BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
BAB III
ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
3.1 Penentuan Kelas Jalan
3.1.1 Kelas Jalan Berdasarkan Perhitungan LHR
Data Lalu Lintas pada Ruas Jalan Raya Ungaran-Bawen dalam 3 tahun terakhir
adalah sebagai berikut :
Tabel 3.1 Volume Lalu Lintas Jalan Raya Ungaran - Bawen
Tahun
No Jenis Kendaraan
2011 2012 2013
1 Golongan I 27929 30200 31706
2 Golongan II 8738 10021 12640
3 Golongan III 1573 1705 1810
4 Golongan IV 312 331 300
5 Golongan V 901 645 1084
Sumber : Direktorat Jendral Bina Marga,”Data Lalu Lintas Harian”
Keterangan tabel 3.1
1. Golongan I = mobil, mikro ,pick up
2. Golongan II = bus kecil, bus besar, truk ringan
3. Golongan III = truk sedang
4. Golongan IV = truk berat
5. Golongan V = truk trailer
Penetapan kelas jalan raya Ungaran - Bawen untuk setiap kendaraan,dalam
penilaian kedalam satuan mobil penumpang (Smp) digunakan koefisien sbb :
1. Golongan I = 1,0
2. Golongan II = 1,2
3. Golongan III = 1,2
4. Golongan IV = 1,2
5. Golongan V = 1,2
61
62
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Tabel 3.2 Volume Lalu Lintas Jalan Raya Ungaran – Bawen (Smp)
Tahun
No Jenis Kendaraan
2011 2012 2013
1 Golongan I 2792 30200 31706
2 Golongan II 10485 12025,2 15168
3 Golongan III 1877 2046 2172
4 Golongan IV 374 397,2 360
5 Golongan V 1081 774 1300,8
Total LHR 42303,8 45442,4 50706,8
Sumber : Direktorat Jendral Bina Marga,”Data Lalu Lintas Harian”
1) Perhitungan Perkembangan Lalu Lintas.
Menggunakan Rumus :
P = F * ( 1 + i )n
P = F * ( 1+ i )n
50706,8 = 42303,8 * ( 1 + i )3
( 1 + i )3 = 1,198
i = 0,062
i = 6,2 %
Keterangan :
P = Jumlah kendaraan pada tahun awal dalam smp ( 2011 );
F = Jumlah kendaraan pada tahun akhir dalam smp ( 2013);
i = Perkembangan Lalu Lintas rata-rata dalam 5 tahun;
n = Jumlah tahun ( 3 tahun )
1. LHR masa perencanaan
n = 1 tahun
i = 6,68 %
LHR rencana = LHR tahun 2013 * ( 1 + i )n
= 50706,8* (1 + 0,062)1
= 53850,62 Smp
63
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
2. LHR awal umur rencana
n = 1 tahun
i = 6,2%
LHR pelaksanaan = LHR masa perencanaan * ( 1+ i )n
= 53850,62 * (1 + 0,062)1
= 57189,36 Smp
[Link] akhir umur rencana
n = 15 tahun
i = 6,2%
LHR pelaksanaan = LHR awal umur rencana * (1 + i )n
=57189,36 * (1+0,062)15
= 140988,27 Smp
[Link] rata-rata
LHR rata-rata = ½ * ( LHR awal umur rencana + LHR akhir umur rencana)
= ½ * (57189,36 + 140988,27)
= 99088,82 Smp/hari
3.1.2 Berdasarkan Muatan Sumbu Terberat (MST)
2100
12 610 128 90
0 0
30
Depan 20 26
0 0
30
Gambar 3.1 Kendaraan Dengan Beban Sumbu Terberat
Maksimal kendaraan yang melewati Ruas Jalan Batas Kota Ungaran –
Bawen adalah 50 ton.
64
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Tabel 3.3 Klasifikasi Jalan Menurut Kelas Jalan Berdasarkan Muatan
Sumbu Terberat
Muatan Sumbu Terberat MST
Fungsi Kelas
(ton)
I >10
Arteri II 10
IIIA 8
IIIA
Kolektor 8
IIIB
Sumber : Direktorat Jendral Bina Marga,”Peraturan Perencanaan Geometrik Jalan Raya no 13,
September 199
Tabel 3.4 Klasifikasi Jalan Menurut Kelas Jalan Berdasarkan Fungsinya
No Klasifikasi Fungsi Kelas LHR (smp)
1 Arteri I > 20.000
2 Kolektor IIIA 6.000 – 20.000
IIIB 1.500 – 8.000
IIIC < 2.000
3 Lokal
Sumber : Direktorat Jendral Bina Marga,”Peraturan Perencanaan Geometrik Jalan Raya no 13,
September 1997
Dari tabel 3.3 dan 3.4 Diatas dengan LHR > 20.000 smp dengan MST > 10 ton
sehingga Ruas Jalan Raya Ungaran – Bawen merupakan JALAN ARTERI
KELAS I .
65
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Tabel 3.5 Lebar Lajur Jalan Ideal
Fungsi Kelas Lebar Lajur Ideal (m)
Arteri I 3,75
II, III A 3,50
Kolektor III A, III B 3,00
Lokal III C 3,00
Sumber : Direktorat Jendral Bina Marga “Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota
No. 038/T/BM/1997, hal 17
Jadi, menurut Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota VLHR =
13,740 Smp/hari, maka terdiri dari 1 jalur 2 lajur 2 arah dengan Lebar Jalur ideal
adalah 6,0 m, Lebar Bahu ideal 1,5 m, dan Lebar Lajur ideal 3 m.
3.1.2 Menentukan Jenis Medan
Dari data tanah eksisting yang diperoleh dari gambar shop drawing pada
Pembangunan Jalan Cangkiran – Boja STA 2+500 s/d 5+250 propinsi Jawa
Tengah ini, dapat diketahui jenis medan, yaitu :
Tabel 3.6 MenentukanKemiringan Medan
ELEVASI KEMIRINGAN
STA DAMIJA
KANAN KIRI %
2+500 330,5 330,4 100,00 0,1
2+550 330,8 330,7 100,00 0,1
2+600 330,9 331,1 100,00 0,2
2+650 331,2 331,4 100,00 0,2
2+700 331,8 331,7 100,00 0,1
2+750 331,9 332,1 100,00 0,2
2+800 332,3 332,2 100,00 0,1
2+850 332,8 332,7 100,00 0,1
2+900 333,1 333,2 100,00 0,1
2+950 333,3 333,5 100,00 0,2
66
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
3+000 333,6 333,7 100,00 0,1
3+050 334,0 334,1 100,00 0,1
3+100 334,4 334,3 100,00 0,1
3+150 334,8 334,9 100,00 0,1
3+200 335,1 335,3 100,00 0,2
3+250 335,4 335,9 100,00 0,5
3+300 335,8 336,2 100,00 0,4
3+350 336,2 336,7 100,00 0,5
3+400 336,6 337,0 100,00 0,4
3+450 336,9 337,4 100,00 0,5
3+500 337,2 337,8 100,00 0,6
3+550 337,9 338,1 100,00 0,2
3+600 338,1 338,5 100,00 0,4
3+650 338,9 339,0 100,00 0,1
3+700 339,2 339,4 100,00 0,2
3+750 339,8 339,9 100,00 0,1
3+800 340,1 340,2 100,00 0,1
3+850 340,5 340,6 100,00 0,1
3+900 340,9 341,0 100,00 0,1
3+950 341,3 341,4 100,00 0,1
4+000 341,8 341,9 100,00 0,1
4+050 342,2 342,3 100,00 0,1
4+100 342,9 343,0 100,00 0,1
4+150 343,2 343,4 100,00 0,2
4+200 344,0 344,1 100,00 0,1
4+250 344,3 344,4 100,00 0,1
4+300 345,0 344,9 100,00 0,1
4+350 345,5 345,2 100,00 0,3
4+400 345,9 345,6 100,00 0,3
4+450 346,2 345,9 100,00 0,3
4+500 346,6 346,1 100,00 0,5
67
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
4+550 346,9 346,1 100,00 0,8
4+600 346,9 346,0 100,00 0,9
4+650 347,0 345,9 100,00 1,1
4+700 347,0 345,9 100,00 1,1
4+750 347,0 346,0 100,00 1,0
4+800 346,9 346,0 100,00 0,9
4+850 346,8 346,0 100,00 0,8
4+900 346,7 346,0 100,00 0,7
4+950 346,8 346,1 100,00 0,7
5+000 347,1 346,4 100,00 0,7
5+050 347,5 346,9 100,00 0,6
5+100 347,8 347,2 100,00 0,6
5+150 348,2 347,9 100,00 0,3
5+200 348,9 348,3 100,00 0,6
5+250 349,9 349,3 100,00 0,6
KETERANGAN RATA – RATA 0,35
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa berdasarkan hasil dari kemiringan
medan sebesar 0.35 %, maka Jalan Raya Ungaran-Bawen STA 2+500 s/d 5+250
propinsi Jawa Tengah adalah kondisi medan Datar karena <3%
3.3 Perencanaan Geometrik Jalan
Gambar 3.5 Trase Jalan
Titik Koordinat :
A =(0;0)
B = (675,010 ; 260,162 )
68
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
C = ( 1929,889 ; 505,257 )
D = ( 2533,747 ; 906,258 )
∆x
ZAB = arc tan
∆y
(675,010 + 0)
= arc tan
(260,162 + 0)
= 68° 55’ 25,52”
∆x
ZBC = arc tan
∆y
(675,010 + 1254,879)
= arc tan
(260,162 + 245,095)
= 78° 56’ 54,53”
∆x
ZCD = arc tan
∆y
(1929,889 + 603,858)
= arc tan
( 505,257 + 906,258 )
= 56° 24’ 47,71”
β1 = ZBC − ZAB
= 78° 56’ 54,53” - 68° 55’ 25,52”
= 10° 01’ 34,31”
β2 = ZBC − ZCD
= 78° 56’ 54,53” - 56° 24’ 47,71”
= 22° 32’ 6,82”
= 22,53°
3.3.1 Alinement Horisontal
1. Tikungan I
Data:
Kelas jalan : Arteri kelas I
Kondisi medan : Datar
69
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
β : 10° 01’ 34,31”
Kurva Rencana : FC ( Full Circle )
a. Menentukan Jenis Lengkung Horizontal
Menurut tabel dalam buku “Dasar-Dasar Perencanaan Geometrik Jalan Raya”
didapat data:
V rencana : 80 km/jam
Permisalan Rrencana : 1432 m
Didapat Ls = 70 m
e = 0,027 = 2,7 %
P= Ls2
24 * Rc
P = 0,14 < 0,25 dipakai Lengkung FC
b. Perhitungan Lengkung dengan metode FC
𝛽 10° 01’ 34,31"
𝑇𝑐 = 𝑅𝑐 𝑥 𝑡𝑔 = 1432 𝑡𝑔
2 2
= 125,28 𝑚
𝛽 10° 01’ 34,31”
𝐸𝑐 = 𝑇𝑐 𝑥 𝑡𝑔 = 125,28 𝑡𝑔
4 4
5,460 𝑚
𝛽 10
𝐿𝑐 = 𝑥 2𝜋 𝑥 𝑅𝑐 = 𝑥 2𝜋 𝑥 143
360 360
= 249,93 𝑚
70
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
c. Lengkul Full Circle (FC)
TS
Ls Ls
k
s s
Gambar 3.6Lengkung Full Circle (FC)
71
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
d. Diagram Superelevasi
Gambar 3.7 Diagram Superelevasi Lengkung Full Circle
2. Tikungan II
Data:
Kelas jalan : Arteri kelas I
Kondisi medan : Datar
β : 22° 32’ 6,82”
Kurva Rencana : FC ( Full Circle )
a. Menentukan Jenis Lengkung Horizontal
Menurut tabel dalam buku “Dasar-Dasar Perencanaan Geometrik Jalan Raya”
didapat data:
V rencana : 80 km/jam
Permisalan Rrencana : 1432 m
Didapat Ls = 70 m
e = 0.027 = 2,7 %
P= Ls2
24 * Rc
72
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
P = 0,14 < 0,25 dipakai Lengkung FC
b. Perhitungan Lengkung dengan metode FC
𝛽 22° 32’ 6,82”
𝑇𝑐 = 𝑅𝑐 𝑥 𝑡𝑔 = 1432 𝑡𝑔
2 2
= 285,232 𝑚
𝛽 22° 32’ 6,82”
𝐸𝑐 = 𝑇𝑐 𝑥 𝑡𝑔 = 285,232 𝑡𝑔
4 4
= 28,130 𝑚
𝛽 22° 32’ 6,82”
𝐿𝑐 = 𝑥 2𝜋 𝑥 𝑅𝑐 = 𝑥 2𝜋 𝑥 1432
360 360
= 563,094 𝑚
c. Lengkul Full Circle (FC)
TS
Ls Ls
k
s s
Gambar 3.8 Lengkung Full Circle (FC)
73
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
d. Diagram Superelevasi
Gambar 3.9 Diagram Superelevasi Lengkung Full Circle
74
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
3. Pelebaran Perkerasan Pada Tikungan
Tabel 3.15 Pelebaran Perkerasan Pada Tikungan
R Kecepatan Rencana, Vd (km/jam)
(m)
50 60 70 80 90 100 110 120
1500 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,1
1000 0,0 0,0 0,1 0,1 0,1 0,1 0,2 0,2
750 0,0 0,0 0,1 0,1 0,1 0,2 0,3 0,3
500 0,0 0,3 0,3 0,4 0,4 0,5 0,5
400 0,2 0,3 0,4 0,4 0,5 0,5
300 0,3 0,4 0,4 0,5 0,5
250 0,3 0,5 0,5 0,6
200 0,4 0,7 0,8
150 0,6 0,8
140 0,7 0,8
130 0,7 0,8
120 0,7 0,8
110 0,7
100 0,8
90 0,8
80 1,0
70 1,0
Menurut data dari tabel di atas, pelebaran pada tikungan adalah
- Tikungan B
Diperoleh 0,1 m< 0.5 m maka pelebaran diabaikan
- Tikungan C
Diperoleh 0,1 m< 0,5 m maka pelebaran diabaikan
75
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
3.3.2 Alinement Vertikal
Berdasarkan Buku Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota No. 038/T/BM/1997
halaman 36,
Kelandaian maksimal yang diijinkan untuk VR = 80 km/jam adalah 5 %
1. Lengkung Cembung Pada STA 0 + 910
Elv 335,0 Elv 339,52 Elv 340,86
STA 3+700 STA 4+876
STA 2+500
a. kelandaian :
339,5−335,0
g1 = x100 % = 0,37%
3700−2500
340,86−339,52
g2 = 4876−3700 x100 % = 0,11 %
A = | g1 - g2 | = 0,26 %
VR = 80 km/jam
Dari Tabel 2. 10 dan Tabel 2.11 Perencanaan Geometrik 1997, didapat :
Jh = 120 m (Jarak Pandang Henti)
Jd = 550 m (Jarak Pandang Mendahului)
b. Perhitungan lengkung
Syarat – syarat perhitungan lengkung vertical, antara lain :
1. Jarak pandang henti lengkung vertical cembung
𝐴𝑆² 0,26 𝑥 120 ²
L = 405 = = 9,244 m
405
[Link] minimum lengkung vertical
L = A . Y = 0,26 x 8 = 2,08 m
𝑆² 120²
L = 405 = 405 = 35,55 m
3. Berdasarkan Syarat kenyamanan
A x Vr² 0,26x 80²
Lv = 380 = 380 = 4,37 m
4. Berdasarkan Syarat Keluwesan Bentuk
L = 0,6 . V = 0,6 . 80 = 48 m
5. Berdasarkan Faktor Drainase
L = 40 . A = 40 . 0,26 = 10,4 m
Maka Lv yang diambil adalah 48 m
76
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
1/2 Lv=24 1/2 Lv=24 m
A x Lv 0,26 x 48
Ev = = = 0,0156 m
800 800
0,26 x 12²
Ya = = 0,0039 m
200 x 48
c. Perhitungan Elevasi
Titik C = + 340,860
Titik PLV = elevasi PPV - g1. Lv/2
= 339,52 - (0,37% x (48/2)) = + 330,64
Titik a = elevasi PPV - g1. Lv/4 - Ya
= 339,52 - (0,37 % x (48/4)) - 0,0039 = + 335,076
Titik b = elevasi PPV- Ev = 339,52 – 0,0156 = + 339,504
Titik c = elevasi PPV – g2. Lv/4 - Ya
= 339,52 - (0,11 % x (48/4)) – 0,0039 = + 338,196
Titik PTV = elevasi PPV – g2. Lv/2
= 339,52 - (0,11 % x (48/2)) = + 336,880
Titik C = + 340,860
[Link] Stationing
Titik A = STA 2+500
Titik PLV = 3+700 – (LV/2)
= 3+676
Titik a = 3+700 – (LV/4)
= 3+688
Titik b (PPV) = 3+700
Titik c = 3+700 + (LV/4)
= 3+712
77
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Titik PTV = 3+700+ (LV/2)
= 3+724
Titik C = STA 4+876
2. Lengkung Cekung Pada STA 1 + 360
Elv 349,80
Elv. 339,52 Elv. 340,86
Sta 3+700 Sta 4+786 STA 5+226
a. kelandaian :
340,86-339,52
g2 = x100 % = 0,11 %
4786-3700
349,80−340,86
g3 = 5226−4786 x100 % = 2,0 %
A = | g1 - g2 | = 1,89 %
VR = 80 km/jam
Dari Tabel 2. 10 dan Tabel 2.11 Perencanaan Geometrik 1997, didapat :
Jh = 120 m (Jarak Pandang Henti)
Jd = 550 m (Jarak Pandang Mendahului)
b. Perhitungan lengkung
Syarat – syarat perhitungan lengkung vertical, antara lain :
2. Jarak pandang henti lengkung vertical cembung
𝐴𝑆² 1,89 𝑥 120 ²
L = 405 = = 67,2 m
405
[Link] minimum lengkung vertical
L = A . Y = 1,89 x 8 = 15,12 m
𝑆² 120²
L = 405 = 405 = 35,55 m
3. Berdasarkan Syarat kenyamanan
A x Vr² 1,89 x 80²
Lv = = = 31,83 m
380 380
4. Berdasarkan Syarat Keluwesan Bentuk
L = 0,6 . V = 0,6 . 80 = 48 m
5. Berdasarkan Faktor Drainase
L = 40 . A = 40 . 1,89 = 75,6 m
78
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Maka Lv yang diambil adalah 75,6 m
A x Lv 1,89 x 75,6
Ev = = = 0,17
800 800
1,89 𝑥 37,82
𝑌𝐴 = =0,178
200 𝑥 75,6
c. Perhitungan Elevasi
Titik C = + 340,86
Titik PLV = elevasi PPV + g2. Lv/2
= 340,86 + ( 0,11 % x (75,6/2)) = + 378,770
Titik a = elevasi PPV + g2. Lv/4 + Ya
= 340,86 + ( 0,11 % x (75,6/4)) + 0,178 = + 434,117
Titik b = elevasi PPV + Ev
= 340,86 + 0,17 = + 341,030
Titik c = elevasi PPV + g3. Lv/4 + Ya
= 340,86 + ( 2,0 % x (75,6/4)) + 0,178 = + 378,838
Titik PTV = elevasi PPV + g3. Lv/2
= 340,86 + (2,0 % x (75,6/2)) = + 416,460
Titik D = + 349,80
e. Perhitungan Stationing
Titik B = STA 3+700
Titik PLV = 4+786 – (LV/2)
= 4+748,2
Titik a = 4+786 – (LV/4)
= 4+767,1
Titik b = STA 4+786
Titik c = 4+786 + (LV/4)
= 4+804,9
Titik PTV = 4+786 + (LV/2)
= 4+823,8
Titik D = STA 5+226
79
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
3.4 Perhitungan Tebal Perkerasan
3.4.1 Perhitungan Tebal Perkerasan Jalan
Pendataan lalu – lintas tahun 2013 untuk 2 arah ( kendaraan/hari )
1. LHR Masa Perencanaan i = 6,2 % n = 1 tahun
Tabel 3.7 Perhitungan LHR pada Awal Umur Rencana
Jenis Kendaraan LHR LHR data x (1+ 0,06)1
Mobil,jip 16117 17084,02
Mikro bus 7556 8009,36
Mobil barang 8033 8514,98
Bus Kecil 933,6 989,62
Bus Besar 1764 1869,84
Truk ringan 12470,4 13218,62
Truk sedang 2172 2302,32
Truk berat 360 381,6
Truk trailer 1300,8 1378,85
Jumlah 53749,21
2. LHR Masa Pelaksanaan i = 6,2 % n = 15 tahun
Tabel 3.8 Perhitungan LHR pada Akhir Umur Rencana
Jenis Kendaraan LHR LHR pada awal umur rencana x (1+ 0,06)15
Mobil,jip 17084,02 40942,85
Mikro bus 8009,36 19194,90
Mobil Barang 8514,98 20406,65
Bus Kecil 989,62 2371,67
Bus Besar 1869.84 4481,18
Truk ringan 13218,62 31679,20
Truk sedang 2302,32 5517,64
Truk berat 381,6 914,53
Truk trailer 1378,85 3304,49
Jumlah 128813,10
80
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
3. Jumlah Lajur dan Koefisien Distribusi Kendaraan (C)
Ruas Jalan Batas Kota Ungaran - Bawen terdiri dari 2 jalur 4 lajur – 2 arah, dari
Tabel 2.13 Koefisien Distribusi Kendaraan ( C ) di dapat :
[Link] ringan C = 0,30 < 5 ton
[Link] berat C = 0,45 > 5 ton
Prosentase kendaraan ringan (< 5 ton) = x 100%
= (31706/50706,8) x 100%
= 62,53%
Prosentase kendaraan berat (>5 ton) = x 100%
= (19000,8/50706,8 x 100%
= 37,47 %
4. Angka Ekivalen Beban Sumbu Kendaraan (E)
Angka ekivalen masing – masing golongan kendaraan dapat dilihat pada tabel
2.13 Angka Ekivalen ( E ) Sumbu Kendaraan pada bab II dan didapat angka
ekivalen sebagai berikut :
Tabel 3.10 Perhitungan Ekivalen
Jenis Kendaraan Ekivalen
Mobil,jip 0,0004
Mikro bus 0.0072
Mobil Barang 0.0072
Bus Kecil 0.0613
Bus Besar 0.1593
Truk kecil 0.3500
Truk sedang 1.0648
Truk besar 1.0375
Truk trailer 1.3195
81
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
5. Lintas Permulaan (LEP)
Tabel 3.11 Perhitungan Lintas Ekivalen Permulaan (LEP)
Lintas Ekivalen
LHR pada
Permulaan (LEP)
Jenis Kendaraan awal umur C E
LHR pada awal umur
Rencana
Rencana x C x E
Mobil,jip 17084,02 0.30 2,05
0.0004
Mikro bus 8009,36 0.30 17,30
0.0072
Mobil barang 8514,98 0.45 27,59
0.0072
Bus Kecil 989,62 0.45 27,30
0.0613
Bus Besar 1869,84 0.45 134,04
0.1593
Truk ringan 13218,62 0.45 2081,93
0.3500
Truk sedang 2302,32 0.45 1103,18
1.0648
Truk besar 381,6 0.45 178,16
1.0375
Truk trailer 1378,85 0.45 818,73
1.3950
Jumlah LEP 4390,27
6. Lintas Ekivalen Akhir (LEA)
Tabel 3.12 Perhitungan Lintas Ekivalen Akhir (LEA) 15 Tahun
LHR Akhir Lintas Ekivalen Akhir (LEA)
Jenis Kendaraan Umur C E LHR Akhir Umur Rencana 15
Rencana 15 xCxE
Mobil,jip 2,05 0.30 4,91
0.0004
Mikro bus 17,30 0.30 41,46
0.0072
Mobil Barang 27,59 0.45 66,12
0.0072
Bus Kecil 27,30 0.45 65,42
0.0613
Bus Besar 134,04 0.45 321,23
0.1593
Truk ringan 2081,93 0.45 4989,47
0.3500
Truk sedang 1103,18 0.45 2643,83
1.0648
Truk besar 178,16 0.45 426,97
1.0375
Truk trailer 818,73 0.45 1962,12
1.3950
Jumlah LEA 10521,55
82
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
7. Perhitungan Lintas Ekivalen Tengah (LET)
LET 15 = ∑ 𝐿𝐸𝑃 + ∑ 𝐿𝐸𝐴
2
= 4390,27+10521,55
2
LET 15 = 7455,91 kendaraan
8. Perhitungan Lintas Ekivalen Rencana (LER)
LER = LET x FP (faktor pengaruh) ; FP = umur rencana / i
15
= 7455,91 x
10
LER = 11183,87 kendaraan
9. Mencari ITP ( Index Tebal Perkerasan )
Tabel 3.13 Perhitungan CBR Tanah
Jumlah yang sama Persen (%)yang sama
CBR
atau lebih besar atau lebih besar
3.3 10 100
4.4 9 90
5.7 8 80
6.1 7 70
6.5 6 60
6.7 5 50
13.0 4 40
15.0 3 30
27.8 2 20
28.4 1 10
83
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Gambar 3.6 Grafik CBR
Dari grafik didapat CBR tanah dasar pada 90% adalah 4,8 %
Nilai DDT = 4,7 %
Tabel 3.14 Indeks Permukaan Pada Akhir Umur Rencana (IP)
Klasifikasi Jalan
LER= Lintasan Ekivalen
lokal kolektor arteri Tol
rencana
1,0 – 1,5 1,5 1,5 – 2,0 -
<10
1,5 1,5 – 2,0 2,0 -
10 -100
1,5 -2,0 2,0 2,0 – 2,5 -
100 -1000
- 2,0 – 2,5 2,5 2,5
>1000
Nilai IP untuk jalan arteri dengan LER 11183,87 kendaraan = 2,5
84
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Tabel 3.15 Faktor Regional
Dengan intensitas hujan rata – rata 3 tahun terakhir yaitu 2000,33 mm/th
(>900mm/th), kelandaian 5% (<6%) serta % kendaraan berat 37,47 maka Nilai FR
di dapat 2,0 – 2,5
Digunakan nomogram 1 dengan data :
LER = 11183,87 kendaraan
Ip = 2,5
Ipo = ≥ 4
FR = 2,0 – 2,5
Sehingga pembacaan ITP menggunakan nomogram 1 Pekerjaan Tebal Perkerasan
Lentur Jalan Raya Dengan Metode Analisa Komponen 1987”.
Dari nomogram 1 di dapatkan ITP = 13,5 dan ĪTP = 14,4
10. Menentukan Tebal Perkerasan Jalan
Keterangan :
a1, a2, a3 = koefisien relatif bahan – bahan perkerasan
(dari Tabel 2.18)
D1, D2, D3 = Tebal masing – masing perkerasan
(dari Tabel 2.19 dan Tabel 2.20)
(angka 1, 2, 3 masing – masing berarti lapis permukaan, lapis pondasi atas,
dan lapis pondasi bawah)
85
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
o Koefisien relatif bahan :
Lapis permukaan (Laston MS 744) = 0,40 (a1)
Lapis pondasi (agregat klas A (CBR 100 %)) = 0,14 (a2)
Lapis pondasi bawah (sirtu (CBR 70 %)) = 0,13 (a3)
Rumus umum :
ITP = a1.D1 + a2.D2 + a3.D3
Keterangan :
a1, a2, a3 = Koefisien relatif bahan-bahan perkerasan
D1, D2, D3 = Tebal masing-masing perkerasan
(angka 1, 2, 3 masing-masing berarti lapis permukaan, lapis pondasi atas,
dan lapis pondasi bawah).
ITP = a1 D1 + a2 D2 + a3 D3
14,4 = 0,40 . 12 + 0,14 . 30 + 0,13 . D3
14,4 = 0,13 . D3 + 9
D3 = (14,4 – 9) / 0,13
D3 = 41,5 cm diambil D3 = 42 CM
Jadi tebal perkerasan yang digunakan adalah
Laston MS 744 12 cm
Batu Pecah kelas A 30 cm
Sirtu kelas A 42 cm
Gambar 3.7 Tebal Perkerasan Rencana
11. Menentukan Tebal Perkerasan Bahu Jalan
Dalam proses menghitung tebal perkerasan pada bahu jalan menggunakan
langkah sebagai berikut:
Po(1 0,7 log( .n.. )
He = 20
CBR
86
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Keterangan:
He = h ekivalen terhadap batu pecah
Po = lalu lintas ekivalen yang diperhitungkan
n = lalu lintas ekivalen rencana
η = faktor curah hujan
δ = faktor drainase
μ = umur rencana
Kendaraan yang diperhitungkan yang melewati sumbu jalan diambil
yang terberat adalah truck 5 as dengan beban maksimum 50 ton.
S D D
18 % 28% 54 %
Gambar 3.8 Distribusi Beban
S = roda tunggal pada ujung sumbu
D = roda ganda pada ujung sumbu
Beban roda depan = 50 x 18% = 9 ton
Beban roda belakang = 50 x 28% = 14
ton
Beban roda belakang (ganda) = 50 x 54% = 27 ton
Maka Po didapat = 0.5 x 27 = 13,5 ton
Faktor drainase (δ) diambil = 2,5
Faktor curah hujan (η) diambil =2
Tabel 3.17 Faktor drainase
Klasifikasi Air Tanah Jenis Tanah Faktor Drainase
Bagus Dalam Butir Kasar 1,0 – 1,5
Baik Dalam Butir Halus 1,5 – 2,5
Sedang Tinggi Butir Kasar 2,5 – 3,5
Jelek Tinggi Butir Halus 3,5 – 5,0
Didapat faktor drainase δ = 2,5-3,5 diambil δ = 2,5
87
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Tabel 3.18 Faktor Curah Hujan
Curah hujan P.I 10
P.I = 10 - 20 P.I = 20 - 30
/jenis tanah ( Plasticity index )
Jarang = 1,25 – 1,75 = 2,00 – 2,50 = 2,50 – 3,00
Sedang = 1,75 – 2,50 = 2,50 – 4,00 = 3,00 – 6,00
Banyak = 2,50 – 7,00 = 4,00 – 7,00 = 6,00 – 12,50
Hasil dari laboratorium PI didapat <10 maka didapat = 1,75 – 2,50, di ambil
faktor curah hujan (η) sedang = 2,0
CBR untuk bahu jalan 4,7 %
Berdasarkan data lalu lintas sebagai berikut :
LER = 11183,87
No = .n. .
= 15 x 11183,87 x 2 x 2.5
= 838790,25
Po(1 0.7 log( .n.. ))
He15 = 20
CBR
= 80,21 cm
Tabel 3.19 Nilai Ekivalen dan koefisien Kekuatan Relatif
Nilai Ekivalen Terhadap Aspal Koefisien Kekuatan
Jenis Perkerasan
Beton Relatif
Surface 1.00 0.40
Base 0.50 0.14
Sub Base 0.37 0.13
Sumber : Badan Penerbit Pekerjaan Umum,”Konstruksi Jalan Raya”
Perbandingan tiap lapis perkerasan dengan rumus :
NilaiEkivalen 1
Suface = = = 2,5 (a1)
Koef .Kekua tan Re latif 0,4
NilaiEkivalen 0.5
Base = = 0.14 = 3,57 (a2)
Koef .Kekua tan Re latif
88
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
NilaiEkivalen 0,37
Sub Base = = = 2,85 (a3)
Koef .Kekua tan Re latif 0,13
a1,a2,a3 = nilai ekivalen / koefisien kekuatan relatif
Menentukan tebal perkerasan bahu jalan.
tebal perkerasan bahu jalan umur rencana 20 tahun
He15= (a1 . D1) + (a2 . D2) + (a3 . D3)
80,21 = (2,5.0,40) + (3,57.0,13) + 2,85 . D3
D3 = 27,63 cm 28 cm
Sirtu Kelas A
28 cm
3.4 Drainase saluran
3.4.1 Perhitungan Saluran Samping
4% 2% 2% 4%
3.75 m 3.75 m 3,75m 3.75 m
2m 2m
Gambar 3.9 Sketsa Potongan Melintang Jalan Saluran Drainase
1. Menghitung Intesitas curah hujan
Tabel 3.19 Data Curah Hujan
No Bulan Data Curah Hujan Xi (Xi-X) (Xi-X)^2
1 Januari 14 14 -13.42 180.01
2 Februari 22 22 -5.42 29.34
3 Maret 24 24 -3.42 11.67
4 April 37 37 9.58 91.84
5 Mei 30 30 2.58 6.67
6 Juni 22 22 -5.42 29.34
7 Juli 30 30 2.58 6.67
8 Agustus 20 20 -7.42 55.01
9 September 22 22 -5.42 29.34
10 Oktober 23 23 -4.42 19.51
11 November 50 50 22.58 510.01
12 Desember 35 35 7.58 57.51
Jumlah 329 1026.92
X 27.42
89
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
2. Menghitung Standar Deviasi ( Sx )
Xi
=
n
329
= = 27,42 mm
12
1026.92
Sx = √ = 9,25 mm
12
3. Menentukan nilai Yt, Yn dan Sn
Dari Tabel 2.36 bab II dengan periode ulang tahun 10 tahun didapatakan
Yt = 2,2502
Dari Tabel 2.37 dan 2.38 bab II untuk n= 10, di dapatkann :
Yn = 0,4952 dan Sn = 0,949
4. Menghitung XT
Sx
XT = + (Yt Yn )
Sn
9,25
= 27,42 + (2,2502 − 0,4952)
0,9496
= 44,52 mm
5. Menghitung I
Nb. Bila curah hujan efektif dianggap mempunyai penyebaran yang
seragam selama 4 jam
90% * XT
I =
4
90 % x 44,52
= 4
= 10,02 mm/jam
6. Perhitungan debit rencana dengan metoda Rasional:
Qr = 0.278 x Cw x I x A
Dimana:
Qr = Debit rencana (m3/dt)
A= Luas area (m2)
90
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Lebar jalur (L1) = 7,5 m
Lebar bahu jalan (L2) = 2,5 m
Lebar tanah samping (L3) = 50 m
D terpanjang = 891,65 m
A1 = 7,5 x 891,65 = 6687,375 m²
A2 = 2,5 x 891,65 = 2229,125 m²
A3 = 50 x 891,65 = 44582,5 m²
A = A1 + A2 + A3 = 53499 m² = 0,0535 km2
I = Intensitas hujan = 10,02 mm/jam
Cw = Koefisien rata-rata daerah pengaliran
- Aspal beton (C1) = 0.7
- Bahu jalan (C2) = 0.1
- Daerah perkotaan (C3) = 0.70
C1 . A1 C 2. A2 C3 . A3
Cw =
A1 A2 A3
Cw = 0,675
Qr = 1/3,6 x Cw x I x A
Qr = 1/3,6 x 0,675 x 10,02 x 0,0535
= 0,1005 m3/det
3.4.2 Menghitung dimensi Penampang Basah Selokan Samping
1. Saluran direncanakan dari pasangan batu dengan kecepatan ijin
1,5 m/detik
V = 1,5 m/det ( V untuk pasangan batu )
Qr =VxA
0,1005 = 1,5 x A
A = 0,1005 / 1,5 = 0,067 m2
2. Perhitungan Dimensi Saluran
Untuk penampang persegi,syarat minimal b = 0,7 m
A= bxh
0,067 = 0,7 x h
h = 0,096 0,50 m
Dengan w (tinggi jagaan) w = 0.5.d = 0,4 m
91
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
90 cm
70 cm
Gambar 3.10 Saluran drainase
3.5 Perhitungan Gorong-gorong
Pada pembuatan gorong – gorong struktur ruas Jalan Batas Kota Ungaran
– Bawen STA 2+500 s/d 5+250 Provinsi Jawa Tengah sebagai berikut :
STA 1+360
D=450 m D = 392 m
Q2 Q1
1. Perhitungan Q(Debit Rencana)
Dengan I = 10,02 mm/jam dan C = 0,675; maka :
- A1 = ½ * Damija * D
= ½ * 50 * 450 = 45000 m2 = 0,045 km2
Q1 = 1/3,6 * C * I * A
= 1/3,6 * 0,675 * 10,02* 0,045
= 0,085 m3 / det
Dengan I = 10,02 mm/jam dan C = 0,675 maka :
- A2 = ½ * Damija * D
= ½ * 50 *392
= 9800 m2 = 0.0098 km2
- Q2 = 1/3.6 * C * I * A
92
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
= 1/3,6 * 0,675 * 10,02 * 0,0098 = 0,018 m3 / det
Maka, Qtotal = Q1 + Q2
= 0,085 + 0,018
= 0,103 m3 / det
2. Menentukan dimensi Gorong-gorong
Dengan Q = 0,103 m3 /det dan V = 1,5 m/det maka :
Q =A*V
0,103 = A * 1,5
A = 0,069 m2
A = ¼ * π * D2
0,069 = ¼ * 3.14 * D2
D2 = 0,
D = 0,296 m = 0,5 m
0,5 m
Gambar 3.11 Dimensi Gorong – Gorong I
93
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
BAB IV
RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT
4.1 Syarat – syarat Umum
Pasal 1
Persyaratan Umum
a. Peserta lelang adalah mereka yang telah diundang oleh Panitia Lelang
Proyek / Bagian Proyek Inpres Jalan dan Jembatan.
b. Peserta lelang yang berminat mengikuti pelelangan diharuskan mengambil
Dokumen Lelang, terdiri dari :
Buku I :
1. Instruksi Kepada Peserta Lelang
2. Syarat Persyaratan
3. Syarat – syarat Umum
4. Syarat – syarat Teknis
Buku II :
1. Gambar Desain
2. Risalah rapat penjelasan dapat diambil sebelum pemasukan
penawaran. Peserta pelelangan hadir pada waktunya di tempat yang
telah ditentukan dalam undangan.
c. Dalam acara penjelasan pekerjaan (Aanwizing) kepada peserta lelang akan
diberikan penjelasan – penjelasan oleh panitia lelang mengenai :
1. Ketentuan – ketentuan pelelangan
2. Prosedur pelelangan
3. Penjelasan di lapangan
94
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Pasal 2
Syarat Penawaran
a. Sesuai dengan Keputusan Presiden No. 16/1994, kepada para penawar yang
ikut dalam pelelangan / tender apabila besarnya lebih dari Rp 50.000.000,00
diwajibkan menyerahkan surat jaminan yang dikeluarkan oleh lembaga
penjamin yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
b. Besarnya jaminan penawaran berkisar antara 1 – 3 % dari harga penawaran
untuk keseragaman besarnya akan ditentukan pada waktu Aanwizing.
c. Jaminan penawaran tersebut akan dikembalikan apabila yang bersangkutan
tidak menjadi pemenang dalam pelelangan.
d. Jaminan penawaran menjadi milik negara apabila mengundurkan diri setelah
memasukkan surat penawaran ke dalam kotak pelelangan, peserta yang
menang berhak menerima surat penunjukkan.
e. Penawaran yang telah ditunjuk sebelum menandatangani kontrak diwajibkan
memberi jaminan pelaksanaan yang dikeluarkan oleh lembaga penjamin yang
besarnya ditentukan 5% dari nilai kontrak (bagi penawar yang besarnya Rp
50.000.000,00) yang berlaku sampai dengan selesainya masa pemeliharaan.
f. Pada saat jaminan pelaksanaan diterima oleh Pemimpim Proyek maka jaminan
penawaran yang bersangkutan dikembalikan.
g. Bila pelelangan dinyatakan batal maka jaminan penawaran dikembalikan.
Pasal 3
Pelaksanaan Penawaran
a. Penawaran dilaksanakan dengan sistem satu sampul yang disediakan oleh
pemborong.
b. Sampul tersebut berisi :
1. Surat penawaran rangkap lima, dibuat pada kertas yang berkop
perusahaan masing – masing. Surat penawaran tersebut diisi lengkap
diberi tanggal, nama jelas, materai Rp 6.000,00 dan pada materai
tersebut diberi nama jelas penawar, ditandatangani dan disetempel
perusahaan.
95
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
2. Daftar Perincian Biaya Pekerjaan (Daftar Kuantitas dan Harga) rangkap
lima dibuat sesuai formulir yang telah disediakan oleh panitia. Daftar
Perincian Biaya Pekerjaan termasuk diberi tanggal, nama jelas penawar
dan setempel perusahaan.
3. Daftar upah dan harga bahan rangkap lima dibuat sesuai dengan format
yang disediakan panitia. Daftar upah dan harga bahan tersebut diberi
tanggal, ditandatangani, diberi nama jelas penawar dan setempel
perusahaan.
4. Daftar harga satuan rangkap lima dibuat sesuai dengan formulir yang
disediakan oleh panitia. Daftar harga satuan pekerjaan tersebut diberi
tanggal, ditandatangani, diberi nama jelas penawar dan setempel
perusahaan.
5. Rencana kerja rangkap lima dibuat sesuai formulir yang disediakan
panitia, diberi tanggal, ditandatangani, diberi nama jelas penawar dan
setempel perusahaan.
6. Daftar personel dan pealatan yang akan ditempatkan di proyek rangkap
lima dibuat sesuai formulir yang disediakan panitia, diberi tanggal,
ditandatangani, diberi nama jelas penawar dan setempel perusahaan.
7. Surat jaminan asli bagi penawar yang besarnya lebih dari Rp
50.000.000,00 rangkap lima.
8. Salinan surat keterangan NPWP yang masih berlaku pada saat
pelelangan dan dapat dibuktikan kebenarannya pada waktu pembukaan
surat penawaran.
9. Surat keterangan bank dan empat lembar salinannya yang masih berlaku
pada saat pelelangan.
10. Surat pernyataan bukan pegawai negeri sipil / ABRI di atas materai Rp
6.000,00 dan empat lembar salinannya, dibuat pada formulir yang
disediakan panitia.
11. Salinan surat keterangan Pra Kualifikasi rangkap lima.
12. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP).
13. Kesanggupan Astek.
14. Kesanggupan membayar jaminan pelelangan.
96
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
15. Kesanggupan membayar retribusi bahan galian golongan C.
16. Surat undangan.
17. Akte pendirian.
18. Pernyataan ikut tender.
19. Neraca perusahaan.
20. Pemilihan modal.
21. Referensi pekerjaan.
22. Susunan pengurus.
c. Sampul yang telah diisi pada ayat b, angka 1 s/d 22 di atas dan dilem.
Sampulan penawaran kemudian dimasukkan ke dalam kotak pelelangan yang
tertutup, terkunci dan disegel yang disediakan oleh panitia.
d. Pembukaan surat penawaran
1. Pada waktu yang telah ditentukan oleh panitia menyatakan dihadapan para
penawar bahwa saat penyampaian surat penawaran sudah ditutup.
2. Setelah penyampaian surat penawaran telah tutup tidak dapat lagi diterima
surat penawaran, surat keterangan, dan sebagainya dari para penawar.
3. Panitia membuka kotak dan sampul surat penawaran dihadapan para
penawar. Semua surat penawaran dan surat keterangan dibaca dengan jelas
hingga terdengar oleh semua penawar.
4. Semua penawaran yang disampaikan, lalu panitia menyampaikan mana
yang sah dan mana yang tidak sah serta mencantumkan dalam berita acara.
5. Kelalaian dan kekurangan yang dijumpai dalam surat penawaran
dinyatakan pula dalam berita acara.
6. Para penawar yang hadir diberi kesempatan melihat surat – surat
penawaran yang disampaikan oleh panitia.
7. Setelah pembacaan dan penetapan sahnya surat penawaran, panitia
membuat berita acara pembukaan surat penawaran.
8. Berita acara setelah dibaca dengan jelas ditandatangani oleh panitia dan
sekurang – kurangnya dua orang wakil dari penawar.
e. Penawaran yang tidak sah
1. Penawar yang tidak diundang ikut menawar.
97
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
2. Terdapat nama penawar, harga penawaran dan data lainnya yang dapat
dianggap sebagai identitas penawar pada sampulnya.
3. Tidak melengkapi syarat – syarat penawaran yang sesuai dengan ketentuan
di atas.
4. Tidak jelas besarnya penawaran baik dengan angka maupun dengan huruf.
5. Harga penawaran yang tercantum dalam angka tidak sesuai dengan huruf.
6. Surat penawaran dikirimkan kepada anggota panitia pelelangan / pejabat.
f. Apabila diperlukan panitia dapat memanggil penawar untuk diminta
penjelasannya lebih lanjut mengenai penawarannya.
4.2 Syarat – syarat Administrasi
Pasal 1
Istilah
Yang dimaksud dengan :
1. Pengguna Anggaran adalah Kepala Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Tengah
sebagai pemilik pekerjaan yang bertanggung jawab atas pelaksanaan
pengadaan barang atau jasa dalam lingkungan Dinas Bina Marga Provinsi
Jawa Tengah.
2. Kuasa Pengguna Anggaran adalah pejabat yang ditunjuk oleh Pengguna
Anggaran untuk menggunakan anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah.
3. Pejabat Pembuat Komitmen adalah pejabat yang diangkat oleh Pengguna
Anggaran / Kuasa Pengguna Anggaran yang bertanggung jawab atas
pelaksanaan pengadaan barang / jasa.
4. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan adalah pejabat yang diangkat oleh
Pengguna Anggaran / Kuasa Pengguna Anggaran sebagai pembantu pemilik
pekerjaan yang bertanggung jawab atas pelaksanaan barang atau jasa.
5. Jasa pemborongan adalah layanan pelaksanaan pekerjaan konstruksi yang
perencanaan teknis dan spesifikasinya ditetapkan Kuasa Pengguna Anggaran /
Pejabat Pembuat Komitmen / Pejabat Pelaksan Teknis Kegiatan dan proses
serta pelaksanaannya diawasi oleh Kuasa Pengguna Anggaran / Pejabat
98
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Pembuat Komitmen / Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan atau pengawas
konstruksi yang ditugasi.
6. Wakil Kuasa Pengguna Anggaran / Pejabat Pembuat Komitmen / Pejabat
Pelaksana Teknis Kegiatan adalah pejabat, orang atau perusahaan yang
diangkat oleh Kuasa Pengguna Anggaran / Pejabat Pembuat Komitmen /
Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan untuk melaksanakan tugas yang ditetapkan
dalam Syarat Umum Kontrak.
7. Panitia Pengadaan adalah tim yang diangkat oleh Kuasa Kuasa Pengguna
Anggaran / Pejabat Pembuat Komitmen / Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan
untuk melaksanakan pemilihan Penyedia Barang / Jasa.
8. Penyedia Barang / Jasa adalah perusahaan atau mitra kerja yang melaksanakan
pengadaan barang atau jasa yang telah menandatangani kontrak (kontraktor,
konsultan, supplier).
9. Pemeriksaan (opname) adalah kegiatan memeriksa, menilai hasil / kemajuan
dan atau keadaan mutu bahan di lapangan.
10. Pengujian (testing) adalah kegiatan memeriksa, meneliti hasil dan atau
menguji mutu hasil pekerjaan / bahan.
11. Pematokan (stake out) adalah penjabaran gambar – gambar berupa tanda –
tanda duga yang menggambarkan arah dan jarak ketinggian lapangan.
12. Pengukuran (measurement) adalah kegiatan mengukur panjang, lebar, tinggi,
luas atau hasil pekerjaan.
13. Spesifikasi adalah spesifikasi yang dimaksud dalam dokumen rencana kerja
dan syarat – syarat dan setiap perubahan / modifikasi dan atau tambahan yang
harus terlebih dahulu disetujui secara tertulis oleh direksi / pengawas.
14. Gambar rencana adalah gambar – gambar yang dimaksud dalam spesifikasi
dan tiap perubahan atau tambahan gambar dan gambar – gambar lain yang
disetujui secara tertulis oleh direksi / pengawas.
15. Persetujuan atau disetujui adalah pernyataan tertulis dari direksi (pengawas
lapangan) atau pemimpin proyek meliputi tulisan atau catatan dalam Buku
Direksi atau dalam bentuk surat khusus.
99
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Pasal 2
Jaminan Penawaran
1. Jaminan penawaran berupa surat jaminan bank milik pemerintah atau lembaga
keuangan lain yang ditetapkan oleh menteri keuangan kepada pemimpin
proyek.
3. Bagi penyedia barang atau jasa yang lain tidak ditetapkan sebagai pemenang
pelelangan, jaminan penawaran diberikan kembali satu minggu setelah
pemenang lelang ditetapkan.
4. Bagi penyedia barang atau jasa yang ditetapkan sebagai pemenang pelelangan,
diberikan kembali saat jaminan pelaksanaan diterima oleh pemimpin proyek.
Pasal 3
Jaminan Pelaksanaan
1. Jaminan pelaksanaan ditetapkan 5% dari nilai kontrak.
2. Jaminan pelaksanaan diterima oleh pemimpin proyek setelah penunjukkan dan
sebelum penandatanganan kontrak.
3. Jaminan pelaksanaan dapat dikembalikan bilamana prestasi telah mencapai
100% dan pekerjaan sudah diserahkan untuk pertama kalinya dan diterima
baik oleh pemimpin proyek (disertai Berita Acara Penyerahan Pertama).
Pasal 4
Rencana Kerja (Time Schedule)
1. Penyedia barang atau jasa harus membuat rencana kerja pelaksanaan kerja
yang disetujui oleh pemimpin proyek selambat – lambatnya satu minggu
setelah SPK diterbitkan serta daftar nama pelaksanaan yang diserahkan untuk
penyelesaian proyek ini.
2. Penyedia barang atau jasa diwajibkan melaksanakan pekerjaan menurut
rencana kerja tersebut.
100
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
3. Penyedia barang atau jasa tetap bertanggung jawab atas penyelesaian
pekerjaan tepat pada waktunya.
Pasal 5
Laporan Harian dan Mingguan
1. Konsultan pengawas diwajibkan tiap minggu mengirimkan laporan kepada
pemimpin proyek mengenai prestasi pekerjaan disertai laporan harian dan
mingguan dibuat oleh pengawas lapangan dan dilegalisir oleh yang
berwenang.
2. Penilaian persentase kerja atas dasar pekerjaan yang telah dikerjakan tidak
termasuk adanya bahan – bahan di tempat pekerjaan dan tidak atas dasar
besarnya pengeluaran uang oleh penyedia barang atau jasa.
3. Blanko laporan harian dan mingguan dibuat dengan kesepakatan bersama.
Pasal 6
Pembayaran
1. Pembayaran angsuran pekerjaan pemborong akan ditentukan dalam
penyusunan kontrak penyedia barang atau jasa.
2. Tiap pengajuan pembayaran angsuran harus disertai Berita Acara Pemeriksaan
Pekerjaan dan dilampiri hasil opname pekerjaan dan foto – foto dokumentasi.
Pasal 7
Surat Perjanjian Kontrak
1. Surat perjanjian kontrak seluruhnya dibubuhi materai Rp 6.000,00 atas biaya
pemborong.
2. Surat perjanjian kontrak dibuat rangkap empat belas atas biaya penyedia
barang atau jasa.
3. Konsep kontrak dibuat oleh pemimpin proyek.
101
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
4. Dokumen kontrak harus diintrepetasikan satu kesatuan yang tidak dapat
dipisahkan dengan urutan prioritas sebagai berikut :
a. Surat perjanjian termasuk Addendum kontrak jika ada
b. Surat keputusan penerapan
c. Surat penawaran
d. Addendum dokumen lelang jika ada
e. Data kontrak
f. Rencana kerja dan syarat – syarat
g. Gambar – gambar
h. Daftar kuantitas yang telah diisi
i. Harga penawaran
Pasal 8
Permulaan Pekerjaan
1. Selambat – lambatnya dalam waktu satu minggu terhitung dari SPK
dikeluarkan oleh pemimpin proyek pekerjaan harus sudah dimulai.
2. Penyedia barang atau jasa wajib memberitahukan kepada pemimpin proyek
jika akan memulai pekerjaan.
Pasal 9
Penyerahan Pekerjaan
1. Jangka waktu pelaksanaan selama 180 hari kalender termasuk hari minggu
dan hari raya.
2. Pekerjaan dapat diserahkan untuk pertama kalinya jika pekerjaan telah selesai
100% dan dapat diterima dengan baik oleh pemimpin proyek disertai Berita
Acara dan dilampiri daftar kemajuan pekerjaan serta foto berwarna.
3. Untuk dapat memudahkan dalam suatu penelitian, sewaktu diadakan
pemeriksaan teknis dalam rangka penyerahan pertama, maka Surat
102
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Permohonan Pemeriksaan Teknis yang diajukan kepada pemimpin proyek
dilampirkan berikut :
a. Daftar kemajuan pekerjaan 100%
b. Satu album foto berwarna yang menyatakan prestasi kerja 0% - 100%
4. Surat Permohonan Pemeriksaan Teknis yang dikirimkan kepada pemimpin
proyek harus sudah dikirimkan selambat – lambatnya tujuh hari sebelum batas
waktu penyerahan pertama kali berakhir.
5. Dalam penyerahan pekerjaan pertama jika terdapat pekerjaan instalasi listrik
maka pihak penyedia barang atau jasa harus menunjukkan keterangan dari
instalatur terdaftar di PLN kepada pemilik proyek. Jika pihak kedua tidak
dapat menunjukkan surat pengesahan instalasi listrik, penyerahan pekerjaan
pertama harus ditangguhkan agar tidak menjadi kesulitan dikemudian hari
pada saat akan menyambung aliran listrik.
Pasal 10
Masa Pemeliharaan
1. Jangka waktu pemeliharaan adalah selama 3 bulan kalender /90 hari kalender
setelah penyerahan pertama.
2. Bilamana pada masa pemeliharaan terjadi kerusakan akibat kurang
sempurnanya pelaksanaan dan kurang baiknya mutu bahan – bahan yang
dipergunakan maka penyedia barang atau jasa harus segera memperbaiki dan
menyempurnakannya.
Pasal 11
Perpanjangan Waktu Penyerahan
1. Surat permohonan perpanjangan waktu penyerahan yang pertama diajukan
kepada pemimpin proyek harus sudah diterima selambat – lambatnya lima
belas hari sebelum batas waktu penyerahan pertama kali. Surat tersebut supaya
dilampiri data yang lengkap serta time schedule baru yang sudah disesuaikan
dengan sisa pekerjaan.
103
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
2. Surat permohonan perpanjangan waktu tanpa data yang lengkap tidak akan
dipertimbangkan.
3. Permintaan perpanjangan waktu penyerahan pekerjaan yang pertama dapat
diterima oleh pemimpin proyek jika :
a. Adanya pekerjaan tambahan lagi setelah atau sebelum kontrak
ditandatangani oleh kedua belah pihak.
b. Adanya surat perintah tertulis dari pemimpin proyek pekerjaan tambahan.
c. Adanya perintah tertulis dari pemimpin proyek.
d. Adanya force majeur (bencana alam, gangguan keamanan, pemogokan,
perang) akan ditangguhkan kepada pihak berwenang.
e. Adanya gangguan curah hujan yang terus menerus ditempat pekerjaan
secara langsung mengganggu pekerjaan yang dilaporkan oleh konsultan
pengawas dan dilegalisir oleh unsur teknis yang bersangkutan.
f. Pekerjaan tidak dapat dimulai pada waktu yang telah ditentukan karena
lahan yang dipakai masih terdapat permasalahan.
Pasal 12
Sanksi atau Denda
1. Bilamana batas waktu penyerahan pekerjaan yang pertama kali dilampaui
(tidak dipenuhi) maka penyedia barang atau jasa dikenakan denda sebesar satu
per mil dari harga borongan untuk setiap hari keterlambatan.
2. Bila ada perintah untuk mengerjakan pekerjaan tambahan dan tidak disebutkan
waktu pelaksanaannya maka jangka waktu pelaksanaanya tidak dapat
diperpanjang.
Pasal 13
Pekerjaan Tambah atau Kurang
1. Harga untuk pekerjaan tambah yang diperintahkan secara tertulis oleh
pemimpin proyek, penyedia barang atau jasa dapat mengajukan pembayaran
tambahan.
104
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
2. Sebelum pekerjaan tambahan dikerjakan, pemborong mengajukan perhitungan
apakah pekerjaan tambahan tersebut dibayar atau tidak oleh pemilik proyek.
3. Untuk memperhitungkan pekerjaan tambahan dan pengurangan menggunakan
harga satuan yang telah dimasukkan dalam penawaran atau kontrak.
4. Bilamana harga satuan pekerjaan tambahan belum tercantum dalam surat
penawaran yang diajukan maka akan diselesaikan secara musyawarah.
Pasal 14
Dokumentasi
1. Sebelum pekerjaan dimulai keadaan lapangan atau tempat pekerjaan 0%
dilakukan pemotretan di tempat yang dianggap penting menurut pertimbangan
direksi.
2. Setiap permintaan pembayaran dan penyerahan harus diadakan pemotretan
yang menunjukkan prestasi pekerjaan (satu titik tetap) masing – masing
menurut pengajuan.
Pasal 15
Pencabutan Pekerjaan
1. Direksi atau pemimpin proyek berhak membatalkan atau mencabut pekerjaan
dari tangan penyedia barang atau jasa apabila ternyata telah memborong
pekerjaan kepada penyedia barang atau jasa lain semata – mata hanya mencari
keuntungan saja dari pekerjaan tersebut.
2. Pada pencabutan pekerjaan, penyedia barang atau jasa dapat dibayarkan hanya
pekerjaan yang telah selesai dan diperiksa serta disetujui oleh pemimpin
proyek sedangkan harga bangunan yang berada di tempat menjadi resiko
pemborong sendiri.
3. Penyerahan bagian – bagian pekerjaan kepada penyedia barang atau jasa lain
(order eanamer) tanpa ijin tertulis dari pemimpin proyek tidak diijinkan.
105
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
4.3 Syarat – syarat Teknis Spesifikasi Umum
1. Lingkup pekerjaan
a. Nama pekerjaan : Proyek pembangunan ruas Jalan Raya Ungaran-
Bawen STA 2+500 – 5+250
b. Lokasi pekerjaan : Kota Semarang , Jawa tengah
Pekerjaan ini meliputi :
a. Pekerjaan persiapan
b. Pekerjaan tanah
c. Pekerjaan drainase
d. Pekerjaan perkerasan
2. Rencana Kerja (Time Schedule)
Dalam waktu selambat – lambatnya tiga hari dari saat perintah kerja,
kontraktor harus mengajukan sebuah rencana kerja tertulis, sehubungan
dengan pelaksanaan pekerjaan seperti yang disebutkan dalam dokumen
kontrak. Rencana kerja tertulis menjelaskan secara terperinci urutan pekerjaan
dan cara melaksanakan pekerjaan tersebut termasuk hal – hal khusus bila
diperlukan, persiapan peralatan, pekerjaan sementara yang ada dan sejauh
mana hal tersebut mencakup lingkup dari pekerjaannya.
3. Gambar – gambar pekerjaan
a. Gambar – gambar rencana pekerjaan yang terdiri dari gambar bestek,
gambar detail situasi dan lain sebagainya yang akan disampaikan kepada
kontraktor atau penyedia barang atau jasa beserta dokumen – dokumen
lainnya. Kontraktor tidak boleh menambah dan mengubah tanpa
persetujuan dari pemimpin proyek atau direksi.
b. Gambar – gambar.
c. Penyedia barang atau jasa harus menyimpan gambar tersebut di tempat
kerja satu bendel lengkap termasuk Rencana Kerja dan Syarat – syarat
(RKS), Berita Acara rapat penjelasan, time schedule dan semuanya dalam
keadaan baik (dapat dibaca dengan jelas) termasuk perubahan terakhir
dalam masa pelaksanaan pekerjaan.
DIVISI I
106
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
UMUM
SEKSI 1.1 : RINGKASAN PEKERJAAN
1.1.1 Cakupan Pekerjaan
1) Cakupan pekerjaan dari kontrak meliputi pembuatan jalan baru untuk seksi
ruas jalan tertentu dalam sistem jalan negara atau provinsi. Pekerjaan –
pekerjaan yang mencakup di dalam spesifikasi ini dibagi tiga kategori yaitu
pekerjaan utama, pekerjaan pengembalian kondisi dan minor serta pekerjaan
pemeliharaan rutin.
2) Kegiatan pemeliharaan rutin harus dimulai segera setelah periode kontrak
dimulai dan dimaksudkan untuk mencegah setiap kerusakan lebih lanjut pada
jalan minor. Kegiatan – kegiatan ini meliputi pekerjaan yang bersifat minor
dan tidak dimaksudkan untuk mengembalikan kondisi jalan ke kondisi semula
yang lebih baik dan juga bukan memperbaiki kondisi jalan ke kondisi yang
lebih baik dari semula.
3) Pekerjaan pengembalian kondisi harus dimulai sesegera mungkin. Pekerjaan
ini harus dapat diselesaikan dalam waktu 3 – 5 bulan terhitung sejak tanggal
Surat Perintah Mulai Kerja diterbitkan dan dimaksudkan untuk
mengembalikan jalan lama yang ada ke suatu kondisi yang dapat digunakan,
konsisten dengan kebutuhan normal untuk jalan menurut jenisnya. Jenis
pekerjaan yang termasuk dalam pengembalian kondisi meliputi penambalan
perkerasan, perbaikan tepi perkerasan, pelaburan permukaan yang retak,
perataan berat pada jalan kerikil untuk menghilangkan keriting (corrugations)
pada permukaan.
4) Pekerjaan – pekerjaan utama dimana ditentukan, diterapkan pada bagian –
bagian jalan yang telah selesai dilaksanakan pekerjaan minor dan dimasukkan
untuk memperbaiki jalan menjadi keadaan yang lebih baik dibandingkan
sebelum pekerjaan tersebut dilaksanakan.
5) Cakupan kontrak ini juga mensyaratkan bahwa penyedia barang atau jasa
melakukan survei lapangan yang cukup detail selam periode mobilisasi agar
pengguna barang atau jasa dapat menyelesaikan detail konstruksi.
107
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
1.1.2 Klasifikasi Pekerjaan Konstruksi
Dalam cakupan pekerjaan dari kontrak ini terdapat tiga kelompok
pekerjaan yang berbeda yaitu pekerjaan utama, pekerjaan pengembalian kondisi
dan minor serta pekerjaan pemeliharaan rutin.
1.1.3 Ketentuan Rekayasa (Engineering)
Sebelum pekerjaan survei dimulai penyedia barang atau jasa harus
mempelajari gambar asli untuk dikonsultasikan dengan pengguna barang atau
jasa, dan harus memastikan dan memperbaiki setiap kesalahan atau perbedaan
yang terjadi, terutama yang berhubungan dengan lebar jalan lama, lokasi setiap
pelebaran perkerasan dan struktur drainase. Penyedia barang atau jasa dan
pengguna barang atau jasa harus mencapai kesepakatan dalam menentukan
ketepatan setiap perubahan yang dibuat dalam gambar.
Kuantitas dalam daftar kuantitas dan harga dapat diubah oleh pengguna
barang atau jasa setelah revisi minor terhadap seluruh rancangan telah selesai,
dimana revisi minor ini harus berdasarkan data survei lapangan yang dikumpulkan
oleh penyedia barang atau jasa sebagai bagian dari cakupan pekerjaan dalam
kontrak.
1.1.4 Urutan Pekerjaan
1) Cakupan pekerjaan dalam kontrak ini mensyaratkan bahwa kegiatan tertentu
harus diselesaikan secara berurutan menurut tonggak – tonggak yang telah
ditetapkan sebelumnya. Kecuali jika ditentukan lain oleh pengguna barang
atau jasa, tanggal yang menjadi tonggak utama bagi kegiatan yang kritis
adalah sebagai berikut :
a. Survei lapangan termasuk peralatan pengujian yang diperlukan dan
penyerahan laporan oleh penyedia barang atau jasa 30 hari setelah
pengambilalihan lapangan oleh penyedia barang atau jasa.
b. Revisi minor oleh pengguna barang atua jasa telah selesai 60 hari setelah
pengambilalihan lapangan oleh penyedia barang atau jasa, walau
keluarnya detail pelaksanaan dapat bertahap setelah tanggal ini.
108
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
c. Pekerjaan pengembalian kondisi perkerasan dan bahu jalan selesai 60 hari
setelah pengambilalihan lapangan oleh penyedia barang atau jasa.
d. Pekerjaan minor pada selokan, saluran air, galian dan timbunan,
pemasangan perlengkapan jalan dan pekerjaan jalan 90 hari setelah
pengambilalihan oleh penyedia barang atau jasa.
e. Pekerjaan drainase selesai sebelum dimulainya setiap overlay.
2) Diagram yang menjelaskan lingkup dan urutan kegiatan dalam pekerjaan dari
berbagai pekerjaan utama.
1.1.5 Pembayaran Pekerjaan
1) Penyedia barang atau jasa harus melaksanakan pekerjaan sesuai dengan detail
yang diberikan dalam gambar, dan sebagaimana yang diperintahkan oleh
pengguna barang atau jasa dimana sebagian besar pekerjaan tersebut akan
dibayar menurut sistem harga satuan. Pembayaran kepada penyedia barang
atau jasa harus dilakukan berdasarkan kualitas aktual yang diukur pada masing
– masing mata pembayaran dalam kontrak yang telah dilaksanakan sesuai
dengan seksi yang berkaitan dengan spesifikasi, baik cara pengukuran maupun
pembayarannya. Pembayaran juga akan dilakukan berdasarkan pengukuran
dan pembayaran lump sump untuk mata pembayaran mobilisasi, relokasi
utilitas dan pelayanan yang ada serta pekerjaan pemeliharaan rutin.
Pengukuran dan pembayaran untuk pekerjaan yang diperintahkan atas dasar
pekerjaan harian.
2) Pembayaran yang diberikan kepada penyedia barang atau jasa harus mencakup
kompensasi penuh untuk seluruh biaya yang dikeluarkan seluruh pekerja,
bahan, peralatan konstruksi, pengorganisasian pekerjaan, biaya tak terduga,
keuntungan, retribusi, pajak, pengamanan pekerjaan yang telah selesai
dikerjakan, pembayaran kepada pihak ketiga untuk tanah atau untuk
penggunaan atas tanah, atau untuk kerusakan bangunan, maupun untuk semua
biaya pekerjaan tambah yang tidak dibayar secara terpisah seperti pembuatan
drainase sementara untuk melindungi pekerjaan selama pelaksanaan,
pengangkutan, perkakas, pembuatan tempat kerja dan lain – lain biaya yang
109
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
diperlukan atau lazim dipakai untuk pelaksanaan dan penyelesaian yang
sebagaimana mestinya dari pekerjaan tersebut.
SEKSI 1.2 : MOBILISASI
1.2.1 Umum
Cakupan kegiatan mobilisasi yang diperlukan dalam kontrak ini akan
tergantung pada jenis dan volume pekerjaan yang harus dilaksanakan.
1.2.2 Program Mobilisasi
1) Dalam waktu 7 hari setelah penandatanganan kontrak, penyedia barang atau
jasa harus melaksanakan rapat pra pelaksanaan ( Pre Construction Meeting)
yang dihadiri pengguna barang atau jasa, wakil pengguna barang atau jasa
(bila ada) dan penyedia barang atau jasa untuk membahas semua hal baik yang
teknis maupun non teknis dalam proyek ini.
2) Dalam waktu 14 hari setelah rapat pra pelaksanaan, penyedia barang atau jasa
harus menyerahkan program mobilisasi dan jadwal kemajuan pelaksanaan
kepada pengguna barang atau jasa untuk dimintakan persetujuannya.
3) Program mobilisasi harus menetapkan waktu untuk semua kegiatan mobilisasi
yang disyaratkan dan harus mencakup informasi tambahan berikut :
a. Lokasi base camp penyedia barang atau jasa dengan denah lokasi umum
dan denah detail di lapangan yang menunjukkan lokasi kantor penyedia
barang atau jasa, bengkel, gudang, mesin penmecah batu dan instalasi
pencampur aspal, serta laboratorium bilamana fasilitas tersebut termasuk
dalam cakupan kontrak.
b. jadwal pengiriman peralatan yang menunjukkan lokasi asal dari semua
peralatan yang tercantum dalam daftar peralatan yang diusulkan dalam
penawaran, bersama dengan usulan cara pengangkutan dan jadwal
kedatangan peralatan di lapangan.
c. Setiap perubahan pada peralatan maupun personil yang diusulkan dalam
penawaran harus memperoleh persetujuan dari direksi pekerjaan.
110
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
d. Suatu daftar detail yang menunjukkan struktur yang memerlukan
perkuatan agar aman dilewati alat – alat berat, usulan metodologi
pelaksanaan dan jadwal tanggal mulai dan tanggal selesai untuk perkuatan
struktur.
e. Suatu jadwal kemajuan yang lengkap dalam format bagan balok (bar
chart) yang menunjukkan tiap kegiatan mobilisasi utama dan suatu kurva
kemajuan untuk menyatakan persentase kemajuan mobilisasi.
1.2.3 Pengukuran dan Pembayaran
1) Pengukuran kemajuan mobilisasi akan ditentukan oleh pengguna barang atau
jasa atas dasar jadwal kemajuan mobilisasi yang lengkap dan telah disetujui.
2) Mobilisasi harus dibayar atas dasar lump sump menurut mata pembayaran
yang diberikan di bawah, dimana pembayaran tersebut merupakan kompensasi
penuh untuk penyediaan dan pemasangan semua peralatan, dan untuk semua
pekerja, bahan perkakas, dan biaya lainnya yang perlu untuk menyelesaikan
pekerjaan. Pembayaran akan dilaksanakan 100% untuk setiap alat yang
datang. Pada akhir pekerjaan, penyedia barang atau jasa wajib melaksanakan
demobilisasinya dan tidak ada pembayaran tambahan untuk pekerjaan
demobilisasi ini.
Nomor Mata
Uraian Satuan Pengukuran
Pembayaran
1.2 Mobilisasi dan Demobilisasi Lump Sump
SEKSI 1.3 : KANTOR LAPANGAN DAN FASILITASNYA
1.3.1 Umum
Menurut seksi ini, penyedia barang atau jasa harus membangun,
menyediakan, memasang, memelihara, membersihkan, menjaga dan pada saat
selesainya kontrak harus memindahkan atau membuang semua bangunan kantor
111
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
darurat, gudang – gudang penyimpanan, barak – barak pekerja dan bengkel –
bengkel yang dibutuhkan untuk pengelolaan dan pengawasan proyek.
1.3.2 Kantor Penyedia Barang atau Jasa dan Fasilitasnya
Penyedia barang atau jasa harus menyediakan akomodasi dan fasilitas
kantor yang cocok dan memenuhi kebutuhan proyek.
1.3.3 Bengkel dan Gudang Penyedia Barang atau Jasa
1) Penyedia barang atau jasa harus menyediakan sebuah bengkel di lapangan
yang diberi perlengkapan yang memadai serta dilengkapi dengan daya listrik,
sehingga dapat digunakan untuk memperbaiki peralatan yang digunakan
dalam pelaksanaan pekerjaan. Sebuah gudang untuk penyimpanan suku
cadang juga harus disediakan.
2) Bengkel tersebut harus dikelola oleh seorang kepala bengkel yang mampu
melakukan perbaikan mekanis dan memiliki sejumlah tenaga pembantu yang
terlatih.
1.3.4 Kantor dan Akomodasi untuk Pengguna Barang atau Jasa
Ketentuan ini tidak diberlakukan dalam kontrak ini kecuali ditentukan
dalam adenda.
1.3.5 Pengukuran dan Pembayaran
Bangunan yang diuraikan dalam seksi ini akan dibayar menurut
pembayaran lump sump untuk mobilisasi dimana pembayaran harus dianggap
kompensasi penuh untuk pembuatan, penyediaan, pelayanan, pemeliharaan,
pembersihan dan pembongkaran semua bangunan tersebut setelah pekerjaan
selesai.
SEKSI 1.4 : FASILITAS DAN PELAYANAN PENGUJIAN
1) Penyedia barang atau jasa diperbolehkan mengadakan pemeriksaan
laboratorium untuk seluruh kegiatan pekerjaan yang memerlukan pengujian
112
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
pada instansi atau balai pengujian yang telah mendapat akreditasi dan disetujui
oleh pengguna barang atau jasa.
2) Pihak penyedia barang atau jasa harus memberitahukan kepada pihak
pengguna barang atau jasa mengenai rencana waktu pelaksananaan pengujian
satu jam sebelum pengujian dilaksanakan secepatnya dengan demikian
memberi waktu pengguna barang atau jasa atau wakilnya menyaksikan setiap
pengujian rutin bahan – bahan yang diinginkan.
3) Hasil pengujian harus segera diolah dan didistribusikan, sehingga
kemungkinan untuk pelaksanaan pengujian ulang, penggantian bahan atau
pemadatan ulang dari bahan – bahan dapat dilakukan secepatnya. Dengan
demikian mengurangi keterlambatan penanganan pekerjaan.
4) Biaya yang dikeluarkan untuk keperluan pelaksanaan dapat terselesaikan
dengan baik, yang sesuai dengan berbagai persyaratan atau pelaksanaan
pengujian seperti ditentukan dalam dokumen – dokumen kontrak, menjadi
tanggung jawab penyedia barang atau jasa dan seluruh kebutuhan atas biaya
tersebut sudah harus dimasukkan dalam perhitungan mobilisasi.
SEKSI 1.5 : TRANSPORTASI DAN PENANGANAN
Seksi ini menetapkan ketentuan – ketentuan untuk transportasi dan
penanganan tanah, bahan campuran panas, bahan – bahan lain, peralatan dan
perlengkapan.
SEKSI 1.6 : PEMBAYARAN SERTIFIKASI BULANAN
1) Rancangan sertifikasi bulanan perlu diserahkan setiap bulan kalender
darimana pelaksanaan pihak penyedia barang atau jasa harus bertanggung
jawab penuh untuk pelaksanaan penyiapan dari penyerahan setiap rancangan
sertifikasi bulanan.
2) Setiap rancangan sertifikasi bulanan harus diberi tanggal menurut tanggal hari
terakhir dari bulan kalender, tetapi jumlah permintaan pembayaran harus
113
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
didasarkan atas jumlah tingkat penyelesaian sampai dan termasuk hari kedua
puluh lima pada periode bulan yang bersangkutan.
3) Rancangan sertifikasi bulanan harus memuat ringkasan dari seluruh pekerjaan
yang telah diselesaikan menurut setiap bab dari spesifikasi terhitung sejak
mulai pelaksanaan dari kontrak dan juga harus diperlihatkan persentase tingkat
penyelesaian dari setiap bab dan akan dipakai sebagai tolak ukur pembanding
pekerjaan yang telah diselesaikan terhadap nilai kontrak.
4) Dalam pihak penyedia barang atau jasa telah menyerahkan Berita Acara
pembayaran terpisah mengenai penyelesaian pekerjaan dari satu seksi atau
bagian secara tuntas maka baik rancangan sertifikasi bulanan dan dokumen
data pendukungnya harus memuat perhitungan mengenai besarnya nilai dari
pernyataan penyelesaian pekerjaan secara tuntas tersebut.
SEKSI 1.7 : PEMBAYARAN SEMENTARA (PROVISIONAL SUMS)
Tidak ada pembayaran sementara di dalam kontrak ini.
SEKSI 1.8 : PEMELIHARAAN TERHADAP ARUS LALU LINTAS
1) Penyedia barang atau jasa harus melaksanakan pekerjaannya sedemikian rupa
sehingga pekerjaan itu terlindungi dari kerusakan oleh lalu lintas umum
maupun konstruksi.
2) Agar dapat melindungi pekerjaan, menjaga keselamatan umum dan kelancaran
arus lalu lintas melalui atau di sekitar pekerjaan, penyedia barang atau jasa
harus memasang dan memelihara rambu – rambu lalu lintas, rintangan
maupun fasilitas lainnya dimana operasi konstruksi dapat mengganggu lalu
lintas.
3) Penyedia barang atau jasa harus menyediakan dan menempatkan petugas
bendera di semua tempat dimana operasi konstruksi mengganggu lalu lintas.
Tujuan utamanya adalah mengarahkan dan mengatur gerakan lalu lintas
melalui atau di sekitar pekerjaan tersebut.
4) Dasap pembayaran terhadap pemeliharaan arus lalu lintas adalah lump sump.
114
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Nomor Mata Satuan
Uraian
Pembayaran Pengukuran
1.8.(1) Pemeliharaan dan pengaturan lalu lintas Lump sump
SEKSI 1.9 : REKAYASA LAPANGAN
1) Dalam waktu maksimum lima belas hari kalender terhitung hari pertama
periode mobilisasi dilaksanakan, penyedia barang atau jasa harus
mengerahkan personil tekniknya untuk melakukan survei ke lapangan. Survei
lapangan ini menyangkut :
a. Menentukan arah trase jalan
Pengukuran situasi dan profil melintang dengan jarak maksimum 200
meter pada daerah lurus atau datar minimum 25 meter pada daerah
bukit atau tikungan.
Pengukuran profil melintang dilakukan minimal ke kiri dan ke kanan
minimal 50 meter.
Melakukan penelitian DCP per 200 meter.
Menentukan lokasi galian dan timbunan.
b. Menentukan lokasi drainase
c. Menetukan bangunan pelengkap dan rambu – rambu
2) Sebelum melakukan rekayasa lapangan, penyedia barang atau jasa harus
memberitahu dahulu kepada direksi teknik untuk mendapat petunjuk dan
instruksi lebih lanjut tentang pekerjaan rekayasa lapangan ini.
3) Segera setelah rekayasa selesai dilaksanakan, penyedia barang atau jasa harus
melaporkan hasil rekayasa dalam bentuk laporan hasil rekayasa lapangan.
4) Pekerjaan lapangan ini tidak ada pembayaran tersendiri, untuk itu dalam
analisa harga satuan pekerjaan kontrak harus sudah memperhitungkan
pekerjaan rekayasa lapangan ini.
115
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
SEKSI 1.10 : STANDAR RUJUKAN
Bilamana bahan atau pengerjaan yang disyaratkan oleh spesifikasi ini
harus memenuhi atau melebihi aturan atau standar yang disebutkan, maka
penyedia barang atau jasa harus bertanggung jawab untuk menyediakan bahan dan
pengerjaan yang demikian.
SEKSI 1.11 : BAHAN DAN PENYIMPANAN
1) Bahan yang dipergunakan didalam pekerjaan harus :
a. Memenuhi spesifikasi dan standar yang berlaku.
b. Memenuhi ukuran, pembuatan, jenis dan mutu yang disyaratkan dalam
gambar dan seksi lain dari spesifikasi ini, atau sebagaimana secara khusus
disetujui tertulis oleh pengguna barang atau jasa.
c. Semua produk harus baru.
2) Penyedia barang atau jasa harus melakukan semua pengaturan dengan
pengguna barang atau jasa atau pemakai lahan untuk memperoleh hak korisesi
yang diperlukan sehingga dapat mengambil bahan yang akan digunakan dalam
pekerjaan. Penyedia barang atau jasa bertanggung jawab atas semua
kompensasi dan retribusi yang harus dibayarkan sehubungan dengan
penggalian bahan atau keperluan lainnya. Tidak ada pembayaran terpisah yang
akan dilakukan untuk kompensasi dan retribusi yang dibayar penyedia barang
atau jasa dan seluruh biaya tersebut harus sudah dimasukkan ke dalam harga
satuan untuk mata pembayaran yang terkait dalam daftar kuantitas dan harga.
SEKSI 1.12 : JADWAL PELAKSANAAN
Jadwal pelaksanaan diperlukan untuk perencanaan, pelaksanaan dan
pemantauan yang sebagaimana mestinya atas pekerjaan. Jadwal tersebut
diperlukan untuk menjelaskan kegiatan – kegiatan pekerjaan setelah kegiatan
dalam program mobilisasi telah selesai.
116
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
SEKSI 1.13 : PROSEDUR VARIASI
Perubahan – perubahan atas pekerjaan dapat terjadi karena diprakarsai
baik oleh pengguna barang atau jasa maupun oleh penyedia barang atau jasa, dan
harus disepakati serta ditandatangani oleh kedua belah pihak yang dituangkan
dalam variasi. Bilamana dasar pembayaran yang dituangkan dalam variasi
tersebut mengakibatkan variasi dalam struktur harga satuan mata pembayaran atau
variasi dalam jumlah harga kontrak, maka variasi tersebut harus dinegoisasi dan
dituangkan dalam addendum kontrak.
SEKSI 1.14 : PENUTUPAN KONTRAK
Penyedia barang atau jasa harus mengikuti semua ketentuan seperti
disebutkan dalam syarat – syarat kontrak dan spesifikasi yang menyangkut
penutupan kontrak.
SEKSI 1.15 : DOKUMEN REKAMAN PROYEK
Selama pelaksanaan pekerjaan penyedia barang atau jasa harus menjaga
rekaman yang akurat dari semua perubahan yang terjadi dalam dokumen kontrak
dalam satu set dokumen rekaman proyek, dan harus memindahkan informasi akhir
tersebut ke dalam dokumen rekaman akhir sebelum penyelesaian pekerjaan.
SEKSI 1.16 : PEKERJAAN PEMBERSIHAN
1) Selama periode pelaksanaan pekerjaan, penyedia barang atau jasa harus
memelihara pekerjaan bebas dari akumulasi sisa bahan bangunan, kotoran dan
sampah, yang diakibatkan oleh operasi pelaksanaan. Pada saat selesainya
pekerjaan, semua sisa bahan bangunan dan bahan – bahan yang tidak terpakai,
sampah, perlengkapan, peralatan dan mesin – mesin harus disingkirkan,
seluruh permukaan terekspos yang nampak harus dibersihkan dan proyek
117
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
ditinggal dalam kondisi siap pakai dan diterima oleh pengguna barang atau
jasa.
2) Tidak ada pembayaran terpisah yang akan dibuat untuk operasi pembersihan
yang dilakukan oleh penyedia barang atau jasa sesuai dengan seksi dari
spesifikasi ini. Biaya untuk pekerjaan ini dipandang telah dimasukkan dalam
berbagai harga penawaran lump sump untuk operasi pemeliharaan rutin
sebagaimana disyaratkan pada spesifikasi.
SEKSI 1.17 : ASPEK LINGKUNGAN HIDUP
1) Penyedia barang atau jasa harus memahami dampak lingkungan yang
mungkin terjadi akibat pelaksanaan kegiatan konstruksi serta cara
penanganannya sesuai dengan petunjuk pengguna barang atau jasa.
2) Tidak ada pembayaran terpisah yang akan dibuat untuk pengelolaan
lingkungan yang dilaksanakan sesuai dengan seksi dari spesifikasi ini. Biaya
pekerjaan ini harus sudah termasuk dalam harga satuan dari semua mata
pekerjaan yang terdapat dalam kontrak, dimana harga tersebut harus
merupakan kompensasi penuh untuk penyediaan semua bahan, pekerja,
peralatan, perlengkapan dan biaya lainnya yang diperlukan untuk pengelolaan
lingkungan.
SEKSI 1.18 : RELOKASI UTILITAS DAN PELAYANAN YANG ADA
1) Pekerjaan ini mencakup relokasi jaringan bawah tanah, kabel, lampu
penerangan jalan, tiang listrik, tiang telepon, tiang lampu pengatur lalu lintas
yang ada bersama dengan semua perlengkapan yang terkait sebagaimana
diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan jalan yang lancar dan sebagaimana
mestinya, yang ditunjukkan dalam gambar atau sebagaimana diperintahkan
olehpengguna barang atau jasa.
2) Pekerjaan yang telah diterima, diukur sebagaimana disebutkan, harus dibayar
dengan harga sebenarnya (at cost) pada mata pembayaran yang sesuai. Jumlah
yang dicantumkan dalam mata pembayaran tersebut akan disesuaikan dengan
118
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
variasi sebagaimana disyaratkan dalam pasal – pasal yang relevan dari syarat –
syarat kontrak sesuai dengan jumlah aktual yang diperlukan untuk
pembayaran kepada instansi setempat sesuai dengan penyelesaian pekerjaan
relokasi. Pembayaran semacam ini hanya dilakukan untuk pekerjaan yang
diperintahkan secara tertulis oleh direksi pekerjaan, setelah penyelesaian
pekerjaan dan berdasarkan persyaratan dokumentasi yang sesuai dalam form
yang telah diterima untuk menegaskan bahwa pembayaran yang disetujui
jumlahnya telah dilakukan oleh penyedia barang atau jasa kepada instansi
setempat.
Nomor Mata Satuan
Uraian
Pembayaran Pengukuran
1.18.(1) Relokasi utilitas dan pelayanan Telkom yang ada Lump sump
1.18.(2) Relokasi utilitas dan pelayanan PDAM yang ada Lump sump
1.18.(3) Relokasi utilitas dan pelayanan PLN yang ada Lump sump
1.18.(4) Relokasi utilitas dan pelayanan gas yang ada Lump sump
1.18.(5) Relokasi utilitas dan pelayanan lain yang ada Lump sump
DIVISI II
DRAINASE
SEKSI 2.1 : SELOKAN DAN SALURAN AIR
1) Pekerjaan ini mencakup pembuatan selokan baru yang dilapisi (lined) atau
tidak (unlined) dan peralatan kembali selokan lama yang tidak dilapisi, sesuai
dengan spesifikasi ini serta memnuhi garis, ketinggian dan detail yang
ditunjukkan pada gambar. Selokan yang dilapisi akan dibuat dari pasangan
batu dengan mortar atau yang seperti ditunjukkan dalam gambar.
2) Toleransi dimensi saluran :
a. Elevasi galian dasar selokan yang telah selesai dikerjakan tidak boleh
berbeda lebih dari 1 cm dari yang ditentukan atau disetujui pada tiap titik
119
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
dan harus cukup halus dan merata untuk menjamin aliran yang bebas dan
tanpa genangan bilaman alirannya kecil.
b. Alinyemen selokan dan profil penampang melintang yang telah selesai
dikerjakan tidak boleh bergeser lebih dari 5 cm dari yang ditentukan atau
telah disetujui pada setiap titik.
3) Penyedia barang atau jasa senantiasa harus menyediakan drainase yang lancar
tanpa terjadinya genangan air dengan menjadwalkan pembuatan selokan yang
sedemikian rupa agar drainase dapat berfungsi dengan baik sebelum pekerjaan
timbunan dan struktur perkerasan dimulai.
4) Pekerjaan perbaikan meliputi :
a. Penggalian atau penimbunan lebih lanjut, bilamana diperlukan termasuk
penimbunan kembali dan dipadatkan terlebih dahulu pada peekerjaan baru
kemudian digali kembali hingga memenuhi garis yang ditentukan.
b. Perbaikan dan penggantian pasangan batu dengan mortar yang cacat.
5) Bahan timbunan yang digunakan harus memenuhi ketentuan sifat – sifat
bahan, penghamparan, pemadatan dan jaminan mutu yang ditentukan dalam
spesifikasi ini.
6) Saluran yang dilapisi pasangan batu dengan mortar harus memenuhi ketentuan
sifat – sifat bahan, pemasangan dan jaminan mutu yang disyaratkan dalam
spesifikasi ini.
7) Penetapan titik pengukuran pada saluran pada lokasi, panjang, arah aliran dan
kelandaian yang ditentukan untuk semua selokan yang akan dibentuk lagi atau
digali atau yang dilapisi, dan semua lokasi lubang penampung dan selokan
pembuang yang berhubungan, harus ditandai dengan cermat oleh penyedia
barang atau jasa sesuai dengan gambar atau detail pelaksanaan.
8) Pelaksanaan pekerjaan selokan :
a. Penggalian, penimbunan dan pemangkasan harus dilakukan sebagaimana
yang diperlukan untuk membentuk selokan baru atau lama sehingga
memenuhi profil jenis selokan yang ditunjukkan dalam gambar atau
bilamana diperintahkan lain oleh pengguna barang atau jasa.
120
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
b. Setelah formasi selokan yang telah disiapkan disetujui oleh pengguna
barang atau jasa, pelapisan selokan dengan pasangan batu dengan mortar
harus dilaksanakan seperti yang disyaratkan dalam spesifikasi ini.
c. Seluruh bahan hasil galian harus dibuang dan diratakan oleh penyedia
barang atau jasa sedemikian rupa sehingga dapat mencegah setiap dampak
lingkungan yang mungkin terjadi di lokasi yang ditunjukkan oleh
pengguna barang atau jasa.
9) Kuantitas galian ditentukan seperti yang disyaratkan akan dibayar berdasarkan
harga kontrak per satuan pengukuran untuk mata pembayaran yang terdaftar di
bawah ini dan ditunjukkan dalam daftar kuantitas dan harga dimana harga dan
pembayaran tersebut harus merupakan kompensasi penuh untuk penyediaan
semua perkakas dan peralatan untuk galian selokan drainase dan saluran air,
untuk semua formasi penyiapan pondasi selokan yang dilapisi dan semua
pekerjaan lain atau biaya lainnya yang diperlukan atau biasanya diperlukan
untuk penyelesaian pekerjaan yang sebagaimana mestinya seperti yang
diuraikan dalam seksi ini.
Nomor Mata Satuan
Uraian
Pembayaran Pengukuran
2.1 Galian untuk drainase selokan dan saluran air Meter Kubik
SEKSI 2.2 : PASANGAN BATU DENGAN MORTAR
1) Pekerjaan ini mencakup pelapisan sisi atau dasar selokan dan saluran air dan
pembuatan apron (lantai golak), lubang masuk (catch pits) dan struktur
saluran kecil lainnya dengan menggunakan pasangan batu dengan mortar yang
dibangun di atas suatu dasar yang telah disiapkan memenuhi garis, ketinggian
dan dimensi yang ditunjukkan pada gambar atau sebagaimana diperintahkan
oleh pengguna barang atau jasa.
121
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
2) Pekerjaan ini juga mencakup pembuatan lubang sulingan (weep holes)
termasuk penyediaan dan pemasangan cetakan lubang sulingan atau pipa.
3) Dalam beberapa hal, bilamana mutu batu dan bentuknya cocok serta mutu
kerjanya tinggi, pengguna barang atau jasa dapat memerintahkan penggunaan
pasangan batu dengan mortar (mortared stonework) sebagai pekerjaan
pasangan batu (stone masonry) untuk struktur dengan daya dukung yang lebih
besar seperti gorong – gorong pelat.
4) Toleransi dimensi :
a. Sisi muka masing – masing batu dari permukaan pasangan batu dengan
mortar tidak boleh melebihi 1 cm dari profil permukaan rata – rata
pasangan batu dengan mortar di sekitarnya.
b. Untuk pelapisan selokan dan saluran air, profil permukaan rata – rata
selokan dan saluran air yang dibentuk dari pasangan batu dengan mortar
tidak boleh berbeda lebih dari 2 cm dari profil permukaan lamtai saluran
yang ditentukan atau disetujui, juga tidak bergeser lebih dari 5 cm dari
profil penampang melintang yang ditentukan atau disetujui.
c. Tebal minimum setiap pekerjaan pasangan batu dengan mortar harus
10cm.
d. Profil akhir untuk struktur kecil yang tidak memikul beban seperti lubang
penangkap dan lantai golak tidak boleh bergeser lebih dari 2 cm dari profil
yang ditentukan atau disetujui.
5) Besarnya pekerjaan pasangan batu dengan mortar yang dilaksanakan setiap
satuan waktu haruslah dibatasi sesuai dengan tingkat kecepatan pemasangan
untuk menjamin agar seluruh batu hanya dipasang dengan adukan yang baru.
6) Penyedia barang atau jasa harus bertanggung jawab atas pemeliharaan rutin
dari semua pekerjaan pasangan batu dengan mortar untuk drainase yang telah
selesai dan diterima selama sisa periode kontrak termasuk periode
pemeliharaan.
7) Bahan dan jaminan mutu :
a. Batu
122
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Batu harus terdiri dari batu alam atau batu dari sumber bahan yang
tidak terbelah, yang utuh (sound), keras, awet, padat, tahan terhadap
udara dan air, dan cocok dalam segala hal untuk fungsi yang dimaksud.
Mutu dan ukuran batu harus disetujui oleh pengguna barang atau jasa
sebelum digunakan. Batu untuk pelapisan selokan dan saluran air
sedapat mungkin harus berbentuk persegi.
Kecuali ditentukan lain oleh gambar atau spesifikasi, maka smua batu
yang digunakan untuk pasangan batu dengan mortar harus tertahan
ayakan 10 cm.
b. Mortar, haruslah merupakan adukan semen yang memenuhi ketentuan
spesifikasi yaitu campuran 1 PC : 3 Psr.
8) Pelaksanaan :
a. Penyiapan formasi untuk pelapisan pasangan batu dengan mortar harus
disiapkan sesuai dengan ketentuan.
b. Penyiapan batu :
Batu harus dibersihkan dari bahan yang merugikan, yang dapat
mengurangi kelekatan dengan adukan.
Sebelum pemasangan, batu harus dibasahi seluruh permukaannya dan
diberikan waktu yang cukup untuk proses penyerapan air sampai
jenuh.
c. Pemasangan lapisan batu :
Suatu landasan dari adukan semen paling sedikit setebal 3 cm harus
dipasang pada formasi yang telah disiapkan. Landasan adukan ini
harus dikerjakan sedikit demi sedikit sedemikian rupa sehingga
permukaan batu akan tertanam pada adukan sebelum mengeras.
Batu harus ditanam kuat di atas landasan adukan semen sedemikian
rupa sehingga satu batu berdekatan dengan lainnya sampai
mendapatkan tebal pelapisan yang diperlukan dimana tebal ini akan
diukur tegak lurus terhadap lereng. Rongga yang terdapat di antara satu
batu dengan yang lainnya harus diisi adukan dan adukan ini harus
dikerjakan sampai hampir sama rata dengan permukaan lapisan tetapi
tidak sampai menutupi permukaan lapisan.
123
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Pekerjaan harus dimulai dari dasar lereng menuju ke atas, dan
permukaan harus segera diselesaikan setelah pengerasan awal (initial
setting) dari adukan dengan cara menyapunya dengan sapu yang kaku.
Permukaan yang telah selesai dikerjakan harus dirawat seperti yang
telah disyaratkan.
Lereng yang bersebelahan dengan bahu jalan harus dipangkas dan
dirapikan untuk memperoleh bidang antar muka yang rapat dan halus
dengan pasangan batu dengan mortar sehingga akan memberikan
drainase yang lancar dan mencegah gerusan pada tepi pekerjaan
pasangan batu dengan mortar.
9) Pekerjaan pasangan batu dengan mortar untuk pelapisan pada selokan dan
saluran air atau pelapisan pada permukaan lainnya, volume nominal harus
ditentukan dari luas permukaan terekspos dari pekerjaan yang telah selesai
dikerjakan dan tebal nominal lapisan untuk pelapisan. Untuk keperluan
pembayaran, tebal nominal lapisan haruslah diambil yang terkecil dari berikut
ini :
a. Tebal yang ditentukan seperti yang ditunjukkan pada gambar atau
diperintahkan pengguna barang atau jasa.
b. Tebal aktual rata – rata yang dipasang seperti yang ditentukan dalam
pengukuran lapangan.
c. 15 cm.
10) Kuantitas pasangan batu dengan mortar, ditentukan seperti yang disyaratkan
akan dibayar berdasarkan harga kontrak per satuan pengukuran untuk mata
pembayaran terdaftar di bawah dan ditunjukkan dalam daftar kuantitas dan
harga.
Nomor Mata Satuan
Uraian
Pembayaran Pengukuran
2.2 Pasangan batu dengan mortar 1 PC : 3 Psr Meter Kubik
SEKSI 2.3 : GORONG – GORONG DAN DRAINASE BETON
124
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
1) Pekerjaan ini mencakup perbaikan, perpanjangan, penggantian atau
pembuatan gorong – gorong pipa beton bertulang maupun tanpa tulangan.
2) Jadwal pelaksanaan pekerjaan gorong – gorong atau drainase beton tidak
boleh dimulai sampai persetujuan tertulis pengguna barang atau jasa dan
lingkup pekerjaan telah diterbitkan.
3) Perbaikan terhadap pekerjaan yang tidak memenuhi ketentuan yaitu seluruh
pekerjaan dan bahan untuk pembuatan gorong – gorong dan drainase beton
harus memenuhi toleransi dimensi dan berbagai ketentuan untuk perbaikan
pekerjaan yang tidak memenuhi ketentuan, yang diberikan dalam spesifikasi
sesuai dengan pekerjaan atau bahan yang digunakan.
4) Penyedia barang atau jasa harus bertanggung jawab atas pemeliharaan rutin
dari semua gorong – gorong dan drainase beton yang telah selesai dan
diterima selama sisa periode kontrak termasuk periode pemeliharaan.
5) Bahan :
a. Landasan, bahan berbutir kasar untuk landasan drainase beton, gorong –
gorong pipa dan struktur lainnya harus seperti yang disyaratkan.
b. Beton yang digunakan untuk seluruh pekerjaan struktur yang diuraikan
dalam seksi ini harus memenuhi ketentuan.
c. Baja tulangan untuk beton yang digunakan dalam pekerjaan ini harus
memenuhi syarat.
d. Pekerjaan pasangan batu dengan mortar untuk pelapisan (lining),
perlindungan terhadap gerusan dan struktur minor lainnya yang diperlukan
untuk pekerjaan harus memenuhi ketentuan.
e. Adukan untuk sambungan pipa dan kelilingnya harus dari adukan semen
yang memenuhi ketentuan yang disyaratkan yaitu campuran 1 PC : 3 Psr.
6) Pelaksanaan gorong – gorong yaitu penggalian pondasi untuk saluran beton
dan gorong – gorong harus dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan untuk
pemasangan saluran beton dan gorong – gorong.
7) Pengukuran dan pembayaran yaitu kuantitas yang diukur untuk pembayaran
gorong – gorong pipa beton haruslah jumlah meter panjang.
125
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Nomor Mata Satuan
Uraian
Pembayaran Pengukuran
Gorong – gorong pipa beton bertulang,
2.3.(1) Meter Kubik
diameter dalam 50 sampai 70 cm
DIVISI III
PEKERJAAN TANAH
SEKSI 3.1 : GALIAN
1) Pekerjaan ini harus mencakup penggalian, penanganan, pembuangan atau
penumpukan tanahatau batu atau bahan jadi dari jalan atau sekitarnya yang
diperlukan untuk penyelesaian dari pekerjaan dalam Kontrak ini.
2) Toleransi dimensi :
a. Kelandaian akhir, garis dan formasi sesudah galian selain galian
perkerasan beraspal tidak boleh berbeda lebih dari 2 cm dan yang
ditentukan dalam Gambar atau yang diperintahkan oleh Pengguna
Barang/Jasa pada setiap titik, sedangkan untuk galian perkerasan beraspal
tidak boleh berbeda lebih dari 1 cm dari yang disyaratkan.
b. Permukaan galian tanah maupun batu yang telah selesai dan terbuka
terhadap aliran air permukaan harus cukup rata dan harus memiliki cukup
kemiringan untuk menjamin pengaliran air yang bebas dari permukaan itu
tanpa terjadi genangan.
3) Galian saluran atau galian lainnya yang memotong jalan harus dilakukan
dengan pelaksanaan setengah badan jalan sehingga jalan tetap terbuka untuk
lalu lintas pada setiap saat.
4) Pekerjaan perbaikan meliputi :
a. Lokasi galian dengan garis dan ketinggian akhir yang melebihi garis dan
ketinggian yang ditunjukkan dalam Gambar atau sebagaimana yang
diperintahkan Pengguna Barang/Jasa harus digali lebih lanjut sampai
memenuhi toleransi yang disyaratkan.
b. Lokasi dengan penggalian yang melebihi garis dan ketinggian yang telah
ditunjukkan dalam Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh
126
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Pengguna Barang/Jasa, atau lokasi yang mengalami kerusakan atau
menjadi lembek, harus ditimbun kembali dengan bahan timbunan pilihan
atau lapis pondasi agregat sebagaiman yang diperintahkan Pengguna
Barang/Jasa.
c. Lokasi galian perkerasan beraspal dengan dimensi dan kedalaman yang
melebihi yang telah ditetapkan oleh Pengguna Barang/Jasa, harus
diperbaiki dengan menggunakan bahan-bahan yang sesuai dengan kondisi
perkerasan lama sampai mencapai elevasi rancangan.
5) Prosedur penggalian :
a. Penggalian harus dilaksanakan menurut kelandaian, garis, dan elevasi
yang ditentukan dalam gambar atau ditunjukkan oleh Pengguna Barang/
Jasa dan harus mencakup pembuangan semua bahan dalam bentuk apapun
yang dijumpai, termasuk tanah, batu, batu bata,beton, pasangan batu dan
bahan perkerasan lama, yang tidak digunakan untuk pekerjaan permanen.
b. Pekerjaan galian harus dilaksanakan dengan gangguan yang seminimal
mungkin terhadap bahan di bawah dan diluar batas galian.
c. Bilamana bahan yang terekspos pada garis formasi atau tanah dasar atau
pondasi dalam keadaan lepas atau lunak atau kotor atau menurut pendapat
Pengguna Barang/Jasa tidak memenuhi syarat, maka bahan tersebut harus
seluruhnya dipadatkan atau dibuang dan diganti dengan timbunan yang
memenuhi syarat sebagaimana yang diperintahkan Pengguna Barang/Jasa.
d. Bilamana batu, lapisan keras atau bahan yang sukar dibongkar dijumpai
pada garis formasi untuk selokan yang diperkeras, pada tanah dasar untuk
perkerasan maupun bahu jalan, atau pada dasar galian pipa atau pondasi
struktur, maka bahan tersebut harus digali 15 cm lebih dalam sampai
permukaan yang mantap dan merata. Tonjolan – tonjolan batu yang
runcing pada permukaan terekspos tidak boleh tertinggal dan semua
pecahan batu yang diameternya lebih besar dari 15 cm harus dibuang.
Profil galian yang disyaratkan harus diperoleh dengan cara menimbun
kembali dengan bahan yang disetujui Pengguna Barang/Jasa dan
dipadatkan.
127
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
e. Bila galian parit untuk gorong – gorong atau lainnya dilakukan pada
timbunan baru, maka timbunan harus dikerjakan sampai ketinggian yang
diperlukan dengan jarak masing – masing lokasi galian parit tidak kurang
dari 5 kali lebar galian parit tersebut, selanjutnya galian parit tersebut
dilaksanakan dengan sisi – sisi yang setegak mungkin sebagaimana
kondisi tanahnya mengizinkan.
6) Dasar pembayaran kuantitas galian yang diukur menurut ketentuan akan
dibayar menurut satuan pengukuran dengan harga yang dimasukkan dalam
Daftar Kuantitas dan Harga untuk masing – masing mata pembayaran yang
terdaftar di bawah ini.
Nomor Mata Satuan
Uraian
Pembayaran Pengukuran
3.1.(1) Galian Tanah Biasa mekanis Meter Kubik
SEKSI 3.2 : TIMBUNAN
1) Pekerjaan mencakup pengadaan, pengangkutan, penghamparan dan
pemadatan tanah atau bahan berbutir yang disetujui untuk pembuatan
timbunan, untuk penimbunan kembali galian pipa atau struktur dan untuk
timbunan umum yang diperlukan untuk membentuk dimensi timbunan sesuai
dengan garis, kelandaian dan elevasi penampang melintang yang disyaratkan
atau disetujui.
2) Timbunan pilihan akan digunakan sebagai lapis penopang (capping layer)
untuk meningkatkan daya dukung tanah dasar, juga digunakan di daerah
saluran air dan lokasi serupa dimana bahan yang plastis sulit dipadatkan
dengan baik. Timbunan pilihan dapat juga digunakan untuk stabilisasi lereng
atau pekerjaan pelebaran timbunan jika diperlukan lereng yang lebih curam
karena keterbatasan ruangan dan untuk pekerjaan timbunan lainnya dimana
kekuatan timbunan adalah faktor yang kritis.
128
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
3) Toleransi dimensi :
a. Elevasi dan kelandaian akhir setelah pemadatan harus tidak lebih tinggi
atau lebih rendah 2 cm dari yang ditentukan atau disetujui.
b. Seluruh permukaan akhir timbunan yang terekspos harus cukup rata dan
harus memiliki kelandaian yang cukup untuk menjamin aliran air
permukaan yang bebas.
c. Permukaan akhir lereng timbunan tidak boleh bervariasi lebih dari 10 cm
dari garis profil yang ditentukan.
d. Timbunan tidak boleh dihampar dalam lapisan dengan tebal padat lebih
dari 20 cm atau dalam lapisan dengan tebal padat kurang dari 10 cm.
4) Jadwal kerja timbunan badan jalan pada jalan lama harus dikerjakan dengan
menggunakan pelaksanaan setengah lebar jalan sehingga setiap saat jalan tetap
terbuka untuk lalu lintas.
5) Perbaikan terhadap timbunan yang tidak memenuhi ketentuan atau tidak
stabil:
a. Timbunan yang telah dipadatkan dan memenuhi ketentuan yang
disyaratkan dalam spesifikasi ini, menjadi jenuh akibat hujan atau banjir
atau karena hal lain, biasanya tidak memerlukan pekerjaan perbaikan
asalkan sifat – sifat bahan dan kerataan permukaan masih memenuhi
ketentuan dlam spesifikasi ini.
b. Perbaikan timbunan yang tidak memenuhi kepadatan atau ketentuan sifat –
sifat bahan dari spesifikasi ini haruslah seperti yang diperintahkan oleh
Pengguna Barang/Jasa dan dapat meliputi pemadatan tambahan,
penggemburan yang diikuti dengan penyesuaian kadar air dan pemadatan
kembali atau pembuangan dan penggantian bahan.
6) Semua lubang pada pekerjaan akhir yang timbul akibat pengujian kepadatan
atau lainnyan harus segera ditutup kembali oleh Penyedia Barang/Jasa dan
dipadatkan sampai mencapai kepadatan dan toleransi permukaan yang
disyaratkan.
7) Bahan untuk timbunan biasa :
a. Timbunan yang diklasifikasikan sebagai timbunan biasa harus terdiri dari
bahan galian tanah atau bahan galian batu yang disetujui oleh Pengguna
129
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Barang/Jasa sebagai bahan yang memenuhi syarat untuk digunakan dalam
pekerjaan permanen tersebut.
b. Bahan yang dipilih sebaiknya tidak termasuk tanah yang berplastisitas
tinggi yang diklasifikasikan sebagai A-76 menurut AASHTO M145 atau
sebagai CH menurut “Unified atau Casagrande Soil Classification
System”. Bila penggunaan tanah yang berplastisitas tinggi tidak dapat
dihindarkan , bahan tersebut harus digunakan hanya pada bagian dasar dari
timbunan atau pada penimbunan kembali yang tidak memerlukan daya
dukung atau kekuatan geser yang tinggi. Tanah plastis tersebut sama sekali
tidak boleh digunakan pada 30 cm lapisan langsung di bawah bagian dasar
perkerasan atau bahu jalan atau tanah dasar bahu jalan. Sebagai tambahan,
timbunan untuk lapisan ini bila diuji dengan SNI 03-1744-1989 harus
memiliki CBR tidak kurang dari 6% setelah perendaman 4 hari bila
dipadatkan 100% kepadatan kering maksimum (MDD) seperti yang
ditentukan oleh SNI 03-1742-1989.
c. Tanah sangat expansive yang memilik nilai aktif lebih besar dari 1,25 atau
derajat pengembangan yang diklasifikasikan oleh AASHTO T258 sebagai
“very high” atau “extra high”, tidak boleh digunakan sebagai bahan
timbunan. Nilai aktif adalah perbandingan antara Indeks Plastisitas / PI
(SNI 03-1966-1989) dan persentase kadar lempung (SNI 03-3422-1994).
8) Sedang bahan untuk timbunan pilihan adalah sebagai berikut :
a. Timbunan hanya boleh diklasifikasikan sebagai timbunan pilihan bila
digunakan pada lokasi atau untuk maksud dimana timbunan pilihan telah
ditentukan atau disetujui secara tertulis oleh Pengguna Barang/Jasa.
Seluruh timbunan lain yang digunakan harus dipandang sebagai timbunan
biasa.
b. Timbunan yang diklasifikasikan sebagai timbunan pilihan harus terdiri
dari bahan tanah atau batu yang memenuhi semua ketentuan untuk
timbunan biasa dan sebagai tambahan harus memiliki sifat – sifat tertentu
yang tergantung dari maksud penggunaannya, seperti diperintahkan atau
disetujui oleh Pengguna Barang/Jasa. Dalam segala hal, seluruh timbunan
pilihan bila diuji sesuai dengan SNI 03-1744-1989 harus memilik CBR
130
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
paling sedikit 10% setelah 4 hari perendaman bila dipadatkan sampai
100% kepadatan kering maksimum sesuai dengan SNI 03-1742-1989.
c. Bahan timbunan pilihan yang akan digunakan bilaman pemadatan dalam
keadaan jenuh atau banjir tidak dapat dihindari, haruslah pasir atau kerikil
atau bahan berbutir bersih lainnya dengan Indeks Plastisitas maksimum
6%.
d. Bahan timbunan pilihan yang digunakan pada lereng atau pekerjaan
stabilisasi timbunan atau pada situasi lainnya yang memerlukan kuat geser
yang cukup, bilamana dilaksanakan dengan pemadatan kering normal,
maka timbunan pilihan dapat berupa timbunan batu atau kerikil lempungan
yang bergradiasi baik atau lempung pasiran atau lempung berplastisitas
rendah. Jenis bahan yang dipilih dan disetujui oleh Pengguna Barang/Jasa
akan tergantung pada kecuraman dari lereng yang akan dibangun atau
ditimbun, atau pada tekanan yang akan dipikul.
9) Penghamparan timbunan :
a. Timbunan harus ditempatkan ke permukaan yang telah disiapkan dan
disebarkan dalam lapisan yang merata yang bila dipadatkan akan
memenuhi toleransi tebal lapisan yang disyaratkan. Bilamana timbunan
dihampar lebih dari satu lapis, lapisan - lapisan tersebut sedapat mungkin
dibagi rata sehingga sama tebalnya.
b. Tanah timbunan umumnya diangkut langsung dari lokasi sumber bahan ke
permukaan yang telah disiapkan pada saat cuaca cerah dan disebarkan.
Penumpukan tanah timbunan untuk persediaan biasanya tidak
diperkenankan terutama selama musim hujan.
10) Pemadatan timbunan :
a. Segera setelah penempatan dan penghamparan timbunan, setiap lapis harus
dipadatkan dengan peralatan pemadat yang memadai dan disetujui oleh
Pengguna Barang/Jasa sampai mencapai kepadatan yang disyaratkan.
b. Pemadatan timbunan tanah harus dilaksanakan hanya bilamana kadar
bahan berada dalam rentang 3% di bawah kadar air optimum sampai 1% di
atas kadar air optimum. Kadar air optimum harus didefinisikan sebagai
131
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
kadar air pada kepadatan kering maksimum yang diperoleh bilamana tanah
dipadatkan sesuai dengan SNI 03-1742-1989.
c. Seluruh timbunan batu harus ditutup dengan satu lapisan atau lebih setebal
20 cm dari bahan bergradiasi menerus dan tidak mengandung batu yang
lebih besar dari 5 cm serta mampu mengisi rongga – rongga batu pada
bagian atas timbunan batu tersebut.
d. Setiap lapisan timbunan yang dihampar harus dipadatkan seperti yang
disyaratkan, diuji kepadatannya dan harus diterima oleh Pengguna
Barang/Jasa sebelum lapisan berikutnya dihamparkan.
e. Timbunan harus dipadatkan mulai dari tepi luar dan bergerak menuju ke
arah sumbu jalan sedemikian rupa sehingga setiap ruas akan menerima
jumlah usaha pemadatan yang sama. Bilamana memungkinkan, lalu lintas
alat – alat konstruksi dapat dilewatkan di atas pekerjaan timbunan dan
lajur yang dilewati harus terus menerus divariasi agar dapat menyebarkan
pengaruh usaha pemadatan dari lalu lintas tersebut.
f. Bilamana bahan timbunan dihampar pada kedua sisi pipa atau drainase
beton atau struktu, maka pelaksanaan harus dilaksanakan sedemikian rupa
sehingga timbunan pada kedua sisi selalu mempunyai elevasi yang hampir
sama.
11) Pengendalian mutu bahan :
a. Jumlah data pendukung hasil pengujian yang diperlukan untuk persetujuan
awal mutu bahan akan ditetapkan oleh Pengguna Barang/Jasa, tetapi
bagaimanapun juga harus mencakup seluruh pengujian yang disyaratkan
dengan paling sedikit tiga contoh yang mewakili sumber bahan yang
diusulkan, yang dipilih mewakili rentang mutu bahan yang mungkin
terdapat pada sumber bahan.
b. Setelah pengujian mutu bahan timbunan yang diusulkan, menurut
pendapat Pengguna Barang/Jasa, pengujian mutu bahan dapat diulangi lagi
agar perubahan bahan atau sumber bahannnya dapat diamati.
c. Suatu program pengendalian pengujian mutu bahan rutin harus
dilaksanakan untuk mengendalikan perubahan mutu bahan yang dibawa ke
lapangan. Jumlah pengujian harus seperti yang diperintahkan oleh
132
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Pengguna Barang/Jasa tetapi untuk setiap 1000 meter kubik bahan
timbunan yang diperoleh dari setiap sumber bahan paling sedikit harus
dilakukan suatu pengujian Nilai aktif.
12) Ketentuan kepadatan untuk timbunan tanah :
a. Lapisan tanah yang lebih dalam dari 30 cm di bawah elevasi tanah dasar
harus dipadatkan sampai 95% dari kepadatan kering maksimum yang
ditentukan sesuai SNI 03-1742-1989. Untuk tanah yang mengandung lebih
dari 10% bahan yang tertahan pada ayakan 3/4”, kepadatan kering
maksimum yang diperoleh harus dikoreksi terhadap bahan yang berukuran
lebih (oversize) tersebut sebagaimana yang diperintahkan oleh Pengguna
Barang/Jasa.
b. Lapisan tanah pada kedalaman 30 cm atau kurang dari elevasi tanah dasar
harus dipadatkan sampai dengan 100% dari kepadatan kering maksimum
yang ditentukan sesuai dengan SNI 03-1742-1989.
c. Pengujian kepadatan harus dilakukan pada setiap lapis timbunan yang
dipadatkan sesuai dengan SNI 03-2828-1992 dan bila hasil setiap
pengujian menunjukkan kepadatan kurang dari yang disyaratkan maka
Penyedia Barang/Jasa harus memperbaiki pekerjaan. Pengujian harus
dilakukan pada kedalaman penuh pada lokasi yang diperintahkan oleh
Pengguna Barang/Jasa tetapi harus tidak boleh berselang lebih dari 200 m.
Untuk penimbunan kembali di sekitar struktur atau pada galian parit untuk
gorong – gorong, paling sedikit harus dilaksanakan satu pengujian untuk
satu lapis penimbunankembali yang telah selesai dikerjakan. Untuk
timbunan, paling sedikit satu rangkaian pengujian bahan yang lengkap
harus dilakukan untuk setiap 1000 meter kubik bahan yang lengkap harus
dilakukan untuk setiap 1000 meter kubik bahan timbunan yang dihampar.
13) Dasar pembayaran kuantitas timbunan yang diukur seperti diuraikan di atas,
dalam jarak angkut berapapun yang diperlukan, harus dibayar untuk per satuan
pengukuran dari masing – masing harga yang dimaksudkan dalam Daftar
Kuantitas dan Harga untuk Mata Pembayaran di bawah ini.
133
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Nomor Mata Satuan
Uraian
Pembayaran Pengukuran
3.2.(1) Timbunan Biasa mekanis Meter Kubik
3.2.(2) Timbunan Pilihan Mekanis Meter Kubik
SEKSI 3.3 : PENYIAPAN BADAN JALAN
1) Pekerjaan ini mencakup penyiapan, penggaruan dan pemadatan permukaan
tanah dasar atau permukaan jalan kerikil lama, untuk penghamparan lapis
pondasi agregat, lapis pondasi jalan tanpa penutup aspal, lapis pondasi semen
tanah atau lapis pondasi beraspal di daerah jalur lalu lintas (termasuk jalur
tempat perhentian dan persimpangan yang tidak ditetapkan sebagai pekerjaan
pengembalian kondisi. Untuk jalan kerikil, pekerjaan dapat juga mencakup
perataan berat dengan motor grader untuk perbaikan bentuk dengan atau tanpa
penggaruan dan tanpa penambahan bahan baru.
2) Pekerjaan ini meliputi galian minor atau penggaruan serta pekerjaan timbunan
minor yang diikuti dengan pembentukan, pemadatan, pengujian tanah atau
bahan berbutir dan pemeliharaan permukaan yang disiapkan sampai bahan
perkerasan ditempatkan diatasnya yang semuanya sesuai dengan gambar den
spesifikasi atau sebagaimana diperintahkan Pengguna Barang/Jasa.
3) Toleransi dimensi :
a. Ketinggian akhir setelah pemadatan tidak boleh lebih tinggi atau lebih
rendah satu sentimeter dari yang disyaratkan atau disetujui.
b. Seluruh permukaan akhir harus cukup halus dan rata serta memilih
kelandaian yang cukup untuk menjamin berlakunya aliran bebas dari air
permukaan.
4) Pengendalian lalu lintas harus memenuhi ketentuan, Penyedia Barang/Jasa
harus bertanggung jawab atas seluruh konsekuensi dari lalu lintas yang
diijinkan melewati tanah dasar dan Penyedia Barang/Jasa harus melarang lalu
lintas yang sedemikian bilamana Penyedia Barang/Jasa dapat menyediakan
sebuah jalan alih (detour) atau dengan pelaksanaan setengah lebar jalan.
134
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
5) Bahan yaitu tanah dasar dapat dibentuk dari timbunan biasa, timbunan pilihan,
lapis pondasi agregat atau tanah asli di daerah galian. Bahan yang digunakan
dalam setiap hal haruslah sesuai dengan yang diperintahkan Pengguna
Barang/Jasa dan sifat – sifat bahan yang disyaratkan untuk bahan yang
dihampar dan membentuk tanah dasar haruslah seperti yang disyaratkan dalam
spesifikasi untuk bahan tersebut.
6) Penyiapan tempat kerja :
a. Pekerjaan galian yang diperlukan untuk membentuk tanah dasar
dilaksanakan sesuai dengan prosedur umum penggalian.
b. Seluruh timbunan yang diperlukan harus dihampar sesuai dengan
spesifikasi.
7) Pemadatan tanah dasar harus dilakukan sesuai dengan ketentuan yang relevan.
Ketentuan pemadatan dan jaminan mutu untuk tanah dasar sesuai dengan
spesifikasi.
8) Dasar pembayaran kuantitas penyiapan badan jalan yang diukur seperti
diuraikan di atas, dalam jarak angkut berapapun yang diperlukan, harus
dibayar untuk per satuan pengukuran dari masing – masing harga yang
dimaksudkan dalam Daftar Kuantitas dan Harga untuk Mata Pembayaran di
bawah ini.
Nomor Mata Satuan
Uraian
Pembayaran Pengukuran
3.3 Penyiapan Badan Jalan Meter Persegi
135
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
DIVISI IV
BAHU JALAN
SEKSI 4.1 : PELEBARAN PERKERASAN
1) Pekerjaan ini harus terdiri dari pemasokan, pengangkutan, penghamparan dan
pemadatan bahan jalan pada tanah dasar yang telah disiapkan atau permukaan
lainnya yang disetujui oleh pelaburan (sealing) jika diperlukan, untuk
pelaksanaan bahu jalan baru atau peningkatan bahu jalan sesuai dengan garis,
kelandaian dan dimensi yang ditunjukkan pada gambar atau sebagaimana yang
diperintahkan oleh Pengguna Barang/Jasa.
2) Toleransi dimensi :
a. Untuk bahu jalan dengan laburan aspal toleransi elevasi dan kerataan
disyaratkan harus berlaku.
b. Untuk bahu jalan tanpa laburan aspal, permukaan akhir yang telah
dipadatkan tidak boleh berbeda lebih dari 1,5 cm di bawah atau di atas
elevasi rancangan pada setiap titik.
c. Permukaan akhir bahu jalan, termasuk setiap pelaburan atau perkerasan
lainnya yang dihampar diatasnya, tidak boleh lebih tinggi maupun lebih
rendah 1,0 cm terhadap tepi jalur lalu lintas yang bersebelahan.
d. Lereng melintang tidak boleh bervariasi lebih dari 1,0% dari lereng
melintang rancangan.
3) Bahan sesuai dengan ketentuan masing – masing untuk lapis pondasi agregat,
lapis pondasi jalan tanpa penutup aspal, lapis pondasi semen tanah, lapis resap
pengikat, burtu juga berlaku. Umumnya lapis pondasi agregat kelas A harus
digunakan di bawah bahu jalan dengan laburan aspal, sedangkan lapis pondasi
agregat kelas B harus digunakan di bawah bahu jalan tanpa laburan aspal.
4) Pelaksanaan dan pemadatan :
a. Persiapan tempat untuk penghamparan bahan – bahan bahu jalan,
termasuk galian pada bahan yang ada, pencampuran bahan yang baru dan
lama (bilamana diijinkan oleh Pengguna Barang/Jasa), pemangkasan tepi
perkerasan pada jalur lalu lintas lama, dan penyiapan formasi sebelum
136
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
bahan dipasang harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang
disyaratkan dalam spesifikasi ini.
b. Penghamparan dan pemadatan bahan bahu jalan harus memenuhi
ketentuan yang disyaratkan dari spesifikasi ini masing – masing untuk
lapis pondasi agregat, lapis pondasi jalan tanpa penutup aspal, lapis
pondasi semen tanah, lapis resap pengikat, burtu.
5) Dasar pembayaran kuantitas yang diukur seperti diuraikan di atas, dalam jarak
angkut berapapun yang diperlukan, harus dibayar untuk per satuan
pengukuran dari masing – masing harga yang dimaksudkan dalam Daftar
Kuantitas dan Harga untuk Mata Pembayaran di bawah ini.
Nomor Mata Satuan
Uraian
Pembayaran Pengukuran
4.2.2 Lapis Pondasi Agregat Kelas B Meter Kubik
DIVISI V
PERKERASAN BERBUTIR
SEKSI 5.1 : LAPIS PONDASI AGREGAT
1) Pekerjaan ini meliputi pemasokan, pemrosesan, pengangkutan,
penghamparan, pembasahan dan pemadatan agregat bergradiasi di atas
permukaan yang telah disiapkan. Pemrosesan tersebut meliputi
pemecahan, pengayakan, pemisahan, pencampuran dan operasi lainnya
yang perlu untuk menghasilkan suatu bahan yang memenuhi ketentuan
spesifikasi.
137
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
2) Toleransi dimensi :
a. Permukaan lapis akhir harus sesuai dengan gambar dengan toleransi di
bawah ini :
Toleransi Tinggi
Bahan dan Lapisan Pondasi Agregat
Permukaan
Lapis pondasi agregat kelas B digunakan sebagai lapis
+ 0 cm
pondasi bawah (hanya permukaan atas dari lapisan
- 2 cm
pondasi bawah)
Permukaan lapis pondasi agregat kelas A untuk lapis
+ 1 cm
resap pengikat atau pelaburan (perkerasan atau bahu
- 1 cm
jalan)
Bahu jalan tanpa penutup aspal dengan lapis pondasi Memenuhi Pasal pada
agregat kelas B (hanya pada lapis permukaan) Bahu Jalan
b. Pada permukaan semua lapis pondasi agregat tidak boleh terdapat
ketidakrataan yang dapat menampung air dan semua punggung (camber)
permukaan itu harus sesuai dengan yang ditunjukkan dalam gambar.
c. Tebal total minimum lapis pondasi agregat kelas A dan kelas B tidak boleh
kurang dari satu sentimeter dari tebal yang disyaratkan.
d. Tebal minimum lapis pondasi agregat kelas A dan kelas B tidak boleh
kurang dari satu sentimeter dari tebal yang disyaratkan.
e. Pada permukaan lapis pondasi agregat kelas A yang disiapkan untuk
lapisan resap pengikat atau pelaburan permukaan, bilamana semua bahan
yang terlepas harus dibuang dengan sikat yang keras, maka penyimpangan
maksimum pada kerataan permukaan yang diukur dengan mistar lurus
sepanjang 3m, diletakkan sejajar atau melintang sumbu jalan, maksimum
satu sentimeter.
3) Bahan :
o Fraksi agregat kasar
Agregat kasar yang tertahan pada ayakan 4,75 mm harus terdiri dari
partikel atau pecahan batu atau kerikil yang keras dan awet. Bahan yang
138
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
yang pecah berulang – ulang dibasahi dan dikeringkan tidak boleh
digunakan.
Agregat kasar yang berasal dari kerikil tidak kurang dari 100% berat
agregat kasar ini harus mempunyai paling sedikit satu bidang pecah.
o Fraksi agregat halus
Agregat halus yang lolos ayakan 4,75 mm harus terdiri dari partikel pasir
alam atau batu pecah halus dan partikel halus lainnya.
o Sifat – sifat bahan yang disyaratkan yaitu seluruh lapis pondasi agregat
harus bebas dari bahan organik dan gumpalan lempung atau bahan – bahan
lain yang tidak dikehendaki setelah dipadatkan harus memenuhi ketentuan
gradiasi sebagai berikut.
Ukuran Ayakan Persen Berat yang Lolos
ASTM ( mm ) Kelas A Kelas B
2” 50 - 100
1 ½” 37,5 100 88 – 95
1” 25,0 79 – 85 70 – 85
3/8” 9,50 44 – 58 30 – 65
No.4 4,75 29 – 44 25 – 55
No.10 2,0 17 – 30 15 – 40
No.40 0,425 7 – 17 8 – 20
N0.200 0,075 2–8 2–8
Sedangkan ketentuan sifat – sifat agregat yang dipakai adalah sebagai
berikut.
Sifat – sifat Kelas A Kelas B
Abrasi dan agregat kasar (SNI 03-2417-1990) 0 – 30% 0 – 35%
Indek Plastisitas (SNI 03-1966-1990) 0–6 0–6
Hasil kali Indek Plastisitas dg % lolos ayakan no.200 Maks. 25 -
Batas Cair (SNI 03-1967-1990) 0 – 25 0 – 25
Bagian yang lunak (SK SNI M-01-1994-03) 0 – 5% 0 – 5%
CBR (SNI 03-1744-1989) Min.90% Min.65%
139
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
o Pencampuran bahan untuk memenuhi kebutuhan yang disyaratkan harus
dikerjakan di lokasi instalasi pemecah batu dengan menggunakan pemasok
mekanis yang telah dikalibrasi untuk memperoleh aliran yang menerus
dari komponen – komponen campuren dengan proporsi yang benar. Dalam
keadaan apapun tidak dibenarkan melakukan pencampuran di lapangan.
4) Penghamparan dan pemadatan lapis pondasi agregat :
Persiapan formasi untuk lapis pondasi agregat kelas A. Pekerjaan lapis
pondasi agregat A dilaksanakan setelah pekerjaan lapis pondasi agregat B
yang telah sesuai dengan spesifikasi yang ada.
Material lapis pondasi agregat kelas A diangkut ke lokasi dengan Dump
Truck dari quarry dibawa ke badan jalan sebagai campuran yang merata
dan harus dihampar pada kadar air dalam rentang yang disyaratkan. Kadar
air dalm bahan harus tersebar secara merata.
Setiap lapis harus dihampar pada suatu operasi dengan takaran yang
merata agar menghasilkan tebal padat yang diperlukan dalam toleransi
yang disyaratkan. Jika akan dihampar lebih dari satu lapis, maka lapisan -
lapisan tersebutr harus diusahakan sama tebalnya.
Lapis pondasi agregat tersebut harus dihampar dan dibentuk dengan salah
satu metode dimana tidak akan menyebabkan segregasi pada partikel
agregat kasar dan halus. Bahan yang bersegregasi harus diganti dengan
bahan yang bergradiasi baik.
Tebal padat minimum untuk pelaksanaan setiap lapisan harus dua kali
lebih ukuran terbesar agregat lapis pondasi. Tebal padat maksimum tidak
boleh melebihi 20 cm.
Setelah proses pencampuran dan pembentukan akhir, setiap lapis harus
dipadatkan menyeluruh dengan alat pemadat hingga kepadatan paling
sedikit 100% dari kepadatan kering maksimum modifikasi ( modified ).
Pemadatan harus dilakukan jika kadar air dari bahan berada dalam rentang
3% di bawah kadar air optimum sampai 1% di atas kadar air optimum.
Operasi penggilasan harus dimulai dari sepanjang tepi dan bergerak sedikit
demi sedikit ke arah sumbu jalan dalam arah memanjang. Pada bagian
140
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
yang bersuperelevasi, penggilasan harus dimulai dari bagian yang rendah
dan bergerak sedikit demi sedikit ke bagian yang lebih tinggi. Operasi
penggilasan harus dilanjutkan sampai seluruh bekas roda mesin penggilas
hilang dan lapis tersebut terpadatkan secara merata. Berikut merupakan
hamparan lapis pondasi agregat yang telah diselesaikan sesuai dengan
syarat dan spesifikasi yang ada. Bahan sepanjang kerb, tembok dan tempat
– tempat yang tak terjangkau mesin gilas harus dipadatkan dengan timbiris
mekanis atau alat pemadat lainnya yang disetujui.
Suatu program pengujian rutin pengendalian mutu bahan harus
dilaksanakan untuk mengendalikan ketidakseragaman bahan yang dibawa
ke lokasi pekerjaan. Pengujian lebih lanjut harus seperti yang
diperintahkan oleh Pengguna Barang/Jasa tetapi untuk setiap 100 meter
kubik bahan yang diproduksi paling sedikit harus meliputi tidak kurang
dari lima pengujian indeks plastisitas, lima pengujian gradiasi partikel dan
satu penentuan kepadatan kering maksimum menggunakan SNI 03-1743-
1989. Pengujian CBR harus dilakukan dari waktu ke waktu sebagaimana
diperintahkan oleh Pengguna Barang/Jasa.
Kepadatan dan kadar air bahan yang dipadatkan harus secara rutin
diperiksa menggunakan SNI 03-2827-1992. Pengujian harus dilakukan
sampai seluruh kedalaman lapis tersebut pada lokasi yang ditetapkan oleh
Pengguna Barang/Jasa tetapi tidak boleh berselang lebih dari 200 meter.
6) Dasar pembayaran kuantitas yang diukur seperti diuraikan di
atas, dalam jarak angkut berapapun yang diperlukan, harus
dibayar untuk per satuan pengukuran dari masing – masing
harga yang dimaksudkan dalam Daftar Kuantitas dan Harga
untuk Mata Pembayaran di bawah ini.
Nomor Mata Satuan
Uraian
Pembayaran Pengukuran
5.1.(1) Lapis Pondasi Agregat Kelas A Meter Kubik
5.1.(2) Lapis Pondasi Agregat Kelas B Meter Kubik
141
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
DIVISI VI
PERKERASAN ASPAL
SEKSI 6.1 : LAPIS RESAP PENGIKAT DAN LAPIS PEREKAT
1) Pekerjaan ini harus mencakup penyediaan dan penghamparan bahan aspal
pada permukaan yang telah disiapkan sebelumnya untuk pemasangan lapisan
beraspal berikutnya. Lapis resap pengikat harus dihampar di atas permukaan
yang bukan beraspal (misalnya lapis pondasi agregat) sedangkan lapis perekat
harus dihampar di atas permukaan yang beraspal (seperti lapis penetrasi
macadam, laston, lataston, dll).
2) Kondisi cuaca yang diijinkan untuk bekerja lapisan resap pengikat harus
disemprot hanya pada permukaan yang kering atau mendekati kering dan lapis
perekat harus disemprot hanya pada permukaan yang benar – benar kering.
Penyemprotan lapis resap pengikat atau lapis perekat tidak boleh dilakukan
waktu angin kencang, hujan atau akan turun hujan.
3) Lapisan yang telah sesuai harus menutup keseluruhan permukaan yang dilapisi
dan tampak merata tanpa adanya bagian – bagian yang beralur atau kelebihan
aspal. Untuk lapis perekat, harus melekat cukup kuat di atas permukaan yang
disemprot. Untuk penampilan yang kelihatan berbintik – bintik sebagai akibat
dari bahan aspal yang didistribusikan sebagai butir – butir tersendiri dapat
diterima asalkan penampilannya kelihatan rata dan keseluruhan takaran
pemakaiannya memenuhi ketetntuan. Sedangkan untuk lapis resap pengikat,
setelah proses pengeringan, bahan aspal harus sudah meresap ke dalam lapis
pondasi, meninggalkan sebagian bahan aspal yang dapat ditunjukkan dengan
permukaan berwarna hitam yang merata dan tidak berongga. Tekstur untuk
lapis pondasi agregat harus rapid an tidak boleh ada genangan atau lapisan
tipis aspal atau aspal tercampur agregat halus yang cukup tebal sehingga
mudah dikupas dengan pisau.
4) Bahan untuk lapis resap pengikat :
o Aspal emulsi reaksi sedang (medium setting) atau reaksi lambat (slow
setting) yang memenuhi AASHTO M140 atau AASHTO M208.
Umumnya hanya aspal emulsi yang dapat menunjukkan peresapan yang
142
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
baik pada lapis pondasi tanpa pengikat. Aspal emulsi harus mengandung
residu hasil penyulingan minyak bumi (aspal dan pelarut) tidak kurang
dari 50% dan mempunyai penetrasi aspal tidak kurang dari 80/100.
o Aspal semen Pen.80/100 atau Pen.60/70, memenuhi AASHTO M20,
diencerkan dengan minyak tanah (kerosen). Perbandingan pemakaian
minyak tanah pada percobaan pertama harus dari 80 bagian minyak per
100 bagian aspal semen (80 pph kurang lebih ekivalen dengan viskositas
aspal cair hasil kilang jenis MC-30).
o Jika lalu lintas diijinkan lewat di atas lapis resap pengikat harus digunakan
bahan penyerap (blotter material) dari hasil pengayakan kerikil atau batu
pecah, terbebas dari butiran – butiran berminyak atau lunak, bahan kohesif
atau bahan organik. Tidak kurang dari 98% harus lolos ayakan ASTM 3/8”
(9,5 mm) dan tidak lebih dari 2% harus lolos ayakan ASTM no.8 (2,36
mm).
5) Bahan untuk lapis perekat :
o Aspal emulsi jenis Rapid Setting yang memenuhi ketentuan AASHTO
M140. Pengguna Barang/Jasa dapat mengijinkan penggunaan aspal emulsi
yang diencerkan dengan perbandingan 1 bagian air bersih dan 1 bagian
aspal emulsi.
o Aspal semen Pen.60/70 atau Pen.80/100 yang memenuhi ketentuan
AASHTO M20, diencerkan dengan 25 sampai 30 bagian minyak tanah per
100 bagian aspal.
6) Peralatan :
o Penyedia Barang/Jasa harus melengkapi peralatannya terdiri dari penyapu
mekanis dan atau compressor, distributor aspal, peralatan untuk
memanaskan bahan aspal dan peralatan yang sesuai untuk menyebarkan
kelebihan bahan aspal.
o Distributor aspal harus berupa kendaraan beroda ban angin yang bermesin
penggerak sendiri sehingga memenuhi peraturan keamanan jalan.
Bilamana dimuati penuh maka tekanan ban pada pengoperasian dengan
kecepatan penuh tidak boleh melampaui tekanan yang direkomendasi
pabrik pembuatnya.
143
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
o Alat penyemprot harus dirancang, dilengkapi, dipelihara dan dioperasikan
sedemikan rupa sehingga bahan aspal dengan panas yang sudah
meratadapat disemprotkan secara merata dengan berbagai variasi lebar
permukaan, pada takaran yang ditentukan dalam rentang 0,15 sampai 2,4
liter per meter persegi.
o Distributor aspal harus dilengkapi dengan batang semprot sehingga dapat
mensirkulasikan aspal secara penuh yang dapat diatur ke arah horisontal
dan vertikal. Batang semprot harus terpasang dengan jumlah minimum 24
nosel yang dipasang pada jarak yang sama yaitu 10 ± 1 cm. Distributor
aspal juga harus dilengkapi pipa semprot tangan. Perlengkapan distributor
aspal meliputi:
- Tachometer ( pengukur kecepatan putaran )
- Meteran tekanan
- Tongkat celup yang telah dikalibrasi
- Termometer untuk mengukur temperatur isi tangki
- Peralatan untuk mengukur kecepatan lambat
Seluruh perlengkapan pengukur pada distributor harus dikalibrasi untuk
memenuhi toleransi yang telah ditentukan dalam spesifikasi. Toleransi
ketelitian dan ketentuan jarum baca yang dipasang pada distributor aspal
dengan batang semprot harus memenuhi ketentuan berikut ini :
Ketentuan dan Toleransi yang Diijinkan
Tachometer pengukur ± 1,5 % dari skala putaran penuh sesuai ketentuan
kecepatan kendaraan BS 3403
Tachometer pengukur ± 1,5 % dari skala putaran penuh sesuai ketentuan
kecepatan putaran pompa BS 3403
± 5º C, rentang 0 – 250 °C, minimum garis tengah
Pengukur suhu
arloji 70 mm
Pengukur volume atau ± 2 % persen dari total volume tangki, nilai
tongkat celup maksimum garis skala tongkat celup 50 liter
Distributor aspal harus dilengkapi dengan grafik penyemprotan dan buku
petunjuk pelaksanaan yang harus disertakan pada alat semprot, dalam
keadaan baik setiap saat.
o Peralatan penyemprot aspal tangan ( hand sprayer ) yang terdiri dari :
144
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
- tangki aspal dengan alat pemanas
- pompa yang memberikan tekanan ke dalam tangki aspal sehingga aspal
dapat tersemprot keluar
- batang semprot yang dilengkapi dengan lubang pengatur keluarnya aspal
(nosel).
Agar diperoleh hasil penyemprotan yang merata maka Penyedia
Barang/Jasa harus menyediakan tenaga operator yang terampil dan diuji
coba dahulu kemampuannya sebelum disetujui oleh Pengguna
Barang/Jasa.
7) Pelaksanaan pekerjaan :
a. Penyiapan permukaan yang akan disemprot aspal :
o Sebelum penyemprotan aspal dimulai, permukaan harus dibersihkan
dengan memakai sikat mekanis atau kompresor atau kombinasi
keduanya. Jika peralatan ini belum dapat memberikan permukaan yang
benar – benar bersih, penyapuan tambahan harus dikerjakan manual
dengan sikat yang kaku. Berikut adalah gambar proses pembersihan
permukaan dengan menggunakan kompresor.
o Pembersihan harus dilaksanakan melebihi 20 cm dari tepi bidang yang
akan disemprot.
o Tonjolan yang disebabkan oleh benda – benda asing lainnya harus
disingkirkan dari permukaan dengan memakai penggaru baja atau
dengan cara lain. Bagian yang telah digaru tersebut harus dicuci
dengan air dan disapu.
o Untuk pelaksanaan lapis resap pengikat di atas lapis pondasi klas A,
permukaan akhir yang telah disapu harus rata, rapat, bermosaik agregat
kasar dan halus, dan tidak mempunyai permukaan yang hanya
mengandung agregat halus.
o Pekerjaan penyemprotan aspal tidak boleh dimulai sebelum perkerasan
telah disiapkan dapat diterima oleh Pengguna Barang/Jasa.
b. Penyedia Barang/Jasa harus melakukan percobaan lapangan di bawah
pengawasan Pengguna barang/Jasa untuk mendapatkan tingkat takaran
yang tepat (liter per meter persegi) dan percobaan tersebut akan diulangi
145
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
sebagaimana diperintahkan oleh Pengguna Barang/Jasa, bila jenis dari
permukaan yang akan disemprot atau jenis dari bahan aspal berubah.
Biasanya takaran pemakaian yang didapatkan akan berada dalam batas –
batas sebagai berikut :
Lapis resap pengikat : 0,4 sampai 1,3 liter per meter persegi untuk lapis
pondasi agregat kelas A.
0,2 sampai 1,0 liter per meter persegi untuk lapis
pondasi semen tanah.
Lapis perekat : sesuai dengan jenis permukaan yang akan
menerima pelaburan dan jenis bahan aspal yang
akan dipakai.
Suhu penyemprotan untuk aspal cair yang kandungan minyak tanahnya
berbeda dari yang ditentukan dalam daftar ini, temperaturnya dapat
diperoleh dengan cara interpolasi.
Takaran ( liter per meter persegi ) pada
Permukaan baru
Jenis Aspal Permukaan porous
atau aspal lama
dan terekspos cuaca
yang licin
Aspal cair 0,15 0,15 – 0,35
Aspal emulsi 0,20 0,20 – 0,50
Aspal emulsi yang diencerkan (1:1) 0,40 0,40 – 1,00*
*= takaran pemakaian yang berlebih akan mengalir pada bidang permukaan
yang terjadi, lereng melintang yang besar atau permukaan yang tidak rata.
146
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Berikut adalah rentang suhu penyemprotan untuk beberapa jenis aspal.
Jenis Aspal Rentang Suhu Penyemprotan
Aspal cair, 25 pph minyak tanah 110 ± 10 °C
Aspal cair, 50 pph minyak tanah (MC-70) 70 ± 10 °C
Aspal cair, 75 pph minyak tanah (MC-30) 45 ± 10 °C
Aspal cair, 100 pph minyak tanah 30 ± 10 °C
Aspal cair, lebih dari 100 pph minyak tanah Tidak dipanaskan
Aspal emulsi atau aspal emulsi yang
Tidak dipanaskan
diencerkan
Catatan : tindakan yang sangat hati – hati harus dilaksanakan bila
memanaskan setiap aspal cair.
Frekuensi pemanasan yang berlebihan atau pemanasan yang berulang –
ulang pada temperatur tinggi haruslah dihindari. Setiap bahan yang
menurut pendapat Pengguna Barang/Jasa telah rusak akibat pemanasan
berlebihan harus ditolak dan harus diganti atas biaya Penyedia
Barang/Jasa.
c. Pelaksanaan penyemprotan :
o Pelaksanaan penyemprotan yaitu batas permukaan yang akan
disemprot oleh setiap lintasan penyemprotan harus diukur dan
ditandai. Khususnya untuk lapis resap pengikat, batas lokasi yang
disemprot harus ditandai dengan cat atau benang. Berikut merupakan
gambar proses pelaksanaan penyemprotan.
o Agar bahan aspal dapat merata pada setiap titik maka bahan aspal
harus disemprotkan dengan batang penyemprot menggunakan kadar
aspal yang ada, kecuali jika penyemprotan dengan distributor tidaklah
praktis untuk lokasi yang sempit maka dapat memakai penyemprot
aspal tangan (hand sprayer).
o Alat penyemprot aspal harus dioperasikan sesuai grafik penyemprotan.
Kecepatan pompa, kecepatan kendaraan, ketinggian batang semprot
dan penempatan nosel harus disetel sesuai dengan ketentuan grafik
tersebut sebelum dan selama pelaksanaan penyemprotan.
o Bila diperintahkan, lintasan penyemprotan bahan aspal yaitu satu lajur
atau setengah lebar jalan dan harus ada bagian yang tumpang tindih
147
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
(overlap) selebar 20 cm sepanjang sisi – sisi lajur yang bersebelahan.
Sambungan memanjang selebar 20 cm ini harus dibiarkan terbuka dan
tidak boleh ditutup oleh lapisan berikutnya sampai lintasan
penyemprotan di lajur yang bersebelahan telah diselesaikan. Demikian
pula lebar yang telah disemprot harus lebih besar daripada lebar yang
ditetapkan. Hal ini dimaksudkan agar tepi permukaan yang ditetapkan
tetap mendapat semprotan dari ketiga nosel sama seperti permukaan
yang lain.
o Lokasi awal dan akhir penyemprotan harus dilindungi dengan bahan
yang cukup kedap. Penyemprotan harus dimulai dan dihentikan sampai
seluruh batas pelindung tersemprot, dengan demikian seluruh nosel
bekerja dengan benar pada sepanjang bidang jalan yang akan
[Link] aspal harus mulai bergerak kira – kira 5 meter
sebelum daerah yang akan disemprot dengan demikian kecepatan
lajunya dapat dijaga konstan sesuai ketentuan, agar batang semprot
mencapai bahan pelindung yang cukup kedap. Kecepatan ini harus
tetap dipertahankan sampai melalui titik akhir. Sisa aspal dalam tangki
distributor harus dijaga tidak boleh kurang dari 10 persen dari
kapasitas tangki untuk mencegah udara yang terperangkap (masuk
angin) dalam system penyemprotan. Jumlah pemakaian bahan aspal
pada setiap kali lintasan penyemprotan harus segera diukur dari
volume sisa dalam tangki dengan meteran tongkat celup.
o Takaran pemakaian rata – rata bahan aspal pada setiap lintasan
penyemprotan, harus dihitung sebagai volume bahan aspal yang telah
dipakai dibagi luas bidang yang disemprot. Luas lintasan
penyemprotan didefinisikan sebagai hasil kali panjang lintasan
penyemprotan dengan jumlah nosel yang digunakan dengan jarak
antara nosel. Takaran pemakaian rata – rata yang dicapai harus sesuai
dengan yang diperintahkan Pengguna Barang/Jasa dengan toleransi
sebagai berikut :
1% dari volume tangki
Toleransi takaran pemakaian = ± (4% dari takaran yang diperintahkan) +
Luas yang disemprot
148
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
o Takaran pemakaian yang dicapai harus telah dihitung sebelum lintasan
penyemprotan berikutnya dilakukan dan bila perlu diadakan
penyesuaian untuk penyemprotan berikutnya. Penyemprotan harus
segera dihentikan jika ternyata ada ketidaksempurnaan peralatan
semprot pada saat beroperasi.
o Setelah pelaksanaan penyemprotan, khususnya untuk lapisan perekat,
bahan aspal yang berlebihan dan tergenang di atas permukaan yang
telah disemprot harus diratakan dengan menggunakan alat pemadat
roda karet, sikat ijuk atau alat penyapu dari karet.
o Tempat – tempat yang disemprot dengan lapis perekat yang
menunjukkan adanya bahan aspal yang berlebihan harus ditutup
dengan bahan penyerap (blotter material) sebelum penghamparan lapis
berikutnya. Bahan penyerap tersebut hanya boleh dihampar 4 jam
setelah penyemprotan lapis resap pengikat.
o Tempat – tempat bekas kertas resap untuk pengujian kadar bahan aspal
harus dilabur kembali dengan bahan aspal yang sejenis secara manual
dengan kadar yang hamper sama dengan kadar disekitarnya.
8) Pemeliharaan :
a. Pemeliharaan lapis resap pengikat, Penyedia Barang/Jasa harus tetap
memelihara permukaan yang telah diberi lapis resap pengikat atau lapis
perekat sesuai standard yang ditetapkan sampai lapisan berikutnya
dihamparkan. Lapisan berikutnya hanya dapat dihampar setelah bahan
resap pengikat telah meresap sepenuhnya ke dalam lapis pondasi dan telah
mengeras.
b. Pemeliharaan lapis perekat, lapis perekat harus disemprotkan hanya
sebentar sebelum penghamparan lapis aspal berikut di atasnya untuk
memperoleh kondisi kelengketan yang tepat. Pelapisan lapisan beraspal
berikut tersebut harus dihampar sebelum lapis aspal hilang kelengketannya
melalui pengeringan yang berlebihan, oksidasi, debu yang tertutup atau
lainnya. Sewaktu lapis aspal dalam keadaan tidak tertutup, Penyedi
Barang/Jasa harus melindunginya dari kerusakan dan mencegahnya agar
tidak berkontak dengan lalu lintas.
149
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
9) Pengendalian mutu dan pengujian di lapangan :
a. Contoh aspal dan sertifikatnya harus disediakan pada setiap pengangkutan
aspal ke lapangan pekerjaan.
b. Dua liter contoh bahan aspal yang akan dihampar harus diambil dan
distributor aspal, masing – masing pada saat awal penyemprotan dan pada
saat akhir penyemprotan.
c. Distributor aspal harus diperiksa dan diuji sebagai berikut :
o Sebelum pelaksanaan pekerjaan penyemprotan pada kontrak tersebut.
o Setiap 6 bulan atau setiap penyemprotan bahan aspal sebanyak
150.000 liter, dipilih yang lebih dulu tercapai.
o Apabila distributor mengalami kerusakan atau modifikasi perlu
dilakukan pemeriksaan ulang terhadap distributor tersebut.
c. Gradiasi agregat penutup harus diajukan kepada Pengguna Barang/Jasa
untuk mendapatkan persetujuan sebelum agregat tersebut digunakan.
d. Catatan harian yamg terinci mengenai pelaksanaan penyemprotan
permukaan, termasuk pemakaian bahan aspal pada setiap lintasan
penyemprotan dan takaran pemakaian yang dicapai harus dibuat dalam
formulir standar.
10) Dasar pembayaran kuantitas yang diukur seperti diuraikan di atas, dalam jarak
angkut berapapun yang diperlukan, harus dibayar untuk per satuan
pengukuran dari masing – masing harga yang dimaksudkan dalam Daftar
Kuantitas dan Harga untuk Mata Pembayaran di bawah ini.
Nomor Mata Satuan
Uraian
Pembayaran Pengukuran
6.1.(1) Lapis Resap Pengikat Liter
6.1.(2) Lapis Perekat Liter
SEKSI 6.2 : LASTON (AC)
1) Laston (AC) adalah campuran aspal panas dengan agregat bergradiasi
menerus. Laston dipergunakan sebagai lapis aus yang mempunyai nilai
structural dengan tingkat kekedapan air yang cukup. Laston cocok untuk
150
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
perkerasan yang mengalami peningkatan pelapisan secara berkala untuk
mencapai tebal rencana perkerasan. Tebal nominal padat yang digunakan
adalah 4 cm. Pekerjaan ini meliputi penyiapan material, penghamparan,
pemadatan di atas pondasi jalan yang telah disiapkan atau di ataa permukaan
jalan lama sesuai dengan gambar rencana atau perintah Pengguna Barang/Jasa.
2) Bahan :
Agregat kasar
- Agregat harus terdiri dari batu pecah atau kerikil pecah hasil produksi
mesin pemecah batu dengan gradiasi sebagai berikut.
Ukuran saringan Prosentase yang
ASTM
( mm ) lolos menurut berat
20 ¾” 100
12.7 ½” 30 – 100
9.5 3/8” 0 – 55
4.75 #4 0 – 10
0.075 # 200 0–1
- Harus bersih, keras dan bebas dari kotoran atau bahan yang tidak
dikehendaki.
- Harus mempunyai prosentase keausan kurang dari 40% pada 500
putaran bila diuji Los Angeles seperti ketetapan AASHTO T-96.
- Harus mempunyai keausan kurang dari 12% bila diuji keausan dengan
Sodium Sulfat menurut AASHTO T104.
- Harus mempunyai luas yang terselaput tidak kurang dari 95% jika
dilakukan pengujian Coating and Stripping Test (penyelaputan dan
pengelupasan) menurut AASHTO T-182.
151
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Agregat halus
- Agregat halus terdiri dari abu batu hasil produksi mesin pemecah batu
atau pasir alam atau kombinasi dari keduanya dengan gradiasi sebagai
berikut.
Ukuran saringan Prosentase yang lolos
ASTM
( mm ) menurut berat
9.5 3/8” 100
4.75 #4 90 – 100
2.36 #8 80 – 100
0.60 # 30 25 – 100
0.075 # 200 3 – 11
- Pasir alam yang digunakan harus bersih bebas dari lempung serta
material yang tidak dikehendaki.
Bahan pengisi ( filler )
- Bahan pengisi yang dapat digunakan adalah abu batu kapur, semen
Portland, abu terbang atau abu tanur semen.
- Bahan pengisi harus lolos saringan # 200 tidak kurang dari 75%.
- Untuk mendapat stabilitas campuran yang baik, khususnya bila akan
dipakai pada daerah tanjakan atau pada daerah pengereman (traffic light)
meka penggunaan bahan pengisi semen Portland.
Aspal
Aspal yang dipakai adalah aspal semen penetrasi 60/70 yang memenuhi
persyaratan AASHTO M226-78.
152
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
3) Persyaratan campuran :
a. Campuran aspal untuk laston (AC) ini harus memenuhi SNI 17371989-F
dan bila dilakukan pemeriksaan menurut PC 0201-76 didapatkan hasil
sebagai berikut.
Pemeriksaan Hasil
Kadar aspal (terhadap berat total) 5–8%
Kadar rongga udara dari campuran padat 3–5%
Stabilisasi Marshall pada 2 × 75 tumbukan > 600 kg
Kelelehan 2 – 4 mm
Marshall Quotient 200 – 350 kg/mm
Stabilitas Marshall tersisa setelah perendaman 24 jam pada
75 %
suhu 60 derajat terhadap stabilitas semula
b. Gradasi campuran laston (AC)
Batas – batas gradasi kombinasi pada campuran AC adalah sebagai
berikut.
Persentase yang lolos
Ukuran Saringan (mm) ASTM
menurut berat
25.0 1“ 100
19.0 ¾“ 100
12.7 ½“ 75 – 100
9.5 3/8 “ 60 – 85
4.7 #4 38 – 55
2.3 #8 27 – 40
0.6 # 30 14 – 24
0.3 # 50 9 – 18
0.15 # 100 5 – 12
0.075 # 200 2–8
153
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
c. Toleransi campuran :
Uraian Toleransi
Gabungan agregat yang lolos saringan 9,5 mm ± 7 % berat total campuran
Gabungan agregat yang lolos saringan 2,36
± 5 % berat total campuran
mm
Gabungan agregat yang lolos saringan 150
± 2 % berat total campuran
mikron (no.100)
Gabungan agregat yang lolos saringan 75
± 1,5 % berat total campuran
mikron (no.200)
+ 0,3 % berat total campuran
Kadar aspal
- 0,0 % berat total campuran
4) Peralatan :
a. 1 unit peralatan Mixing Plant
b. 1 unit Stone Crusher
c. 1 unit Asphalt Finisher
d. 1 unit Pemadat Roda Besi
e. 1 unit Pemadat Roda Karet
f. 1 unit Asphalt Sprayer
g. 1 unit Kompresor
5) Pelaksanaan :
a. Pelaksanaan campuran panas :
o Agregat dan aspal dicampur di dalam AMP dalam keadaan panas.
Campuran aspal panas yang selesai dicampur dalam AMP diangkut
dengan Dump Truck ke lapangan. Temperatur yang diijinkan adalah
sebagai berikut :
- Suhu agregat adalah 154º – 174º C
- Suhu aspal adalah 140º – 160º C
- Suhu pencampuran dalam AMP > 165º C
- Suhu campuran aspal panas di atas Dump Truck > 135º C
o Pada saat Dump Truck meninggalkan AMP, campuran aspal panas di
atas bak Dump Truck harus ditutup dengan terpal untuk mencegah
penurunan temperatur campuran aspal yang berlebihan.
154
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
o Di lokasi penghamparan campuran aspal, permukaan jalan yang akan
dilapisi dengan campuran aspal panas diberi lapis perekat di atas
lapisan ATB 2.
o Pada lapisan laston AC penghamparan dilakukan setelah kanstin
terpasang.
o Penyerahan campuran aspal panas ke dalam Asphalt Finisher harus
dalam keadaan panas dengan temperatur antara 120º – 150º C.
o Pemadatan pertama (breakdown rolling) dilaksanakan pada saat
temperatur campuran aspal panas antara 110º – 120º C.
o Pemadatan antara (intermediate rolling) dilaksanakan pada saat
temperatur campuran aspal panas antara 95º – 110º C.
o Pemadatan akhir (finishing rolling) dilaksanakan pada saat temperatur
campuran aspal panas antara 80º – 95º C.
o Agar persyaratan teknis dipenuhi maka ketebalan akhir yang dicapai
dalam pelaksanaan ini tidak boleh kurang dari 10% terhadap tebal
nominal yang telah ditetapkan.
o Bila dijumpai ketebalan akhir kurang dari persyaratan teknis yang
dipersyaratkan maka hasil akhir tidak dapat diterima dan harus
diadakan pelapisan ulang dengan ketebalan minimal 1,5 kali diameter
agregat terbesar.
b. Pengendalian mutu pengontrolan di lokasi pencampuran aspal panas :
o Pengontrolan gradiasi agregat halus dan kasar dilakukan pada setiap
tumpukan material baru
o Pengontrolan sand equivalen dilakukan pada setiap tumpukan pasir
sumber material (quarry) baru.
o Pengontrolan temperatur pemanasan agregat pada dryer dan temperatur
aspal pada tempat pemanasan aspal dilakukan tiap 4 jam sekali.
o Pengontrolan kadar aspal dalam campuran aspal panas dilakukan pada
awal, pertengahan dan menjelang akhir produksi dengan cara
melakukan ekstraksi.
o Pengontrolan propertis dari campuran aspal panas dilakukan dengan
metode Marshall.
155
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
c. Pengendalian mutu pengontrolan di lokasi penghamparan
o Permukaan harus sudah diberi lapis perekat setelah lapisan ATB 2
secara merata.
o Pengontrolan temperatur pada saat campuran aspal panas di atas Dump
Truck sebelum dimasukkan ke dalam Asphalt Finisher.
o Pengontrolan temperatur penghamparan pada saat dilakukan
penghamparan dengan Asphalt Finisher dan pada saat pemadatannya.
o Pengontrolan ketebalan penghamparan dilakukan dengan cara
membagi berat campuran aspal yang dihampar tiap Dump Truck
dengan luas penghamparan dan berat jenisnya.
o Pengujian core drill harus dilakukan untuk control silang terhadap
ketebalan dan kadar aspal yang terhampar di lapangan.
6) Pengukuran dan pembayaran :
a. Pengukuran pekerjaan :
Untuk laston (AC) yang dihampar di atas permukaan yang telah
dilaveling, pengukuran dihitung dari perkalian panjang penghamparan
dengan lebar yang diterima dan dibayar dengan mata pembayaran.
Keterkecualian diberlakukan sebagai berikut :
o Tebal padat hamparan campuran aspal panas tidak boleh kurang dari
tebal nominal yang telah ditentukan. Dalam hal Pengguna Barang/Jasa
menyetujui atau menerima tebal hamparan laston (AC) kurang dari
tebal rancangan nominal karena masih dinilai cukup memenuhi
persyaratan teknis, maka volume pekerjaan yang dihitung untuk
pembayaran adalah sebagai berikut :
Tebal yang diterima
Luas hamparan yang sebenarnya diukur ×
Tebal nominal rancangan
o Pengecualian di atas tidak berlaku untuk tebal hamparan yang melebihi
dari tebal nominal rancangan.
156
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
b. Dasar pembayaran kuantitas yang diukur seperti diuraikan di atas, dalam
jarak angkut berapapun yang diperlukan, harus dibayar untuk per satuan
pengukuran dari masing – masing harga yang dimaksudkan dalam Daftar
Kuantitas dan Harga untuk Mata Pembayaran di bawah ini.
c.
Nomor Mata Satuan
Uraian
Pembayaran Pengukuran
6.2 Laston (AC) Meter Persegi
SEKSI 6.3 : ASPHALT TREATED BASE (ATB)
1) Asphalt Treated Base (ATB) adalah campuran aspal panas dengan agregat
bergradiasi menerus. Asphalt Treated Base (ATB) dipergunakan di atas lapis
pondasi atas yang telah dipersiapkan atau di atas lapis perkerasan dengan
sistem penetrasi macadam. Lapisan ini merupakan pelindung lapis pondasi
atas atau lapis perkerasan dengan sistem penetrasi macadam. Pekerjaan ini
meliputi penyiapan material, penghamparan, pemadatan di atas pondasi jalan
yang telah disiapkan atau di atas permukaan jalan lama sesuai dengan gambar
rencana atau perintah Pengguna Barang/Jasa.
2) Bahan :
a. Agregat Kasar
- Agregat harus terdiri dari batu pecah atau kerikil pecah hasil produksi
mesin pemecah batu dengan gradiasi sebagai berikut.
157
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Prosentase yang lolos menurut
Ukuran
berat
saringan ASTM
Campuran Campuran lapis
( mm )
normal perata
20 ¾” 100 100
12.7 ½” 30 – 100 95 - 100
9.5 3/8” 0 – 55 50 – 100
4.75 #4 0 – 10 0 – 50
0.075 # 200 0 – 1.0 0-5
- Harus bersih, keras dan bebas dari kotoran atau bahan yang tidak
dikehendaki.
- Harus mempunyai prosentase keausan kurang dari 40% pada 500
putaran jika diuji dengan Los Angeles.
- Harus mempunyai keausan kurang dari 12% bila dilakukan pengujian
keausan dengan Sodium Sulfat menurut AASHTO T104.
- Harus mempunyai luas yang terselaput tidak kurang dari 95% bila
dilakukan pengujian penyelaputan dan pengelupasan (coating and
stripping test) menurut AASHTO T182.
b. Agregat Halus
- Agregat halus terdiri dari abu batu hasil produksi mesin pemecah batu
atau pasir alam atau kombinasi dari keduanya dengan gradiasi sebagai
berikut.
Ukuran saringan Prosentase yang lolos
ASTM
( mm ) menurut berat
9.5 3/8” 100
4.75 #4 90 – 100
2.36 #8 80 – 100
0.60 # 30 25 – 100
0.075 # 200 3 – 11
158
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
- Pasir alam yang digunakan harus bersih, keras, tajam, bebas dari
lempung atau material yang tidak dikehendaki.
c. Bahan Pengisi (Filler)
- Bahan pengisi yang dapat digunakan adalah abu batu kapur, semen
Portland, abu terbang atau abu tanur semen.
- Bahan pengisi harus lolos saringan # 200 tidak kurang dari 75%
- Untuk mendapatkan stabilitas campuran yang baik, khususnya bila akan
dipakai pada daerah tanjakan atau pada daerah pengereman (traffic light)
maka penggunaan bahan pengisi semen Portland dianjurkan.
d. Aspal
Aspal yang dipakai adalah aspal semen penetrasi 60/70 yang memenuhi
persyaratan sebagaimana ditetapkan menurut AASHTO M226-78.
3) Persyaratan campuran :
a. Campuran aspal untuk ATB ini harus memenuhi Standar Bina Marga No.
13/PT/B dan bila dilakukan pemeriksaan menurut PC 0201-76 didapatkan
hasil sebagai berikut.
Pemeriksaan Hasil
Kadar aspal (terhadap berat total) 4–7%
Kadar rongga udara dari campuran padat 3–8%
Stabilisasi Marshall pada 2 × 75 tumbukan > 600 kg
Kelelehan 2 – 4 mm
Marshall Quotient 200 – 300 kg/mm
Stabilitas Marshall tersisa setelah perendaman 24 jam pada
75
suhu 60 derajat terhadap stabilitas semula
b. Gradasi campuran ATB
Batas – batas gradasi kombinasi pada campuran AC adalah sebagai
berikut.
159
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Persentase yang lolos
Ukuran Saringan (mm) ASTM
menurut berat
25.0 1“ 100
19.0 ¾“ 80 – 100
12.7 ½“ -
9.5 3/8 “ 60 – 80
4.7 #4 48 – 65
2.3 #8 35 – 50
0.6 # 30 19 – 30
0.3 # 50 13 – 23
0.15 # 100 7 – 15
0.075 # 200 1 –8
c. Toleransi campuran :
Uraian Toleransi
Gabungan agregat yang lolos saringan 9,5 mm ± 7 % berat total campuran
Gabungan agregat yang lolos saringan 2,36
± 5 % berat total campuran
mm
Gabungan agregat yang lolos saringan 150
± 2 % berat total campuran
mikron (no.100)
Gabungan agregat yang lolos saringan 75
± 1,5 % berat total campuran
mikron (no.200)
+ 0,3 % berat total campuran
Kadar aspal
- 0,0 % berat total campuran
4) Peralatan :
a. 1 unit peralatan Mixing Plant
b. 1 unit Stone Crusher
c. 1 unit Asphalt Finisher
d. 1 unit Pemadat Roda Besi
e. 1 unit Pemadat Roda Karet
f. 1 unit Asphalt Sprayer
g. 1 unit Kompresor
160
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
5) Pelaksanaan :
d. Pelaksanaan campuran panas :
o Agregat dan aspal dicampur di dalam AMP dalam keadaan panas.
Campuran aspal panas yang selesai dicampur dalam AMP diangkut
dengan Dump Truck ke lapangan. Temperatur yang diijinkan adalah
sebagai berikut :
a. Suhu agregat adalah 154º – 174º C
b. Suhu aspal adalah 140º – 160º C
c. Suhu pencampuran dalam AMP > 165º C
d. Suhu campuran aspal panas di atas Dump Truck > 135º C
o Pada saat Dump Truck meninggalkan AMP, campuran aspal panas di
atas bak Dump Truck harus ditutup dengan terpal untuk mencegah
penurunan temperatur campuran aspal yang berlebihan.
o Penyerahan campuran aspal panas ke dalam Asphalt Finisher harus
dalam keadaan panas dengan temperatur antara 120º – 150º C.
o Pemadatan pertama (breakdown rolling) dilaksanakan pada saat
temperatur campuran aspal panas antara 110º – 120º C.
o Pemadatan antara (intermediate rolling) dilaksanakan pada saat
temperatur campuran aspal panas antara 95º – 110º C.
o Pemadatan akhir (finishing rolling) dilaksanakan pada saat temperatur
campuran aspal panas antara 80º – 95º C.
o Agar persyaratan teknis dipenuhi maka ketebalan akhir yang dicapai
dalam pelaksanaan ini tidak boleh kurang dari 10% terhadap tebal
nominal yang telah ditetapkan.
o Bila dijumpai ketebalan akhir kurang dari persyaratan teknis yang
dipersyaratkan maka hasil akhir tidak dapat diterima dan harus
diadakan pelapisan ulang dengan ketebalan minimal 1,5 kali diameter
agregat terbesar.
b. Pengendalian mutu pengontrolan di lokasi pencampuran aspal panas :
2 Pengontrolan gradiasi agregat halus dan kasar dilakukan pada setiap
tumpukan material baru
161
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
3 Pengontrolan sand equivalen dilakukan pada setiap tumpukan pasir
sumber material (quarry) baru.
4 Pengontrolan temperatur pemanasan agregat pada dryer dan temperatur
aspal pada tempat pemanasan aspal dilakukan tiap 4 jam sekali.
5 Pengontrolan kadar aspal dalam campuran aspal panas dilakukan pada
awal, pertengahan dan menjelang akhir produksi dengan cara
melakukan ekstraksi.
6 Pengontrolan propertis dari campuran aspal panas dilakukan dengan
metode Marshall.
c. Pengendalian mutu pengontrolan di lokasi penghamparan
o Permukaan harus sudah diberi lapis perekat setelah lapisan ATB 2
secara merata.
o Pengontrolan temperatur pada saat campuran aspal panas di atas Dump
Truck sebelum dimasukkan ke dalam Asphalt Finisher.
o Pengontrolan temperatur penghamparan pada saat dilakukan
penghamparan dengan Asphalt Finisher dan pada saat pemadatannya.
o Pengontrolan ketebalan penghamparan dilakukan dengan cara
membagi berat campuran aspal yang dihampar tiap Dump Truck
dengan luas penghamparan dan berat jenisnya.
o Pengujian core drill harus dilakukan untuk control silang terhadap
ketebalan dan kadar aspal yang terhampar di lapangan.
6) Pengukuran dan pembayaran :
a. Pengukuran pekerjaan :
o Untuk ATB yang dihampar di atas permukaan yang telah dilaveling,
pengukuran dihitung dari perkalian panjang penghamparan dengan
lebar yang diterima dan dibayar dengan mata pembayaran.
o Dalam hal Pengguna Barang/Jasa menyetujui atau menerima tebal
hamparan ATB kurang dari tebal rancangan nominal karena masih
dinilai cukup memenuhi persyaratan teknis, maka volume pekerjaan
yang dihitung untuk pembayaran adalah sebagai berikut :
Tebal yang diterima
Luas hamparan yang sebenarnya diukur ×
162
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Tebal nominal rancangan
o Campuran ATB yang dipasang pada permukaan jalan yang tidak
teratur permukaannya dimana dipergunakan lapisan perata (levelling)
dari ATB, maka pengukuran kuantitas dilaksnakan dengan
menggunakan berat.
b. Dasar pembayaran kuantitas yang diukur seperti diuraikan di atas, dalam
jarak angkut berapapun yang diperlukan, harus dibayar untuk per satuan
pengukuran dari masing – masing harga yang dimaksudkan dalam Daftar
Kuantitas dan Harga untuk Mata Pembayaran di bawah ini.
Nomor Mata Satuan
Uraian
Pembayaran Pengukuran
6.3 Asphalt Treated Base (ATB) Meter Kubik
DIVISI VII
STRUKTUR
SEKSI 7.1 : BETON
1) Spesifikasi :
a. Cakupan pekerjaan
Pekerjaan ini terdiri dari pekerjaan beton, beton struktur yang
dilaksanakan sesuai dengan bentuk, dimensi seperti yang tercantum dalam
gambar rencana atau dari persetujuan Pengguna Barang/Jasa.
b. Kelas dan komposisi campuran beton
Kelas beton yang digunakan pada setiap bagian struktur harus sesuai
dengan apa yang tercantum pada gambar rencana atau atas ijin Pengguna
Barang/Jasa dengan berpedoman pada komposisi beton struktur seperti
tertulis di bawah ini.
163
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Perkiraan Ukuran Max Agregat Slump (range)
Kelas Jumlah Campuran Campuran Jumlah Dengan Tanpa
Beton Semen Standar Alternatif Air Max Vibrasi Vibrasi
(kg/m3) (mm) (mm) (mm) (mm)
K-350 425 25,00 19 180 20 – 60 60 – 100
K-225 350 37,50 5 160 20 – 60 50 – 100
K-175 300 37,50 25 150 50 – 80 50 – 80
K-125 250 50,00 25 130 40 – 100 -
c. Kekuatan tekan beton yang diperlukan
o Kekuatan tekan beton yang diperlukan baik berdasarkan hasil
percobaan kubus maupun silinder harus sesuai dengan AASHTO T-
141 (ASTM C-172), AASHTO T-13 (ASTM (C-31), AASHTO T-72b
(ASTM C-192), AASHTO T-22 (ASTM C-39).
o Hasil kekuatan tekan beton rata – rata untuk umur beton 28 hari harus
sama dengan atau lebih besar dari yang disyaratkan seprti tertulis di
bawah ini :
o
Kekuatan Karakteristik Beton Pada 28 Hari
Kelas Beton
Kubus (kg/cm2) Silinder (kg/cm2)
K-350 350 290
K-225 225 185
K-175 175 145
K-125 125 100
o Kualitas tekan rata – rata pada umur batas 7 hari adalah 75 % dari rata
– rata umur beton 28 hari.
2) Bahan :
a. Semen yang digunakan untuk pekerjaan beton haruslah jenis semen
Portland yang memenuhi AASHTO M85 kecuali jenis IA, IIA, IIIA dan
IV. Terkecuali diperkenankan oleh Pengguna Barang/Jasa, bahan
tambahan aditif yang dapat menghasilkan gelembung udara dalam
campuran tidak boleh digunakan. Terkecuali diperkenankan oleh
164
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Pengguna Barang/Jasa hanya satu merk semen Portland yang dapat
digunakan di dalam proyek.
b. Air yang digunakan dalam campuran, perawatan atau pemakaian lainnya
harus bersih dan bebas dari bahan yang merugikan seperti minyak, garam,
asam, basa, gula atau organik. Air akan diuji sesuai dengan dan harus
memenuhi ketentuan dalam AASHTO T26. Air yang diketahui dapat
diminum dan dapat digunakan tanpa pengujian. Bilamana timbul keragu –
raguan atas mutu air yang diusulkan dan pengujian air seperti di atas tidak
dilakukan, maka harus diadakan perbandingan pengujian kuat tekan mortar
semen + pasir dengan memakai air yang diusulkan dan dengan memakai
air suling atau minum. Air yang diusulkan dapat digunakan bilamana kuat
tekan mortar dengan air tersebut pada umur 7 hari dan 28 hari minimum
90 % kuat tekan mortar dengan air suling atau minum pada periode
perawatan yang sama.
c. Ketentuan gradiasi agregat :
o Gradiasi agregat kasar dan halus harus memenuhi ketentuan sebagai
berikut :
Ukuran Ayakan Persen Berat yang Lolos untuk agregat
ASTM (mm) Halus Kasar
2” 50,8 - 100 - - -
1 ½” 38,1 - 95 – 100 100 - -
1” 25,4 - - 95 – 100 100 -
¾” 19 - 35 – 70 - 90 – 100 100
½” 12,7 - - 25 – 60 - 90 – 100
3/8” 9,5 100 10 – 30 - 20 – 55 40 – 70
No.4 4,75 95 – 100 0–5 0 – 10 0 – 10 0 – 15
No.8 2,36 - - 0–5 0–5 0–5
No.16 1,18 45 – 80 - - - -
No.50 0,300 10 – 30 - - - -
No.100 0,150 2 – 10 - - - -
o Agregat kasar harus dipilih sedemikian sehingga ukuran partikel
terbesar tidak lebih dari ¾ dari jarak minimum antara baja tulangan
165
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
atau antara baja tulangan dengan acuan atau celah – celah lainnya
dimana beton harus dicor.
d. Sifat – sifat agregat
o Agregat untuk pekerjaan beton harus terdiri dari partikel yang bersih,
keras, kuat yang diperoleh dengan pemecahan batu (rock) atau
berangkal (boulder) atau dari pengayakan dan pencucian (jika perlu)
dari kerikil dan pasir sungai.
o Agregat harus bebas dari bahan organik seperti yang ditunjukkan oleh
pengujian SNI 03-2816-1992 dan harus memenuhi sifat – sifat lainnya
yang ada pada tabel berikut :
Batas Max yang diijinkan untuk Agregat
Sifat – sifat
Halus Kasar
Keausan agregat dengan mesin Los
- 40 %
Angeles pada 500 putaran
Kekekalan bentuk batu terhadap
larutan Natrium Sulfat atau 10 % 12 %
Magnesium Sulfat setelah 5 siklus
Gumpalan lempung dan partikel
0,5 % 0,25 %
yang mudah pecah
Bahan yang lolos ayakan no.200 3% 1%
e. Batu untuk beton siklop harus terdiri dari batu yang disetujui mutunya,
keras dan awet dan bebas dari retak dan rongga serta tidak rusak oleh
pengaruh cuaca. Batu harus bersudut runcing, bebas dari kotoran, minyak
dan bahan – bahan lain yang mempengaruhi ikatannya dengan beton.
3) Pelaksanaan
a. Penyimpanan bahan
o Dalam pelaksanaan pekerjaan dan penyimpanan bahan hendaknya
diusahakan sedemikian rupa sehingga tidak saling tercampur dan
dipisahkan menurut ukuran dan jenis bahannya.
o Khusus untuk bahan semen harus disimpan secara teratur dengan
diberi alas balok dan terlindung di bawah atap serta menurut urutan
166
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
pengiriman sehingga dalam pemakaiannya tidak terjadi adanya semen
yang terlalu lama dalam penyimpanannya.
o Semen yang sudah menggumpal tidak diperbolehkan dipergunakan
dan harus dibuang.
b. Penakaran bahan
o Air ditakar dengan alat yang berupa ember atau bahan yang lain yang
disetujui oleh Pengguna Barang/Jasa.
o Semen ditakar berdasar berat per sak.
o Agregat dapat ditakar dalam volume dengan menggunakan alat – alat
yang ukurannya ditentukan berdasarkan persetujuan Pengguna
Barang/Jasa.
c. Pengadukan beton
o Pengadukan, pengangkutan, pengecoran beton sebaiknya dilaksanakan
pada cuaca yang baik dan apabila hari hujan atau panas perlu
digunakan alat perlindungan sehingga nilai air semen tidak dapat
berubah.
o Semua jenis mutu beton harus menggunakan alat pengaduk mekanis
(beton mollen) atau alat mekanis lainnya asalkan mutu beton terjamin.
d. Pengecoran
o Pekerjaan pengecoran dapat dilaksanakan bila pekerjaan pembesian,
pekerjaan perancah dan pembersihan bahan – bahan lepas sudah
disingkirkan dan disetujui oleh Pengguna Barang/Jasa.
o Pengecoran dapat dilaksanakan segera setelah selesai pengadukan dan
harus diselesaikan dalam waktu 20 menit setelah keluar dari mollen
kecuali menggunakan bahan – bahan pembantu untuk memperlambat
proses pengerasan beton.
o Setiap campuran atau adukan beton yang siap untuk dicor harus dites
dengan slump test untuk menjamin kekentalan nilai air semen tetap
terjaga sesuai dengan persyaratan campuran beton yang diijinkan.
o Penyedia Barang/Jasa harus menentukan proporsi campuran serta
bahan yang diusulkan dengan membuat dan menguji campuran
percobaan dengan disaksikan oleh Pengguna Barang/Jasa yang
167
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
menggunakan jenis instalasi dan peralatan yang sama seperti yang
akan digunakan untuk pekerjaan. Campuran percobaan tersebut dapat
diterima asalkan memenuhi ketentuan sifat – sifat campuran, Berikut
adalah batasan proporsi takaran campuran untuk mutu beton K-225.
Kadar semen min
Ukuran Agregat Rasio Air / Semen
Mutu Beton (kg/m3 dari
Max (mm) Max (terhadap berat)
campuran)
37 0,575 285
K225 25 0,575 305
19 0,575 335
o Beton yang tidak memenuhi ketentuan slump umumnya tidak boleh
digunakan pada pekerjaan terkecuali bila Pengguna Barang/Jasa dalam
beberapa hal menyetujui penggunaannya dalam kuantitas kecil untuk
bagian tertentu dengan pembebanan ringan. Kelecakan (workability)
dan tekstur campuran harus sedemikian rupa sehingga beton dapat
dicor pada pekerjaan tanpa membentuk rongga atau celah atau
gelembung udara atau air dan sedemikian rupa sehingga pada saat
pembongkaran acuan diperoleh permukaan rata, halus dan padat.
e. Pemadatan
o Selama dan sesudah pengecoran, beton harus dipadatkan dengan alat –
alat pemadat mekanis atau alat bantu dengan tenaga manusia serta
memerlukan ketelitian sehingga semua sudut – sudut, sela – sela
diantara dos sekeliling tulangan dapat terisi tanpa adanya rongga.
f. Perawatan beton
o Beton yang menggunakan semen biasa dan tidak memakai bahan –
bahan pembantu lainnya diusahakan pembasahan selama minimum 7
hari dengan cara menutupi beton dengan karung atau pasir diberi air
sampai terendam rata.
o Pada beton yang dibuat mempunyai sifat kekuatan awal yang tinggi
atau beton yang menggunakan semen biasa dengan bahan – bahan
168
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
pembantu, harus tetap dibasahi sampai saat dimana kekuatannya
mencapai 70 % dari kekuatan minimum kubus tes.
g. Pengukuran dan pembayaran
o Beton diukur dalam meter kubik mengikuti yang terpasang dengan
ukuran seperti gambar rencana dan disetujui oleh Pengguna
Barang/Jasa.
o Pembayaran volume dari pekerjaan dihitung menurut ketentuan di atas
dan dibayar menurut kontrak harga satuan per m3.
Nomor Mata Satuan
Uraian
Pembayaran Pengukuran
7.1 Beton K-225 Meter Kubik
SEKSI 7.2 : BAJA TULANGAN
1) Pekerjaan ini harus mencakup pengadaan dan pemasangan baja tulangan
sesuai dengan spesifikasi dan gambar atau sebagaimana yang diperintahkan
oleh Pengguna Barang/Jasa.
2) Bahan :
a. Baja tulangan
o Baja tulangan harus baja polos atau berulir dengan mutu yang sesuai
dengan gambar dan memenuhi tabel berikut :
Tegangan Leleh karakteristik atau
Mutu Sebutan Tegangan Karakteristik yang
memberikan regangan tetap 0,2 (kg/cm2)
U24 Baja Lunak 2.400
U32 Baja Sedang 3.200
U39 Baja Keras 3.900
U48 Baja Keras 4.800
169
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
o Bila anyaman baja tulangan diperlukan, seperti untuk tulangan pelat
anyaman tulangan yang dilas yang memenuhi AASHTO M55 dapat
digunakan.
b. Tumpuan untuk tulangan
Tumpuan untuk tulangan harus dibentuk dari batang besi ringan atau
bantalan pracetak dengan mutu K250 seperti yang disyaratkan dari
spesifikasi ini terkecuali disetujui lain oleh Pengguna Barang/Jasa. Kayu,
bata, batu atau bahan lain tidak boleh diijinkan sebagai tumpuan.
c. Pengikat untuk tulangan
Kawat pengikat untuk mengikat tulangan harus kawat baja lunak yang
memenuhi AASHTO M32-90.
3) Pembengkokan
a. Terkecuali ditentukan lain oleh Pengguna Barang/Jasa, seluruh baja
tulangan harus dibengkokkan secara dingin dan sesuai dengan prosedur
ACI 315, menggunakan batang yang pada awalnya lurus dan bebas dari
lekukan – lekukan, bengkokan – bengkokan atau kerusakan. Bila
pembengkokan secara panas di lapangan disetujui oleh Pengguna
Barang/Jasa, tindakan pengamanan harus diambil untuk menjamin bahwa
sifat – sifat fisik baja tidak terlalu berubah banyak.
b. Batang tulangan dengan diameter 2 cm dan yang lebih besar harus
dibengkokkan dengan mesin pembengkok.
4) Penempatan dan pengikatan
a. Tulangan harus dibersihkan sesaat sebelum pemasangan untuk
menghilangkan kotoran, lumpur, oli, cat, karat dan kerak, percikan adukan
atau lapisan lain yang dapat mengurangi atau merusak pelekatan dengan
beton.
b. Tulangan harus ditempatkan akurat sesuai dengan gambar dan kebutuhan
selimut beton minimum yang disyaratkan atau seperti yang diperintahkan
oleh Pengguna Barang/Jasa,
c. Batang tulangan harus diikat kencang dengan menggunakan kawat
pengikat sehingga tidak tergeser pada saat pengecoran. Pengelasan tlangan
170
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
pembagi atau pengikat terhadap tulangan baja tarik utama tidak
diperkenankan.
d. Seluruh tulangan harus disediakan sesuai dengan panjang total yang
ditunjukkan pada gambar. Penyambungan (splicing) batang tulangan,
terkecuali ditunjukkan pada gambar, tidak akan diijinkan tanpa persetujuan
tertulis dari Pengguna Barang/Jasa. Setiap penyambungan yang dapat
disetujui harus dibuat sedemikian sehingga penyambungan setiap batang
tidak terjadi pada penampang beton yang sama dan harus diletakkan pada
titik dengan tegangan tarik minimum.
e. Bilamana penyambungan dengan tumpang tindih disetujui, maka penjang
tumpang tindih minimum haruslah 40 diameter batang dan batang tersebut
harus diberikan kait pada ujungnya.
f. Pengelasan pada baja tulangan tidak diperkenankan, kecuali terinci dalam
gambar atau secara khusus diijinkan oleh Pengguna Barang/Jasa secara
tertulis.
g. Simpul dari kawat pengikat harus diarahkan membelakangi permukaan
beton sehingga tidak terekspos.
h. anyaman baja tulangan yang dilas harus dipasang sepanjang mungkin
dengan bagian tumpang tindih dalam sambungan paling sedikit satu kali
jarak anyaman. Anyaman harus dipotong untuk mengikuti bentuk pada
kerb dan bukaan dan harus dihentikan pada sambungan antara pelat.
i. Bilamana baja tulangan tetap dibiarkan terekspos untuk suatu waktu yang
cukup lama maka seluruh baja tulangan harus dibersihkan dan diolesi
dengan adukan semen acian (semen dan air saja).
j. Tidak boleh ada bagian baja tulangan yang telah dipasang boleh digunakan
untuk memikul perlengkapan pemasok beton, jalan kerja, lantai untuk
kegiatan bekerja atau beban konstruksi lainnya.
5) Pengukuran dan pembayaran
a. Pengukuran
Baja tulangan akan diukur dalam jumlah kilogram terpasang dan diterima
oleh Pengguna Barang/Jasa. Penjepit, pengikat, pemisah atau bahan lain
171
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
yang digunakan untuk penempatan atau pengkatan baja tulangan pada
tempatnya tidak akan dimasukkan dalam berat untuk pembayaran.
b. Dasar pembayaran
Jumlah baja tulangan yang diterima yang ditentukan seperti ketentuan
yang ada harus dibayar pada harga penawaran kontrak untuk mata
pembayaran berikut.
Nomor Mata Satuan
Uraian
Pembayaran Pengukuran
7.2 Baja Tulangan U24 Polos Kilogram
SEKSI 7.3 : PASANGAN BATU
1) Cakupan pekerjaan
a. Pekerjaan ini dimulai dari penyediaan bahan, pekerjaan galian pondasi
konstruksi, pembangunan konstruksi yang ditunjukkan dalam gambar
rencana atau yang sesuai dengan yang diperintahkan oleh Pengguna
Barang/Jasa.
b. Umumnya pekerjaan ini meliputi pasangan dinding penahan tanah,
pasangan gorong – gorong persegi tembok kepala gorong – gorong,
pasangan inlet dan outlet gorong – gorong atau yang lainnya seperti yang
diperintahkan oleh Pengguna Barang/Jasa.
2) Bahan
a. Batu harus bersih tanpa alur atau retak yang berbentuk belah dari batu kali
atau batu gunung yang keras bila terpaksa saling mengunci dengan ukuran
tertentu.
b. Pasir harus bersih dan tidak mengandung kadar lumpur lebih dari 5 %.
c. Adukan semen haruslah memenuhi persyaratan sebagai berikut :
o Adukan atau spesi pasangan terdiri dari satu bagian semen dibanding
tiga bagian pasir (1PC : 3Psr) dalam takaran volume dan mempunyai
kuat tekan minimum 75 kg/cm2 pada umur 28 hari.
172
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
o Adukan atau spesi pasangan terdiri dari satu bagian semen dibanding
empat agregat halus atau pasir (1PC : 4Psr) dalam takaran volume dan
mempunyai kuat tekan minimum 50 kg/cm2 pada umur 28 hari.
3) Pelaksanaan
a. Penyedia Barang/Jasa sebelum melakukan kegiatan harus mengajukan
permohonan pekerjaan kepada Pengguna Barang/Jasa baik berupa
pekerjaan pembersihan maupun pekerjaan yang lain disertai lampiran
gambar rencana dan jadwal pelaksanaan.
b. Batu – batu yang besar ditempatkan paling bawah sebagai landasan atau
pondasi pekerjaan tersebut.
c. Batu pondasi sebelum diletakkan harus diberi adukan terlebih dahulu
setebal 3 – 5 cm begitu pula pasangan batu yang satu dan lainnya.
d. Pasangan batu untuk tembok penahan diharuskan menggunakan sulingan
air dengan jarak 2 meter dan dismeter suling 5 cm.
e. Dalam pelaksanaan tembok penahan yang panjang lebih dari 20 meter
harus diberi sambungan dengan lebar 30 cm setinggi tembok penahan
bagian luarnya sedangkan bagian dalamnya rata.
4) Pengukuran dan pembayaran
a. Pengukuran
o Penyedia Barang/Jasa harus melaporkan setiap pekerjaan yang sudah
selesai untuk diperiksa atau disetujui dan diukur untuk pembayaran
dalam meter kubik sesuai penampang dalam gambar rencana.
o Pekerjaan lain yang bersamaan dengan pekerjaan ini harus diukur
untuk dibayar sesuai dengan jenis pekerjaan dan spesifikasi ini.
b. Pembayaran
Setiap kuantitas yang sudah diukur dan disetujui oleh Pengguna
Barang/Jasa akan dibayar berdasar harga kontrak per satuan pekerjaan
sesuai penawaran.
Nomor Mata Satuan
Uraian
Pembayaran Pengukuran
7.3 Pasangan Batu 1PC : 3Psr Meter Kubik
173
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
DIVISI VIII
PENGEMBALIAN KONDISI DAN PEKERJAAN MINOR
SEKSI 8.1 :
PENGEMBALIAN KONDISI PERKERASAN LAMA
i. Pekerjaan yang tercakup dalam Seksi ini harus meliputi pengembalian kondisi
perkerasan yang rusak sedemikian rupa sehingga terjadi lubang-lubang besar,
tepi jalan banyak yang rusak atau terjadi keriting (corrugation) pada
permukaan perkerasan dengan kedalaman lebih dari 3 cm, terjadi retak-retak
lebar, retak struktural atau retak kecil yang menjalar, atau menunjukkan
bahwa tanah dasarnya melemah seperti jembul atau deformasi yang besar.
ii. Perbaikan lubang
Bahan yang digunakan untuk perbaikan lubang harus sama atau setara dengan
lapisan bahan di sekeliling lokasi yang ditambal kecuali diperintahkan lain
oleh Pengguna Barang/Jasa (misalnya, perkerasan yang terdiri dari lapis
pondasi agregat, AC-BC dan AC-WC haruslah ditangani dengan lapis sub-
permukaan ditambal dengan AC-BC dan lapis permukaan ditambal dengan
AC-WC). Bahan yang digunakan dapat mencakup Timbunan Pilihan, Lapis
Pondasi Kelas A (untuk perkerasan berpenutup aspal), AC-BC, AC-WC,
Campuran Dingin, Lasbutag atau Latasbusir, Penetrasi Macadam, Lapis Resap
Pengikat, Lapis Pengikat, Laston (AC) atau bahan perkerasan lainnya, sesuai
dengan lapis perkerasan yang ditambal. Bahan-bahan ini biasanya harus
memenuhi Seksi yang berkaitan dalam Spesifikasi ini atau Spesifikasi Teknis
yang berkaitan, sebagaimana diperintahkan oleh Pengguna Barang/Jasa.
iii. Pelaburan Setempat (Spot Sealing) dan Laburan Aspal (Seal Coating)
Jenis agregat yang akan ditambahkan pada perkerasan tanpa penutup aspal
akan ditetapkan oleh Pengguna Barang/Jasa dan dapat meliputi Lapis Pondasi
Agregat Kelas C, agregat kasar dan halus untuk Waterbound Macadam
memenuhi ketentuan spesifikasi ini. Bilamana perkerasan tanpa penutup aspal
lama kekurangan agregat kasar atau agregat halus, Pengguna Barang/Jasa
dapat memerintahkan untuk menambah agregat kasar atau halus, dicampur
dengan perkerasan lama dan dipadatkan sehingga memenuhi ketentuan.
174
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
iv. Perataan Setempat (Spot Levelling)
Bahan yang digunakan untuk perataan setempat dapat berupa Lapis Pondasi
Agregat Kelas C, Lapis Penetrasi Macadam, Campuran Aspal Dingin atau
Campuran Aspal Panas, sesuai dengan perintah Pengguna Barang/Jasa.
v. Pelaburan Setempat Untuk Masing-masing Retakan
Retak lebar yang terpisah pada perkerasan yang tidak dapat ditutup dengan
baik dengan Laburan Aspal (BURAS) harus diisi satu demi satu. Sebelum
pengisian, retak yang lebar itu harus digaru untuk mengeluarkan kotoran dan
sampah yang terdapat di dalamnya. Aspal atau aspal emulsi dari kaleng
bercorong kemudian dituang ke dalam retakan sampai penuh. Pasir harus
digunakan sebagai bahan penutup (blotter bahan) terhadap kelebihan aspal
setelah pengisian.
vi. Pengukuran Untuk Pembayaran
a. Penambalan perkerasan, perbaikan lubang, laburan setempat, peraturan
setempat, perbaikan tepi perkerasan dan pengkerikilan kembali yang
ditetapkan sebagai pekerjaan pengembalian kondisi oleh Pengguna
Barang/Jasa harus diukur untuk pembayaran sebagai volume bahan
berbutir atau beraspal yang aktual dihampar dan diterima dalam pekerjaan
pengembalian kondisi tersebut.
b. Pengukuran Mata Pembayaran pengembalian kondisi perkerasan beraspal
harus mencakup semua operasi pengembalian kondisi seperti pemasokan,
pencampuran, penghamparan, pemadatan dan penyelesaian akhir setiap
jenis campuran aspal sebagaimana yang diperintahkan oleh Pengguna
Barang/Jasa. Pembayaran tersebut juga harus sudah mencakup pemasokan,
pencampuran dan pemakaian lapis resap pengikat dan atau lapis perekat,
bila diperintahkan oleh Pengguna Barang/Jasa.
vii. Dasar Pembayaran
Kuantitas yang disyahkan untuk bahan agregat dan atau aspal yang digunakan
dalam pekerjaan pengembalian kondisi yang telah dikerjakan dan diukur
seperti di atas, harus dibayar Harga Kontrak per satuan pengukuran untuk
Mata Pembayaran yang terdaftar di bawah ini.
175
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Nomor Mata Satuan
Uraian
Pembayaran Pengukuran
8.1.(5) Campuran Aspal Panas untuk Pekerjaan Minor Meter Kubik
8.1.(9b) Lapis Perekat untuk Pekerjaan Minor Liter
SEKSI : 8.4
PERLENGKAPAN JALAN DAN PENGATUR LALU LINTAS
1) Pekerjaan ini meliputi memasok, merakit dan memasang perlengkapan jalan
baru atau penggantian perlengkapan jalan lama seperti rambu jalan, patok
pangarah, patok kilometer, patok hektometer, patok Ruang Milik Jalan (RMJ),
Rel Pengaman (Guard Rail), paku jalan, mata kucing, kerb, trotoar, lampu
pengatur lalu lintas, lampu penerangan jalan dan pengecatan marka jalan baik
pada permukaan perkerasan lama maupun yang selesai di-overlay, pada lokasi
yang ditunjukkan dalam Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh
Pengguna Barang/Jasa.
2) Bahan
a. Penyimpanan Cat
o Semua cat harus disimpan menurut petunjuk pabrik pembuatnya,
bahan dan penyimpanan pada Spesifikasi ini.
o Semua cat harus digunakan sesuai umur kemasan untuk menjamin
bahwa hanya produk yang masih baru digunakan dalam waktu yang
disyaratkan oleh pabrik pembuatnya.
b. Plat Rambu Jalan
Pelat untuk Rambu Jalan harus merupakan lembaran rata dari campuran
aluminium keras 5052 – H34 sesuai dengan ASTM B 209 dan harus
mempunyai suatu ketebalan minimum 2 mm. Lembaran tersebut harus
bebas dari gemuk, dikasarkan permukaannya (dietsa), dinetralisir dan
diproses sebelum digunakan sebagai pelat Rambu Jalan.
c. Kerangka dan Pengaku Rambu Jalan
Kerangka dan pengaku harus merupakan bagian-bagian campuran
aluminium alloy yang diekstruksi dari campuran logam No. 6063-T6
176
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
sesuai dengan ASTM B221. Pelat Rambu Jalan harus diberi tambahan
rangka pengaku bila ukuran melebihi 1,0 meter.
d. Tiang Rambu
Tiang rambu harus merupakan pipa baja berdiameter dalam minimum 40
mm, digalvanisir dengan proses celupan panas, sesuai dengan ASTM
A120. Bahan yang sama dipakai juga untuk pelengkap pemegang dan
penutup tiang rambu. Semua ujung yang terbuka harus diberi tutup untuk
mencegah pemasukan air.
e. Perangkat Keras, Sekrup, Mur, Baut dan Cincin
Perlengkapan tambahan harus berupa aluminium atau baja tahan karat
mempunyai kekuatan tarik tinggi untuk tiang rambu.
f. Beton dan Adukan Semen
o Beton yang digunakan untuk pondasi ranbu jalan harus lebih keras
K175 dan untuk patok Kilometer, Hektometer, patok Marka dan patok
RMJ sekurang-kurangnya kelas K-175 seperti disyaratkan dalam seksi
spesifikasi ini.
o Beton yang digunakan untuk kerb harus dari Kelas K300 seperti yang
disyaratkan. Jika ditunjukkan dalam gambar atau diperintahkan oleh
Pengguna Barang/Jasa, maka karbon hitam (carbon black) harus
dicampurkan dengan beton.
o Adukan semen yang digunakan untuk pemasangan kerb harus sesuai
dengan ketentuan yang disyaratkan.
g. Cat untuk Perlengkapan Jalan
Seluruh bahan pelapisan (coating), cat dan email yang akan digunakan
pada persiapan rambu, tiang dan perlengkapannya harus dari mutu yang
baik, dibuat khusus untuk rambu, dan dari jenis dan merk yang dapat
diterima oleh Pengguna Barang/Jasa.
Untuk kecocokan maka sebaiknya dipakai cat dasar, cat lapis awal dan cat
untuk penyelesaian akhir dari pabrik yang sama. Seluruh bahan yang
dipakai tak boleh kadaluarsa dan harus dalam batas waktu seperti yang
ditetapkan oleh pabrik pembuatnya.
h. Lembaran Pemantul
177
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Lembaran pemantul harus merupakan “Scotchlite” jenis Engineering
Grade atau High Intensity Quality, dan dari bahan pemantul tahan lentur
yang disetujui. Permukaan dari tiap rambu harus diberi bahan pemantul
sesuai dengan ketentuan – ketentuan dan bidang muka setiap patok
pengarah harus diberi bahan pemantul.
i. Cat untuk marka jalan
Pada pasal ini kata cat sering dikonotasikan sebagai bahan marka jalan
jenis termoplastik sebagai cat. Cat haruslah berwarna putih atau kuning
seperti yang ditunjukkan dalam gambar dan memenuhi spesifikasi menurut
AASHTO berikut ini :
o Marka jalan bukan termoplastik : AASHTO M248 – 77
o Marka jalan termoplastik : AASHTO M249 – 79 (jenis padat, bukan
serbuk)
3) Pelaksanaan
a. Pemasangan patok pengarah, patok kilometer, patok hektometer, patok
RMJ, dan rambu jalan yaitu jumlah, jenis dan lokasi pemasangan setiap
rambu jalan, patok pengarah, patok kilometer, patok hektometer, patok
RMJ harus sesuai dengan perintah Pengguna Barang/Jasa. Semua patok
harus dipasang dengan akurat pada lokasi dan ketinggian sedemikian rupa
sehingga dapat menjamin bahwa patok tersebut tertanam kuat di
tempatnya terutama selama pengerasan (setting) beton.
b. Semua patok kilometer, patok hektometer, patok RMJ, patok pengarah
harus diberi satu lapis cat dasar (primer), satu lapis cat bawah permukaan
dan satu lapis akhir sebagai lapis permukaan sesuai dengan yang
ditunjukkan dalam gambar. Penandaan lainnya dan bahan pemantul narus
dilaksanakan sebagaimana yang diperintahkan Pengguna Barang/Jasa.
c. Semua pengecatan pada pelat rambu jalan harus dilaksanakan dengan cara
semprotan di atas permukaan pelat yang kering. Permukaan hasil
pengecatan harus rata dan halus dan dikeringkan dengan lampu pemanas
atau dimasukkan ke dalam oven bila diperlukan.
d. Pengecatan marka jalan
178
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Sebelum penandaan marka jalan atau pengecatan dilaksanakan, Penyedia
Barang/Jasa harus menjamin bahwa permukaan perkerasan jalan yang
akan diberi marka jalan harus bersih, kering dan bebas dari bahan yang
bergemuk dan debu. Penyedia Barang/Jasa harus menghilangkan dengan
grit blasting (pengausan dengan bahan berbutir halus) setiap marka jalan
lama baik termoplastis maupun bukan, yang akan menghalangi kelekatan
lapisan cat baru. Pelaksanaan pengecatan marka jalan :
o Semua bahan cat yang digunakan tanpa pemanasan (bukan
termoplastik) harus dicampur terlebih dahulu menurut petnjuk pabrik
pembuatnya sebelum digunakan agar suspensi pigmen merata di dalam
cat.
o Pengecatan tidak boleh dilaksanakan pada suatu permukaan yang baru
diaspal kurang dari 3 bulan setelah pelaksanaan lapis permukaan,
kecuali diperintahkan lain oleh Pengguna Barang/Jasa. Selama masa
tunggu yang disebutkan di atas, pengecatan marka jalan sementara
(pre-marking) pada permukaan beraspal harus dilaksanakan segera
setelah pelapisan.
o Penyedia Barang/Jasa harus mengatur dan menandai semua marka
jalan pada permukaan perkerasan dengan dimensi dan penempatan
yang presisi sebelum pelaksanaan pengecatan marka jalan.
o Pengecatan marka jalan dilaksanakan pada garis sumbu, garis lajur,
garis tepi dan zebra cross dengan bantuan sebuah mesin mekanis yang
disetujui, bergerak dengan mesin sendiri, jenis penyemprotan atau
penghamparan otomatis dengan katup mekanis yang mampu membuat
garis putus – putus dalam pengoperasian yang menerus (tanpa berhenti
dan mulai berjalan lagi) dengan hasil yang dapat diterima Pengguna
Barang/Jasa. Mesin yang digunakan tersebut harus menghasilkan suatu
milimeter untuk cat bukan termoplastik Tebal minimum 1,50mm
(pada pekerjaan pemeliharaan) untuk cat termoplastik belum termasuk
butiran kasa (glass bead) dan tebal 3,00mm (pada pekerjaan baru)
untuk cat termoplastik belum termasuk butiran kasa (glass bead),
dengan garis tepi yang bersih (tidak bergerigi) pada lebar rancangan
179
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
yang sesuai. Bilaman tidak disyaratkan oleh pabrik pembuatnya, maka
cat termoplastik harus dilaksanakan pada temperatur 204 – 218 °C.
o Bilamana penggunaan mesin tidak memungkinkan maka Pengguna
Barang/Jasa dapat mengijinkan pengecatan marka jalan dengan cara
manual, dikuas, disemprot dan dicetak sesuai dengan konfigurasi
marka jalan dan jenis cat yang disetujui untuk pengunaannya.
o Butiran kaca (glass bead) harus ditaburkan di atas permukaan cat
secara mekanis atau manual segera setelah pelaksanaan penyemprotan
atau penghamparan cat. Butiran kaca (glass bead) harus ditaburkan
dengan kadar 450gram/m2 untuk semua jenis cat, baik untuk bukan
termoplastik maupun termoplastik.
o Semua marka jalan harus dilindungi dari lalu lintas sampai marka jalan
ini dapat dilalui oleh lalu lintas tanpa adanya bintik – bintik atau bekas
jejak roda serta kerusakan lainnya.
o Semua marka jalan yang tidak menampilkan hasil yang merata dan
meemenuhi ketentuan baik siang maupun malam hari harus diperbaiki
oleh Penyedia Barang/Jasa atas biaya sendiri.
o Semua pemakaian cat secara dingin harus diaduk di lapangan menurut
ketentuan pabrik pembuat sesaat sebelum dipakai agar menjaga bahan
pewarna tercampur merata di dalam suspensi.
e. Pemasangan kerb
o Persiapan landasan kerb
Lokasi yang diperlukan untuk pekerjaan ini harus dibersihkan dan
digali sampai bentuk dan kedalaman yang diperlukan dan landasan
kerb ini harus dipadatkan sampai suatu permukaan yang rata. Semua
bahan yang lunak dan tidak sesuai harus dibuang dan diganti dengan
bahan yang memenuhi syarat serta harus dipadatkan secara merata.
o Pemasangan
Kerb harus dipasang dengan teliti sesuai dengan detil, garis dan elevasi
yang ditunjukkan dalam gambar atau sebagaimana yang diperintahkan
oleh Pengguna Barang/Jasa. Setiap kerb yang akan dipasang pada
180
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
suatu kurva dengan radius kurang dari 20 m harus dibuat dengan
menggunakan cetakan lengkung atau unit pracetak yang melengkung.
o Sambungan
Unit kerb dan jenis pracetak lainnya harus dipasang dengan
sambungan serapat mungkin.
o Penimunan kembali
Setelah suatu pekerjaan beton yang dicor di tempat mengeras dan unit
– unit kerb telah dipasang sebagaimana yang diperintahkan oleh
Pengguna Barang/Jasa, maka setiap lubang galian yang tersisa harus
ditimbun kembali dengan bahan yang disetujui. Bahan ini harus diisi
dan dipadatkan sampai merata dalam lapisan – lapisan yang tidak
melebihi ketebalan 15 cm. semua celah di antara kerb baru dan tepi
perkerasan yang ada harus diisi kembali dengan jenis campuran aspal
yang disetujui oleh Pengguna Baran/Jasa, kecuali dalam gambar telah
ditunjukkan dengan jelas bahwa pengisian kembali ini tidak
diperlukan.
o Jalan masuk kendaraan yang memotong trotoar
Bilaman jalan masuk kendaraan yang memotong trotoar diperlukan,
maka sebagian unit kerb harus dibentuk khusus atau dipasang lebih
rendah dengan peralihan yang cukup landai sebgaimana ditunjukkan
dalam gambar atau sebgaimana diperintahkan oleh Pengguna
Barang/Jasa. Penyedia Barang/Jasa harus menyediakan bahan kerb
tersebut dan melaksanakan pekerjaan ini sesuai dengan gambar atau
sebagaiman yang diperintahkan oleh Pengguna Barang/Jasa.
4) Pengukuran dan pembayaran
a. Pengukuran
o Kuantitas yang diukur untuk rambu jalan, patok kilometer, patok
hektometer dan patok RMJ haruslah jumlah aktual yang disediakan
dan dipasang sesuai dengan gambar dan diterima oleh Pengguna
Barang/Jasa.
o Kuantitas marka jalan yang dibayar haruslah luas dalam meter persegi
pengecatan marka jalan yang dilaksanakan pada permukaan jalan
181
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
sesuai gambar dan diterima oleh Pengguna Barang/Jasa. Tidak ada
pengukuran terpisah untuk pembayaran marka jalan sementara (pre-
marking) yang harus dilaksanakan sebelum pengecatan marka jalan
permanen.
o Kerb pracetak yang baru maupun yang disusun kembali akan diukur
dalam meter panjang sepanjang bagian muka dari puncak kerb. Tidak
ada pengurangan dalam ukuran panjang untuk lubang drainase yang
dipasang dalam pembuatan kerb.
b. Dasar pembayaran
Setiap kuantitas yang sudah diukur dan disetujui oleh Pengguna
Barang/Jasa akan dibayar berdasar harga kontrak per satuan pekerjaan
sesuai penawaran.
Nomor Mata Satuan
Uraian
Pembayaran Pengukuran
8.4.(1) Marka jalan termoplastik Meter Persegi
Rambu jalan tunggal dengan permukaan pemantul
8.4.(3a) Buah
Engineering Grade
8.4.(6a) Patok kilometer Buah
8.4.(6b) Patok hektometer Buah
8.4.(10) Kerb pracetak Meter Panjang
DIVISI IX
PELKERJAAN HARIAN
SEKSI 9.1 : PEKERJAAN HARIAN
1) Pekerjaan ini mencakup operasi – operasi yang disetujui oleh Pengguna
Barang/Jasa yang semula tidak diperkirakan (atau disediakan dalam Daftar
Kuantitas dari Divisi I sampai VIII) tetapi diperlukan selama pelaksanaan
pekerjaan untuk penyelesaian pekerjaan yang memenuhi ketentuan. Operasi –
operasi yang dilaksanakan menurut pekerjaan harian dapat terdiri dari
pekerjaan jenis apapun sebagaimana yang ditunjukkan atau diperintahkan oleh
182
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Pengguna Barang/Jasa, dan dapat mencakup pekerjaan tambahan dari
drainase, galian, timbunan, stabilisasi, pengujian, pengembalian (restitution)
perkerasan lama ke bentuk semula, pelapisan ulang, struktur atau pekerjaan
lainnya.
2) Bahan dan peralatan
o Seluruh bahan yang digunakan dalam pekerjaan harian harus memenuhi
ketentuan mutu dan kinerja yang diberikan dalam seksi yang bersangkutan
dari spesifikasi ini. Untuk bahan yang tidak disyaratkan secara terinci
dalam spesifikasi ini, maka mutu bahan harus seperti diperintahkan atau
disetujui oleh Pengguna Barang/Jasa.
o Seluruh peralatan yang digunakan dalam pekerjaan harian harus
memenuhi ketentuan dari seksi yang bersangkutan dari spesifikasi ini dan
harus disetujui oleh Pengguna Barang/Jasa sebelum pekerjaan dimulai.
3) Pelaksanaan
o Perintah pekerjaan harian
o Kinerja pekerjaan yang dilaksanakan berdasarkan pekerjaan harian
o Tagihan atas pekerjaan harian
4) Pengukuran dan pembayaran
a. Pengukuran dan pembayaran untuk pekerja
o Upah pekerja, pajak, bonus, asuransi, tunjangan hari libur, akomodasi
dan fasilitas kesejahteraan, pengobatan, seluruh tunjangan serta biaya
lainnya yang diuraikan dalam Peraturan Tenaga Kerja Indonesia,
Petunjuk Untuk Penanaman Modal Asing yang diterbitkan oleh Biro
Hukum, Departemen Tenaga Kerja.
o Penggunaan dan pemeliharaan perkakas tangan
o Biaya transportasi ke dan dari lokasi pekerjaan yang dilaksanakan
o Seluruh biaya administrasi dan keuangan yang bersangkutan,
pengawasan di luar mandor, dan biaya pelengkap lainnya serta biaya
umum (over head) yang diperlukan untuk memobilisasi pekerja ke
lokasi pekerjaan
o Laba
b. Pengukuran dan pembayaran untuk peralatan
183
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
o Sopir, operator dan pembantunya dimana telah termasuk semua biaya
untuk pekerja.
o Bahan bakar dan perbekalan yang habis dipakai lainnya.
o Turun mesin (overhaul), perbaikan dan penggantian.
o Waktu lowong dan waktu perjalanan di lapangan.
o Pengeluaran yang telah ditetapkan, biaya untuk keperluan lapangan
dan kantor pusat dan semua biaya umum.
o Biaya pemindahan perlatan ke dan dari lapangan.
o Laba.
c. Pengukuran dan pembayaran untuk bahan
o Pengadaan dan pengiriman ke lapangan.
o Penerima di lapangan, pemongkaran, pemeriksaan, penyimpanan,
pengujian, perlindungan dan penanganan secara umum.
o Pembuangan bahan sisa.
o Biaya administrasi dan akuntan dan semua biaya umum lainnya yang
bersangkutan.
o Laba.
e. Penyedia Barang atau Jasa harus juga diberi kompensasi menurut
ketentuan yaitu untuk pemakaian pekerja dan peralatan dalam pengelolaan
bahan untuk pekerjaan.
184
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
DIVISI X
PEKERJAAN PEMELIHARAAN RUTIN
SEKSI 10.1 : PEMELIHARAAN RUTIN PERKERASAN, BAHU JALAN,
DRAINASE, PERLENGKAPAN JALAN DAN JEMBATAN
1) Klasifikasi pekerjaan pemeliharaan rutin :
a. Perkerasan
o Perkerasan berpenutup aspal
Pekerjaan pemeliharaan rutin harus mencakup operasi yang terutama
bertujuan untuk memlihara permukaan jalur lalu lintas sehingga
kerataannya tetap konsisten dengan mutu permukaan rata – rata dari
perkerasan lama, seperti laburan aspal untuk menutup retak – retak
yang memerlukan luas pelaburan kurang dari 10 % dari setiap 100 m
panjang penambalan lubang – lubang kecil kurang dari 40 cm × 40 cm
dengan galian kecil seperlunya untuk melaksanakan tambal lubang dan
sealling retak ringan dengan aspal.
o Perkerasan tanpa penutup aspal
Pekerjaan pemeliharaan rutin harus mencakup operasi seperti
pengisian lubang dan keriting (corrugation) dan perataan ringan
dengan grader untuk mendistribusi kembali bahan yang lepas.
b. Bahu jalan
Pekerjaan pemeliharaan rutin harus mencakup operasi seperti pengisisan
lubang, pemotongan dan pembuangan rumput maupun semak – semak
maupun pohon berdiameter kurang dari 15 cm yang diukur 1 meter dari
permukaan tanah dan penghalang lainnya, perataan bahu jalan agar bahu
jalan mempunyai performa yang baik dan dapat mengalirkan air keluar
dari badan jalan, dan pengkerikilan kembali.
c. Drainase
Pekerjaan pemeliharaan rutin harus mencakup operasi seperti pembuangan
lanau, daun, kotoran dan tanaman dari drainase dan gorong – gorong dan
perbaikan ringan dari konstruksi drainase yang ada sehingga sistem
drainase yang ada dapat tetap berfungsi dengan baik.
185
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
d. Perlengkapan jalan
Pekerjaan pemeliharaan rutin harus mencakup operasi seperti pembersihan
dan perbaikan rambu jalan, patok pengaman dan patok kilometer yang
rusak, perbaikan rel pengaman, pengecatan kembali huruf yang tidak
terbaca pada rambu jalan dan pegecatan kembali marka jalan yang ada dan
sudah tipis.
e. Jembatan
Pekerjaan pemeliharaan rutin harus mencakup operasi seperti pemeriksaan
secara teratur dan pelaporan semua kondisi komponen utama dan struktur
maupun pembersihan saluran dan lubang drainase, pembersihan kotoran
dan sampah pada sambungan ekspansi, perletatkkan dan komponen logam
lain yang peka terhadap karat dan pembuangan akumulasi sampah yang
diakibatkan oleh banjir pada saluran air, pengecatan dan perbaikan ringan
dari konstruksi jembatan yang ada.
2) Pengukuran untuk pembayaran
a. Semua pekerjaan yang dirancang oleh Pengguna Barang/Jasa sebagai
pekerjaan pemeliharaan rutin menurut batas – batas yang diberikan dari
spesifikasi ini, harus disahkan untuk pembayaran setiap bulan berdasarkan
pengesahan tertulis dari direksi dimana standar pelayanan perkerasan,
bahu, drainase, perlengkapan jalan dan jembatan telah dipelihara dengan
baik menurut ketentuan dalam seksi ini.
b. Pengukuran dan pembayaran harus dilakukan berdasarkan kuantitas bahan
yang aktual digunakan dalam pekerjaan sebagaimana ditentukan dalam
spesifikasi ini.
3) Dasar pembayaran
a. Pekerjaan pemeliharaan rutin yang diuraikan dalam pasal ini harus dibayar
dari harga lump sump dalam kontrak untuk mata pembayaran yang
terdaftar dan dalam Daftar Kuantitas, dimana harga tersebut harus
mencakup semua kompensasi Penyedia Barang/Jasa untuk penyediaan
semua bahan, pekerja, peralatan, perkakas dan keperluan lainnya yang
perlu atau lazim untuk pekerjaan pemeliharaan rutin perkerasan, bahu
186
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
jalan, drainase, perlengkapan jalan dan jembatan sampai diterima oleh
Pengguna Barang/Jasa.
b. Dengan syarat diterbitkannya pengesahan tertulis setiap bulan dari
Pengguna Barang/Jasa atas kinerja Penyedia Barang/Jasa yang memenuhi
ketentuan dalam pelaksanaan semua operasi pemeliharaan rutin yang
diperlukan, maka Mata Pembayaran lump sump harus dibayarkan kepada
Penyedia Barang/Jasa dengan angsuran bulanan berikut ini :
Lump Sum
Bulan ke-1 sampai dengan N =
N
Dimana N = Jumlah Bulan Periode Pelaksanaan
f. Jika dalam salah satu minggu dari periode pelaksanaan, Penyedia
Barang/Jasa telah gagal melaksanakan pekerjaan pemeliharaan rutin yang
diuraikan dalam seksi ini sampai dapat diterima oleh Pengguna
Barang/Jasa, Pengguna Barang/Jasa dapat mengeluarkan peringatan
tertulis kepada Penyedia Barang/Jasa dan Penyedia Barang/Jasa harus
segera memberi tanggapan atas peringatan itu. Jika peringatan semacam
itu telah diberikan dua kali dalam tempo satu minggu tanpa tanggapan
Penyedia Barang/Jasa, Pengguna Barang/Jasa dapat memilih untuk
melaksanakan pekerjaan itu dengan sumber dayanya sendiri atau pihak
lain dengan harga pasar yang ditetapkan oleh Pengguna Barang/Jasa.
g. Biaya tambahan untuk setiap macam pekerjaan yang dilakukan oleh
Pengguna Barang/Jasa harus ditanggung sepenuhnya oleh Penyedia
Barang/Jasa, dengan mengurangi biaya total aktual yang digunakan oleh
Pengguna Barang/Jasa ditambah uang denda 10 % dari harga lump sum
untuk pekerjaan pemeliharaan rutin yang belum dibayar atau dari sumber
lain yang menjadi hak Penyedia Barang/Jasa.
187
BAB III ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR
Hafida Ega Arifandi / [Link].09
Nomor Mata Satuan
Uraian
Pembayaran Pengukuran
10.1.(1) Pemeliharaan rutin perkerasan jalan Lump Sum
10.1.(2) Pemeliharaan rutin bahu jalan Lump Sum
Pemeliharaan rutin selokan, saluran air, galian
10.1.(3) Lump Sum
dan timbunan
10.1.(4) Pemeliharaan rutin perlengkapan jalan Lump Sum
10.1.(5) Pemeliharaan rutin jembatlan Lump Sum