Permainan Tradisional untuk Siswa MTs
Permainan Tradisional untuk Siswa MTs
Disusun Oleh :
ASEP SAEFULOH, [Link]
199107252019031018
i
KATA PENGANTAR
Puji Syukur saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas berkat dan karunia-Nya Modul ini dapat terselesaikan. Modul yang berjudul “Permainan
Tradisional Untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa Pada Pembelajaran Pendidikan Jasmani
Olahraga dan Kesehatan Pada MTs Negeri 1 Pandeglang” ini menghasilkan produk berupa
permainan-permainan tradisional yang sudah mulai terlupakan oleh anak-anak jaman sekarang.
Permainan-permainan tradisional yang dikemas dalam buku sehingga dapat digunakan oleh guru,
dan siswa.
Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada pihak-pihak yang terkait dalam
penyusunan modul ini : Drs. H. Ahmad Sodiqin, MM selaku Plt. Balai Diklat Keagamaan Jakarta
sekaligus coach dalam pembuatan Aktualisasi yang menghasilkan Modul ini, Hj. Tati Jumiati,
[Link]. selaku Kepala Madrasah Tsanawiyan Negeri 1 Pandeglang sekaligus Mentor dalam
pembuatan aktualisasi, Dr. H. Syaefudin, [Link]. selaku penguji yang telah memberikan masukan
dan arahan yang dalam penulisan, seluruh Widyaiswara yang telah memberikan materi dan ilmu
yang sangat bermanfaat bagi penulis, Yunianto Wahyu Widodo selaku Wakil Kepala Bidang
Kurikulum Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Pandeglang, Hartono [Link] selaku ahli sekaligus
rekan sejawat, yang telah memberikan bimbingan yang tiada henti kepada penulis selama mulai
dari mengajar sampai dengan pembuatan aktualisasi ini selesai, seluruh panitia yang telah
memberikan bimbing kepada penulis, keluarga besar Latsar gelombang 4 angkatan XI yang
selalu bersama dalam keadaan suka maupun duka selama Latsar 2019 berlangsung, serta siswa-
siswi Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Pandeglang Dan rasa terima kasih yang amat sangat
mendalam penulis sampaikan kepada Ibu tercinta, Istri, Kakak, Adik, keluarga besar Alm. H.
Nurdin Makin, Keluarga Besar Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Pandeglang. Penulis berharap
A.S
ii
DAFTAR ISI
A. PENDAHULUAN …………………………………………………………….. 1
2. Tujuan …………………………………………………………...……….. 4
1. Benteng/Bentengan ………….………………….………….……………… 6
4. Boy-Boyan ………………………………………………...……………….. 12
5. Gatrik ………..…………………………………………………………….. 14
6. Engklek ……….….………………………………………………………. 17
9. Bakiak …………….………………………………………………………. 23
iii
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Aktivitas bermain dan siswa merupakan satu kesatuan yang tidak dapat
demikian aktivitas menjadi karakter manusia (Homo Ludens) (Caillois, 2001: 3).
Bermain salah satu cara siswa belajar mengekspresikan hasil pemikiran melalui
secara turun-temurun. Oleh sebab itu, terkadang asal-usul dari permainan tradisional
tidak diketahui secara pasti siapa penciptanya dan darimana asalnya, karena
perubahan nama atau bentuk walaupun dasarnya sama. Contohnya permainan congklak
di Jawa Barat dengan permainan dakon di Jawa Tengah yang memiliki peraturan dan
cara bermain yang sama, namun berbeda cara penyebutannya. Permainan tradisional
kecermatan, kelincahan, daya fikir, apresiasi terhadap unsur seni yang ada, dan
merupakan hasil penggalian dari budaya sendiri yang didalamnya banyak mengandung
nilai-nilai pendidikan terutama pendidikan jasmani dan pendidikan sosial karena dalam
ceria pada anak yang memainkannya. Selain itu permainannya dilakukan secara
berkelompok sehingga menimbulkan rasa demokrasi antar teman main dan anak
1
Perkembangan zaman yang diikuti dengan perkembangan teknologi perlahan-
lahan menggeser keberadaan permainan tradisional. Jarang sekali kita melihat anak-
anak jaman sekarang memainkan permainan tradisional seperti petak umpet, egrang,
munculnya berbagai permainan yang dapat diunduh secara online di komputer atau
gadget.
dengan tradisi budaya setempat. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya, unsur-unsur
permainan rakyat dan permainan anak sering dimasukkan dalam permainan tradisional.
Dimungkinkan juga untuk memasukkan kegiatan yang mengandung unsur seni seperti
yang biasa kita sebut dengan seni tradisional. Permainan tradisional memiliki ciri yang
punya unsur tradisi dan berkaitan erat dengan kebiasaan atau adat suatu kelompok
masyarakat tertentu. Kegiatan yang dilakukan harus mengandung unsur fisik nyata yang
melibatkan kelompok otot besar dan juga mengandung unsur bermain sebagai landasan
maksud dan tujuan dari kegiatan tersebut. Permainan tradisional ini sesungguhnya
memiliki manfaat yang baik bagi perkembangan motorik anak, kecerdasan intelektual,
tradisional. Hal ini disebabkan kurangnya minat untuk memainkan permainan tersebut.
Ditambah lagi anak-anak lebih tertarik bermain dengan gadget yang lebih praktis.
dan anak-anak menjadi males bergerak. Hal ini sependapat dengan Banu Setyo Adi
dalam jurnal Permainan Kecil “Sunda Manda” sebagai Alternatif Bermain Anak Usia
Dini: “Pada perilaku kehidupan modern sekarang, sering ditemui adanya kebiasaan
hidup yang menyebabkan anak menjadi kurang gerak. Kurangnya lingkungan bermain
2
yang aman, terlindungi, dan merangsang tumbuh kembang anak sudah sepatutnya
Mirisnya permainan tradisional ini mulai dilupakan. Hal ini dibuktikan dengan
booming nya permainan video game, Clash of Clan, Pokemon Go, PUBG, Mobile
Legends, Conter Strike dan lain-lain. Di dalam dunia game tersebut membuat
kecanduan dan memiliki unsur thrill, suasana tegang. Perminan tradisional sebenarnya
memiliki history tersendiri bagi yang pernah memainkannya. Hal ini disebabkan adanya
perkembangan kejiwaan, sifat, dan kehidupan sosial anak. Kemudian tidak berbeda
dengan pendapat Arlina (2008) permainan tradisional anak adalah proses melakukan
kegiatan yang menyenangkan hati anak dengan mempergunakan alat sederhana sesuai
dengan keadaan dan merupakan hasil penggalian budaya setempat menurut gagasan dan
ajaran turun temurun dari nenek moyang. Dari pendapat para ahli dapat disimpulkan
bahwa permainan tradisional adalah permainan yang sudah ada sejak dulu, yang
dan sebagai warisan budaya yang dapat dinikmati oleh masyarakat. Sehingga dapat
memunculkan pola interaksi sosial yang baik diantara masyarakat. Sedangkan Indonesia
tradisional yang begitu beragam. Seperti Gobag Sodor, Bebentengan, Gatrik, Boy-
yang berlaku di setiap daerah. Hal ini merupakan local wisdom dan sangat sayang jika
generasi sekarang kurang peduli karena minimya bahan bacaan atau metode praktis
3
motorik yang yang menyenangkan bagi anak. Hal ini dikarenakan permainan tradisional
biasanya mempunyai syarat teknik yang berupa kekuatan tubuh, kecepatan gerak,
oleh olahraga yang populer. Sehingga harus ada peraturan yang mengatur tentang
untuk guru agar lebih kreatif memperkenalkan permainan tradisional yang memang
2. Tujuan
permainan tradisonal yang saat ini mulai di tinggalkan atau jarang dimainkan lagi oleh
anak-anak pada jaman sekarang. Karna permainan tradisional ini memiliki banyak
manfaat yang baik untuk perkembangan anak karena fisik dan emosi anak terlibat
tradisional dimainkan maka akan banyak manfaat yang didapat bagi perkembangan anak.
ditulis berjumlah 14 permainan tradisional. Kegunaan modul ini adalah bisa digunakan
sebagai acuan serta pegangan dalam pembelajaran permainan tradisional yang dapat
digunakan oleh guru pendidikan jasmani. Karna permainan tradisional sendiri sangat
berpengaruh positif bagi perkembanga anak baik secara fisik, psikologis, kognitif dan
aspek sosial.
4
B. PERMAINAN TRADISIONAL
1. BENTENG/BENTENGAN
ketangkasan, kecepatan berlari dan strategi yang jitu. permainan ini dimainkan oleh dua
grup, masing-masing terdiri dari 4 sampai dengan 20 anak atau sesuai dengan jumlah
siswa yang ada. Masing-masing grup memilih suatu tempat sebagai markas, biasanya
Tujuan utama permainan ini adalah untuk menyerang dan mengambil alih 'benteng'
lawan dengan menyentuh tiang, batu atau pilar yang telah dipilih oleh lawan dan
meneriakkan kata benteng. Kemenangan juga bisa diraih dengan 'menawan' seluruh
anggota lawan dengan menyentuh tubuh mereka. Untuk menentukan siapa yang berhak
menjadi 'penawan' dan yang 'tertawan' ditentukan dari waktu terakhir saat si 'penawan'
atau 'tertawan' menyentuh 'benteng' mereka masing-masing. selain itu permainan ini
a. Cara Bermain
1. Harus membentuk 2 kelompok, setiap kelompok harus berjumlah sama atau seimbang
agar permainan ini dapat berjalan dengan adil. Minimal terdiri dari 4 – 20 anak.
2. Setiap anak yang sudah terbentuk kelompoknya menempati masing – masing benteng
3. Untuk memulai permainan ini salah satu anak dari setiap benteng harus berlari keluar
4. Seorang anak yang keluar pertama kali dari bentengnya, anak tersebut yang akan
dikejar oleh lawannya. Sebaliknya jika anak yang tadi keluar pertama kali kembali ke
benteng asalnya maka anak yang mengejar tadi akan gantian dikejar.
5. Setiap anak harus berusaha untuk saling menangkap satu sama lain sesuai dengan
peraturan yang telah ditentukan sebanyak – banyaknya sampai salah satu benteng
dapat dikuasai.
5
6. Kelompok yang telah dinyatakan menang apabila berhasil menguasai benteng lawan
dan apabila sampai waktu yang telah ditentukan kedua kelompok tidak berhasil
menguasai benteng musuh maka suatu kelompok dinyatakan menang dengan melihat
b. Peraturan Permainan
1. Anak yang keluar dari bentengnya sebelum salah satu lawan dari benteng musuh
2. Seorang anak tidak boleh mengejar kembali sebelum dia menyentuh kembali
bentengnya.
3. Jika salah satu anggota badan tersentuh oleh anak yang sedang mengejar, maka anak
5. Tawanan bisa bebas apabila teman mereka dapat membebaskan dengan menyentuh
6
2. GOBAG SODOR
Galah asin, galasin, hadang atau gobak sodor adalah sejenis permainan daerah dari
Indonesia. Permainan ini adalah sebuah permainan grup yang terdiri dari dua grup, di
mana masing-masing tim terdiri dari 4 - 6 orang. Inti permainannya adalah menghadang
lawan agar tidak bisa lolos melewati garis ke baris terakhir secara bolak-balik, dan untuk
meraih kemenangan seluruh anggota grup harus secara lengkap melakukan proses bolak-
Permainan ini biasanya dimainkan di lapangan bulu tangkis dengan acuan garis-garis
yang ada atau bisa juga dengan menggunakan lapangan segiempat dengan ukuran
bervariasi yang dibagi menjadi 6 bagian. Garis batas dari setiap bagian biasanya diberi
tanda dengan kapur. Anggota grup yang mendapat giliran untuk menjaga lapangan ini
terbagi dua, yaitu anggota grup yang menjaga garis batas horisontal dan garis batas
vertikal. Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas
horisontal, maka mereka akan berusaha untuk menghalangi lawan mereka yang juga
berusaha untuk melewati garis batas yang sudah ditentukan sebagai garis batas bebas.
Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas vertikal
(umumnya hanya satu orang), maka orang ini mempunyai akses untuk keseluruhan garis
batas vertikal yang terletak di tengah lapangan. Permainan ini sangat mengasyikkan
sekaligus sangat sulit karena setiap orang harus selalu berjaga dan berlari secepat
a. Cara Bermain
bedanya tidak ada garis yang rangkap. Membagi pemain menjadi dua tim, satu tim
terdiri dari 4 - 6 atau dapat disesuaikan dengan jumlah peserta. Satu tim akan menjadi
tim “jaga” dan tim yang lain akan menjadi tim “lawan”.
Anggota tim yang mendapat giliran “jaga” akan menjaga lapangan, caranya yang
dijaga adalah garis horisontal dan ada juga yang menjaga garis batas vertikal. Untuk
7
penjaga garis horisontal tugasnya adalah berusaha untuk menghalangi lawan mereka
yang juga berusaha untuk melewati garis batas yang sudah ditentukan sebagai garis
batas bebas. Bagi seorang yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas vertikal
maka tugasnya adalah menjaga keseluruhan garis batas vertikal yang terletak di
tengah lapangan.
Sedangkan tim yang menjadi “lawan”, harus berusaha melewati baris ke baris
hingga baris paling belakang, kemudian kembali lagi melewati penjagaan lawan
2. Jika 1 kelompok terdiri dari 6 orang maka lapangan dibagi menjadi 4 kotak persegi
3. Tim “jaga” bertugas menjaga agar tim “lawan” tidak bisa menuju garis finish.
8
4. Tim “lawan” berusaha menuju garis finish dengan syarat tidak tersentuh tim “jaga”
dan dapat memasuki garis finish dengan syarat tidak ada anggota tim “lawan” yang
5. Tim “lawan” dikatakan menang apabila salah satu anggota tim berhasil kembali ke
6. Tim “lawan” dikatakan kalah jika salah satu anggotanya tersentuh oleh tim “jaga”
atau keluar melewati garis batas lapangan yang telah ditentukan. Jika hal tersebut
terjadi, maka akan dilakukan pergantian posisi yaitu tim “lawan” akan menjadi tim
Permainan lompat tali adalah permainan yang menyerupai tali yang disusun dari
karet gelang, ini merupakan permainan yang terbilang sangat populer sekitar tahun 70-an
sampai 80-an, menjadi favorit saat “keluar main” di sekolah dan setelah mandi sore di
rumah. Sederhana tapi bermanfaat, bisa dijadikan sarana bermain sekaligus olahraga. Tali
yang digunakan terbuat dari jalinan karet gelang yang banyak terdapat di sekitar kita.
Cara bermainnya bisa dilakukan perorangan atau kelompok, jika hanya bermain seorang
diri biasanya anak akan mengikatkan tali pada tiang atau apa pun yang memungkinkan
lalu melompatinya. Jika bermain secara berkelompok biasanya melibatkan minimal tiga
anak, dua anak akan memegang ujung tali; satu dibagian kiri, satu lagi dibagian kanan,
sementara anak yang lainnya mendapat giliran untuk melompati tali. Tali direntangkan
dengan ketinggian bergradasi, dari paling rendah hingga paling tinggi. Yang pandai
melompat tinggi, dialah yang keluar sebagai pemenang. Sementara yang kalah akan
berganti posisi menjadi pemegang tali. Permainan secara soliter bisa juga dengan cara
skipping, yaitu memegang kedua ujung tali kemudian mengayunkannya melewati kepala
Lompat tali yang bersifat santai dan yang bersifat sport/olahraga. Lompat tali
yang santai biasanya dimainkan oleh anak perempuan sedangkan yang sport/olahraga
9
dimainkan oleh anak laki-laki. Dengan kata lain, permainan lompat tali tersebut bisa
bermain lompat tali karet mempunyai banyak manfaat untuk anak – anak, diantaranya
adalah:
1. Motorik kasar
Main lompat tali merupakan suatu kegiatan yang baik bagi tubuh. Secara fisik
anak jadi lebih terampil, karena bisa belajar cara dan teknik melompat yang dalam
permainan ini memang memerlukan keterampilan sendiri. Lama- lama, bila sering
dilakukan, anak dapat tumbuh menjadi cekatan, tangkas dan dinamis. Otot-ototnya
pun padat dan berisi, kuat serta terlatih. Selain melatih fisik, mainan ini juga bisa
kinestetik anak. Lompat tali juga dapat membantu mengurangi obesitas pada anak.
2. Emosi
keberanian dari anak. Berarti, secara emosi ia dituntut untuk membuat suatu
keputusan besar, mau melakukan tindakan melompat atau tidak. Dan juga saat
bermain, anak – anak akan melepaskan emosinya. Mereka berteriak, tertawa dan
bergerak.
Anak juga belajar melihat suatu ketepatan dan ketelitian. Misalnya, bagaimana
ketika tali diayunkan, ia dapat melompat sedemikian rupa sehingga tidak sampai
terjerat tali dengan berusaha mengikuti ritme ayunan. Semakin cepat gerak ayunan
4. Sosialisasi
Untuk bermain tali secara berkelompok, anak membutuhkan teman yang berarti
kelompok. Ia dapat belajar berempati, bergiliran, menaati aturan dan yang lainnya.
5. Intelektual
10
Saat melakukan lompatan, terkadang anak perlu berhitung secara matematis agar
lompatannya sesuai dengan jumlah yang telah ditentukan dalam aturan permainan.
Umpamanya, anak harus melakukan lima kali lompatan saat tali diayunkan, bila lebih
atau kurang ia harus gantian menjadi pemegang tali. Anak juga secara tidak langsung
belajar dengan cara melihat dari teman – temannya agar bisa mahir dalam melakukan
permainan tersebut.
6. Moral
menang atau kalah tidak menjadikan para pemainnya bertengkar, mereka belajar
untuk bersikap sportif dalam setiap permainan. Dan juga tidak ada yang unggul,
karena setiap orang punya kelebihan masing-masing untuk setiap permainan, hal
2. Ada 2 orang sebagai pemegang tali dan yang lainnya bertugas melompati karet.
3. Ketinggian karet dimulai dari mata kaki hingga mencapai kepala bahkan tangan
mengenai karet/tali.
5. Jika pemain mengenai karet atau terjerat karet maka pemain gugur dan bergantian
ketinggian akhir, maka permainan akan diulang dari awal, begitu seterusnya.
11
Gambar 3. Prermainan lopat tali (Main Karet)
4. BOY – BOYAN
provinsi Jawa Barat khususnya di daerah Sunda. Permainan ini biasanya dimainkan oleh
anak laki-laki. Tentu saja bukan dikhususkan untuk anak laki-laki, anak perempuan juga
bisa bermain boy-boyan. Sebenarnya, permainan ini memiliki nama yang berbeda-beda di
setiap daerahnya. Misalnya, di daerah Pati, Jawa Tengah, permainan ini dikenal dengan
nama Gaprek Kempung. Di daerah Sunda, ada yang menyebutnya boy-boyan, ada juga
yang menyebutnya Bebencaran. Dan di beberapa daerah lainnya permainan ini disebut
Gebokan, karena katanya suara yang biasa ditimbulkan apabila bola karet yang
digunakan dalam permainan mengenai anggota badan dari pemain akan menimbulkan
suara “Gebok”.
boyan ini adalah sama. Permainan tradisional dari Jawa Barat ini memadukan kerja
motorik anak dan juga mengasah kemampuan membuat strategi. Boy-boyan sendiri
biasanya terdiri dari lima hingga sepuluh pemain yang dibagi menjadi dua kelompok dan
1. Pecahan genteng atau gerabah, pecahan asbes, potongan kayu, atau pacahan batu bata,
12
2. Bola plastik, bola tenis atau buat sendiri bolanya dari kumpulan kertas yang yang
b. Tempat Permainan
Dalam permainan boy-boyan ini, biasanya dilakukan di tempat yang luas, misalnya
Permainan boy-boyan ini biasanya dimainkan oleh anak-anak yang berusia antara 8
sampai 15 tahun. Tetapi tidak ada larangan bagi orang dewasa untuk memainkannya.
d. Aturan Permainan
pecahan genting, gerabah, atau pecahan asbes, atau potongan kayu, atau pecahan
batu bata, atau kaleng susu dan yang menang sebagai pelempar bola dengan jarak 3
meter.
2. Pelempar harus melempar pecahan genting itu hingga rubuh, dan jika sudah rubuh,
maka pihak penjaga (kalah) harus mengejar pihak yang pelempar (menang),
gerabah, atau pecahan asbes, atau potongan kayu, atau pacahan batu bata, atau kaleng
susu tersebut utuh kembali, dan berhasil menghindari lemparan bola dari penjaga,
13
Gambar 4. Prermainan Boy-boyan
5. GATRIK
tradisional di setiap daerah memiliki kesamaan bentuk pada beberapa jenis permainan,
permainan gatrik, atau dengan nama lain seperti tak kadal, patil lele, maupun benthik
karena setiap daerah mempunyai nama lokal tersendiri. Gatrik pada masanya pernah
dari dua kelompok. Permainan ini menggunakan alat dari dua potongan bambu/kayu
yang satu menyerupai tongkat berukuran kira kira 30 cm dan lainnya berukuran lebih
kecil. Pertama potongan bambu yang kecil ditaruh di antara dua batu lalu dipukul oleh
mungkin, pemukul akan terus memukul hingga beberapa kali sampai suatu kali
pukulannya tidak mengenai/meleset dari bambu kecil tersebut. Setelah gagal maka
orang berikutnya dari kelompok tersebut akan meneruskan. Sampai giliran orang
terakhir. Setelah selesai maka kelompok lawan akan memberi hadiah berupa gendongan
dengan patokan jarak dari bambu kecil yang terakhir hingga ke batu awal permainan
dimulai tadi. Makin jauh, maka makin enak digendong dan kelompok lawan akan
14
a. Alat Permainan Gatrik
2. Batu bata
Untuk dapat memainkan permainan tradisional ini sangat gampang. Ada beberapa
1. Lapangan
memanfaatkan lingkungan sekitar seperti lapangan atau tanah terbuka. Permainan ini
bisa juga dilakukan di pantai, halaman, dan berbagai tempat terbuka lainnya.
2. Jumlah pemain
Permainan ini dibentuk menjadi dua kelompok yang terdiri dari kelompok
pemukul dan kelompok penangkap, yang terdiri dari masing- masing (2-5) orang tiap
kelompok diusahakan agar jumlah pemain disesuikan dengan luas area permainan.
3. Waktu permainan
Untuk memainkan permaianan ini tidak di perlukan waktu yang khusus. Artinya
berakhirnya permainan ini tidak di tentukan oleh waktu, melaikan dalam satu set
permainan ini di tentukan ketika satu regu kalah dalam permainan ini.
Permainan gatrik ini agar dapat menentukan regu yang menang dalam permainan
ini di tentukan dari skor yang di dapat oleh salah satu regu baik penangkap maupun
pemukul.
5. Aturan permainan
Dalam permainan gatrik ini tidak memerlukan aturan yang khusus, hanya saja
dalam permainan sipemukul di haruskan memukul dengan kena batang bambu yang
kecil dan terlempar, dan untuk penangkap harus mampu/berhasil menangkap batang
bambu yang di pukul oleh sipemukul jika tidak sang pemukul akan mendapat nilai,
maka disini sang penangkap harus berhasil menangkap bambu itu untuk
15
menggagalkan si pemukul untuk mendapat nilai. Dan jika si penangkap berhasil
6. Cara permainan
a. Mulai main
Untuk menentukan tim yang lebih dulu bermain sebagai pemukul, kita bisa
melakukan suit, atau melemparkan kayu Gatrik pendek ke landasan di atas batu. Siapa
yang melemparnya lalu masuk atau paling dekat dengan batu landasan, akan menjadi
tim pemukul.
b. Babak Permainan
Babak Pertama
Babak Pertama adalah menyilangkan gatrik pendek di atas batu dan siap dilempar
dengan gatrik panjang. Tim penangkap akan menjaga lemparan gatrik pendek, jika
berhasil tertangkap maka giliran akan berganti. Jika tidak bisa menangkap, masih ada
satu kesempatan lagi dengan melemparkan gatrik pendek ke gatrik panjang. Bila kena,
Babak Kedua
Bila tidak mengenai gatrik panjang, maka kita masuk babak kedua. Gatrik panjang
dan pendek dipegang dengan tangan lalu gatrik pendek dipukul sekeras-kerasnya
dengan gatrik panjang. Bila tertangkap, tim penjaga dapat mempunyai peluang untuk
bermain gatrik. Bila tidak, tim penjaga melemparkan gatrik pendek mendekati batu
landasan, agar tim pemukul tidak mempunyai jarak per gatrik pendek untuk
mendapatkan nilai.
Babak Ketiga
Babak terakhir adalah apa yang disebut patil lele, letakkan dengan posisi miring di
landasan batu. Pukul bagian ujung hingga terlempar ke atas, lalu segera dipukul lebih
keras lagi ke depan. Tim penangkap tetap bertugas menangkap gatrik pendek. Bila
tidak tertangkap, tim pemukul akan meneruskan permainan dengan memukul ujung
16
gatrik yang pendek gatrik pendek di atas tanah (seperti memukul bola golf tapi sambil
kaki mengangkang). Dalam memukul gatrik pendek, dilakukan secara estafet (jika
pemain ke-1 gagal memukul, diganti pemain ke-2, dst.). Jarak yang diukur dengan
gatrik pendek itu menentukan kemenangan tim. Tim yang menang biasanya akan
dihadiahi oleh tim yang kalah dengan diakod (digendong) dengan jarak sesuai jauhnya
Permainan ini membutuhkan kelincahan dan kecepatan. Pemain harus hati-hati saat
memainkannya karena semakin kencang gatrik meluncur, tim penangkap harus sigap
untuk menghindari cedera terkena kayu gatrik. Cara bermain/peraturan bermain gatrik
6. ENGKLEK
Istilah ‘Engklek’ berasal dari bahasa Jawa, di daerah Riau disebut Setatak, di daerah
tempat di halaman, lapangan, maupun tempat lain yang leluasa dan memiliki permukaan
cukup datar sehingga kotak-kotak yang telah digambar dapat dilalui dengan lebih mudah.
Engklek adalah suatu permainan tradisional lompat-lompatan pada bidang datar yang
dengan satu kaki dari kotak satu ke kotak berikutnya. Permainan ini biasanya dilakukan
perorangan dan berkelompok, biasa dimainkan oleh anak-anak perempuan namun tak
jarang juga anak laki-laki pun turut serta bermain. Permainan Engklek terdiri atas
17
beberapa jenis susunan kotak. Tiga jenis yang paling sering kita temui adalah Engklek
a. Cara bermain
nomor satu. Saat melemparkannya tidak boleh melebihi kotak yang telah
2) Pemain Pertama melompat dengan satu kaki (Engklek), dari kotak 1 sampai kotak
mengambil gaco yang ada di kotak satu dengan posisi kaki satu masih diangkat.
3) Setelah itu pemain melemparkan gaco tersebut sampai ke kotak 2 jika keluar dari
kotak 2 maka pemain dinyatakan gugur dan diganti oleh pemain berikutnya.
4) Begitu seterusnya sampai semua kotak sudah dilempar dengan gaco. Pergiliran
dilakukan jika pemain pelempar gaco melewati sasaran, atau menampak dua kaki
dikotak 1,2,3,4,5,6 dan berhenti sejenak di kotak A kemudian lompat lagi di kotak
5) Jika gaco berada dikotak 2 maka pemain mengambilnya di kotak 3, jika gaco
18
6) Kemudian jika semua telah dilakukan oleh semua pemain maka pemain
melemparkan gaco dengan membelakangi Engklek’nya jika pas pada kotak yang
dikehendaki maka kota itu akan menjadi rumahnya maka boleh berhenti dikotak
tersebut seperti pada kotak A tapi hanya berlaku pada pemain yang menang pada
sampai 6 menjadi milik para pemain. Jika semua telah dimiliki oleh sang pemain
7) Pemenang adalah pemain yang paling banyak memiliki rumah dari kotak-kotak
b. Manfaat
Manfaat yang diperoleh dari permainan Engklek ini antara lain adalah:
untuk melompat-lompat.
kebersamaan.
5) Dapat menjadi lebih kreatif. Permainan tradisional biasanya dibuat langsung oleh
tumbuhan yang ada di sekitar para pemain. Hal itu mendorong mereka untuk lebih
7. SEPAK SAWUT
masyarakat bukan hanya kalangan muda tetapi banyak juga orang tua yang menggemari
permainan yang satu ini terutama warga masyarakat Kalimantan. Sepak sawut yaitu
19
sebuah permainan seperti permainan sepak bola pada umumnya. Namun yang
membedakan dengan permainan sepak bola yaitu pada bola yang digunakan untuk
bermain merupakan bola yang berapi. Bolanya dapat terbuat dari bongkahan sabuk
kelapa tua yang telah kering dengan terlebih dahulu airnya dibuang lalu bongkahan
kedalam serat-serat bola kelapa tersebut. Supaya lebih seru lagi permainan ini dimainkan
pada malam hari. Ini memiliki keindahan tersendiri, karena penerangan hanya
menggunakan lampu seadanya dan cahaya kebanyakan bersumber dari bola api yang
dimainkan. Peraturan main juga hampir sama, tidak berbeda jauh dengan main sepak bola
pada umumnya yang terdiri dari dua gawang, gawang kita dan gawang musuh. Satu tim
terdiri dari lima orang pemain. Lapangan yang digunakan tidak berbeda jauh dengan luas
lapangan bola basket. Pertandingan dipimpin oleh seorang wasit. Siapa yang banyak
memasukkan bola ke gawang lawan maka tim tersebut yang dinyatakan sebagai
Sepak sawut (sepak bola api), dahulunya sepak bola yang satu ini dimainkan pada
saat orang ingin membuka ladang berpindah. Karena kebanyakkan pada tempo dulu di
rumah, membuka ladang, menanam padi, memanen padi yang dilakukan secara bersama-
sama atau dalam bahasa daerahnya “handep”. Permainan sepak sawut sekarang sudah
agak jarang kita temukan. Artinya permainan ini hampir langka hanya pada waktu-waktu
tertentu saja kita dapat menyasikannya, misal pada perayaan ulang tahun Propinsi
Pasti yang terlintas dalam benak kita sekaligus menjadi pertanyaan yang segera
membutuhkan jawaban bahwa apakah para pemain sepak sawut tersebut tidak merasa
sakit/panas karena api bersentuhan langsung dengan kaki para pemainnya? Para pemain
juga tidak menggunakan sepatu dalam bermain seperti main bola pada umumnya. Selama
ini tidak ada yang sampai terbakar atau merasa sakit setelah main sepak sawut. Akan hal
20
tersebut saya kurang terlalu mengerti juga. Yang pasti para pemainnya tidak terlalu
memikirkan hal tersebut dan mereka merasa menikmati pertandingan yang berlangsung.
tradisional yang dimiliki oleh masyarakat jawa. Penamaan permainan ini tampaknya
berasal dari perilaku dalam permainan, yaitu menirukan tingkah laku seekor kucing yang
sedang mengejar atau menangkap mangsanya, khususnya tikus. Asal usul permainan ini
sudah menjadi milik masyarakat sehingga tidak atau belum diketahui secara pasti
maupun malam hari dengan catatan dalam keadaan terang atau pemain dapat melihat
pemain lainnya. Namun demikian, biasanya dilakukan oleh anak-anak pada waktu
senggang dan ini biasanya ada pada waktu sore hari. Sedangkan tempat permainan
biasanya dilakukan dihalaman yang tidak harus luas, kira-kira bidang persegi berukuran
minimal 3 meter.
Permainan ini dapat dilakukan oleh sembarang anak, baik laki-laki maupun
perempuan yang telah memiliki kecepatan lari yang baik. Biasanya dilakukan oleh anak-
a. Tujuan.
21
b. Manfaat.
c. Sasaran.
d. Peraturan permainan .
1. Lapangan
2. Penjaga
3. Pemain
4. Lama Permainan
5. Jalannya Permainan
Setelah diadakan undian, yang kalah jadi kucing. Dari sekian pemain diambil
yang paling lincah. Yang menang undian jaga bergantian dengan melingkar dan
tempat berpijak kita kasih tanda. Penjaga berusaha saling pindah tempat berpijak
sekali dapat tukar tempat mendapatkan nilai satu. Dan seterusnya sampai waktu habis.
Dan si kucing berusaha merebut tempat berpijak pada mereka yang sedang
mengadakan pergantian tempat, bila kucing dapat menempati tempat tersebut maka
diadakan pergantian (yang jaga jadi kucing dan kelompok kucing menjadi penjaga).
4. Penilaian .
22
Gambar 8. 8. Permainan bintang beralih (kucing-kucingan)
9. BAKIAK
Permainan tradisional Bakiak memiliki nama lain yaitu terompah kayu. Bakiak
biasanya berupa kayu panjang mirip seluncur yang diberi beberapa selop, akan tetapi kali
ini akan diberikan sesuatu yang sedikit berbeda yaitu bakiak tali. Dimana untuk selop
tersebut digantikan dengan tali, yang panjangnya diperkirakan sampai ke tangan (sebagai
pegangan). Bakiak berasal dari Sumatera Barat, olahraga tradisional yang satu ini mirip
dengan tarik tambang karena mengandung unsur-unsur kerjasama dan kekompakan tim.
Bedanya adalah, Anda tidak perlu mengeluarkan terlalu banyak tenaga untuk melakukan
permainan ini. Bakiak merupakan permainan dengan garis start dan garis finish dengan
beberapa tim yang terdiri dari beberapa peserta, biasanya tiga peserta per tim. Para
peserta ini akan berjalan bersama-sama menggunakan bakiak, yakni sebuah sandal besar
yang terbuat dari kayu panjang (umumnya 1,5 meter) yang dihaluskan dan diberikan
selop khusus. Pada dasarnya, bakiak adalah sandal raksasa yang bisa dipakai oleh
beberapa orang sekaligus. Kuncinya di sini adalah kekompakan saat melangkah karena
jika salah satu peserta tidak melangkah bersamaan dengan peserta lainnya, maka tim
tersebut hampir pasti akan jatuh. Sering diperlombakan di acara peringatan kemerdekaan
dan acara-acara nasional lainnya, bakiak merupakan permainan yang masih cukup eksis
di zaman sekarang ini, walaupun kita mungkin harus masuk ke desa-desa untuk
23
menemukannya. Perlombaan bakiak sangat menarik untuk disaksikan karena sangat
menghibur dan dapat diikuti oleh siapa saja dari berbagai jenis usia dan jenis kelamin.
wawasan serta kejujuran. Bakiak adalah salah satu permainan tradisional. Bahannya
dibuat dari kayu panjang seperti seluncur es yang sudah dihaluskan (diamplas) dan diberi
beberapa selop diatasnya, biasanya untuk 2-3 orang. Memainkan bakiak biasanya secara
berkelompok atau tim, yang masing-masing tim berlomba untuk sampai ke garis finish.
anak dari Sumatera Barat yang dilahirkan hingga pertengahan tahun 1970-an, sering dan
biasa memainkan bakiak atau terompah panjang ini. Bakiak panjang atau yang sering
disebut terompa galuak di Sumatera Barat adalah terompah deret dari papan bertali karet
yang panjang. Sepasang ‘bakiak’ minimal memiliki tiga pasang sandal atau dimainkan
tiga anak. Biasanya juga untuk diperlombakan di tingkat kecamatan dan kelurahan pada
sebutan di Jawa Tengah untuk sejenis sandal yang telapaknya terbuat dari kayu yang
ringan dengan pengikat kaki terbuat dari ban bekas yang dipaku dikedua sisinya. Di Jawa
Timur dikenal dengan sebutan Bangkiak. Sangat populer karena murah terutama dimasa
ekonomi susah sedangkan dengan bahan kayu dan ban bekas membuat bakiak tahan air
1. Bakiak dipakai layaknya alas kaki oleh 3 orang pemain (dalam 1 grup)
2. Letakkan masing-masing kaki dibawah tali, kemudian tali yang panjang dijadikan
3. Untuk dapat melangkah, tali di bagian tangan kiri dan kaki kiri harus secara
bersamaan diangkat untuk bisa melangkahkan kaki kiri, begitu juga sebaliknya
dengan melangkahkan kaki kanan. Apa bila tali tidak diangkat, maka tidak akan bisa
melangkah. Agar dapat berjalan cepat dan tidak terjatuh, diperlukan kekompakan
antara pemain dalam satu grup. Supaya grup tetap kompak, para pemain sepakat
24
mulai mengangkat kaki kanan atau kiri dulu. Selanjutnya, mereka akan berjalan
Permainan ini hampir sangat jarang dimainkan lagi oleh anak-anak bahkan nama
permainannya saja belum tentu mereka mengetahuinya. Permainan tradisonal ini dapat
dimainkan oleh 3 hingga 4 anak. Prepet jengkol dapat dimainkan oleh perempuan dan
kesabaran. Cara memainkan permainan ini dilakukan dengan berdiri sambil berpegangan
tangan dan membelakangi badan. Kaki dari para pemain perepet jengkol akan saling
berkaitan dari arah belakang. Setiap pemain harus berkonsentrasi penuh untuk menjaga
keseimbangan kelompok mereka agar tidak terjatuh. Setelah semua anggota kelompok
siap pegangan tangan antar pemain pun mulai dilepaskan. Setelah pegangan tangan
dilepaskan, maka para pemain akan berputar ke kiri dan kanan yang akan diberi aba-aba
oleh satu orang atau dari sang dalang. Permainan ini tidak harus menentukan siapa yang
menang dan kalah, permainan ini bertujuan untuk bersenang-senang dan dinyanyikan saat
terang bulan. Manfaat - Merangsang pertumbuhan anak dengan daya kreativitasnya saat
menyanyikan lagu yang akan dimainkan dalan permainan ini - Motorik anak dan
25
keseimbangan anak dalam menjaga tubuhnya agar tidak terjatuh juga sangat bermanfaat
untuk anak.
Permainan Perepet Jengkol memiliki manfaat yang berguna bagi tubuh, yaitu :
3. Melatih kekuatan kaki para pemain, karena kaki sebagai penopang dalam
permainan, kalau kaki para pemain tidak dapat menahan maka para pemain akan
jatuh.
4. Melatih kecerdikan, agar kaki para pemain tidak mudah terlepas supaya pemain
berputar-putar.
1. Yang pertama harus dilakukan ialah Para pemainnya berdiri sambil membelakangi
2. Selanjutnya, salah satu kaki setiap pemainnya diangkat kemudian dikaitkan dengan
3. Kaki mereka tersebut dianyamkan hingga kuat. Sehingga, kaki pemain yang satu
dengan pemain yang lainnya saling terkait dan usahakan jangan terlepas.
keseimbangannya agar tidak terjatuh dan satu per satu mulai melepaskan tangannya.
5. Semua pemain meloncat-loncat bergerak berputar ke arah kanan atau kiri tergantung
kesepakatan bersama. Sambil berputar semuanya melantunkan lagu yang ada di atas
26
6. Semakin lama putarannya akan semakin cepat hingga akhirnya keseimbangan para
Demikian permainan tradisional yang disebut dengan Perepet Jengkol yang biasanya
di mainkan oleh anak-anak bersama teman-teman mereka. Di era modern ini, permainan
tradisional seperti perepet jengkol sudahlah hampir punah dan tidak sedikit orang yang
belum mengetahuinya. Maka dari itu mari kita jaga keanekaragaman budaya dan
11. KASTI
Kasti merupakan salah satu jenis permainan bola kecil beregu. Kasti merupakan
ketangkasan dan kegembiraan. Permainan ini biasa dilakukan di lapangan terbuka, pada
anak-anak usia sekola, permainan ini bisa melatih kedisiplinan diri serta memupuk rasa
kebersamaan dan solidaritas antar teman. Agar dapat bermain kasti dengan baik kita
dituntut memiliki beberapa keterampilan yaitu memukul, melempar, dan menangkap bola
serta kemampuan lari. Kasti dimainkan oleh 2 regu, yaitu regu pemukuldan regu penjaga.
27
Agar dapat bermain kasti dengan baik kita dituntut menguasai teknik dasar
bermain kasti. Adapun teknik dasar permainan kasti ada 3, yaitu teknik melempar,
ukuran:
· Panjang: 60 – 70 meter
· Lebar: 30 meter
· Ruang hinggap: 3
· Ruang bebas: 1
28
· Jumlah Pemain. Jumlah pemain kasti tiap regu adalah 12 orang, dengan salah
satu pemain bertindak sebagai kapten. Setiap pemain wajib mengenakan nomor
· Waktu Permainan.
· Wasit. Pertandingan kasti dipimpin oleh seorang wasit dibantu 3 orang penjaga
e. Regu Pemukul
· Setiap pemain berhak memukul satu kali, kecuali pemain terakhir berhak
pemukul.
· Pukulan dinyatakan benar apabila bola yang dipukul melampaui garis pukul,
f. Regu Penjaga
· Membakar ruang bebas dengan cara menempati ruang bebas jika kosong.
g. Pelambung
Pelambung bertugas:
· Jika bola yang dilambungkan oleh pelambung tidak sesuai dengan permintaan
pemukul, maka pemukul boleh untuk tidak memukulnya. Jika ini terjadi sampai 3
29
kali berturut-turut maka pemukul dapat berlari bebas ke tiang pemberhentian
pertama.
h. Pergantian Tempat
· Pergantian tempat antara regu pemukul dan regu penjaga terjadi apabila:
· Bola pukulan regu pemukul ditangkap langsung oleh regu penjaga sebanyak 3
kali berturut-turut.
· Pemain berhasil memukul bola, kemudian lari ke pemberhentian I, II, III, dan
· Regu penjaga menangkap langsung bola lambung yang dipukul oleh regu
bermain kasti dengan benar. Dalam bermain kasti dibutuhkan kerjasama tim dan
rasa tanggung jawab. Selain itu yang paling penting adalah sikap untuk selalu
menjaga sportifitas.
· Sebelum memulai bermain kasti, hendaknya ditentukan dulu dua regu yang akan
30
12. BALAP KARUNG
Balap karung adalah salah satu lomba yang selalu diadakan hampir di setiap daerah
ketika memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus
setiap tahunnya. Namun konon, adanya permainan balap karung tidak sejak Indonesia
merdeka, melainkan sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Waktu itu permainan
sering dilalukan oleh anak-anak usia 6-12 tahun pada saat ada acara-acara keramaian atau
zaman, saat ini permainan juga dilakukan oleh orang dewasa di perkantoran dan pabrik-
a. Pemain
(anak-anak, remaja dan dewasa) yang dilakukan oleh kaum laki-laki maupun
perempuan. Jumlah pemainnya antara 4-6 orang, baik dalam bentuk kelompok dengan
anggota maksimal 2 orang maupun perseorangan. Selain pemain, lomba balap karung
pemenang.
dapat dimainkan di mana saja, asalkan di atas tanah. Jadi, dapat di pekarangan rumah
atau di tanah lapang. Luas arena permainan balap karung ini hanya sepanjang 5 - 10
meter dan lebar sekitar 3 - 4 meter yang dibagi menjadi 4 atau 5 jalur. Sedangkan
peralatan permainannya adalah: (1) kapur tulis atau pecahan genting untuk membuat
garis batas antarpemain; (2) peluit untuk memberi aba-aba; dan (3) karung beras atau
karung terigu ukuran lima puluh kilogram yang nantinya akan dikenakan oleh para
c. Aturan Permainan
31
Aturan dalam permainan ini tergolong mudah, yaitu seseorang harus melompat
memakai karung dari garis start menuju ujung lintasan dan kembali lagi garis start
kembali ke garis start maka ia akan digantikan pemain lain dalam regunya. Dan, regu
yang berhasil mencapai garis start/finish dengan catatan waktu tercepat dinyatakan
sebagai pemenangnya.
pesertanya banyak. Jadi, apabila seseorang atau sebuah regu berhasil menang, ia harus
melawan lagi pemenang yang lain. Sedangkan yang kalah dinyatakan gugur dan tidak
d. Jalannya Permainan
Permainan balap karung diawali dengan pengundian untuk menentukan regu atau
pemain mana yang akan memulai. Cara menentukannya ada yang mirip seperti arisan
yaitu menuliskan nama-nama pemain atau regu yang akan bermain dalam secarik
kertas kecil lalu digulung dan dimasukkan ke dalam botol atau gelas kemudian
dikocok. Apabila permainan beregu, maka dua regu yang gulungan kertasnya pertama
keluar dari botol akan mendapat giliran pertama untuk bermain, sedangkan regu
Setelah proses pengundian selesai, maka kedua regu yang terdiri dari dua atau tiga
orang akan segera memasuki arena permainan. Selanjutnya, satu persatu dari anggota
regu secara bergiliran akan melompat memakai karung dari garis start menuju ujung
lintasan dan kembali lagi ke garis start semula untuk digantikan oleh anggota lain
dalam regunya. Begitu seterusnya hingga seluruh anggota regu mendapat giliran untuk
melompat dan regu yang lebih dahulu mencapai garis finis dinyatakan sebagai
pemenangnya.
e. Nilai Budaya
Nilai yang terkandung dalam permainan yang disebut sebagai balap karung ini
adalah: kerja keras, kerja sama, dan sportivitas. Nilai kerja keras tercermin dari
32
semangat para pemain untuk dapat mencapai garis finis secepat mungkin. Nilai kerja
sama tercermin dari kekompakan para pemain ketika sedang bermain. Dan, nilai
sportivitas tercermin tidak hanya dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang
saat berlangsungnya permainan, tetapi juga mau menerima kekalahan dengan lapang
dada.
Petak Umpet adalah salah satu Permainan Tradisional yang sering dimainkan
anak- anak di desa- desa sebagai sarana hiburan dan mencari teman. Ada beberapa model
permainan tradisional yang mirip dengan Petak Umpet ini, misalnya Di berbagai tempat
di dunia, permainan petak umpet punya nama yang berbeda, sesuai dengan bahasa di
Di indonesia, Petak Umpet juga punya banyak sebutan. Di sunda dikenal istilah
Ucing sumput, di Jawa (suku jawa) orang menyebut nya Dhelikan, Jethungan, Jepungan
dan masih banya lagi penyebuan menurut Bahasa daerah yang lain.
33
Gambar 13 Permainan petak umpet
Cara Bermain:
akan memejamkan mata atau berbalik sambil berhitung sampai 10, biasanya dia
menghadap tembok, pohon atau apasaja supaya dia tidak melihat teman-temannya
bergerak untuk bersembunyi (tempat jaga ini memiliki sebutan yang berbeda di setiap
daerah lain menyebutnya BON dan ada juga yang menamai tempat itu HONG). Setelah
hitungan sepuluh (atau hitungan yang telah disepakati bersama, misalnya jika wilayahnya
terbuka, hitungan biasanya ditambah menjadi 15 atau 20) dan setelah teman-temannya
menyentuh INGLO atau BON atau HONG, apabila hanya meneriakkan namanya saja,
maka si “kucing” dianggap kalah dan mengulang permainan dari awal. Apabila Yang
bersembunyi, salah satu anak (yang statusnya masih sebagai “target operasi” atau belum
ditemukan) dapat mengendap-endap menuju INGLO, BON atau HONG, jika berhasil
sehingga si “kucing” harus kembali menghitung dan mengulang permainan dari awal.
34
Permainan selesai setelah semua teman ditemukan. Dan yang pertama ditemukanlah yang
14. EGRANG
Enggrang juga merupakan salah satu olahraga tradisional yang paling populer dari
Indonesia. Berasal dari Jawa, olahraga ini cukup populer di kalangan masyarakat
pedesaan dan kerap kali dipertandingkan pada hari Kemerdekaan Indonesia maupun
Anda hanya perlu sepasang bambu panjang berukuran kecil yang cukup kuat untuk
menahan berat badan Anda dan sepasang kayu kecil untuk dipasangkan ke bambu dan
anak zaman dahulu, karena termasuk olahraga yang tidak membutuhkan banyak biaya
dan cukup mudah dilakukan. Enggrang juga sering diperlombakan saat hari kemerdekaan
khususnya bagi Anda yang takut ketinggian, karena bambu yang digunakan bisa
mencapai 2 meter. Selain itu, Anda juga harus bisa menjaga keseimbangan saat berada di
atas enggrang. Sayang sekali, sama halnya seperti olahraga-olahraga tradisional lain,
keberadaan enggrang kini sudah hampir punah. Sangat sulit menemukan anak-anak
dinamakan egrang. Dari hasil googling, banyak sumber yang menyebutkan kalau
permainan egrang berasal dari daerah [Link] ternyata, permaian yang melatih
35
k. Peraturan Permainan
Egrang dapat dimainkan di mana saja, asalkan di atas tanah. Jadi, dapat di tepi
pantai, ditanah lapang atau di jalan luas arena permainan egrang ini hanya
sepanjang 7-15 meter dan lebar sekitar 3-4 meter. Peralatan yang digunakan
adalah dua batang bambu bata (volovatu) atau kayu yang relatif lurus dan sudah
tua dengan panjang masing-masing antara 2,5-3 meter. Cara membuatnya adalah
sebagai berikut. Mula-mula bambu dipotong menjadi dua bagian yang panjangnya
masing-masing sekitar 2,5-3 meter. Setelah itu, dipotong lagi bambu yang lain
Setelah bambu untuk pijakan kaki terpasang, maka bambu tersebut siap untuk
digunakan.
2) Pemain
a. Permainan egrang dapat dilakukan oleh pria dan wanita dengan memakai
umumnya permainan ini dilakukan dilakukan oleh anak laki-laki yang berusia
orang.
3) Jalan Permainan
diawali dengan berdirinya 3-4 pemain di garis start sambil menaiki bambu
masing-masing. Bagi anak-anak yang kurang tinggi atau baru belajar bermain
egrang, mereka dapat menaikinya dari tempat yang agak tinggi atau menggunakan
tangga dan baru berjalan ke arah garis start. Apabila telah siap, orang lain yang
36
tidak ikut bermain akan memberikan aba-aba untuk segera memulai permainan.
Mendengar aba-aba itu, para pemain akan berlari menuju garis finish. Pemain
pemain, maka diawali dengan pemilihan dua orang pemain yang dilakukan secara
siap, peserta lain yang belum mendapat giliran bermain akan memberikan aba-aba
untuk segera memulai permainan. Mendengar aba-aba itu, kedua pemain akan
pemenangnya.
a. Persiapan
Ø setiap pemain disertai alat 2-5 buah tongkat sebagai penyambung kaki
mereka.
Ø membuat garis batas tempat dimulainya bermain dan garis finis tempat
berakhirnya perlombaan.
Ø Bila peserta main itu lebih dari 10 orang anak, maka tahap pertama
perlombaan
b. Tahap-tahap Permainan
Ø Perkelompok diperlombakan dalam seri, dari garis start sampai garis finis
dipimpin juri star dan waktu dicatat oleh petugas pencatat waktu
37
Ø Aba-aba perlombaan oleh wasit/juri star adalah : bersedia, siap, “YA”
pada aba-aba bersedia, tangan memegang egrang (kanan dan kiri), aba-aba
siap satu kaki (kanan atau kiri) di atas tempat berpijak dan setelah aba-aba
seri berikutnya
Ø Atlet yang terganggu jalannya oleh atlet lainnya boleh meneruskan larinya
atau mengulang
juara 1, 2,dan 3.
dalam permainan ini, bagi mereka yang berhasil meraih gelar juara1, 2, dan 3
sekali dalam membinaanak untuk menjadi anak yang terampil dan disiplin,
38
dapat juga dijadikan sebagai alat bagi masyarakat desa untukberjalan, sebagai
tongkat penyambung kaki ketika melintasi jalan-jalan yang becek atau berair.
4) Pemenang
c. juri lintasan, mengawasi lintasan apakah pemain ada yang menginjak garis
Permainan Tradisional Untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa Pada Pembelajaran Pendidikan
Jasmani Olahraga dan Kesehatan di MTs Negeri 1 Pandeglang” bersama ini kami sampaikan
NIP : 199107252019031018
Menyatakan bahwa aktualisasi pembuatan modul yang dibuat telah divalidasi oleh :
NIP : 196106131987031006
40
SURAT KETERANGAN VALIDASI
Permainan Tradisional Untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa Pada Pembelajaran Pendidikan
Jasmani Olahraga dan Kesehatan di MTs Negeri 1 Pandeglang” bersama ini kami sampaikan
NIP : 199107252019031018
Menyatakan bahwa aktualisasi pembuatan modul yang dibuat telah divalidasi oleh :
NIP : 196912251994032003
41
SURAT KETERANGAN VALIDASI
Permainan Tradisional Untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa Pada Pembelajaran Pendidikan
Jasmani Olahraga dan Kesehatan di MTs Negeri 1 Pandeglang” bersama ini kami sampaikan
NIP : 199107252019031018
Menyatakan bahwa aktualisasi pembuatan modul yang dibuat telah divalidasi oleh :
NIP : 196806151995121003
42
SURAT KETERANGAN VALIDASI
Permainan Tradisional Untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa Pada Pembelajaran Pendidikan
Jasmani Olahraga dan Kesehatan di MTs Negeri 1 Pandeglang” bersama ini kami sampaikan
NIP : 199107252019031018
Menyatakan bahwa aktualisasi pembuatan modul yang dibuat telah divalidasi oleh :
NIP : 196806022005011003
Hartono, [Link]
43
RIWAYAT HIDUP
Asep Saefuloh merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan
Bapak H. Enung dan Ibu Icih, lahir di Pandeglang, 25 Juli 1991, penulis
Penulis tamat pendidikan di MI Muta’allimin Cigudang pada tahun 2004, MTs Muta’allimin
Kab. Pandeglang pada tahun 2007, SMAN 1 Pandeglang pada tahun 2010. kemudian
melanjutkan kuliah S1 di STKIP Pasundan Cimahi masuk pada tahun 2011 dan lulus pada tahun
2016. Selanjutnya pada tahun 2017 penulis melanjutkan pendidikan di Pasca Sarjana Universitas
Negeri Jakarta, Lulus pada tahun 2019. Penulis Membuat Modul berjudul “Permainan
tugas yang disusun untuk menuntaskan Kegiatan Habituasi dalam tahapan “Latihan Dasar
44
DAFTAR PUSTAKA
Agus Mahendra, Teori belajar mengajar Motorik ( FPOK UPI Bandung 2007).
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
45