PERBANDINGAN KUALITAS JARINGAN TEKNOLOGI 4G DAN 3G
BERDASARKAN RSRP(REFERENCE SIGNAL RECEIVED POWER)
MENGGUNAKAN G-NET TRACK
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan teknologi pada zaman globalisasi saat ini merupakan salah satu faktor
yang mempengaruhi tingkat kehidupan masyarakat. Kebutuhan user akan informasi membuat
perkembangan teknologi menjadi sangat cepat. Karena kebutuhan user inilah sehingga
penyedia layanan telekomunikasi memperbaiki layanan salah satunya kualitas jaringan
menjadi lebih baik. Dibutuhkan bit rate yang maksimal, cakupan area yang luas dan juga
efisiensi jaringan untuk memenuhi kebutuhan user.
3G merupakan generasi ketiga dari teknologi jaringan telekomunikasi, yang diapdosi
dari IMT-2000 untuk diaplikasikan pada jaringan telepon selular. 3G memiliki kecepatan
transmisi yang berkisar antara 384 Kbps – 2 Mbps. 3G sebenarnya memiliki kemampuan
transmisi data yang lebih, memungkinkan panggilan suara dan video, transmisi file, internet,
TV online, melihat video kualitas tinggi, bermain game dan banyak lagi. 3.5G adalah kemajuan
perkembangan dari 3G, terkadang disebut juga Turbo 3G atau HSPA. Teknologi HSPA adalah
singkatan dari High Speed Packet Access yaitu Paket Akses Kecepatan Tinggi. Secara garis
besar ini merupakan penggabungan dari dua protokol telepon selular yaitu HSDPA dan
HSUPA. HSPA dapat berkembang dan meningkatkan kinerja jaringan telekomunikasi generasi
ketiga 3G dengan memanfaatkan jaringan WCDMA. Teknologi ini pertama kali mampu
mencapai kecepatan transmisi hingga 14 Mbps untuk download dan 5.76 Mbps untuk upload.
3.75G adalah kemajuan perkembangan yang ditingkatkan dari HSPA yaitu HSPA+ atau
disebut juga Evolved HSPA, dirilis tahun 2008 dan digunakan di seluruh dunia berikutnya
mulai tahun 2010. Secara teoritis Teknologi ini mampu mencapai kecepatan hingga 42 Mbps.
3.9G adalah kemajuan dari HSPA+, bisa disebut juga Advanced HSPA+ dan awal mula dari
teknologi LTE untuk meningkatkan kapasitas dan kecepatan. LTE telah melakukan banyak
pengujian kecepatan hingga memiliki beberapa macam kategori yang selanjutnya mampu
mencapai standar untuk 4G.
4G merupakan generasi keempat jaringan nirkabel untuk komunikasi mobile dan
merupakan solusi jaringan komunikasi yang komprehensif dan aman dengan kecepatan data
yang jauh lebih cepat dari generasi sebelumnya. Teknologi 4G distandarisasi oleh 3GPP(Third
Generation Partnership Project). Secara teori menurut standarisasi 3GPP bahwa ssitem LTE
mampu mencapai data rate downlink 100Mbps dan uplink hingga 50Mbps dengan bandwidth
maksimal yang disediakan adalah 20Mhz. Teknologi LTE dalam satu sel dapat melayani user
yang lebih banyak dengan didukung penggunaan multiple antenna serta fleksibel dalam
penggunaan bandwidth. LTE didukung dengan penggunaan teknologi OFDMA (Othoghonal
Frequency Divison Multiple Access) untuk arah downlink, kemudian teknologi SC-FDMA
(Single Carrier Frequency Division Multiple Access) arah uplink untuk mencapai data rates
yang lebih tinggi dan penggunaan bandwidth yang maksimal dan efisien. Teknologi LTE
didukung oleh teknologi antenna yaitu MIMO (Multiple Input Multiple Output) dimana
penggunaan antenna MIMO dapat meningkatkan data rates, efisiensi frekuensi dan mengurangi
kemungkinan hilangnya informasi yang dikirimkan dibandingkan jika menggunakan sistem
transmisi tunggal.
G-Net track adalah sebuah net monitor dan aplikasi drive test untuk koneksi
5G/4G/3G/2G jaringan radio. Melalui aplikasi inilah percobaan kali ini dilakukan, yaitu dengan
membandingan hasil dari drive test untuk provider 3 (three) pada kuat sinyal jaringan 4G dan
3G. Metode yang di pakai adalah dengan tracking/drive test sekaligus monitoring tentang kuat
sinyal atau RSRP (Reference Signal Received Quality).
Melalui metode ini, diketahui bahwa G-Net track yang kali ini melakukan drive
test/tracking pada provider 3 (three) , Drive test dilakukan sebagai bagian dari optimalisasi
jaringan sinyal radio. Pekerjaan ini bertujuan mengumpulkan informasi yang nyata di lapangan.
Informasi tersebut adalah keadaan nyata sinyal radio dari suatu titik alat pemancar/penerima,
pada kali ini yang dibandingkan antara kuat sinyal 3G/4G di provider yang sama, tempat yang
sama (longitude,latitude, dan altitude), menghasilkan data pada kuat sinyal 4G baik, tetapi pada
beberapa titik mengalami penurunan, hal ini bisa saja disebabkan oleh traffic yang padat pada
salah satu point. Lalu pada kuat sinyal 3G, mengalami hal yang stabil, dalam arti RSP<80, hal
ini bisa saja disebabkan oleh traffic yang tidak sebanyak 4G.
Berdasarkan penjelasan di atas maka pada penulisan ini meneliti tentang perbandingan
kualitas jaringan teknologi 4g dan 3g berdasarkan rsrp(reference signal received power)
menggunakan g-net track.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara mendapatkan parameter sinyal 3G menggunakan G-Net Track?
2. Bagaimana cara mendapatkan parameter sinyal 4G menggunakan G-Net Track?
3. Bagaimana hasil perbandingan RSRP pada teknologi 4G dan 3G?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Mengetahui parameter parameter performansi jaringan 3G dan 4G.
2. Mampu mengetahui cara tracking dengan menggunakan G-Net track.
3. Mampu menganalisa hasil perbandingan kuat sinyal system jaringan 3G dan 4G pada
provider 3(Three)
1.4 Manfaat Penelitian
Bagi penulis : Dapat mengetahui lebih dalam tentang jaringan 3G dan 4G.
Bagi pembaca : Dapat mengetahui beberapa titik yang memberikan layanan lebih baik.
1.5 Batasan Masalah
1) Membahas teknologi 3G dan 4G provider 3 (Three)
2) System 3G menggunakan parameter RSCP.
3) Sistem 4G menggunakan parameter RSRP, RSRQ, dan SNR.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Pustaka
Pada penelitian sebelumnya telah dilakukan analisa pengaruh jarak antara user
equipment dengan eNodeB terhadap nilai RSRP (reference signal received power) pada
teknologi LTE 900Mhz. Metode yang digunakan adalah pengukuran drive test serta
perhitungan Link Budget dan Model Propagasi. Hasil dan analisa menunjukkan
perubahan nilai RSRP yang tidak teratur yang disebabkan karena faktor obstacle yang
bervariasi dilingkungan propagasi. Menurut hasil perhitungan Link Budget dan Modal
Propagasi pada objek penelitian diperoleh penurunan nilai RSRP sebesar 0,04 dBm.
Setiap perubahan jarak 0,1 Km. Berdasarkan perbandingan diperoleh Model Propagasi
[Link] lebih mendekati dengan hasil pengukuran drive test dibandingkan Model
Propagasi Okumura Hatta.
2.2 Dasar Teori
2.2.1 Pengenalan 3G
Teknologi generasi ke tiga (3G Third Generation) dikembangkan oleh suatu
kelompok yang diakui dan merupakan kumpulan para ahli dan pelaku bisnis yang
berkompetrn dalam bidang teknologi wireless didunia. 3G (Third Generation) ITU
(International Telecommunication Union) mendefinisikan 3G sebagai teknologi yang
dapat unjuk kerja sebagai berikut:
Mempunyai kecepatan transfer data sebesar 144Kbps pada kecepatan user
100km/jam.
Mempunyai kecepatan data sebesar 384Kbps pada kecepatan berjalan kaki.
Mempunyai kecepatan transfer sebesar 2 Mpbs untuk user diam (stasioner).
Dibawah ini macam-macam evolusi jaringan pada sistem 3G:
1. WCDMA (Wideband Coded Division Multiple Access) atau UMTS (Universal
Mobile Telecommunication System).
UMTS dikembangkan di Eropa dan mulai diperkenalkan 2004. UMTS
dirancang sehingga dapat menyediakan bandwidth sebesar 2Mbits/s. Frekuensi
radio yang dialokasikan untuk UMTS adalah 1885-2025Mhz dan 2110-2200Mhz.
Frekuensi UMTS diberbagai negara dan kawasan :
Asia dan Eropa (umumnya) pada frekuensi 2100Mhz untuk downlink dan
1900Mhz untuk uplink.
Amerika Serikat (oleh operator AT&T Mobility) pada frekuensi 1900Mhz atau
850Mhz.
Amerika pada frekuensi 2100Mhz untuk downlink, 1700Mhz untuk uplink.
Eropa pada frekuensi 900Mhz.
Australia dan Jepang pada frekuensi 800Mhz.
2. EDGE (E hanced Date Rates for GlobaVGSM Evolution) atau E-GPRS (Enhanced
-General Packet Radio Services )
Kecepatan transfer data EDGE bahkan dapat mencapai kecepatan hingga 236.8
kbit/s dengan menggunakan 4 timeslots dan 473.6 kbiVs dengan menggunakan 8
timeslots. kemampuan EDGE mencapai 3-4 kali kecepatan akses jalur kabel
telepon (biasanya sekitar 30-40 kbps) dan hampi 2 kali lipat kecepatan CDMA
2000 lX yang hanya sekitar 7080 kbps. EDGE di sebut juga teknologi 2.75 G tetapr
karena kecepatan tansfer datanya sama dengan 3G maka EDGE di masukan 3G.
3. CDMA2000 lX EV/DV l-volurion, Data/Voiccj dan CDMA2000-1X EVDO (Data
Only) / (Data Optimized) atau IS-856.
Pada arvalnya CDMA2000 lXEV-DO (Rev.0) hanya bisa mengirim data sampai
2,4 Mbps, tetapi kemudian berkembang sehingga CDMA2000 l\lIV-DO (data
only) dibagi menjadi 3 berdasarkan kecepatan transfer datanya :
CDMA2000 lxEV-DO Revisi A (T-1 speeds) bisa mengirimkan data sampai 2,45
Mbps sampai 3.1 Mbps dan mendukung aplikasi seperti konferensi video.
CDMA2000 I XEV-DO Revisi B ini mampu melakukan transmisi data maksimal
sampai 73,5 [Link] lainnya adalah CDMA2000 lxEV-DV yang
mengintegrasikan layanan suara dan layanan multimedia data paket berkecepatan
tinggi secara simultan pada kecepatan sampai 3,09 Mbps namun keduannya hanya
mempunyai kecepatan transfer pada 300 Kbps. CDMA2000 lxEV-DO Revisi C
dikenal dengan nama UMB (Ultra Mobile Broadband) dapat mendukung kecepatan
data hingga 280 Mbps pada kondisi puncak (275 Mbps downstream dan 75 Mbps
upstream) sehingga dapat dikategorikan kedalam 4G (Fourth-Generation), dapat
melayani layanan IP-based Voice (VOP), multimedia, broadband, Teknologi
informasi, entertainment dan jasa elekronik komersial juga mendukung penuh
jaringan jasa wireless pada lingkungan mobile sehingga tidak beda dengan jaringan
Wi-Fi, WiMAX, UWB, dll.
4. TD-CDMA (Divisi Kode Divisi Waktu untuk Mengakses) atau UMTSTDD
(Sistem Telekomunikasi Seluler Universal-Dupleksing Divisi Waktu) di Eropa
Merupakan jaringan data mobile staidar teknologi 3G yang dibangun pada
jaringan selular telepon mobile standar UMTS/WCDMA dimana keduanya baik
UMTS/WCDMA maupun TD-CDMA/IMTS-TDD tidak saling mendukung
dikarenakan perbedaan cara kerja, desain, teknologi dan frekuensi yang dipakai. Di
Eropa frekuensi yang dipakai UMTS-TDD ada pada 2010-2020MHz untuk
mentransfer data pada kecepatan 16 Mbps (pada saat kecepatan maksimum baik
Downlink maupun Uplink).
5. GAN (Generic Access Network) atau UMA (Unlicensed Mobile Access)
Teknologi ini di adopsi oleh 3GPP pada bulan April 2005. GAN di tujukan
agar sistem telekomunikasi dapat berjalan secara roaming dan dapat mengangani
jaringan LAN (WLAN) dan WAN dalam telepon mobile secara menjadi
bersamaan.
6. HSPA (Akses Paket Berkecepatan Tinggi)
HSPA merupakan teknologi dari penyatuan protokol teknologi mobile
sebelumnya, sehingga memperluas dan menambah kemampuan (terutama dari sisi
kecepatan transfer data) dari protokol UMTS yang telah ada sebelumnya. Karena
ada perbedaan kemampuan (downlink dan uplink) tersebut HSPA di bagi mejadi 2
standar, yaitu:
- HSDPA (High Speed Downlink Packet Access)
Merupakan standar HSPA dengan kemampuan dari sisi kecepatan
transfer downlinknya, dimana HSDPA dapat mencapai kecepatan downlink 7.2
Mbps dan secara teori dapat ditingkatkan sampai kecepatan 14.4 Mbps dengan
maksimum uplink 384 kbps. HSDPA selain dapat digunakan oleh handphone
dapat pula digunakan oleh Notebook untuk mengakses data dengan kecepatan
tinggi.
- HSIJPA (High Speed Uplink Packet Access)
Merupakan standar HSPA dengan kemampuan dari sisi kecepatan
transfer uplinknya (dari handset ke jaringan), djmana HSUPA dapat mencapai
kecepatan uplink secara teori sampai kecepatan 5.76 Mbps, tetapi HSUPA ini
tidak implentasikan (dikomersialkan) dan handsetnya tidak dibuat.
7. HSPA+ (HSPAEvolLrtion)
Merupakan teknologi pengembangan dari HSPA terutama pada kecepatan
transfer data yang dapat mencapai kecepatan 42 Mbit/s pada downlink dan 11
Mbit/s pada uplink
8. FOMA (Freedom of Mobile Multimedia Access) di Jepang.
FOMA merupakan jaringan 3G pertama di dunia yang mengimplentasikan
W-CDMA, diluncurkan pada tahun 2001. FOMA merupakan penamaan layanan
3G oleh operatoi NTT DoCoMo.
9. HSOPA (High Speed OFDM Packet Access)
Merupakan teknologi pengembangan dari UMTS terutama pada teknologi
antena yang menggunakan Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM)
dan multiple-input multiple-output (MIMO). HSOPA dikenal juga sebagai Super
3G yang dapat mentransfer data sampai kecepatan 100 Mbit/s untuk downlink dan
50 Mbit/s untuk uplink.
10. TD-SCDMA (Time Division Synchronous Code Division Multiple Access).
Merupakan teknologi generasi ketiga yang dikembangkan oleh Chinese
Acaderny of Telecommunications Technology (CATT). Teknologi ini
dikembangkan untuk menghilangkan ketergantungan pada teknologi barat, tetapi
kurang diminati para operator di Asia dikarenakan memerlukan perangkat keras
(hardware) yang benar-benar baru dan tidak bisa menggunakan teknologi
sebelumnya (CDMA2000 1x). TD-SCDMA yang menggunakan frekuensi 2010
MHz -2025 MHz (khusus di China), dengan kecepatan transfer data dari 9.6 kbits/s
sampai 2048 kbits/s.
2.2.2 Pengenalan 4G
LTE yang memiliki kepanjangan Long Term Evolution merupakan suatu
perkembangan dari jaringan yang sebelumnya yaitu jaringan 3G. LTE ini sudah
dipercayai untuk menghasilkan data rate sebesar 100 Mbps. Target dari jaringan 4G
ialah untuk koneksinya mencapai 100Mbps dengan memiliki tingkat mobilitas yang
tinggi. Struktur jaringan LTE yaitu memiliki berupa IP Network dimana semua
koneksinya akan berjalan apabila menggunakan IP Protokol. LTE secara dramatis
menambah kemampuan jaringan untuk mengoperasikan fitur Multimedia Broadcast
Multicast Service (MBMS), bagian dari 3GPP Release 6, dimana kemampuan yang
ditawarkan dapat sebanding dengan DVB-H dan WiMAX .LTE dapat beroperasi pada
salah satu pita spektrum seluler yang telah dialokasikan, yang termasuk dalam standar
IMT-2000 (450, 850, 900, 1800, 1900, 2100 MHz) maupun pada pita spektrum yang
baru seperti 700 MHz dan 2,5 GHz. Teknologi LTE memiliki beberapa kelebihan yaitu:
LTE memiliki UE (User Equipment), dimana UE merupakan suatu teknik optimasi
yang dapat meningkatkan kinerja sistem. Pada dasarnya UE disini memiliki sebuah
transmitter yang berfungsi untuk penghematan biaya dan penghematan dalam
penggunaan baterai.
Prinsip LTE mendukung layanan mobilitas yang tinggi serta berbasis jaringan IP.
Menjamin kualitas layanan yang baik.
LTE dikembangkan oleh 3GPP.
LTE merupakan evolusi dari operator seluler 3G yang komunikasinya berbasis
voice dan data.
Tingkat download sampai dengan 299.6 Mbis/s dan tingkat upload hingga 75.5
Mbis/s tergantung pada katrgori perangkat yang digunakan.
Peningkatan dukungan untuk mobilitas, sebagai contoh dukungan untuk terminal
bergerak hingga 350km/jam atau 500 km/jam tergantung pita frekuensi
Dukungan untuk semua gelombang frekuensi yang saat ini digunakan oleh sistem
IMT dan ITU-R
Di daerah kota dan perkotaan, frekuensi band yang lebih tinggi (seperti 2.6 GHz di
Uni Eropa) digunakan untuk mendukung kecepatan tinggi mobile broadband.
Dukungan untuk MBSFN (Multicast Broadcast Single Frequency Network). Fitur
ini dapat memberikan layanan seperti Mobile TV menggunakan infrastruktur LTE,
dan merupakan pesaing untuk layanan DVB-H berbasis siaran TV.
Teknologi jaringan 4G merupakan standar teknologi wireless yang dikeluarkan oleh
IEEE (Institut of Electrical and Electronics Engineering). Untuk saat ini standar yang
memenuhi teknologi jaringan 4G adalah WiMAX dan LTE. Dibawah ini adalah gambar
dari perkembangan teknologi wireless untuk setiap tahunnya. LTE dikatakan standar yang
memenuhi untuk teknologi jaringan 4G, karena LTE merupakan standar komunikasi yang
memiliki akses data nirkabel tingkat tinggi pada jaringan yang berbasis EDGE/GSM dan
UMTS/HSPA. Pada UMTS kecepatan maksimum transfer datanya adalah 2Mbps
sedangkan untuk HSPA kecepatan transfer datanya bisa mencapai 14Mbps pada sisi
downlink dan untuk sisi uplink mencapai 5,6Mbps.
2.2.3 Arsitektur 3G
System kerja jaringan UMTS, pertama MS (mobile station) akan selalu
berkomunikasi dengan Node B atau RBS atau BTS (dalam bahasa 2G) sekumpulan
Node B ini akan di handle oleh RNC (Radio Network Controler) yang fungsinya untuk
mengcover MS jika terjadi handover ke Node B lain yang masih dalam satu RNS, satu
geromboloan Node B yang di handle oleh RNC ini disebut RNS (Radio Network
Subsystem). Interface antara Node B dengan RNC disebut dengan IuB, sedangkan
interface untuk menghubungkan antar RNC disebut dengan Iur. Jika ada proses dari
mobile station untuk proses call setup maka akan di sambungkan dengan MSC (Mobile
Switching Center) dan jika pelanggan MS menginginkan koneksi Internet maka dari
RNC akan di sambungkan lagi ke arah SGSN dan GGSN. Sekumpulan RNC yang
membawahi beberapa cluster Node B disebut dengan UTRAN (UMTS Terestrial Radio
Access Network)
2.2.4 Arsitektur 4G
Arsitektur LTE dikenal dengan suatu istilah SAE (System Architecture
Evolution) yang menggambarkan suatu evolusi arsitektur dibandingkan dengan
teknologi sebelumnya. Secara keseluruhan LTE mengadopsi teknologi EPS (Evolved
Packet System). Didalamnya terdapat tiga komponen penting yaitu :
- User Equipment (UE)
User equipment adalah perangkat dalam LTE yang terletak paling ujung dan
berdekatan dengan user.
- E-UTRAN
Evolved UMTS Terresterial Radio Access Network atau E-UTRAN adalah
sistem arsitektur LTE yang memiliki fungsi menangani sisi radio akses dari UE ke
jaringan core. Berbeda dari teknologi sebelumnya yang memisahkan Node B dan RNC
menjadi elemen tersendiri, pada sistem LTE E-UTRAN hanya terdapat satu komponen
yakni Evolved Node B (eNode B) yang telah menggabungkan fungsi keduanya.
- Evolved Packet Core (EPC)
EPC adalah sebuah system yang baru dalam evolusi arsitektur komunikasi
seluler, sebuah system dimana pada bagian core network menggunakan all-IP. EPC
menyediakan fungsionalitas core mobile yang pada generasi sebelumnya (2G, 3G)
memliki dua bagian yang terpisah yaitu Circuit switch (CS) untuk voice dan Packet
Switch (PS) untuk data. EPC sangat penting untuk layanan pengiriman IP secara end to
end pada LTE. Selain itu, berperan dalam memungkinkan pengenalan model bisnis
baru, seperti konten dan penyedia aplikasi. EPC terdiri dari :
Mobility Management Entity (MME)
MME merupakan elemen control utama yang terdapat pada EPC. Biasanya
pelayanan MME pada lokasi keamanan operator. Pengoperasiannya hanya pada
control plane dan tidak meliputi data user plane. Fungsi utama MME pada arsitektur
jaringan LTE adalah sebagai authentication dan security, mobility management,
managing subscription profile dan service connectivity.
Home Subscription Service (HSS)
HSS merupakan tempat penyimpanan data pelanggan untuk semua data
permanen user. HSS juga menyimpan lokasi user pada level yang dikunjungi node
pengontrol jaringan. Seperti MME, HSS adalah server database yang dipelihara
secara terpusat pada premises home operator.
Serving Gateway (S-GW)
Pada arsitektur jaringan LTE, level fungsi tertinggi S-GW adalah jembatan
antara manajemen dan switching user plane. S-GW merupakan bagian dari
infrastruktur jaringan sebagai pusat operasioanal dan maintenance. Peranan S-GW
sangat sedikit pada fungsi pengontrolan. Hanya bertanggungjawab pada sumbernya
sendiri dan mengalokasikannya berdasarkan permintaan MME, P-GW, atau PCRF,
yang memerlukan set-up, modifikasi atau penjelasan pada UE.
Packet Data Network Gateway (PDN-GW)
Sama halnya dengan SGW, PDN-GW adalah komponen penting pada LTE
untuk melakukan terminasi dengan Packet Data Network (PDN). Adapun PDN GW
mendukung policy enforcement feature, packet filtering, charging support pada
LTE, trafik data dibawa oleh koneksi virtual yang disebut dengan service data flows
(SDFs).
Policy and Charging Rules Function (PCRF)
PCRF merupakan bagian dari arsitektur jaringan yang mengumpulkan
informasi dari dan ke jaringan, sistem pendukung operasional, dan sumber lainnya
seperti portal secara real time, yang mendukung pembentukan aturan dan kemudian
secara otomatis membuat keputusan kebijakan untuk setiap pelanggan aktif di
jaringan. Jaringan seperti ini mungkin menawarkan beberapa layanan, kualitas
layanan (Quality of services), dan aturan pengisian. PCRF dapat menyediakan
jaringan solusi wireline dan wireless dan juga dapat mngaktifkan pendekatan
multidimensi yang membantu dalam menciptakan hal yang menguntungkan dan
platform inovatif untuk operator. PCRF juga dapat diintegrasikan dengan platform
yang berbeda seperti penagihan, rating, pengisian, dan basis pelanggan atau juga
dapat digunakan sebagai entitas mandiri.
2.2.5 Parameter Performansi 3G
1. Receive Signal Code Power (RSCP)
Received Signal Code Power (RSCP) merupakan suatu nilai yang menunjukkan
level kekuatan sinyal (Signal Strength), yang ditunjukkan dalam rentang minus dBm.
Semakin kecil nilai RSCP (semakin besar minus dBm pada RSCP), semakin lemah
kekuatan sinyal penerimaan pada UE. Skala ini sudah di tentukan dengan standar dari
Key Performance Indicator maupun standar dari operator masing-masing dengan
mengacu pada KPI International Telecommunication Union (ITU).
2. Energy Carrier Per Noise (Ec/No)
Ec/No adalah kualitas data atau suara di jaringan operator 3G/UMTS,
Fungsinya sama dengan Rx Qual di jaringan 2G. Skala 0 s.d. -9 dB sangat baik, -9
s.d -12 dB baik, - 12 s.d -14 dB buruk dan <-14 dB sangat buruk.
3. Call Setup Success Rate (CSSR)
CSSR adalah persentase tingkat keberhasilan melakukan persiapan panggilan
sehingga diperoleh kanal yang dipergunakan pada saat awal signaling.
4. Drop Call Rate (DCR)
Drop Call Rate adalah persentase banyaknya panggilan yang jatuh atau terputus
setelah kanal pembicaraan digunakan.
5. Call Congestion Ratio (CCR)
Call Congestion Rate adalah persentase kepadatan panggilan suara atau data
yang di sebabkan karena keterbatasan kanal. Pada perhitungan Call Congestion
Rate ini menggunakan rumusan sebagai berikut:
6. Handover Succes Rate (HOSR)
Handover Success Rate adalah persentase tingkat keberhasilan proses
perpindahan sel pada UE selama melakukan percakapan secara mobile tanpa terjadi
pemutusan hubungan.
2.2.6 Parameter Performansi 4G
a) RSRP (Reference Signal Received Power)
Power dari sinyal referensi merupakan sinyal LTE power yang diterima oleh
user dalam frekuensi tertentu, semakin jauh jarak antara site dan user, maka semakin
kecil pula RSRP yang diterima oleh user. RS merupakan Reference Signal atau RSRP
di tiap titik jangkauan coverage. User yang berada di luar jangkauan maka tidak akan
mendapatkan layanan LTE.
b) SINR (Signal to Noise Ratio)
SINR (Signal Interference to Noise Ratio) merupakan rasio perbandingan kuat
sinyal antara sinyal utama yang dipancarkan dengan interferensi dibanding noise
background yang timbul (tercampur dengan sinyal utama). Dalam arti rasio yang antara
rata-rata power diterima dengan ratarata interferensi dan noise. Minimum RSRP dan
SINR yang sesuai tergantung dengan bandwidth frekuensinya
c) RSRQ (Reference Signal Received Quality)
RSRQ (Reference Signal Receive Quality) merupakan kualitas sinyal
yang diterima UE. Rasio antara RSRP dan wideband power. RSRQ juga
dipengaruhi oleh sinyal, noise dan interference yang diterima UE. Satuan RSRQ
adalah dB dan nilainya selalu negatif (karena nilai RSSI selalu lebih besar
dibandingkan dengan N x RSRP). RSRQ membantu sistem dalam proses
handover di mana RSRQ dapat meranking performansi kandidat sel dalam
proses cell selection-reselection dan handover berdasarkan kualitas sinyal yang
diterima.
2.2.7 Drive Test
Drive test merupakan salah satu bagian pekerjaan dalam optimasi jaringan radio.
Drive test bertujuan untuk mengumpulkan informasi jaringan secara real dilapangan.
Informasi yang dikumpulkan merupakan kondisi actual Radio Frequency (RF) disuatu
eNodeB. Perangkat yang diperlukan untuk drive test antara lain Laptop, Software drive test
yang terinstal pada Laptop (Nemo Analyze, Tems, Probe, atau G-Net Track dan lain - lain),
LTE Datacard, GPS dan Batteries, DC Power Supply, Peta MapInfo, Data engineering
parameter atau cellfile yang terbaru, data engineering berisi nama site, koordinat
(Longitude dan Latitude), PCI (Physical Cell Identity), eNodeB ID, Sector ID, Local ID,
Cell ID, azimuth dan EARFCN.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Penelitian mengenai analisis perbandingan kualitas jaringan 3G dan 4G menggunakan
G-Net Track. Penelitian dilakukan untuk mencari parameter yang dapat dibandingkan, untuk
mengetahui kualitas jaringan pada daerah tersebut. Penelitian dilakukan dengan drive test
menggunakan aplikasi G-Net Track Lite yang sudah di install pada handphone pribadi. Adapun
metode peneltian yang digunakan adalah:
a. Studi Literatur
Berupa studi kepustakaan dan kajian jurnal-jurnal pendukung, baik dalam bentuk
hardcopy dan softcopy.
b. Metode Pengukuran dengan Drive Test
Pada metode ini dilaksanakan pengujian cakupan dan kualitas jaringan dengan
menggunakan perangkat seperti Handphone yang mendukung jaringan 3G dan 4G
dan sudah terinstal G-Net Track Lite
c. Metode Analisis hasil Drive Test
Metode ini menganalisa hasil drive test apakah performa jaringan tersebut baik atau
tidak baik kemudian melakukan perbandingan kedua sistem.
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian
Waktu : bulan September 2019
Tempat : Sekitar Kampus Politeknik Negeri Malang
Gedung AH Politeknik Negeri Malang
3.3 Tahapan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dalam 7 tahap sebagai berikut :
1. Tahap Studi Literatur
2. Tahap Penentuan Parameter
3. Tahap Penentuan Alat yang mendukung
4. Tahap Penentuan Lokasi Pengambilan Data
5. Tahap Pengambilan Data
6. Tahap Menganalisa Data
7. Tahap Pembuatan Kesimpulan
3.4 Diagram Alir Penelitian
1. Studi Pustaka
Adalah metode pencarian jurnal dan literatur yang mendukung penelitian yang
akan dilakuan.
2. Menentukan parameter dan alat yang mendukung parameter
Menentukan parameter apa yang akan dicari pada saat tracking seperti RSRP,
Longitude, Latitude, SNR, dan RSRQ. Penelitian ini menggunakan handphone pribadi
khususnya menggunakan android karena ios tidak mendukung G-Net Track.
3. Pengambilan Data
Pengambilan data dilakukan dengan cara berjalan kaki (tracking) sejauh
minimal 1 Km, tracking dilakukan dengan berjalan kaki agar sinya yang diterima lebih
spesifik. Kemudian mengecheck apakah data yang di dapat sudah sesuai, apabila belum
maka dilakukan tracking kembali untuk mendapatkan data yang belum ada.
4. Melakukan analisa perbandingan strenght sinyal yang diterima
Pada metode ini dilakukan analisa strengh sinyal 3G dan 4G dengan cara
mebandingkan strenght sinyal 3G(RSCP) dan stenght sinyal 4G(RSRP), tidak
membandingkan dengan parameter lain dikarenakan parameter sinyal 3G lebih sedikit
daripada parameter sinyal 4G.
5. Kesimpulan
Pada metode ini dilakukan penarikan kesimpulan dari hasil perbandingan
apakah sinyal 3G atau 4G yang lebih baik performansinya pada daerah tersebut.
Flowchart cara menginstal G-Net Track:
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengujian
4.1.1 Hasil Pengukuran pada sistem 3G
Longitude Latitude RSCP Level Speed Altitude
112.61833 -7.943735 -69 -61 3 519
-7.9458
112.61900 -7.944278 -69 -61 2 517
-7.94498
112.61882 -7.945274 -69 -61 2 516
-7.94518
112.61797 -7.94681 -69 -61 3 515
112.61656 -7.943970 -69 -61 0 514
-7.94762
112.61738 -7.943181 -69 -61 0 512
-7.94718
112.61814 -7.943603 -69 -61 4 517
-7.94611
112.61928 -7.944433 -69 -61 3 519
-7.9447
112.61822 -7.945871 -69 -61 3 518
-7.94597
112.61712 -7.947509 -69 -61 3 514
-7.94597
4.1.2 Hasil Pengukuran pada sistem 4G.
Longitude Latitude RSRP SNR RSRQ Level Speed Altitude
112.61716 -7.947350 -76 0.5 -11 -76 4 532
-7.947264
112.6182 -7.945936 -76 6.5 -10 -75 4 534
-7.945967
112.61925 -7.944411 -102 1.7 -18 -77 3 529
-7.944639
112.61817 -7.943700 -85 0.2 -15 -66 3 532
-7.946116
112.61664 -7.942809 -77 15.7 -9 -68 0 532
112.61699 -7.947625
112.61808 -7.943626 -112 8.5 -15 -66 3 532
-7.946116
112.61793 -7.946280 -72 1.0 -13 -72 3 534
-7.946354
112.61823 -7.945855 -82 0.7 -11 -76 4 531
112.61832 -7.945821
112.61902 -7.944290 -80 13.2 -9 -67 4 530
-7.944916
112.61867 -7.945329 -88 0.5 -17 -79 1 531
-7.945363
112.61834 -7.943821 -86 2.5 -12 -80 4 532
-7.945792
4.2 Pembahasan
4.2.1 RSCP
Dari hasil pengukuran data 3G diperoleh data -69 dimana kondisi tersebut
merupakan kategori kualitas sinyal baik. Pada percobaan 3G ini diperoleh nilai
RSCP yang sama pada longitude dan latitude yang berbeda.
4.2.2 SNR
Dibawah ini merupakan klasifikasi SNR :
29.0 dB – keatas = outstanding (bagus sekali), 20.0 dB – 28.98 dB = excellent
(bagus / koneksi stabil), 11.0 – 19. 9 = baik (sinkronisasi sinyal ADSL dapat
berlangsung lancar), 07.0 dB – 10.9 dB = cukup (rentan terhadap variasi
perubahan kondisi pada jaringan), 0.00 dB – 06.9 dB = buruk (sinkronisasi
sinyal gagal atau tidak lancar). Dari hasil pngukuran pada system 4G diperoleh
longitude 112.61664 dan 112.61699 dengan latitude -7.942809 dan -7.947625
memperoleh nilai SNR 15.7 termasuk kategori kualitas baik. Pada longitude
112.61716 dengan latitude -7.947350 dan -7.947264 memperoleh nilai SNR 0.5
merupakan kategori kualitas buruk.
4.2.3 RSRQ
Dari hasil percobaan pengukuran pada system 4G pada longitude 112.61902
dengan latitude -7.944290 dan -7.944916 nilai RSRQ sebesar -9. Longitude
112.61664 dan 112.61699 dengan latitude -7.942809 dan -7.947625 nilai RSRQ
sebesar -9. Dari analisa tersebut termasuk dalam kategori kualitas baik.
Kemudian untuk longitude 112.61925 dengan latitude -7.944411 dan -7.944639
nilai RSQ sebesar -18, merupakan kategori kualitas buruk.
4.2.4 Level
Dari hasil percobaan pengukuran data 3G diperoleh data -61 dimana kondisi
tersebut merupakan kategori kualitas baik. Pada percobaan 3G ini diperoleh
nilai level yang sama pada longitude dan latitude yang berbeda. Namun pada
percobaan pengukuran data pada 4G longitude 112.61817 dengan latitude -
7.943700, -7.946116 dan longitude 112.61808 dengan latitude -7.943626, -
7.946116 memperoleh level -66 kategori baik, sedangkan pada longitude
112.61834 dengan latitude -7.943821 dan -7.945792 memperoleh level -80
kategori buruk.
4.2.5 Speed
Dari hasil percobaan pengukuran jaringan data 3G dan 4G diperoleh nilai data
speed tertinggi 4km/jam dan nilai terendah 0km/jam, artinya user mengalami
perpindahan posisi dari tempat 1 ke tempat berikutnya dengan kecepatan
4km/jam dan 0km/jam artinya user tidak mengalami perpindahan, tetap pada
posisinya.
4.2.6 Altitude
Dari hasil percobaan pengukuran jaringan data 3G dan 4G diperoleh nilai data
altitude terbesar yaitu 519 pada jaringan 3G dan 543 pada jaringan 4G, dimana
kondisi tersebut merupakan jarak pancaran tertinggi daya cover suatu BTS
daerah tersebut yang dihitung dari permukaan air laut. Hasil nilai altitude yang
di dapat tidak stabil,dikarenakan tergantung pada posisi Latitude dan longitude
dari jaringan user berada.