Penerapan Model Evaluasi CIPP dalam Pendidikan
Penerapan Model Evaluasi CIPP dalam Pendidikan
Disusun oleh :
1. EVALUASI
Evaluasi merupakan saduran dari bahasa Inggris "evaluation" yang diartikan
sebagai penaksiran atau penilaian. Nurkancana (1983) menyatakan bahwa evaluasi
adalah kegiatan yang dilakukan berkenaan dengan proses untuk menentukan nilai
dari suatu hal. Sementara Raka Joni (1975) menjelaskan bahwa evaluasi adalah
proses untuk mempertimbangkan sesuatu barang, hal atau gejala dengan
mempertimbangkan beragam faktor yang kemudian disebut Value Judgment.
Maka dari pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah proses
menetukan nilai untuk suatu hal atau objek yang berdasarakan pada acuan-acuan
tertentu untuk menentukan tujuan tertentu. Dalam perusahaan, evaluasi dapat
diartikan sebagai proses pengukuran akan evektivitas strategi yang digunakan
dalam upaya mencapai tujuan perusahaan. Data yang diperoleh dari hasil
pengukuran tersebut akan digunakan sebagai analisis situasi program berikutnya.
Evaluasi, dari awal kemunculannya sampai dengan saat ini terus mengalami
perkembangan. Evaluasi merupakan istilah baru dalam kajian keilmuan yang telah
berkembang menjadi disiplin ilmu sendiri. Walaupun demikian, bidang kajian
evaluasi ternyata telah banyak memberikan manfaat dan kontribusinya didalam
memberikan informasi maupun data, khususnya mengenai pelaksanan suatu
program tertentu yang pada gilirannya akan menghasilkan rekomendasi dan
digunakan oleh pelaksana program tersebut untuk menentukan keputusan, apakah
program tersebut dihentikan, dilanjutkan, atau ditingkatkan lebih baik lagi. Dan
saat ini, evaluasi telah berkembang menjadi tren baru sebagai disiplin ilmu baru
dan sering digunakan oleh hampir semua bidang dalam suatu program tertentu
seperti,evaluasi program training pada sebuah perusahaan, evaluasi program
pembelajaran dalam pendidikan, maupun evalausi kinerja para pegawai negeri
sipil pada sebuah instansi [Link] implementasinya ternyata evaluasi dapat
berbeda satu sama lain, hal ini tergantung dari maksud dan tujuan dari evaluasi
tersebut dilaksanakan. Seperti evaluasi program pembelajaran tidak akan sama
dengan evaluasi kinerja pegawai. Evaluasi program pembelajaran dilakukan
dengan dituan untuk melihat sejauh mana hasil belajar telah tercapai dengan
optimal sesuai dengan target dan tujuan pembelajaran itu sediri. Sedangkan
evaluasi kinerja pegawai dilakukan dengan tujuan untuk melihat kualitas, loyalitas,
atau motivasi kerja pegawai, sehingga akan menentukan hasil produksi. Dengan
adanya perbedaan tersebut lahirlah beberapa model evaluasi yang dapat menjadi
pertimbangan evaluator dalam melakukan evaluasi.
2. CIPP
Secara khusus, komponen evaluasi Konteks Input, Process, dan evaluasi Produk
dapat membantu mengidentifikasi penyedia layanan kebutuhan belajar dan
kebutuhan masyarakat (Guili Zhang, et all., 2011). Komponen evaluasi masukan
maka dapat membantu meresepkan responsive proyek yang terbaik dapat
menjawab kebutuhan diidentifikasi. Selanjutnya, proses Komponen evaluasi
memonitor proses proyek dan potensi hambatan prosedural, dan mengidentifikasi
kebutuhan untuk penyesuaian proyek. Akhirnya, langkah-langkah evaluasi
komponen produk, menafsirkan, dan mempertimbangkanhasilproyek dan
menafsirkan prestasi mereka, layak, signifikan, dan kejujuran.
3. MODEL CIPP
Memahami latar belakang Model CIPP sangat penting untuk memastikan
signifikansi model tersebut berdasarkan tahap perkembangannya dalam mengatasi
kebutuhan evaluasi suatu program nasional. Model ini digunakan secara luas,
perkembangannya berdasarkan hal-hal yang dipelajari dari penarapannya di
lapangan, dan integritasnya terhadap bidang evaluasi yang telah didefinisikan
sebagai praktek evaluasi.
a) Dasar dari Model CIPP
Model CIPP dirancang pada akhir 1960-an untuk membantu
meningkatkan dan mencapai akuntabilitas proyek sekolah umum AS yang
didanai pemerintah federal, terutama untuk meningkatkan pengajaran dan
belajar di sekolah. Model ini dirancang karena evaluasi klasik dengan
pendekatan desain eksperimental (experimental design), evaluasi berbasis
tujuan (objectives-based evaluation), peer or expert review site visits, dan uji
pencapaian standar (standardized achievement testing) terbukti
memilikipenggunaan yang terbatas dan sering tidak bisa dijalankan dan bahkan
kontraproduktif untuk mengevaluasi program federal yang muncul dalam
konteks sosial yang dinamis dan pada beberapa sekolah umum, model ini
mengalami perkembangan, telah diadaptasi dan diterapkan di Amerika Serikat
dan banyak negara lain serta di berbagai disiplin ilmu.
Model CIPP didasarkan pada belajar dengan melakukan (Learning by
doing) yaitu, upaya berkesinambungan untuk mengidentifikasi dan
memperbaiki kesalahan yang dibuat dalam praktek evaluasi, untuk
menciptakan dan menguji prosedur baru, dan untuk mempertahankanserta
menggabungkan praktek-praktek yang efektif. Model ini didokumentasikan
pertama kali dalam buku Educational Evaluation and Decision Making
(Stufflebeam et al., 1971). Penulis buku ini mengkritik pandangan tradisional
evaluasi, menganalisis kebutuhan informasi evaluatif dalam pengambilan
keputusan, menguraikan model CIPP, meneliti dengan seksama masalah
evaluasi multilevel, membahas sistematika evaluasi, membahas kebutuhan
untuk pelatihan evaluasi, dan mengusulkan kriteria dalam evaluasi yang
mencakup utilitas dan kelayakan teknis.
b) Jangkauan Aplikasi Model CIPP
Model ini dapat diadaptasi dalam penerapaan oleh berbagai pengguna,
termasuk evaluator, spesialis program, peneliti, pengembang, kelompok
pembuat kebijakan, pemimpin, administrator, komite atau kelompok tertentu,
dan masyarakat awam. Model CIPP adalah pendekatan akal sehat untuk
memastikan efektivitas dalam memulai, merencanakan, melaksanakan, dan
menyelesaikan upaya perbaikan yang diperlukan.
Guili Zhang dari East Carolina University menunjukkan
korespondensi dengan mencari literatur yang relevan mengenai model CIPP. Ia
mengidentifikasi sekitar 200 evaluasi CIPP terkait penelitian, artikel jurnal,
dan disertasi doktor yang mencakup mencakup banyak negara dan bidang. Dia
menemukan bahwa model telah diterapkan di 134 disertasi doktor di delapan
puluh satu universitas yang melibatkan total tiga puluh sembilan disiplin. Ia
juga mengutip contoh dari 55 penelitian yang diterbitkan yang menggunakan
model dalam disiplin ilmu seperti pertanian, penerbangan, bisnis, komunikasi,
pendidikan jarak jauh, pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan tinggi,
pemerintah, kesehatan, pengembangan Internasional, hukum, kedermawanan,
psikologi, agama, dan sosiologi. Mereka mempekerjakan atau mengontrak
orang lain untuk menggunakan model tersebut termasuk pejabat pemerintah,
pejabat yayasan, program, dan proyek staf, bantuan internasional personil,
penyuluh pertanian, administrator sekolah, dokter, perawat, pemimpin militer,
dan evaluator.
c) Definisi konseptual dan Operasional Evaluasi
Model CIPP didasarkan pada definisi evaluasi secara umum dan
secara operasional, penggunaan evaluasi, dan standar profesional untuk
membimbing dan menilai evaluasi. Secara umum, evaluasi merupakan
penyelidikan sistematis pada nilai-nilai suatu objek. Secara operasional,
evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, pelaporan, dan
menerapkan dan menilai informasi secara deskriptif tentang suatu objek,
seperti yang didefinisikan oleh kriteria seperti kualitas, kegunaan, kejujuran,
ekuitas, kelayakan, biaya, efisiensi, keamanan dan signifikansi.
d) Standar Profesional
Standar profesional untuk evaluasi adalah prinsip-prinsip yang
disepakati bersama oleh spesialis atau para ahi dalam melakukan evaluasi
untuk menentukan kegunaan, kelayakan, kebenaran, akurasi, dan akuntabilitas
evaluasi. Pada dasarnya, model CIPP adalah pendekatan yang terorganisasi
untuk memenuhi evaluasi standar profesional seperti yang didefinisikan oleh
Joint Committee (1981, 1988, 1994, 2003, 2009, 2011).
a) Perencanaan Evaluasi
Pada tahap ini direncanakan hal-hal yang terkait dengan
pelaksanaan evaluasi. Perencanaan tersebut mencakup bidang (1) man atau
orang-orang yang akan dilibatkan dalam evaluasi, (2) money, anggaran yang
dibutuhkan dan harus disediakan dalam pelaksanaan
evaluasi, (3) management, pengorganisasian pelaksanaan evaluasi, baik
penetapan struktur organisasi, ruang lingkup tugas dan tanggung jawab
maupun pendelegasian kewenangan, serta (4) time, yaitu waktu mulai dari
perencanaan evluasi serta pelaporan dan perekomendasian hasil.
b) Pelaksanaan Evaluasi
Ada beberapa langkah yang dilakukan dalam pelaksanaan evaluasi
kurikulum berdasarkan model CIPP ini, yakni:
i. Pemfokusan terhadap Fenomena Kurikulum yang akan Dievaluasi
Pada tahap ini, para evaluator menetapkan apa yang akan
dievaluasi dan apa desain yang digunakan. Untuk itu, dilakukan uji-coba
pelaksanaan kurikulum di suatu lembga pendidikan atau beberapa sekolah
yang ditetapkan sebagai pilot-proyek. Dalam tahap ini, ditetapkan fokus
evaluasi: apakah keseluruhan sekolah, ataukah sekolah tertentu. Apakah
sekolah itu merupakan sekolah induk atau inti dan yang lain merupakan
sekolah imbas.
ii. Pengumpulan Informasi
Pada tahap ini para evaluator mengidentifikasikan sumber-
sumber informasi yang esensial serta alat-alat (instrumen) yang
digunakan untuk mengumpulkan informasi tersebut. Sesudah semuanya
disiapkan, evaluator melaksanakan pengumpulan informasi. Informan yang
diharapkan adalah pihak-pihak yang terutama terkait langsung dengan
proses pembelajaran, misalnya siswa, guru, pimpinan sekolah, tata usaha,
komite sekolah, dan wakil-wakil masyarakat yang mewakili orang tua
siswa maupun profesi tertentu yang menonjol. Informasi juga dikaitkan
dengan deskripsi tentang content atau materi pembelajaran, input terutama
kesiapan dan peran serta input, process, terutama terkait dengan kesesuaian
proses dengan materi dan input serta aspek sarana dan prasarana lainnya,
serta product. Jika product belum dihasilkan, tidak mungkin dilaksanakan
evaluasi kurikulum.
iii. Pengorganisasian Informasi
Para pengevaluator mengorganisasikan informasi agar mudah
diinterpretasikan dan dimanfaatkan oleh audiens (dalam hat ini
kelompok evaluator). Pengorganisasian informasi mencakup pengodean,
pengorganisasian, penyimpanan, dan penyiapan untuk saji-ulang
informasi.
iv. Penganalisisan Informasi
Pada tahap ini, evaluator memilih dan mengembangkan
teknik-teknik analisis informasi yang memadai. Spesifikasi teknik yang
digunakan tergantung pada fokus evaluasi dan alat evaluasi yang
digunakan.
c) Pelaporan Informasi Hasil Evaluasi
Pada tahap ini, para evaluator menetapkan cara terbaik untuk
melaporkan hasIL evaluasi. Pada tahap ini ditetapkan apakah akan digunakan
cara formal maupun informal. Selain itu, laporan akhir hendaknya memuat
rincian data statistik.
d) Pendaur-ulangan Informasi
Keberlanjutan informasi dan evaluasi sangat diperlukan dalam
pengembangan kurikulum. Meskipun berdasarkan hasil evaluasi ternyata
kurikulum tersebut sudah memadai, namun pemberian umpan batik,
pemodifikasian, dan penyesuaian tetap diperlukan sebab berbagai
kekuatan yang mempengaruhi sekolah selalu menghendaki adanya perubahan.
7. CIPP KESEHATAN
FASILITAS KESEHATAN
Context :
Input :
Sebagai daerah otonomi hasil pemekaran, rintangan Kabupaten Tana Tidung
kedepan sangat berat dan kompleks, mulai dari masalah kependudukan,
ketenagakerjaan, sektor informal, investasi, berbagai infrastruktur dan rendahnya
kualitas daya dukung regulasi dan birokrasi serta budaya masyarakat. Dari sekian
banyak permasalahan tersebut masalah kesehatan, utamanya mengenai fasilitas
kesehatan menjadi salah satu prioritas pembangunan di KTT(Kabupaten Tana
Kidung). Hal tersebut secara jelas terdapat dalam visi pembangunan daerah yang
merupakan starting point dalam menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah (RPJMD).
Dalam RPJMD tersebut terdapat beberapa rencana tindak bidang kesehatan,
antara lain peningkatan kesehatan ibu,bayi dan balita, pembinaan keperawatan dan
kebidanan, perbaikan status gizi masyarakat, pengendalian penyakit menular serta
penyakit tidak menular diikuti penyehatan lingkungan, pengembangan kualitas dan
kuantitas sumber daya aparatur kesehatan, pembangunan sarana dan prasarana
kesehatan, peningkatan pemerataan, ketersediaan obat publik dan perbekalan
kesehatan, pengembangan sistem jaminan pembiayaan kesehatan, revitalisasi
program keluarga berencana, peningkatan komunikasi informasi dan edukasi
pegendalian penduduk dan KB, penyusunan dokumen perencanaan dan data base
kesehatan dan keluarga berencana.
Dari dua belas program prioritas tersebut, untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat terhadap fasilitas kesehatan terdapat program pembangunan sarana dan
prasarana kesehatan. Sasaran dari program tersebut adalah tersedianya sarana dan
prasarana kesehatan yang memadai dan berkualitas. Dengan adanya rencana tindak
yang kemudian ditindak lanjuti dengan adanya program prioritas, maka pada
dasarnya kondisi tersebut telah sesuai dengan evaluasi input. Dimana evaluasi input
ditujukan untuk menilai alternatif pendekatan rencana tindak, rencana staf dan
pembiayaan bagi kelangsungan intervensi dalam mencapai tujuan yang ditetapkan.
Evaluasi input berguna bagi pembuat kebijakan untuk memilih rancangan, bentuk
pembiayaan, alokasi sumberdaya, pelaksana dan jadwal kegiatan yang paling sesuai
bagi kelangsungan program.
Pelaksanaan evaluasi input pada pelayanan kesehatan utamanya pada
penyedian fasilitas kesehatan di Kabupaten Tana Tidung dapat dilihat pada rencana
tindak. Dimana dalam rencana tindak tersebut dapat dilihat upaya pemerintah untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap fasilitas kesehatan. Dengan adanya
program pembangunan sarana prasarana yang indikatornya meliputi jumlah rsu
pemerintah (unit), jumlah klinik, jumlah puskesmas, jumlah puskesmas rawat inap,
jumlah puskesmas pembantu, jumlah puskesmas keliling darat, jumlah puskesmas
keliling air,jumlah posyandu, jumlah poskedes, persentase ketersediaan obat dan
vaksin (%), persentas obat yang memenuhi standart (aman,manfaat,dan mutu) dapat
dilihat sejauh mana pemerintah daerah dapat melihat dan memenuhi kebutuhan
masyarakat.
Dalam evaluasi input, untuk melihat kesesuaian program selain melalui
rencana tindak, juga perlu dilihat rencana keuangan program tersebut. Dalam
penelitian ini Kabupaten Tana Tidung sebagai daerah otonom baru secara umum
kebijakan keuangan daerahnya diarahkan untuk mampu membiayai seluruh
penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan daerah. Kondisi keuangan daerah
yang ada pada saat ini dimana masih tingginya tingkat ketergantungan pada dana
perimbangan keuangan daerah. Kondisi tersebut mengharuskan pada internal daerah
untuk mengupayakan intensifikasi pemungutan pajak–pajak dan retribusi daerah pada
kemampuan pendapatn asli daerah guna pembiayaan rutin pemerintah dan ada sisa
yang dapat di gunakan bagi pembiayaan pembangunan daerah. Arah kebijakan
keuangan daerah berisikan uraian mengenai kebijakan yang akan ditempuh oleh
pemerintah daerah berkaitan dengan pendapatan daerah, pembiayan daerah dan
belanja daerah.
Alokasi anggaran yang cukup besar pada program sarana dan prasarana
seharusnya dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan dan
permasalahan fasilitas kesehatan bagi masyarakat. Namun jika dikorelasikan dengan
rencana tindak yang telah ada, nampaknya rencana anggaran tersebut belum mampu
menjawab kebutuhan masyarakat secara optimal dalam pemenuhan fasilitas
kesehatan.
Process :
Selanjutnya dalam evaluasi model CIPP, evaluasi berlanjut pada evaluasi
proses. Evaluasi proses ditujukan untuk menilai pelaksanaan dari suatu intervensi
yang telah ditetapkan untuk membantu pelaksana dalam melaksanakan kegiatan dan
membantu kelompok pengguna untuk mengetahui kinerja intervensi dan perkiraan
hasilnya. Untuk melihat proses pelaksanaan dari rencana tindak yang telah dibuat
sebelumnya oleh pemerintah daerah, maka peneliti melihat melalui pelaksanaan
program dan kegiatan pada tahun 2012. Pemilihan tahun 2012 sebagai acuan bahwa
penelitian ini pada dasarnya melihat pada tahapan evaluasi on going, dimana evaluasi
on-going ini merupakan evaluasi pada tahappelaksanaan yang di gunakan untuk
menentukan tingkat kemajuan pelaksanaan program di bandingkan dengan rencana
yang telah di tentukan sebelumnya. Yaitu dari penyediaan layanan publik yang telah
direncakan sebelumnya dalam RPJMD KTT tahun 2010-2014.
RKPD 2012 sebagai acuan kerja tahunan pemerintah daerah KTT
menjabarkan rencana tindak bidang kesehatan khususnya pada program
pembangunan sarana dan prasaran kesehatan melalui bebeberapa program dan
kegiatan, antara lain program obat dan perbekalan kesehatan, program standarisasi
pelayanan kesehatan, program pengadaan, peningkatan, dan perbaikan sarana dan
prasarana puskesmas/puskesmas pembantu dan jaringannya, serta melalui program
pengadaan, peningkatan, dan perbaikan sarana dan prasarana rumah sakit/rumah sakit
jiwa/rumah sakit paru-paru/rumah sakit mata.
Dimana pada dasarnya evaluasi hasil ditujukan untuk mengidentifikasi dan
menilai hasil yang dicapai berupa dampak, efektivitas, keberlanjutan dan daya
adaptasinya berikut adalah hasil implementasi dari programberdasarakan RPJMD
Kabupaten Tana Tidung tahun 2010-2014
Program obat dan perbaikan kesehatan, anggaran sebesar Rp [Link]-,
dengan realisasi Rp [Link],- atau dengan persentase 88,19%. Program
standarisasi pelayanan kesehatan anggaran sebesar Rp [Link],- dengan
ralisasi Rp 962.334.890-, atau dengan persentase 94,44%. Program pengadaan,
peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana puskesmas/puskesmas pembantu dan
jaringannya, anggaran sebesar Rp [Link] dengan realisasi Rp [Link]
atau dengan persentase 74,94%. Program pengadaan, peningkatan sarana dan
prasarana rumah sakit/ ruamah sakit jiwa/rumah sakit paru-paru/ rumah sakit mata
anggaran sebesar Rp [Link],- atau dengan persentase 46,35%.
Berdasarkan masing-masing tahapan evaluasi yang telah dilakukan pada
penyediaan fasilitas kesehatan di KTT, dapat disimpulkan bahwa pemerintah KTT
pada dasarnya belum sepenuhnya berhasil pada pemenuhan kebutuhan pelayanan
kesehatan bagi masyarakat. Pada evaluasi tahap proses, peneliti melihat bahwa
rencana tindak dan keuangan yang telah dibuat, tidak dimaksimalkan dalam proses
pelaksanaannya, hal tersebut tampak pada RKPD KTT 2012.
Product :
Hal yang sama juga tampak pada evaluasi pada tahap produk, pada tahap ini
hasil program dan kegiatan pengadaan fasilitas kesehatan masih sulit dilihat
pencapaian program dan kegiatannya, dalam penelitian yang dilihat berdasarkan
dokumen pelaporan kegiatan hanya tampak realisasi anggaran dari program dan
kegiatan tersebut. Hal tersebut menjadi catatan penting dalam penelitian ini, dimana
hingga saat ini tidak dapat diukur pencapaian program dan kegiatan. Sedangkan bila
dilihat dari realisasi keuangan, rata-rata pencapaian masing masing program telah
diatas 70%, namun untuk pembangunan rumah sakit, hingga akhir tahun 2012
realisasi keuangan hanya mencapai 46,35%.
PENUTUP
Oleh karena itu, evaluasi bisa diterapkan di dalam proses pembelajaran dalam
kelas, evaluasi kebijakan, evaluasi proses, evaluasi dampak, evaluasi untuk
pengembangan, maupun dalam bidang yang lain seperti dalam perusahaan.
Karenanya, evaluasi hendaknya membantu pengembangan, implementasi,
kebutuhan suatu program, perbaikan program, pertanggungjawaban, seleksi,
motivasi, menambah pengetahuan, dan dukungan dari mereka yang terlibat
(Tayibnapis, 2008: 4).
DAFTAR PUSTAKA