0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan48 halaman

Permainan Tradisional untuk Siswa MTs

Modul ini membahas permainan tradisional untuk meningkatkan minat siswa dalam pembelajaran pendidikan jasmani di MTS Negeri 1 Pandeglang. Modul ini menjelaskan 14 jenis permainan tradisional seperti benteng, gobag sodor, lompat tali, boy-boyan, gatrik, engklek, sepak sawut, bintang beralih, bakiak, perepet jengkol, kasti, balap karung, petak umpet, dan egrang beserta cara bermainny

Diunggah oleh

Eila Sueo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan48 halaman

Permainan Tradisional untuk Siswa MTs

Modul ini membahas permainan tradisional untuk meningkatkan minat siswa dalam pembelajaran pendidikan jasmani di MTS Negeri 1 Pandeglang. Modul ini menjelaskan 14 jenis permainan tradisional seperti benteng, gobag sodor, lompat tali, boy-boyan, gatrik, engklek, sepak sawut, bintang beralih, bakiak, perepet jengkol, kasti, balap karung, petak umpet, dan egrang beserta cara bermainny

Diunggah oleh

Eila Sueo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

“MODUL”

PERMAINAN TRADISIONAL UNTUK MENINGKATKAN MINAT


BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI
OLAHRAGA DAN KESEHATAN DI MTS NEGERI 1 PANDEGLANG

Disusun Oleh :
ASEP SAEFULOH, [Link]
199107252019031018

COACH : Drs. H. Ahmad Sodiqin, MM


MENTOR : Hj. Tati Jumiati, [Link]

i
KATA PENGANTAR

Puji Syukur saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, karena

atas berkat dan karunia-Nya Modul ini dapat terselesaikan. Modul yang berjudul “Permainan

Tradisional Untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa Pada Pembelajaran Pendidikan Jasmani

Olahraga dan Kesehatan Pada MTs Negeri 1 Pandeglang” ini menghasilkan produk berupa

permainan-permainan tradisional yang sudah mulai terlupakan oleh anak-anak jaman sekarang.

Permainan-permainan tradisional yang dikemas dalam buku sehingga dapat digunakan oleh guru,

dan siswa.

Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada pihak-pihak yang terkait dalam

penyusunan modul ini : Drs. H. Ahmad Sodiqin, MM selaku Plt. Balai Diklat Keagamaan Jakarta

sekaligus coach dalam pembuatan Aktualisasi yang menghasilkan Modul ini, Hj. Tati Jumiati,

[Link]. selaku Kepala Madrasah Tsanawiyan Negeri 1 Pandeglang sekaligus Mentor dalam

pembuatan aktualisasi, Dr. H. Syaefudin, [Link]. selaku penguji yang telah memberikan masukan

dan arahan yang dalam penulisan, seluruh Widyaiswara yang telah memberikan materi dan ilmu

yang sangat bermanfaat bagi penulis, Yunianto Wahyu Widodo selaku Wakil Kepala Bidang

Kurikulum Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Pandeglang, Hartono [Link] selaku ahli sekaligus

rekan sejawat, yang telah memberikan bimbingan yang tiada henti kepada penulis selama mulai

dari mengajar sampai dengan pembuatan aktualisasi ini selesai, seluruh panitia yang telah

memberikan bimbing kepada penulis, keluarga besar Latsar gelombang 4 angkatan XI yang

selalu bersama dalam keadaan suka maupun duka selama Latsar 2019 berlangsung, serta siswa-

siswi Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Pandeglang Dan rasa terima kasih yang amat sangat

mendalam penulis sampaikan kepada Ibu tercinta, Istri, Kakak, Adik, keluarga besar Alm. H.

Nurdin Makin, Keluarga Besar Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Pandeglang. Penulis berharap

modul ini bermanfaat dan dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

Pandeglang, November 2019

A.S

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………………………………........ ii

DAFTAR ISI …………………..…………………………………………………........ iii

A. PENDAHULUAN …………………………………………………………….. 1

1. Latar Belakang ……………………………………………………..…...... 1

2. Tujuan …………………………………………………………...……….. 4

3. Kegunaan Isi Modul ……………………………………………………... 4

B. PERMAINAN TRADISIONAL ………….…………..………………………… 6

1. Benteng/Bentengan ………….………………….………….……………… 6

2. Gobag Sodor ……….………………………………………..…………….. 7

3. Permainan Lompat Tali (Main Karet) …………………….…………......... 9

4. Boy-Boyan ………………………………………………...……………….. 12

5. Gatrik ………..…………………………………………………………….. 14

6. Engklek ……….….………………………………………………………. 17

7. Sepak Sawut ………………………………………………………………. 19

8. Permainan Bintang Beralih (Kucing-Kucingan) …………………………. 21

9. Bakiak …………….………………………………………………………. 23

10. Perepet Jengkol ………………….………………………………………… 25

11. Kasti ………………………………………………….……………………. 27

12. Balap Karung ……………..……………………………….………………. 31

13. Petak Umpet ……………………………….………………………………. 33

14. Egrang ………...…………….…………………………………………….. 35

C. LEMBAR VALIDASI ………………….…………..………………………… 40

RIWAYAT HIDUP …………………………………………………………………….. 44

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………….. 45

iii
A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Aktivitas bermain dan siswa merupakan satu kesatuan yang tidak dapat

dipisahkan, keduanya mempunyai hubungan keterikatan yang sangat erat, dengan

demikian aktivitas menjadi karakter manusia (Homo Ludens) (Caillois, 2001: 3).

Bermain salah satu cara siswa belajar mengekspresikan hasil pemikiran melalui

lingkungan sekitar, sehingga siswa akan menemukan berbagai pengalaman salah

satunya pengalaman gerak. Permainan tradisional anak-anak merupakan bentuk folklor

dimana peredarannya dilakukan secara lisan, berbentuk tradisional, dan diwariskan

secara turun-temurun. Oleh sebab itu, terkadang asal-usul dari permainan tradisional

tidak diketahui secara pasti siapa penciptanya dan darimana asalnya, karena

penyebarannya yang berupa lisan. Terkadang, permainan tradisional ini mengalami

perubahan nama atau bentuk walaupun dasarnya sama. Contohnya permainan congklak

di Jawa Barat dengan permainan dakon di Jawa Tengah yang memiliki peraturan dan

cara bermain yang sama, namun berbeda cara penyebutannya. Permainan tradisional

yang merupakan pewarisan secara turun-menurun ini dilakukan untuk memperoleh

kegembiraan. (James Danandjaja, 1987). Dalam pengertian lain, Atmadibrata

mengemukakan permainan tradisional disinyalir memiliki keterampilan prestatif yang

bersifat entertainment yang dapat dijumpai dimana-mana. Bila permainan tradisional

dikaji, ternyata besifat edukatif, mengandung unsur pendidikan jasmani (gymnastic),

kecermatan, kelincahan, daya fikir, apresiasi terhadap unsur seni yang ada, dan

menyegarkan pikiran (Atmadibrata, 2006). Menurut penulis permainan tradisional

merupakan hasil penggalian dari budaya sendiri yang didalamnya banyak mengandung

nilai-nilai pendidikan terutama pendidikan jasmani dan pendidikan sosial karena dalam

kegiatan permainannya memberikan nilai kebugaran jasmani, rasa senang, gembira,

ceria pada anak yang memainkannya. Selain itu permainannya dilakukan secara

berkelompok sehingga menimbulkan rasa demokrasi antar teman main dan anak

dituntut untuk bekerjasama.

1
Perkembangan zaman yang diikuti dengan perkembangan teknologi perlahan-

lahan menggeser keberadaan permainan tradisional. Jarang sekali kita melihat anak-

anak jaman sekarang memainkan permainan tradisional seperti petak umpet, egrang,

conglak, lompat tali, gatrik, engklek, pesawat-pesawatan, layang-layang dan kelereng.

Permainan tradisional merupakan kekayaan budaya lokal yang seharusnya dapat

dimanfaatkan dalam pembelajaran pendidikan jasmani justru tergeser dengan

munculnya berbagai permainan yang dapat diunduh secara online di komputer atau

gadget.

Pada umumnya, permainan tradisional memiliki ciri kedaerahan asli sesuai

dengan tradisi budaya setempat. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya, unsur-unsur

permainan rakyat dan permainan anak sering dimasukkan dalam permainan tradisional.

Dimungkinkan juga untuk memasukkan kegiatan yang mengandung unsur seni seperti

yang biasa kita sebut dengan seni tradisional. Permainan tradisional memiliki ciri yang

punya unsur tradisi dan berkaitan erat dengan kebiasaan atau adat suatu kelompok

masyarakat tertentu. Kegiatan yang dilakukan harus mengandung unsur fisik nyata yang

melibatkan kelompok otot besar dan juga mengandung unsur bermain sebagai landasan

maksud dan tujuan dari kegiatan tersebut. Permainan tradisional ini sesungguhnya

memiliki manfaat yang baik bagi perkembangan motorik anak, kecerdasan intelektual,

mental atau emosional, serta kemampuan sosial anak.

Di era globalisasi ini masyarakat sudah banyak meninggalkan permainan

tradisional. Hal ini disebabkan kurangnya minat untuk memainkan permainan tersebut.

Ditambah lagi anak-anak lebih tertarik bermain dengan gadget yang lebih praktis.

Fenomena ini menyebabkan berkurangnya pola interkasi sosial di kalangan anak-anak

dan anak-anak menjadi males bergerak. Hal ini sependapat dengan Banu Setyo Adi

dalam jurnal Permainan Kecil “Sunda Manda” sebagai Alternatif Bermain Anak Usia

Dini: “Pada perilaku kehidupan modern sekarang, sering ditemui adanya kebiasaan

hidup yang menyebabkan anak menjadi kurang gerak. Kurangnya lingkungan bermain

2
yang aman, terlindungi, dan merangsang tumbuh kembang anak sudah sepatutnya

menjadi kepedulian orang tua dan guru.”

Mirisnya permainan tradisional ini mulai dilupakan. Hal ini dibuktikan dengan

booming nya permainan video game, Clash of Clan, Pokemon Go, PUBG, Mobile

Legends, Conter Strike dan lain-lain. Di dalam dunia game tersebut membuat

kecanduan dan memiliki unsur thrill, suasana tegang. Perminan tradisional sebenarnya

memiliki history tersendiri bagi yang pernah memainkannya. Hal ini disebabkan adanya

interaksi sosial. Menurut pendapat Sukirman (2004), permainan tradisional anak

merupakan unsur kebudayaan, karena mampu memberi pengaruh terhadap

perkembangan kejiwaan, sifat, dan kehidupan sosial anak. Kemudian tidak berbeda

dengan pendapat Arlina (2008) permainan tradisional anak adalah proses melakukan

kegiatan yang menyenangkan hati anak dengan mempergunakan alat sederhana sesuai

dengan keadaan dan merupakan hasil penggalian budaya setempat menurut gagasan dan

ajaran turun temurun dari nenek moyang. Dari pendapat para ahli dapat disimpulkan

bahwa permainan tradisional adalah permainan yang sudah ada sejak dulu, yang

dilakukan dengan alat sederhana untuk memperoleh kesenangan dalam memainkannya

dan sebagai warisan budaya yang dapat dinikmati oleh masyarakat. Sehingga dapat

memunculkan pola interaksi sosial yang baik diantara masyarakat. Sedangkan Indonesia

memiliki banyak daerah dan masing-masing daerah memiliki identitas permainan

tradisional yang begitu beragam. Seperti Gobag Sodor, Bebentengan, Gatrik, Boy-

boyan dan masih banyak lagi permainan tradisional lainnya.

Permainan Tradisional jika ditelusuri secara mendalam mempunyai nilai-nilai

yang berlaku di setiap daerah. Hal ini merupakan local wisdom dan sangat sayang jika

generasi sekarang kurang peduli karena minimya bahan bacaan atau metode praktis

untuk mengajarkan nilai-nilai yang diangkat dari khasanah keanekaragaman suku-suku

bangsa di Indonesia. Maka, pembelajaran pendidikan jasmani kesehatan dan rekreasi di

madrasah harus memperkenalkan permainan tradisional. Selain sebagai media untuk

mewariskan budaya, permainan tradisional juga dapat sebagai media pembelajaran

3
motorik yang yang menyenangkan bagi anak. Hal ini dikarenakan permainan tradisional

biasanya mempunyai syarat teknik yang berupa kekuatan tubuh, kecepatan gerak,

kelentukan dan rekasi. Namun, minimnya kesadaran guru akan kebermanfaatan

permainan tradisional membuat keberadaan permainan tradisional ini semakin tergerus

oleh olahraga yang populer. Sehingga harus ada peraturan yang mengatur tentang

system pembelajaran pengenalan permainan tradisional. Upaya tersebut juga ditujukan

untuk guru agar lebih kreatif memperkenalkan permainan tradisional yang memang

sudah tidak popular di kalangan anak-anak.

2. Tujuan

Tujuan dibuatnya modul permainan tradisional ini untuk mengenalkan kembali

permainan tradisonal yang saat ini mulai di tinggalkan atau jarang dimainkan lagi oleh

anak-anak pada jaman sekarang. Karna permainan tradisional ini memiliki banyak

manfaat yang baik untuk perkembangan anak karena fisik dan emosi anak terlibat

langsung sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhannya. Dan apabila permainan

tradisional dimainkan maka akan banyak manfaat yang didapat bagi perkembangan anak.

3. Kegunaan Isi Modul

Modul ini merupakan pegangan penulis dalam menerapkan permainan tradisional

yang di padukan dengan pembelajaran pendidikan jasmani, permainan tradisional yang

ditulis berjumlah 14 permainan tradisional. Kegunaan modul ini adalah bisa digunakan

sebagai acuan serta pegangan dalam pembelajaran permainan tradisional yang dapat

digunakan oleh guru pendidikan jasmani. Karna permainan tradisional sendiri sangat

berpengaruh positif bagi perkembanga anak baik secara fisik, psikologis, kognitif dan

aspek sosial.

4
B. PERMAINAN TRADISIONAL

1. BENTENG/BENTENGAN

Benteng atau bentengan adalah permainan tradisional yang memerlukan

ketangkasan, kecepatan berlari dan strategi yang jitu. permainan ini dimainkan oleh dua

grup, masing-masing terdiri dari 4 sampai dengan 20 anak atau sesuai dengan jumlah

siswa yang ada. Masing-masing grup memilih suatu tempat sebagai markas, biasanya

sebuah tiang, batu atau pilar sebagai 'benteng'.

Tujuan utama permainan ini adalah untuk menyerang dan mengambil alih 'benteng'

lawan dengan menyentuh tiang, batu atau pilar yang telah dipilih oleh lawan dan

meneriakkan kata benteng. Kemenangan juga bisa diraih dengan 'menawan' seluruh

anggota lawan dengan menyentuh tubuh mereka. Untuk menentukan siapa yang berhak

menjadi 'penawan' dan yang 'tertawan' ditentukan dari waktu terakhir saat si 'penawan'

atau 'tertawan' menyentuh 'benteng' mereka masing-masing. selain itu permainan ini

melatih kejujuran, ketangkasan, kecepatan, kelincahan dan melatih kemampuan berfikir

anak dalam memenangkan permainan ini.

a. Cara Bermain

1. Harus membentuk 2 kelompok, setiap kelompok harus berjumlah sama atau seimbang

agar permainan ini dapat berjalan dengan adil. Minimal terdiri dari 4 – 20 anak.

2. Setiap anak yang sudah terbentuk kelompoknya menempati masing – masing benteng

yang telah ditentukan oleh guru.

3. Untuk memulai permainan ini salah satu anak dari setiap benteng harus berlari keluar

memancing musuh dari benteng lawan.

4. Seorang anak yang keluar pertama kali dari bentengnya, anak tersebut yang akan

dikejar oleh lawannya. Sebaliknya jika anak yang tadi keluar pertama kali kembali ke

benteng asalnya maka anak yang mengejar tadi akan gantian dikejar.

5. Setiap anak harus berusaha untuk saling menangkap satu sama lain sesuai dengan

peraturan yang telah ditentukan sebanyak – banyaknya sampai salah satu benteng

dapat dikuasai.

5
6. Kelompok yang telah dinyatakan menang apabila berhasil menguasai benteng lawan

dan apabila sampai waktu yang telah ditentukan kedua kelompok tidak berhasil

menguasai benteng musuh maka suatu kelompok dinyatakan menang dengan melihat

banyaknya tawanan yang ditangkap.

b. Peraturan Permainan

1. Anak yang keluar dari bentengnya sebelum salah satu lawan dari benteng musuh

keluar, maka anak tersebut yang berhak untuk mengejar.

2. Seorang anak tidak boleh mengejar kembali sebelum dia menyentuh kembali

bentengnya.

3. Jika salah satu anggota badan tersentuh oleh anak yang sedang mengejar, maka anak

yang dikejar tadi harus menjadi tawanan.

4. Tawanan harus berbaris dan saling berpegangan tangan.

5. Tawanan bisa bebas apabila teman mereka dapat membebaskan dengan menyentuh

salah satu anggota badan teman mereka.

Gambar 1. Permainan Benteng/Bentengan

6
2. GOBAG SODOR

Galah asin, galasin, hadang atau gobak sodor adalah sejenis permainan daerah dari

Indonesia. Permainan ini adalah sebuah permainan grup yang terdiri dari dua grup, di

mana masing-masing tim terdiri dari 4 - 6 orang. Inti permainannya adalah menghadang

lawan agar tidak bisa lolos melewati garis ke baris terakhir secara bolak-balik, dan untuk

meraih kemenangan seluruh anggota grup harus secara lengkap melakukan proses bolak-

balik dalam area lapangan yang telah ditentukan.

Permainan ini biasanya dimainkan di lapangan bulu tangkis dengan acuan garis-garis

yang ada atau bisa juga dengan menggunakan lapangan segiempat dengan ukuran

bervariasi yang dibagi menjadi 6 bagian. Garis batas dari setiap bagian biasanya diberi

tanda dengan kapur. Anggota grup yang mendapat giliran untuk menjaga lapangan ini

terbagi dua, yaitu anggota grup yang menjaga garis batas horisontal dan garis batas

vertikal. Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas

horisontal, maka mereka akan berusaha untuk menghalangi lawan mereka yang juga

berusaha untuk melewati garis batas yang sudah ditentukan sebagai garis batas bebas.

Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas vertikal

(umumnya hanya satu orang), maka orang ini mempunyai akses untuk keseluruhan garis

batas vertikal yang terletak di tengah lapangan. Permainan ini sangat mengasyikkan

sekaligus sangat sulit karena setiap orang harus selalu berjaga dan berlari secepat

mungkin jika diperlukan untuk meraih kemenangan.

a. Cara Bermain

Cara melakukan permainan Gobak Sodor yaitu:

Membuat garis-garis penjagaan dengan kapur seperti lapangan bulu tangkis,

bedanya tidak ada garis yang rangkap. Membagi pemain menjadi dua tim, satu tim

terdiri dari 4 - 6 atau dapat disesuaikan dengan jumlah peserta. Satu tim akan menjadi

tim “jaga” dan tim yang lain akan menjadi tim “lawan”.

Anggota tim yang mendapat giliran “jaga” akan menjaga lapangan, caranya yang

dijaga adalah garis horisontal dan ada juga yang menjaga garis batas vertikal. Untuk

7
penjaga garis horisontal tugasnya adalah berusaha untuk menghalangi lawan mereka

yang juga berusaha untuk melewati garis batas yang sudah ditentukan sebagai garis

batas bebas. Bagi seorang yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas vertikal

maka tugasnya adalah menjaga keseluruhan garis batas vertikal yang terletak di

tengah lapangan.

Sedangkan tim yang menjadi “lawan”, harus berusaha melewati baris ke baris

hingga baris paling belakang, kemudian kembali lagi melewati penjagaan lawan

hingga sampai ke baris awal.

Gambar 2. Permainan Gobak Sodor

b. Aturan Bermain Gobak Sodor

Berikut ini peraturan-peraturan yang berlaku dalam permainan Gobak Sodor

adalah sebagai berikut:

1. Pemain terbagi menjadi 2 kelompok yang terdiri dari 4 – 6 orang (disesuaikan).

2. Jika 1 kelompok terdiri dari 6 orang maka lapangan dibagi menjadi 4 kotak persegi

panjang, yang berukuran 5m x 3m (disesuaikan).

3. Tim “jaga” bertugas menjaga agar tim “lawan” tidak bisa menuju garis finish.

8
4. Tim “lawan” berusaha menuju garis finish dengan syarat tidak tersentuh tim “jaga”

dan dapat memasuki garis finish dengan syarat tidak ada anggota tim “lawan” yang

masih berada di wilayah start.

5. Tim “lawan” dikatakan menang apabila salah satu anggota tim berhasil kembali ke

garis start dengan selamat (tidak tersentuh tim lawan).

6. Tim “lawan” dikatakan kalah jika salah satu anggotanya tersentuh oleh tim “jaga”

atau keluar melewati garis batas lapangan yang telah ditentukan. Jika hal tersebut

terjadi, maka akan dilakukan pergantian posisi yaitu tim “lawan” akan menjadi tim

“jaga”, dan sebaliknya.

3. PERMAINAN LOMPAT TALI (MAIN KARET)

Permainan lompat tali adalah permainan yang menyerupai tali yang disusun dari

karet gelang, ini merupakan permainan yang terbilang sangat populer sekitar tahun 70-an

sampai 80-an, menjadi favorit saat “keluar main” di sekolah dan setelah mandi sore di

rumah. Sederhana tapi bermanfaat, bisa dijadikan sarana bermain sekaligus olahraga. Tali

yang digunakan terbuat dari jalinan karet gelang yang banyak terdapat di sekitar kita.

Cara bermainnya bisa dilakukan perorangan atau kelompok, jika hanya bermain seorang

diri biasanya anak akan mengikatkan tali pada tiang atau apa pun yang memungkinkan

lalu melompatinya. Jika bermain secara berkelompok biasanya melibatkan minimal tiga

anak, dua anak akan memegang ujung tali; satu dibagian kiri, satu lagi dibagian kanan,

sementara anak yang lainnya mendapat giliran untuk melompati tali. Tali direntangkan

dengan ketinggian bergradasi, dari paling rendah hingga paling tinggi. Yang pandai

melompat tinggi, dialah yang keluar sebagai pemenang. Sementara yang kalah akan

berganti posisi menjadi pemegang tali. Permainan secara soliter bisa juga dengan cara

skipping, yaitu memegang kedua ujung tali kemudian mengayunkannya melewati kepala

sampai kaki sambil melompatinya.

Lompat tali yang bersifat santai dan yang bersifat sport/olahraga. Lompat tali

yang santai biasanya dimainkan oleh anak perempuan sedangkan yang sport/olahraga

9
dimainkan oleh anak laki-laki. Dengan kata lain, permainan lompat tali tersebut bisa

dimainkan oleh laki-laki maupun perempuan tanpa memandang gender. Ternyata

bermain lompat tali karet mempunyai banyak manfaat untuk anak – anak, diantaranya

adalah:

1. Motorik kasar

Main lompat tali merupakan suatu kegiatan yang baik bagi tubuh. Secara fisik

anak jadi lebih terampil, karena bisa belajar cara dan teknik melompat yang dalam

permainan ini memang memerlukan keterampilan sendiri. Lama- lama, bila sering

dilakukan, anak dapat tumbuh menjadi cekatan, tangkas dan dinamis. Otot-ototnya

pun padat dan berisi, kuat serta terlatih. Selain melatih fisik, mainan ini juga bisa

membuat anak – anak mahir melompat tinggi dan mengembangkan kecerdasan

kinestetik anak. Lompat tali juga dapat membantu mengurangi obesitas pada anak.

2. Emosi

Untuk melakukan suatu lompatan dengan ketinggian tertentu dibutuhkan

keberanian dari anak. Berarti, secara emosi ia dituntut untuk membuat suatu

keputusan besar, mau melakukan tindakan melompat atau tidak. Dan juga saat

bermain, anak – anak akan melepaskan emosinya. Mereka berteriak, tertawa dan

bergerak.

3. Ketelitian dan Akurasi

Anak juga belajar melihat suatu ketepatan dan ketelitian. Misalnya, bagaimana

ketika tali diayunkan, ia dapat melompat sedemikian rupa sehingga tidak sampai

terjerat tali dengan berusaha mengikuti ritme ayunan. Semakin cepat gerak ayunan

tali, semakin cepat ia harus melompat.

4. Sosialisasi

Untuk bermain tali secara berkelompok, anak membutuhkan teman yang berarti

memberi kesempatannya untuk bersosialisasi sehingga ia terbiasa dan nyaman dalam

kelompok. Ia dapat belajar berempati, bergiliran, menaati aturan dan yang lainnya.

5. Intelektual

10
Saat melakukan lompatan, terkadang anak perlu berhitung secara matematis agar

lompatannya sesuai dengan jumlah yang telah ditentukan dalam aturan permainan.

Umpamanya, anak harus melakukan lima kali lompatan saat tali diayunkan, bila lebih

atau kurang ia harus gantian menjadi pemegang tali. Anak juga secara tidak langsung

belajar dengan cara melihat dari teman – temannya agar bisa mahir dalam melakukan

permainan tersebut.

6. Moral

Dalam permainan tradisional mengenal konsep menang atau kalah. Namun,

menang atau kalah tidak menjadikan para pemainnya bertengkar, mereka belajar

untuk bersikap sportif dalam setiap permainan. Dan juga tidak ada yang unggul,

karena setiap orang punya kelebihan masing-masing untuk setiap permainan, hal

tersebut meminimalisir ego di diri anak-anak.

a. Peraturan dan Cara Bermain:

1. Permainan dimainkan oleh 3 orang atau lebih.

2. Ada 2 orang sebagai pemegang tali dan yang lainnya bertugas melompati karet.

3. Ketinggian karet dimulai dari mata kaki hingga mencapai kepala bahkan tangan

yang diacungkan ke atas.

4. Ketinggian hingga bagian pinggang, mengharuskan peserta melompat tanpa

mengenai karet/tali.

5. Jika pemain mengenai karet atau terjerat karet maka pemain gugur dan bergantian

dengan si pemegang karet.

6. Jika semua pemain sudah berhasil melewati tantangan lompatan dengan

ketinggian akhir, maka permainan akan diulang dari awal, begitu seterusnya.

11
Gambar 3. Prermainan lopat tali (Main Karet)

4. BOY – BOYAN

Permainan Boy-boyan merupakan permainan tradisional yang berasal dari

provinsi Jawa Barat khususnya di daerah Sunda. Permainan ini biasanya dimainkan oleh

anak laki-laki. Tentu saja bukan dikhususkan untuk anak laki-laki, anak perempuan juga

bisa bermain boy-boyan. Sebenarnya, permainan ini memiliki nama yang berbeda-beda di

setiap daerahnya. Misalnya, di daerah Pati, Jawa Tengah, permainan ini dikenal dengan

nama Gaprek Kempung. Di daerah Sunda, ada yang menyebutnya boy-boyan, ada juga

yang menyebutnya Bebencaran. Dan di beberapa daerah lainnya permainan ini disebut

Gebokan, karena katanya suara yang biasa ditimbulkan apabila bola karet yang

digunakan dalam permainan mengenai anggota badan dari pemain akan menimbulkan

suara “Gebok”.

Walaupun memiliki sebutan yang berbeda-beda, pada intinya permainan boy-

boyan ini adalah sama. Permainan tradisional dari Jawa Barat ini memadukan kerja

motorik anak dan juga mengasah kemampuan membuat strategi. Boy-boyan sendiri

biasanya terdiri dari lima hingga sepuluh pemain yang dibagi menjadi dua kelompok dan

dilakukan di lapangan yang cukup luas.

a. Alat yang digunakan

1. Pecahan genteng atau gerabah, pecahan asbes, potongan kayu, atau pacahan batu bata,

atau kaleng susu, dan sebagainya

12
2. Bola plastik, bola tenis atau buat sendiri bolanya dari kumpulan kertas yang yang

dibungkus kantong kresek dan diikat dengan karet.

b. Tempat Permainan

Dalam permainan boy-boyan ini, biasanya dilakukan di tempat yang luas, misalnya

halaman rumah, halaman sekolah atau lapangan.

c. Umur dan Jumlah Pemain

Permainan boy-boyan ini biasanya dimainkan oleh anak-anak yang berusia antara 8

sampai 15 tahun. Tetapi tidak ada larangan bagi orang dewasa untuk memainkannya.

d. Aturan Permainan

1. Permainan dimulai dengan melakukan HomPimPa, yang kalah akan menyusun

pecahan genting, gerabah, atau pecahan asbes, atau potongan kayu, atau pecahan

batu bata, atau kaleng susu dan yang menang sebagai pelempar bola dengan jarak 3

meter.

2. Pelempar harus melempar pecahan genting itu hingga rubuh, dan jika sudah rubuh,

maka pihak penjaga (kalah) harus mengejar pihak yang pelempar (menang),

kelompok pelempar harus menghindari lemparan tersebut, juga mereka (pemenang)

harus menata kembali pecahan genting yang telah mereka robohkan.

3. Permainan selesai jika pelempar berhasil menyusun kembali pecahangenting,

gerabah, atau pecahan asbes, atau potongan kayu, atau pacahan batu bata, atau kaleng

susu tersebut utuh kembali, dan berhasil menghindari lemparan bola dari penjaga,

hingga skor 1-0 untuk pelempar.

13
Gambar 4. Prermainan Boy-boyan

5. GATRIK

Permainan gatrik adalah permainan tradisional dari Jawa Barat. Permainan

tradisional di setiap daerah memiliki kesamaan bentuk pada beberapa jenis permainan,

namun cenderung berbeda penamaan permainannya. Dan salah satunya adalah

permainan gatrik, atau dengan nama lain seperti tak kadal, patil lele, maupun benthik

karena setiap daerah mempunyai nama lokal tersendiri. Gatrik pada masanya pernah

menjadi permainan yang populer di Indonesia. Merupakan permainan kelompok, terdiri

dari dua kelompok. Permainan ini menggunakan alat dari dua potongan bambu/kayu

yang satu menyerupai tongkat berukuran kira kira 30 cm dan lainnya berukuran lebih

kecil. Pertama potongan bambu yang kecil ditaruh di antara dua batu lalu dipukul oleh

tongkat bambu/kayu, diteruskan dengan memukul bambu kecil tersebut sejauh

mungkin, pemukul akan terus memukul hingga beberapa kali sampai suatu kali

pukulannya tidak mengenai/meleset dari bambu kecil tersebut. Setelah gagal maka

orang berikutnya dari kelompok tersebut akan meneruskan. Sampai giliran orang

terakhir. Setelah selesai maka kelompok lawan akan memberi hadiah berupa gendongan

dengan patokan jarak dari bambu kecil yang terakhir hingga ke batu awal permainan

dimulai tadi. Makin jauh, maka makin enak digendong dan kelompok lawan akan

makin lelah menggendong.

14
a. Alat Permainan Gatrik

1. Dua potongan bambu berukuran kira-kira 30 cm dan 10 cm

2. Batu bata

b. Cara Bermain Gatrik

Untuk dapat memainkan permainan tradisional ini sangat gampang. Ada beberapa

hal yang harus dipenuhi dan diperhatiakan.

1. Lapangan

Permainan ini tidak memerlukan peralatan yang terlalu banyak. Hanya

memanfaatkan lingkungan sekitar seperti lapangan atau tanah terbuka. Permainan ini

bisa juga dilakukan di pantai, halaman, dan berbagai tempat terbuka lainnya.

2. Jumlah pemain

Permainan ini dibentuk menjadi dua kelompok yang terdiri dari kelompok

pemukul dan kelompok penangkap, yang terdiri dari masing- masing (2-5) orang tiap

kelompok diusahakan agar jumlah pemain disesuikan dengan luas area permainan.

3. Waktu permainan

Untuk memainkan permaianan ini tidak di perlukan waktu yang khusus. Artinya

berakhirnya permainan ini tidak di tentukan oleh waktu, melaikan dalam satu set

permainan ini di tentukan ketika satu regu kalah dalam permainan ini.

4. Penentuan kalah menang

Permainan gatrik ini agar dapat menentukan regu yang menang dalam permainan

ini di tentukan dari skor yang di dapat oleh salah satu regu baik penangkap maupun

pemukul.

5. Aturan permainan

Dalam permainan gatrik ini tidak memerlukan aturan yang khusus, hanya saja

dalam permainan sipemukul di haruskan memukul dengan kena batang bambu yang

kecil dan terlempar, dan untuk penangkap harus mampu/berhasil menangkap batang

bambu yang di pukul oleh sipemukul jika tidak sang pemukul akan mendapat nilai,

maka disini sang penangkap harus berhasil menangkap bambu itu untuk

15
menggagalkan si pemukul untuk mendapat nilai. Dan jika si penangkap berhasil

menangkap bambu kecil itu maka, mereka harus bertukar tempat.

6. Cara permainan

Ada tiga babak permainan, yaitu :

a. Mulai main

Untuk menentukan tim yang lebih dulu bermain sebagai pemukul, kita bisa

melakukan suit, atau melemparkan kayu Gatrik pendek ke landasan di atas batu. Siapa

yang melemparnya lalu masuk atau paling dekat dengan batu landasan, akan menjadi

tim pemukul.

b. Babak Permainan

Babak Pertama

Babak Pertama adalah menyilangkan gatrik pendek di atas batu dan siap dilempar

dengan gatrik panjang. Tim penangkap akan menjaga lemparan gatrik pendek, jika

berhasil tertangkap maka giliran akan berganti. Jika tidak bisa menangkap, masih ada

satu kesempatan lagi dengan melemparkan gatrik pendek ke gatrik panjang. Bila kena,

tim penangkap akan berganti menjadi tim pemukul.

Babak Kedua

Bila tidak mengenai gatrik panjang, maka kita masuk babak kedua. Gatrik panjang

dan pendek dipegang dengan tangan lalu gatrik pendek dipukul sekeras-kerasnya

dengan gatrik panjang. Bila tertangkap, tim penjaga dapat mempunyai peluang untuk

bermain gatrik. Bila tidak, tim penjaga melemparkan gatrik pendek mendekati batu

landasan, agar tim pemukul tidak mempunyai jarak per gatrik pendek untuk

mendapatkan nilai.

Babak Ketiga

Babak terakhir adalah apa yang disebut patil lele, letakkan dengan posisi miring di

landasan batu. Pukul bagian ujung hingga terlempar ke atas, lalu segera dipukul lebih

keras lagi ke depan. Tim penangkap tetap bertugas menangkap gatrik pendek. Bila

tidak tertangkap, tim pemukul akan meneruskan permainan dengan memukul ujung

16
gatrik yang pendek gatrik pendek di atas tanah (seperti memukul bola golf tapi sambil

kaki mengangkang). Dalam memukul gatrik pendek, dilakukan secara estafet (jika

pemain ke-1 gagal memukul, diganti pemain ke-2, dst.). Jarak yang diukur dengan

gatrik pendek itu menentukan kemenangan tim. Tim yang menang biasanya akan

dihadiahi oleh tim yang kalah dengan diakod (digendong) dengan jarak sesuai jauhnya

gatrik pendek yang dipukul.

Permainan ini membutuhkan kelincahan dan kecepatan. Pemain harus hati-hati saat

memainkannya karena semakin kencang gatrik meluncur, tim penangkap harus sigap

untuk menghindari cedera terkena kayu gatrik. Cara bermain/peraturan bermain gatrik

ini di setiap daerah bisa berbeda-beda.

Gambar 5. Permaianan Gatrik

6. ENGKLEK

Istilah ‘Engklek’ berasal dari bahasa Jawa, di daerah Riau disebut Setatak, di daerah

Jambi disebut Tejek-tejekan, sedangkan di daerah Batak Toba dikenal Marsitekka.

Merupakan permainan tradisional anak-anak yang sangat digemari dan mengambil

tempat di halaman, lapangan, maupun tempat lain yang leluasa dan memiliki permukaan

cukup datar sehingga kotak-kotak yang telah digambar dapat dilalui dengan lebih mudah.

Engklek adalah suatu permainan tradisional lompat-lompatan pada bidang datar yang

digambar di atas tanah dengan membuat gambar kotak-kotak, kemudian melompat

dengan satu kaki dari kotak satu ke kotak berikutnya. Permainan ini biasanya dilakukan

perorangan dan berkelompok, biasa dimainkan oleh anak-anak perempuan namun tak

jarang juga anak laki-laki pun turut serta bermain. Permainan Engklek terdiri atas

17
beberapa jenis susunan kotak. Tiga jenis yang paling sering kita temui adalah Engklek

dengan susunan kotak sebagai berikut :

Gambar 6. Bagan Permainan Engklek

a. Cara bermain

1) Semua pemain melakukan hompimpa yang menang berhak melakukan permaian

terlebih dahulu. Pemain pertama melemparkan gaco (yang biasanya berupa

pecahan genting/kreweng, keramik lantai, ataupun batu yang datar) ke kotak

nomor satu. Saat melemparkannya tidak boleh melebihi kotak yang telah

disediakan jika melebihi maka dinyatakan gugur.

2) Pemain Pertama melompat dengan satu kaki (Engklek), dari kotak 1 sampai kotak

6 kemudian berhenti sejenak di kotak A kemudian kembali lagi dengan

mengambil gaco yang ada di kotak satu dengan posisi kaki satu masih diangkat.

3) Setelah itu pemain melemparkan gaco tersebut sampai ke kotak 2 jika keluar dari

kotak 2 maka pemain dinyatakan gugur dan diganti oleh pemain berikutnya.

4) Begitu seterusnya sampai semua kotak sudah dilempar dengan gaco. Pergiliran

dilakukan jika pemain pelempar gaco melewati sasaran, atau menampak dua kaki

dikotak 1,2,3,4,5,6 dan berhenti sejenak di kotak A kemudian lompat lagi di kotak

3 dan berhenti di kotak 2 untuk mengambil gaco di kotak 1.

5) Jika gaco berada dikotak 2 maka pemain mengambilnya di kotak 3, jika gaco

berada di kotak 4, 5 dan 6 maka pemain mengambilnya di kotak A.

18
6) Kemudian jika semua telah dilakukan oleh semua pemain maka pemain

melemparkan gaco dengan membelakangi Engklek’nya jika pas pada kotak yang

dikehendaki maka kota itu akan menjadi rumahnya maka boleh berhenti dikotak

tersebut seperti pada kotak A tapi hanya berlaku pada pemain yang menang pada

permaian tersebut. Begitu seterusnya sampai kotak-kotak mulai dari angka 1

sampai 6 menjadi milik para pemain. Jika semua telah dimiliki oleh sang pemain

maka permainan dinyatakan telah selesai.

7) Pemenang adalah pemain yang paling banyak memiliki rumah dari kotak-kotak

pada Engklek yang digambar.

b. Manfaat

Manfaat yang diperoleh dari permainan Engklek ini antara lain adalah:

1) Kemampuan fisik menjadi kuat karena dalam permainan Engklek diharuskan

untuk melompat-lompat.

2) Mengasah kemampuan bersosialisasi dengan orang lain dan mengajarkan

kebersamaan.

3) Dapat menaati aturan-aturan permainan yang telah disepakati bersama.

4) Mengembangkan kecerdasan logika. Permainan Engklek melatih untuk berhitung

dan menentukan langkah-langkah yang harus dilewatinya

5) Dapat menjadi lebih kreatif. Permainan tradisional biasanya dibuat langsung oleh

para pemainnya. Mereka menggunakan barang-barang, benda-benda, atau

tumbuhan yang ada di sekitar para pemain. Hal itu mendorong mereka untuk lebih

kreatif menciptakan alat-alat permainan.

7. SEPAK SAWUT

Sepak sawut merupakan permainan tradisional yang banyak digemari oleh

masyarakat bukan hanya kalangan muda tetapi banyak juga orang tua yang menggemari

permainan yang satu ini terutama warga masyarakat Kalimantan. Sepak sawut yaitu

19
sebuah permainan seperti permainan sepak bola pada umumnya. Namun yang

membedakan dengan permainan sepak bola yaitu pada bola yang digunakan untuk

bermain merupakan bola yang berapi. Bolanya dapat terbuat dari bongkahan sabuk

kelapa tua yang telah kering dengan terlebih dahulu airnya dibuang lalu bongkahan

tersebut direndam menggunakan minyak tanah. Tujuannya supaya minyak meresap

kedalam serat-serat bola kelapa tersebut. Supaya lebih seru lagi permainan ini dimainkan

pada malam hari. Ini memiliki keindahan tersendiri, karena penerangan hanya

menggunakan lampu seadanya dan cahaya kebanyakan bersumber dari bola api yang

dimainkan. Peraturan main juga hampir sama, tidak berbeda jauh dengan main sepak bola

pada umumnya yang terdiri dari dua gawang, gawang kita dan gawang musuh. Satu tim

terdiri dari lima orang pemain. Lapangan yang digunakan tidak berbeda jauh dengan luas

lapangan bola basket. Pertandingan dipimpin oleh seorang wasit. Siapa yang banyak

memasukkan bola ke gawang lawan maka tim tersebut yang dinyatakan sebagai

pemenang dalam lomba.

Sepak sawut (sepak bola api), dahulunya sepak bola yang satu ini dimainkan pada

saat orang ingin membuka ladang berpindah. Karena kebanyakkan pada tempo dulu di

Kalimantan hampir semua kegiatan dilakukan secara gotong-royong seperti membangun

rumah, membuka ladang, menanam padi, memanen padi yang dilakukan secara bersama-

sama atau dalam bahasa daerahnya “handep”. Permainan sepak sawut sekarang sudah

agak jarang kita temukan. Artinya permainan ini hampir langka hanya pada waktu-waktu

tertentu saja kita dapat menyasikannya, misal pada perayaan ulang tahun Propinsi

Kalteng, ulang tahun kabupaten, festival-festival budaya.

Pasti yang terlintas dalam benak kita sekaligus menjadi pertanyaan yang segera

membutuhkan jawaban bahwa apakah para pemain sepak sawut tersebut tidak merasa

sakit/panas karena api bersentuhan langsung dengan kaki para pemainnya? Para pemain

juga tidak menggunakan sepatu dalam bermain seperti main bola pada umumnya. Selama

ini tidak ada yang sampai terbakar atau merasa sakit setelah main sepak sawut. Akan hal

20
tersebut saya kurang terlalu mengerti juga. Yang pasti para pemainnya tidak terlalu

memikirkan hal tersebut dan mereka merasa menikmati pertandingan yang berlangsung.

Gambar 7. Prermainan Sepak Sawut

8. PERMAINAN BINTANG BERALIH (KUCING-KUCINGAN)

Permainan kucing-kucingan merupakan satu diantara sekian permainan

tradisional yang dimiliki oleh masyarakat jawa. Penamaan permainan ini tampaknya

berasal dari perilaku dalam permainan, yaitu menirukan tingkah laku seekor kucing yang

sedang mengejar atau menangkap mangsanya, khususnya tikus. Asal usul permainan ini

sudah menjadi milik masyarakat sehingga tidak atau belum diketahui secara pasti

mengenai pencipta maupun tempat asalnya serta waktu permulaannya.

Waktu memainkan permainan kucing-kucingan sebenarnya dapat dilakukan siang

maupun malam hari dengan catatan dalam keadaan terang atau pemain dapat melihat

pemain lainnya. Namun demikian, biasanya dilakukan oleh anak-anak pada waktu

senggang dan ini biasanya ada pada waktu sore hari. Sedangkan tempat permainan

biasanya dilakukan dihalaman yang tidak harus luas, kira-kira bidang persegi berukuran

minimal 3 meter.

Permainan ini dapat dilakukan oleh sembarang anak, baik laki-laki maupun

perempuan yang telah memiliki kecepatan lari yang baik. Biasanya dilakukan oleh anak-

anak usia sekolah antara 6-15 tahun.

a. Tujuan.

Mengisi waktu luang, melatih kelincahan dan kekompakan.

21
b. Manfaat.

Gembira, meningkatkan kebugaran, kelincahan, dan kekompakan.

c. Sasaran.

Anak-anak usia Sekolah Dasar .

d. Peraturan permainan .

1. Lapangan

Masing-masing penjaga bergandengan melingkar. Setelah itu ditempat berpijak kita

kasih tanda melingkar dan tidak mudah hilang.

2. Penjaga

Kucing (yang jadi) .

3. Pemain

Masing-masing regu mengirimkan 5 pemain Sekolah Dasar putra/putri.

4. Lama Permainan

Lama permainan 2 x 15 menit (istirahat 5 menit)

5. Jalannya Permainan

Setelah diadakan undian, yang kalah jadi kucing. Dari sekian pemain diambil

yang paling lincah. Yang menang undian jaga bergantian dengan melingkar dan

tempat berpijak kita kasih tanda. Penjaga berusaha saling pindah tempat berpijak

sekali dapat tukar tempat mendapatkan nilai satu. Dan seterusnya sampai waktu habis.

Dan si kucing berusaha merebut tempat berpijak pada mereka yang sedang

mengadakan pergantian tempat, bila kucing dapat menempati tempat tersebut maka

diadakan pergantian (yang jaga jadi kucing dan kelompok kucing menjadi penjaga).

4. Penilaian .

Setelah selesai permainan, jumlah nilai terbanyak menjadi juara .

22
Gambar 8. 8. Permainan bintang beralih (kucing-kucingan)

9. BAKIAK

Permainan tradisional Bakiak memiliki nama lain yaitu terompah kayu. Bakiak

biasanya berupa kayu panjang mirip seluncur yang diberi beberapa selop, akan tetapi kali

ini akan diberikan sesuatu yang sedikit berbeda yaitu bakiak tali. Dimana untuk selop

tersebut digantikan dengan tali, yang panjangnya diperkirakan sampai ke tangan (sebagai

pegangan). Bakiak berasal dari Sumatera Barat, olahraga tradisional yang satu ini mirip

dengan tarik tambang karena mengandung unsur-unsur kerjasama dan kekompakan tim.

Bedanya adalah, Anda tidak perlu mengeluarkan terlalu banyak tenaga untuk melakukan

permainan ini. Bakiak merupakan permainan dengan garis start dan garis finish dengan

beberapa tim yang terdiri dari beberapa peserta, biasanya tiga peserta per tim. Para

peserta ini akan berjalan bersama-sama menggunakan bakiak, yakni sebuah sandal besar

yang terbuat dari kayu panjang (umumnya 1,5 meter) yang dihaluskan dan diberikan

selop khusus. Pada dasarnya, bakiak adalah sandal raksasa yang bisa dipakai oleh

beberapa orang sekaligus. Kuncinya di sini adalah kekompakan saat melangkah karena

jika salah satu peserta tidak melangkah bersamaan dengan peserta lainnya, maka tim

tersebut hampir pasti akan jatuh. Sering diperlombakan di acara peringatan kemerdekaan

dan acara-acara nasional lainnya, bakiak merupakan permainan yang masih cukup eksis

di zaman sekarang ini, walaupun kita mungkin harus masuk ke desa-desa untuk
23
menemukannya. Perlombaan bakiak sangat menarik untuk disaksikan karena sangat

menghibur dan dapat diikuti oleh siapa saja dari berbagai jenis usia dan jenis kelamin.

Permainan ini menguji ketangkasan, kepemimpinan, kerja sama, kreatifitas,

wawasan serta kejujuran. Bakiak adalah salah satu permainan tradisional. Bahannya

dibuat dari kayu panjang seperti seluncur es yang sudah dihaluskan (diamplas) dan diberi

beberapa selop diatasnya, biasanya untuk 2-3 orang. Memainkan bakiak biasanya secara

berkelompok atau tim, yang masing-masing tim berlomba untuk sampai ke garis finish.

Sebenarnya “Bakiak” adalah permainan tradisional anak-anak di Sumatera Barat. Anak-

anak dari Sumatera Barat yang dilahirkan hingga pertengahan tahun 1970-an, sering dan

biasa memainkan bakiak atau terompah panjang ini. Bakiak panjang atau yang sering

disebut terompa galuak di Sumatera Barat adalah terompah deret dari papan bertali karet

yang panjang. Sepasang ‘bakiak’ minimal memiliki tiga pasang sandal atau dimainkan

tiga anak. Biasanya juga untuk diperlombakan di tingkat kecamatan dan kelurahan pada

17 Agustusan. Berbeda halnya dengan daerah Sumatera Barat. Bakiak merupakan

sebutan di Jawa Tengah untuk sejenis sandal yang telapaknya terbuat dari kayu yang

ringan dengan pengikat kaki terbuat dari ban bekas yang dipaku dikedua sisinya. Di Jawa

Timur dikenal dengan sebutan Bangkiak. Sangat populer karena murah terutama dimasa

ekonomi susah sedangkan dengan bahan kayu dan ban bekas membuat bakiak tahan air

serta suhu panas dan dingin.

Berikut adalah cara pakai Bakiak Tali dan aturan mainnya

1. Bakiak dipakai layaknya alas kaki oleh 3 orang pemain (dalam 1 grup)

2. Letakkan masing-masing kaki dibawah tali, kemudian tali yang panjang dijadikan

pegangan (seperti naik kuda).

3. Untuk dapat melangkah, tali di bagian tangan kiri dan kaki kiri harus secara

bersamaan diangkat untuk bisa melangkahkan kaki kiri, begitu juga sebaliknya

dengan melangkahkan kaki kanan. Apa bila tali tidak diangkat, maka tidak akan bisa

melangkah. Agar dapat berjalan cepat dan tidak terjatuh, diperlukan kekompakan

antara pemain dalam satu grup. Supaya grup tetap kompak, para pemain sepakat

24
mulai mengangkat kaki kanan atau kiri dulu. Selanjutnya, mereka akan berjalan

sambil memberi komando pada langkah mereka

4. Begitulah selanjutnya sampai ke garis finish.

5. Grup mana yang lebih cepat, maka merekalah pemenangnya.

Gambar 9. Permaian Bakiak

10. PEREPET JENGKOL

Permainan ini hampir sangat jarang dimainkan lagi oleh anak-anak bahkan nama

permainannya saja belum tentu mereka mengetahuinya. Permainan tradisonal ini dapat

dimainkan oleh 3 hingga 4 anak. Prepet jengkol dapat dimainkan oleh perempuan dan

laki-laki. Cukup sederhana memainkan permainan ini tetapi membutuhkan ekstra

kesabaran. Cara memainkan permainan ini dilakukan dengan berdiri sambil berpegangan

tangan dan membelakangi badan. Kaki dari para pemain perepet jengkol akan saling

berkaitan dari arah belakang. Setiap pemain harus berkonsentrasi penuh untuk menjaga

keseimbangan kelompok mereka agar tidak terjatuh. Setelah semua anggota kelompok

siap pegangan tangan antar pemain pun mulai dilepaskan. Setelah pegangan tangan

dilepaskan, maka para pemain akan berputar ke kiri dan kanan yang akan diberi aba-aba

oleh satu orang atau dari sang dalang. Permainan ini tidak harus menentukan siapa yang

menang dan kalah, permainan ini bertujuan untuk bersenang-senang dan dinyanyikan saat

terang bulan. Manfaat - Merangsang pertumbuhan anak dengan daya kreativitasnya saat

menyanyikan lagu yang akan dimainkan dalan permainan ini - Motorik anak dan

25
keseimbangan anak dalam menjaga tubuhnya agar tidak terjatuh juga sangat bermanfaat

untuk anak.

a. Manfaat Permainan Perepet Jengkol

Permainan Perepet Jengkol memiliki manfaat yang berguna bagi tubuh, yaitu :

1. Melatih keseimbangan para pemainnya.

2. Melatih kekompakan antar pemainnya dalam satu kelompok.

3. Melatih kekuatan kaki para pemain, karena kaki sebagai penopang dalam

permainan, kalau kaki para pemain tidak dapat menahan maka para pemain akan

jatuh.

4. Melatih kecerdikan, agar kaki para pemain tidak mudah terlepas supaya pemain

tidak mudah terjatuh.

5. Melatih kelincahan tubuh, karena para pemain harus meloncat-loncat sambil

berputar-putar.

Cara bermain dari permainan tradisional Perepet Jengkol, yaitu :

1. Yang pertama harus dilakukan ialah Para pemainnya berdiri sambil membelakangi

temannya masing-masing kemudian para pemainnya saling berpegangan tangan atau

merangkul asalkan saling mengikat satu sama lainnya.

2. Selanjutnya, salah satu kaki setiap pemainnya diangkat kemudian dikaitkan dengan

kaki pemain lainnya yang diangkat juga.

3. Kaki mereka tersebut dianyamkan hingga kuat. Sehingga, kaki pemain yang satu

dengan pemain yang lainnya saling terkait dan usahakan jangan terlepas.

4. Apabila pertahanan kakinya sudah kuat, masing-masing pemain harus menjaga

keseimbangannya agar tidak terjatuh dan satu per satu mulai melepaskan tangannya.

5. Semua pemain meloncat-loncat bergerak berputar ke arah kanan atau kiri tergantung

kesepakatan bersama. Sambil berputar semuanya melantunkan lagu yang ada di atas

sambil bertepuk tangan.

26
6. Semakin lama putarannya akan semakin cepat hingga akhirnya keseimbangan para

pemain tidak dapat dipertahankan lagi dan semuanya berjatuhan.

Demikian permainan tradisional yang disebut dengan Perepet Jengkol yang biasanya

di mainkan oleh anak-anak bersama teman-teman mereka. Di era modern ini, permainan

tradisional seperti perepet jengkol sudahlah hampir punah dan tidak sedikit orang yang

belum mengetahuinya. Maka dari itu mari kita jaga keanekaragaman budaya dan

kekayaan Indonesi ini.

Gambar 10. Permainan Perepet Jengkol

11. KASTI

Kasti merupakan salah satu jenis permainan bola kecil beregu. Kasti merupakan

bentuk permainan tradisional yang mengutamakan beberapa unsur kekompakan,

ketangkasan dan kegembiraan. Permainan ini biasa dilakukan di lapangan terbuka, pada

anak-anak usia sekola, permainan ini bisa melatih kedisiplinan diri serta memupuk rasa

kebersamaan dan solidaritas antar teman. Agar dapat bermain kasti dengan baik kita

dituntut memiliki beberapa keterampilan yaitu memukul, melempar, dan menangkap bola

serta kemampuan lari. Kasti dimainkan oleh 2 regu, yaitu regu pemukuldan regu penjaga.

Permainan kasti sangat mengandalkan kerjasama pemain dalam satu regu.

a. Teknik Dasar Permainan Kasti

27
Agar dapat bermain kasti dengan baik kita dituntut menguasai teknik dasar

bermain kasti. Adapun teknik dasar permainan kasti ada 3, yaitu teknik melempar,

menangkap, dan memukul bola.

b. Peraturan Permainan Kasti

· Lapangan Permainan Kasti. Lapangan kasti berbentuk persegi panjang dengan

ukuran:

· Panjang: 60 – 70 meter

· Lebar: 30 meter

· Ruang hinggap: 3

· Ruang bebas: 1

Gambar Lapangan Permainan Bola Kasti

c. Peralatan permainan kasti

· Pemukul: terbuat dari kayu

· Bola Kasti: terbuat dari karet

d. Peraturan Permainan Kasti

28
· Jumlah Pemain. Jumlah pemain kasti tiap regu adalah 12 orang, dengan salah

satu pemain bertindak sebagai kapten. Setiap pemain wajib mengenakan nomor

dada dari 1 sampai 2.

· Waktu Permainan.

· Waktu permainan dilakukan dalam 2 babak. Tiap-tiap babak 20 – 30 menit.

Diantara tiap babak diberikan istirahat 15 menit.

· Wasit. Pertandingan kasti dipimpin oleh seorang wasit dibantu 3 orang penjaga

garis dan 1 orang pencatat waktu.

e. Regu Pemukul

· Setiap pemain berhak memukul satu kali, kecuali pemain terakhir berhak

memukul sampai 3 kali.

· Sesudah memukul, alat pemukul harus diletakkan di dalam ruang pemukul.

Apabila alat pemukul diletakkan di luar, maka pemain tersebut tidak

mendapatkan nilai, kecuali jika ia segera meletakkannya di dalam ruang

pemukul.

· Pukulan dinyatakan benar apabila bola yang dipukul melampaui garis pukul,

tidak jatuh di ruang bebas, dan tidak mengenai tangan pemukul.

f. Regu Penjaga

Regu penjaga bertugas:

· Mematikan lawan dengan cara melemparkan bola ke pemukul atau menangkap

langsung bola yang dipukul melambung oleh regu pemukul.

· Membakar ruang bebas dengan cara menempati ruang bebas jika kosong.

g. Pelambung

Pelambung bertugas:

· Melambungkan bola sesuai permintaan pemukul

· Jika bola yang dilambungkan oleh pelambung tidak sesuai dengan permintaan

pemukul, maka pemukul boleh untuk tidak memukulnya. Jika ini terjadi sampai 3

29
kali berturut-turut maka pemukul dapat berlari bebas ke tiang pemberhentian

pertama.

h. Pergantian Tempat

· Pergantian tempat antara regu pemukul dan regu penjaga terjadi apabila:

· Salah seorang regu pemukul terkena lemparan bola

· Bola pukulan regu pemukul ditangkap langsung oleh regu penjaga sebanyak 3

kali berturut-turut.

· Alat pemukul lepas ketika memukul

i. Cara Mendapatkan Nilai

· Pemain berhasil memukul bola, kemudian lari ke pemberhentian I, II, III, dan

ruang bebas secara bertahap, mendapat nilai 1.

· Pemain berhasil berlari melewati tiang-tiang pemberhentian dan kembali ke

ruang bebas atas pukulannya sendiri, mendapat nilai 2.

· Regu penjaga menangkap langsung bola lambung yang dipukul oleh regu

pemukul, mendapat nilai 1.

· Regu yang mendapatkan nilai paling banyak dinyatakan sebagai pemenang.

j. Cara Bermain Kasti

· Setelah menguasai beberapa teknik dasar permainan kasti dan memahami

peraturan permainannya, selanjutnya adalah mempraktikkan bagaimana cara

bermain kasti dengan benar. Dalam bermain kasti dibutuhkan kerjasama tim dan

rasa tanggung jawab. Selain itu yang paling penting adalah sikap untuk selalu

menjaga sportifitas.

· Sebelum memulai bermain kasti, hendaknya ditentukan dulu dua regu yang akan

bermain. Tiap-tiap regu berjumlah 12 pemain. Bagi siswa yang belum

mendapatkan giliran bermain, hendaknya melihat di sisi lapangan sambil

mempelajari kejadian-kejadian di lapangan.

30
12. BALAP KARUNG

Balap karung adalah salah satu lomba yang selalu diadakan hampir di setiap daerah

ketika memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus

setiap tahunnya. Namun konon, adanya permainan balap karung tidak sejak Indonesia

merdeka, melainkan sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Waktu itu permainan

sering dilalukan oleh anak-anak usia 6-12 tahun pada saat ada acara-acara keramaian atau

perayaan di sekolah-sekolah Belanda atau di kampung-kampung. Seiring perkembangan

zaman, saat ini permainan juga dilakukan oleh orang dewasa di perkantoran dan pabrik-

pabrik untuk ikut memerihkan hari kemerdekaan Indonesia.

a. Pemain

Permainan balap karung dapat dikategorikan sebagai permainan segala umur

(anak-anak, remaja dan dewasa) yang dilakukan oleh kaum laki-laki maupun

perempuan. Jumlah pemainnya antara 4-6 orang, baik dalam bentuk kelompok dengan

anggota maksimal 2 orang maupun perseorangan. Selain pemain, lomba balap karung

juga menggunakan wasit untuk mengawasi jalannya perlombaan dan menetapkan

pemenang.

b. Tempat dan Peralatan Permainan

Permainan balap karung tidak membutuhkan tempat (lapangan) yang luas. Ia

dapat dimainkan di mana saja, asalkan di atas tanah. Jadi, dapat di pekarangan rumah

atau di tanah lapang. Luas arena permainan balap karung ini hanya sepanjang 5 - 10

meter dan lebar sekitar 3 - 4 meter yang dibagi menjadi 4 atau 5 jalur. Sedangkan

peralatan permainannya adalah: (1) kapur tulis atau pecahan genting untuk membuat

garis batas antarpemain; (2) peluit untuk memberi aba-aba; dan (3) karung beras atau

karung terigu ukuran lima puluh kilogram yang nantinya akan dikenakan oleh para

pemain ketika berlomba.

c. Aturan Permainan

31
Aturan dalam permainan ini tergolong mudah, yaitu seseorang harus melompat

memakai karung dari garis start menuju ujung lintasan dan kembali lagi garis start

semula. Apabila permainan dilakukan secara berkelompok, ketika pemain telah

kembali ke garis start maka ia akan digantikan pemain lain dalam regunya. Dan, regu

yang berhasil mencapai garis start/finish dengan catatan waktu tercepat dinyatakan

sebagai pemenangnya.

Sebagai catatan, perlombaan biasanya menggunakan sistem gugur karena jumlah

pesertanya banyak. Jadi, apabila seseorang atau sebuah regu berhasil menang, ia harus

melawan lagi pemenang yang lain. Sedangkan yang kalah dinyatakan gugur dan tidak

dapat bermain lagi.

d. Jalannya Permainan

Permainan balap karung diawali dengan pengundian untuk menentukan regu atau

pemain mana yang akan memulai. Cara menentukannya ada yang mirip seperti arisan

yaitu menuliskan nama-nama pemain atau regu yang akan bermain dalam secarik

kertas kecil lalu digulung dan dimasukkan ke dalam botol atau gelas kemudian

dikocok. Apabila permainan beregu, maka dua regu yang gulungan kertasnya pertama

keluar dari botol akan mendapat giliran pertama untuk bermain, sedangkan regu

lainnya sesuai dengan urutan kertas yang keluar selanjutnya.

Setelah proses pengundian selesai, maka kedua regu yang terdiri dari dua atau tiga

orang akan segera memasuki arena permainan. Selanjutnya, satu persatu dari anggota

regu secara bergiliran akan melompat memakai karung dari garis start menuju ujung

lintasan dan kembali lagi ke garis start semula untuk digantikan oleh anggota lain

dalam regunya. Begitu seterusnya hingga seluruh anggota regu mendapat giliran untuk

melompat dan regu yang lebih dahulu mencapai garis finis dinyatakan sebagai

pemenangnya.

e. Nilai Budaya

Nilai yang terkandung dalam permainan yang disebut sebagai balap karung ini

adalah: kerja keras, kerja sama, dan sportivitas. Nilai kerja keras tercermin dari

32
semangat para pemain untuk dapat mencapai garis finis secepat mungkin. Nilai kerja

sama tercermin dari kekompakan para pemain ketika sedang bermain. Dan, nilai

sportivitas tercermin tidak hanya dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang

saat berlangsungnya permainan, tetapi juga mau menerima kekalahan dengan lapang

dada.

Gambar 12. Permainan balap karung

13. PETAK UMPET

Petak Umpet adalah salah satu Permainan Tradisional yang sering dimainkan

anak- anak di desa- desa sebagai sarana hiburan dan mencari teman. Ada beberapa model

permainan tradisional yang mirip dengan Petak Umpet ini, misalnya Di berbagai tempat

di dunia, permainan petak umpet punya nama yang berbeda, sesuai dengan bahasa di

daerah masing-masing. Misalnya di Spanyol, permainan ini dikenal dengan El escondite,

di Perancis Jeude chache-chache, di Israel dikenal Machboim, di Korea Selatan

Sumbaggoggil, dan di Inggris kita kenal dengan Hide and Seek .

Di indonesia, Petak Umpet juga punya banyak sebutan. Di sunda dikenal istilah

Ucing sumput, di Jawa (suku jawa) orang menyebut nya Dhelikan, Jethungan, Jepungan

dan masih banya lagi penyebuan menurut Bahasa daerah yang lain.

33
Gambar 13 Permainan petak umpet

Cara Bermain:

Dimulai dengan Hompimpa untuk menentukan siapa yang menjadi “kucing”

(berperan sebagai pencari teman-temannya yang bersembunyi). Si kucing ini nantinya

akan memejamkan mata atau berbalik sambil berhitung sampai 10, biasanya dia

menghadap tembok, pohon atau apasaja supaya dia tidak melihat teman-temannya

bergerak untuk bersembunyi (tempat jaga ini memiliki sebutan yang berbeda di setiap

daerah, contohnya di beberapa daerah di Jakarta ada yang menyebutnya INGLO, di

daerah lain menyebutnya BON dan ada juga yang menamai tempat itu HONG). Setelah

hitungan sepuluh (atau hitungan yang telah disepakati bersama, misalnya jika wilayahnya

terbuka, hitungan biasanya ditambah menjadi 15 atau 20) dan setelah teman-temannya

bersembunyi, mulailah si “kucing” beraksi mencari teman-temannya tersebut.

Jika si “kucing” menemukan temannya, ia akan menyebut nama temannya sambil

menyentuh INGLO atau BON atau HONG, apabila hanya meneriakkan namanya saja,

maka si “kucing” dianggap kalah dan mengulang permainan dari awal. Apabila Yang

seru adalah, pada saat si “kucing” bergerilya menemukan teman-temannya yang

bersembunyi, salah satu anak (yang statusnya masih sebagai “target operasi” atau belum

ditemukan) dapat mengendap-endap menuju INGLO, BON atau HONG, jika berhasil

menyentuhnya, maka semua teman-teman yang sebelumnya telah ditemukan oleh si

“kucing” dibebaskan, alias sandera si “kucing” dianggap tidak pernah ditemukan,

sehingga si “kucing” harus kembali menghitung dan mengulang permainan dari awal.

34
Permainan selesai setelah semua teman ditemukan. Dan yang pertama ditemukanlah yang

menjadi kucing berikutnya.

14. EGRANG

Enggrang juga merupakan salah satu olahraga tradisional yang paling populer dari

Indonesia. Berasal dari Jawa, olahraga ini cukup populer di kalangan masyarakat

pedesaan dan kerap kali dipertandingkan pada hari Kemerdekaan Indonesia maupun

event-event nasional lainnya. Meskipun belum termasuk olahraga resmi, enggrang

populer di masyarakat karena tergolong olahraga yang sederhana dan menyenangkan.

Anda hanya perlu sepasang bambu panjang berukuran kecil yang cukup kuat untuk

menahan berat badan Anda dan sepasang kayu kecil untuk dipasangkan ke bambu dan

berfungsi sebagai pijakan. Enggrang populer di kalangan anak-anak, setidaknya anak-

anak zaman dahulu, karena termasuk olahraga yang tidak membutuhkan banyak biaya

dan cukup mudah dilakukan. Enggrang juga sering diperlombakan saat hari kemerdekaan

dan biasanya dipertandingkan antar desa. Bermain enggrang cukup menantang,

khususnya bagi Anda yang takut ketinggian, karena bambu yang digunakan bisa

mencapai 2 meter. Selain itu, Anda juga harus bisa menjaga keseimbangan saat berada di

atas enggrang. Sayang sekali, sama halnya seperti olahraga-olahraga tradisional lain,

keberadaan enggrang kini sudah hampir punah. Sangat sulit menemukan anak-anak

zaman sekarang memainkan olahraga ini, terlebih di daerah perkotaan.

a. Sejarah Permainan Egrang

Permainan tradisional Egrang – Permainan ini muncul sebelum kemerdekaan

Republik Indonesia, dimasa penjajahan Belanda. Seperti terekam di Baoesastra

(Kamus) Jawa karangan W.J.S. Poerwadarminto terbitan 1939 halaman 113,

disebutkan kata egrang-egrangan diartikan dolanan dengan menggunakan alat yang

dinamakan egrang. Dari hasil googling, banyak sumber yang menyebutkan kalau

permainan egrang berasal dari daerah [Link] ternyata, permaian yang melatih

konsentrasi dan keseimbangan ini

35
k. Peraturan Permainan

1) Lapangan dan Peralatan

Permainan egrang ini tidak membutuhkan tempat (lapangan) yang khusus.

Egrang dapat dimainkan di mana saja, asalkan di atas tanah. Jadi, dapat di tepi

pantai, ditanah lapang atau di jalan luas arena permainan egrang ini hanya

sepanjang 7-15 meter dan lebar sekitar 3-4 meter. Peralatan yang digunakan

adalah dua batang bambu bata (volovatu) atau kayu yang relatif lurus dan sudah

tua dengan panjang masing-masing antara 2,5-3 meter. Cara membuatnya adalah

sebagai berikut. Mula-mula bambu dipotong menjadi dua bagian yang panjangnya

masing-masing sekitar 2,5-3 meter. Setelah itu, dipotong lagi bambu yang lain

menjadi dua bagian dengan ukuran masing-masing sekitar 20-30 cm untuk

dijadikan pijakan kaki. Selanjutnya, salah satu ruas bambu yang

berukuranpanjang dilubangi untuk memasukkan bambu yang berukuran pendek.

Setelah bambu untuk pijakan kaki terpasang, maka bambu tersebut siap untuk

digunakan.

2) Pemain

a. Permainan egrang dapat dilakukan oleh pria dan wanita dengan memakai

pakaian olahraga yang pantas.

b. Permainan egrang dapat dikategorikan sebagai permainan anak-anak. Pada

umumnya permainan ini dilakukan dilakukan oleh anak laki-laki yang berusia

7-13 tahun, taruna/remaja/dewasa 13 tahun keatas. Jumlah pemainnya 2-6

orang.

3) Jalan Permainan

Apabila permainan hanya berupa adu kecepatan (lomba lari), maka

diawali dengan berdirinya 3-4 pemain di garis start sambil menaiki bambu

masing-masing. Bagi anak-anak yang kurang tinggi atau baru belajar bermain

egrang, mereka dapat menaikinya dari tempat yang agak tinggi atau menggunakan

tangga dan baru berjalan ke arah garis start. Apabila telah siap, orang lain yang

36
tidak ikut bermain akan memberikan aba-aba untuk segera memulai permainan.

Mendengar aba-aba itu, para pemain akan berlari menuju garis finish. Pemain

yang lebih dahulu mencapai garis finish dinyatakan sebagai pemenangnya

Sedangkan, apabila permainan bertujuan untuk mengadu bambu masing-masing

pemain, maka diawali dengan pemilihan dua orang pemain yang dilakukan secara

musyawarah/mufakat. Setelah itu, mereka akan berdiri berhadapan. Apabila telah

siap, peserta lain yang belum mendapat giliran bermain akan memberikan aba-aba

untuk segera memulai permainan. Mendengar aba-aba itu, kedua pemain akan

mulai mengadukan bambu-bambu yang mereka naiki. Pemain yang dapat

menjatuhkan lawan dari bambu yang dinaikinya dinyatakan sebagai

pemenangnya.

a. Persiapan

Ø adanya Peserta yang akan ikut bermain.

Ø setiap pemain disertai alat 2-5 buah tongkat sebagai penyambung kaki

mereka.

Ø membuat garis batas tempat dimulainya bermain dan garis finis tempat

berakhirnya perlombaan.

Ø Bila peserta main itu lebih dari 10 orang anak, maka tahap pertama

ini dibagi dalam beberapa kelompok. Misalnya semua peserta ada 50

orang maka dibagi menjadi 10 kelompok.

Ø Melakukan pengundian pemain/kelompok yang duluan mengikuti

perlombaan

b. Tahap-tahap Permainan

Ø Perkelompok diperlombakan dalam seri, dari garis start sampai garis finis

dipimpin juri star dan waktu dicatat oleh petugas pencatat waktu

Ø Sebelum perlombaan dimulai, para atlet berdiri dibelakang garis start

dengan memegang egrang

37
Ø Aba-aba perlombaan oleh wasit/juri star adalah : bersedia, siap, “YA”

pada aba-aba bersedia, tangan memegang egrang (kanan dan kiri), aba-aba

siap satu kaki (kanan atau kiri) di atas tempat berpijak dan setelah aba-aba

“YA” Lari. Pengganti ya dapat diganti dengan suara peluit/sejenis

Ø Para atlet dinyatakan gugur apabila :

· Menginjak garis lintas lebih dari dua kali

· Kaki jatuh menyentuh tanah/lantai lebih dari dua kali

· Dengan sengaja mengganggu atlet lain

Ø Waktu terbaik/jangkauan terjauh dalam seri ( 1 orang ) berhak mengikuti

seri berikutnya

Ø Atlet yang terganggu jalannya oleh atlet lainnya boleh meneruskan larinya

atau mengulang

Ø Pada tahap ini perlombaan dilanjutkan lagi dengan menampilkan para

pemenang dari masing-masing perlombaan yang kelak akan menghasilkan

3 orang saja yangkemudian berhak mengikuti perlombaan meraih gelar

juara 1, 2,dan 3.

c. Konsekuensi Kalah Menang

Daya pendorong atau motivasi untuk merebut predikatsebagai pemenang

adalah memperoleh rasa kebanggaan, memperoleh kedudukan sebagai anak,

yang dianggappandai dalam permainan ini. Predikat inilah sebenamya

yangmenjadi dorongan sehingga anak-anak bermain denganpenuh semangat

bertanding. Di samping naluri bagi anak-anak untuk berlomba guna

menduduki tempat teratas di antarateman-temannya yang lain. Demikianlah

dalam permainan ini, bagi mereka yang berhasil meraih gelar juara1, 2, dan 3

maka merekalah yang disebut sebagai pemenang. Permainan ini berperan

sekali dalam membinaanak untuk menjadi anak yang terampil dan disiplin,

berani mengambil resiko dan bertanggung awab padasetiap perbuatan yang

dilakukannya. Fungsi daripermainan ini di samping sebagai permainan,

38
dapat juga dijadikan sebagai alat bagi masyarakat desa untukberjalan, sebagai

tongkat penyambung kaki ketika melintasi jalan-jalan yang becek atau berair.

Setelah Anda membaca dengan cermatpermainan anak-anak dengan Peralatan

Tradisional IIyang tersebut di atas. Anda perlu mempraktikkannyakepada

anak-anak dengan erencana dan terarah, lakukanlah latihan-latihan

sebelumnya agar dalampelaksanaannya nanti dapat berjalan dengan baik.

Berikanlahpula penjelasan-penjelasan, sehingga anak-anak benar-benar

memahaminya. Selain daripada itu, sebelum permainan dimulaihendaknya

lakukanlah pemanasan terlebih dahulu. Prinsip-prinsip latihan pemanasan

hendaknya Andapraktikkan dengan benar. Sesuai dengan jenis permainan

yangdipilih, bentuklah kelompok atau regu bermain. Kemudiandengan

melalui penjelasan, Anda memimpin jalannya permainandengan penuh

perhatian, agar tujuan permainan dapat tercapai.

4) Pemenang

Ø pemenang ditentukan berdasarkan kecepatan waktu

Ø waktu yang diambil adalah kaki terakhir menyentuh garis finis

5) Wasit, Juri, dan Pencatat Waktu

a. wasit bertugas mengawasi seluruh jalannya perlombaan

b. juri pemberangkatan ( starter)

c. juri lintasan, mengawasi lintasan apakah pemain ada yang menginjak garis

d. juri kedatangan mengawasi perlombaan di garis akhir

e. pencatat waktu (timer) , mencatat waktu para pelari

Gambar 14 Permainan Egrang


39
SURAT KETERANGAN VALIDASI

Sehubungan dengan dilakukannya aktualisasi yang berjudul “Pembuatan Modul

Permainan Tradisional Untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa Pada Pembelajaran Pendidikan

Jasmani Olahraga dan Kesehatan di MTs Negeri 1 Pandeglang” bersama ini kami sampaikan

bahwa peserta atas nama :

Nama : Asep Saefuloh, [Link]

NIP : 199107252019031018

Unit Kerja : Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Pandeglang

Jabatan : Guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan

Menyatakan bahwa aktualisasi pembuatan modul yang dibuat telah divalidasi oleh :

Nama : Drs. H. Ahmad Sodiqin, MM

NIP : 196106131987031006

Unit Kerja : Balai Diklat Keagamaan Jakarta

Jabatan : Plt. Balai Diklat Keagamaan Jakarta

Demikian surat keterangan ini dibuat supaya digunakan dengan semestinya.

Jakarta, November 2019

Drs. H. Ahmad Sodiqin, MM

40
SURAT KETERANGAN VALIDASI

Sehubungan dengan dilakukannya aktualisasi yang berjudul “Pembuatan Modul

Permainan Tradisional Untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa Pada Pembelajaran Pendidikan

Jasmani Olahraga dan Kesehatan di MTs Negeri 1 Pandeglang” bersama ini kami sampaikan

bahwa peserta atas nama :

Nama : Asep Saefuloh, [Link]

NIP : 199107252019031018

Unit Kerja : Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Pandeglang

Jabatan : Guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan

Menyatakan bahwa aktualisasi pembuatan modul yang dibuat telah divalidasi oleh :

Nama : Hj. Tati Jumiati, [Link]

NIP : 196912251994032003

Unit Kerja : Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Pandeglang

Jabatan : Kepala Madrasah

Demikian surat keterangan ini dibuat supaya digunakan dengan semestinya.

Pandeglang, November 2019

Hj. Tati Jumiati, [Link]

41
SURAT KETERANGAN VALIDASI

Sehubungan dengan dilakukannya aktualisasi yang berjudul “Pembuatan Modul

Permainan Tradisional Untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa Pada Pembelajaran Pendidikan

Jasmani Olahraga dan Kesehatan di MTs Negeri 1 Pandeglang” bersama ini kami sampaikan

bahwa peserta atas nama :

Nama : Asep Saefuloh, [Link]

NIP : 199107252019031018

Unit Kerja : Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Pandeglang

Jabatan : Guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan

Menyatakan bahwa aktualisasi pembuatan modul yang dibuat telah divalidasi oleh :

Nama : Yunianto Wahyu Widodo, [Link]

NIP : 196806151995121003

Unit Kerja : Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Pandeglang

Jabatan : Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum

Demikian surat keterangan ini dibuat supaya digunakan dengan semestinya.

Pandeglang, November 2019

Yunianto Wahyu Widodo, [Link]

42
SURAT KETERANGAN VALIDASI

Sehubungan dengan dilakukannya aktualisasi yang berjudul “Pembuatan Modul

Permainan Tradisional Untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa Pada Pembelajaran Pendidikan

Jasmani Olahraga dan Kesehatan di MTs Negeri 1 Pandeglang” bersama ini kami sampaikan

bahwa peserta atas nama :

Nama : Asep Saefuloh, [Link]

NIP : 199107252019031018

Unit Kerja : Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Pandeglang

Jabatan : Guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan

Menyatakan bahwa aktualisasi pembuatan modul yang dibuat telah divalidasi oleh :

Nama : Hartono, [Link]

NIP : 196806022005011003

Unit Kerja : Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Pandeglang

Jabatan : Guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan

Demikian surat keterangan ini dibuat supaya digunakan dengan semestinya.

Pandeglang, November 2019

Hartono, [Link]

43
RIWAYAT HIDUP

Asep Saefuloh merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan

Bapak H. Enung dan Ibu Icih, lahir di Pandeglang, 25 Juli 1991, penulis

memliki istri bernama Anti Dhamayanti Fauzi. Tinggal di Kp. Pasir

RT/RW : 001/002 Desa Cadasari Kecamatan Cadasari Kabupaten

Pandeglang Provinsi Banten.

Penulis tamat pendidikan di MI Muta’allimin Cigudang pada tahun 2004, MTs Muta’allimin

Kab. Pandeglang pada tahun 2007, SMAN 1 Pandeglang pada tahun 2010. kemudian

melanjutkan kuliah S1 di STKIP Pasundan Cimahi masuk pada tahun 2011 dan lulus pada tahun

2016. Selanjutnya pada tahun 2017 penulis melanjutkan pendidikan di Pasca Sarjana Universitas

Negeri Jakarta, Lulus pada tahun 2019. Penulis Membuat Modul berjudul “Permainan

Tradisional Untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa Pada Pendidikan Jasmani

Olahraga dan Kesehatan Di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Pandeglang”, ini merupakan

tugas yang disusun untuk menuntaskan Kegiatan Habituasi dalam tahapan “Latihan Dasar

Calon Pegawai Negeri Sipil Tahun 2019”.

44
DAFTAR PUSTAKA

Agus Mahendra, Teori belajar mengajar Motorik ( FPOK UPI Bandung 2007).

Alfa (2018), Ragam permainan tradisional anak Indonesia

Euis Kurniati. (2017), Permainan tradisional dan peranannya dalam menembangkan

keterampilan sosial anak.

[Link]

[Link]

[Link]

[Link]

[Link]

[Link]

[Link]

[Link]

[Link]

[Link]

[Link]

Iswinarti. (2018), Permainan tradisional : Prosedur dan analisis manfaat psikologi.

Novi Mulyani. (2018), Super Asyik permainan tradisional anak Indonesia

45

Anda mungkin juga menyukai