0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
131 tayangan134 halaman

Perbandingan Gaya Bahasa Novel Atheis dan Telegram

Tesis ini membandingkan gaya bahasa yang digunakan dalam novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja dan novel Telegram karya Putu Wijaya melalui tinjauan stilistika. Kedua novel tersebut merupakan representasi dari dua angkatan sastra Indonesia yaitu Angkatan 1945 dan Angkatan 1966-1970an."

Diunggah oleh

Nafis AL
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
131 tayangan134 halaman

Perbandingan Gaya Bahasa Novel Atheis dan Telegram

Tesis ini membandingkan gaya bahasa yang digunakan dalam novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja dan novel Telegram karya Putu Wijaya melalui tinjauan stilistika. Kedua novel tersebut merupakan representasi dari dua angkatan sastra Indonesia yaitu Angkatan 1945 dan Angkatan 1966-1970an."

Diunggah oleh

Nafis AL
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

PERBANDINGAN GAYA BAHASA DALAM NOVEL


ATHEIS KARYA ACHDIAT KARTA MIHARDJA DAN
NOVEL TELEGRAM KARYA PUTU WIJAYA:
TINJAUAN STILISTIKA

TESIS

Disusun oleh

A. ARYANA

P1200215002

PROGRAM STUDI BAHASA INDONESIA


PROGRAM PASCASARJANA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018
2

PERBANDINGAN GAYA BAHASA DALAM NOVEL ATHEIS KARYA


ACHDIAT KARTA MIHARDJA DAN NOVEL TELEGRAM
KARYA PUTU WIJAYA: TINJAUAN STILISTIKA

TESIS

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar Magister


Pada Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin
Program Studi Bahasa Indonesia

Disusun dan diajukan oleh

A. ARYANA
P1200215002

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2018
3

PERBANDINGAN GAYA BAHASA DALAM NOVEL ATHEIS KARYA


ACHDIAT KARTA MIHARDJA DAN NOVEL TELEGRAM
KARYA PUTU WIJAYA: TINJAUAN STILISTIKA

THE COMPARISON OF LANGUAGE STYLE IN NOVEL ATHEIS BY


ACHDIAT KARTA MIHARDJA AND NOVEL TELEGRAM
BY PUTU WIJAYA: A STYLISTIC APPROACH

TESIS

A. ARYANA
P1200215002

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2018
4
5

PERNYATAAN KEASLIAN TESIS

Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : A. Aryana

Nomor Pokok : P1200215002

Program Studi : Bahasa Indonesia

Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa tesis yang saya tulis ini

merupakan hasil karya sendiri, bukan pengambil alihan tulisan atau

pemikiran orang lain. Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat

dibuktikan bahwa sebagian atau keseluruhan tesis ini hasil karya orang

lain, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

Makassar, 4 Januari 2018

Yang menyatakan,

A. Aryana
6

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Swt. yang

senantiasa melimpahkan karunia dan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat

menyelesaikan tesis ini. Akhirnya tesis ini dapat dirampungkan dalam

rangka memenuhi salah satu persyaratan akademis guna memeroleh

gelar Magister Humaniora ([Link].) pada Program Studi Bahasa

Indonesia, Pascasarjana, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin.

Dalam penyusunan tesis ini, penulis mendapatkan bantuan dari

berbagai pihak. Sehingga, pada kesempatan ini dengan segala rasa

hormat penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tulus

kepada Prof. Dr. Muhammad Darwis, M.S. sebagai pembimbing I dan

Dr. Hj. Nurhayati, [Link]. sebagai pembimbing II yang telah

menyumbangkan waktu, pikiran, dan tenaga dalam memberikan arahan,

motivasi, dan petunjuk kepada penulis. Ucapan terima kasih juga penulis

ucapkan kepada tim penguji Prof. Dr. H. Tadjuddin Maknun, S.U., Dr.

Indriati Lewa, [Link]., dan Dr. Prasuri Kuswarini, M.A. yang telah

memberikan saran dan masukan kepada penulis untuk perbaikan tesis ini.

Terima kasih juga kepada Dr. Hj. Asriani Abbas, [Link]., sebagai

Ketua Program Studi Bahasa Indonesia, dan segenap dosen pengajar

pada Jurusan Program Studi Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana,

Universitas Hasanuddin, yang telah membekali peneliti berbagai

pengetahuan selama masa perkuliahan sampai masa penyusunan tesis.


7

Ucapan terima kasih yang tulus juga penulis sampaikan kepada

suami penulis, Syamsul Alam, anak-anak, dan saudara-saudara penulis

atas dukungan moril dan materil yang diberikan selama penulis

menempuh pendidikan.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada sahabat

seperjuangan Bahasa Indonesia Angkatan 2015 (Andi Yusdianti, Susiati,

Rima, Sumiaty, Risman Iye, Taufik, Sutrisno, Nur Sariati, Nur Rahma Al

Haqq, Raviqa, Ikos, Karim,) yang tidak bisa penulis sebutkan satu per

satu, terima kasih karena telah tulus memberikan semangat, motivasi

kepada penulis, dan menjadi teman diskusi yang kritis. Semoga segala

bantuan, masukan, motivasi, dan pengorbanan yang diberikan kepada

penulis mendapat balasan dari Allah Swt., dan semua yang telah

diberikan kepada penulis dapat bernilai ibadah di sisi-Nya.

Sebagai manusia biasa, penulis pun tak lepas dari salah dan khilaf.

Oleh karena itu, saran, tanggapan, dan kritikan yang bersifat membangun

untuk perbaikan tesis ini amat penulis harapkan. Harapan dari penulis

semoga tesis ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.

Makassar,Januari 2018

Penulis
8
9
10
11
12

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I :Tabel Rekapitulasi Penggunaan Gaya


Bahasa
dalam Novel Atheis dan Novel Telegram

Lampiran II : Sinopsis Novel Atheis Karya Achdiat Karta


Mihardja

Lampiran III : Sinopsis Novel Telegram Karya Putu Wijaya


1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sastra merupakan salah satu cabang kesenian. Dalam kaitannya

dengan masyarakat, sastra adalah cermin kehidupan yang mampu

memanfaatkan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Sastra lahir dari

perenungan-perenungan penciptanya tentang kehidupan secara

mendalam sehingga secara langsung pencerminan tentang kehidupan

pada era tersebut terlihat mencolok baik itu dari segi sosial, budaya

maupun dari karakteristik gaya bahasa.

Sastra tidak hanya dinilai sebagai karya seni yang bersifat imajinatif,

tetapi juga dianggap sebagai suatu kreativitas yang bermanfaat sebagai

konsumsi intelektual pembaca. Selain itu, sastra juga mengandung unsur

keindahan yang menumbuhkan perasaan khusus para penikmatnya.

Wujud ciptaan yang dapat membangun perasaan khusus tersebut salah

satunya adalah bagaimana penggunaan bahasa dalam karya sastra itu

dibungkus.

Setiap kali membicarakan karya sastra, kita tak bisa melepaskan diri

dari medium karya sastra itu, yaitu bahasa. Karya sastra merupakan

produk kebahasaan. Bahasa adalah satu-satunya alat yang digunakan

dalam penciptaan karya sastra. Ide-ide yang dimiliki pengarang

dituangkan dalam bentuk karya sastra dengan cara berbahasa yang

1
2

berbeda. Oleh pengarang, bahasa menjadi kekuatan dalam proses

penciptaan karya. Dalam periode tertentu, gaya setiap genre sastra dari

pengarang yang satu dan yang lain selalu berbeda.

Ratna (2009: 138) menyatakan bahwa salah satu fungsi periodisasi

sastra Indonesia adalah menunjukkan perkembangan gaya itu sendiri.

Karya sastra, baik sebagai kualitas individual maupun komunal tidak

statis. Karya sastra tidak lahir dari kekosongan, tetapi memiliki akar sosial.

Karya sastra tidak berkembang dalam dirinya sendiri. Struktur karya sastra

berubah karena dievokasi oleh perkembangan masyarakat.

Pengarang secara totalitas memilih gaya terhadap karya sastra yang

mereka tulis melalui proses imajinasi dan kreativitas, tetapi pemahaman

secara sosial budaya menunjukkan bahwa pengarang dikondisikan oleh

perilaku masyarakatnya. Misalnya, tidak ada sastra Balai Pustaka tanpa

masyarakat dan para pengarang Minangkabau yang dengan penuh

kesadaran bermaksud untuk menampilkan sistem matriarkhat.

Penelitian ini akan menganalisis dua novel yang berbeda masa, yaitu

novel pada masa Angkatan 1945 yang diwakili oleh novel Atheis karya

Achdiat Karta Mihardja (1949) dan novel pada masa Angkatan 1966-

1970an yang diwakili oleh novel Telegram karya Putu Wijaya (1973).

Menurut Lukni (2010: 1), secara urutan waktu sastra Indonesia terbagi

atas beberapa angkatan, yaitu Angkatan Pujangga Lama, Angkatan

Sastra Melayu Lama, Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru,


3

Angkatan 1945, Angkatan 1950-1960-an, Angkatan 1966–1970-an,

Angkatan 1980-1990-an, Angkatan Reformasi, Angkatan 2000-an.

Goatly (dalam Black, 2011: 195) menyatakan bahwa wacana selalu

terjadi di dalam ruang sosial sehingga penafsiran terhadap teks sastra

selalu memiliki hubungan dengan genre dan situasi sosial. Perbedaan

dalam setiap angkatan berdampak pula pada karakteristik penggunaan

gaya bahasa dalam karya sastra (puisi, drama, dan prosa).

Pengalaman hidup dan gejolak sosial, politik, dan budaya telah

mewarnai karya sastrawan Angkatan 1945. Karya sastra angkatan ini

lebih realistik dibanding karya angkatan sebelumnya. Karya-karya sastra

pada angkatan ini banyak bercerita tentang perjuangan merebut

kemerdekaan seperti halnya puisi-puisi Chairil Anwar. Sastrawan

Angkatan 1945 memiliki konsep seni yang diberi judul “Surat Kepercayaan

Gelanggang”. Konsep ini menyatakan bahwa para sastrawan Angkatan

1945 ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani.

Pada periode ini cerpen Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma dan Novel

Atheis dianggap sebagai karya pembaharuan prosa Indonesia.

Seperti yang dijelaskan Teeuw (dalam Yudiono, 2007: 116-117)

bahwa pembaharuan itu tidak terjadi secara tiba-tiba pada saat

proklamasi. Selama masa pendudukan Jepang sudah terjadi tanda-tanda

perubahan seperti diperlihatkan Chairil Anwar, Idrus, Usmar Ismail,

Achdiat Karta Mihardja tetapi tidak segera muncul ke permukaan karena

tertekan oleh kekuasaan Jepang.


4

Angkatan 1945 lahir dalam suasana lingkungan yang sangat prihatin

dan serba keras, yaitu lingkungan fasisme Jepang dan dilanjutkan

peperangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Menurut Angelina

(2008: 1) ciri-ciri Angkatan 1945, yaitu terbuka; pengaruh unsur sastra

asing lebih luas; corak isi lebih realis dan naturalis; individualisme

sastrawan lebih menonjol, dinamis, dan kritis; penghematan kata dalam

karya ekspresif; sinisme dan sarkasme; karangan prosa berkurang, puisi

berkembang.

Kesusastraan pada Angkatan 1966-1970-an lebih didominasi oleh

karya-karya yang beraliran realisme sosial. Tema-tema dalam karya

sastra dalam masa ini berlatar revolusi, kehidupan pelacur, sosial,

kejiwaan, dan keagamaan. Tema-tema tersebut lebih menekankan pada

kritikan terhadap pemerintahan pada masa itu yang gagal dalam

menyejahterakan rakyat Indonesia dan gagalnya menciptakan stabilitas

keamanan di dalam negeri sehingga banyak daerah yang memberontak.

Menurut Teeuw (1980: 68) pengungkapan yang digunakan dalam

Angkatan 1966-1970-an adalah bersifat eufimisme yang memunculkan

citra positif terhadap penguasa dengan menyembunyikan kenyataan yang

menyakitkan, terjadinya bentuk-bentuk bahasa propaganda dalam rangka

meyakinkan pihak lain terutama masyarakat. Eufemisme yang digunakan

pada angkatan ini bertujuan untuk menutupi informasi yang sebenarnya

sebagai selubung terhadap kenyataan yang jauh lebih mengecewakan.


5

Terlihat adanya kecenderungan perkembangan penggunaan gaya

bahasa dalam karya sastra Angkatan 1945 yang cenderung bersifat

sarkasme dan Angkatan 1966-1970-an yang bersifat eufimisme. Hal ini

menunjukkan adanya perubahan penggunaan gaya bahasa dari masa ke

masa. Perkembangan penggunaan gaya bahasa tersebut juga

menunjukkan bahwa adanya kekhasan atau keunikan penggunaan gaya

bahasa dalam setiap angkatan.

Keunikan bahasa yang digunakan oleh pengarang dari tiap angkatan

mengundang ketertarikan peneliti untuk melihat karya sastra dari aspek

gaya bahasa yang menjadi kekuatan dalam melahirkan suatu karya.

Apakah terdapat perbedaan yang signifikan dalam penggunaan gaya

bahasa antara karya sastra angkatan 45 dan angkatan 66, atau tidak

berbeda sama sekali. Oleh karena itu, penelitian perbandingan gaya

bahasa dalam karya sastra angkatan 45 dan 66 bertujuan untuk

menganalisis persamaan dan perbedaan gaya bahasa untuk mengetahui

dinamika perkembangan penggunaan gaya bahasa melalui perbandingan

novel Atheis (angkatan 45) dan novel Telegram (angkatan 66). Penelitian

ini merupakan upaya awal untuk mengetahui perkembangan penggunaan

gaya bahasa dari novel Atheis yang merupakan karya sastra angkatan 45

ke novel Telegram yang merupakan karya sastra angkatan 66.

Gaya bahasa merupakan refleksi dari logika seseorang atau

pencerminan orang itu sendiri. Selain itu, gaya bahasa yang digunakan

oleh pengarang dalam karyanya juga mencerminkan karakteristik


6

pemakaian bahasa pada masa karya tersebut ditulis. Para pengarang

membungkus bahasa dengan karakteristiknya masing-masing tetapi ada

juga kekhasan secara universal karena dipengaruhi oleh masa atau era

saat itu.

Nurgiyantoro (2002: 272) bahasa dalam seni sastra dapat disamakan

dengan cat dalam seni lukis. Keduanya merupakan unsur, bahan, alat,

sarana yang diperoleh untuk dijadikan sebuah karya yang mengandung

nilai lebih dari bahan itu sendiri. Bahasa merupakan sarana

pengungkapan sastra. Apapun yang dikatakan pengarang atau sebaliknya

ditafsirkan oleh pembaca, mau tidak mau harus bersangkut paut dengan

bahasa. Para pengarang tersebut memanfaatkan bahasa untuk

menghasilkan suatu efek yang menjelaskan apa yang berharga dalam

kehidupan yang diceritakan oleh mereka. Bentuknya berupa rentetan

kalimat dan ungkapan-ungkapan atau gaya bahasa. Oleh karena itu,

kualitas sebuah karya sastra seperti novel ditentukan oleh bagaimana

pengarang-pengarang tersebut membungkus penggunaan bahasa

mereka khususnya gaya bahasa dalam karyanya.

Sastrowardoyo (1983: 158) menyebut novel Atheis suatu well made

novel dengan kisah diakhiri dengan baik ketika tokoh Hasan meninggal.

Teeuw (1980: 272-275) menulis bahwa Atheis adalah roman pertama

yang benar-benar menarik setelah perang kemerdekaan dan gaya

penceritaan serupa dengan pergolakan masyarakat Indonesia pada saat

itu. Atheis adalah novel Indonesia pertama yang menggunakan tiga gaya
7

naratif. Teeuw menulis bahwa gaya penceritaan dalam roman ini bersifat

didaktis, yang dianggap sebagai suatu kekurangan. Namun, dia juga

mencatat bahwa Achdiat Karta Miharja adalah anggota aliran sastra yang

beranggapan bahwa sastra bertujuan untuk mendidik.

Novel Atheis karya Achdiat Karta Miharja merupakan novel yang

menceritakan tentang pertentangan jiwa tokoh Hasan yang awalnya taat

beragama, tetapi ketika tokoh Hasan tersebut pindah ke kota, keyakinan

tokoh Hasan berubah karena dipengaruhi oleh paham marxisme. Cerita

dalam novel Atheis mengambil latar tempat di Jawa pada suasana

peperangan. Hal ini menunjukkan bahwa pengarang Achdiat Karta Miharja

ingin menggambarkan fenomena sosial yang dialami oleh masyarakat

pada masa itu. Pengaruh latar pada masa ini menimbulkan karakteristik

penggunaan gaya bahasa dalam novel Atheis, yakni penggunaan gaya

bahasa sarkasme.

Dua contoh penggunaan gaya bahasa dalam novel Atheis karya

Achdiat Karta Mihardja.

Contoh (1)

“Tapi itu hanya provokasi lidah busuk saja,” kata Rusli.


(Miharja,1949: 35)

Contoh (2)

“Ah, tidak”, sahut Rusli tertawa menjawab pertanyaan Kartini


tadi,” malah benar kata orang, kalau kita sedang mengumpat
setan, terpijaklah ekornya. (Miharja,1949: 37)
8

Dua kutipan novel di atas akan dilihat perwujudan gaya bahasanya

(wujud kata/frasa dan kalimat). Pada contoh (1) terdapat penggunaan

frasa nomina konkret berkelas kata organ tubuh, yakni lidah busuk yang

mengandung gaya bahasa sarkasme. Makna frasa lidah busuk adalah

perkataan yang buruk atau tidak baik. Frasa lidah busuk diasosiasikan

dengan perkataan yang buruk karena memiliki sifat yang sama, yakni arti

kata lidah menurut KBBI adalah perkataan, lisan, atau ujaran, sedangkan

busuk adalah buruk, lapuk, dan rusak. Dapat dikatakan bahwa arti lidah

busuk dalam konteks kutipan novel tersebut merupakan suatu perkataan

yang tidak baik, yang tidak ada gunanya untuk didengar.

Pada contoh (2) terdapat kata nomina kelas kata insani, yakni setan

yang menunjukkan penggunaan gaya bahasa sarkasme. Dalam konteks

kutipan novel tersebut kata setan dalam pengertian tersebut sebagai

penggoda jadi, Rusli menyindir Kartini sebagai wanita penggoda sama

dengan setan. Menurut KBBI kata setan bermakna iblis atau makhluk

halus yang kadang terlihat kadang juga tidak. Penyebutan setan dalam

novel tersebut merupakan sindiran yang dituturkan oleh Rusli karena

Kartini secara tiba-tiba terlihat dalam pandangannya.

Novel Telegram karya Putu Wijaya merupakan novel yang

mempunyai kualitas dengan karya yang telah diakui dalam berbagai

penghargaan yang telah diraih. Novel yang ditulis Putu Wijaya saat

berumurr 28 tahun ini pernah menyabet hadiah pertama mengarang

roman DKI Jakarta 1972. Para kritikus sastra seperti Mangunwijaya


9

(1988: 50) telah membuat esei tentang novel Telegram (1973) dan

mengatakan bahwa novel tersebut merupakan karya yang matang dan

dewasa dan bentuknya sangat berhasil. Sebagai seorang novelis, Putu

Wijaya menempatkan dirinya tidak jauh dari kelihaiannya sebagai penulis

naskah drama. Dalam prosanya ia cenderung mempergunakan gaya atau

metode objektif dalam pusat pengisahannya dan gaya stream of

consciousness dalam pengungkapannya.

Sementara itu, Sumardjo (1983: 133) menyebut Putu Wijaya

sebagai tokoh utama sastrawan Indonesia pada dasa warsa 1970-an.

Lebih lanjut Sumardjo mengatakan bahwa Putu Wijaya muncul dan

berkembang dalam dekade itu. Dialah sastrawan paling produktif dan

paling kreatif pada saat itu. Novel Putu Wijaya juga penuh potongan-

potongan kejadian yang padat, intens dalam pelukisan, ekspresif

bahasanya, dan disatukan oleh suasana tema.

Adapun novel Telegram karya Putu Wijaya menceritakan tentang

tokoh Aku yang berasal dari Bali. Latar tempat penceritaan dalam novel

Telegram terjadi di Jakarta. Dalam novel Telegram, Putu Wijaya

menggambarkan tokoh Aku sebagai cerminan manusia yang hidup pada

era tahun 66-70an. Pada masa ini, kebebasan berpendapat ditekan oleh

pemerintah. Hal inilah yang ingin ditunjukkan oleh Putu Wijaya melalui

tokoh Aku bahwa masyarakat pada masa tersebut tidak memiliki

kebebasan sehingga semua hal yang berkaitan dengan kehidupan harus

dinyatakan secara tidak langsung. Dalam novel, penyataan kata atau


10

kalimat secara tidak langsung termasuk ke dalam bentuk gaya bahasa

pengandaian atau perumpamaan.

Selanjutnya, dua contoh penggunaan gaya bahasa dalam novel

Telegram karya Putu Wijaya.

Contoh (1)

Anak yang bertingkah seperti orang dewasa itu sudah


terlindung oleh sikapnya. (Wijaya, 1973: 48)

Contoh (2)

Masa kecil yang menggelepar-gelepar (Wijaya, 1973: 63)

Pada contoh (1) terdapat penggunaan kata berafiks ber-, yakni

bertingkah yang mengandung gaya bahasa yang bersifat eufemisme.

Makna kata bertingkah adalah berlagak, sok, angkuh. Dalam konteks ini

tokoh mengungkapkan kata bertingkah dengan tujuan memperhalus

maksud ujarannya. Kata bertingkah mengalami substitusi dari konotasi

negatif berlagak, sok, dan angkuh. Terlihat dalam KBBI arti kata

bertingkah adalah bergaya, berkelakuan, dan sok.

Pada contoh (2) terdapat penggunaan kata ulang berimbuhan

meng-, yakni kata mengelepar-gelepar yang mengandung gaya bahasa

metafora yang bersifat eufemisme. Makna kata mengelepar-gelepar

adalah berkelejat (bekelakuan manja, cengeng). Terlihat dalam KBBI arti

kata mengelepar-gelepar adalah kejang-kejang, berkelojotan, dan

mengelupur. Dalam konteks kalimat contoh (2) secara langsung sifat kata

mengelepar-gelepar tersebut disamakan dengan sifat anak pada masa


11

kecil yang cengeng dan manja untuk menunjukkan kehidupan tokoh Aku

pada masa kecilnya.

Dilihat dari dua contoh pada novel Atheis karya Achdiat Karta

Mihardja dan novel Telegram karya Putu Wijaya, tampak perbandingan

antara kedua jenis novel tersebut, yakni novel Atheis dalam

pengungkapannya menggunakan gaya bahasa yang bersifat sarkasme

dengan pewujudannya menggunakan frasa nomina berkelas kata organ

tubuh dan insani sedangkan novel Telegram pengungkapannya

menggunakan gaya bahasa metafora yang bersifat eufemisme dengan

pewujudannya menggunakan kata berafiks.

Fenomena sosial pada contoh novel Atheis terlihat adanya

penyebutan secara langsung kata atau frasa yang berkonotasi negatif

(kasar) kepada suatu hal atau benda. Hal tersebut karena dilatarbelakangi

oleh keadaan sosial yang sangat keras pada masa Angkatan 1945, yakni

keadaan pada lingkungan fasisme jepang, tokoh-tokoh dalam novel Atheis

digambarkan dengan situasi pada masa penjajahan dan terpengaruh

terhadap pemikiran barat. Adapun situasi sosial pada novel Telegram

tampak adanya penggunaan kata yang halus atau tidak blak-blakan

(samar-samar) terhadap suatu hal atau benda. Hal ini karena

dilatarbelakangi kondisi sosial yang buruk sehingga tampak penceritaan

dalam karya sastra pada angkatan 1966-1970an ini menutupi informasi

yang sebenarnya sebagai selubung terhadap kenyataan yang jauh lebih

mengecewakan.
12

Penelitian ini akan mengungkap perbedaan dan persamaan gaya

bahasa dalam novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja dan novel

Telegram karya Putu Wijaya. Penelitian ini penting untuk dilakukan

mengingat beberapa hal; pertama, peneliti berusaha mengungkap

perbedaan dan persamaan penggunaan gaya bahasa dalam karya sastra

pada Angkatan 1945 dan Angkatan 1966-70an, sehingga hasil penelitian

ini diharapkan dapat menjadi dokumentasi perbandingan penggunaan

gaya bahasa dalam karya sastra khususnya pada masa tahun 1945 dan

tahun 1966-70an. Kedua, hasil penelitian perbandingan gaya bahasa yang

digunakan pada Angkatan 1945 dan Angkatan 1966-70an ini juga

diharapkan dapat menunjukkan perkembangan penggunaan gaya bahasa

dari masa ke masa. Ketiga, dalam bidang pengajaran, penelitian ini

diharapkan dapat digunakan sebagai alternatif bahan ajar sastra. Hasil

penelitian ini dapat digunakan dalam menjelaskan keterkaitan antara ilmu

bahasa dan ilmu sastra.

Adanya pergolakan sosial masyarakat dari dua angkatan tersebut

menimbulkan perbedaan dan persamaan penggunaan gaya bahasa karya

sastra dalam setiap angkatan tersebut. Hal ini menyebabkan terlihatnya

perbedaan dan persamaan ciri karya sastra pada Angkatan 1945 dan

Angkatan 1966-70an. Berdasarkan fenomena kedua angkatan yang telah

dipaparkan, peneliti tertarik untuk meneliti penggunaan gaya bahasa novel

Atheis karya Achdiat Karta Mihardja dan novel Telegram karya Putu

Wijaya.
13

B. Rumusan Masalah

Penelitian ini berfokus pada gaya bahasa. Dalam hal ini, penelitian

dicurahkan pada perbedaan dan persamaan gaya bahasa. Berdasarkan

latar belakang permasalahan yang telah diuraikan sebelumnya, masalah-

masalah yang menjadi fokus perhatian dalam penelitian ini sebagai

berikut.

1. Bagaimanakah perbedaan pewujudan gaya bahasa dalam novel

Atheis karya Achdiat Karta Mihardja dan novel Telegram karya Putu

Wijaya?

2. Bagaimanakah persamaan pewujudan gaya bahasa dalam novel

Atheis karya Achdiat Karta Mihardja dan novel Telegram karya Putu

Wijaya?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian pada rumusan masalah, tujuan dalam penelitian

ini, yaitu:

1. Menganalisis perbedaan pewujudan gaya bahasa dalam novel Atheis

karya Achdiat Karta Mihardja dan novel Telegram karya Putu Wijaya.

2. Menganalisis persamaan pewujudan gaya bahasa dalam novel Atheis

karya Achdiat Karta Mihardja dan novel Telegram karya Putu Wijaya.

D. Manfaat Penelitian
14

Manfaat yang diperoleh dalam penelitian ini, yaitu manfaat praktis

dan manfaat teoretis.

a. Manfaat Praktis

Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan

manfaat terhadap perkembangan ilmu sastra khususnya dalam

bidang stilistika. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi

bahan pengajaran apresiasi karya sastra di sekolah.

b. Manfaat Teoretis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu bahan acuan

yang dapat bermanfaat untuk berbagai kepentingan khususnya di

bidang stilistika. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi

dokumentasi karakteristik dan perbandingan gaya bahasa dalam

karya sastra pada masa Angkatan 1945 dan Angkatan 1966-1970an.


15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Hasil Penelitian

Penulis akan menguraikan beberapa penelitian yang berkaitan

dengan gaya bahasa yang telah dilakukan oleh para peneliti terdahulu dan

memberikan gambaran mengenai perbedaan penelitian analisis gaya

bahasa dalam novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja dan novel

Telegram karya Putu Wijaya. Adapun penelitian yang relevan adalah

sebagai berikut.

Rahmawati (2012) meneliti “Gaya Bahasa Andrea Hirata dalam

Dwilogi Padang Bulan: Kajian Stilistika. Hasil penelitiannya adalah

menunjukkan kekhasan Andrea Hirata yang terlihat pada kemampuannya

menggunakan pilihan leksikal dalam gaya bahasa berdasarkan struktur

kalimat. Andrea Hirata memperlihatkan kekhasannya dalam

mendeskripsikan secara detail latar maupun penokohan. Penggunaan

gaya bahasa berdasarkan ketidaklangsungan makna meliputi gaya

bahasa retoris dan gaya bahasa kiasan. Gaya bahasa kiasan yang

digunakan Andrea Hirata, antara lain perumpamaan (simile), alusio,

personofokasi, ironi, dan sinisme.

Idris (2012), “Katakteristik Bentuk Kebahasaan Mantra: Kajian

Stilistika”. Hasil penelitiannya adalah mantra bernuansa sakral dan

menemukan bentuk-bentuk gaya bahasa seperti (1) gaya bahasa

15
16

antiklimaks; (2) gaya bahasa klimaks; (3) gaya bahasa paralelisme; (4)

gaya bahasa repetisi (epizeuksis, tautotes, anaphora, epistropa, simploke,

mesodiplosis, epanalepsis, dan anadiplosis); (5) gaya bahasa aliterasi dan

asonansi; (6) gaya bahasa kiasan simile, metafora, personifikasi, dan

alusio.

Solihati (2013), “Diksi Puitis Kumpulan Cerpen Mengakar Ke Bumi

Menggapai Ke Langit Jilid 3 Karya Taufiq Ismail”. Tujuan penelitian

tersebut adalah untuk mengetahui diksi puitis yang terdapat dalam cerita

pendek karya Taufiq Ismail dengan asumsi adanya kemiripan antara

cerpen dan puisi karya Taufiq Ismail yang bernapaskan perjuangan

menumbangkan Orde Lama. Metode yang digunakan untuk mengkaji

cerpen adalah metode deskriptif analisis dengan bentuk kumpulan data

secara faktual yang terdapat dalam keempat cerpen yang ada dalam

himpunan tulisan “Mengakar Ke Bumi Menggapai Ke Langit” Jilid 3 karya

Taufiq Ismail. Hasil kajian menunjukkan bahwa cerpen-cerpen Taufiq

Ismail menggunakan berbagai bentuk majas secara variatif untuk

membangun karya cerpen yang utuh.

Listyorini (2013), “Karakteristik Gaya Bahasa Novel Atheis karya

Achdiat K. Mihardja dan Potensinya Sebagai Landasan Pengembangan

Bahan Ajar Bahasa Indonesia”. Tujuan penelitian tersebut adalah untuk

mendeskripsikan jenis dan karakteristik penggunaan gaya bahasa dalam

novel Atheis, serta penggunaan gaya bahasa sebagai landasan

pengembangan bahan ajar Bahasa Indonesia. Pendekatan tersebut


17

menggunakan pendekatan kualitatif dengan data penelitian berupa

paparan verbal tertulis yang mengandung gaya bahasa dalam novel

Atheis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam novel Atheis, gaya

bahasa yang digunakan adalah gaya bahasa simile, metafora,

personifikasi, hiperbola, metonimia, dan sinekdoke. Karakteristik gaya

bahasa yang digunakan untuk tema, tokoh dan penokohan, dan latar

banyak menggunakan gaya bahasa simile.

Dari hasil penelitian yang relevan di atas antara Rahmawati, Idris,

Solihati, dan Listyorini memiliki persamaan dan perbedaan dengan objek

yang akan diteliti dalam penelitian ini. Adapun persamaan penelitian

Rahmawati, Idris, dan Solihati dengan penelitian ini adalah sama-sama

mengkaji gaya bahasa. Adapun perbedaannya terletak pada objek

penelitian, Rahmawati berobjek sama tetapi pada novel masa reformasi,

Idris berobjek pada mantra sedangkan Solihati berobjek pada cerpen

pada masa Orde Baru. Adapun penelitian Listyorini, meskipun penelitian

tersebut mengkaji gaya bahasa dalam novel Atheis yang juga merupakan

objek kajian penelitian ini tetapi penelitian ini selain mencari karakteristik

gaya bahasa Atheis , juga akan melakukan perbandingan gaya bahasa

novel Atheis dengan novel lainnya untuk melihat bagaimana persamaan

dan perbedaan karakteristik gaya bahasa karya sastra Angkatan 1945 dan

Angkatan 1966-70an.
18

B. Tinjauan Teori dan Konsep

1. Teori Stilistika

Secara harfiah, stlistika berasal dari bahasa Inggris: stylistics, yang

berarti studi mengenai style „gaya bahasa‟ atau „bahasa bergaya‟. Adapun

secara istilah, stilistika (stylistics) adalah ilmu yang meneliti penggunaan

bahasa dan gaya bahasa di dalam karya sastra (Abrams, 1979: 165-167).

Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa stilistika adalah proses

menganalisis karya sastra dengan mengkaji unsur-unsur bahasa sebagai

medium karya sastra yang digunakan sastrawan sehingga terlihat

bagaimana perlakuan sastrawan terhadap bahasa dalam rangka

menuangkan gagasannya (subject matter).

Ratna (2009: 236) menyatakan bahwa stilistika merupakan ilmu yang

menyelidiki pemakaian bahasa dalam karya sastra dengan

mempertimbangkan aspek-aspek keindahannya. Bagi Simpson (2004: 2),

stilistika adalah sebuah metode interpretasi tekstual karya sastra yang

dipandang memiliki keunggulan dalam pemberdayaan bahasa.

Menurut Junus (1989: 17), hakikat stilistika adalah studi mengenai

pemakaian bahasa dalam karya sastra. Kridalaksana (2011: 157)

menyatakan bahwa stilistika (stilistics) adalah: (1) ilmu yang menyelidiki

bahasa yang dipergunakan dalam karya sastra; ilmu interdisipliner antara

linguistik dan kesusastraan; (2) penerapan linguistik pada penelitian gaya

bahasa.
19

Leech dan Short (1984: 13) menyatakan bahwa stilistika adalah studi

tentang wujud performansi kebahasaan, khususnya yang terdapat dalam

karya sastra. Menurut Chapman (1977: 15) stilistika bertujuan

menentukan seberapa jauh dan dalam hal apa bahasa yang digunakan

dalam sastra memperlihatkan penyimpangan, serta bagaimana pengarang

menggunakan tanda-tanda linguistik untuk mencapai efek khusus.

Stilistika sebagai ilmu yang mengkaji penggunaan bahasa dalam

karya sastra yang berorientasi linguistik dapat dilihat pada batasan

stilistika berikut; Pertama, stilistika merupakan bagian linguistik yang

menitikberatkan kepada variasi penggunaan bahasa dan kadangkala

memberikan perhatian kepada penggunaan bahasa yang kompleks dalam

karya sastra (Turner, 1977: 7), atau pendekatan linguistik yang digunakan

dalam studi teks-teks sastra (Leech dan Short, 1984: 183). Kedua,

stilistika dapat dikatakan sebagai studi yang menghubungkan antara

bentuk linguistik dengan fungsi sastra (Leech dan Short, 1984: 4). Ketiga,

stilistika adalah ilmu kajian gaya yang digunakan untuk menganalisis

karya sastra (Kerismas, 1990: 3). Keempat, stilistika mengkaji wacana

sastra dengan berorientasi linguistik dan merupakan pertalian antara

linguistik dan kritik sastra.

Menurut Darwis (2002: 91), stilistika terbagi dua, yaitu stilistika

linguistik dan stilistika sastra. Stilistika linguistik menekankan pada

pentingnya menyodorkan fakta-fakta kebahasaan bukan untuk menilai

segi estetika yang dikandungnya melainkan untuk menemukan ciri pribadi


20

atau ciri sosial penyair, sekurang-kurangnya menunjukkan adanya kontras

antara bahasa puisi dan bahasa sehari-hari. Adapun stilistika sastra

menekankan pada pentingnya pengungkapan nilai estetika karya sastra

berdasarkan fakta-fakta kebahasaan yang sengaja dibuat berbeda dari

bahasa yang berlaku umum dalam masyarakat.

Selain itu, Darwis (2009: 2) mengemukakan tentang stilistika

linguistik, yakni berusaha menyingkapkan fakta-fakta linguistik untuk

menjelaskan keberadaan dan keberbedaan penggunaan gaya bahasa

antara pengarang yang satu dan pengarang yang lain (serangkaian ciri

individual), antara kelompok pengarang yang satu dan kelompok

pengarang yang lain (serangkaian ciri kolektif). Baik secara sinkronik

maupun diakronik, atau menjelaskan perbedaan ragam bahasa karya

sastra dengan ragam bahasa karya nonsastra dan stilistika sastra

menjelaskan bagaimana menemukan fungsi sastra, yaitu memberikan

efek estetika (puitis).

Pada mulanya stilistika tidak dimaksudkan sebagai studi gaya sastra

melainkan untuk studi bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-

hari untuk memenuhi tujuan hidup. Pentingnya kajian linguistik dalam

karya sastra dikemukakan oleh Culler (1975: 55), bahwa tugas kajian

linguistik adalah memberikan bantuan dalam analisis sastra dengan

memaparkan perlengkapan bahasa yang dimanfaatkan di dalam teks

sastra dan diorganisasikan oleh pengarang.


21

Darwis (2009) dalam sebuah artikel jurnal yang berjudul “Kelainan

Ketatabahasaan dalam Puisi Indonesia: Kajian Stilistika” telah

mengungkap bahwa kelainan-kelainan ketatabahasaan itu merupakan

suatu strategi di dalam, dan/atau kalau dapat menghasilkan rima yang

sesuai. Dengan cara demikianlah, bahasa puisi itu memiliki karakteristik

tersendiri, berkontras dengan ragam bahasa nonsastra (bahasa publik),

dan tidak terkesan klise. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa

kelainan ketatabahasaan tersebut ternyata berpola, yang berarti dilakukan

sedemikian rupa sebagai realisasi kesanggupan ber(tata) bahasa, bukan

akibat kelainan ataupun ketidakpedulian penyair terhadap kaidah-kaidah

tata bahasa Indonesia. Salah satu pola yang pada penelitiannya ini

adalah pola pelesapan yakni dilesapkannya afiks-afiks tertentu yang

biasanya terdapat dalam penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari. Afiks-

afiks yang kerap dilesapkan, yaitu sufiks –I dan sufiks –kan.

Kajian Stilistika sebenarnya dapat ditujukan terhadap berbagai

ragam penggunaan bahasa, tidak terbatas pada sastra saja tetapi

biasanya stilistika lebih sering dikaitkan dengan bahasa sastra. Stilistika

dapat dianggap menjembatani kritik sastra di satu pihak dan linguistik di

pihak lain karena stilistika mengkaji wacana sastra dengan orientasi

linguistik. Stilistika merupakan suatu ilmu yang di dalamnya juga

mempelajari kata-kata berjiwa dan gaya bahasa yang terdapat dalam

suatu karya sastra.


22

2. Gaya Bahasa

a. Pengertian Gaya Bahasa

Beberapa pakar linguistik telah mencoba memberikan batasan

mengenai gaya bahasa. Menurut Ahmadi (1990: 170) “gaya bahasa

merupakan penggunaan bahasa yang istimewa, dan tidak dapat

dipisahkan dari cara atau teknik seorang pengarang dalam merefleksikan

(memantulkan, mencerminkan) pengalaman, nilai-nilai kualitas kesadaran

pikiran dan pandangan yang istimewa atau khusus”. Ahmadi membagi

gaya bahasa menjadi dua, yaitu gaya bahasa penekanan yang terdiri dari

25 jenis gaya bahasa dan gaya bahasa perbandingan yang terdiri dari

empat belas jenis. Lain halnya menurut Keraf (2010: 113) “gaya bahasa

merupakan cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas

yang memperhatikan ciri dan kepribadian penulis (pemakai bahasa)”.

Menurut Kridalaksana (2011: 76) gaya bahasa adalah pemanfaatan

atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis serta

pemakaian ragam tertentu. Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2002: 276) gaya

bahasa (style) adalah suatu hal yang pada umumnya tidak lagi

mengandung sifat kontroversional, menyaran pada pengertian cara

penggunaan bahasa dalam konteks tertentu, oleh pengarang tertentu dan

sebagainya. Menurut Jabrohim (2000: 102), gaya bahasa merupakan

penggunaan bahasa sebagai media komunikasi secara khusus, yaitu

penggunaan bahasa secara bergaya dengan tujuan ekspresifitas


23

pengucapan. Gaya bahasa meliputi seluruh unsur bahasa, yaitu intonasi,

bunyi, kata, dan kalimat.

Sementara itu, Sudaryat (1986: 135) mengatakan bahwa gaya

bahasa adalah pemakaian kata-kata kiasan dan perbandingan yang tepat

untuk melukiskan sesuatu maksud untuk membentuk plastik bahasa.

Plastik bahasa adalah daya cipta pengarang dalam membuat cipta sastra

dengan mengemukakan pemilihan kata yang tepat memungkinkan tenaga

yang sesuai dengan buah pikiran dan perasaan yag terkandung dalam

karya itu.

Sejalan dengan beberapa pendapat di atas, Luxemburg dkk. (1984:

105) menyatakan gaya bahasa adalah segala sesuatu yang memberikan

ciri khas kepada sebuah teks atau menjadikan teks itu sebagai individu

bila dibandingkan dengan teks-teks lain. Hartoko dan Rahmanto (1986:

137) mengemukakan bahwa gaya bahasa adalah cara yang khas dipakai

seseorang untuk mengungkapkan diri (gaya pribadi). Cara

mengungkapkan tersebut dapat berupa setiap aspek bahasa, pemilihan

kata-kata, penggunaan kiasan, susunan kalimat, nada, dan sebagainya.

Menurut Keraf (2010: 113), gaya bahasa adalah cara mengungkapkan

pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan

kepribadian penulis (pemakai bahasa).

Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa

secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai

bahasa). Sebuah gaya bahasa yang baik harus mengandung tiga unsur,
24

yaitu kejujuran, sopan santun, dan menarik (Tarigan, 1985: 5).

Sedangkan, menurut Pradopo (1993: 265) gaya bahasa adalah

pemanfaatan atas kekayaan bahasa seseorang dalam bertutur atau

menulis, lebih khusus adalah pemakaian ragam bahasa tertentu untuk

memperoleh efek tertentu, yaitu efek estetis yang menghasilkan nilai seni.

Leech dan Short (1993: 31) menyimpulkan definisi gaya sebagai

berikut; (1) gaya adalah cara bagaimana bahasa digunakan, yaitu

tergolong kepada parole bukan kepada langue, (2) gaya terdiri dari pilihan

yang dibuat oleh perlakuan bahasa, dan (3) sebuah gaya dibatasi oleh

wilayah penggunaan bahasa (misalnya pilihan yang dibuat oleh

pengarang tertentu, dalam genre tertentu, atau dalam teks tertentu).

Dari beberapa pendapat atau teori mengenai gaya bahasa yang

dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa adalah gaya

dalam bertutur ataupun menulis dengan menggunakan kata-kata kias

yang tidak memperlihatkan makna secara langsung tetapi secara tidak

langsung.

Adapun beberapa pengertian gaya menurut Enkvis (dalam Junus,

1989: 5), yaitu; (1) gaya sebagai bungkusan, (2) gaya sebagai pilihan

kemungkinan, (3) gaya sebagai serangkaian ciri pribadi, (4) gaya sebagai

penyimpangan, (5) gaya sebagai sekumpulan ciri-ciri kolektif, (6) gaya

sebagai hubungan antara satuan bahasa yang dinyatakan dalam teks

yang lebih luas dari pada kalimat. Penjelasan tentang gaya menurut

Enkvis tersebut akan diuraikan berikut.


25

(1) Gaya sebagai Bungkusan

Gaya yang membungkus inti pemikiran atau pernyataan yang telah

ada sebelumnya; menyarankan bahwa pengertian gaya ini bermula dengan

memisahkan:

(a) pikiran yang diucapkan, dan

(b) bungkusan atau cara menyampaikannya

Jadi, disitu ada hubungan antara signifiant (penanda) dan signifiaé

(petanda). Misal, lebih dahulu ada yang ditanda berupa dan pemuda

berdatangan untuk memikat gadis itu. Kemudian, pikiran sebagai petanda

itu dibungkus dengan pikiran sebagai penandanya dan kumbang

berdatangan untuk menghisap madu bunga itu (pembungkus). Kalimat

pembungkusnya tampak lebih indah dari pikiran yang diungkapkan (Junus,

1989: 6).

(2) Gaya sebagai Pilihan Kemungkinan

Pengertian ini menyarankan pernyataan umum (common sense),

dikatakan gaya melibatkan pilihan. Tanpa pilihan tidak mungkin ada gaya.

Misalnya, ada beberapa pilihan untuk menyatakan sepasang kekasih

dengan sepasang merpati, merpati dua sejoli, terbang dua sekawan

(Junus, 1989: 6).

(3) Gaya sebagai Serangkaian Ciri Pribadi

Pengertian ini menyarankan pernyataan seperti yang dikemukakan

oleh Buffon “le style, c’est l’ homme meme” gaya adalah orang (penulis)
26

itu sendiri. Dengan demikian, seorang penulis akan menurunkan tanda

tangannya pada setiap tulisannya (Junus, 1989: 7).

(4) Gaya sebagai Penyimpangan

Gaya bahasa itu merupakan penyimpangan dari norma dan bahwa

ada alasannya mengapa penyimpangan-penyimpangan demikian itu

terjadi (Junus, 1989: 7). Gaya dianggap sebagai pemakaian bahasa yang

“berbeda” dengan pemakaian bahasa biasa. Contoh bait sajak Chairil

Anwar,Ini muka penuh luka, Siapa punya?. Ucapan bahasa biasa akan

berupa siapakah yang mempunyai muka yang penuh luka ini?.

(5) Gaya sebagai Sekumpulan Ciri-ciri Kolektif

Sekumpulan ciri-ciri kolektif ini menyarankan tidak ada gaya.

Semuanya sama saja dengan pemakaian bahasa biasa. Menurut Junus

(1989: 8), pengertian ciri kolektif atau gaya sosial tidak berhubungan

dengan konsep tidak ada gaya. Hanya semua penulis dipahami menulis

dengan menggunakan gaya yang sama. Misalnya, hanya ada kosakata

yang hanya digunakan dalam karya sastra, penggunaan metafora atau

metonimia “dianggap” tidak ada pada pemakaian bahasa biasa, dan

sebagainya.

(6) Gaya sebagai Hubungan antara Satuan Bahasa yang Dinyatakan


dalam Teks yang Lebih Luas daripada Kalimat.

Berhubungan dengan gaya dan wacana. Pengertian wacana

menurut Junus adalah pengucapan bahasa yang melebihi satu kalimat.

Dengan demikian, wacana lebih dekat kepada retorik. Wacana berbeda

dengan teks, dipahami terikat pada unsur bahasa. Teks lebih luas
27

daripada hanya pemakaian unsur bahasa. Mungkin meliputi gambar

ilustrasi atau informasi yang mungkin tidak bersifat bahasa. Wacana juga

berbeda dari teks, mempunyai hubungan dengan genre. Mungkin orang

berbicara tentang wacana puisi atau wacana novel. Wacana puisi

mempunyai cara penulisan yang berbeda dengan wacana prosa (Junus,

1989: 9).

b. Jenis-jenis Gaya Bahasa

Pada hakekatnya, stilistika atau stile merupakan teknik pemilihan

ungkapan kebahasaan yang dirasa dapat mewakili sesuatu yang akan

disampaikan atau diungkapkan. Kajian stilistika ini berguna untuk dapat

memahami dan mencermati hal-hal yang menjadi penandaan dalam karya

sastra sekaligus dapat mengungkap ekspresif pengarang. Aminuddin

(1995: 247) membaginya ke dalam bentuk tiga analisis, yaitu (1) analisis

tanda baca yang digunakan pengarang, (2) analisis hubungan antara

sistem tanda dengan yang lainnya, dan (3) analisis kemungkinan

terjemahan suatu tanda yang ditentukan serta kemungkinan bentuk

ekspresi yang dikandungnya.

Gaya bahasa terbagi menjadi 2 jenis, yakni figure of thought atau

tuturan yang terkait dengan pengolahan dan pembayangan gagasan.

Rethorical figure atau tuturan figuratif yang terkait dengan penataan dan

pengurutan kata-kata dalam konstruksi kalimat (Aminudin, 1995: 249).

Gaya bahasa merujuk pada tuturan figuratif yang terkait dengan


28

pengolahan dan pembayangan gagasan. Pemajasan (figure of thought)

merupakan teknik untuk pengungkapan bahasa, penggayabahasaan,

yang maknanya tidak merujuk pada makna harfiah kata-kata yang

mendukungnya.

Selanjutnya Keraf (2010: 115) membagi jenis-jenis gaya bahasa

sebagai berikut:

(1) Gaya Bahasa Berdasarkan Pilihan Kata

Dalam bahasa standar (bahasa baku) dapatlah dibedakan: gaya

bahasa resmi (bukan bahasa resmi), gaya bahasa tak resmi, dan gaya

bahasa percakapan.

(a) Gaya Bahasa Resmi

Gaya bahasa resmi adalah gaya dalam bentuknya yang lengkap,

gaya yang dipergunakan dalam kesempatan-kesempatan resmi, gaya

yang dipergunakan oleh mereka yang diharapkan mempergunakannya

dengan baik dan terpelihara. Gaya bahasa resmi adalah bahasa dengan

gaya tulisan dalam tingkat tertinggi, walaupun sering dipergunakan juga

dalam pidato-pidato umum yang bersifat seremonial (Keraf, 2010: 117).

(b) Gaya Bahasa Tak Resmi

Gaya bahasa tak resmi juga merupakan gaya bahasa yang

dipergunakan dalam bahasa standar, khususnya dalam kesempatan-

kesempatan yang tidak formal atau kurang formal. Gaya ini biasanya

dipergunakan dalam karya-karya tulis, buku pegangan, artikel-artikel


29

mingguan atau bulanan yang baik, dalam perkuliahan, editorial, dan

sebagainya (Keraf, 2010: 118).

(c) Gaya Bahasa Percakapan

Dalam gaya bahasa ini, pilihan katanya adalah kata-kata populer

dan kata-kata percakapan. Namun di sini harus ditambahkan segi-segi

morfologis dan sintaksis, yang secara bersama-sama membentuk gaya

bahasa percakapan ini (Keraf, 2010: 120).

(2) Gaya Bahasa Bedasarkan Nada

Gaya bahasa dilihat dari segi nada yang terkandung dalam sebuah

wacana, dibagi atas: gaya yang sederhana, gaya mulia dan bertenaga,

serta gaya menengah.

a) Gaya Sederhana

Gaya ini biasanya cocok untuk memberi intruksi, perintah,

pelajaran, perkuliahan, dan sejenisnya. Sebab itu, untuk mempergunakan

gaya ini secara efektif, penulis harus memiliki kepandaian dan

pengetahuan yang cukup (Keraf, 2010: 121).

b) Gaya Mulya dan Bertenaga

Gaya ini penuh dengan vitalitas dan biasanya dipergunakan untuk

menggerakkan sesuatu. Menggerakkan sesuatu tidak saja dengan

mempergunakan tenaga pembicara tetapi juga dapat mempergunakan

nada keagungan dan kemuliaan. Nada yang agung dan mulia akan

sanggup pula menggerakan emosi pendengar (Keraf, 2010: 122).


30

c) Gaya Menengah

Gaya menengah adalah gaya yang diarahkan kepada usaha untuk

menimbulkan suasana senang dan damai karena tujuannya adalah

menciptakan suasana senang dan damai, maka nadanya juga bersifat

lemah-lembut, penuh kasih sayang, dan mengandung humor yang sehat

(Keraf, 2010: 122).

(3) Gaya Bahasa Berdasarkan Struktur Kalimat

Gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat terdiri dari gaya bahasa

klimaks, antiklimaks, paralelisme, antithesis, dan repetisi.

a) Klimaks

Klimaks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung urutan-

urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkat kepentingannya dari

gagasan-gagasan sebelumnya (Keraf, 2010: 124). Contoh sebagai

berikut:

a. Dalam dunia perguruan tinggi yang dicengkram rasa takut dan rasa
rendah diri, tidak dapat diharapkan pembaharuan, kebanggaan
akan hasil-hasil pemikiran yang obyektif atau keberanian untuk
mengungkapkan pendapat secara bebas.

b. Kesengsaraan membuahkan kesabaran, kesabaran pengalaman,


dan pengalaman harapan.

b) Antiklimaks

Antiklimaks dihasilkan oleh kalimat yang berstruktur mengendur.

Antiklimaks sebagai gaya bahasa merupakan suatu acuan yang gagasan-

gagasannya diurutkan dari yang terpenting berturut-turut ke gagasan yang


31

kurang penting. Antiklimaks sering kurang efektif karena gagasan yang

penting ditempatkan pada awal kalimat sehingga pembaca atau

pendengar tidak lagi memberi perhatian pada bagian-bagian berikutnya

dalam kalimat itu (Keraf, 2010: 125), misalnya :

Ketua pengadilan negeri itu adalah seorang yang kaya,


pendiam, dan tidak terkenal namanya (mengandung ironi).

c) Paralelisme

Pararelisme merupakan suatu gaya yang berusaha mencapai

kesejajaran dalam pemakaian kata-kata yang menduduki fungsi

pragmatikal yang sama dalam sebuah kalimat atau klausa (Keraf, 2010:

126). Contoh sebagai berikut:

a. Kedengarannya memang aneh, dia merasa kesepian di


tengah kota metropolitan ini.

b. Negara kita ini Negara hukum, semua yang salah harus


ditindak tegas tanpa harus pandang bulu.

d) Antitetis

Antitetis adalah sebuah gaya bahasa yang mengandung gagasan-

gagasan yang bertentangan, dengan memergunakan kata-kata atau

kelompok kata yang berlawanan (Keraf, 2010: 126), misalnya:

Mereka sudah kehilangan banyak dari harta bendanya, tetapi


mereka juga telah banyak memeroleh keuntungan
daripadanya.

e) Repitisi

Repitisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian

kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah

konteks yang sesuai (Keraf, 2010: 127). Repetisi terbagi lagi menjadi
32

beberapa gaya yaitu epizeukis, tautotes, anafora, epistrofa, simploke,

mesodiplosis, epanalipsisi, dan anadiplosis.

(4) Gaya Bahasa Berdasarkan Langsung Tidaknya Makna

Berdasarkan langsung tidaknya makna yang terkandung dalam

sebuah kata atau kelompok kata maka gaya bahasa dapat dibedakan atas

dua bagian, yakni gaya langsung atau gaya bahasa retoris dan gaya

bahasa kiasan.

a) Gaya Bahasa Retoris

Gaya bahasa retoris harus diartikan menurut nilai lahirnya. Tidak

ada usaha menyembunyikan sesuatu di dalamnya (Keraf, 2010: 129).

Gaya bahasa retoris terdiri dari aliterasi, asonansi, anastrof, apofasis atau

preterisio, apostrof, asindeton, polisondeton, kiasmus, ellipsis, eufemisme,

litotes, histeron, proteron, pleonasme dan tautologi, perifrasis, prolepsis

atau antisipasi, erotesis atau pertanyaan retoris, silepsis dan zeugma,

koreksio atau epanortosis, hiperbola, paradoks, dan oksimoron.

(1) Aliterasi

Aliterasi adalah gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan

yang sama. Biasanya digunakan dalam puisi dan prosa untuk perhiasan

atau untuk penekanan (Keraf, 2010: 130).

Contoh: Takut titik tumpah

Pada contoh ini perulangan konsonan ditunjukan sebagai perhiasan atau

untuk memperoleh efek keindahan.


33

(2) Asonansi

Gaya bahasa yang berwujud perulangan bunyi vokal yang sama

disebut asonansi. Biasanya dipergunakan dalam puisi, kadang-kadang

juga dalam prosa untuk memperoleh efek penekanan atau sekedar

keindahan (Keraf, 2010: 130).

Contoh : Ini muka penuh luka siapa punya

Perulangan bentuk vokal pada contoh ini menimbulkan efek keindahan.

(3) Anastrof (Inversi)

Anastrof (Inversi) adalah gaya retoris yang diperoleh dengan

pembalikan susunan kata yang biasa dalam kalimat. Gaya bahasa ini

dipergunakan apabila predikat kalimat hendak lebih ditonjolkan atau

dipentingkan dari pada subjeknya sehingga predikat terletak di depan

subjeknya (Keraf, 2010: 130).

Contoh : Besar sekali gajinya.

Yang hendak lebih ditonjolkan dalam kalimat pada contoh ini adalah

besarnya gaji.

(4) Apofasis (Preterisio)

Sebuah gaya dimana pengarang menegaskan sesuatu tetapi

tampaknya menyangkal atau menyatakan sebaliknya disebut apofasis

(preterisio) (Keraf, 2010: 130).

Contoh : Saya tidak mau mengatakan dalam rapat ini bahwa Saudara
telah menggelapkan uang jutaan rupiah.

Maksud dari dari contoh ini seolah-olah menutupi kesalahan orang lain

tetapi pada kenyataannya mengungkap kejahatan orang itu.


34

(5) Apostrof

Apostrof adalah gaya bahasa yang terbentuk sebuah amanat yang

disampaikan kepada sesuatu yang tidak hadir. Makna apostrof ialah

berpaling atau berputar.

Seorang pembicara tiba-tiba mengarahkan ucapannya kepada

sesuatu yang tidak hadir, kepada mereka yang sudah meninggal, atau

kepada barang atau objek khayalan sehingga tampaknya ia tidak

berbicara lagi pada hadirin (Keraf, 2010: 131).

Contoh :

Hai kamu dewa-dewa yang berada di surga, datanglah dan


bebaskanlah kami dari belenggu penindasan ini!

Pembicara mengalihkan ucapannya kepada sesuatu yang tidak hadir

karena tidak mungkin pembicara berbicara di depan dewa.

(6) Asindeton

Asindeton adalah penghilangan konjungsi (kata sambung) dalam

frasa, klausa, atau kalimat, misalnya dalam kalimat “saya datang, saya

lihat, saya menang”. Gaya bahasa asindeton bersifat padat dan mampat;

kata-kata yang sederajat berurutan, atau klausa-klausa yang sederajat,

tidak dihubungkan dengan kata sambung (Keraf, 2010: 131).

Contoh:

Kita berjuang dengan hati panas, kepala dingin.

Kata sambung yang dihilangkan dalam contoh ini adalah tetapi.


35

(7) Polisindenton

Polisindenton adalah suatu gaya yang merupakan kebalikan dari

asindenton. Beberapa kata, frasa, atau klausa yang berurutan

dihubungkan satu sama lain dengan kata-kata sambung (Keraf, 2010:

131).

Contoh:

Setelah pelajaran usai, maka berkemas-kemaslah murid-


murid hendak pulang, karena jam pelajaran terakhir telah
habis, lalu mereka berdoa dipimpin ketua kelas.

(8) Kiasmus

Kiasmus adalah gaya bahasa yang mengandung dua bagian, baik

frasa maupun klausa yang sifatnya berimbang dan dipertentangkan satu

sama lain. Tetapi, susunan frasa atau klausanya itu terbalik bila

dibandingkan dangan frasa atau klausa lainya (Keraf, 2010: 132).

Contoh:

a. Uang itu sudah kutabung di bank, tak ada lagi uang di


rumah.

b. Orang tuanya sudah tiada, berantakanlah kehidupannya.

(9) Elipsis

Elipsis merupakan gaya bahasa dengan menghilangkan satu kata

atau lebih yang dengan mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh

pembaca atau pendengar (Keraf, 2010: 132).

Contoh:

Masihkah kau tak percaya bahwa dari segi fisik engkau tak
apa-apa, badanmu sehat; tetapi psikis.
36

(10) Eufimismus

Eufimismus adalah gaya bahasa yang menggunakan sepatah atau

sekelompok kata untuk menggantikan kata lain dengan maksud supaya

terdengar lebih sopan, alat untuk menghindari diri dari yang dianggap bisa

menyinggung perasaan orang lain. Gaya bahasa ini disebut juga gaya

bahasa pelembut (Keraf, 2010: 132).

Contoh :

Karna selalu mendapat tekanan jiwa, ia berubah akal.

Maksud dari contoh ini untuk melembutkan kata gila

(11) Litotes

Gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan

tujuan merendahkan diri disebut litotes. Sesuatu hal dinyatakan kurang

dari keadaan sebenarnya atau suatu pikiran dinyatakan dengan

menyangkal lawan katanya (Keraf, 2010: 132).

Contoh :

Kedudukan saya ini tidak ada artinya sama sekali. Saya tidak
akan merasa bahagia bila mendapat warisan Satu milyar
rupiah.

(12) Histeron Proteron

Histeron Proteron adadah gaya bahasa yang merupakan kebalikan

dari sesuatu yang logis atau kebalikan dari urutan yang wajar, misalnya,

menempatkan sesuatu yang terjadi kemudian pada awal peristiwa. Gaya

bahasa ini juga disebut hiperbaton (Keraf, 2010: 133).


37

Contoh:

Kereta melaju dengan cepat di depan kuda yang


menariknya.

Kalimat pada contoh ini sangat tidak logis sebab kereta letaknya di

belakang kuda.

(13) Pleonasme

Pemakaian kata-kata lebih dari pada yang diperlukan dinamakan

gaya bahasa pleonasme atau disebut juga gaya bahasa penegasan.

Pleonasme berasal dari kata pleonazein yang berarti 'lebih banyak dari

yang diperlukan atau berkelimpahan‟ (Keraf, 2010: 133).

Contoh:

Dia naik ke atas.

Kata ke atas sebenarnya tidak perlu lagi dipakai karena kerja naik

tujuannya selalu ke atas. Jadi, tidak ada orang yang naik ke bawah.

(14) Tautologi

Tautologi adalah gaya bahasa penegasan dengan mengulang

beberapa kali sepatah kata dalam sebuah kalimat. Dapat pula

mempergunakan beberapa kata yang bersinonim berturut-turut dalam

sebuah kalimat sehingga disebut gaya bahasa sinonim karena

menggunakan kata-kata yang bersinonim (Keraf, 2010: 134).

Contoh:

Sungai ini terlalu amat dalam sekali.

Kata terlalu, amat, dan sekali bersinonim.


38

(15) Perifrasis

Perifrasis atau perifrase adalah gaya bahasa penguraian atau

pengungkapan yang panjang sebagai pengganti pengungkapan yang

lebih pendek. Sepatah kata diganti dengan serangkai kata yang

mengandung arti yang sama dengan kata yang diganti itu (Keraf, 2010:

134).

Contoh:

Ketika sang surya keluar dari peraduannya berangkatlah


kami.

Kata ketika sang surya keluar dari peraduannya penguraian dari matahari

terbit.

(16) Prolepsis atau Antisipasi

Prolepsis atau Antisipasi adalah gaya bahasa yang

mempergunakan lebih dahulu kata-kata atau sebuah kata sebelum

peristiwa atau gagasan yang sebenarnya terjadi. Misalnya dalam

melukiskan tentang terjadinya suatu kecelakaan pesawat terbang,

sebelum sampai pada peristiwa kecelakaan itu sendiri, penulis sudah

mempergunakan kata pesawat yang sial itu. Padahal kesialan baru terjadi

kemudian (Keraf, 2010: 134).

Contoh:

Pesawat yang sial itu sempat mendarat sebelum akhirnya


meledak.
39

(17) Erotesis atau Pertanyaan Retoris

Erotesis adalah semacam pertanyaan yang dipergunakan dalam

pidato atau tulisan dengan tujuan untuk mencapai efek yang lebih

mendalam dan penekanan yang wajar dan sama sekali tidak

menghendaki adanya suatu jawaban. Dalam pertanyaan retoris terdapat

asumsi bahwa hanya ada satu jawaban yang mungkin (Keraf, 2010: 134).

Contoh :

Siapa pula yang mau ditindas terus menerus?

Hanya ada satu jawaban yang mungkin atas pertanyaan tersebut, yaitu

tidak ada.

(18) Silepsis

Silepsis adalah gaya dimana orang mempergunakan dua konstruksi

rapatan dengan menghubungkan sebuah kata dengan dua kata lain yang

sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan dengan kata

pertama. Konstruksi yang dipergunakan itu gramatikal benar tetapi secara

semantik tidak benar (Keraf, 2010: 135).

Contoh :

Ia sudah kehilangan topi dan semangatnya.

Konstruksi yang lengkap adalah kehilangan topi dan kehilangan

semangat.

(19) Zeugma

Zeugma adalah gaya dimana orang mempergunakan dua

konstruksi ratapan dengan menghubungkan sebuah kata dengan dua kata


40

lain yang sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan dengan

kata pertama. Adapun, kata yang dipakai untuk membawahi kedua kata

berikutnya, sebenarnya hanya cocok untuk salah satu dari pada (baik

secara logis maupun gramatikal) (Keraf, 2010: 135).

Contoh:

Dengan membelalakan mata dan telinganya, ia mengusir


orang itu.

Kata yang cocok untuk kalimat tersebut sebenarnya hanya membelalakan

mata.

(20) Koreksio atau Epanortosis

Koreksio adalah suatu gaya yang berwujud, mula-mula

menegaskan sesuatu, tetapi kemudian memperbaikinya (Keraf, 2010:

135).

Contoh:

Dia adalah kekasihku, eh bukan, kakakku.

(21) Hiperbola

Hiperbola adalah gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang

berlebihan dengan membesar-besarkan suatu hal (Keraf, 2010: 136).

Contoh:

Larinya secepat kilat.

Terlalu berlebihan mengatakan ada orang yang berlari secepat kilat

karena tidak mungkin hal itu terjadi.


41

(22) Paradoks

Paradoks adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan

dengan pengungkapan sesuatu seolah-olah berlawanan tetapi ada

logikanya. Paradoks dapat juga berarti semua hal yang menarik perhatian

karena kebenarannya (Keraf, 2010: 136).

Contoh:

Di kota yang ramai ia merasa kesepian.

Pada kenyataannya memang banyak orang yang jiwanya kosong bisa

merasa kesepian di tengah keramaian.

(23) Oksimoron

Suatu acuan yang berusaha untuk menggabungkan kata-kata untuk

mencapai efek bertentangan disebut oksimoron. Dapat juga dikatakan

bahwa oksimoron adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan

dengan mempergunakan kata-kata yang berlawanan dalam frasa yang

sama, dan sebab itu sifatnya lebih padat dan tajam dari paradoks (Keraf,

2010: 136).

Contoh:

Keramahtamahan yang bengis.

Jelas adanya suatu pertentangan yang tajam antara dua kata pada contoh

tersebut.

b) Gaya Bahasa Kiasan

Gaya bahasa kiasan ialah gaya yang dilihat dari segi makna tidak

dapat ditafsirkan sesuai dengan kata-kata yang membentuknya. Makna


42

harus dicari di luar rangkaian kata atau kalimatnya. Gaya bahasa kiasan

terdiri atas:

(1) Persamaan atau Simile

Simile adalah gaya bahasa yang menyatakan perbandingan yang

bersifat eksplisit, yaitu menggunakan alat formal untuk menyatakan

hubungan, seperti: bagai, laksana, ibarat, dan sebagainya. Simile

langsung menyatakan sesuai sama dengan kata hal lain (Keraf, 2010:

138).

Contoh:

Bibirnya bagai delima merekah.

Kadang-kadang diperoleh persamaan tanpa menyebut objek pertama

yang mau dibandingkan.

Contoh:

Bagai duri dalam daging.

Objek yang mau di bandingkan tanpa di sebutkan dalam contoh tersebut

adalah pedih.

(2) Metafora

Gaya bahasa yang merupakan kiasan persamaan antara benda

yang diganti namanya dengan benda yang menggantinya disebut

metafora. Kedua benda yang diperbandingkan itu mempunyai persamaan

sifat (Keraf, 2010: 139).

Contoh:

Matahari adalah raja siang.


43

Raja mempunyai sifat berkuasa. Sifat kuasa itu juga dimiliki oleh matahari.

Kalau matahari tidak ada, maka kehidupan pun tiada. Itulah sebabnya

matahari yang bersinar pada waktu siang diumpamakan sebagai raja

siang.

(3) Alegori

Alegori adalah suatu cerita singkat yang mengandung kiasan. Gaya

bahasa alegori melukiskan sesuatu dengan cara membandingkan sesuatu

yang lain secara utuh (Keraf, 2010: 140).

Contoh :

"aduhai sungguh malang nasib ku", kata kumbang itu seraya


berlinang-linanglah airmatanya. "Telah lama aku terbang
melayang-layang, mengelilingi kuntum melati yang kecil
molek dan menyerbak wangi itu. Hendak hinggap aku tidak
berani, takut kalau-kalau badan tidak diterima".

Yang dimaksud kumbang dalam contoh ini adalah pemuda yang dimabuk

cinta dan kuntum melati adalah Juwita yang menjadi idamannya.

(4) Parabel

Parabel adalah suatu istilah yang dipergunakan untuk menyebut

cerita-cerita khayal dalam kitab suci yang bersifat alegoris untuk

menyampaikan kebenaran moral atau spiritual (Keraf, 2010: 140).

Contoh: Cerita Ramayana yang didalamnya tersirat pesan bahwa yang


benar akan terbukti kebenarannya.

(5) Fabel

Fabel adalah suatu metafora berbentuk cerita mengenai dunia

binatang dimana binatang-binatang bahkan makhluk-makhluk yang tidak


44

bernyawa bertindak seolah-olah sebagai manusia. Tujuan fabel ialah

menyampaikan ajaran moral atau budi pekerti (Keraf, 2010: 140).

Contoh: Cerita "Si Kancil". dalam cerita si Kancil, binatang ini digambarkan

bertindak seperti manusia. Ajaran moral yang disampaikan dalam cerita si

Kancil adalah agar manusia berlaku cerdik dan jujur.

(6) Personifikasi atau Prosopopoeia

Personifikasi adalah gaya bahasa yang melukiskan benda-benda

mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah hidup, dapat

bergerak. Personifikasi disebut juga penginsanan atau pengorangan

(Keraf, 2010: 140).

Contoh:

Nyiur melambai di tepi pantai.

Kata nyiur melambai pada contoh ini adalah personifikasi karena hanya

manusia yang bisa melambai. Jadi, di sini pohon nyiur diumpamakan

manusia.

(7) Alusio

Gaya bahasa yang mengias dengan mempergunakan peribahasa

atau ungkapan-ungkapan yang sudah lazim ataupun menggunakan

sampiran pantun yang isinya sudah umum diketahui disebut alusio (Keraf,

2010: 141).

Contoh:

a. Jangan seperti kura-kura dalam perahu. (maksudnya,


pura-pura tidak tahu).
45

b. Keadaan ku seperti orang makan buah simalakama,


jika dimakan ibu mati tidak dimakan bapak mati.
(pilihan yang serba sulit dan tidak menguntungkan).

(8) Eponim

Eponim adalah melukiskan sesuatu dengan cara mengambil sifat

yang dimiliki oleh nama-nama yang telah terkenal (Keraf, 2010: 141).

Contoh:

Maradona kita telah memasuki lapangan.

Maradona dalam contoh ini adalah nama pemain sepak bola terkenal

yang digunakan untuk mengiaskan orang yang ahli sepak bola.

(9) Epitet

Epitet adalah semacam acuan yang menyatakan satu sifat atau ciri

yang khusus dari suatu orang atau suatu hal. Keterangan itu merupakan

suatu frasa deskriptif yang menjelaskan atau menggantikan nama

seseorang atau suatu benda (Keraf, 2010: 141).

Contoh:

Lonceng pagi untuk ayam jantan.

Ayam jantan berkokok pada pagi hari. kokokan ayam jantan di ibaratkan

sebagai lonceng.

(10) Sinekdoke

Sinekdoke berasal dari bahasa yunani synekdechesthai yang

berarti menerima bersama-sama. Sinekdoke adalah gaya bahasa yang

mempergunakan sebagian dari suatu hal untuk menyatakan keseluruhan


46

(pars pro toto) atau mempergunakan keseluruhan untuk menyatakan

sebagian (totum pro parte) (Keraf, 2010: 142).

Contoh:

Setiap kepala dikenakan sumbangan seratus rupiah. (pars


prototo)

Yang dimaksud dengan kepala adalah orang dengan seluruh anggota

badan, bukan hanya kepalanya saja.

Contoh:

Pertandingan sepak bola itu berakhir dengan kemenangan


medan. (totum pro parte)

Yang dimaksud sebenarnya hanya kemenangan kesebelasan pemain dari

medan.

(11) Metonimia

Metonimia adalah gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata

untuk menyatakan suatu hal lain, karena mempunyai pertalian yang

sangat dekat (Keraf, 2010: 142).

Contoh:

Bapak sedang mengisap jarum..

Menghisap jarum ialah mengisap rokok merek jarum. nama jarum

berasoosiasi denagn rokok.

(12) Antonomasia

Antonomasia merupakan sebuah bentuk khusus dari sinekdoke

yang berwujud penggunaan sebuah epiteeta (julukan) untuk


47

menggantikan nama diri, atau gelar resmi, atau jabatan untuk

menggantikan nama diri (Keraf, 2010: 142).

Contoh :

Si kurus itu sedang makan.

Kata si kurus bukan nama sebenarnya melainkan panggilan pada

seseorang yang memiliki tubuh kurus.

(13) Hipalase

Hipalase adalah semacam gaya bahasa di mana sebuah kata

tertentu dipergunakan untuk menerangkan sebuah kata yang seharusnya

dikenakan sebuah kata yang lain (Keraf, 2010: 142).

Contoh :

Ia berbaring di atas bantal yang gelisah.

Yang gelisah adalah manusianya, bukan bantal.

(14) Ironi

Ironi atau cemooh secara halus adalah gaya bahasa sindiran yang

mengatakan sebaliknya dari yang sebenarnya. Kadang-kadang ironi

hanya merupakan suatu olok-olok saja. Apakah itu sindiran atau gurauan

dapat ditentukan oleh cara pembicara berkata ditentukan oleh situasi

(Keraf, 2010: 143).

Contoh :

"Keputusan anda sangat tepat!"

Kalimat tersebut menjadi ironi apabila sebenarnya keputusan yang diambil

itu tidak tepat.


48

(15) Sinisme

Gaya bahasa sinisme juga gaya bahasa sindiran tetapi lebih kasar

dari ironi (Keraf, 2010: 143).

Contoh :

"Harum benar bau badanmu, sim! kau belum mandi ya?

(16) Sarkasme

Sarcasm (inggris) adalah perkataan yang menyakitkan hati. Yang

dimaksud dengan gaya bahasa sarkasme adalah gaya bahasa sindiran

yang paling kasar. memaki orang dengan kata-kata kasar yang kasar dan

tidak sopan. Gaya bahasa ini selalu akan menyakiti hati dan tidak enak

didengar (Keraf, 2010: 143).

Contoh :

" Cih, mukamu yang seperti monyet itu, jijik aku melihatnya!"

(17) Satire

Kata Satire diturunkan dari kata satura yang berarti talam yang berisi

macam-macam buah-buahan. Satire adalah ungkapan yang

menertawakan atau menolak sesuatu. Satire mengandung kritik tentang

kelemahan manusia. Tujuan utamanya adalah agar diadakan perbaikan.

Satire berbentuk uraian yang harus ditafsirkan lain dari makna

permukaannya (Keraf, 2010: 144).

Contoh :

Kita sudah tak pernah bertegur sapa sejak curahan air dari
atap rumahku jatuh di halaman rumahmu.
49

(18) Inuendo

Inuendo adalah pengungkapan yang bermaksud menyindir dengan

cara mengecilkan kenyataan yang sebenarnya. Dengan kata lain,

menyindir secara tidak langsung (Keraf, 2010: 144).

Contoh:

Setiap ada pekelahian, ia selalu terlibat karena ia agak


senang berkelahi.

Maksud selalu terlibat berarti senang berkelahi, tetapi selanjutnya

dikatakan dengan agak senang berkelahi sebagai pengecilan kenyataan.

(19) Antifrasis

Antifrasis adalah semacam ironi yang berwujud penggunaan sebuah

kata dengan makna kebalikannya yang bisa saja dianggap sebagai ironi

sendiri, atau kata-kata yang dipakai untuk menangkal kejahatan, roh jahat,

dan sebagainya (Keraf, 2010: 144).

Contoh:

Anda sangat baik (maksudnya agar orang jahat tidak


mengganggu).

(20) Pun atau Paronomasia

Pun atau Paronomasia adalah kiasan dengan mempergunakan

kemiripan bunyi. Ia merupakan permainan kata yang didasarkan pada

kemiripan bunyi tetapi terdapat perbedaan besar dalam maknanya (Keraf,

2010: 145).

Contoh :

Tanggal dua gigi saya tanggal dua.


50

Kata tanggal yang pertama menjelaskan waktu sedangkan kata tanggal

yang kedua berarti lepas.

c. Fungsi Gaya Bahasa

Gaya bahasa merupakan bentuk retorik merupakan penggunaan

kata-kata dalam berbicara dan menulis untuk mempengaruhi pembaca

atau pendengar. Bertolak dari kenyataan tersebut, dapat dilihat fungsi

gaya bahasa, yaitu sebagai alat untuk menyakinkan atau mempengaruhi

pembaca atau pendengar. Disamping itu, gaya bahasa juga berkaitan

dengan situasi dan suasana karangan. Maksudnya ialah gaya bahasa

menciptakan keadaan suasana hati tertentu, misalnya kesan baik ataupun

buruk, senang, tidak enak, dan sebagainya yang diterima pikiran dan

perasaan karena pelukisan tempat, benda-benda, suatu keadaan atau

kondisi tertentu (Ahmadi, 1990: 169).

Selain pendapat di atas, Tarigan (2009: 4) mengatakan bahwa

dengan kata-kata belumlah begitu jelas untuk menerangkan sesuatu, oleh

karena itu digunakan persamaan perbandingan serta kata-kata kias

lainnya. Bertolak dari beberapa pendapat di atas, dapatlah dilihat fungsi

gaya bahasa, yaitu sebagai alat untuk memperkuat efek terhadap

gagasan yang disampaikan, alat untuk memperjelas sesuatu dan alat

untuk menciptakan keadaan hati tertentu.


51

Berdasarkan beberapa pendapat tentang fungsi gaya bahasa yang

telah dipaparkan di atas, dapat disimpulkan fungsi gaya bahasa sebagai

berikut:

1) Gaya bahasa berfungsi sebagai alat untuk mempengaruhi atau

meyakinkan pembaca atau pendengar, maksudnya gaya bahasa

dapat membuat pembaca atau pendengar semakin yakin dan percaya

terhadap apa yang disampaikan penulis;

2) Gaya bahasa berfungsi sebagai alat untuk menciptakan keadaan

perasaan hati tertentu, maksudnya gaya bahasa dapat menjadikan

pembaca hanyut dalam suasana hati tertentu, misalnya kesan baik

atau buruk, senang, tidak enak, dan sebagainya setelah mengetahui

tentang apa yang disampaikan penulis;

3) Gaya bahasa berfungsi sebagai alat untuk memperkuat efek terhadap

gagasan yang disampaikan, maksudnya gaya bahasa dapat membuat

pembaca atau pendengar terkesan terhadap gagasan yang

disampaikan penulis atau pembicara.

Keraf (2010: 116) dalam karya sastra seperti novel, cerpen ataupun

puisi, gaya bahasa mempunyai fungsi memberi warna pada karangan,

seningga gaya bahasa mencerminkan ekspresi individual dan sebagai alat

melukiskan sebuah cerita dan mengintensifkan penceritaan.


52

d. Pembentuk Gaya Bahasa

Bentuk gaya bahasa dalam novel Atheis karya Achdiat Karta

Mihardja dan Telegram karya Putu Wijaya dapat dilihat dari kategori

sintaksis yaitu kata, frasa, kalimat, dan ungkapan. Pada dasarnya setiap

piranti linguistik (kata, frasa, dan kalimat) apapun dapat berpotensi

mengandung gaya bahasa dan dapat dilihat perbedaan antara kata yang

mengandung gaya bahasa dengan kata biasa. Untuk pengungkapan

bentuk gaya bahasa, maka akan digunakan teori sintaksis dari Ramlan.

1) Kata

Menurut Kridalaksana (2011: 110), kata adalah morfem atau

kombinasi morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagai satuan

terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas atau satuan

bahasa yang dapat berdiri sendiri, terjadi dari morfem tunggal atau

morfem gabungan. Kata tunggal atau morfem tunggal adalah kata yang

berasal dari leksem tunggal setelah mengalami proses morfologi. Kata

kompleks adalah kata yang sudah mengalami proses morfologis. Kata

golongan ini dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu (1) kata berimbuhan; (2)

kata ulang; (3) kata majemuk. Kata berimbuhan adalah kata yang dibentuk

dengan proses afiksasi, sedangkan kata ulang adalah kata yang dibentuk

dengan proses reduplikasi. Menurut Kridalaksana (2009: 99) kata

majemuk adalah gabungan morfem dasar yang seluruhnya berstatus

sebagai kata yang mempunyai pola fonologis, gramatikal, dan semantik

yang khusus menurut kaidah yang bersangkutan.


53

Kridalaksana (2009: 29) menggolongkan kelas kata menjadi tiga

belas kata, yaitu verba (kata kerja), adjektiva (kata sifat), nomina (kata

benda), pronomina (kata ganti), numeralia (kata bilangan), adverbia (kata

keterangan), interogativa (kata tanya), demonstrativa (kata tunjuk),

preposisi (kata depan), konjungsi (kata penghubung), artikula, kategori

fatis, dan interjeksi (kata seru).

2) Frasa

Menurut Ramlan (2001: 18), frasa adalah satuan gramatik yang

terdiri atas satu kata atau lebih dan tidak melampaui batas fungsi atau

jabatan. Jadi, bisa disimpulkan bahwa frasa adalah gabungan dua kata

atau lebih yang tidak melebihi satu batas fungsi.

Frasa terbagi atas beberapa jenis antara lain: (a) frasa nomina, yaitu

inti frasa tersebut berupa kata benda (Ramlan, 2001:18). Misalnya: paku

beton, ayam bakar, dan sebagainya. (b) frasa verba, yaitu inti frasa

tersebut berupa kata kerja. Misalnya: bekerja keras, dan berlari pagi. (c)

frasa adverbia, yaitu inti frasa tersebut berupa kata keterangan. Misalnya:

kemarin sore, dan menjelang malam. (d) frasa preposisional, yaitu inti

frasa tersebut berupa kata depan. Misalnya: di kampus, dari Makassar. (e)

frasa numeral, yaitu inti frasa tersebut berupa kata bilangan. Misalnya:

sebungkus nasi, dan seribu ikat. (f) frasa adjektiva, yaitu inti frasa tersebut

berupa kata sifat. Misalnya: cantik sekali, dan amat baik.


54

3) Kalimat

Kalimat adalah satuan gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda

panjang yang disertai nada akhir turun dan naik. Dalam wujud lisan

kalimat diucapkan dengan suara naik turun, keras lemah, disertai jeda,

dan diakhiri intonasi naik dan turun. Sedangkan dalam wujud tulisan

kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik

(.), tanya (?), atau seru (!).

Ramlan (2001: 23) kalimat berdasarkan bentuk sintaksisnya dibagi

menjadi empat jenis yaitu:

(a) Kalimat Berita atau Deklaratif

Kalimat berita merupakan kalimat yang berisi pemberitaan. Kalimat

berita diakhiri dengan intonasi netral dan nada turun. Dalam kalimat berita

tidak ada unsur yang ditonjolkan. Kalimat berita jika ditulis dalam kalimat

diakhiri tanda titik.

(b) Kalimat Tanya atau Interogatif

Kalimat tanya adalah kalimat yang berisi pertanyaan seseorang

kepada orang lain dengan tujuan untuk memeroleh jawaban dari pihak

yang ditanya. Ciri-ciri kalimat tanya adalah intonasi yang digunakan

intonasi tanya, diakhiri dengan nada naik, sering menggunakan kata

tanya, dapat pula menggunakan partikel tanya –kah. Fungsi partikel –kah

tersebut untuk memperluas pertanyaan.

Kalimat tanya dibagi menjadi dua jenis, yaitu kalimat tanya biasa dan

kalimat tanya retoris. Kalimat tanya biasa merupakan kalimat yang


55

membutuhkan jawaban dari lawan bicarany, sedangkan kalimat retoris

adalah kalimat yang tidak membutuhkan jawaban dari lawan bicaranya

karena si penanya sebenarnya sudah mengetahui jawabannya. Kalimat

tanya retoris biasanya digunakan untuk menyindir, mengejek, atau

mengungkapkan kemarahan.

(c) Kalimat Perintah atau Imperatif

Kalimat perintah adalah kalimat yang isinya menyuruh orang lain

untuk melakukan sesuatu yang kita kehendaki. Ciri-ciri kalimat perintah

adalah mempergunakan intonasi perintah, diakhiri dengan nada naik pada

akhir kalimat. Kata kerja yang mendukung isi perintah biasanya

merupakan kata dasar dan mempergunakan partikel pengeras –lah.

Dalam bentuk tulis kalimat perintah diakhiri dengan tanda seru (!). Kalimat

perintah berisi permohonan, ajakan, larangan, ejekan, atau harapan.

(d) Kalimat Seruan atau Ekslamatif

Kalimat seruan berisi seruan terhadap sesuatu. Kalimat seru

menggunakan intonasi yang menunjukkan keheranan, pujian, terkejut,

takut, menyapa, atau menawarkan sesuatu. Kalimat seruan diakhiri

dengan nada naik. Dalam bentuk tulisan kalimat seruan diakhiri tanda

seru (!).

3. Novel

a. Pengertian Novel

Kata novel berasal dari kata latin novellus yang diturunkan dari kata

novies yang berarti baru. Dikatakan baru karena jika dibandingkan dengan
56

jenis-jenis sastra lainnya seperti puisi, drama, dan lain-lain, maka novel

muncul kemudian (Tarigan, 1984: 164).

Menurut Wolf (dalam Tarigan, 1984: 164), roman atau novel adalah

sebuah eksplorasi atau suatu kronik penghidupan; merenungkan atau

melukiskan dalam bentuk tertentu, pengaruh, ikatan, hasil, kehancuran,

atau tercapainya gerak-gerik manusia. Batos (dalam Tarigan, 1984: 164)

juga mengemukakan bahwa novel adalah sebuah roman pelaku-pelaku

dengan waktu muda, mereka menjadi tua, mereka bergerak dari sebuah

adegan ke adegan yang lain, dari suatu tempat ke tempat yang lain.

Sejalan dengan pernyataan di atas, Nurgiyantoro (2002: 4)

berpendapat bahwa novel sebagai suatu karya fiksi yang pada prinsipnya

menawarkan sebuah dunia yang berisi model kehidupan yang ideal,

imajiner, yang dibangun melalui berbagai unsur intrinsiknya seperti alur,

tokoh, penokohan, latar, sudut pandang, dan lain-lain. Berdasarkan dari

beberapa teori di atas maka dapat disimpulkan bahwa novel adalah suatu

karya sastra bersifat fiksi yang memberikan kesan estetik, sehingga para

pembaca mendapatkan kesan tertentu yang dapat membangkitkan gairah

senang, sakit, sedih dan sebagainya.

b. Unsur-unsur Novel

Nurgiyantoro (2002: 23) mengelompokkan unsur-unsur pembangun

sebuah novel yang kemudian membentuk sebuah totalitas di samping


57

unsur formal bahasa. Adapun pembagian unsur yang dimaksud adalah

unsur instrinsik dan unsur ekstrinsik.

1) Unsur Instrinsik

Unsur intrinsik (intrinsich) adalah unsur-unsur yang membangun

karya sastra itu sendiri dari dalam. Artinya yang benar-benar ada di dalam

karya tersebut. Unsur intrinsik inilah yang menyebabkan karya sastra

hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai

jika orang membaca karya sastra. Unsur intrinsik novel adalah unsur-

unsur yang (secara langsung) turut serta membangun cerita. Kepaduan

antarberbagai unsur intrinsik inilah yang membuat novel berwujud.

Sebaliknya, jika dilihat dari sudut pembaca, unsur-unsur intrinsik inilah

yang akan dijumpai jika pembaca membaca novel (Nurgiyantoro, 2002:

23). Unsur-unsur intrinsik novel terdiri atas tema, cerita, plot/pemplotan,

penokohan, pelataran, penyudut pandangan, dan bahasa.

Tema merupakan unsur intrinsik novel yang pertama. Menurut

Hartoko dan Rahmanto (1986: 142), tema merupakan gagasan dasar

umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di

dalam teks sebagai struktur semantis dan yang menyangkut persamaan-

persamaan atau perbedaan-perbedaan. Tema menjadi dasar

pengembangan seluruh cerita, maka ia pun bersifat menjiwai seluruh

bagian cerita itu. Tema mempunyai generalisasi yang umum, lebih luas,

dan abstrak. Dengan demikian, untuk menemukan tema sebuah novel, ia


58

haruslah disimpulkan dari keseluruhan cerita, tidak hanya berdasarkan

bagian-bagian tertentu cerita.

Cerita adalah unsur intrinsik novel yang kedua. Cerita (story)

merupakan suatu hal yang amat esensial dalam novel. Cerita memiliki

peranan sentral. Dari awal hingga akhir karya itu yang ditemui adalah

cerita (Nurgiyantoro, 2002: 90).

Nurgiyantoro (2002: 33-34) juga telah menegaskan bahwa cerita

merupakan hal yang fundamental dalam novel. Tanpa unsur cerita,

eksistensi sebuah novel tak mungkin berwujud, sebab cerita merupakan

inti sebuah novel. Bagus tidaknya cerita yang disajikan, selain memotivasi

seseorang untuk membacanya, juga akan mempengaruhi unsur-unsur

pembangun yang lain. Forster (1970: 35) mengartikan cerita sebagai

sebuah narasi berbagai kejadian yang sengaja disusun berdasarkan

urutan waktu. Seperti halnya Abrams (1981: 61) juga memberikan

pengertian cerita sebagai sebuah urutan kejadian yang sederhana dalam

urutan waktu. Kenny (dalam Nurgiyantoro, 2002: 91) mengartikan

sebagai peristiwa-peristiwa yang terjadi berdasarkan urutan waktu yang

disajikan dalam sebuah karya fiksi.

Unsur intrinsik novel yang ketiga adalah plot/pemplotan. Plot

merupakan unsur intrinsik yang penting, bahkan tak sedikit orang yang

menganggapnya sebagai yang terpenting di antara berbagai unsur fiksi

yang lain. Menurut Stanton (dalam Nurgiyantoro, 2002: 113),

plot/pemplotan adalah cerita yang berisi urutan kejadian tetapi tiap


59

kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat. Peristiwa yang satu

disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain.

Penokohan adalah unsur intrinsik novel yang keempat. Sama

halnya dengan unsur plot/pemplotan, penokohan merupakan unsur

intrinsik yang penting dalam novel. Penokohan adalah pelukisan

gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah

cerita (Jones dalam Nurgiyantoro, 2002: 165). Adapun Stanton (dalam

Baribin, 1985: 54) menyatakan bahwa penokohan dalam novel biasanya

dapat dipandang dari dua segi. Pertama, mengacu kepada orang atau

tokoh yang bermain-main dalam cerita. Kedua, mengacu kepada

pembauran dari minat, keinginan, emosi, dan moral yang membentuk

individu yang bermain dalam suatu cerita.

Pelataran adalah unsur intrinsik novel yang kelima. Latar/pelataran

mempunyai pengertian tempat, hubungan waktu, lingkungan sosial, dan

tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abrams, 1981:

175). Pelataran memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Hal

ini penting untuk memberikan kesan realistis kepada pembaca,

menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah, sungguh-sungguh ada,

dan terjadi. Pembaca merasa dipermudah untuk “mengoperasikan” daya

imajinasinya, di samping dimungkinkan untuk berperan serta secara iritis

sehubungan dengan pengetahuannya tentang latar. Pembaca dapat

merasakan dan menilai kebenaran, ketepatan, dan aktualisasi latar yang

diceritakan sehingga merasa lebih akrab.


60

Pembaca seolah-olah merasa menemukan dalam cerita itu sesuatu

yang sebenarnya menjadi bagian dirinya. Hal ini akan terjadi jika latar

mampu mengangkat suasana setempat, warna lokal, lengkap dengan

penokohannya ke dalam cerita (Nurgiyantoro, 2002: 217).

Unsur intrinsik novel yang keenam adalah penyudut pandangan.

Penyudut pandangan, point of view, viewpoint, merupakan salah satu

unsur intrinsik yang oleh Stanton digolongkan sebagai sarana cerita,

literary device. Walau demikian, hal itu tidak berarti bahwa perannya

dalam novel tidak penting. Penyudut pandangan pada hakekatnya

merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang

untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Segala sesuatu yang

dikemukakan dalam karya fiksi atau novel milik pengarang, pandangan

hidup, dan tafsirannya terhadap kehidupan. Namun, kesemuannya itu

dalam karya fiksi atau novel disalurkan lewat penyudut pandangan tokoh,

lewat kacamata tokoh cerita (Nurgiyantoro, 2002: 246-248).

Unsur intrinsik novel yang ketujuh adalah bahasa. Bahasa

merupakan sarana pengungkapan sastra. Di pihak lain sastra lebih dari

sekedar bahasa, deretan kata tetapi unsur “kelebihannya” itu pun hanya

dapat diungkap dan ditafsirkan melalui bahasa. Jika sastra dikatakan ingin

menyampaikan sesuatu, mendialogkan sesuatu, maka sesuatu tersebut

hanya dapat dikomunikasikan lewat sarana bahasa. Oleh karena itu,

bahasa mempunyai fungsi penting sebagai fungsi komunikatif dalam

sastra (Nurgiyantoro, 2002: 1). Unsur instrinsik kedelapan adalah amanat,


61

yaitu pesan yang disampaikan oleh pengarang kepada pembaca. Amanat

dirumuskan sendiri oleh pembaca. Sikap dan pengalaman pembaca

sangat berpengaruh kepada amanat cerita.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa unsur intrinsik dalam

sebuah novel merupakan hal yang sangat penting karena unsur-unsur

tersebut merupakan pembangun dalam sebuah penceritaan.

Demikian pula untuk memahami dan mengapresiasikan gaya

bahasa novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja dan Telegram karya

Putu Wijaya, gaya pembungkusan bahasa yang digunakan oleh

pengarang-pengarang tersebut akan terlihat karakteristik stile bahasa

pada masa Angkatan 1945 dan Angkatan 1966-1970-an.

2) Unsur Ekstrinsik

Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya

sastra itu tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau

sistem organisme karya sastra. Secara lebih khusus ia dapat dikatakan

sebagai unsur-unsur yang mempengaruhi bangun cerita sebuah karya

satra tetapi sendiri tidak ikut menjadi bagian di dalamnya. Walau

demikian, unsur ekstrinsik cukup berpengaruh terhadap totalitas bangun

cerita yang dihasilkan. Pemahaman unsur ekstrinsik suatu karya,

bagaimanapun, akan membantu dalam hal pemahaman makna karya itu

mengingat bahwa karya sastra tak muncul dari situasi kekosongan

budaya.
62

Sebagaimana halnya unsur instrinsik, unsur ekstrinsik juga terdiri

dari sejumlah unsur. Unsur-unsur yang dimaksud antara lain keadaan

subjektivitas individu yang memiliki sikap, keyakinan, pandangan hidup

yang kesemuanya itu akan mempengaruhi karya tulisnya.

C. Kerangka Pikir

Penelitian ini berpijak pada kajian stilistika yang mengkaji tentang

ilmu gaya bahasa atau cara-cara khas yang diungkapkan dengan cara

tertentu dalam suatu karya sastra. Fokus penelitian ini adalah

penggunaan gaya bahasa dalam novel Atheis karya Achdiat Karta

Mihardja dan novel Telegram karya Putu Wijaya dengan menggunakan

teori gaya bahasa dari Keraf dan Nurgiantoro, untuk mendeskripsikan

perbedaan dan persamaan gaya bahasa dalam kedua novel tersebut.

Hasil pendeskripsian gaya bahasa dari tiap novel akan memunculkan

perbedaan dan persamaan pewujudan gaya bahasa. Untuk lebih jelasnya,

alur dan sistematika penelitian ini akan tergambarkan pada bagan

kerangka pikir berikut.


63

Gaya Bahasa dalam Novel Atheis Karya Achdiat


Karta Mihardja dan
Novel Telegram Karya Putu Wijaya

Pewujudan Gaya Bahasa

Perbedaan Pewujudan Gaya Persamaan Pewujudan Gaya


Bahasa dalam Novel Atheis Bahasa dalam Novel Atheis
Karya Achdiat Karta Mihardja Karya Achdiat Karta Mihardja
dan Novel Telegram Karya Putu dan Novel Telegram Karya Putu
Wijaya Wijaya

Perbedaan dan Persamaan


Pewujudan Gaya Bahasa dalam
Novel Atheis Karya Achdiat Karta
Mihardja dan Novel Telegram
Karya Putu Wijaya
64

D. Definisi Operasional

1. Gaya bahasa adalah pilihan kata, frasa, atau kalimat yang

digunakan pengarang untuk menyatakan sesuatu dengan cara

yang khas. Pemilihan kata, frasa, atau kalimat tersebut bertujuan

untuk memperoleh efek tertentu atau efek estetis.

2. Pewujudan gaya bahasa adalah cara atau perbuatan mewujudkan

suatu gaya bahasa. Pewujudan gaya bahasa tersebut ditandai

oleh piranti linguistik yang mengandung gaya bahasa dalam tataran

kata, frasa, dan kalimat.

3. Perbedaan pewujudan gaya bahasa adalah hal yang berlainan atau

tidak sama dalam pewujudan gaya bahasa.

4. Persamaan pewujudan gaya bahasa adalah hal yang sama atau

serupa dalam pewujudan gaya bahasa.


65

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan

pendekatan stilistika. Endaswara (2003: 124) menyatakan bahwa

penelitian kualitatif dilakukan dengan tidak mengutamakan kedalaman

penghayatan terhadap interaksi antara konsep yang dikaji secara empiris.

Penelitian deskriptif kualitatif adalah penelitian yang

mengidentifikasi, mengklasifikasi, menganalisis data yang telah diperoleh,

dan pendeskripsiannya berupa penggambaran bahasa sebagaimana

adanya (Sudaryanto, 1993: 62). Pendekatan stilistika digunakan untuk

membahas dan membandingkan penggunaan gaya bahasa secara faktual

yang terdapat dalam novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja dan novel

Telegram karya Putu Wijaya.

B. Sumber dan Jenis Data

Sumber data penelitian ini adalah novel Atheis karya Achdiat Karta

Mihardja terbitan Pusat Bahasa, cetakan kelima (2010) dan novel

Telegram karya Putu Wijaya terbitan Balai Pustaka, cetakan pertama,

Jakarta (1973).

65
66

Jenis data dalam penelitian ini adalah data tertulis, yaitu gaya bahasa

dalam novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja terbitan dan novel

Telegram karya Putu Wijaya.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Sudaryanto (1993: 36) mendefinisikan populasi sebagai jumlah

keseluruhan pemakaian bahasa tertentu yang tidak diketahui batas-

batasnya akibat dari banyaknya orang yang memakai (di sepanjang hidup

penutur-penuturnya) dan luasnya daerah serta lingkungan pemakaian.

Ringkasnya, populasi pemakaian bahasa, baik yang akan dipilih maupun

tidak dipilih untuk dianalisis. Oleh karena itu, populasi data penelitian ini

adalah keseluruhan kalimat yang mengandung gaya bahasa dalam novel

Atheis karya Achdiat Karta Mihardja dan Telegram karya Putu Wijaya.

2. Sampel

Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan cara

purposif. Purposif merupakan teknik penentuan sampel dengan

pertimbangan tertentu yang dipilih secara sengaja sesuai kebutuhan

dalam membahas atau menganalisis permasalahan mengingat

keterbatasan waktu yang ada dan kemampuan penulis. Sutopo (2002: 36)

mengatakan bahwa pilihan sampel diarahkan pada sumber data yang

dipandang memiliki data penting yang berkaitan dengan permasalahan

yang sedang diteliti. Adapun sampel yang digunakan dalam penelitian ini,
67

yaitu tiga data gaya bahasa pada masing-masing gaya bahasa yang

digunakan dalam novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja dan Telegram

karya Putu Wijaya.

Contoh kalimat :

 Ada kereta yang memekik, masuk ke dalam stasiun.


(Wijaya, 1973: 49)
 Aku jadi teringat masa lampau. Sambil memegang susunya,
aku selalu merasa dibakar sunyi, kalau ia menggangguku
dengan menceritakan saat-saat kematiannya. (Wijaya, 1973:
64)
 Di jalan menjerit suara mobil pemadam kebakaran (Wijaya,
1973: 67)

D. Metode dan Teknik Pengumpulan Data

Metode yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah metode

simak. Menurut Mahsun (2013: 242) metode simak adalah metode yang

digunakan untuk memperoleh data dengan melakukan penyimakan

terhadap penggunaan bahasa. Teks dalam novel Atheis karya Achdiat

Karta Mihardja dan Telegram karya Putu Wijaya disimak dan diamati

untuk mencari penggunaan majas yang terdapat dalam novel Atheis karya

Achdiat Karta Mihardja dan Telegram karya Putu Wijaya, kemudian

ditandai, serta didokumentasikan untuk diinventarisasikan sebagai data

dalam penelitian ini. Adapun teknik yang digunakan untuk melengkapi

metode simak tersebut adalah teknik catat.

Teknik catat adalah teknik yang digunakan untuk mencatat data

yang ditemukan. Teknik catat merupakan teknik yang digunakan untuk

mencatat beberapa bentuk yang relevan bagi penelitian yang bersumber


68

dari penggunaan bahasa secara tertulis (Mahsun, 2013: 127). Teks novel

Atheis karya Achdiat Karta Mihardja dan Telegram karya Putu Wijaya

dibaca, kemudian menandai kata-kata dalam teks novel yang

mengandung majas. Semua data yang telah ditandai dalam novel Atheis

karya Achdiat Karta Mihardja dan Telegram karya Putu Wijaya,

selanjutnya disalin dalam kartu data untuk dianalisis.

Contoh kartu data :

No Kalimat Kutipan Kata Gaya Bahasa

1 Ada kereta yang memekik, Memekik personifikasi


masuk ke dalam stasiun.
(Wijaya, 1973: 49)

2 Aku jadi teringat masa dibakar sunyi Metafora


lampau. Sambil memegang
susunya, aku selalu merasa
dibakar sunyi, kalau ia
menggangguku dengan
menceritakan saat-saat
kematiannya. (Wijaya,
1973: 64)

3 Di jalan menjerit suara Menjerit personifikasi


mobil pemadam kebakaran
(Wijaya, 1973: 67)
69

E. Teknik Analisis Data

Setelah data terkumpul, langkah yang ditempuh selanjutnya adalah

menganalisis data tersebut berdasarkan prinsip-prinsip analisis data

deskriptif kualitatif. Penerapan langkah-langkah tersebut dapat diuraikan

sebagai berikut.

1. Identifikasi Data

Gaya bahasa yang terdapat dalam novel Atheis karya Achdiat

Karta Mihardja dan Telegram karya Putu Wijaya, diidentifikasi

berdasarkan jenis gaya bahasa retoris dan gaya bahasa kiasan dan

dijadikan data dalam penelitian ini.

2. Klasifikasi Data

Data-data yang diidentifikasi sebelumnya, diklasifikasikan

berdasarkan permasalahan yang ada, yakni persamaan dan

perbedaan pewujudan kategori kata yang membangun gaya bahasa

dalam novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja dan novel Telegram

karya Putu Wijaya.

3. Analisis Data

Data yang telah diklasifikasi, dianalisis dengan mendeskripsikan

secara mendetail persamaan dan perbedaan pewujudan gaya

bahasa.

4. Penyimpulan Hasil Analisis

Dalam tahap ini data-data yang dikumpulkan, disimpulkan sesuai

dengan tujuan penelitian, yaitu untuk pendeskripsian perbedaan


70

pewujudan gaya bahasa dalam novel Atheis dan novel Telegram, dan

persamaan pewujudan gaya bahasa dalam novel Atheis dan novel

Telegram. Hasil penyimpulan tersebut pada akhirnya menjelaskan

persamaan dan perbedaan gaya bahasa dalam novel Atheis karya

Achdiat Karta Mihardja dan novel Telegram karya Putu Wijaya.


71

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini diuraikan hasil penelitian gaya bahasa yang terdapat

dalam novel Atheis dan novel Telegram. Penelitian pewujudan gaya

bahasa dalam novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja dan novel

Telegram karya Putu Wijaya merupakan upaya menelusuri pewujudan

gaya bahasa (analisis jenis gaya bahasa dan kelas kata) yang digunakan

dalam novel untuk mengungkap persamaan dan perbedaan gaya bahasa

dalam novel Angkatan 1945 yang diwakili oleh novel Atheis dan novel

Angkatan 1966-70an yang diwakili oleh novel Telegram. Analisis

perbandingan tersebut dapat berupa persamaan dan perbedaan gaya

bahasa antara kedua novel. Pengamatan terhadap persamaan dan

perbedaan gaya bahasa yang digunakan dalam novel Atheis dan novel

Telegram dilakukan dengan menganalisis novel berdasarkan jenis gaya

bahasa.

Jenis gaya bahasa yang dimaksud dalam penelitian ini adalah jenis

gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna yang terdiri atas gaya

bahasa retoris dan gaya bahasa kiasan. Gaya bahasa retoris terdiri atas

gaya bahasa aliterasi, asonansi, anastrof, apofasis, apostrof, asidenton,

polisidenton, kiasmus, elipsis, eufemismus, litotes, histeron proteron,

pleonasme dan tautologi, perifrasis, prolepsis, erotesis, silepsis, koreksio,

hiperbol, paradoks, dan oksimoron. Gaya bahasa Kiasan terdiri atas gaya

71
72

bahasa simile, metafora, alegori, personifikasi, alusio, eponim, epitet,

sinekdoke, metonimia, antonomasia, hipalase, ironi, satire, inuendo,

antifrasis, paronomasia. Adapun pembentuk gaya bahasa yang dimaksud

dalam penelitian ini adalah kata, frasa, dan kalimat yang mewujudkan

gaya bahasa retoris dan kiasan dalam novel Atheis dan novel Telegram.

Mengingat fokus penelitian ini adalah mengungkap perbandingan

gaya bahasa dalam novel Atheis dan novel Telegram, maka gaya bahasa

yang diperbandingkan dalam penelitian ini adalah gaya bahasa yang

ditemukan dalam novel Atheis dan novel Telegram. Hanya gaya bahasa

yang terdapat dalam kedua novel tersebutlah yang diperbandingkan

dalam penelitian ini.

Berdasarkan penelitian, pewujudan gaya bahasa dalam novel Atheis

dan novel Telegram dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4. Perbandingan pewujudan gaya bahasa

No Jenis Majas Wujud Wujud


dalam Novel Atheis dalam Novel Telegram

1 Hiperbola Verba dasar Verba transitif


Meng-
2 Simile Nomina konkret Nomina konkret

3 Metafora Nomina konkret Nomina konkret


4 Personifikasi Verba transitif meng- Verba transitif meng-
5 Antonomasia Kata adjektiva Kata adjektiva
6 Sarkasme Kata adjektiva -
7 Metonimia Nomina konkret Nomina konkret

Berikut merupakan pemaparan hasil penelitian yang telah dilakukan.


73

A. Perbedaan Pewujudan Gaya Bahasa dalam Novel Atheis dan


Novel Telegram

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, terdapat enam gaya

bahasa yang ditemukan dalam novel Atheis dan novel Telegram. Dalam

novel Atheis jenis gaya bahasa yang ditemukan adalah hiperbola, simile,

metafora, personifikasi, antonomasia, dan sarkasme. Dalam novel

Telegram antara lain hiperbola, simile, metafora, personifikasi,

antonomasia, dan metonimia.

Perbedaan pewujudan gaya bahasa terdapat dalam gaya bahasa

hiperbola. Dalam novel Atheis pewujudan gaya bahasa hiperbola

diwujudkan dengan verba dasar, sedangkan pewujudan gaya bahasa

hiperbola dalam novel Telegram diwujudkan dengan verba transitif meng-.

Terdapat pula perbedaan dalam penggunaan jenis gaya bahasa dari

kedua novel tersebut, yaitu dalam novel Atheis ditemukan gaya bahasa

sarkasme tetapi dalam novel Telegram. Berikut merupakan pemaparan

hasil penelitian yang telah dilakukan;

1. Hiperbola

Gaya bahasa hiperbola ditandai dengan pernyataan yang

mengandung makna yang membesar-besarkan ukuran atau suatu hal.

Dalam novel Atheis dan novel Telegram, gaya bahasa hiperbola

cenderung diwujudkan dengan verba tetapi dalam novel Atheis gaya

bahasa hiperbola diwujudkan dengan verba dasar, misalnya kata tumpah,

pecat, sedangkan dalam novel Telegram diwujudkan dengan verba

transitif meng-kan, misalnya kata menghidupkan, menenggelamkan. Hal


74

tersebut berarti pewujudan gaya bahasa hiperbola dalam novel Atheis

lebih sederhana sedangkan pewujudan gaya bahasa hiperbola dalam

novel Telegram lebih kompleks atau kreatif.

Berikut merupakan contoh gaya bahasa hiperbola dalam novel

Atheis.

(1) Tiba-tiba dari tikungan Tuindorp, datanglah sebuah mobil


sedan. Lampunya menyorot besar. Tumpah seluruh
cahayanya kepada kami. aku serasa ditelanjangi. (Miharja,
1949: 86)

(2) Serasa hendak pecah dadaku, karena keriangan


mendengar ajakan Rusli itu. (Miharja, 1949: 90)

(3) Mungkin dalam mata orang yang kolot dan konservatif, ia


seolah-olah seorang wanita yang sudah pecat imannya.
(Miharja, 1949: 35)

Kata tumpah pada kalimat (1), kata pecah pada kalimat (2), dan

kata pecat pada kalimat (3) menjadi penanda gaya bahasa hiperbola pada

kalimat-kalimat tersebut. Ketiga kata tersebut termasuk dalam kategori

kelas kata verba dasar. Kata tumpah pada kalimat (1) memberi kesan

yang melebih-lebihkan pada sorotan lampu mobil. Kata pecah pada

kalimat (2) memberi kesan yang berlebihan pada keadaan atau perasaan

subjek. Serta kata pecat pada kalimat (3) memberi kesan yang berlebihan

pada keadaan iman seseorang.

Kata tumpah pada kalimat (1) untuk memaknai lampu mobil yang

bersinar menunjukkan kesan yang berlebihan. Kata tumpah yang berarti

tercurah keluar dari tempatnya tentang barang cair, barang yang berderai-

derai, dan sebagainya (KBBI IV, 2008: 1499). Namun, penggunaan kata
75

tumpah pada kalimat tersebut membuat pembaca memvisualisasikan

cahaya lampu sorot mobil tersebut tumpah. Padahal seperti yang

diketahui secara umum, cahaya lampu sorot mobil identik dengan kata

bersinar keluar (memancar).

(1) Tiba-tiba dari tikungan Tuindorp, datanglah sebuah mobil


sedan. Lampunya menyorot besar. Bersinar seluruh
cahayanya kepada kami. aku serasa ditelanjangi. (Miharja,
1949: 86)

Adanya penggunaan kata tumpah yang diidentikkan dengan cahaya

lampu sorot mobil menunjukkan bahwa pengarang novel Atheis

memperluas makna bersinar yang sebenarnya berarti memancar (tentang

sinar); bercahaya (KBBI IV, 2008: 1311).

Kata pecah pada kalimat (2) memiliki makna terbelah menjadi

beberapa bagian, retak atau rekah (KBBI IV, 2008: 1033). Kata pecah

memiliki padanan bahasa sehari-hari, yaitu kata retak. Penggunaan kata

pecah pada kalimat (2) tersebut menunjukkan bahwa pengarang novel

Atheis ingin memvisualisasi hati yang retak. Pilihan kata pecah pada

contoh tersebut memberi kesan bahwa tokoh dalam novel mengalami

kegembiraan yang amat sangat sehingga seakan-akan dada tokoh pecah.

Pada kalimat (3), kata pecat yang menjadi penanda gaya bahasa

hiperbola dalam kalimat tersebut berarti melepaskan; mengeluarkan;

membebaskan; mengabaikan (KBBI IV, 2008: 1034), sehingga maksud

dari kata pecat dalam kalimat untuk menunjukkan keadaan iman tokoh,

yang dalam konteks kalimat adalah untuk menunjukkan tokoh cerita yang

sudah mengabaikan Tuhan sehingga imannya sudah rusak atau tidak


76

beriman lagi. Adapun padanan kata pecat pada kalimat (3) dalam bahasa

sehari-hari adalah kata rusak untuk menunjukkan keadaan iman subjek

pada kalimat tersebut. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan

bahwa pengarang novel Atheis cenderung menggunakan kata verba

dasar untuk memberi kesan visualisasi pada benda atau hal-hal yang

ingin diterangkan.

Adapun contoh yang menunjukkan pewujudan gaya bahasa

hiperbola dalam novel Telegram sebagai berikut;

(4) Ia mengguncang tanganku... (Wijaya, 1977: 99).

(5) Dokter Syubah, menghidupkan aku kembali. Setelah


memeriksa bintik-bintik yang misterius itu, ia hanya
menyangka aku kena alergi (Wijaya, 1977: 85).

Pada contoh kalimat (4), penanda majas hiperbola adalah kata

mengguncang. Kata mengguncang yang berarti menggoyangkan kuat-

kuat; menggerak-gerakkan hingga berguncang (KBBI IV, 2008: 1440)

termasuk dalam kelas kata verba. Kata mengguncang yang diidentikkan

dengan peristiwa menyebabkan sesuatu menjadi tidak tetap; tidak aman,

tetapi dalam kalimat (4) dimaknai sebagai peristiwa atau sesuatu yang

dapat dilakukan oleh tangan. Oleh karena itu, penggunaan kata

mengguncang yang diidentikkan dengan tangan dalam kalimat (4)

memberi kesan melebihkan fungsi atau hal yang dapat dilakukan oleh

tangan.

Pada contoh kalimat (5), majas hiperbola ditandai dengan kata

menghidupkan pada kalimat Dokter Syubah, menghidupkan aku kembali.


77

Kata menghidupkan berarti menjadikan (membuat, menyebabkan) hidup

(KBBI IV, 2008: 497). Penggunaan kata menghidupkan pada contoh

kalimat (5) tersebut memberi kesan berlebihan, mengingat konteks pada

kalimat (5) adalah tindakan dokter yang memberi obat kepada pasiennya.

Pengarang novel Telegram menyamakan tindakan dokter yang memberi

obat kepada pasiennya dengan tindakan menghidupkan orang. Dalam

contoh gaya bahasa hiperbola novel Telegram, fungsi imbuhan meng-kan

adalah sebagai pembentuk kata kerja transitif.

Berdasarkan uraian di atas terlihat bahwa dalam novel Atheis,

pengarang cenderung menggunakan kelas kata verba dasar untuk

menjadi penanda gaya bahasa hiperbola sedangkan dalam novel

Telegram pengarang cenderung menggunakan kelas kata verba transitif

meng-kan untuk mewujudkan gaya bahasa hiperbola. Adapun makna

kata-kata yang menjadi penanda gaya bahasa dalam konteks contoh

kalimat memberi kesan yang melebih-lebihkan pada makna tindakan dan

benda yang melekat pada kata penanda gaya bahasa hiperbola tersebut.

2. Sarkasme

Gaya bahasa sarkasme dalam novel Atheis diwujudkan dengan

kelas kata adjektiva, yaitu kata gila. Gaya bahasa sarkasme hanya

ditemukan dalam novel Atheis. Hal tersebut menunjukkan bahwa

penggunaan bahasa dalam novel Atheis cenderung lebih kasar jika


78

dibandingkan dengan novel Telegram. Berikut merupakan contoh gaya

bahasa sarkasme dalam novel Atheis:

(6) Gila dia! Kafir dia! Murtad dia! Pikirku. Hampir-hampir


keluar kata-kata pikiran itu. (Miharja, 1949: 87)

Sarkasme ialah suatu acuan yang mengandung kepahitan dan

celaan yang getir. Gaya bahasa sarkasme akan selalu menyakiti hati dan

kurang enak didengar. Pada contoh kalimat (6), gaya bahasa sarkasme

ditandai dengan Gila dia!. Kata Gila berarti sakit ingatan (kurang beres

ingatannya); sakit jiwa (sarafnya terganggu atau pikirannya tidak normal)

(KBBI IV, 2008: 601). Kata Gila dalam konteks contoh di atas bermaksud

untuk menyatakan kemarahan tokoh Hasan pada tokoh Rusli yang telah

menyinggung kepercayaan tokoh Hasan.

Gaya bahasa sarkasme hanya ditemukan dalam novel Atheis,

sedangkan dalam novel Telegram tidak ditemukan data gaya bahasa

sarkasme. Dalam novel Atheis, pengarang cenderung menggunakan

kelas kata adjektiva untuk mewujudkan penanda gaya bahasa sarkasme.

Penanda gaya bahasa sarkasme dalam novel Atheis yang berupa kata

adjektiva berubah fungsi menjadi julukan untuk mencela. Selain itu, kata

atau julukan yang menjadi penanda gaya bahasa sarkasme dalam novel

Atheis juga berfungsi sebagai pemberi keterangan atau memberi kesan

tertentu untuk memaknai sifat-sifat tokoh cerita yang diberi julukan atau

sindiran.
79

Data gaya bahasa sarkasme tidak ditemukan dalam novel

Telegram. Hal tersebut menunjukkan bahwa perbedaan penggunaan gaya

bahasa pada novel Atheis dan novel Telegram, ditandai dengan adanya

gaya bahasa sarkasme dalam novel Atheis, namun tidak ada dalam novel

Telegram.

B. Persamaan Pewujudan Gaya Bahasa dalam Novel Atheis dan


Novel Telegram

Berdasarkan hasil penelitian, terdapat empat gaya bahasa baik

dalam novel Atheis maupun dalam novel Telegram yang memiliki

kesamaan pewujudan gaya bahasa. Keempat gaya bahasa tersebut, yaitu

metafora, simile, personifikasi, dan antonomasia. Berikut penjelasan

keempat gaya bahasa tersebut.

1. Metafora

Gaya bahasa metafora baik dalam novel Atheis maupun novel

Telegram cenderung diwujudkan dengan kelas kata nomina konkret,

misalnya kata buaya, bunga, dan lukisan. Hal ini berarti baik dalam novel

Atheis maupun dalam novel Telegram pewujudan gaya bahasa metafora

tidaklah berbeda. Berikut merupakan contoh gaya bahasa metafora dalam

novel Atheis.

(7) dua minggu yang lalu mereka masih merasa dirinya


singa yang suka makan daging (Miharja, 1949: 1)
(8) tapi sejurus kemudian muka-muka kuning bermata sipit
itu berpaling lagi dengan tak acuh. (Miharja, 1949: 5)
80

(9) takut kalau-kalau aku akan menjadi buaya atau akan


tersesat ke jalan pelacuran (Miharja, 1949: 21)

Kata singa pada kalimat (7) yang menjadi penanda gaya bahasa

metafora dalam kalimat tersebut berarti binatang buas, bentuknya hampir

sama dengan macan (KBBI IV, 2008: 419). Namun dalam konteks kalimat

(7), kata singa berarti sifat berani yang menggambarkan sifat para sekutu

tokoh Rusli, yaitu para serdadu-serdadu dan opsir-opsir Kenpei Jepang.

Pada kalimat (8), frasa muka-muka kuning menjadi penanda gaya

bahasa metafora. Kata muka berarti bagian depan kepala dari dahi atas

sampai ke dagu dan antara telinga yang satu dan telinga yang lain (KBBI

IV, 2008: 41). Namun pada konteks kalimat (8), kata muka yang

dirangkaikan dengan kata kuning secara harfiah berarti orang-orang yang

memiliki wajah berwarna kuning. Dalam konteks kalimat (8), frasa muka-

muka kuning berarti serdadu-serdadu dan opsir-opsir Kenpei Jepang.

Pada contoh (9), kata buaya berarti binatang melata berdarah

dingin bertubuh besar dan berkulit keras, bernapas dengan paru-paru,

hidup di air (KBBI IV, 2008: 301). Namun, dalam konteks kalimat (9), kata

buaya memiliki makna orang yang berbahaya, buas; orang jahat atau

penjahat, sehingga kata buaya dalam kalimat (9) merupakan metafora dari

kata penjahat. Pengarang novel Atheis menyamakan binatang buaya

dengan penjahat. Penyamaan subjek buaya dan penjahat menunjukkan

bahwa pengarang ingin menunjukkan sifat tokoh yang seperti penjahat.

Adapun gaya bahasa metafora dalam novel Telegram cenderung

diwujudkan dengan kelas kata nomina, seperti pada contoh berikut:


81

(10) Kenapa tidak. Kita ini bunga. Masih segar dipuja-puja,


kalau sudah layu dibuang”. (Wijaya, 1977: 34)
(11) Lukisan Pointilisme itu sudah mulai mengabur (Wijaya,
1977: 86)
(12) Aku menikmati keadaan sekeliling dengan hati yang
dingin (Wijaya, 1977: 143)

Gaya bahasa metafora dalam kalimat (10) ditandai dengan

penggunaan kata bunga yang berarti bagian tumbuhan yang akan menjadi

buah biasanya elok warnanya dan harum baunya; gambar hiasan;

tambahan untuk memperindah; tanda-tanda baik (KBBI IV, 2008: 222).

Namun, dalam konteks kalimat tersebut, kata bunga berarti sesuatu yang

dianggap elok atau cantik. Kata bunga pada kalimat tersebut merupakan

metafora seorang gadis yang dianggap elok atau cantik.

Pada kalimat (11), gaya bahasa metafora ditandai dengan kata

lukisan yang berarti gambar. Kata lukisan berarti hasil melukis; gambaran

yang indah-indah; uraian yang melukiskan sesuatu (KBBI IV, 2008: 846).

Namun dalam konteks kalimat tersebut, frasa lukisan pointilisme

merupakan metafora dari keadaan yang dialami oleh tokoh yang

sebelumnya tubuh tokoh Aku penuh dengan bintik merah seperti lukisan

pointilisme. Pengarang menyamakan lukisan pointilisme yang abstrak

dengan bintik merah yang muncul di tubuh tokoh Aku.

Pada kalimat (12) yang menjadi penanda gaya bahasa metafora

adalah frasa hati yang dingin. Kata hati berarti organ badan yang

berwarna kemerah-merahan di bagian kanan atas rongga perut; jantung;

sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia yang dianggap sebagai tempat

segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian (KBBI IV, 2008:
82

487). Namun dalam konteks kalimat (12) hati yang dingin berarti perasaan

tidak peduli yang dirasakan oleh tokoh Aku. Frasa hati yang dingin

merupakan metafora dari perasaan yang dialami oleh subjek. Frasa Hati

yang dingin dalam contoh mengandung arti tidak peduli akan keadaan

sekitar.

Dari pemilihan kata sebagai penanda gaya bahasa, novel Telegram

pemilihan kata penanda gaya bahasanya cenderung lebih beragam

dibandingkan dengan novel Atheis. Hal tersebut terlihat pada penggunaan

kata sebagai penanda gaya bahasa metafora dalam novel Atheis,

sedangkan dalam novel Telegram penanda gaya bahasa metafora lebih

beragam dengan penggunaan kata dan frasa.

2. Simile

Gaya bahasa simile dalam novel Atheis dan novel Telegram

diwujudkan dengan kata terbanding nomina konkret, misalnya kata kucing,

berlian, dan katak. Alat formal atau piranti linguistik yang menandai gaya

bahasa simile baik dalam novel Atheis maupun dalam novel Telegram

ditandai dengan kata seperti. Oleh karena itu, terdapat kesamaan

pewujudan gaya bahasa baik dalam novel Atheis maupun dalam novel

Telegram. Beberapa contoh gaya bahasa simile dalam novel Atheis dapat

dilihat sebagai berikut.

(13) Tapi dalam pada itu aku tetap meruncingkan pula


telingaku untuk maksud kunjunganku itu. Seperti
kucing yang sabar menunggu-nunggu kesempatan
83

untuk menyergap tikus yang sedang diintainya…


(Miharja, 1949: 64)
(14) Kebenaran dan kesempurnaan tersembunyi di dalam
timbunan soal-soal itu, seperti berlian dalam timbunan
rumput dan sampah yang berbukit-bukit besarnya.
(Miharja, 1949: 71)
(15) aku tak bisa mengekang pikiran dan khayal dan
kenangan yang licin seperti belut itu menerobos
lagi…(Miharja, 1949: 43)
Contoh (13), (14), dan (15) menunjukkan gaya bahasa simile. Hal

tersebut ditandai oleh kata seperti. Contoh (13) menunjukkan

perbandingan antara kalimat aku tetap meruncingkan pula telingaku untuk

maksud kunjunganku itu dengan kucing yang sabar menunggu-nunggu

kesempatan untuk menyergap tikus yang sedang diintainya. Pembanding

pada contoh (13) adalah kata Aku sedangkan yang menjadi terbanding

adalah kata kucing. Kata aku pada contoh (13) yang berarti kata ganti

orang pertama yang berbicara atau yang menulis; diri sendiri; saya (KBBI

IV, 2008: 32). Dalam konteks kalimat (13), kata Aku dideskripsikan dapat

meruncingkan telinga atau dapat mendengar dengan sangat baik. Kata

kucing yang berarti binatang mamalia pemakan daging yang berukuran

kecil sampai sedang (KBBI IV, 2008: 748), yang dalam konteks kalimat

(13) menjadi kata terbanding dari kata aku. Kedua kalimat memperlihatkan

pertalian maksud yang sama, yaitu ingin memperoleh sesuatu yang

diinginkannya.

Pada contoh (13), topik utama terdapat dalam kalimat pembanding,

yaitu aku tetap meruncingkan pula telingaku untuk maksud kunjunganku

itu. Untuk memperkuat kesan yang menyatakan keseriusan tindakan


84

tokoh Aku dalam mendengarkan sesuatu, pengarang novel Atheis

menambahkan kalimat terbanding yaitu kucing yang sabar menunggu-

nunggu kesempatan untuk menyergap tikus yang sedang diintainya,

sehingga fungsi kalimat terbanding dalam contoh (13) adalah

memperjelas makna atau memperkuat kesan kalimat pembanding.

Contoh (14) menunjukkan perbandingan dua kalimat yang berbeda

tetapi dianggap mempunyai maksud yang sama, yaitu kebenaran dan

kesempurnaan tersembunyi di dalam timbunan soal-soal itu dengan

berlian dalam timbunan rumput dan sampah yang berbukit-bukit besarnya.

Kata kebenaran berarti keadaan yang cocok dengan hal yang

sesungguhnya (KBBI IV, 2008: 168), sedangkan kata kesempurnaan

berarti hal atau keadaan yang sempurna (KBBI IV, 2008: 1265)

dideskripsikan tersembunyi atau dirahasiakan (KBBI IV, 2008: 1261).

Adapun kata berlian berarti intan yang diasah baik-baik (KBBI IV, 2008:

180), yang dalam konteks kalimat (14) menjadi pembanding kata

kebenaran dan kesempurnaan. Perbandingan antara kalimat pembanding

dan terbanding menciptakan makna kesempurnaan seseorang

tersembunyi dari segala perilakunya. Pengarang novel Atheis pada contoh

(14) ingin menunjukkan bahwa kebenaran dan kesempurnaan sama

nilainya seperti berlian sehingga penggunaan kata berlian sebagai kata

terbanding memperluas makna dari kata pembanding yaitu kebenaran dan

kesempurnaan.
85

Pada contoh (15) terlihat adanya dua hal yang berbeda tetapi

dianggap mempunyai kesamaan. Hal tersebut dapat dilihat pada kalimat

aku tak bisa mengekang pikiran dan khayal dan kenangan yang licin

dengan belut itu menerobos lagi. Kata kenangan yang menjadi

pembanding dalam contoh (15) berarti sesuatu yang membekas dalam

ingatan; kesan; kesan dalam ingatan (KBBI IV, 2008: 496) dibandingkan

atau diibaratkan sebagai belut yang berarti ikan air tawar dan payau,

berbentuk memanjang mencapai 100 cm, hidup di dasar perairan tropis

dan berlumpur, tersebar di perairan singai dan lembah wilayah Asia (KBBI

IV, 2008: 463). Kedua kalimat tersebut diasosiasikan karena kenangan

dalam konteks kalimat contoh (15) selalu muncul timbul tenggelam dalam

pikiran tokoh cerita sehingga kenangan tersebut dianggap menyerupai

belut. Pada contoh (15), pengarang cenderung menggunakan gaya

bahasa simile untuk mendefinisikan kalimat pembanding dengan kalimat

terbanding, sehingga kalimat pembanding aku tak bisa mengekang pikiran

dan khayal dan kenangan yang licin didefinisikan oleh kalimat terbanding

belut itu menerobos lagi.

Adapun beberapa contoh pewujudan gaya bahasa simile dalam

novel Telegram dapat dilihat sebagai berikut.

(16) Kita memerlukan keyakinan seperti Mishima, seorang


pengarang yang membunuh diri tanpa faktor lain
kecuali keinginannya memenuhi target. (Wijaya, 1977:
17)

(17) “Aku mengembara sendirian sejak tadi seperti Asrul


Sani mengembara mencari Tuhan” (Wijaya, 1977: 31)
86

(18) Betapa menakjubkannya kalau tiba-tiba teringat bahwa


seringkali kalimat-kalimat itu telah melompat dari mulut
kita seperti katak, tanpa kita kehendaki sendiri.
(Wijaya, 1977: 60)

Contoh (16), (17), dan (18) menunjukkan gaya bahasa simile

dengan penanda gaya bahasa kata seperti. Contoh (16) menunjukkan

perbandingan dua kalimat yang berbeda tetapi dianggap mempunyai

maksud yang sama, yaitu kita memerlukan keyakinan dengan Mishima,

seorang pengarang yang membunuh diri tanpa faktor lain kecuali

keinginannya memenuhi target. Kata keyakinan yang menjadi

pembanding dalam contoh (16) berarti kepercayaan yang sungguh-

sungguh (KBBI IV, 2008: 1566) dibandingkan dengan kata Mishima yang

merupakan seorang pengarang. Kedua kalimat tersebut bermakna

menumbuhkan keyakinan dalam diri dan fokus untuk mencapai sesuatu

yang diinginkan. Pengarang novel Telegram dalam contoh (16) cenderung

mendefiniskan pembanding dengan kalimat terbanding sehingga kalimat

kita memerlukan keyakinan sebagai pembanding didefinisikan dengan

kalimat terbanding Mishima, seorang pengarang yang membunuh diri

tanpa faktor lain kecuali keinginannya memenuhi target.

Demikian pula pada contoh (17) terlihat adanya dua hal yang

berbeda tetapi dianggap mempunyai kesamaan. Hal tersebut dapat dilihat

pada kalimat Aku mengembara sendirian sejak tadi dengan Asrul Sani

mengembara mencari Tuhan. Kedua kalimat tersebut diasosiasikan

karena kegiatan subjek yang mengembara disamakan dengan Asrul Sani

yang mengembara mencari Tuhan. Pada contoh (17), pengarang novel


87

Telegram kembali mendefinisikan kalimat pembanding dengan

pengandaian kalimat terbanding sehingga kalimat pembanding Aku

mengembara sendirian sejak tadi didefinisikan seperti Asrul Sani

mengembara mencari Tuhan yang menjadi kalimat terbanding.

Pada contoh (18), kata kalimat yang berarti kesatuan ujar yang

mengungkapkan suatu konsep pikiran dan perasaan; perkataan (KBBI IV,

2008: 609) dianggap mempunyai kesamaan dengan katak yang berarti

binatang amfibi pemakan serangga yang hidup di air tawar atau di

daratan; hendak menyamai orang besar atau kaya; sombong; congkak;

sangat gaduh (KBBI IV, 2008: 634), sehingga digunakannya kata kalimat

sebagai pembanding dan kata katak sebagai terbanding menunjukkan

makna bahwa kalimat atau ucapan itu seperti katak yang gaduh. Pada

contoh (18), fungsi kalimat terbanding adalah memperjelas makna atau

memperkuat kesan kalimat pembanding.

Simile adalah gaya bahasa perbandingan yang bersifat eksplisit,

yang langsung meyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain. Untuk itu,

diperlukan upaya yang secara eksplisit untuk menunjukkan kesamaan itu,

yaitu dengan penggunaan kata-kata: seperti, bagaikan, laksana, dan

sebagainya. Pada novel Atheis dan novel Telegram, penggunaan alat

formal untuk menyatakan gaya bahasa simile hanya kata seperti.

Secara umum baik dalam novel Atheis maupun dalam novel

Telegram terlihat bahwa pengarang berusaha menarik perhatian

pembacanya dengan menggunakan perbandingan-perbandingan atau


88

gaya bahasa perbandingan tentang suatu hal. Gaya bahasa simile yang

digunakan Achdiat Karta Miharja dan Putu Wijaya dalam novelnya

berfungsi sebagai alat untuk memperkuat efek terhadap gagasan yang

disampaikan. Gaya bahasa dapat membuat pembaca atau pendengar

terkesan terhadap gagasan yang disampaikan penulis. Selain itu, gaya

bahasa simile dalam novel juga berfungsi sebagai alat untuk menciptakan

keadaan perasaan hati tertentu. Penggunaan gaya bahasa simile juga

menunjukkan bahwa pengarang ingin memperlihatkan „sudut pandang‟

yang lain tentang suatu hal dengan memperbandingkan hal tersebut

dengan hal lainnya.

3. Personifikasi

Gaya bahasa personifikasi baik dalam novel Atheis maupun dalam

novel Telegram cenderung diwujudkan dengan kelas kata verba transitif

meng-, misalnya kata menepuk, memecah, menekan. Dalam novel Atheis,

gaya bahasa personifikasi terlihat dalam kalimat berikut:

(19) Kadang-kadang piring seng jatuh, bergelemprang


suaranya menepuk ketenangan masa subuh yang
masih sunyi (Miharja, 1949: 14).

(20) Kerikil berkerecek di bawah bakiakku memecah


kesunyian malam (Miharja, 1949: 80).

(21) Kelesuan yang selama itu menekan jiwaku, sekarang


sudah tidak ada lagi (Miharja, 1949: 91).

Personifikasi mengandung suatu unsur persamaan. Jika metafora

dan simile membuat perbandingan antara suatu hal dengan hal lainnya,
89

maka personifikasi hal yang diperbandingkan adalah benda-benda mati

yang diinsankan atau hal yang dibandingkan seolah-olah berwujud seperti

manusia. Pada kalimat (19), kata suara yang berarti bunyi yang

dikeluarkan dari mulut manusia; bunyi binatang, alat perkakas, dan

sebagainya; ucapan (perkakas); bunyi bahasa (KBBI IV, 2008: 1145),

dipersonifikasikan dapat menepuk. Pada kalimat (20), kata kerikil yang

berarti butiran batu yang lebih besar daripada pasir (KBBI IV, 2008: 680)

dipersonifikasikan dapat memecah keadaan sunyi. Serta pada kalimat

(21), kata kelesuan yang berarti kekurangan tenaga; kehilangan semangat

(KBBI IV, 2008: 821), dipersonifikasi dapat menekan jiwa. Dari ketiga

contoh di atas terlihat bahwa benda-benda yang seolah-olah dapat

melakukan sesuatu, atau nomina tak bernyawa (suara, kerikil, dan

kelesuan), dipersonifikasi dapat melakukan tindakan menepuk, memecah,

dan menekan.

Berdasarkan struktur bahasa yang membentuk, majas personifikasi

dibentuk oleh kata dengan konstruksi terbanding dan pembanding.

Konstruksi terbanding dibentuk oleh nomina tak bernyawa (suara, kerikil,

dan kelesuan). Sedangkan konstruksi pembanding dibentuk oleh verba

berafiks meng- (menepuk, memecah, dan menekan).

Adapun pewujudan gaya bahasa personifikasi dalam novel

Telegram yang diwujudkan dengan kelas kata verba transitif meng- dapat

dilihat pada contoh berikut:


90

(22) Matahari memaksa diri memanjat langit (Wijaya, 1977:


44).
(23) Ada kereta yang memekik, masuk ke dalam stasiun
(Wijaya, 1977: 49).
(24) …. seringkali kalimat-kalimat itu telah melompat dari
mulut kita (Wijaya, 1977: 60).
Majas personifikasi ditandai dengan adanya persamaan antara

suatu hal, yang dalam hal ini benda mati, dengan hal yang

diperbandingkan. Pada contoh kalimat (22), matahari yang berarti benda

angkasa yang merupakan titik pusat tata surya (KBBI IV, 2008: 887)

dipersonifikasikan dapat memanjat. Pada contoh kalimat (23), kereta

yang berarti kendaraan yang beroda dua atau empat (KBBI IV, 2008: 679)

dipersonifikasikan dapat memekik. Pada kalimat (24), kata kalimat yang

berarti kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu konsep pikiran dan

perasaan; perkataan (KBBI IV, 2008: 609) dipersonifikasikan dapat

melompat. Sehingga, dari contoh majas personifikasi di atas terlihat

bahwa kelompok benda mati (matahari, kereta, dan kalimat) dilukiskan

dapat melakukan perbuatan atau tindakan (memanjat, memekik, dan

melompat). Dari segi struktur kebahasaan, majas personifikasi ditandai

oleh kata kerja atau verba berafiks dengan pembanding kata nomina.

Adapun makna kata penanda gaya bahasa personifikasi memberi

perluasan makna pada kata nomina yang terdapat dalam contoh,

misalnya kata matahari yang dirangkaikan dengan kata memanjat

memberi perluasan makna pada kata memanjat yang biasanya identik

dengan pohon atau tembok.


91

4. Antonomasia

Gaya bahasa antonomasia dalam novel Atheis dan novel Telegram

diwujudkan dengan kelas kata adjektiva, misalnya kata curiga, kecewa,

tua. Dalam novel Atheis pewujudan gaya bahasa antonomasia terlihat

dalam contoh berikut:

(25) Pak Curiga sedang bicara, tegas suaranya, matanya


berkedip-kedipan atau memicing sebelah, kadang-
kadang suaranya berdesis-desis berbisik (Miharja,
1949: 58).

(26) Mas Dongkol memberengut seperti jeruk masam,


meludah-ludah, menyikut ke kiri menyikut ke kanan,
merajuk-rajuk (Miharja, 1949: 58).

(27) Nona Kecewa berkecak-kecak dalam mulutnya sambil


menggigit-gigit ujung saputangannya (Miharja, 1949:
58).

(28) Empo Marah membentak-bentak dan merentak-rentak


kakinya dengan menyingsingkan kainnya sedikit ke
atas (Miharja, 1949: 58).

(29) Siti cemburu menggaung-gaung seperti anjing


melolong-lolong di malam purnama (Miharja, 1949:
58).

Pada contoh kalimat (25), majas antonomasia ditandai oleh kata

curiga yang melekat pada panggilan Pak yang berarti orang tua laki-laki

atau ayah; orang yang dipandang sebagai orang tua atau orang yang

dihormati kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu konsep pikiran dan

perasaan; perkataan (KBBI IV, 2008: 138). Pada contoh kalimat (26),

majas antonomasia ditandai dengan pemberian julukan dongkol pada kata

mas yang merupakan sapaan untuk saudara tua laki-laki atau laki-laki
92

yang dianggap lebih tua kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu

konsep pikiran dan perasaan; perkataan (KBBI IV, 2008: 881). Pada

contoh kalimat (27), majas antonomasia ditandai oleh kata kecewa yang

melekat pada kata nona yang berarti sebutan bagi anak perempuan atau

wanita yang belum menikah (KBBI IV, 2008: 967). Pada contoh kalimat

(28), majas antonomasia ditandai dengan penggunaan kata marah yang

melekat pada kata empo yang berarti kakak perempuan; sapaan untuk

orang perempuan yang lebih tua (KBBI IV, 2008: 370). Serta pada contoh

kalimat (29), majas antonomasia ditandai dengan penggunaan kata

cemburu pada nama siti yang merupakan salah satu nama tokoh dalam

novel Atheis.

Penggunaan kata curiga, dongkol, kecewa, marah, dan cemburu

yang menandakan majas antonomasia, menunjukkan bahwa pengarang

pada novel Atheis cenderung menggunakan kata sifat untuk

mendeskripsikan orang (pak, mas, nona, empo, dan siti). Penggunaan

kata sifat tersebut dapat bertujuan untuk mendeskripsikan sifat yang

melekat pada diri tokoh dalam novel tersebut. Sedangkan, untuk struktur

kebahasaan yang membentuk majas antonomasia terlihat bahwa dalam

contoh cenderung berstruktur kata sifat yang melekat pada kata benda.

Pengarang dalam novel Atheis cenderung menggunakan gaya bahasa

antonomasia untuk mejelaskan sifat tokoh cerita dalam novel.

Dalam novel Telegram, majas antonomasia ditunjukkan oleh

kalimat berikut :
93

(30) Siang itu banyak yang periksa sehingga aku terpaksa


melewatkan waktu dengan Max Tua tukang parker. Ia
sudah lupa padaku, tetapi pura-pura saja ingat (Wijaya,
1977: 54).
(31) Kantor sudah sepi. Kujumpai Pak Tua sedang mandi.
Dua orang reporter masih bergulat dengan mesin tik
mengejar dead-line. (Wijaya, 1977: 62).
(32) Sayup-sayup terdengar suara sirine. Pak Tua berhenti
bercerita. Aku keluar dari pikiranku. Pada saat itu
lampu mati. Di jalan menjerit suara mobil pemadam
kebakaran. “Kebakaran!” teriak Pak Tua (Wijaya, 1977:
67).

Majas antonomasia adalah gaya bahasa yang biasanya berwujud

kata sifat, kata benda, atau frasa yang biasa digunakan untuk

meremehkan atau menghina orang atau benda. Pada contoh kalimat (30),

majas antonomasia ditandai oleh kata Tua yang melekat pada nama Max.

Pada contoh kalimat (31), majas antonomasia ditandai oleh kata Tua pada

panggilan pak yang berarti orang tua laki-laki atau ayah; orang yang

dipandang sebagai orang tua atau orang yang dihormati kesatuan ujar

yang mengungkapkan suatu konsep pikiran dan perasaan; perkataan

(KBBI IV, 2008: 138). Serta pada contoh kalimat (32), majas antonomasia

juga ditandai oleh kata Tua yang melekat pada nama atau panggilan pak

yang berarti orang yang dipandang sebagai orang tua atau orang yang

dihormati kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu konsep pikiran dan

perasaan (KBBI IV, 2008: 138).

Penggunaan kata Tua sebagai penanda majas antonomasia dalam

novel Telegram menunjukkan bahwa pengarang novel tersebut cenderung

menggunakan kata sifat tua untuk memberi identifikasi kepada subjek


94

(Max, Pak). Untuk struktur kebahasaan yang membentuk majas

antonomasia dalam novel Telegram, terlihat bahwa majas antonomasia

berstruktur kata sifat yang melekat pada kata benda. Penggunaan kata

sifat sebagai penanda gaya bahasa antonomasia bertujuan untuk

mendeskripsikan sifat yang melekat pada tokoh dalam novel tersebut.

5. Metonimia

Pewujudan gaya bahasa metonimia dalam novel Telegram

diwujudkan dengan kelas kata nomina konkret, misalnya kata garuda,

gambir, dan benson. Adapun dalam novel Atheis juga diwujudkan dengan

kelas kata nomina konret seperti; Lux, pomade, sigaret, dan haseline.

Penggunaan gaya bahasa metonimia dalam novel Atheis dan Telegram

menunjukkan bahwa pengarang mulai cenderung mempergunakan ikon

atau merek tertentu untuk menyatakan benda yang memiliki pertalian

yang sangat dekat dengan benda yang ingin dinyatakan. Berikut

merupakan contoh gaya bahasa metonimia dalam novel Telegram:

(33) Aku meneguk coca-cola, sambil menghembus-


hembuskan asap rokok Benson (Wijaya, 1977: 5).
(34) Pukul sembilan atau pukul sepuluh malam, masih ada
Garuda yang terbang ke Denpasar kalau tohh
diniatkan begitu (Wijaya, 1977: 46).
(35) Kami sampai di Gambir dengan selamat. Untung kereta
api BIMA terlambat empat jam karena ada perbaikan
jembatan di Jawa Tengah (Wijaya, 1977: 47).
(36) Seluruh tubuh rasanya seperti barusan dilindas stoom
(Wijaya, 1977: 61).
95

(37) Aku menghisap Benson yang kelima (Wijaya, 1977:


118).
Pada contoh kalimat (33) di atas, majas metonimia ditandai dengan

penggunaan kata coca-cola. Kata coca-cola merupakan merek minuman

bersoda produksi coca-cola comp sehingga penggunaan kata coca-cola

menunjukkan bahwa tokoh sedang meminum minuman bersoda. Pada

contoh kalimat (34), majas metonimia ditandai dengan penggunaan kata

garuda. Kata Garuda dalam kalimat tersebut merujuk pada nama salah

satu maskapai penerbangan di Indonesia. Penggunaan kata Garuda

dalam kalimat tersebut menunjukkan nama pesawat atau maskapai

penerbangan yang akan dipakai tokoh Aku untuk pulang ke kampung

halamannya. Pada contoh kalimat (35), majas metonimia ditandai dengan

penggunaan kata Gambir. Kata gambir pada kalimat tersebut merujuk

pada nama stasiun kereta api di Jakarta, sehingga dalam konteks kalimat

kata gambir digunakan pengarang untuk menunjukkan setting atau latar

tempat kejadian di dalam novel. Pada contoh kalimat (36), majas

metonimia ditandai dengan penggunaan kata stoom. Kata stoom pada

kalimat tersebut merujuk pada alat yang digunakan untuk meratakan

jalanan. Pada contoh kalimat (37), kata Benson menjadi penanda majas

metonimia. Kata benson pada kalimat tersebut merujuk pada nama rokok

yang ada di Indonesia.

Adapun contoh gaya bahasa metonimia dalam novel Atheis dapat

dilihat dalam kalimat berikut:


96

(38) Maka ucapan "mataku seperti lengket" dari mulut Rusli


itu pun, malah hanya menimbulkan asosiasi pikiran
kepada rambutnya saja yang lengket karena tebalnya
pomade. (Miharja, 1949: 81)
(39) Kulit mukanya yang agak kasar itu sekarang menjadi
halus nampaknya karena memakai "Hazeline Snow".
(Miharja, 1949: 81)
(40) Wangi "Soir de Paris" terhambur, ketika sapu tangan itu
terayun dari sakunya ke leher. (Miharja, 1949: 109)
(41) "Mari merokok!" (riang tersenyum menyodorkan sebuah
selapa dari perak bakar yang berisi sigaret Mascot dan
cerutu. Kemudian sambil bangkit)... (Miharja, 1949: 119)

Pada kalimat (38) yang menjadi penanda gaya bahasa metonimia

adalah kata pomade. Kata pomade merek produk perawatan rambut.

Pada kalimat (39) yang menjadi penanda gaya bahasa metonimia adalah

kata hazeline yang dalam konteks kalimat tersebut merupakan nama

produk untuk kulit. Penanda gaya bahasa metonimia dalam contoh kalimat

(40) adalah kata Soir de Paris yang merupakan merek parfum. Pada

contoh kalimat (41) kata sigaret Mascot menjadi penanda gaya bahasa

metonimia. Kata sigaret Mascot merupakan merek rokok.

Berdasarkan struktur kebahasaan yang membentuk, majas

metonimia ditandai dengan penggunaan kata yang merujuk pada nama

merek minuman, maskapai penerbangan, nama stasiun kereta api, nama

alat, nama rokok, nama produk perawatan rambut, nama parfum, dan

produk perawatan kulit. Bentuk kata yang digunakan sebagai penanda

majas metonimia adalah kata yang termasuk dalam kelas kata nomina

dasar. Kecenderungan penggunaan nama merek dagang, nama alat, dan


97

nama maskapai penerbangan menunjukkan bahwa pengarang novel

Atheis dan Telegram ingin memberikan gambaran atau visualisasi lebih

jelas mengenai barang atau benda yang digunakan, yang dibicarakan,

atau yang didatangi oleh tokoh cerita dalam novel, sehingga penggunaan

merek dagang, nama maskapai penerbangan, dan nama alat yang

menjadi penanda gaya bahasa metonimia dalam novel Atheis dan

Telegram bertujuan untuk memberi penjelasan atau petunjuk yang lebih

rinci.

Persamaan pewujudan gaya bahasa antonomasia dalam novel

Atheis dan novel Telegram diwujudkan dengan kelas kata nomina

konkret. Kelas kata nomina konkret pada novel Atheis dan novel Telegram

diwujudkan dengan kata yang menunjukkan nama merek dagang, nama

maskapai penerbangan, dan nama alat. Hal tersebut menunjukkan bahwa

pewujudan gaya bahasa antonomasia dalam novel Atheis dan novel

Telegram terdapat persamaan.


98

BAB V

PENUTUP

A. SIMPULAN

Penelitian ini memiliki dua tujuan, yaitu; (1) untuk mendeskripsikan

perbedaan pewujudan gaya bahasa dalam novel Atheis dan novel

Telegram; dan (2) mendeskripsikan persamaan pewujudan gaya bahasa

dalam novel Atheis dan novel Telegram. Hasil penelitian pada bab

sebelumnya menunjukkan bahwa pengarang dalam novel Atheis dan

Telegram menggunakan diksi dari kategori kata tertentu untuk

mewujudkan gaya bahasa dalam kedua novel tersebut.

Perbedaan pewujudan gaya bahasa dalam novel Atheis dan novel

Telegram terdapat dalam gaya bahasa hiperbola. Gaya bahasa hiperbola

dalam novel Atheis diwujudkan dengan verba dasar misalnya kata

tumpah, pecah, dan pecat, sedangkan dalam novel Telegram diwujudkan

dengan verba transitif meng- misalnya kata menghidupkan. Hal ini berarti

pewujudan gaya bahasa hiperbola dalam novel Atheis lebih sederhana,

sedangkan dalam novel Telegram lebih kreatif.

Untuk penggunaan gaya bahasa sarkasme dalam novel Atheis

(karya sastra Angkatan 1945) menunjukkan bahwa bahasa sastra pada

karya sastra Angkatan 1945 cenderung lebih kasar jika dibandingkan

dengan bahasa karya sastra Angkatan 1966-70an (dalam novel

Telegram).

98
99

Persamaan pewujudan gaya bahasa dalam novel Atheis dan novel

Telegram terdapat pada gaya bahasa metafora, simile, personifikasi,

antonomasia, dan metonimia. Gaya bahasa metafora dalam novel Atheis

dan novel Telegram diwujudkan dengan kelas kata nomina konkret,

misalnya kata buaya, bunga, dan lukisan. Gaya bahasa simile baik dalam

novel Atheis maupun dalam novel Telegram diwujudkan dengan kelas

kata nomina konkret misalnya kata kucing, berlian, dan katak. Alat formal

atau piranti linguistik ditandai dengan kata seperti. Gaya bahasa

personifikasi dalam novel Atheis dan novel Telegram diwujudkan dengan

kelas kata verba intransitif meng- misalnya kata memecah, memanjat, dan

melompat, serta gaya bahasa antonomasia baik dalam novel Atheis

maupun dalam novel Telegram diwujudkan dengan kata adjektiva

misalnya kata curiga, kecewa, dan tua. Gaya bahasa metonimia baik

dalam novel Atheis maupun dalam novel Telegram diwujudkan dengan

kels kata nomina konkret, misalnya pomade, hazeline, dan garuda. Hal ini

berarti corak bahasa atau pola bahasa dalam novel Atheis dan novel

Telegram tidak jauh berbeda, sehingga tidak ada dinamika perubahan

gaya bahasa yang signifikan.

B. SARAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap

penggunaan gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna dalam

novel Atheis dan novel Telegram, terlihat bahwa dalam novel Atheis
100

penggunaan gaya bahasa yang paling dominan adalah metafora,

sedangkan dalam novel Telegram penggunaan gaya bahasa yang paling

dominan adalah simile. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian

Listyorini (2013) yang menyatakan bahwa gaya bahasa yang paling

banyak dalam novel Atheis adalah gaya bahasa simile. Oleh karena itu,

bagi peneliti yang tertarik meneliti gaya bahasa dapat menganalisis novel

Atheis dari perspektif lainnya, misalnya menganalisis gaya bahasa novel

Atheis berdasarkan pilihan kata ataupun struktur kalimatnya.

Untuk peneliti selanjutnya yang ingin meneliti perbandingan gaya

bahasa antara karya sastra Angkatan 1945 dan karya sastra Angkatan

1966-70an, sebaiknya menambah objek penelitian dari pengarang

lainnya. Penambahan objek penelitian tersebut dilakukan agar data yang

diperbandingkan semakin banyak. Melalui penelitian tersebut akan terlihat

ciri kolektif gaya bahasa karya sastra pada Angkatan 1945 dan karya

sastra Angkatan 1966-70an. Dalam bidang pengajaran sastra, penelitian

ini dapat dimanfaatkan sebagai rujukan informasi mengenai pola

penggunaan gaya bahasa dalam novel Atheis karya Achdiat Karta Miharja

dan novel Telegram karya Putu Wijaya. Namun bagi peneliti selanjutnya

yang tertarik menganalisis objek kajian dengan pendekatan yang sama,

harus menambahkan objek kajian atau karya sastra dari Achdiat Karta

Miharja dan Putu Wijaya yang lainnya untuk melihat ciri pribadi kedua

pengarang tersebut.
101

DAFTAR PUSTAKA

Abrams, M.H. 1979. The Mirror and The Lamp, Romantic Theory and The
Critical Tradition. London New York: Oxford University Press.

. 1981. A Glossary of Literary Terms. New York: Holt,


Rinehart and Winston.

Ahmadi, M. 1990. Dasar-dasar Komposisi Bahasa Indonesia. Malang:


Yayasan Asah Asih Asuh.

Angelia, Fiona. 2008. Periodesasi Sastra Indonesia. Jakarta: PT


Gramedia Pustaka Utama.

Baribin, Raminah. 1985. Teori Apresiasi Prosa Fiksi. Semarang: IKIP


Negeri Press.

Black, Elizabeth. 2011. Stilistika Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Chaer, Abdul. 2012. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Chapman. 1977. The Behaviour and Design of Stell Structures. Madison:


University of Wisconsin.
Culler, Jonathan. 1975. Structuralist Poetic: Structuralisme Linguistic and
The Study of Literature. London: Routhledge & Kegan Paul.
Darwis, Muhammad. 2002. “Pola-pola gramatikal dalam penulisan puisi
Indonesia.” Jurnal ilmiah nasional terakreditasi DIKTI. Linguistik
Indonesia, Volume 20, No.1.
. 2009. “Kelainan Ketatabahasaan dalam Puisi
Indonesia: Kajian Stilistika”. Diunduh pada pukul 09.00, tanggal 10
Desember 2017 pada situs [Link].

Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra (Epistemologis,


Model, Teori dan Aplikasi). Yogyakarta: PN. Pustaka Widyatama.

Forster, E.M. 1970. Aspect The Novel. Harmondswort: Penguin Book.

Hartoko, Dick dan Rahmanto. 1986. Pemandu di Dunia Sastra.


Yogyakarta: Kanisius.

Idris. 2012, “Katakteristik Bentuk Kebahasaan Mantra: Kajian Stilistika”.


Tesis. Makassar: Pascasarjana Universitas Hasanuddin.

101
102

Imron, Ali. 2009 . Stilistika, Teori, Metode, dan Aplikasi Pengkajian


Estetika Bahasa. Solo: Cakra Books.

Jabrohim. 2000. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Hanindita


Graha Widya.

Junus, Umar. 1989. Stilistika satu pengantar. Kuala Lumpur: Dewan


Bahasa dan pustaka Kementrian Pendidikan Malaysia.

Kenny, William. 1966. How to Analyze Fiction. New York: Monarch Press.

Keraf, Gorys. 2010. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia


Pustaka Utama.

Kerismas. 1990. Perbincangan Gaya Bahasa Sastera. Kuala Lumpur:


Dewan Bahasa dan Pustaka.

Kridalaksana, Harimurti. 2009. Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia.


Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

. 2011. Kamus Linguistik. Edisi Ketiga. Jakarta: PT Gramedia


Pustaka Utama.

Kuntjara, Esther. 2004. Gender, Bahasa, dan Kekuasaan. Jakarta:BPK


Gunung Mulia.

Leech, Geoffrey N. dan Michael H. Short. 1984. Gaya dalam Cereka;


Penerapan Linguistik dalam Prosa Cereka Inggris (diterjemahkan
ke dalam bahasa Melayu oleh Umar Junus). Kuala Lumpur: Dewan
Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia.

Listyorini, Endang Mawawati. 2013. Karakteristik Gaya Bahasa Novel


Atheis Karya Achdiat K. Mihardja dan Potensinya Sebagai
Landasan Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Indonesia. Tesis.
Universitas Negeri Malang.

Luxemburg, Jan Van; Mieke Ball dan Willem G. Westeijn. 1984. Pengantar
Ilmu Sastra. Penerjemah: Dick Hartoko. Jakarta: PT. Gramedia.

Mahsun. 2013. Metode Penelitian Bahasa (Tahapan Strategi, Metode dan


Tekniknya). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Mangunwijaya, Y.B. 1988. Sastra dan Religisitas. Yogyakarta: Kanisius.

Mihardja, Achdiat Karta. 2010. Atheis . Jakarta: Pusat Bahasa.

Nurgiyantoro, Burhan. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah


Mada University Press.
103

Rahmawati. 2012 “Gaya Bahasa Andrea Hirata dalam Dwilogi Padang


Bulan: Kajian Stilistika”. Tesis. Makassar: Pascasarjana Universitas
Hasanuddin.

Ramlan. 2001. Tata Bahasa Indonesia Penggolongan Kata. Yogyakarta:


Andi Offet.

Ratna, Nyoman Kutha. 2009. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Santosa, Puji dkk. 2008. Kritik Sastra. Yogyakarta: Elmatera.

Sastrowardoyo, Subagio. 1983. Sastra Hindia Belanda dan Kita. Jakarta:


Balai Pustaka.

Simpson, Paul. 2004. Stylistics: A Resource Book for Students. England:


Psychology Press.

Solihati, Nani. 2013. “Diksi Puitis Kumpulan Cerpen Mengakar Ke Bumi


Menggapai Ke Langit Jilid 3 Karya Taufiq Ismail”. Jurnal Stilistika,
81-88.

Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa.


Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Sudaryat, Ndang. 1986. Ringkasan Bahasa Indonesia. Bandung: Ganeca


Exact.

Sugondo, Dendy (pimpinan redaksi), dkk. 2008. Kamus Besar Bahasa


Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Sumardjo, Jakob. 1983. Pengantar Novel Indonesia. Jakarta: Karya


Unipress.

Sutopo, H.B. 2002. Pengantar Penelitian Kualitatif. Surakarta : Universitas


Sebelas Maret Press.

Tarigan, Henry Guntur. 1984. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung:


Angkasa.

. 2009. Pengajaran Semantik. Bandung: Angkasa.

Teeuw, A. 1980. Sastra Baru Indonesia. Ende: Nusa Indah.

Trudgill, Peter. 2003. ,Glossary of Sociolinguistics. [Link]


University Press.
104

Turner, Victor. 1977. The Ritual Process: Structure and Anti-Structure.


Ithaca: Cornel University Press.

Waluyo, Herman J. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.

Wellek, Rene dan Austin Warren. 1988. Teori Kesusastraan.


Diterjemahkan oleh Melanie Budianta. Jakarta: Gramedia.

Widdowson, H.G. 1997. Stilistika dan Pengajaran Sastra. Penerjemah:


Sudijah. Surabaya: Airlangga University Press.

Wijaya, Putu. 1973. Telegram. Jakarta: Pustaka Jaya.

Yudiono, K.S. 2007. Pengantar Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: PT.


Grasindo.
105

LAMPIRAN I
106

Tabel Rekapitulasi Penggunaan Gaya Bahasa


dalam Novel Atheis dan Novel Telegram

Jumlah data
No Jenis Gaya Bahasa
Novel Novel
Atheis Telegram
1. Hiperbola 30 3

2. Simile 29 17

3. Metafora 40 12

4. Personifikasi 10 14

5. Metonimia 18 6

6. Antonomasia 6 3

7. Sarkasme 1 0

Jumlah 134 55

Setelah melakukan analisis terhadap novel Atheis dan novel

Telegram, berdasarkan tabel di atas penggunaan gaya bahasa lebih

banyak digunakan dalam novel Atheis yakni 134 kalimat.


107

LAMPIRAN II
108

SINOPSIS

Dalam novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja menceritakan

tentang perjalanan hidup seseorang bernama Hasan yang lahir dari


109

sebuah keluarga yang sangat taat kepada agamanya, yaitu Islam. Hasan

adalah anak tunggal dari pensiunan manteri guru yang tinggal di lereng

gunung Telaga Bodas di tengah-tengah pegunungan priangan yang indah

bernama kampung panyeredan di wilayah Bandung yang pada waktu itu

masih dalam keadaan dijajah pemerintahan Jepang.

Sejak kecil Hasan dididik dengan cara Islam. Ayahnya Raden

Wiradikarta menginginkan Hasan menjadi anak yang baik, sopan, berilmu,

dan berakhlak sholeh. Oleh karena itu, walaupun Hasan masih kecil tetapi

dia sudah menunjukkan pribadi Islam yang taat. Hasan selalu patuh

kepada semua peraturan kedua orang tuanya.

Kedua orang tua Hasan semakin bangga melihat Hasan tumbuh

dewasa dengan kadar keimanan yang cukup tinggi. Kebahagiaan dan

kebanggaannya bertambah ketika Hasan berniat untuk pergi

memperdalam ilmu tarekat pada kiayi Mahmud seperti yang dilakukan

oleh kedua orang tuanya dulu. Keimanannya semakin meningkat setelah

Hasan menimba ilmu di sana dan mengamalkannya dalam setiap langkah

hidupnya. Setelah Hasan merasa cukup dengan ajaran-ajaran dari kiayi

Mahmud dan orang tuanya, maka setelah ia sekolah, Hasan pun bekerja

di sebuah kantor milik Jepang. Kini Hasan harus terpisah dengan kedua

orang tuanya karena pekerjaannya berada di daerah yang jauh dari desa

tempat kelahirannya dulu. Walaupun Hasan jauh dari kedua orang tuanya

dan bekerja pada orang-orang Jepang tetapi Hasan masih memegang

teguh agamanya dan masih menjadi pribadi dengan keimanan yang kuat.
110

Suatu ketika, Hasan sedang bekerja pada loketnya, Hasan bertemu

sahabat lamanya bernama Rusli, dia teman kecil Hasan yang telah meraih

kesuksesan dan memiliki pengalaman hidup yang luas. Dalam waktu yang

bersamaan, Rusli mengenalkan seorang perempuan bernama Kartini

yang bersamanya pada waktu itu kepada Hasan. Ketiganya saling

bercakap-cakap sampai pada titik kesimpulan bahwa Hasan disuruh

berkunjung kerumah Rusli yang tidak jauh dari perumahan yang ditempati

Hasan. Hasan pun sering datang ke rumah Rusli dan Kartini pun selalu

ada di sana. Hasan sangat senang bertemu dengan sahabat lamanya itu,

ditambah lagi dengan adanya Kartini yang menurut Hasan adalah sesosok

perempuan yang sangat mirip dengan Rukmini, kekasihnya dulu pada

waktu di kampung. Baginya Kartini adalah jelmaan yang dikirim Tuhan

untuk menggantikan Rukmini yang telah pergi dari kehidupannya.

Meskipun Hasan bahagia dengan sahabat lamanya itu tetapi

semua kebahagiaan itu belum cukup karena ternyata kedua temannya itu

mempunyai keyakinan yang berbeda dengan dirinya. Mereka

beranggapan bahwa sebenarnya Tuhan itu tidak ada. Hal itulah yang

membuat Hasan berniat untuk mengislamkan kedua temannya itu tetapi

niat baiknya itu semakin terkikis oleh kebaikan Rusli dan Kartini. Hasan

sedikit melalaikan niat awalnya itu karena sering berdiskusi tentang

berbagai hal dengan Rusli ataupun Kartini. Walaupun niat Hasan mulai

luntur tetapi dia masih taat pada ajaran Agamanya. Selain berkunjung ke

rumah Rusli, Hasan pun sering diajak pergi ke restoran oleh Rusli dan
111

Kartini. Mereka selalu pergi bertiga hingga perasaan lain pun datang

kepada Hasan untuk Kartini. Kartini pun menerima perasaan Hasan. Sejak

saat itu mereka semakin dekat dan akrab tetapi sering pula Hasan berfikir,

mengeluh, hatinya bimbang, terombang-ambing antara dua pilihan. Tetap

berada di jalan yang telah diajarkan oleh orang tuanya sejak kecil, yaitu

jalan agama atau memasuki dunia yang baru saja ia kenal dari

sahabatnya Rusli dan Kartini namun telah menariknya dengan kuat

menjadi seorang Atheis.

Kehadiran Kartini mengubah seluruh hidup Hasan. Hasan berusaha

menyesuaikan diri dengan pergaulan Kartini dan paham yang diyakininya.

Hasan mengalami berbagai konflik yang menyebabkan pertentangan

hebat di dalam batinnya. Masalah meruncing ketika muncul Anwar,

seorang seniman dan sekaligus teman Rusli, Anwar dikenalkan Rusli

kepada Hasan dan Kartini ketika mereka berada di sebuah restoran. Sejak

saat itu Hasan telah mengetahui bahwa Anwar menaruh hati kepada

Kartini. Mengetahui keadaan seperti itu, akhirnya Hasan menikahi Kartini

yang sudah menjadi cita-citanya dari sejak ia mengenalnya. Awalnya,

Hasan ingin menuntun istrinya itu menjadi seorang muslimah dengan satu

keyakinan dalam rumah tangga yang baru saja ia masuki. Namun, semua

harapan itu hilang ketika Kartini sering meninggalkan rumah setelah

beberapa bulan pernikahan. Hal itu terjadi karena satu permasalahan

antara Kartini dengan orang tua Hasan yang memang dari semula tidak

pernah menyetujui pernikahan mereka karena Kartini seorang Atheis.


112

Kebahagiaan hidup rumah tangga Hasan dengan Kartini tidak

berlangsung lama. Rumah tangga yang semula diselimuti kabahagiaan

harus berakhir dengan perceraian. Anwar yang anarkis individualistis,

menumbuhkan percik-percik bara di hati Hasan. Hasan pun menceraikan

Kartini karena dia beranggapan bahwa Kartini telah berselingkuh dengan

Anwar. Kartini selalu pergi dengan Anwar ketika meninggalkan rumah.

Dalam benak Hasan, Anwar-lah penyebab putusnya hubungan dengan

sang istri. Anwar pula yang acap kali menggelitik kecemburuannya.

Betapapun, pandangan Anwar terhadap Kartini amat patut dicurigai,

begitu munurut Hasan.

Bersamaan dengan itu, perasaan berdosa Hasan terhadap

ayahnya, bagaimanapun tidak lepas sama sekali. Lebih dari itu, kenangan

masa kecil, terutama dongeng tentang siksa-siksa neraka, semakin

menghantui dirinya. Ia dikejar kegelisahan, ketakutan, dan perasaan

berdosa. Dengan sendirinya, semua itu tambah meruwetkan kehidupan

rumah tangganya. Sampai pada puncaknya, Hasan dan Kartini

menggambil keputusan langkah dramatis: cerai! Maka, berakhirlah

kehidupan rumah tangga Hasan Kartini.

Di pihak Hasan, keputusan itu ternyata tidaklah membawa

ketenangan bagi jiwanya. Ketakutan, kecemasan, dan bayangan siksaan

neraka terus saja menghantui. Ia makin gelisah. Rasa bersalah, berdosa,

menyesal, takut, khawatir, dan macam-macam tekanan batin, tambah

akrab dengan jalan pikiran serta makin menggerogoti kesehatan fisiknya.


113

“Sudah jatuh, tertimpa tangga pula,” begitulah nasib yang dialami Hasan.

Saat ia menderita tekanan batin yang hebat, ayahnya meninggal. Hal

yang memberatkan Hasan sebenarnya bukan semata-mata soal

kematian, melainkan kenyataan bahwa permintaan maafnya ditolak

ayahnya, justru menjelang orang tua itu mengembuskan napasnya yang

terakhir.

Begitulah pemikiran Hasan yang pada saat itu keadaannya yang

sedang sakit TBC. Hasan sangat sedih dan menyesal karena dia sudah

melukai hati kedua orang tuannya dengan menjadi Atheis dan menikahi

Kartini yang akhirnya Ayah Hasan harus meninggal dunia dengan

membawa penyesalan yang mendalam karena perbuatan anaknya,

Hasan. Hasan sangat menyesal dengan apa yang telah dipilih dalam

hidupnya, dengan penyakit TBC yang dideritanya ditambah dengan

penyesalan yang sangat dalam maka Hasan pun semakin lemah dan

harapannya telah kosong.

Sementara perasaan Hasan hanyut dalam kegalauan yang tak

kunjung reda, selama itu pula berusaha mencari kebenaran yang nyata

mengenai keimanannya. Sejumlah teori yang pernah di kemukakan Rusli

dan Anwar, dirasakannya semakin menyesatkan, terlebih lagi pandangan-

pandangan Anwar. Maka, Hasan tidak dapat berbuat lain dari berusaha

membalas dendam kepada Anwar, biang keladinya. Semua itu akibat

tingkah laku Anwar, ia pula harus menanggung akibatnya. Demikian

dendam Hasan makin menggumpal. Atas keputusan ini, akhirnya Hasan,


114

tanpa menghiraukan keadaan sekelilingnya, keluar mencari Anwar.

Semakin keras nafsunya untuk membuat perhitungan terhadap Anwar,

semakin bergegas pula langkah kakinya. Pada saat yang bersamaan,

gaung sirene tanda bahaya udara meraung-raung memecahkan

kegelapan malam. Namun, Hasan tak peduli. Ia terus melangkah; dan

langkah itu berhenti ketika Hasan merasakan sebuah peluru menembus

dadanya. Badan yang lemah itu berguling-guling sebentar di atas aspal,

bermandi darah. Kemudian dengan bibir bergegas berkata “Allahu Akbar”,

tak bergerak lagi…


115

LAMPIRAN III
116

SINOPSIS
117

Dalam novel Telegram karya Putu Wijaya ini menceritakan tentang

tokoh Aku yang merasa mendapatkan sebuah kiriman telegram.

Menurutnya, mendapatkan sebuah telegram merupakan malapetaka

baginya. Malapetaka di sini dimaksudkan dengan bencana, berita buruk,

kematian, sakit, kecelakaan, dan kabar yang lainnya. Telegram baginya

selalu berisikan tentang hal-hal buruk.

Cerita dari novel ini berawal dari tokoh Aku asal Bali yang tinggal di

Jakarta . Ia tinggal bersama seorang anak yang ia asuh bernama Sinta. Ia

juga bekerja sebagai wartawan. Tokoh Aku ini merasa ia akan

mendapatkan sebuah telegram dari kampung halamannya, Bali. Tokoh

Aku merasa sangat takut. Seperti yang dianggapnya, telegram baginya

hanyalah hal-hal buruk atau malapetaka. Namun, ia sekarang tidak bisa

berbuat apa-apa lagi, karena telegram yang ia dapat kini yang dikirim oleh

saudara tirinya itu sekarang sedang berada di genggamannya. Seperti

yang ia tahu, isi dari telegram itu tidak lain adalah berisikan tentang ibunya

yang meninggal dunia.

Seperti itulah tokoh Aku itu berkhayal. Seakan-akan apa yang ada

dalam pikirannya menjadi nyata. Mendapat telegram itu, maka ia

diharuskan pulang, mengurus rumah tangga, mengurus penguburan

ibunya (upacara ngaben), mengurus tanah berhektar-hektar yang ada di

Denpasar, mengurus tiga rumah beserta isinya, membagi harta warisan

serta semua urusan lain yang menjadi tanggung jawabnya. Memang

sebagai anak yang paling tua, ia harus berperan sebagai kepala keluarga.
118

Apa yang dia pikirkan tentu sangat membebani pikirannya. Ia tentu

sangat merasa keberatan dengan semua tugas-tugas yang dipikulnya.

Apalah dikata, sebagai anak tertua mau tak mau harus ia lakukan semua

pekerjaan itu. Tokoh Aku tengah merasakan dilema. Semua itu

membebani pikirannya. Di tengah ia telah merasakan dilema, Sinta yang

tak lain adalah anak angkat dari tokoh Aku, tengah menanyakan

kerisauan yang tengah dihadapi tokoh Aku itu. Sinta menanyakan apa

sebenarnya isi telegram itu. tokoh Aku terpaksa berbohong kepada Sinta.

Ia tak ingin membebani pikiran anak angkatnya itu. Maka tokoh Aku

berkata bahwa pamannya yang dari Surabaya akan datang ke Jakarta.

Sinta telah siap untuk pergi ke stasiun, pakaiannya resmi dan

mengenakan sepatu. Tiba di stasiun, saat mereka menunggu kedatangan

kereta Bima yang terlambat, tiba-tiba Sinta memberikan sesuatu

padanya. Sinta memberikannya sebuah telegram yang tercecer dari saku

tokoh Aku semalam.

Karena mereka berdua telah mengetahui isi telegram itu, maka

mereka berdua segera mempersiapkan segala sesuatu untuk pergi ke

Bali. Namun, apa yang terjadi sungguh di luar dugaan. Dari luar, ibu

kandung Sinta datang untuk mengambil Sinta dari tangannya. Ibu

kandung Sinta meminta Sinta kembali untuk merawatnya. Namun, tentu

tokoh Aku menolak. Ia bersusah payah membesarkan Sinta yang dulu

telah dibuang oleh ibunya. tokoh Aku juga tidak mau egois, memang ia

yang membesarkan Sinta selama sepuluh tahun lamanya dengan


119

keadaan yang seadanya dan semuanya serba terbatas. Akan tetapi,

tokoh Aku mengatakan akan menyerahkan semua keputusannya kepada

Sinta. Sinta sendiri yang akan memilih, baik dirawat oleh ibu kandungnya

ataupun tetap kepada tokoh Aku itu.

Belum lagi masalah perebutan Sinta yang belum kelar, timbul lagi

masalah. tokoh Aku itu merasa kondisi tubuhnya tidak sehat. Ia merasa

gemetaran dan demam tinggi. Tokoh Aku takut jika ia merasakan sakit itu,

akibat penyakit yang ditularkan Nurma, wanita penghibur yang pernah

digaulinya. Sebab, temannya pun mengalami hal yang sama. Dan teman

tokoh Aku melahirkan anaknya dalam kondisi cacat. Tokoh Aku

memutuskan untuk pergi ke dokter. Sekembalinya dari dokter, tokoh Aku

melanjutkan aktifitasnya untuk pergi bekerja. Penjaga kantor, langsung

memberitahu kepada tokoh Aku bahwa ada orang yang ingin bertemu

dengan tokoh Aku. Penjaga itu berkata, ia sudah tiga kali datang dan

ingin bertemu dengan dirinya. Tokoh Aku tak ingin bertemu dengan tamu-

tamunya karena sudah pasti tamu itu ingin bercakap-cakap atau

membawa berita cukup penting. Terlalu mengambil resiko kalau harus

menjumpainya. Walau tamu itu akan membawa berita gembira, mereka

tidak akan memperbaiki suasana. Untuk menghindari tamu itu, tokoh Aku

pergi ke rumah temannya untuk tidur di sana. Sewaktu sampai di rumah

temannya, tokoh Aku menumpang untuk tidur. Pukul enam ia bangun,

tanpa mandi atau cuci muka ia langsung pergi ke kantor untuk

menyelesaikan cover story tentang Bali. Banyak yang ingin ditulisnya


120

tentang Bali, tapi ia tak bisa mengemukakan gagasan tanpa bukti-bukti

nyata.

Rupanya seseorang telah menulis sesuatu untuk menuangkan isi

hati ibu pada anaknya. Ia membeberkan isi hatinya dan menyinggung

bahwa kakak tokoh Aku semakin hari semakin galak dan menekan

batinnya. Di akhir surat, ibunya mengatakan bahwa ia tidak menuntut apa-

apa kalau memang tidak ada biaya, asal keluarganya diikut sertakan

dalam barisan penguburan. Serta tidak boleh dilupakan hubungan

kekeluargaan itu, walaupun sang ibu nanti sudah pergi. Tak terbayangkan

bagaimana hidup tanpa ibunya.

Tokoh Aku menanggalkan pakaiannya. Temperatur tubuhnya

mungkin sekitar 39 derajat celcius. Setiap saat ia bergetar menahan gigil

yang menusuk dari dalam. Mungkin malaria yang pernah didapatnya di

Singaraja kumat lagi. Ia berjalan melewati meja para direktur, ia jelajahi

seluruh isi tubuhnya untuk mengetahui seluk-beluknya. Dikenakan

pakaiannya kembali dengan perasaan sedikit malu. Tokoh Aku memasuki

ruang perpustakaan yang tentu sedikit hangat dengan harapan akan bisa

memperoleh keringat.

Paginya ia mengetahui bahwa seluruh tubuhnya penuh bintik-bintik

merah. Penjaga kantor menyuruhnya untuk menanggalkan baju. Mula-

mula ada keinginan untuk pergi ke rumah sahabatnya, tapi tatkala istrinya

mengandung, diurungkan. Terlalu berbahaya kalau sampai menular.

Tatkala penjaga kantor bermaksud menjamah tokoh Aku, iapun langsung


121

melarangnya. Dokter Syubah telah memeriksa bintik-bintik yang misterius

itu, ia hanya menyangka tokoh Aku kena alergi. Kematian rasanya

terlempar jauh kembali. Rupanya memang tidak terlalu mudah

melepaskan hidup.

Tokoh Aku dan Sinta sepakat untuk mempersiapkan segala

sesuatunya untuk berangkat ke Bali. Namun, sebelum mereka keluar

rumah, tokoh Aku melihat barang-barang yang sangat banyak yang ada di

atas meja mereka. Tokoh Aku melihat ada baju untuk anak perempuan,

untuk tokoh Aku, makanan, dan lainnya. Tokoh Aku bertanya pada bibi,

dengan keadaan marah, bibi yang ketakutan itu akhirnya menjawab

bahwa semua barang-barang itu dari ibu kandung Sinta. Ibu kandung

Sinta datang dan meminta anaknya dari tokoh Aku. Sudah tentu

permintaan itu ditolak tetapi ibunya Sinta bersikeras sehingga antara

tokoh Aku dan ibu Sinta menyerahkan pilihan itu pada Sinta.

Bayangan-bayangan itu menyebabkan tokoh Aku tidak bisa lagi

membedakan antara dunia nyata dan khayalannya. Ia mengalami krisis

kejiwaan seperti halnya orang gila. Tokoh Aku sudah tidak dapat

membedakan mana yang khayalan semata dan dunia nyata. Bahkan ia

pernah bertanya kepada tukang rokok yang di mana ia biasa membeli

sebuah rokok di sana. Tokoh Aku bertanya apakah dia itu gila atau waras.

Karena seringkali tokoh Aku itu sadar bahwa yang berkecamuk dalam

dirinya hanyalah khayalan semata dari rasa khawatirnya. Namun

kesadaran itu kembali hilang. Ia masuk kembali ke dunia khayalannya itu,


122

di mana ia pernah berpisah dengan Rosa. Rosa adalah kekasihnya.

Padahal Rosa hanyalah kekasih khayalan tokoh Aku saja. Seperti halnya

apa yang ia khayalkan tentang telegram yang ditakutinya sebagai

malapetaka buat sang lelaki.

Akibat khayalan itu, tokoh Aku kemudian betul-betul bingung

dengan apa yang dialaminya. Tokoh Aku mengalami krisis kejiwaan

seperti halnya orang gila. Ia tak dapat membedakan lagi antara yang

nyata dan mana yang khayalan semata. Tokoh Aku kadang tersadar dari

khayalannya itu. Namun kemudian masuk kembali dalam khayalannya itu.

Dalam khayalannya, tokoh Aku dan Sinta bersiap-siap berangkat ke Bali.

Ia telah memesan tiket pesawat sehingga mereka tinggal berangkat saja.

Tiba-tiba, di tengah-tengah khayalannya itu pintu rumahnya

diketuk. Ia bangkit untuk membuka pintu. Ternyata, bibi pemilik kontrakan

telah berada di muka rumahnya dan memberika sepucuk surat. Dengan

cepat, tokoh Aku membuka telegram yang isinya sudah bisa ia tebak.

Telegram yang baru diterima dari pemilik kontrakan itu benar. Telegram itu

tak lain berisikan tentang kematian ibunda tokoh Aku. Kali ini, berita

tentang kematian ibunda tokoh Aku adalah kenyataan. Bukan khayalan

semata. Seperti kisah-kisah sebelumnya yang diceritakan oleh novel ini

hanyalah khayalan semata tokoh Aku.

Anda mungkin juga menyukai