1
PERBANDINGAN GAYA BAHASA DALAM NOVEL
ATHEIS KARYA ACHDIAT KARTA MIHARDJA DAN
NOVEL TELEGRAM KARYA PUTU WIJAYA:
TINJAUAN STILISTIKA
TESIS
Disusun oleh
A. ARYANA
P1200215002
PROGRAM STUDI BAHASA INDONESIA
PROGRAM PASCASARJANA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018
2
PERBANDINGAN GAYA BAHASA DALAM NOVEL ATHEIS KARYA
ACHDIAT KARTA MIHARDJA DAN NOVEL TELEGRAM
KARYA PUTU WIJAYA: TINJAUAN STILISTIKA
TESIS
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar Magister
Pada Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin
Program Studi Bahasa Indonesia
Disusun dan diajukan oleh
A. ARYANA
P1200215002
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018
3
PERBANDINGAN GAYA BAHASA DALAM NOVEL ATHEIS KARYA
ACHDIAT KARTA MIHARDJA DAN NOVEL TELEGRAM
KARYA PUTU WIJAYA: TINJAUAN STILISTIKA
THE COMPARISON OF LANGUAGE STYLE IN NOVEL ATHEIS BY
ACHDIAT KARTA MIHARDJA AND NOVEL TELEGRAM
BY PUTU WIJAYA: A STYLISTIC APPROACH
TESIS
A. ARYANA
P1200215002
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018
4
5
PERNYATAAN KEASLIAN TESIS
Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : A. Aryana
Nomor Pokok : P1200215002
Program Studi : Bahasa Indonesia
Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa tesis yang saya tulis ini
merupakan hasil karya sendiri, bukan pengambil alihan tulisan atau
pemikiran orang lain. Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat
dibuktikan bahwa sebagian atau keseluruhan tesis ini hasil karya orang
lain, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.
Makassar, 4 Januari 2018
Yang menyatakan,
A. Aryana
6
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Swt. yang
senantiasa melimpahkan karunia dan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan tesis ini. Akhirnya tesis ini dapat dirampungkan dalam
rangka memenuhi salah satu persyaratan akademis guna memeroleh
gelar Magister Humaniora ([Link].) pada Program Studi Bahasa
Indonesia, Pascasarjana, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin.
Dalam penyusunan tesis ini, penulis mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak. Sehingga, pada kesempatan ini dengan segala rasa
hormat penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tulus
kepada Prof. Dr. Muhammad Darwis, M.S. sebagai pembimbing I dan
Dr. Hj. Nurhayati, [Link]. sebagai pembimbing II yang telah
menyumbangkan waktu, pikiran, dan tenaga dalam memberikan arahan,
motivasi, dan petunjuk kepada penulis. Ucapan terima kasih juga penulis
ucapkan kepada tim penguji Prof. Dr. H. Tadjuddin Maknun, S.U., Dr.
Indriati Lewa, [Link]., dan Dr. Prasuri Kuswarini, M.A. yang telah
memberikan saran dan masukan kepada penulis untuk perbaikan tesis ini.
Terima kasih juga kepada Dr. Hj. Asriani Abbas, [Link]., sebagai
Ketua Program Studi Bahasa Indonesia, dan segenap dosen pengajar
pada Jurusan Program Studi Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana,
Universitas Hasanuddin, yang telah membekali peneliti berbagai
pengetahuan selama masa perkuliahan sampai masa penyusunan tesis.
7
Ucapan terima kasih yang tulus juga penulis sampaikan kepada
suami penulis, Syamsul Alam, anak-anak, dan saudara-saudara penulis
atas dukungan moril dan materil yang diberikan selama penulis
menempuh pendidikan.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada sahabat
seperjuangan Bahasa Indonesia Angkatan 2015 (Andi Yusdianti, Susiati,
Rima, Sumiaty, Risman Iye, Taufik, Sutrisno, Nur Sariati, Nur Rahma Al
Haqq, Raviqa, Ikos, Karim,) yang tidak bisa penulis sebutkan satu per
satu, terima kasih karena telah tulus memberikan semangat, motivasi
kepada penulis, dan menjadi teman diskusi yang kritis. Semoga segala
bantuan, masukan, motivasi, dan pengorbanan yang diberikan kepada
penulis mendapat balasan dari Allah Swt., dan semua yang telah
diberikan kepada penulis dapat bernilai ibadah di sisi-Nya.
Sebagai manusia biasa, penulis pun tak lepas dari salah dan khilaf.
Oleh karena itu, saran, tanggapan, dan kritikan yang bersifat membangun
untuk perbaikan tesis ini amat penulis harapkan. Harapan dari penulis
semoga tesis ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.
Makassar,Januari 2018
Penulis
8
9
10
11
12
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran I :Tabel Rekapitulasi Penggunaan Gaya
Bahasa
dalam Novel Atheis dan Novel Telegram
Lampiran II : Sinopsis Novel Atheis Karya Achdiat Karta
Mihardja
Lampiran III : Sinopsis Novel Telegram Karya Putu Wijaya
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sastra merupakan salah satu cabang kesenian. Dalam kaitannya
dengan masyarakat, sastra adalah cermin kehidupan yang mampu
memanfaatkan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Sastra lahir dari
perenungan-perenungan penciptanya tentang kehidupan secara
mendalam sehingga secara langsung pencerminan tentang kehidupan
pada era tersebut terlihat mencolok baik itu dari segi sosial, budaya
maupun dari karakteristik gaya bahasa.
Sastra tidak hanya dinilai sebagai karya seni yang bersifat imajinatif,
tetapi juga dianggap sebagai suatu kreativitas yang bermanfaat sebagai
konsumsi intelektual pembaca. Selain itu, sastra juga mengandung unsur
keindahan yang menumbuhkan perasaan khusus para penikmatnya.
Wujud ciptaan yang dapat membangun perasaan khusus tersebut salah
satunya adalah bagaimana penggunaan bahasa dalam karya sastra itu
dibungkus.
Setiap kali membicarakan karya sastra, kita tak bisa melepaskan diri
dari medium karya sastra itu, yaitu bahasa. Karya sastra merupakan
produk kebahasaan. Bahasa adalah satu-satunya alat yang digunakan
dalam penciptaan karya sastra. Ide-ide yang dimiliki pengarang
dituangkan dalam bentuk karya sastra dengan cara berbahasa yang
1
2
berbeda. Oleh pengarang, bahasa menjadi kekuatan dalam proses
penciptaan karya. Dalam periode tertentu, gaya setiap genre sastra dari
pengarang yang satu dan yang lain selalu berbeda.
Ratna (2009: 138) menyatakan bahwa salah satu fungsi periodisasi
sastra Indonesia adalah menunjukkan perkembangan gaya itu sendiri.
Karya sastra, baik sebagai kualitas individual maupun komunal tidak
statis. Karya sastra tidak lahir dari kekosongan, tetapi memiliki akar sosial.
Karya sastra tidak berkembang dalam dirinya sendiri. Struktur karya sastra
berubah karena dievokasi oleh perkembangan masyarakat.
Pengarang secara totalitas memilih gaya terhadap karya sastra yang
mereka tulis melalui proses imajinasi dan kreativitas, tetapi pemahaman
secara sosial budaya menunjukkan bahwa pengarang dikondisikan oleh
perilaku masyarakatnya. Misalnya, tidak ada sastra Balai Pustaka tanpa
masyarakat dan para pengarang Minangkabau yang dengan penuh
kesadaran bermaksud untuk menampilkan sistem matriarkhat.
Penelitian ini akan menganalisis dua novel yang berbeda masa, yaitu
novel pada masa Angkatan 1945 yang diwakili oleh novel Atheis karya
Achdiat Karta Mihardja (1949) dan novel pada masa Angkatan 1966-
1970an yang diwakili oleh novel Telegram karya Putu Wijaya (1973).
Menurut Lukni (2010: 1), secara urutan waktu sastra Indonesia terbagi
atas beberapa angkatan, yaitu Angkatan Pujangga Lama, Angkatan
Sastra Melayu Lama, Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru,
3
Angkatan 1945, Angkatan 1950-1960-an, Angkatan 1966–1970-an,
Angkatan 1980-1990-an, Angkatan Reformasi, Angkatan 2000-an.
Goatly (dalam Black, 2011: 195) menyatakan bahwa wacana selalu
terjadi di dalam ruang sosial sehingga penafsiran terhadap teks sastra
selalu memiliki hubungan dengan genre dan situasi sosial. Perbedaan
dalam setiap angkatan berdampak pula pada karakteristik penggunaan
gaya bahasa dalam karya sastra (puisi, drama, dan prosa).
Pengalaman hidup dan gejolak sosial, politik, dan budaya telah
mewarnai karya sastrawan Angkatan 1945. Karya sastra angkatan ini
lebih realistik dibanding karya angkatan sebelumnya. Karya-karya sastra
pada angkatan ini banyak bercerita tentang perjuangan merebut
kemerdekaan seperti halnya puisi-puisi Chairil Anwar. Sastrawan
Angkatan 1945 memiliki konsep seni yang diberi judul “Surat Kepercayaan
Gelanggang”. Konsep ini menyatakan bahwa para sastrawan Angkatan
1945 ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani.
Pada periode ini cerpen Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma dan Novel
Atheis dianggap sebagai karya pembaharuan prosa Indonesia.
Seperti yang dijelaskan Teeuw (dalam Yudiono, 2007: 116-117)
bahwa pembaharuan itu tidak terjadi secara tiba-tiba pada saat
proklamasi. Selama masa pendudukan Jepang sudah terjadi tanda-tanda
perubahan seperti diperlihatkan Chairil Anwar, Idrus, Usmar Ismail,
Achdiat Karta Mihardja tetapi tidak segera muncul ke permukaan karena
tertekan oleh kekuasaan Jepang.
4
Angkatan 1945 lahir dalam suasana lingkungan yang sangat prihatin
dan serba keras, yaitu lingkungan fasisme Jepang dan dilanjutkan
peperangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Menurut Angelina
(2008: 1) ciri-ciri Angkatan 1945, yaitu terbuka; pengaruh unsur sastra
asing lebih luas; corak isi lebih realis dan naturalis; individualisme
sastrawan lebih menonjol, dinamis, dan kritis; penghematan kata dalam
karya ekspresif; sinisme dan sarkasme; karangan prosa berkurang, puisi
berkembang.
Kesusastraan pada Angkatan 1966-1970-an lebih didominasi oleh
karya-karya yang beraliran realisme sosial. Tema-tema dalam karya
sastra dalam masa ini berlatar revolusi, kehidupan pelacur, sosial,
kejiwaan, dan keagamaan. Tema-tema tersebut lebih menekankan pada
kritikan terhadap pemerintahan pada masa itu yang gagal dalam
menyejahterakan rakyat Indonesia dan gagalnya menciptakan stabilitas
keamanan di dalam negeri sehingga banyak daerah yang memberontak.
Menurut Teeuw (1980: 68) pengungkapan yang digunakan dalam
Angkatan 1966-1970-an adalah bersifat eufimisme yang memunculkan
citra positif terhadap penguasa dengan menyembunyikan kenyataan yang
menyakitkan, terjadinya bentuk-bentuk bahasa propaganda dalam rangka
meyakinkan pihak lain terutama masyarakat. Eufemisme yang digunakan
pada angkatan ini bertujuan untuk menutupi informasi yang sebenarnya
sebagai selubung terhadap kenyataan yang jauh lebih mengecewakan.
5
Terlihat adanya kecenderungan perkembangan penggunaan gaya
bahasa dalam karya sastra Angkatan 1945 yang cenderung bersifat
sarkasme dan Angkatan 1966-1970-an yang bersifat eufimisme. Hal ini
menunjukkan adanya perubahan penggunaan gaya bahasa dari masa ke
masa. Perkembangan penggunaan gaya bahasa tersebut juga
menunjukkan bahwa adanya kekhasan atau keunikan penggunaan gaya
bahasa dalam setiap angkatan.
Keunikan bahasa yang digunakan oleh pengarang dari tiap angkatan
mengundang ketertarikan peneliti untuk melihat karya sastra dari aspek
gaya bahasa yang menjadi kekuatan dalam melahirkan suatu karya.
Apakah terdapat perbedaan yang signifikan dalam penggunaan gaya
bahasa antara karya sastra angkatan 45 dan angkatan 66, atau tidak
berbeda sama sekali. Oleh karena itu, penelitian perbandingan gaya
bahasa dalam karya sastra angkatan 45 dan 66 bertujuan untuk
menganalisis persamaan dan perbedaan gaya bahasa untuk mengetahui
dinamika perkembangan penggunaan gaya bahasa melalui perbandingan
novel Atheis (angkatan 45) dan novel Telegram (angkatan 66). Penelitian
ini merupakan upaya awal untuk mengetahui perkembangan penggunaan
gaya bahasa dari novel Atheis yang merupakan karya sastra angkatan 45
ke novel Telegram yang merupakan karya sastra angkatan 66.
Gaya bahasa merupakan refleksi dari logika seseorang atau
pencerminan orang itu sendiri. Selain itu, gaya bahasa yang digunakan
oleh pengarang dalam karyanya juga mencerminkan karakteristik
6
pemakaian bahasa pada masa karya tersebut ditulis. Para pengarang
membungkus bahasa dengan karakteristiknya masing-masing tetapi ada
juga kekhasan secara universal karena dipengaruhi oleh masa atau era
saat itu.
Nurgiyantoro (2002: 272) bahasa dalam seni sastra dapat disamakan
dengan cat dalam seni lukis. Keduanya merupakan unsur, bahan, alat,
sarana yang diperoleh untuk dijadikan sebuah karya yang mengandung
nilai lebih dari bahan itu sendiri. Bahasa merupakan sarana
pengungkapan sastra. Apapun yang dikatakan pengarang atau sebaliknya
ditafsirkan oleh pembaca, mau tidak mau harus bersangkut paut dengan
bahasa. Para pengarang tersebut memanfaatkan bahasa untuk
menghasilkan suatu efek yang menjelaskan apa yang berharga dalam
kehidupan yang diceritakan oleh mereka. Bentuknya berupa rentetan
kalimat dan ungkapan-ungkapan atau gaya bahasa. Oleh karena itu,
kualitas sebuah karya sastra seperti novel ditentukan oleh bagaimana
pengarang-pengarang tersebut membungkus penggunaan bahasa
mereka khususnya gaya bahasa dalam karyanya.
Sastrowardoyo (1983: 158) menyebut novel Atheis suatu well made
novel dengan kisah diakhiri dengan baik ketika tokoh Hasan meninggal.
Teeuw (1980: 272-275) menulis bahwa Atheis adalah roman pertama
yang benar-benar menarik setelah perang kemerdekaan dan gaya
penceritaan serupa dengan pergolakan masyarakat Indonesia pada saat
itu. Atheis adalah novel Indonesia pertama yang menggunakan tiga gaya
7
naratif. Teeuw menulis bahwa gaya penceritaan dalam roman ini bersifat
didaktis, yang dianggap sebagai suatu kekurangan. Namun, dia juga
mencatat bahwa Achdiat Karta Miharja adalah anggota aliran sastra yang
beranggapan bahwa sastra bertujuan untuk mendidik.
Novel Atheis karya Achdiat Karta Miharja merupakan novel yang
menceritakan tentang pertentangan jiwa tokoh Hasan yang awalnya taat
beragama, tetapi ketika tokoh Hasan tersebut pindah ke kota, keyakinan
tokoh Hasan berubah karena dipengaruhi oleh paham marxisme. Cerita
dalam novel Atheis mengambil latar tempat di Jawa pada suasana
peperangan. Hal ini menunjukkan bahwa pengarang Achdiat Karta Miharja
ingin menggambarkan fenomena sosial yang dialami oleh masyarakat
pada masa itu. Pengaruh latar pada masa ini menimbulkan karakteristik
penggunaan gaya bahasa dalam novel Atheis, yakni penggunaan gaya
bahasa sarkasme.
Dua contoh penggunaan gaya bahasa dalam novel Atheis karya
Achdiat Karta Mihardja.
Contoh (1)
“Tapi itu hanya provokasi lidah busuk saja,” kata Rusli.
(Miharja,1949: 35)
Contoh (2)
“Ah, tidak”, sahut Rusli tertawa menjawab pertanyaan Kartini
tadi,” malah benar kata orang, kalau kita sedang mengumpat
setan, terpijaklah ekornya. (Miharja,1949: 37)
8
Dua kutipan novel di atas akan dilihat perwujudan gaya bahasanya
(wujud kata/frasa dan kalimat). Pada contoh (1) terdapat penggunaan
frasa nomina konkret berkelas kata organ tubuh, yakni lidah busuk yang
mengandung gaya bahasa sarkasme. Makna frasa lidah busuk adalah
perkataan yang buruk atau tidak baik. Frasa lidah busuk diasosiasikan
dengan perkataan yang buruk karena memiliki sifat yang sama, yakni arti
kata lidah menurut KBBI adalah perkataan, lisan, atau ujaran, sedangkan
busuk adalah buruk, lapuk, dan rusak. Dapat dikatakan bahwa arti lidah
busuk dalam konteks kutipan novel tersebut merupakan suatu perkataan
yang tidak baik, yang tidak ada gunanya untuk didengar.
Pada contoh (2) terdapat kata nomina kelas kata insani, yakni setan
yang menunjukkan penggunaan gaya bahasa sarkasme. Dalam konteks
kutipan novel tersebut kata setan dalam pengertian tersebut sebagai
penggoda jadi, Rusli menyindir Kartini sebagai wanita penggoda sama
dengan setan. Menurut KBBI kata setan bermakna iblis atau makhluk
halus yang kadang terlihat kadang juga tidak. Penyebutan setan dalam
novel tersebut merupakan sindiran yang dituturkan oleh Rusli karena
Kartini secara tiba-tiba terlihat dalam pandangannya.
Novel Telegram karya Putu Wijaya merupakan novel yang
mempunyai kualitas dengan karya yang telah diakui dalam berbagai
penghargaan yang telah diraih. Novel yang ditulis Putu Wijaya saat
berumurr 28 tahun ini pernah menyabet hadiah pertama mengarang
roman DKI Jakarta 1972. Para kritikus sastra seperti Mangunwijaya
9
(1988: 50) telah membuat esei tentang novel Telegram (1973) dan
mengatakan bahwa novel tersebut merupakan karya yang matang dan
dewasa dan bentuknya sangat berhasil. Sebagai seorang novelis, Putu
Wijaya menempatkan dirinya tidak jauh dari kelihaiannya sebagai penulis
naskah drama. Dalam prosanya ia cenderung mempergunakan gaya atau
metode objektif dalam pusat pengisahannya dan gaya stream of
consciousness dalam pengungkapannya.
Sementara itu, Sumardjo (1983: 133) menyebut Putu Wijaya
sebagai tokoh utama sastrawan Indonesia pada dasa warsa 1970-an.
Lebih lanjut Sumardjo mengatakan bahwa Putu Wijaya muncul dan
berkembang dalam dekade itu. Dialah sastrawan paling produktif dan
paling kreatif pada saat itu. Novel Putu Wijaya juga penuh potongan-
potongan kejadian yang padat, intens dalam pelukisan, ekspresif
bahasanya, dan disatukan oleh suasana tema.
Adapun novel Telegram karya Putu Wijaya menceritakan tentang
tokoh Aku yang berasal dari Bali. Latar tempat penceritaan dalam novel
Telegram terjadi di Jakarta. Dalam novel Telegram, Putu Wijaya
menggambarkan tokoh Aku sebagai cerminan manusia yang hidup pada
era tahun 66-70an. Pada masa ini, kebebasan berpendapat ditekan oleh
pemerintah. Hal inilah yang ingin ditunjukkan oleh Putu Wijaya melalui
tokoh Aku bahwa masyarakat pada masa tersebut tidak memiliki
kebebasan sehingga semua hal yang berkaitan dengan kehidupan harus
dinyatakan secara tidak langsung. Dalam novel, penyataan kata atau
10
kalimat secara tidak langsung termasuk ke dalam bentuk gaya bahasa
pengandaian atau perumpamaan.
Selanjutnya, dua contoh penggunaan gaya bahasa dalam novel
Telegram karya Putu Wijaya.
Contoh (1)
Anak yang bertingkah seperti orang dewasa itu sudah
terlindung oleh sikapnya. (Wijaya, 1973: 48)
Contoh (2)
Masa kecil yang menggelepar-gelepar (Wijaya, 1973: 63)
Pada contoh (1) terdapat penggunaan kata berafiks ber-, yakni
bertingkah yang mengandung gaya bahasa yang bersifat eufemisme.
Makna kata bertingkah adalah berlagak, sok, angkuh. Dalam konteks ini
tokoh mengungkapkan kata bertingkah dengan tujuan memperhalus
maksud ujarannya. Kata bertingkah mengalami substitusi dari konotasi
negatif berlagak, sok, dan angkuh. Terlihat dalam KBBI arti kata
bertingkah adalah bergaya, berkelakuan, dan sok.
Pada contoh (2) terdapat penggunaan kata ulang berimbuhan
meng-, yakni kata mengelepar-gelepar yang mengandung gaya bahasa
metafora yang bersifat eufemisme. Makna kata mengelepar-gelepar
adalah berkelejat (bekelakuan manja, cengeng). Terlihat dalam KBBI arti
kata mengelepar-gelepar adalah kejang-kejang, berkelojotan, dan
mengelupur. Dalam konteks kalimat contoh (2) secara langsung sifat kata
mengelepar-gelepar tersebut disamakan dengan sifat anak pada masa
11
kecil yang cengeng dan manja untuk menunjukkan kehidupan tokoh Aku
pada masa kecilnya.
Dilihat dari dua contoh pada novel Atheis karya Achdiat Karta
Mihardja dan novel Telegram karya Putu Wijaya, tampak perbandingan
antara kedua jenis novel tersebut, yakni novel Atheis dalam
pengungkapannya menggunakan gaya bahasa yang bersifat sarkasme
dengan pewujudannya menggunakan frasa nomina berkelas kata organ
tubuh dan insani sedangkan novel Telegram pengungkapannya
menggunakan gaya bahasa metafora yang bersifat eufemisme dengan
pewujudannya menggunakan kata berafiks.
Fenomena sosial pada contoh novel Atheis terlihat adanya
penyebutan secara langsung kata atau frasa yang berkonotasi negatif
(kasar) kepada suatu hal atau benda. Hal tersebut karena dilatarbelakangi
oleh keadaan sosial yang sangat keras pada masa Angkatan 1945, yakni
keadaan pada lingkungan fasisme jepang, tokoh-tokoh dalam novel Atheis
digambarkan dengan situasi pada masa penjajahan dan terpengaruh
terhadap pemikiran barat. Adapun situasi sosial pada novel Telegram
tampak adanya penggunaan kata yang halus atau tidak blak-blakan
(samar-samar) terhadap suatu hal atau benda. Hal ini karena
dilatarbelakangi kondisi sosial yang buruk sehingga tampak penceritaan
dalam karya sastra pada angkatan 1966-1970an ini menutupi informasi
yang sebenarnya sebagai selubung terhadap kenyataan yang jauh lebih
mengecewakan.
12
Penelitian ini akan mengungkap perbedaan dan persamaan gaya
bahasa dalam novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja dan novel
Telegram karya Putu Wijaya. Penelitian ini penting untuk dilakukan
mengingat beberapa hal; pertama, peneliti berusaha mengungkap
perbedaan dan persamaan penggunaan gaya bahasa dalam karya sastra
pada Angkatan 1945 dan Angkatan 1966-70an, sehingga hasil penelitian
ini diharapkan dapat menjadi dokumentasi perbandingan penggunaan
gaya bahasa dalam karya sastra khususnya pada masa tahun 1945 dan
tahun 1966-70an. Kedua, hasil penelitian perbandingan gaya bahasa yang
digunakan pada Angkatan 1945 dan Angkatan 1966-70an ini juga
diharapkan dapat menunjukkan perkembangan penggunaan gaya bahasa
dari masa ke masa. Ketiga, dalam bidang pengajaran, penelitian ini
diharapkan dapat digunakan sebagai alternatif bahan ajar sastra. Hasil
penelitian ini dapat digunakan dalam menjelaskan keterkaitan antara ilmu
bahasa dan ilmu sastra.
Adanya pergolakan sosial masyarakat dari dua angkatan tersebut
menimbulkan perbedaan dan persamaan penggunaan gaya bahasa karya
sastra dalam setiap angkatan tersebut. Hal ini menyebabkan terlihatnya
perbedaan dan persamaan ciri karya sastra pada Angkatan 1945 dan
Angkatan 1966-70an. Berdasarkan fenomena kedua angkatan yang telah
dipaparkan, peneliti tertarik untuk meneliti penggunaan gaya bahasa novel
Atheis karya Achdiat Karta Mihardja dan novel Telegram karya Putu
Wijaya.
13
B. Rumusan Masalah
Penelitian ini berfokus pada gaya bahasa. Dalam hal ini, penelitian
dicurahkan pada perbedaan dan persamaan gaya bahasa. Berdasarkan
latar belakang permasalahan yang telah diuraikan sebelumnya, masalah-
masalah yang menjadi fokus perhatian dalam penelitian ini sebagai
berikut.
1. Bagaimanakah perbedaan pewujudan gaya bahasa dalam novel
Atheis karya Achdiat Karta Mihardja dan novel Telegram karya Putu
Wijaya?
2. Bagaimanakah persamaan pewujudan gaya bahasa dalam novel
Atheis karya Achdiat Karta Mihardja dan novel Telegram karya Putu
Wijaya?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian pada rumusan masalah, tujuan dalam penelitian
ini, yaitu:
1. Menganalisis perbedaan pewujudan gaya bahasa dalam novel Atheis
karya Achdiat Karta Mihardja dan novel Telegram karya Putu Wijaya.
2. Menganalisis persamaan pewujudan gaya bahasa dalam novel Atheis
karya Achdiat Karta Mihardja dan novel Telegram karya Putu Wijaya.
D. Manfaat Penelitian
14
Manfaat yang diperoleh dalam penelitian ini, yaitu manfaat praktis
dan manfaat teoretis.
a. Manfaat Praktis
Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan
manfaat terhadap perkembangan ilmu sastra khususnya dalam
bidang stilistika. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi
bahan pengajaran apresiasi karya sastra di sekolah.
b. Manfaat Teoretis
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu bahan acuan
yang dapat bermanfaat untuk berbagai kepentingan khususnya di
bidang stilistika. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi
dokumentasi karakteristik dan perbandingan gaya bahasa dalam
karya sastra pada masa Angkatan 1945 dan Angkatan 1966-1970an.
15
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Hasil Penelitian
Penulis akan menguraikan beberapa penelitian yang berkaitan
dengan gaya bahasa yang telah dilakukan oleh para peneliti terdahulu dan
memberikan gambaran mengenai perbedaan penelitian analisis gaya
bahasa dalam novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja dan novel
Telegram karya Putu Wijaya. Adapun penelitian yang relevan adalah
sebagai berikut.
Rahmawati (2012) meneliti “Gaya Bahasa Andrea Hirata dalam
Dwilogi Padang Bulan: Kajian Stilistika. Hasil penelitiannya adalah
menunjukkan kekhasan Andrea Hirata yang terlihat pada kemampuannya
menggunakan pilihan leksikal dalam gaya bahasa berdasarkan struktur
kalimat. Andrea Hirata memperlihatkan kekhasannya dalam
mendeskripsikan secara detail latar maupun penokohan. Penggunaan
gaya bahasa berdasarkan ketidaklangsungan makna meliputi gaya
bahasa retoris dan gaya bahasa kiasan. Gaya bahasa kiasan yang
digunakan Andrea Hirata, antara lain perumpamaan (simile), alusio,
personofokasi, ironi, dan sinisme.
Idris (2012), “Katakteristik Bentuk Kebahasaan Mantra: Kajian
Stilistika”. Hasil penelitiannya adalah mantra bernuansa sakral dan
menemukan bentuk-bentuk gaya bahasa seperti (1) gaya bahasa
15
16
antiklimaks; (2) gaya bahasa klimaks; (3) gaya bahasa paralelisme; (4)
gaya bahasa repetisi (epizeuksis, tautotes, anaphora, epistropa, simploke,
mesodiplosis, epanalepsis, dan anadiplosis); (5) gaya bahasa aliterasi dan
asonansi; (6) gaya bahasa kiasan simile, metafora, personifikasi, dan
alusio.
Solihati (2013), “Diksi Puitis Kumpulan Cerpen Mengakar Ke Bumi
Menggapai Ke Langit Jilid 3 Karya Taufiq Ismail”. Tujuan penelitian
tersebut adalah untuk mengetahui diksi puitis yang terdapat dalam cerita
pendek karya Taufiq Ismail dengan asumsi adanya kemiripan antara
cerpen dan puisi karya Taufiq Ismail yang bernapaskan perjuangan
menumbangkan Orde Lama. Metode yang digunakan untuk mengkaji
cerpen adalah metode deskriptif analisis dengan bentuk kumpulan data
secara faktual yang terdapat dalam keempat cerpen yang ada dalam
himpunan tulisan “Mengakar Ke Bumi Menggapai Ke Langit” Jilid 3 karya
Taufiq Ismail. Hasil kajian menunjukkan bahwa cerpen-cerpen Taufiq
Ismail menggunakan berbagai bentuk majas secara variatif untuk
membangun karya cerpen yang utuh.
Listyorini (2013), “Karakteristik Gaya Bahasa Novel Atheis karya
Achdiat K. Mihardja dan Potensinya Sebagai Landasan Pengembangan
Bahan Ajar Bahasa Indonesia”. Tujuan penelitian tersebut adalah untuk
mendeskripsikan jenis dan karakteristik penggunaan gaya bahasa dalam
novel Atheis, serta penggunaan gaya bahasa sebagai landasan
pengembangan bahan ajar Bahasa Indonesia. Pendekatan tersebut
17
menggunakan pendekatan kualitatif dengan data penelitian berupa
paparan verbal tertulis yang mengandung gaya bahasa dalam novel
Atheis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam novel Atheis, gaya
bahasa yang digunakan adalah gaya bahasa simile, metafora,
personifikasi, hiperbola, metonimia, dan sinekdoke. Karakteristik gaya
bahasa yang digunakan untuk tema, tokoh dan penokohan, dan latar
banyak menggunakan gaya bahasa simile.
Dari hasil penelitian yang relevan di atas antara Rahmawati, Idris,
Solihati, dan Listyorini memiliki persamaan dan perbedaan dengan objek
yang akan diteliti dalam penelitian ini. Adapun persamaan penelitian
Rahmawati, Idris, dan Solihati dengan penelitian ini adalah sama-sama
mengkaji gaya bahasa. Adapun perbedaannya terletak pada objek
penelitian, Rahmawati berobjek sama tetapi pada novel masa reformasi,
Idris berobjek pada mantra sedangkan Solihati berobjek pada cerpen
pada masa Orde Baru. Adapun penelitian Listyorini, meskipun penelitian
tersebut mengkaji gaya bahasa dalam novel Atheis yang juga merupakan
objek kajian penelitian ini tetapi penelitian ini selain mencari karakteristik
gaya bahasa Atheis , juga akan melakukan perbandingan gaya bahasa
novel Atheis dengan novel lainnya untuk melihat bagaimana persamaan
dan perbedaan karakteristik gaya bahasa karya sastra Angkatan 1945 dan
Angkatan 1966-70an.
18
B. Tinjauan Teori dan Konsep
1. Teori Stilistika
Secara harfiah, stlistika berasal dari bahasa Inggris: stylistics, yang
berarti studi mengenai style „gaya bahasa‟ atau „bahasa bergaya‟. Adapun
secara istilah, stilistika (stylistics) adalah ilmu yang meneliti penggunaan
bahasa dan gaya bahasa di dalam karya sastra (Abrams, 1979: 165-167).
Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa stilistika adalah proses
menganalisis karya sastra dengan mengkaji unsur-unsur bahasa sebagai
medium karya sastra yang digunakan sastrawan sehingga terlihat
bagaimana perlakuan sastrawan terhadap bahasa dalam rangka
menuangkan gagasannya (subject matter).
Ratna (2009: 236) menyatakan bahwa stilistika merupakan ilmu yang
menyelidiki pemakaian bahasa dalam karya sastra dengan
mempertimbangkan aspek-aspek keindahannya. Bagi Simpson (2004: 2),
stilistika adalah sebuah metode interpretasi tekstual karya sastra yang
dipandang memiliki keunggulan dalam pemberdayaan bahasa.
Menurut Junus (1989: 17), hakikat stilistika adalah studi mengenai
pemakaian bahasa dalam karya sastra. Kridalaksana (2011: 157)
menyatakan bahwa stilistika (stilistics) adalah: (1) ilmu yang menyelidiki
bahasa yang dipergunakan dalam karya sastra; ilmu interdisipliner antara
linguistik dan kesusastraan; (2) penerapan linguistik pada penelitian gaya
bahasa.
19
Leech dan Short (1984: 13) menyatakan bahwa stilistika adalah studi
tentang wujud performansi kebahasaan, khususnya yang terdapat dalam
karya sastra. Menurut Chapman (1977: 15) stilistika bertujuan
menentukan seberapa jauh dan dalam hal apa bahasa yang digunakan
dalam sastra memperlihatkan penyimpangan, serta bagaimana pengarang
menggunakan tanda-tanda linguistik untuk mencapai efek khusus.
Stilistika sebagai ilmu yang mengkaji penggunaan bahasa dalam
karya sastra yang berorientasi linguistik dapat dilihat pada batasan
stilistika berikut; Pertama, stilistika merupakan bagian linguistik yang
menitikberatkan kepada variasi penggunaan bahasa dan kadangkala
memberikan perhatian kepada penggunaan bahasa yang kompleks dalam
karya sastra (Turner, 1977: 7), atau pendekatan linguistik yang digunakan
dalam studi teks-teks sastra (Leech dan Short, 1984: 183). Kedua,
stilistika dapat dikatakan sebagai studi yang menghubungkan antara
bentuk linguistik dengan fungsi sastra (Leech dan Short, 1984: 4). Ketiga,
stilistika adalah ilmu kajian gaya yang digunakan untuk menganalisis
karya sastra (Kerismas, 1990: 3). Keempat, stilistika mengkaji wacana
sastra dengan berorientasi linguistik dan merupakan pertalian antara
linguistik dan kritik sastra.
Menurut Darwis (2002: 91), stilistika terbagi dua, yaitu stilistika
linguistik dan stilistika sastra. Stilistika linguistik menekankan pada
pentingnya menyodorkan fakta-fakta kebahasaan bukan untuk menilai
segi estetika yang dikandungnya melainkan untuk menemukan ciri pribadi
20
atau ciri sosial penyair, sekurang-kurangnya menunjukkan adanya kontras
antara bahasa puisi dan bahasa sehari-hari. Adapun stilistika sastra
menekankan pada pentingnya pengungkapan nilai estetika karya sastra
berdasarkan fakta-fakta kebahasaan yang sengaja dibuat berbeda dari
bahasa yang berlaku umum dalam masyarakat.
Selain itu, Darwis (2009: 2) mengemukakan tentang stilistika
linguistik, yakni berusaha menyingkapkan fakta-fakta linguistik untuk
menjelaskan keberadaan dan keberbedaan penggunaan gaya bahasa
antara pengarang yang satu dan pengarang yang lain (serangkaian ciri
individual), antara kelompok pengarang yang satu dan kelompok
pengarang yang lain (serangkaian ciri kolektif). Baik secara sinkronik
maupun diakronik, atau menjelaskan perbedaan ragam bahasa karya
sastra dengan ragam bahasa karya nonsastra dan stilistika sastra
menjelaskan bagaimana menemukan fungsi sastra, yaitu memberikan
efek estetika (puitis).
Pada mulanya stilistika tidak dimaksudkan sebagai studi gaya sastra
melainkan untuk studi bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-
hari untuk memenuhi tujuan hidup. Pentingnya kajian linguistik dalam
karya sastra dikemukakan oleh Culler (1975: 55), bahwa tugas kajian
linguistik adalah memberikan bantuan dalam analisis sastra dengan
memaparkan perlengkapan bahasa yang dimanfaatkan di dalam teks
sastra dan diorganisasikan oleh pengarang.
21
Darwis (2009) dalam sebuah artikel jurnal yang berjudul “Kelainan
Ketatabahasaan dalam Puisi Indonesia: Kajian Stilistika” telah
mengungkap bahwa kelainan-kelainan ketatabahasaan itu merupakan
suatu strategi di dalam, dan/atau kalau dapat menghasilkan rima yang
sesuai. Dengan cara demikianlah, bahasa puisi itu memiliki karakteristik
tersendiri, berkontras dengan ragam bahasa nonsastra (bahasa publik),
dan tidak terkesan klise. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa
kelainan ketatabahasaan tersebut ternyata berpola, yang berarti dilakukan
sedemikian rupa sebagai realisasi kesanggupan ber(tata) bahasa, bukan
akibat kelainan ataupun ketidakpedulian penyair terhadap kaidah-kaidah
tata bahasa Indonesia. Salah satu pola yang pada penelitiannya ini
adalah pola pelesapan yakni dilesapkannya afiks-afiks tertentu yang
biasanya terdapat dalam penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari. Afiks-
afiks yang kerap dilesapkan, yaitu sufiks –I dan sufiks –kan.
Kajian Stilistika sebenarnya dapat ditujukan terhadap berbagai
ragam penggunaan bahasa, tidak terbatas pada sastra saja tetapi
biasanya stilistika lebih sering dikaitkan dengan bahasa sastra. Stilistika
dapat dianggap menjembatani kritik sastra di satu pihak dan linguistik di
pihak lain karena stilistika mengkaji wacana sastra dengan orientasi
linguistik. Stilistika merupakan suatu ilmu yang di dalamnya juga
mempelajari kata-kata berjiwa dan gaya bahasa yang terdapat dalam
suatu karya sastra.
22
2. Gaya Bahasa
a. Pengertian Gaya Bahasa
Beberapa pakar linguistik telah mencoba memberikan batasan
mengenai gaya bahasa. Menurut Ahmadi (1990: 170) “gaya bahasa
merupakan penggunaan bahasa yang istimewa, dan tidak dapat
dipisahkan dari cara atau teknik seorang pengarang dalam merefleksikan
(memantulkan, mencerminkan) pengalaman, nilai-nilai kualitas kesadaran
pikiran dan pandangan yang istimewa atau khusus”. Ahmadi membagi
gaya bahasa menjadi dua, yaitu gaya bahasa penekanan yang terdiri dari
25 jenis gaya bahasa dan gaya bahasa perbandingan yang terdiri dari
empat belas jenis. Lain halnya menurut Keraf (2010: 113) “gaya bahasa
merupakan cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas
yang memperhatikan ciri dan kepribadian penulis (pemakai bahasa)”.
Menurut Kridalaksana (2011: 76) gaya bahasa adalah pemanfaatan
atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis serta
pemakaian ragam tertentu. Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2002: 276) gaya
bahasa (style) adalah suatu hal yang pada umumnya tidak lagi
mengandung sifat kontroversional, menyaran pada pengertian cara
penggunaan bahasa dalam konteks tertentu, oleh pengarang tertentu dan
sebagainya. Menurut Jabrohim (2000: 102), gaya bahasa merupakan
penggunaan bahasa sebagai media komunikasi secara khusus, yaitu
penggunaan bahasa secara bergaya dengan tujuan ekspresifitas
23
pengucapan. Gaya bahasa meliputi seluruh unsur bahasa, yaitu intonasi,
bunyi, kata, dan kalimat.
Sementara itu, Sudaryat (1986: 135) mengatakan bahwa gaya
bahasa adalah pemakaian kata-kata kiasan dan perbandingan yang tepat
untuk melukiskan sesuatu maksud untuk membentuk plastik bahasa.
Plastik bahasa adalah daya cipta pengarang dalam membuat cipta sastra
dengan mengemukakan pemilihan kata yang tepat memungkinkan tenaga
yang sesuai dengan buah pikiran dan perasaan yag terkandung dalam
karya itu.
Sejalan dengan beberapa pendapat di atas, Luxemburg dkk. (1984:
105) menyatakan gaya bahasa adalah segala sesuatu yang memberikan
ciri khas kepada sebuah teks atau menjadikan teks itu sebagai individu
bila dibandingkan dengan teks-teks lain. Hartoko dan Rahmanto (1986:
137) mengemukakan bahwa gaya bahasa adalah cara yang khas dipakai
seseorang untuk mengungkapkan diri (gaya pribadi). Cara
mengungkapkan tersebut dapat berupa setiap aspek bahasa, pemilihan
kata-kata, penggunaan kiasan, susunan kalimat, nada, dan sebagainya.
Menurut Keraf (2010: 113), gaya bahasa adalah cara mengungkapkan
pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan
kepribadian penulis (pemakai bahasa).
Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa
secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai
bahasa). Sebuah gaya bahasa yang baik harus mengandung tiga unsur,
24
yaitu kejujuran, sopan santun, dan menarik (Tarigan, 1985: 5).
Sedangkan, menurut Pradopo (1993: 265) gaya bahasa adalah
pemanfaatan atas kekayaan bahasa seseorang dalam bertutur atau
menulis, lebih khusus adalah pemakaian ragam bahasa tertentu untuk
memperoleh efek tertentu, yaitu efek estetis yang menghasilkan nilai seni.
Leech dan Short (1993: 31) menyimpulkan definisi gaya sebagai
berikut; (1) gaya adalah cara bagaimana bahasa digunakan, yaitu
tergolong kepada parole bukan kepada langue, (2) gaya terdiri dari pilihan
yang dibuat oleh perlakuan bahasa, dan (3) sebuah gaya dibatasi oleh
wilayah penggunaan bahasa (misalnya pilihan yang dibuat oleh
pengarang tertentu, dalam genre tertentu, atau dalam teks tertentu).
Dari beberapa pendapat atau teori mengenai gaya bahasa yang
dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa adalah gaya
dalam bertutur ataupun menulis dengan menggunakan kata-kata kias
yang tidak memperlihatkan makna secara langsung tetapi secara tidak
langsung.
Adapun beberapa pengertian gaya menurut Enkvis (dalam Junus,
1989: 5), yaitu; (1) gaya sebagai bungkusan, (2) gaya sebagai pilihan
kemungkinan, (3) gaya sebagai serangkaian ciri pribadi, (4) gaya sebagai
penyimpangan, (5) gaya sebagai sekumpulan ciri-ciri kolektif, (6) gaya
sebagai hubungan antara satuan bahasa yang dinyatakan dalam teks
yang lebih luas dari pada kalimat. Penjelasan tentang gaya menurut
Enkvis tersebut akan diuraikan berikut.
25
(1) Gaya sebagai Bungkusan
Gaya yang membungkus inti pemikiran atau pernyataan yang telah
ada sebelumnya; menyarankan bahwa pengertian gaya ini bermula dengan
memisahkan:
(a) pikiran yang diucapkan, dan
(b) bungkusan atau cara menyampaikannya
Jadi, disitu ada hubungan antara signifiant (penanda) dan signifiaé
(petanda). Misal, lebih dahulu ada yang ditanda berupa dan pemuda
berdatangan untuk memikat gadis itu. Kemudian, pikiran sebagai petanda
itu dibungkus dengan pikiran sebagai penandanya dan kumbang
berdatangan untuk menghisap madu bunga itu (pembungkus). Kalimat
pembungkusnya tampak lebih indah dari pikiran yang diungkapkan (Junus,
1989: 6).
(2) Gaya sebagai Pilihan Kemungkinan
Pengertian ini menyarankan pernyataan umum (common sense),
dikatakan gaya melibatkan pilihan. Tanpa pilihan tidak mungkin ada gaya.
Misalnya, ada beberapa pilihan untuk menyatakan sepasang kekasih
dengan sepasang merpati, merpati dua sejoli, terbang dua sekawan
(Junus, 1989: 6).
(3) Gaya sebagai Serangkaian Ciri Pribadi
Pengertian ini menyarankan pernyataan seperti yang dikemukakan
oleh Buffon “le style, c’est l’ homme meme” gaya adalah orang (penulis)
26
itu sendiri. Dengan demikian, seorang penulis akan menurunkan tanda
tangannya pada setiap tulisannya (Junus, 1989: 7).
(4) Gaya sebagai Penyimpangan
Gaya bahasa itu merupakan penyimpangan dari norma dan bahwa
ada alasannya mengapa penyimpangan-penyimpangan demikian itu
terjadi (Junus, 1989: 7). Gaya dianggap sebagai pemakaian bahasa yang
“berbeda” dengan pemakaian bahasa biasa. Contoh bait sajak Chairil
Anwar,Ini muka penuh luka, Siapa punya?. Ucapan bahasa biasa akan
berupa siapakah yang mempunyai muka yang penuh luka ini?.
(5) Gaya sebagai Sekumpulan Ciri-ciri Kolektif
Sekumpulan ciri-ciri kolektif ini menyarankan tidak ada gaya.
Semuanya sama saja dengan pemakaian bahasa biasa. Menurut Junus
(1989: 8), pengertian ciri kolektif atau gaya sosial tidak berhubungan
dengan konsep tidak ada gaya. Hanya semua penulis dipahami menulis
dengan menggunakan gaya yang sama. Misalnya, hanya ada kosakata
yang hanya digunakan dalam karya sastra, penggunaan metafora atau
metonimia “dianggap” tidak ada pada pemakaian bahasa biasa, dan
sebagainya.
(6) Gaya sebagai Hubungan antara Satuan Bahasa yang Dinyatakan
dalam Teks yang Lebih Luas daripada Kalimat.
Berhubungan dengan gaya dan wacana. Pengertian wacana
menurut Junus adalah pengucapan bahasa yang melebihi satu kalimat.
Dengan demikian, wacana lebih dekat kepada retorik. Wacana berbeda
dengan teks, dipahami terikat pada unsur bahasa. Teks lebih luas
27
daripada hanya pemakaian unsur bahasa. Mungkin meliputi gambar
ilustrasi atau informasi yang mungkin tidak bersifat bahasa. Wacana juga
berbeda dari teks, mempunyai hubungan dengan genre. Mungkin orang
berbicara tentang wacana puisi atau wacana novel. Wacana puisi
mempunyai cara penulisan yang berbeda dengan wacana prosa (Junus,
1989: 9).
b. Jenis-jenis Gaya Bahasa
Pada hakekatnya, stilistika atau stile merupakan teknik pemilihan
ungkapan kebahasaan yang dirasa dapat mewakili sesuatu yang akan
disampaikan atau diungkapkan. Kajian stilistika ini berguna untuk dapat
memahami dan mencermati hal-hal yang menjadi penandaan dalam karya
sastra sekaligus dapat mengungkap ekspresif pengarang. Aminuddin
(1995: 247) membaginya ke dalam bentuk tiga analisis, yaitu (1) analisis
tanda baca yang digunakan pengarang, (2) analisis hubungan antara
sistem tanda dengan yang lainnya, dan (3) analisis kemungkinan
terjemahan suatu tanda yang ditentukan serta kemungkinan bentuk
ekspresi yang dikandungnya.
Gaya bahasa terbagi menjadi 2 jenis, yakni figure of thought atau
tuturan yang terkait dengan pengolahan dan pembayangan gagasan.
Rethorical figure atau tuturan figuratif yang terkait dengan penataan dan
pengurutan kata-kata dalam konstruksi kalimat (Aminudin, 1995: 249).
Gaya bahasa merujuk pada tuturan figuratif yang terkait dengan
28
pengolahan dan pembayangan gagasan. Pemajasan (figure of thought)
merupakan teknik untuk pengungkapan bahasa, penggayabahasaan,
yang maknanya tidak merujuk pada makna harfiah kata-kata yang
mendukungnya.
Selanjutnya Keraf (2010: 115) membagi jenis-jenis gaya bahasa
sebagai berikut:
(1) Gaya Bahasa Berdasarkan Pilihan Kata
Dalam bahasa standar (bahasa baku) dapatlah dibedakan: gaya
bahasa resmi (bukan bahasa resmi), gaya bahasa tak resmi, dan gaya
bahasa percakapan.
(a) Gaya Bahasa Resmi
Gaya bahasa resmi adalah gaya dalam bentuknya yang lengkap,
gaya yang dipergunakan dalam kesempatan-kesempatan resmi, gaya
yang dipergunakan oleh mereka yang diharapkan mempergunakannya
dengan baik dan terpelihara. Gaya bahasa resmi adalah bahasa dengan
gaya tulisan dalam tingkat tertinggi, walaupun sering dipergunakan juga
dalam pidato-pidato umum yang bersifat seremonial (Keraf, 2010: 117).
(b) Gaya Bahasa Tak Resmi
Gaya bahasa tak resmi juga merupakan gaya bahasa yang
dipergunakan dalam bahasa standar, khususnya dalam kesempatan-
kesempatan yang tidak formal atau kurang formal. Gaya ini biasanya
dipergunakan dalam karya-karya tulis, buku pegangan, artikel-artikel
29
mingguan atau bulanan yang baik, dalam perkuliahan, editorial, dan
sebagainya (Keraf, 2010: 118).
(c) Gaya Bahasa Percakapan
Dalam gaya bahasa ini, pilihan katanya adalah kata-kata populer
dan kata-kata percakapan. Namun di sini harus ditambahkan segi-segi
morfologis dan sintaksis, yang secara bersama-sama membentuk gaya
bahasa percakapan ini (Keraf, 2010: 120).
(2) Gaya Bahasa Bedasarkan Nada
Gaya bahasa dilihat dari segi nada yang terkandung dalam sebuah
wacana, dibagi atas: gaya yang sederhana, gaya mulia dan bertenaga,
serta gaya menengah.
a) Gaya Sederhana
Gaya ini biasanya cocok untuk memberi intruksi, perintah,
pelajaran, perkuliahan, dan sejenisnya. Sebab itu, untuk mempergunakan
gaya ini secara efektif, penulis harus memiliki kepandaian dan
pengetahuan yang cukup (Keraf, 2010: 121).
b) Gaya Mulya dan Bertenaga
Gaya ini penuh dengan vitalitas dan biasanya dipergunakan untuk
menggerakkan sesuatu. Menggerakkan sesuatu tidak saja dengan
mempergunakan tenaga pembicara tetapi juga dapat mempergunakan
nada keagungan dan kemuliaan. Nada yang agung dan mulia akan
sanggup pula menggerakan emosi pendengar (Keraf, 2010: 122).
30
c) Gaya Menengah
Gaya menengah adalah gaya yang diarahkan kepada usaha untuk
menimbulkan suasana senang dan damai karena tujuannya adalah
menciptakan suasana senang dan damai, maka nadanya juga bersifat
lemah-lembut, penuh kasih sayang, dan mengandung humor yang sehat
(Keraf, 2010: 122).
(3) Gaya Bahasa Berdasarkan Struktur Kalimat
Gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat terdiri dari gaya bahasa
klimaks, antiklimaks, paralelisme, antithesis, dan repetisi.
a) Klimaks
Klimaks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung urutan-
urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkat kepentingannya dari
gagasan-gagasan sebelumnya (Keraf, 2010: 124). Contoh sebagai
berikut:
a. Dalam dunia perguruan tinggi yang dicengkram rasa takut dan rasa
rendah diri, tidak dapat diharapkan pembaharuan, kebanggaan
akan hasil-hasil pemikiran yang obyektif atau keberanian untuk
mengungkapkan pendapat secara bebas.
b. Kesengsaraan membuahkan kesabaran, kesabaran pengalaman,
dan pengalaman harapan.
b) Antiklimaks
Antiklimaks dihasilkan oleh kalimat yang berstruktur mengendur.
Antiklimaks sebagai gaya bahasa merupakan suatu acuan yang gagasan-
gagasannya diurutkan dari yang terpenting berturut-turut ke gagasan yang
31
kurang penting. Antiklimaks sering kurang efektif karena gagasan yang
penting ditempatkan pada awal kalimat sehingga pembaca atau
pendengar tidak lagi memberi perhatian pada bagian-bagian berikutnya
dalam kalimat itu (Keraf, 2010: 125), misalnya :
Ketua pengadilan negeri itu adalah seorang yang kaya,
pendiam, dan tidak terkenal namanya (mengandung ironi).
c) Paralelisme
Pararelisme merupakan suatu gaya yang berusaha mencapai
kesejajaran dalam pemakaian kata-kata yang menduduki fungsi
pragmatikal yang sama dalam sebuah kalimat atau klausa (Keraf, 2010:
126). Contoh sebagai berikut:
a. Kedengarannya memang aneh, dia merasa kesepian di
tengah kota metropolitan ini.
b. Negara kita ini Negara hukum, semua yang salah harus
ditindak tegas tanpa harus pandang bulu.
d) Antitetis
Antitetis adalah sebuah gaya bahasa yang mengandung gagasan-
gagasan yang bertentangan, dengan memergunakan kata-kata atau
kelompok kata yang berlawanan (Keraf, 2010: 126), misalnya:
Mereka sudah kehilangan banyak dari harta bendanya, tetapi
mereka juga telah banyak memeroleh keuntungan
daripadanya.
e) Repitisi
Repitisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian
kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah
konteks yang sesuai (Keraf, 2010: 127). Repetisi terbagi lagi menjadi
32
beberapa gaya yaitu epizeukis, tautotes, anafora, epistrofa, simploke,
mesodiplosis, epanalipsisi, dan anadiplosis.
(4) Gaya Bahasa Berdasarkan Langsung Tidaknya Makna
Berdasarkan langsung tidaknya makna yang terkandung dalam
sebuah kata atau kelompok kata maka gaya bahasa dapat dibedakan atas
dua bagian, yakni gaya langsung atau gaya bahasa retoris dan gaya
bahasa kiasan.
a) Gaya Bahasa Retoris
Gaya bahasa retoris harus diartikan menurut nilai lahirnya. Tidak
ada usaha menyembunyikan sesuatu di dalamnya (Keraf, 2010: 129).
Gaya bahasa retoris terdiri dari aliterasi, asonansi, anastrof, apofasis atau
preterisio, apostrof, asindeton, polisondeton, kiasmus, ellipsis, eufemisme,
litotes, histeron, proteron, pleonasme dan tautologi, perifrasis, prolepsis
atau antisipasi, erotesis atau pertanyaan retoris, silepsis dan zeugma,
koreksio atau epanortosis, hiperbola, paradoks, dan oksimoron.
(1) Aliterasi
Aliterasi adalah gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan
yang sama. Biasanya digunakan dalam puisi dan prosa untuk perhiasan
atau untuk penekanan (Keraf, 2010: 130).
Contoh: Takut titik tumpah
Pada contoh ini perulangan konsonan ditunjukan sebagai perhiasan atau
untuk memperoleh efek keindahan.
33
(2) Asonansi
Gaya bahasa yang berwujud perulangan bunyi vokal yang sama
disebut asonansi. Biasanya dipergunakan dalam puisi, kadang-kadang
juga dalam prosa untuk memperoleh efek penekanan atau sekedar
keindahan (Keraf, 2010: 130).
Contoh : Ini muka penuh luka siapa punya
Perulangan bentuk vokal pada contoh ini menimbulkan efek keindahan.
(3) Anastrof (Inversi)
Anastrof (Inversi) adalah gaya retoris yang diperoleh dengan
pembalikan susunan kata yang biasa dalam kalimat. Gaya bahasa ini
dipergunakan apabila predikat kalimat hendak lebih ditonjolkan atau
dipentingkan dari pada subjeknya sehingga predikat terletak di depan
subjeknya (Keraf, 2010: 130).
Contoh : Besar sekali gajinya.
Yang hendak lebih ditonjolkan dalam kalimat pada contoh ini adalah
besarnya gaji.
(4) Apofasis (Preterisio)
Sebuah gaya dimana pengarang menegaskan sesuatu tetapi
tampaknya menyangkal atau menyatakan sebaliknya disebut apofasis
(preterisio) (Keraf, 2010: 130).
Contoh : Saya tidak mau mengatakan dalam rapat ini bahwa Saudara
telah menggelapkan uang jutaan rupiah.
Maksud dari dari contoh ini seolah-olah menutupi kesalahan orang lain
tetapi pada kenyataannya mengungkap kejahatan orang itu.
34
(5) Apostrof
Apostrof adalah gaya bahasa yang terbentuk sebuah amanat yang
disampaikan kepada sesuatu yang tidak hadir. Makna apostrof ialah
berpaling atau berputar.
Seorang pembicara tiba-tiba mengarahkan ucapannya kepada
sesuatu yang tidak hadir, kepada mereka yang sudah meninggal, atau
kepada barang atau objek khayalan sehingga tampaknya ia tidak
berbicara lagi pada hadirin (Keraf, 2010: 131).
Contoh :
Hai kamu dewa-dewa yang berada di surga, datanglah dan
bebaskanlah kami dari belenggu penindasan ini!
Pembicara mengalihkan ucapannya kepada sesuatu yang tidak hadir
karena tidak mungkin pembicara berbicara di depan dewa.
(6) Asindeton
Asindeton adalah penghilangan konjungsi (kata sambung) dalam
frasa, klausa, atau kalimat, misalnya dalam kalimat “saya datang, saya
lihat, saya menang”. Gaya bahasa asindeton bersifat padat dan mampat;
kata-kata yang sederajat berurutan, atau klausa-klausa yang sederajat,
tidak dihubungkan dengan kata sambung (Keraf, 2010: 131).
Contoh:
Kita berjuang dengan hati panas, kepala dingin.
Kata sambung yang dihilangkan dalam contoh ini adalah tetapi.
35
(7) Polisindenton
Polisindenton adalah suatu gaya yang merupakan kebalikan dari
asindenton. Beberapa kata, frasa, atau klausa yang berurutan
dihubungkan satu sama lain dengan kata-kata sambung (Keraf, 2010:
131).
Contoh:
Setelah pelajaran usai, maka berkemas-kemaslah murid-
murid hendak pulang, karena jam pelajaran terakhir telah
habis, lalu mereka berdoa dipimpin ketua kelas.
(8) Kiasmus
Kiasmus adalah gaya bahasa yang mengandung dua bagian, baik
frasa maupun klausa yang sifatnya berimbang dan dipertentangkan satu
sama lain. Tetapi, susunan frasa atau klausanya itu terbalik bila
dibandingkan dangan frasa atau klausa lainya (Keraf, 2010: 132).
Contoh:
a. Uang itu sudah kutabung di bank, tak ada lagi uang di
rumah.
b. Orang tuanya sudah tiada, berantakanlah kehidupannya.
(9) Elipsis
Elipsis merupakan gaya bahasa dengan menghilangkan satu kata
atau lebih yang dengan mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh
pembaca atau pendengar (Keraf, 2010: 132).
Contoh:
Masihkah kau tak percaya bahwa dari segi fisik engkau tak
apa-apa, badanmu sehat; tetapi psikis.
36
(10) Eufimismus
Eufimismus adalah gaya bahasa yang menggunakan sepatah atau
sekelompok kata untuk menggantikan kata lain dengan maksud supaya
terdengar lebih sopan, alat untuk menghindari diri dari yang dianggap bisa
menyinggung perasaan orang lain. Gaya bahasa ini disebut juga gaya
bahasa pelembut (Keraf, 2010: 132).
Contoh :
Karna selalu mendapat tekanan jiwa, ia berubah akal.
Maksud dari contoh ini untuk melembutkan kata gila
(11) Litotes
Gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan
tujuan merendahkan diri disebut litotes. Sesuatu hal dinyatakan kurang
dari keadaan sebenarnya atau suatu pikiran dinyatakan dengan
menyangkal lawan katanya (Keraf, 2010: 132).
Contoh :
Kedudukan saya ini tidak ada artinya sama sekali. Saya tidak
akan merasa bahagia bila mendapat warisan Satu milyar
rupiah.
(12) Histeron Proteron
Histeron Proteron adadah gaya bahasa yang merupakan kebalikan
dari sesuatu yang logis atau kebalikan dari urutan yang wajar, misalnya,
menempatkan sesuatu yang terjadi kemudian pada awal peristiwa. Gaya
bahasa ini juga disebut hiperbaton (Keraf, 2010: 133).
37
Contoh:
Kereta melaju dengan cepat di depan kuda yang
menariknya.
Kalimat pada contoh ini sangat tidak logis sebab kereta letaknya di
belakang kuda.
(13) Pleonasme
Pemakaian kata-kata lebih dari pada yang diperlukan dinamakan
gaya bahasa pleonasme atau disebut juga gaya bahasa penegasan.
Pleonasme berasal dari kata pleonazein yang berarti 'lebih banyak dari
yang diperlukan atau berkelimpahan‟ (Keraf, 2010: 133).
Contoh:
Dia naik ke atas.
Kata ke atas sebenarnya tidak perlu lagi dipakai karena kerja naik
tujuannya selalu ke atas. Jadi, tidak ada orang yang naik ke bawah.
(14) Tautologi
Tautologi adalah gaya bahasa penegasan dengan mengulang
beberapa kali sepatah kata dalam sebuah kalimat. Dapat pula
mempergunakan beberapa kata yang bersinonim berturut-turut dalam
sebuah kalimat sehingga disebut gaya bahasa sinonim karena
menggunakan kata-kata yang bersinonim (Keraf, 2010: 134).
Contoh:
Sungai ini terlalu amat dalam sekali.
Kata terlalu, amat, dan sekali bersinonim.
38
(15) Perifrasis
Perifrasis atau perifrase adalah gaya bahasa penguraian atau
pengungkapan yang panjang sebagai pengganti pengungkapan yang
lebih pendek. Sepatah kata diganti dengan serangkai kata yang
mengandung arti yang sama dengan kata yang diganti itu (Keraf, 2010:
134).
Contoh:
Ketika sang surya keluar dari peraduannya berangkatlah
kami.
Kata ketika sang surya keluar dari peraduannya penguraian dari matahari
terbit.
(16) Prolepsis atau Antisipasi
Prolepsis atau Antisipasi adalah gaya bahasa yang
mempergunakan lebih dahulu kata-kata atau sebuah kata sebelum
peristiwa atau gagasan yang sebenarnya terjadi. Misalnya dalam
melukiskan tentang terjadinya suatu kecelakaan pesawat terbang,
sebelum sampai pada peristiwa kecelakaan itu sendiri, penulis sudah
mempergunakan kata pesawat yang sial itu. Padahal kesialan baru terjadi
kemudian (Keraf, 2010: 134).
Contoh:
Pesawat yang sial itu sempat mendarat sebelum akhirnya
meledak.
39
(17) Erotesis atau Pertanyaan Retoris
Erotesis adalah semacam pertanyaan yang dipergunakan dalam
pidato atau tulisan dengan tujuan untuk mencapai efek yang lebih
mendalam dan penekanan yang wajar dan sama sekali tidak
menghendaki adanya suatu jawaban. Dalam pertanyaan retoris terdapat
asumsi bahwa hanya ada satu jawaban yang mungkin (Keraf, 2010: 134).
Contoh :
Siapa pula yang mau ditindas terus menerus?
Hanya ada satu jawaban yang mungkin atas pertanyaan tersebut, yaitu
tidak ada.
(18) Silepsis
Silepsis adalah gaya dimana orang mempergunakan dua konstruksi
rapatan dengan menghubungkan sebuah kata dengan dua kata lain yang
sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan dengan kata
pertama. Konstruksi yang dipergunakan itu gramatikal benar tetapi secara
semantik tidak benar (Keraf, 2010: 135).
Contoh :
Ia sudah kehilangan topi dan semangatnya.
Konstruksi yang lengkap adalah kehilangan topi dan kehilangan
semangat.
(19) Zeugma
Zeugma adalah gaya dimana orang mempergunakan dua
konstruksi ratapan dengan menghubungkan sebuah kata dengan dua kata
40
lain yang sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan dengan
kata pertama. Adapun, kata yang dipakai untuk membawahi kedua kata
berikutnya, sebenarnya hanya cocok untuk salah satu dari pada (baik
secara logis maupun gramatikal) (Keraf, 2010: 135).
Contoh:
Dengan membelalakan mata dan telinganya, ia mengusir
orang itu.
Kata yang cocok untuk kalimat tersebut sebenarnya hanya membelalakan
mata.
(20) Koreksio atau Epanortosis
Koreksio adalah suatu gaya yang berwujud, mula-mula
menegaskan sesuatu, tetapi kemudian memperbaikinya (Keraf, 2010:
135).
Contoh:
Dia adalah kekasihku, eh bukan, kakakku.
(21) Hiperbola
Hiperbola adalah gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang
berlebihan dengan membesar-besarkan suatu hal (Keraf, 2010: 136).
Contoh:
Larinya secepat kilat.
Terlalu berlebihan mengatakan ada orang yang berlari secepat kilat
karena tidak mungkin hal itu terjadi.
41
(22) Paradoks
Paradoks adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan
dengan pengungkapan sesuatu seolah-olah berlawanan tetapi ada
logikanya. Paradoks dapat juga berarti semua hal yang menarik perhatian
karena kebenarannya (Keraf, 2010: 136).
Contoh:
Di kota yang ramai ia merasa kesepian.
Pada kenyataannya memang banyak orang yang jiwanya kosong bisa
merasa kesepian di tengah keramaian.
(23) Oksimoron
Suatu acuan yang berusaha untuk menggabungkan kata-kata untuk
mencapai efek bertentangan disebut oksimoron. Dapat juga dikatakan
bahwa oksimoron adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan
dengan mempergunakan kata-kata yang berlawanan dalam frasa yang
sama, dan sebab itu sifatnya lebih padat dan tajam dari paradoks (Keraf,
2010: 136).
Contoh:
Keramahtamahan yang bengis.
Jelas adanya suatu pertentangan yang tajam antara dua kata pada contoh
tersebut.
b) Gaya Bahasa Kiasan
Gaya bahasa kiasan ialah gaya yang dilihat dari segi makna tidak
dapat ditafsirkan sesuai dengan kata-kata yang membentuknya. Makna
42
harus dicari di luar rangkaian kata atau kalimatnya. Gaya bahasa kiasan
terdiri atas:
(1) Persamaan atau Simile
Simile adalah gaya bahasa yang menyatakan perbandingan yang
bersifat eksplisit, yaitu menggunakan alat formal untuk menyatakan
hubungan, seperti: bagai, laksana, ibarat, dan sebagainya. Simile
langsung menyatakan sesuai sama dengan kata hal lain (Keraf, 2010:
138).
Contoh:
Bibirnya bagai delima merekah.
Kadang-kadang diperoleh persamaan tanpa menyebut objek pertama
yang mau dibandingkan.
Contoh:
Bagai duri dalam daging.
Objek yang mau di bandingkan tanpa di sebutkan dalam contoh tersebut
adalah pedih.
(2) Metafora
Gaya bahasa yang merupakan kiasan persamaan antara benda
yang diganti namanya dengan benda yang menggantinya disebut
metafora. Kedua benda yang diperbandingkan itu mempunyai persamaan
sifat (Keraf, 2010: 139).
Contoh:
Matahari adalah raja siang.
43
Raja mempunyai sifat berkuasa. Sifat kuasa itu juga dimiliki oleh matahari.
Kalau matahari tidak ada, maka kehidupan pun tiada. Itulah sebabnya
matahari yang bersinar pada waktu siang diumpamakan sebagai raja
siang.
(3) Alegori
Alegori adalah suatu cerita singkat yang mengandung kiasan. Gaya
bahasa alegori melukiskan sesuatu dengan cara membandingkan sesuatu
yang lain secara utuh (Keraf, 2010: 140).
Contoh :
"aduhai sungguh malang nasib ku", kata kumbang itu seraya
berlinang-linanglah airmatanya. "Telah lama aku terbang
melayang-layang, mengelilingi kuntum melati yang kecil
molek dan menyerbak wangi itu. Hendak hinggap aku tidak
berani, takut kalau-kalau badan tidak diterima".
Yang dimaksud kumbang dalam contoh ini adalah pemuda yang dimabuk
cinta dan kuntum melati adalah Juwita yang menjadi idamannya.
(4) Parabel
Parabel adalah suatu istilah yang dipergunakan untuk menyebut
cerita-cerita khayal dalam kitab suci yang bersifat alegoris untuk
menyampaikan kebenaran moral atau spiritual (Keraf, 2010: 140).
Contoh: Cerita Ramayana yang didalamnya tersirat pesan bahwa yang
benar akan terbukti kebenarannya.
(5) Fabel
Fabel adalah suatu metafora berbentuk cerita mengenai dunia
binatang dimana binatang-binatang bahkan makhluk-makhluk yang tidak
44
bernyawa bertindak seolah-olah sebagai manusia. Tujuan fabel ialah
menyampaikan ajaran moral atau budi pekerti (Keraf, 2010: 140).
Contoh: Cerita "Si Kancil". dalam cerita si Kancil, binatang ini digambarkan
bertindak seperti manusia. Ajaran moral yang disampaikan dalam cerita si
Kancil adalah agar manusia berlaku cerdik dan jujur.
(6) Personifikasi atau Prosopopoeia
Personifikasi adalah gaya bahasa yang melukiskan benda-benda
mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah hidup, dapat
bergerak. Personifikasi disebut juga penginsanan atau pengorangan
(Keraf, 2010: 140).
Contoh:
Nyiur melambai di tepi pantai.
Kata nyiur melambai pada contoh ini adalah personifikasi karena hanya
manusia yang bisa melambai. Jadi, di sini pohon nyiur diumpamakan
manusia.
(7) Alusio
Gaya bahasa yang mengias dengan mempergunakan peribahasa
atau ungkapan-ungkapan yang sudah lazim ataupun menggunakan
sampiran pantun yang isinya sudah umum diketahui disebut alusio (Keraf,
2010: 141).
Contoh:
a. Jangan seperti kura-kura dalam perahu. (maksudnya,
pura-pura tidak tahu).
45
b. Keadaan ku seperti orang makan buah simalakama,
jika dimakan ibu mati tidak dimakan bapak mati.
(pilihan yang serba sulit dan tidak menguntungkan).
(8) Eponim
Eponim adalah melukiskan sesuatu dengan cara mengambil sifat
yang dimiliki oleh nama-nama yang telah terkenal (Keraf, 2010: 141).
Contoh:
Maradona kita telah memasuki lapangan.
Maradona dalam contoh ini adalah nama pemain sepak bola terkenal
yang digunakan untuk mengiaskan orang yang ahli sepak bola.
(9) Epitet
Epitet adalah semacam acuan yang menyatakan satu sifat atau ciri
yang khusus dari suatu orang atau suatu hal. Keterangan itu merupakan
suatu frasa deskriptif yang menjelaskan atau menggantikan nama
seseorang atau suatu benda (Keraf, 2010: 141).
Contoh:
Lonceng pagi untuk ayam jantan.
Ayam jantan berkokok pada pagi hari. kokokan ayam jantan di ibaratkan
sebagai lonceng.
(10) Sinekdoke
Sinekdoke berasal dari bahasa yunani synekdechesthai yang
berarti menerima bersama-sama. Sinekdoke adalah gaya bahasa yang
mempergunakan sebagian dari suatu hal untuk menyatakan keseluruhan
46
(pars pro toto) atau mempergunakan keseluruhan untuk menyatakan
sebagian (totum pro parte) (Keraf, 2010: 142).
Contoh:
Setiap kepala dikenakan sumbangan seratus rupiah. (pars
prototo)
Yang dimaksud dengan kepala adalah orang dengan seluruh anggota
badan, bukan hanya kepalanya saja.
Contoh:
Pertandingan sepak bola itu berakhir dengan kemenangan
medan. (totum pro parte)
Yang dimaksud sebenarnya hanya kemenangan kesebelasan pemain dari
medan.
(11) Metonimia
Metonimia adalah gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata
untuk menyatakan suatu hal lain, karena mempunyai pertalian yang
sangat dekat (Keraf, 2010: 142).
Contoh:
Bapak sedang mengisap jarum..
Menghisap jarum ialah mengisap rokok merek jarum. nama jarum
berasoosiasi denagn rokok.
(12) Antonomasia
Antonomasia merupakan sebuah bentuk khusus dari sinekdoke
yang berwujud penggunaan sebuah epiteeta (julukan) untuk
47
menggantikan nama diri, atau gelar resmi, atau jabatan untuk
menggantikan nama diri (Keraf, 2010: 142).
Contoh :
Si kurus itu sedang makan.
Kata si kurus bukan nama sebenarnya melainkan panggilan pada
seseorang yang memiliki tubuh kurus.
(13) Hipalase
Hipalase adalah semacam gaya bahasa di mana sebuah kata
tertentu dipergunakan untuk menerangkan sebuah kata yang seharusnya
dikenakan sebuah kata yang lain (Keraf, 2010: 142).
Contoh :
Ia berbaring di atas bantal yang gelisah.
Yang gelisah adalah manusianya, bukan bantal.
(14) Ironi
Ironi atau cemooh secara halus adalah gaya bahasa sindiran yang
mengatakan sebaliknya dari yang sebenarnya. Kadang-kadang ironi
hanya merupakan suatu olok-olok saja. Apakah itu sindiran atau gurauan
dapat ditentukan oleh cara pembicara berkata ditentukan oleh situasi
(Keraf, 2010: 143).
Contoh :
"Keputusan anda sangat tepat!"
Kalimat tersebut menjadi ironi apabila sebenarnya keputusan yang diambil
itu tidak tepat.
48
(15) Sinisme
Gaya bahasa sinisme juga gaya bahasa sindiran tetapi lebih kasar
dari ironi (Keraf, 2010: 143).
Contoh :
"Harum benar bau badanmu, sim! kau belum mandi ya?
(16) Sarkasme
Sarcasm (inggris) adalah perkataan yang menyakitkan hati. Yang
dimaksud dengan gaya bahasa sarkasme adalah gaya bahasa sindiran
yang paling kasar. memaki orang dengan kata-kata kasar yang kasar dan
tidak sopan. Gaya bahasa ini selalu akan menyakiti hati dan tidak enak
didengar (Keraf, 2010: 143).
Contoh :
" Cih, mukamu yang seperti monyet itu, jijik aku melihatnya!"
(17) Satire
Kata Satire diturunkan dari kata satura yang berarti talam yang berisi
macam-macam buah-buahan. Satire adalah ungkapan yang
menertawakan atau menolak sesuatu. Satire mengandung kritik tentang
kelemahan manusia. Tujuan utamanya adalah agar diadakan perbaikan.
Satire berbentuk uraian yang harus ditafsirkan lain dari makna
permukaannya (Keraf, 2010: 144).
Contoh :
Kita sudah tak pernah bertegur sapa sejak curahan air dari
atap rumahku jatuh di halaman rumahmu.
49
(18) Inuendo
Inuendo adalah pengungkapan yang bermaksud menyindir dengan
cara mengecilkan kenyataan yang sebenarnya. Dengan kata lain,
menyindir secara tidak langsung (Keraf, 2010: 144).
Contoh:
Setiap ada pekelahian, ia selalu terlibat karena ia agak
senang berkelahi.
Maksud selalu terlibat berarti senang berkelahi, tetapi selanjutnya
dikatakan dengan agak senang berkelahi sebagai pengecilan kenyataan.
(19) Antifrasis
Antifrasis adalah semacam ironi yang berwujud penggunaan sebuah
kata dengan makna kebalikannya yang bisa saja dianggap sebagai ironi
sendiri, atau kata-kata yang dipakai untuk menangkal kejahatan, roh jahat,
dan sebagainya (Keraf, 2010: 144).
Contoh:
Anda sangat baik (maksudnya agar orang jahat tidak
mengganggu).
(20) Pun atau Paronomasia
Pun atau Paronomasia adalah kiasan dengan mempergunakan
kemiripan bunyi. Ia merupakan permainan kata yang didasarkan pada
kemiripan bunyi tetapi terdapat perbedaan besar dalam maknanya (Keraf,
2010: 145).
Contoh :
Tanggal dua gigi saya tanggal dua.
50
Kata tanggal yang pertama menjelaskan waktu sedangkan kata tanggal
yang kedua berarti lepas.
c. Fungsi Gaya Bahasa
Gaya bahasa merupakan bentuk retorik merupakan penggunaan
kata-kata dalam berbicara dan menulis untuk mempengaruhi pembaca
atau pendengar. Bertolak dari kenyataan tersebut, dapat dilihat fungsi
gaya bahasa, yaitu sebagai alat untuk menyakinkan atau mempengaruhi
pembaca atau pendengar. Disamping itu, gaya bahasa juga berkaitan
dengan situasi dan suasana karangan. Maksudnya ialah gaya bahasa
menciptakan keadaan suasana hati tertentu, misalnya kesan baik ataupun
buruk, senang, tidak enak, dan sebagainya yang diterima pikiran dan
perasaan karena pelukisan tempat, benda-benda, suatu keadaan atau
kondisi tertentu (Ahmadi, 1990: 169).
Selain pendapat di atas, Tarigan (2009: 4) mengatakan bahwa
dengan kata-kata belumlah begitu jelas untuk menerangkan sesuatu, oleh
karena itu digunakan persamaan perbandingan serta kata-kata kias
lainnya. Bertolak dari beberapa pendapat di atas, dapatlah dilihat fungsi
gaya bahasa, yaitu sebagai alat untuk memperkuat efek terhadap
gagasan yang disampaikan, alat untuk memperjelas sesuatu dan alat
untuk menciptakan keadaan hati tertentu.
51
Berdasarkan beberapa pendapat tentang fungsi gaya bahasa yang
telah dipaparkan di atas, dapat disimpulkan fungsi gaya bahasa sebagai
berikut:
1) Gaya bahasa berfungsi sebagai alat untuk mempengaruhi atau
meyakinkan pembaca atau pendengar, maksudnya gaya bahasa
dapat membuat pembaca atau pendengar semakin yakin dan percaya
terhadap apa yang disampaikan penulis;
2) Gaya bahasa berfungsi sebagai alat untuk menciptakan keadaan
perasaan hati tertentu, maksudnya gaya bahasa dapat menjadikan
pembaca hanyut dalam suasana hati tertentu, misalnya kesan baik
atau buruk, senang, tidak enak, dan sebagainya setelah mengetahui
tentang apa yang disampaikan penulis;
3) Gaya bahasa berfungsi sebagai alat untuk memperkuat efek terhadap
gagasan yang disampaikan, maksudnya gaya bahasa dapat membuat
pembaca atau pendengar terkesan terhadap gagasan yang
disampaikan penulis atau pembicara.
Keraf (2010: 116) dalam karya sastra seperti novel, cerpen ataupun
puisi, gaya bahasa mempunyai fungsi memberi warna pada karangan,
seningga gaya bahasa mencerminkan ekspresi individual dan sebagai alat
melukiskan sebuah cerita dan mengintensifkan penceritaan.
52
d. Pembentuk Gaya Bahasa
Bentuk gaya bahasa dalam novel Atheis karya Achdiat Karta
Mihardja dan Telegram karya Putu Wijaya dapat dilihat dari kategori
sintaksis yaitu kata, frasa, kalimat, dan ungkapan. Pada dasarnya setiap
piranti linguistik (kata, frasa, dan kalimat) apapun dapat berpotensi
mengandung gaya bahasa dan dapat dilihat perbedaan antara kata yang
mengandung gaya bahasa dengan kata biasa. Untuk pengungkapan
bentuk gaya bahasa, maka akan digunakan teori sintaksis dari Ramlan.
1) Kata
Menurut Kridalaksana (2011: 110), kata adalah morfem atau
kombinasi morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagai satuan
terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas atau satuan
bahasa yang dapat berdiri sendiri, terjadi dari morfem tunggal atau
morfem gabungan. Kata tunggal atau morfem tunggal adalah kata yang
berasal dari leksem tunggal setelah mengalami proses morfologi. Kata
kompleks adalah kata yang sudah mengalami proses morfologis. Kata
golongan ini dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu (1) kata berimbuhan; (2)
kata ulang; (3) kata majemuk. Kata berimbuhan adalah kata yang dibentuk
dengan proses afiksasi, sedangkan kata ulang adalah kata yang dibentuk
dengan proses reduplikasi. Menurut Kridalaksana (2009: 99) kata
majemuk adalah gabungan morfem dasar yang seluruhnya berstatus
sebagai kata yang mempunyai pola fonologis, gramatikal, dan semantik
yang khusus menurut kaidah yang bersangkutan.
53
Kridalaksana (2009: 29) menggolongkan kelas kata menjadi tiga
belas kata, yaitu verba (kata kerja), adjektiva (kata sifat), nomina (kata
benda), pronomina (kata ganti), numeralia (kata bilangan), adverbia (kata
keterangan), interogativa (kata tanya), demonstrativa (kata tunjuk),
preposisi (kata depan), konjungsi (kata penghubung), artikula, kategori
fatis, dan interjeksi (kata seru).
2) Frasa
Menurut Ramlan (2001: 18), frasa adalah satuan gramatik yang
terdiri atas satu kata atau lebih dan tidak melampaui batas fungsi atau
jabatan. Jadi, bisa disimpulkan bahwa frasa adalah gabungan dua kata
atau lebih yang tidak melebihi satu batas fungsi.
Frasa terbagi atas beberapa jenis antara lain: (a) frasa nomina, yaitu
inti frasa tersebut berupa kata benda (Ramlan, 2001:18). Misalnya: paku
beton, ayam bakar, dan sebagainya. (b) frasa verba, yaitu inti frasa
tersebut berupa kata kerja. Misalnya: bekerja keras, dan berlari pagi. (c)
frasa adverbia, yaitu inti frasa tersebut berupa kata keterangan. Misalnya:
kemarin sore, dan menjelang malam. (d) frasa preposisional, yaitu inti
frasa tersebut berupa kata depan. Misalnya: di kampus, dari Makassar. (e)
frasa numeral, yaitu inti frasa tersebut berupa kata bilangan. Misalnya:
sebungkus nasi, dan seribu ikat. (f) frasa adjektiva, yaitu inti frasa tersebut
berupa kata sifat. Misalnya: cantik sekali, dan amat baik.
54
3) Kalimat
Kalimat adalah satuan gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda
panjang yang disertai nada akhir turun dan naik. Dalam wujud lisan
kalimat diucapkan dengan suara naik turun, keras lemah, disertai jeda,
dan diakhiri intonasi naik dan turun. Sedangkan dalam wujud tulisan
kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik
(.), tanya (?), atau seru (!).
Ramlan (2001: 23) kalimat berdasarkan bentuk sintaksisnya dibagi
menjadi empat jenis yaitu:
(a) Kalimat Berita atau Deklaratif
Kalimat berita merupakan kalimat yang berisi pemberitaan. Kalimat
berita diakhiri dengan intonasi netral dan nada turun. Dalam kalimat berita
tidak ada unsur yang ditonjolkan. Kalimat berita jika ditulis dalam kalimat
diakhiri tanda titik.
(b) Kalimat Tanya atau Interogatif
Kalimat tanya adalah kalimat yang berisi pertanyaan seseorang
kepada orang lain dengan tujuan untuk memeroleh jawaban dari pihak
yang ditanya. Ciri-ciri kalimat tanya adalah intonasi yang digunakan
intonasi tanya, diakhiri dengan nada naik, sering menggunakan kata
tanya, dapat pula menggunakan partikel tanya –kah. Fungsi partikel –kah
tersebut untuk memperluas pertanyaan.
Kalimat tanya dibagi menjadi dua jenis, yaitu kalimat tanya biasa dan
kalimat tanya retoris. Kalimat tanya biasa merupakan kalimat yang
55
membutuhkan jawaban dari lawan bicarany, sedangkan kalimat retoris
adalah kalimat yang tidak membutuhkan jawaban dari lawan bicaranya
karena si penanya sebenarnya sudah mengetahui jawabannya. Kalimat
tanya retoris biasanya digunakan untuk menyindir, mengejek, atau
mengungkapkan kemarahan.
(c) Kalimat Perintah atau Imperatif
Kalimat perintah adalah kalimat yang isinya menyuruh orang lain
untuk melakukan sesuatu yang kita kehendaki. Ciri-ciri kalimat perintah
adalah mempergunakan intonasi perintah, diakhiri dengan nada naik pada
akhir kalimat. Kata kerja yang mendukung isi perintah biasanya
merupakan kata dasar dan mempergunakan partikel pengeras –lah.
Dalam bentuk tulis kalimat perintah diakhiri dengan tanda seru (!). Kalimat
perintah berisi permohonan, ajakan, larangan, ejekan, atau harapan.
(d) Kalimat Seruan atau Ekslamatif
Kalimat seruan berisi seruan terhadap sesuatu. Kalimat seru
menggunakan intonasi yang menunjukkan keheranan, pujian, terkejut,
takut, menyapa, atau menawarkan sesuatu. Kalimat seruan diakhiri
dengan nada naik. Dalam bentuk tulisan kalimat seruan diakhiri tanda
seru (!).
3. Novel
a. Pengertian Novel
Kata novel berasal dari kata latin novellus yang diturunkan dari kata
novies yang berarti baru. Dikatakan baru karena jika dibandingkan dengan
56
jenis-jenis sastra lainnya seperti puisi, drama, dan lain-lain, maka novel
muncul kemudian (Tarigan, 1984: 164).
Menurut Wolf (dalam Tarigan, 1984: 164), roman atau novel adalah
sebuah eksplorasi atau suatu kronik penghidupan; merenungkan atau
melukiskan dalam bentuk tertentu, pengaruh, ikatan, hasil, kehancuran,
atau tercapainya gerak-gerik manusia. Batos (dalam Tarigan, 1984: 164)
juga mengemukakan bahwa novel adalah sebuah roman pelaku-pelaku
dengan waktu muda, mereka menjadi tua, mereka bergerak dari sebuah
adegan ke adegan yang lain, dari suatu tempat ke tempat yang lain.
Sejalan dengan pernyataan di atas, Nurgiyantoro (2002: 4)
berpendapat bahwa novel sebagai suatu karya fiksi yang pada prinsipnya
menawarkan sebuah dunia yang berisi model kehidupan yang ideal,
imajiner, yang dibangun melalui berbagai unsur intrinsiknya seperti alur,
tokoh, penokohan, latar, sudut pandang, dan lain-lain. Berdasarkan dari
beberapa teori di atas maka dapat disimpulkan bahwa novel adalah suatu
karya sastra bersifat fiksi yang memberikan kesan estetik, sehingga para
pembaca mendapatkan kesan tertentu yang dapat membangkitkan gairah
senang, sakit, sedih dan sebagainya.
b. Unsur-unsur Novel
Nurgiyantoro (2002: 23) mengelompokkan unsur-unsur pembangun
sebuah novel yang kemudian membentuk sebuah totalitas di samping
57
unsur formal bahasa. Adapun pembagian unsur yang dimaksud adalah
unsur instrinsik dan unsur ekstrinsik.
1) Unsur Instrinsik
Unsur intrinsik (intrinsich) adalah unsur-unsur yang membangun
karya sastra itu sendiri dari dalam. Artinya yang benar-benar ada di dalam
karya tersebut. Unsur intrinsik inilah yang menyebabkan karya sastra
hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai
jika orang membaca karya sastra. Unsur intrinsik novel adalah unsur-
unsur yang (secara langsung) turut serta membangun cerita. Kepaduan
antarberbagai unsur intrinsik inilah yang membuat novel berwujud.
Sebaliknya, jika dilihat dari sudut pembaca, unsur-unsur intrinsik inilah
yang akan dijumpai jika pembaca membaca novel (Nurgiyantoro, 2002:
23). Unsur-unsur intrinsik novel terdiri atas tema, cerita, plot/pemplotan,
penokohan, pelataran, penyudut pandangan, dan bahasa.
Tema merupakan unsur intrinsik novel yang pertama. Menurut
Hartoko dan Rahmanto (1986: 142), tema merupakan gagasan dasar
umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di
dalam teks sebagai struktur semantis dan yang menyangkut persamaan-
persamaan atau perbedaan-perbedaan. Tema menjadi dasar
pengembangan seluruh cerita, maka ia pun bersifat menjiwai seluruh
bagian cerita itu. Tema mempunyai generalisasi yang umum, lebih luas,
dan abstrak. Dengan demikian, untuk menemukan tema sebuah novel, ia
58
haruslah disimpulkan dari keseluruhan cerita, tidak hanya berdasarkan
bagian-bagian tertentu cerita.
Cerita adalah unsur intrinsik novel yang kedua. Cerita (story)
merupakan suatu hal yang amat esensial dalam novel. Cerita memiliki
peranan sentral. Dari awal hingga akhir karya itu yang ditemui adalah
cerita (Nurgiyantoro, 2002: 90).
Nurgiyantoro (2002: 33-34) juga telah menegaskan bahwa cerita
merupakan hal yang fundamental dalam novel. Tanpa unsur cerita,
eksistensi sebuah novel tak mungkin berwujud, sebab cerita merupakan
inti sebuah novel. Bagus tidaknya cerita yang disajikan, selain memotivasi
seseorang untuk membacanya, juga akan mempengaruhi unsur-unsur
pembangun yang lain. Forster (1970: 35) mengartikan cerita sebagai
sebuah narasi berbagai kejadian yang sengaja disusun berdasarkan
urutan waktu. Seperti halnya Abrams (1981: 61) juga memberikan
pengertian cerita sebagai sebuah urutan kejadian yang sederhana dalam
urutan waktu. Kenny (dalam Nurgiyantoro, 2002: 91) mengartikan
sebagai peristiwa-peristiwa yang terjadi berdasarkan urutan waktu yang
disajikan dalam sebuah karya fiksi.
Unsur intrinsik novel yang ketiga adalah plot/pemplotan. Plot
merupakan unsur intrinsik yang penting, bahkan tak sedikit orang yang
menganggapnya sebagai yang terpenting di antara berbagai unsur fiksi
yang lain. Menurut Stanton (dalam Nurgiyantoro, 2002: 113),
plot/pemplotan adalah cerita yang berisi urutan kejadian tetapi tiap
59
kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat. Peristiwa yang satu
disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain.
Penokohan adalah unsur intrinsik novel yang keempat. Sama
halnya dengan unsur plot/pemplotan, penokohan merupakan unsur
intrinsik yang penting dalam novel. Penokohan adalah pelukisan
gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah
cerita (Jones dalam Nurgiyantoro, 2002: 165). Adapun Stanton (dalam
Baribin, 1985: 54) menyatakan bahwa penokohan dalam novel biasanya
dapat dipandang dari dua segi. Pertama, mengacu kepada orang atau
tokoh yang bermain-main dalam cerita. Kedua, mengacu kepada
pembauran dari minat, keinginan, emosi, dan moral yang membentuk
individu yang bermain dalam suatu cerita.
Pelataran adalah unsur intrinsik novel yang kelima. Latar/pelataran
mempunyai pengertian tempat, hubungan waktu, lingkungan sosial, dan
tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abrams, 1981:
175). Pelataran memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Hal
ini penting untuk memberikan kesan realistis kepada pembaca,
menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah, sungguh-sungguh ada,
dan terjadi. Pembaca merasa dipermudah untuk “mengoperasikan” daya
imajinasinya, di samping dimungkinkan untuk berperan serta secara iritis
sehubungan dengan pengetahuannya tentang latar. Pembaca dapat
merasakan dan menilai kebenaran, ketepatan, dan aktualisasi latar yang
diceritakan sehingga merasa lebih akrab.
60
Pembaca seolah-olah merasa menemukan dalam cerita itu sesuatu
yang sebenarnya menjadi bagian dirinya. Hal ini akan terjadi jika latar
mampu mengangkat suasana setempat, warna lokal, lengkap dengan
penokohannya ke dalam cerita (Nurgiyantoro, 2002: 217).
Unsur intrinsik novel yang keenam adalah penyudut pandangan.
Penyudut pandangan, point of view, viewpoint, merupakan salah satu
unsur intrinsik yang oleh Stanton digolongkan sebagai sarana cerita,
literary device. Walau demikian, hal itu tidak berarti bahwa perannya
dalam novel tidak penting. Penyudut pandangan pada hakekatnya
merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang
untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Segala sesuatu yang
dikemukakan dalam karya fiksi atau novel milik pengarang, pandangan
hidup, dan tafsirannya terhadap kehidupan. Namun, kesemuannya itu
dalam karya fiksi atau novel disalurkan lewat penyudut pandangan tokoh,
lewat kacamata tokoh cerita (Nurgiyantoro, 2002: 246-248).
Unsur intrinsik novel yang ketujuh adalah bahasa. Bahasa
merupakan sarana pengungkapan sastra. Di pihak lain sastra lebih dari
sekedar bahasa, deretan kata tetapi unsur “kelebihannya” itu pun hanya
dapat diungkap dan ditafsirkan melalui bahasa. Jika sastra dikatakan ingin
menyampaikan sesuatu, mendialogkan sesuatu, maka sesuatu tersebut
hanya dapat dikomunikasikan lewat sarana bahasa. Oleh karena itu,
bahasa mempunyai fungsi penting sebagai fungsi komunikatif dalam
sastra (Nurgiyantoro, 2002: 1). Unsur instrinsik kedelapan adalah amanat,
61
yaitu pesan yang disampaikan oleh pengarang kepada pembaca. Amanat
dirumuskan sendiri oleh pembaca. Sikap dan pengalaman pembaca
sangat berpengaruh kepada amanat cerita.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa unsur intrinsik dalam
sebuah novel merupakan hal yang sangat penting karena unsur-unsur
tersebut merupakan pembangun dalam sebuah penceritaan.
Demikian pula untuk memahami dan mengapresiasikan gaya
bahasa novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja dan Telegram karya
Putu Wijaya, gaya pembungkusan bahasa yang digunakan oleh
pengarang-pengarang tersebut akan terlihat karakteristik stile bahasa
pada masa Angkatan 1945 dan Angkatan 1966-1970-an.
2) Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya
sastra itu tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau
sistem organisme karya sastra. Secara lebih khusus ia dapat dikatakan
sebagai unsur-unsur yang mempengaruhi bangun cerita sebuah karya
satra tetapi sendiri tidak ikut menjadi bagian di dalamnya. Walau
demikian, unsur ekstrinsik cukup berpengaruh terhadap totalitas bangun
cerita yang dihasilkan. Pemahaman unsur ekstrinsik suatu karya,
bagaimanapun, akan membantu dalam hal pemahaman makna karya itu
mengingat bahwa karya sastra tak muncul dari situasi kekosongan
budaya.
62
Sebagaimana halnya unsur instrinsik, unsur ekstrinsik juga terdiri
dari sejumlah unsur. Unsur-unsur yang dimaksud antara lain keadaan
subjektivitas individu yang memiliki sikap, keyakinan, pandangan hidup
yang kesemuanya itu akan mempengaruhi karya tulisnya.
C. Kerangka Pikir
Penelitian ini berpijak pada kajian stilistika yang mengkaji tentang
ilmu gaya bahasa atau cara-cara khas yang diungkapkan dengan cara
tertentu dalam suatu karya sastra. Fokus penelitian ini adalah
penggunaan gaya bahasa dalam novel Atheis karya Achdiat Karta
Mihardja dan novel Telegram karya Putu Wijaya dengan menggunakan
teori gaya bahasa dari Keraf dan Nurgiantoro, untuk mendeskripsikan
perbedaan dan persamaan gaya bahasa dalam kedua novel tersebut.
Hasil pendeskripsian gaya bahasa dari tiap novel akan memunculkan
perbedaan dan persamaan pewujudan gaya bahasa. Untuk lebih jelasnya,
alur dan sistematika penelitian ini akan tergambarkan pada bagan
kerangka pikir berikut.
63
Gaya Bahasa dalam Novel Atheis Karya Achdiat
Karta Mihardja dan
Novel Telegram Karya Putu Wijaya
Pewujudan Gaya Bahasa
Perbedaan Pewujudan Gaya Persamaan Pewujudan Gaya
Bahasa dalam Novel Atheis Bahasa dalam Novel Atheis
Karya Achdiat Karta Mihardja Karya Achdiat Karta Mihardja
dan Novel Telegram Karya Putu dan Novel Telegram Karya Putu
Wijaya Wijaya
Perbedaan dan Persamaan
Pewujudan Gaya Bahasa dalam
Novel Atheis Karya Achdiat Karta
Mihardja dan Novel Telegram
Karya Putu Wijaya
64
D. Definisi Operasional
1. Gaya bahasa adalah pilihan kata, frasa, atau kalimat yang
digunakan pengarang untuk menyatakan sesuatu dengan cara
yang khas. Pemilihan kata, frasa, atau kalimat tersebut bertujuan
untuk memperoleh efek tertentu atau efek estetis.
2. Pewujudan gaya bahasa adalah cara atau perbuatan mewujudkan
suatu gaya bahasa. Pewujudan gaya bahasa tersebut ditandai
oleh piranti linguistik yang mengandung gaya bahasa dalam tataran
kata, frasa, dan kalimat.
3. Perbedaan pewujudan gaya bahasa adalah hal yang berlainan atau
tidak sama dalam pewujudan gaya bahasa.
4. Persamaan pewujudan gaya bahasa adalah hal yang sama atau
serupa dalam pewujudan gaya bahasa.
65
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan
pendekatan stilistika. Endaswara (2003: 124) menyatakan bahwa
penelitian kualitatif dilakukan dengan tidak mengutamakan kedalaman
penghayatan terhadap interaksi antara konsep yang dikaji secara empiris.
Penelitian deskriptif kualitatif adalah penelitian yang
mengidentifikasi, mengklasifikasi, menganalisis data yang telah diperoleh,
dan pendeskripsiannya berupa penggambaran bahasa sebagaimana
adanya (Sudaryanto, 1993: 62). Pendekatan stilistika digunakan untuk
membahas dan membandingkan penggunaan gaya bahasa secara faktual
yang terdapat dalam novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja dan novel
Telegram karya Putu Wijaya.
B. Sumber dan Jenis Data
Sumber data penelitian ini adalah novel Atheis karya Achdiat Karta
Mihardja terbitan Pusat Bahasa, cetakan kelima (2010) dan novel
Telegram karya Putu Wijaya terbitan Balai Pustaka, cetakan pertama,
Jakarta (1973).
65
66
Jenis data dalam penelitian ini adalah data tertulis, yaitu gaya bahasa
dalam novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja terbitan dan novel
Telegram karya Putu Wijaya.
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Sudaryanto (1993: 36) mendefinisikan populasi sebagai jumlah
keseluruhan pemakaian bahasa tertentu yang tidak diketahui batas-
batasnya akibat dari banyaknya orang yang memakai (di sepanjang hidup
penutur-penuturnya) dan luasnya daerah serta lingkungan pemakaian.
Ringkasnya, populasi pemakaian bahasa, baik yang akan dipilih maupun
tidak dipilih untuk dianalisis. Oleh karena itu, populasi data penelitian ini
adalah keseluruhan kalimat yang mengandung gaya bahasa dalam novel
Atheis karya Achdiat Karta Mihardja dan Telegram karya Putu Wijaya.
2. Sampel
Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan cara
purposif. Purposif merupakan teknik penentuan sampel dengan
pertimbangan tertentu yang dipilih secara sengaja sesuai kebutuhan
dalam membahas atau menganalisis permasalahan mengingat
keterbatasan waktu yang ada dan kemampuan penulis. Sutopo (2002: 36)
mengatakan bahwa pilihan sampel diarahkan pada sumber data yang
dipandang memiliki data penting yang berkaitan dengan permasalahan
yang sedang diteliti. Adapun sampel yang digunakan dalam penelitian ini,
67
yaitu tiga data gaya bahasa pada masing-masing gaya bahasa yang
digunakan dalam novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja dan Telegram
karya Putu Wijaya.
Contoh kalimat :
Ada kereta yang memekik, masuk ke dalam stasiun.
(Wijaya, 1973: 49)
Aku jadi teringat masa lampau. Sambil memegang susunya,
aku selalu merasa dibakar sunyi, kalau ia menggangguku
dengan menceritakan saat-saat kematiannya. (Wijaya, 1973:
64)
Di jalan menjerit suara mobil pemadam kebakaran (Wijaya,
1973: 67)
D. Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah metode
simak. Menurut Mahsun (2013: 242) metode simak adalah metode yang
digunakan untuk memperoleh data dengan melakukan penyimakan
terhadap penggunaan bahasa. Teks dalam novel Atheis karya Achdiat
Karta Mihardja dan Telegram karya Putu Wijaya disimak dan diamati
untuk mencari penggunaan majas yang terdapat dalam novel Atheis karya
Achdiat Karta Mihardja dan Telegram karya Putu Wijaya, kemudian
ditandai, serta didokumentasikan untuk diinventarisasikan sebagai data
dalam penelitian ini. Adapun teknik yang digunakan untuk melengkapi
metode simak tersebut adalah teknik catat.
Teknik catat adalah teknik yang digunakan untuk mencatat data
yang ditemukan. Teknik catat merupakan teknik yang digunakan untuk
mencatat beberapa bentuk yang relevan bagi penelitian yang bersumber
68
dari penggunaan bahasa secara tertulis (Mahsun, 2013: 127). Teks novel
Atheis karya Achdiat Karta Mihardja dan Telegram karya Putu Wijaya
dibaca, kemudian menandai kata-kata dalam teks novel yang
mengandung majas. Semua data yang telah ditandai dalam novel Atheis
karya Achdiat Karta Mihardja dan Telegram karya Putu Wijaya,
selanjutnya disalin dalam kartu data untuk dianalisis.
Contoh kartu data :
No Kalimat Kutipan Kata Gaya Bahasa
1 Ada kereta yang memekik, Memekik personifikasi
masuk ke dalam stasiun.
(Wijaya, 1973: 49)
2 Aku jadi teringat masa dibakar sunyi Metafora
lampau. Sambil memegang
susunya, aku selalu merasa
dibakar sunyi, kalau ia
menggangguku dengan
menceritakan saat-saat
kematiannya. (Wijaya,
1973: 64)
3 Di jalan menjerit suara Menjerit personifikasi
mobil pemadam kebakaran
(Wijaya, 1973: 67)
69
E. Teknik Analisis Data
Setelah data terkumpul, langkah yang ditempuh selanjutnya adalah
menganalisis data tersebut berdasarkan prinsip-prinsip analisis data
deskriptif kualitatif. Penerapan langkah-langkah tersebut dapat diuraikan
sebagai berikut.
1. Identifikasi Data
Gaya bahasa yang terdapat dalam novel Atheis karya Achdiat
Karta Mihardja dan Telegram karya Putu Wijaya, diidentifikasi
berdasarkan jenis gaya bahasa retoris dan gaya bahasa kiasan dan
dijadikan data dalam penelitian ini.
2. Klasifikasi Data
Data-data yang diidentifikasi sebelumnya, diklasifikasikan
berdasarkan permasalahan yang ada, yakni persamaan dan
perbedaan pewujudan kategori kata yang membangun gaya bahasa
dalam novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja dan novel Telegram
karya Putu Wijaya.
3. Analisis Data
Data yang telah diklasifikasi, dianalisis dengan mendeskripsikan
secara mendetail persamaan dan perbedaan pewujudan gaya
bahasa.
4. Penyimpulan Hasil Analisis
Dalam tahap ini data-data yang dikumpulkan, disimpulkan sesuai
dengan tujuan penelitian, yaitu untuk pendeskripsian perbedaan
70
pewujudan gaya bahasa dalam novel Atheis dan novel Telegram, dan
persamaan pewujudan gaya bahasa dalam novel Atheis dan novel
Telegram. Hasil penyimpulan tersebut pada akhirnya menjelaskan
persamaan dan perbedaan gaya bahasa dalam novel Atheis karya
Achdiat Karta Mihardja dan novel Telegram karya Putu Wijaya.
71
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini diuraikan hasil penelitian gaya bahasa yang terdapat
dalam novel Atheis dan novel Telegram. Penelitian pewujudan gaya
bahasa dalam novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja dan novel
Telegram karya Putu Wijaya merupakan upaya menelusuri pewujudan
gaya bahasa (analisis jenis gaya bahasa dan kelas kata) yang digunakan
dalam novel untuk mengungkap persamaan dan perbedaan gaya bahasa
dalam novel Angkatan 1945 yang diwakili oleh novel Atheis dan novel
Angkatan 1966-70an yang diwakili oleh novel Telegram. Analisis
perbandingan tersebut dapat berupa persamaan dan perbedaan gaya
bahasa antara kedua novel. Pengamatan terhadap persamaan dan
perbedaan gaya bahasa yang digunakan dalam novel Atheis dan novel
Telegram dilakukan dengan menganalisis novel berdasarkan jenis gaya
bahasa.
Jenis gaya bahasa yang dimaksud dalam penelitian ini adalah jenis
gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna yang terdiri atas gaya
bahasa retoris dan gaya bahasa kiasan. Gaya bahasa retoris terdiri atas
gaya bahasa aliterasi, asonansi, anastrof, apofasis, apostrof, asidenton,
polisidenton, kiasmus, elipsis, eufemismus, litotes, histeron proteron,
pleonasme dan tautologi, perifrasis, prolepsis, erotesis, silepsis, koreksio,
hiperbol, paradoks, dan oksimoron. Gaya bahasa Kiasan terdiri atas gaya
71
72
bahasa simile, metafora, alegori, personifikasi, alusio, eponim, epitet,
sinekdoke, metonimia, antonomasia, hipalase, ironi, satire, inuendo,
antifrasis, paronomasia. Adapun pembentuk gaya bahasa yang dimaksud
dalam penelitian ini adalah kata, frasa, dan kalimat yang mewujudkan
gaya bahasa retoris dan kiasan dalam novel Atheis dan novel Telegram.
Mengingat fokus penelitian ini adalah mengungkap perbandingan
gaya bahasa dalam novel Atheis dan novel Telegram, maka gaya bahasa
yang diperbandingkan dalam penelitian ini adalah gaya bahasa yang
ditemukan dalam novel Atheis dan novel Telegram. Hanya gaya bahasa
yang terdapat dalam kedua novel tersebutlah yang diperbandingkan
dalam penelitian ini.
Berdasarkan penelitian, pewujudan gaya bahasa dalam novel Atheis
dan novel Telegram dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4. Perbandingan pewujudan gaya bahasa
No Jenis Majas Wujud Wujud
dalam Novel Atheis dalam Novel Telegram
1 Hiperbola Verba dasar Verba transitif
Meng-
2 Simile Nomina konkret Nomina konkret
3 Metafora Nomina konkret Nomina konkret
4 Personifikasi Verba transitif meng- Verba transitif meng-
5 Antonomasia Kata adjektiva Kata adjektiva
6 Sarkasme Kata adjektiva -
7 Metonimia Nomina konkret Nomina konkret
Berikut merupakan pemaparan hasil penelitian yang telah dilakukan.
73
A. Perbedaan Pewujudan Gaya Bahasa dalam Novel Atheis dan
Novel Telegram
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, terdapat enam gaya
bahasa yang ditemukan dalam novel Atheis dan novel Telegram. Dalam
novel Atheis jenis gaya bahasa yang ditemukan adalah hiperbola, simile,
metafora, personifikasi, antonomasia, dan sarkasme. Dalam novel
Telegram antara lain hiperbola, simile, metafora, personifikasi,
antonomasia, dan metonimia.
Perbedaan pewujudan gaya bahasa terdapat dalam gaya bahasa
hiperbola. Dalam novel Atheis pewujudan gaya bahasa hiperbola
diwujudkan dengan verba dasar, sedangkan pewujudan gaya bahasa
hiperbola dalam novel Telegram diwujudkan dengan verba transitif meng-.
Terdapat pula perbedaan dalam penggunaan jenis gaya bahasa dari
kedua novel tersebut, yaitu dalam novel Atheis ditemukan gaya bahasa
sarkasme tetapi dalam novel Telegram. Berikut merupakan pemaparan
hasil penelitian yang telah dilakukan;
1. Hiperbola
Gaya bahasa hiperbola ditandai dengan pernyataan yang
mengandung makna yang membesar-besarkan ukuran atau suatu hal.
Dalam novel Atheis dan novel Telegram, gaya bahasa hiperbola
cenderung diwujudkan dengan verba tetapi dalam novel Atheis gaya
bahasa hiperbola diwujudkan dengan verba dasar, misalnya kata tumpah,
pecat, sedangkan dalam novel Telegram diwujudkan dengan verba
transitif meng-kan, misalnya kata menghidupkan, menenggelamkan. Hal
74
tersebut berarti pewujudan gaya bahasa hiperbola dalam novel Atheis
lebih sederhana sedangkan pewujudan gaya bahasa hiperbola dalam
novel Telegram lebih kompleks atau kreatif.
Berikut merupakan contoh gaya bahasa hiperbola dalam novel
Atheis.
(1) Tiba-tiba dari tikungan Tuindorp, datanglah sebuah mobil
sedan. Lampunya menyorot besar. Tumpah seluruh
cahayanya kepada kami. aku serasa ditelanjangi. (Miharja,
1949: 86)
(2) Serasa hendak pecah dadaku, karena keriangan
mendengar ajakan Rusli itu. (Miharja, 1949: 90)
(3) Mungkin dalam mata orang yang kolot dan konservatif, ia
seolah-olah seorang wanita yang sudah pecat imannya.
(Miharja, 1949: 35)
Kata tumpah pada kalimat (1), kata pecah pada kalimat (2), dan
kata pecat pada kalimat (3) menjadi penanda gaya bahasa hiperbola pada
kalimat-kalimat tersebut. Ketiga kata tersebut termasuk dalam kategori
kelas kata verba dasar. Kata tumpah pada kalimat (1) memberi kesan
yang melebih-lebihkan pada sorotan lampu mobil. Kata pecah pada
kalimat (2) memberi kesan yang berlebihan pada keadaan atau perasaan
subjek. Serta kata pecat pada kalimat (3) memberi kesan yang berlebihan
pada keadaan iman seseorang.
Kata tumpah pada kalimat (1) untuk memaknai lampu mobil yang
bersinar menunjukkan kesan yang berlebihan. Kata tumpah yang berarti
tercurah keluar dari tempatnya tentang barang cair, barang yang berderai-
derai, dan sebagainya (KBBI IV, 2008: 1499). Namun, penggunaan kata
75
tumpah pada kalimat tersebut membuat pembaca memvisualisasikan
cahaya lampu sorot mobil tersebut tumpah. Padahal seperti yang
diketahui secara umum, cahaya lampu sorot mobil identik dengan kata
bersinar keluar (memancar).
(1) Tiba-tiba dari tikungan Tuindorp, datanglah sebuah mobil
sedan. Lampunya menyorot besar. Bersinar seluruh
cahayanya kepada kami. aku serasa ditelanjangi. (Miharja,
1949: 86)
Adanya penggunaan kata tumpah yang diidentikkan dengan cahaya
lampu sorot mobil menunjukkan bahwa pengarang novel Atheis
memperluas makna bersinar yang sebenarnya berarti memancar (tentang
sinar); bercahaya (KBBI IV, 2008: 1311).
Kata pecah pada kalimat (2) memiliki makna terbelah menjadi
beberapa bagian, retak atau rekah (KBBI IV, 2008: 1033). Kata pecah
memiliki padanan bahasa sehari-hari, yaitu kata retak. Penggunaan kata
pecah pada kalimat (2) tersebut menunjukkan bahwa pengarang novel
Atheis ingin memvisualisasi hati yang retak. Pilihan kata pecah pada
contoh tersebut memberi kesan bahwa tokoh dalam novel mengalami
kegembiraan yang amat sangat sehingga seakan-akan dada tokoh pecah.
Pada kalimat (3), kata pecat yang menjadi penanda gaya bahasa
hiperbola dalam kalimat tersebut berarti melepaskan; mengeluarkan;
membebaskan; mengabaikan (KBBI IV, 2008: 1034), sehingga maksud
dari kata pecat dalam kalimat untuk menunjukkan keadaan iman tokoh,
yang dalam konteks kalimat adalah untuk menunjukkan tokoh cerita yang
sudah mengabaikan Tuhan sehingga imannya sudah rusak atau tidak
76
beriman lagi. Adapun padanan kata pecat pada kalimat (3) dalam bahasa
sehari-hari adalah kata rusak untuk menunjukkan keadaan iman subjek
pada kalimat tersebut. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan
bahwa pengarang novel Atheis cenderung menggunakan kata verba
dasar untuk memberi kesan visualisasi pada benda atau hal-hal yang
ingin diterangkan.
Adapun contoh yang menunjukkan pewujudan gaya bahasa
hiperbola dalam novel Telegram sebagai berikut;
(4) Ia mengguncang tanganku... (Wijaya, 1977: 99).
(5) Dokter Syubah, menghidupkan aku kembali. Setelah
memeriksa bintik-bintik yang misterius itu, ia hanya
menyangka aku kena alergi (Wijaya, 1977: 85).
Pada contoh kalimat (4), penanda majas hiperbola adalah kata
mengguncang. Kata mengguncang yang berarti menggoyangkan kuat-
kuat; menggerak-gerakkan hingga berguncang (KBBI IV, 2008: 1440)
termasuk dalam kelas kata verba. Kata mengguncang yang diidentikkan
dengan peristiwa menyebabkan sesuatu menjadi tidak tetap; tidak aman,
tetapi dalam kalimat (4) dimaknai sebagai peristiwa atau sesuatu yang
dapat dilakukan oleh tangan. Oleh karena itu, penggunaan kata
mengguncang yang diidentikkan dengan tangan dalam kalimat (4)
memberi kesan melebihkan fungsi atau hal yang dapat dilakukan oleh
tangan.
Pada contoh kalimat (5), majas hiperbola ditandai dengan kata
menghidupkan pada kalimat Dokter Syubah, menghidupkan aku kembali.
77
Kata menghidupkan berarti menjadikan (membuat, menyebabkan) hidup
(KBBI IV, 2008: 497). Penggunaan kata menghidupkan pada contoh
kalimat (5) tersebut memberi kesan berlebihan, mengingat konteks pada
kalimat (5) adalah tindakan dokter yang memberi obat kepada pasiennya.
Pengarang novel Telegram menyamakan tindakan dokter yang memberi
obat kepada pasiennya dengan tindakan menghidupkan orang. Dalam
contoh gaya bahasa hiperbola novel Telegram, fungsi imbuhan meng-kan
adalah sebagai pembentuk kata kerja transitif.
Berdasarkan uraian di atas terlihat bahwa dalam novel Atheis,
pengarang cenderung menggunakan kelas kata verba dasar untuk
menjadi penanda gaya bahasa hiperbola sedangkan dalam novel
Telegram pengarang cenderung menggunakan kelas kata verba transitif
meng-kan untuk mewujudkan gaya bahasa hiperbola. Adapun makna
kata-kata yang menjadi penanda gaya bahasa dalam konteks contoh
kalimat memberi kesan yang melebih-lebihkan pada makna tindakan dan
benda yang melekat pada kata penanda gaya bahasa hiperbola tersebut.
2. Sarkasme
Gaya bahasa sarkasme dalam novel Atheis diwujudkan dengan
kelas kata adjektiva, yaitu kata gila. Gaya bahasa sarkasme hanya
ditemukan dalam novel Atheis. Hal tersebut menunjukkan bahwa
penggunaan bahasa dalam novel Atheis cenderung lebih kasar jika
78
dibandingkan dengan novel Telegram. Berikut merupakan contoh gaya
bahasa sarkasme dalam novel Atheis:
(6) Gila dia! Kafir dia! Murtad dia! Pikirku. Hampir-hampir
keluar kata-kata pikiran itu. (Miharja, 1949: 87)
Sarkasme ialah suatu acuan yang mengandung kepahitan dan
celaan yang getir. Gaya bahasa sarkasme akan selalu menyakiti hati dan
kurang enak didengar. Pada contoh kalimat (6), gaya bahasa sarkasme
ditandai dengan Gila dia!. Kata Gila berarti sakit ingatan (kurang beres
ingatannya); sakit jiwa (sarafnya terganggu atau pikirannya tidak normal)
(KBBI IV, 2008: 601). Kata Gila dalam konteks contoh di atas bermaksud
untuk menyatakan kemarahan tokoh Hasan pada tokoh Rusli yang telah
menyinggung kepercayaan tokoh Hasan.
Gaya bahasa sarkasme hanya ditemukan dalam novel Atheis,
sedangkan dalam novel Telegram tidak ditemukan data gaya bahasa
sarkasme. Dalam novel Atheis, pengarang cenderung menggunakan
kelas kata adjektiva untuk mewujudkan penanda gaya bahasa sarkasme.
Penanda gaya bahasa sarkasme dalam novel Atheis yang berupa kata
adjektiva berubah fungsi menjadi julukan untuk mencela. Selain itu, kata
atau julukan yang menjadi penanda gaya bahasa sarkasme dalam novel
Atheis juga berfungsi sebagai pemberi keterangan atau memberi kesan
tertentu untuk memaknai sifat-sifat tokoh cerita yang diberi julukan atau
sindiran.
79
Data gaya bahasa sarkasme tidak ditemukan dalam novel
Telegram. Hal tersebut menunjukkan bahwa perbedaan penggunaan gaya
bahasa pada novel Atheis dan novel Telegram, ditandai dengan adanya
gaya bahasa sarkasme dalam novel Atheis, namun tidak ada dalam novel
Telegram.
B. Persamaan Pewujudan Gaya Bahasa dalam Novel Atheis dan
Novel Telegram
Berdasarkan hasil penelitian, terdapat empat gaya bahasa baik
dalam novel Atheis maupun dalam novel Telegram yang memiliki
kesamaan pewujudan gaya bahasa. Keempat gaya bahasa tersebut, yaitu
metafora, simile, personifikasi, dan antonomasia. Berikut penjelasan
keempat gaya bahasa tersebut.
1. Metafora
Gaya bahasa metafora baik dalam novel Atheis maupun novel
Telegram cenderung diwujudkan dengan kelas kata nomina konkret,
misalnya kata buaya, bunga, dan lukisan. Hal ini berarti baik dalam novel
Atheis maupun dalam novel Telegram pewujudan gaya bahasa metafora
tidaklah berbeda. Berikut merupakan contoh gaya bahasa metafora dalam
novel Atheis.
(7) dua minggu yang lalu mereka masih merasa dirinya
singa yang suka makan daging (Miharja, 1949: 1)
(8) tapi sejurus kemudian muka-muka kuning bermata sipit
itu berpaling lagi dengan tak acuh. (Miharja, 1949: 5)
80
(9) takut kalau-kalau aku akan menjadi buaya atau akan
tersesat ke jalan pelacuran (Miharja, 1949: 21)
Kata singa pada kalimat (7) yang menjadi penanda gaya bahasa
metafora dalam kalimat tersebut berarti binatang buas, bentuknya hampir
sama dengan macan (KBBI IV, 2008: 419). Namun dalam konteks kalimat
(7), kata singa berarti sifat berani yang menggambarkan sifat para sekutu
tokoh Rusli, yaitu para serdadu-serdadu dan opsir-opsir Kenpei Jepang.
Pada kalimat (8), frasa muka-muka kuning menjadi penanda gaya
bahasa metafora. Kata muka berarti bagian depan kepala dari dahi atas
sampai ke dagu dan antara telinga yang satu dan telinga yang lain (KBBI
IV, 2008: 41). Namun pada konteks kalimat (8), kata muka yang
dirangkaikan dengan kata kuning secara harfiah berarti orang-orang yang
memiliki wajah berwarna kuning. Dalam konteks kalimat (8), frasa muka-
muka kuning berarti serdadu-serdadu dan opsir-opsir Kenpei Jepang.
Pada contoh (9), kata buaya berarti binatang melata berdarah
dingin bertubuh besar dan berkulit keras, bernapas dengan paru-paru,
hidup di air (KBBI IV, 2008: 301). Namun, dalam konteks kalimat (9), kata
buaya memiliki makna orang yang berbahaya, buas; orang jahat atau
penjahat, sehingga kata buaya dalam kalimat (9) merupakan metafora dari
kata penjahat. Pengarang novel Atheis menyamakan binatang buaya
dengan penjahat. Penyamaan subjek buaya dan penjahat menunjukkan
bahwa pengarang ingin menunjukkan sifat tokoh yang seperti penjahat.
Adapun gaya bahasa metafora dalam novel Telegram cenderung
diwujudkan dengan kelas kata nomina, seperti pada contoh berikut:
81
(10) Kenapa tidak. Kita ini bunga. Masih segar dipuja-puja,
kalau sudah layu dibuang”. (Wijaya, 1977: 34)
(11) Lukisan Pointilisme itu sudah mulai mengabur (Wijaya,
1977: 86)
(12) Aku menikmati keadaan sekeliling dengan hati yang
dingin (Wijaya, 1977: 143)
Gaya bahasa metafora dalam kalimat (10) ditandai dengan
penggunaan kata bunga yang berarti bagian tumbuhan yang akan menjadi
buah biasanya elok warnanya dan harum baunya; gambar hiasan;
tambahan untuk memperindah; tanda-tanda baik (KBBI IV, 2008: 222).
Namun, dalam konteks kalimat tersebut, kata bunga berarti sesuatu yang
dianggap elok atau cantik. Kata bunga pada kalimat tersebut merupakan
metafora seorang gadis yang dianggap elok atau cantik.
Pada kalimat (11), gaya bahasa metafora ditandai dengan kata
lukisan yang berarti gambar. Kata lukisan berarti hasil melukis; gambaran
yang indah-indah; uraian yang melukiskan sesuatu (KBBI IV, 2008: 846).
Namun dalam konteks kalimat tersebut, frasa lukisan pointilisme
merupakan metafora dari keadaan yang dialami oleh tokoh yang
sebelumnya tubuh tokoh Aku penuh dengan bintik merah seperti lukisan
pointilisme. Pengarang menyamakan lukisan pointilisme yang abstrak
dengan bintik merah yang muncul di tubuh tokoh Aku.
Pada kalimat (12) yang menjadi penanda gaya bahasa metafora
adalah frasa hati yang dingin. Kata hati berarti organ badan yang
berwarna kemerah-merahan di bagian kanan atas rongga perut; jantung;
sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia yang dianggap sebagai tempat
segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian (KBBI IV, 2008:
82
487). Namun dalam konteks kalimat (12) hati yang dingin berarti perasaan
tidak peduli yang dirasakan oleh tokoh Aku. Frasa hati yang dingin
merupakan metafora dari perasaan yang dialami oleh subjek. Frasa Hati
yang dingin dalam contoh mengandung arti tidak peduli akan keadaan
sekitar.
Dari pemilihan kata sebagai penanda gaya bahasa, novel Telegram
pemilihan kata penanda gaya bahasanya cenderung lebih beragam
dibandingkan dengan novel Atheis. Hal tersebut terlihat pada penggunaan
kata sebagai penanda gaya bahasa metafora dalam novel Atheis,
sedangkan dalam novel Telegram penanda gaya bahasa metafora lebih
beragam dengan penggunaan kata dan frasa.
2. Simile
Gaya bahasa simile dalam novel Atheis dan novel Telegram
diwujudkan dengan kata terbanding nomina konkret, misalnya kata kucing,
berlian, dan katak. Alat formal atau piranti linguistik yang menandai gaya
bahasa simile baik dalam novel Atheis maupun dalam novel Telegram
ditandai dengan kata seperti. Oleh karena itu, terdapat kesamaan
pewujudan gaya bahasa baik dalam novel Atheis maupun dalam novel
Telegram. Beberapa contoh gaya bahasa simile dalam novel Atheis dapat
dilihat sebagai berikut.
(13) Tapi dalam pada itu aku tetap meruncingkan pula
telingaku untuk maksud kunjunganku itu. Seperti
kucing yang sabar menunggu-nunggu kesempatan
83
untuk menyergap tikus yang sedang diintainya…
(Miharja, 1949: 64)
(14) Kebenaran dan kesempurnaan tersembunyi di dalam
timbunan soal-soal itu, seperti berlian dalam timbunan
rumput dan sampah yang berbukit-bukit besarnya.
(Miharja, 1949: 71)
(15) aku tak bisa mengekang pikiran dan khayal dan
kenangan yang licin seperti belut itu menerobos
lagi…(Miharja, 1949: 43)
Contoh (13), (14), dan (15) menunjukkan gaya bahasa simile. Hal
tersebut ditandai oleh kata seperti. Contoh (13) menunjukkan
perbandingan antara kalimat aku tetap meruncingkan pula telingaku untuk
maksud kunjunganku itu dengan kucing yang sabar menunggu-nunggu
kesempatan untuk menyergap tikus yang sedang diintainya. Pembanding
pada contoh (13) adalah kata Aku sedangkan yang menjadi terbanding
adalah kata kucing. Kata aku pada contoh (13) yang berarti kata ganti
orang pertama yang berbicara atau yang menulis; diri sendiri; saya (KBBI
IV, 2008: 32). Dalam konteks kalimat (13), kata Aku dideskripsikan dapat
meruncingkan telinga atau dapat mendengar dengan sangat baik. Kata
kucing yang berarti binatang mamalia pemakan daging yang berukuran
kecil sampai sedang (KBBI IV, 2008: 748), yang dalam konteks kalimat
(13) menjadi kata terbanding dari kata aku. Kedua kalimat memperlihatkan
pertalian maksud yang sama, yaitu ingin memperoleh sesuatu yang
diinginkannya.
Pada contoh (13), topik utama terdapat dalam kalimat pembanding,
yaitu aku tetap meruncingkan pula telingaku untuk maksud kunjunganku
itu. Untuk memperkuat kesan yang menyatakan keseriusan tindakan
84
tokoh Aku dalam mendengarkan sesuatu, pengarang novel Atheis
menambahkan kalimat terbanding yaitu kucing yang sabar menunggu-
nunggu kesempatan untuk menyergap tikus yang sedang diintainya,
sehingga fungsi kalimat terbanding dalam contoh (13) adalah
memperjelas makna atau memperkuat kesan kalimat pembanding.
Contoh (14) menunjukkan perbandingan dua kalimat yang berbeda
tetapi dianggap mempunyai maksud yang sama, yaitu kebenaran dan
kesempurnaan tersembunyi di dalam timbunan soal-soal itu dengan
berlian dalam timbunan rumput dan sampah yang berbukit-bukit besarnya.
Kata kebenaran berarti keadaan yang cocok dengan hal yang
sesungguhnya (KBBI IV, 2008: 168), sedangkan kata kesempurnaan
berarti hal atau keadaan yang sempurna (KBBI IV, 2008: 1265)
dideskripsikan tersembunyi atau dirahasiakan (KBBI IV, 2008: 1261).
Adapun kata berlian berarti intan yang diasah baik-baik (KBBI IV, 2008:
180), yang dalam konteks kalimat (14) menjadi pembanding kata
kebenaran dan kesempurnaan. Perbandingan antara kalimat pembanding
dan terbanding menciptakan makna kesempurnaan seseorang
tersembunyi dari segala perilakunya. Pengarang novel Atheis pada contoh
(14) ingin menunjukkan bahwa kebenaran dan kesempurnaan sama
nilainya seperti berlian sehingga penggunaan kata berlian sebagai kata
terbanding memperluas makna dari kata pembanding yaitu kebenaran dan
kesempurnaan.
85
Pada contoh (15) terlihat adanya dua hal yang berbeda tetapi
dianggap mempunyai kesamaan. Hal tersebut dapat dilihat pada kalimat
aku tak bisa mengekang pikiran dan khayal dan kenangan yang licin
dengan belut itu menerobos lagi. Kata kenangan yang menjadi
pembanding dalam contoh (15) berarti sesuatu yang membekas dalam
ingatan; kesan; kesan dalam ingatan (KBBI IV, 2008: 496) dibandingkan
atau diibaratkan sebagai belut yang berarti ikan air tawar dan payau,
berbentuk memanjang mencapai 100 cm, hidup di dasar perairan tropis
dan berlumpur, tersebar di perairan singai dan lembah wilayah Asia (KBBI
IV, 2008: 463). Kedua kalimat tersebut diasosiasikan karena kenangan
dalam konteks kalimat contoh (15) selalu muncul timbul tenggelam dalam
pikiran tokoh cerita sehingga kenangan tersebut dianggap menyerupai
belut. Pada contoh (15), pengarang cenderung menggunakan gaya
bahasa simile untuk mendefinisikan kalimat pembanding dengan kalimat
terbanding, sehingga kalimat pembanding aku tak bisa mengekang pikiran
dan khayal dan kenangan yang licin didefinisikan oleh kalimat terbanding
belut itu menerobos lagi.
Adapun beberapa contoh pewujudan gaya bahasa simile dalam
novel Telegram dapat dilihat sebagai berikut.
(16) Kita memerlukan keyakinan seperti Mishima, seorang
pengarang yang membunuh diri tanpa faktor lain
kecuali keinginannya memenuhi target. (Wijaya, 1977:
17)
(17) “Aku mengembara sendirian sejak tadi seperti Asrul
Sani mengembara mencari Tuhan” (Wijaya, 1977: 31)
86
(18) Betapa menakjubkannya kalau tiba-tiba teringat bahwa
seringkali kalimat-kalimat itu telah melompat dari mulut
kita seperti katak, tanpa kita kehendaki sendiri.
(Wijaya, 1977: 60)
Contoh (16), (17), dan (18) menunjukkan gaya bahasa simile
dengan penanda gaya bahasa kata seperti. Contoh (16) menunjukkan
perbandingan dua kalimat yang berbeda tetapi dianggap mempunyai
maksud yang sama, yaitu kita memerlukan keyakinan dengan Mishima,
seorang pengarang yang membunuh diri tanpa faktor lain kecuali
keinginannya memenuhi target. Kata keyakinan yang menjadi
pembanding dalam contoh (16) berarti kepercayaan yang sungguh-
sungguh (KBBI IV, 2008: 1566) dibandingkan dengan kata Mishima yang
merupakan seorang pengarang. Kedua kalimat tersebut bermakna
menumbuhkan keyakinan dalam diri dan fokus untuk mencapai sesuatu
yang diinginkan. Pengarang novel Telegram dalam contoh (16) cenderung
mendefiniskan pembanding dengan kalimat terbanding sehingga kalimat
kita memerlukan keyakinan sebagai pembanding didefinisikan dengan
kalimat terbanding Mishima, seorang pengarang yang membunuh diri
tanpa faktor lain kecuali keinginannya memenuhi target.
Demikian pula pada contoh (17) terlihat adanya dua hal yang
berbeda tetapi dianggap mempunyai kesamaan. Hal tersebut dapat dilihat
pada kalimat Aku mengembara sendirian sejak tadi dengan Asrul Sani
mengembara mencari Tuhan. Kedua kalimat tersebut diasosiasikan
karena kegiatan subjek yang mengembara disamakan dengan Asrul Sani
yang mengembara mencari Tuhan. Pada contoh (17), pengarang novel
87
Telegram kembali mendefinisikan kalimat pembanding dengan
pengandaian kalimat terbanding sehingga kalimat pembanding Aku
mengembara sendirian sejak tadi didefinisikan seperti Asrul Sani
mengembara mencari Tuhan yang menjadi kalimat terbanding.
Pada contoh (18), kata kalimat yang berarti kesatuan ujar yang
mengungkapkan suatu konsep pikiran dan perasaan; perkataan (KBBI IV,
2008: 609) dianggap mempunyai kesamaan dengan katak yang berarti
binatang amfibi pemakan serangga yang hidup di air tawar atau di
daratan; hendak menyamai orang besar atau kaya; sombong; congkak;
sangat gaduh (KBBI IV, 2008: 634), sehingga digunakannya kata kalimat
sebagai pembanding dan kata katak sebagai terbanding menunjukkan
makna bahwa kalimat atau ucapan itu seperti katak yang gaduh. Pada
contoh (18), fungsi kalimat terbanding adalah memperjelas makna atau
memperkuat kesan kalimat pembanding.
Simile adalah gaya bahasa perbandingan yang bersifat eksplisit,
yang langsung meyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain. Untuk itu,
diperlukan upaya yang secara eksplisit untuk menunjukkan kesamaan itu,
yaitu dengan penggunaan kata-kata: seperti, bagaikan, laksana, dan
sebagainya. Pada novel Atheis dan novel Telegram, penggunaan alat
formal untuk menyatakan gaya bahasa simile hanya kata seperti.
Secara umum baik dalam novel Atheis maupun dalam novel
Telegram terlihat bahwa pengarang berusaha menarik perhatian
pembacanya dengan menggunakan perbandingan-perbandingan atau
88
gaya bahasa perbandingan tentang suatu hal. Gaya bahasa simile yang
digunakan Achdiat Karta Miharja dan Putu Wijaya dalam novelnya
berfungsi sebagai alat untuk memperkuat efek terhadap gagasan yang
disampaikan. Gaya bahasa dapat membuat pembaca atau pendengar
terkesan terhadap gagasan yang disampaikan penulis. Selain itu, gaya
bahasa simile dalam novel juga berfungsi sebagai alat untuk menciptakan
keadaan perasaan hati tertentu. Penggunaan gaya bahasa simile juga
menunjukkan bahwa pengarang ingin memperlihatkan „sudut pandang‟
yang lain tentang suatu hal dengan memperbandingkan hal tersebut
dengan hal lainnya.
3. Personifikasi
Gaya bahasa personifikasi baik dalam novel Atheis maupun dalam
novel Telegram cenderung diwujudkan dengan kelas kata verba transitif
meng-, misalnya kata menepuk, memecah, menekan. Dalam novel Atheis,
gaya bahasa personifikasi terlihat dalam kalimat berikut:
(19) Kadang-kadang piring seng jatuh, bergelemprang
suaranya menepuk ketenangan masa subuh yang
masih sunyi (Miharja, 1949: 14).
(20) Kerikil berkerecek di bawah bakiakku memecah
kesunyian malam (Miharja, 1949: 80).
(21) Kelesuan yang selama itu menekan jiwaku, sekarang
sudah tidak ada lagi (Miharja, 1949: 91).
Personifikasi mengandung suatu unsur persamaan. Jika metafora
dan simile membuat perbandingan antara suatu hal dengan hal lainnya,
89
maka personifikasi hal yang diperbandingkan adalah benda-benda mati
yang diinsankan atau hal yang dibandingkan seolah-olah berwujud seperti
manusia. Pada kalimat (19), kata suara yang berarti bunyi yang
dikeluarkan dari mulut manusia; bunyi binatang, alat perkakas, dan
sebagainya; ucapan (perkakas); bunyi bahasa (KBBI IV, 2008: 1145),
dipersonifikasikan dapat menepuk. Pada kalimat (20), kata kerikil yang
berarti butiran batu yang lebih besar daripada pasir (KBBI IV, 2008: 680)
dipersonifikasikan dapat memecah keadaan sunyi. Serta pada kalimat
(21), kata kelesuan yang berarti kekurangan tenaga; kehilangan semangat
(KBBI IV, 2008: 821), dipersonifikasi dapat menekan jiwa. Dari ketiga
contoh di atas terlihat bahwa benda-benda yang seolah-olah dapat
melakukan sesuatu, atau nomina tak bernyawa (suara, kerikil, dan
kelesuan), dipersonifikasi dapat melakukan tindakan menepuk, memecah,
dan menekan.
Berdasarkan struktur bahasa yang membentuk, majas personifikasi
dibentuk oleh kata dengan konstruksi terbanding dan pembanding.
Konstruksi terbanding dibentuk oleh nomina tak bernyawa (suara, kerikil,
dan kelesuan). Sedangkan konstruksi pembanding dibentuk oleh verba
berafiks meng- (menepuk, memecah, dan menekan).
Adapun pewujudan gaya bahasa personifikasi dalam novel
Telegram yang diwujudkan dengan kelas kata verba transitif meng- dapat
dilihat pada contoh berikut:
90
(22) Matahari memaksa diri memanjat langit (Wijaya, 1977:
44).
(23) Ada kereta yang memekik, masuk ke dalam stasiun
(Wijaya, 1977: 49).
(24) …. seringkali kalimat-kalimat itu telah melompat dari
mulut kita (Wijaya, 1977: 60).
Majas personifikasi ditandai dengan adanya persamaan antara
suatu hal, yang dalam hal ini benda mati, dengan hal yang
diperbandingkan. Pada contoh kalimat (22), matahari yang berarti benda
angkasa yang merupakan titik pusat tata surya (KBBI IV, 2008: 887)
dipersonifikasikan dapat memanjat. Pada contoh kalimat (23), kereta
yang berarti kendaraan yang beroda dua atau empat (KBBI IV, 2008: 679)
dipersonifikasikan dapat memekik. Pada kalimat (24), kata kalimat yang
berarti kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu konsep pikiran dan
perasaan; perkataan (KBBI IV, 2008: 609) dipersonifikasikan dapat
melompat. Sehingga, dari contoh majas personifikasi di atas terlihat
bahwa kelompok benda mati (matahari, kereta, dan kalimat) dilukiskan
dapat melakukan perbuatan atau tindakan (memanjat, memekik, dan
melompat). Dari segi struktur kebahasaan, majas personifikasi ditandai
oleh kata kerja atau verba berafiks dengan pembanding kata nomina.
Adapun makna kata penanda gaya bahasa personifikasi memberi
perluasan makna pada kata nomina yang terdapat dalam contoh,
misalnya kata matahari yang dirangkaikan dengan kata memanjat
memberi perluasan makna pada kata memanjat yang biasanya identik
dengan pohon atau tembok.
91
4. Antonomasia
Gaya bahasa antonomasia dalam novel Atheis dan novel Telegram
diwujudkan dengan kelas kata adjektiva, misalnya kata curiga, kecewa,
tua. Dalam novel Atheis pewujudan gaya bahasa antonomasia terlihat
dalam contoh berikut:
(25) Pak Curiga sedang bicara, tegas suaranya, matanya
berkedip-kedipan atau memicing sebelah, kadang-
kadang suaranya berdesis-desis berbisik (Miharja,
1949: 58).
(26) Mas Dongkol memberengut seperti jeruk masam,
meludah-ludah, menyikut ke kiri menyikut ke kanan,
merajuk-rajuk (Miharja, 1949: 58).
(27) Nona Kecewa berkecak-kecak dalam mulutnya sambil
menggigit-gigit ujung saputangannya (Miharja, 1949:
58).
(28) Empo Marah membentak-bentak dan merentak-rentak
kakinya dengan menyingsingkan kainnya sedikit ke
atas (Miharja, 1949: 58).
(29) Siti cemburu menggaung-gaung seperti anjing
melolong-lolong di malam purnama (Miharja, 1949:
58).
Pada contoh kalimat (25), majas antonomasia ditandai oleh kata
curiga yang melekat pada panggilan Pak yang berarti orang tua laki-laki
atau ayah; orang yang dipandang sebagai orang tua atau orang yang
dihormati kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu konsep pikiran dan
perasaan; perkataan (KBBI IV, 2008: 138). Pada contoh kalimat (26),
majas antonomasia ditandai dengan pemberian julukan dongkol pada kata
mas yang merupakan sapaan untuk saudara tua laki-laki atau laki-laki
92
yang dianggap lebih tua kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu
konsep pikiran dan perasaan; perkataan (KBBI IV, 2008: 881). Pada
contoh kalimat (27), majas antonomasia ditandai oleh kata kecewa yang
melekat pada kata nona yang berarti sebutan bagi anak perempuan atau
wanita yang belum menikah (KBBI IV, 2008: 967). Pada contoh kalimat
(28), majas antonomasia ditandai dengan penggunaan kata marah yang
melekat pada kata empo yang berarti kakak perempuan; sapaan untuk
orang perempuan yang lebih tua (KBBI IV, 2008: 370). Serta pada contoh
kalimat (29), majas antonomasia ditandai dengan penggunaan kata
cemburu pada nama siti yang merupakan salah satu nama tokoh dalam
novel Atheis.
Penggunaan kata curiga, dongkol, kecewa, marah, dan cemburu
yang menandakan majas antonomasia, menunjukkan bahwa pengarang
pada novel Atheis cenderung menggunakan kata sifat untuk
mendeskripsikan orang (pak, mas, nona, empo, dan siti). Penggunaan
kata sifat tersebut dapat bertujuan untuk mendeskripsikan sifat yang
melekat pada diri tokoh dalam novel tersebut. Sedangkan, untuk struktur
kebahasaan yang membentuk majas antonomasia terlihat bahwa dalam
contoh cenderung berstruktur kata sifat yang melekat pada kata benda.
Pengarang dalam novel Atheis cenderung menggunakan gaya bahasa
antonomasia untuk mejelaskan sifat tokoh cerita dalam novel.
Dalam novel Telegram, majas antonomasia ditunjukkan oleh
kalimat berikut :
93
(30) Siang itu banyak yang periksa sehingga aku terpaksa
melewatkan waktu dengan Max Tua tukang parker. Ia
sudah lupa padaku, tetapi pura-pura saja ingat (Wijaya,
1977: 54).
(31) Kantor sudah sepi. Kujumpai Pak Tua sedang mandi.
Dua orang reporter masih bergulat dengan mesin tik
mengejar dead-line. (Wijaya, 1977: 62).
(32) Sayup-sayup terdengar suara sirine. Pak Tua berhenti
bercerita. Aku keluar dari pikiranku. Pada saat itu
lampu mati. Di jalan menjerit suara mobil pemadam
kebakaran. “Kebakaran!” teriak Pak Tua (Wijaya, 1977:
67).
Majas antonomasia adalah gaya bahasa yang biasanya berwujud
kata sifat, kata benda, atau frasa yang biasa digunakan untuk
meremehkan atau menghina orang atau benda. Pada contoh kalimat (30),
majas antonomasia ditandai oleh kata Tua yang melekat pada nama Max.
Pada contoh kalimat (31), majas antonomasia ditandai oleh kata Tua pada
panggilan pak yang berarti orang tua laki-laki atau ayah; orang yang
dipandang sebagai orang tua atau orang yang dihormati kesatuan ujar
yang mengungkapkan suatu konsep pikiran dan perasaan; perkataan
(KBBI IV, 2008: 138). Serta pada contoh kalimat (32), majas antonomasia
juga ditandai oleh kata Tua yang melekat pada nama atau panggilan pak
yang berarti orang yang dipandang sebagai orang tua atau orang yang
dihormati kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu konsep pikiran dan
perasaan (KBBI IV, 2008: 138).
Penggunaan kata Tua sebagai penanda majas antonomasia dalam
novel Telegram menunjukkan bahwa pengarang novel tersebut cenderung
menggunakan kata sifat tua untuk memberi identifikasi kepada subjek
94
(Max, Pak). Untuk struktur kebahasaan yang membentuk majas
antonomasia dalam novel Telegram, terlihat bahwa majas antonomasia
berstruktur kata sifat yang melekat pada kata benda. Penggunaan kata
sifat sebagai penanda gaya bahasa antonomasia bertujuan untuk
mendeskripsikan sifat yang melekat pada tokoh dalam novel tersebut.
5. Metonimia
Pewujudan gaya bahasa metonimia dalam novel Telegram
diwujudkan dengan kelas kata nomina konkret, misalnya kata garuda,
gambir, dan benson. Adapun dalam novel Atheis juga diwujudkan dengan
kelas kata nomina konret seperti; Lux, pomade, sigaret, dan haseline.
Penggunaan gaya bahasa metonimia dalam novel Atheis dan Telegram
menunjukkan bahwa pengarang mulai cenderung mempergunakan ikon
atau merek tertentu untuk menyatakan benda yang memiliki pertalian
yang sangat dekat dengan benda yang ingin dinyatakan. Berikut
merupakan contoh gaya bahasa metonimia dalam novel Telegram:
(33) Aku meneguk coca-cola, sambil menghembus-
hembuskan asap rokok Benson (Wijaya, 1977: 5).
(34) Pukul sembilan atau pukul sepuluh malam, masih ada
Garuda yang terbang ke Denpasar kalau tohh
diniatkan begitu (Wijaya, 1977: 46).
(35) Kami sampai di Gambir dengan selamat. Untung kereta
api BIMA terlambat empat jam karena ada perbaikan
jembatan di Jawa Tengah (Wijaya, 1977: 47).
(36) Seluruh tubuh rasanya seperti barusan dilindas stoom
(Wijaya, 1977: 61).
95
(37) Aku menghisap Benson yang kelima (Wijaya, 1977:
118).
Pada contoh kalimat (33) di atas, majas metonimia ditandai dengan
penggunaan kata coca-cola. Kata coca-cola merupakan merek minuman
bersoda produksi coca-cola comp sehingga penggunaan kata coca-cola
menunjukkan bahwa tokoh sedang meminum minuman bersoda. Pada
contoh kalimat (34), majas metonimia ditandai dengan penggunaan kata
garuda. Kata Garuda dalam kalimat tersebut merujuk pada nama salah
satu maskapai penerbangan di Indonesia. Penggunaan kata Garuda
dalam kalimat tersebut menunjukkan nama pesawat atau maskapai
penerbangan yang akan dipakai tokoh Aku untuk pulang ke kampung
halamannya. Pada contoh kalimat (35), majas metonimia ditandai dengan
penggunaan kata Gambir. Kata gambir pada kalimat tersebut merujuk
pada nama stasiun kereta api di Jakarta, sehingga dalam konteks kalimat
kata gambir digunakan pengarang untuk menunjukkan setting atau latar
tempat kejadian di dalam novel. Pada contoh kalimat (36), majas
metonimia ditandai dengan penggunaan kata stoom. Kata stoom pada
kalimat tersebut merujuk pada alat yang digunakan untuk meratakan
jalanan. Pada contoh kalimat (37), kata Benson menjadi penanda majas
metonimia. Kata benson pada kalimat tersebut merujuk pada nama rokok
yang ada di Indonesia.
Adapun contoh gaya bahasa metonimia dalam novel Atheis dapat
dilihat dalam kalimat berikut:
96
(38) Maka ucapan "mataku seperti lengket" dari mulut Rusli
itu pun, malah hanya menimbulkan asosiasi pikiran
kepada rambutnya saja yang lengket karena tebalnya
pomade. (Miharja, 1949: 81)
(39) Kulit mukanya yang agak kasar itu sekarang menjadi
halus nampaknya karena memakai "Hazeline Snow".
(Miharja, 1949: 81)
(40) Wangi "Soir de Paris" terhambur, ketika sapu tangan itu
terayun dari sakunya ke leher. (Miharja, 1949: 109)
(41) "Mari merokok!" (riang tersenyum menyodorkan sebuah
selapa dari perak bakar yang berisi sigaret Mascot dan
cerutu. Kemudian sambil bangkit)... (Miharja, 1949: 119)
Pada kalimat (38) yang menjadi penanda gaya bahasa metonimia
adalah kata pomade. Kata pomade merek produk perawatan rambut.
Pada kalimat (39) yang menjadi penanda gaya bahasa metonimia adalah
kata hazeline yang dalam konteks kalimat tersebut merupakan nama
produk untuk kulit. Penanda gaya bahasa metonimia dalam contoh kalimat
(40) adalah kata Soir de Paris yang merupakan merek parfum. Pada
contoh kalimat (41) kata sigaret Mascot menjadi penanda gaya bahasa
metonimia. Kata sigaret Mascot merupakan merek rokok.
Berdasarkan struktur kebahasaan yang membentuk, majas
metonimia ditandai dengan penggunaan kata yang merujuk pada nama
merek minuman, maskapai penerbangan, nama stasiun kereta api, nama
alat, nama rokok, nama produk perawatan rambut, nama parfum, dan
produk perawatan kulit. Bentuk kata yang digunakan sebagai penanda
majas metonimia adalah kata yang termasuk dalam kelas kata nomina
dasar. Kecenderungan penggunaan nama merek dagang, nama alat, dan
97
nama maskapai penerbangan menunjukkan bahwa pengarang novel
Atheis dan Telegram ingin memberikan gambaran atau visualisasi lebih
jelas mengenai barang atau benda yang digunakan, yang dibicarakan,
atau yang didatangi oleh tokoh cerita dalam novel, sehingga penggunaan
merek dagang, nama maskapai penerbangan, dan nama alat yang
menjadi penanda gaya bahasa metonimia dalam novel Atheis dan
Telegram bertujuan untuk memberi penjelasan atau petunjuk yang lebih
rinci.
Persamaan pewujudan gaya bahasa antonomasia dalam novel
Atheis dan novel Telegram diwujudkan dengan kelas kata nomina
konkret. Kelas kata nomina konkret pada novel Atheis dan novel Telegram
diwujudkan dengan kata yang menunjukkan nama merek dagang, nama
maskapai penerbangan, dan nama alat. Hal tersebut menunjukkan bahwa
pewujudan gaya bahasa antonomasia dalam novel Atheis dan novel
Telegram terdapat persamaan.
98
BAB V
PENUTUP
A. SIMPULAN
Penelitian ini memiliki dua tujuan, yaitu; (1) untuk mendeskripsikan
perbedaan pewujudan gaya bahasa dalam novel Atheis dan novel
Telegram; dan (2) mendeskripsikan persamaan pewujudan gaya bahasa
dalam novel Atheis dan novel Telegram. Hasil penelitian pada bab
sebelumnya menunjukkan bahwa pengarang dalam novel Atheis dan
Telegram menggunakan diksi dari kategori kata tertentu untuk
mewujudkan gaya bahasa dalam kedua novel tersebut.
Perbedaan pewujudan gaya bahasa dalam novel Atheis dan novel
Telegram terdapat dalam gaya bahasa hiperbola. Gaya bahasa hiperbola
dalam novel Atheis diwujudkan dengan verba dasar misalnya kata
tumpah, pecah, dan pecat, sedangkan dalam novel Telegram diwujudkan
dengan verba transitif meng- misalnya kata menghidupkan. Hal ini berarti
pewujudan gaya bahasa hiperbola dalam novel Atheis lebih sederhana,
sedangkan dalam novel Telegram lebih kreatif.
Untuk penggunaan gaya bahasa sarkasme dalam novel Atheis
(karya sastra Angkatan 1945) menunjukkan bahwa bahasa sastra pada
karya sastra Angkatan 1945 cenderung lebih kasar jika dibandingkan
dengan bahasa karya sastra Angkatan 1966-70an (dalam novel
Telegram).
98
99
Persamaan pewujudan gaya bahasa dalam novel Atheis dan novel
Telegram terdapat pada gaya bahasa metafora, simile, personifikasi,
antonomasia, dan metonimia. Gaya bahasa metafora dalam novel Atheis
dan novel Telegram diwujudkan dengan kelas kata nomina konkret,
misalnya kata buaya, bunga, dan lukisan. Gaya bahasa simile baik dalam
novel Atheis maupun dalam novel Telegram diwujudkan dengan kelas
kata nomina konkret misalnya kata kucing, berlian, dan katak. Alat formal
atau piranti linguistik ditandai dengan kata seperti. Gaya bahasa
personifikasi dalam novel Atheis dan novel Telegram diwujudkan dengan
kelas kata verba intransitif meng- misalnya kata memecah, memanjat, dan
melompat, serta gaya bahasa antonomasia baik dalam novel Atheis
maupun dalam novel Telegram diwujudkan dengan kata adjektiva
misalnya kata curiga, kecewa, dan tua. Gaya bahasa metonimia baik
dalam novel Atheis maupun dalam novel Telegram diwujudkan dengan
kels kata nomina konkret, misalnya pomade, hazeline, dan garuda. Hal ini
berarti corak bahasa atau pola bahasa dalam novel Atheis dan novel
Telegram tidak jauh berbeda, sehingga tidak ada dinamika perubahan
gaya bahasa yang signifikan.
B. SARAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap
penggunaan gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna dalam
novel Atheis dan novel Telegram, terlihat bahwa dalam novel Atheis
100
penggunaan gaya bahasa yang paling dominan adalah metafora,
sedangkan dalam novel Telegram penggunaan gaya bahasa yang paling
dominan adalah simile. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian
Listyorini (2013) yang menyatakan bahwa gaya bahasa yang paling
banyak dalam novel Atheis adalah gaya bahasa simile. Oleh karena itu,
bagi peneliti yang tertarik meneliti gaya bahasa dapat menganalisis novel
Atheis dari perspektif lainnya, misalnya menganalisis gaya bahasa novel
Atheis berdasarkan pilihan kata ataupun struktur kalimatnya.
Untuk peneliti selanjutnya yang ingin meneliti perbandingan gaya
bahasa antara karya sastra Angkatan 1945 dan karya sastra Angkatan
1966-70an, sebaiknya menambah objek penelitian dari pengarang
lainnya. Penambahan objek penelitian tersebut dilakukan agar data yang
diperbandingkan semakin banyak. Melalui penelitian tersebut akan terlihat
ciri kolektif gaya bahasa karya sastra pada Angkatan 1945 dan karya
sastra Angkatan 1966-70an. Dalam bidang pengajaran sastra, penelitian
ini dapat dimanfaatkan sebagai rujukan informasi mengenai pola
penggunaan gaya bahasa dalam novel Atheis karya Achdiat Karta Miharja
dan novel Telegram karya Putu Wijaya. Namun bagi peneliti selanjutnya
yang tertarik menganalisis objek kajian dengan pendekatan yang sama,
harus menambahkan objek kajian atau karya sastra dari Achdiat Karta
Miharja dan Putu Wijaya yang lainnya untuk melihat ciri pribadi kedua
pengarang tersebut.
101
DAFTAR PUSTAKA
Abrams, M.H. 1979. The Mirror and The Lamp, Romantic Theory and The
Critical Tradition. London New York: Oxford University Press.
. 1981. A Glossary of Literary Terms. New York: Holt,
Rinehart and Winston.
Ahmadi, M. 1990. Dasar-dasar Komposisi Bahasa Indonesia. Malang:
Yayasan Asah Asih Asuh.
Angelia, Fiona. 2008. Periodesasi Sastra Indonesia. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama.
Baribin, Raminah. 1985. Teori Apresiasi Prosa Fiksi. Semarang: IKIP
Negeri Press.
Black, Elizabeth. 2011. Stilistika Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Chaer, Abdul. 2012. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Chapman. 1977. The Behaviour and Design of Stell Structures. Madison:
University of Wisconsin.
Culler, Jonathan. 1975. Structuralist Poetic: Structuralisme Linguistic and
The Study of Literature. London: Routhledge & Kegan Paul.
Darwis, Muhammad. 2002. “Pola-pola gramatikal dalam penulisan puisi
Indonesia.” Jurnal ilmiah nasional terakreditasi DIKTI. Linguistik
Indonesia, Volume 20, No.1.
. 2009. “Kelainan Ketatabahasaan dalam Puisi
Indonesia: Kajian Stilistika”. Diunduh pada pukul 09.00, tanggal 10
Desember 2017 pada situs [Link].
Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra (Epistemologis,
Model, Teori dan Aplikasi). Yogyakarta: PN. Pustaka Widyatama.
Forster, E.M. 1970. Aspect The Novel. Harmondswort: Penguin Book.
Hartoko, Dick dan Rahmanto. 1986. Pemandu di Dunia Sastra.
Yogyakarta: Kanisius.
Idris. 2012, “Katakteristik Bentuk Kebahasaan Mantra: Kajian Stilistika”.
Tesis. Makassar: Pascasarjana Universitas Hasanuddin.
101
102
Imron, Ali. 2009 . Stilistika, Teori, Metode, dan Aplikasi Pengkajian
Estetika Bahasa. Solo: Cakra Books.
Jabrohim. 2000. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Hanindita
Graha Widya.
Junus, Umar. 1989. Stilistika satu pengantar. Kuala Lumpur: Dewan
Bahasa dan pustaka Kementrian Pendidikan Malaysia.
Kenny, William. 1966. How to Analyze Fiction. New York: Monarch Press.
Keraf, Gorys. 2010. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama.
Kerismas. 1990. Perbincangan Gaya Bahasa Sastera. Kuala Lumpur:
Dewan Bahasa dan Pustaka.
Kridalaksana, Harimurti. 2009. Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
. 2011. Kamus Linguistik. Edisi Ketiga. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama.
Kuntjara, Esther. 2004. Gender, Bahasa, dan Kekuasaan. Jakarta:BPK
Gunung Mulia.
Leech, Geoffrey N. dan Michael H. Short. 1984. Gaya dalam Cereka;
Penerapan Linguistik dalam Prosa Cereka Inggris (diterjemahkan
ke dalam bahasa Melayu oleh Umar Junus). Kuala Lumpur: Dewan
Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia.
Listyorini, Endang Mawawati. 2013. Karakteristik Gaya Bahasa Novel
Atheis Karya Achdiat K. Mihardja dan Potensinya Sebagai
Landasan Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Indonesia. Tesis.
Universitas Negeri Malang.
Luxemburg, Jan Van; Mieke Ball dan Willem G. Westeijn. 1984. Pengantar
Ilmu Sastra. Penerjemah: Dick Hartoko. Jakarta: PT. Gramedia.
Mahsun. 2013. Metode Penelitian Bahasa (Tahapan Strategi, Metode dan
Tekniknya). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Mangunwijaya, Y.B. 1988. Sastra dan Religisitas. Yogyakarta: Kanisius.
Mihardja, Achdiat Karta. 2010. Atheis . Jakarta: Pusat Bahasa.
Nurgiyantoro, Burhan. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
103
Rahmawati. 2012 “Gaya Bahasa Andrea Hirata dalam Dwilogi Padang
Bulan: Kajian Stilistika”. Tesis. Makassar: Pascasarjana Universitas
Hasanuddin.
Ramlan. 2001. Tata Bahasa Indonesia Penggolongan Kata. Yogyakarta:
Andi Offet.
Ratna, Nyoman Kutha. 2009. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Santosa, Puji dkk. 2008. Kritik Sastra. Yogyakarta: Elmatera.
Sastrowardoyo, Subagio. 1983. Sastra Hindia Belanda dan Kita. Jakarta:
Balai Pustaka.
Simpson, Paul. 2004. Stylistics: A Resource Book for Students. England:
Psychology Press.
Solihati, Nani. 2013. “Diksi Puitis Kumpulan Cerpen Mengakar Ke Bumi
Menggapai Ke Langit Jilid 3 Karya Taufiq Ismail”. Jurnal Stilistika,
81-88.
Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa.
Yogyakarta: Duta Wacana University Press.
Sudaryat, Ndang. 1986. Ringkasan Bahasa Indonesia. Bandung: Ganeca
Exact.
Sugondo, Dendy (pimpinan redaksi), dkk. 2008. Kamus Besar Bahasa
Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Sumardjo, Jakob. 1983. Pengantar Novel Indonesia. Jakarta: Karya
Unipress.
Sutopo, H.B. 2002. Pengantar Penelitian Kualitatif. Surakarta : Universitas
Sebelas Maret Press.
Tarigan, Henry Guntur. 1984. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung:
Angkasa.
. 2009. Pengajaran Semantik. Bandung: Angkasa.
Teeuw, A. 1980. Sastra Baru Indonesia. Ende: Nusa Indah.
Trudgill, Peter. 2003. ,Glossary of Sociolinguistics. [Link]
University Press.
104
Turner, Victor. 1977. The Ritual Process: Structure and Anti-Structure.
Ithaca: Cornel University Press.
Waluyo, Herman J. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1988. Teori Kesusastraan.
Diterjemahkan oleh Melanie Budianta. Jakarta: Gramedia.
Widdowson, H.G. 1997. Stilistika dan Pengajaran Sastra. Penerjemah:
Sudijah. Surabaya: Airlangga University Press.
Wijaya, Putu. 1973. Telegram. Jakarta: Pustaka Jaya.
Yudiono, K.S. 2007. Pengantar Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: PT.
Grasindo.
105
LAMPIRAN I
106
Tabel Rekapitulasi Penggunaan Gaya Bahasa
dalam Novel Atheis dan Novel Telegram
Jumlah data
No Jenis Gaya Bahasa
Novel Novel
Atheis Telegram
1. Hiperbola 30 3
2. Simile 29 17
3. Metafora 40 12
4. Personifikasi 10 14
5. Metonimia 18 6
6. Antonomasia 6 3
7. Sarkasme 1 0
Jumlah 134 55
Setelah melakukan analisis terhadap novel Atheis dan novel
Telegram, berdasarkan tabel di atas penggunaan gaya bahasa lebih
banyak digunakan dalam novel Atheis yakni 134 kalimat.
107
LAMPIRAN II
108
SINOPSIS
Dalam novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja menceritakan
tentang perjalanan hidup seseorang bernama Hasan yang lahir dari
109
sebuah keluarga yang sangat taat kepada agamanya, yaitu Islam. Hasan
adalah anak tunggal dari pensiunan manteri guru yang tinggal di lereng
gunung Telaga Bodas di tengah-tengah pegunungan priangan yang indah
bernama kampung panyeredan di wilayah Bandung yang pada waktu itu
masih dalam keadaan dijajah pemerintahan Jepang.
Sejak kecil Hasan dididik dengan cara Islam. Ayahnya Raden
Wiradikarta menginginkan Hasan menjadi anak yang baik, sopan, berilmu,
dan berakhlak sholeh. Oleh karena itu, walaupun Hasan masih kecil tetapi
dia sudah menunjukkan pribadi Islam yang taat. Hasan selalu patuh
kepada semua peraturan kedua orang tuanya.
Kedua orang tua Hasan semakin bangga melihat Hasan tumbuh
dewasa dengan kadar keimanan yang cukup tinggi. Kebahagiaan dan
kebanggaannya bertambah ketika Hasan berniat untuk pergi
memperdalam ilmu tarekat pada kiayi Mahmud seperti yang dilakukan
oleh kedua orang tuanya dulu. Keimanannya semakin meningkat setelah
Hasan menimba ilmu di sana dan mengamalkannya dalam setiap langkah
hidupnya. Setelah Hasan merasa cukup dengan ajaran-ajaran dari kiayi
Mahmud dan orang tuanya, maka setelah ia sekolah, Hasan pun bekerja
di sebuah kantor milik Jepang. Kini Hasan harus terpisah dengan kedua
orang tuanya karena pekerjaannya berada di daerah yang jauh dari desa
tempat kelahirannya dulu. Walaupun Hasan jauh dari kedua orang tuanya
dan bekerja pada orang-orang Jepang tetapi Hasan masih memegang
teguh agamanya dan masih menjadi pribadi dengan keimanan yang kuat.
110
Suatu ketika, Hasan sedang bekerja pada loketnya, Hasan bertemu
sahabat lamanya bernama Rusli, dia teman kecil Hasan yang telah meraih
kesuksesan dan memiliki pengalaman hidup yang luas. Dalam waktu yang
bersamaan, Rusli mengenalkan seorang perempuan bernama Kartini
yang bersamanya pada waktu itu kepada Hasan. Ketiganya saling
bercakap-cakap sampai pada titik kesimpulan bahwa Hasan disuruh
berkunjung kerumah Rusli yang tidak jauh dari perumahan yang ditempati
Hasan. Hasan pun sering datang ke rumah Rusli dan Kartini pun selalu
ada di sana. Hasan sangat senang bertemu dengan sahabat lamanya itu,
ditambah lagi dengan adanya Kartini yang menurut Hasan adalah sesosok
perempuan yang sangat mirip dengan Rukmini, kekasihnya dulu pada
waktu di kampung. Baginya Kartini adalah jelmaan yang dikirim Tuhan
untuk menggantikan Rukmini yang telah pergi dari kehidupannya.
Meskipun Hasan bahagia dengan sahabat lamanya itu tetapi
semua kebahagiaan itu belum cukup karena ternyata kedua temannya itu
mempunyai keyakinan yang berbeda dengan dirinya. Mereka
beranggapan bahwa sebenarnya Tuhan itu tidak ada. Hal itulah yang
membuat Hasan berniat untuk mengislamkan kedua temannya itu tetapi
niat baiknya itu semakin terkikis oleh kebaikan Rusli dan Kartini. Hasan
sedikit melalaikan niat awalnya itu karena sering berdiskusi tentang
berbagai hal dengan Rusli ataupun Kartini. Walaupun niat Hasan mulai
luntur tetapi dia masih taat pada ajaran Agamanya. Selain berkunjung ke
rumah Rusli, Hasan pun sering diajak pergi ke restoran oleh Rusli dan
111
Kartini. Mereka selalu pergi bertiga hingga perasaan lain pun datang
kepada Hasan untuk Kartini. Kartini pun menerima perasaan Hasan. Sejak
saat itu mereka semakin dekat dan akrab tetapi sering pula Hasan berfikir,
mengeluh, hatinya bimbang, terombang-ambing antara dua pilihan. Tetap
berada di jalan yang telah diajarkan oleh orang tuanya sejak kecil, yaitu
jalan agama atau memasuki dunia yang baru saja ia kenal dari
sahabatnya Rusli dan Kartini namun telah menariknya dengan kuat
menjadi seorang Atheis.
Kehadiran Kartini mengubah seluruh hidup Hasan. Hasan berusaha
menyesuaikan diri dengan pergaulan Kartini dan paham yang diyakininya.
Hasan mengalami berbagai konflik yang menyebabkan pertentangan
hebat di dalam batinnya. Masalah meruncing ketika muncul Anwar,
seorang seniman dan sekaligus teman Rusli, Anwar dikenalkan Rusli
kepada Hasan dan Kartini ketika mereka berada di sebuah restoran. Sejak
saat itu Hasan telah mengetahui bahwa Anwar menaruh hati kepada
Kartini. Mengetahui keadaan seperti itu, akhirnya Hasan menikahi Kartini
yang sudah menjadi cita-citanya dari sejak ia mengenalnya. Awalnya,
Hasan ingin menuntun istrinya itu menjadi seorang muslimah dengan satu
keyakinan dalam rumah tangga yang baru saja ia masuki. Namun, semua
harapan itu hilang ketika Kartini sering meninggalkan rumah setelah
beberapa bulan pernikahan. Hal itu terjadi karena satu permasalahan
antara Kartini dengan orang tua Hasan yang memang dari semula tidak
pernah menyetujui pernikahan mereka karena Kartini seorang Atheis.
112
Kebahagiaan hidup rumah tangga Hasan dengan Kartini tidak
berlangsung lama. Rumah tangga yang semula diselimuti kabahagiaan
harus berakhir dengan perceraian. Anwar yang anarkis individualistis,
menumbuhkan percik-percik bara di hati Hasan. Hasan pun menceraikan
Kartini karena dia beranggapan bahwa Kartini telah berselingkuh dengan
Anwar. Kartini selalu pergi dengan Anwar ketika meninggalkan rumah.
Dalam benak Hasan, Anwar-lah penyebab putusnya hubungan dengan
sang istri. Anwar pula yang acap kali menggelitik kecemburuannya.
Betapapun, pandangan Anwar terhadap Kartini amat patut dicurigai,
begitu munurut Hasan.
Bersamaan dengan itu, perasaan berdosa Hasan terhadap
ayahnya, bagaimanapun tidak lepas sama sekali. Lebih dari itu, kenangan
masa kecil, terutama dongeng tentang siksa-siksa neraka, semakin
menghantui dirinya. Ia dikejar kegelisahan, ketakutan, dan perasaan
berdosa. Dengan sendirinya, semua itu tambah meruwetkan kehidupan
rumah tangganya. Sampai pada puncaknya, Hasan dan Kartini
menggambil keputusan langkah dramatis: cerai! Maka, berakhirlah
kehidupan rumah tangga Hasan Kartini.
Di pihak Hasan, keputusan itu ternyata tidaklah membawa
ketenangan bagi jiwanya. Ketakutan, kecemasan, dan bayangan siksaan
neraka terus saja menghantui. Ia makin gelisah. Rasa bersalah, berdosa,
menyesal, takut, khawatir, dan macam-macam tekanan batin, tambah
akrab dengan jalan pikiran serta makin menggerogoti kesehatan fisiknya.
113
“Sudah jatuh, tertimpa tangga pula,” begitulah nasib yang dialami Hasan.
Saat ia menderita tekanan batin yang hebat, ayahnya meninggal. Hal
yang memberatkan Hasan sebenarnya bukan semata-mata soal
kematian, melainkan kenyataan bahwa permintaan maafnya ditolak
ayahnya, justru menjelang orang tua itu mengembuskan napasnya yang
terakhir.
Begitulah pemikiran Hasan yang pada saat itu keadaannya yang
sedang sakit TBC. Hasan sangat sedih dan menyesal karena dia sudah
melukai hati kedua orang tuannya dengan menjadi Atheis dan menikahi
Kartini yang akhirnya Ayah Hasan harus meninggal dunia dengan
membawa penyesalan yang mendalam karena perbuatan anaknya,
Hasan. Hasan sangat menyesal dengan apa yang telah dipilih dalam
hidupnya, dengan penyakit TBC yang dideritanya ditambah dengan
penyesalan yang sangat dalam maka Hasan pun semakin lemah dan
harapannya telah kosong.
Sementara perasaan Hasan hanyut dalam kegalauan yang tak
kunjung reda, selama itu pula berusaha mencari kebenaran yang nyata
mengenai keimanannya. Sejumlah teori yang pernah di kemukakan Rusli
dan Anwar, dirasakannya semakin menyesatkan, terlebih lagi pandangan-
pandangan Anwar. Maka, Hasan tidak dapat berbuat lain dari berusaha
membalas dendam kepada Anwar, biang keladinya. Semua itu akibat
tingkah laku Anwar, ia pula harus menanggung akibatnya. Demikian
dendam Hasan makin menggumpal. Atas keputusan ini, akhirnya Hasan,
114
tanpa menghiraukan keadaan sekelilingnya, keluar mencari Anwar.
Semakin keras nafsunya untuk membuat perhitungan terhadap Anwar,
semakin bergegas pula langkah kakinya. Pada saat yang bersamaan,
gaung sirene tanda bahaya udara meraung-raung memecahkan
kegelapan malam. Namun, Hasan tak peduli. Ia terus melangkah; dan
langkah itu berhenti ketika Hasan merasakan sebuah peluru menembus
dadanya. Badan yang lemah itu berguling-guling sebentar di atas aspal,
bermandi darah. Kemudian dengan bibir bergegas berkata “Allahu Akbar”,
tak bergerak lagi…
115
LAMPIRAN III
116
SINOPSIS
117
Dalam novel Telegram karya Putu Wijaya ini menceritakan tentang
tokoh Aku yang merasa mendapatkan sebuah kiriman telegram.
Menurutnya, mendapatkan sebuah telegram merupakan malapetaka
baginya. Malapetaka di sini dimaksudkan dengan bencana, berita buruk,
kematian, sakit, kecelakaan, dan kabar yang lainnya. Telegram baginya
selalu berisikan tentang hal-hal buruk.
Cerita dari novel ini berawal dari tokoh Aku asal Bali yang tinggal di
Jakarta . Ia tinggal bersama seorang anak yang ia asuh bernama Sinta. Ia
juga bekerja sebagai wartawan. Tokoh Aku ini merasa ia akan
mendapatkan sebuah telegram dari kampung halamannya, Bali. Tokoh
Aku merasa sangat takut. Seperti yang dianggapnya, telegram baginya
hanyalah hal-hal buruk atau malapetaka. Namun, ia sekarang tidak bisa
berbuat apa-apa lagi, karena telegram yang ia dapat kini yang dikirim oleh
saudara tirinya itu sekarang sedang berada di genggamannya. Seperti
yang ia tahu, isi dari telegram itu tidak lain adalah berisikan tentang ibunya
yang meninggal dunia.
Seperti itulah tokoh Aku itu berkhayal. Seakan-akan apa yang ada
dalam pikirannya menjadi nyata. Mendapat telegram itu, maka ia
diharuskan pulang, mengurus rumah tangga, mengurus penguburan
ibunya (upacara ngaben), mengurus tanah berhektar-hektar yang ada di
Denpasar, mengurus tiga rumah beserta isinya, membagi harta warisan
serta semua urusan lain yang menjadi tanggung jawabnya. Memang
sebagai anak yang paling tua, ia harus berperan sebagai kepala keluarga.
118
Apa yang dia pikirkan tentu sangat membebani pikirannya. Ia tentu
sangat merasa keberatan dengan semua tugas-tugas yang dipikulnya.
Apalah dikata, sebagai anak tertua mau tak mau harus ia lakukan semua
pekerjaan itu. Tokoh Aku tengah merasakan dilema. Semua itu
membebani pikirannya. Di tengah ia telah merasakan dilema, Sinta yang
tak lain adalah anak angkat dari tokoh Aku, tengah menanyakan
kerisauan yang tengah dihadapi tokoh Aku itu. Sinta menanyakan apa
sebenarnya isi telegram itu. tokoh Aku terpaksa berbohong kepada Sinta.
Ia tak ingin membebani pikiran anak angkatnya itu. Maka tokoh Aku
berkata bahwa pamannya yang dari Surabaya akan datang ke Jakarta.
Sinta telah siap untuk pergi ke stasiun, pakaiannya resmi dan
mengenakan sepatu. Tiba di stasiun, saat mereka menunggu kedatangan
kereta Bima yang terlambat, tiba-tiba Sinta memberikan sesuatu
padanya. Sinta memberikannya sebuah telegram yang tercecer dari saku
tokoh Aku semalam.
Karena mereka berdua telah mengetahui isi telegram itu, maka
mereka berdua segera mempersiapkan segala sesuatu untuk pergi ke
Bali. Namun, apa yang terjadi sungguh di luar dugaan. Dari luar, ibu
kandung Sinta datang untuk mengambil Sinta dari tangannya. Ibu
kandung Sinta meminta Sinta kembali untuk merawatnya. Namun, tentu
tokoh Aku menolak. Ia bersusah payah membesarkan Sinta yang dulu
telah dibuang oleh ibunya. tokoh Aku juga tidak mau egois, memang ia
yang membesarkan Sinta selama sepuluh tahun lamanya dengan
119
keadaan yang seadanya dan semuanya serba terbatas. Akan tetapi,
tokoh Aku mengatakan akan menyerahkan semua keputusannya kepada
Sinta. Sinta sendiri yang akan memilih, baik dirawat oleh ibu kandungnya
ataupun tetap kepada tokoh Aku itu.
Belum lagi masalah perebutan Sinta yang belum kelar, timbul lagi
masalah. tokoh Aku itu merasa kondisi tubuhnya tidak sehat. Ia merasa
gemetaran dan demam tinggi. Tokoh Aku takut jika ia merasakan sakit itu,
akibat penyakit yang ditularkan Nurma, wanita penghibur yang pernah
digaulinya. Sebab, temannya pun mengalami hal yang sama. Dan teman
tokoh Aku melahirkan anaknya dalam kondisi cacat. Tokoh Aku
memutuskan untuk pergi ke dokter. Sekembalinya dari dokter, tokoh Aku
melanjutkan aktifitasnya untuk pergi bekerja. Penjaga kantor, langsung
memberitahu kepada tokoh Aku bahwa ada orang yang ingin bertemu
dengan tokoh Aku. Penjaga itu berkata, ia sudah tiga kali datang dan
ingin bertemu dengan dirinya. Tokoh Aku tak ingin bertemu dengan tamu-
tamunya karena sudah pasti tamu itu ingin bercakap-cakap atau
membawa berita cukup penting. Terlalu mengambil resiko kalau harus
menjumpainya. Walau tamu itu akan membawa berita gembira, mereka
tidak akan memperbaiki suasana. Untuk menghindari tamu itu, tokoh Aku
pergi ke rumah temannya untuk tidur di sana. Sewaktu sampai di rumah
temannya, tokoh Aku menumpang untuk tidur. Pukul enam ia bangun,
tanpa mandi atau cuci muka ia langsung pergi ke kantor untuk
menyelesaikan cover story tentang Bali. Banyak yang ingin ditulisnya
120
tentang Bali, tapi ia tak bisa mengemukakan gagasan tanpa bukti-bukti
nyata.
Rupanya seseorang telah menulis sesuatu untuk menuangkan isi
hati ibu pada anaknya. Ia membeberkan isi hatinya dan menyinggung
bahwa kakak tokoh Aku semakin hari semakin galak dan menekan
batinnya. Di akhir surat, ibunya mengatakan bahwa ia tidak menuntut apa-
apa kalau memang tidak ada biaya, asal keluarganya diikut sertakan
dalam barisan penguburan. Serta tidak boleh dilupakan hubungan
kekeluargaan itu, walaupun sang ibu nanti sudah pergi. Tak terbayangkan
bagaimana hidup tanpa ibunya.
Tokoh Aku menanggalkan pakaiannya. Temperatur tubuhnya
mungkin sekitar 39 derajat celcius. Setiap saat ia bergetar menahan gigil
yang menusuk dari dalam. Mungkin malaria yang pernah didapatnya di
Singaraja kumat lagi. Ia berjalan melewati meja para direktur, ia jelajahi
seluruh isi tubuhnya untuk mengetahui seluk-beluknya. Dikenakan
pakaiannya kembali dengan perasaan sedikit malu. Tokoh Aku memasuki
ruang perpustakaan yang tentu sedikit hangat dengan harapan akan bisa
memperoleh keringat.
Paginya ia mengetahui bahwa seluruh tubuhnya penuh bintik-bintik
merah. Penjaga kantor menyuruhnya untuk menanggalkan baju. Mula-
mula ada keinginan untuk pergi ke rumah sahabatnya, tapi tatkala istrinya
mengandung, diurungkan. Terlalu berbahaya kalau sampai menular.
Tatkala penjaga kantor bermaksud menjamah tokoh Aku, iapun langsung
121
melarangnya. Dokter Syubah telah memeriksa bintik-bintik yang misterius
itu, ia hanya menyangka tokoh Aku kena alergi. Kematian rasanya
terlempar jauh kembali. Rupanya memang tidak terlalu mudah
melepaskan hidup.
Tokoh Aku dan Sinta sepakat untuk mempersiapkan segala
sesuatunya untuk berangkat ke Bali. Namun, sebelum mereka keluar
rumah, tokoh Aku melihat barang-barang yang sangat banyak yang ada di
atas meja mereka. Tokoh Aku melihat ada baju untuk anak perempuan,
untuk tokoh Aku, makanan, dan lainnya. Tokoh Aku bertanya pada bibi,
dengan keadaan marah, bibi yang ketakutan itu akhirnya menjawab
bahwa semua barang-barang itu dari ibu kandung Sinta. Ibu kandung
Sinta datang dan meminta anaknya dari tokoh Aku. Sudah tentu
permintaan itu ditolak tetapi ibunya Sinta bersikeras sehingga antara
tokoh Aku dan ibu Sinta menyerahkan pilihan itu pada Sinta.
Bayangan-bayangan itu menyebabkan tokoh Aku tidak bisa lagi
membedakan antara dunia nyata dan khayalannya. Ia mengalami krisis
kejiwaan seperti halnya orang gila. Tokoh Aku sudah tidak dapat
membedakan mana yang khayalan semata dan dunia nyata. Bahkan ia
pernah bertanya kepada tukang rokok yang di mana ia biasa membeli
sebuah rokok di sana. Tokoh Aku bertanya apakah dia itu gila atau waras.
Karena seringkali tokoh Aku itu sadar bahwa yang berkecamuk dalam
dirinya hanyalah khayalan semata dari rasa khawatirnya. Namun
kesadaran itu kembali hilang. Ia masuk kembali ke dunia khayalannya itu,
122
di mana ia pernah berpisah dengan Rosa. Rosa adalah kekasihnya.
Padahal Rosa hanyalah kekasih khayalan tokoh Aku saja. Seperti halnya
apa yang ia khayalkan tentang telegram yang ditakutinya sebagai
malapetaka buat sang lelaki.
Akibat khayalan itu, tokoh Aku kemudian betul-betul bingung
dengan apa yang dialaminya. Tokoh Aku mengalami krisis kejiwaan
seperti halnya orang gila. Ia tak dapat membedakan lagi antara yang
nyata dan mana yang khayalan semata. Tokoh Aku kadang tersadar dari
khayalannya itu. Namun kemudian masuk kembali dalam khayalannya itu.
Dalam khayalannya, tokoh Aku dan Sinta bersiap-siap berangkat ke Bali.
Ia telah memesan tiket pesawat sehingga mereka tinggal berangkat saja.
Tiba-tiba, di tengah-tengah khayalannya itu pintu rumahnya
diketuk. Ia bangkit untuk membuka pintu. Ternyata, bibi pemilik kontrakan
telah berada di muka rumahnya dan memberika sepucuk surat. Dengan
cepat, tokoh Aku membuka telegram yang isinya sudah bisa ia tebak.
Telegram yang baru diterima dari pemilik kontrakan itu benar. Telegram itu
tak lain berisikan tentang kematian ibunda tokoh Aku. Kali ini, berita
tentang kematian ibunda tokoh Aku adalah kenyataan. Bukan khayalan
semata. Seperti kisah-kisah sebelumnya yang diceritakan oleh novel ini
hanyalah khayalan semata tokoh Aku.