0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan24 halaman

Pemahaman Hipertiroidisme dan Pengobatannya

Dokumen tersebut membahas tentang hipertiroid, yang merupakan kondisi ketika kelenjar tiroid memproduksi hormon tiroid berlebihan. Hipertiroid disebabkan oleh berbagai faktor seperti penyakit Graves, nodul toksik pada tiroid, konsumsi obat tiroid berlebihan, atau gangguan pada hipofisis dan hipotalamus. Gejala klinis hipertiroid antara lain detak jantung cepat, tremor, berat badan turun, dan gondok pada leher

Diunggah oleh

Asri Rahayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan24 halaman

Pemahaman Hipertiroidisme dan Pengobatannya

Dokumen tersebut membahas tentang hipertiroid, yang merupakan kondisi ketika kelenjar tiroid memproduksi hormon tiroid berlebihan. Hipertiroid disebabkan oleh berbagai faktor seperti penyakit Graves, nodul toksik pada tiroid, konsumsi obat tiroid berlebihan, atau gangguan pada hipofisis dan hipotalamus. Gejala klinis hipertiroid antara lain detak jantung cepat, tremor, berat badan turun, dan gondok pada leher

Diunggah oleh

Asri Rahayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Hipertiroidisme dan tirotoksikosis sering dipertukarkan. Tirotoksikosis berhubungan
dengan suatu kompleks fisiologis dan biokimiawi yang ditemukan bila suatu
jaringan memberikan hormon tiroid berlebihan. Sedangkan hipertiroidisme adalah
tirotoksikosis sebagai akibat produksi tiroid itu sendiri. Tirotoksikosis terbagi atas
kelainan yang berhubungan dengan hipertiroidisme dan yang tidak berhubungan
dengan hipertiroidisme. Tiroid sendiri diatur oleh kelenjar lain yang berlokasi di otak,
disebut pituitari.

Pada gilirannya, pituitari diatur sebagian oleh hormon tiroid yang beredar dalam darah
(suatu efek umpan balik dari hormon tiroid pada kelenjar pituitari) dan sebagian oleh
kelenjar lain yang disebut hipothalamus, juga suatu bagian dari otak. Hipothalamus
melepaskan suatu hormon yang disebut Thyrotropin Releasing Hormone (TRH), yang
mengirim sebuah sinyal ke pituitari untuk melepaskan Thyroid Stimulating Hormone
(TSH). Pada gilirannya, TSH mengirim sebuah signal ke tiroid untuk melepas hormon-
hormon tiroid. Jika aktivitas yang berlebihan dari yang mana saja dari tiga kelenjar-
kelenjar ini terjadi, suatu jumlah hormon-hormon tiroid yang berlebihan dapat dihasilkan,
dengan demikian berakibat pada hipertiroid. Pengobatan hipertiroidisme adalah
membatasi produksi hormon tiroid yang berlebihan dengan cara menekan produksi
(obat anti tiroid) atau merusak jaringan tiroid (yodium radioaktif, tiroidektomi
subtotal).

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan Hipertiroid?
2. Apa yang menjadi etiologi dari Hipertiroid?
3. Apa saja manifestasi klinis dari Hipertiroid?
4. Apa saja patofisiologi dari Hipertiroid?
5. Apa saja komplikasi dari Hipertiroid?
6. Bagaimana pencegahan Hipertiroid?
7. Pemeriksaan diagnostic Hipertiroid ?
8. Bagaimana penatalaksanaan dari Hipertiroid?

1
1.3 Tujuan Penulisan
1. Mahasiswa mampu menjelaskan hipertiroid
2. Mahasiswa mampu mengetahui etiologi dari hipertiroid
3. Mahasiswa mampu menjelaskan manisfestasi klinis pada hipertiroid
4. Mahasiswa mampu menjelaskan patofisiologi pada hipertiroid
5. Mahasiswa mampu menjelaskan komplikasi pada hipertiroid
6. Mahasiswa mampu menjelaskan pemeriksaan diagnostik pada hipertiroid
7. Mahasiswa mampu menjelaskan penatalaksanaan pada hipertiroid
8. Mahasiswa mampu menjelaskan pencegahan hipertiroid

1.4 Manfaat Penulisan

Karya tulis ini diharapkan bisa menambah referensi dan informasi dalam bidang
kesehatan, serta dapat dijadikan tambahan ke perpustakaan dalam pengembangan karya
tulis selanjutnya

2
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi Hipertiroid
Hipertiroid atau Hipertiroidesme adalah suatu keadaan atau gambaran klinis akibat
produksi hormon tiroid yang berlebihan oleh kelenjar tiroid yang terlalu aktif. Karena
tiroid memproduksi hormon tiroksin dari lodium, maka lodium radioaktif dalam dosis
kecil dapat digunakan untuk mengobatinya (mengurangi intensitas fungsinya). Kelenjar
tiroid adalah subtansi kimia yang diproduksi oleh kelenjar tiroid dan dilepaskan
kedalam aliran darah. Hormon tiroid saling berinteraksi dengan hampir seluruh sel
tubuh, yang menyebabkan sel tubuh untuk meningkatkan aktivitas metabolisme
mereka. Kelainan banyaknya hormon tiroid ini yang secara khas mempercepat
metabolism tubuh.

Metabolisme adalah proses kimia dan fisika yang menciptakan unsur dan
menghasilkan energi yang diperlukan untuk fungsi sel, pertumbuhan dan divisi.
Hipertiroid atau Hipertiroidisme biasanya dapat diatasi dengan obat-obatan. Pilihan
lainnya adalah pembedahan untuk mengangkat kelenjar tiroid atau pemberian yodium
radioaktif. Setiap pengobatan memiliki kelebihan dan kekurangan. Agar bekerja
sebagaimana mestinya, kelenjar tiroid memerlukan sejumlah kecil yodium : Jumlah
yodium yang berlebihan bisa menurunkan jumlah hormon yang dibuat dan mencegah
pelepasan hormon tiroid. Karena itu untuk menghentikan pelepasan hormon tiroid yang
berlebihan, bisa diberikan yodium dosis tinggi. Pemberian yodium terutama
bermanfaat jika hipertirodisme harus segera dikendalikan (misalnya sebelum dilakukan
tindakan pembedahan). Yodium tidak digunakan pada pengobatan rutin atau pengobatan
jangka panjang. Propiltiourasil atau metimatolmerupakan obat yang paling sering
digunakan untuk mengobati hipertiroidisme. Obat ini memperlambat fungsi tiroid
dengan cara mengurangi pembentukan hormon tiroid oleh kelenjar. Kedua obat tersebut
diberikan per-oral (ditelan), dimulai dengan dosis tinggi. Selanjutnya disesuaikan
dengan hasil pemeriksaan darah terhadap hormon tiroid.

Tiroiditis adalah radang kelenjar tiroid yang biasanya diikuti dengan gejala hipertiroid.
Penyakit ini lebih banyak ditemukan pada wanita setelah melahirkan, yang beberapa
bulan kemudian timbul gejala hipotiroid. Sebagian besar akan pulih kembali menjadi
normal tiroid. Setelah pengobatan dengan radiasi yodium radiaktif, atau setelah tindakan

3
bedah, jaringan tiroid menjadi tidak berfungsi. Obat-obatan beta bloker (misalnya
prapanolol) membantu mengendalikan beberapa gejala Hipertiroid. Obat ini efektif
dalam memperlambat denyut jantung yang cepat, mengurangi gemetar dan
mengendalikan kecemasan. Beta bloker terutama bermanfaat dalam mengatasi badai
tiroid dan penderita yang dikendalikan oleh obat lain. Sebagian besar pemakaian yodium
radiaktif pada akhirnya menyebabkan hipotiroidisme sekitar 25% penderita mengalamai
hipotiroidisme dalam waktu 1 tahun setelah pemberian radioaktif. Pada riroldektomi,
kelenjar tiroid diangkat melalui pembedahan. Pembedahan merupakan terapi pilihan
bagi penderita muda, penderita yang gondoknya sangat besar, penderita yang alergi,
terhadap obat atau mengalami efek samping akibat obat. Setelah menjalani pembedahan,
bisa terjadi hipotiroidisme kepada penderita ini diberikan terapi salih hormone sepanjang
hidupnya.

2.2 Etiologi Hipertiroid


Hipertiroidisme dapat terjadi akibat disfungsi kelenjar tiroid, hipofisis, atau hipotalamus.
Peningkatan TSH akibat malfungsi kelenjar tiroid akan disertai penurunan TSH dan TRF
karena umpan balik negatif TH terhadap pelepasan keduanya. Hipertiroidisme akibat
malfungsi hipofisis memberikan gambaran kadar TH dan TSH yang finggi. TRF akan
rendah karena umpan balik negatif dari HT dan TSH. Hipertiroidisme akibat
malfungsi hipotalamus akan memperlihatkan HT yang tinggi disertai TSH dan TRH yang
berlebihan. Beberapa penyakit yang menyebabkan Hipertiroid yaitu :

1. Penyakit Graves
Penyakit ini disebabkan oleh kelenjar tiroid yang over aktif dan merupakan
penyebab hipertiroid yang paling sering dijumpai. Penyakit ini biasanya turunan.
Wanita 5 kali lebih sering daripada pria. Di duga penyebabnya adalah penyakit
autonoimun, dimana antibodi yang ditemukan dalam peredaran darah yaitu
Tyroid Stimulating Immunogirobulin (TSI antibodies), Thyroid Peroksidase
Antibodies (TPO) dan TSH Receptor Antibodies (TRAB). Pencetus kelainan ini
adalah stres, merokok, radiasi, kelainan mata dan kulit, penglihatan kabur, sensitif
terhadap sinar, terasa seperti ada pasir di mata, mata dapat menonjol keluar hingga
double vision. Penyakit mata ini sering berjalan sendiri dan tidak tergantung pada

4
tinggi rendahnya hormone tiroid. Gangguan kulit menyebabkan kulit jadi merah,
kehilangan rasa sakit, serta berkeringat banyak.

2. Toxic Nodular Goiter


Benjolan leher akibat pembesaran tiroid yang berbentuk biji padat, bisa satu atau
banyak. Kata toxic berarti hipertiroid, sedangkan nodule atau biji itu tidak
terkontrol oleh TSH sehingga memproduksi hormon tiroid yang berlebihan.

3. Minum obat Hormon Tiroid berlebihan


Keadaan demikian tidak jarang terjadi, karena periksa laboratorium dan kontrol ke
dokter yang tidak teratur. Sehingga pasien terus minum obat tiroid, ada pula
orang yang minum hormon tiroid dengan tujuan menurunkan berat badan hingga
timbul efek samping.

4. Produksi TSH yang Abnormal


Produksi TSH kelenjar hipofisis dapat memproduksi TSH berlebihan, sehingga
merangsang tiroid mengeluarkan T3 dan T4 yang banyak.
5. Tiroiditis (Radang kelenjar Tiroid)
Tiroiditis sering terjadi pada ibu setelah melahirkan, disebut tiroiditis pasca persalinan.
Dimana pada fase awal timbul keluhan hipertiroid, 2-3 bulan kemudian keluar gejala
hipotiroid.

6. Konsumsi Yodium Berlebihan


Bila konsumsi berlebihan bisa menimbulkan hipertiroid, kelainan ini biasanya timbul
apabila sebelumnya si pasien memang sudah ada kelainan kelenjar tiroid.

2.3 Manifestasi Klinis Hipertiroid

1. Peningkatan frekuensi denyut jantung.


2. Peningkatan tonus otot,tremor, iritabilitas, peningkatan kepekaan terhadap
katekolamin.
3. Peningkatan laju metabolisme basal, peningkatan pembentuka panas, intoleran
terhadap panas, keringat berlebih.
4. Penurunan berat, peningkatan rasa lapar

5
5. Penurunan frekuensi buang air besar
6. Gondok ( biasanya) yaitu peningkatan ukuran kelenjar tiroid
7. Tidak tahan panas
8. Cepat lelah
9. Gangguan reproduksi
10. Pembesaran kelenjar tiroid
11. Mata melotot ( exoptalmus ) hal ini terjadi akibat penimbunan dalam orbit mata.

2.4 Patofisiologi Hipertiroid

Penyebab hipertiroidisme biasanya adalah penyakit graves, goitertoksika. Pada


kebanyakan penderita hipertiroidisme, kelenjar tiroid membesar dua sampai tiga kali
dari ukuran normal, disertai dengan banyak hiperplasia dan lipatan-lipatan sel-sel
folikel ke dalam folikel, sehingga jumlah sel-sel ini lebih meningkat beberapa kali
dibandingkan dengan pembesaran kelenjar normal. Juga, setiap sel meningkatkan
kecepatan 5-15 kali lebih besar dari pada normal. Pada hipertiroidisme, konsentrasi TSH
plasma menurun, karena ada sesuatu yang “menyerupai” TSH, Biasanya bahan-bahan
ini adalah antibody immunoglobulin yang disebut TSI (Thyroid Stimulating
Immunoglobulin), yang berkaitan dengan reseptor yang mengikat TSH. Bahan-bahan
tersebut merangsang aktivasi CAMP dalam sel, dengan hasil akhirnya adalah
hipertiroidisme. Karena itu pada pasien hipertiroidisme konsentrasi TSI meningkat. Bahan
ini mempunyai efek perangsangan yang panjang pada kelenjar tiroid, yakni selama 12 jam,
berbeda dengan efek TSH yang hanya berlangsung satu jam. Tingginya sekresi hormon
tiroid yang disebabkan oleh TSI selanjutnya juga menekan pembentukan TSH oleh
kelenjar hipofisis anterior.

Pada hipertiroidisme, kelenjar tiroid “dipaksa” mensekresikan hormone hingga diluar


batas, sehingga untuk memenuhi pesanan tersebut, sel-sel sekretori kelenjar tiroid
membesar. Gejala klinis pasien yang sering berkeringat dan suka hawa dingin termasuk
akibat dari sifat hormon tiroid yang kalorigenik, akibat peningkatan laju metabolisme
tubuh yang diatas normal. Bahkan akibat proses metabolisme yang menyimpang ini,
terkadang penderita hipertiroidisme mengalami kesulitan tidur. Efek pada kepekaan sinaps
saraf yang mengandung tonus otot sebagai akibat dari hipertiroidisme ini menyebabkan
terjadinya tremor otot yang halus dengan frekuensi 10-15 kali perdetik, sehingga

6
penderita mengalami gemetar tangan yang abnormal. Nadi yang takikardia atau diatas
normal juga merupakan salah satu efek hormon tiroid pada system kardiovaskular.
Eksopthalamus yang terjadi merupakan reaksi inflamasi autoimun yang mengenai
daerah jaringan periorbital dan otot-otot ekstraokuler, akibatnya bola mata terdesak
keluar.

2.5 Komplikasi Hipertiroid

Hipertiroid tidak diobati dapat menyebabkan komplikasi serius terutama yang berkaitan
dengan jantung.

1. Aritmia ( detak jantung abnormal seperiatrial fibrulasi )


2. Dilatasi jantung ( peningkatan ukuran rongga jantung, yang sebenarnya menipis otot
jantung) dan gagal jantung kongesif
3. Serangan jantung mendadak
4. Hipertensi
Jika hipertiroid tidak diobati, akan mengalami terkena osteoporosis. Secara bertahap akan
kehilangan kepadatan mineral tulang karena hipertiroid yang tidak terkontrol dapat
menyebabkan tubuh menarik kalsium dan fosfat dari tulang dan terlalu banyak
mengeluarkan kalsium dan fosfor.

2.6 Pencegahan Hipertiroid

a) PENCEGAHAN PRIMER
Obat antitiroid.
Obat-obat yang termasuk golongan ini adalah thionamide, yodium, lithium, perchlorat dan
thiocyanat. Obat yang sering dipakai dari golongan thionamide adalah propylthiouracyl
(PTU), 1 - methyl - 2 mercaptoimidazole (methimazole, tapazole, MMI), carbimazole. Obat
inibekerjamenghambat sintesis hormon tetapi tidak menghambat sekresinya, yaitu dengan
menghambat terbentuknya monoiodotyrosine (MIT) dan diiodotyrosine (DIT), serta
menghambat coupling diiodotyrosine sehingga menjadi hormon yang aktif. PTU juga
menghambat perubahan T4 menjadi T3 di jaringan tepi, serta harganya lebih murah
sehingga pada saat ini PTU dianggap sebagai obat pilihan.

7
1. Yodium.
Pemberian yodium akan menghambat sintesa hormon secara akut tetapi dalam masa 3
minggu efeknya akan menghilang karena adanya escape mechanism dari kelenjar yang
bersangkutan, sehingga meski sekresi terhambat sintesa tetap ada. Akibatnya terjadi
penimbunan hormon dan pada saat yodium dihentikan timbul sekresi berlebihan dan
gejala hipertiroidi menghebat.

Penyekat Beta (Beta Blocker).


Terjadinya keluhan dan gejala hipertiroidi diakibatkan oleh adanya hipersensitivitas pada
sistim [Link] rangsangan sistem simpatis ini diduga akibat meningkatnya
kepekaan reseptor terhadap [Link] obat-obatan golongan simpatolitik
diperkirakan akan menghambat pengaruh [Link], guanetidin dan penyekat beta
(propranolol) merupakan obat yang masih [Link] dengan
reserpin/guanetidin, propranolol lebih efektif terutama dalam kasus-kasus yang
[Link] dalam 24 - 36 jam setelah pemberian akan tampak penurunan gejala.
Khasiat propranolol :
1. penurunan denyut jantung permenit
2. penurunan cardiac output
3. perpanjangan waktu refleks Achilles
4. pengurangan nervositas
5. pengurangan produksi keringat
6. pengurangan tremor

b) PENCEGAHAN SEKUNDER
Pembedahan :
Radioaktif iodine, Tindakan ini adalah untuk memusnahkan kelenjar tiroid yang
hiperaktif
1. Tiroidektomi.
Tindakan Pembedahan ini untuk mengangkat kelenjar tiroid yang membesar.

c) PENCEGAHAN TERSIER
Istirahat
Hal ini diperlukan agar hipermetabolisme pada penderita tidak makin meningkat.
Penderita dianjurkan tidak melakukan pekerjaan yang melelahkan/mengganggu

8
pikiran balk di rmah atau di tempat bekerja. Dalam keadaan berat dianjurkan bed
resttotal di Rumah Sakit.

Diet
Diet harus tinggi kalori, protein, multivitamin serta mineral. Hal ini antara lain karena
terjadinya peningkatan metabolisme, keseimbangan nitrogen yang negatif dan
keseimbangankalsium yang negatif :

1) Obat penenang
Mengingat pada PG sering terjadi kegelisahan, maka obat penenang dapat
diberikan. Di samping itu perlu jugapemberian psikoterapi.

2.7 Pemeriksaan Diagnostic Hipertiroid


Diagnosa bergantung kepada beberapa homon berikut ini :
a. Pemeriksaan darah yang mengukur HT(T3 dan T4), TSH dan TRH akan
memastikan diagnosis keadaan dan lokalisasi masalah di tingkat susunan saraf
pusat atau kelenjar tiroid.
b. TSH (Tiroid stimulating hormone)
c. Bebas T4( Tiroksin )
d. Bebas T3( Triiodotironin )
e. Diagnosa juga boleh dibuat menggunakan ultra sound untuk memastikan
pembesaran kelenjar tiroid.
f. Hipertiroidisme dapat disertai penurunan kadar lemak, serum
g. Penurunan kepekaan terhadap insulin, yang dapat menyebabkan hiperglikemia

2.8 Penatalaksanaan Hipertiroid

Tujuan pengobatan hipertiroid adalah produksi hormon (obat anti tiroid) atau merusak
jaringan tiroid (yodium radioaktif, tiroidektomi sub total)

1. Obat antitiroid
Digunakan dengan indikasi :
a. Terapi untuk memperpanjang remisi atau mendapatkan remisi yang menetap pada
pasien muda dengan struma ringan sampai sedang dan tirrotoksikosis.

9
b. Obat untuk mengontrol tirotoksikosis pada fase sebelum pengobatan, atau
sesudah pengobatan pada pasien yang mendapat yodium radioaktif.
c. Persiapan tiroidektomi
d. Pengobatan pasien hamil dan orang lanjut usia
e. Pasien dengan krisis tiroid
Obat antitiroid yang sering digunakan :
Obat Dosis awal Pemeriksaan
(mg /hari) (mg/hari)
Karbimatol 30-60 5-20
Metimazol 30-60 5-20
Propiltiourasil 300-600 50-200

Obat-obatan ini umumnya diberikan sekitar 18- 24 [Link] pasien hamil biasanya
diberikan propiltiourasil dengan dosis serendah mungkin yaitu 200 mg/hari atau lebih
lagi. Pada masa laktasi juga diberikan propiltiourasil karena hanya sedikit sekali yang
keluar dari air susu ibu, oasis yang dipakai 100-500 mg tiap 8 jam.

1. Pengobatan dengan yodium radioaktif


Indikasi pengobatan dengan yodium radioaktif diberikan pada :
a. Pasien umur 35 tahun atau lebih
b. Hipertiroid yang kambuh sesudah di operasi
c. Gagal mencapai remisi sesudah pemberian obat antitiroid
d. Tidak mampu atau tidak mau pengobatan dengan obat antitiroid
e. Adenoma toksik, goiter multinodular toksik

2. Operasi
Tiroidektomi subtotal efektif untuk mengatasi hipertiroid. Indikasi operasi adalah :

a. Pasien umur muda dengan struma besar serta tidak berespons terhadap obat antitiroid
b. Pada wanita hamil (trimester kedua) yang memerlukan obat antitiroid dosis besar
c. Alergi terhadap obat anti tiroid, pasien tidak dapat menerima yodium radioaktif.
d. Adenoma toksik atau strauma multinodular toksik
e. Pada penyakit graves yang berhubungan dengan satu atau lebih nodul

10
f. Sebelum operasi biasanya pasien diberi obat antitiroid sampai eutitiroid sampai
eutiroid kemudian diberi cairan kalium yodida 100-200 mg/hari atau cairan lugol
10-14 tetes/ hari selama 10 hari sebelum dioperasi untuk mengurangi vaskularisasi
pada kelenjar tiroid.

3. Pengobatan tambahan
a. Sekat β-adrenergik
Obat ini diberikan untuk mengurangi gejala dan tanda hipertiroid. Dosis diberikan
40- 200 mg/hari yang dibagi atas 4 dosis. Pada orang lanjut usia diberikan 10 mg/6 jam.

b. Yodium
Yodium terutama digunakan untuk persiapan operasi. Sesudah pengobatan dengan
yodium radioaktif dan pada krisis tiroid. Biasanya diberikan pada dosis 100- 300
mg/hari.

c. Ipodat
Ipodat kerjanya lebih cepat dan sangat baik digunakan pada keadaan akut seperti
krisis tiroid kerja padat adalah menurunkan konversi T4 menjadi T3 diperifer,
mengurangi sintesis hormon tiroid, serta mengurangi pengeluaran hormone dari tiroid.

d. Litium
Litium mempunyai daya kerja seperti yodium, namun tidak jelas keuntungannya
dibandingkan dengan yodium. Litium dapat digunakan pada pasien dengan krisis
tiroid alergi terhadap yodium

11
BAB III
PEMBAHASAN JURNAL
3.1 Analisis PICO
A. Resum Jurnal
POPULASI INTERVENSI COMPARISON OUTCOME
Desain penelitian Formula pangan Jurnal penelitian ini 1. Setelah dilakukan
rendomized control yang diberikan pada membandingkan intervensi selama
group protest-post tikus sebanyak 5,7 hasil penelitian pada 6 minggu pada
test design. gram per 200 gram 4 kelompok kontrol kelompok yang di
BB perhari yang dilakukan berikan intervensi
1. Hewan yang dengancara intervensi disamping berupa PTU,
digunakan adalah dilarutkan dalam formula, serta
tikus betina putih akuades dan gabungan antara
galur wistar umur diberikan melalui  Kelompok A : formula dan
3 bulan yang di sonde oral sehingga kelompok PTU,
kembangbiakandi dosis tersebut kontrol positif menunjukan
unit dipastikan (tikus adanya
pengembangan terkonsumsi semua hipertiroid peningkatan BB
hewan percobaan oleh tikus. Teknik tanpa tikut secara
(UPHP)UGM. sonde intervensi) signifikan
Tikus dipilih (menggunakan  Kelompok B : (P<0,05).
sebagai sampel jarum suntik yang kelompok Perubahan kadar
karena memiliki ujungnya sudah kontrol negatif TSH, FTD,
kelengkapan dibuat tumpul)  Kelompok C : kalsitonin selama
organ, kebutuhan dipilih karena tikus kelompok pemberian
nutrisi dan aman, praktis, dan formula intervensi tidak
metabolisme tidak menyakitkan pangan (FP) berbeda
yang cukup dekat hewan coba.  Kelompok D : bermakna jika
dengan manusia. Pemberian intervensi kelompok dibandingkan
Selain itu, dibagi menjadi 2 kali formula dengan kontrol.
kejadian pembagian agar pangan + PTU. Demikian juga
osteoporosis dan lambung tikus tidak dengan Densitas
hipertiroid lebih terlalu penuh. Jadi, masa tulang.
banyak terjadi setiap seklai Namun, pada
pada wanita pemberian adalah gambar 8 tampak
dewasa,sehingga setengah jumlah 5,7 bahwa tren
diharapkan gram per 200 gram peningkatan
pemilihan tikus Bbperhari. Hasil densitasmasa
betina dewasa penimbangan BB tulang paling
lebih tikus tiap seminggu terlihat pada
menggambarkan sekali dijadikan kelompok yang
kondisi yang ada. sebagai dasar jumlah diberikan formula
2. Kriteria inklusi pemberian formula pangan
hewan coba pada minggu dibandingkan
adalah tikus jenis selanjutnya. dengan kelompok
wistar betina usia kontrol yang
3 bulan, BB cenderung statis.
200±50 gram, Perbedaan

12
belum pernah bermakna hanya
digunakan untuk terlihat pada
penelitian, sehat variabel PTH,
(bergerak aktif). dimana PTH
3. Penentuan besar berperan pada
sampel pengaturan kadar
menggunakanru kalsium dalam
mus besar sampel darah.
untuk variable 2. Dalam penelitian
continue. Jumlah ini pemberian
minimal masing- formula kedelai
masing kelompok plus susu tinggi
adalah 5 ekor kalsium selama 6
dengan cadangan minggu belum
drop-out 2 dapat
ekor/kelompok. memberikan
Jadi masing- perubahan
masing 7 ekor bermakna
dengan jumlah terhadap kadar
kelompok TSH dan FT4
perlakuan tikus,
sebanyak 4 menunjukkan
kelompok. pola yang hampir
 Kelompok A : sama pada
kelompok keempat
kontrol positif kelompok
(tikus (gambar A.5)
hipertiroid
tanpa
intervensi)
 Kelompok B :
kelompok
kontrol negatif
 Kelompok C :
kelompok
formula
pangan (FP)
 Kelompok D :
kelompok
formula
pangan +
PTU.

 Time :
Penelitian dilakukan selama 13 minggu (gambar [Link] penilitian)
- Proses adaptasi selama 1 minggu.
- Proses hipertiroidisme selama 6 minggu.
- Proses intervensi oral selama 6 minggu pada kelompok A,B,C,D.

13
 Kelebihan :
1. Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etik dari komisi Etik Badan Litbang
Kesehatan [Link].02.01/5.2/KE.216/2016, tanggal 19 April 2016.
2. Terdapat peningkatan BB pada tikus secara signifikan setelah diberi intervensi
selama 6 minggu pada semua kelompok tikus yang diberi intervensi , kecuali pada
kelompok kontrol yang tidak diberi intervensi (gambar 3, P<0,005)
3. Pemberian PTU, formula maupun gabungan keduanya dapat memberikan dampak
positif terhadap normalisasi metabolisme pencernaan tikus.
4. Jurnal dilengkapi dengan referensi penelitian lain seperti Pirro ek al, namun hanya
dijadikan data tambahan bukan untuk dijadikan pembanding dalam proses penelitian
ini.
5. Jurnal dilengkapi dengan kandungan gizi dalam formula pangan sehingga
menambah wawasan bagi pembaca tentang kandungan nutrisi seperti asam amino,
kalsium, fosfor, iodium, dll.

 Kekurangan :
1. Formula susu tinggi kalsium dan kedelai (dengan perbandingan 3:2,7) yang
diberikan selama 6 minggu pada tikus hipertiroid belum terbukti dapat membantu
menormalkan fungsi tiroid dan meningkatkan densitas masa tulang secara signifikan.
2. Penelitian hanya dilakukan pada hewan (tikus) bukan pada manusia.
3. Perlu dilakukan penelitian kembali tentang pengaruh pemberian kedelai dan susu
tinggi kalsium agar hasilnya lebih maksimal dan perubahannya dapat signifikan.

B. Resum Jurnal
Judul jurnal P (Patient or I (Intervention) C(Comparison) O(Outcome)
Population)
ANALISIS Dari penelitian Penggambaran dibandingkan Dari penelitian
UPTAKE TIROID diperoleh 12 ROI dimulai nilai persentase diperoleh 12
MENGGUNAKAN orang pasien dengan memilih uptake tiroid orang pasien
TEKNIK ROI hipertiroid. tool dari dari pasien hipertiroid.
(REGION program ROI. struma difusa Berdasarkan
OF INTEREST) Jenis tool yang toksik dan non diagnosis awal
PADA PASIEN digunakan pada toksik untuk dari
HIPERTIROID penelitian ini melihat dokter, 7 orang
adalah line dan perbedaan didiagnosis
box. Line persentase struma difusa
digunakan uptake dan toksik dan 5
untuk menilai orang
menggambar kondisi didiagnosis
luasan tiroid fungsional struma difusa
total, sedangkan kelenjar tiroid non
box digunakan masing-masing toksik.
untuk pasien. Klasifikasi
menggambar struma difusa
ukuran toksik dan non
background. toksik dilihat

14
Cacahan tiroid berdasarkan
dan background hasil thyroid
akan terlihat scan.
langsung Dari 12 orang
melalui pasien, 7 orang
komputer wanita dan 5
setelah orang laki-laki.
penggambaran Berdasarkan
luasan tiroid jenis kelamin
dan background pasien
selesai. tersebut terlihat
bahwa penyakit
hipertiroid
lebih banyak
diderita oleh
wanita
dibandingkan
lakilaki.
Menurut
Schwartz
(1995),
perbandingan
jumlah pasien
hipertiroid
antara wanita
dan laki laki
adalah 2:1

RESUME JURNAL
A. Nama peneliti
Arizola Septi Vandria, Dian Milvita, Fadil Nasir
B. Tempat dan waktu penelitian
Universitas Andalas, Padang, Indonesia
C. Tujuan penelitian
Menurut WHO, kedokteran nuklir adalah spesialis yang menggunakan energi radiasi
terbuka yang bertujuan untuk diagnostik, terapi dan penelitian maupun pengobatan
D. Metode penelitian
Penelitian dimulai dengan pemilihan pasien sebagai obyek penelitian. Pasien
yang diteliti merupakan pasien yang memenuhi kriteria pasien hipertiroid yaitu
mengalami pembesaran tiroid (struma), dengan standar ukuran normal tiroid
adalah 3 sampai 5 cm. Sebelum pelaksanaan thyroid scan, Tc99m pertechnetate
sebanyak 1 mCi di-scan di bawah kamera gamma dengan jarak 10 cm sebagai
cacahan kalibrasi awal.

15
Untuk mendapatkan uptake tiroid, hasil thyroid scan masing-masing pasien
diolah menggunakan ROI. ROI dibuat pada daerah tiroid total dan di luar kelenjar
tiroid yang disebut dengan background. Background digunakan untuk mengurangkan
cacahan tiroid total apabila penggambaran ROI melebihi ukuran luasan tiroid yang
sebenarnya. ROI untuk background dibuat dengan ukuran 0,5 x 1 cm
E. Hasil penelitian
Dari penelitian diperoleh 12 orang pasien hipertiroid. Berdasarkan diagnosis awal dari
dokter, 7 orang didiagnosis struma difusa toksik dan 5 orang didiagnosis struma
difusa non toksik. Klasifikasi struma difusa toksik dan non toksik dilihat berdasarkan
hasil thyroid scan. Dari 12 orang pasien, 7 orang wanita dan 5 orang laki-laki.
Berdasarkan jenis kelamin pasien tersebut terlihat bahwa penyakit hipertiroid lebih
banyak diderita oleh wanita dibandingkan lakilaki. Menurut Schwartz (1995),
perbandingan jumlah pasien hipertiroid antara wanita dan laki laki adalah 2:1

Kelebihan jurnal :
1. Abstrak yang digunakan memberikan informasi cukup jelas
2. Metode penelitian pada jurnal yang digunakan sangat jelas
3. Peneliti memberikan intervensi dan hasil dengan cukup jelas
4. Tinjauan pustaka dalam jurnal cukup

Kelemahan jurnal :

1. Di jurnal tidak disebutkan alasan melakukan penelitian


2. Di dalam jurnal terdapat bahasa yang tidak dimengerti
3. Keterbatasan pada jurnal ini tidak dijelas dengan jelas
4. Di dalam jurnal tidak di berikannya saran untuk penelitian selanjutnya

Kesimpulan :
Persentase uptake tiroid pasien hipertiroid (struma difusa toksik dan non toksik)
meningkat seiring bertambahnya waktu pemeriksaan. Rerata uptake pasien struma difusa
toksik lebih tinggi dibandingkan uptake normal (1,6-7,6)%, sehingga perlu dilakukan
penanganan lebih lanjut terhadap pasien tersebut. Persentase uptake pasien struma difusa
non toksik masih berada dalam batas uptake normal, sehingga tidak diperlukan
penanganan yang lebih lanjut terhadap pasien.

16
C. Resum Jurnal
Judul jurnal P (Patient or I (Intervention) C(Comparison) O(Outcome)
Population)
EVALUASI Beberapa Pengambilan data Kriteria Inklusi Dari hasil
PENGGUNA penelitian tentang dilakukan secara meliputi pasien penelitian evaluasi
AN OBAT hipertiroid di retrospektif penderita penggunaan obat
ANTITIRPID
RSUP DR. M. terhadap data hipertiroid yang antitiroid pada
PADA
PASIEN Djamil Padang rekam medik menjalani rawat pasien hipertiroid
HPERTIROID menunjukkan pasien hipertiroid jalan di Poliklinik di Poliklinik RSUP
DI RSUP bahwa jumlah di di Poliklinik Khusus RSUP Dr. Dr. M. Djamil
[Link] pasien yang Khusus RSUP Dr. M. Djamil Padang Padang
[Link] menderita M. Djamil Padang yang menggunakan data
NESIA hipertiroid pada tahun 2015. menggunakan rekam medik
cenderung Data berupa obat antitiroid pasien pada tahun
mengalami identitas pasien, selama Januari- 2015 diperoleh 175
peningkatan, yaitu diagnosa, terapi Desember tahun pasien yang
pada tahun 2011 obat antitiroid 2015. Kriteria memenuhi kriteria
terdapat 697 kasus, (nama obat, dosis, eksklusi meliputi inklusi, dengan
sedangkan pada frekuensi pasien hipertiroid jumlah total
tahun 2012 terdapat pemakaian, rute yang menjalani kunjungan
716 kasus. Pada pemberian) dicatat rawat inap dan sebanyak 887 kali
analisa ketepatan dan dipindahkan ke pasien yang tidak kunjungan
dosis, ditemukan lembar mendapat terapi
ketidaktepatan pengumpulan data obat antitiroid di
dosis sebesar yang telah Poliklinik Khusus
7,43%. dipersiapkan. RSUP Dr. M.
Djamil Padang
selama Januari-
Desember tahun
2015, pasien
dengan rekam
medik tidak
lengkap

RESUME JURNAL

A. Nama Peneliti
Dian Ayu Juwita, Suhatri, dan Risa Hestia

B. Tempat dan waktu penelitian

17
Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pengambilan data secara
retrospektif menggunakan rekam medik pasien selama periode Januari-Desember
2015 di Poliklinik Khusus RSUP Dr. M. Djamil Padang.

C. Tujuan penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola penggunaan obat antitiroid dan
mengevaluasi ketepatan penggunaan obat antitiroid pada pasien hipertiroid meliputi
tepat indikasi, tepat obat, tepat pasien dan tepat dosis.

D. Metode penelitian
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif
menggunakan rekam medik pasien hipertiroid.
 Penetapan sempel Kriteria Inklusi meliputi pasien penderita hipertiroid yang
menjalani rawat jalan di Poliklinik Khusus RSUP Dr. M. Djamil Padang yang
menggunakan obat antitiroid selama Januari-Desember tahun 2015. Kriteria
eksklusi meliputi pasien hipertiroid yang menjalani rawat inap dan pasien yang
tidak mendapat terapi obat antitiroid di Poliklinik Khusus RSUP Dr. M. Djamil
Padang selama Januari-Desember tahun 2015, pasien dengan rekam medik tidak
lengkap.
 Pengambilan data dilakukan secara retrospektif terhadap data rekam medik pasien
hipertiroid di di Poliklinik Khusus RSUP Dr. M. Djamil Padang pada tahun 2015.
Data berupa identitas pasien, diagnosa, terapi obat antitiroid (nama obat, dosis,
frekuensi pemakaian, rute pemberian) dicatat dan dipindahkan ke lembar
pengumpulan data yang telah dipersiapkan.
 Analisa Data yang dikumpulkan kemudian dianalisa secara deskriptif dengan cara
membandingkannya dengan literatur resmi yang digunakan yaitu Formularium
Spesialistik Ilmu Penyakit Dalam dan Pharmacotherapy A Pathophysiologic
Approach. Hasil perbandingan akan menunjukkan pola penggunaan obat dan
ketepatan penggunaan obat antitiroid pada pasien hipertiroid berupa tepat indikasi,
tepat obat, tepat pasien dan tepat regimen dosis. Tepat indikasi yaitu obat yang
digunakan mempunyai indikasi yang sesuai dengan diagnosa hipertiroid yang
telah ditetapkan dokter. Tepat obat yaitu obat yang digunakan sesuai dengan
diagnosa penyakit hipertiroid mempertimbangkan kemanjuran, keamanan dan
kecocokan bagi pasien berdasarkan kriteria penggunaan obat yang ditetapkan.
Tepat pasien yaitu pemberian obat antitiroid mempertimbangkan kondisi pasien
dan tidak kontraindikasi bagi pasien. Tepat regimen dosis yaitu ketepatan dosis
dan frekuensi pemberian obat pada pasien hipertiroid sesuai kriteria penggunaan
obat yang ditetapkan.
E. Hasil penelitian
Dari hasil penelitian evaluasi penggunaan obat antitiroid pada pasien hipertiroid di
Poliklinik RSUP Dr. M. Djamil Padang menggunakan data rekam medik pasien pada
tahun 2015 diperoleh 175 pasien yang memenuhi kriteria inklusi, dengan jumlah total
kunjungan sebanyak 887 kali [Link] jenis kelamin hipertiroid
18
perempuan lebih banyak daripada pasien lakilaki yaitu berjumlah 148 orang
(84,57%), sedangkan pasien laki-laki berjumlah 27 orang (15,43%), Hipertiroid
mempengaruhi sekitar 2% dari perempuan dan 0,2% dari laki-laki. Kelompok usia
terbanyak penderita hipertiroid adalah kelompok usia lansia awal (46-55 tahun)
sebanyak 43 orang (24,57%) dan kelompok usia yang paling sedikit menderita
hipertiroid adalah remaja awal (12-16 tahun) sebanyak 2 orang (1,14%), Dari hasil
penelitian terlihat bahwa dari 887 kali kunjungan, penggunaan obat PTU sebanyak
734 obat (82,75%) lebih banyak dari penggunaan thyrozol (dengan zat aktif
metimazol) sebanyak 153 obat (17,25%) , propiltiourasil (71%) lebih banyak daripada
metimazol (38%), Obat antitiroid yang diberikan kepada pasien hipertiroid di
Poliklinik Khusus RSUP Dr. M. Djamil adalah PTU (82,75%) dan thyrozol (17,25%)

A. Kelebihan jurnal

1) Abstrak memberikan informasi yang lengkap


2) Metode penelitian pada jurnal yang digunakan sangat jelas
3) Instrumen pengumpulan data dalam jurnal dijelaskan
4) Tinjauan pustaka dalam jurnal cukup.

B. Kekurangan jurnal
1) Keterbatasan dalam penelitian ini tidak disebutkan
2) Dalam jurnal tidak dijelaskan tentang saran penelitian selanjutnya
3) Di dalam jurnal tidak di berikannya saran untuk penelitian selanjutnya
4) keterbatasan pada Jurnal

Kesimpulan :
Masih ditemukan ketidaktepatan penggunaan obat antitiroid berupa tidak tepat dosis
sebanyak 7,43%, dan tidak tepat pasien sebanyak 0,57%, sedangkan ketidaktepatan
indikasi, ketidaktepatan obat tidak ditemukan.
D. Resum Jurnal
Judul Jurnal P (Patient or I (Intervention) C (Comparison) O (Outcome)
population)
Thyroid Patient thyroid A therapeutic Standard Cre, Mortality rate, number of
hormone in disease or measure, medication, another days off work, pain,
health and condition surgical intervention, intervention, or disability
disease or life style change placebo
Patient risk Mortality rate, number of
factors and A preventive Another days off work,
general health measure. A lifestyle preventative hyperthyroidism disease
condition change or measure OR maybe incidence
medication not applicable
Spesific Measure of the best
hyperthyroidism A diagnostic test or Current “reference utility, sensitivity,
disease or procedure standard” or “gold specificity, odds ratio
condition standard” test for
Usually time or that disease or Survival rates mortality

19
Duration and “watcful waiting” condition.
severity of main

Kelebihan :
- Abstrak jelas, sehingga dengan membaca abtraknya saja pembaca dapat mengetahui
hasil dari penelitian tersebut
- Kesimpulan yang dibuat sudah terperinci dan dipaparkan secara jelas
- Prosedur penelitian disusun dengan teratur, sehingga mudah untuk dipahami
Kekurangan :
- Tidak ada respon dari masyarakat tentang hasil dari penelitian tersebut
- Tidak ada prosetasenya
- Tidak ada saran untuk penelitian selanjutnya
E. Resume jurnal
Judul Jurnal P (Patient or I (Intervention) C (Comparison) O (Outcome)
population)
HUBUNGAN 46 orang Pengumpulan Berdasarkan Berdasarkan
KADAR Ft4 wanita dewasa data dilakukan hasil penelitian kategori yang
DENGAN di Nagari Koto dengan yang di lakukan telah ditentukan,
KEJADIAN Salak wawancara terhadap 46 31 orang (84
TIROTOKSITO Kabupaten menggunakan orang wanita persen) dalam
SIS Dharmasraya penilaian Indeks dewasa di batas normal, 6
BERDASARK New Castle dan Nagari Kota orang (16 persen)
AN pengambilan Salak dengan kategori
PENELITIAN darah untuk Kabupaten doubtful
INDEKS NEW dilakukan Dharmasraya, di (meragukan), dan
CASTLE pemeriksaan dapatkan 37 tidak ada yang
PADA kadar FT4 orang yang memiliki skor
WANITA dalam serum. memenuhi lebih dari 40 yang
DEWASA DI syarat untuk di merupakan
DAERAH lakukan kategori toxic
EKSES penelitian.
YODIUM

20
A. Nama jurnal

Harsa Rusda*, Fadil Oenzil**, Yustini Alioes**


B. Tempat dan waktu penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan menggunakan pendekatan Cross


Sectional. Hal ini dikarenakan data yang dikumpul dan variabel yang diteliti hanya diukur
satu kali dalam waktu yang bersamaan.9,10 Penelitian ini dilaksanakan di Nagari Koto
Salak, Kecamatan Koto Salak, Kabupaten Dharmasraya

C. Tujuan penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar hormon FT4 dengan kejadian
tirotoksikosis pada wanita dewasa di daerah ekses yodium yaitu di Nagari Koto Salak
Kabupaten Dharmasraya.
D. Metode penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan menggunakan pendekatan Cross


Sectional. Hal ini dikarenakan data yang dikumpul dan variabel yang diteliti hanya diukur
satu kali dalam waktu yang bersamaan.9,10 Penelitian ini dilaksanakan di Nagari Koto
Salak, Kecamatan Koto Salak, Kabupaten Dharmasraya yang merupakan daerah ekses
yodium urin (EYU=323,5). Pemeriksaan kadar FT4 dalam serum darah dilakukan di
Balai Laboratorium Kesehatan Sumatera Barat. Populasi penelitian ini adalah semua
wanita di Nagari Koto Salak Kabupaten Dharmasraya yang datang untuk melakukan
pemeriksaan dan pengisian kuesioner. Seluruh populasi dijadikan subjek penelitian.
Kriteria Subjek penelitian: yaitu kriteria Inklusi : Berusia 18-65 tahun, bertempat tinggal
di Nagari Koto Salak Kabupaten Dharmasraya, dan bersedia ikut dalam penelitian dengan
menandatangani inform consent. Kriteria Eksklusi yaitu hasil pemeriksaan yang tidak
dapat diukur. Penelitian ini menggunakan kuesioner dari Indeks New Castle dan alat
Immuno Auto Analyzer (cobas e 411, spesifikasi full automatic). Variabel penelitian:
variabel bebas=FT4, variabel terikat=tirotoksikosis. Data yang diperoleh dari hasil
pemeriksaan terhadap serum darah dan indeks diagnostik New Castle. Pengolahan dan
analisa data dilakukan secara komputerisasi dengan menggunakan pengujian statistik Chi-
Square dengan derajat bermakna α=0,05.11

E. Hasil penelitian

21
1. Analisa Univariat
Dari 37 orang yang telah diperiksa kadar hormon FT4 didapatkan hasil, 32 orang
dengan hasil pemeriksaan normal dengan persentase tertinggi yaitu 86 persen. Lima
orang dengan kadar FT4 yang meningkat dengan frekuensi 14 persen. Dan tidak ada
subjek penelitian yang memiliki kadar FT4 rendah. Kadar FT4 tertinggi yang
diperoleh adalah 7,7 ng/dl, kadar FT4 terendah adalah 0,973 ng/dl, dan kadar rata-rata
adalah 1,71 ng/dl.
2. Analisa Bivariate
Analisis data dengan tabel bivariate bertujuan untuk melihat hubungan kadar FT4
dengan hasil pemeriksaan menggunakan Indeks New Castle. Dari tabel diatas terlihat
bahwa 27 orang mempunyai kadar FT4 dalam batas normal dengan hasil wawancara
dalam kategori euthyroid dengan persentase 73 persen. Empat orang memiliki kadar
FT4 yang meningkat dengan skor indeks New Castle euthyroid dengan persentase
10,8 persen, lima orang memiliki kadar FT4 normal dengan skor Indeks New Castle
dalam kategori doubtful (meragukan) dengan persentase 13,5 persen, dan satu orang
memiliki kadar FT4 yang meningkat dengan skor Indeks New Castle dalam kategori
doubtful (meragukan) dengan persentase 2,7 persen.
ANALISA JURNAL

 Time
Penilitian ini dilakukan pada tahun 2008

 Kesimpulan
1. Jumlah penduduk wanita dewasa di Nagari Koto Salak dengan kadar FT4
meningkat sebanyak 14 persen dan nilai rata-rata 1,71 ng/dl.
2. Wawancara menggunakan penilaian indeks diagnostik New Castle didapatkan
hasil 16 persen dalam kategori doubtful (meragukan) dan tidak ditemukan
penduduk yang termasuk dalam kategori toxic.
3. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kadar FT4 dalam serum
dengan kejadian tirotoksikosis pada wanita dewasa di daerah ekses yodium
 Kelebihan
1. Abstrak memberikan informasi yang lengkap yaitu latar belakang, tujuan ,
metode , dan hasil.
2. Waktu penilitian disebutkan
3. Mode penelitian

22
Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan menggunakan pendekatan
Cross Sectional. Hal ini dikarenakan data yang dikumpul dan variabel yang
diteliti hanya diukur satu kali dalam waktu yang bersamaan.
 Kekurangan
1. Di dalam jurnal tidak disertakan perbandingan untuk penelitian

23
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Tiroid sendiri diatur oleh kelenjar lain yang berlokasi di otak, disebut pituitari. Pada
gilirannya, pituitari diatur sebagian oleh hormon tiroid yang beredar dalam darah (suatu efek
umpan balik dari hormon tiroid pada kelenjar pituitari) dan sebagian oleh kelenjar lain
yang disebut hipothalamus, juga suatu bagian dari otak . Pengobatan hipertiroidisme
adalah membatasi produksi hormon tiroid yang berlebihan dengan cara menekan produksi
(obat antitiroid) atau merusak jaringan tiroid (yodium radioaktif, tiroidektomi subtotal).

4.2 Saran
Dari penyakit ini dapat dihindarkan dengan cara tidak stress, tidak merokok, tidak
mengkonsumsi obat-obatan sembarangan dan tidak mengkonsumsi yodium secara
berlebihan karena dapat terjadi radiasi pada leher dan organisme-organisme dapat
menyebabkan infeksi karena ada virus.

24

Anda mungkin juga menyukai