MAKALAH SISTEM INFORMASI AKUNTANSI
“PROSES ONLINE DAN PROSES BATCH”
DISUSUN OLEH
KELOMPOK 4 :
Anis Dary Arianto (1815400024)
Hari Amanda ( 1815400035)
Intan Putri Mei Primasari Halawa ( 1815400002)
Winda Yanti Laia (1815400013)
DOSEN PENGAMPU :
Nancy Mayriski Siregar, SE.,[Link]., Ak., CA
FAKULTAS SOSIAL SAINS
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN PANCA BUDI
JL. Jendral Gatot Subroto KM. 4,5 Sei Sikambing 20122 Medan-
Sumatera Utara
Tahun Ajaran 2019-2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga
makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan
banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan
memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih
banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.
MEDAN 27 OKTOBER 2019
Daftar isi
KATA PENGANTAR……………………………………………………..
DAFTAR ISI……………………………………………………………….
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………
Latar Belakang………………………………………….
Rumusan Masalah……………………………………….
Tujuan……………………………………………………
BAB II ISI……………………………………………………………
Sistem pengolahan data…………………………………..
Proses Online dan Proses batch…………………………..
Pengendalian Integritas pemrosesan………………………
BAB III PENUTUP……………………………………………………
Kesimpulan……………………………………………….
Daftar Pustaka…………………………………………………………………
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sistem pemrosesan transaksi merupakan subsistem input yang
mempunyai peranan penting dalam aktivitas organisasi dengan
cara mengumpulkan data dari sumber– sumber baik dari dalam
maupun dari luar lingkungan perusahaan, dan
mentransformasikannya ke dalam database.
Sistem pemrosesan transaksi sangat penting karena
merupakan dasar sistem bisnis yang melayani level operasional dalam
organisasi. Output dari sistem ini akan menjadi input bagi sistem-
sistem yang berada pada level manajemen dan level strategis.
Setiap proses bisnis dimulai dari saksi, sehingga sistem
pemrosesan transaksi yang ditempatkan oleh suatu perusahaan
akan mempengaruhi proses bisnis yang dijalankan.
Sistem pemrosesan transaksi adalah sistem sistem yang menjadi
pintu utama dalam pengumpulan dan pengolahan data pada suatu
[Link] pemrosesan transaksi hampir selalu dimiliki oleh
suatu perusahaan, organisasi, instansi pemerintah karena di dalam
suatu perusahaan atau organisasi, transaksi selalu terjadi dan setiap
transaksi yang terjadi harus dicatat.
B. Rumusan Masalah
Apa yang dimaksud dengan Sistem pengolahan data
Apa yang di maksud dengan Proses Batch dan Proses Online
Pengendalian Integritas pemrosesan
C. TUJUAN
1. Mahasiswa tau apa yang di maksud dengan Sistem pengolahan Data
2. Mahasiswa tau apa yang di maksud dengan Proses Batch, proses Online
3. Mahasiswa tau apa itu Pengendalian Integritas pemrosesan
BAB II ISI
A. Sistem pengolahan data
a. pengertian sistem pengolahan data/transaksi
Sistem Pengolahan Transaksi (Transaction Processing System disingkat TPS)
adalah sistem yang menjadi pintu utama dalam pengumpulan dan pengolahan
data pada suatu organisasi. Tugas utama TPS adalah mengumpulkan dan
mempersiapkan data untuk keperluan sistem informasi yang lain dalam
organisasi, misalnya untuk kebutuhan sistem informasi manajemen, atau
kebutuhan sistem informasi eksekutif.
b. Siklus Pengolahan Data
Akuntan dan pengguna sistem yang lain memainkan peranan penting dalam
siklus pengolahan data. Salah satu fungsi penting SIA adalah untuk memproses
transaksi perusahaan secara efektif dan efisien. Salam sistem manual (tidak
berbasis komputer), data dimasukan kedalam jurnal dan buku besar yang disimpan
dalam bentuk buku. Dalam sistem berbasis komputer, data dimasukan ke dalam
komputer dan disimpan dalam file dan database. Siklus Pengolahan Data (data
processing cycle) adalah operasi yang dilakukan pada data untuk menghasilkan
informasi yang penting dan relevan.
c. Komponen – Komponen Sistem Pengolahan Transakasi
Komponen sistem pengolahan transaksi terdiri dari 4 tahap:
1. Input
2. Processing
3. Storage
4. Output
1. Input ( Masukkan )
Dokumen-dokumen sumber, seperti order pelanggan, slip-slip penjualan,
faktur, order pembelian dan kartu jam kerja karyawan, merupakan bukti fisik
masukan ke dalam sistem pemrosesan transaksi.
Tujuannya adalah:
- Menangkap data
- Mernbantu proses pengkomunikasian data dan pengotorisasian operasi
departemen
- Menstandarkan operasi dengan menunjukkan dari apa yang membutuhkan
pencatatan dan tindakan apa yang harus di ambil.
- Menyediakan berkas permanen untuk analisis masa datang, jika dokumen
dipelihara.
2. Processing (Pengolahan)
Mencakup penggunaan jurnal dan register untuk menyajikan catatan input
secara permanen dan kronologis.
- Journals digunakan untuk mencatat transaksi akuntansi keuangan.
- Registers digunakan untuk mencatat tipedata lain yang tidak berhubungan
langsung dengan akuntansi..
3. Storage (Penyimpanan)
Buku besar dan file menyediakan Simpanan data baik dalam sistem manual
maupun terkomputerisasi. Buku besar menyediakan ringkasan suatu transaksi
keuangan perusahaan.
File kumpulan data yang terorganisir.
- Transaction file
- Master file
- Reference or table file
4. Output (Keluaran)
Terdapat beragam variasi keluaran dari sistem pemrosesan transaksi. Setiap
dokumen yang di hasilkan dari sistem adalah keluaran. Dokumen keluaran dari
departemen accounting adalah laporan keuangan.
Informasi keluaran biasanya disajikan salah satu dari tiga bentuk, yaitu :
- Dokumen
- Laporan
- Respon pertanyaan
B. Proses Online dan Proses batch
A. pengertian proses batch
Secara literal arti kata batch adalah tumpukan atau sekumpulan atas sesuatu. Dalam
sistem informasi, batch processing adalah suatu model pengolahan data, dengan
menghimpun data terlebih dahulu, dan diatur pengelompokkan datanya dalam
kelompok-kelompok yang disebut batch. Tiap batch ditandai dengan identitas
tertentu, serta informasi mengenai data-data yang terdapat dalam batch tersebut.
Setelah data-data tersebut terkumpul dalam jumlah tertentu, data-data tersebut akan
langsung diproses.
Contoh dari penggunaan batch processing adalah e-mail dan transaksi batch
processing. Dalam suatu sistem batch processing, transaksi secara individual dientri
melalui peralatan terminal, dilakukan validasi tertentu, dan ditambahkan ke
transaction file yang berisi transaksi lain, dan kemudian dientri ke dalam sistem
secara periodik. Di waktu kemudian, selama siklus pengolahan berikutnya,
transaction file dapat divalidasi lebih lanjut dan kemudian digunakan untuk meng-up
date master file yang berkaitan.
Penggunaan umum Batch Processing :
1.
a. Siklus Konversi Sistem Batch Processing
DFD pada gambar 7-2 menyajikan overview konseptual mengenai sistem batch
processing yang terdiri dari empat proses dasar: merencanakan dan mengendalikan
produksi, melakukan aktivitas-aktivitas produksi, menjaga pengendalian inventori,
dan melakukan akuntansi biaya. Seperti pada bab-bab sebelumnya, diskusi mengenai
sistem konseptual adalah bersifat netral terhadap teknologi. Tugas-tugas dalam bagian
ini bisa dilkaukan baik secara manual maupun secara komputerisasi.
Gambar tersebut juga menggambarkan aliran informasi primer (dokumen-dokumen)
yang mengintegrasikan semua aktivitas-aktivitas tadi dan menghubungkannya ke
sistem-sistem dan siklus-siklus yang lain. Selain itu, berbagai macam jenis dokumen
tersebut juga dianggap netral terhadap teknologi dan bisa berupa hardcopy maupun
digital. Kita mulai pelajaran kita mengenai batch processing dengan mereview
maksud dan isi dari berbagai macam dokumen tadi.
Dokumen-dokumen dalam sistem batch processing
Suatu proses manufaktur seperti terlihat dalam gambar 7-2, bisa dipicu oleh
order penjualan dari siklus pendapatan atau oleh prediksi penjualan yang diberikan
oleh sistem marketing. Dalam diskusi ini kita akan mengambil contoh yang kedua.
Prediksi penjualan menunjukkan kebutuhan barang jadi yang diharapkan oleh
perusahaan dalam rentang waktu tertentu. Pada beberapa perusahaan, marketing bisa
saja memberikan prediksi kebutuhan produk tahunan. Beberapa perusahaan dengan
penjualan musiman, prediksi biasanya untuk perioda waktu yang lebih pendek (tiga
bulanan atau bulanan) dan bisa direvisi seiring dengan kondisi ekonomi.
Production schedule (jadwal produksi) adalah rencana formal dan
wewenang untuk memulai produksi. Dokumen tersebut menjelaskan produk-produk
tertentu yang akan dibuat, jumlah yang akan diproduksi dalam setiap batch
(kelompok), dan tabel waktu mulai dari awal hingga selesai produksi.Gambar7-3
Bill of materials (BOM), contohnya adalah seperti pada gambar 7-4, yaitu
menentukan jenis dan kuantitas bahan mentah dan subassembly yang digunakan
untuk memproduksi satu unit barang jadi. Permintaan bahan mentah untuk
keseluruhan dalam satu batch ditentukan dengan cara mengalikan BOM dengan
jumlah item dalam satu batch.
Route sheet, seperti dicontohkan dalam gambar 7-5, menunjukkan jalur
produksi yang harus diikuti oleh produk dalam batch tertentu selama proses
manufaktur/produksi. Secara konseptual mirip dengan BOM. Dimana BOM mengatur
permintaan material/bahan baku, sementara route sheet mengatur urutan pengerjaan
(machining atau assembly) dan waktu standard yang dialokasikan untuk setiap tugas.
Work order (atau production order – urutan pekerjaan atau urutan produksi)
diturunkan dari BOM dan route sheet untuk mengatur material dan proses produksi
(machining, assembly, dsb) pada setiap batch. Dokumen-dokumen ini, bersama
dengan move tickets (dijelaskan berikutnya), mengawali proses manufaktur dalam
departemen produksi. Gambar 7-6 adalah contoh work order.
Move ticket, seperti ditunjukkan dalam gambar 7-7, mencatat pekerjaan yang
dilakukan di setiap work center dan memberikan kewenangan perpindahan aktivitas
atau batch dari satu work center ke berikutnya.
Materials requisition memberikan kewenangan ke penjaga barang/material
untuk mengeluarkan material (dan subassembly) ke individu atau ke work center
dalam proses produksi. Dokumen ini biasanya hanya menentukan kuantitas standard.
Permintaan material yang melebihi standard perlu dokumen permintaan yang terpisah
yang bisa diidentifikasi secara eksplisit sebagai permintaan material berlebih. Hal ini
akan memungkinkan pengendalian yang lebih ketat selama proses produksi dengan
menekankan adanya penggunaan material yang berlebih. Dalam beberapa kasus
proses produksi jumlah material yang digunakan kurang dari jumlah standard. Ketika
ini terjadi, work center mengembalikan material yang tidak digunakan ke ruang
penyimpanan material disertai dengan dokumen pengembalian material (material
return ticket). Gambar 7-8 memberikan gambaran format untuk ketiga maksud
tersebut.
c. Manfaat Batch Processing
1. bisa menggeser waktu pemrosesan pekerjaan ke saat 'resources' (sumber daya)
komputasi tidak terlalu sibuk.
2. menghindarkan resources (sumber daya) komputasi supaya tidak 'idle' yang
disebabkan pekerjaan supervisi dan intervensi manual menit-demi-menit
3. dengan menjaga tingkat pemanfaatan komputasi yang tinggi, berarti tidak rugi
berinvestasi komputer, terutama untuk komputer yang harganya mahal.
4. memungkinkan sistem untuk digunakan berdasarkan prioritas yang berbeda untuk
pekerjaan interaktif dan non-interaktif.
5. daripada menjalankan satu program beberapa kali untuk memproses satu transaksi
dan dilakukan berulang-ulang setiap kali proses dijalankan, proses batch akan
menjalankan program hanya sekali saja bagi banyak transaksi sekaligus, dan ini
mengurangi 'overhead' sistem.
d. Penggunaan umum Batch Processing
Pengolahan data – jadwal batch pengolahan khas termasuk akhir hari
pelapor (EOD)
Percetakan- sebuah prosedur Batch processing popular komputerisasi
sedang mencetak.
Database- Batch processing juga digunakan untuk update database massal
yang efisien dan pengolahan transaksi otomatis, sebagai kontras dengan
proses transaksi interaktif online (OLTP) aplikasi
Gambar- Batch Processing sering digunakan untuk melakukan berbagai
operasi dengan gambar digital.
Konversi- batch processing juga di gunakan untuk mengkonversi beberapa
file computer dari satu format yang lain.
B. Proses Online
a. Pengertian Proses Online
Adalah sebuah sistem yang mengaktifkan semua periferal sebagai pemasok data,
dalam kendali komputer induk. Informasi-informasi yang muncul merupakan refleksi
dari kondisi data yang paling mutakhir, karena setiap perkembangan data baru akan
terus diupdatekan ke data induk. Salah satu contoh penggunaan online processing
adalah transaksi online. Dalam sistem pengolahan online, transaksi secara individual
dientri melalui peralatan terminal, divalidasi dan digunakan untuk meng-update
dengan segera file komputer. Hasil pengolahan ini kemudian tersedia segera untuk
permintaan keterangan atau laporan.
. Salah satu contoh penggunaan online processing adalah transaksi online. Dalam
sistem pengolahan online, transaksi secara individual dientri melalui peralatan
terminal, divalidasi dan digunakan untuk meng-update dengan segera file komputer.
Hasil pengolahan ini kemudian tersedia segera untuk permintaan keterangan atau
laporan.
b. Manfaat penggunaan proses online
1. Menyediakan suatu informasi yang up-to-date.
[Link] suatu proses kontrol lebih awal
[Link] proses sortir dan pengubahan data.
c. Kerugian penggunaan proses online
[Link] peralatan yang lebih mahal.
[Link] dapat menggunakan batch kontrol.
C. Perbedaan Proses Batch dan Proses Online
1. Pada batch processing, data yang dimasukkan akan dihimpun dahulu menjadi 1
kelompok atau batch baru kemudian akan dimasukkan ke database untuk
mengupdate master file. Sedangkan pada online processing, data yang dimasukkan
atau diinput akan langsung dimasukkan ke dalam database untuk mengupadate
master file pada saat itu juga.
2. Pada batch processing, data yang dikelompokkan tersebut akan dicek ulang dan
disortir sebelum dikirim ke database sehingga jika terdapat data yang tidak valid,
data akan dimasukkan ke dalam error report. Pada online processing, hal ini tidak
terjadi sehingga ada kemungkinan terdapat data yang tidak valid yang masuk ke
database.
3. Pada online processing, waktu yang dibutuhkan untuk mengupdate database
relatif lebih cepat daripada batch processing.
4. Proses yang memakai batch processing biasanya ditujukan untuk aplikasi yang
memiliki jumlah transaksi yang besar, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan
pendahuluan, sebelum data-data tadi diolah.
5. Online processing lebih ditunjukan untuk pengolahan data yang memerlukan
suatu tingkat transaksi dengan kecepatan tinggi, karena kebutuhan informasi yang
harus segera diperoleh pada saat yang sama.
C. Pengendalian Integritas pemrosesan
a. Integritas pemrosesan
Prinsip Integritas Pemrosesan dari Trust Service Framework menyatakan bahwa
sebuah sistem yang dapat diandalakan adalah sistem yang menghasilkan informasi
akurat, lengkap, tepat waktu, dan valid. Tabel 10-1 berisi daftar pengendalian
dasar terhadap input, pemrosesan, dan output dari data yang diidentifikasikan
COBIT 5 proses DSS06 sebagai dasar-dasar untuk integritas pemrosesan.
TABEL 10-1 Aplikasi Pengendalian untuk Integritas Pemrosesan
Tahap Proses Ancaman/Risiko Pengendalian
Input: Data yang: Bentuk desain, pembatalan dan penyim
panan dokumen, otorisasi dan pemisah
an tugas pengendalian, pemindahan vis
AC1- Tidak valid ual, pengendalian entri data
Pengenda
lian dan Tidak diotori
otorisasi sasi
sumber d
ata Tidal lengka
p
AC2-
Mengum Tidak akurat
pulkan d
an mema
sukkan s
umber da
ta
AC3-
Mengece
k ketepat
an (akura
si), kelen
gkapan d
an keben
aran
Proses: Kesalahan dalam out Pencocokan data, label file, total
put daya yang tersim batch, pengujian saldo cross-
pan footing dan saldo nol, mekanisme, men
AC4- ulis perlindungan (write-
Proses In protection), pemrosesan database, peng
tegritas d endalian integritas
an Validi
tas
Output: Penggunaan l Pemeriksaan dan rekonsiliasi, enkripsi
aporan yang t dan pengendalian akses, pengecekan be
idak akurat at rimbang, teknik pengaksesan pesan
AC5- au tidak leng
Output kap
review, r
ekonsilia Penggunaan
si dan ke yang tidak di
salahan p otorisasi info
enangan rmasi sensiti
ve
AC6-
Kebenara Kehilangan,
n dan Int perubahan, at
egritas tr au pengunka
ansaksi pan informas
i dalam transi
t
b. Pengendalian input
Frasa ''sampah masuk, sampah keluar'' menunjukkan pentingnya
pengendalian input. Jika data yang dimasukkan ke dalam sebuah sitem tidak
akurat, tidak lengkap, atau tidak valid, maka output-nya juga demikian.
Akibatnya, hanya personel yang berwenang untuk bertindak di dalam otoritasnya
yang harus mempersiapkan dokumen sumber. Selain itu, bentuk desain,
pembatalan dan penyimpanan dokumen sumber, serta pengendalian entri data
secara otomatis diperlukan untuk memverifikasi validitas data input.
a. Bentuk desain
Dokumen sumber dan bentuk lainnya harus didesain untuk meminimalkan
kemungkinan kesalahan dan kelalaian. Dua bentuk desain pengendalian yang
penting melibatkan dokumen sumber sebelum penomoran (prenumbering) secara
berurutan dan menggunakan dokumen turnaround.
1. Seluruh dokumen sumber harus dinomori sebelumnya secara
berurutan. Prenumbering tersebut meningkatkan pengendalian dengan
memperbolehkannya untuk memverifikasi bahwa tidak ada dokumen yang
hilang. Ketika dokumen sumber data yang sebelumnya dinomori berurutan
digunakan, sistem harus diprogram untuk mengidentifikasi dan
melaporkan dokumen sumber yang hilang atau diduplikasinya.
2. Dokumen turnaround adalah catatan atas data perusahaan yang
dikirimkan ke pihak eksternal dan kemudian dikembalikan oleh pihak
eksternal tersebut untuk selanjutnya diinput ke sistem.
Dokumen turnaround disiapkan dalam bentuk yang dapat terbaca oleh
mesin untuk memudahkan pemrosesan selanjutnya sebagai catatan input.
b. Pembatalan dan penyimpanan dokumen sumber
Dokumen-dokumen sumber yang telah dimasukkan ke dalam sistem harus
dibatalkan sehingga mereka tidak dapat dengan sengaja atau secra tidak jujur
dimasukkan ulang ke dalam sistem. Dokumen kertas harus ditandai, contohnya,
dengan memberi stembel ''dibayar''. Dokumen elektronik dengan cara yang sama
dapat ''dibatalkan'' dengan mengatur sebuah tanda field untuk mengindikasikan
bahwa dokumen tersebut telah diproses.
c. Pengendalian entri data
Dokumen-dokumen sumber harus dipindai untuk kewajaran dan kebenaran
sebelum dimasukkan ke dalam sistem. Meskipun demikian, pengendalian manual
ini harus dilengakapi dengan pengendalian entri data otomatis, seperti berikut ini.
Pengecekan field (field check) menentukan apakah karakter pada
sebuah field adalah dari jenis yang tepat.
Pengecekan tanda (sign check) menentukan apakah data pada
sebuah field memiliki tanda aritmatik yang sesuai.
Pengecekan batas (limit check) menguji sejumlah numerik terhadap nilai
tetap.
Pengecekan jangkauan (range check) menguji apakah sejumlah numerik
berada pada batas terendah dan tertinggi yang telah ditentukan
sebelumnya.
Pengecekan ukuran (size check) memastikan bahwa data input akan
sesuai pada dalam filed yang ditentukan.
Pengecekan (atau pengujian) kelengkapan (completness check/test)
memverifikasi bahwa seluruh item-item data yang diperlukan telah
dimasukkan.
Pengecekan validitas (validity check) membandingkan kode ID atau
nomor rekening dalam data transaksi dengan data serupa di
dalam file induk untuk memverifikasi bahwa rekening tersebut ada.
Tes kewajaran (reasonabless test) menentukan kebenaran dari hubungan
logis antara dua item-item data.
Nomor ID resmi (seperti nomor pegawai) dapat berisi cek digit (check
digit) yang dihitung dari digit lain. prengakat entri data kemudian dapat
diprogram untuk menjalankan verifikasi cek digit (check digit
verifikation), yang melibatkan penghitungan ulang cek digit untuk
mengidentifikasi kesalahan entri data.
Pengujian entri data sebelumnya digunakan untuk batch dan pemrosesan real-
time secara online. Pengendalian input data tambahan berbeda untuk kedua
metode pemrosesan tersebut.
a. Pengendalian tambahan entri data pemrosesan batch
Pemrosesan batch bekerja lebih efisien jika transaksi-transaksi disortir,
sehingga rekening-rekening yang terkena dampak berada dalam urutan
yang sama dengan catatan di dalam file induk. Sebuah pengecekan
berurutan (sequence check) menguji apakah batch atas input data berda
di dalam urutan numerik atau alfabetis yang tepat.
Sebuah log kesalahan yang mengidentifikasi kesalahan input data (tanggal,
penyebab, masalah) memudahkan pemeriksaan tepat waktu dan
pengumpulan ulang atas transaksi yang tidak dapat diproses.
Total batch (batch total) merangkum nilai-nilai numerik bagi
sebuah batch atas catatan input. Berikut ini adalah tiga total batch yang
sering digunakan:
1. Total finansial (financial total) menjumlahkan sebuah field yang berisi
nilai-nilai moneter
2. Total hash (hash total) menjumlahkan sebuah field numerik non-finansial
3. Jumlah catatan (record count) adalah banyaknya catatan dalam
sabuah batch.
b. Pengendalian tambahan entri data online
Prompting, di mana sitem meminta tiap-tiap item data input dan
menguggu respons ang dapat diterima, memastikan bahwa seluruh data
yang telah dimasukkan (dengan kata lain, prompting adalah sebuah
pengecekan kelengkapan secara online).
Verifikasi closed-loop (closed-loop verification) mengecek ketepatan dari
data input dengan menggunakannya untuk mengambil dan menampilkan
informasi terkait lainnya.
sebuah log transaksi menyertakan sebuah catatan mendetail dari seluruh
transaksi, termasuk pengidentifikasian tranaksi khusus, tanggal, dan waktu
entri, serta siapa yang memasukan transaksi. Jika sebuah file
online dirusak, log transaksi dapat digunakan untuk memulihkan file, jika
sebuah kegagalan fungsi (mulfungsi) untuk sementara menutup sistem,
maka log transaksi dapat digunakan untuk memastikan bahwa transaksi
tidak hilang atau dimasukkan dua kali.
c. Pengendalian pemrosesan
Pengendalian juga diperlukan untuk memastikan bahwa data diprose dengan
benar. Pengendalian pemrosesanyang penting mencakup kegitan sebagai berikut.
Pencocokan data. Dalam kasus-kasus tertentu, dua atau lebih item dari
data harus dicocokkan sebelum sebuah tindakan dilakukan.
Label file. Label file perlu dicek untuk memastikan bahwa file yang benar
dan terkini sedang diperbarui. Dua jenis label internal yang penting adalah
catatan kepala dan trailer. Catatan kepala (header record) ditempatkan di
awal setiap file dan memuat nama file, tanggal kadaluarsa, serta data
identifikasi lainnya. Catatan trailer (trailer record) diletakkan pada
akhir file; dala file transaksi, catatan trailer memuat total batch yang
dihitung selama input.
Perhitungan ulang total batch. Total batch harus dihitung ulang setiap
masing-masing catatan transaksi diproses, dan dari total batch tersebut
harus dibandingkan dengan nilai-nilai dalam catatan trailer.
Pengujian saldo cross-footing dan saldo nol. Sebuah pengujian saldo
cross-footing (cross-footing balance test) membandingkan hasil yang
diperlihatkan masing-masing untuk memverifikasi ketepatan, Pengujan
saldo nol (zero-balance test) menerapkan lpgika yang sama untuk
memverifikasi ketepatan pemrosesan yang melibatkan rekening kontrol.
Mekanisme write-protection. Mekanisme ini melindungi terhadap
menimpa (overwriting) atau menghapus (erasing) file data yang disimpan
dalam media magnetik.
Pengendalian pembaruan secara bersamaan. Kesalahan dapat terjadi
ketika dua pengguna atau lebih berupaya untuk memperbarui catatan yang
sama secara bersamaan. Pengendalian pembaruaan secara
bersamaan (concurrent update controls) mencegah kesalahan tersebut
dengan mengunci satu pengguna sampai sistem telah selesai memproses
transaksi yang dimasukkan oleh yang lainnya.
[Link] output
Pengecekan yang hati-hati terhadap output sistem memberikan pengendalian
tambhan atas integritas pemrosesan. pengendalian output meliputi berikut ini:
Pemeriksaan pengguna terhadap output. Para pengguna harus dengan
cermat memeriksa output sistem untuk memverifikasi bahwa output-nya
masuk akal, lengkap, dan pengguna adalah penerima yang dutuju.
Prosedur rekonsiliasi. Secara periodik, seluruh transaksi dan pembaruan
sisem lainnya harus di rekonsiliasi untuk laporan pengendalain, laporan
status/pembaruan file, tau mekanisme pengendalian lainnya.
Rekonsiliasi data eksternal. Total database harus direkonsiliasi secra
[eriodik dengan data yang dikelola di luar sistem.
Pengendalian transmisi data. Organisasi juga perlu
mengimplementasikan pengendalian yang didesain untuk meminimalkan
risiko kesalahan transmisi data. Setiap kali perangkat penerima mendeteksi
sebuah kesalahan transmisi data, ia meminta perngkat pengirim untuk
menstransmisi ulang data tersebut. Secara umum, ini terjadi secara
otomatis, dan pengguna tidak sadar bahwa pengendalian transmisi telah
terjadi. Dua pengendalian transmisi yang umum adalah checksum dan bit
paritas.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Sistem Pengolahan Transaksi (Transaction Processing System disingkat
TPS) adalah sistem yang menjadi pintu utama dalam pengumpulan dan
pengolahan data pada suatu organisasi.
Dalam jenis pemrosesan “online processing” lebih efisiens dari pada jenis “bath
processing” yang membutuhkan banyak waktu dan menunggu pengumpulan data
terlebih dahulu sebelum data diproses. Banyak juga pengembangan system
pemrosesan transakasi yang ada di kehidupan sehari – hari.
B. Daftar Pustaka
Marshall B. Romney. Paul John Steinbart. 2015. Sistem Informasi
Akuntansi Edisi 13. Jakarta: salemba Empat.
Sunyoto, danang 2004. Sistem Informasi Manajemen ( perpektif organisasi
) Jakarta: CAPS ( Center of Academic Publishing Service)