BAB I
KETERAMPILAN BERBAHASA DAN RAHASIA KETERATURAN BAHASA
A. Keterampilan Berbahasa
Pendidikan pada dasarnya bertujuan untuk membina anak peserta didik agar memiliki
pengetahuan,keterampilan, dan sikap positif dalam menjalani kehidupan. Jadi, suatu proses
pendidikan dan pembelajaran dikatakan berhasil apabila para peserta didik beroleh perubahn
ke arah yang lebih baik dalam penambahan pengetahuan, perubahan penguasan penguasaan
keterampilan, dan perubahan positif menuju pendewasan sikap perilaku.
Bahasan ini tidak akan berbicara tentang aspek pengetahuan dan sikap berbahasa-
berbahasa dalam pengertian teoritis, melainkan hanya akan secara praktif-aplikatif
membahasa seputarketerampilan berbahasa yang meliputi empat aspek keterampilan, yaitu
menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
Keempat aspek keterampilan berbahasa tersebut pada kenyatannya berkaitan erat satu
sama lain. Artinya, aspek yang satu berhubungan erat dan memerlukan keterlibatan aspek
yang lain, tidak bisa tidak. Singkatan sesorang dapat dikatakan terampil berbahasa dengan
baik, apabila orang itu menguasai keempat aspek itu dengan sama baiknya. Artinya, dia itu
terampil menyimak, terampil berbicara, terampil membaca, dan terampil menulis.
1. Menyimak
Menyimak merupakan keterampilan yang pertama kali dipelajari dikuasi manusia.
Sejak manusia bayi, bahkan sejak dalam kandungan sang ibu, prose belajar menyimak atau
mendengarkan itu terus-menerus kita lakukan, dengan mendengarkan-merekam terus-
menerus setiap kata-kata merdu dari ayahbunda kita, tepatnya mengulang ucapan sebuah
kata-bermakna yang sederhana. Jadi, proses pembelajaran berbahasa, mulai dari menyimak
sampai dengan bicara awal, itu merupakan proses alamiah-universal. Artinya, semua manusia
di mana pun mengalami proses pembelajaran menyimak-berbicara dengan bimbingan sang
bunda dan orang-orang terdekat yang sangat mencintai kita, sejak masih janin, bayi, anak-
anak.
Apa dan bagaimana ukuran sesorang bisa dikatakan terampil menyimak? Dia atau
seseorang itu dapat dikatakan terampil menyimak apabila dia dapat menyerap-menangkap
gagasan pikiran yang disimaknya atau yang disampaikan orang lain kepadanya secara lisan,
dengan tepat benar, akurat, dang lengkap.
Hernowo (2004 : 47) dengan ringkas tegas mengingatkan kita tentang pentingnya
menyimak bahwa,
Menurut pakar komunikasih “mendengarkan-menyimak” listening ini menjadi pilar
utama dalam berkomunikasih dan kepentingannya, kadang, melebihi berbicara, membaca,
dan menulis. Dalam konteks mendengarkan ada aspek empati meskipun berbicara, membaca,
dan menulis juga ada. Dan dewasa ini kegiatan mendengarkan ini malah dipertinggi menjadi
kegiatam “mendengarkan aktif” active listening.
2. Berbicara
Secara alamih ilmiah kegiatan keterampilan berbicara itu merupakan keterampilan
berikutnya yang kita kuasai setelah kita menjalani proses latihan belajar menyimak. Berbicara
itu meupakan kemampuan seseorang untuk mengungkapkan gagasan, pikiran, perasaan
secara lisan kepada orang lain. Syrat mudah berbicara lainnya perbanyaklah aktivitas
menyimak dan membaca.
Jadi, anda termasuk orang yang terampil berbicara, apabila anda mampu
menyampaikan gagasan, pikiran, perasaan secara lisan kepada orang lain mitra bicara anda
atau pendengar anda dengan benar, akurat, dan lenglap, sehingga orang lain paham betuil apa
yang anda samapaikan.
3. Membaca
Membaca dan menyimak merupakan aktivitas kunci kita mendapatkan-menguasai
informasi. Semakin banyak informasi kita simak baca, semakin banyak informasi kita kuasai.
Dengan banyak membaca-menyimak yang berarti kita akan mengetahui informasi, maka
akan memudahkan kita atau siapa pun untuk mudah berbicara dan / atau menulis.
“Buku menurut Kuntowijoya adalah kumpulan pengalaman batin sesorang yang
sudah distruktrukan. Dengan membaca buku berarti kita sedang membaca diri sendiri lewat
pengalaman orang lain. Jika kita rajin membaca buku, itu berarti kita rajin belajar dari
pengalaman orang lain. Itu termasuk belajar dari diri sendiri”. (Hernowo, ( 2004 : 59).
4. Menulis
Menuklis merupakan keterampilan berbahasa aktif. Menulis merupakan kemampuan
puncak sesorang untuk dikatakan terampil berbahasa. Menulis merupakan keterampilan yang
sangat kompleks. Menulis tulisan juga merupakan media untuk mlestarikan yang sangat
kompleks. Menulis tulisan juga merupakan media untuk melestarikan dan menyebarluaskan
informasi dan ilmu pengetahuan. Apa kriteria seseorang, atau katakanlah teman anda, itu
tergolong orang yang terampil menulis? Mungkin anda bertanya? Teman anda dapat dikatkan
terampil menulis apabila ia mampu menyampaikan gagasan: pikiran,pendapat,perasaan,
maksudnya kepada orang lain melalui media tulisan, sehingga orang lain yang membacanya
dapat menangkap gagasan pikiran yang ditulidkannya itu secara benar, akurat, dan lengkap.
Tentang keterampilan menulis ini ada nasihat sehat hebat dari Hernowo (2004 : 89)
untuk kita renungi bersama.
Meracik teks tidak semudah meracik ucpan. Meracik teks perlu krterampilan yang
luar biasa dalam mengelolah dan menyusun kalimat. Teks tidak dapat menampung seluruh
gagasan yang luar biasa dalam mengelolah dan menyusun kalimat. Teks itu punya
keterbatasan. Jika kamu mengeluarkan gagasan kamu lewat ucapan atau secara lisan, ada
kemungkinan kamu dibantu dengan dialog atau interaksi positif (dengan pendengaran kamu)
yang akhirnya bisa memperjelas gagasan yang ingin kamu komunikasikan.
Jika seseorang ingin menyampaikan gagasan secara tertulis, dia tidak akan dibantu
secara efektif olrh dialog ekstrnal, malainkan dia haus meminta tolong kepada dirinya sendiri
dalam menjalani secara sangat inteks dan intim apa yang saya sebut sebagai dialog internal.
Dialog internal adalah dialog batin, dialogndengan diri sendiri sehingga teks yang dia
keluarkan itu benar-benar dapat dipahami oleh dirinya lebih dahulu.
Pokok dan gaya pembicarannya enak, menarik, dan mudah dipahami oleh para
pendengarnya. Demikian juga uraian kalimat dalam berbagai tulisannya, sama enaknya untuk
diikuti, mudah dipahami. Singkatnya baik tuturan lisannya maupun rangkaian kalimat
tulisannya sama baik menariknya. Alias cukup mudah menyenagkan untuk dibaca disimak.
Orang yang memiliki keterampilan berbicara dan menulis lazim dinamkan terampil berbahasa
aktif. Sedangkan orang yang hanya terampil mampu menyimak informasi simakan dan
membaca suatu bacaan, kita bisa menamakknya keterampilan atau kemampuan berbasa pasif.
B. Keteraturan Bahasa-Berbahasa
Sudah berapa lama anda belajar bahasa dan berbahasa indonesia? Kemudian apa yang
anda dapatkan dari pelajaran atau prose pembelajran selama belasan tahun? Angka rapor?.
Yang penting sekarang, mari kita berbahasa sambil bermain angka kata untuk menemukenali
betapa bahasa yang kita pelajari itu memiliki dan sekaligus mengajarkan keteraturan dan
keindahan bahasa yang bernilai filosofis yang bisa kita [Link] secara sederhananya
bisa dikatakan hanya “bermain angka dan kata”. Siapa saja yang terampil cerdas bermain
angka dan kata dengan benar juga, mengikuti suara hati, maka niscahaya akan sukses dan
mendapatkan penghargaan yang baik, pengakuan sosial positif dari masyarakat seputarnya.
Benarlah kata pepatah, baik budi karena bahasa. Artinya, sikap santun berbahasa seseorang
akan mendapatkan pengakuan penghargan positif dan lingkungannya. Demikian pula dengan
konteks yang lebih luas ada pepatah. “Bahasa menunjukkan bangsa!” Bahasa Indonesialah
yang membedakan bangsa indonesia dari bangsa Jepang. Bahasa Jepanglah yang
membedakann bangsa Jepang dari bahasa lain. Perbedaanya konon, orang Jepang sangat
bangga dengan bahasa Jepangnya. Sementara kita, orang indonesia konon sebuah hasil survei
menunjukkan sebagian besar warga masyarakat kita, lebih banyak yang merasa bangga
berbahasa asing daripada berbahasa indonesia.
Bahasa selain mengajarkan keteraturan, juga mengajarkan keindahan perilaku dan
kehalusan budi pemakainya. Untuk memahami maksud pesan mulia dsri aspek bahasa, mari
kita belajar membaca semua buku yang berkualitas, termasuk karya cipta berupa puisi dan
lirik lagu yang kita hafal. Semoga anda beroleh gambaran dan jawaban betapa bahasa itu
sederhana, teratur, indah, dan fungsional. Tanpa bahasa, hidup kita hampa. Tanpa
kemampuan keterampilan kesantunan berbahasa hidup kita tidaklah bermakna.
Siapa yang telah berjasa mengajari kita berbahasa, sehingga kita bisa seperti
sekarang? Dibelakang kita ada dua figur manusia mulia yang telah mendidik kita dari kecil.
Itulah ayah bunda kita. Merekalah yang mengajari kita berbahasa pertma kali. Untuk
mengenang jasa bunda sekaligus mendapatkan pesan mendalam tentang betapa indah dan
fungsionalnya bahasa itu, saya ajak anda untuk menangkap pesan keindahan dari sebiah puisi
.
BAB II
TERAMPIL BERBICARA
A. Jenis Berbicara Formal
Kita, dalam aktivitas berbahasa, sudah mengenal empat aspek keterampilan
berbahasa, yang lazim disebut dengan caturtunggal keterampilan berbahasa. Dinamakan
caturtunggal, karena keempat aspek menyimak berbicara membaca menulis itu satu sama lain
tak dapat dipisahkan, bahkan dalam praktiknya keempat keterampilan itu berkelindah
berkaitan erat satu sama lain. Ketika anda berbicara, pada saat yang sama anda pun
menyimak. Demikian pula, kalau anda membicarakan sesuatu pastilah anda terlebih dahulu
menyimak dan membaca materi yang ada hubungannya dengan pokok pembicaran anda. Bila
tidak, maka pembicaran anda akan dangkal dan hampar, tidak karya tidak informasi
kehilangan substansi.
Banyak faktor yang jadi penyebab mengapa seseorang tidak mau tampil berbicara.
Antara lain, karena si pembicara tidak atau belum menguasai materi pembicaran dan tidak
mau mengguakan metode berbicara yang sesungguya tersediah untuk dipilih.
Bekal untuk berlatih bersama, sekaligus untuk menyegaarkan kembali ingatan kita,
mengingat materi ini, bukanlah hal baru. Berikut ini akan dipaparkan secara ringkas lima
jenis metode berbicara, yang lazim digunakan dalam dunia retorika.
B. Metode Berbicara
Tiada hari tanda berbicara. kenyatan ini berlaku umum, baik setiap orang, dimana
pun, kapan pun, dan apapun profesinya. Menurut taksiran seorang pakar komunikasi, kita
mampu memproduksi kata sebanyak 1.000 – 8.000 kata setiap harinya. Ini satu aset dan
potensi yang sangat besar, tetapi kenyataan untuk berbicara di depan umum, misalnya
berpidato, memberikan sambutan, memadu acara berdoa, ternyata tidak semua orang siap
mengambil peran itu. Bahkan sedikit yang memilih diam, dengan berbagai dalih, bahkan rela
disebut kuper, daripada menerima tawaran berbicara didepan umum.
Sejatinya, berbicara itu bisa dikatakn mudah-mudah gampang asal menguasai pokok
pembicaran, mampu menguasai diri dan bisa menguasai situasi. Di samping itu, harus
mengetahui metodenya (kuasai materi,kuasai diri,kuasai situasi, dan mau siap memulainya).
Berbica iru sendiri adalah kemampuan seseorang mengemukakan gagasan pikiran, pemdapat,
pandangan secara lisan langsung kepada orang lain baik bersemuka bertatap muka langsung
maupun tidak langsung, misalnya, melalui media sosial.
Sudah disinggung dimuka, bahwa dalam dunia retorika, kita mengenal ada empat
jenis metode berbicara yang lazim digunakan. Keempatnya adalah metode spontanitas,
metode garis besar, metodeh naskah,serta akhir-akhir muncul kecenderunggan penggunaan
metode kelima yang kita namakan metode campuran.
Ada lima metode berbicara
1. Metode Serta-Merta
Anda menghadiri suatu acara, misalnya, acara ulang tahun teman, atau syukuran
teman yang akan menunaikan ibadah haji atau undang teman anda yang menikahkan
puterinya. Tidak ada yang kebetulan, bila anda tiba-tiba diminta kesedian untuk memberikan
sambutan, mewakili tuan rumah, pada acar tersebut. Tanpa berpikir panjang, tanpa persiapan
apa-apa sebelumnya. Anda pun akhirnya tampil berbicara . anda telah berbicara dengan
lancar bahkan memukau, karena anda memang sudah bisa-biasa berbicara dalam berbagai
kegiatan acara serupa itu sebelumnya.
Jadi, berbicara dengan metode spontaritis atau serta merta atau impromtum ini, sangat
tidak disukai dan memang tidak bagus untuk setiap orang. Metode spontanititas atau
impromtu hanya bagus dan cocok digunakan oleh orang yang sudah bisa-biasa terbiasa. Bagi
para pembicara pemula, sebaiknya memilih menggunakan metode lain.
2. Metode Garis Besar atau Ekstemporan
Pada saat yang ditentukan anda harus berbicara, memberikan sambutan atas nama
rekan sekerja pada acra syukuran pernikahan putri teman atau atasan anda. Anda, [punya
kesemptan yang cukup untuk melakukan persiapan. Persiapan itu, bisa dilakukan dengan
menyiapkan pointe-pointer atau pokok pembicaran apa yang akan anda sampaikan.
Perhatikanlah, pembicaran anda pun akan berlangsung lancar dengan pilihan kata-
katanya terasa segar. Pilihan kata yang segar, rangkaian kalimat dan nada bicara yang
variatif, tidak monoton, dan pilihan kata-katanya tersa segar. Pilihan kata yang segar,
rangkaian kalimat dan nada bicara yang variatif, tidak monoton, dan pilihan kata-rangkain
kalimat yang cenderung spontan itu mengalir segar dari lisan anda.
3. Metodeh Naskah
Bila metode naskah atau teks yang dipilih, maka anda harus menuliskan secara
lengkap apa-apa yang akan anda sampaikan dalam suatu pidato. Naskah pidato itu anda ketik
rapi, tertib, dan lengkap. Semua hal dengan cermat anda susun, sehingga tak ada yang
terlewat. Berbekal naskah pidato itu, akhirnya nada tampil berbicara memberikan sambutan,
misalnya. Anda dengan berbekal naskah itu tinggal membacakan naskah itu secara lengkap.
Maka, dapat dipahami, bila semua informasi yang telah anda siapkan akan secara lengkap
tersampaikan kepada forum. Hanya saja bila anda terpaku dengannaskah, terlalu asik dengan
teks, nada bicara nada terdengar datar atau monoton, tentu saja pendengar akan merasa bosan.
itulah kelemahan utama metode naskah. Sedangkan kekuatan utamnya, informasi akan
tersampaikan dengan lengkap, tertib, dan sisstematis.
4. Metode Hafalan
Naskah pidato yang suda anda lengkap dari A sampai dengan Z itu, anda baca
berulang-ulang sampai hafal di luar kepala. Maka, ketika anda tampil berbicara, naskah
pidato itu tidak perlu anda bwa dan baca, karena anda sudah menghafalnya. Anda akan
berbicara lancar dan percaya diri saat berpidato. Semoga saja penyakit lupa dan gugup tidak
menyerang anda, sebab bila penyakit itu datang dan anda tidak siap menagkalnya dalam
bilangan detik, bisa membuat anda grogi dan kehilangan konsentrasi untuk melanjutkan
pidato dengan baik. Jadi, kelemahan metode hafalan ini adalah apabila anda lupa dan
konsentrasi anda buyar, yang bisa menyebabkan pembicaran tidak lagi lancar bahkan bisa
buntu.
5. Metode Campuran
Metode kelima yang pada subbab ini, kita sebut, metode campuran bisa juga anda
pilih sebagai metode berbicara. andaikanlah anda akan tampil berbicara jauh-jauh hari sudah
melakukan persiapan, maka tidak mungkin anda menggunakan metode spontanitas, andah
boleh memilih salah stu metode atau menggabungkan beberapa metode yang ada. Bila anda
tidak percaya diri hanya dengan menyiapkan pointer alias menggunkan metode garis besar,
anda bisa menggunakan dua metode sekaligus, yakni menggunkan metode garis besar dan
metode naskah. Artinya, pook pembicaraan tetap anda siapkan dalam bentuk pointer tetapi
pengenbangluasnnya, untuk pointopik tertentu anda lakukan dengan menyiapkan naskah
lengkapnya untuk anda baca pada waktunya.
C. Gangguan Berbicara
Dalam dunia Retorika, kita mengenal paling tidak, ada lima gangguan berbicara .
kelimahnya adalah gangguan visual, gangguan vokal, gangguan cela bicara, gangguan nada
bicara, dan gangguan kontak mata.
1. Gangguan visual
Pernahkah anda mencemati. Pembicaran yang tampil, misalnya dengan pakaianyang
tidak rapi. Pemakain dasi yang tidak rapi, dasi dan kemeja yang tidak serasi bahkan terkesan
norak. Atau pembicara yang lain, sambil asik berbicara, bayangkan kalau begitu anda berdiri
di mimbar dan mengucap salam, tiba-tiba saja para pendengar mitra bicara anda saling
berbisik dan bahkan ada yang tak tahan menahan tawanya, karena melihat penampilan anda
lupa mengancingkan tangan kemeja anda, apalagi kalau anda sebagai pembicara terkesan
norak.
2. Gangguan Vokal
Sangat mungkin terjadi, seseorang berbicara melontarkan satu kata dua kata yang slah
ucap, apakah itu bunyi vokal yang tertukar atau bunyi kosonan yang keseleo. Tetapi bila
salah ucap itu muncul di awal pembicaran dan apa lagi kalau berkali-kali, maka akan lain
ceritanya, paling tidak pasti akan mengundang “perhatian khusus” dari pendengar mitrabicara
kita. Untuk itu berhati-hatilah, sadarilah setiap kata yang terucap itu benar tepat baik ucapan
maupun maknanya.
3. Gangguan Nada Bicara
Audien atau pendengar adalah orang yang paling kritis dalam menyiapkan (baca :
memperhatikan kesalahan) pembicara. Mereka akan hafal betul mana nada bicara yang
variatif mana nada bicara yang monoton. Belum lagi, kalau volume suara kecil, sementara
ruangan besar, sudah sempurnlah pendengar akan merasakan kekecewaan. Perhatikanlah
frekuensi cepat lambat tempo bicara anda. Perhatikan pila intonasi tinggi rendah nada bicara
anda.
4. Gangguan Cela Bicara
Cela bicara yang dimaksud adalah, kemunculan satu dua bunyi suara yang tidak perlu,
tetapi muncul berulang-ulang. Bisa dibayangkan apa reaksi mitrabicara kita, bila anda
berbicara selama lima menit tapi bunyi ee... e.. sering muncul. Itulah salah satu contoh cela
bicara, yang sesunggunya bisa dihindari dengan latihan dan latihan.
5. Gangguan Kontak Mata
Ketika anda, atau sesorang berbicara di depan audiens mitra bicara, sesunggunya
anda sedang berkomunikasih dengan mereka. Setiap kata dan kalimat pesan yang diucapkan
sesunggunya tertuju untuk mereka semua, namun ada kalahnya tidak disadari tatapan mata
anda tidak menunjukkan perhatian anda kepada mereka. Sebaliknya tatapan mata mereka
kepada kita itulah bukti responsif dan respek tidaknya mereka kepada anda sebagai
pembicara.
BAB III
TERAMPIL MEMANDU ACARA
A. Menjadi Pewara/ MC Handal
Berbicara sebagai pewara atau dalam intilah populer lazim dinamkan master
ceremony (MC) dan pembawa/ pemandu suatu acara (host). Berbeda dengan ketika anda
menjadi pemandu/ moderator diskusi, akan berbeda pula bila anda sebagai penyaji
pembicaran dalam suatu acara seminar atau ceramah umum atau orasi ilmiah.
Tugas seorang pewara atau MC dapat dikatakn penyiap, pengonsep, pengatur sekaligus
pengendali jalannya suatu acara yang sudah diskenariokan atau disusun rangkaiaan acara
lebih dulu.
a. Praacara Merancang skenario susunan acara
Merancang skenario acara merupakn kegiatan besar penting yang harus dilaksanakan
dikoordinasikan seorang MC atau pewara dengan berbagai pihak terkait atau kompeten
sebelum (praacara) suatu acara yang dilaksankan . hasil kerjanya berupa rancangan acra yang
apabila sudah mendapat persetujuan jadilah susunan acara.
b. Pada saat acara Mengarahkan membawa acara
Mengelolah, mengendalikan, mengarahkan jalannya acra, merupakan rangkaian
kegiatan maha penting selama acara berlangsung mulai dari membuka sampai dengn
menutup acara.
Berikut Ini akan dipaparkan secara singkat tetapi lengkap kronologi tugas seorang
pewara atau MC, pada ssat berlangsung. Untuk memudahkan kita menggunkan singkatan
3M= membuka, mengarahkan jalannya acara
B. Tips kreatitif pewara/ MC
Sebagai MC perwara, anda harus tampil rapi pantas dengan busana yang sopan. Untuk
kesuksesan anda dalam melaksanakan tugas segai pembicra yang biak,khususnya sebagai
pewara/MC, perhatikan 8 tips kreatif berikut ini
1. Pastikan anda tampil rapi, berbusana sopan, dan menarik perhatian.
2. Berdirilah tegak, tidak perlu mengambil posis kaku seperti berbaris, tetapi berdirilah
dengan rileks.
3. Sapukan pandangan anda seluruh andien, selama 2-3 detik, bangun kontak mata.
4. Pastikan anda tidak mendogak dari naskah atau catatan anda.
5. Pastikan kalimat nada lancar keluar dari hati melalui lisan anda.
6. Kalau ada menggunkan microfon di depan anda, taruhlah agak k etas, atau jangan
ragu meminta bantuan teknisi untuk mengatur posisi yang pas dan pantas untuk
berbicara enak.
7. Pelajarilah prmbengalan dan perubahan suara yang ingin ada gunakan.
8. Ingat tidak selembarpun daun jatuh atau debu yang terbang kecuali atas
kesepengtahuna dari izin allah.
BAB IV
Terampil Memoderatori Acara
A. Defenisi diskusi
Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia (1911 : 238), diskusih adalah
pertemuan ilmiah untuk bertukar fikiran mengenai suatu masalah.
B. Fungsi diskusi
Diskusi yang baik, selain berfungsi utama sebagai upaya bersama mencari
merumumuskan solusi atau maslah yang didiskusikan, sehingga diperoleh satu suatu
kesepahaman dan kesepekatan. Diskusi adalah segai metode belajar juga bermanfaat
untuk melatihkan kebiasan berbifikir berbicara efektif, reflektif, argumentative, dan
solutif dengan menjungjung tinggi objektivitas dan rasa empati.
C. Kiat Praktis Diskusi
Diskusi akan berlangsung dengan baik apabila semua pihak memuiliki
kesadran pentingnya menjukseskan diskusi merupakan tanggung jawab bersama.
Marilah kita bahas M-O-R-S-E-E yang merupakan kependekan dari motivasi,
organisasi, regulasi, situasi, dan empati plus evaluasi itu.
1. Motivasi
Motivasi merupakan unsur penting dalam hidup kita, termasuk bagi suksesnya
pelaksanaan diskusi meskipun demikian motivasi bukanlah segalanya, tetapi
segala sesuatu yang kita lakukan tidak akan berjalan focus maupun berhasail
sukses bila tanpa adanya motivasi atau dorongan, baik motivasi internal maupun
eksternal yang dimilikji sesorang untuk melaksanakan suatu kativitas.
2. Organisasi
Organisasi yang dimkasud adalah pembagian tugas secara proposional-
profesional. Sebuah diskusi akan berlangsung baik-sukses apabila ada pembagian
tugas yang jelas, tegas, proposional, dan adil di antara orang-orang yang terlibat
dalam diskusi. Oleh karena itu, adanya pengorganisasian pembagian tugas dan
kewenangan yang jelas dalam diskusi merupakan sebuah prasyaratan tuntutan
sekaligus tuntutan agar diskusi berlangsung sukses, tertib, dan terarah, serta
budaya guna.
Jadi, prmandu/ moderator, narasumber/ pembicara/ pemateri, penulis/ notulis,
dan peserta/ partisipan merupkan caturperan yang menandai sekaligud prasyarat
penting untuk berlangsunggnya suatu diskusi.
3. Regulasi
Regulasi yang dimaksud disini adalah tata tertib atau aturan main yang
disepakati agar diskusi berjalan lancae, tertib, sistematis, tepat waktu, dan
tepat topic, serta sukses mencapai sasaran. Jalannya diskusi yang meliputi
prakta pembukaan oleh moderator, pemaparan materi oleh narasumber,
pesndiskusian yang melibatkan narasumber peserta dan penyimpulkan serta
penutupan itu perlu diatur dengan baik, dialokasikan waktunya secara
proposional dan rasional.
4. Situasi
Situasi kondusif suasana yang menunjang berlangsungnya sebuah
diskusi harius diciptkan bersama sma. Oleh kerena itu, perlu adanya
pengaturan yang cerdas tentang tata letak perlengkapan audiao visual, tempat
duduk pesrta, posisi moderator pemateri penulis, pengaturan tata cahaya,
pengaturan tata suara, pengaturan tata letak aristik keseluryhan ruangan dan
pengaturan multimedia pendukung lainnya.
5. Empati
Rasa empati sikap menghargai orang lain seprti menghargai diri
sendiri, merasakan perasaan orang lain dengan hati perasaan sendiri, sejatinya
merupakan sikap sigat yang harus dimiliki siapapun dalam berbagai situasi
komunikasih, wabilkhusus dalam situasi diskusi. Bayangkan kalau seseorang
menunjukkan sikap antipasti kepada anda apa dan bagaimna perasan anda?
Komunikasih pasti tidak akan berjalan dengan baik. Inilah pentingnya rasa
empati demi kesuksesan sebuah diskusi.
6. Evaluasi
Diskusi sebagai proses pembelajaran, lebih khusus dalam kontak-
konteks pembelajaran berbicara yang merupakan bagian integral dari egiatan
berbahasa, maka evaluasi mrupakan hal yang mutlak harus dilakukan
berkaitan dengan teknik diskusi bagaimna peran dan gaya bicara moderator,
peeran dan gaya pembicara, apakah menyakinkan menyenangkan atau malah
menjemukan atau menegangkan, pahami response peserta.
D. Topik dan Narasumber
MORSEE yang dipaparkan diatas merupakan persyaratan sekaligus kita agar
sebuah diskusi berlangsung dengan baik dan sukses mencapai sasarannya. Selain enak
hal yang terangkum dalam akronomi MORSEE itu, ada dua hal penting lain yang juga
akan menentukan kesuksesan sebuah diskusi, dan harus mendapatkan perhatian, yaitu
aktualitas topik dan popularitas kepakaran narasumber.
Jadi sebuah diskusi, selain memenuhi unsur MORSEE, akan berlangsung
sukses, tertib, dan menarik minat banyak pihak apabila ditopang dengan pilihan topic
diskusi actual menarik yang sedang menjadi pusat perhatian public dari nama
narasumber yang mumpuni popular karean integritas kepekarannya.
E. Kronologi Tugas Moderator
Moderator akan melaksanakan tugas, dalam suatu forum biasanya, setelah ia
diundang dipersilahkan oleh pewara/MC pembawa acara berikut ini penjelasan
ringkas urutan 7 M yang merupakan kronologi tugas seorang moderator membuka
memperkenalkan, menjelaskan, mempersilakan, mengrahkan, menyimpulkan, dan
menutup diskusi.
1. Membuka
Apabila anda menjadi moderator / pemandu diskusi, awalilah dengan ucapak
salam dan sapaan dengan tak lupa menebar senyum bersahabat kepada audiens.
Sampaikan salam sapaan sebagai tanda hormat anda kepada audiens. Selanjutnya
moderator berkomunikasih dengan audien pesrta.
Sampaikan sapaan slam, ajakan bersyukur, dan harapan positif kepada peserta
untuk mengikuti jalannya seminar diskusi dengan baik serta tekad memtik
manfaat, menambah pengertahuan wawasan dan topic yang didiskusikan.
2. Memperkenalkan
Moderator harus memperkenalkan narasumber dan notulis. Dalam diskusi formal,
memperkenalkan narasumber lazimnya dengan cara memberitahukan serba
lengkap siapa beliau itu. Tapi sangat biasa juga memperkenalkan narasumber
dengan membacakan biodata atau CV-nya. Kurikulum vitae yang dibacakan
moderator biasanya apa-apa yang dituliskan oleh narasumber, stelah diminta .
3. Menjelaskan
Langka berikutnya, moderator menjelaskan topic diskusi, teknis pendiskusian ,
dan informasi waktu yang tersedia dengan pengalokasiannya. Misalnya apa topic
yang kan disampaikan pemateri/ narasumber, berapa lama watu yang tersedia
untuk memaparkanya. Diskusi Tanya jawab akan dilaksanakan beberpa lama,
berapa sesi, tiap sesi diberikan kesempatan untuk berapa orang penanya, tiap
penanya boleh menanyakan berapa pertanyan.
4. Mempersilahkan
Langka berikutnya keempat, sang moderator akan mempersilakan siapa untuk
menyampaikan siapa untuk menyampaikan apa. Setelah segala nya jelas, situasi
diskusi sudah kondusif sependuhnya terkendali. Barulah moderator
mempersilhkan narasumber untuk menyampaikan perannya, apabila narasumber
keasikan berbicara watu yang tersedia hamper habis atau mungkin juga sudah
lewat beberapa menit, maka moderator berhak mengigatkan narasumber dengan
cara yang santun.
5. Mengarahkan
Tugas mahapenting sang moderator adalah mengarahkan diskusi agar berjalan
tertib, lancar, tepat waktu, tepat topic, dan berusaha keras agar partisipasai peserta
diskusi merata. Yang tak lkala pentingny adalah mendapatkan kesempahaman dan
kesepakatan atau simpulan yang komprehensif dari diskusi itu.
6. Menyimpulkan
Menaruik simpulan diskusi merupakan tugas penting lain dari seorang
moderator diskusi. Dalam praktiknya, penyampaian simpulan bias dilakukan bias
juga tidak. Misalnya, kalau waktu sudah sangat sempit dan/ atau permasalahan
sangat gamblang terdiskusikan, maka moderator bisa mempersilahkan audiens
menyimpulkan sendiri.
7. Menutup
Menutup merupakan rangkaian terakhir dari 7M (membuka, memperkenalkan,
menjelaskan, mempersilahkan, megarahkan, meyimpulkan, dan menutup) yang
merupakan kronologi tugas seorang moderator atau pemandu diskusi.
BAB V
KARYA TULIS AKADEMIK
A. Pengantar
Tulisan merupakan salah satu alat komunikasi. Menulis termasuk salah satu
bentuk kegiatan dan keterampilan berbahasa, disamping bentuk kegiatan keterampilan
berbahasa lainnya, yakni menyimak, berbicara, dan membaca. Dengan demikian,
tulisan merupakan salah satu alat berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tulis.
Karena komunikasi melalui tulisan itu bersifat tidak langsung, maka penulis tidak
dapat menjelaskan sesuatu yang diekspresikannya dengan unsur – unsur pembantu
komunikasi lainnya, seperti mimik, gerak anggota tubuh, nada suara, dan sebagainya.
Kemampuan menulis kita, siapapun dan apapun profesinya, akan meningkat apabila
kita memiliki pengetahuan yang memadahi tentang tulis menulis, disamping rajin
berlatih. Karena menulis merupakan sebuah keterampilan, maka kemampuan menulis
akan meningkat apabila sering dilatih.
B. Pengertian Menulis
Menulis merupakan sebuah proses kreatif menuangkan gagasan dalam bentuk
bahasa tulis untuk tujuan, misalnya, memberi tahu, meyakinkan, menghibur. Hasil
dari proses kreatif menulis disebut dengan istilah tulisan atau karangan. Kedua isitlah
tersebut mengacu pada hasil yang sama meskipun ada pendapat yang mengatakan
kedua istilah tersebut memiliki pengertian yang berbeda. Istilah menulis sering
diletakkan pada proses kreatif yang berjenis ilmiah. Sementara istilah mengarang
sering dikatakan pada proses kreatif yang berjenis non ilmiah. Melalui tulisannya
penulis bisa mengungkapkan gagasan, pikiran, perasaan, pendapat, kehendak dan
pengalamannya kepada pihak lain, dalam hal ini para pembaca. Singkatnya menulis
sebagai sebuah keterampilan berbahasa adalah kemampuan seseorang dalam
mengemukakan gagasan, perasaan, dan pikiran pemikirannya kepada orang atau pihak
lain dengan menggunakan media tulisan.
C. Jenis – Jenis Tulisan
Penjenisan tulisan dapat ditinjau dari berbagai segi, antara lain berdasarkan
objektifan masalah dan berdasarkan isi dan sifatnya. Berdasarkan keobjektifan
masalahnya adalah tulisan dapat dibedakan menjadi tiga jenis yaitu: (1) tulisan
ilmiah, (2) tulisan popular, (3) tulisan fiktif.
Permasalahan yang disajikan melalui tulisan yang bersifat ilmiah betul – betul
objektif, sifat permasalahan tersebut biasanya sudah diteliti dengan seksama, baik
memulai penelitian dilapangan, dilaboratorium, maupun dengan cara mengkaji buku –
buku sumber yang relefan dengan masalah tersebut. Seperti halnya tulisan ilmiah,
tulisan popular pun sejatinya disajikan secara sistematis, dengan bahasa yang lugas,
tetapi kelogisan semi ilmiah atau tulisan popular masih dapat dipertanyakan, karena
tulisan semacam ini dibuat penulisnya tanpa penilaian yang seksama. Pada tulisan
fiktif, cerita, dan fakta yang disajikan betul – betul sangat mewarnai oleh subjektifitas
dan imajinasi pengarangnya, sehingga penafsiran pembaca terhadap permasalahan
tersebut dapat beraneka ragam. Berdasarkan isi dan sifatnya tulisan terdiri atas: (1)
naratif, (2) deskriptif, (3) ekspositorik, (4) persuasive, (5) argumentative.
D. Fungsi Tulisan
Fungsi tulisan dapat diidentifikasi antara lain sebagai alat untuk: (1)
menginformasikan sesuatu kepada pembaca, (2) meyakinkan pembaca, (3) mengajak
pembaca, (4) menghibur pembaca, (5) melarang atau memerintah pembaca, (6)
mendukung pendapat orang lain dan (7) menolak atau menyanggah pendapat orang
lain.
E. Langkah – Langkah Penulisan
Bila dibandingkan dengan ketiga keterampilan bahasa lainnya, yaitu
menyimak, membaca, berbicara, keterampilan menulis dapat dikatakan keterampilan
berbahasa yang paling kompleks. Keterampilan menulis merupakan suatau kegiatan
yang mempunyai hubungan dengan proses berfikir dan keterampilan ekspresi dalam
bentuk tulisan. Kompleksitas tulisan ini disebabkan oleh factor- factor yang mesti
terwujud didalam tulisan, yaitu: sistematika tulisannya, ejaan, diksi dan lain –
lain,bahkan kemampuan penulis atau pengarang itu dapat merangkum ketiga
keterampilan berbahasa lainnya.
F. Jenis Karya Tulis Akademik
Karya tulis akademik yang dimaksud disini adalah karya tulis yang bisa
disusun oleh masyarakat akademik atau sebagai tugas – tuga yang bertalian dengan
kegiatan akademik pada suatu jenjang pendidikan tinggi. Karena itu karya tulis
akademik dapat berupa karya tulis mulai yang sederhana samapai dengan karya tulis
yang kompleks. Jenis karya tulis akademik meliputi makalah, artikel, kertas kerja,
laporan penelitian dan lain – lain.
G. Bagian – Bagian Karya Tulis
Secara umum, bagian – bagian karya tulis dapat dikelompokkan menjadi tiga
bagian yaitu: bagian depan, bagian tengah, bagian belakang. Kelengkapan dan urutan
untuk setiap bagian disamping ada keseragaman juga dapat keberagaman,
keberagaman ini ditandai dengan adanya aturan setengah selingkungan yang berlaku
khusus pada suatu lembaga pendidikan. Misalnya, apa yang berlaku di STPB
mungkin berbeda dengan yang berlaku di STPA.
Berikut ini adalah rincian bagian – bagian karya tulis akademik yang akan
dijelaskan sebagai berikut:
1. Bagian depan: sampul depan, halaman sampul, daftar isi, kata pengantar, halaman
persembahan, halaman persetujuan, halaman pengesahan, halaman daftar table,
daftar gambar atau grafik dan daftar lampiran serta abstrak
2. Bagian tengah meliputi seluruh isi karya tulisan mulai bab I, pendahuluan sampai
bab terakhir, misalnya bab V, yang berisi kesimpulan dan saran.
3. Bagian belakang meliputi: lembar daftar pustaka, biodata penulis, lampiran –
lampiran dan sampul belakang.
BAB VI
PENGETAHUAN DAN CONTOH PRAKTIS SURAT – MENYURAT
A. Definisi Surat
Surat adalah sarana komunikasi tertulis antara satu pihak dengan pihak yang
lain yang saling berkepentingan, surat adalah sehelai kertas bertulis atau lebih yang
memuat suatu bahan komunikasi berupa pemberitahuan, permohonan, undangan dan
lain – lain. Dalam praktik surat menyurat senantiasa ada informasi atau pesan yang
disampaikan, ada pihak pengirim dan penerima informasi atau pesan, ada media yaitu
tulisan kertas bertulis.
B. Fungsi Surat
Fungsi surat dalam kehidupan bermasyarakat antara lain dapat dirumuskan
sebagai alat komunikasih, alat bukti auntentik, alat bukti historis, duta/hakim
pedoman pelaksanaan tugas, dan sebagai pengikat pemandu berfikir.
C. Syarat Surat yang Efektif
Surat dapat dikatakan baik dan efektif apabila sipenerima surat dapat dengan
tepat memahami isi surat yang di terimanaya sesuai dengan maksud si penulis surat.
Oleh karena itu, surat yang baik harus memiliki kriteria: Benar, Jelas, Lengkap, Baik,
Bersih, Rapih, Tertip, dan Sopan. Dengan rumus yang lain surat yang baik dan efektif
itu harus memenuhi syarat:
1. Bahasa yang singkat, tidak bertele-tele dan jelas.
2. Mengikuti aturan penulis yang baik dan benar.
3. Menggunakan pola surat yang benar.
4. Pesan disampaikan benar, jelas, sopan, dan simpatik
5. Tampilan rapih,bersih terhindar dari coretan dan hapus saja yang tidak perlu.
D. Jenis-jenis Surat
1. Jenis surat berdasarkan asalnya
Surat berdasarkan asalnya dibedakan menjadi 4 yakni surat yang berasal dari
pribadi atau persorangan, dinas, sosial, dan niaga.
2. Jenis surat berdasarkan sasarannya
Berdasarkan sasarannya surat dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yakni surat biasa,
surat edaran, dan pegumuman.
3. Jenis surat berdasarkan bentuknya
Surat berdasarkan bentuknya atau wujudnya, antara lain berupa: kartu
post/aerogram, selegram, surat bersampul, wesel, faksimi, memo dan nota.
4. Jenis surat berdasarkan keamanan isinya
Surat berdasarkan keamanan atau rahasia isinya, dapat dibedakan menjadi 4 jenis,
yakni: surat sangat rahasia surat rahasia,surat konfidensial,dan surat biasa.
5. Jenis surat berdasarkan situasinya
Surat berdasarkan situasinya terdiri dari surat pribadi, surat semi pribadi, dan surat
resmi yang dibedakan menjadi 2: surat resmi kedinasan dan surat resmi bisnis.
6. Jenis surat berdasarkan urgensinya
Surat berdasarkan urgensi atau tingkat kepentingannya dapat dibedakan menjadi
surat sangat segerah dan surat biasa.
E. Pola dan Bagian-bagian Surat Dinas
Pola surat dapat dibedakan satu sama lain, terletak pada perbedaan
penempatan posisi letak bagian-bagian surat itu, bagian-bagian surat secara garis
besarnya terdiri dari 4 bagian: kepala, leher, badan, dan kaki.
F. Cara Penulisan Bagian Surat
Cara penulisan bagian surat terdiri dari: kop surat, tanggal surat, nomor surat, lempira
surat, perihal surat, alamat tujuan, salam pembuka, isi surat, salam
penutup,penanggung jawab surat, tembusan surat, inisial –kode, pengonsep, dan
pengetik surat, maka akan memudahkan mengetahui siapa yang berbuat salah.
G. Pola dan Penulisan Bagian – Bagian Surat Pribadi
Berdasarkan penempatan bagian – bagian surat sebagaimana terlihat pada gambar
pola dan contoh surat pribadi, berupa surat ijin dan surat lamaran kerja (SLK), berikut
ini penulisan bagian – bagian surat pribadi yang terdiri dari alamat pengirim, tanggal
surat, alamat tujuan, salam pembuka, isi surat, salam penutup, tanda tangan dan nama
jelas penulis surat.
H. Kelengkapan Surat Lamaran
Kelengkapan surat SLK yang dimaksud adalah keterangan penguat pelengkap yang
biasanya disertakan dalam sebuah SLK. Kelengkapan biasanya terdiri dari: riwayat
hidup, fotocopi identitas diri, pas foto terakhir, keterangan pendidikan, surat
keterangan bekerja, surat keterangan dokter, surat keterangan berkelakuan baik.
I. Sumber Informasi Kerja
Si pelamar kerja bisa mendapatkan informasi adanya kesempatan lowongan kerja
melalui: iklan surat kabar, radio, majalah, teman kenalan, pengumuman disekolah,
bursa tenaga kerja, dan depnaker.
J. Pelipatan Surat
Dalam dunia persuratan ada sepuluh jenis kelipatan yang lajim dipakai yaitu: lipatan
standart, lipatan akordion, lipatan standart rendah, lipatan akordion rendah, lipatan
tunggal, lipatan ganda parallel, lipatan perancis, lipatan baron, lipatan gerbang, lipatan
gerbang ganda.
K. Kertas Surat
Perangkat persuratan yang paling penting adalah kertas. Berdasarkan aturan
internasional, kertas dibedakan atas tiga ukuran yaitu seri A, B dan C.
L. Amplop
Amplop pada umumnya digunakan untuk memasukkan material yang datar baik itu
kertas surat, kertas dokumen, uang, cek, laporan tahunan, dan sebagainya.
BAB VII
PROPOSAL DAN LAPORAN KEGIATAN
A. Proposal
1. Pengertian Proposal
Proposal adalah suatu bentuk rancangan kegiatan yang dibuat secara formal
dan standart serta diajukan kepada pemimpin atau pemangku kepentingan untuk
mendapatkan pertimbangan persetujuan. Pada umumnya proposal merupakan
tulisan informative dan persuasive yang mengedukasi dan meyakinkan
pembacanya untuk melakukan sesuatu karena didalamnya terdapat solusi praktis
dan tepat untuk kedua belah pihak.
2. Jenis proposal
a) Proposal Kegiatan
Proposal kegiatan yang dimaksud disini adalah sebuah usulan rencana
kegiatan yang akan dilaksanakan pada waktu dan momentum tertentu.
Komponen – komponen proposal sebagai berikut: nama kegiatan, dasar
pemikiran, tujuan dan pemanfaatan kegiatan, ruang lingkup kegiatan, waktu
dan tempat kegiatan, penyelenggara atau panitia, dan anggaran biaya.
b) Proposal Usaha/Bisnis
Proposal usaha adalah sebuah proposal yang dibuat dengan tujuan untuk
melakukan suatu usaha untuk menambah permodalan usaha atau memajukan
kredit ataupun kerja sama dalam rangka mengembangkan bisnis. Berikut ini
sub – sub yang ada dalam komponen sebagai berikut: kata pengantar, daftar
isi, resume, latar belakang perusahaan, aspek pemasaran, aspek produksi,
aspek personalia, aspek pelaksanaan proyek, aspek keuangan, aspek analisis
keuangan, aspek analisis keuangan dampak sosial dan lingkungan, aspek
lampiran.
c) Proposal Penelitian dan Pendidikan
Proposal penelitian dan pendidikan adalah proposal adalah proposal yang
dibuat dalam melakukan penelitian ilmiah ataupun kegiatan yang bernuansa
pendidikan seperti pengajuan beasiswa, penelitian ini sendiri bisa berupa
proyek penelitian yang dibiayai sponsor atau pemerintah.
B. Laporan Kegiatan
1. Penelitian Laporan
Laporan adalah segala sesuatu yang dilaporkan atau diinformasikan oleh
seseorang kepada orang pihak lain baik secara lisan maupun tulisan. Isi laporan
misalnya, dapat berupa hasil : pelaksanaan sesuatu kegiatan, praktik laboratorium,
percobaan atau eksperimen.
2. Fungsi Laporan
a) Fungsi informasi
Mengandung pengertian bahwa laporan berguna sebagai sumber informasi
bagi pejabat yang melaksanakan tugas.
b) Fungsi pertanggung jawaban
Merupakan tanggung jawab pelapor mengenai hal – hal yang dilaporkan
berkaitan dengan pekerjaan atau tugas yang dipertugaskan kepadanya.
c) Fungsi pengawasan
Laporan mengandung arti bahwa adanya laporan ini mengenai hal – hal yang
dilaporkan berkaitan dengan pekerjaan atau tugas.
d) Fungsi pengambilan keputusan
Mempunyai makna bahwa seorang pemimpin misalnya, biasa mengambil
suatu keputusan atau kebijakan berdasarkan laporan.
3. Syarat Laporan
Prinsip dalam penyusunan sama dengan prinsip berkomunikasi pada
umumnya. Agar laporan dapat dipergunakan sebagai alat komunikasi yang efektif,
paling tidak sebuah laporan itu harus memenuhi enam syarat yaitu: benar, akurat,
lengkap, jelas, sistematis dan objektif.
4. Jenis Laporan
Kita mengenal laporan sangat beraneka ragam corak dan bentuknya, laporan
dapat dilihat dari segi masuknya, dari segi bentuknya, dari segi cara penyampaian
dan dari segi waktu penyampaiannya.
5. Tahapan Penyeseuaian Laporan
Penyusunan laporan, terutama yang berbentuk buku termasuk penyusunan
karya tulis akademik, misalnya tugas proyek akhir KTI dalam skripsi mahasiswa,
lajimnya melalui beberapa tahap yaitu tahap persiapan, tahap pengumpulan bahan
dan data, tahap pengolahan data dan bahan, tahap penyuntingan, tahap penyajian
laporan.