0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
89 tayangan13 halaman

Hukum Talak dan Proses Rujuk dalam Islam

Dokumen ini membahas tentang talak, iddah, dan rujuk dalam Islam. Talak adalah pelepasan ikatan perkawinan secara syar'i. Ada dua jenis talak, yaitu talak sunnah yang dilakukan secara bertahap dan talak bid'ah yang dilakukan sekaligus. Setelah talak, istri wajib menunggu masa iddah sebelum menikah lagi. Rujuk dimungkinkan setelah talak pertama atau kedua.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
89 tayangan13 halaman

Hukum Talak dan Proses Rujuk dalam Islam

Dokumen ini membahas tentang talak, iddah, dan rujuk dalam Islam. Talak adalah pelepasan ikatan perkawinan secara syar'i. Ada dua jenis talak, yaitu talak sunnah yang dilakukan secara bertahap dan talak bid'ah yang dilakukan sekaligus. Setelah talak, istri wajib menunggu masa iddah sebelum menikah lagi. Rujuk dimungkinkan setelah talak pertama atau kedua.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TALAK, IDDAH DAN RUJUK

TALAK (PERCERAIAN)
Islam sangat menginginkan terwujudnya keluarga muslim yang harmonis dan penuh dengan
kebahagiaan dan kita juga telah mengerti beberapa tindakan solusi yang telah diajarkan Islam
dalam rangka menyelesaikan perselisihan yang terjadi di antara suami dan isteri.

Akan tetapi bisa jadi usaha untuk menyelesaikan perselisihan tersebut tidak berhasil dikarenakan
persengketaan dan permusuhan antara keduanya sudah terlampau panas. Dalam keadaan seperti
ini seseorang dituntut untuk menggunakan tindakan lain yang lebih kuat, yaitu talak.

‫اْل إ‬
Talak secara bahasa berarti melepaskan ikatan. Kata ini adalah derivat dari kata ‫ط اَلق‬ ِ ‫“ إ‬ithlaq”,
yang berarti melepas atau meninggalkan.
Secara syar’i, talak berarti melepaskan ikatan perkawinan.[1]

Orang yang memperhatikan hukum-hukum yang berhubungan dengan talak, ia akan paham
bahwa sebenarnya Islam sangatlah menginginkan terjaganya keutuhan rumah tangga dan
keabadian jalinan kasih antara suami isteri. Sebagai bukti akan hal itu, bahwa Islam tidak
menjadikan talak hanya satu kali, di mana tatkala perceraian telah dilakukan, maka tidak ada lagi
hubungan antara suami isteri serta tidak boleh bagi keduanya untuk menyambung kembali. Akan
tetapi dalam syari’at dibolehkannya talak, Islam telah menjadikannya lebih dari satu kali. Allah
berfirman:

“Talak (yang dapat dirujuk) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau
menceraikan dengan cara yang baik.” [Al-Baqarah: 229]

Jika seorang suami telah menceraikan isterinya dengan talak pertama atau kedua, maka ia tidak
berhak mengeluarkan isterinya dari rumah hingga masa ‘iddahnya selesai. Bahkan sang isteri
pun tidak berhak untuk keluar rumah. Alasan dari semua itu adalah harapan sirnanya kemarahan
yang menyebabkan perceraian dan harapan akan kembalinya keadaan rumah tangga seperti sedia
kala.

Hal ini seperti apa yang telah disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

‫َّللاا اربَّ ُك إم ۖ ال ت ُ إخ ِر ُجوه َُّن ِمن بُيُو ِت ِه َّن او ال يا إخ ُرجإ نا ِإ َّل أان‬َّ ‫صوا إال ِعدَّة ا ۖ اواتَّقُوا‬
ُ ‫ط ِلِّقُوه َُّن ِل ِعدَّتِ ِه َّن اوأاحإ‬ ‫طلَّ إقت ُ ُم النِِّ ا‬
‫سا اء فا ا‬ ُّ ‫ياا أايُّ اها النَّ ِب‬
‫ي ِإذاا ا‬
‫ِث با إعدا َٰذالِكا أ ا إم ًرا‬ َّ ‫سهُ ۚ ال تاد ِإري لاعا َّل‬
ُ ‫َّللاا يُحإ د‬ ‫ظلا ام نا إف ا‬
‫َّللاِ فاقادإ ا‬ َّ ُ ‫ش ٍة ُّمبا ِِّينا ٍة ۚ اوتِ إلكا ُحد ُود‬
َّ ‫َّللاِ ۚ او امن ياتاعادَّ ُحد ُودا‬ ِ ‫ياأإتِينا بِفا‬
‫اح ا‬

“Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu, maka hendaklah kamu ceraikan mereka
pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu ‘iddah itu
serta bertakwalah kepada Allah, Rabb-mu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka
dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang
terang. Itulah hukum-hukum Allah dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka
sesungguhnya dia telah berbuat zhalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui
barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru.” [Ath-Thalaaq: 1]

Yaitu, supaya suami merasa menyesal karena telah menceraikan isterinya dan kemudian Allah
meluluhkan hatinya agar rujuk kembali. Sesungguhnya yang demikian itu akan mudah.

Pembagian Talak
1. Dari segi bahasa

Dari segi bahasa talak dibagi menjadi dua, yaitu: Sharih dan Kinayah (kiasan)

Sharih yaitu suatu kalimat yang langsung dapat difahami tatkala diucapkan dan tidak
mengandung makna lain, seperti, Anti Thaaliq atau Muthallaqah (engkau adalah wanita yang
tertalak). Demikian juga setiap pecahan kata dari lafazh ath-Thalaq.

Seorang suami yang mengatakan kalimat tersebut kepada isterinya, maka jatuhlah talak atasnya
meskipun dalam keadaan bercanda atau tanpa niat. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits
yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:

ُ‫الرجإ عاة‬ َّ ‫ النِِّكاا ُح اوال‬:ٌّ‫ اوه إازلُ ُه َّن ِجد‬،ٌّ‫ث ِجدُّه َُّن ِجد‬
َّ ‫ او‬،‫طَلا ُق‬ ٌ ‫ثاَلا‬.

“Tiga hal yang bila dikatakan dengan sungguh-sungguh akan jadi dan bila dikatakan dengan
main-main akan jadi pula, yaitu nikah, talak dan rujuk.” [1]

Sedangkan Kinayah, yaitu kata yang mengandung makna talak dan selainnya, seperti perkataan:
Alhiqi bi ahliki (kembalilah kepada keluargamu), dan yang semisalnya.

Jika suami mengatakan kalimat tersebut tidaklah jatuh talak kecuali jika disertai dengan niat,
artinya jika ia berniat talak, maka jatuhlah talak tersebut dan jika tidak, maka tidak jatuh talak.

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhu:

‫ت بِعا ِظ ٍيم‬ ِ ‫عذإ‬ ُ ‫ لاقادإ‬:‫ فاقاا ال لا اها‬، ‫ أاعُوذ ُ بِاهللِ ِم إنكا‬:‫ت‬


‫سلَّ ام اوداناا ِم إن اها قاالا إ‬
‫صلَّى هللاُ اعلا إي ِه او ا‬ ُ ‫علاى ار‬
‫سو ِل هللاِ ا‬ ‫أ ا َّن ا إبناةا إال اج إو ِن لا َّما أُد ِإخلا إ‬
‫ت ا‬
‫ا إِل اح ِقي بِأ ا إه ِل ِك‬.

“Bahwa tatkala puteri al-Jaun dimasukkan ke kamar (pengantin) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam dan beliau mendekatinya, ia berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah darimu.’ Maka
beliau bersabda, ‘Sungguh engkau telah berlindung kepada Yang Mahaagung, kembalilah
kepada keluargamu.’” [2]
Dari riwayat Ka’ab bin Malik tatkala ia bersama dua Sahabat yang lain diboikot oleh Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena tidak mengikuti perang Tabuk bersama beliau, bahwa
Rasulullah mengutus seseorang untuk mengabarkan:

‫ أ ُ ا‬:‫ فاقاالا‬. ‫أاَا ِن ا إعت ِاز ِل ا إم ارأاتاكا‬.


‫ ا إِل اح ِق إي بِأ ا إه ِل ِك‬:‫ ِِْل إم ارأاتِ ِه‬:‫ با ِل ا إعت ِاز إل اها فاَلا تاقا َّربا َّن اها فاقاالا‬:‫ط ِلِّقُ اها أ ا إم اماذاا أ ا إفعالُ؟ قاالا‬

“Bahwasanya beliau menyuruhmu untuk menjauhi isterimu.” Ka’ab bertanya, “Aku ceraikan
atau apa yang aku lakukan?” Orang itu menjawab, “Jauhi saja dan jangan sekali-kali kau dekati.”
Maka kemudian Ka’ab bin Malik berkata kepada isterinya, “Kembalilah kepada keluarga-mu.”
[3]

2. Dari segi Ta’liq dan Tanjiz

Bentuk kata talak ada dua yaitu: Munjazah (langsung) dan Mu’allaqah (menggantung)

Munjazah, yaitu suatu kalimat diniatkan jatuhnya talak oleh orang yang mengatakannya saat itu
juga, seperti jika seorang suami berkata kepada isterinya: Anti Thaaliq (engkau adalah
perempuan yang di talak) talak ini jatuh saat itu juga.

Adapun Mu’allaq yaitu suatu kalimat talak yang dilontarkan oleh suami kepada isterinya yang
diiringi dengan sya-rat, seperti jika ia berkata kepada isterinya, “Apabila engkau pergi ke tempat
itu, maka engkau tertalak.”

Hukum perkataan yang demikian, jika ia benar-benar menginginkan talak tatkala syarat tersebut
dilakukan, maka hukumnya seperti apa yang ia inginkan. Adapun jika ia hanya bermaksud untuk
memperingatkan isteri agar tidak berbuat demikian, maka hukumnya adalah hukum sumpah,
yang artinya jika syarat yang disebutkan tidak dilakukan, ia tidak dibebani apa-apa, namun jika
sebaliknya, maka ia harus mem-bayar kafarat karena sumpahnya (ini adalah madzhab Ibnu
Taimiyyah -rahimahullah- sebagaimana disebutkan dalam Majmuu’ al-Fataawaa (XXXIII/44-46,
58-60, 64-66)

3. Dari segi Sunnah dan Bid’ah

Dari segi ini talak dibagi menjadi dua, yaitu: Talak yang Sunnah dan talak yang bid’ah.

Talak Sunnah yaitu seorang suami mentalak isterinya yang telah dicampuri dengan satu talak,
dalam keadaan suci dan pada masa itu ia tidak mencampurinya.

Allah Ta’ala berfirman :

‫ان‬
ٍ ‫س‬‫ساكٌ ِب ام إع ُروفٍ أ ا إو تاس ِإري ٌح ِبإِحإ ا‬
‫اان ۖ فاإِ إم ا‬ َّ ‫ال‬
ِ ‫ط اَل ُق ام َّرت‬
“Talak (yang dapat dirujuk) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau
menceraikan dengan cara yang baik.” [Al-Baqarah: 229]

‫ط ِلِّقُوه َُّن ِل ِعدَّتِ ِه َّن‬ ‫طلَّ إقت ُ ُم النِِّ ا‬


‫سا اء فا ا‬ ُّ ِ‫ياا أايُّ اها النَّب‬
‫ي إِذاا ا‬

“Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu, maka hendaklah kamu ceraikan mereka
pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar).” [Ath-Thalaaq: 1]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menafsirkan ayat ini, yaitu tatkala Ibnu ‘Umar
Radhiyallahu anhuma mentalak isterinya yang sedang dalam keadaan haidh, kemudian ‘Umar
bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu menanyakan tentang hal itu kepada Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda:

‫س فاتِ إلكا إال ِعدَّة ُ الَّتِي‬ َّ ‫طلَّقا قا إب ال أ ا إن يا ام‬ ‫يض ث ُ َّم ت إاط ُه ار ث ُ َّم إِ إن شاا اء أ ا إم ا‬
‫سكا با إعد ُ اوإِ إن شاا اء ا‬ ‫اج إع اها ث ُ َّم ِليُ إم ِس إك اها احتَّى ت إاط ُه ار ث ُ َّم ت ِاح ا‬
ِ ‫ُم إرهُ فا إلي اُر‬
‫طلَّقا لا اها النِِّ ا‬
‫سا ُء‬ ‫أا ام ار هللاُ أا إن ت ُ ا‬.

“Perintahkan agar ia kembali kepadanya, kemudian menahannya hingga masa suci, lalu masa
haidh dan suci lagi. Setelah itu bila ia menghendaki ia boleh menahannya terus menjadi isterinya
atau menceraikannya sebelum bersetubuh dengannya. Itu adalah masa ‘iddah yang diperintahkan
Allah untuk menceraikan isteri.” [4]

Adapun Talak yang bid’ah, yaitu talak yang menyelisihi syari’at, seperti seorang suami mentalak
isterinya dalam keadaan haidh atau dalam masa suci setelah ia mencampurinya, atau seorang
suami melontarkan tiga talak sekaligus dengan satu lafazh atau dalam satu majelis, seperti
perkataan suami, “Engkau saya talak dengan talak tiga”, atau ucapannya, “Engkau tertalak,
engkau tertalak, engkau tertalak.”

Hukum talak semacam ini adalah haram dan orang yang melakukannya berdosa.

Apabila suami mentalak isterinya dalam keadaan haidh, maka jatuh hukum talak, jika talak raj’i,
maka ia disuruh untuk merujuknya, kemudian menahannya hingga masa suci, lalu masa haidh
dan suci lagi. Setelah itu bila ia menghendaki ia boleh menahannya terus menjadi isterinya atau
menceraikannya sebelum bersetubuh dengannya, sebagaimana perintah Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam kepada Ibnu ‘Umar.

Adapun dalil jatuhnya hukum talak dalam kasus seperti ini adalah hadits yang telah diriwayatkan
oleh Imam al-Bukhari dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Dihukumi atasku satu
talak.” [5]

Al-Hafizh berkata lagi, “Ibnu Wahb dalam musnadnya telah meriwayatkan dari Ibnu Abi Dzi’b
bahwa Nafi’ telah mengabarkan kepadanya bahwasanya Ibnu ‘Umar menceraikan isterinya
dalam keadaan haidh, lalu ‘Umar menanyakan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‫اج إع اها ث ُ َّم يُ إم ِس إك اها احتَّى ت إ‬


‫اط ُه ار‬ ِ ‫ ُم إرهُ فا إلي اُر‬.

‘Perintahkan agar ia kembali kepadanya, kemudian menahannya hingga masa suci.’

Talak Tiga
Adapun jika seorang suami mentalak isterinya dengan talak tiga dengan satu lafazh atau satu
majelis, maka dihukumi sebagai talak satu, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam
Muslim dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Pada zaman Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam, Abu Bakar dan beberapa tahun dari khilafah-nya ‘Umar, bahwa hukum talak
tiga yang diucapkan dengan satu talak adalah dihukumi satu talak. Kemudian ‘Umar bin al-
Khaththab Radhiyallahu anhu berkata, “Sesungguhnya sebagian orang telah terburu-buru dalam
melaksanakan suatu perkara yang sebenarnya mereka harus berhati-hati dalam urusan ini, maka
sekiranya kita berlakukan bagi mereka (bahwa talak tiga dengan satu lafazh dihukumi sebagai
talak tiga)?, maka talak tersebut menetapkan hukum tersebut bagi mereka. [7]

Pendapat tersebut adalah ijtihad dari ‘Umar Radhiyallahu anhu yang tujuannya adalah untuk
tercapainya suatu kemashlahatan dan tidak boleh meninggalkan apa yang telah difatwakan oleh
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang dilakukan pada zaman para Sahabat
hingga zaman kekhilafahannya.

4. Dari segi rujuk dan tidaknya

Talak ada dua macam yaitu: Raj’i dan Ba-in. Sedangkan talak ba’in juga dibagi menjadi dua
pula, yaitu: sughra dan kubra.

Talak raj’i adalah mentalak isteri yang sudah dicampuri tanpa adanya tebusan harta (dari pihak
isteri) dan belum didahului dengan talak sebelumnya sama sekali atau baru didahului dengan
talak satu kali.
Allah Ta’ala berfirman:

‫ان‬
ٍ ‫س‬‫ساكٌ ِب ام إع ُروفٍ أ ا إو تاس ِإري ٌح ِبإِحإ ا‬
‫اان ۖ فاإِ إم ا‬ َّ ‫ال‬
ِ ‫ط اَل ُق ام َّرت‬

“Talak (yang dapat dirujuk) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau
menceraikan dengan cara yang baik.” [Al-Baqarah: 229]

Seorang wanita yang ditalak raj’i, maka statusnya masih sebagai isteri selama masih dalam
‘iddahnya dan suami berhak untuk rujuk kapan saja ia berkehendak selama masih dalam masa
‘iddah, dan tidak disyaratkan keridhaan isteri atau izin dari walinya. Allah Ta’ala berfirman:
‫اَّللِ او إال اي إو ِم‬
َّ ‫ام ِه َّن ِإن ُك َّن يُؤإ ِم َّن ِب‬ ِ ‫َّللاُ فِي أ ا إر اح‬ ‫او إال ُم ا‬
َّ ‫طلَّقااتُ ايت ااربَّصإنا ِبأانفُ ِس ِه َّن ثا اَلثاةا قُ ُروءٍ ۚ او ال اي ِح ُّل لا ُه َّن أان اي إكت ُ إمنا اما اخ القا‬
‫ص اَل ًحا‬ َٰ
‫إاْل ِخ ِر ۚ اوبُعُولات ُ ُه َّن أ ا اح ُّق ِب ار ِدِّه َِّن فِي ذالِكا ِإ إن أ ا ارادُوا إِ إ‬

“Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. Tidak boleh
mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman
kepada Allah dan hari Akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujuknya dalam masa menanti itu
jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang
seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” [Al-Baqarah: 228]

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim
bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah
LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September
2007M]

IDDAH

 Setelah Suami dan Istri Berpisah

Seorang wanita yang telah berpisah dengan suaminya, baik karena suaminya telah meninggal
dunia atau karena suaminya telah menceraikannya, maka dia akan menjadi seorang janda.
Wanita yang baru saja berpisah dengan suaminya harus melewati masa ‘iddah, yaitu masa di
mana seorang wanita menunggu untuk dibolehkan menikah lagi setelah habis waktunya, baik
dengan hitungan quru’ (masa haidh) atau dengan hitungan bulan. [Lihat Al-Fiqhul Islami wa
Adillatuhu (VII/265), Terj. Al-Wajiz (hal. 642), Ensiklopedi Fiqh Wanita (II/418),
dan Panduan Keluarga Sakinah (hal. 321)]

Adapun hikmah disyari’atkannya ‘iddah adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui terbebasnya rahim, dan sehingga tidak bersatu air mani dari dua laki-laki
atau lebih yang telah menggauli wanita tersebut pada rahimnya. Sehingga nasab anak
yang mungkin dilahirkan tidak menjadi kacau.
2. Menunjukkan keagungan, kemulian masalah pernikahan dan hubungan badan.
3. Memberi kesempatan bagi sang suami yang telah mentalak istrinya untuk rujuk
kembali. Karena bisa jadi ada suami yang menyesal setelah mentalak istrinya.
4. Memuliakan kedudukan sang suami di mata sang istri. Sehingga dengan adanya masa
iddah akan semakin menampakkan pengaruh perpisahan antara pasangan suami-istri.
Karena itu, di masa iddah karena ditinggal mati, wanita dilarang untuk berhias dan
mempercantik diri, sebagai bentuk berkabung atas meninggalkan sang kekasih.
5. Berhati-hati dalam menjaga hak suami, kemaslahatan istri dan hak anak-anak, serta
melaksanakan hak Allah yang telah mewajibkannya. [Lihat I’laamul
Muwaqqi’iin (II/85)]
RUJUK

Hikmah di Balik Disyari’atkannya Rujuk

Rujuk sangat dibutuhkan karena barangkali suami menyesal telah mentalak istrinya. Inilah yang
diisyaratkan dalam firman Allah Ta’ala,

‫ِث اب ْعدا ذالِكا أا ْم ًرا‬ َّ ‫اَل تاد ِْري لا اع َّل‬


ُ ‫َّللاا يُحْ د‬

“Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru” (QS.
Ath Tholaq: 1). Yang dimaksud dalam ayat ini adalah rujuk. Sebagaimana pendapat Fathimah
binti Qois, begitu pula pendapat Asy Sya’bi, ‘Atho’, Qotadah, Adh Dhohak, Maqotil bin Hayan,
dan Ats Tsauri.[5]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Istri yang dicerai tetap diperintahkan untuk tinggal di rumah
suami selama masa ‘iddahnya. Karena bisa jadi suami itu menyesali talak pada istrinya. Lalu
Allah membuat hatinya untuk kembali rujuk. Jadilah hal itu mudah”.[6]

Ketika Istri Sudah Ditalak Tiga Kali

Ketika istri sudah ditalak tiga kali, maka haram bagi suaminya untuk rujuk kembali sampai
mantan istrinya menikah dengan pria lain dengan nikah yang sah. Allah Ta’ala berfirman,

ُ‫طلَّقا اها فا اَل ت ِاح ُّل لاهُ ِم ْن اب ْعد ُ احتَّى ت ا ْن ِك اح زا ْو ًجا اغي اْره‬
‫فاإ ِ ْن ا‬

“Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak
lagi halal baginya hingga dia nikah dengan suami yang lain” (QS. Al Baqarah: 230).

Pernikahan yang kedua disyaratkan agar suami kedua menyetubuhi istrinya sehingga dikatakan
sah. Sebagaimana dalam hadits ‘Aisyah disebutkan,

‫ او ِإنِى‬، ‫طَلاقِى‬ ‫طلَّ اقنِى افباتَّ ا‬


‫َّللاِ ِإ َّن ِر افا اعةا ا‬
َّ ‫سو ال‬ ْ ‫َّللاِ – صلى هللا عليه وسلم – اف اقا ال‬
ُ ‫ت ياا ار‬ َّ ‫سو ِل‬ ُ ‫ت ِإ الى ار‬ ْ ‫عةا ْالقُ ار ِظ ِى اجا اء‬ ‫أ ا َّن ا ْم ارأاة ا ِرفاا ا‬
‫َّللاِ – صلى هللا عليه وسلم – « لاعالَّ ِك ت ُ ِريدِينا أا ْن‬ َّ ‫سو ُل‬ُ ‫ قاا ال ار‬. ‫ او ِإنَّ اما امعاهُ ِمثْ ُل ْال ُهدْ اب ِة‬، ‫ى‬َّ ‫ير ْالقُ ار ِظ‬ َّ ‫الرحْ ام ِن بْنا‬
ِ ِ‫الزب‬ َّ ‫نا اكحْ تُ با ْعداهُ اع ْبدا‬
» ُ‫س ْيلاتاه‬ ُ
ُ ‫س ْيلات ِاك اوتاذوقِى‬
‫ع ا‬ ‫ع ا‬ ُ
ُ ‫ احتَّى ياذوقا‬، ‫ َلا‬، ‫عةا‬ ‫ت ْار ِج ِعى إِلاى ِرفاا ا‬

“Suatu ketika istri Rifaa’ah Al Qurozhiy menemui Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ia
berkata, “Aku adalah istri Rifaa’ah, kemudian ia menceraikanku dengan talak tiga. Setelah itu
aku menikah dengan ‘Abdurrahman bin Az-Zubair Al Qurozhiy. Akan tetapi sesuatu yang ada
padanya seperti hudbatuts-tsaub (ujung kain)[7]”. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam
tersenyum mendengarnya, lantas beliau bersabda : “Apakah kamu ingin kembali kepada
Rifaa’ah? Tidak bisa, sebelum kamu merasakan madunya dan ia pun merasakan madumu.”[8]
Hukum Seputar Rujuk dan Talak Roj’iy

1. Rujuk ada pada talak roj’iy (setelah talak pertama dan talak kedua), baik talak ini keluar dari
ucapan suami atau keputusan qodhi (hakim).

2. Rujuk itu ada jika suami telah menyetubuhi istrinya. Jika talak itu diucap sebelum
menyetubuhi istri, maka tidak boleh rujuk berdasarkan kesepakatan para ulama. Alasannya
adalah firman Allah Ta’ala,

‫طلَّ ْقت ُ ُموه َُّن ِم ْن قا ْب ِل أ ا ْن ت ا امسُّوه َُّن فا اما لا ُك ْم اعلا ْي ِه َّن ِم ْن ِعدَّةٍ تا ْعتادُّو ان اها فا امتِعُوه َُّن او ا‬
‫س ِر ُحوه َُّن‬ ِ ‫ياا أايُّ اها الَّذِينا آ ا امنُوا إِذاا نا اكحْ ت ُ ُم ْال ُمؤْ ِمناا‬
‫ت ث ُ َّم ا‬
ً ‫س ارا ًحا اج ِم‬
‫يَل‬ ‫ا‬

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan- perempuan yang beriman,
kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-sekali tidak wajib
atas mereka ‘iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya. Maka berilah mereka
mut’ah[9] dan lepaskanlah mereka itu dengan cara yang sebaik- baiknya” (QS. Al Ahzab: 49).

3. Rujuk dilakukan selama masih dalam masa ‘iddah. Jika ‘iddah sudah habis, maka tidak ada
istilah rujuk –berdasarkan kesepakatan ulama- kecuali dengan akad baru. Karena Allah Ta’ala
berfirman,

‫او ْال ُم ا‬
ٍ‫طلَّقااتُ ايت ااربَّصْنا ِبأ ا ْنفُ ِس ِه َّن ث ا اَلثاةا قُ ُروء‬

“Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’ (masa
‘iddah)” (QS. Al Baqarah: 228).

Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

ْ ِ‫اوبُعُولات ُ ُه َّن أ ا اح ُّق ِب ار ِده َِّن فِي ذالِكا إِ ْن أ ا اراد ُوا إ‬


‫ص اَل ًحا‬

“Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu (masa ‘iddah), jika mereka
(para suami) menghendaki ishlah” (QS. Al Baqarah: 228).

Yang namanya rujuk adalah ingin meneruskan kepemilikan (istri). Kepemilikan di sini putus
setelah berlalunya masa ‘iddah dan ketika itu tidak ada lagi keberlangsungan pernikahan.

4. Perpisahan yang terjadi sebelum rujuk bukanlah karena nikah yang batal karena faskh. Seperti
nikah tersebut batal karena suami murtad.

5. Perpisahan yang terjadi bukan karena hasil dari membayar kompensasi seperti dalam khulu’
(istri menuntut cerai di pengadilan dan diharuskan membayar kompensasi).
6. Rujuk tidak bisa dibatasi dengan waktu tertentu sesuai kesepakatan suami-istri, semisal rujuk
nantinya setelah 8 tahun. Sebagaimana nikah tidak bisa dengan syarat waktu sampai sekian
bulan, begitu pula rujuk.
REFERENSI:

[1]. Hasan: [Irwaa-ul Ghaliil (no. 1826)], Sunan Ibni Majah (I/658, no. 2039), Sunan Abi Dawud
(VI/262, no. 2180), Sunan at-Tirmidzi (II/328, no. 1195).
[2]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 3199)], Shahiih al-Bukhari (IX/ 356, no. 5254),
Sunan an-Nasa-i (VI/150) dan lafazh yang diriwayat-kannya adalah “ Annal Kullabiyah lamma
udkhilat….”
[3]. Muttafaq ‘alaih: Shahiih al-Bukhari (XIII/113, no. 4418), Shahiih Muslim (IV/2120, no.
2769), Sunan Abi Dawud (VI/285, no. 2187), Sunan an-Nasa-i (VI/152).
[4]. Muttafaq ‘alaih (Shahiih al-Bukhari (IX/482, no. 5332), Shahiih
Muslim (II/1093, no. 1471), Sunan Abi Dawud (VI/227, no. 2165) dan ini adalah lafazhnya,
Sunan an-Nasa-i (VI/138).
[5]. Shahih: [Irwaa-ul Ghaliil (no. 128)], Shahiih al-Bukhari (IX/351, no. 5253).
[6]. Sanadnya Shahih: [Irwaa-ul Ghaliil (VII/134)], ad-Daruquthni (IV/9, no. 24).
[7]. Shahiih Muslim (II/1099, no. 1472).
MUAMALAH
TUGAS KELOMPOK

OLEH:
MAHFIRA SYAHBANDIA 1902050142
MUHAMMAD SYAFII 1802050078
PUTRI AYU UTAMI 1802050091
SULTAN SIAHAAN 1802050115
YUSNAINI YUSDA LUBIS 1902050135

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA


INGGRIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA
UTARA

Anda mungkin juga menyukai