0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
136 tayangan21 halaman

Penerapan Model Evaluasi CIPP dalam Pendidikan

Model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product) digunakan untuk mengevaluasi program dengan menilai konteks, masukan, proses, dan hasil program."

Diunggah oleh

zinedineavien
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
136 tayangan21 halaman

Penerapan Model Evaluasi CIPP dalam Pendidikan

Model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product) digunakan untuk mengevaluasi program dengan menilai konteks, masukan, proses, dan hasil program."

Diunggah oleh

zinedineavien
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

CIPP (Context, Input, Process, Product)

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah


Pengembangan dan Pengorganisasian Masyarakat

Disusun oleh :

Catrin Dewi S (6411418129) Abdullah (6411418137)


Safira Almadani (6411418130) Wilda Devi S (6411418138)
Yola Anggraini P (6411418131) Adelya Amara B S (6411418139)
Layla Dian N C (6411418132) Rina Yuniati (6411418140)
Umi Novianti (6411418133) Ima Ika Safitri (6411418142)
Siti Namira S (6411418135) Windy Widyanti K (6411418143)
Annisa Sekar S (6411418136)

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2019
PENDAHULUAN

Sebuah kegiatan atau program yang dilakukan oleh seseorang atau


sekolompok orang, pada umumnya memiliki tujuan yang ingin dicapai. Tujuan
tersebut dapat dicapai apabila tujuannya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki,
sehingga dapat mengetahui dan mengimplementasikan cara-cara yang tepat untuk
mencapai tujuan tersebut. Oleh karenanya, seseorang atau sekolompok orang dapat
melakukan proses evaluasi untuk mengetahui seberapa tepat cara-cara yang
digunakan untuk meraih tujuan tersebut. Proses evaluasi yang dilakukan tidak
sekedar untuk mengetahui ketepatan pelaksanaan, tetapi dapat digunakan untuk
mengetahui tingkat keberhasilan ketercapaian suatu tujuan.

Evaluasi memiliki definisi tertentu yang membedakannya dari kegiatan lain.


Evaluasi dapat didefinisikan sebagai kegiatan untuk menentukan nilai tentang
sesuatu, termasuk mendapatkan informasi yang bermanfaat (Worhen & Sanders,
1973: 19), sehingga penyediaan informasi yang ada dapat dijadikan bahan
pertimbangan dalam mengambil keputuasan (Stufflebeam & Shinkfiled, 1985: 159),
yang ditunjukkan sebagai suatu proses terstruktur dalam menciptakan informasi
untuk mengurangi tingkat ketidakpastian stakeholder tentang suatu program
(McDavid & Howthorn, 2006: 3), supaya setiap data yang dihasilkan lebih akurat dan
objektif karena dilaksanakan secara sistematik (Sudarsono, 1994: 3). Oleh karena itu,
evaluasi penting dilakukan untuk mencari informasi-informasi yang lebih akurat
tentang pelaksanaan suatu program.

Memilih model evaluasi yang digunakan untuk mencapai tujuan program


harus disesuaikan dengan masalah dan tujuan dari evaluasi itu sendiri. Terdapat
banyak model evaluasi yang dikembangkan dewasa ini, seperti delapan model
evaluasi yang dapat dipakai dalam mengevaluasi sebuah program (Kaufman &
Thomas, 1980: 109), yaitu: Goal Oriented Evaluation Model; Goal Free Evaluation
Model; Formative Summative Evaluation Model; Countenance Evaluation Model;
Responsive Evaluation Model; CSE-UCLA Evaluation Model; CIPP Evaluation
Model; and Discrepancy Model. Selain itu, terdapat pula model-model evaluasi yang
lain, seperti: Kirkpatrick, System Bell, Ciro, Saratoga Institut, IBM, Xerox, dan CIPP
(Badrun Kartwowagiran, 2016).

Berdasarkan uraian di atas, maka akan dideskripsikan tentang model-model


evaluasi yang digunakan untuk mengevaluasi sebuah program. Tujuannnya adalah
untuk mengetahui seberapa jauh tingkat keberhasilan program yang dijalankan.
Adapun model yang akan dideskripsikan adalah model CIPP .Model ini akan dibahas
lebih jauh terkait dengan kebermanfaatnnya dalam mengevaluasi sebuah program.
PEMBAHASAN

1. EVALUASI
Evaluasi merupakan saduran dari bahasa Inggris "evaluation" yang diartikan
sebagai penaksiran atau penilaian. Nurkancana (1983) menyatakan bahwa evaluasi
adalah kegiatan yang dilakukan berkenaan dengan proses untuk menentukan nilai
dari suatu hal. Sementara Raka Joni (1975) menjelaskan bahwa evaluasi adalah
proses untuk mempertimbangkan sesuatu barang, hal atau gejala dengan
mempertimbangkan beragam faktor yang kemudian disebut Value Judgment.
Maka dari pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah proses
menetukan nilai untuk suatu hal atau objek yang berdasarakan pada acuan-acuan
tertentu untuk menentukan tujuan tertentu. Dalam perusahaan, evaluasi dapat
diartikan sebagai proses pengukuran akan evektivitas strategi yang digunakan
dalam upaya mencapai tujuan perusahaan. Data yang diperoleh dari hasil
pengukuran tersebut akan digunakan sebagai analisis situasi program berikutnya.
Evaluasi, dari awal kemunculannya sampai dengan saat ini terus mengalami
perkembangan. Evaluasi merupakan istilah baru dalam kajian keilmuan yang telah
berkembang menjadi disiplin ilmu sendiri. Walaupun demikian, bidang kajian
evaluasi ternyata telah banyak memberikan manfaat dan kontribusinya didalam
memberikan informasi maupun data, khususnya mengenai pelaksanan suatu
program tertentu yang pada gilirannya akan menghasilkan rekomendasi dan
digunakan oleh pelaksana program tersebut untuk menentukan keputusan, apakah
program tersebut dihentikan, dilanjutkan, atau ditingkatkan lebih baik lagi. Dan
saat ini, evaluasi telah berkembang menjadi tren baru sebagai disiplin ilmu baru
dan sering digunakan oleh hampir semua bidang dalam suatu program tertentu
seperti,evaluasi program training pada sebuah perusahaan, evaluasi program
pembelajaran dalam pendidikan, maupun evalausi kinerja para pegawai negeri
sipil pada sebuah instansi [Link] implementasinya ternyata evaluasi dapat
berbeda satu sama lain, hal ini tergantung dari maksud dan tujuan dari evaluasi
tersebut dilaksanakan. Seperti evaluasi program pembelajaran tidak akan sama
dengan evaluasi kinerja pegawai. Evaluasi program pembelajaran dilakukan
dengan dituan untuk melihat sejauh mana hasil belajar telah tercapai dengan
optimal sesuai dengan target dan tujuan pembelajaran itu sediri. Sedangkan
evaluasi kinerja pegawai dilakukan dengan tujuan untuk melihat kualitas, loyalitas,
atau motivasi kerja pegawai, sehingga akan menentukan hasil produksi. Dengan
adanya perbedaan tersebut lahirlah beberapa model evaluasi yang dapat menjadi
pertimbangan evaluator dalam melakukan evaluasi.

2. CIPP

Model evaluasi CIPP adalah kerangka kerja yang komprehensif untuk


melakukan evaluasi formatif dan sumatif suatu program, proyek, personil, produk,
organisasi, kebijakan, dan sistem evaluasi (Stufflebeam & Coryn, 2014: 309). Pada
dasarnya, model memberikan arahan untuk menilai konteks (Context) dalam hal
suatu kebutuhan perusahaan untuk koreksi atau perbaikan, masukan (Input)
sebagai strategi, rencana operasional, sumber daya, dan perjanjian untuk
melanjutkan dengan intervensi atau perlakuan yang diperlukan, proses (Process)
yang berupa pelaksanaan intervensi dan biaya, dan produk (Product) yang
merupakan hasil baik positif ataupun negatif.

Secara khusus, komponen evaluasi Konteks Input, Process, dan evaluasi Produk
dapat membantu mengidentifikasi penyedia layanan kebutuhan belajar dan
kebutuhan masyarakat (Guili Zhang, et all., 2011). Komponen evaluasi masukan
maka dapat membantu meresepkan responsive proyek yang terbaik dapat
menjawab kebutuhan diidentifikasi. Selanjutnya, proses Komponen evaluasi
memonitor proses proyek dan potensi hambatan prosedural, dan mengidentifikasi
kebutuhan untuk penyesuaian proyek. Akhirnya, langkah-langkah evaluasi
komponen produk, menafsirkan, dan mempertimbangkanhasilproyek dan
menafsirkan prestasi mereka, layak, signifikan, dan kejujuran.
3. MODEL CIPP
Memahami latar belakang Model CIPP sangat penting untuk memastikan
signifikansi model tersebut berdasarkan tahap perkembangannya dalam mengatasi
kebutuhan evaluasi suatu program nasional. Model ini digunakan secara luas,
perkembangannya berdasarkan hal-hal yang dipelajari dari penarapannya di
lapangan, dan integritasnya terhadap bidang evaluasi yang telah didefinisikan
sebagai praktek evaluasi.
a) Dasar dari Model CIPP
Model CIPP dirancang pada akhir 1960-an untuk membantu
meningkatkan dan mencapai akuntabilitas proyek sekolah umum AS yang
didanai pemerintah federal, terutama untuk meningkatkan pengajaran dan
belajar di sekolah. Model ini dirancang karena evaluasi klasik dengan
pendekatan desain eksperimental (experimental design), evaluasi berbasis
tujuan (objectives-based evaluation), peer or expert review site visits, dan uji
pencapaian standar (standardized achievement testing) terbukti
memilikipenggunaan yang terbatas dan sering tidak bisa dijalankan dan bahkan
kontraproduktif untuk mengevaluasi program federal yang muncul dalam
konteks sosial yang dinamis dan pada beberapa sekolah umum, model ini
mengalami perkembangan, telah diadaptasi dan diterapkan di Amerika Serikat
dan banyak negara lain serta di berbagai disiplin ilmu.
Model CIPP didasarkan pada belajar dengan melakukan (Learning by
doing) yaitu, upaya berkesinambungan untuk mengidentifikasi dan
memperbaiki kesalahan yang dibuat dalam praktek evaluasi, untuk
menciptakan dan menguji prosedur baru, dan untuk mempertahankanserta
menggabungkan praktek-praktek yang efektif. Model ini didokumentasikan
pertama kali dalam buku Educational Evaluation and Decision Making
(Stufflebeam et al., 1971). Penulis buku ini mengkritik pandangan tradisional
evaluasi, menganalisis kebutuhan informasi evaluatif dalam pengambilan
keputusan, menguraikan model CIPP, meneliti dengan seksama masalah
evaluasi multilevel, membahas sistematika evaluasi, membahas kebutuhan
untuk pelatihan evaluasi, dan mengusulkan kriteria dalam evaluasi yang
mencakup utilitas dan kelayakan teknis.
b) Jangkauan Aplikasi Model CIPP
Model ini dapat diadaptasi dalam penerapaan oleh berbagai pengguna,
termasuk evaluator, spesialis program, peneliti, pengembang, kelompok
pembuat kebijakan, pemimpin, administrator, komite atau kelompok tertentu,
dan masyarakat awam. Model CIPP adalah pendekatan akal sehat untuk
memastikan efektivitas dalam memulai, merencanakan, melaksanakan, dan
menyelesaikan upaya perbaikan yang diperlukan.
Guili Zhang dari East Carolina University menunjukkan
korespondensi dengan mencari literatur yang relevan mengenai model CIPP. Ia
mengidentifikasi sekitar 200 evaluasi CIPP terkait penelitian, artikel jurnal,
dan disertasi doktor yang mencakup mencakup banyak negara dan bidang. Dia
menemukan bahwa model telah diterapkan di 134 disertasi doktor di delapan
puluh satu universitas yang melibatkan total tiga puluh sembilan disiplin. Ia
juga mengutip contoh dari 55 penelitian yang diterbitkan yang menggunakan
model dalam disiplin ilmu seperti pertanian, penerbangan, bisnis, komunikasi,
pendidikan jarak jauh, pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan tinggi,
pemerintah, kesehatan, pengembangan Internasional, hukum, kedermawanan,
psikologi, agama, dan sosiologi. Mereka mempekerjakan atau mengontrak
orang lain untuk menggunakan model tersebut termasuk pejabat pemerintah,
pejabat yayasan, program, dan proyek staf, bantuan internasional personil,
penyuluh pertanian, administrator sekolah, dokter, perawat, pemimpin militer,
dan evaluator.
c) Definisi konseptual dan Operasional Evaluasi
Model CIPP didasarkan pada definisi evaluasi secara umum dan
secara operasional, penggunaan evaluasi, dan standar profesional untuk
membimbing dan menilai evaluasi. Secara umum, evaluasi merupakan
penyelidikan sistematis pada nilai-nilai suatu objek. Secara operasional,
evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, pelaporan, dan
menerapkan dan menilai informasi secara deskriptif tentang suatu objek,
seperti yang didefinisikan oleh kriteria seperti kualitas, kegunaan, kejujuran,
ekuitas, kelayakan, biaya, efisiensi, keamanan dan signifikansi.
d) Standar Profesional
Standar profesional untuk evaluasi adalah prinsip-prinsip yang
disepakati bersama oleh spesialis atau para ahi dalam melakukan evaluasi
untuk menentukan kegunaan, kelayakan, kebenaran, akurasi, dan akuntabilitas
evaluasi. Pada dasarnya, model CIPP adalah pendekatan yang terorganisasi
untuk memenuhi evaluasi standar profesional seperti yang didefinisikan oleh
Joint Committee (1981, 1988, 1994, 2003, 2009, 2011).

4. KOMPONEN NILAI-NILAI DARI MODEL CIPP


Stufflebeam (2003) menerangkan gambar 1 yang merangkum elemen dasar
dari model CIPP dalam tiga lingkaran konsentris danmenggambarkan pentingnya
pusat nilai yang ditetapkan. Lingkaran dalam menunjukkan nilai-nilai inti
yangharus didefinisikan dan digunakan untuk mendasari evaluasi yang diberikan.
Roda seputar nilai-nilaidibagi menjadi empat fokus evaluatif yang berhubungan
dengan program atau usaha lainnya: tujuan, rencana,tindakan, dan hasil. Roda luar
menunjukkan jenis evaluasi yang melayani masing-masingempat fokus evaluatif :
konteks (context), masukan (input), proses (process), atau produk (product). Setiap
dua-arahpanah merupakan hubungan timbal balik antara fokus evaluatif tertentu
dan tipeevaluasi.
Berikut ini akan di bahas komponen atau dimensi model CIPP yang meliputi, context,
input, process, product.

a) Context Evaluation (Evaluasi Konteks)


Context Evaluation (evaluasi konteks) diartikan sebagai latar belakang yang
mempengaruhi jenis-jenis tujuan dan strategi yang dilakukan. Stufflebeam dalam
Hamid Hasan menyebutkan, tujuan dari evaluasi konteks yang utama ialah untuk
mengetahui kelebihan dan kelemahan yang dimiliki evaluan, sehingga dapat
diberikan arahan perbaikan yang dibutuhkan. Konteks evaluasi ini membantu
merencanakan keputusan, menentukan kebutuhan yang akan dicapai oleh program,
dan merumuskan tujuan program. Pertanyaan yang diajukan adalah :

 Kebutuhan apa saja yang belum terpenuhi oleh program ?


 Tujuan pengembngan apakah yang belum tercapai oleh program ?
 Tujuan pengembangan apakah yang dapat membantu mnegembangkan
masyarakat ?
 Tujuan-tujuan manakah yang paling mudah dicapai ?

b) Input Evaluation (evaluasi masukan)


Input Evaluation pada dasarnya mempunyai tujuan untuk mengaitkan tujuan,
konteks, input, dan proses dengan hasil program. Menurut Eko Putro Widyoko,
evaluasi masukan (Input Evaluation) ini ialah untuk membantu mengatur
keputusan, menentukan sumber-sumber yang ada, alternatif apa yang diambil, apa
rencana dan strategi untuk mencapai tujuan, dan bagaimana prosedur kerja untuk
mencapainya. Evaluasi ini menentukan sumber-sumber yang ada, alternatif apa
yang diambil, apa rencana dan strategi untuk mencapai kebutuhan, bagaimana
prosedur kerja untuk mencapainya. Menurut Stufflebeam pertanyaan yang
berkenaan dengan masukan mengaral pada “pemecahan masalah” yang
mendorong diselenggarakannya program yang bersangkutan. Pertanyaan yang
diajukan antara lain :

 Apakah proses metode belajar mengajar yang diberikan memberikan


dampak jelas pada perkembangan peserta didik?
 Bagaimana reaksi peserta didik terhadap metode pembelajaran yang
diberikan?

c) Process Evaluation (evaluasi proses)


Process evaluation ini ialah merupakan model CIPP yang diarahkan untuk
mengetahui seberapa jauh kegiatan yang dilaksanakan, apakah program terlaksana
sesuai dengan rencana atau tidak. Evaluasi proses juga digunakan untuk
mendeteksi atau memprediksi rancangan prosedur atau rancangan implementasi
selama tahap implementasi, menyediakan informasi untuk keputusan program dan
sebagai rekaman atau arsip prosedur yang telah terjadi. Menurut Suharsimi
Arikunto, evaluasi proses dalam model CIPP menunjuk pada :
 “apa” (what) kegiatan yang dilakukan dalam program,
 “siapa” (who) orang yang ditunjuk sebagai penanggung jawab program,
 “kapan” (when) kegiatan akan selesai.

Dalam model CIPP, evaluasi proses diarahkan pada seberapa jauh kegiatan
yang dilaksanakan didalam program sudah terlaksana sesuai dengan rencana.

d) Product Evaluation (evaluasi produk)


Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, evaluasi produk diharapkan dapat
membantu pimpinan proyek dalam mengambil suatu keputusan terkait program
yang sedang terlaksana, apakah program tersebut dilanjutkan, berakhir, ataukah
ada keputusan lainnya. Keputusan ini juga dapat membantu untuk membuat
keputusan selanjutnya, baik mengenai hasil yang telah dicapai maupun apa yang
dilakukan setelah program itu berjalan. Maka dapat ditarik kesimpuan bahwa,
evaluasi produk merupakan penilaian yang dilakukan guna untuk melihat
ketercapaian/ keberhasilan suatu program dalam mencapai tujuan yang telah
ditentukan sebelumnya. Pada tahap evaluasi inilah seorang evaluator dapat
menentukan atau memberikan rekomendasi kepada evaluan apakah suatu program
dapat dilanjutkan, dikembangkan/modifikasi, atau bahkan dihentikan. Pertanyaan-
pertanyaan yang bisa diajukan antara lain:

 Apakah tujuan-tujuan yang ditetapkan sudah tercapai?


 Apakah kebutuhan peserta didik sudah dapat dipenuhi selama proses
belajar mengajar?
 Apakah dampak yang diperoleh siswa dalam waktu yang relatif panjang
dengan adanya program makanan tambahan ini ?
 Kelebihan dan kekurangan CIPP
 Seperti layaknya suatu pendekatan dalam ilmu social, cipp memiliki
beberapa kelebihan dan kelemahan

5. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN


a. KELEBIHAN MODEL CIPP
 CIPP memiliki pendekatan yang holistik dalam evaluasi, bertujuan
memberikan gambaran yang sangat detail dan luas terhadap suatu
proyek, mulai dari konteksnya hingga saat proses implementasi.
 Merupakan system kerja yang dinamis
 Dapat melakukan perbaikan selama program berjalan maupun dapat
memberikan informasi final.
 Memiliki potensi untuk bergerak pada evaluasi formatif dan sumatif
 Lebih komperenhensif dari model lainnya
b. KEKURANGAN MODEL CIPP
 Kesannya terlalu top down dengan sifat manajerial dalam
pendekatannya
 Cenderung fokus pada rational management ketimbang mengakui
kompleksitas realitas empiris.
 Tidak terlalu mementingkan bagaimana proses seharusnya daripada
kenyataan yang sedang berlangsung.
 Kurang adanya modifikasi juga berdampak pada tingkat
keterlaksanaan yang kurang tinggi.
 Cenderung fokus pada rational management daripada mengakui
realita yang ada
 Bila diterapkan secara terpisah (partial) akan melemahkan ide dasar
6. LANGKAH – LANGKAH

Langkah-langkah penerapan model CIPP dalam mengevaluasi kurikulum


adalah sebagai berikut:

a) Perencanaan Evaluasi
Pada tahap ini direncanakan hal-hal yang terkait dengan
pelaksanaan evaluasi. Perencanaan tersebut mencakup bidang (1) man atau
orang-orang yang akan dilibatkan dalam evaluasi, (2) money, anggaran yang
dibutuhkan dan harus disediakan dalam pelaksanaan
evaluasi, (3) management, pengorganisasian pelaksanaan evaluasi, baik
penetapan struktur organisasi, ruang lingkup tugas dan tanggung jawab
maupun pendelegasian kewenangan, serta (4) time, yaitu waktu mulai dari
perencanaan evluasi serta pelaporan dan perekomendasian hasil.
b) Pelaksanaan Evaluasi
Ada beberapa langkah yang dilakukan dalam pelaksanaan evaluasi
kurikulum berdasarkan model CIPP ini, yakni:
i. Pemfokusan terhadap Fenomena Kurikulum yang akan Dievaluasi
Pada tahap ini, para evaluator menetapkan apa yang akan
dievaluasi dan apa desain yang digunakan. Untuk itu, dilakukan uji-coba
pelaksanaan kurikulum di suatu lembga pendidikan atau beberapa sekolah
yang ditetapkan sebagai pilot-proyek. Dalam tahap ini, ditetapkan fokus
evaluasi: apakah keseluruhan sekolah, ataukah sekolah tertentu. Apakah
sekolah itu merupakan sekolah induk atau inti dan yang lain merupakan
sekolah imbas.
ii. Pengumpulan Informasi
Pada tahap ini para evaluator mengidentifikasikan sumber-
sumber informasi yang esensial serta alat-alat (instrumen) yang
digunakan untuk mengumpulkan informasi tersebut. Sesudah semuanya
disiapkan, evaluator melaksanakan pengumpulan informasi. Informan yang
diharapkan adalah pihak-pihak yang terutama terkait langsung dengan
proses pembelajaran, misalnya siswa, guru, pimpinan sekolah, tata usaha,
komite sekolah, dan wakil-wakil masyarakat yang mewakili orang tua
siswa maupun profesi tertentu yang menonjol. Informasi juga dikaitkan
dengan deskripsi tentang content atau materi pembelajaran, input terutama
kesiapan dan peran serta input, process, terutama terkait dengan kesesuaian
proses dengan materi dan input serta aspek sarana dan prasarana lainnya,
serta product. Jika product belum dihasilkan, tidak mungkin dilaksanakan
evaluasi kurikulum.
iii. Pengorganisasian Informasi
Para pengevaluator mengorganisasikan informasi agar mudah
diinterpretasikan dan dimanfaatkan oleh audiens (dalam hat ini
kelompok evaluator). Pengorganisasian informasi mencakup pengodean,
pengorganisasian, penyimpanan, dan penyiapan untuk saji-ulang
informasi.
iv. Penganalisisan Informasi
Pada tahap ini, evaluator memilih dan mengembangkan
teknik-teknik analisis informasi yang memadai. Spesifikasi teknik yang
digunakan tergantung pada fokus evaluasi dan alat evaluasi yang
digunakan.
c) Pelaporan Informasi Hasil Evaluasi
Pada tahap ini, para evaluator menetapkan cara terbaik untuk
melaporkan hasIL evaluasi. Pada tahap ini ditetapkan apakah akan digunakan
cara formal maupun informal. Selain itu, laporan akhir hendaknya memuat
rincian data statistik.
d) Pendaur-ulangan Informasi
Keberlanjutan informasi dan evaluasi sangat diperlukan dalam
pengembangan kurikulum. Meskipun berdasarkan hasil evaluasi ternyata
kurikulum tersebut sudah memadai, namun pemberian umpan batik,
pemodifikasian, dan penyesuaian tetap diperlukan sebab berbagai
kekuatan yang mempengaruhi sekolah selalu menghendaki adanya perubahan.
7. CIPP KESEHATAN

Evaluasi Penyediaan Layanan Kesehatan di Daerah Pemekaran Dengan Metode


CIPP (Studi pada Pemerintah Daerah Kabupaten Tana Tidung)

FASILITAS KESEHATAN

Context :

Untuk melihat kesesuaian kebijakan maupun program pemerintah daerah KTT


(Kabupaten Tana Kidung) dengan kebutuhan masyarakat, peneliti melihat
permasalahan dan kebutuhan fasilitas kesehatan melalui evaluasi konteks. Evaluasi
konteks pada dasarnya mencakup analisis masalah yang berkaitan dengan lingkungan
program atau kondisi obyektif yang akan dilaksanakan. Berisi tentang analisis
kekuatan dan kelemahan obyek tertentu. Stufflebeam menyatakan evaluasi
kontekssebagai fokus institusi dengan mengidentifikasi peluang dan menilai
kebutuhan (1983).

Dalam melakukan evaluasi konteks pada penyediaan fasilitas kesehatan,


peneliti melihat pada bidang kesehatan dimana tingkat kesadaran akan pentingnya
kesehatan masyarakat di Kabupaten Tana Tidung sudah cukup tinggi. Namun
demikian kesadaran akan pentingnya kesehatan harus pula didukung dengan sarana
dan prasaran kesehatan. Sarana dan prasarana kesehatan yang terdapat di Kabupaten
Tana Tidung masih sangat terbatas. Hal tersebut juga dikeluhkan oleh masyarakat
sekitar.

Dari pernyataan masyarakat tampak bahwa kondisi fasilitas kesehatan di


Kabupaten Tana Tidung sudah cukup baik, namun masih harus terus dikembangkan,
khususnya kebutuhan terhadap rumah sakit. Ketersediaan fasilitas kesehatan yang ada
hingga kini dirasa masyarakat hanya mampu memenuhi kebutuhan dasar pelayanan
kesehatan, dimana untuk fasillitas yang meliputi peralatan medis relatif masih belum
terpenuhi. Sehingga masyarakat masih perlu pergi ke daerah lain untuk memperoleh
perawatan kesehatan yang lebih baik.
Berdasarkan uraian mengenai kondisi fasilitas kesehatan yang ada saat ini di
Kabupaten Tana Tidung dapat disimpulkan bahwa permasalahan dan kebutuhan
utama dari masyarakat yang pertama adalah ketersediaan fasilitas kesehatan hingga
ke desa-desa, yang dapat berupa puskesmas pembantu maupun pos-pos kesehatan.
Kebutuhan terhadap hal tersebut disebabkan letak antar desa disana cenderung cukup
jauh dan buruknya akses jalan. Permasalahan kedua adalah masih minimnya peralatan
medis, sehingga masyarakat cenderung tidak terlayani ketika membutuhkan
perawatan yang lebih intensif.

Input :
Sebagai daerah otonomi hasil pemekaran, rintangan Kabupaten Tana Tidung
kedepan sangat berat dan kompleks, mulai dari masalah kependudukan,
ketenagakerjaan, sektor informal, investasi, berbagai infrastruktur dan rendahnya
kualitas daya dukung regulasi dan birokrasi serta budaya masyarakat. Dari sekian
banyak permasalahan tersebut masalah kesehatan, utamanya mengenai fasilitas
kesehatan menjadi salah satu prioritas pembangunan di KTT(Kabupaten Tana
Kidung). Hal tersebut secara jelas terdapat dalam visi pembangunan daerah yang
merupakan starting point dalam menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah (RPJMD).
Dalam RPJMD tersebut terdapat beberapa rencana tindak bidang kesehatan,
antara lain peningkatan kesehatan ibu,bayi dan balita, pembinaan keperawatan dan
kebidanan, perbaikan status gizi masyarakat, pengendalian penyakit menular serta
penyakit tidak menular diikuti penyehatan lingkungan, pengembangan kualitas dan
kuantitas sumber daya aparatur kesehatan, pembangunan sarana dan prasarana
kesehatan, peningkatan pemerataan, ketersediaan obat publik dan perbekalan
kesehatan, pengembangan sistem jaminan pembiayaan kesehatan, revitalisasi
program keluarga berencana, peningkatan komunikasi informasi dan edukasi
pegendalian penduduk dan KB, penyusunan dokumen perencanaan dan data base
kesehatan dan keluarga berencana.
Dari dua belas program prioritas tersebut, untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat terhadap fasilitas kesehatan terdapat program pembangunan sarana dan
prasarana kesehatan. Sasaran dari program tersebut adalah tersedianya sarana dan
prasarana kesehatan yang memadai dan berkualitas. Dengan adanya rencana tindak
yang kemudian ditindak lanjuti dengan adanya program prioritas, maka pada
dasarnya kondisi tersebut telah sesuai dengan evaluasi input. Dimana evaluasi input
ditujukan untuk menilai alternatif pendekatan rencana tindak, rencana staf dan
pembiayaan bagi kelangsungan intervensi dalam mencapai tujuan yang ditetapkan.
Evaluasi input berguna bagi pembuat kebijakan untuk memilih rancangan, bentuk
pembiayaan, alokasi sumberdaya, pelaksana dan jadwal kegiatan yang paling sesuai
bagi kelangsungan program.
Pelaksanaan evaluasi input pada pelayanan kesehatan utamanya pada
penyedian fasilitas kesehatan di Kabupaten Tana Tidung dapat dilihat pada rencana
tindak. Dimana dalam rencana tindak tersebut dapat dilihat upaya pemerintah untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap fasilitas kesehatan. Dengan adanya
program pembangunan sarana prasarana yang indikatornya meliputi jumlah rsu
pemerintah (unit), jumlah klinik, jumlah puskesmas, jumlah puskesmas rawat inap,
jumlah puskesmas pembantu, jumlah puskesmas keliling darat, jumlah puskesmas
keliling air,jumlah posyandu, jumlah poskedes, persentase ketersediaan obat dan
vaksin (%), persentas obat yang memenuhi standart (aman,manfaat,dan mutu) dapat
dilihat sejauh mana pemerintah daerah dapat melihat dan memenuhi kebutuhan
masyarakat.
Dalam evaluasi input, untuk melihat kesesuaian program selain melalui
rencana tindak, juga perlu dilihat rencana keuangan program tersebut. Dalam
penelitian ini Kabupaten Tana Tidung sebagai daerah otonom baru secara umum
kebijakan keuangan daerahnya diarahkan untuk mampu membiayai seluruh
penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan daerah. Kondisi keuangan daerah
yang ada pada saat ini dimana masih tingginya tingkat ketergantungan pada dana
perimbangan keuangan daerah. Kondisi tersebut mengharuskan pada internal daerah
untuk mengupayakan intensifikasi pemungutan pajak–pajak dan retribusi daerah pada
kemampuan pendapatn asli daerah guna pembiayaan rutin pemerintah dan ada sisa
yang dapat di gunakan bagi pembiayaan pembangunan daerah. Arah kebijakan
keuangan daerah berisikan uraian mengenai kebijakan yang akan ditempuh oleh
pemerintah daerah berkaitan dengan pendapatan daerah, pembiayan daerah dan
belanja daerah.
Alokasi anggaran yang cukup besar pada program sarana dan prasarana
seharusnya dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan dan
permasalahan fasilitas kesehatan bagi masyarakat. Namun jika dikorelasikan dengan
rencana tindak yang telah ada, nampaknya rencana anggaran tersebut belum mampu
menjawab kebutuhan masyarakat secara optimal dalam pemenuhan fasilitas
kesehatan.

Process :
Selanjutnya dalam evaluasi model CIPP, evaluasi berlanjut pada evaluasi
proses. Evaluasi proses ditujukan untuk menilai pelaksanaan dari suatu intervensi
yang telah ditetapkan untuk membantu pelaksana dalam melaksanakan kegiatan dan
membantu kelompok pengguna untuk mengetahui kinerja intervensi dan perkiraan
hasilnya. Untuk melihat proses pelaksanaan dari rencana tindak yang telah dibuat
sebelumnya oleh pemerintah daerah, maka peneliti melihat melalui pelaksanaan
program dan kegiatan pada tahun 2012. Pemilihan tahun 2012 sebagai acuan bahwa
penelitian ini pada dasarnya melihat pada tahapan evaluasi on going, dimana evaluasi
on-going ini merupakan evaluasi pada tahappelaksanaan yang di gunakan untuk
menentukan tingkat kemajuan pelaksanaan program di bandingkan dengan rencana
yang telah di tentukan sebelumnya. Yaitu dari penyediaan layanan publik yang telah
direncakan sebelumnya dalam RPJMD KTT tahun 2010-2014.
RKPD 2012 sebagai acuan kerja tahunan pemerintah daerah KTT
menjabarkan rencana tindak bidang kesehatan khususnya pada program
pembangunan sarana dan prasaran kesehatan melalui bebeberapa program dan
kegiatan, antara lain program obat dan perbekalan kesehatan, program standarisasi
pelayanan kesehatan, program pengadaan, peningkatan, dan perbaikan sarana dan
prasarana puskesmas/puskesmas pembantu dan jaringannya, serta melalui program
pengadaan, peningkatan, dan perbaikan sarana dan prasarana rumah sakit/rumah sakit
jiwa/rumah sakit paru-paru/rumah sakit mata.
Dimana pada dasarnya evaluasi hasil ditujukan untuk mengidentifikasi dan
menilai hasil yang dicapai berupa dampak, efektivitas, keberlanjutan dan daya
adaptasinya berikut adalah hasil implementasi dari programberdasarakan RPJMD
Kabupaten Tana Tidung tahun 2010-2014
Program obat dan perbaikan kesehatan, anggaran sebesar Rp [Link]-,
dengan realisasi Rp [Link],- atau dengan persentase 88,19%. Program
standarisasi pelayanan kesehatan anggaran sebesar Rp [Link],- dengan
ralisasi Rp 962.334.890-, atau dengan persentase 94,44%. Program pengadaan,
peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana puskesmas/puskesmas pembantu dan
jaringannya, anggaran sebesar Rp [Link] dengan realisasi Rp [Link]
atau dengan persentase 74,94%. Program pengadaan, peningkatan sarana dan
prasarana rumah sakit/ ruamah sakit jiwa/rumah sakit paru-paru/ rumah sakit mata
anggaran sebesar Rp [Link],- atau dengan persentase 46,35%.
Berdasarkan masing-masing tahapan evaluasi yang telah dilakukan pada
penyediaan fasilitas kesehatan di KTT, dapat disimpulkan bahwa pemerintah KTT
pada dasarnya belum sepenuhnya berhasil pada pemenuhan kebutuhan pelayanan
kesehatan bagi masyarakat. Pada evaluasi tahap proses, peneliti melihat bahwa
rencana tindak dan keuangan yang telah dibuat, tidak dimaksimalkan dalam proses
pelaksanaannya, hal tersebut tampak pada RKPD KTT 2012.

Product :
Hal yang sama juga tampak pada evaluasi pada tahap produk, pada tahap ini
hasil program dan kegiatan pengadaan fasilitas kesehatan masih sulit dilihat
pencapaian program dan kegiatannya, dalam penelitian yang dilihat berdasarkan
dokumen pelaporan kegiatan hanya tampak realisasi anggaran dari program dan
kegiatan tersebut. Hal tersebut menjadi catatan penting dalam penelitian ini, dimana
hingga saat ini tidak dapat diukur pencapaian program dan kegiatan. Sedangkan bila
dilihat dari realisasi keuangan, rata-rata pencapaian masing masing program telah
diatas 70%, namun untuk pembangunan rumah sakit, hingga akhir tahun 2012
realisasi keuangan hanya mencapai 46,35%.
PENUTUP

Evaluasi diartikan sebagai proses pencarian informasi, penemuan informasi,


dan penetapan informasi yang dipaparkan secara sistematis tentang perencanaan,
nilai, tujuan, manfaat, efektifitas, dan kesesuaian sesuatu dengan kriteria dan tujuan
yang telah ditetapkan. Tujuan evaluasi adalah untuk memberikan rekomendasi
sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan keputusan atas program yang
dilaksanakan. Evaluasi harusnya sesuatu yang familiar dalam dunia pendidikan dan
lembaga lainnya. Lembaga pendidikan sudah seharusnya mengadakan evaluasi rutin
di setiap program yang dilaksanakannya.

Evaluasi yang dimaksud bukan hanya sekedar penilaian, tetapi evaluasi


terhadap sebuah program secara menyeluruh. Evaluasi sangat berguna untuk
menentukan apakah sebuah program layak diteruskan, direvisi, atau menghentikan
program karena dianggap sudah tidak bermanfaat. Selain itu, evaluasi juga akan
mengukur ketercapaian setiap program yang sudah dilaksanakan melalui
penggunakan model-model evaluasi sesuai dengan tujuan program itu sendiri.
Misalnya saja menggunakan model evaluasi CIPP untuk melihat keterlaksanaan
program secara keseluruhan, dan model IBM untuk melihat keefektifan program pada
sebuah perusahaan.

Oleh karena itu, evaluasi bisa diterapkan di dalam proses pembelajaran dalam
kelas, evaluasi kebijakan, evaluasi proses, evaluasi dampak, evaluasi untuk
pengembangan, maupun dalam bidang yang lain seperti dalam perusahaan.
Karenanya, evaluasi hendaknya membantu pengembangan, implementasi,
kebutuhan suatu program, perbaikan program, pertanggungjawaban, seleksi,
motivasi, menambah pengetahuan, dan dukungan dari mereka yang terlibat
(Tayibnapis, 2008: 4).
DAFTAR PUSTAKA

 Mulana, Surya. (2013). Evaluasi Penyediaan Layanan Kesehatan di Daerah


Pemekaran Dengan Metode CIPP. Evaluasi Penyediaan Layanan Kesehatan
 Muhaimin, Mohammad. (2015). Model Evaluasi CIPP (Context, Input,
Process, Product). Tersedia di
[Link]
odel-evaluasi-cipp-context-input-process-product?page=all [diakses
16/9/2019]
 Miftahur, Achmad. (2015). Teknik Evaluasi Program Model CIPP (Context,
Input, Process, Product). Tersedia di
[Link]
evaluasi-program-model-cipp-context-input-process-product?page=all
[diakses 16/9/2019]

Anda mungkin juga menyukai