MODEL-MODEL R&D
A. Model Borg and Gall
Borg dan Gall (1989) menyatakan bahwa penelitian R & D dalam dunia pendidikan
meliputi 10 langkah, yakni: (1) Research and Information colletion; (2) Planning; (3)
Develop Preliminary form of Product; (4) Preliminary Field Testing; (5) Main Product
Revision; (6) Main Field Testing; (7) Operational Product Revision; (8) Operational Field
Testing; (9) Final Product Revision; dan (10) Disemination and Implementasi. Skema dari
langkah - langkah tersebut dapat dilihat pada gambar berikut.
Langkah-langkah Penelitian R & D menurut Borg dan Gall
Secara ringkas langkah - langkah penelitian R & D menurut Borg dan Gall dapat
diuraikan sebagai berikut.
1. Research and Information colletion (penelitian dan pengumpulan data)
Langkah pertama ini mencakup analisis kebutuhan, penelitian pustaka, penelitian
literatur, penelitian skala kecil dan standar laporan yang diperlukan. Untuk menjalankan
analisis kebutuhan terdapat beberapa kriteria yang berhubungan dengan urgensi
pengembangan produk dan pengembangan produk itu sendiri, juga ketersediaan SDM yang
kompeten dan kecukupan waktu guna mengembangkannya. Adapun studi literatur dijalankan
untuk pengenalan sementara terhadap produk yang hendak dikembangkan, dan hal ini
dilaksanakan untuk mengumpulkan temuan riset dan informasi lain yang berkaitan dengan
pengembangan produk yang telah direncanakan. Sedangkan riset skala kecil perlu dijalankan
supaya peneliti mengetahui beberapa hal tentang produk yang hendak dikembangkan.
2. Planning (perencanaan)
Merupakan proses penyusunan rencana penelitian, yang meliputi kemampuan -
kemampuan yang dibutuhkan dalam melaksanakan penelitian, rumusan tujuan yang akan
dicapai melalui penelitian tersebut, desain atau langkah - langkah penelitian, serta
kemungkinan pengujian dalam ruang lingkup yang terbatas.
3. Develop Preliminary form of Product (pengembangan draft produk awal)
Merupakan langkah yang tidak kalah penting, pada langkah ini meliputi kegiatan
penentuan desain produk yang hendak dikembangkan (desain hipotetik), penentuan sarana
dan prasarana penelitian yang diperlukan selama kegiatan atau proses penelitian dan
pengembangan, penentuan tahap - tahap pelaksanaan pengujian desain di lapangan, dan
penentuan deskripsi tugas dari pihak - pihak yang ikut terlibat di dalam penelitian ini.
Termasuk juga di dalamnya antara lain, pengembangan bahan pembelajaran, proses
pembelajaran serta instrumen evaluasi.
4. Preliminary Field Testing (uji coba lapangan awal)
Langkah ke empat ini merupakan langkah pengujian produk yang telah dihasilkan
secara terbatas, yakni melakukan uji lapangan awal terhadap desain produk yang sifatnya
terbatas, baik itu substansi desainnya maupun pihak - pihak yang ikut terlibat. Uji lapangan
awal dilaksanakan secara berulang - ulang sehingga dapat memperoleh desain yang layak,
baik itu substansi ataupun metodologinya. Misalnya uji ini dilaksnakan di satu sampai dengan
tiga sekolah, menggunakan enam hingga 12 subjek uji coba (guru). Selama uji coba harus
diadakan pengamatan atau observasi, wawancara dan juga pengedaran angket menganai
kelayakan desain produk tadi. Hasil dari pengumpulan data melalui kuesioner dan observasi
selanjutnya dilakukan analisis.
5. Main Product Revision (revisi hasil uji coba)
Setelah mendapatkan hasil dari uji coba lapangan awal, maka langkah selanjutnya
adalah revisi hasil uji coba. Langkah revisi hasil uji coba merupakan langkah perbaikan
model atau desain berdasarakan pada hasil uji lapangan terbatas. Penyempurnaan produk
awal akan dilaksanakan sesudah dilaksanakan uji coba lapangan secara terbatas. Pada tahap
penyempurnaan produk awal tersebut, lebih banyak dilaksanakan dengan pendekatan
kualitatif. Evaluasi yang dilaksanakan lebih pada evaluasi terhadap proses, sehingga
perbaikan yang dilaksanakan lebih pada hal yang bersifat perbaikan internal.
6. Main Field Testing (uji lapangan produk utama)
Langkah uji lapangan produk utama ini, merupakan uji produk yang dilakukan secara
lebih fokus terhadap hal yang meliputi uji efektivitas desain produk, uji efektivitas desain
(umumnya langkah memakai teknik eksperimen model penggulangan). Hasil dari pengujian
pada tahap ini yaitu diperolehnya desain yang efektif, baik itu dari sisi substansi maupun dari
sisi metodologi. Misalnya, uji ini dilakukan di 5 sampai 15 sekolah dengan subjek sebanyak
30 sampai 100. Pengumpulan data mengenai dampak sebelum dan sesudah implementasi
produk memakai kelas khusus, yaitu data kuantitatif penampilan subjek uji coba (guru)
sebelum dan sesudah menerapkan model yang diujicobakan. Hasil-hasil dari pengumpulan
data ini, selanjutnya dievaluasi dan bila memungkinkan dibandingkan dengan hasil dari
kelompok pembanding.
7. Operational Product Revision (revisi produk)
Langkah revisi produk ini, merupakan penyempurnaan produk atas hasil uji lapangan
berdasarkan masukan dan hasil uji lapangan utama. Jadi perbaikan kali ini merupakan
perbaikan ke dua sesudah dilaksanakannya uji lapangan yang lebih luas dari pada uji
lapangan yang pertama. Penyempurnaan produk dari hasil uji lapangan lebih luas ini, akan
membuat produk yang dikembangkan menjadi lebih mantap karena pada tahap uji coba
lapangan sebelumnya telah dilaksanakan dengan adanya kelompok kontrol. Desain yang
dipakai adalah desain pretest dan posttest. Disamping perbaikan yang bersifat internal,
penyempurnaan produk ini juga berdasarkan pada evaluasi hasil sehingga pendekatan yang
dipakai adalah pendekatan kuantitatif.
8. Operational Field Testing (uji coba lapangan skala luas/uji kelayakan)
Pada langkah ini sebaiknya dilaksanakan dengan skala yang besar, meliputi uji
efektivitas dan adaptabilitas desain produk, dan uji efektivitas dan adabtabilitas desain yang
melibatkan para calon pemakai produk tersebut. Hasil dari uji lapangan berupa model desain
yang sudah siap diterapkan, baik dari sisi substansinya ataupun metodologinya. Misalnya uji
ini dilaksanakan di 10 sampai 30 sekolah dengan subjek sebanyak 40 sampai 200. Pengujian
ini dilakukan melalui angket, wawancara, dan observasi dan yang kemudian hasilnya
dianalisis.
9. Final Product Revision (revisi produk final)
Langkah revisi produk final ini, merupakan penyempurnaan produk yang sedang
dikembangkan. Penyempurnaan produk akhir dipandang perlu guna lebih akuratnya produk
yang sedang dikembangkan. Pada tahap revisi produk final ini telah diperoleh suatu produk
yang tingkat efektivitasnya bisa dipertanggungjawabkan. Hasil penyempurnaan produk akhir
mempunyai nilai "generalisasi" yang bisa diandalkan. Penyempurnaan didasarkan atas
masukan atau hasil uji kelayakan dalam skala luas.
10. Disemination and Implementasi (Desiminasi dan implementasi)
Desiminasi dan implementasi, merupakan tahap pelaporan produk kepada forum -
forum profesional di dalam jurnal dan implementasi produk pada praktik pendidikan.
Penerbitan produk untuk didistribusikan secara komersial maupun free guna dimanfaatkan
oleh publik. Distribusi produk haruslah dilaksanakan sesudah melalui quality control. Selain
itu juga harus dilakukan monitoring terhadap pemanfaatan produk oleh publik guna
mendapatkan masukan dalam kerangka mengendalikan kualitas produk.
B. Model Addie and Assure
a). Model Addie
Salah satu model desain pembelajaran yang sifatnya lebih generik adalah model
ADDIE (Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate). ADDIE muncul pada tahun 1990-
an yang dikembangkan oleh Reiser dan [Link] satu fungsinya ADIDE yaitu menjadi
pedoman dalam membangun perangkat dan infrastruktur program pelatihan yang efektif,
dinamis dan mendukung kinerja pelatihan itu sendiri.
Model ini menggunakan 5 tahap pengembangan yakni :
1. Analysis (analisa)
Analysis (analisa) yaitu melakukan needs assessment (analisis kebutuhan),
mengidentifikasi masalah (kebutuhan), dan melakukan analisis tugas (task analysis). Tahap
analisis merupakan suatu proses mendefinisikan apa yang akan dipelajari oleh peserta belajar,
yaitu melakukan needs assessment (analisis kebutuhan), mengidentifikasi masalah
(kebutuhan), dan melakukan analisis tugas (task analysis). Oleh karena itu, output yang akan
kita hasilkan adalah berupa karakteristik atau profile calon peserta belajar, identifikasi
kesenjangan, identifikasi kebutuhan dan analisis tugas yang rinci didasarkan atas kebutuhan.
2. Design (desain/perancangan)
Yang kita lakukan dalam tahap desain ini, pertama, merumuskan tujuan pembelajaran
yang SMAR (spesifik, measurable, applicable, dan realistic). Selanjutnya menyusun tes,
dimana tes tersebut harus didasarkan pada tujuan pembelajaran yag telah dirumuskan tadi.
Kemudian tentukanlah strategi pembelajaran media danyang tepat harusnya seperti apa untuk
mencapai tujuan tersebut. Selain itu, dipertimbangkan pula sumber-sumber pendukung lain,
semisal sumber belajar yang relevan, lingkungan belajar yang seperti apa seharusnya, dan
lain-lain. Semua itu tertuang dalam sautu dokumen bernama blue-print yang jelas dan rinci.
Desain merupakan langkah kedua dari model desain sistem pembelajaran ADDIE.
Langkah ini merupakan:
1) Inti dari langkah analisis karena mempelajari masalah kemudian menemukan
alternatif solusinya yang berhasil diidentifikasi melalui langkah analisis kebutuhan.
2) Langkah penting yang perlu dilakukan untuk, menentukan pengalaman belajar
yang perlu dimilki oleh siswa selama mengikuti aktivitas pembelajaran.
3) Langkah yang harus mampu menjawab pertanyaan, apakah program pembelajaran
dapat mengatasi masalah kesenjangan kemampuan siswa?
4) Kesenjangan kemampuan disini adalah perbedaan kemampuan yang dimilki siswa
dengan kemampuan yang seharusnya dimiliki siswa.
Contoh pernyataan kesenjangan kemampuan:
• Siswa tidak mampu mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan setelah
mengikuti proses pembelajaran.
• Siswa hanya mampu mencapai tingkat kompetensi 60% dari standar kompetensi
yang telah digariskan.
Pada saat melakukan langkah ini perlu dibuat pertanyaan-pertanyaan kunci
diantaranya adalah sebagai berikut :
• Kemampuan dan kompetensi khusus apa yang harus dimilki oleh siswa setelah
menyelesaikan program pembelajaran?
• Indikator apa yang dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan siswa dalam
mengikuti program pembelajaran?
• Peralatan atau kondisi bagaimana yang diperlukan oleh siswa agar dapat melakukan
unjuk kompetensi – pengetahuan, ketrampilan, dan sikap - setelah mengikuti program
pembelajaran?
• Bahan ajar dan kegiatan seperti apa yang dapat digunakan dalam mendukung
program pembelajaran?
3. Development (pengembangan)
Pengembangan adalah proses mewujudkan blue-print alias desain tadi menjadi
kenyataan. Artinya, jika dalam desain diperlukan suatu software berupa multimedia
pembelajaran, maka multimedia tersebut harus dikembangkan. Satu langkah penting dalam
tahap pengembangan adalah uji coba sebelum diimplementasikan. Tahap uji coba ini
memang merupakan bagian dari salah satu langkah ADDIE, yaitu evaluasi.
Pengembangan merupakan langkah ketiga dalam mengimplementasikan model desain
sistem pembelajaran ADDIE. Langkah pengembangan meliputi kegiatan membuat, membeli,
dan memodifikasi bahan ajar. Dengan kata lain mencakup kegiatan memilih, menentukan
metode, media serta strategi pembelajaran yang sesuai untuk digunakan dalam
menyampaikan materi atau substansi program. Dalam melakukan langkah pengembangan,
ada dua tujuan penting yang perlu dicapai. Antara lain adalah :
1) Memproduksi, membeli, atau merevisi bahan ajar yang akan digunakan untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan sebelumnya.
2) Memilih media atau kombinasi media terbaik yang akan digunakan untuk
mencapai tujuan pembelajaran.
Pada saat melakukan langkah pengembangan, seorang perancang akan membuat
pertanyaan-pertanyaan kunci yang harus dicari jawabannya, Pertanyaan-pertanyaannya antara
lain :
• Bahan ajar seperti apa yang harus dibeli untuk dapat digunakan dalam mencapai
tujuan pembelajaran?
• Bahan ajar seperti apa yang harus disiapkan untuk memenuhi kebutuhan siswa yang
unik dan spesifik?
• Bahan ajar seperti apa yang harus dibeli dan dimodifikasi sehingga dapat digunakan
untuk memenuhi kebutuhan siswa yang unik dan spesifik?
• Bagaimana kombinasi media yang diperlukan dalam menyelenggarakan program
pembelajaran?
4. Implementation (implementasi/eksekusi)
Implementasi adalah langkah nyata untuk menerapkan sistem pembelajaran yang
sedang kita buat. Artinya, pada tahap ini semua yang telah dikembangkan diinstal atau diset
sedemikian rupa sesuai dengan peran atau fungsinya agar bisa diimplementasikan.
Implementasi atau penyampaian materi pembelajaran merupakan langkah keempat dari
model desain sistem pembelajaran ADDIE. Tujuan utama dari langkah ini antara lain :
1) Membimbing siswa untuk mencapai tujuan atau kompetensi.
2) Menjamin terjadinya pemecahan masalah / solusi untuk mengatasi kesenjangan
hasil belajar yang dihadapi oleh siswa.
3) Memastikan bahwa pada akhir program pembelajaran, siswa perlu memilki
kompetensi – pengetahuan, ketrampilan, dan sikap - yang diperlukan.
Pertanyaan-pertanyaan kunci yang harus dicari jawabannya oleh seorang perancang
program pembelajaran pada saat melakukan langkah implementasi yaitu sebagai berikut :
• Metode pembelajaran seperti apa yang paling efektif utnuk digunakan dalam
penyampaian bahan atau materi pembelajaran?
• Upaya atau strategi seperti apa yang dapat dilakukan untuk menarik dan memelihara
minat siswa agar tetap mampu memusatkan perhatian terhadap penyampaian materi atau
substansi pembelajaran yang disampaikan?
5. Evaluation (evaluasi/ umpan balik)
Evaluasi yaitu proses untuk melihat apakah sistem pembelajaran yang sedang
dibangun berhasil, sesuai dengan harapan awal atau tidak. Sebenarnya tahap evaluasi bisa
terjadi pada setiap empat tahap di atas. Evaluasi yang terjadi pada setiap empat tahap di atas
itu dinamakan evaluasi formatif, karena tujuannya untuk kebutuhan revisi.
Evaluasi merupakan langkah terakhir dari model desain sistem pembelajaran ADDIE.
Evaluasi adalah sebuah proses yang dilakukan untuk memberikan nilai terhadap program
pembelajaran. Evaluasi terhadap program pembelajaran bertujuan untuk mengetahui
beberapa hal, yaitu :
1) Sikap siswa terhadap kegiatan pembelajaran secara keseluruhan.
2) Peningkatan kompetensi dalam diri siswa, yang merupakan dampak dari
keikutsertaan dalam program pembelajaran.
3) Keuntungan yang dirasakan oleh sekolah akibat adanya peningkatan kompetensi
siswa setelah mengikuti program pembelajaran.
Beberapa pertanyaan penting yang harus dikemukakan perancang program
pembelajaran dalam melakukan langkah-langkah evaluasi, antara lain :
• Apakah siswa menyukai program pembelajaran yang mereka ikuti selama ini?
• Seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh siswa dalam mengikuti program
pembelajaran?
• Seberapa jauh siswa dapat belajar tentang materi atau substansi pembelajaran?
• Seberapa besar siswa mampu mengaplikasikan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap
yang telah dipelajari?
• Seberapa besar kontribusi program pembelajaran yang dilaksanakan terhadap
prestasi belajar siswa?
Implementasi model desain sistem pembelajaran ADDIE yang dilakukan secara
sistematik dan sistemik diharapkan dapat membantu seorang perancang program, guru, dan
instruktur dalam menciptakan program pembelajaran yang efektif, efisien, dan menarik.
b). Model Assure
Model ASSURE merupakan suatu model yang merupakan sebuah formulasi untuk
Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) atau disebut juga model berorientasi kelas. Menurut
Heinich et al (2005) model ini terdiri atas enam langkah kegiatan yaitu:
Perencanaan pembelajaran model ASSURE dikemukakan oleh Sharon E. Maldino,
Deborah L. Lowther dan James D. Russell dalam bukunya edisi 9 yang berjudul Instructional
Technology & Media For Learning. Perencanaan pembelajaran model ASSURE meliputi 6
tahapan sebagai berikut:
1. Analyze Learners
Tahap pertama adalah menganalisis pembelajar. Pembelajaran biasanya kita
berlakukan kepada sekelompok siswa atau mahasiswa yang mempunyai karakteristik
tertentu. Ada 3 karakteristik yang sebaiknya diperhatikan pada diri pembelajar, yakni:
a. Karakteristik Umum
Yang termasuk dalam karakteristik umum adalah usia, jenis kelamin, tingkat
pendidikan, pekerjaan, etnis, kebudayaan, dan faktor sosial ekonomi. Karakteristik umum ini
dapat digunakan untuk menuntun kita dalam memilih metode, strategi dan media untuk
pembelajaran. Sebagai contoh:
1) Jika pembelajar memiliki kemampuan membaca di bawah standar, akan lebih
efektif jika media yang digunakan adalah bukan dalam format tercetak (nonprint media).
2) Jika pembelajar kurang tertarik terhadap materi yang disajikan, diatasi dengan
menggunakan media yang memiliki tingkat stimuli yang tinggi, seperti: penggunaan animasi,
video, permainan simulasi, dll.
3) Pembelajar yang baru pertama kali melihat atau mendapat konsep yang
disampaikan, lebih baik digunakan cara atau pengalaman langsung (realthing). Bila
sebaliknya, menggunakan verbal atau visual saja sudah dianggap cukup.
4) Jika pembelajar heterogen, lebih aman bila menggunakan media yang dapat
mengakomodir semua karakteristik pembelajar seperti menggunakan video, atau slide power
point.
b. Spesifikasi Kemampuan Awal
Berkenaan dengan pengetahuan dan kemampuan yang sudah dimiliki pembelajar
sebelumnya. Informasi ini dapat kita peroleh dengan memberikan entry test/entry behavior
kepada pembelajar sebelum kita melaksanakan pembelajaran. Hasil dari entry test ini dapat
dijadikan acuan tentang hal-hal apa saja yang perlu dan tidak perlu lagi disampaikan kepada
pembelajar.
c. Gaya Belajar
Gaya belajar timbul dari kenyamanan yang kita rasakan secara psikologis dan
emosional saat berinteraksi dengan lingkungan belajar, karena itu gaya belajar
siswa/mahasiswa ada yang cenderung dengan audio, visual, atau kinestetik. Berkenaan gaya
belajar ini, kita sebaiknya menyesuaikan metode dan media pembelajaran yang akan
digunakan.
2. State Standards and Objectives
Tahap kedua adalah merumuskan standar dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Standar diambil dari Standar Kompetensi yang sudah ditetapkan. Dalam merumuskan tujuan
pembelajaran, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
a. Gunakan format ABCD
A adalah audiens, siswa atau mahasiswa yang menjadi peserta didik kita. Instruksi
yang kita ajukan harus fokus kepada apa yang harus dilakukan pembelajar bukan pada apa
yang harus dilakukan pengajar, B (behavior) – kata kerja yang mendeskripsikan kemampuan
baru yang harus dimiliki pembelajar setelah melalui proses pembelajaran dan harus dapat
diukur), C (conditions) – kondisi pada saat performa pembelajar sedang diukur, dan D adalah
degree – yaitu kriteria yang menjadi dasar pengukuran tingkat keberhasilan pembelajar.
b. Mengklasifikasikan Tujuan
Tujuan pembelajaran yang akan kita lakukan cenderung ke domain mana? Apakah
kognitif, afektif, psikomotor, atau interpersonal. Dengan memahami hal itu kita dapat
merumuskan tujuan pembelajaran dengan lebih tepat, dan tentu saja akan menuntun
penggunaan metode, strategi dan media pembelajaran yang akan digunakan.
c. Perbedaan Individu
Berkaitan dengan kemampuan individu dalam menuntaskan atau memahami sebuah
materi yang diberikan/dipelajari. Individu yang tidak memiliki kesulitan belajar dengan yang
memiliki kesulitan belajar pasti memiliki waktu ketuntasan belajar (mastery learning) yang
berbeda. Kondisi ini dapat menuntun kita merumuskan tujuan pembelajaran dan
pelaksanaannya dengan lebih tepat.
3. Select Strategies, Technology, Media, And Materials
Tahap ketiga dalam merencanakan pembelajaran yang efektif adalah memilih strategi,
teknologi, media dan materi pembelajaran yang sesuai. Strategi pembelajaran harus dipilih
apakah yang berpusat pada siswa atau berpusat pada guru sekaligus menentukan metode yang
akan digunakan. Yang perlu digaris bawahi dalam point ini adalah bahwa tidak ada satu
metode yang paling baik dari metode yang lain dan tidak ada satu metode yang dapat
menyenangkan/menjawab kebutuhan pembelajar secara seimbang dan menyeluruh, sehingga
harus dipertimbangkan mensinergikan beberapa metode.
Memilih teknologi dan media yang akan digunakan tidak harus diidentikkan dengan
barang yang mahal. Yang jelas sebelum memilih teknologi dan media kita harus
mempertimbangkan terlebih dahulu kelebihan dan kekurangannya. Jangan sampai media
yang kita gunakan menjadi bumerang atau mempersulit kita dalam pentransferan
pengetahuan kepada pembelajar.
Ketika kita telah memilih strategi, teknologi dan media yang akan digunakan,
selanjutnya menentukan materi pembelajaran yang akan digunakan. Langkah ini melibatkan
tiga pilihan: (1) memilih materi yang sudah tersedia dan siap pakai, (2) mengubah/ modifikasi
materi yang ada, atau (3) merancang materi dengan desain baru. Bagaimanapun caranya kita
mengembangkan materi, yang terpenting materi tersebut sesuai dengan tujuan dan
karakteristik si pembelajar.
4. Utilize Technology, Media and Materials
Tahap keempat adalah menggunakan teknologi, media dan material. Pada tahap ini
melibatkan perencanaan peran kita sebagai guru/dosen dalam menggunakan teknologi, media
dan materi. Untuk melakukan tahap ini ikuti proses “5P”, yaitu:
1) Pratinjau (previw), mengecek teknologi, media dan bahan yang akan digunakan
untuk pembelajaran sesuai dengan tujuannya dan masih layak pakai atau tidak.
2) Menyiapkan (prepare) teknologi, media dan materi yang mendukung pembelajaran
kita.
3) Mempersiapkan (prepare) lingkungan belajar sehingga mendukung penggunaan
teknologi, media dan materi dalam proses pembelajaran.
4) Mempersiapkan (prepare) pembelajar sehingga mereka siap belajar dan tentu saja
akan diperoleh hasil belajar yang maksimal.
5) Menyediakan (provide) pengalaman belajar (terpusat pada pengajar atau
pembelajar), sehingga siswa memperoleh pengalaman belajar dengan maksimal.
5. Require Learner Participation
Tahap kelima adalah mengaktifkan partisipasi pembelajar. Belajar tidak cukup hanya
mengetahui, tetapi harus bisa merasakan dan melaksanakan serta mengevaluasi hal-hal yang
dipelajari sebagai hasil belajar. Dalam mengaktifkan pembelajar di dalam proses
pembelajaran yang menggunakan teknologi, media dan materi alangkah baiknya kalau ada
sentuhan psikologisnya, karena akan sangat menentukan proses dan keberhasilan belajar.
Psikologi belajar dalam proses pembelajaran yang perlu diperhatikan adalah:
1) Behavioris, karena tanggapan/respon yang sesuai dari pengajar dapat menguatkan
stimulus yang ditampakkan pembelajar.
2) Kognitifis, karena informasi yang diterima pembelajar dapat memperkaya skema
mentalnya.
3) Konstruktivis, karena pengetahuan dan ketrampilan yang diterima pembelajar akan
lebih berarti dan bertahan lama di kepala jika mereka mengalami langsung setiap aktivitas
dalam proses pembelajaran.
4) Sosial, karena feedback atau tanggapan yang diberikan pengajar atau teman dalam
proses pembelajaran dapat dijadikan sebagai ajang untuk mengoreksi segala informasi yang
telah diterima dan juga sebagai support secara emosional.
6. Evaluate and Revise
Tahap keenam adalah mengevaluasi dan merevisi perencanaan pembelajaran serta
pelaksanaannya. Evaluasi dan revisi dilakukan untuk melihat seberapa jauh teknologi, media
dan materi yang kita pilih/gunakan dapat mencapai tujuan yang telah kita tetapkan
sebelumnya. Dari hasil evaluasi akan diperoleh kesimpulan: apakah teknologi, media dan
materi yang kita pilih sudah baik, atau harus diperbaiki lagi.
C. Model ICARE
D. Model 4D
Model pengembangan perangkat Four-D Model disarankan oleh Sivasailam
Thiagarajan, Dorothy S. Semmel, dan Melvyn I. Semmel (1974). Model ini terdiri dari 4
tahap pengembangan yaitu Define, Design, Develop, dan Disseminate atau diadaptasikan
menjadi model 4-D, yaitu pendefinisian, perancangan, pengembangan, dan penyebaran.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada setiap tahap pengembangan dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1. Define (Pendefinisian)
Kegiatan pada tahap ini dilakukan untuk menetapkan dan mendefinisikan syarat-
syarat pengembangan. Dalam model lain, tahap ini sering dinamakan analisis kebutuhan.
Tiap-tiap produk tentu membutuhkan analisis yang berbeda-beda. Secara umum, dalam
pendefinisian ini dilakukan kegiatan analisis kebutuhan pengembangan, syarat-syarat
pengembangan produk yang sesuai dengan kebutuhan pengguna serta model penelitian dan
pengembangan (model R & D) yang cocok digunakan untuk mengembangkan produk.
Analisis bisa dilakukan melalui studi literature atau penelitian pendahuluan. Thiagarajan
(Online), menganalisis 5 kegiatan yang dilakukan pada tahap define yaitu: analisis ujung
depan (front-end analysis), analisis siswa (learner analysis), analisis tugas (task analysis),
analisis konsep (concept analysis) dan perumusan tujuan pembelajaran (specifying
instructional objectives).
1) Front and analysis
Pada tahap ini, guru melakukan diagnosis awal untuk meningkatkan efisiensi dan
efektivitas pembelajaran.
2) Learner analysis
Pada tahap ini dipelajari karakteristik peserta didik, misalnya: kemampuan, motivasi
belajar, latar belakang pengalaman, dsb.
3) Task analysis
Guru menganalisis tugas-tugas pokok yang harus dikuasai peserta didik agar peserta
didik dapat mencapai kompetensi minimal.
4) Concept analysis
Menganalisis konsep yang akan diajarkan, menyusun langkah-langkah yang akan
dilakukan secara rasional.
5) Specifying instructional objectives
Menulis tujuan pembelajaran, perubahan perilaku yang diharapkan setelah belajar
dengan kata kerja operasional.
Menurut Mulyatiningsih (Online) dalam konteks pengembangan bahan ajar (modul,
buku, LKS), tahap pendefinisian dilakukan dengan cara: 1) Analisis kurikulum, 2) Analisis
karakteristik peserta didik, 3) Analisis materi.
1) Analisis kurikulum
Pada tahap awal, peneliti perlu mengkaji kurikulum yang berlaku pada saat itu. Dalam
kurikulum terdapat kompetensi yang ingin dicapai. Analisis kurikulum berguna untuk
menetapkan pada kompetensi yang mana bahan ajar tersebut akan dikembangkan. Hal ini
dilakukan karena ada kemungkinan tidak semua kompetensi yang ada dalam kurikulum dapat
disediakan bahan ajarnya
2) Analisis karakteristik peserta didik
Seperti layaknya seorang guru akan mengajar, guru harus mengenali karakteristik
peserta didik yang akan menggunakan bahan ajar. Hal ini penting karena semua proses
pembelajaran harus disesuaikan dengan karakteristik peserta didik. Hal-hal yang perlu
dipertimbangkan untuk mengetahui karakteristik peserta didik antara lain: kemampuan
akademik individu, karakteristik fisik, kemampuan kerja kelompok, motivasi belajar, latar
belakang ekonomi dan sosial, pengalaman belajar sebelumnya, dsb. Dalam kaitannya dengan
pengembangan bahan ajar, karakteristik peserta didik perlu diketahui untuk menyusun bahan
ajar yang sesuai dengan kemampuan akademiknya, misalnya: apabila tingkat pendidikan
peserta didik masih rendah, maka penulisan bahan ajar harus menggunakan bahasa dan kata-
kata sederhana yang mudah dipahami. Apabila minat baca peserta didik masih rendah maka
bahan ajar perlu ditambah dengan ilustasi gambar yang menarik supaya peserta didik
termotivasi untuk membacanya.
3) Analisis materi
Analisis materi dilakukan dengan cara mengidentifikasi materi utama yang perlu
diajarkan, mengumpulkan dan memilih materi yang relevan, dan menyusunnya kembali
secara sistematis
4) Merumuskan tujuan
Sebelum menulis bahan ajar, tujuan pembelajaran dan kompetensi yang hendak
diajarkkan perlu dirumuskan terlebih dahulu. Hal ini berguna untuk membatasi peneliti
supaya tidak menyimpang dari tujuan semula pada saat mereka sedang menulis bahan ajar.
2. Design (Perancangan)
Tahap perancangan bertujuan untuk merancang perangkat pembelajaran. Thiagarajan,
dkk (online) membagi perancangan menjadi empat langkah yang harus dilakukan pada tahap
ini, yaitu: (1) penyusunan standar tes (criterion-test construction), (2) pemilihan media
(media selection) yang sesuai dengan karakteristik materi dan tujuan pembelajaran, (3)
pemilihan format (format selection), yakni mengkaji format-format bahan ajar yang ada dan
menetapkan format bahan ajar yang akan dikembangkan, (4) membuat rancangan awal
(initial design) sesuai format yang dipilih. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1) Penyusunan tes acuan patokan (constructing criterion-referenced test)
Menurut Thiagarajan, dkk (1974), penyusunan tes acuan patokan merupakan langkah
yang menghubungkan antara tahap pendefinisian (define) dengan tahap perancangan
(design). Tes acuan patokan disusunberdasarkan spesifikasi tujuan pembelajaran dan analisis
siswa, kemudian selanjutnya disusun kisi-kisi tes hasil belajar. Tes yang dikembangkan
disesuaikan dengan jenjang kemampuan kognitif. Penskoran hasil tes menggunakan panduan
evaluasi yang memuat kunci dan pedoman penskoran setiap butir soal.
2) Pemilihan media (media selection)
Pemilihan media dilakukan untuk mengidentifikasi media pembelajaran yang relevan
dengan karakteristik materi. Lebih dari itu, media dipilih untuk menyesuaikan dengan analisis
konsep dan analisis tugas, karakteristik target pengguna, serta rencana penyebaran dengan
atribut yang bervariasi dari media yang [Link] ini berguna untuk membantu siswa
dalam pencapaian kompetensi dasar. Artinya, pemilihan media dilakukan untuk
mengoptimalkan penggunaan bahan ajar dalam proses pengembangan bahan ajar pada
pembelajaran di kelas.
3) Pemilihan format (format selection)
Pemilihan format dalam pengembangan perangkat pembelajaran ini dimaksudkan
untuk mendesain atau merancang isi pembelajaran, pemilihan strategi, pendekatan, metode
pembelajaran, dan sumber belajar. Format yang dipilih adalah yang memenuhi kriteria
menarik, memudahkan dan membantu dalam pembelajaran.
4) Rancangan awal (initial design)
Menurut Thiagarajan, dkk (online), “initial design is the presenting of the essential
instruction through appropriate media and in a suitable sequence.” Rancangan awal yang
dimaksud adalah rancangan seluruh perangkat pembelajaran yang harus dikerjakan sebelum
ujicoba dilaksanakan. Hal ini juga meliputi berbagai aktivitas pembelajaran yang terstruktur
seperti membaca teks, wawancara, dan praktek kemampuan pembelajaran yang berbeda
melalui praktek mengajar.
Dalam tahap perancangan, peneliti sudah membuat produk awal (prototype) atau
rancangan produk. Pada konteks pengembangan bahan ajar, tahap ini dilakukan untuk
membuat modul atau buku ajar sesuai dengan kerangka isi hasil analisis kurikulum dan
materi. Dalam konteks pengembangan model pembelajaran, tahap ini diisi dengan kegiatan
menyiapkan kerangka konseptual model dan perangkat pembelajaran (materi, media, alat
evaluasi) dan mensimulasikan penggunaan model dan perangkat pembelajaran tersebut dalam
lingkup kecil. Sebelum rancangan (design) produk dilanjutkan ke tahap berikutnya, maka
rancangan produk (model, buku ajar, dsb) tersebut perlu divalidasi. Validasi rancangan
produk dilakukan oleh teman sejawat seperti dosen atau guru dari bidang studi/bidang
keahlian yang sama. Berdasarkan hasil validasi teman sejawat tersebut, ada kemungkinan
rancangan produk masih perlu diperbaiki sesuai dengan saran validator.
3. Develop (Pengembangan)
Thiagarajan (Online), membagi tahap pengembangan dalam dua kegiatan yaitu:
expert appraisal dan developmental testing. Expert appraisal merupakan teknik untuk
memvalidasi atau menilai kelayakan rancangan produk. Dalam kegiatan ini dilakukan
evaluasi oleh ahli dalam bidangnya. Saran-saran yang diberikan digunakan untuk
memperbaiki materi dan rancangan pembelajaran yang telah disusun. Developmental testing
merupakan kegiatan uji coba rancangan produk pada sasaran subjek yang sesungguhnya.
Pada saat uji coba ini dicari data respon, reaksi atau komentar dari sasaran pengguna model.
Hasil uji coba digunakan memperbaiki produk. Setelah produk diperbaiki kemudian diujikan
kembali sampai memperoleh hasil yang efektif.
Dalam konteks pengembangan bahan ajar (buku atau modul), tahap pengembangan
dilakukan dengan cara menguji isi dan keterbacaan modul atau buku ajar tersebut kepada
pakar yang terlibat pada saat validasi rancangan dan peserta didik yang akan menggunakan
modul atau buku ajar tersebut. Hasil pengujian kemudian digunakan untuk revisi sehingga
modul atau buku ajar tersebut benar-benar telah memenuhi kebutuhan pengguna. Untuk
mengetahui efektivitas modul atau buku ajar tersebut dalam meningkatkan hasil belajar,
kegiatan dilanjutkan dengan memberi soal-soal latihan yang materinya diambil dari modul
atau buku ajar yang dikembangkan.
Dalam konteks pengembangan model pembelajaran, kegiatan pengembangan
(develop) dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.
1) Validasi model oleh ahli/pakar. Hal-hal yang divalidasi meliputi panduan
penggunaan model dan perangkat model pembelajaran. Tim ahli yang dilibatkan dalam
proses validasi terdiri dari: pakar teknologi pembelajaran, pakar bidang studi pada mata
pelajaran yang sama, pakar evaluasi hasil belajar.
2) Revisi model berdasarkan masukan dari para pakar pada saat validasi
3) Uji coba terbatas dalam pembelajaran di kelas, sesuai situasi nyata yang akan
dihadapi.
4) Revisi model berdasarkan hasil uji coba
5) Implementasi model pada wilayah yang lebih luas. Selama proses implementasi
tersebut, diuji efektivitas model dan perangkat model yang dikembangkan. Pengujian
efektivitas dapat dilakukan dengan eksperimen atau Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Cara
pengujian melalui eksperimen dilakukan dengan membandingkan hasil belajar pada
kelompok pengguna model dan kelompok yang tidak menggunakan model. Apabila hasil
belajar kelompok pengguna model lebih bagus dari kelompok yang tidak menggunakan
model maka dapat dinyatakan model tersebut efektif. Cara pengujian efektivitas
pembelajaran melalui PTK dapat dilakukan dengan cara mengukur kompetensi sebelum dan
sesudah pembelajaran. Apabila kompetensi sesudah pembelajaran lebih baik dari
sebelumnya, maka model pembelajaran yang dikembangkan juga dinyatakan efektif.
4. Disseminate (Penyebarluasan)
Thiagarajan (Online), membagi tahap dissemination dalam tiga kegiatan yaitu:
validation testing, packaging, diffusion and adoption. Pada tahap validation testing, produk
yang sudah direvisi pada tahap pengembangan kemudian diimplementasikan pada sasaran
yang sesungguhnya. Pada saat implementasi dilakukan pengukuran ketercapaian tujuan.
Pengukuran ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas produk yang dikembangkan. Setelah
produk diimplementasikan, pengembang perlu melihat hasil pencapaian tujuan. Tujuan yang
belum dapat tercapai perlu dijelaskan solusinya sehingga tidak terulang kesalahan yang sama
setelah produk disebarluaskan. Kegiatan terakhir dari tahap pengembangan adalah melakukan
packaging (pengemasan), diffusion and adoption. Tahap ini dilakukan supaya produk dapat
dimanfaatkan oleh orang lain. Pengemasan model pembelajaran dapat dilakukan dengan
mencetak buku panduan penerapan model pembelajaran. Setelah buku dicetak, buku tersebut
disebarluaskan supaya dapat diserap (diffusi) atau dipahami orang lain dan digunakan
(diadopsi) pada kelas mereka.
Pada konteks pengembangan bahan ajar, tahap dissemination dilakukan dengan cara
sosialisasi bahan ajar melalui pendistribusian dalam jumlah terbatas kepada guru dan peserta
didik. Pendistribusian ini dimaksudkan untuk memperoleh respons, umpan balik terhadap
bahan ajar yang telah dikembangkan. Apabila respon sasaran pengguna bahan ajar sudah baik
maka baru dilakukan pencetakan dalam jumlah banyak dan pemasaran supaya bahan ajar itu
digunakan oleh sasaran yang lebih luas.
E. Model Dick and Carrey
Perancangan pengajaran menurut sistem pendekatan model Dick dan Carrey, yang
dikembangkan oleh Walter Dick dan Lou Carrey.
Berikut gambaran model pengembangan oleh Dick dan Carrey:
1. Identifikasi tujuan
Tahap awal model ini adalah menentukan apa yang diinginkan agar mahasiswa dapat
melakukannya ketika mereka telah menyelesaikan program pengajaran.
Analisis kebutuhan untuk menentukan tujuan pembelajaran adalah langkah pertama
yang dilakukan untuk menentukan apa yang anda inginkan setelah warga belajar
melaksanakan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dapat diperoleh dari serangkaian tujuan
pembelajaran yang ditemukan dari analisis kebutuhan, dari kesulitan-kesulitan warga belajar
dalam praktek pembelajaran, dari analisis yang dilakukan oleh orang-orang yang bekerja
dalam bidang, atau beberapa keperluan untuk pembelajaran yang aktual.
Menentukan tujuan dari sistem yang dibangun. Yang dimaksud dengan tujuan di sini
adalah kemampuan yang dapat diperoleh pembelajar setelah menyelesaikan pelajaran. Harles
(1975) melukiskan hubungan kerjasama dan partisipasi ketiga pihak dalam mengidentifikasi
kebutuhan instruksional dalam bentuk segitiga sebagai berikut :
Kemampuan yang akan dicapai (tujuan) secara umum informasi yang dicari dalam
proses mengidentifikasi kebutuhan instruksional adalah kompetensi siswa saat ini untuk
dibandingkan dengan kompetensi yang seharusnya dikuasai untuk dapat melaksanakan
pekerjaan atau tugasnya dengan baik.
Bagi pengembang instruksional, informasi yang bermanfaat adalah informasi tentang
kurangnya prestasi siswa yang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan keterampilan,
bukan yang disebabkan oleh kurangnya peralatan kerja, sikap atassan atau lingkungan kerja
lainnya. Hanya masalah yang disebabkan kurangnya siswa dalam mendapatkan kesempatan
pendidikan atau pelatihan yang dapat diatasi dengan kegiatan instruksional.
Seringkali pengembang instruksional terlalu cepat mengambil kesimpulan, bahwa
setiap indicator yang menunjukkan rendahnya prestasi siswa harus diselesaikan dengan
pelajaran atau pelatihan. Kesimpulan seperti itu belum tentu benar, seharusnya pengembang
instruksional melakukan satu langkah tambahan yaitu mencari factor penyebab
ketidakmampuan siswa sebelum menentukan cara membantunya dalam mencapai
kemampuan yang diharapkan.
Berdasarkan teori belajar yang disusun Gagne merupakan perpaduan yang seimbang
antara behaviorisme dan kognitivisme, yang berpangkat pada teori proses informasi. Menurut
Gagne seperti dikutip oleh Worell dan Stilwell (1981) cara berpikir seseorang tergantung
pada;
1) keterampilan apa yang telah dipunyainya
2) keterampilan serta hierarki apa yang diperlukan untuk mempelajari suatu tugas
2. Melakukan analisis instruksional
Analisis instruksional yakni menentukan kemampuan apa saja yang terlibat dalam
proses pembelajaran untuk mencapai tujuan dan menganalisa topik atau materi yang akan
dipelajari.
Setelah mengidentifikasi tujuan-tujuan pembelajaran, langkah selanjutnya adalah
menentukan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran
tersebut. Langkah terakhir dalam proses analisis tujuan pembelajaran adalah menentukan
keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang disebut sebagai entry behavior (perilaku
awal/masukan) yang diperlukan oleh warga belajar untuk memulai pembelajaran.
Menentukan kemampuan apa saja yang terlibat dalam proses pembelajaran untuk
mencapai tujuan dan menganalisa topik atau materi yang akan dipelajari. Analisis ini akan
menghasilkan diagram tentang keterampilan-keterampilan/ konsep dan menunjukkan
keterkaitan antara keterampilan konsep tersebut.
Menurut Dick & Carrey (2005), analisis instruksional adalah suatu prosedur, yang
apabila diterapkan pada suatu tujuan instruksional akan menghasilkan suatu identifikasi
kemampuan-kemampuan bawahan yang diperlukan bagi siswa untuk mencapai tujuan
instruksional. Sedangkan menurut Essef (dalam Zuhairi), analisis instruksional adalah suatu
alat yang dipakai para penyusun desain instruksional atau guru untuk membantu mereka di
dalam mengidentifikasi setiap tugas pokok yang harus dikuasai/dilaksanakan oleh siswa dan
sub tugas yang membantu siswa dalam menyelesaikan tugas pokok.
3. Mengidentifikasi tingkah laku awal dan karakteristik pebelajar
ketika melakukan analisis terhadap keterampilan-keterampilan yang perlu dilatihkan
dan tahapan prosedur yang perlu dilewati, juga dipertimbangkan keterampilan awal yang
telah dimiliki mahasiswa.
Analisis paralel terhadap warga belajar dan konteks dimana mereka belajar, dan
konteks apa tempat mereka menggunakan hasil pembelajaran. Keterampilan-keterampilan
warga belajar yang ada saat ini, yang lebih disukai, dan sikap-sikap ditentukan berdasarkan
karakteristik atau setting pembelajaran dan setting lingkungan tempat keterampilan
diterapkan. Langkah ini adalah langkah awal yang penting dalam strategi pembelajaran.
Menentukan kemampuan minimum apa saja yang harus dimiliki pembelajar untuk
menyelesaikan tugas-tugas. Ketika melakukan analisis terhadap keterampilan-keterampilan
yang perlu dilatihkan dan tahapan prosedur yang perlu dilewati, juga harus dipertimbangkan
keterampilan apa yang telah dimiliki siswa saat mulai mengikuti pengajaran. Yang penting
juga untuk diidentifikasi adalah karakteristik khusus siswa yang mungkin ada hubungannya
dengan rancangan aktivitas-aktivitas pengajaran. Misalnya pembelajar harus memliki
kemampuan membaca, kemampuan perhitungan dasar atau kemampuan verbal dan spatial.
Kepribadian dari pembelajar juga mempengaruhi design yang akan dibuat.
4. Merumuskan tujuan kinerja.
Berdasarkan analisis instruksional dan pernyataan tentang tingkah laku awal pebelajar
kemudian dirumuskan pernyataan khusus tentang apa yang harus dilakukan mahasiswa
setelah menyelesaikan pembelajaran. Menuliskan tujuan unjuk kerja (tujuan pembelajaran).
Berdasarkan analisis tujuan pembelajaran dan pernyataan tentang perilaku awal, catatlah
pernyataan khusus tentang apa yang dapat dilakukan oleh warga belajar setelah mereka
menerima pembelajaran. Pernyataan-pernyataan tersebut diperoleh dari analisis
pembelajaran. Analisis pembelajaran dimaksudkan untuk mengidentifikasi keterampilan-
keterampilan yang dipelajari, kondisi pencapaian unjuk kerja, dan kriteria pencapaian unjuk
kerja. Komponen ini bertujuan untuk menguraikan tujuan umum menjadi tujuan yang lebih
spesifik pada tiap tahapan pembelajaran. Di tiap tahapan akan ada panduan pembelajaran dan
pengukuran performansi pembelajar.
5. Pengembangan tes acuan patokan.
Pengembangan tes acuan patokan didasarkan pada tujuan yang telah dirumuskan.
Berdasarkan tujuan pembelajaran yang tertulis, kembangkan produk evaluasi untuk
mengukur kemampuan warga belajar melakukan tujuan pembelajaran. Penekanan utama
berada pada hubungan perilaku yang tergambar dalam tujuan pembelajaran dengan untuk apa
melakukan penilaian.
Test items harus dirancang untuk menyediakan kesempatan bagi pembelajar untuk
mendemonstrasikan kemampuan dan pengetahuan yang dinyatakan dalam tujuan. Bagian ini
bertujuan untuk:
• Mengetahui prasyarat yang telah dimiliki pembelajar untuk mempelajari
kemampuan baru
• Mencek hasil yang telah diperoleh pembelajar selama proses pembelajaran
• Menyediakan dokumen perkembangan pembelajar untuk orang tua atau
administrator
Bagian ini berguna untuk:
• Memberikan evaluasi terhadap sistem yang digunakan
• Pengukuran awal terhadap performansi sebelum perencanaan pengembangan
pelajaran dan materi instruksional
6. Pengembangan strategi pengajaran.
Informasi dari lima tahap sebelumnya, dilakukan pengembangan strategi pengajaran
untuk mencapai tujuan akhir. Strategi pembelajaran meliputi; kegiatan prapembelajaran (pre-
activity), penyajian informasi, praktek dan umpan balik (practice and feedback, pengetesan
(testing), dan mengikuti kegiatan selanjutnya. Strategi pembelajaran berdasarkan teori dan
hasil penelitian, karakteristik media pembelajaran yang digunakan, bahan pembelajaran, dan
karakteristik warga belajar yang menerima pembelajaran. Prinsip-prinsip inilah yang
digunakan untuk memilih materi strategi pembelajaran yang interaktif.
Menentukan aktifitas instruksional yang membantu dalam pencapaian tujuan.
Dimana, strategi tersebut akan meliputi aktivitas preinstruksional, penyampaian informasi,
praktek dan balikan, testing, yang dilakukan lewat aktivitas. Misalnya membaca,
mendengarkan, hingga eksplorasi internet. Aktifitas instruksional ini dapat dikembangkan
oleh instruktur sesuai dengan latar belakang, kebutuhan, dan kemampuan pembelajar atau
bisa saja pembelajar menggabungkan pengetahuan yang baru didapatkan dengan pengetahuan
dan kemampuan yang telah dimiliki untuk membentuk pemahaman baru. Proses
pembelajaran juga dapat dilakukan secara berkelompok atau individual.
7. Pengembangan atau memilih pengajaran.
Tahap ini akan digunakan strategi pengajaran untuk menghasilkan pengajaran, seperti
petunjuk pembelajaran untuk pebelajar, materi, tes dan panduan pembelajar.
Mengembangkan dan memilih materi pembelajaran, produk pengembangan ini meliputi
petunjuk untuk warga belajar, materi pembelajaran, dan soal-soal. Materi pembelajaran
meliputi : petunjuk untuk tutor, modul untuk warga belajar, transparansi OHP, videotapes,
format multimedia, dan web untuk pembelajaran jarak jauh. Pengembangan materi
pembelajaran tergantung kepada tipe pembelajaran, materi yang relevan, dan sumber belajar
yang ada disekitar perancang.
Bagian ini berkaitan dengan media yang digunakan untuk proses pembelajaran untuk
menghasilkan pengajaran yang meliputi petunjuk untuk siswa, bahan pelajaran, tes dan
panduan guru. Media pembelajaran dapat berupa pemberian materi/perkuliahan, pemberian
tugas, powerpoint, internet, paket computer-assisted-instruction, dan sebagainya.
Permasalahan terletak pada penentuan media yang tepat untuk mencapai tujuan dan hal ini
tidak sama untuk setiap pembelajar.
8. Merancang dan melaksanakan evaluasi formatif.
Evaluasi dilakukan untuk mengumpulkan data dan mengidentifikasi data tersebut.
Dalam merancang dan mengembangkan evaluasi formative yang dihasilkan adalah instrumen
atau angket penilaian yang digunakan untuk mengumpulkan data. Data-data yang diperoleh
tersebut sebagai pertimbangan dalam merevisi pengembangan pembelajaran ataupun produk
bahan ajar. Ada tiga tipe evaluasi formatif : uji perorangan (one-to-one), uji kelompok kecil
(small group) dan uji lapangan (field evaluation).
Formative evaluation bertujuan menyediakan data untuk revisi dan pengembangan
instructional materials. Selain itu, Evaluasi ini juga dilakukan untuk mengumpulkan data
yang akan digunakan untuk mengidentifikasi bagaimana meningkatkan pengajaran. Evaluasi
ini dapat dilakukan, misalnya, dengan cara mewawancarai setiap pembelajar.
9. Revisi pengajaran.
Tahap ini mengulangi siklus pengembangan perangkat pengajaran. Data dari evaluasi
formatif yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya dianalisis serta diinterpretasikan. Data
yang diperoleh dari evaluasi formatif dikumpulkan dan diinterpretasikan untuk memecahkan
kesulitan yang dihadapi warga belajar dalam mencapai tujuan. Bukan hanya untuk ini,
singkatnya hasil evaluasi ini digunakan untuk merevisi pembelajaran agar lebih efektif.
Revisi harus menjadi bagian konstan dalam proses design. Revisi dilakukan
berdasarkan hasil dari tiap komponen model ini. Pada tahap ini, data dari evaluasi sumatif
yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya diringkas dan dianalisis serta diinterpretasikan
untuk diidentifikasi kesulitan yang dialami oleh siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Begitu pula masukan dari hasil implementasi dari pakar/validator. Mungkin saja tahapan-
tahapan pembelajaran kurang efektif dalam pencapaian tujuan akhir, atau aktifitas, media,
dan penugasan yang telah ditentukan tidak membantu dalam memperoleh tujuan.
10. Mengembangkan evaluasi sumatif
Di antara kesepuluh tahapan desain pembelajaran di atas, tahapan ke-10 (sepuluh)
tidak dijalankan. Evaluasi sumative ini berada diluar sistem pembelajaran model Dick &
Carey, (2001) sehingga dalam pengembangan ini tidak digunakan. Summative evaluation
bertujuan mempelajari efektifitas keseluruhan sistem dan dilakukan setelah tahap formative
evaluation. Karakteristik, Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Dick and Carey
Model pembelajaran Dick and Carey memiliki karakteristik, kelebihan serta
kekurangan, sebagai berikut:
a). Karakteristik Dick and Carey Model
• Dalam penerapan model ini, setiap komponen bersifat penting dan tidak boleh ada
yang dilewati
• Penggunaan model ini mungkin akan menghalangi kreatifitas instructional designer
profesional
• DC Model menyediakan pendekatan sistematis terhadap kurikulum dan program
design. Ketegasan model ini susah untuk diadaptasikan ke tim dengan banyak anggota dan
beberapa sumber yang berbeda
• Cocok diterapkan untuk e-learning skala kecil, misalnya dalam bentuk unit, modul,
atau lesson
b). Kelebihan dari Dick and Carey Model adalah:
• Setiap langkah jelas, sehingga dapat diikuti
• Teratur, Efektif dan Efisien dalam pelaksanaan
• Merupakan model atau perencanaan pembelajaran yang terperinci, sehingga mudah
diikuti
• Adanya revisi pada analisis instruksional, dimana hal tersebut merupakan hal yang
sangat baik, karena apabila terjadi kesalahan maka segera dapat dilakukan perubahan pada
analisis instruksional tersebut, sebelum kesalahan didalamnya ikut mempengaruhi kesalahan
pada komponen setelahnya
• Model Dick & Carey sangat lengkap komponennya, hampir mencakup semua yang
dibutuhkan dalam suatu perencanaan pembelajaran.
c). Kekurangan dari Dick and Carey Model adalah:
• Kaku, karena setiap langkah telah di tentukan
• Tidak semua prosedur pelaksanaan KBM dapat di kembangkan sesuai dengan
langkah-langkah tersebut
• Tidak cocok diterapkan dalam e learning skala besar
• Uji coba tidak diuraikan secara jelas kapan harus dilakukan dan kegiatan revisi baru
dilaksanakan setelah diadakan tes formatif
• Pada tahap-tahap pengembangan tes hasil belajar, strategi pembelajaran maupun
pada pengembangan dan penilaian bahan pembelajaran tidak nampak secara jelas ada
tidaknya penilaian pakar (validasi).
F. Model Sugiyono
Sugiyono (2009) menyatakan bahwa langkah-langkah dalam penelitian R & D terdiri
atas 10 langkah sebagaimana berikut ini: (1) Potensi dan masalah; (2) Pengumpulan data; (3)
Desain produk; (4) Validasi desain; (5) Revisi desain; (6) Ujicoba produk; (7) Revisi produk;
(8) Ujicoba pemakaian; (9) Revisi produk; dan (10) Produksi masal.
Secara skematik langkah - langkah tersebut dapat ditunjukkan seperti pada gambar
berikut ini.
Langkah-langkah Penelitian R & D menurut Sugiyono
Secara ringkas langkah - langkah tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
1. Potensi dan Masalah
Penelitian selalu bermula dari adanya potensi atau masalah. Potensi merupakan segala
sesuatu yang jika didayagunakan akan mempunyai nilai tambah. Masalah juga dapat diubah
menjadi sebagai potensi, apabila peneliti bisa mendayagunakan masalah tersebut. Masalah
akan terjadi bila ada penyimpangan, antara yang diharapkan dengan yang keadaan terjadi.
Masalah ini bisa diatasi melalui R & D yaitu dengan cara menelitinya, sehingga bisa
ditemukan suatu model, sistem atau pola penanganan terpadu yang efektif yang bisa dipakai
untuk mengatasi masalah tersebut. Potensi dan masalah yang dikemukakan dalam suatu
penelitian haruslah ditunjukkan dengan data yang empirik. Data tentang potensi dan masalah
tidak harus dicari sendiri, akan tetapi bisa juga berdasarkan laporan penelitian orang lain
maupun dari dokumentasi laporan kegiatan yang berasal dari perorangan atau instansi
tertentu yang masih up to date.
2. Mengumpulkan Informasi
Sesudah potensi dan masalah bisa ditunjukkan secara faktual dan up to date, langkah
berikutnya adalah mengumpulkan berbagai informasi dan studi literatur yang bisa dipakai
sebagai bahan guna merencanakan membuat produk tertentu yang diharapkan bisa mengatasi
masalah tersebut. Studi ini ditujukan guna menemukan konsep - konsep maupun landasan -
landasan teoretis yang bisa memperkuat suatu produk, khususnya yang berhubungan dengan
produk pendidikan, misal produk yang berbentuk program, model, sistem, software,
pendekatan, dan sebagainya. Di lain pihak melalui studi literatur ini akan mengkaji ruang
lingkup suatu produk, keluasan penggunaan, kondisi - kondisi pendukung supaya produk bisa
dipakai atau diimplementasikan secara optimal, serta keterbatasan dan keunggulan nya. Studi
literatur juga dibutuhkan guna mengetahui langkah -langkah yang paling tepat dalam
mengembangkan produk tersebut.
3. Desain Produk
Produk yang dihasilkan dari suatu penelitian R & D ini ada banyak sekali jenisnynya.
Untuk menghasilkan sistem kerja baru, maka haruslah dibuat rancangan kerja baru
berdasarkan penilaian terhadap system kerja lama, sehingga bisa ditemukan kelemahan-
kelemahan terhadap sistem tersebut. Disamping itu, perlu dilakukan penelitian terhadap unit
lain yang dipandang sistem kerjanya baik. Selain itu, harus dilakukan pengkajian terhadap
referensi mutakhir yang berkaitan dengan sistem kerja yang modern beserta indikator sistem
kerja yang bagus. Hasil akhir dari kegiatan ini biasanya berupa desain produk baru yang telah
lengkap dengan spesifikasinya. Desain ini masih bersifat hipotetik, karena efektivitasnya
masih belum terbukti, dan baru bisa diketahui setelah melewati pengujian - pengujian. Desain
produk haruslah diwujudkan kedalam bentuk gambar atau bagan, sehingga bisa dipakai
sebagai pegangan guna menilai dan membuatnya, serta akan memudahkan pihak lain untuk
lebih memahaminya.
4. Validasi Desain
Validasi desain adalah suatu proses kegiatan yang bertujuan untuk menilai apakah
rancangan produk, dalam hal ini sistem kerja baru secara rasional akan lebih efektif dari yang
lama atau tidak. Dikatakan secara rasional, karena validasi pada tahap ini masih bersifat
penilaian berdasarkan pemikiran rasional, belum berdasarkan pada fakta lapangan. Validasi
produk bisa dijalankan dengan cara menghadirkan beberapa tenaga ahli atau pakar yang
sudah berpengalaman memberikan penilaian terhadap produk baru yang dirancang tersebut.
Setiap pakar diminta untuk memberikan nilai desain baru tersebut, sehingga langkah
selanjutnya bisa diketahui kekuatan dan kelemahannya. Validasi desain bisa dijalankan pada
sebuah forum diskusi. Sebelum berdiskusi, peneliti mempresentasikan proses penelitian
sampai ditemukan desain tersebut, beserta dengan keunggulannya.
5. Perbaikan Desain
Sesudah desain produk jadi, divalidasi melalui diskusi bersama para pakar dan para
ahli lainnya. Maka akan bisa diketahui kelemahan-kelemahannya. Kelemahan tersebut
kemudian dicoba untuk dikurangi dengan jalan memperbaiki desain tersebut. Yang bertugas
memperbaiki desain adalah peneliti yang akan menghasilkan produk tersebut.
6. Uji coba Produk
Desain produk yang sudah dibuat tidak dapat langsung diujicobakan terlebih dahulu.
Akan tetapi haruslah dibuat terlebih dahulu, hingga menghasilkan produk, dan produk itulah
yang diujicobakan. Pengujian bisa dilaksankan melalui ekperimen, yaitu membandingkan
efektivitas dan efesiensi sistem kerja yang lama dengan sistem kerja yang baru.
7. Revisi Produk
Pengujian produk terhadap sampel yang terbatas tersebut dapat menunjukkan bahwa
kinerja sistem kerja baru ternyata yang lebih baik bila dibandingkan dengan sistem yang
lama. Perbedaan yang sangat signifikan, sehingga sistem kerja baru tersebut bisa diterapkan
atau diberlakukan.
8. Uji coba Pemakaian
Setelah pengujian terhadap produk yang dihasilkan sukses, dan mungkin ada revisi
yang tidak begitu penting, maka langkah berikutnya yaitu produk yang berupa sistem kerja
baru tersebut diberlakukan atau diterapkan pada kondisi nyata untuk ruang lingkup yang luas.
Dalam pengoperasian sistem kerja baru tersebut, tetap harus dinilai hambatan atau
kekurangan yang muncul guna dilakukan perbaikan yang lebih lanjut.
9. Revisi Produk
Revisi produk ini dilaksanakan, bila dalam perbaikan pada yang kondisi nyata
terdapat kelebihan dan kekurangan. Dalam uji pemakaian produk, sebaiknya pembuat produk
selaku peneliti selalu mengevaluasi bagaimana kinerja dari produknya dalam hal ini yaitu
sistem kerja.
10. Pembuatan Produk Masal
Pada tahap pembuatan produk masal ini dilaksanakan bila produk yang telah
diujicobakan dinyatakan efektif serta layak untuk diproduksi secara masal. Sebagai contoh
pembuatan mesin yang dapat mengubah sampah menjadi bahan yang bermanfaat, hendak
diproduksi masal bila berdasarkan studi kelayakan baik dari aspek ekonomi, teknologi, dan
ligkungan memenuhi. Jadi untuk memproduksi suatu produk, pengusaha dan peneliti harus
saling bekerja sama.