0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
36 tayangan15 halaman

Penyakit Akibat Kerja Zat Kimia

Tiga kalimat ringkasan dokumen tersebut adalah: Dokumen tersebut membahas tentang penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh paparan zat kimia, termasuk definisi, jenis faktor penyebab, pentingnya deteksi dini, dan tujuh langkah diagnosis penyakit akibat kerja.

Diunggah oleh

Cicilia Sinaga
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
36 tayangan15 halaman

Penyakit Akibat Kerja Zat Kimia

Tiga kalimat ringkasan dokumen tersebut adalah: Dokumen tersebut membahas tentang penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh paparan zat kimia, termasuk definisi, jenis faktor penyebab, pentingnya deteksi dini, dan tujuh langkah diagnosis penyakit akibat kerja.

Diunggah oleh

Cicilia Sinaga
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Penyakit Akibat Kerja dengan Paparan Zat Kimia

Bernarda Karina Karwayu


102016090
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Alamat Korespondensi [Link] Utara No.6 Jakarta Barat 11510
Email: bernarda.2016fk090@[Link]

Abstrak
Penyakit akibat pekerjaan adalah gangguan atau kondisi abnormal apapun, selain kondisi atau gangguan
akibat cedera terkait pekerjaan, yang disebabkan oleh faktor-faktor yang berhubungan dengan pekerjaan.
Termasuk di dalamnya adalah sakit atau penyakit akut kronis yang dapat terjadi akibat menghirup,
menyerap, menelan, atau kontak langsung. Kasus cedera akibat pekerjaan adalah cedera apapun, semacam
luka terpotong, patah, keseleo, amputasi, dan lain-lain, yang terjadi akibat suatu peristiwa terkait
pekerjaan atau akibat satu kejadian yang tiba-tiba di lingkungan tempat kerja. Seorang pekerja tentu tidak
akan selamanya sehat, terkadang pajanan di lingkungan kerja justru menjadi faktor penting yang
menurunkan status kesehatan pekerja. Pajanan terbagi mejadi beberapa jenis, yaitu pajanan fisik, pajanan
kimia, pajanan biologi, pajanan ergonomi,dan pajanan psikososial. Kesemua jenis pajanan ini dapat
menimbulkan gangguan pada pekerja, dengan mekanismenya masing-masing.
Kata kunci: kesehatan, pajanan, kimia

Abstract
Occupational disease is a disorder or abnormal conditions of any kind, other than the condition or
disorder as a result of work-related injuries, which are caused by factors related to work. This includes
chronic pain or acute illness that can result from inhaling, absorbing, swallowing, or direct contact.
Cases of occupational injury is any injury, some kind of cuts, fractures, sprains, amputation, etc.,
resulting from an event related to the job or as a result of the sudden occurrence in the workplace
environment. However, a worker would not be healthy forever, sometimes exposure in the work
environment became an important factor that lowers workers' health status. Exposure is divided into
some kind, for example physical exposure, exposure to chemical, biological exposure, exposure of
ergonomics and psychosocial exposure. All of these types of exposure can cause interference in workers,
with each own mechanism.
Keywords: health, exposure,chemical

Pendahuluan
Penyakit akibat kerja terjadi disebabkan oleh seseorang yang terpajan faktor fisik,
kimiawi, biologis atau psikososial di tempat kerja. Meskipun angka kejadiannya tampak lebih
kecil dibandingkan dengan penyakit-penyakit utama penyabab cacat lainnya, terdapat bukti
bahwa penyakit ini mengenai cukup banyak orang. Khususnya di negara-negara yang sedang giat
mengembangkan industri.1

Pada banyak kasus, penyakit akibat kerja ini bersifat berat dan mengakibatkan kecacatan.
Akan tetapi ada dua faktor yang membuat penyakit ini mudah dicegah. Pertama, bahan penyebab
penyakit dapat diidentifikasi, diukur dan dikontrol. Kedua, populasi yang beresiko biasanya
mudah didatangi dan diawasi secara teratur serta diobati. Selain itu, perubahan-perubahan awal
seringkali dapat pulih dengan penanganan yang tepat.1

Oleh karena itu, deteksi dini penyakit akibat kerja sangatlah penting. Dengan demikian,
tenaga kerja yang sakit dapat segera diobati sehingga penyakitnya tidak berkembang dan dapat
disembuhkan dengan segera. selain itu juga dapat dilakukan pencegahan agar tenaga kerja yang
lain dapat terlindung dari penyakit tersebut.

Dengan adanya tugas ini, diharapkan dapat menjelaskan sebagian kecil masalah yang
dialami pekerja. Khususnya pekerja yang terkena pajanan pelarut sintetis seperti metal etil keton
(MEK).1,2

Defnisi Penyakit Akibat Kerja

Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat kerja, bahan,
proses maupun lingkungan kerja. Dengan demikian Penyakit Akibat Kerja merupakan penyakit
yang artifisial atau man made disease.2

WHO membedakan empat kategori Penyakit Akibat Kerja :

1. Penyakit yang hanya disebabkan oleh pekerjaan, misalnya Pneumoconiosis.

2. Penyakit yang penyebabnya adalah bukan karena pekerjaan

3. Penyakit dengan pekerjaan merupakan salah satu penyebab di antara faktor-faktor


penyebab lainnya, misalnya Bronkhitis khronis.

4. Penyakit dimana pekerjaan memperberat suatu kondisi yang sudah ada sebelumnya,
misalnya asma.
Tabel 1: Klasifikasi Potensi Bahaya pada Kesehatan dan Keselamatan Kerja2

Faktor Penyebab Penyakit Akibat Kerja

Faktor penyebab Penyakit Akibat Kerja sangat banyak, tergantung pada bahan yang
digunakan dalam proses kerja, lingkungan kerja ataupun cara kerja, sehingga tidak mungkin
disebutkan satu per satu. Pada umumnya faktor penyebab dapat dikelompokkan dalam 5
golongan :3,4

1. Golongan fisik : suara (bising), radiasi, suhu (panas/dingin), tekanan yang sangat tinggi,
vibrasi, penerangan lampu yang kurang baik.

2. Golongan kimiawi : bahan kimiawi yang digunakan dalam proses kerja, maupun yang
terdapat dalam lingkungan kerja, dapat berbentuk debu, uap, gas, larutan, awan atau
kabut.

3. Golongan biologis : bakteri, virus atau jamur.

4. Golongan ergonomis : biasanya disebabkan oleh penataan tempat kerja dan cara kerja.
5. Golongan psikososial : lingkungan kerja yang mengakibatkan stress.

Deteksi Dini

Dalam pengendalian penyakit akibat kerja, salah satu upaya yang wajib dilakukan adalah
deteksi dini, sehingga pengobatan dapat diberikan secepat mungkin. Dengan demikian, penyakit
bisa pulih tanpa menimbulkan kecacatan. Sekurang-kurangnya, tidak menimbulkan kecacatan
lebih lanjut.

Pada banyak kasus, penyakit akibat kerja bersifat berat dan mengakibatkan cacat. Namun
demikian ada dua faktor yang membuat penyakit ini mudah dicegah. Pertama, bahan penyebab
penyakit mudah diidentifikasi, diukur dan [Link], populasi yang berisiko biasanya
mudah didatangi dan dapat diawasi secara teratur serta dilakukan pengobatan. Di samping itu,
perubahan awal seringkali bisa pulih dengan penanganan yang tepat. Karena itulah deteksi dini
penyakit akibat kerja sangatlah penting.1

Lingkungan kerja sering mengandung bermacam-macam bahaya kesehatan, baik bersifat


fisik, kimia, biologis maupun psikologis. Deteksi dini merupakan kata kunci untuk mengatasi
berbagai penyakit akibat [Link]-kurangnya ada tiga hal, menurut WHO, yang dapat
dijadikan sebagai pedoman dalam deteksi dini, yaitu:5

 Perubahan biokimiawi dan morfologis yang dapat diukur melalui analisis laboratorium.
Misalnya hambatan aktivitas kolinesterase pada paparan terhadap pestisida organofosfat,
penurunan kadar hemoglobin (Hb), sitologi sputum yang abnormal dan sebagainya.

 Perubahan kondisi fisik dan fungsi sistem tubuh yang dapat dinilai melalui pemeriksaan
fisik dan laboratorium. Misalnya elektrokardiogram, uji kapasitas kerja fisik, uji saraf dan
sebagainya.

 Perubahan kesehatan umum yang dapat dinilai dari riwayat medis. Misalnya rasa kantuk
dan iritasi mukosa setelah paparan terhadap pelarut-pelarut organik.

Tujuh Langkah Diagnosis Okupasi

Terdapat 7 langkah dalam mendiagnosis suatu penyakit akibat kerja, yang disebut dengan
7 langkah diagnosis okupasi.2 Diagnosis penyakit akibat kerja memerupakan suatu dasar bagi
manajemen penyakit yang terdiri dari promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Diagnosis
penyakit akibat kerja juga adalah penentu bagi setiap pekerja sama ada tidak berhak atau berhak
mendapat manfaat diatas kecelakaan kerjanya.
1. Diagnosis klinis

a. Anamnesis

Anamnesis merupakan tahap awal dalam pemeriksaan untuk mengetahui riwayat


penyakit dan menegakkan diagnosis. Anamnesis harus dilakukan dengan teliti, teratur,
dan secara lengkap. Sistematikan yang lazim dalam anamnesis mencangkup identitas,
riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga, dan
riwayat sosial.2

Jika kecurigaan mengarah pada intoksikasi solvent maka diperlukan anamnesis yang teliti
pada riwayat pekerjaan pasien, hal ini terutama ditujukan untuk mengetahui terlebih
dahulu rute dari agen penyebab (dapat berupa rute oral, dermal, atau inhalasi), seberapa
banyak jumlah agen yang sudah tertelan/terinhalasi, dan kapan waktu pekerja tersebut
menginhalasi/menelan agen.2

Untuk mengenal faktor-faktor lingkungan kerja, pertama-tama harus diketahui dahulu


bahan-bahan kimia yang digunakan sebagai bahan baku, proses produksi, dan hasil
sampingan serta limbah yang dihasilkan. Sebagian dari informasi tersebut didapat dari
label kemasan bahan tersebut, dari produsennya, atau dari pustaka dalam bentuk Material
Safety Data Sheet (MSDS). Sebagai contoh, tingkat keparahan (severity) dati penggunaan
salven organik tergantung dari berbagai faktor sebagai berikut:5

 Bagaimana cara solven tersebut digunakan

 Jenis pekerjaan dan bagaimana pekerja terpapar

 Pola kerja

 Lama pemaparan

 Suhu lingkungan kerja


 Tingkat ventilasi

 Tingkat penguapan dati solven

 Pola aliran udara

 Konsentrasi uap di udara lingkungan kerja Pemeliharaan dan kebersihan ruang kerja
(housekeeping)

b. Pemeriksaan Fisik

Dimulai dengan pemeriksaan keadaan umum, kesadaran, dan tanda-tanda vital dari
pasien meliputi pemeriksaan frekuensi nadi, frekuensi pernapasan, tekanan darah dan
suhu tubuh.2

Pada pasien dengan intoksikasi solvent berat, dapat ditemukan frekuensi pernapasan yang
rendah sebagai tanda-tanda awal henti napas/distres sistem pernapasan. Paru-paru
merupakan tempat utama dari toksisitas umum dari berbagai solven organik dan biasanya
terjadi setelah pekerja menghirup atau menelan agen, diperlukan pemeriksaan fisik paru-
paru dalam hal ini.2 Gejala yang berhubungan dengan sistem pernapasan dapat berupa
batuk, sendawa, dan tersedak yang terjadi 30 menit setelah pajanan dan seringkali dapat
muncul terlambat setelah beberapa jam.2 Beberapa pasien mengeluh mengalami batuk
yang transien, batuk yang berkepanjangan dan hipoksia lebih mengarah kepada aspirasi.
Selain pemeriksaan fisik paru, diperlukan pula pemeriksaan neurologis untuk menyelidiki
gejala gangguan neurologis pasien apakah berkaitan dengan penyakit neurologis yang
mendasarinya.1,2 Gejala yang mengacu kepada pemeriksaan neurologis seperti sakit
kepala, letargi, dan status mental yang menurun atau berubah yang dimulai dengan
disorientasi ringan, gangguan memori, perubahan dari mood pasien, cara bicara serta
kesadaran pasien.

c. Pemeriksaan Penunjang
Pada dasarnya, pemeriksaan penunjang yang dilakukan didasarkan pada pajanan yang
terjadi. Pemeriksaan pulse oximetry sebaiknya dilakukan pada semua pasien untuk
mengevaluasi oksigenasi.3 Pemeriksaan yang dapat dilakukan, mencakup: Pemeriksaan
laboratorium mencakup pemeriksaan darah lengkap untuk mengetahui gambaran
komponen darah, yang biasanya pada ingesti akut dapat ditemukan gambaran
leukositosis, gambaran anemia dapat terjadi sebagai akibat dari hemolisis intravaskuler.

Untuk mengkonfirmasi pajanan terhadap solven organik, maka pemantauan dari biologic
exposure index (BEI) dapat memberikan informasi yang berguna.2,3 Banyak jenis dari
solven organik memiliki kadar pajanan yang masih dalam batas yang aman dan biasa
akan dibuang dari tubuh dalam bentuk yang tidak berubah melalui tindakan ekshalasi
namun metabolisme dari fraksi solven yang diserap selanjutnya akan dikonjugasikan
menjadi senyawa yang larut air dan akan dieskresikan utamanya melalu urin.2 Eskresi
melalu urin atau melalui sistem bilier dari komponen yang tidak berubah atau metabolit
dari zat biasanya terjadi. Komponen inilah yang selanjutnya akan menjadi dasar dari BEI.
Namun, pemantauan kerapkali sulit untuk dilakukan oleh karena pajanan dapat terjadi di
masa lampau yang sudah terlampau jauh atau spesimen seringkali susah didapatkan.2

2. Pajanan yang Dialami


Pajanan yang dinilai haruslah meliputi pajanan yang dialami saat ini dan juga pajanan
yang dialami sebelumnya. Informasi mengenai pajanan yang dialami oleh pasien boleh
didapatkan melalui anamnesis. Seperti yang diketahui dari anamnesis pasien berkerja di
pabrik sepatu dan bekerja pada bagian sol sepatu. Oleh karenanya pasien sering terpapar
lem, dimana kita ketahui salah satu komposisi lem terdiri dari pelarut organik. Pelarut
organik adalah bahan kimia yang berbentuk cair pada suhu kamar, berfungsi sebagai
pelarut bahan kimia lainnya.4 Pelarut organik sangat beragam dengan struktur kimia yang
bermacam-macam: golongan hidrokarbon aromatik (benzena, toluena, xylena, dll),
hidrokarbon alifatik, aldehida, alkohol, eter, keton, glikol, hidrokarbon terhalogenisasi,
dan lain-lain.4 Kesamaannya adalah kemampuannya melarutkan dan mendispersikan
lemak, minyak, cat, dan lain-lain. Penggunaan pelarut organik di bidang industri
bermacam-macam, contohnya benzena, toluena, xylena (BTX) di gunakan sebagai lem,
pelarut, cat, dan lain-lain.4 Penggunaan toluena sebagai sebagai pelarut cat, thinner, tinta,
lem, bahan tambahan produk kosmetik, industri pestisida, crude petroleum, disinfektan,
industri plastik, dan serat sintetik.

Rute masuk ke dalam tubuh dapat melalui tiga mekanisme, yaitu inhalasi (terhirup),
ingesti (tertelan), dan kontak langsung melalui kulit.1 Pelarut organik seperti benzena,
toluena, xylena (BTX) mudah menguap, seringkali uap BTX terhirup oleh pekerja yang
tidak mengunakan alat pelindung diri. Pelarut organik ini berbahaya bagi kesehatan
pekerja karena dapat menyebabkan antara lain iritasi hidung, tenggorokan, dan saluran
napas, iritasi dan inflamasi pada paru, gangguan susunan saraf pusat, gangguan susunan
saraf tepi, gangguan neurologis: gangguan organ seperti ginjal, iritasi mata, dan iritasi
kulit.4

3. Hubungan Pajanan dengan Penyakit


Hubungan antara pajanan dan penyakit ini haruslah didukung oleh bahan ilmiah seperti
literatur atau penelitian. Seandainya belum ada bahan ilmiah yang mampu membuktikan
hubungan antara pajanan dan penyakit, seorang dokter boleh menggunakan pengalaman
yang ada padanya untuk menentukan apakah ada hubungan antara pajanan dengan
penyakit

Secara garis besar, pada pasien pekerja dengan kecurigaan keracunan solven organik
pada lem seperti benzene, xylen dan toluene, MEK, efek terhadap kesehatan
dikategorikan menjadi 2, berdasarkan sistem neurologis atau dilihat berdasarkan pajanan
yang diterima pasien.2,4
Pajanan dikategorikan berdasarkan durasi dari pajanan (jangka pendek atau jangka
panjang; untuk itu perlu diketahui seberapa lama pekerja sudah melakukan pekerjaannya
tersebut), intensitas dari pajanan (rendah atau tinggi).2 Efek yang bersifat akut biasanya
disebabkan oleh efek pajanan jangka pendek. Pajanan yang bersifat jangka pendek
dengan intensitas yang rendah dapat nampak sebagai kondisi subklinis dan dapat bersifat
reversibel atau ireversibel.3 Pajanan kronik biasanya terjadi sebagai akibat dari pajanan
yang berlangsung selama beberapa periode waktu. Dampak pada kesehatan dapat bersifat
subklinis atau klinis. Efek akut dari pajanan jangka pendek biasanya akan segera nampak
sebagai tanda yang bersifat mendadak pada pasien dengan umumnya berupa gejala
gangguan SSP sebagai akibat dari pajanan dengan kadar tinggi terhadap solven organik.

Gejala dapat bervariasi, namun umumnya gejala yang khas ialah pasien mengalami
disorientasi, pusing, euforia, dan kebingungan yang kemudian akan berlanjut menjadi
ketidaksadaran pasien, lumpuh, kejang dan kematian akibat henti napas/jantung.
Disfungsi neurologis akibat pajanan jangka panjang dengan kadar rendah dapat dicurigai
pada pasien dengan riwayat berikut ini: gejala neurologis yang reversibel, tetap atau
bahkan progresif setelah penghentian pajanan.5 Beberapa gejala yang sering muncul,
dapat saja diakibatkan oleh pajanan singkat dengan dosis yang tinggi saat bekerja. Gejala
kelelahan yang progresif dan gejala lain seperti kesulitan untuk mengingat dan
berkonsentrasi, yang akan berkurang di akhir minggu dan akan muncul kembali ketika
minggu bekerja dimulai kembali.3

4. Jumlah Pajanan
Langkah keempat dalam identifikasi penyakit akibat kerja melalui pendekatan klinis
dengan menggunakan tujuh langkah diagnosis okupasi adalah dengan mencari tahu
apakah pajanan yang dialami oleh pasien cukup besar sehingga dapat menimbulkan
penyakit yang dialaminya. Langkah ini melibatkan pemahaman mengenai patofisiologi
penyakit, disertai bukti kuantitatif yaitu epidemiologinya dan bukti kualitatif.

Dalam proses produksi industri sepatu penggunaan lem yang mengandung bahan kimia
yang berbahaya tidak dapat dihindari. Diketahui bahwa senyawa BTX ( benzena, toluene
dan xylen) merupakan bahan penting dari industri sepatu.3 Hal ini dikarenakan BTX
merupakan komponen utama dalam lem, pelarut dan juga cat yang digunakan dalam
industri tersebut. Penelitian terhadap dua industri sepatu di cina menunjukkan bahwa
paparan benzena ialah 21,86 ppm pada industry sepatu rumahan dan 3,46 ppm pada
industry sepatu skala besar.4
Meti Etil Keton merupakan salah satu jenis pelarut dalam dunia industri. Banyak pelarut
yang digunakan dalam industri untuk berbagai tujuan, antara lain proses ekstraksi:
minyak makan, minyak wangi, bahan farmasi, pigmen dan produk-produk lainnya dari
sumber alam. Solven ditambahkan untuk memudahkan pemakaian penyalut (coating)
pada adhesive, tinta, cat, vernis, dan penyegel (sealer).

5. Faktor Individu yang Berperan


Faktor individu mencakup status kesehatan fisik pasien, faktor kesehatan mental pasien
dan hygiene perorangan pasien.

6. Faktor Lain diluar Pekerjaan


Faktor luar termasuk hobi, kebiasaan sehari-hari, pajanan di rumah dan juga pajanan dari
kerja sambilan seandainya ada.

7. Diagnosis PAK
Pada skenario kasus dan diketahui dari anamnesis pasien terpapar lem dalam produksi
sepatu. Sebagaimana kita ketahui komposisi lem yaitu adanya pelarut BTX (benzena,
toluena, dan xylene). Pajanan akut dapat menimbulkan iritasi saluran pernapasan, sakit
kepala, vertigo, kelelahan, sulit konsentrasi, efek nerologis lain hingga kematian.
Sedangkan efek kronik dapat menjadi kanker dan gangguan hematologi. Namun perlu
diketahui dalam pajanan yang kronik dapat menjadi akut, maka gejala akut dapat timbul
juga pada pajanan kronik jika nilai ambang batas di udara terlewat. Jadi dapat kita
katakan diagnosis okupasinya ialah PAK karena intoksikasi solvent, namun untuk
menentukan diagnosis okupasi pasti memerlukan data pendukung dari pemeriksaan
penunjang.3

Neurotoksis Akibat Metil Etil Keton5

Neurotoksis merupakan sebuah penyakit yang disebabkan toksin yang beraksi di sel saraf
–neuron,biasanya dengan berinteraksi pada protein membran.

Kebanyakan solven adalah depresan Susunan Syaraf Pusat. Mereka terakumulasi di


dalam material lemak pada dinding syaraf dan menghambat transmisi impuls. Pada permulaan
seseorang terpapar, maka fikiran dan tubuhnya akan melemah. Pada konsentrasi yang sudah
cukup tinggi, akan menyebabkan orang tidak sadarkan diri. Senyawa-senyawa yang kurang polar
dan senyawa-senyawa yang mengandung klorin, alkohol, dan ikatan rangkap memiliki sifat
depresan yang lebih besar.

Solven adalah irritan. Di dalam paru-paru, irritasi menyebabkan cairan terkumpul. lrritasi
kulit digambarkan sebagai hasil primer dari larutnya lemak kulit dari kulit. Sel-sel keratin dari
epidermis terlepas. Diikuti hilangnya air dari lapisan lebih bawah. Kerusakan dinding sel juga
merupakan suatu faktor. Memerahnya kulit dan timbul tanda-tanda lain seperti inflammasi. Kulit
pada akhirnya sangat mudah terinfeksi oleh bakteri, menghasilkan roam dan bisul pemanah.
Pemaparan kronik menyebabkan retak-retak dan mengelupasnya kulit

Metil etil keton digunakan secara luas dimana solven yang lebih polar dibutuhkan. Keton
dalam jumlah besar digunakan dalam industri penyalut (the coatings industry), industri
sepatu(bottom sole). Seperti aldehid, keton juga bersifat mengiritasi, dan dengan alasan itu ia
tidak dibenarkan diinhalasi dalam jumlah yang berbahaya (in dangerous quantity). Toksisitas
bertambah dengan bertambahnya berat molekul, dan jika ikatan rangkap ditambahkan ke dalam
strukturnya. Aseton, umumnya suatu senyawa yang sangat tahan, dan hanya akan menyebabkan
perasaan mengantuk dan iritasi pada dosis yang tinggi. Metil etil keton sama seperti solven
dengan bahaya yang rendah (a low-hazard solvent), tetapi metil buill keton dimetabolisme,
seperti juga heksan, menjadi suatu neurotoksin yang kuat 2,5 hexsanedione.

Sebagian besar dari bahaya-bahaya di lingkungan kerja diakibatkan oleh terhirupnya


berbagai jenis zat kimia dalam bentuk uap, gas, debu, dan aerosol, atau kontak kulit dengan zat-
zat tersebut. Tingkat resiko yang diakibatkannya tergantung dari besar, luas dan lama
pemaparan.

Uap solven dapat masuk ke dalam tubuh terutama melalui inhalasi, walaupun absorbsi
melalui kulit dapat pula terjadi. Uap tersebut akan diabsorbsi dari paru-paru ke dalam darah, dan
didistribusi terutama ke jaringan-jaringan yang mengandung banyak lemak dan lipid, misalnya
sistem syaraf pusat, hati, dan sumsum tulang.

Pencegahan
Dalam lingkungan industri, pencegahan merupakan tindakan yang lebih baik dari pada
membiarkan terjadi keracunan. Antisipasi dan tindakan keamanan harus merupakan upaya
pertama. Prinsip kerja secara aman adalah penting, namun sering dianggap berlebihan karena
mengeluarkan biaya lebih banyak dan tidak menghasilkan nilai tambah yang nyata pada produk.

Pencegahan terjadinya keracunan dalam proses produksi di industri dapat dilakukan


dengan menggunakan zat kimia alternatif yang kurang toksik, dan mengurangi bahaya dan resiko
yang mungkin dapat ditimbulkan pada pekerja dan lingkungan. Selain itu perlu diusahakan
upaya pengamanan seperti menyediakan tempat penyimpanan yang aman, tersedianya sarana air
pembilas di tempat-tempat strategis, menyediakan dokter perusahaan, melengkapi pekerja
dengan masker dan sarung tangan, dan sebagainya.5

Penanggulangan Dini Neurotoksis

Penanggulangan keracunan perlu dilakukan untuk kasus akut maupun kronis. Kasus akut
lebih mudah dikenal sedangkan kasus kronis lebih sulit dikenal.

Pada kasus kecacunan akut, diagnosis klinis perlu segera dibuat. Ini berarti
mengelompokkan gejala-gejala yang diobservasi. Hal ini tentu membutuhkan pengetahuan luas
tentang suatu toksis semua zat kimia. Tindakan dini dapat dilakukan sebelum penyebab pasti dari
kasus diketahui, karena sebagian besar keracunan dapat diobati secara simtomatis menurut
kelompok kimianya.

Beberapa contoh tindakan yang perlu dilakukan pada kasus keracunan akut adalah
sebagai berikut:

Koma

Penderita hilang kesadarannya. Periksalah apakah penderita masih bernafas teratur sekitar
20 kali semenit. Bila tidak bernafas maka perlu dilakukan pernafasan buatan. Dalam keadaan
koma penderita harus segera dibawa ke rumah sakit yang besar yang biasa merawat kasus
keracunan. Jangan diberi minum apa-apa, dan hanya boleh dirangsang secara fisik untuk
membangunkan seperti mencubit ringan atau menggosok kepalan tangan di atas tulang dada
(sternum). Obat perangsang seperti kafein tidak boleh diberikan persuntikan. Bila muntah,
tidurkanlah telungkup supaya muntahan tidak terhirup dalam paru-paru.

Kejang

Bila terdapat kejang maka penderita perlu diletakkan dalam sikap yang enak dan semua
pakaian dilepas. Menahan otot lengan dan tungkai tidak boleh terlalu keras, dan di antara gigi
perlu diletakkan benda yang tidak keras supaya lidah tidak tergigit. Penderita keracunan dengan
kejang harus diberi diazepam intravena dengan segera, namun perlu dititrasi, karena bila
berlebihan dapat membahayakan. Penderita juga harus segera dirawat di rumah sakit.

Gejala-gejala keracunan perlu dikelompokkan. Misalnya bila terdapat koma dengan


gejala banyak keringat dan mulut penuh dengan air liur berbusa, muntah, denyut nadi cepat,
maka dapat dipastikan bahwa hal ini merupakan keracunan insektisida organofosfat atau
karbamat. Pemeriksaan laboratorium mungkin tidak diperlukan. Antidotumnya sangat ampuh.
yaitu atropin dosis besar yang diulang-ulang pemberiannya.

Bila terdapat kelompok gejala: kulit kering (tidak lembab), mulut kering, pupil membesar
dan tidak bereaksi terhadap cahaya lampu, serta denyut jantung cepat, maka dapat dipastikan
bahwa racun penyebabnya sejenis atropin. Bila hal ini disertai dengan denyut jantung yang tidak
teratur, maka kemungkinan besar zat ini merupakan obat antidepresan (yang menyerupai
atropin).

Pengenalan penyebab keracunan harus didasarkan pada pengetahuan sifat-sifat obat dan
zat kimia dalam kelompok-kelompok gejala seperti di atas. Walaupun secara pasti belum dapat
ditentukan zat kimianya, namun pengenalan kelompoknya sudah cukup untuk dapat melakukan
upaya pengobatannya. Bila diinginkan identifikasi zat yang lebih pasti maka diperlukan bantuan
laboratorium toksikologi. Namun perlu disadari bahwa tanpa pedoman diagnosis kelompok
penyebab, laboratorium sulit sekali melakukan testing. Selain itu perlu juga diwaspadai bahwa
setiap keracunan dapat mirip dengan gejala penyakit.

Manajemen Penderita Neurotoksis5


Tindakan pada kasus keracunan bila tidak ada tenaga dokter di tempat adalah sebagai
berikut:

 Tentukan secara global apakah kasus merupakan neurotoksis


 Bawa penderita segera ke rumah sakit, terutama bila tidak sadar

Sebelum penderita dibawa kerumah sakit, mungkin ada beberapa hal yang perlu
dilakukan bila terjadi keadaan sebagai berikut:

 Bila zat kimia terkena kulit, cucilah segera (sebelum dibawa kerumah sakit) dengan
sabun dan air yang banyak. Begitu pula bila kena mata (air saja). Jangan menggunakan
zat pembersih lain selain air.

 Bila penderita tidak benafas dan badan masih hangat, lakukan pernafasan buatan sampai
dapat bernafas sendiri, sambil dibawa ke rumah sakit terdekat. Bila tanda-tanda bahwa
insektisida merupakan penyebab, tidak dibenarkan meniup ke dalam mulut penderita.

 Bila racun tertelan dalam batas 4 jam, cobalah memuntahkan penderita bila sadar.
Memuntahkan dapat dengan merogoh tenggorokan (jangan sampai melukai !).

 Bila sadar, penderita dapat diberi norit yang digerus sebanyak 40 tablet, diaduk dengan
air secukupnya.

 Semua keracunan harus dianggap berbahaya sampai terbukti bahwa kasusnya tidak
berbahaya.

 Simpanlah muntahan dan urin (bila dapat ditampung) untuk diserahkan kepada rumah
sakit yang merawatnya.

 Bila kejang, diperlakukan seperti dibahas di atas.


Daftar Pustaka

1. 1. Jeyaratnam J, David K. Buku ajar praktik kedokteran kerja. Penerbit Buku Kedokteran
EGC 2010:3
2. 2. Ridley J. Kecelakaan dalam ikhtisar kesehatan dan keselamatan kerja. Edisi ke-3.
Jakarta: Erlangga 2007:113
3. 3. Chandra B. Imu kedokteran pencegahan & komunitas. Jakarta: EGC 2009:213-4.
4. Kusnoputranto, H. (1995), Toksikologi Lingkungan, Universitas Indonesia, Fakultas
Kesehatan Masyarakat dan Pusat Penelitian Sumberdaya Manusia dan Lingkungan,
Jakarta.
5. David R. Penyakit Akibat Kerja dan Solusinya “Neurotoksis Akibat Metil Etil Keton”.
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang.

Anda mungkin juga menyukai