0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
95 tayangan85 halaman

Hotel Konvensi Ekologis di Makassar

Ringkasan dokumen tersebut adalah sebagai berikut: 1. Dokumen tersebut merupakan skripsi yang membahas perancangan hotel konvensi dengan pendekatan arsitektur ekologis di Makassar. 2. Hotel konvensi dirancang dengan mengoptimalkan unsur-unsur alam sekitar sehingga ramah lingkungan. 3. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana arsitektur di Universitas Muhammadiy

Diunggah oleh

BINAZIR
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
95 tayangan85 halaman

Hotel Konvensi Ekologis di Makassar

Ringkasan dokumen tersebut adalah sebagai berikut: 1. Dokumen tersebut merupakan skripsi yang membahas perancangan hotel konvensi dengan pendekatan arsitektur ekologis di Makassar. 2. Hotel konvensi dirancang dengan mengoptimalkan unsur-unsur alam sekitar sehingga ramah lingkungan. 3. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana arsitektur di Universitas Muhammadiy

Diunggah oleh

BINAZIR
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

HOTEL KONVENSI DENGAN PENDEKATAN

ARSITEKTUR EKOLOGIS DI MAKASSAR

HOTEL CONVENTION WITH APPROACH

ECOLOGICAL ARCHITECTURE IN MAKASSAR

ZULFADILLAH SUDIRMAN
105 83 00071 15

PROGRAM STUDI TEKNIK ARSITEKTUR


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2019
i

HOTEL KONVENSI DENGAN PENDEKATAN


ARSITEKTUR EKOLOGIS DI MAKASSAR

Skripsi

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat


Untuk Memperoleh Gelar Sarjana
Program Studi Arsitektur
Fakultas Teknik

Disusun dan diajukan oleh

ZULFADILLAH SUDIRMAN
105 83 00071 15

PADA

PROGRAM STUDI TEKNIK ARSITEKTUR


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2019
iii

KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Wr. Wb

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT,

karena rahmat dan hidayah-Nyalah sehingga penulis dapat menyusun

skripsi ini, dan dapat diselesaikan dengan baik.

Tugas akhir ini disusun sebagai salah satu persyaratan akademik yang

harus ditempuh dalam rangka menyelesaikan Kuliah Program Stara Satu

(S1) Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah

Makassar. Adapun Judul tugas akhir ini adalah Hotel Konvensi Dengan

Pendekatan Arsitektur Ekologis Di Makassar.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa di dalam penulisan skripsi ini

masih terdapat kekurangan-kekurangan, hal ini disebabkan penulis sebagai

manusia biasa tidak lepas dari kesalahan dan kekurangan baik ditinjau dari

segi teknis penulisan maupun data-data penunjang. Oleh karena itu, penulis

menerima dengan ikhlas dan senang hati segala koreksi serta perbaikan

guna penyempurnaan tulisan ini agar kelak dapat bermanfaat.

Skripsi ini dapat terwujud berkat adanya bantuan, arahan, dan

bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan segala ketulusan

dan kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan

yang setinggi-tingginya kepada:


iv

1. Bapak Prof. DR. H. Abdul Rahman Rahim, MM. sebagai Rektor

Universitas Muhammadiyah Makassar.

2. Bapak Ir. Hamzah Al Imran, ST., MT. sebagai Dekan Fakultas Teknik

Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Ibu Irnawaty Idrus, ST., MT. sebagai Ketua Prodi Arsitektur Fakultas

Teknik Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Bapak [Link] Sakkar Dollah, M. Si. sebagai pembimbing I dan ibu

Citra Amalia Amal, ST., MT. sebagai pembimbing II, yang telah dengan

ikhlas memberikan bimbingan dan arahan selama penyusunan skripsi ini.

5. Bapak dan Ibu dosen serta staf pegawai pada Fakultas Teknik atas segala

waktunya telah mendidik dan melayani penulis selama mengikuti proses

belajar mengajar di Universitas Muhammadiyah Makassar.

6. Ayahanda dan Ibunda yang tercinta, penulis ini mengucapkan terima

kasih yang sebesar-besarnya atas segala limpahan kasih sayang, doa dan

pengorbanannya dalam menyelesaikan kuliah.

Semoga semua pihak tersebut di atas mendapat pahala yang berlipat

ganda di sisi Allah SWT dan skripsi yang sederhana ini dapat bermanfaat

bagi penulis, rekan-rekan, masyarakat serta bangsa dan negara. Aamiin.

Makassar,07 Oktober 2019

ZULFADILAH SUDIRMAN
vii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i

LEMBAR PENGESAHAN ii

KATA PENGANTAR iii

ABSTRAK v

DAFTAR ISI vii

DAFTAR GAMBAR xiv

DAFTAR TABEL xvi

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG 1

B. PERUMUSAN MASALAH 4

C. TUJUAN DAN SASARAN 4

D. METODE PERANCANGAN 4

E. SISTEMATIKA PENULISAN 5

BAB II STUDI PUSTAKA

A. PENGERTIAN HOTEL KONVENSI 7

1. Pengertian Hotel 7

2. Pengertian Konvensi 8

B. KLASIFIKASI HOTEL 9

1. Berdasarkan Faktor Jumlah Kamar 9


viii

2. Berdasarkan Buku Hotel Management 10

3. Berdasarkan Tipe Kamar 11

C. JENIS HOTEL KONVENSI 13

1. Hotel 13

2. Konvensi 14

D. TINJAUAN TEMA PERANCANGAN 16

1. Pengertian Arsitektur Ekologis 16

2. Sejarah dan Perkembangan Arsitektur Ekologis 17

E. KONSEP PERANCANGAN DALAM ISLAM 18

1. Pendekatan Objek 18

2. Pendekatan Rancangan 19

F. STUDI BANDING 21

1. Hotel Aston Kupang Hotel & Convention Center 21

2. Hotel Singgasana 23

BAB III ANALISIS PERENCANAAN HOTEL KONVENSI

DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR EKOLOGIS DI

MAKASSAR

A. ANALISIS LOKASI 24

1. Kondisi Fisik Lokasi 27

2. Analisis SWOT 28
ix

B. ANALISIS TAPAK 30

1. View Tapak 30

2. Aksesbilitas untuk Jalur Transportasi dan Komunikasi 31

3. Sumber Kebisingan pada Tapak 32

4. Orientasi Matahari 33

5. Arah Pergerakan Angin pada Tapak 34

C. ANALISIS FUNGSI DAN PROGRAM RUANG 34

1. Analisis Fungsi 34

2. Analisis Aktivitas 36

3. Analisis Ruang 39

4. Analisis Penzoningan Ruang 48

D. ANALISIS TAMPILAN BENTUK BANGUNAN 48

1. Konsep Dasar Filosofi 48

2. Penampilan Bangunan 50

E. ANALISIS KELENGKAPAN BANGUNAN 51

1. Sistem Mekanikal Elektrikal 51

2. Sistem Air Bersih dan Air Kotor 51

3. Sistem Keamanan 52

4. Sistem Pembuangan Sampah 54

F. ANALISIS PENDEKATAN PERANCANGAN 54

1. Titik Tolak Pendekatan 54

2. Pendekatan Konsep Fisik Makro 55


x

3. Penzoningan Tapak 59

4. Sistem Penghawaan 62

5. Pendekatan Sistem Sirkulasi 64

DAFTAR PUSTAKA
xiv

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Aston Kupang Hotel & Convention Center 21

2. Interior Aston Kupang Hotel & Convention Center 22

3. Interior Aston Kupang Hotel & Convention Center 22

4. Hotel Singgasana 23

5. Peta Lokasi Tapak Berdasarkan RTRW Kota Makassar 24

6. Peta Kecamatan Rappocini 24

7. Peta Lokasi Tapak 25

8. Lokasi Tapak 25

9. View Tapak 30

10. Aksesbilitas Untuk Jalur Transportasi 31

11. Sumber Kebisingan pada Tapak 32

12. Orientasi Matahari 33

13. Arah Pergerakan Angin pada Tapak 34

14. Pola Organisasi Ruang Pubik 43

15. Pola Organisasi Ruang Konvensi 44

16. Pola Organisasi Ruang Pelayanan 44

17. Pola Organisasi Ruang Pengelola 45

18. Penempatan Obyek Pada Tapak 71

19. Konsep View Bangunan 72


xv

20. Sirkulasi Menuju Tapak 72

21. Sirkulasi Kendaraan dan Angin Dalam Tapak 73

22. Sirkulasi Pejalan Kaki Dalam Tapak 74

23. Parkir Kendaraan Dalam Tapak 74

24. Konsep Vegetasi 75

25. Denah Lantai Basement-Denah Lantai 2 76

26. Konsep Bentuk 77

27. Sistem Listrik 78

28. Skema Jaringan Air Bersih 79

29. Skema Jaringan Air Kotor 79

30. Skema Jaringan Air Hujan 80

31. Site Plan 83

32. Tampak Depan Eksterior 84

33. Tampak Belakang Eksterior 84

34. Tampak Samping Kiri Eksterior 85

35. Tampak Samping Kanan Eksterior 85

36. Interior Ballroom 86

37. Interior Ballroom 86

38. Interior Ruang Meeting Room 87

39. Interior Ruang Meeting Room 87


xvi

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Pengunjung Wisatawan 2

2. Jumlah Akomodasi Hotel di Kota Makassar Tahun 2018 2

3. Jumlah Tamu Menurut Maksud Kunjungan Ke Makassar 3

4. Pengelompokkan Hotel Berdasarkan Kelas Bintang 9

5. Analisis SWOT 28

6. Analisis Aktivitas Fungsi Primer 36

7. Analisis Aktivitas Fungsi Sekunder 37

8. Analisis Aktivitas Fungsi Penunjang 38

9. Kebutuhan Ruang 39

10. Besaran Ruang 45


1

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Kota Makassar merupakan kota terbesar keempat di Indonesia dan

terbesar di Kawasan Timur Indonesia memiliki luas areal 175,79 km2

dengan penduduk 1.489.011, sehingga kota ini sudah menjadi kota

Metropolitan. Sebagai pusat pelayanan di KTI, Kota Makassar berperan

sebagai pusat perdagangan dan jasa, pusat kegiatan industri, pusat kegiatan

pemerintahan, simpul jasa angkutan barang dan penumpang baik darat, laut

maupun udara dan pusat pelayanan pendidikan dan kesehatan.

(Badan Pusat Statistik, 2018).

Secara administrasi Kota Makassar terdiri dari 14 kecamatan dan 143

kelurahan. Kota ini berada pada ketinggian antara 0-25 m dari permukaan

laut. Penduduk Kota Makassar pada tahun 2017 adalah 1.489.011 jiwa yang

terdiri dari laki-laki 737.146 jiwa dan perempuan 751.865 jiwa dengan

pertumbuhan rata-rata 1,32 %. Kota makassar merupakan lokasi strategis di

recanakannya hotel bintang 4.

Pada tahun 2017 kunjungan wisatawan mencapai 5.289.983 orang.

Terdiri atas kunjungan wisatawan domestik sebanyak 5.187.521 orang dan

wisatawan mancanegara, 102.462 orang. Sedangkan, kunjungan wisatawan

domestik ditahun 2018 meningkat sebanyak 5.567.124 orang. Terdiri atas


2

wisatawan mancanegara mencapai 105.447 orang. Dan wisatawan

mencapai 5.461.677 jiwa. Selanjutnya, dapat dilihat pada table berikut ini.

Tabel 1. Pengunjung Wisatawan

Jenis Wisatawan Wisatawan Jumlah Pertum


Wisatawan Domestik Mancanegara wisatawan buhan
2014 3.528.000 Jiwa 21.211 Jiwa 3.549.211 0 %

2015 3.771.067 Jiwa 53.879 Jiwa 3.824.946 7%

2016 4.688.681 Jiwa 85.644 Jiwa 4.774.325 24 %

2017 5.187.521 Jiwa 102.462 Jiwa 5.289.983 10 %

2018 5.461.677 Jiwa 105.447 Jiwa 5.567.124 5%

Sumber : (Dinas Pariwista Makassar, 2018)

Tabel 2. Jumlah Akomodasi Hotel di Kota Makassar Tahun 2018

Jenis Non Bintang Bintang Bintang Bintang Bintang


Hotel Bintang 1 2 3 4 5
124 14 27 45 19 3

Total Keseluruhan 232


Sumber : (Kota Makassar dalam Angka, 2018)

Tabel di atas menunjukkan bahwa belum tersedianya fasilitas hotel

berbintang di Kota Makassar sedangkan akomodasi lainnya semakin

berkurang. Hal ini tentu saja tidak berbanding lurus dengan jumlah

wisatawan yang semakin meningkat.

Selain dari permasalahan di atas, perancangan bangunan seringkali

kurang memperhatikan keselarasan dengan alam dalam hal pemanfaatan


3

sumber daya alam dan penggunaan teknologi yang tidak ramah

lingkungan. Pendekatan ekologis merupakan salah satu cara pemecahan

masalah rancangan arsitektur dengan mengutamakan keselarasan dengan

alam untuk menghemat energi dan tidak memperparah pemanasan global.

Pendekatan ini diharapkan menghasilkan konsep-konsep perancangan

arsitektur yang hemat energi, ramah lingkungan, dan tetap memperhatikan

kenyamanan pengguna.

Hotel konsep arsitektur ekologis akan dibangun dengan prediksi 10

tahun yaitu, 2029. Proyeksi kebutuhan kamar di prediksi berdasarkan

jumlah wisatawan tahun 2014-2018.

Tabel 3. Jumlah Tamu Menurut Maksud Kunjungan Ke Makassar


No Tujuan Nusantara Mancanegara
1 wisata 50,15% 19,60%
2 bisnis 19,60% 50,15%
3 Wisata + Bisnis 25,12% 24,12%
4 Lain-lain 15,23% 61,23%
Sumber : (Laporan Statistik Hotel)

Dengan melihat potensi dan masalah yang kian meningkat di

Makassar ini dan kondisi fasilitas yang belum dapat mendukung kegiatan

konvensi baik nasional dan internasional, maka diperlukan wadah konvensi

yang memadai yang ditunjang dengan fasilitas hotel yang berada pada satu

tapak, khususnya di kawasan yang memiliki daya tarik lebih. Maka

pemilihan judul adalah Hotel Konvensi Dengan Pendekatan Arsitektur


4

Ekologis di Makassar ini diharapkan dapat memberikan suatu kontribusi

yang akan mendukung sektor ekonomi dan pariwisata di kota Makassar.

B. RUMUSAN PERMASALAHAN

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, maka

permasalahan pada perancangan hotel ini adalah Bagaimana merancang

Hotel Konvensi Di Kota Makassar yang memberi perhatian lebih pada

aspek ekologis.

C. TUJUAN DAN SASARAN

Memunculkan ide desain dari Perancangan dan Perencanaan Hotel

Konvensi di Kota Makassar dengan mengetahui dan menguraikan masalah-

masalah pengunjung hotel konvensi dan potensi–potensi maupun

karakteristik yang ada di daerah tersebut agar sesuai dengan konteks

lingkungan setempat sehingga dapat memenuhi kebutuhan wisatawan lokal

maupun mancanegara dalam berakomodasi dengan kelengkapan dan

standar fasilitas- fasilitas hotel konvensi dan dari segi kualitas arsitekturnya.

D. METODE PERANCANGAN

Metode perancangan ini merumuskan tentang langkah-langkah

perancangan hotel dengan pendekatan konsep arsitektur ekologis. Metode

yang digunakan adalah metode kualitatif dengan disertai kajian teori dan

data dari studi literature dan observasi lapangan.


5

E. SISTEMATIKA PENULISAN

Sistematika penuisan skripsi ini adalah sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Berisi tentang latar belakang, tujuan dan sasaran, manfaat, lingkup

pembahasan, metode pembahsan, sistematika pembahasan.

BAB II STUDI PUSTAKA

Menjelaskan tentang pengertian hotel dan konvensi, klasifikasi dan

karakteristiknya, pengertian arsitektur ekologis, konsep perancangan dalam

islam serta studi banding acuan perancagan.

BAB III ANALISIS PERENCANAAN

Berisi tentang analisis tapak, analisis fungsi dan program ruang, analisis

tampilan bentuk bangunan, analisis kelengkapan bangunan serta analisis

pendekatan perancangan.

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

Berisi tentang konsep rancangan tapak, konsep rancangan pemprograman


ruang, konsep rancangan tampilan bentuk bangunan dan konsep rancangan
kelengkapan bangunan.
6

BAB V HASIL PERANCANGAN

Berisi tentang rancangan arsitektur, rancangan struktur, dan rencana utilitas.

BAB VI KESIMPULAN

Berisi tentang kesimpulan yang di ambil dari permasalahan yang ada di


pendahuluan, tinjauan pustaka dan landasan teori yang akan digunakan
membahas permasalahan yang ada dalam tugas akhir ini.
7

BAB II

STUDI PUSTAKA

A. PENGERTIAN HOTEL KONVENSI

1) Hotel

Kata Hotel mulai dipakai sejak abad ke 18 di London, Inggris. Pada

saat itu kata hotel adalah “ garni “, sebuah rumah besar yang

dilengkapi dengan sarana tempat menginap/tinggal untuk penyewaan

secara harian, mingguan atau bulanan. Kata hotel sendiri merupakan

perkembangan dari bahasa Perancis. Hotel berasal dari kata latin:

“ hostel” dan mulai dikenal di masyarakat pada tahun 1797.

Ada beberapa definisi hotel berdasarkan berbagai pendapat, di

antaranya :

a) Hotel adalah bangunan yang menyediakan kamar-kamar untuk

menginap para tamu, makanan dan minuman, serta fasilitas-

fasilitas lain yang diperlukan dan dikelola secara profesional

untuk mendapatkan keuntungan ( Rumekso, 2002 : 2 ).

b) Hotel adalah suatu bentuk akomodasi yang dikelola secara

komersil, disediakan bagi setiap orang untuk memperoleh

pelayanan dan penginapan berikut makan dan minum ( SK

Menteri Perhubungan No. Pm. 10/Pw. 301/Phb. 77 ).


8

c) Hotel adalah perusahaan yang menyediakan jasa dalam bentuk

akomodasi serta menyediakan hidangan dan fasilitas lainnya

dalam hotel untuk umum yang memenuhi syarat kenyamanan dan

bertujuan komersil dalam jasa tersebut ( SK. Menteri

Perhubungan No. 241/11/1970 ).

2) Konvensi

Beberapa pengartian konvensi antara lain sebagai berikut:

a) Konvensi adalah pertemuan dari para pengusaha atau kelompok

profesi untuk maksud tukar menukar informasi, pemilihan

pengurus-pengurusnya dan usulan-usulan perubahan dalam

organisasi (Mangkuwerdoyo, Sudiarto, Pengantar Industri

Akomodasi & Restoran, hal 19).

b) Kongres, konfrensi atau konvensi merupakan suatu pertemuan

sekelompok orang (negarawan, usahawan, cendekiawan) untuk

membahas masalah-malasah yang berkaitan dengan kepentingan

bersama (SK. Dirjen Pariwisata No. 06 Thn. 1992).

c) Konvensi merupakan konferensi tokoh-tokoh masyarakat atau

partai politik dengan tujuan khusus seperti untuk memilih calon-

calon buat pemilihan umum anggota DPR, Presiden.

(Poerwadaminata, W.J.S, Kamus Umum Bahasa Indonesia, PN.

Balai Pustaka, Jakarta, 1982).


9

B. KLASIFIKASI HOTEL

Hotel diklasifikasikan sesuai kriteria-kriteria pengklasifikasian hotel

menurut keputusan Dirjen Pariwisata, berdasarkan SK : Kep 22/U/VI/78,

sebagai berikut:

1) Berdasarkan Faktor Jumlah Kamar

Klasifikasi hotel berdasarkan jumlah kamar dan persyaratan lainnya

akan diuraikan di bawah ini:

Tabel 4. Pengelompokkan Hotel Berdasarkan Kelas Bintang

JENIS FASILITAS

Kamar Ruang Lounge


Ruang Rekreasi
tidur Luas Function yang dan
makan/ dan
termasuk kamar room disewaka taman
restoran, bar olahraga
suite n
Hotel Dianjurk perlu
Min 15 2 Perlu min 1 Perlu
bintang 20 m - an min min 1
kamar buah wajib
1 sarana ruangan
Min 20 Perlu min 1 Dianjurk
Hotel Perlu
kamar, 1 2 buah an ada Perlu
bintang 22 m - min 1
kamar Wajib min 1 kolam
2 ruangan
suite buah renang
Perlu
Wajib min kolam
Min 50 Perlu min 1
Hotel 1 buah renang, Perlu
kamar, 3 18 – 24 buah Perlu
bintang Dianjurka dianjurka min 1
kamar m2 Wajib min 1
3 n pre func n tambah ruangan
suite buah
room 2 sarana
lain
Wajib min Wajib
Min 50 Wajib min 2
Hotel 1 buah kolam Wajib
kamar, 3 18 – 28 buah Wajib
bintang Dianjurka renang, min 3
kamar m2 Wajib min 1
4 n pre func dianjurka ruangan
suite buah
room n tambah
10

2 sarana
lain
Wajib
kolam
Min 100 Wajib min 2 Wajib min
Hotel renang Wajib
kamar, 1 20 – 28 buah 1 buah Wajib
bintang ditambah min 3
kamar m2 Wajib min 1 Wajib pre
5 2 jenis ruangan
suite buah func room
sarana
lain
Sumber : (Keputusan Direktur Jenderal Pariwisata, 2018)

2) Berdasarkan buku Hotel Management (Komar, 2014), klasifikasi hotel

bintang 4 adalah sebagai berikut :

a) Lokasi

Memenuhi persyaratan dinas tata kota atau pekerjaan umum dan

mudah dicapai melalui kendaraan umum atau pribadi. Hotel harus

menghindarkan pencemaran yang diakibatkan gangguan luar yang

berasal dari suara bising, bau tidak enak, debu, asap dan serangga

lain.

b) Taman

Hotel memiliki taman yang terletak di dalam atau luar bangunan

serta taman harus terpelihara, bersih dan rapi. Taman juga harus

memiliki kolam hias yang berisi ikan.

c) Tempat parkir

Tersedianya tempat parkir kendaraan tamu hotel dengan kapasitas

satu tempat parkir setiap 6 kamar hotel. Memiliki rambu lalu

lintas atau satu arah in-out. Tersedianya pos jaga atau ruang
11

tunggu dengan ruang duduk. Serta tidak becek atau tersedianya

saluran air dengan baik.

d) Olahraga dan Rekreasi

Hotel menyediakan sarana kolam renang untuk dewasa dan anak-

anak. Kolam renang untuk dewasa dan anak-anak dipisah atau

bias digabung dengan dilengkapi pengaman. Memenuhi fasilitas

penunjang kolam renang dan menyediakan dua sarana olahraga

dan rekreasi llain yang merupakan pilihan dari fitness centre,

SPA, squash, game room, bowling ataupun tennis.

3) Berdasarkan Tipe Kamar

Jenis kamar hotel menurut Komar (2014) bias beragam berkisar single

sampai luxurious suite of rooms. Tipe dan jenisnya akan dijelaskan di

bawah ini :

a) Single, sebuah kamar yang ditempati oleh satu orang. Kamar ini

bisa memiliki satu tempat tidur atau lebih.

b) Double, sebuah kamar yang ditempati oleh dua orang. Kamar ini

bisa memiliki satu tempat tidur atau lebih.

c) Queen, sebuah ruangan dengan sebuah tempat tidur berukuran

queen. Kamar ini bisa ditempati oleh satu atau dua orang.

d) King, sebuah ruangan dengan sebuah tempat tidur berukuran king.

Kamar ini bisa satu atau dua orang.


12

e) Triple, sebuah kamar yang ditempati oleh tiga orang. Kamar ini

bisa memiliki satu double bad dan satu roll away.

f) Quad atau quadruple, sebuah kamar yang ditempati oleh empat

orang. Kamar ini bisa memiliki satu tempat tidur atau lebih.

g) Twin double, sebuah kamar dengan dua double bed. Kadang-

kadang memiliki dua tempat tidur queen. Kamar ini biasa

ditempati oleh satu tempat tidur atau lebih.

h) Studio, sebuah ruangan dengan ‘studio bed’ yaitu ebuah sofa yang

bisa dialihfungsikan sebagai tempat tidur. Kamar ini juga bisa

memiliki tempat tidur lain.

i) Suite, sebuah ruang tamu yang dihubungkan dengan satu atau

lebih kamar tidur berukuran fullsized.

j) Twin, kamar dengan dua tempat tidur berukuran sama. Kamar ini

dapat ditempati oleh satu atau dua orang.

k) Mini suite atau junior suite, kamar single dengan tempat tidur dan

tempat duduk. Kadang-kadang kamar jenis ini memiliki sebuah

kamar tidur kecil terpisah yang dihubungkan dengan ruang tamu.

l) Connection room, dua kamar atau lebih dengan beberapa pintu

masuk dari luar dan sebuah pintu yang berada diantara kamar

tersebut dimana para tamu dapat keluar tanpa harus meninggalkan

ruang utama.
13

m) Adjoining room, kamar-kamar tidak memiliki pintu penghubung

yang berada dekat diantara kamar-kamar tersebut.

C. JENIS HOTEL KONVENSI

1) Hotel

Adapun di bawah ini ada beberapa jenis hotel yang dikelompokkan

berdasarkan kategori pengelompokan hotel, antara lain:

a) Menurut Ukuran Hotel

1) Hotel Kecil, yaitu hotel yang mempunyai kamar paling sedikit 25

buah kamar.

2) Hotel Sedang, yaitu hotel yang mempunyai kamar 25 – 100 buah

kamar.

3) Hotel di atas rata-rata, yaitu hotel yang mempunyai kamar 100 –

299 buah kamar.

4) Hotel Besar, yaitu hotel yang mempunyai kamar lebih dari 300

buah kamar

b) Menurut Standar Hotel

1) Hotel Internasional

2) Hotel semi Internasional

3) Hotel Nasional
14

c) Menurut Lama Tinggal Tamu

1) Transiet atau Komersial Hotel (commercial hotels)

Tamu hotel dapat menginap untuk semalam atau kurang, dan

mereka tidak harus menandatangani perjanjian sewa kamar untuk

menginapnya

2) Resident Hotel (residential hotel)

Para tamu biasanya tinggal dalam jangka waktu minimal satu

bulan, dan tamu harus menandatangani surat perjanjian sewa

mengenai syarat-syarat pembayaran secara terperinci tentang

kewajiban-kewajibannya, dan tanggung jawab antara kedua belah

pihak.

2) Konvensi

Dilihat dari cakupan bahasan tujuan kegiatan konvensi terdiri dari:

a) Reception / Ceremony

Merupakan pertemuan masyarakat umum dengan maksud untuk

menghadiri suatu pesta atau syukuran, misalnya pesta pernikahan,

ulang tahun, serah terima jabatan, wisuda.

b) Trade Fair / Exhibition

Merupakan kegiatan yang berupa pameran dengan tujuan

menyebarkan informasi atau dalam rangka promosi produk.


15

c) Company / Cooperative Event

Merupakan pertemuan berupa rapat-rapat anggota badan usaha

tertentu dalam cakupan bidang kerja sesuai tahun anggarannya.

d) Intensive Travel Program

Merupakan wisata konvensi yang dilaksanakan oleh suatu badan

usaha atau peusahaan tertentu bagi para karyawannya maupun

untuk mitra kerjanya.

e) Off Shore Meeting

Merupakan konvensi yang bersifat pertemuan asosiasi lokal

maupun nasional yang dilakukan di luar negeri, misalnya

pertemuan IAI di Singapura.

f) Assosiation Convention

Merupakan kegiatan yang berupa pertemuan suatu asosiasi ertentu

dalam negeri ataupun sedunia, misalnya pertemuan IKAJI dan

sebagainya.

g) International Congres

Merupakan kegiatan yang berupa pertemuan antar anggota

organisasi internasional, misalnya pertemuan KTT Non Blok,

OPEC dan sebagainya.


16

D. TINJAUAN TEMA PERANCANGAN

Arsitektur ekologis merupakan pembangunan berwawasan

lingkungan, di mana memanfaatkan potensi alam semaksimal

mungkin. Kualitas arsitektur biasanya sulit diukur, garis batas antara

arsitektur yang bermutu dan yang tidak bermutu. Kualitas arsitektur

biasanya hanya memperhatikan bentuk bangunan dan konstruksinya,

tetapi mengabaikan yang dirasakan si pengguna dan kualitas

hidupnya.

1) Pengertian Arsitektur Ekologis

a) Arsitektur adalah seni dan ilmu dalam merancang bangunan.

Dalam artian yang lebih luas, arsitektur mencakup merancang dan

membangun keseluruhan lingkungan binaan, mulai dari level

makro yaitu perencanaan kota, perancangan perkotaan, arsitektur

lansekap, hingga ke level mikro yaitu desain bangunan, desain

perabot dan desain produk. Arsitektur juga merujuk kepada hasil-

hasil proses perancangan tersebut.(Dari Wikipedia bahasa

Indonesia, ensiklopedia bebas)

b) Ekologi sebagai ilmu interaksi antara segala jenis makhluk hidup

dan lingkungannya. Berasal dari bahasa Yunani oikos rumah

tangga atau cara bertempat tinggal, dan logos bersifat ilmu atau

ilmiah. Sehingga ekologi dapat di definisikan sebagai ilmu yang


17

mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan

lingkungannya. (Ernst Haeckel,1869)

Jadi, Arsitektur Ekologis dapat dimaknai sebagai pembangunan

lingkungan binaan sebagai kebutuhan hidup manusia dalam

hubungan timbal balik dengan lingkungan alamnya yang

mempertimbangkan keberadaan dan kelestarian alam, disamping

konsep-konsep arsitektur bangunan itu sendiri.

Pembangunan rumah atau tempat tinggal sebagai kebutuhan

kehidupan manusia dalam hubungan timbal balik dengan

lingkungan alamnya dinamakan arsitektur ekologis atau eko-

arsitektur. (Krusche, Per et sl. Oekologisches Bauen. Wiesbaden,

Berlin 1982. Hlm.7 )

2) Sejarah dan Perkembangan Arsitektur Ekologis

Istilah ekologi mulanya diperkenalkan oleh seorang ahli ilmu

hayat yakni Ernst Haeckel di tahun 1890-an. Sedangkan di bidang

arsitektur prinsip ekologis ini telah tersirat sejak Ebenezer

Howard menelorkan konsep kota tamannya di akhir abad 19.

Munculnya kota Welwyn dan Letchworth di Inggris sebagai kota

taman pertama merupakan cikal bakal lahirnya desain-desain

ekologis, baik pada bangunan maupun skala perkotaan sebagai

respon terhadap pertumbuhan kota dan menurunnya kualitas

lingkungan saat itu. Pandangan Le Corbusier yang melahirkan


18

konsep arsitektur modern memberikan perubahan besar pada

desain-desain arsitektur. Ini ditandai dengan penggunaan material

modern terutama baja dan kaca. Munculnya pencakar langit

pertama di Chicago tahun 1890 merupakan awal mula

perkembangan gedung-gedung kaca di Eropa dan dunia. Ini yang

kemudian pada dekade berikutnya hingga saat ini melahirkan

gagasan ataupun tekanan keras tentang perlunya penerapan desain

yang ramah terdapat lingkungan.

E. KONSEP PERANCANGAN DALAM ISLAM

1) Pendekatan Objek

Banyaknya hotel yang belum menerapkan nilai-nilai islam adalah

sebuah hal wajar jika menyadari bahwa Indonesia memiliki keberagaman

agama. Pengunjung yang menjadi tamu hotel tidak semua beragama islam.

Namun di dalam islam sikap toleransi diperlukan dengan batasan yang telah

ditentukan.

Sebagai agama yang menjadi mayoritas, diperlukan perhatian khusus

bagi perancangan hotel dengan menerapkan nilai-nilai islam di beberapa

fasilitas hotel misalnya adanya batasan privasi bagi pengunjung,

meniadakan patung dalam interior hotel maupun lingkungan hotel,

merealisasikan tempat tidur dengan hadapan yang menganut Sunnah Nabi

Muhammad SAW dan anjuran hadap kamar mandi yang di sesuaikan

dengan kaidah islam.


19

Adapun nilai-nilai islam yang akan diterapkan dalam bidang arsitektur

antara lain :

a) Menyediakan kamar tidur yang menerapkan anjuran islam dalam

penempatannya. Dalam HR. Abu dawud no.5045, At Tirmidzi no.3395,

Ibnu Majah no. 3877 dan Ibnu Hibban no.2350 “Rasulullah SAW

apabila tidur meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanannya.”

Penempatan yang dimaksud disini adalah tempat tidur yang arah

hadapnya menghadap kearah kiblat.

b) Selanjutnya pada fasad bangunan juga akan diterapkan atap kubah yang

mencerminkan arsitektur islam.

2) Pendekatan Rancangan

Info lingkungan kualitas arsitektur biasanya sulit diukur, garis batas

antara arsitektur yang bermutu dan yang tidak bermutu. Saat ini bangunan

hijau menjadi bangunan familiar untuk mengatasi problematika isu global

warming. Isu tersebut semakin nyata dengan dirasakan diberbagai belahan

dunia perubahan cuaca yang menjadi lebih ekstrim daripada sebelumnya.

Banyaknya bencana alam serta perubahan suhu adalah salah satu dampak

isu global warming. Dimana penyebab utamanya adalah bangunan yang

terus mereduksi lahan tidak sejalan dengan perlakuan bangunan terhadap

kondisi lingkungan sekitarnya.

Dalam tinjauan islam, hal tersebut sangat bertentangan dengan

maksud dari ayat Al Quran yang disebutkan di surah Al Baqarah/2: 30,


20

“dan (ingatlah) tatkala tuhan engkau berkata kepada malaikat :

sesungguhnya aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah. Berkata

mereka : Apakah engkau hendak menjadikan padanya orang yang merusak

di dalamnya dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan

memuji engkau dan memuliakan engkau ? dia berkata : Sesungguhnya aku

lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Dalam ayat tersebut

dijelaskan bahwa manusia memiliki peran di bumi sebagai khalifah, peran

yang mengharuskan manusia mengurus, memanfaatkan dan memelihara

baik langsung maupun tidak langsung. Dalam hal ini kepedulian,

kebersihan dan menjaga adalah hal penting di dalamnya.

Hal inilah yang mendorong bagaimana perwujudan pendekatan

arsitektur ekologis diterapkan dalam hotel. Kaitannya dalam kehidupan

manusia merupakan sebuah hubungan yang vital. Untuk itulah keterkaitan

ini yang harus di ingatkan pada manusia lain agar alam terus terjaga.
21

F. STUDI BANDING

1) Aston Kupang Hotel & Convention Center

Terletak di jantung kota yang menghadap ke Laut Sawu, Aston

Kupang Hotel & Convention Center adalah pilihan utama untuk

tempat konferensi dan kegiatan acara lainnya, yang menawarkan

tempat konferensi serbaguna & ruang pameran yang terbesar di Nusa

Tenggara dengan lokasi di depan laut & terletak di jantung kota

menawarkan pemandangan yang menakjubkan. Dekat dengan banyak

restoran lokal yang populer, pusat bisnis dan kantor pemerintahan.

Gambar 1. Aston Kupang Hotel & Convention Center


Sumber: [Link]

Hotel Aston adalah satu-satunya bangunan hotel tertinggi di Kota

Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bila menyusuri seluruh

wilayah NTT belum ada bangunan gedung hotel yang menyaingi

ketinggian Hotel [Link] yang dibangun beberapa tahun lalu ini

saat ini telah beroperasi. Hotel yang terletak di Jalan Timor Raya

berhadapan dengan Pantai Kelapa Lima ini ini memiliki lebih dari 10

lantai.
22

Gambar 2. Interior Aston Kupang Hotel & Convention Center


Sumber: [Link]
Tersedia pula ballroom, ruang rapat dan juga restoran, lounge, sky

lounge dan coffee shop. Lokasi hanya 15 menit dari Bandara El Tari,

10 menit ke distrik perbelanjaan, bank, rumah sakit, dan 5 menit dari

kantor pemerintah.

Gambar 3. Interior Aston Kupang Hotel & Convention Center


Sumber: [Link]
23

2) Hotel Singgasana

Gambar 4. Hotel Singgasana


Sumber: [Link]

Hotel Singgasana yang terletak di Jalan Kajaolalido No.16, Baru,

Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Provensi Sulawesi Selatan. Terletak

hanya 30 menit berkendara dari Bandara Internasional Hasanuddin dan

dekat dengan hiburan kota, dan perbelanjaan

Sebagai salah satu kota besar di wilayah pulau Sulawesi, Makassar

memang selalu menjadi tempat destinasi utama untuk berlibur. Banyak

penginapan maupun hotel yang dapat ditemukan di Makassar mulai dari

hotel bintang 2 hingga yang menawarkan fasilitas luxury atau bintang 5.

Salah satu akomodasi yang nyaman untuk berlibur di Makassar adalah

Singgasana Hotel Makassar, hotel berbintang 4 dengan fasilitas lengkap.


24

BAB III

ANALISIS PERENCANAAN HOTEL KONVENSI DENGAN

PENDEKATAN ARSITEKTUR EKOLOGIS DI MAKASSAR

A. ANALISIS LOKASI

Gambar 5. Peta Lokasi Tapak berdasarkan RTRW Kota Makassar


Sumber : https:// [Link]

Gambar 6. Peta Kecamatan Rappocini


Sumber : https:// peta-jaringan-jalan-per-kecamatan-kota-makassar-2/
25

TAPAK

LA
PPA
OE
AR
J L.

Gambar 7. Peta Lokasi Tapak


Sumber : [Link], 2019

Berdasarkan persyaratan klasifikasi hotel bintang 4, diketahui bahwa

letak hotel harus berada tidak jauh dari pusat kota serta harus dilalui

angkutan umum serta salah satu faktor utama yang menjadi pertimbanagan

dalam menentukan perencanaan hotel ini adalah berdasarkan arah

pembangunan kota makassar yang berpedoman pada Perda Kota Makassar

no.4 Tahun 2015 tentang RTRW Tahun 2015-2034 Kota Makassar karena

daerah sekitar Jalan Letjen Hertasning memiliki potensi perhotelan.

Gambar 8. Lokasi Tapak


Sumber : Dokumentasi Penulis, 2019
26

Lokasi proyek yang terpilih adalah: Jalan Aroepala, Kecamatan

Rappocini, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Luas

Site: 130 m x 100 m = 13.000 m2

KDB : 60 % (terbangun)

: 60 % x LL = 6.400

: 10.666 m2

: 40 % (tidak terbangun)

: 10.666 – 6.400

: 4.266 M2

KLB : 5

: 5 x 10.666

: 53.330
6.400

: 9 Lantai

Kecamatan Rappocini merupakan daerah bukan pantai dengan

topografi ketinggian antara permukaan laut terdiri dari 10 kelurahan

menurut jaraknya layak masing-masing kelurahan ke kecamatan

Untuk analisis bangunan yang terdapat di kawasan ini terdiri

atas permukiman, perkantoran, pendidikan dan perdagangan. Pola

bangunan pada kawasan ini mengikuti pola jalan. Lokasi pemilihan

tapak merupakan kawasan perdagangan dan jasa berdasarkan

Rencana Tata Ruang Wilayah kota Makassar maka tapak ini masih
27

sesuai untuk pembangunan Hotel Konvensi. Selain itu, di sekitar

lokasi ini berdekatan dengan bangunan-bangunan perkotaan

lainnya. Sehingga diharapkan dapat menjadi calon pengguna hotel

konvensi yang direncanakan.

1) Kondisi Fisik Lokasi

Tapak berbentuk persegi panjang dengan luas 13.000 m²

yang merupakan lahan kosong dan berkontur datar. Di sekitar

wilayah ini terdapat beberapa perumahan dan pekantoran.

Untuk aksesbilitas menuju lokasi hotel konvensi ini dapat di

capai melalui jalan darat. Dalam hal ini, yaitu prasarana jalan yang

berperan penting dalam memfasilitasi aksesbilitas menuju hotel

konvensi.

Sistem utilitas yang dapat dilihat pada lokasi site ialah

terdapat beberapa tiang listrik yang merupakan sumber aliran listrik

utama, sehingga membantu para pengunjung melakukan aktivitas

dimalam hari . Terdapat juga pipa air PDAM yang memudahkan

dalam operasional bangunan ketika hendak dibangun maupun

setelah dibangun, juga menjadi sumber air utama pada bangunan.

Lokasi site juga dilengkapi dengan drainase yang menjadi tempat

pembuangan air limbah bangunan, sehingga ketika terjadi hujan air

pada bangunan dapat dialirkan ke drainase yang mengelilingi lokasi

site.
28

2) Analisis SWOT

Analisis diperlukan untuk mengkaji dan mengevaluasi S

(strength), W (weakness), O (opportunities), T (threat) pada tapak.

Tujuan analisis SWOT ini adalah mengkaji dan menambah

kekuatan, mengurangi kelemahan, memperluas peluang dan

mengeliminasi ancaman dari luar.

Tabel 5. Analisis SWOT

NO ASPEK
STRENGHT WEAKNESS OPPORTUNITIES THREAT
ANALISIS
1. Dimensi Luas tapak Tapak berada Berada pada Menambah
dan batas 13.000 m² pada kawasan kawasan yang tingkat
tapak dan jalan arteri, sering dilalui kepadatan
berbatasan pada bagian transportasi umum kendaraan
dengan jalan barat tapak bermotor
utama merupakan sehingga
akses menyebabkan
merupakan kemacetan
akses utama
yang
menimbulkan
kebisingan
yang tinggi
dan populasi
udara
2. Aksesbilitas Akses tapak Kepadatan Dekatnya site Menyebab-
dan jalur berada pada tinggi dengan kawasan kan
untuk jalan provinsi menyebabkan instansi kemacetan
29

transportasi dan terdapat tingginya perkantoran karna


dan sarana kebisingan banyaknya
komunikasi penunjang kendaraan
transportasi
3. Sumber Bagian Bagian utara Pertimbangan Istirahat para
Kebisingan selatan dan timur ruang objek berada pengguna
kebisingan tapak pada bagian timur bangunan
rendah karna memiliki tapak dengan akan
akses ke tingkat pertimbangan terganggu
masjid dan kebisingan zoning ruang
area tinggi karna
pemukiman jalan yang
padat

4. Pergerakan Energi Pada waktu Penggunaan Orientasi


matahari alternatif pagi dan sore pencahayaan alami bangunan
dapat suhu tapak pada bangunan yang
dimunculkan akan dapat mengarah
dengan meningkat dimaksimalkan timur akan
pemanfaatan mendapatkan
sinar sinar mata
matahari hari sore
5. Arah Angin berasal Bagian utara Objek dapat Pergerakan
pergerakan dari selatan dan timur memanfaatkan angin tidak
angina dan barat angin secara optimal rata
yang berasal membawa penghawaan alami mengharuska
dari masjid udara dan n tiap ruang
dan rumah polusi di mendapatkan
warga hasilkan oleh penghawaan
kendaraan alami
Sumber : (Analisis Penulis, 2019)
30

B. ANALISIS TAPAK

1) View Tapak

Sebelah Barat lokasi terdapat


Sekolah Kesehatan Mega Resky
Sebelah Utara lokasi terdapat
Akademi kebidanan minasa upa

Sebelah Selatan lokasi terdapat Perumahan Sebelah Timur lokasi terdapat Sekolah
Angin Mammiri Islam Al Azhar

Gambar 9. View Tapak


Sumber:Analisis Penulis,2019

Sebelah Utara : Kantor DPRD Kota Makassar

Sebelah Timur : Kantor Badan Pemeriksa Keuangan

Sebelah Selatan : Mesjid Jabal Nur

Sebelah Barat : PT Sumber Alfaria Trijaya


31

2) Aksesbilitas untuk Jalur Transportasi

Kondisi :

TAPAK

LA A
EPP
ARO
J L.

Gambar 10. Aksesbilitas untuk Jalur Transportasi


Sumber: Analisis Penulis,2019
Akses utama tapak berada di Jalan Aroeppala yang

merupakan jalan provinsi. Selain aspek transportasi, demi

meningkatkan mobilitas penunjang, pada area tapak memiliki

sarana komunikasi yang baik.

Tanggapan :

Gerbang masuk hotel diletakkan pada akses Jalan Aroepala

begitupun gerbang keluar hotel.


32

3) Sumber Kebisingan pada Tapak

Kondisi :

TAPAK

A
AL P
EP
RO A
J L.

Gambar 11. Sumber Kebisingan pada Tapak


Sumber: Analisis Penulis,2019
Sumber kebisingan utama berada pada Jl. [Link] dan

Jl. Letjen Hertasning yang merupakan jalan arteri. Sumber

kebisingan ini yang berasal dari kendaraan roda empat dan roda

dua.

Tanggapan :
Penambahan vegetasi selain untuk penyaringan udara dan

meneduhkan tapak juga untuk meredam kebisingan yang terjadi

dari aktivitas luar tapak atau dalam tapak itu sendiri.


33

4) Orientasi Matahari

Kondisi :

TAPAK

LA A
EPP
ARO
J L.

Gambar 12. Orientasi Matahari


Sumber: Analisis Penulis,2019

Matahari terbit dari arah barat dan terbenam dari timur

Tanggapan :

Energi alternatif dapat dimunculkan dengan pemanfaatan

cahaya matahari langsung yang masuk ke dalam bangunan dengan

menggunakan material kaca lembaran sehingga dapat

memaksimalkan pencahayaan alami


34

5) Arah Pergerakan Angin pada Tapak

Kondisi :

TAPAK

LA A
EPP
ARO
J L.

Gambar 13. Arah Pergerakan Angin pada Tapak


Sumber: Analisis Penulis,2019
Tapak masih merupakan lahan kosong dengan rumput dan

semak. Arah angin yang dapat dari berbagai arah membuat potensi

debu yang di bawah angin tetap tinggi.

Tanggapan :

Membuat orientasi bangunan tegak lurus dengan arah angin

untuk memanfaatkan potensi angin untuk melncarkan sirkulasi

udara pada tapak. Dan pohon yang tinggi dapat mengurangi debu

dan polusi lain masuk ke tapak

C. ANALISIS FUNGSI DAN PROGRAM RUANG

1) Analisis Fungsi

Analisis fungsi digunakan untuk menguraikan beberapa fungsi dari

objek hotel. Dari analisa fungsi nantinya akan diketahui beberapa


35

kebutuhan ruang yang akan diperlukan dalam objek hotel. Analisa

fungsi dikelompokkan menjadi 3, yaitu :

a) Fungsi Primer

Fungsi primer adalah fungsi utama dari sebuah bangunan. Fungsi

utama dari perancangan adalah tempat konvesi (pertemuan) dan

akomodasi bagi para tamu yang datang. Konvensi (pertemuan)

dalam bangunan meiputi aktivitas rapat, sedangkan akomodasi

dalam bangunan meliputi aktivitas istirahat, tidur, makan dan

berlindung.

b) Fungsi Sekunder

Fungsi sekunder adalah fungsi pendukung dari fungsi utama.

Fungsi pendukung dari perancangan adalah rekreasi dan restoran.

Fungsi rekreasi dijabarkan dengan adamya beberapa fasilitas

pendukung hotel di dalamnya. Terdapat tempat bermain anak,

fitness centre, dan juga spa. Fasilitas tersebut terbuka untuk umum

dan harus mempunyai akses yang tepat bagi pengguna.

Selanjutnya fungsi pendukung lainnya adalah restoran. Fungsi

restoran diupayakan memberikan menu-menu yang terjaga

kehalalannya dan tidak diperbolehkan adanya minuman yang

dapat memberikan kemudharatan. Hal tersebut akan diawasi

langsung oleh administratif pengelolaan pihak intern perhotelan

yang termasuk ke dalam fungsi sekunder.


36

c) Fungsi Penunjang

Fungsi penunjang adalah fungsi pendukung dari fungsi primer dan

sekunder. Fungsi ini terdiri dari parkir, keamanan dan pelayanan

kepada pengguna. Fungsi ini merupakan area publik dan harus

memperhatikan kebutuhan pengguna.

2) Analisis Aktivitas

Analisis aktivitas merupakan perilaku aktivitas pengguna di dalam

bangunan. Penjabaran analisa aktivitas berasal dari analisa fungsi

primer, sekunder, dan penunjang. Dari aktivitas, nantinya akan

diperoleh kebutuhan ruang dari setiap aktivitas.

Tabel 6. Analisis Aktivitas Fungsi Primer

Klasifikasi Jenis Sifat Kebutuhan


Aktivitas Perilaku
fungsi fungsi aktivitas ruang
Fungsi Akomodasi Istirahat, Privat Beristira Kamar
primer mandi, hat meng hotel, kamar
ibadah, gunakan mandi
tidur ruang tidur pribadi
yang telah
direserva si
terdahulu
oleh tamu
yang datang

Adanya
Konvensi perkumpula
37

Rapat,sida Public n beberapa


ng, orang Ruang
seminar, dengan konvensi
peatihan maksud dan (Pertemuan)
tujuan yang
sama saling
berdiskusi
dan
bertukar
pikiran
Sumber : (Analisis Penulis, 2019)

Tabel 7. Analisis Aktivitas Fungsi Sekunder

Klasifikasi Jenis Sifat Kebutuhan


Aktivitas Perilaku
fungsi fungsi aktivitas ruang
Fungsi Rekreasi Bermain, Publik Sarana Ruang
sekunder tamu membaca hiburan bermain anak
bagi tamu
yang
membawa
anak
belajar
dan
bermain
Rekreasi Relaksasi, privat Aktivitas SPA
tamu perawatan kecanti
tubuh kan dan
perawatan
tubuh
Rekreasi Olahraga semi Melaku Fitness centre
tamu privat kan
olahraga
Rekreasi Berenang privat Berenang Kolam
tamu renang
kuliner Makan, Publik, Tempat Restoran,
minum semi makan dan lounge
38

publik minum
bersertifi
kat halal
Administrat Pengawas, Privat, Tata Lobby,
pengelola, semi kelola information
manajeme privat sebagai centre, ruang
n, pengawa pekerja
perawatan san system kebersihan,
manaje ruang ganti
men chef dan
perhotel asisten, ruang
an pemasaran
hotel, ruang
keuangan,
teknisi, ruang
umum, ruang
pengawa san
Sumber : (Analisis Penulis, 2019)

Tabel 8. Analisis Aktivitas Fungsi Penunjang

Klasifikasi Jenis Sifat Kebutuhan


Aktivitas Perilaku
fungsi fungsi aktivitas ruang
Service Ibadah, Privat pelayanan musolah
Toilet Umum ter Toilet, pos
umum, hadap para satpam
pengawa tamu
san
keamanan

Parkir area Memarkir Publik Mengama Parkir area


kendaraan nkan
kendara an
Maintenanc Menyim Semi Perawat Ruang kelola
Fungsi e pan bara publik an dan dan gudang
penunjang ng atau pemeriksa
perawat an an
gedung
Sumber : (Analisis Penulis, 2019)
39

3) Analisis Ruang

Analisis ruang berisi mengenai besaran tiap ruang dalam bangunan. Hal

ini dimaksudkan agar dapat mengetahui standart tiap ruang. Besaran-

besaran ruang nantinya dapat memberikan gambaran sebagai langkah

selanjutnya untuk melakukan penzoningan ruang. Besaran ruang dalam

bangunan sebagai berikut :

a) Kebutuhan Ruang

Dari beberapa aktivitas yang dilakukan oleh tamu dan

pengelola hotel, dibutuhkan ruang untuk mewadahi aktivitas-

aktivitas tersebut, antara lain:

Kebutuhan ruang hotel konvensi dapat kita uraikan pada tabel di bawah ini:

Tabel 9. Kebutuhan Ruang

LINGKUP PELAKU AKTIVITAS KEBUTUHAN


PEAYANAN KEGIATAN PELAKU RUANG
KEGIATAN
PENERIMAAN - Tamu - Check–in, check–  Lobby &
DAN out, membayar, sirkulasi
REGISTRASI menyimpan  Reservasi &
TAMU barang-barang registrasi
berharga  Luggage
- Memperoleh  Telepon
informasi, Umum
- Pengunjung
menunggu,  Toilet
menitip barang,
bertemu dengan
40

relasi
- Karyawan - Melayani dan
memberikan
informasi
AKOMODASI - Tamu - Istirahat, tidur,  Standar room
- Karyawan mandi, bekerja  Deluxe room
- Melayani tamu,  Luxure room
membersihkan
kamar
KONVENSI - Peserta - Mengikuti sidang,  R sidang
rapat, atau utama
- Pengunjung pertemuan  R sidang
- Mengikuti komisi
pameran, resepsi,  R VIP
dll.  R sound
- Mempersiapkan control &
- Karyawan acara atau recording
kegiatan,  R lighting
- menyediakan control
- fasilitas di luar  R proyektor
acara konvensi  R Ballroom
- Melayani dan  Mushallah
memberi informasi
kepada para
pengunjung,
peserta, maupun
panitia.
ADMINISTRASI - Pengelola - Mengelolapelayan  R tunggu
- Karyawan an sesuai dengan  R sekretaris
bidang masing-  R general mgr.
41

masing  R resident
- Mengendalikan mgr.
operasional hotel  R convention
mgr
 Sales & PR
mgr.
 R rapat
 R staff
 R fotocopy
 R arsip
 Gudang
 Toilet

SHOPPING - Tamu - Mendapatkan  Money


ARCADE - Pengunjung layanan jasa dan changer
- Karyawan komersial  Biro travel
- Melayani tamu  Bank & ATM
dan pengunjung.  Drug &
bakery store
 Book store

PENUNJANG / Tamu - Berolahraga dan  Fitness center


REKREASI - Pengunjung rekreasi  Sauna
- Karyawan - Melayani dan  Gudang
membantu tamu  Swimpool

FOOD & - Tamu/ - Bertemu relasi,  Restoran


BEVERAGE pengunjung makan, minum,  Main kitchen
- Karyawan santai  Food
- Melayani tamu reparation
 Food bar
42

 Coffe shop
 Bar + lounge

LAUNDRY & - Karyawan - Menerima cucian,  R laundry


HOUSEKEEPING menyetrika  Valet laundry
pakaian, linen dan  Linen storage
perlengkapan kain  Maid station
hotel  General
- Menyiapkan dan storage
menyimpan  Cold storage
keperluan rumah  R kontrol
tangga hotel maknan
- Menyiapkan dan
 R chief cook
menyimpan bahan
makanan dan
minuman
MEKANIKAL - Karyawan - Mengelola system  R M&E
ELEKTRIKAL ME bangunan manager
- Mengoperasikan  R staff teknik
alat dan  R pompa
memperbaiki  R genset
kerusakan  PLN &Trafo
 R control
panel
 R mesin lift

FASILITAS - Pengelola - Mengelola  R personil


KARYAWAN personil mgr.
- Makan, minum,  R training
istirahat, buang  R arsip
air, ganti dan  R P3K
43

menyimpan  R keamanan
pakaian, shalat  Mushallah
 Locker &
toilet

PARKIR - Tamu - Sirkulasi  Parkir tamu


- Pengunjung - Memarkir  Parker
- Pegelola kendaraan pengelola
- Karyawan

Sumber : (Analisis penulis, 2019)

b) Pola Organisasi Ruang

Dasar pertimbangan dalam penentuan pola organisasi ruang pada

hotel konvensi ini adalah:

1) Kejelasan arah pencapaian ruang, Efisiensi

2) Kemudaham pengontrolan, keamanan dan Kelancaran

operasional pelayana

a) Pola Organisasi Ruang Publik

Guest Room
Fasilitas Cooffe Shop,
Rekreasi Bar, Restaurant

Shopping Toilet
Arcade Hall / Lobby

Konvensi Administrasi

Gambar 14. Pola Organisasi Ruang Pubik


Sumber : Analisis Penulis, 2019
44

b) Pola organisasi ruang konvensi

Banquet Hall

Hall / Lobby
Meeting
Room

Conference
Auditorium
facilities

Gambar 15. Pola Organisasi Ruang Konvensi


Sumber : Analisis Penulis, 2019

c) Pola Organisasi Ruang Pelayanan

Gudang

Trash Staff Canteen

Main Kitchen

Receiving Food &

Engineering Housekeepin

Employee Laundry

Locker Toilet
Gambar 16. Pola Organisasi Ruang Pelayanan

Sumber : Analisis Penulis, 2019


45

b. Pola Organisasi Ruang Pengelola

General

Exec. Resident

Front Office Toilet staff staff Arsi

Manager
Hall / Lobby
Manager

Ruang Rapat Ruang Makan Manager

Gambar 17. Pola Organisasi Ruang Pengelola

Sumber : Analisis Penulis, 2019

d. Besaran Ruang

Tabel 10. Besaran Ruang

Objek Kapasitas Jumlah Standar Dimensi Luas


Jenis Ruang
Fungsi Ruang Ruang Ruang (MxM) Total

Penerimaan Lobby 30 orang 1 Neufert 16x8 128


dan registrasi Reservasi & 10 orang 1 Neufert 16x8 128
amu Registrasi
Telepon 2 orang 1 Neufert 4x4 16
umum
Total Luas Tempat 272
Penerimaan Tamu
Luas Tempat 326
Penerimaan Tamu +
Sirkulasi 20%
Konvensi Ballroom 200 orang 2 Asumsi 40x24 1.920
Meeting 25 orang 5 Asumsi 16x8 640
46

Room
Ruang VIP 20 orang 1 Asumsi 12x8 96
Mushola 85 orang 1 Neufert 24X8 192
Total Luas Tempat 2.848
Konvensi
Luas Tempat 3.417
Konvensi + Sirkulasi
20%
Akomodasi Standar Room 2 orang 120 Ecolls 4x8 3.840
Deluxe Room 2 orang 50 Asumsi 8x8 3.200
Luxury Room 2 orang 10 Asumsi 12x8 960
Total Luas Akomodasi 8.000
Luas Akomodasi + 9.600
Sirkulasi 20%
Administrasi R. Tunggu 20 orang 1 Neufart 8x8 64
R. Sekretaris 5 orang 1 Asumsi 10x8 80
Staf Room 5 orang 1 Asumsi 10x8 80
R. Convention 2 orang 1 Asumsi 8x8 64
Manager
R. President 1 orang 1 Asumsi 8x8 64
Manager
R. General 1 orang 1 Asumsi 8x8 64
Manager
F&B Manager 1 orang 1 Asumsi 8x5 40
R. Fotocopy 3 orang 1 Neufart 4x5 20
R. Arsip 5 orang 1 Neufart 8x5 40
Sales & FR 10 orang 1 Asumsi 10x5 50
Manager
Gudang 2 orang 1 Neufart 8x4 32
Total Luas Administrasi 598
Luas Administrasi+ 717
Sirkulasi 20%
Shopping Money 2 orang 1 Neufart 4x4 16
Arcade Changer
Biro Travel 2 orang 1 Neufart 4x4 16
ATM 2 orang 1 Neufart 4x4 16
Drug & 30 orang 1 Asumsi 16x8 128
Bakery Store
Book Store 20 orang 1 Asumsi 12x4 48
47

Total Luas Shopping 224


Arcade
Luas Shopping 268
Arcade + Sirkulasi
20%
Penunjang/R Sauna 10 orang 2 Neufart 8x8 128
ekreasi Swimpool 20 orang 2 Asumsi 18x5 180
Fitnes 25 orang 1 Asumsi 8x12 96
R. Ganti 2 orang 2 Neufart 8x8 64
Toilet 2 orang 2 Neufart 8x8 64
Total Luas 532
Penunjang/Rekreasi
Luas 638
Penunjang/Rekreasi +
Sirkulasi 20%
Food & Restoran 30 orang 1 Asumsi 20x8 160
Beverage Utama
Dapur Utama 15 orang 1 Asumsi 10x10 100
R. Kontrol 15 orang 1 Asums 10x8 80
Makanan i
Bar + Lounge 30 orang 1 Asumsi 18x4 72
Coffe Shop 15 orang 1 Neufart 10x8 80
Total Luas Food & 492
Beverage
Luas Food & 590
Beverage + Sirkulasi
20%
Laundry & R. Laundy 5 orang 1 Asumsi 8x8 64
Housekeepin Valet Laundry 2 orang 1 Neufart 8x4 32
g Lines Storage 3 orang 1 Asumsi 8x5 40
Total Luas Laundry & 136
Housekeeping
Luas Laundry & 163
Housekeeping +
Sirkulasi 20%
Mekanikal R M&E 1 orang 1 Neufart 3x4 12
Elektrikal Manager
R Pompa 2 orang 1 Asumsi 4x8 32
PLN & Trafo 5 orang 1 Asumsi 8x8 64
48

R Kontrol 5 orang 1 Asumsi 8x8 64


Panel
Total Luas Mekanikal 172
Elektrikal
Luas Mekanikal 206
Elektrikal + Sirkulasi
20%
Fasilitas R Personil 2 orang 1 Asumsi 8x6 48
Karyawan Manager
R Ganti/Loker 20 orang 1 Asumsi 8x8 64
R Makan 20 orang 1 Asumsi 10x8 80
Karyawan
Total Luas Fasilitas 192
Karyawan
Luas Fasilitas 230
Karyawan + Sirkulasi
20%
Parkir Parkir Mobil 1000 orang 150 Asumsi 5x3 2.250
Parkir Motor 200 orang 200 Asumsi 1x1 200
Total Luas Parkir 2.450
Luas Parkir + 2.940
Sirkulasi 20%
Sumber : (Analisis penulis, 2019)

4) Analisis Penzoningan Ruang

Analisis Penzoningan Ruang diperlukan sebagai langkah untuk

menentukan hubungan antar ruang. Hubungan antar ruang tersebut akan

memberikan zonasi tiap ruang pada tiap area. Penzoningan antar ruang

ini harus memperhatikan karakteristik tema agar sesuai serta efesien

D. ANALISIS TAMPILAN BENTUK BANGUNAN

1) Konsep Dasar Filosofi

Hotel Konvensi ini didesain dengan menyediakan jasa yang tidak

hanya dalam bentuk akomodasi, penyediaan makanan dan minuman


49

melainkan juga menampung kegiatan pertemuan. Fasilitas yang tersedia

berupa ruang-ruang pertemuan skala besar maupun kecil, serta pelayanan

jasa penginapan, makan dan minum, sekaligus jasa antar jemput untuk

memudahkan pengunjung.

Konsep desain yang diterapkan pada perancangan bangunan ini yaitu

ekologis. Arsitektur ekologis merupakan pembangunan berwawasan

lingkungan, dimana memanfaatkan potensi alam semaksimal mungkin.

Perancangan ini menjadikan bangunan sebagai objek untuk

memanfaatkan potensi alam disekitarnya. Aplikasi pada bangunan dapat

dilihat pada uraian berikut ini:

a) Bentuk bangunan mengadopsi atau berasal dari bentuk alam

Bentuk bangunan yang mengekspresikan kota makassar sebagai Kota

Daeng melalui bentuk Passapu

b) Menggunakan material kaca sebagai pengaruh arsitektur modern untuk

menciptakan efek kristalin

Bahan kaca digunakan hampir pada seluruh sisi bangunan hal ini

mengekspresikan keterbukaan masyrakat Kota Makassar untuk

membuka diri terhadap perkembangan budaya.

c) Bahan beton digunakan sebagai struktur utama bangunan, hal ini

mengekspresikan kekuatan masyarakat Kota Makassar untuk menjaga

keragaman budaya daerah setempat dengan tidak menutup diri terhadap

perkembangan budaya luar. Bahan beton dipakai pada atap cangkang,


50

juga pada fasade bangunan. Pada daerah fasade, selain berfungsi

sebagai estetika, juga berfungsi sebagai sun shading dan sunsreen.

Bangunan hotel konvensi ini dirancang dengan konsep ekologis yaitu

pembangunan berwawasan lingkungan. Hal ini diwujudkan lewat

bentuk bangunan yang mengekpresikan slogan Kota Makassar yaitu

Kota Daeng. Bentuk ini menganut prinsip arsitektur ekologis yaitu

bentuk bangunan mengadopsi atau berasal dari alam. Tujuannya yaitu

untuk mengangkat citra Kota Makassar sebagaimana ciri bangunan

Hotel Konvensi itu sendiri.

2) Penampilan Bangunan

Penampilan bangunan adalah faktor yang menentukan keberhasilan

suatu perancangan dan harus dapat memberi kesan santai, rekreatif dan

menarik. Dalam hal ini meliputi penampilan luar dan tata ruang dalam

bangunan.

Faktor yang mempengaruhi penampilan bangunan adalah :

a) Fungsi utama dari kegiatan dalam bangunan

b) Orientasi bangunan adalah sarana penginapan, fasilitas penunjang

dan akses yang mudah.

c) Keserasian antara ruang yang ada di dalam dengan alam sekitarnya.

d) Memberikan rasa aman dan nyaman baik di dalam maupun diluar

bangunan.
51

Pada tampilan bangunan akan menyesuaikan beberapa poin dari analisis

yang dilakukan. Kondisi tapak yang terbatas hanya memiliki luasan

13.000 m² membuat bentukan harus menggunakan sistem bangunan

tinggi untuk memenuhi kebutuhan ruang. Untuk menimbulkan kesan

alam terdapat tanaman disekitar bangunan.

Secara keseluruhan tampilan bangunan Hotel Konvensi ini berbahan

beton dan kaca, yang menganut salah satu prinsip arsitektur ekologis

yang pada masanya menggunakan bahan-bahan ini karena mudah

dibentuk juga sebagai pengaruh dari arsitektur modern.

E. ANALISIS KELENGKAPAN BANGUNAN

1) Sistem Mekanikal Elektrikal

a) Sistem elektrikal dimaksudkan pada kebutuhan akan aliran listrik

sebagai sumber tenaga untuk penerangan dan peralatan yang

digunakan dalam bangunan. Sumber aliran listrik berasal dari PLN

dan generator yang bekerja secara otomatis apabila terdapat

gangguan aliran dari PLN.

b) Sistem mekanikal diterapkan dalam menunjang kegiatan operasional

bangunan. Pemakaian sistem ME diaplikasikan pada pengoperasian

elevator, eskalator, pengkondisian ruang, tata suara dan lain-lain.

2) Sistem Air Bersih dan Air Kotor

Konsep yang dipakai pada jaringan sistem air bersih adalah sistem

down-feed merupakan sistem yang dapat menghemat listrik karena


52

pompa tidak secara terus-menerus melainkan air ditampung pada tangki

penampungan air sebagai pasokan utama, sehingga distribusi air bersih

pada perancangan hotel menggunakan sistem down feed. Sumber air

bersih pada hotel berasal dari dua sumber yaitu PDAM dan sumur.

Sistem distribusi air kotor di hotel ini menggunakan sewage sistem

dengan pipa ganda. Pipa satu berfungsi sebagai saluran air kotor yang

berasal dari floor drain dan wastafel sedangkan pipa 2 berfungsi

sebagai saluran yang berasal dari WC.

3) Sistem Keamanan

Fasilitas keamanan pada hotel ini dilengkapi dengan detektor logam

(metal detector) yang dapat mendeteksi adanya bahan peledak, amunisi,

dan senjata api. Di samping itu, untuk memudahkan pemantauan,

dipasang jaringan televisi tertutup (CCTV - Closed Circuit Television)

pada lokasi yang rawan kejahatan. Dengan adanya peralatan elektronik

ini, pemantauan dapat dilakukan selama 24 jam penuh, dan jika terjadi

tindak kejahatan, rekaman televisi dapat ditayangkan ulang, lengkap

dengan waktu kejadiannya.

a) Sistem Pencegahan Kebakaran

Pengamanan terhadap bahaya kebakaran dapat dibagi menjadi 2,

yaitu :
53

1) Pencegahan kebakaran

Untuk mencegah terjadinya kebakaran dipergunakan smoke

detector dan heat detector sebagai alat pendeteksi asap dan

panas diluar batas normal.

2) Penanggulangan saat terjadi kebakaran

Alat-alat yang dipergunakan untuk memadamkan api antara

lain

a) Sprinkler

b) Fire hydrant dab hose reel

c) Fire extinguisher

d) Pilar hydrant

b) Sistem Penangkal Petir

Penangkal petir menggunakan sistem radioaktif atau semi-

radioaktif/sistem thomas. Sistem ini baik sekali untuk bangunan

tinggi dan besar. Pemasangan tidak perlu dibuat tinggi karena

sistem payung yang digunakan dapat melindunginya. Bentangan

perlindungan cukup besar sehingga dalam satu bangunan cukup

menggunakan satu tempat penangkal petir. Cara pemasangannya

adalah titik puncak/kepala dari alat penangkal petir dihubungkan

dengan pipa tembaga menuju ke dasar tempat sebagai pentanahan

yaitu pipa tembaga tersebut harus mencapai tanah yang berair. Oleh

karena itu, tempat-tempat tersebut harus dibuat sedemikian rupa


54

sehingga tidak mengganggu keindahan bangunan dan tetap

berfungsi baik terhadap penanggulangan bahaya petir.

4) Sistem Pembuangan Sampah

a) Sampah kotor dan kering

Sampah kering berupa bekas makanan, kertas, plastik dan lain-lain yang

berasal dari tiap ruangan dikumpulkan menjadi satu disetiap lantai

kemudian dibuang oleh petugas kebersihan melalui shaf sampah yang

dibungkus kantong plastik.

b) Disposal padat

Disposal padat yang berasal dari kamar mandi di tiap lantai dialirkan

melalui pipa dalam plumbing shaf lalu disalurkan ke septic tank dan

selanjutnya ke STP setelah mengalami proses peresapan air kotor yang

dihasilkan dibuang ke roil kota.

F. ANALISIS PENDEKATAN PERANCANGAN

1) Titik Tolak Pendekatan

a) Dimaksudkan sebagai langkah menuju pengungkapan Konsep

Perencanaan Hotel dengan konsep arsitektur hijau.

b) Konsep Perencanaan Hotel berdasarkan pengertian bahwa bangunan

ini berfungsi sebagai tempat penginapan, mencakup segala macam

fasilitasnya, sistem pelayanannya yang cepat, mudah dan efisien,

serta memberikan rasa nyaman dan aman.


55

c) Pendekatan Konsep Makro, sebagai langkah penyelesaian dalam

lingkup kaitan bangunan terhadap lingkungan dan pola kota, baik

fisik maupun karakteristiknya.

d) Pendekatan Konsep Mikro, sebagai langkah penyelesaian dalam

lingkup kaitan bangunan terhadap sifat, pola dan kegiatan di

dalamnya.

2) Pendekatan Konsep Fisik Makro

a) Pengolaan Penentuan Tapak (SITE)

1) Pengolahan tapak

Dasar-dasar pertimbangan yang digunakan dalam pendekatan

terhadap tapak pada bangunan hotel diarahkan untuk memperoleh

suatu area site yang mampu memberikan fungsi yang maksimal.

Kriteria untuk penentuan tapak adalah sesuai dengan pertimbangan-

pertimbangan yang bertujuan dalam pengolahan potensi dan

permasalahan tapak.

2) kondisi lingkungan.

Dalam penentuan tapak pada lokasi dapat didasarkan atas beberapa

pertimbangan, antara lain :

a) Berada pada kawasan instansi pemerintahan.

b) Tersedianya luas tapak yang dapat menampung aktivitas dan

fasilitas yang ada, juga kemungkinan pengembangannya di masa

yang akan datang.


56

3) Kondisi fisik atau topografi, meliputi daya dukung tanah dan bentuk

lahan yang mendukung sehingga memungkinkan untuk diselesaikan

secara arsitektur.

4) Tingkat pencapaian atau aksesbilitas yang tinggi.

Sedangkan kriteria pengolahan tapak secara utuh dalam kesatuan

hubungan antara ruang luar dengan massa bangunan meliputi antara

lain yaitu :

a) Tuntutan pendaerahan

1) Penempatan massa bangunan sesuai dengan fungsi dan

mengikuti filosofi bangunan secara keseluruhan.

2) Penempatan ruang luar pada area yang noise level sedang

tinggi menyelingi atau mengelilingi massa-massa bangunan.

3) penataan entrance

4) Memungkinkan pencapaian dari jalur-jalur sirkulasi utama

dengan memperlihatkan arah sirkulasi dan view.

5) Tidak mengganggu lalu lintas dan memberikan kemudahan

parkir.

b) Tuntutan penampilan fisik

1) Bentuk bangunan mengikuti bentuk tapak.

2) Menghindari kesan monoton dan tetap menjaga dengan

bangunan di sekitarnya.

3) Mencerminkan fungsi sebagai bangunan komersial.


57

c) Pengolahan lingkungan

Tujuan dari pengolahan lingkungan mempunyai dampak yang

sangat berpengaruh pada penampilan bangunan sehingga dalam

pengolahan tersebut yang perlu diperhatikan adalah :

1) Sedapat mungkin dapat berinteraksi dengan lingkungan

sekitarnya.

2) Memungkinkan sebagai penumbuh dan penarik pengunjung

untuk datang ke lokasi.

Sedangkan kriteria pengolahan lingkungan yang berkaitan erat

dengan penampilan bangunan meliputi :

a) Orientasi bangunan

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan di dalam pendekatan

terhadap orientasi bangunan adalah :

1) Orientasi terhadap matahari yang dalam hal ini

mempengaruhi letak unsur bangunan yang memiliki tanaman

dan pertimbangannya terhadap pemanfaatan sinar matahari

pagi faktor pemanasan yang akan menimbulkan pemborosan

dalam pengkondisian udara.

2) Orientasi tehadap angin yang dapat dimanfaatkan untuk

kenyamanan pada tempat-tempat bersantai serta pengaruhnya

terhadap keawetan bangunan .


58

3) Orientasi terhadap view yang baik dari dalam bangunan

terhadap lingkungan sekitarnya maupun dari lingkungan

sekitarnya terhadap bangunan.

b) Penempatan entrance

1) Main entrance

Main entrance adalah pencapaian utama bagi pengunjung yang

difungsikan sebagai jalan masuk dari luar ke dalam site.

Persyaratan main entrance adalah sebagai berikut :

a) Kemungkinan arah datang pengunjung datang terbesar.

b) Kemudahan pencapaian ke tapak bangunan.

c) Kelancaran arus lalu lintas di sekitarnya.

Pencapaian main entrance dipertimbangkan bertujuan agar :

1) Main entrance mudah dilihat oleh pengunjung.

2) Main entrance dekat dengan arah datangnya pengunjung.

3) Main entrance tidak mengganggu arus lalu lintas di

sekitarnya

2) Side entrance

Side entrance merupakan alternatif pencapaian bagi

pengunjung yang difungsikan sebagai jalan dari dalam untuk

keluar site. Penentuan side entrance dipertimbangkan dengan

tujuan agar supaya :

a) Kejelasan dan kemudahan arah masuk dan keluar site.


59

b) Menghindari terjadinya crossing sirkulasi di dalam site.

c) Memudahkan pengawasan dari segi keamanan.

d) Service entrance.

Service entrance merupakan alternatif pencapaian bagi

sirkulasi kegiatan service seperti kegiatan service bangunan,

persiapan keluar masuknya barang dan sebagainya. Service

entrance ini hanya digunakan secara berkala atau hanya pada

waktu-waktu tertentu saja.

3) Penzoningan Tapak

Kegiatan-kegiatan yang diwadahi merupakan aktifitas yang

memerlukan daya tarik bagi pengunjung untuk masuk ke dalam bangunan

serta penyebaran kegiatan yang terarah dan jelas ditinjau dari keseluruhan

site. Penataan zoning tapak harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan

serta hirarki fungsi, dimana masing-masing fungsi dikelompokkan ke dalam

beberapa zona sehingga dapat memudahkan pendistribusian aktifitas pelaku

kegiatan. Fungsi kegiatan pada tapak dikelompokkan ke dalam zona publik,

private dan service dengan pertimbangan tingkat aksebilitas dan privasi

bagi pegawai dan pengunjung. Sistem penzoningan didasarkan pada fungsi

yang diwadahi dan kemudahan dalam pengelompokan fungsi bangunan dan

program ruang yang ada yaitu :


60

1) Keadaan dan kondisi tapak

2) Keadaan topografi tapak

3) Pencapaian dan sirkulasi

4) Karakter ruang dan bentuk dasar bangunan dengan kaitan fungsi

5) View yang terbaik

6) Unsur iklim, cuaca dan orientasi bangunan.

4) Sistem pencahayaan

1) Penerangan alami

Jangkauan penerangan alami adalah 6 - 7,5 meter yang diperoleh dari

bukaan di dinding seperti jendela dan ventilasi.

2) Penerangan buatan

Jenis penerangan ini digunakan karena alami dianggap sudah tidak

mampu lagi untuk menjangkau jarak 7,5 meter dari bukaan. Adapun jenis

penerangan yang digunakan disesuaikan dengan sifat dan macam kegiatan

dalam ruangan, fungsi ruang dan warna yang diinginkan. Sistem

pencahayaan buatan sama dengan sistem pengkondisian udara, setiap lantai

memiliki sejumlah sirkuit dengan beberapa pola pencahayaan yang dapat

diatur secara individual. Digital Operated Swicthes (DOS) dapat mengatur

sistem pencahayaan pada malam hari. Tombol DOS memungkinkan

pemakai ruangan mengatur pencahayaan sesuai dengan jam kerja mereka.

Sensor pencahayaan alami siang hari (daylight sensor) dapat

mengatur pencahayaan suatu ruangan dengan cara mematikan pencahayaan


61

secara bertahap. Kontrol Pencahayaan Tidak semua lampu dikontrol oleh

Sistem Otomasi Bangunan (SOB), melainkan ada daerah yang tidak

dikontrol oleh SOB yaitu daerah yang bukan lantai typical, dimana daerah

tersebut dikontrol oleh Main Circuit Breaker (MCB) atau saklar lokal.

Rangkaian pencahayaan di daerah yang dikontrol oleh sistem pencahayaan

yang berada pada ruangan SOB, diatur sedemikian rupa sehingga setiap

pencahayaan disetiap lantai dikontrol oleh dua buah Digital Lighting

Controller (DLC). Satu DLC melayani salah satu bagian gedung. Agar

lampu dapat menyala (on) semua saklar (termasuk MCB, Relay Pack, GE

Relay dan saklar lokal) harus di matikan (Off). Untuk memastikan bahwa

lampu dikontrol dan dimonitor secara benar di ruang SOB, pengawas perlu

menjaga main incoming dan MCB agar selalu menyala setiap saat dan

penggunaan saklar lampu harus dilakukan lewat DLC.

a) Saklar Lokal

Saklar lokal dapat digunakan oleh tamu hotel untuk menyalakan atau

mematikan lampu dalam ruangan tertentu, hanya jika instruksi bagi lampu

untuk menyala harus dimasukkan dulu dari SOB, baik lewat penjadwalan

mingguan, Key Management Box, maupun instruksi manual dari ruangan

pengendali SOB kemudian barulah saklar lokal bisa dipakai untuk

menyalakan lampu.

b) Kontrol melalui Telepon Input / Output (TIO)


62

Lampu dapat dinyalakan atau dimatikan dengan memakai TIO yang

akan menetapkan kata sandi tertentu bagi pengguna dalam lokasinya di

zona kontrol yang bersangkutan. Pengguna hanya perlu memancing nomor

telepon TIO, memasukkan kata sandinya, lokasinya, serta menekan “1”

untuk menyalakan lampu dan “2” untuk mematikan lampu.

4) Sistem penghawaan

a) Penghawaan alami

Sistem penghawaan ini diperoleh dengan memanfaatkan sirkulasi

udara yang berasal dari bukaan-bukaan dinding. Selain ini hanya digunakan

pada ruangan-ruangan yang tidak membutuhkan pengkondisian udara.

b) Penghawaan buatan

Sistem penghawaan buatan dipakai jika kondisi udara dan ruang

tidak memungkinkan penggunaan sistem penghawaan alam, mengingat

luasan dari bangunan relatif besar dan tuntutan kenyamanan dari suatu

ruangan digunakan sistem penghawaan buatan yang dikenal dengan nama

Air Condition System (AC). Alternatif penggunaan sistem penghawaan :

1) Sistem AC Unit

a) Keuntungannya

1) Pemasangan mudah.

2) Tidak memakai instalasi sehingga hemat biaya.

3) Dapat diatur langsung oleh pemakai ruang.

b) Kerugiannya
63

1) Hanya dapat digunakan pada ruangan yang terbatas.

2) Tampak kurang estetis dari sudut eksterior.

3) Menimbulkan suara bising dalam ruangan yang dikondisikan.

2) Sistem Unit AC Sentral

a) Keuntungannya

1) Sangat fleksibel dalam perletakan and instalasi.

2) Pemakaian energi sangat efisien dan daya tahan lebih tinggi.

3) Pengaturan suhu terpisah.

4) Memungkinkan dipergunakan dengan desain khusus.

5) Tidak bising karena kompresor letaknya terpisah/diluar bangunan.

b) Kerugiannya

1) Kapasitasnya sedang.

2) Tidak efektif dalam bangunan berlantai banyak.

3) Sistem AC Sentral

a) Keuntungannya

1) Dapat digunakan dalam bangunan berlantai banyak

2) Kapasitasnya besar

3) Perawatannya lebih mudah dibanding AC Unit

4) Efisien dalam pemakaian listrik

b) Kerugiannya

1) Mempunyai ruangan khusus dikontrol dalam bangunan tersendiri

dengan box sentral


64

2) Menimbulkan getaran, sehingga membutuhkan penyelesaian struktur

tersendiri Sistem AC sentral dapat dibedakan atas :

a) Room Unit (Window dan Pakage Unit)

b) Control Unit (Chiller Water System)

Untuk bangunan hotel ini hampir semua ruangan menggunakan AC

(air condition) sebagai penghawaan buatan

dengan sistem sentral (Chiller Water System).

5) Pendekatan sistem sirkulasi

Hotel ini sebagai wadah yang menampung berbagai aktivitas jumlah

manusia yang cukup banyak, sehingga perlu diperhatikan penataan sirkulasi

yang memberikan kenyamanan bagi pengunjung saat menggunakan sarana

dan fasilitas hotel. Pendekatan sistem sirkulasi dalam bangunan ini dengan

memperhatikan :

a) Pelaku kegiatan

b) Jenis dan kelompok

c) dan keleluasaan bagi setiap pelaku kegiatan

d) Perletakan entrance

Sistem sirkulasi dapat dibagi atas :

1) Sirkulasi Manusia

Manusia sebagai pemakai wadah ini memerlukan suatu jalur

sirkulasi yang baik dan efisien. Untuk itu sirkulasi bagi para pengunjung

hendaknya :
65

a) Memberikan kenyamanan dan kelegaan serta dapat memberikan arah

yang jelas ke setiap area bangunan.

b) Luasan yang cukup untuk mendukung kelancaran arus sirkulasi serta

memberikan keleluasaan untuk berbagai jenis kegiatan didalamnya.

c) Pembagian yang proporsional antara sirkulasi vertikal dan horizontal.

d) Penyediaan jalur pedestrian bagi pejalan kaki.

2) Sirkulasi Kendaraan

Perencanaan sistem sirkulasi kendaraan dalam tapak harus

direncanakan dengan baik, agar tidak terjadi kesemrawutan dan

ketidakteraturan di dalam tapak. Untuk itu hal-hal yang perlu

diperhatikan adalah :

a) Jumlah kendaraan yang akan ditampung di dalam tapak.

b) Jenis kendaraan yang ditampung.

c) Lebar jalur sirkulasi.

d) Bentuk dan model sarana parkir.

e) Kemudahan dalam parkir kendaraan.

f) Kemudahan dalam pencapaian dari dan ke arah tempat parkir.

g) Pemisahan antara kendaraan pengunjung, pengelola dan karyawan

serta kendaraan barang

h) Pengaturan jalur lintasan kendaraan.

3) Sirkulasi Barang
66

Sirkulasi barang dipisahkan dari sirkulasi pengunjung pada

bangunan yang dibedakan atas 2 (dua) jenis, yaitu :

a) Sirkulasi berdasarkan kegiatan utama (tamu, suplay).

b) Sirkulasi berdasarkan kegiatan pelengkap (travel, sampah)

Beberapa pertimbangan dalam sistem sirkulasi :

a) Kemudahan bagi tamu dalam membawa barangnya ke area lobby, baik

dari pintu gerbang, maupun dari tempat parkir.

b) Pengaturan lebar jalan atau koridor atau pedestrian, sehingga tercipta

kenyamanan bagi para tamu.

c) Kelancaran arus keluar-masuknya barang suplay, sesuai kebutuhan

hotel.

d) Pengaturan tempat area bongkar muat barang, sehingga kenyamanan

pengunjung tidak terganggu.

e) Kemudahan bagi kendaraan travel untuk bisa melakukan bongkar muat

penumpang dan barang di entrance hotel.

f) Pendekatan sistem struktur, konstruksi, Modul dan material bangunan

4) Sistem struktur

Pemilihan sistem struktur berdasarkan pertimbangan bangunan hotel

yang merupakan bangunan komersial, sehingga mempertimbangkan segi

efisiensi yang tinggi, oleh sebab itu dituntut :

a) Sistem struktur yang fungsional dan ekonomis.


67

b) Jenis struktur yang fleksibel, mengingat fungsi ruang dan aktifitas yang

berlainan.

c) Memungkinkan buat bukaan-bukaan yang cukup mengingat ruang hotel

banyak membutuhkan pencahayaan dan penghawaan.

d) Pemilihan struktur memperhatikan segi kemudahan dalam pengadaan

barang, pelaksanaan dan perawatan.

Sistem struktur dibagi menjadi 3 (tiga), yaitu :

1) Sub struktur

Karena bangunan hotel transit yang direncanakan merupakan

bangunan berlantai banyak, maka pondasi yang digunakan adalah pondasi

rakit dipadu dengan file cup serta tiang pancang.

a) Pondasi rakit selain berfungsi sebagai struktur juga berfungsi sebagai

ruang bawah tanah yang digunakan sebagai fasilitas parkir dan ruang

mekanikal dan elektrikal.

b) Pondasi tiang pancang menyalurkan beban ke lapisan tanah bagian

dalam pada lapisan tanah keras.

2) Super struktur

Untuk super struktur menggunakan sistem rangka kaku dan inti

bangunan.

a) Rangka kaku, bereaksi terhadap beban lateral yang disebabkan oleh

tekanan angin terutama melalui lentur balok dan kolom.


68

b) Struktur inti, ketahanan lentur bangunan akan meningkat karena interaksi

inti dan rangka menambah kekakuan. Sistem ini efisien bagi pelayanan

sistem mekanis dan transportasi vertikal pada inti dan cor.

3) Struktur penutup

Atap untuk bangunan hotel transit menggunakan struktur rangka baja

dan adanya bagian yang menggunakan plat beton bertulang.

b). Konstruksi

Konstruksi merupakan sistem yang dipergunakan pada struktur

bangunan, misalnya :

1) Konstruksi baja.

2) Konstruksi beton bertulang.

c). Modul

Satuan unit yang terkecil yang digunakan sebagai dasar untuk

menentukan ruang komponen-komponen dalam bentuk kelipatan.

Fungsinya adalah :

1). Efisiensi.

2). Mempermudah dalam penatan perabot.

3). Ekonomis dan kemudahan dalam pelaksanaan.

Maka penentuan modul didasarkan pada :

1). Dimensi ruang gerak manusia.

2). Dimensi dari perlengkapan ruang yang digunakan.

3). Sesuai dengan dimensi bahan yang berlaku di pasaran.


69

4). Disesuaikan dengan jarak bentang maksimal dari struktur.

d). Material bangunan

Berdasarkan fungsinya, bahan bangunan dikelompokkan menjadi

dua kelompok :

1) Bahan struktural

Sesuai dengan sistem struktur yang dipakai, maka secara umum

pemilihan bahan bangunan harus mempertimbangkan hal-hal sebagai

berikut :

a) Mudah dalam pelaksanaan dan pemeliharaan

b) Mudah dalam penyesuaian bentuk

c) Ketahanan terhadap suhu tinggi

2) Bahan pengisi

Pemilihan bahan atas pertimbangan sebagai berikut :

a) Penampilan bangunan disesuaikan dengan kesan yang ingin dicapai.

b) Mudah dalam pelaksanaan dan perawatan.

c) Daya tahan yang baik terhadap suhu tinggi.

Sebagai bahan pengisi atau non struktural, meliputi :

1) Lantai

Syarat dan fungsi :

a) Dapat menahan beban yang berasal dari manusia dan perlengkapan

lainnya

b) Tidak menimbulkan kelelahan pada mata


70

c) Tidak terlalu licin dan menghantarkan panas

2. Dinding

Syarat dan fungsi :

a) Dapat menahan beban diatasnya

b) Sebagai penutup atau pembatas ruang

c) Sebagai pelindung terhadap pengaruh alam, misalnya angin, hujan dan

matahari

d) Awet dan kuat serta mudah dalam pelaksanaan dan perawatan


DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik, 2018. Kota Makassar dalam Angka. Makassar : BPS

Kota.

Frick, Henry. 2007. Dasar-Dasar Arsitektur Ekologis. Kanisius,

Yogyakarta.

Komar, Richard. 2014. Hotel Managemnet. Jakarta:PT Grasindo

Mangkuwerdoyo, Sudiarto, 1999. Pengantar Industri Akomodasi &

Restoran. Jakarta. hal 19.

Metallinou, V.A., 2006. Ecological Propriety and Architecture 86, 15– 22.

Poerwadarminta, W.J.S. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai

Pustaka, Jakarta.

Rumekso, SE. 2002. Housekeeping Hotel, Yogyakarta: ANDI.

Sukawi, Widigdo. 2008. Ekologi Arsitektur : Menuju Perancangan

Arsitektur Hemat Energi dan Berkelanjutan 1.

Sulastiyono, Agus. 2007. TEKNIK dan PROSEDUR DIVISI KAMAR pada

bidang HOTEL. Bandung : ALFABETA

Soemarwoto, O, Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan,

Djambatan, 2001, Jakarta.

Surat Keputusan Menteri Perhubungan R.I. No. PM 10/PW – 301/Phb. 77,

tanggal 12 Desember 1977. (1977). Jakarta: Departemen

Perhubungan.
Surat Keputusan Menteri Perhubungan No. 241/11/1970. Definisi Hotel

Surat Keputusan Dirjen Pariwisata No. 06 Thn. 1992.

Yeang, K., 1999. The Green Skyscraper: The Basis for Designing

Sustainable Intensive Buildings. Prestel, United Kingdom.


MEDIA INTERNET

[Link]

OTEL_KONVENSI_BINTANG_EMPAT_DI_MAKASSAR_.

Diakses pada tanggal 1 juli 2019

[Link]

&aqs=chrome..69i57j0l5.4372j1j4&sourceid=chrome&ie=UTF-8/

Diakses pada tanggal 5 juli 2019

[Link] diakses pada

taggal 31 Juni 2019

[Link] diakses 14 Mei 2015

[Link]

[Link]. diakses pada tanggal 13 Juli 2019

[Link]

jalan-landak-baru-macet-parah/ di akses pada tanggal 29 Juli 2019

[Link]

makassar/attachment/26053622/ di akses pada tanggal 29 Juli 2019

[Link]

di akses pada tanggal 29 Juli 2019

[Link]

sar_191471/ di akses pada tanggal 29 Juli 2019


[Link]

kecamatan-kota-makassar-2/ di akses pada tanggal 5 Oktober 2019

[Link]

[Link] di akses pada tanggal 5 Oktober 2019

Anda mungkin juga menyukai