PROPOSAL SKRIPSI
GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN MAHASISWA
FAKULTAS KEDOKTERAN SEBELUM MENGHADAPI
OBJECTIVE STRUCTURAL CLINICAL EXAMINATION
DI UNIVERSITAS MULAWARMAN
DEVI PERMATA SARI
1510015009
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2019
PROPOSAL SKRIPSI
GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN MAHASISWA
FAKULTAS KEDOKTERAN SEBELUM MENGHADAPI
OBJECTIVE STRUCTURAL CLINICAL EXAMINATION
DI UNIVERSITAS MULAWARMAN
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Kedokteran
DEVI PERMATA SARI
1510015009
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2019
Lembar pengesahan
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur bagi Allah SWT, Sang Pemilik alam semesta ini,
yang selalu melimpahkan rahmat dan nikmat-Nya. Hanya Allah SWT tempat
kami berlindung dan tempat kami meminta pertolongan dari segala kesulitan dan
cobaan. Shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada Muhammad SAW
sebagai utusan Allah SWT yang telah membawa kebaikan.
Alhamdulillah, penulis dapat menyelesaikan laporan proposal penelitian
yang berjudul “Gambaran Tingkat Kecemasan Mahasiswa Fakultas Kedokteran
Sebelum Menghadapi Objective Structural Clinical Examination Di Universitas
Mulawarman”, sebagai salah satu proses untuk dapat menyelesaikan tugas akhir.
Penulis menyadari bahwa laporan proposal ini tidak mungkin dapat diselesaikan
tanpa bantuan maupun dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada
kesempatan ini penulis secara khusus ingin menyampaikan terimakasih
sebesar-besarnya kepada:
1. dr. Ika Fikriah, [Link] selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas
Mulawarman.
2. dr. Siti Khotimah, [Link] selaku Ketua Program Studi Fakultas
Kedokteran Universitas Mulawarman.
3. dr. Sulistiawati, [Link] selaku sekretaris Program Studi Fakultas
Kedokteran Universitas Mulawarman.
4. dr. Hary Nugroho, [Link] dan dr. Abdillah Iskandar, M. Kes selaku
pembimbing I dan pembimbing II atas kesabaran, bimbingan, arahan,
motivasi, nasehat dan kesediaan waktu yang diberikan kepada penulis.
5. Dr. dr. Nataniel Tandirogang, [Link] dan dr. Loly Rotua D. Siagian,
[Link]., Sp. PK selaku penguji I dan penguji II yang telah memberi
arahan, motivasi, kritik, dan saran kepada penulis.
6. Seluruh dosen dan staf Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman,
terimakasih atas dedikasi dan ilmu yang diberikan selama penulis
menyelesaikan laporan proposal penelitian.
7. Kedua orang tua saya tercinta dan kakak saya yang tiada henti-hentinya
memberikan doa dan dukungan kepada saya.
8. Sahabat saya Dina dan Zaqia yang selalu menyemangati dan menghibur
saya
9. Sahabat saya Jessica, Abella, Dana, Nabilah, Safira, Inna, Syella, Caca,
Prisil, Hazimah, dan Cristine yang setia menamani makan siang saya
10. Sahabat saya One, Egi, dan Hakam yang suka mendengar keluh kesah
saya
11. Adik tercinta Olga yang paling mengerti apa mau saya dan selalu
membantu saya
12. Sejawat Acromion 2015 yang saya sayangi. Terimakasih atas segala
bantuan dan dukungan yang diberikan.
Samarinda, 11 Maret 2019
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL .................................................................................... i
HALAMAN JUDUL........................................................................................ ii
LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................. iii
KATA PENGANTAR ..................................................................................... iv
DAFTAR ISI .................................................................................................... vi
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... viii
DAFTAR TABEL ............................................................................................ ix
DAFTAR SINGKATAN ................................................................................. x
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xi
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................ 1
1.2 Rumusan Permasalahan ........................................................ 3
1.3 Tujuan Penelitian .................................................................... 3
1.3.1 Tujuan Umum ........................................................ 3
1.3.2 Tujuan Khusus ......................................................... 3
1.4 Manfaat Penelitian .................................................................. 3
1.4.1 Manfaat Bagi Peneliti ..................................................... 3
1.4.2 Manfaat Bagi Ilmiah ...................................................... 4
1.4.3 Manfaat Bagi Kelembagaan ........................................... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................... 5
2.1 Kecemasan .............................................................................. 5
2.1.1 Pengertian........................................................................ 5
2.1.2 Teori ............ .................................................................... 6
2.1.3 Gejala - gejala ................................................................. 7
2.1.4 Tingkat Kecemasan ......................................................... 7
BAB III ...... KERANGKA KONSEP ............................................. 9
BAB IV METODE PENELITIAN ............................................................... 10
4.1 Desain Penelitian ...................................................................... 10
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................... 10
4.3 Populasi dan Sampel Penelitian ............................................... 10
4.3.1 Populasi Penelitian ..................................................... 10
4.3.2 Sampel Penelitian ......................................................... 10
4.3.3 Besar Sampel Penelitian............................................... 11
4.3.4 Kriteria Inklusi ............................................................. 11
4.3.5 Kriteria Esklusi............................................................. 12
4.4 Identifikasi Variabel ................................................................. 12
4.5 Definisi Operasional................................................................. 12
4.5.1 Tingkat Kecemasan .................................................... 12
4.6 Cara Kerja ................................................................................ 13
4.6.1 Pengolahan dan Penyajian Data ................................... 13
4.6.2 Pengumpulan Data ....................................................... 13
4.7 Analisis Data ............................................................................ 13
4.8 Alur Penelitian ......................................................................... 14
4.9 Jadwal Penelitian...................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA………………………. ................................................ 16
LAMPIRAN-LAMPIRAN……………………………………. ................... 18
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Skema Kerangka Konsep ................................................................................. 9
Skema Alur Penelitian...................................................................................... 14
DAFTAR TABEL
Halaman
Jadwal Kegiatan Penelitian .............................................................................. 15
DAFTAR SINGKATAN
OSCE : Objective Structured Clinical Examination
HRS-A : Hamilton Anxiety Rating Scale
SOP : Standar Operasional Prosedur
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1 Lembar Persetujuan Responden ................................................... 18
Lampiran 2 Kuesioner Halminton Rating Scale for Anxiety ............................ 19
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah kesehatan jiwa di Indonesia setiap tahunnya selalu meningkat secara
signifikan. Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 menjelaskan bahwa di Indonesia
prevalensi gangguan jiwa sekitar 4,6%, sedangkan gangguan mental emosional jauh
lebih besar yakni sebesar 11,6%. Salah satu masalah gangguan emosional yang
sering ditemui di masyarakat dan menimbulkan dampak psikologis cukup serius
adalah kecemasan (Jannatum, 2010).
Kecemasan merupakan bagian dari kehidupan manusia sehari-hari.
Kecemasan timbul akibat adanya respon terhadap kondisi stress (Ambarwati, 2005).
Epidemiological Catchment Area memperkirakan satu dari empat orang setidaknya
pernah mengalami gangguan cemas dalam hidupnya (Arief, Suwardi, & Sumarni,
2003). Kecemasan (ansietas) adalah istilah yang sangat akrab dengan
menggambarkan keadaan khawatir, gelisah, takut, tidak tentram disertai berbagai
keluhan fisik. Keadaan tersebut dapat terjadi atau menyertai kondisi situasi kehidupan
dan berbagai gangguan kesehatan (Dalami, et al, 2009). Menurut Suprajitno (2012),
Kecemasan dapat timbul dengan intensitas yang berbeda-beda, tingkatan ini terbagi
menjadi kecemasan ringan, sedang, berat hingga menimbulkan kepanikan dari
individu itu sendiri, terkadang dapat menimbulkan halangan untuk melakukan suatu
pekerjaan.
Menurut penelitian mengenai hubungan usia dan tingkat kecemasan yang
dilakukan oleh Demak & Suherman (2016), dari 110 orang yang menjadi responden,
60% responden dengan usia 19 tahun dan dibawah 19 tahun memiliki tingkat
kecemasan tinggi, sedangkan 40% responden dengan usia diatas 19 tahun memiliki
tingkat kecemasan rendah. Hal ini menunjukkan 100% responden mengalami
kecemasan, meskipun dengan tingkatan kecemasan yang berbeda.
Berdasarkan hasil proyeksi penduduk Indonesia, jumlah remaja yang kategori
usianya adalah 10-24 tahun adalah sekitar 63,4 juta atau 26,8 % dari jumlah
penduduk Indonesia dan sebanyak 23,3 juta diantaranya yaitu mahasiswa (BKKBN,
2010). Selain jumlahnya yang sangat kompleks, mahasiswa juga rentan terhadap
kecemasan. Stresor psikososial adalah salah satu pencetus dari adanya kecemasan
khususnya pada mahasiswa yang membuat mahasiswa bersangkutan terpaksa
beradaptasi atau menanggulangi stressor yang timbul. Perubahan lingkungan belajar
juga menjadi salah satu faktor pencetus kecemasan pada mahasiswa. Kecerdasan
bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan sukses atau tidaknya seseorang dalam
belajar, tapi ketenangan jiwa juga mempunyai pengaruh atas kemampuan untuk
menggunakan kecerdasan tersebut (Demak & Suherman, 2016). Kecemasan dapat
mempengaruhi hasil belajar mahasiswa, karena kecemasan cenderung menghasilkan
kebingungan dan distorsi persepsi. Distorsi tersebut dapat mengganggu belajar
dengan menurunkan kemampuan memusatkan perhatian, menurunkan daya ingat,
mengganggu kemampuan menghubungkan satu hal dengan yang lain (Kaplan,
Sadock, & Grebb, 2010). Manifestasi psikomotor tersebut bisa membawa pengaruh
pada prestasi belajar jika penderita adalah mahasiswa yang sedang aktif dalam proses
belajar mengajar (Demak & Suherman, 2016).
Menurut Herliawan, Yulianto, Ibnusantosa (2017), dari semua mahasiswa
yang menempuh perguruan tinggi, mahasiswa kedokteran memiliki tingkat
kecemasan yang tinggi. Mahasiswa fakultas kedokteran memiliki jadwal kuliah yang
padat, kegiatan tutorial, praktikum, skills lab dan tuntutan untuk belajar mandiri di
luar jam tersebut sehingga tekanan dan beban terhadap kondisi fisik dan mental relatif
lebih berat dibandingkan pendidikan yang lain (Chandratika & Purnawati, 2014).
Penelitian oleh Brauser (2010) bahkan mengatakan mahasiswa kedokteran
mengalami tingkat kelelahan mental yang didalamnya termasuk kecemasan, yang
lebih tinggi daripada populasi umum, dengan resiko kesehatan mentalnya menjadi
lebih buruk selama proses belajar. Penelitian yang dilakukan oleh Yeli Erna Fratiwi
2010 terhadap mahasiswa semester tiga Fakultas Kedokteran Universitas Kristen
Maranata Angkatan 2008, dikemukakan bahwa mahasiswa tanpa kecemasan
sebanyak 40%, kecemasan ringan 34%, kecemasan sedang 20%, kecemasan berat 4%
dan kecemasan sangat berat 2% (Fratiwi, 2010). Terdapat juga penelitian yang
memaparkan bahwa dari semua mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Tadulako
yang mengalami kecemasan, jenis kelamin perempuan memiliki persentase 72%,
yang artinya lebih banyak dari 38% sisanya yang berjenis kelamin laki-laki (Demak
& Suherman, 2016).
Metode yang dapat dilakukan untuk menilai kesiapan praktik klinik
mahasiswa yaitu OSCE (Objective Structured Clinical Examination). OSCE
merupakan salah satu metode penilaian kompetensi klinis yang sudah teruji dan
banyak digunakan terutama di bidang pendidikan kedokteran (Mitchell, Henderson,
Groves, Dalton, & Nulty, 2010). OSCE disebut objektif karena mahasiswa diuji
dengan ujian atau penilaian yang sama sedangkan terstruktur artinya yang diuji
keterampilan klinik tertentu dengan menggunakan lembar penilaian yang spesifik
(Muthamilselvi & Ramanadin, 2014). Selain aspek kognitif, psikomotor, kognitif dan
perilaku profesional juga diuji dalam OSCE. Banyaknya beban pikiran tentang materi
yang harus dipelajari antara teori, kemampuan klinis dalam ujian OSCE, suasana
ujian OSCE, penguji OSCE yang mengobservasi secara langsung hal yang dilakuan
peserta, ketidaksiapan mahasiswa dalam mengikuti OSCE, mekanisme ujian OSCE
serta interval waktu yang sama setiap stase menjadikan OSCE sebagai ujian dengan
tingkat kecemasan cukup tinggi (Pierre, Wierenga, Barton, Branday, & Christie,
2004).
OSCE Reguler telah diperkenalkan kepada mahasiswa kedokteran sejak tahun
pertama pendidikan di kedokteran, dan seterusnya akan dilaksanakan setiap akhir
semester selama preklinik. Sama halnya dengan OSCE Reguler yang juga
dilaksanakan oleh Fakultas Kedokteran di Universitas Mulawarman. Menurut data
resmi yang diperoleh dari Kepala Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman, dari 80 mahasiswa peserta Osce semester 7 reguler tahun
ajaran 2018/2019, diantaranya terdapat 41 mahasiswa yang lulus dan terdapat 39
mahasiswa yang tidak lulus. Oleh karena OSCE merupakan ujian dengan tingkat
kecemasan cukup tinggi, dan peneliti tertarik untuk meneliti gambaran tingkat
kecemasan tersebut sebelum mahasiswa kedokteran menghadapi OSCE Reguler.
Penelitian ini juga belum pernah dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas
Mulawarman, yang merupakan satu-satunya universitas yang memiliki fakultas
kedokteran yang ada di Kalimantan Timur sehingga Peneliti memilih lokasi
penelitian di Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman itu sendiri.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana gambaran tingkat kecemasan mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman sebelum menghadapi OSCE Reguler ?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan
mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman sebelum menghadapi
OSCE Reguler di Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui gambaran tingkat kecemasan mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman sebelum menghadapi OSCE reguler 6
2. Mengetahui gambaran tingkat kecemasan mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman sebelum menghadapi OSCE reguler 4
3. Mengetahui gambaran tingkat kecemasan mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman sebelum menghadapi OSCE reguler 2
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Bagi Peneliti
1. Mengetahui gambaran mengenai tingkat kecemasan yang dialami sebelum OSCE
sehingga dapat mengatasi kecemasan yang dihadapi secara mandiri.
2. Mendapatkan pengalaman baik secara praktis maupun teoritis serta sebagai bekal
untuk pengembangan diri dalam bidang ilmu penelitian ini secara sistematis dan
relevan serta menjadi refrensi untuk penelitian lebih lanjut.
3. Sebagai pemenuhan syarat menyelesaikan pendidikan kedokteran.
1.4.2 Manfaat Bagi Ilmiah
1. Menambah informasi dan ilmu pengetahuan di bidang pendidikan kedokteran
mengenai kecemasan sebelum menghadapi OSCE.
2. Dapat menjadi acuan untuk mengembangkan penelitian selanjutnya mengenai
tingkat kecemasan dengan menggunakan variabel yang berbeda.
1.4.3 Manfaat Bagi Kelembagaan
Memberikan gambaran informasi data kepada Fakultas Kedokteran Universitas
Mulawarman guna mengembangkan sistem pendidikan yang lebih efektif dan efesien
dan menjadi landasan dalam pengambilan keputusan selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kecemasan
2.1.1 Pengertian
Kecemasan adalah gangguan yang sering dijumpai pada klinik psikiatri. Kondisi
ini terjadi sebagai akibat interaksi faktor-faktor biopsikososial, termasuk kerentanan
genetik yang berinteraksi dengan kondisi tertentu, stres atau trauma yang
menimbulkan sindroma klinis yang bermakna. Kecemasan juga dapat dikatakan
sebagai kondisi gangguan yang ditandai dengan kekhawatiran yang berlebihan tidak
rasional bahkan terkadang tidak realistik terhadap berbagai peristiwa kehidupan
sehari-hari. Kondisi ini dialami hampir sepanjang hari, berlangsung sekurangnya
selama 6 bulan. Kecemasan yang dirasakan sulit untuk dikendalikan dan berhubungan
dengan gejala-gejala somatik seperti ketegangan otot, iritabilitas, kesulitan tidur, dan
kegelisahan sehingga menyebabkan penderitaan yang jelas dan gangguan yang
bermakna dalam fungsi sosial dan pekerjaan (Elvira & Hadisukanto, 2017).
Salah satu manifestasi emosional yang dialami oleh individu sebagai suatu
reaksi terhadap ancaman, tekanan dan kekhawatiran dapat mempengaruhi fisik dan
psikis. Adapun hal yang dapat menimbulkan kecemasan adalah ujian. Ujian
merupakan suatu proses pemeriksaan mengenai pengetahuan dan keahlian siswa
dalam proses belajar selama menjalani pendidikan, sekaligus menjadi tolak ukur bagi
keberhasilan siswa dalam menempuh proses pendidikan selama ini (Supriyantini,
2010).
Dari beberapa pendapat ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa kecemasan
merupakan respon emosi yang tidak menentu dan tanpa objek spesifik yang dialami
oleh individu sebagai suatu reaksi terhadap ancaman, tekanan, dan kekhawatiran.
2.1.2 Teori Kecemasan
Ada beberapa teori tentang penyebab kecemasan antara lain sebagai berikut:
a. Teori Psikoanalitik
Penemuan terbaru mendefinisikan kembali kecemasan sebagai sinyal adanya
bahaya pada kesadaran. Kecemasan dipandang sebagai akibat konflik psikis antara
keinginan tidak disadari yang bersifat agresif dan ancaman terhadap hal tersebut dari
super ego atau realitas eksternal. Sebagai respon terhadap sinyal ini, ego
memobilisasi mekansime pertahanan untuk mencegah pikiran dan perasaan yang
tidak dapat diterima agar tidak muncul kesadaran (Sadock & Sadock, 2014).
b. Teori Perilaku-Kognitif
Teori perilaku menyatakan bahwa kecemasan adalah respon yang dipelajari
terhadap stimulus lingkungan spesifik. Di dalam model pembelajaran klasik, orang
tanpa alergi makanan dapat menjadi sakit setelah di restoran makanan kerang yang
terkontaminasi. Pajanan berikutnya terhadap kerang dapat menyebabkan orang ini
menjadi sakit. Melalui generalisasi mereka dapat tidak percaya pada makanan yang
disiapkan oleh orang lain. Kemungkinan lainnya, mereka belajar memiliki respons
internal kecemasan dengan meniru respons kecemasan orang tua bagi mereka. Pola
berpikir yang salah, terdistorsi atau tidak produktif dapat mendahului perilaku
maladatif dan gangguan emosi. Menurut satu model pasien dengan gangguan
kecemasan cenderung memperkirakan secara berlebihan derajat, bahaya dan
kemungkinan kerusakan pada situasi tertentu serta cenderung meremehkan
kemampuan mereka dalam menghadapi ancaman yang dirasakan pada kesejahteraan
fisik atau psikologis mereka (Sadock & Sadock, 2014).
c. Teori Eksistensial
Gangguan kecemasan menyeluruh, tanpa adanya stimulus yang spesifik yang
dapat diidentifikasi untuk perasaan cemas kronisnya. Kecemasan adalah respons
mereka terhadap kehampaan yang luas mengenai keberadaan dan arti (Sadock &
Sadock, 2014).
2.1.3 Gejala - gejala
Survey komunitas menunjukkan sekitar 3-5% orang dewasa mengalami
kecemasan. Kecemasan biasanya dimulai pada awal masa dewasa antara usia 15 dan
25 tahun, tetapi terus meningkat setelah usia 35 tahun dengan rasio perbandingan
perempuan dan laki-laki adalah 2:1 (Puri, Laking, & Treaseden, 2011). Kecemasan
merupakan suatu sinyal yang menyadarkan dan memperingatkan adanya bahaya yang
mengancam serta memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi
ancaman (Sadock & Sadock, 2014).
Gejala dari kecemasan terdiri atas dua komponen yaitu komponen psikis dan
komponen fisik. Gejala psikis berupa kecemasan itu sendiri seperti khawatir atau
was-was. Komponen fisik merupakan manifestasi dari kesiagaan yang berlebih
(hyperarousal syndrome) yakni jantung berdebar, napas cepat dan sesak, mulut
kering, keluhan lambung, tangan dan kaki terasa dingin, ketegangan otot di pelipis,
tengkuk atau punggung, perasaan pusing seperti melayang, rasa kesemutan di tangan
dan kaki serta jika parah dapat menimbulkan spasme otot tangan dan kaki (Maramis,
2009).
2.1.4 Tingkat Kecemasan
Setiap tingkatan kecemasan memiliki lahan presepsi yang berbeda pada
setiap individu tergantung pada kemampuan individu dalam menerima informasi dan
pengetahuan mengenai kondisi yang ada dalam dirinya maupun lingkungannya.
Tingkat kecemasan dapat dibagi menjadi beberapa hal (Gail W, 2006) :
a. Kecemasan ringan yaitu cemas yang berhubungan dengan ketegangan dalam
kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan
meningkatkan lahan presepsinya.
b. Kecemasan sedang yaitu cemas yang memungkinkan seseorang untuk
memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan hal lain. Sehingga
seseorang mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu
yang lebih terarah.
c. Kecemasan berat yaitu Perasaan cemas yang sangat mengurangi lahan presepsi
seseorang. Seseorang cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang lebih
terinci dan spesifik serta tidak dapat berfikir tentang hal lain.
d. Panik yaitu kecemasan yang berhubungan dengan ketakutan dan teror. Panik
membuat individu kehilangan kendali dan tidak mampu melakukan sesuatu
walaupun dengan arahan. Panik mencakup disorganisasi kepribadian dan
menimbulkan peningkatan aktifitas motorik, menurunnya kemampuan untuk
berhubungan dengan orang lain.
2.1.5 Cara Menilai Kecemasan
Instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur kecemasan pada seseorang
adalah Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) yang terdiri dari 14 gejala yang di
observasi. Setiap item yang diobservasi diberi 5 tingkatan skor ( skala likert) antara 0
(Nol Present) sampai dengan 4 (severe) (Hawari, 2011).
Skala HARS pertama kali digunakan pada tahun 1959, yang diperkenalkan oleh
Max Hamilton dan sekarang telah menjadi standar dalam pengukuran kecemasan
terutama pada penelitian trial clinic. Skala HARS telah dibuktikan memiliki
validitas dan reliabilitas cukup tinggi untuk melakukan pengukuran kecemasan pada
penelitian trial clinic yaitu 0,93 dan 0,97. Kondisi ini menunjukkan bahwa
pengukuran kecemasan dengan menggunakan skala HARS akan diperoleh hasil yang
valid dan reliable (Hawari, 2011).
Tabel 2.1 Instrumen HARS
No Pertanyaan
1 Perasaan Kecemasan
2 Ketegangan
3 Ketakutan
4 Gangguan Tidur
5 Gangguan Kecerdasan
6 Perasaan Depresi
7 Gejala Somatik (Otot)
8 Gejala Somatik (Sensorik)
9 Gejala Kardiovaskuler
10 Gejala Respiratori
11 Gejala Gastrointestinal
12 Gejala Urogenital
13 Gejala Otonom
14 Tingkah Laku Pada Wawancara
Masing-masing kelompok diberi penilaian angka skor antara 0-4 yang artinya
adalah sebagai berikut :
Tabel 2.2 Skor HARS
Keterangan Skor
Tidak ada gejala sama sekali 0
Satu dari gejala yang ada 1
Sedang/ separuh dari gejala yang ada 2
Berat/ lebih dari 1/2 gejala yang ada 3
Sangat berat/ semua gejala ada 4
Masing-masing nilai (skor) dari ke 14 kelompok gejala tersebut dijumlahkan
sehingga dapat diketahui derajat kecemasan seseorang, yaitu jika kurang dari 14
artinya tidak ada kecemasan, jika 14-20 artinya kecemasan ringan, 21-27 artinya
kecemasan sedang, 28-41 artinya mengalami kecemasan berat dan 42-56 artinya
mengalami kecemasan berat sekali.
2.1.6 Penatalaksanaan
Secara garis besar penatalaksanaan kecemasan adalah sebagai berikut
(Hidayanto, 2010):
1. Menemukan sumber dari ketakutan, kesusahan dan kegagalannya
2. Memberikan jalan keluar serta memupuk kemauan dan motivasi agar orang yang
bersangkutan berani memecahkan adalah kesulitan hidupnya.
3. Terapi psikofarmaka juga dapat digunakan. Obat yang banyak digunakan oleh
psikiater adalah obat dengan memutus sirkuit psikoneuroimunologi sehingga
stressor psikososial yang dialami oleh seseorang tidak lagi mempengaruhi
fungsi kognitif, afektif, psikomotorik dan organ-organ tubuh.
2.2 OSCE (Objective Structured Clinical Examination)
2.2.1 Pengertian
OSCE adalah metode penilaian untuk menilai kemampuan klinis mahasiswa
secara terstruktur yang spesifik dan objektif dengan simulasi dalam bentuk rotasi dan
stase pada alokasi waktu tertentu (Nursalam & Efendi, 2008). OSCE adalah salah
satu metode yang efektif untuk menilai keterampilan mahasiswa (Mc William &
Botwinski, 2012). Namun keterbatasan dari OSCE adalah biaya yang dibutuhkan
dalam melaksanakannya sangat kompleks, mulai dari biaya pelatihan pasien dan
riasnya, penilai, staf pendukung, ruang dan peralatan serta konsumsi (Selim &
Dawood, 2015)
OSCE pertama kali diperkenalkan oleh Ronald Harden di University Of
Dundee pada pendidikan kedokteran pada tahun 1970-an. Dalam merespon
kelemahan penialaian kompetensi klinik dengan menggunakan sistem konvensional
seperti long case examination yang menimbulkan beberapa kelemahan seperti
berbeda mahasiswa akan menghadapi beberapa pasien dan tentu saja berbeda masalah,
perbedaan penilaian antara para penilai dalam keterampilan yang sama dan tidak
diamatinya secara langsung ketika mahasiswa menghadapi pasien (Zulharman, 2011).
2.1.2 Komponen
OSCE terdiri dari beberapa komponen yaitu : panitia ujian, kordinator ujian,
daftar check list keterampilan, perilaku dan sikap yang dinilai, mahasiswa atau
peserta, penguji, tempat ujian, alokasi waktu antara stasion, simulasi pasien, time
keeper, assesment of perfomance of the OSCE dan Standar Operasional Prosedur
(SOP) ujian (McCoy & Merrick, 2001).
2.1.3 Aspek yang dinilai
Aspek yang dapat dievaluasi pada metode OSCE adalah pengkajian riwayat
hidup, pemeriksaan fisik, laboratorium, identifikasi masalah, merumuskan atau
menyimpulkan data, interpretasi pemeriksaan, menetapkan pengelolaan klinik,
mendemonstrasikan prosedur, kemajuan berkomunikasi dan pemberian pendidikan
kedokteran (Nursalam & Efendi, 2008).
2.1.4 Keuntungan
Kekuatan dan keuntungan dari penilaian OSCE adalah memberikan
kesempatan bagi mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan dalam melakukan
keterampilan klinis yang spesifik. OSCE adalah format yang sangat baik untuk
mengevaluasi berbagai macam kompetensi, khususnya yang berkaitan dengan
diagnosis dan pengobatan. Penggunaan OSCE memungkinkan untuk pengujian
simultan tentang pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang berhubungan
dengan kompetensi klinis dari sejumlah besar siswa (Kurniasih, 2014).
OSCE merupakan bentuk ujian yang aman, karena tidak akan menimbulkan
cedera pada pasien, sehingga tidak berisiko dan memungkinkan untuk diulang. OSCE
juga memungkinkan terjadinya umpan balik dari pemeran pasien standar (PS) yang
terlibat. Stase OSCE dapat disesuaikan dengan tingkat keterampilan yang akan dinilai.
Dalam kegiatan OSCE demonstrasi keterampilan kegawatdaruratan juga
dimungkinkan untuk dilakukan (Kurniasih, 2014). Selain keunggulan diatas,
keunggulan OSCE adalah sebagai evaluasi peserta dalam jumlah yang banyak dalam
waktu yang relatif pendek secara serentak dengan alat dan bahan yang sama untuk
menguji pengetahuan dan keterampilan yang lebih luas (Yanti, 2008)
Metode OSCE sangat efektif digunakan baik untuk formatif maupun sumatif
jika skenario dikembangkan dan mencerminkan isi dari kurikulum, mengevaluasi
pasien simultan, memberikan pelatihan dan prosedur pengukuran yang akurat dari
performa mahasiswa (Mc William & Botwinski, 2012).
2.1.5 Kelemahan
Kelemahan metode OSCE diantaranya ialah penilaiannya hanya meliputi
pengetahuan, bukan suatu penilaian dengan pendekatan holistik dari penanganan
pasien dan dibutuhkan pengorganisasian serta persiapan penyusunan soal-soal yang
sangat membutuhkan waktu dan tenaga. Cara untuk menghindari evaluasi beberapa
stase yang berurutan digunakan untuk melakukan evaluasi masalah yang sama mulai
dari anamnesis, pemeriksaan fisik, komunikasi, perilaku serta interpretasi hasil
pemeriksaan sehingga dapat dilakukan seara penuh (Yanti, 2008)
2.3 Gambaran tingkat Kecemasan terhadap OSCE
Salah satu yang dapat menyebabkan ancaman, tekanan, dan kekhawatiran
dalam diri mahasiswa adalah ujian, karena ujian merupakan suatu proses pemeriksaan
mengenai pengetahuan dan keahlian mahasiswa sebagai akibat dari suatu proses
belajarnya selama menjalani pendidikan sekaligus menjadi tolak ukur bagi
keberhasilan mahasiswa dalam menempuh proses pendidikannya selama ini. Beragam
reaksi emosional yang ditunjukkan mahasiswa sebagai respon dalam menghadapi
ujian adalah kecemasan. Sebagian orang merasakan bahwa ujian adalah suatu hal
yang memang sudah selayaknya dilakukan, namun sebagian lainnya merasakan hal
tersebut sebagai sebuah paksaan (Supriyantini, 2010)
Faktor-faktor yang menimbulkan kecemasan, seperti pengetahuan yang
dimiliki seseorang mengenai situasi yang sedang dirasakannya, apakah situasi
tersebut mengancam atau tidak, serta adanya pengetahuan mengenai kemampuan diri
untuk mengendalikan diri sendiri (Safaria & Saputra, 2012). Kemudian ada dua faktor
yang dapat menimbulkan kecemasan, yaitu (M. Nur Ghufron & Rini Risnawita, S,
2014) :
1. Pengalaman negatif pada masa lalu Sebab utama dari timbulnya rasa cemas
kembali pada masa kanak-kanak, yaitu timbulnya rasa tidak menyenangkan mengenai
peristiwa yang dapat terulang lagi pada masa mendatang, apabila individu
menghadapi situasi yang sama dan juga menimbulkan ketidaknyamanan, seperti
pengalaman pernah gagal dalam mengikuti tes.
2. Pikiran yang tidak rasional Pikiran yang tidak rasional terbagi dalam empat
bentuk, yaitu.
a. Kegagalan ketastropik, yaitu adanya asumsi dari individu bahwa sesuatu yang
buruk akan terjadi pada dirinya. Individu mengalami kecemasan serta perasaan
ketidakmampuan dan ketidaksanggupan dalam mengatasi permaslaahannya.
b. Kesempurnaan, individu mengharapkan kepada dirinya untuk berperilaku
sempurna dan tidak memiliki cacat. Individu menjadikan ukuran kesempurnaan
sebagai sebuah target dan sumber yang dapat memberikan inspirasi.
c. Persetujuan.
d. Generalisasi yang tidak tepat, yaitu generalisasi yang berlebihan, ini terjadi pada
orang yang memiliki sedikit pengalaman.
Beberapa hal yang dapat dilakukan sebelum, selama dan sesudah ujian untuk
mengurangi kecemasan menghadapi ujian adalah sebagai berikut (Arief F. , 2009)
1. Gunakan teknik belajar untuk dapat menguasai materi yang akan diujikan secara
kognitif. Penguasaan ini akan membantu siswa mendekati ujian dengan rasa percaya
diri, bukan rasa cemas yang berlebihan.
2. Bersikap positif ketika belajar. Berfikir keberhasilan, bukan kegagalan. Mahasiswa
diharapkan menganggap ujian sebagai suatu kesempatan untuk menunjukkan
seberapa jauh telah memahami materi yang diujikan.
3. Masuklah ke ruang ujian dengan kondisi cukup istirahat dan makan cukup. Tidur
dengan cukup di malam menjelang ujian. Makan makanan yang ringan dan bergizi
sebelum ujian.
4. Tetap santai ketika ujian berlangsung. Dengan menarik nafas panjang. Hal ini dapat
membantu memusatkan perhatian pada pernyataan positif seperti “saya dapat
mengerjakan ini”.
5. Mengikuti rencana belajar yang sudah dibuat untuk menghadapi ujian. Jangan panik
meskipun seandainya ujian itu ternyata sulit. Tetaplah dengan rencana belajar yang
telah dibuat.
6. Jangan memperdulikan siswa lain yang menyelesaikan ujian terlebih dahulu daripada
anda. Gunakan waktu yang anda perlukan untuk berusaha sebaik mungkin.
7. Sesudah menyelesaikan ujian dan menyerahkan jawaban anda, lupakanlah ujian itu
sementara. Tak ada lagi yang dapat anda lakukan sampai hasil ujian itu dikembalikan
kepada anda. Alihkan perhatian dan usaha anda pada tugas dan ujian baru yang akan
datang.
8. Ketika hasil ujian itu dikembalikan kepada anda, analisalah hasil itu untuk
mengetahui dimana kekurangan dan kelebihan anda dalam ujian tersebut. Belajarlah
dari kesalahan dan keberhasilan anda. Terapkan pengetahuan ini ketika anda
mengikuti ujian berikutnya.
BAB III
KERANGKA KONSEP
Mahasiswa Fakultas Kelulusan &
Kedokteran nilai OSCE
Faktor yang Gambaran tingkat OSCE
Mempengaruhi : kecemasan
1. Pengalaman
Negatif
2. Pikiran
yang tidak Kecemasan Ringan
Rasional Kecemasan Sedang
Kecemasan Berat
d Kecemasan Berat Sekali
(panik)
Keterangan:
= Variabel yang diteliti
= Variabel tidak diteliti
29
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian dengan desain penelitian deskriptif
dengan pendekatan cross-sectional karena tiap subjek yang diteliti hanya diobservasi
satu kali pada saat penelitian dilakukan (Sastroasmoro ismael, 2014)
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
4.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman.
4.2.2 Waktu Penelitian
Pengambilan data ini dilakukan pada bulan Maret - Mei 2019.
4.3 Populasi dan Sampel Penelitian
4.3.1 Populasi Penelitian
Populasi Penelitian ini adalah mahasiswa program studi kedokteran Fakultas
Kedokteran Universitas Mulawarman.
4.3.2 Sampel Penelitian
Sampel penelitian ini adalah mahasiswa program studi kedokteran Fakultas
Kedokteran Universitas Mulawarman yang terdaftar mengikuti OSCE Reguler 6,
OSCE Reguler 4 dan OSCE Reguler 2 dengan total jumlah mahasiswa sebanyak 238
30
orang. Terdiri dari peserta yang mengikuti OSCE Reguler 6 yang merupakan
angkatan 2016 sebanyak 76 orang, peserta yang mengikuti OSCE Reguler 4 yang
merupakan angkatan 2017 sebanyak 84 orang, dan peserta yang mengikuti OSCE
Reguler 2 yang merupakan angkatan 2018 sebanyak 78 orang yang memenuhi kriteria
inklusi dan eksklusi.
4.3.3 Besar Sampel Penelitian
Besar Sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik simple random
sampling. Menurut Sugiyono (2008:109) sampel adalah bagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Pada penelitian ini, karena populasi yang
diamati tergolong populasi besar karena jumlah mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman lebih dari 100 orang maka supaya menghasilkan data yang
valid digunakanlah teknik pengambilan sampel yaitu teknik simple random sampling
dengan rumus (Slovin, 2002:136) sebagai berikut :
Dimana :
n = ukuran sampel
N = ukuran populasi
e = standar eror (10%)
Maka sampel dari penelitian ini adalah n = 238 / (1+238(0,1)2) = 70,41
dibulatkan menjadi 70 sampel.
31
4.3.4 Kriteria Inklusi
a. Berstatus aktif sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman
b. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman angkatan 2016 yang
telah terdaftar mengikuti OSCE Reguler 6
c. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman angkatan 2017 yang
telah terdaftar mengikuti OSCE Reguler 4
d. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman angkatan 2018 yang
telah terdaftar mengikuti OSCE Reguler 2
e. Bersedia untuk menjadi responden
4.3.5 Kriteria Ekslusi
a. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman yang bukan angkatan
2016 yang telah terdaftar mengikuti OSCE Reguler 6
b. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman yang bukan angkatan
2017 yang telah terdaftar mengikuti OSCE Reguler 4
c. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman yang bukan angkatan
2016 yang telah terdaftar mengikuti OSCE Reguler 2
d. Mahasiswa yang tidak mengisi kuesioner dengan lengkap
e. Mahasiswa yang tidak mengembalikan kuesioner
4.4 Variabel Penelitian
1. Tingkat kecemasan
2. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman
32
3. Tingkat Kecemasan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas
Mulawarman Sebelum menghadapi OSCE Reguler
4.5 Definisi Operasional
No. Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Kriteria Objektif Skala
1 Tingkat a. Kecemasan ringan yaitu cemas Kuesioner Dari 14 kelompok Ordin
Kecemasan HARS al
yang berhubungan dengan pertanyaan
ketegangan dalam kehidupan masing-masing
sehari-hari dan menyebabkan akan disajikan
seseorang menjadi waspada dan skor 0-4, yang
meningkatkan lahan presepsinya. artinya:
b. Kecemasan sedang yaitu cemas 0 = Tidak ada
yang memungkinkan seseorang gejala gejala sama
untuk memusatkan pada hal yang sekali
penting dan mengesampingkan 1 = Satu dari
hal lain. Sehingga seseorang gejala yang ada
mengalami perhatian yang 2=
selektif namun dapat melakukan Sedang/separuh
sesuatu yang lebih terarah. dari gejala yang
c. Kecemasan berat yaitu Perasaan ada
cemas yang sangat mengurangi
3 = Berat/ lebih
lahan presepsi seseorang.
dari 1/2 dari
Seseorang cenderung untuk
gejala yang ada
memusatkan pada sesuatu yang
4 = Sangat berat/
lebih terinci dan spesifik serta
semua gejala ada
tidak dapat berfikir tentang hal
lain.
d. Panik yaitu kecemasan yang
33
berhubungan dengan ketakutan Dengan Total
Skor apabila 14
dan teror. Panik membuat
pertanyaan
individu kehilangan kendali dan dijumlahkan,
maka memperoleh
tidak mampu melakukan sesuatu
hasil:
walaupun dengan arahan. Panik Cemas ringan
mencakup disorganisasi (skor 14-20)
Cemas sedang
kepribadian dan menimbulkan
(skor 21-27)
peningkatan aktifitas motorik, Cemas berat
menurunnya kemampuan untuk (skor 28-41)
Cemas panik
berhubungan dengan orang lain.
(skor 42-56)
(Gail W, 2006)
2. Mahasiswa a. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Data resmi Angkatan 2016 Num
mahasiswa (76 orang) erik
Fakultas Universitas Mulawarman
terdaftar Angkatan 2017
Kedokteran angkatan 2016 yang telah mengikuti (84 orang)
OSCE
Universitas terdaftar mengikuti OSCE Angkatan 2018
Reguler
Mulawarman Reguler 6 yang (78 orang)
didapatkan
b. Mahasiswa Fakultas Kedokteran dari Kepala
Program
Universitas Mulawarman Studi
angkatan 2017 yang telah Kedokteran
terdaftar mengikuti OSCE
Reguler 4
c. Mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman
angkatan 2018 yang telah
terdaftar mengikuti OSCE
Reguler 2
34
3. Tingkat Data tingkat kecemasan mahasiswa Kuisioner Cemas ringan Ordin
HARS (skor 14-20) al
Kecemasan yang akan menghadapi OSCE
Cemas sedang
Mahasiswa Reguler akan diambil paling cepat 3 (skor 21-27)
Fakultas hari sebelum OSCE Reguler Cemas berat
Kedokteran dilaksanakan paling lambat 1 hari (skor 28-41)
Cemas panik
Universitas sebelum OSCE Reguler dilaksanakan.
(skor 42-56)
Mulawarman
Sebelum (Gail W, 2006)
menghadapi
OSCE
Reguler
4.6 Cara Kerja
4.6.1 Pengolahan dan Penyajian Data
Pengolahan data dilakukan dengan 4 tahapan, yaitu memeriksa data (editing),
memberi kode (coding), pemindahan data dan tabulasi data (tabulating). Pengolahan
data dilakukan dengan menggunakan software Microsoft Word 2013, Microsoft Excel
2013 dan IBM SPSS 23. Penyajian data akan disampaikan dalam bentuk narasi,
grafik dan tabel
4.6.2 Uji Validitas dan Reliabilitas
Kuesioner kecemasan yaitu HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale) tidak
perlu dilakukan uji validitas dan reliabilitas lagi oleh peneliti karena kuesioner ini
sudah dilakukan uji validitas dan reabilitas sebelumnya oleh peneliti lain (Arikunto,
2013) sehingga kuesioner ini sudah baku.
1. Uji Validitas
35
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan kevalidan suatu instrument.
Suatu instrument yang valid mempunyai validitas yang tinggi dan instrument yang
kurang valid berarti memiliki validitas yang rendah 48 (Arikunto, 2013). Uji validitas
yang digunakan adalah Product Moment dengan rumus sebagai berikut:
Keterangan :
Rxy = koefisien korelasi Product Moment
N∑XY = jumlah perkalian X dan Y
∑X = jumlah skor item (X)
∑Y = jumlah skor item (Y)
n = jumlah responden∑Y
Uji validitas dibantu dengan menggunakan program komputer dengan hasil
rxy dibandingkan r tabel pada nilai kesalahan 5%, bila rxy lebih kecil dari r tabel
maka item soal tidak valid sehingga item soal tersebut harus diganti atau dibuang,
sedangkan bila rxy lebih besar dari r tabel maka item soal dianggap valid. R tabel
yang digunakan pada penelitian ini adalah 0,361 (Arikunto, 2013). Instrumen
dikatakan valid apabila indek korelasi atau rhitung : Sangat tinggi : 0,800 – 1,000
Tinggi : 0,600 – 0,799 Cukup tinggi : 0,400 – 0,599 Rendah : 0,200 – 0,399 Tidak
valid : 0,000 – 0,199 49 R hitung dalam penelitian ini berkisar antara 0,478-0,739.
Hasil uji validitas dari 14 pertanyaan seluruh pertanyaan valid dengan kategori tinggi
karena nilai korelasi < 0,05.
2. Uji Reliabilitas
Reliabilitas yaitu indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur
data dapat dipercaya atau diandalkan (Notoatmodjo, 2010). Uji reabilitas yang
digunakan adalah K - R20, dengan rumus kuefisien sebagai berikut ( Arikunto, 2013).
36
Keterangan :
r11 = Reabilitas Instrument
k = Banyaknya butir pertanyaan
vt = Varians total
p = Proporsi subjek yang menjawab betul pada sesuatu butir (proporsi subjek yang
mendapat skor 1)
Menurut Arikunto (2013) kuefisien reliable dapat dikategorikan sebagai
berikut : Rendah : r = 0,40
Cukup : r = 0,41 – 0,75
Tinggi : r > 0,75
Suatu instrument dikatakan reliable jika digunakan berulang-ulang nilainya
sama (Riyanto, 2011). Uji yang digunakan untuk mengukur pengetahuan yang
menggunakan butir soal kontinum (bentuk soal dengan skor 1 dan 0). Uji reliable
yang telah dilakukan menunjukkan hasil sebesar 0,8839 dan kuesioner ini dinyatakan
reliable dengan kategori tinggi.
4.7 Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis data univariat, yaitu
dengan mendeskripsikan data-data yang didapatkan saat penelitian. Data-data tersebut
merupakan data jumlah mahasiswa yang menjadi peserta masing-masing OSCE
Reguler, karakteristik jenis kelamin mahasiswa yang menjadi peserta masing-masing
OSCE Reguler, karakteristik usia mahasiswa yang menjadi peserta masing-masing
OSCE Reguler, dan tingkat kecemasan mahasiswa yang menjadi peserta
37
masing-masing OSCE Reguler. Semua data tersebut dideskripsikan dengan gambaran
distribusi frekuensi yang akan disajikan berupa tabel dengan persentasenya, gambar
serta narasi.
4.8 Alur Penelitian
1. Pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara langsung kepada responden.
2. Peneliti mengatur waktu pertemuan dengan masing-masing angkatan untuk
melakukan wawancara paling cepat 3 hari sebelum OSCE Reguler dan paling
lambat 1 hari sebelum OSCE Reguler dilaksanakan.
3. Peneliti mendatangi responden di ruang kuliah masing-masing angkatan, yaitu
ruang kuliah untuk angkatan 2016, ruang kuliah untuk angkatan 2017 dan ruang
kuliah untuk angkatan 2018.
4. Peneliti menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan dan meminta persetujuan
responden apakah berkenan menjadi responden.
5. Setelah responden menandatangani lembar persetujuan menjadi responden,
peneliti mulai melakukan wawancara.
6. Setelah responden menjawab semua isi kuesioner, peneliti memeriksa kembali
kelengkapan jawaban dari responden agar apabila ada jawaban yang kurang
lengkap peneliti dapat meminta responden untuk mengulang jawabannya.
7. Setelah semua kuesioner diisi, peneliti memeriksa kembali seluruh kuesioner
yang telah diisi, dan mengucapkan terima kasih kepada responden dan berjanji
38
tetap menjaga kerahasiaan dan menggunakan data tersebut sebagaimana
mestinya.
39
4.9 Jadwal Kegiatan
Keterangan Desember Januari Februari Maret April Mei Juni
Pembuatan
Proposal
Penelitian
Seminar
Proposal
Revisi Proposal
Penelitian
Pengolahan
Data
Seminar Hasil
40
DAFTAR PUSTAKA
Ambarwati, S. (2005). Gambaran Trait Kepribadian, Kecemasan dan Stress serta Strategi Coping pada
Penderita Dispepsia Fungsional Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Dipetik March 21,
2019, dari [Link]
Arief, F. (2009). Mengatasi Kecemasan Menghadapi Ujian.
Arief, Suwardi, & Sumarni. (2003). Hubungan Kecemasan Menghadapi Ujian Skill Lab Modul Shock
dengan Prestasi yang Dicapai pada Mahasiswa FK UGM Angkatan 2000. Dipetik March 21,
2019, dari [Link]
Bunevicius, A., Katkute, A., & Bunevicius, R. (2008). Symptoms of Anxiety and Depression in Medical
Students and in Humanities Students: Relationship with Big-Five Personality Dimensions and
Vulnerability To Stress. International Journal of Social Psychiatry 54(6), 494-501.
Chandratika, D., & Purnawati, S. (2014). Gangguan Cemas Pada Mahasiswa Semester 1 dan 7 Program
Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. e-Jurnal Medika Udayana,
403-414.
Elvira, S., & Hadisukanto, G. (2017). Buku Ajar Psikiatri (3rd ed.). Jakarta: Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Fratiwi, Y. E. (2010). Gambaran Gangguan Kecemasan Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Maranata Angkatan 2008.
Gail W, S. (2006). Buku Saku Keperawatan Jiwa (Vol. 5). (P. Ramona, & Egi Komara Yudha, Penerj.)
Jakarta: EGC.
Hawari, D. (2011). Manajemen Stres Cemas dan Depresi. Jakarta: FKUI.
Hidayanto, T. (2010). Perbedaan Antara Kecemasan Mahasiswa Kedokteran yang Masuk Lewat Jalur
Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan SWADANA.
Inam, S., Sahiq, A., & Alam, E. (2003). Prevalence of Anxiety and Depression among Students of
Private University. J Pak Med Assoc 53(2), 44-47.
Kaplan, H., Sadock, B., & Grebb, J. (2010). Sinopsis Psikiatri: Ilmu Pengetahuan Perilaku/Psikiatri Klinis
Jilid dua. Tangerang: Binarupa Aksara.
Kring, A., Davison, G., Neale, J., & Johnson, S. (2007). Abnormal Psychology 10th edition. United
States of America: John Wiley&Sons Inc.
Kurniasih, I. (2014). Lima Komponen Penting dalam Perencanaan OSCE. International Dental Journal,
3(1).
Maramis, W. (2009). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press.
Mc William, P., & Botwinski, C. (2012). Identifying Strengths and Weaknesses in the Utilization pf
Objective Structured Clinical Examination (OSCE) in a Nursing Program. Nurs Educ Perspect,
33(1), 35-39.
41
McCoy, & Merrick. (2001). The Objective Structured Clinical Examination.
Mitchell, M., Henderson, A., Groves, M., Dalton, M., & Nulty, D. (2010). The objective structured
clinical examination (OSCE): Optimising its value in the undergraduate nursing curriculum.
Dipetik Maret 18, 2019, dari
[Link]
Muthamilselvi, G., & Ramanadin, P. (2014). Objective Structured Clinical Examination-Emerging Trend
in Nursing Profession. International Journal of Nursing Education, 6(1), 43-47.
Nursalam, & Efendi. (2008). Pendidikan dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Pierre, R., Wierenga, A., Barton, M., Branday, J., & Christie, C. (2004). Student Evaluation of an OSCE
in Paediatrics at the University of the West Indies, Jamaica. BMC Med Education 4(1), 22.
Puri, B., Laking, J., & Treaseden. (2011). Textbook of Psychiatry 3rd ed. Edinburgh: Livingstone.
Sadock, B. J., & Sadock, V. A. (2014). Buku Ajar Psikiatri Klinik Edisi 2. Jakarta: EGC.
Safaria, T., & Saputra, N. E. (2012). Manajemen Emosi. Jakarta: Bumi Aksara.
Selim, & Dawood. (2015). Objective Sructured Video Examination in Psychiatric and Mental Health
Nursing : A Learning and Assessment Method. 87-95.
Supriyantini, S. (2010). Perbedaan Kecemasan Dalam Menghadapi Ujian Antara Siswa Program
Reguler Dengan Siswa Program Akselerasi. Dipetik March 21, 2019, dari
[Link]
1DA81FDBC9AB1D6A5A90CEB2B63005?sequence=1
Yanti. (2008). OSCA Panduan Praktis Menghadapi UAP DIII Kebidanan.
Zulharman. (2011). Perancangan Objective Structured Clinical Examination (OSCE) Untuk Menilai
Kompetensi Klinik. 5, 7-12.
42
LAMPIRAN
Lampiran 1
SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM
PENELITIAN (INFORMED CONCENT)
Yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama :
Usia : Jenis Kelamin :L/P
Alamat :
Angkatan :
Dengan ini menyatakan bahwa :
1. Saya telah memahami penjelasan yang diberikan, sehingga dengan
penuh kesadaran dan tanpa paksaan dari siapapun, saya bersedia ikut
serta dalam penelitian ini dengan kondisi:
a. Data yang diperoleh dari penelitian ini dijaga kerahasiaanya dan
hanya dipergunakan untuk kepentingan ilmiah.
b. Apabila saya inginkan, saya boleh memutuskan untuk keluar/tidak
berpartisipasi lagi dalam penelitian ini tanpa harus menyampaikan
alasan apapun.
Samarinda...........................
Yang Membuat Pernyataan,
(......................................................)
xliii
Lampiran 2
KUISIONER
Hamilton Rating Scale For Anxiety (HARS)
Nama Responden :
Usia : Jenis Kelamin : L/P
No Pertanyaan 0 1 2 3 4
1 Perasaan Kecemasan
- Cemas
- Firasat Buruk
- Takut Akan Pikiran Sendiri
- Mudah Tersinggung
2 Ketegangan
- Merasa Tegang
- Lesu
- Tak Bisa Istirahat Tenang
- Mudah Terkejut
- Mudah Menangis
- Gemetar
- Gelisah
3 Ketakutan
- Pada Gelap
- Pada Orang Asing
- Ditinggal Sendiri
- Pada Binatang Besar
- Pada Keramaian Lalu Lintas
- Pada Kerumunan Orang Banyak
4 Gangguan Tidur
- Sukar Masuk Tidur
- Terbangun Malam Hari
- Tidak Nyenyak
- Bangun dengan Lesu
- Banyak Mimpi-Mimpi
- Mimpi Buruk
- Mimpi Menakutkan
5 Gangguan Kecerdasan
- Sukar
Konsentrasi
- Daya Ingat
Buruk
xliv
6 Perasaan Depresi
- Hilangnya Minat
- Berkurangnya Kesenangan Pada Hobi
- Sedih
- Bangun Dini Hari
- Perasaan Berubah-Ubah Sepanjang Hari
7 Gejala Somatik (Otot)
- Sakit dan Nyeri di Otot-Otot
- Kaku
- Kedutan Otot
- Gigi Gemerutuk
- Suara Tidak Stabil
8 Gejala Somatik (Sensorik)
- Tinitus
- Penglihatan Kabur
- Muka Merah atau Pucat
- Merasa Lemah
- Perasaan ditusuk-Tusuk
9 Gejala Kardiovaskuler
- Takhikardia
- Berdebar
- Nyeri di Dada
- Denyut Nadi Mengeras
- Perasaan Lesu/Lemas Seperti Mau Pingsan
- Detak Jantung Menghilang (Berhenti
Sekejap)
10 Gejala Respiratori
- Rasa Tertekan atau Sempit Di Dada
- Perasaan Tercekik
- Sering Menarik Napas
- Napas Pendek/Sesak
11 Gejala Gastrointestinal
- Sulit Menelan
- Perut Melilit
- Gangguan Pencernaan
- Nyeri Sebelum dan Sesudah Makan
- Perasaan Terbakar di Perut
- Rasa Penuh atau Kembung
- Mual
- Muntah
- Buang Air Besar Lembek
- Kehilangan Berat Badan
- Sukar Buang Air Besar (Konstipasi)
xlv
12 Gejala Urogenital
- Sering Buang Air Kecil
- Tidak Dapat Menahan Air Seni
- Amenorrhoe
- Menorrhagia
- Menjadi Dingin (Frigid)
- Ejakulasi Praecocks
- Ereksi Hilang
- Impotensi
13 Gejala Otonom
- Mulut Kering
- Muka Merah
- Mudah Berkeringat
- Pusing, Sakit Kepala
- Bulu-Bulu Berdiri
14 Tingkah Laku Pada Wawancara
- Gelisah
- Tidak Tenang
- Jari Gemetar
- Kerut Kening
- Muka Tegang
- Tonus Otot Meningkat
- Napas Pendek dan Cepat
- Muka Merah
SKOR TOTAL
Skor Tidak ada gejala sama sekali 0
Satu dari gejala yang ada 1
Sedang/ separuh dari gejala yang ada 2
Berat/ lebih dari 1/2 gejala yang ada 3
Sangat berat/ semua gejala ada 4
Total Skor : kurang dari 14 = tidak ada kecemasan
14 – 20 = kecemasan ringan
21 – 27 = kecemasan sedang
28 – 41 = kecemasan berat
42 – 56 = kecemasan berat sekali
xlvi