Pengendalian Persediaan Suku Cadang
Pengendalian Persediaan Suku Cadang
PART INVENTORY
PENDAHULUAN
Masalah kebutuhan akan suku cadang pada umumnya tidak dapat direncanakan
atau dipastikan karena, kerusakan suku cadang tidak semuanya dapat diperkirakan dan
hal ini mempunyai kecenderungan pada tingkat yang berfluktuasi.
Pada saat akan menyediakan suku cadang berarti ada sejumlah uang yang terikat,
dalam hal ini berarti kita harus menggerakkan setiap usaha untuk mengontrol dan
mengurangi keterikatan tersebut.
Kenyataannya dalam hal persediaan ada dua masalah utama yang hares
diperhatikan yaitu berapa besar jumlah minimum suku cadang yang hares disediakan dan
berapa jumlah maksimumnya.
1. Penqendalian availability
Availability dalam hal ini dapat diartikan sebagai kemampuan PT. United Tractors
memenuhi setiap permintaan pelanggannya (suku cadang). Dengan kata lain availability
adalah supply dibagi demand, yang diukur dalam bentuk persentase (supply: demand ) x
100 %. Pengendalian availability adalah fungsi yang sentral. Availability rata-rata sebesar
80% atau lebih dianggap sebagai tingkat availability yang cukup memadai untuk kepuasan
customer.
4. Pengendalian order
Order kepada supplier perlu untuk dilakukan secara periodik dan dalam jumlah
setiap item yang sesuai dengan perkiraan kebutuhan customer. Setelah suatu order dibuat
kepada supplier tidak berarti tugas telah selesai sebelum barang yang diorder tiba. Selang
waktu diantaranya, justru merupakan bagian yang sangat penting untuk dikendalikan
karena hal tersebut sangat menentukan hasil pengendalian inventory secara keseluruhan.
Parts Inventory
2. Persediaan
Yang dimaksud dengan Inventory carrying costs adalah biaya yang diperlukan
berkenaan dengan diadakannya persediaan yang meliputi seluruh pengeluaran -
pengeluaran yang dikeluarkan perusahaan sebagai akibat adanya sejumlah persediaan
seperti .
- Biaya bunga (bunga atas biaya yang kita tanam). -
Pajak.
- Asuransi.
- Penyusutan (hilangnya kegunaan barang).
- Biaya gudang.
Biasanya inventory carrying costs ditentukan sebagai suatu persentase dari nilai
uang atas persediaan tersebut per unitnya dalam 1 tahun.
DEMAND MANAGEMENT
3. PERHITUNGAN DEMAND
Apabila terjadi cancel atas order number atau return, maka demand yang sudah
tercatat dikurangi, sesuai dengan kapan demand itu tercatat (dd/mm/yy). Pengurangan
demand atas suatu order yaitu sebesar item dan quantity yang diproses return.
Pengurangan Call dilakukan apabila total return sama dengan total order ( item dan
quantitynya ). Dengan batasan, apabila order numbernya lebih dari 12 bulan maka
demandnya tidak perlu lagi dikurangi.
Misal :
Part Number: 600-211-1231, mempunyai data demand selama tahun 2002 sbb
Month Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Agt Sep Oct Nov Dec Total
Demand 5 10 10 0 0 6 2 1 2 6 1 6 49
Pada bulan Januari 2003 terjadi Cancel dan Return atas item tersebut ex. order no. sbb
Maka pada saat produksi yang dijalankan bulan februari 2003 pencatatan demandnya
menjadi sbb :
Month Feb Mar Apr May Jun Jul Agt Sep Oct Nov Dec Jan Total
Demand 6 10 0 0 6 0 1 2 6 1 3 4 39
Konsep pengurangan demand dan calls atas return adalah sebagai berikut:
Apabila dalam satu order number ada beberapa line item yang mempunyai part number
sama dan quantity supply lain seperti contoh berikut:
13000001 C 12
13000001 D 7
Contoh diatas termasuk kriteria pada point ke-3, yang step perhitungannya adalah sebagai berikut:
========= CL
------------------ LCL
UCL = CL + (2.α)
dimana
D = demand actual
N = jumlah data (12 bulan)
α = standard deviasiz
Accurate 2 7 3 4 6 10 18,9 5 8 1 7 2
Jadi demand pada bulan Juli (25 pc) diturunkan sebesar UCL yaitu 18,89 pc.
Note
Dalam control data demand hanya dilakukan pada item yang mempunyai rank movement
A dan B saja.
Setelah proses pencatatan demand sudah benar dan akurat, maka dilanjutkan
dengan proses Monthly Consolidated Demand (MOD), yaitu suatu proses yang
mengakumulasikan seluruh transaksi permintaan (demand) terhadap seluruh material
yang ada selama satu bulan penuh. Aktivitas ini biasanya dikerjakan pada akhir
periode/bulan.
Tujuan diadakannya MCD adalah untuk membuat catatan akan kondisi/posisi yang
terakhir/terbaru terhadap demand dan call suatu material agardapat digunakan sebagai
patokan untuk memperkirakan permintaan pada proses berikutnya. Untuk menghitung
forecast demand, kita harus mengkonsolidasikan lagi MCD tadi selama 12 bulan mundur
Dengan tambahan data free balance dari cabang yang bersangkutan, maka dapat
ditentukan quantity order yang disarankan.
FORECAST DEMAND
1. LATAR BELAKANG
Ada sejumlah persoalan perbedaan keputusan dalam manajemen sediaan suatu
perusahaan:
1. Jenis barang mana yang sebaiknya disimpan dalam stock ?
2. Berapa banyak sebaiknya dipesan ?
3. Kapan sebaiknya suatu pesanan ditempatlkan ?
4. Tipe system kendali sediaan apa yang sebaiknya digunakan ?
Pertanyaan ke 2 merupakan pertanyaan klasik tentang sediaan. Berapa quantity
barang yang akan kita pesan sangat berhubungan dengan volume,barang yang akan kita
produksi untuk memenuhi permintaan pada masa yang akan datang. Jadi pada intinya kita
harus bisa meramalkan berapa permintaan yang akan terjadi diwaktu mendatang.
B. Peramalan Kuantitatif
Yaitu peramalan yang didasarkan atas data kuantitatif masa lalu. Hasil peramalan
ini sangat tergantung pada metode yang digunakan dalam peramalannya, karena
dengan metode yang berbeda akan menghasilkan hasil yang berbeda pula.
Syarat peramalan kuantitatif adalah:
1. Adanya informasi masa lalu atau kondisi yang lain
2. Informasi tersebut dapat ditransformasikan dalam bentuk data
3. Data tersebut dapat diasumsikan bahwa pola masa mendatang merupakan
kelanjutan pola masa lalu.
4. JENIS PERMINTAAN
Didalam Inventory Manajemen ada 2 jenis permintaan, yaitu:
A. Permintaan bebas
B. Permintaan tidak bebas
A. Permintaan bebas
Yaitu permintaan yang pengaruhi oleh kondisi pasar diluar fungsi operasi.
Jadi manajeman sediaan yang cocok adalah menggunakan penambahan ulang
(replenishment). Pada saat stok digunakan, sediaan diisi kembali agar stoks
ditangan (on hand) tetap dimiliki untuk customer. Sediaan barang jadi dan suku
cadang, untuk penggantian biasanya memiliki permintaan yang bebas.
B. Permintaan tidak bebas
Yaitu permintaan yang tidak secara bebas dipengaruhi oleh pasar. Jika
produk-produk dibentuk dari komponen, rakitan maka permintaannya tergantung
pada permintaan produk akhir. juga termasuk produk-produk yang diketahui life
timenya. Manajemen sediaan yang tepat adalah dengan melihat kebutuhan (need) .
Jumlah stok yang dipesan sesuai perhitungan kebutuhan yang akan datang. Misal
dalam suatu produksi, ada pemintaan suatu hose ass'y sebanyak 2 buah, maka
permintaan akan fitting nya adalah 4 (2 x 2) dan hosenya 2 pc.
----------------------------- UCL
================ CL
----------------------------- LCL
∑D
CL = Mean = ---------
n
UCL = CL + (2.α)
Dimana
D = Demand actual
n = Jumlah data (12 bulan)
α = standard deviasi
Accurate 2 7 3 4 6 10 18,9 5 8 1 7 2
Note
Control data demand hanya dilakukan pada item yang mempunyai rank movement A dan B saja.
FD = Forecast demand
D = demand
t =bulan ke.. (1,2 .....,t)
o Jika trend data tidak memenuhi kedua pola diatas, maka menggunakan metode
Simple Moving Average.
FD = Forecast Demand
D = Demand Actual bulan ini
n = Jumlah bulan ( 12 )
Note
Pemilahan metode peramalan (up/down trend dan single moving average) hanya
dilakukan pada item yang mempunyai rank movement A dan B saja, untuk item dengan
rank lain memakai Single Moving Average
Contoh :
PN. 07000-13032 O-RING mempunyai data demand sebagai berikut:
Bln Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nop Des Jan Peb
Dmd 5 20 5 10 20 10 15 10 15 20 15 10 0 5
Hitung FD pada bulan Januari, Pebruari dan Maret 2002, asumsikan pada saat
menghitung FD bulan Januari, demand bulan januari dan februari 2002 belum terjadi.
Begitu juga pada saat menghitung FD bulan Pebruari, demand Pebruari 2002 belum ada.
30 < 60 > 45, maka kita pakai metode simple Moving Average
FD = (5+10+20+10+15+10+15+20+15+10+0+5)
12
= 11,25
SAFETY STOCK
1. LATAR BELAKANG
Hampir semua permintaan atas produk suatu perusahaan tidak pernah tepat sesuai
yang telah di ramalkan. Begitu juga atas waktu datangnya barang pesanan acapkali tidak
tepat sesuai dengan yang telah direncanakan. Agar permintaan dari konsumen dapat kita
antisipasi terus, maka diperlukan suatu stok pengaman.
Jadi suatu perusahaan memerlukan stok cadangan bila:
> Jumlah permintaan selalu berubah-ubah, sehingga tidak dapat diramalkan dengan
tepat (fluktuasi demand).
> Waktu datangnya barang ( lead time) tidak tentu, sering berubah karena pengaruh
berbagai hal dan faktor (variasi lead time).
Safety Stock atau stok pengaman/stok penyangga adalah stok yang harus diback-
up untuk mengantisipasi adanya lonjakan permintaan atau variasi waktu tenggang (lead
time), atau bisa juga disebabkan keduanya.
s=z.α
s = stok pengaman
z = faktor pengaman (nilai distribusi normal sesuai tingkat kepercayaan yang
diharapkan)
α = penyimpangan standar dari permintaan melebihi tenggang waktu (standart deviasi)
Jika luas seluruh daerah adalah 100%, maka luas daerah yang tidak diarsir
merupakan tingkat kepercayaan yang kita harapkan dan daerah yang diarsir adalah
daerah penolakannya. Jika kita sudah menentukan tingkat kepercayaan yang kita
harapkan atau lawannya yaitu tingkat penolakannya, maka nilai z dapat dilihat dari tabel
distribusi probabilitas normal standart. Tingkat kepercayaan yang biasa dipakai adalah
95 % — — ->z = 1,64
90 % -——> z = 1,28
97,5% ———>z= 1,96
Nilai Z ditentukan oleh Rank Movement dan Rank Price yang telah di tetapkan seperti
Karena demand dan lead time sudah tepat sesuai dengan yang perkirakan, maka
SS tidak perlu disediakan lagi.
SS = Z . ∂ Dduring LT
D = permintaan actual
= demand rata-rata (mortality)
LT= waktu tenggang (lead time)
n = jumlah data
Contoh:
Data permintaan dan perarnalan 07000-12012 O-RING per bulan adalah sbb:
LT =2
Z =1.96
Apabila yang tidak konstan adalah lead timenya, maka kita harus bisa
mengantisipasi demand yang terjadi sepanjang variasi lead time tersebut. Lead time yang
dibuat sebagai acuan adalah lead time yang telah kita plan sebelumnya. Jadi SS yang
harus dicover adalah sebesar rata-rata demand selama deviasi lead time.
during LT variation
= demand rata-rata (mortality)
LT = waktu tenggang (lead time)
n = jumlah data
Contoh
Jika data seperti contoh diatas, LT yang diestimasikan adalah 2 bulan, dan demand
aktual yang terjadi adalah seperti dibawah, maka:
Bin Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nop Des
LT 1,8 2,0 2,3 1,9 2,2 2,1 1,85 2,05 2,0 2,0 2,1 2,4
= 0,74
Jika demand dan lead time tidak konstan semua, maka yang kita antisipasi adalah
sebesar deviasi demand dan deviasi lead timenya. Jadi SSnya adalah gabungan dari
kedua rumus diatas.
Contoh
Dari kedua contoh model diatas, maka
Jika nilai SS diatas nilai UCL, maka SS dturunkan menjadi sebesar UCL, dan jika SS
dibawah LCL , maka SS dinaikkan sebesar LCL.
[Link] / Average
A
Upper
B
Lower
C
A = SS diatas UCL
B = SS akurat
C = SS dibawah LCL
= 331,57
Jadi SS Pekanbaru =
PART RANKING
1. LATAR BELAKANG
Pada umumnya persediaan terdiri dari berbagai barang yang sangat banyak
jumlahnya, tetapi berbagai macam jenis barang yang ada dalam persediaan tidak
seluruhnya mempunyai tingkatan yanci sama. Sehingga untuk mengetahui tingkatan
berbagai jenis barang perlu digunakan ranking.
Ranking adalah pengelompokan barang berdasarkan transaksi, harga maupun
jenis barang (Commodity group).
Tujuan Ranking:
• Ranking terhadap parts pada dasarnya merupakan upaya untuk rneny usun tingkat
(ranking) dari suatu parts yang menunjukkan apakah parts tersebut sebaiknya
distock atau tidak. Makin tinggi tingkatan atau ranking maka makin diusahakan
untuk distock.
• Pengelompokan items dimasing-masing point agar dapat membantu atau
mempermudah pola pemilihan stock items.
2. Special Row
1. Normal Row
Merupakan pengelompokan berdasarkan pergerakan dalam satu periode, dalam hal ini
selama satu tahun. Normal Row terdiri dari:
1.1 Month Movement
Merupakan pengelompokan item yang dihitung berdasarkan pergerakan item tersebut
perbulan dalam jangka waktu satu tahun.
Contoh Rank Month Movement
1.2. Call
Merupakan rank yang dihitung berdasarkan frekuensi permintaan dari Customer
2. Spesial Row
Rank Row M : Rank untuk item-item Campaign (diseleksi oleh Parts Inventory)
Rank Row P : Rank untuk item-item Back-up New Model (dari Parts, Service & Marketing)
Rank Row R : Rank untuk item-item Retired karena sudah mempunyai newest /
interchange.
Rank Row Z : Rank untuk item-item Prohibited yang ditandai dengan characteristic code :
* 010 = Not Supply Parts
* 014 = Discontinued Parts / Prohited Parts
* 020 = Not Supply Parts
* 024 = Discontinued Parts / Prohited Parts
B. Rank Column
Merupakan ranking berdasarkan harga dan Commodity Rank Column terdiri dari
1. Rank Price
2. Rank Commodity
1. Rank Price
Note:
Range Price adalah factory list price dalam US$, sedangkan yang Currency factory list
price-nya bukan US$ harus dikonversikan dulu ke US$
2. Rank Commodity
A = Commodity Undercarriage
B = Commodity Ground Engaged Tools
C = Commodity Filter
D = Commodity Hose
E = Commodity Itearing
F = Commodity General
C. Rank Matrix
Merupakan gabungan antara rank row dan rank column. Rank Matrix terdiri dari
1. Rank Matrix Month Movement
2. Rank Matrix Call
3. Rank Matrix Kombinasi
1. Rank Matrix Month Movement
Merupakan gabungan rank row dan rank column dimana rank row-nya
menggunakan Month Movement
Rank Column Rank Price
1 2 3 4 5
Rank Row Month Rank Price base on Commodity
Movement Group
A 10 - 12 A1
B 8-9 B2
C 6-7 C3
Normal D 5 D4
Row E 4 E5
F 3
G 2
H 1
I 0
M Campaign Ml
P Back Up P2
Special R Retired R3
Z Prohibited
A > 47 A1
B 24 – 47 B2
C 16 – 23 C3
D 12 – 15 D4
Normal E 8 – 11
Row F 5–7
G 3–4
H 2
I 1
M Campaign M1
P Back Up P2
Special R Retired R3
Z Prohibited
1. Metode Pareto
Dalam metode ini, pemilihan items dilakukan berdasarkan hukum Pareto yang
menyatakan dengan stock 20 % items akan mendapatkan availability sebesar 80 %. (lihat:
pengertian availability pada lampiran ). Adapun dasar pemilihan items dengan faktor-faktor
berikut :
1. Data call dicabang yang bersangkutan
2. Item Parts
Keterangan grafik ,
Grafik Pareto dari Availability Parts dengan jumlah items sebanyak 10.000 (asumsi)
• Jika stock yang diadakan adalah sebesar 20 % atau 2.000 items ( 20 % x 10.000 ),
maka akan diperoleh tingkat availability sekitar 80 %. Sedangkan item parts lainnya
yaitu sekitar 8.000 items sulit dipastikan akan laku dijual pada masa mendatang.
• Langkah berikutriya adalah merinci jenis-jenis item parts ( yang jumlahnya 2.000 )
dalam jenis-jenisnya sesuai dengan tingkat keterpakaiannya dan kapan pengadaan
atau order ke supplier akan dilakukan , sehingga biaya yang diperlukan seminimum
mungkin
Pada tabel berikut menggambarkan pemilihan items berdasarkan Availability dan ITO
Keterangan tabel:
* Jika stock yang diadakan adalah pada daerah yang diarsir maka akan diperoleh tingkat
Availability sebesar 70% dan dengan ITO sebesar 3.2 bulan , dan daerah yang diarsir
ini disebut juga Stock Items
* Sedangkan daerah sisanya atau yang tidak diarsir merupakan daerah yang sulit
dipastikan akan laku dijual dimasa datang , dan daerah ini disebut Non Stock Items
b. Perhitungan ITO
Keterangan :
Cycle Order ( CO )
Dalam perhitungan ini cycle order ditetapkan 1 bulan, yang artinya proses order di
jalankan sebulan sekali.
Safety Stock (SS )
Safety Stock di hitung tiap part number dalam 12 bulan mundur yang
rumusannya di dapatkan dalam Sub Modul Safety Stock.
Dimana :
MT = Mortality
L12MD = Demand quantity selama 12 bulan mundur
Lead Time ( LT )
Waktu tunggu sejak proses order sampai barang datang ( proses GR /invoice),
tergantung mana yang lebih dulu
c. Proses Pemilihan Stock Items
Langkah-langkah pemilihan stock items adalah sebagai berikut:
• Berdasarkan rank self, sampai flat pada rank movement tertentu (dibawah plan
availability/ITO).
• Apabila masih beium sesuai, maka dikombinasikan dengan rank yang ada diupper
levelnya, Call, List Price, dan Quantity Demand
Rank Point Rank Upper Level Call FLP (US$) Demand Avaibility ITO
E A 5 0,31 8 72 3,3
E A 4 1,45 6 73 3,5
E B 10 0,34 10 74 3,9
E B 6 0,51 7 75 4,1
Dari contoh diatas, jika kondisi yang dapat adalah sebagai berikut:
Kondisi 1 :
Availability : 75 %
ITO :4.1 bulan
Kondisi 2 :
Availability : 74 %
3. Metode Deterministic
Pemilihan stock item ini dilakukan berdasarkan items yang dapat diperkirakan akan
dipakai. Adapun proses atau pekerjaan yang bisa dilakukan deterministic sebagai berikut:
a. Overhaul
Dalam proses overhaul, pemilihan stock itemsnya dapat dilakukan dengan
memperkirakan dengan recommended sesuai dengan hours meter atas overhaul
tersebut (Detail ada pada Lampiran)
b. New Model
Pemilihan stock ilems untuk backup new model dapat dilakukan dengan
memperkirakan dengan recommended sesuai dengan hours meter yang akan
dibackup.
c. Backlog
Pemilihan stock item dapat dilakukan berdasarkan identifikasi secara langsung ke unit
yang bersangkutan ( biasanya dilakukan oleh pihak service baik UT atau Customer).
d. Customer Usage
Pemilihan stock items berdasarkan data pembelian suku cadang yang dilakukan oleh
pihak customer di luar UT.
e. Maintenance Planning
Pemilihan stock item berdasarkan waktu yang telah direncanakan, biasanya
terhadap komponen-komponen yang mempunyai life time. Barang-barang distock
ketika life time dari komponen yang bersangkutan akan habis atau akan diganti.
Contoh filter dan UC.
STOCK REPLENISHMENT
1. LATAR BELAKANG
Seiring dengan proses penjualan yang berlangsung secara terus-menerus, maka
persediaan perusahaan yang memproduksi produk tersebut akan ikut berkurang juga.
Untuk menjamin proses produksinya tetap berjalan, perusahaan perlu menambah
persediaannya/replenishment stock lagi. Besarnya persediaan yang akan ditarnbahkan
harus ditentukan seefisien mungkin. Untuk itu diperlukan metode khusus untuk
menghitungnya. Kesalahan dalam rnenetapkan volum penambahan ini akan
menyebabkan over stock atau stock out.
Stock Replenishment adalah kegiatan untuk menghitung dan menentukan jumlah
barang yang harus diorder berdasarkan kebutuhan.
Sasaran dari stock replenishment: Agar mampu back up atau memenuhi kebutuhan
customer dengan ketersediaan stock
yang wajar.
EOQ merupakan kombinasi dari biaya pemesanan dan biaya pengadaan yang paling
minimum jika :
D = tingkat permintaan, unit per tahun
S = biaya per pesanan yang ditempatkan, atau biaya penyusuhan, rupiah per
unit
C = biaya unit, rupiah per unit
i = tingkat bunga pengadaan, persen nilai rupiah per tahun
Q = ukuran partai, unit
TC = Total biaya pemesanan ditambah biaya pengadaan, rupiah per tahun.
Biaya pengadaan per tahun = (biaya pengadaan tahunan) (biaya unit) (sediaan rata- rata)
Biaya Total per tahun = biaya pemesanan per tahun + biaya pengadaan per tahun
Contoh
Parts Analyst HOSE mau menentukan berapa meter (PN. 77C-8) HOSE ” SAE
100R2AT tiap kali pesan untuk memenuhi pesanan dalam 1 tahun, jika
D = 360 meter per tahun
S = Rp. 15.000,- per pesanan
i = 25 % per tahun
C = Rp. 12.000,- per meter
maka,
Jadi setiap kali pesan adalah 60 meter, sehingga dalam satu tahun 360/60 = 6 kali pesan.
Biaya minimum pengoperasian sediaan ini akan sebesar
TC =15000 (360/60) + 0,25 x 12000 (60/2) = 90000 + 90000 = Rp. 180.000,-
Barang akan diorder kembali setelah posisi tdk rnernyentuh R (titik pemesanan ulang),
sebesar Q yang diperoleh dari perhitungan EOQ, dimana
R=m+s
Contoh
EOQ dari perhitungan PN. 07000-12012 O-RING adalah 1000 pc dan
permintaan hariannya adalah 200 pc, L= 4 hari.
m = 200 (5+4) = 1800 pc. Jika stok penyangga selama p+L (9 hari) adalah 742 pc, maka
T = m + s = 1800 + 742 = 2542 pc
2) Cycle Order
Yang dimaksud cycle order adalah selang berapa lama (waktu) yang diperlukan
dalam
setiap kali melakukan order. ;
Contoh :
CO = 1, maka order dilakukan satu kali dalam satu bulan
CO = 2, maka order dilakukan satu kali dalam dua bulan
CO = 0.5, maka order dilakukan dua kali dalam satu bulan
CO = 0.25, maka order dikikukan 4 kali dalam satu bulan
3) Lead Time
Lead time adalah waktu antara atau tenggang waktu sejak pesanan dilakukan sampai
dengan saat pesanan tersebut masuk ke gudang. Waktu tenggang ini merupakan satu
faktor yang perlu diperhatikan agar barang yang dipesan tepat pada waktunya. Artinya
jangan sampai kehabisan barang di gudang. Misalnya "lead time" adalah 1 bulan, maka
pesanan harus dilakukan 1 bulan sebelum barang yang ada di gudang habis.
4) Safety Stock
Safety stock adalah [Link] tambahan yang diadakan untuk melindungi atau
menjaga kemungkinan terjadinya kekurangan parts. Safety stock diadakan untuk
mengantisipati adanya fluktuasi demand dan atau fluktuasi lead time.
FB = FOH + OO
dimana :
FB = Free Balance
FOH = Free On Hand ( stock yang ada di gudang )
OO = On Order ( dalam pemesanan )
b. Order Point
Order Point (OP) adalah batasan minimum atau titik minimum dimana kita harus
melakukan stock order.
Formula :
OP = SS + ( LT X FD )
Dimana
OP = batas minimum stock
LT = lead time
SS = Safety Stock
FD = Forecast Demand
c. Syarat Order
Kondisi yang memungkinkan untuk order apabila :
CO
LT
FB
Max
FB
FB
SS OP
FB
FB
FB
A B C D E F
Kondisi:
A FB < OP Order
B FB < OP Order
C FB = OP Order
D FB > OP Order
E FB > OP Tidak Order
F FB > Max —>Tidak Order (Over)
d. Maximum (MAX)
Merupakan batasan maksimum dari Free balance
dimana :
OP = Order Point
CO = Cycle Order ( berapa bulan sekali order )
FF = Final Forecast ( FF group pada bulan ke - 0 )
e. Quantity Order
Besarnya Quantity Order adalah :
6) Unballance Stock
Unballance Stock Adalah kondisi dimana penyebaran stock belum merata dilihat
dari sisi inventory. Indikasi Unballance stock apabila Availability Instan turun sedangkan
availably All Branch naik atau bagus;.
7) Parts Reserve
Parts Reserve adalah On Order yang dicadangkan untuk Sales Order, atau dengan
kata lain allocation On Order untuk Sales Order.
8) Just In time
Just In Time adalah persiapan stock yang memperhitungkan "lead time" dan waktu
pemakaian atas demand yang Sudah pasti.
LAMPIRAN
AVAILABILITY
Availability adalah kemampuan perusahaan dalam memenuhi setiap permintaan customer
( yang dinyatakan dalam persen ) atau dengan kata lain Availability menunjukan berapa
persen tingkat kemampuan dalam memenuhi setiap permintaan customer.
ITO Average
Dihitung dari stock on hand pada bulan terakhir dibagi dengan penjualan rata-rata 12
bulan mundur.
Stock On Hand ( amount) this month
ITO = ---------------------------------------------------
Sales Average [Link] mundur
Contoh
3000
ITO This Month = ------------------ = 3 Bln
1000
3000
ITO Average = --------------------= 1.55 Bin
(23200: 12)
artinya seluruh persediaan akan habis terjual dalam jangka waktu 1.55 bulan
OVERHAUL
Dalam proses preparation stocknya harus mempertimbangkan hal-hal berikut:
1. Komponen apa yang akan di Overhaul:
- Overhaul Komponen (Enggine, Transmisi, Hydraulik Pump, dll)
- Midlife Overhaul (6000 Hours)
- General Overhaul (12000 Hours)
2. Typical
- Price Oriented
Overhaul berdasarkan budget yang dimiliki .
- Value Oriented
a. Overhaul berdasarkan Recommended Parts Overhaul (RPL)
b. Overhaul berdasarkan hasil PPM
3. Analisa Preparation Stock
Kapan pelaksanaan Overhaul tersebut dilakukan
Tempat pelaksanaan Overhaul ( di Workshop U.T atau di tempat sendiri )
Jumlah Items Parts yang harus di stock
Rank Parts (Item-item untuk Overhaul)
A. Berdasarkan Rank Parts Service:
Rank Remarks
A Mutlak Diganti
B Kemungkinan Besar Diganti ( 60% ~ 80% )
C Kadang-Kadang Diganti ( 10 ~ 30% )
AX Mutlak Difabrikasi
BX Kemungkinan Difabrikasi
CX Kadang-Kadang Difabrikasi
Contoh :
Ring Sel, Seal Piston, Wear Ring dsb.
Bolt-bolt dan washer yang bergesek langsung dengan tanah
Contoh :
Bolt Shoe, Bolt Bottom Guard, Bolt Track Frame.
Parts-parts yang beresiko tinggi apabila dipakai ulang, terutama apabila dikaitkan
dengan target life time unit sesudah overhaul, tidak dapat dijamin ketahanannya.
Contoh :
Piston Ring, Valve Guide, Halfcollet, Metal Bearing, Hose dsb.