Makalah Transaksi dalam
Mata Uang Asing
Disusun oleh 1:
1. ALVIN MAULANA [A1C117005]
2. DEVI FEBRIYANTI SAFITRI [A1C117020]
3. DWI MULYA RAMADANTI [A1C117022]
4. GHEA PUTRI SUAND [A1C117030]
5. ELSA IN AMIARTI [A1C117025]
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MATARAM
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillah, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali
yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam atas
segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya,
sehingga penyusun dapat menyelesaikan Makalah dengan judul ”Transaksi Mata
Uang Asing ”. Dalam penyusunannya, kami memperoleh banyak bantuan
Informasi dari berbagai pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada: Kedua orang tua dan segenap keluarga yang telah
memberikan dukungan, kasih sayang, dan kepercayaan yang begitu besar. Dari
sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan sedikit
kebahagiaan dan menuntun pada langkah kami yang lebih baik lagi. Meskipun
kami berharap isi dari Makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun
mungkin akan selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik
dan saran yang membangun agar Makalah ini dapat lebih baik [Link] kata
penyusun berharap agar Makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.
Mataram, 24 Agustus 2019
Penyusun,
TRANSAKSI MATA UANG ASING ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii
DAFTAR ISI.......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang ........................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah ...................................................................................... 2
1.3. Tujuan ........................................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................... 3
2.1. PSAK 10: Transaksi Mata Uang Asing ..................................................... 3
2.2. PSAK 11: Penjabaran Laporan Keuangan dalam Mata Uang Asing ........ 9
2.3. PSAK 52: Mata Uang Pelaporan ............................................................... 12
2.4. ISAK NO. 4: Interpretasi atas Paragraf 32 PSAK 10 Tentang
Alternatif Perlakuan yang Diizinkan atas Selisih Kurs ............................. 17
2.5. SFAS 52: Foreign Currency Translation ................................................... 19
BAB III PENUTUP ............................................................................................... 26
3.1. Kesimpulan ................................................................................................ 26
3.2. Saran .......................................................................................................... 27
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 28
TRANSAKSI MATA UANG ASING iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Terbukanya dunia global diantara bangsa-bangsa bukan merupakan hal positif
saja yang dapat diperoleh, melainkan dampak negatif pun harus dinikmati. Bermula
dengan meluasnya ekonomi dan bisnis internasional dan terbuka lebar di belahan
dunia, semakin mendorong terjadinya resiko bisnis yang semakin besar. Hal tersebut
tidak dapat dipungkiri karena memang transaksi atas kegiatan ekonomi
dan bisnis global banyak dipengaruhi oleh banyak faktor yang tidak pasti, misalnya
saja kurs mata uang.
Kurs mata uang merupakan faktor penting yang menetukan harga sebuah
transaksi antar Negara yang melakukan kegiatan ekonomi dan bisnis. Ketika
nilai kurs (dollar) menguat, maka akan memberikan sinyak bagi negara-negara yang
melakukan transaksi dengan mata uang dollar akan mengurangi impornya atau
transaksinya, kondisi ini akan merugikan bagi importir.
Kurs mata uang memang krusial posisinya dalam transaksi internasional
sehingga beberapa pelaku bisnis memberikan solusi dengan melakukan kontrak
derevatif, dimana hal ini akan menjawab ketidakpastiaan bisnis yang selama ini
menjadi polemik diantara mereka. Kontrak derevatif melalui lindung nilai akan
mengurangi resiko bisnis karena kontrak ini akan memberikan jaminan bagi
pelaku bisnis atas pergerakan kurs mata uang yang terjadi.
Risiko perubahan kurs mata uang asing bagi perusahaan multinasional
berdampak pada tingkat profitabilitas, arus kas bersih, dan nilai pasar [Link]
risiko perubahan kurs tersebut, perusahaan dapat melakukan lindung nilai dengan
menggunakan instrumen kontrak forward [Link] aspek pajak dari derivatif
dan lindung nilai ini sangat perlu dikuasai oleh para praktisi di lapangan.
Perusahaan yang melakukan transaksi lintas negara (cross-border) terutama
ekspor-impor pada umumnya akan dihadapkan pada risiko perubahan kurs mata uang
asing, atau memiliki eksposur mata uang asing (foreign exchange exposure). Risiko
perubahan kurs tersebut mempunyai dampak potensial pada tingkat
profitabilitas, aruskas bersih dan nilai pasar perusahaan.
TRANSAKSI MATA UANG ASING 1
Yang menjadi pertanyaan penting adalah apa yang akan terjadi pada suatu
perusahaan jika kurs mata uang asing mengalami perubahan? Menurut Eiteman,
Stonehill dan Moffett, terdapat 3 (tiga) tipe risiko perubahan kurs mata uang asing,
yaitu transaksi, operasional dan translasi.
Eksposur transaksi (transaction exposure) disebutkan untuk mengukur
perubahan dalam nilai piutang atau kewajiban keuangan yang belum jatuh tempo atau
dibayar, yang timbul sebelum perubahan dalam kurs mata uang asing tertentu, sampai
dengan dibayar atau pelunasan di mana telah terjadi perubahan kurs mata uang asing
tertentu. Dengan demikian, ia terkait dengan perubahan dalam arus kas yang berasal
dari kewajiban kontraktual yang sudah ada, atau arus kas di masa depan yang sudah
terikat dalam suatu kontrak atau perjanjian (contractual future cash flows). Risiko ini
pada umumnya terjadi pada piutang dagang dan utang dagang dalam mata uang asing.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalahnya
adalah apa saja ruang lingkup transaksi dalam mata uang asing, derivatif dan lindung
nilai?
1.3. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini selain untuk memenuhi tugas dari mata kuliah
Akuntansi Keuangan dan sebagai pengingat di kala lupa bagi pembaca pada
umumnya serta untuk mengatasi masalah-masalah yang terjadi disekitar kita terkait
pembahasan ini.
TRANSAKSI MATA UANG ASING 1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. PSAK 10: Transaksi Mata Uang Asing
Suatu perusahaan dapat melakukan aktivitas yang menyangkut valuta asing
(foreign activities) dalam dua cara yakni melakukan transaksi dalam mata uang asing
atau memiliki kegiatan usaha luar negeri (foreign operations). Untuk memasukkan
transaksi dalam valuta asing pada laporan keuangan suatu perusahaan, transaksi
tersebut harus dinyatakan dalam mata uang pelaporan perusahaan.
Pernyataan ini mengatur akuntansi untuk transaksi dalam mata uang asing
yang meliputi penentuan kurs yang digunakan dan pengakuan pengaruh keuangan dari
perubahan kurs vauta asing dalam laporan keuangan.
Ruang Lingkup
Pernyataan ini harus diterapkan dalam akuntansi untuk transaksi dalam valuta
asing. Dimana pernyataan ini mengatur akuntansi hedge sebatas selisih kurs dalam
transaksi hedge. Aspek lain dari akuntansi hedge diatur dalam standar akuntansi
keuangan terkait.
Pernyataan ini tidak mengatur tentang penjabaran laporan keuangan dari
kegiatan usaha luar negeri untuk tujuan konsolidasi, atau konsolidasi parsial, atau
melalui penerapan dengan metode ekuitas (lihat Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan No. 11 tentang Penjabaran Laporan Keuangan dalam Mata Uang Asing)
dan pernyataan ini tidak mengatur penyajian laporan arus kas tentang arus kas yang
bersumber dari transaksi valuta asing (lihat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
No. 2 tentang Laporan Arus Kas).
Definisi
Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam pernyataan ini:
1. Kegiatan usaha luar negeri (foreign operation) adalah suatu anak perusahaan
(subsidiary), perusahaan asosiasi (associates), usaha patungan (joint venture)
atau cabang perusahaan pelapor, yang aktivitasnya dilaksanakan di suatu
negara di luar negara perusahaan pelapor. Kegiatan usaha tersebut dapat
merupakan suatu bagianintegral dari suatu perusahaan pelapor atau suatu
entitas [Link] asing (foreign entity) adalah suatu kegiatan usaha luar
TRANSAKSI MATA UANG ASING 1
negeri (foreign operation), yang aktivitasnya bukan merupakan suatu
bagian integral dari perusahaan pelapor.
2. Mata uang pelaporan adalah mata uang yang digunakan dalam menyajikan
laporan keuangan.
3. Mata uang asing adalah mata uang selain mata uang pelaporan suatu
perusahaan.
4. Kurs adalah rasio pertukaran dua mata uang.
5. Selisih kurs (exchange difference) adalah selisih yang dihasilkan dari
pelaporan jumlah unit mata uang asing yang sama dalam mata uang pelaporan
pada kurs yang berbeda.
6. Kurs penutup (closing rate) adalah nilai tukar spot pada tanggal neraca.
7. Investasi neto dalam suatu entitas asing adalah bagian (share) perusahaan
pelapor dalam aktiva neto suatu entitas asing.
8. Pos moneter adalah kas dan setara kas, aktiva dan kewajiban yang akan
diterima atau dibayar yang jumlahnya pasti atau dapat ditentukan.
9. Nilai wajar (fair value) adalah suatu jumlah yang dapat digunakan sebagai
dasar pertukaran aktiva atau penyelesaian kewajiban antara pihak yang paham
(knowledgeable) dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar (arm's
length transaction).
Pengakuan Awal
Suatu transaksi dalam mata uang asing adalah suatu transaksi yang didenominasi
atau membutuhkan penyelesaian dalam suatu mata uang asing, termasuk transaksi
yang timbul ketika suatu perusahaan:
1. Membeli atau menjual barang atau jasa yang harganya didenominasi dalam
suatu mata uang asing.
2. Meminjam (hutang) atau meminjamkan (piutang) dana yang didenominasi
dalam suatu mata uang asing.
3. Menjadi suatu pihak untuk suatu perjanjian dalam valuta asing yang belum
terlaksana; atau
4. Memperoleh atau melepaskan aktiva, menimbulkan atau melunasi kewajiban,
yang didenominasi dalam suatu mata uang asing.
TRANSAKSI MATA UANG ASING 1
Transaksi dalam mata uang asing dibukukan dengan menggunakan kurs pada
saat terjadinya transaksi. Kurs tunai yang berlaku pada tanggal transaksi sering
disebut kurs spot (spot rate). Untuk alasan praktis, suatu kurs yang mendekati kurs
tanggal transaksi sering digunakan, contohnya, suatu kurs rata-rata selama seminggu
atau sebulan mungkin digunakan untuk seluruh transaksi dalam setiap mata uang
asing yang terjadi selama periode itu. Namun, jika kurs berfluktuasi secara signifikan,
penggunaan kurs rata-rata untuk satu periode tidak dapat diandalkan.
Pelaporan Pada Tanggal Neraca Berikutnya
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada setiap tanggal neraca:
1. Pos aktiva dan kewajiban moneter dalam mata uang asing dilaporkan ke dalam
mata uang rupiah dengan menggunakan kurs tanggal neraca. Apabila terdapat
kesulitan dalam menentukan kurs tanggal neraca, maka dapat digunakan kurs
tengah Bank Indonesia sebagai indikator yang obyektif.
2. Pos non- moneter tidak boleh dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal
neraca tetapi tetap harus dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal
transaksi, dan
3. Pos non- moneter yang dinilai dengan nilai wajar dalam mata uang asing harus
dilaporkan dengan menggunakan kurs yang berlaku pada saat nilai tersebut
ditentukan.
Nilai terbawa dari suatu pos ditentukan sesuai dengan standar akuntansi yang
relevan. Misalnya, instrumen keuangan dan properti tertentu (investasi yang
dilakukan Dana Pensiun), mungkin dinilai pada nilai wajar atau pada biaya historis.
Apakah nilai tercatat ditentukan berdasarkan biaya historis atau nilai wajar, nilai yang
ditentukan untuk pos valuta asing dilaporkan pada mata uang pelaporan sesuai dengan
Pernyataan ini.
Untuk setiap tanggal neraca:
1. Pos aktiva dan kewajiban moneter dalam mata uang asing dilaporkan ke dalam
mata uang rupiah dengan menggunakan kurs tanggal neraca;
2. Pos non-moneter tidak boleh dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal
neraca tetapi tetap harus dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal
transaksi; dan
TRANSAKSI MATA UANG ASING 1
3. Pos non- moneter yang dinilai dengan nilai wajar dalam mata uang asing harus
dilaporkan dengan menggunakan kurs yang berlaku pada saat nilai tersebut
ditentukan.
Pengakuan Selisih Kurs (Recognition of Exchange Differences)
Pernyataan ini mengatur akuntansi hedge sebatas selisih kurs dalam transaksi
hedge. Aspek lain dari akuntansi hedge diatur dalam standar akuntansi keuangan
terkait. Kecuali untuk selisih penjabaran pos aktiva dan kewajiban moneter dalam
mata uang asing pada tanggal neraca dan laba rugi kurs yang timbul dari transaksi
dalam mata uang asing dikreditkan atau dibebankan pada laporan laba rugi periode
berjalan.
Selisih kurs timbul apabila terdapat perubahan kurs antara tanggal transaksi
dan tanggal penyelesaian (settlement date) pos moneter yang timbul dari transaksi
dalam mata uang asing. Bila timbulnya dan penyelesaian suatu transaksi berada dalam
suatu periode akuntansi yang sama, maka seluruh selisih kurs diakui dalam periode
tersebut. Namun jika timbulnya dan diselesaikannya suatu transaksi berada dalam
beberapa periode akuntansi, maka selisih kurs harus diakui untuk setiap periode
akuntansi dengan memperhitungkan perubahan kurs untuk masing-masing periode.
Selisih penjabaran pos aktiva dan kewajiban moneter dalam mata uang asing
pada tanggal neraca dan laba rugi kurs yang timbul dari transaksi dalam mata uang
asing dikreditkan atau dibebankan pada laporan laba rugi periode berjalan.
Transaksi Valuta Berjangka
Salah satu transaksi valuta berjangka SWAP adalah transaksi pertukaran dua
valuta asing melalui pembelian tunai dengan penjualan kembali secara berjangka
atau penjualan tunai dengan pembelian kembali secara berjangka. Pada hakekatnya
transaksi tersebut dilakukan untuk lebih mendapatkan kepastian tentang kurs
penjabaran yang bersifat tetap selama dalam kontrak sehingga pembuat transaksi
terhindar dari kerugian akibat perubahan kurs. Dalam transaksi SWAP pembuat
transaksi umumnya memperhitungkan premi yang ditetapkan terlebih dahulu.
TRANSAKSI MATA UANG ASING 1
Perlakuan akuntansi transaksi valuta berjangka yang dilakukan untuk tujuan
hedging hutang adalah sebagai berikut:
1. Selisih kurs tunai (spot rate) dan kurs masa depan (forward rate) dicatat
sebagai diskonto atau premi yang arus diamortisasi sesuai dengan jangka
waktu kontrak valuta berjangka.
2. Setiap akhir periode harus dihitung selisih kurs untuk hutang dalam mata uang
asing (yang diproteksi melalui hedging), forward receivable dan forward
payable dalam mata uang asing. Selisih kurs yang timbul sebagai akibat
perbedaan antara kurs tanggal neraca dengan kurs tunai pada saat terjadinya
transaksi diakui sebagai keuntungan atau kerugian kurs periode berjalan.
3. Dalam neraca, forward receivable atau forward payable, dan diskonto atau
premi yang belum diamortisasi yang timbul dari kontrak valuta berjangka
yang berhubungan harus dijadikan satu di bagian aktiva atau kewajiban,
tergantung pada posisi neto dari seluruh pos tersebut.
Investasi Neto dalam suatu Entitas Asing.
Selisih kurs yang timbul pada suatu pos moneter yang dalam substansinya
membentuk bagian investasi neto perusahaan dalam suatu entitas asing harus
diklasifikasikan sebagai ekuitas dalam laporan keuangan perusahaan hingga saat
pelepasan (disposal) investasi neto dan pada saat tersebut harus diakui sebagai
pendapatan atau beban.
Suatu perusahaan mungkin memiliki suatu pos moneter berupa hutang piutang
dengan suatu entitas asing. Apabila timbulnya dan penyelesaian pos moneter tersebut
tidak terencana, dalam substansinya merupakan suatu perluasan, atau pengurangan
dari, investasi neto perusahaan dalam entitas asing tersebut. Pos moneter itu mungkin
mencakup piutang jangka panjang atau pinjaman tetapi tidak mencakup piutang
dagang atau hutang dagang.
Selisih kurs yang timbul dari kewajiban valuta asing yang diperhitungkan
sebagai suatu hedging dari investasi neto perusahaan dalam suatu entitas asing harus
diklasifikasikan sebagai ekuitas dalam laporan keuangan perusahaan hingga pelepasan
(disposal) investasi neto, dan pada saat tersebut harus diakui sebagai pendapatan atau
sebagai beban.
TRANSAKSI MATA UANG ASING 1
Perlakuan Alternatif yang Diijinkan
Selisih kurs dapat disebabkan karena suatu devaluasi atau depresiasi luar biasa
suatu mata uang dalam keadaan tidak tersedia fasilitas hedging dan menimbulkan
kewajiban yang tak terselesaikan akibat-perolehan aktiva yang baru saja dilakukan
dan harus dilunasi dalam mata uang asing. Selisih kurs tersebut dapat dimasukkan
sebagai nilai tercatat (carrying amount) aktiva tersebut sepanjang nilai tercatat aktiva
yang telah disesuaikan tidak melebihi jumlah terendah antara biaya pengganti
(replacement cost) dan jumlah yang dapat diperoleh kembali (amount recoverable)
dari penjualan atau penggunaan aktiva tersebut. Alternatif yang dipilih harus
diungkapkan secukupnya.
Selisih kurs tidak termasuk dalam nilai tercatat suatu aktiva jika tersedia
fasilitas hedging hutang valuta asing yang timbul dari perolehan aktiva. Tetapi,
kerugian akibat perubahan kurs adalah bagian yang secara langsung dapat
diatribusikan pada biaya perolehan aktiva jika kewajiban tidak dapat diselesaikan dan
tidak terdapat alat praktis untuk hedging. Contohnya, jika sebagai hasil dari
pengendalian valuta asing terdapat penundaan dalam memperoleh mata uang
[Link] dalam keadaan demikian biaya perolehan aktiva termasuk selisih kurs.
Pengungkapan
Sebuah perusahaan harus mengungkapkan:
1. Jumlah selisih kurs yang diperhitungkan dalam laba neto atau kerugian untuk
periode tersebut;
2. Selisih kurs neto yang diklasifikasikan dalam kelompok ekuitas sebagai suatu
unsur yang terpisah, dan rekonsiliasi selisih kurs tersebut pada awal dan akhir
periode; dan
3. Jumlah selisih kurs yang timbul selama periode, yang termasuk dalam nilai
tercatat suatu aktiva sesuai dengan perlakuan alternatif yang diijinkan.
Perusahaan mengungkapkan dampak atas pos-pos moneter mata uang asing
sehubungan dengan suatu perubahan dalam kurs yang terjadi setelah tanggal neraca
jika perubahan tersebut sedemikian besar sehingga bila tidak diungkapkan akan
mempengaruhi kemampuan pembaca laporan keuangan untuk membuat evaluasi dan
TRANSAKSI MATA UANG ASING 1
keputusan yang tepat. Pengungkapan juga diperlukan sehubungan dengan kebijakan
manajemen risiko mata uang asing.
2.2. PSAK 11: Penjabaran Laporan Keuangan dalam Mata Uang Asing
Suatu perusahaan dapat melakukan aktivitas yang menyangkut valuta
asing (foreign activities) dalam dua cara: melakukan transaksi dalam mata uang
asing atau memiliki kegiatan usaha luar negeri (foreign operations). Untuk
memasukkan kegiatan usaha luar negeri pada laporan keuangan perusahaan.
Laporan keuangan kegiatan usaha luar negeri harus dijabarkan kedalam mata uang
pelaporan perusahaan.
Pernyataan ini mengatur akuntansi untuk penjabaran laporan keuangan
dalam mata uang asing yang meliputi penentuan kurs yang digunakan dan
pengakuan pengaruh keuangan dari perubahan kurs valuta asing dalam laporan
keuangan.
Berikut ini pengertian yang digunakan dalam pernyataan ini:
Kegiatan usaha luar negeri (foreign operation) adalah suau anak perusahaan
(subsidiary), perusahaan asosiasi (associates), usaha potongan (joint venture)
atau cabang dari perusahaan pelapor, yang aktifitasnya dilaksanakan di suatu
Negara di luar Negara perusahaan pelapor atau entitas asing.
Entitas asing (foreign entity) adalah suatu kegiatan usaha di luar negeri
(foreign operation), yang aktivitasnya bukan merupakan bagian integral dari
perusahaan pelapor.
Mata uang pelaporan adalah mata uang yang digunakan dalam menyajikan
laporan keuangan.
Mata uang asing adalah mata uang selain mata uang pelaporan suatu
perusahaan
Nilai tukar (kurs) adalah rasio pertukaran dua mata asing
Selisih kurs (Exchange difference) adalah selisih yang dihasilkan dari
pelaporan jumlah unit mata uang asing yang sama dalam mata uang pelaporan
pada kurs yang berbeda.
Kurs penutup (closing rate) adalah nilai tukar spot pada tanggal neraca.
Investasi neto dalam suatu entitas asing adalah bagian (share) perusahaan
pelapor dalam asset neto suatu entitas asing.
TRANSAKSI MATA UANG ASING 1
Pos moneter adalah kas dan setara kas, asset, dan kewajiban yang akan
diterima atau dibayar yang jumlahnya pasti atau dapat ditentukan.
Nilai wajar (fair value) adalah nilai dimana suatu asset yang dipertukarkan
atau suatu kewajiban diselesaikan antara pihak yang memahami dan
berkeinginan untuk transaksi wajar (arm’s length transaction).
Kegiatan Usaha Luar Negeri (Foreign Operation) yang Merupakan
Bagian Integral dari Perusahaan Pelapor
o Laporan keuangan dari suatu kegiatan usaha luar negeri yang
merupakan bagian integral dari perusahaan harus dijabarkan dengan
menggunakan prosedur sebagaimana dinyatakan PSAK 10 tentang
Transaksi dalam Mata Uang Asing, seolah-olah transaksi kegiatan
usaha luar negeri tersebut merupakan transaksi perusahaan pelapor
sendiri.
Entitas Asing
Dalam menjabarkan laporan keuangan suatu entitas asing untuk
ditentukan/diinkorporasi dengan laporan keuangan pelapor, digunakan prosedur
sebagai berikut:
1. Aset dan kewajiban entitas asing, baik moneter maupun non moneter dijabarkan
dengan menggunakan kurs penutup (closing rate).
2. Pendapatan dan beban entitas asing dijabarkan dengan menggunakan kurs yang
berlaku pada tanggal transaksi.
3. Selisih kurs yang terjadi disajikan sebagai selisih kurs karena penjabaran laporan
keuangan dan disajikan sebagian dari ekuitas sampai pelepasan investasi neto
yang yang bersangkutan.
Pelaporan (Disposal) suatu Entitas Asing
Pada pelepasan (disposal) suatu entitas asing, jumlah kumulatif selisih kurs
yang telah ditangguhkan dengan entitas asing tersebut harus diakui sebagai
pendapatan atau beban periode yang sama pada waktu keuntungan atau kerugian
pelepasan (disposal) diakui.
TRANSAKSI MATA UANG ASING 1
Perubahan dalam Klasifikasi Kegiatan Usaha Luar Negeri (Foreign Operation)
Jika terdapat perubahan klasifikasi suatu kegiatan usaha luar negeri, prosedur
penjabaran yang dapat diterapkan pada klasifikasi yang direvisi harus diterapkan sejak
tanggal perubahan klasifikasi.
Pengungkapan
Perusahaan harus mengungkapkan selisih kurs bersih yang diklasifikasikan
dalam kelompok ekuitas sebagai suatu unsur yang terpisah, dan rekonsiliasi selisih
kurs tersebut pada awal dan akhir periode.
Jika mata uang pelaporan berbeda dengan mata uang negara tempat
perusahaan berdomisili, alasan untuk menggunakan mata uang yang berbeda harus
diungkapkan. Alasan untuk setiap perubahan dalam mata uang pelaporan juga harus
diungkapkan.
Jika terdapat perubahan dalam klasifikasi suatu kegiatan usaha luar negeri
yang signifikan, perusahaan harus mengungkapkan:
1. Sifat perubahan dalam klasifikasi,
2. Alasan perubahan,
3. Dampak perubahan atas klasifikasi modal pemegang saham, dan
4. Dampak pada laba bersih atau kerugian untuk setiap perode sebelumnya jika
perubahan klasifikasi terjadi pada periode sebelumnya yang paling awal.
Perusahaan harus mengungkapkan metode yang dipilih misalnya metode
untuk pencatatan goodwill dan penyesuaian nilai wajar yang timbul pada akuisisi
suatu entitas asing.
Ketentuan Transisi
Pada saat pernyataan ini pertama kali diterapkan, perusahaan harus
mengklasifikasikan secara terpisah dan mengungkapkan saldo kumulatif, pada awal
periode, selisih kurs ditangguhkan dan diklasifikasikan sebagai ekuitas dalam periode
sebelumnya, kecuali jika jumlah tersebut tidak dapat ditentukan secara wajar. Dalam
hal tersebut, maka perlu dijelaskan alasannya.
Pernyataan ini berlaku efektif untuk laporan keuangan yang mencakup periode
laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 januari 1995. Penerapan dini
dianjurkan.
TRANSAKSI MATA UANG ASING 1
2.3. PSAK 52: Mata Uang Pelaporan
Pada umumnya laporan keuangan dilaporkan dalam mata uang lokal.
Namun demikian, apabila perusahaan menggunakan mata uang selain mata uang
lokal (misalnya dolar Amerika) sebagai mata uang pelaporan, maka mata uang
pelaporan tersebut harus merupakan mata uang fungsional. Mata uang fungsional
dapat merupakan mata uang rupiah atau mata uang selain rupiah (misalnya dolar
Amerika), tergantung pada fakta substansi ekonominya.
Laporan keuangan dimaksudkan untuk memberikan informasi finansial
tentang kinerja, posisi keuangan, dan arus kas perusahaan. Laporan keuangan
dihasilkan dari catatan akuntansi perusahaan, sehingga mata uang yang digunakan
dalam catatan akuntansi adalah mata uang yang digunakan dalam laporan
keuangan. Dengan konsep ini prosedur pengukuran kembali (remeasurement) dari
catatan akuntansi laporan keuangan atau penjabaran laporan keuangan
(translation) tidak diperlukan lagi, kecuali untuk periode yang diperbandingkan
apabila perusahaan untuk pertama kali mengadopsi Standar ini dan untuk laporan
keuangan perusahaan yang dikonsolidasikan, karena pada hakekatnya laporan
keuangan telah disajikan pada mata uang fungsionalnya.
Mata Uang Fungsional
Suatu mata uang merupakan mata uang fungsional apabila memenuhi
indikator berikut ini secara menyeluruh (kumulatif):
1. Indikator arus kas: arus kas yang berhubungan dengan kegiatan utama perusahaan
didominasi oleh mata uang tertentu,
2. Indikator harga jual: harga jual produk perusahaan dalam periode jangka pendek
sangat dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar mata uang tertentu atau produk
perusahaan secara dominan dipasarkan untuk ekspor, dan
3. Indikator biaya: biaya-biaya perusahaan secara dominan sangat dipengaruhi oleh
pergerakan mata uang tertentu.
TRANSAKSI MATA UANG ASING 1
Harga jual atau biaya perusahaan sangat dipengaruhi oleh pergerakan nilai
tukar mata uang tertentu apabila harga jual atau biaya tersebut dihitung berdasarkan
nilai tukar mata uang tertentu.
Untuk perusahaan yang mempunyai lebih dari satu anak perusahaan atau
operasi terpisah dan dapat dibedakan, seperti cabang atau divisi, dimana operasi ini
dapat dipandang sebagai suatu perusahaan atau kegiatan operasi terpisah, mungkin
digunakan beberapa mata uang fungsional yang berbeda sehingga masing-masing
mata uang tersebut perlu dipertimbangkan dalam penentuan mata uang fungsional
perusahaan tersebut. Dalam penentuan mata uang fungsional tingkat relevansi dan
keandalan diperoleh, misalnya melalui pemberian bobot pada masing-masing
indikator tersebut di atas, kemudian atas bobot indikator individu ini ditentukan bobot
secara keseluruhan. Dalam hal ini, arus kas masuk memiliki bobot paling besar.
Selain pemberian bobot, juga perlu dipertimbangkan faktor-faktor lain yang dapat
mempengaruhi kondisi ekonomi dalam jangka panjang.
Faktor-faktor utama yang dapat mempengaruhi penentuan mata uang
fungsional perlu ditentukan agar perusahaan mempunyai tolok ukur yang konsisten.
Apabila faktor-faktor tersebut di atas tidak dapat secara jelas dikaitkan dengan salah
satu mata uang sebagai mata uang fungsional, maka dibutuhkan pertimbangan
profesional (professional judgement) dengan mempertimbangkan operasi dan
kegiatan perusahaan secara rinci, dan harus dilakukan dengan tingkat relevansi dan
keandalan yang paling tinggi.
Perlakuan akuntansi untuk transaksi dan saldo dalam mata uang non
fungsional adalah sebagaimana diatur dalam PSAK 10 tentang Transaksi dalam Mata
Uang Asing.
Mata uang selain mata uang fungsional dianggap sebagai mata uang non-
fungsional, sedangkan mata uang fungsional dianggap sebagai mata uang dasar (base
currency) dalam menentukan nilai tukar atau dalam perhitungan selisih kurs. Sebagai
contoh, apabila berdasarkan fakta substansi ekonomi mata uang fungsional
perusahaan adalah dolar Amerika, maka mata uang selain dolar Amerika dianggap
sebagai mata uang non-fungsional, sehingga semua transaksi dalam mata uang non-
fungsional harus ditranslasikan ke mata uang fungsional.
TRANSAKSI MATA UANG ASING 1
Penentuan Saldo Awal
Penentuan saldo awal untuk tujuan pencatatan akuntansi dilakukan dengan
pengukuran kembali akun-akun laporan keuangan seolah-olah mata uang fungsional
tersebut telah digunakan sejak tanggal terjadinya transaksi. Prosedur pengukuran
kembali adalah sebagai berikut:
1. Aktiva dan kewajiban moneter diukur kembali dengan menggunakan kurs tanggal
neraca;
2. Aktiva dan kewajiban non-moneter serta modal saham diukur kembali dengan
menggunakan kurs historis atau kurs tanggal terjadinya transaksi perolehan aktiva
tetap, terjadinya kewajiban atau penyetoran modal saham;
3. Selisih antara aktiva, kewajiban dan modal saham dalam mata uang pelaporan
baru, yang merupakan hasil perhitungan prosedur a dan b di atas, diperhitungkan
pada saldo laba atau akumulasi kerugian pada periode tersebut;
4. Pendapatan dan beban diukur kembali dengan menggunakan kurs rata-rata
tertimbang selama periode yang diperbandingkan, kecuali untuk beban
penyusutan aktiva tetap atau amortisasi aktiva non-moneter yang diukur kembali
dengan menggunakan kurs historis aktiva yang bersangkutan;
5. Dividen diukur dengan menggunakan kurs tanggal pencatatan dividen tersebut;
6. Prosedur d dan e di atas akan menghasilkan selisih pengukuran kembali yang
diperhitungkan pada saldo laba atau akumulasi kerugian pada periode tersebut;
7. Selisih pengukuran kembali merupakan hasil dari perhitungan berikut: saldo laba
(akumulasi kerugian) akhir tahun (hasil dari prosedur c) ditambah dengan dividen
(hasil dari prosedur e) dan dikurangi dengan hasil perhitungan laba (rugi) bersih
selama periode yang diperbandingkan (hasil dari prosedur d).
Penyajian Komparatif
Laporan keuangan periode yang diperbandingkan yang tidak menggunakan
mata uang fungsional, harus diukur dan disajikan kembali.
Perubahan Mata Uang Pencatatan dan Pelaporan
Perusahaan diharuskan untuk mengubah mata uang pencatatan dan pelaporan
ke rupiah, apabila mata uang fungsional berubah dari bukan rupiah ke rupiah.
TRANSAKSI MATA UANG ASING 1
Perubahan mata uang pencatatan dan pelaporan harus dilakukan pada awal tahun
buku, tidak di tengah tahun buku.
Keputusan perusahaan untuk mengubah mata uang pelaporan hanya dapat
dilakukan apabila telah terjadi perubahan substansi ekonomi dari mata uang
fungsional. Dalam perjalanan hidup perusahaan, karena perubahan operasi atau pasar,
mata uang fungsional perusahaan dapat saja berubah.
Konsolidasi
Laporan keuangan konsolidasi disajikan dalam mata uang fungsional setelah
mempertimbangkan indikator pada paragraf 08 terhadap induk perusahaan dan tiap
anak perusahaan. Penjabaran laporan keuangan anak perusahaan ke mata uang
fungsional pada laporan keuangan konsolidasi dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Aktiva dan kewajiban dijabarkan dengan menggunakan kurs tanggal neraca;
b. Ekuitas dijabarkan dengan menggunakan kurs historis;
c. Pendapatan dan beban dijabarkan dengan menggunakan kurs rata-rata
tertimbang;
d. Dividen diukur dengan menggunakan kurs tanggal pencatatan dividen
tersebut;
e. Prosedur a sampai d di atas akan menghasilkan selisih penjabaran kembali
yang disajikan dalam akun ekuitas sebagai “Selisih Penjabaran”. Mata uang
pencatatan induk perusahaan harus sama dengan mata uang pelaporan
konsolidasi.
Pengungkapan
Perusahaan mengungkapkan hal-hal berikut ini:
1. Alasan penentuan mata uang pelaporan berdasarkan indikator pada paragraf
08;
2. Perubahan mata uang pelaporan dan alasan perubahannya:
• Alasan perubahan berdasarkan indikator pada paragraf 08,
• Kurs (historis, sekarang, atau rata-rata tertimbang) yang digunakan dalam
pengukuran kembali atau penjabaran,
• Ikhtisar neraca dan laporan laba-rugi yang disajikan sebagai perbandingan
dalam mata uang pelaporan sebelumnya.
TRANSAKSI MATA UANG ASING 1
Pengukuran Kembali ke Mata Uang Fungsional
Pengukuran kembali dimaksudkan untuk memperoleh hasil yang sama seperti
apabila catatan akuntansi perusahaan tersebut diselenggarakan dalam mata uang
fungsionalnya. Dalam proses pengukuran kembali digunakan kurs historis, kurs
sekarang, dan kurs rata tertimbang. Berikut ini adalah contoh akun yang
menggunakan kurs historis, kurs sekarang, dan kurs rata tertimbang.
Akun yang Diukur Kembali dengan Kurs Historis
Akun Neraca
Surat berharga yang dinilai berdasarkan harga perolehan
Persediaan yang dinilai berdasarkan harga perolehan
Pembayaran di muka, seperti asuransi, iklan dan sewa
Aktiva tetap
Paten, merk dagang, lisensi, dan formula
Goodwill
Aktiva tidak berwujud lainnya
Beban ditangguhkan dan kredit, kecuali biaya perolehan polis untuk
Perusahaan asuransi
Pendapatan ditangguhkan
Saham biasa
Saham preferen dinilai berdasarkan harga penerbitan
Akun Laporan Laba-Rugi
Pendapatan dan biaya yang terkait dengan aktiva atau kewajiban non-moneter
Harga pokok penjualan
Penyusutan aktiva tetap
Amortisasi aktiva tidak berwujud
Amortisasi pendapatan yang ditangguhkan
Akun yang Diukur Kembali dengan Kurs Sekarang
Aktiva dan kewajiban selain yang disebutkan di atas diukur dengan
menggunakan kurs [Link] umumnya, akun yang menggunakan kurs sekarang
adalah aktiva dan kewajiban moneter.
TRANSAKSI MATA UANG ASING 1
Akun yang Diukur Kembali dengan Kurs Rata-Rata Tertimbang
Akun laporan laba-rugi seharusnya diukur dengan menggunakan kurs historis.
Namun apabila hal ini diterapkan, penyusunan laporan keuangan akan menjadi tidak
praktis. Dalam hal ini dapat ditempuh cara lain, yaitu dengan penggunaan kurs rata-
rata tertimbang yang dapat mencerminkan perubahan kurs selama periode laporan
keuangan yang dicakup.
2.4. ISAK NO. 4: Interpretasi atas Paragraf 32 PSAK 10 Tentang Alternatif
Perlakuan yang Diizinkan atas Selisih Kurs
Paragraf 32 PSAK 10 memuat ketentuan sebagai berikut:
"Selisih kurs dapat disebabkan karena suatu devaluasi atau depresiasi luar
biasa suatu mata uang dimana tidak mungkin dilakukan hedging dan menimbulkan
kewajiban yang tak terselesaikan akibat perolehan aktiva yang harus dibayar dalam
suatu mata uang asing. Selisih kurs tersebut dapat dimasukkan sebagai nilai tercatat
(carrying amount) aktiva yang bersangkutan dengan pengertian nilai tercatat yang
disesuaikan tersebut tidak melampaui jumlah terendah antara biaya pengganti
(replacement cost) dan jumlah yang mungkin diperoleh kembali (amount
recoverable) dari penjualan atau penggunaan aktiva tersebut. Alternatif yang dipilih
harus diungkapkan secukupnya"
Alasan Interpretasi
Dalam penerapan paragraf 32 tersebut di atas, timbul berbagai pertanyaan
sebagai berikut:
Apa yang dimaksud dengan "depresiasi luar biasa" dalam paragraf 32?
Akibat gejolak moneter, terjadi akselerasi depresiasi rupiah yang
mengakibatkan terjadinya kesulitan dalam penentuan premi hedging serta
tingginya tingkat premi instrumen hedging pada periode tertentu. Apakah kondisi
tersebut dapat memenuhi persyaratan "tidak dimungkinkan dilakukan hedging"
sebagaimana dimaksud dalam paragraf 32?
Apabila persyaratan yang ditentukan dalam paragraf 32 dapat terpenuhi,
bagaimana melakukan kapitalisasi selisih kurs?
TRANSAKSI MATA UANG ASING 1
Interpretasi
a. Akibat gejolak moneter, depresiasi rupiah terhadap suatu mata uang asing
yang terjadi pada periode tertentu dapat melampaui batas-batas wajar bila
diukur dari tingkat rata-rata depresiasi periode sebelumnya. Depresiasi rupiah
terhadap suatu mata uang asing dianggap melampaui batas-batas wajar dan
merupakan depresiasi luar biasa apabila pada periode tertentu depresiasi
rupiah yang disetahunkan mencapai 133% dari rata-rata depresiasi rupiah tiga
tahun takwim terakhir.
b. Yang dimaksud dengan "tidak mungkin dilakukan hedging" adalah apabila
pada suatu periode tertentu tidak ekonomis dan atau tidak praktis
dilakukan hedgingkarena kondisi berikut:
1) Tingkat premi hedging pada periode tertentu demikian tinggi sehingga
tidak ekonomis untuk melakukan hedging. Tingkat premi hedging
dianggap tinggi apabila mencapai 133% dari rata-rata premi hedging 3
(tiga) tahun takwim terakhir, atau
2) Fasilitas hedging tidak tersedia karena bank tidak dapat menentukan
premi hedgingberhubung fluktuasi rupiah yang tinggi.
c. Selisih kurs yang terjadi sejak awal tahun buku sampai dengan awal periode
tertentu tersebut harus dibebankan langsung ke perhitungan laba-rugi. Apabila
pada suatu periode tertentu terjadi depresiasi luar biasa dan tidak mungkin
dilakukan hedging sebagaimana dijelaskan di atas, maka sesuai dengan
paragraf 32 PSAK 10, selisih kurs yang timbul
(baik realized maupun unrealized) pada periode tersebut dapat dikapitalisasi.
Kerugian selisih kurs yangtimbul atas saldo kewajiban dalam mata uang asing
setelah periode tertentu tersebut dibebankan ke perhitungan laba-rugi,
sedangkan keuntungan selisih kurs yang timbul harus diperlakukan sebagai
penyesuaian terhadap selisih kurs yang [Link] dimaksud dengan
periode tertentu adalah suatu periode yang merupakan bagian tahun buku yang
dimulai sejak dipenuhinya kondisi yang dipersyaratkan pada butir 1 dan 2, dan
berakhir sejak kondisi tersebut tidak lagi dipenuhi.
d. Selisih kurs dikapitalisasi ke aktiva yang bersangkutan (misalnya aktiva tetap
dan persediaan) dengan syarat nilai tercatat (carrying amount) aktiva yang
bersangkutan setelah dikapitalisasi tidak melampaui nilai terendah antara
biaya pengganti (replacement cost) dengan jumlah yang mungkin diperoleh
TRANSAKSI MATA UANG ASING 1
kembali (amount recoverable). Bagi perusahaan yang memilih untuk
melakukan kapitalisasi kurs yang telah memenuhi persyaratan butir 1 dan butir
2, alternatif tersebut harus diungkapkan dalam laporan keuangan.
2.5. SFAS 52: Foreign Currency Translation
Penerapan pernyataan ini akan mempengaruhi pelaporan keuangan
sebagian besar perusahaan yang beroperasi di luar negeri. Operasi dan
karakteristik ekonomi beragam jenis operasi asing akan dibedakan dalam
akuntansi untuk mereka. Penyesuaian untuk perubahan kurs mata uang yang
dikeluarkan dari laba bersih bagi fluktuasi yang tidak mempengaruhi arus kas dan
termasuk bagi mereka yang melakukannya. Persyaratan mencerminkan
kesimpulan umum ini:
1. Dampak ekonomi dari perubahan nilai tukar pada operasi yang relatif mandiri
dan terintegrasi dalam negara asing berhubungan dengan investasi bersih
dalam operasi itu. Selisih kurs yang timbul dari konsolidasi operasi asing tidak
mempengaruhi arus kas dan tidak termasuk dalam laba bersih.
2. Dampak ekonomi dari perubahan nilai tukar pada kegiatan operasi luar negeri
yang merupakan perpanjangan dari operasi induk domestik berhubungan
dengan aset dan kewajiban individu dan dampak arus kas induk secara
langsung. Dengan demikian, keuntungan dan kerugian dalam operasi seperti
pertukaran termasuk dalam laba bersih.
3. Kontrak, transaksi, atau saldo yang pada kenyataannya, lindung risiko nilai
tukar akan diperhitungkan sebagai lindung nilai tanpa memperhatikan bentuk
mereka.
Lebih khusus, pernyataan ini menyajikan standar untuk penjabaran mata uang
asing yang dirancang untuk (1) memberikan informasi yang umumnya kompatibel
dengan dampak ekonomi yang diharapkan dari perubahan kurs pada arus kas
perusahaan dan ekuitas dan (2) mencerminkan dalam hasil laporan konsolidasi
keuangan dan hubungan yang diukur dalam mata uang utama di mana setiap entitas
melakukan bisnisnya (disebut sebagai "mata uang fungsional").
TRANSAKSI MATA UANG ASING 1
Mata uang fungsional entitas adalah mata uang dari lingkungan ekonomi
primer dimana entitas [Link] uang fungsional dapat berupa dolar atau mata
uang asing tergantung pada fakta-fakta. Biasanya, itu akan menjadi mata uang dari
lingkungan ekonomi dimana kas dihasilkan dan dikeluarkan oleh entitas. Sebuah
entitas dapat berbentuk operasi, termasuk anak perusahaan, divisi, cabang, atau joint
venture. Pernyataan ini juga memberikan panduan kunci penentuan di mana
pertimbangan manajemen adalah penting dalam menilai fakta-fakta.
Sebuah mata uang dalam lingkungan inflasi yang sangat tinggi (3 tahun
tingkat inflasi sekitar 100 persen atau lebih) dianggap tidak cukup stabil untuk
melayani sebagai mata uang fungsional dan mata uang yang lebih stabil dari induk
pelaporan yang akan digunakan sebagai gantinya.
Pendekatan penjabaran mata uang fungsional diadopsi dalam pernyataan ini
meliputi:
Mengidentifikasi mata uang fungsional lingkungan ekonomi entitas.
Mengukur semua elemen laporan keuangan dalam mata uang fungsional.
Menggunakan kurs saat ini untuk translasi dari mata uang fungsional menjadi
mata uang pelaporan, jika mereka berbeda.
Membedakan dampak ekonomi dari perubahan nilai tukar pada investasi
bersih dari dampak perubahan tersebut pada aktiva dan kewajiban individu
yaitu piutang atau hutang dalam mata uang selain mata uang fungsional.
Selisih kurs merupakan hasil yang melekat pada proses menerjemahkan
laporan keuangan suatu entitas asing dari mata uang fungsional untuk dolar Amerika
Serikat. Selisih kurs tidak termasuk dalam menentukan laba bersih untuk periode
tetapi diungkapkan dan diakumulasikan dalam komponen terpisah dari ekuitas
konsolidasi sampai penjualan atau sampai likuidasi lengkap atau substansial telah
selesai dari investasi bersih dalam entitas asing terjadi.
Keuntungan dan kerugian transaksi adalah hasil dari pengaruh perubahan kurs
terhadap transaksi dalam mata uang selain mata uang fungsional (misalnya, sebuah
perusahaan AS dapat meminjam franc Swiss atau anak perusahaan Perancis mungkin
memiliki piutang dalam mata uang kroner dari pelanggan Denmark). Keuntungan dan
kerugian atas transaksi-transaksi dalam mata uang asing umumnya termasuk dalam
menentukan laba bersih untuk periode di mana nilai tukar berubah kecuali transaksi
lindung nilai komitmen mata uang asing atau investasi bersih pada entitas asing.
TRANSAKSI MATA UANG ASING 1
Transaksi yang bersifat investasi jangka panjang dianggap sebagai bagian dari
investasi neto induk dan karenanya tidak menimbulkan keuntungan atau kerugian.
Standar Akuntansi Keuangan Dan Pelaporan
Penjabaran laporan keuangan setiap entitas komponen perusahaan harus
mencapai tujuan sebagai berikut:
1. Memberikan informasi yang secara umum kompatibel dengan dampak
ekonomi yang diharapkan dari sebuah perubahan pada arus kas perusahaan
dan ekuitas.
2. Pertimbangkan hasil keuangan dan hubungan individu entitas konsolidasi yang
diukur dalam mata uang fungsional mereka sesuai dengan prinsip akuntansi
yang berlaku umum.
Aset, kewajiban, dan operasi dari suatu entitas asing harus diukur dengan
menggunakan mata uang fungsional entitas tersebut. Mata uang fungsional entitas
adalah mata uang utama lingkungan ekonomi dimana entitas beroperasi, biasanya,
yaitu mata uang dari lingkungan di mana entitas terutama menghasilkan dan
mengeluarkan lebih uang tunai.
Semua elemen laporan keuangan harus diterjemahkan dengan menggunakan
kurs saat [Link] aset dan kewajiban, kurs yang berlaku pada tanggal neraca harus
digunakan. Untuk pendapatan, biaya, keuntungan, dan kerugian, nilai tukar pada
tanggal di mana unsur-unsur yang diakui harus digunakan. Karena translasi dengan
kurs pada tanggal berbagai pendapatan, biaya, keuntungan, dan kerugian diakui
umumnya tidak praktis, sebuah nilai tukar rata-rata tertimbang yang tepat untuk
periode dapat digunakan untuk mentranslasi elemen-elemen tersebut.
Bursa Kontrak
Sebuah kontrak valuta berjangka (forward contract) adalah perjanjian untuk
bertukar mata uang yang berbeda pada tanggal tertentu dan pada tingkat tertentu
(forward rate). Sebuah keuntungan atau kerugian dari kontrak berjangka yang tidak
memenuhi kondisi yang dijelaskan dalam paragraph 20 dimana, Keuntungan dan
kerugian transaksi valuta asing berikut tidak dimasukkan dalam menentukan laba
bersih tapi harus dilaporkan dalam cara yang sama seperti penjabaran (Ayat 13):
TRANSAKSI MATA UANG ASING 1
1. Transaksi valuta asing yang ditetapkan sebagai, dan efektif sebagai, lindung
nilai ekonomi atas investasi bersih pada entitas asing, terhitung sejak tanggal
penunjukan.
2. Antar transaksi valuta asing yang bersifat jangka panjang-investasi (yang
adalah, penyelesaian tidak direncanakan atau diantisipasi di masa mendatang),
ketika entitas untuk transaksi dikonsolidasikan, digabungkan, atau dicatat
dengan metode ekuitas dalam pelaporan laporan keuangan perusahaan itu
harus dimasukkan dalam menentukan laba bersih sesuai dengan persyaratan
untuk transaksi mata uang asing lainnya (ayat 15).
Perjanjian yang, pada dasarnya, pada dasarnya sama dengan kontrak forward,
misalnya, swap mata uang, harus dicatat dengan cara yang sama dengan akuntansi
untuk maju kontrak.
Penghasilan Pajak Konsekuensi Perubahan Tarif
Alokasi pajak antarperiode diperlukan sesuai dengan APB Opini No 11,
Akuntansi Pajak Penghasilan, jika keuntungan selisih pajak atau rugi selisih
pengurangan pajak yang dihasilkan dari transaksi valuta asing entitas tersebut
dimasukkan dalam laba bersih pada periode yang berbeda untuk tujuan laporan
keuangan dari itu untuk keperluan pajak.
Penghapusan Laba
Penghapusan laba yang dapat diatribusikan pada penjualan atau transfer
lainnya antara entitas yang dikonsolidasi, digabungkan, atau dicatat dengan metode
ekuitas dalam laporan keuangan perusahaan itu harus didasarkan pada kurs yang
berlaku pada tanggal penjualan atau transfer. Penggunaan perkiraan wajar atau rata-
rata yang diizinkan.
Nilai Tukar
Nilai tukar adalah rasio antara satu unit mata uang dan jumlah lain unit mata
uang yang dapat ditukar pada waktu tertentu. Jika kurang dipertukarkan antara dua
mata uang untuk sementara pada saat transaksi atau tanggal neraca, yang pertama
tingkat berikutnya di mana pertukaran bisa dibuat harus digunakan untuk tujuan
TRANSAKSI MATA UANG ASING 1
pernyataan [Link] kurangnya dipertukarkan bersifat sementara, kepatutan
konsolidasi, penggabungan, atau akuntansi untuk operasi asing dengan metode ekuitas
dalam laporan keuangan perusahaan harus dipertimbangkan dengan cermat (ARB 43,
Bab 12, ayat 8).
Jika entitas asing yang tanggal neracanya berbeda dari perusahaan adalah
konsolidasi atau dikombinasikan dengan atau dicatat dengan metode ekuitas dalam
laporan keuangan perusahaan, tingkat saat ini adalah tarif yang berlaku pada tanggal
neraca entitas asing untuk tujuan penerapan persyaratan pernyataan ini dengan entitas
asing.
Pengungkapan
Laporan keuangan suatu perusahaan tidak boleh disesuaikan untuk perubahan
tingkat yang terjadi setelah tanggal laporan keuangan perusahaan atau setelah tanggal
mata uang asing laporan entitas asing jika mereka konsolidasi, digabungkan, atau
dicatat dengan metode ekuitas dalam laporan keuangan perusahaan. Namun,
pengungkapan perubahan tingkat dan dampaknya pada saldo yang belum diselesaikan
yang berkaitan dengan transaksi valuta asing, jika signifikan, mungkin diperlukan.
Hubungan dengan Konsep Fundamental Sebelumnya
Penolakan terhadap perspektif dolar memiliki konsekuensi jauh melampaui
proyek ini dan tidak perlu dalam terjemahan proyek. Meskipun tidak secara eksplisit
menyatakan, model akuntansi saat ini meliputi pemeliharaan konsep modal bahwa
pendapatan dari entitas konsolidasi Amerika Serikat ada hanya setelah pemulihan
biaya historis diukur dalam dolar.
Beberapa responden terhadap Exposure Draft mengkritik tujuan itu sebagai
upaya untuk memperhitungkan transaksi mata uang lokal dan asing operasi asing
seolah-olah mereka adalah transaksi dolar atau, untuk beberapa responden, seolah-
olah mereka dolar transaksi di Amerika Serikat. Dalam putusan dewan, kritik tersebut
adalah tidak berlaku. Baik tujuan maupun prosedur untuk mencapainya mengubah
denominasi transaksi atau lingkungan di mana itu terjadi. Prosedur yang diterapkan
oleh dewan konsisten dengan tujuan konsolidasi laporan keuangan.
TRANSAKSI MATA UANG ASING 1
Transaksi mata uang asing dari suatu perusahaan dan transaksi dalam mata
uang lokal dan asing dijabarkan dan dicatat sebagai transaksi dari perusahaan tunggal.
Denominasi transaksi dan lokasi aset tidak berubah, namun identitas terpisah
perusahaan dalam kelompok konsolidasi diabaikan. Prosedur translasi hanyalah
sarana pengukuran kembali dalam dolar jumlah yang berdenominasi atau awalnya
diukur dalam mata uang asing. Artinya, prosedur mencoba untuk mensimulasikan
apakah biaya investasi asing telah berada di Amerika Serikat, melainkan mereka
mengakui faktor-faktor yang ditentukan biaya pabrik di luar negeri dan menyatakan
bahwa biaya dalam dolar. Jika prosedur translasi yang mampu mengubah denominasi
dari aset atau kewajiban dari mata uang asing ke rupiah, tidak ada risiko nilai tukar
akan hadir.
Perbedaan perlakuan akuntansi untuk lindung nilai transaksi diperkirakan
sebagai lindung nilai arus kas dengan lindung nilai komitmen mata uang asing yang
dapat di identifikasi sebagai lindung nilai atas nilai wajar. Transaksi yang
diperkirakan adalah terjadi sesuai dengan yang diperkirakan,tetapi lindung nilai atas
transaksi yang diperkirakan diperlakukan sebagai lindung nilai arus kas dengan
bagian efektif dari perubahan nilai wajarnya diakui dalam pendapatan komprehensif.
Jenis lindung nilai ini adalah lindung nilai terhadap perubahan dalam arus kas yang
mungkin terjadi dimasa depan yang akan timbul dari perubahan dalam kurs mata uang
asing. Transaksi yang diperkirankan dapat menjadi komitmen jika pihak pihak terlibat
membuat perjanjian yang mengikat.
Sebuah entitas memutuskan untuk berspekulasi dalam mata uang asing
sebagaimana dapat dilakukan pada komoditas lain. Sebagaimana contoh,perusahaan
Indonesia menduga rupiah akan menguat terhadap euro, yaitu kurs langsung akan
menurun. Dalam kasus ini perusahaan Indonesia dapat berspekulasi dengan kontrak
masa depan dengan menjual euro untuk penyerahan dimasa depan, dengan harapan
dapat membeli euro dengan harga lebih rendah pada saat penyerahan.
Substansi ekonomis dari spekulasi mata uang asing adalah untuk memberikan
risiko mata uang asing kepada investor, dengan mana investor berharap dapat
memperoleh laba. Kurs untuk penilaian terkait dengan kontrak mata uang asing
spekulasi adalah kurs masa depan spekulatif adalah kurs masa depan dengan jangka
waktu kontrak. Keuntungan atau kerugian kontrak masa depan spekulasi dihitung
dengan menentukan perbedaan antara kurs masa depan pada tanggal kontrak (atau
TRANSAKSI MATA UANG ASING 1
tanggal penilaian sebelumnya) dengan kurs masa depan yang tersedia selama jangka
waktu kontrak. Kurs masa depan digunakan untuk menilai kontrak masa depan.
TRANSAKSI MATA UANG ASING 1
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dari uraian pembahasan dapat disimpulkan bahwa:
a. Mata uang fungsional (mata uang pengukuran) adalah mata uang yang
digunakan dalam transaksi pengukuran. Sedangkan mata uang pelaporan
adalah mata uang yang digunakan dalam menyajikan laporan keuangan.
b. Pernyataan dari PSAK 11 harus diterapkan dalam penjabaran laporan
keuangan dari kegiatan usaha luar negeri untuk tujuan konsolidasi, atau
konsolidasi parsial atau melalui penerapan dengan metode ekuitas.
c. Pada umumnya laporan keuangan dilaporkan dalam mata uang lokal.
Namun demikian, apabila perusahaan menggunakan mata uang selain mata
uang lokal (misalnya dolar Amerika) sebagai mata uang pelaporan, maka
mata uang pelaporan tersebut harus merupakan mata uang [Link]
uang fungsional dapat merupakan mata uang rupiah atau mata uang selain
rupiah (misalnya dolar Amerika), tergantung pada fakta substansi
ekonominya.
d. Selisih kurs dapat disebabkan karena suatu devaluasi atau depresiasi luar
biasa suatu mata uang dimana tidak mungkin dilakukan hedging dan
menimbulkan kewajiban yang tak terselesaikan akibat perolehan aktiva
yang harus dibayar dalam suatu mata uang asing.
e. Pernyataan dari SFAS 52 menyajikan standar untuk penjabaran mata uang
asing yang dirancang untuk (1) memberikan informasi yang umumnya
kompatibel dengan dampak ekonomi yang diharapkan dari perubahan kurs
pada arus kas perusahaan dan ekuitas dan (2) mencerminkan dalam hasil
laporan konsolidasi keuangan dan hubungan yang diukur dalam mata uang
utama di mana setiap entitas melakukan bisnisnya (disebut sebagai "mata
uang fungsional").
TRANSAKSI MATA UANG ASING 1
3.2. Saran
Suatu aktiva dan kewajiban mata uang asing dikatakan menghadapi resiko
mata uang jika suatu perubahan kurs nilai tukar mata uang menyebabkan mata uang
induk perusahaan juga berubah. Maka dari itu di perlukannya prinsip kehati-hatian
dalam akuntansi.
TRANSAKSI MATA UANG ASING 1
DAFTAR PUSTAKA
Bahrain Pasha Irawan.2014. Analisis Faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Instrumen
Derivatif Valuta Asing sebagai Pengambilan Keputusan Hedging. Skripsi. Universitas
Diponegoro-Semarang.
Beams, A Floyd. 2000. Akuntansi Keuangan Lanjutan di Indonesia. Jakarta: Salemba
Empat.
Choi Frederick D. S. dan Meek, Gary K. 2010. International [Link] 2.
Jakarta: Salemba Empat.
Dra. Titik Ismiyatun, [Link], Dwi Cahyaningdyah, S.E., [Link], Manajemen Investasi,
Media Pembelajaran, 2008, Fakultas Ekonomi, Univesitas Negeri Semarang.
Grentino Lengkong. 2015. Penerapan Akuntansi terhadap Transaksi Valuta Asing
Berdasarkan PSAK No. 50, 55, dan 60 di Bank Sulut Cabang
[Link] Negeri Manado–Jurusan Akuntansi.
Ikatan Akuntan Indonesia. 2010. “Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan”, Jakarta:
Salemba Empat.
Kartikahadi, Hans dkk. 2007. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.
10 dan 55 Transaksi dalam Mata Uang Asing, Instrument Derivatif. Ikatan Akuntan
Indonesia.
Linder. 2004. Akuntansi Internasional. Jakarta: Erlangga.
Madura, Jeff. 2000. Manajemen Keuangan Internasional, Jilid 1, Edisi Keempat.
Jakarta: Erlangga.
Rosyafah, Siti. 2013. Analisis Perlakuan Piutang Usaha untuk Foreugn Exchange
dalam upaya foreign exposure serta dampaknya terhadap laporan keuangan pada PT.
Bintang Tata Bahari [Link] [Link] 7, No.1 Bulan Juni 2013.
Shapiro. 2003. Akuntansi Keuangan Menengah. Yogyakarta: BPFE.
Susanti. 2012. Analysis of Accounting Treatment and Tax Treatment On Derivative
Transactions To Taxable Income and Income Tax Payable (PPh). Jurnal. Fe-
[Link]. diakses 29 Desember 2016.
TRANSAKSI MATA UANG ASING 1