Pada konteks pelaksanaan uji kompetensi atau penilaian berbasis kompetensi, seorang
Asesor Uji Kompetensi memiliki peran yang sangat penting dan menentukan dalam
mencapai kualitas uji kompetensi yang diharapkan.
Seorang asesor tidak hanya memiliki tugas untuk mengarahkan dan membimbing
peserta uji kompetensi (Assessee) dalam proses uji kompetensi, lebih dari itu juga
berfungsi sebagai seorang fasilitator yang mampu mendorong dan membimbing
peserta untuk menjalankan proses pembelajaran secara mandiri (self learning) dalam
mencapai kompetensi yang dipersyaratkan.
Melihat peran penting dari seorang asesor, perlu dipersiapkan suatu mekanisme dan
prosedur dalam mempersiapkan, menyeleksi, melatih, mensertifikasi dan
mengembangkan seorang asesor untuk mencapai kompetensi yang dipersyaratkan.
Untuk menjaga agar asesor dapat secara konsisten memiliki kinerja yang diharapkan
perlu dipersiapkan pula suatu mekanisme yang dapat menjalankan fungsi informasi,
komunikasi maupun hubungan kerja antara BNSP dengan asesor, sehingga asesor
dapat terus mengikuti perkembangan dan tuntutan yang terus berkembang di
masyarakat terutama di dunia industri. Disamping itu perlu dipersiapkan pula suatu
aturan sanksi yang tegas dan jelas, agar asesor termotivasi untuk terus menjaga
kualitas uji kompetensi yang dilaksanakan.
Sejalan dengan pemikiran diatas, BNSP menerbitkan ‘Pedoman Asesor dan Master
Assessor’ ini sebagai acuan bagi pengguna, khususnya LSP-LSP, Master Asesor
maupun Asesor serta pihak-pihak lain yang membutuhkan.
Jakarta, ………2008
Pedoman Asessor/ Master Asesor 1
Halaman
PENGANTAR 1
BAB I PENDAHULUAN 3
1.1. Latar Belakang 3
1.2. Tujuan 3
1.3. Sasaran 4
1.4. Ruang Lingkup 4
1.5. Dasar Hukum 4
1.6. Pengertian-pengertian 5
BAB II WEWENANG, PERSYARATAN DAN KOMPETENSI
ASESOR / MASTER ASESOR 7
2.1. Fungsi Asesor / Master Asesor 7
2.2. Wewenang Asesor / Master Asesor 7
2.3. Persyaratan menjadi Asesor 8
2.4. Kompetensi Asesor / MasterAsesor 10
2.5. Peran Asesor / MasterAsesor 11
2.6. Karakteristik Asesor / Master Asesor Penilai 11
BAB III PELATIHAN ASESOR / MASTER ASESOR 13
3.1. Tujuan pelatihan 13
3.2. Materi pelatihan 13
3.3. Metoda pelatihan 14
3.4. Durasi pelatihan 14
3.5. Tahapan pelatihan 14
3.6. Pelatihan / fasilitator pelatihan 15
3.7. Penyelenggara pelatihan 15
3.8. Peserta Pelatihan 16
3.9. Prosedur Penyelenggaraan Pelatihan 16
BAB IV PROSEDUR SERTIFIKASI DAN MASA BERLAKU
SERTIFIKAT ASESOR / MASTER ASESOR 16
4.1. Tujuan 16
4.2. Prosedur Sertifikasi 16
4.3. Sertifikasi dan Periode Penilaian 17
4.4. Sanksi dan Perbaikan 18
BAB V PENGENDALIAN ASESOR / MASTER ASESOR 21
5.1. Monitoring 21
5.2. Pelaporan 21
5.3. Evaluasi 22
5.4. Sanksi dan Perbaikan 22
Pedoman Asessor/ Master Asesor 2
BAB VI PENUTUP 23
LAMPIRAN-LAMPIRAN
BAB I
1.1. Latar Belakang
Implementasi sistim Pelatihan dan Penilaian Berbasis Kompetensi,
mensyaratkan tersedianya Asesor Kompetensi ( Workplace Assessors) sebagai
salah satu komponen utama dalam proses penilaian. Penilai memiliki posisi
dan peran yang strategis karena akan sangat menentukan kualitas uji
kompetensi yang dilakukan.
Asesor dengan kompetensi dan kewenangan yang dimilikinya dapat
merekomendasikan memutuskan apakah seseorang sudah kompeten atau
belum kompeten terhadap unit standar kompetensi yang dinilai. Asesor tidak
hanya dituntut untuk mampu menilai kompetensi seseorang, tetapi harus
mampu membimbing dan mengarahkan peserta uji untuk dapat menampilkan
seluruh kemampuan terbaik yang dimilikinya dalam memenuhi bukti-bukti yang
dipersyaratkan pada satu atau sekelompok unit kompetensi tertentu.
Dengan melihat posisi asesor seperti diuraikan diatas, perlu dipersiapkan suatu
mekanisme bagaimana mempersiapkan asesor yang ‘ qualified’ dan ‘certified’,
mulai dari penyeleksian, pelatihan serta uji kompetensi kepada calon asesor.
1.2. T u j u a n
Tujuan dari diterbitkannya Pedoman Asesor / Master Asesor ini adalah :
- Lembaga penyelenggara pelatihan dapat melaksanakan pelatihan Asesor di
Tempat Kerja (Workplace Assessment) sesuai dengan persyaratan BNSP.
- Asesor / Master Asesor dapat menjalankan wewenang, peran, kewajiban
serta aturan-aturan lain yang berhubungan dengan pelaksanaan uji
kompetensi sesuai dengan ketentuan BNSP.
Pedoman Asessor/ Master Asesor 3
- BNSP dapat mengendalikan dan menjaga kualitas pelatihan untuk Asesor,
kualitas Asesor dan kualitas uji kompetensi serta membina komunikasi dan
kerjasama antara BNSP dengan Asesor.
- Masyarakat/pengguna dan peserta uji kompetensi dapat memberikan fungsi
kontrol dan masukan terhadap Asesor serta pelaksanaan uji kompetensi
sesuai dengan ketentuan BNSP.
1.3. S a s a r a n
Sasaran yang ingin dicapai dengan diterbitkannya Pedoman Penilai / Master
Penilai ini adalah :
Tersedianya Asesor / Master Asesor yang kompeten dalam menjalankan uji
kompetensi sesuai dengan persyaratan dan ketentuan yang tercantum
dalam buku Pedoman Asesor / Master Asesor BNSP ini.
1.4. Ruang Lingkup
Ruang lingkup/isi pembahasan pada Pedoman Penilai / Master Penilai ini
meliputi :
- Pengertian, peran serta persyaratan Asesor / Master Asesor
- Pelatihan untuk Asesor / Master Asesor; serta
- Prosedur sertifikasi dan periode registrasi Asesor / Master Asesor.
1.5. Dasar Hukum
Dasar hukum yang melandasi pembuatan dan pelaksanaan Pedoman Asesor
dan Master Asesor adalah sebagai berikut :
Pedoman Asessor/ Master Asesor 4
1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian;
2. Undang-undang Nomor 1 tahun 1987 tentang Kamar Dagang dan Industri
3. Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi;
4. Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi
5. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan;
6. Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan;
7. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional;
8. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2004 tentang Badan Nasional
Sertifikasi Profesi;
9. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia
Nomor Kep. 227/MEN/2003 tentang Tata Cara Penetapan Standar
Kompetensi Kerja Nasional;
10. Keputusan Menteri tenaga Kerja dan transmigrasi Republik Indonesia
Nomor Kep. 69/MEN/2004 tentang Perubahan Lampiran Keputusan
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor Kep.
227/MEN/2003 tentang Tata Cara Penetapan Standar Kompetensi Kerja
Nasional;
1.6 Pengertian-pengertian
Dalam Pedoman Asesor / Master Asesor ini yang dimaksud dengan:
1. Kompetensi Kerja adalah spesifikasi dari setiap sikap, pengetahuan,
keterampilan dan atau keahlian serta penerapannya secara efektif dalam
pekerjaan sesuai dengan standar kinerja yang dipersyaratkan.
2. Sertifikasi Kompetensi Kerja adalah proses pemberian sertifikat
kompetensi yang dilakukan secara sistematis dan obyektif melalui uji
kompetensi yang mengacu kepada standar kompetensi kerja nasional
Indonesia atau regional atau internasional .
3. Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia yang selanjutnya disingkat
SKKNI adalah rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek
pengetahuan, keterampilan dan atau keahlian serta sikap kerja yang
Pedoman Asessor/ Master Asesor 5
relevan dengan pelaksanaan tugas dan syarat jabatan yang ditetapkan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
4. Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia yang selanjutnya disingkat KKNI
adalah kerangka penjenjangan kualifikasi kompetensi yang
memungkinkan penyetaraan dan pengintegrasian antara jalur pendidikan,
pelatihan kerja dan pengalaman kerja dalam rangka pemberian
pengakuan dan penghargaan profesi.
5. Profesi adalah suatu bidang pekerjaan yang untuk melakukannya
diperlukan kompetensi kerja yang dipersyaratkan serta memenuhi standar
yang ditentukan dimana didalamnya terkandung pula nilai-nilai dan kode
etik profesi.
6. Sertifikat Kompetensi adalah bukti pengakuan tertulis atas penguasaan
kompetensi kerja pada jenis profesi tertentu yang diberikan oleh Lembaga
Sertifikasi Profesi atau Badan Nasional Sertifikasi Profesi.
7. Lembaga Sertifikasi Profesi yang selanjutnya disingkat LSP adalah
lembaga pelaksana uji kompetensi dan sertifikasi kompetensi yang telah
diakreditasi oleh dan mendapatkan lisensi dari Badan Nasional Sertifikasi
Profesi.
8. Badan Nasional Sertifikasi Profesi yang selanjutnya disingkat BNSP adalah
lembaga independen yang bertugas melaksanakan sertifikasi kompetensi
yang dibentuk dengan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2004.
9. Uji Kompetensi adalah proses penilaian baik teknis maupun non teknis,
untuk menentukan apakah seseorang kompeten atau belum, kompeten
pada kualifikasi atau unit kompetensi tertentu.
10. Tempat Uji Kompetensi adalah tempat yang memenuhi persyaratan
sebagai tempat untuk melaksanakan uji kompetensi sesuai dengan materi
dan metoda uji kompetensi yang akan dilaksanakan.
11. Asesor Kompetensi adalah seseorang yang memiliki kompetensi dan
memenuhi persyaratan untuk melakukan uji kompetensi pada jenis dan
kualifikasi profesi tertentu.
Pedoman Asessor/ Master Asesor 6
BAB II
2.1. Fungsi Asesor/ Master Asesor
1. Fungsi Asesor
Asesor adalah orang yang memiliki fungsi untuk melaksanakan proses uji
kompetensi terhadap peserta uji (orang yang dinilai) berdasarkan tugas
yang diberikan oleh LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) atau BNSP (Badan
Nasional Sertifikasi Profesi).
2. Fungsi Master Asesor
Master Asesor adalah seorang Asesor yang memiliki fungsi tambahan untuk
melatih dan menilai Asesor / Master Asesor dalam rangka pelatihan dan
penilaian (uji kompetensi) serta mengkaji ulang dan merekomendasikan
perbaikan pelaksanaan uji kompetensi, mengembangkan pelatihan berbasis
kompetensi serta berpartisipasi dalam proses pengembangan standar
kompetensi.
2.2. Wewenang Asesor / Master Asesor
1. Wewenang Asesor
Wewenang seorang Asesor adalah memutuskan hasil uji kompetensi bahwa
Peserta Uji telah memenuhi bukti yang dipersyaratkan untuk dinyatakan
kompeten atau belum kompeten pada unit kompetensi yang dinilai serta
merekomendasikan hasil tersebut kepada LSP atau BNSP.
Pedoman Asessor/ Master Asesor 7
2. Wewenang Master Asesor
Wewenang yang dimiliki oleh Master Asesor adalah :
- memutuskan hasil uji kompetensi bahwa Peserta Uji telah memenuhi
bukti yang dipersyaratkan untuk dinyatakan kompeten atau belum
kompeten pada unit kompetensi yang dinilai serta merekomendasikan
hasil tersebut kepada LSP atau BNSP.
- menjadi pelatih pada program pelatihan Asesor/Master Asesor.
- memutuskan hasil uji kompetensi bahwa seorang calon Penilai/Master
Penilai telah memenuhi bukti yang dipersyaratkan untuk dinyatakan
kompeten pada unit-unit kompetensi yang dipersyaratkan serta
merekomendasikan hasil tersebut kepada BNSP.
2.3. Persyaratan Menjadi Asesor/Master Asesor
1. Persyaratan Menjadi Asesor
Persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjadi Asesor adalah :
- Mengikuti secara lengkap program Pelatihan Penilai Di Tempat Kerja
(Workplace Assessor Training Program)
- Melaksanakan minimal satu kali latihan/praktek uji kompetensi
- Melaksanakan minimal satu kali uji kompetensi sebenarnya ( real
assessment) sebagai asisten asesor atau melaksanakan minimal
dua kali uji kompetensi secara mandiri.
- Melaksanakan satu kali uji kompetensi sebenarnya ( real assessment)
yang sekaligus merupakan uji kompetensi asesor yang dilakukan
oleh Master Asesor.
- Direkomendasikan dan dinyatakan kompeten sebagai asesor uji
kompetensi sesuai dengan unit-unit kompetensi yang
dipersyaratkan.
- Memiliki pengalaman kerja industri atau pelatihan di industri/On the
Job Training atau kegiatan lain yang relevan.
Pedoman Asessor/ Master Asesor 8
- Memiliki kompetensi pada unit-unit Kompetensi yang sesuai dengan
bidangnya.
- Memiliki sertifikat kompetensi asesor uji kompetensi dan kartu
registrasi asesor yang dikeluarkan oleh BNSP.
2. Persyaratan Menjadi Master Asesor
Persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjadi Master Asesor adalah :
- Memiliki kompetensi sebagai seorang asesor uji kompetensi.
- Memiliki pengalaman melaksanakan uji kompetensi secara aktif
minimal 5 kali.
- Mengikuti program Pelatihan ‘ Training of Trainer’ untuk asesor yang
disetujui oleh BNSP.
- Melaksanakan pelatihan ‘Training of Trainer’ untuk asesor sebagai
asisten pelatih/instruktur minimal 1 kali.
- Melaksanakan pelatihan ‘Training of Trainer’ untuk asesor di Tempat
Kerja sebagai pelatih/instruktur dibawah pengawasan Master Asesor
minimal 1 kali.
- Melaksanakan uji kompetensi terhadap calon asesor dan master
asesor sebagai asisten minimal 1 kali.
- Melaksanakan penilaian terhadap calon asesor dan master asesor
dibawah supervisi master asesor minimal 1 kali.
- Direkomendasikan dan dinyatakan kompeten sebagai pelatih
’Training of Trainer’ sesuai dengan unit-unit kompetensi yang
dipersyaratkan.
- Memiliki sertifikat kompetensi pelatih asesor yang dikeluarkan oleh
BNSP.
Pedoman Asessor/ Master Asesor 9
2.4. Kompetensi Asesor / Master Asesor
1. Kompetensi Asesor
Kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang asesor adalah sebagai berikut :
1. Merencanakan Penilaian ( BSZ 401A )
2. Melaksanakan Penilaian ( BSZ 402A )
3. Mereview Penilaian ( BSZ 403A )
(Perincian unit kompetensi untuk Penilai terlampir)
2. Kompetensi Master Asesor
Kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang Master asesor adalah sebagai
berikut :
1. Merencanakan Penilaian ( BSZ 401A )
2. Melaksanakan Penilaian ( BSZ 402A )
3. Mereview Penilaian ( BSZ 403A )
4. Melatih Kelompok Kecil ( BSZ 404A )
5. Merencanakan dan Mempromosikan
Program Pelatihan ( BSZ 405A )
6. Merencanakan sejumlah sesi Pelatihan ( BSZ 406A )
7. Memberikan Pelatihan ( BSZ 407A )
8. Mereview Pelatihan ( BSZ 408A )
(Perincian kompetensi untuk Master asesor terlampir)
Pedoman Asessor/ Master Asesor 10
2.5. Peran Asesor / Master Asesor
1. Peran asesor
Peran dari seorang asesor adalah :
- Memberikan masukan-masukan terhadap perbaikan dan
pengembangan proses uji kompetensi.
- Berpartisipasi dalam aktifitas sosialisasi dan penerapan
pengembangan pelatihan dan penilaian berbasis kompetensi.
- Melaksanakan fasilitasi dan mentoring implementasi pelatihan
berbasis kompetensi di tempat kerja.
2. Peran Master Asesor
Peran dari seorang Master Asesor adalah :
- Memberikan masukan-masukan terhadap perbaikan dan
pengembangan proses uji kompetensi.
- Berpartisipasi dalam aktifitas penerapan dan pengembangan
pelatihan berbasis kompetensi.
- Melaksanakan fasilitasi dan mentoring implementasi pelatihan
berbasis kompetensi di tempat kerja.
- Berpartisipasi dalam aktifitas pengembangan profesional proses uji
kompetensi, termasuk mengkaji ulang uji kompetensi setiap enam
bulan atau sesuai dengan kebutuhan.
2.6. Karakteristik Asesor / Master Asesor :
Karakteristik umum yang perlu dimiliki oleh Asesor dan Master Asesor sebagai
persyaratan tambahan dalam mendukung proses uji kompetensi yang efektif,
meliputi :
- Memiliki pengetahuan praktis mengenai hal-hal yang berkaitan dengan
perkembangan industri/tempat kerja pada saat ini.
- Memiliki pengetahuan praktis perkembangan uji kompetensi yang
berlangsung pada saat ini.
Pedoman Asessor/ Master Asesor 11
- Memiliki tingkat kecakapan bahasa, membaca dan menulis serta
perhitungan yang mendukung.
- Memiliki latarbelakang pengalaman yang memadai mengenai bidang-
bidang/unit-unit kompetensi yang akan dujikan
- Memiliki pengembangan hubungan interpersonal yang baik
- Memiliki kemampuan menulis laporan
- Memiliki kemampuan berkomunikasi serta
- Memiliki kemampuan untuk membuat keputusan
Pedoman Asessor/ Master Asesor 12
BAB III
3.1. Tujuan Pelatihan
Tujuan Pelatihan asesor adalah untuk menghasilkan Asesor Uji Kompetensi
yang memiliki kompetensi dibidang uji kompetensi/penilaian yang meliputi :
Merencanakan Penilaian, Melaksanakan Penilaian serta Mengkaji Ulang
(Review) Penilaian.
Sedangkan tujuan Pelatihan Master asesor adalah untuk mencetak Master
asesor kompetensi yang memiliki kompetensi dibidang uji kompetensi/penilaian
serta kompetensi dibidang pelatihan untuk memenuhi persyaratan menjadi
Pelatih/Trainer pada pelatihan ‘Training of Trainer’ untuk asesor.
3.2. Materi Pelatihan
1. Materi Pelatihan Asesor
Materi pelatihan asesor uji kompetensi secara garis besar meliputi :
Pengertian dan konsep uji kompetensi/penilaian
Langkah-langkah dalam melaksanakan uji kompetensi/penilaian
Merencanakan penilaian
Melaksanakan penilaian
Mengkaji ulang (me-review) penilaian
Metode uji kompetensi
Teknik wawancara
Prosedur uji kompetensi : Pengakuan Kompetensi Terkini
(Recognition of current competency)
Administrasi uji kompetensi/penilaian
Latihan / praktek uji kompetensi
Pedoman Asessor/ Master Asesor 13
2. Materi Pelatihan Master Asesor
Materi pelatihan untuk Master Asesor terdiri dari materi pelatihan untuk
asesor ditambah dengan materi-materi tentang kepelatihan yang meliputi :
-
-
3.3. Metoda Pelatihan
Metoda pelatihan yang digunakan, meliputi :
- Ceramah/teori
- Diskusi
- Tanya jawab
- Studi kasus
- Simulasi
- Latihan/praktek
- Serta metoda-metoda lain yang relevan
3.4. Durasi Pelatihan
Durasi pelatihan untuk asesor kompetensi minimal dilaksanakan selama minimal
5 (lima) hari atau 40 jam, termasuk simulasi dan latihan/praktek diluar uji
kompetensi mandiri serta penilaian sebenarnya atau ‘ real assessment’.
Sedangkan durasi untuk pelatihan ‘Pelatih Assessor’ adalah sama dengan durasi
pelatihan asesor ditambah minimal 5 (lima) hari atau 40 jam untuk pelatihan
mengenai kepelatihan atau ’Training of Trainers’’.
Pelaksanaan pelatihan asesor atau master asesor dapat dilaksanakan secara
berturut-turut atau bertahap sesuai dengan kebutuhan. Untuk pelaksanaan
penilaian sebenarnya sebaiknya direncanakan waktu khusus sesuai dengan
kesiapan calon Asesor / Master Asesor, peserta uji serta perusahaan/institusi
yang menjadi tempat uji kompetensi.
Pedoman Asessor/ Master Asesor 14
3.5. Tahapan Pelatihan
Tahap-tahap dalam paket pelatihan untuk Asesor/Master Asesor sampai dengan
proses penilaian adalah sebagai berikut :
1. Tahap pelatihan teori.
2. Tahap pelatihan praktek, minimal 1 kali latihan.
3. Tahap penilaian mandiri, minimal 2 kali uji kompetensi atau melaksanakan
asistensi uji kompetensi minimal 1 kali.
3.6. Pelatih/Fasilitator Pelatihan
Kualifikasi pelatih atau fasilitator yang dapat memberikan pelatihan pada
program ‘Pelatihan Penilai di Tempat Kerja’ adalah :
- Memiliki sertifikat sebagai Master Asesor yang dikeluarkan oleh BNSP
(Badan Nasional Sertifikasi Profesi).
- Memiliki pengalaman sebagai team Pelatih pada pelatihan ‘Penilai di
Tempat Kerja’ dan pelatihan ‘Pelatih Assessor’.
- Memiliki pengalaman dalam melaksanakan uji kompetensi terhadap calon
asesor dan master asesor.
3.7. Penyelenggara Pelatihan
Penyelenggara pelatihan asesor uji kompetensi adalah lembaga pendidikan,
lembaga pelatihan atau lembaga-lembaga konsultasi yang telah memenuhi
persyaratan sebagai berikut :
- Penyelenggara pelatihan dapat merupakan lembaga pendidikan, lembaga
pelatihan serta lembaga konsultasi di bidang pengembangan SDM dengan
menunjukkan bukti-bukti keabsahan kelembagaan
- Lembaga penyelenggara pelatihan memiliki kerjasama dengan Lembaga
Sertifikasi Profesi (LSP) dalam hal informasi dan rekomendasi keikutsertaan
Pedoman Asessor/ Master Asesor 15
peserta pelatihan yang terkait dengan bidang profesi LSP yang
bersangkutan.
- Lembaga penyelenggara pelatihan dapat menyediakan seluruh fasilitas yang
dibutuhkan serta sumber-sumber lain yang relevan
- Penyelenggara memiliki sistim dokumentasi yang memadai sebagai bagian
dari proses pengendalian mutu pelatihan asesor.
- Penyelenggara pelatihan dapat memenuhi persyaratan dan ketentuan yang
berhubungan dengan ketentuan penyelenggaraan pelatihan asesor uji
kompetensi.
3.8. Peserta Pelatihan
Peserta pelatihan asesor adalah tenaga kerja yang telah memenuhi
persyaratan sebagai berikut :
- Peserta pelatihan telah mengikuti pelatihan ’CBT Awareness’.
- Peserta pelatihan memiliki latar belakang pendidikan, pelatihan serta
pengalaman yang relevan terkait dengan bidang profesinya.
- Peserta pelatihan telah mendapatkan rekomendasi atau diusulkan oleh LSP
yang terkait dengan bidang profesinya.
- Apabila pada sektor/profesi yang bersangkutan belum ada LSP-nya, peserta
diusulkan oleh asosiasi profesi, asosiasi industri, instansi teknis, industri,
lembaga pendidikan/pelatihan serta institusi lain yang relevan.
Untuk mencapai efektifitas pelatihan asesor, jumlah peserta pelatihan dibatasi
16 – 20 orang untuk setiap angkatan.
3.9. Prosedur Penyelenggaraan Pelatihan
Prosedur penyelenggaraan pelatihan asesor uji kompetensi adalah sebagai
berikut :
1. Lembaga penyelenggara pelatihan mengajukan surat permohonan kepada
BNSP untuk melaksanakan Pelatihan Asesor Uji Kompetensi.
2. Lembaga penyelenggara mendapatkan penjelasan, surat/form pendaftaran
serta persyaratan-persyaratan pelatihan dari BNSP.
Pedoman Asessor/ Master Asesor 16
3. Lembaga penyelenggara mendaftarkan diri dengan melengkapi persyaratan
yang ditetapkan oleh BNSP.
4. Berdasarkan persyaratan yang ditetapkan, BNSP memeriksa dan
memastikan bahwa semua persyaratan penyelenggaraan pelatihan sudah
terpenuhi.
5. Lembaga penyelenggara pelatihan melaksanakan Pelatihan Asesor Uji
Kompetensi sesuai dengan ketentuan yang ada pada bagian dua dari buku
pedoman ini.
6. Lembaga penyelenggara pelatihan melaporkan peserta yang sudah
mengikuti pelatihan secara lengkap serta sudah memenuhi persyaratan
untuk menjadi calon asesor kepada BNSP.
Pedoman Asessor/ Master Asesor 17
BAB IV
4.1. Tujuan Sertifikasi
Tujuan sertifikasi asesor dan master asesor adalah untuk memberikan
pengakuan serta bukti tertulis bahwa asesor dan master asesor yang namanya
tertera pada sertifikat telah memenuhi seluruh persyaratan yang telah
ditetapkan. Sertifikat ini sekaligus sebagai dasar kewenangan bagi asesor dan
master asesor untuk melaksanakan proses uji kompetensi.
4.2. Prosedur Sertifikasi
Prosedur sertifikasi yang harus diikuti oleh peserta/calon asesor adalah Sebagai
berikut :
1. Calon asesor mengajukan aplikasi/permohonan untuk mengikuti proses
sertifikasi kepada BNSP.
2. Calon asesor melengkapi persyaratan yang ditetapkan oleh BNSP.
3. calon asesor menetapkan jadwal untuk pelaksanaan uji kompetensi
mandiri atau magang/asistensi uji kompetensi.
4. BNSP mengkoordinasikan penilaian serta menunjuk Tim Master Asesor
yang sudah terdaftar di BNSP untuk melaksanakan penilaian kepada
peserta pelatihan (calon Penilai).
5. BNSP, berdasarkan keputusan serta rekomendasi hasil penilaian dari
Master Penilai, mengevaluasi dan memberikan pengesahan terhadap
keputusan penilaian tersebut.
6. Peserta yang dinyatakan kompeten akan mendapatkan sertifikat
kompetensi sebagai asesor dari BNSP.
Pedoman Asessor/ Master Asesor 18
7. Peserta yang dinyatakan belum kompeten, penanganannya akan dilakukan
oleh BNSP bekerjasama dengan LSP, instansi teknis, institusi
pendidikan/pelatihan serta lembaga terkait lainnya untuk diproses lebih
lanjut.
4.3. Sertifikasi dan Masa Berlaku Sertifikat
Ketentuan mengenai sertifikasi dan periode (masa berlaku) sertifikat
asesor/master asesor, diatur sebagai berikut :
1. Sertifikasi Asesor/Master Asesor
- Sertifikat kompetensi sebagai asesor/master asesor dikeluarkan oleh
BNSP kepada calon yang telah memenuhi seluruh persyaratan yang telah
ditetapkan sesuai dengan prosedur sertifikasi.
- Sertifikat kompetensi untuk asesor/master asesor pada bidang standar
kompetensi industri, dikeluarkan oleh LSP.
- Asesor/master asesor yang telah memiliki sertifikat dari BNSP dan
sertifikat kompetensi industri, akan memperoleh kartu asesor/master
asesor yang merupakan tanda/identitas kewenangan sebagai
asesor/master asesor yang harus dimiliki/dibawa dalam melaksanakan uji
kompetensi.
- Kartu asesor/master asesor memiliki masa aktif dalam jangka waktu
tertentu yang harus diperpanjang/diregistrasi ulang sesuai dengan
ketentuan BNSP.
2. Periode dan Registrasi Asesor/Master Asesor
Periode (masa berlaku) sertifikat / kartu asesor dan master asesor adalah
dua tahun. Setelah periode dua tahun, asesor/master asesor diharuskan
melakukan registrasi ulang kepada BNSP.
Persyaratan mengenai perpanjangan masa berlaku sertifikat / kartu asesor
dan master asesor serta registrasi ulang adalah sebagai berikut :
- Asesor dan master asesor melaksanakan minimal satu kali penilaian
dalam kurun waktu dua bulan.
Pedoman Asessor/ Master Asesor 19
- Berpartisipasi dalam program pengembangan materi uji kompetensi,
termasuk pengkajian ulang terhadap pelaksanaan uji kompetensi
yang dilaksanakan setiap enam bulan (untuk asesor).
- Mengelola dan/atau berpartisipasi dalam program pengembangan
materi uji kompetensi dan pengembangan asesor termasuk
pengkajian ulang terhadap sistim uji kompetensi dan penilaian yang
dilaksanakan setiap enam bulan (untuk master asesor).
- Melaksanakan pelatihan asesor uji kompetensi minimal satu kali
dalam kurun waktu satu tahun (untuk master asesor).
- Melaksanakan bimbingan dan penilaian terhadap calon asesor/master
asesor, minimal satu kali dalam kurun waktu satu tahun (untuk
master asesor).
- Dalam melaksanakan registrasi ulang, asesor / master asesor diminta
untuk menunjukkan bukti uji kompetensi yang telah dilakukan.
Asesor atau master asesor yang tidak aktif selama kurun waktu 2 tahun
terakhir diwajibkan mengikuti pelatihan ulang.
Asesor atau master asesor yang tidak aktif selama kurun waktu 1 tahun
terakhir diwajibkan mengikuti penilaian ulang
Pedoman Asessor/ Master Asesor 20
BAB V
5.1. Monitoring
Monitoring bertujuan untuk mengawasi dan memastikan bahwa pelaksanaan uji
kompetensi telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan
oleh BNSP.
Monitoring terhadap asesor/master asesor dilaksanakan melalui proses survailen
yang dilaksanakan minimal satu tahun sekali. Ruang lingkup survailen meliputi
audit dokumentasi uji kompetensi yang telah dilaksanakan maupun observasi
langsung terhadap pelaksanaan uji kompetensi.
Proses monitoring dilaksanakan oleh tim yang ditunjuk oleh BNSP bekerjasama
dengan LSP terkait.
5.2. Pelaporan
Pelaporan bertujuan untuk mendokumentasikan secara obyektif hasil monitoring
yang sudah dilakukan. Materi pelaporan dibuat berdasarkan hasil survailen yang
meliputi pengkajian terhadap dokumentasi proses uji kompetensi dan/atau
terhadap proses uji kompetensi yang dilaksanakan secara langsung.
Materi pelaporan minimal meliputi :
- Kesesuaian materi uji kompetensi terhadap standar kompetensi
- Penerapan dan pengembangan metoda uji kompetensi
- Penerapan dan pengembangan sumber-sumber daya uji kompetensi
- Penerapan prinsip-prinsip uji kompetensi
- Validitas proses uji kompetensi
- Kelayakan tempat uji kompetensi
Pedoman Asessor/ Master Asesor 21
- Kesesuaian proses uji kompetensi terhadap keputusan/rekomendasi hasil uji
kompetensi
- Dokumentasi/adminstrasi uji kompetensi
Laporan uji kompetensi dibuat oleh tim monitoring yang dibentuk BNSP.
5.3. Evaluasi
Evaluasi dimaksudkan sebagai tidak lanjut dari laporan yang sudah dibuat
berupa analisa dan pengkajian terhadap kinerja asesor/master asesor sesuai
dengan ruang lingkup materi pelaporan.
Hasil evaluasi berupa rekomendasi terhadap asesor yang dimonitor terkait
dengan peninjauan terhadap kelayakan asesor dalam melaksanakan uji
kompetesi.
5.4. Sanksi dan Perbaikan
Kewenangan sebagai asesor / master asesor akan ditinjau ulang atau dicabut
dengan ketentuan sebagai berikut :
- Asesor untuk sementara tidak diperbolehkan melaksanakan uji kompetensi,
apabila dalam kurun waktu enam bulan berturut-turut tidak pernah
melaksanakan uji kompetensi.
Asesor diperbolehkan melaksanakan uji kompetensi kembali setelah
melakukan perbaikan berupa satu kali uji kompetensi yang disupervisi oleh
master asesor yang ditunjuk oleh BNSP.
- Asesor akan dicabut kewenangannya untuk melaksanakan uji kompetensi
apabila dalam kurun waktu duabelas bulan berturut-turut tidak pernah
melaksanakan uji kompetensi di tempat kerja.
Kewenangan untuk melaksanakan uji kompetensi akan diberikan setelah
asesor melaksanakan program perbaikan berupa :
Melaksanakan program pendalaman/up grading dibidang uji
kompetensi sebagai asesor dibawah pengarahan dan bimbingan
master asesor yang ditunjuk BNSP.
Melaksanakan satu kali uji kompetensi dibawah supervisi master
asesor yang ditunjuk oleh BNSP.
Pedoman Asessor/ Master Asesor 22
- Asesor akan dicabut kewenangannya untuk menilai apabila dengan sengaja
melanggar ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam pedoman uji
kompetensi atau menyalahgunakan kewenangan yang dimilikinya.
Kewenangan sebagai asesor akan diberikan kembali, setelah memenuhi
program perbaikan dan persyaratan tertentu yang ditetapkan oleh BNSP
sesuai dengan jenis pelanggaran yang ditentukan.
BAB VI
Pada prinsipnya rekomendasi yang dikeluarkan oleh Asesor dan Master Asesor kepada
LSP/BNSP dari hasil uji kompetensi peserta penilaian/uji kompetensi merupakan dasar
keputusan dalam mendapatkan sertifikat kompetensi.
Dengan demikian, merupakan suatu keharusan bahwa seorang asesor dipersiapkan
dengan sebaik-baiknya, agar hasil kerjanya dalam memutuskan kompetensi seseorang
betul-betul dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan dan persyaratan
yang dikeluarkan oleh BNSP, seperti yang terdapat pada Pedoman Asesor / Master
asesor ini.
Keberadaan asesor yang kompeten dalam jumlah memadai, diharapkan dapat
mendukung kerangka kerja yang dikembangkan oleh BNSP bersama-sama dengan
LSP-LSP, dimana sasaran akhirnya adalah tersedianya SDM (Sumber Daya Manusia)
yang kompeten, profesional dan memiliki daya saing tinggi dalam memenuhi
kebutuhan dunia kerja di dalam dan di luar negeri.
Semoga dengan diterbitkannya ‘Pedoman Asesor / Master Asesor ini’, dapat
memberikan manfaat kepada lembaga-lembaga maupun individu yang memiliki
kepentingan dan keterkaitan dengan penyelenggaraan proses pelatihan dan penilaian
berbasis kompetensi di Indonesia.
Pedoman Asessor/ Master Asesor 23
LAMPIRAN - LAMPIRAN
Pedoman Asessor/ Master Asesor 24