gejala alam apa saja pasti terkait dengan hukum
fisika. Berdasarkan hal tersebut fisika tidaklah lepas dari apa yang terjadi di alam semesta ini
dan selalu berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini menuntut siswa mampu
menyelesaikan masalah dalam realita kehidupan dengan menerapkan pengetahuan fisika yang
dimilikinya. Pemahaman konsep Newtonian terhadap mahasiswa diperoleh hasil bahwa
masih terdapat permasalahan secara konseptual memahami konsep fisika yang diajarkan pada
mahasiswa.
Salah satu pelajaran fisika yang sangat menarik untuk dibahas adalah materi
mengenai suhu. Dalam materi yang membahas tentang suhu banyak sekali hal unik yang
didapatkan dari materi tersebut dan lebih membuat menarik lagi adalah dalam materi
pembelajaran tersebut kita dapat mendapatkan wawasan baru mengenai kenaikan titik didih
suatu zat. Dengan kita menambah wawasan baru maka akan sejalan dengan semakin
berkembangnya ilmu pengetahuan yang kita miliki.
1.2 Rumusan Masalah
Hal yang menjadi masalah dalam pada percobaan kenaikan titik didih adalah :
1. Mendeskripsikan apa itu kenaikan titik didih
2. Berapa besar kenaikan titik didih pada air (H2O)
3. Hubungan antara konsentrasi larutan dengan kenaikan titik didih.
4. Apa fakta atau hal unik dari materi kenaikan titik didih
1
1.3 Tujuan
1. Dapat mendeskripsikan apa itu kenaikan titik didih
2. Mengetahui besar kenaikan titik didih pada air (H2O)
3. Mengetahui hubungan antara konsentrasi larutan dengan kenaikan titik didih
4. Mengetahui fakta atau hal unik dari materi kenaikan titik didih
2
BAB II
KONSEP DAN HIPOTESIS
2.1 Konsep
Titik didih adalah suhu dimana tekanan uap dari zat cair sama dengan tekanan di
sekitarnya dan zat cair berubah menjadi suatu uap. Titik didih cairan tergantung pada tekanan
lingkungan sekitarnya. Cairan dalam ruang vakum parsial memiliki titik lebih rendah
daripada ketika cairan yang pada tekanan atmosfer. Zat cair pada tekanan tinggi memiliki
titik lebih tinggi daripada ketika cairan berada pada tekanan atmosfer. Untuk tekanan yang
sama, cairan yang berbeda akan mendidih pada suhu yang [Link] didih normal (juga
disebut titik didih atmosfer atau titik didih tekanan atmosfer) suatu cairan adalah kasus
khusus di mana tekanan uap cairan sama dengan tekanan atmosfer yang di permukaan laut
yaitu 1 atmosfer. Pada suhu tersebut, tekanan uap cairan menjadi cukup untuk mengatasi
tekanan atmosfer dan memungkinkan terbentuknya gelembung uap dalam cairan. Titik didih
standar telah ditetapkan oleh IUPAC sejak tahun 1982 sebagai suhu di mana pendidihan
terjadi pada tekanan 1 bar.
Kalor penguapan adalah energi yang dibutuhkan untuk mengubah zat dalam jumlah
tertentu dari cair menjadi gas pada tekanan tertentu. Cairan dapat berubah menjadi uap pada
suhu di bawah titik didihnya melalui proses penguapan. Penguapan adalah fenomena
permukaan dimana molekul terletak dekat permukaan cairan, namun tidak terdapat tekanan
cairan yang cukup di sisi itu sehingga “melarikan diri” ke lingkungan sebagai uap.
2.2 Hipotesis
Adapun hipotesis atau dugaan kami adalah sebagai berikut
1. Jika konsentrasi zat terlarut semakin besar maka kenaikan titik didih semakin tinggi.
2. Jika zat terlarut bersifat elektrolit maka maka kenaikan titik didih lebih tinggi
daripada zat terlarut yang bersifat non elektrolit.
3. Titik didih air berada di 100 derajat celsius
3
BAB III
TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Teknik pengambilan data yang kami gunakan pada miniriset ialah observasi. Jenis
observasi yang kami pergunakan adalah observasi partisipan, yaitu kami atau peneliti
langsung mengamati,berpartisipasi dan ikut dalam melakukan pengukuran. Selain itu,kami
juga bertanya kepada narasumber yang lebih mengetahui mengenai kegiatan praktikum yang
akan kami teliti.
Pelaksanaan penelitian tersebut adalah sebagai berikut :
1. Dilakukan dengan meminta persetujuan kepada pihak laboratorium untuk melakukan
praktikum.
2. Meminta ijin kepada asistan laboratorium yang bersangkutan untuk melaksanakan
praktikum.
3. Melakukan praktikum dengan alat dan bahan yang telah disediakan.
4. Setelah selesai praktikum, selanjutnya meminta ijin untuk pamit kepada asistan
laboratorium yang bersangkutan.
5. Merangkum dan mengolah data yang sudah didapat untuk kemudian diberikan kepada
dosen yang bersangkutan.
4
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Tabel Pengamatan
NO. WAKTU (s) SUHU (c) KETERANGAN
1. (60 ± 0,005)s (32 ± 0,5) ̊c Tidak ada perubahan
2. (120 ± 0,005)s (41 ± 0,5) ͦc Muncul gelombang pada dasar gelas
3. (180 ± 0,005)s (48 ± 0,5) ̊c Mulai muncul uap air
4. (240 ± 0,005)s (56 ± 0,5) ̊c Mulai muncul uap air pada dinding gelas
5. (300 ± 0,005)s (65 ± 0,5) ͦc Uap pada dinding semakin terlihat
6. (360 ± 0,005)s (68 ± 0,5) ͦc Asap pada air mulai terlihat
7. (420 ± 0,005)s (79 ± 0,5) ͦc Uap pada air semakin banyak
8. (480 ± 0,005)s (87 ± 0,5) ͦc Muncul gelembung pada termometer
9. (540 ± 0,005)s (92 ± 0,5) ͦc Gelembung naik diatas permukaan air
10. (600 ± 0,005)s (94 ± 0,5) ͦc Uap semakin banyak
11. (660 ± 0,005)s (95 ± 0,5) ͦc Pergerakan gelembung semakin cepat
12. (720 ± 0,005)s (95,5 ± 0,5) ͦc Asap dan uap air semakin terlihat
13. (780 ± 0,005 )s (96 ± 0,5) ͦc Asap , uap dan gelembung semakin banyak
14. (840 ± 0,005)s (96,5 ± 0,5) ͦc Asap , uap dan gelembung semakin banyak
15. (900 ± 0,005)s (97 ± 0,5) ͦc Asap , uap dan gelembung semakin banyak
16. (960 ± 0,005 )s (98 ± 0,5) ͦc Air mendidih dan banyak gelembung
17. (1020 ± 0,005)s (98 ± 0,5) ͦc Air mendidih dan banyak gelembung
18. (1080 ± 0,005 )s (98 ± 0,5 ) cͦ Air mendidih dan banyak gelembung
4.2 Pembahasan Kuantitatif
Massa Air Suhu Menit Kedua Suhu Menit kelima
m = 40gr T2 = 41 ͦc T5 = 65 ͦc
Δm = ½ x nst neraca ΔT = ½ x nst termometer ΔT = ½ x nst termometer
= ½ x 0,01 gr = ½ x 1 ͦc = 0,5 ͦc = ½ x 1 ͦc = 0,5 ͦc
Δm = 0,005 gr Hp = {T2 ± ΔT2} Hp = {T5 ± ΔT5}
Hp = {m±Δm} = {41 ± 0,5} ͦc = {65 ± 0,5} ͦc
= {40±0,005} gr Suhu Menit ketiga Suhu Menit Keenam
Suhu Awal T3 = 48 ͦc T6 = 68 ͦc
To = 30 ͦc ΔT= ½ x nst termometer ΔT = ½ x nst termometer
ΔT = ½ x nst termometer = ½ x 1 ͦc = ½ x 1 ͦ = 0,5 ͦc
= ½ x 1 ͦc= 0,5 ͦc = 0,5 ͦc Hp = {T6 ± ΔT6}
Hp = {To ± ΔT} Hp = {T3 ± ΔT3} ={68 ± 0,5} ͦc
= {30 ± 0,5} ͦc = {48 ± 0,5} ͦc Suhu Menit ketujuh
Suhu Menit Pertama Suhu Menit keempat T7 = 79 ͦc
T1 = 32 ͦc T4 = 56 ͦc ΔT = ½ x nst termometer
ΔT = ½ x nst termometer ΔT = ½ x nst termometer = ½ x 1 ͦc = 0,5 ͦc
= ½ x 1 ͦc =0,5 ͦc = ½ x 1 ͦc = 0,5 ͦc Hp = {T7 ± ΔT7}
Hp = {T1 ± ΔT1} Hp = {T4 ± ΔT4} = {79 ± 0,5} ͦc
= {32 ± 0,5} ͦc = {56 ± 0,5} ͦc
5
Suhu Menit Kedelapan Suhu Menit Ketiga belas Suhu Menit ketujuh belas
T8 = 87 ͦc T13 = 96 ͦc T17 = 98 ͦc
ΔT = ½ x nst termometer ΔT = ½ x nst termometer ΔT17 = ½ x nst termometer
= ½ x 1 ͦc = 0,5 ͦc = ½ x 1 ͦc = ½ x 1 ͦc
Hp = {T8 ± ΔT8} = 0,5 ͦc = 0,5 ͦc
={87 ± 0,5} ͦc Hp = {T13 ± ΔT13} Hp ={T17 ± ΔT17}
= {96 ± 0,5} ͦc = {98 ± 0,5} ͦc
Suhu Menit Kesembilan
T9 = 92 ͦc Suhu Menit Keempat Suhu Menit kedelapan
ΔT = ½ x nst termometer belas belas
= ½ x 1 ͦc T14 = 96,5 ͦc T18 = 98 ͦc
= 0,5 ͦc ΔT = ½ x nst termometer ΔT18 = ½ x nst termometer
Hp = {T9 ± ΔT9} = ½ x 1 ͦc = ½ x 1 ͦc
= {92 ± 0,5} ͦc = 0,5 ͦ = 0,5 ͦc
Hp = {T14 ± ΔT14} Hp = {T18 ± ΔT18}
Suhu Menit Kesepuluh = {96,5 ± 0,5} ͦc = {98 ± 0,5} ͦc
T10 = 94 ͦc
ΔT = ½ x nst termometer Suhu Menit Kelima belas
= ½ x 1 ͦc T15 = 97 ͦc
= 0,5 ͦc ΔT = ½ x nst termometer
Hp = {T10 ± ΔT10} = ½ x 1 ͦc
= {94 ± 0,5} ͦc = 0,5 ͦc
Hp = {T15 ± ΔT15}
Suhu Menit Kesebelas ={97 ± 0,5} ͦc
T11 = 95 ͦc
ΔT = ½ x nst termometer Suhu Menit Keenam belas
= ½ x 1 ͦc T16 = 98 ͦc
= 0,5 ͦc ΔT16 = ½ x nst termometer
Hp = {T11 ± ΔT11} = ½ x 1 ͦc
= {95 ± 0,5} ͦc = 0,5 ͦc
Hp = {T16 ± ΔT16}
Suhu Menit Kedua belas = {98 ± 0,5} ͦc
T12 = 95,5 ͦc
ΔT = ½ x nst termometer
= ½ x 1 ͦc
= 0,5 ͦc
Hp = {T12 ± ΔT12}
= {95,5 ± 0,5} ͦc
6
Waktu Menit Pertama Waktu Menit Ketujuh Waktu Menit Ketiga belas
t 1 = 60 s t 7 = 420 s t 13 = 780 s
Δt = ½ x nst stopwatch Δt = ½ x nst stopwatch Δt = ½ x nst stopwatch
= ½ x 0,001 = ½ x 0,001 = ½ x 0,001
= 0,005 s = 0,005 s = 0,005 s
Hp = {t1 ± Δt} Hp = {t7 ± Δt} Hp = {t13 ± Δt}
={60 ± 0,005} s = {420 ± 0,005} s = {780 ± 0,005} s
Waktu Menit Kedua Waktu Menit Kedelapan Waktu Menit Keempat
t 2 = 120 s t 8 = 480 s belas
Δt = ½ x nst stopwatch Δt = ½ x nst stopwach t 14 = 840 s
= ½ x 0,001 = ½ x 0,001 Δt = ½ x nst stopwatch
= 0,005 s = 0,005 s = ½ x 0,001
Hp ={t2 ± Δt} Hp = {t8 ± Δt} = 0,005 s
={120 ± 0,005} s ={480 ± 0,005}s Hp = {t14 ± Δt}
= {840 ± 0,005}s
Waktu Menit ketiga Waktu Menit Kesembilan
t 3 = 180 s t 9 = 540 s Waktu Menit Kelima
Δt = ½ x nst stopwatch Δt = ½ x nst stopwach belas
= ½ x 0,001 = ½ x 0,001 t 15 = 900 s
= 0,005 s = 0,005 s Δt = ½ x nst stopwatch
Hp = {t3 ± Δt} Hp = {t9 ± Δt} = ½ x 0,001
= {180 ± 0,005} s = {540 ± 0,005}s = 0,005 s
Hp = {t15 ± Δt}
Waktu Menit Keempat Waktu Menit Kesepuluh = {900 ± 0,005}s
t 4 = 240 s t 10 = 600 s
Δt = ½ x nst stopwatch Δt = ½ x nst stopwatch Waktu Menit Keenam
= ½ x 0,001 = ½ x 0,001 belas
= 0,005 s = 0,005 s t 16 = 960 s
Hp = {t4 ± Δt} Hp = {t10 ± Δt} Δt = ½ x nst stopwatch
= {240 ± 0,005} s = {600 ± 0,005}s = ½ x 0,001
= 0,005 s
Waktu Menit Kelima Waktu Menit Kesebelas Hp = {t16 ± Δt}
t 5 = 300 s t 11 = 660 s = {960 ± 0,005} s
Δt = ½ x nst stopwatch Δt = ½ x nst stopwatch Waktu Menit Ketujuh
= ½ x 0,001 = ½ x 0,001 belas
= 0,005 s = 0,005 s t 17 = 1020 s
Hp = {t5 ± Δt5} Hp = {t11 ± Δt} Δt = ½ x nst stopwatch
= {300 ± 0,005} s = {660 ± 0,005}s = ½ x 0,001 = 0,005 s
Hp = {t17 ± Δt}
Waktu Menit Keenam Waktu Menit Kedua belas = {1020 ± 0,005}s
t 6 = 360 s t 12 = 720 s
Δt = ½ x nst stopwatch Δt = ½ x nst stopwatch Waktu Menit kedelapan
= ½ x 0,001 = 0,005 s = ½ x 0,001 belas
Hp = {t6 ± Δt} = 0,005 s t 18 = 1080 s
={360 ± 0,005} s Hp = {t12 ± Δt} Δt = ½ x nst stopwatch
= { 720 ± 0,005} s = ½ x 0,00 = 0,005 s
Hp = {t18 ± Δt}s
= {1080 ± 0,005} s
7
Untuk Q7 saat t = 420 s Untuk Q15 saat t = 900 s
Hubungan Kalor Terhadap Q7 = m . c . ΔT Q15 = m . c . ΔT
Perubahan Suhu (ΔT)
Q7 = 0,04 . 4200 . (79-68) Q15 = 0,04.4200.(97-96,5)
Q = m .c . ΔT Q7 = 168 . Q15 = 168 . 0,5
Q7 = 1848 J Q15 = 84 J
Unuk Q1 Saat t = 60 s
Q1 = m . c . ΔT Untuk Q8 saat t = 480 s Untuk Q16 saat t = 960 s
Q1 = 0,04 . 4200 . (32-30) Q8 = m . c . ΔT Q16 = m . c . ΔT
Q1 = 168 . 2 Q8 = 0,04 . 4200 . (87-79) Q16 = 0,04.4200.(98-97)
Q8 = 168 . 8 Q16 = 168 . 1
Q1 = 336 J
Q8 = 1344 J Q16 = 168 J
Untuk Q2 saat t = 120 s
Q2 = m . c . ΔT Untuk Q9 saat t = 540 s Untuk Q17 saat t = 1020 s
Q9 = m . c . ΔT Q17 = m . c . ΔT
Q2 = 0,04 . 4200 . (41-32)
Q9 = 0,04 . 4200 . (92-87) Q17 = 0,04.4200.(98-98)
Q2 = 168 . 9
Q2 = 1512 J Q9 = 168 . 5 Q17 = 168 . 0
Q9 = 840 J Q17 = 0 J
Untuk Q3 saat t = 180 s
Untuk Q10 saat t = 600 s Untuk Q18 saat t = 1080 s
Q3 = m . c . ΔT
Q3 = 0,04 . 4200 (48-41) Q10 = m . c . ΔT Q18 = m . c . ΔT
Q3 = 168 . 7 Q10 = 0,04 . 4200 . (94-92) Q18 = 0,04.4200.(98-98)
Q10 = 168 . 2 Q18 = 168 . 0
Q3 = 1176 J
Q10 = 336 J Q18 = 0 J
Untuk Q4 saat t = 240 s
Q4 = m . c . ΔT Untuk Q11 saat t = 660 s
Q11 = m . c . ΔT
Q4 = 0,04 . 4200 . (56-48)
Q11 = 0,04 .4200. (95-94)
Q4 = 168 . 8
Q4 = 1344 J Q11 = 168 . 1
Q11 = 168 J
Untuk Q5 saat t = 300 s
Untuk Q12 saat t = 720 s
Q5 = m . c . ΔT
Q11 = m . c . ΔT
Q5 = 0,04 . 4200 . (65-56)
Q5 = 168 . 9 Q11 = 0,04 .4200. (95,5-95)
Q5 = 1512 J Q11 = 168 .
Q11 = 84 J
Untuk Q6 saat t = 360 s
Q6 = m . c . ΔT Untuk Q13 saat t = 780 s
Q6 = 0,004 . 4200 . (68-65) Q13 = m . c . ΔT
Q13 = 0,04 .4200 .(96-95,5)
Q6 = 168 . 3
Q13 = 168 .
Q6 = 504 J
Q13 = 84 J
Untuk Q14 saat t = 840 s
Q14 = m . c . ΔT
Q14 = 0,04.4200.(96,5-96)
Q14 = 168 . 0,5
Q14 = 84 J
8
4.3 Pembahasan Kualitatif
1. GRAFIK
GRAFIK HUBUNGAN WAKTU DENGAN
KENAIKAN SUHU
120
100
80
Suhu (℃)
60
GRAFIK HUBUNGAN
40 WAKTU DENGAN
KENAIKAN SUHU
20
0
60 180 300 420 540 660 780 900 1020
Waktu (s)
2. GRAFIK YANG DIHASILKAN
Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa semakin la waktu pemanasan, maka suhu
yang dihasilkan semakin tinggi. Dengan demikian perubahan suhu berpengaruh terhadap
banyak energi kalor yang di berikan.
3. HASIL PRAKTIKUM YANG DIPEROLEH DENGAN TEORI YANG ADA
• SECARA TEORI
Mendidih merupakan peristiwa yang tepat terjadi pada suatu zat ketika berubah
wujud dari cair ke gas. Pada saat mendidih, air akan mengeluarkan gelembung-
gelembung air. Gelembung – gelembung air pada keseluruhan zat cair mengalami
penguapan dengan demikian, mendidih terjadi pada saat keseluruhan zat cair menguap.
Titik didih air pada tekanan 1 atmosfer (76 cmHg) adalah 100 ͦc. Mendidihnya suatu zat
cair disebabkan adanya penyerapan kalor seluruh bagian zat cair, tidak hanya
dipermukaan saja. Meskipun terus menerus memberi kalor pada saat air mendidih, suhu
air akan TETAP. Kalor yang diberikan saat mendidh akan menjadi uap. Dan saat
mendidih gelembung udara akan terbentuk diseluruh permulaan zat cair. Semakin banyak
massa zat cair, maka akan semakin lama waktu pendidikan, dengan kata lain kalor yang
dibutuhkan semakin banyak.
• SECARA PRAKTEK
Dan hasil praktikum kami titik didh/air mendidih pada suhu 98 ͦc , bukan 100 ͦc
9
berarti ada % kesalahan , yaitu :
% kesalahan = T-P / T x 100%
= 100 – 98 / 100 x 100%
= 2%
% kesalahan yaitu 2% antara teori dengan praktek yang kami lakukan. Pada menit
pertama hingga menit ke-15 suhu air terus mengalami kesalahan. Namun semakin lama
waktunya lambat. Mulai menit ke-16 suhu mulai konstan yaitu menjadi 98 ͦc, setelah itu
terjadi lagi kenaikan suhu secara teori apabila telah mendidih air tersebut (98 ͦc), maka
suhu akan TETAP , karena kalor akan diubah menjadi uap. Namun pada praktek yang
kami lakukan ketika air sudah pada titik didihnya (98 ͦc) untuk menit selanjutnya air
akan mengalami penurunan suhu, yaitu pada menit ke 19 suhu air dari 98 ͦc turun
menjadi 95 ͦc.
4. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TITIK DIDIH
1. Konsentrasi (molar) zat terlarut mempengaruhi kenaikan titik didih, semakin besar
konsentrasi , maka kenaikan titik didih semakin besar.
2. Semakin tinggi konsentrasi (molalitas) zat, semakin tinngi pula kenaikan titik
didihnya.
3. Semakin tinggi harga kb, semakin tinggi kenaikan titk didihnya.
4. Jenis zat terlarut akan mempengaruhi kenaikan titik didih, dimana larutan elektronik
memiliki kenaikan titik didih yang lebih tinggi dibandingkan dengan larutan non
elektrolit.
5. Semakin banyak zat terlarut yang dicampurkan, maka semakin besar pula suhu yang
diperlukan untuk mencapai titik didih.
6. Tekanan udara.
10
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Kenaikan titik didih adalah sifat koligatif, yang berarti bahwa kenaikan titik didih
bergantung pada keberadaan partikel terlarut dan jumlahnya, tetapi tidak pada jenis zat
tersebut. Sifat ini adalah efek dari pengenceran pelarut dengan adanya zat terlarut.
Kenaikan titik didih adalah fenomena yang terjadi untuk semua zat terlarut dalam semua
larutan, bahkan dalam larutan ideal, dan tidak bergantung pada interaksi zat terlarut-
pelarut tertentu. Peningkatan titik didih terjadi baik ketika zat terlarut adalah
suatu elektrolit, seperti berbagai garam, dan nonelektrolit.
Dari penelitian yang kami dapatkan kenaikan titik didih dari air (H2O) tidak mencapai
nilai secara teori. Dimana secara teori seharusnya kenaikan titik dari air (H2O) bernialai
100o C namun dari penelitian yang kami lakukan nilai dari kenaikan titik didih tidak
memenuhi nilai secara teori. Sehingga kami dapat mengambil suatu analisi atau hipotesis
dalam penelitian yang kami lakukan yaitu ada nya pengaruh dari konsentrasi dari larutan
dengan kenaikan titik didih, dimana Konsentrasi suatu larutan mempengaruhi kenaikan
titik didih dimana semakin besar konsentrasi maka semakin besar pula kenaikan titik
didih suatu larutan,
5.2 Saran
Berdasarkan hasil yang didapatkan saat penelitian tentang kenaikan titik didih,
hendaknya perlu adanya pendalaman konsep yang berkaitan dengan sifat koligatif larutan
terkusus pada konsentrasi suatu zat atau larutan, karena konsentrasi dari larutan sangat
mempengaruhi kenaikan titik didih dari suatu zat.
11
DAFTAR PUSTAKA
Abbott M, dan Ness [Link] Edisi [Link]:Erlangga
Abdullah, Mikrajuddin.2016. Fisika Dasar 1. Bandung: Kampus Ganesa
Tipler, A Paul.1998. Fisika (Untuk Sains dan Teknik). Jakarta : Erlangga
12
LAMPIRAN
13