0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
46 tayangan69 halaman

Program K3 RSU Bhakti Rahayu 2018

Program K3 di RSU Bhakti Rahayu Denpasar bertujuan untuk melindungi keselamatan dan kesehatan pekerja, pasien, dan pengunjung. Program ini mencakup 12 poin utama termasuk pengembangan kebijakan K3, pembudayaan perilaku yang aman, pengembangan SDM K3, dan pemantauan lingkungan kerja. Standar pelayanan K3 di rumah sakit meliputi pelayanan kesehatan kerja seperti pemeriksaan kesehatan pegawai

Diunggah oleh

Clara Tentua
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
46 tayangan69 halaman

Program K3 RSU Bhakti Rahayu 2018

Program K3 di RSU Bhakti Rahayu Denpasar bertujuan untuk melindungi keselamatan dan kesehatan pekerja, pasien, dan pengunjung. Program ini mencakup 12 poin utama termasuk pengembangan kebijakan K3, pembudayaan perilaku yang aman, pengembangan SDM K3, dan pemantauan lingkungan kerja. Standar pelayanan K3 di rumah sakit meliputi pelayanan kesehatan kerja seperti pemeriksaan kesehatan pegawai

Diunggah oleh

Clara Tentua
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROGRAM K3

Penulis Dokumen Manajemen Fasilitas dan Keselamatan


Tanggal Desember 2018

Jumlah halaman 72 halaman

1
LEMBAR PENGESAHAN
PROGRAM K3
RSU BHAKTI RAHAYU DENPASAR
TAHUN 2018

Denpsar, 31 Desember 2018


Ketua Pokja Disetujui :
MFK Direktur RSU BHakti
Rahayu Denpasar

( I. B. Ketut Alit Subudi, SE ) ( dr. I Made Sukanegara )

i
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala
berkat dan anugerah yang telah diberikan kepada penyusun, sehingga Program K3
RSU Bhakti Rahayu Denpasar ini dapat selesai disusun.

Program ini merupakan Panduan kerja bagi seluruh staf Rumah Sakit dalam
menjalankan Program K3 di RSU Bhakti Rahayu Denpasar.

Dalam program ini diuraikan tentang Petunjuk pelaksanaan Program K3 di RSU


Bhakti Rahayu Denpasar.

Tidak lupa penyusun menyampaikan terima kasih yang sedalam – dalamnya


atas bantuan semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan Program
K3 di RSU Bhakti Rahayu Denpasar.

Tim
Penyusun

Pokja MFK

ii
DAFTAR ISI

Contents
COVER..............................................................................................................................i
KATA PENGANTAR.........................................................................................................ii
DAFTAR ISI.....................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................1
A. LATAR BELAKANG...............................................................................................1
B. DEFINISI..................................................................................................................1
B. TUJUAN...................................................................................................................2
C. RUANG LINGKUP..................................................................................................2
D. LANDASAN HUKUM...........................................................................................10
E. TATA LAKSANA....................................................................................................11
BAB V PENUTUP...........................................................................................................72

iii
BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Berdirinya sebuah rumah sakit dilengkapi dengan bermacam-macam
peralatan yang memerlukan perawatan atau pemeliharaan sedemikian rupa untuk
menjaga keselamatan, kesehatan, mencegah kebakaran dan persiapan
penanggulangan bencana. Keselamatan Kerja diterapkan di lingkungan kerja yang
mana didalamnya terdapat aspek manusia, alat, mesin, lingkungan dan bahaya
kerja.
Upaya Keselamatan Kerja merupakan upaya meminimalkan pencegahan
terjadinya Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Akibat Kerja (KAK)
melalui upaya promotif, prefentif, penyerasian antara beban kerja, kapasitas kerja
dan lingkungan sehingga setiap pekerja dapat bekerja selamat dan sehat, tanpa
membahayakan dirinya sendiri maupun masyarakat atau orang lain
disekelilingnya dan tercapai produktivitas kerja yang optimal. Upaya tersebut
dilaksanakan secara menyeluruh untuk meningkatkan derajat kesehatan dan
produktifitas pekerja rumah sakit.

B. DEFINISI
a. Pengertian Kesehatan dan Keselamatan Kerja
1) Kesehatan Kerja Menurut WHO / ILO (1995)
Kesehatan kerja bertujuan untuk peningkatan dan pemeliharaan derajat
kesehatan fisik, mental, dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja di
semua jenis pekerjaan, pencegahan terhadap gangguan kesehatan pekerja
yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan; perlindungan bagi pekerja dalam
pekerjaannya dari risiko akibat faktor yang merugikan kesehatan; dan
penempatan serta pemeliharaan pekerja dalam suatu lingkungan kerja yang
disesuaikan dengan kondisi fisiologi dan psikologisnya. Secara ringkas
merupakan penyesuaian pekerjaan kepada manusia dan setiap manusia
kepada pekerjaan atau jabatannya.
2) Kesehatan dan keselamatan kerja

1
Upaya untuk memberikan jaminan keselamatan dan meningkatkan derajat
kesehatan para pekerja/buruh dengan cara pencegahan kecelakaan dan
penyakit akibat kerja, pengendalian bahaya di tempat kerja, promosi
kesehatan, pengobatan, dan rehabilitasi.
3). Konsep Dasar Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit adalah
upaya terpadu seluruh pekerja rumah sakit, pasien, pengunjung/pengantar
orang sakit untuk menciptakan lingkungan kerja, tempat kerja rumah sakit
yang sehat, aman dan nyaman baik bagi pekerja rumah sakit, pasien,
pengunjung/pengantar orang sakit, maupun bagi masyarakat dan
lingkungan sekitar rumah sakit.

B. TUJUAN
Agar dapat dipergunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan upaya
kesehatan dan
keselamatan kerja secara baik dan benar sehingga tercapai :
a. Kesehatan dan Keselamatan pekerja selama bertugas
b. Kegiatan rumah sakit berjalan lancar tanpa adanya hambatan
c. Tingkat produktifitas yang optimal

C. RUANG LINGKUP
1) Prinsip, Kebijakan Pelaksanaan dan Program Kesehatan dan Keselamatan
Kerja Rumah Sakit (K3RS)
a) Prinsip K3RS
Agar Kesehatan dan Keselamatan Kerja Rumah Sakit (K3RS) dapat
dipahami secara utuh, perlu diketahui pengertian 3 komponen yang
saling berinteraksi, yaitu:
(1) Kapasitas kerja adalah status kesehatan kerja dan gizi kerja yang
baik serta kemampuan fisik yang prima setiap pekerja agar dapat
melakukan pekerjaannya dengan baik.
(2) Beban kerja adalah beban fisik dan mental yang harus ditanggung
oleh pekerja dalam melaksankan tugasnya.
(3) Lingkungan kerja adalah lingkungan terdekat dari seorang pekerja
b) Program K3RS
Program K3 di rumah sakit bertujuan untuk melindungi
keselamatan dan kesehatan serta meningkatkan produktifitas pekerja,

2
melindungi keselamatan pasien, pengunjung, dan masyarakat serta
lingkungan sekitar Rumah Sakit. Kinerja setiap petugas petugas
kesehatan dan non kesehatan merupakan resultante dari tiga komponen
yaitu kapasitas kerja, beban kerja, dan lingkungan kerja. Program
K3RS yang harus diterapkan adalah :
(1) Pengembangan kebijakan K3RS
(2) Pembudayaan perilaku K3RS
(3) Pengembangan Sumber Daya Manusia K3RS
(4) Pengembangan Pedoman dan Standar Prosedur Operasional (SPO)
K3RS
(5) Pemantauan dan evaluasi kesehatan lingkungan tempat kerja
(6) Pelayanan kesehatan kerja
(7) Pelayanan keselamatan kerja
(8) Pengembangan program pemeliharaan pengelolaan limbah padat,
cair, gas
(9) Pengelolaan jasa, bahan beracun berbahaya dan barang berbahaya
(10) Pengembangan manajemen tanggap darurat
(11) Pengumpulan, pengolahan, dokumentasi data dan pelaporan
kegiatan K3
(12) Review program tahunan

c) Kebijakan pelaksanaan K3
Rumah sakit merupakan tempat kerja yang padat karya, pakar,
modal, dan teknologi, namun keberadaan rumah sakit juga memiliki
dampak negatif terhadap timbulnya penyakit dan kecelakaan akibat
kerja, bila rumah sakit tersebut tidak melaksanakan prosedur K3. Oleh
sebab itu perlu dilaksanakan kebijakan sebagai berikut :
(1) Membuat kebijakan tertulis dari pimpinan rumah sakit
(2) Menyediakan Organisasi K3 di Rumah Sakit sesuai dengan
Kepmenkes Nomor 432/Menkes/SK/IV/2007 tentang Pedoman
Manajemen K3 di Rumah Sakit
(3) Melakukan sosialisasi K3 di rumah sakit pada seluruh jajaran
rumah sakit
(4) Membudayakan perilaku K3 di rumah sakit
(5) Meningkatkan SDM yang professional dalam bidang K3 di
masing-masing unit kerja di rumah sakit
(6) Meningkatkan Sistem Informasi K3 di rumah sakit

2) Standar Pelayanan K3 di Rumah Sakit

3
Pelayanan K3RS harus dilaksanakan secara terpadu melibatkan
berbagai komponen yang ada di rumah sakit. Pelayanan K3 di rumah sakit
sampai saat ini dirasakan belum maksimal. Hal ini dikarenakan masih
banyak rumah sakit yang belum menerapkan Sistem Manajemen
Kesehatan dan Keselamatan kerja (SMK3).
a) Standar Pelayanan Kesehatan Kerja di Rumah Sakit
Setiap Rumah Sakit wajib melaksanakan pelayanan kesehatan kerja
seperti tercantum pada pasal 23 UU kesehatan no.36 tahun 2009 dan
peraturan Menteri tenaga kerja dan Transmigrasi RI No.03/men/1982
tentang pelayanan kesehatan kerja. Adapun bentuk pelayanan
kesehatan kerja yang perlu dilakukan, sebagai berikut :
(1) Melakukan pemeriksaan kesehatan sebekum kerja bagi pekerja
(2) Melakukan pendidikan dan penyuluhan/pelatihan tentang
kesehatan kerja dan memberikan bantuan kepada pekerja di rumah
sakit dalam penyesuaian diri baik fisik maupun mental terhadap
pekerjanya.
(3) Melakukan pemeriksaan berkala dan pemeriksaan khusus sesuai
dengan pajanan di rumah sakit
(4) Meningkatkan kesehatan badan, kondisi mental (rohani) dan
kemampuan fisik pekerja
(5) Memberikan pengobatan dan perawatan serta rehabilitasi bagi
pekerja yang menderita sakit
(6) Melakukan pemeriksaan kesehatan khusus pada pekerja rumah
sakit yang akan pensiun atau pindah kerja
(7) Melakukan koordinasi dengan tim Panitia Pencegahan dan
Pengendalian Infeksi mengenai penularan infeksi terhadap pekerja
dan pasien
(8) Melaksanakan kegiatan surveilans kesehatan kerja
(9) Melaksanakan pemantauan lingkungan kerja dan ergonomi yang
berkaitan dengan kesehatan kerja (Pemantauan/pengukuran
terhadap faktor fisik, kimia, biologi, psikososial, dan ergonomi)
(10) Membuat evaluasi, pencatatan dan pelaporan kegiatan kesehatan
kerja yang disampaikan kepada Direktur Rumah Sakit dan unit
teknis terkait di wilayah kerja Rumah Sakit

b) Standar pelayanan Keselamatan kerja di Rumah Sakit

4
Pada prinsipnya pelayanan keselamatan kerja berkaitan erat dengan
sarana, prasarana, dan peralatan kerja. Bentuk pelayanan keselamatan
kerja yang dilakukan :
(1) Pembinaan dan pengawasan keselamatan/keamanan sarana,
prasarana, dan peralatan kesehatan
(2) Pembinaan dan pengawasan atau penyesuaian peralatan kerja
terhadap pekerja
(3) Pembinaan dan pengawasan terhadap lingkungan kerja
(4) Pembinaan dan pengawasan terhadap sanitair
(5) Pembinaan dan pengawasan perlengkapan keselamatan kerja
(6) Pelatihan/penyuluhan keselamatan kerja untuk semua pekerja
(7) Member rekomendasi/masukan mengenai perencanaan, pembuatan
tempat kerja dan pemilihan alat serta pengadaannya terkait
keselamatan/keamanan
(8) Membuat sistem pelaporan kejadian dan tindak lanjutnya
(9) Pembinaan dan pengawasan Manajemen Sistem Penanggulangan
Kebakaran (MSPK)
(10) Membuat evaluasi, pencatatan, dan pelaporan kegiatan pelayanan
keselamatan kerja yang disampaikan kepada Direktur Rumah Sakit
dan Unit teknis terkait di wilayah kerja kerja Rumah Sakit
3) Standar K3 Sarana, Prasarana, dan Peralatan di Rumah Sakit
Sarana didefinisikan sebagai segala sesuatu benda fisik yang dapat
tervisualisasi oleh mata maupun teraba panca indera dan dengan mudah
dapat dikenali oleh pasien dan umumnya merupakan bagian dari suatu
bangunan gedung (pintu, lantai, dinding, tiang, kolong gedung, jendela)
ataupun bangunan itu sendiri. Sedangakan prasarana adalah seluruh
jaringan/instansi yang membuat suatu sarana bisa berfungsi sesuai dengan
tujuan yang diharapkan, antara lain : instalasi air bersih dan air kotor,
instalasi listrik, gas medis, komunikasi, dan pengkondisian udara, dan lain-
lain.
4) Pengelolaan Jasa dan Barang Berbahaya
Barang Berbahaya dan Beracun (B3) adalah bahan yang karena sifat
dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun
tidak langsung, dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup,
dan atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan
hidup manusia serta makhluk hidup lainnya.

a) Kategori B3

5
Memancarkan radiasi, Mudah meledak, Mudah menyala atau terbakar,
Oksidator, Racun, Korosif, Karsinogenik, Iritasi, Teratogenik,
Mutagenic, Arus listrik.

b) Prinsip dasar pencegahan dan pengendalian B3


(1) Identifikasi semua B3 dan instalasi yang akan ditangani untuk
mengenal ciri-ciri dan karakteristiknya.
(2) Evaluasi, untuk menentukan langkah-langkah atau tindakan yang
diperlukan sesuai sifat dan karakteristik dari bahan atau instalasi
yang ditangani sekaligus memprediksi risiko yang mungkin terjadi
apabila kecelakaan terjadi
(3) Pengendalian sebagai alternatif berdasarkan identifikasi dan
evaluasi yang dilakukan meliputi pengendalian operasional,
pengendalian organisasi administrasi, inspeksi dan pemeliharaan
sarana prosedur dan proses kerja yang aman, pembatasan
keberadaan B3 di tempat kerja sesuai jumlah ambang.
(4) Untuk mengurangi resiko karena penanganan bahan berbahaya

c) Pengadaan Jasa dan Bahan Berbahaya


Rumah sakit harus melakukan seleksi rekanan berdasarkan
barang yang diperlukan. Rekanan yang akan diseleksi diminta
memberikan proposal berikut company profile. Informasi yang
diperlukan menyangkut spesifikasi lengkap dari material atau produk,
kapabilitas rekanan, harga, pelayanan, persyaratan K3 dan lingkungan
serta informasi lain yang dibutuhkan oleh rumah sakit.
Setiap unit kerja/instalasi/satker yang menggunakan, menyimpan,
mengelola B3 harus menginformasikan kepada unit logistik sebagai
unit pengadaan barang setiap kali mengajukan permintaan bahwa
barang yang diminta termasuk jenis B3. Untuk memudahkan
melakukan proses seleksi, dibuat formulir seleksi yang memuat kriteria
wajib yang harus dipenuhi oleh rekanan serta sistem penilaian untuk
masing-masing kriteria yang ditentukan.

5) Standar SDM K3 di Rumah Sakit


Kriteria tenaga K3
a) Rumah Sakit Kelas A

6
(1) S3/S2 K3 minimal 1 orang yang mendapat pelatihan khusus yang
terakreditasi mengenai K3 RS
(2) S2 kesehatan minimal 1 orang yang mendapat pelatihan khusus
yang terakreditasi mengenai K3 RS
(3) Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi (SpOk) dan S2 Kedokteran
Okupasi minimal 1 orang yang mendapat pelatihan khusus yang
terakreditasi mengenai K3 RS
(4) Tenaga Kesehatan Masyarakat K3 DIII dan S1 minimal 2 orang
yang mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3
RS
(5) Dokter/dokter gigi spesialis dan dokter umum/dokter gigi minimal
1 orang dengan sertifikasi K3 dan mendapat pelatihan khusus yang
terakreditasi mengenai K3 RS
(6) Tenaga paramedis dengan sertifikasi dalam bidang K3 (informal)
yang mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3
RS
(7) Tenaga paramedis yang mendapat pelatihan khusus yang
terakreditasi mengenai K3 RS minimal 2 orang
(8) Tanaga teknis lainnya dengan sertifikasi K3 (informal) mendapat
pelatihan khusus terakreditasi mengenai K3 RS minimal 1 orang
(9) Tenaga teknis lainnya mendapat pelatihan khusus terakreditasi
mengenai K3 RS minimal 2 orang

b) Rumah Sakit Kelas B


(1) S2 kesehatan minimal 1 orang yang mendapat pelatihan khusus
terakreditasi mengenai K3 RS
(2) Tenaga Kesehatan Masyarakat K3 DIII dan S1 minimal 1 orang
yang mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3
RS
(3) Dokter/dokter gigi spesialis dan dokter umum/dokter gigi minimal
1 orang dengan sertifikasi K3 dan mendapat pelatihan khusus yang
terakreditasi mengenai K3 RS
(4) Tenaga paramedis dengan sertifikasi dalam bidang K3 (informal)
yang mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3
RS minimal 1 orang
(5) Tenaga paramedis yang mendapat pelatihan khusus yang
terakreditasi mengenai K3 RS minimal 1 orang

7
(6) Tanaga teknis lainnya dengan sertifikasi K3 (informal) mendapat
pelatihan khusus terakreditasi mengenai K3 RS minimal 1 orang
(7) Tenaga teknis lainnya mendapat pelatihan khusus terakreditasi
mengenai K3 RS minimal 1 orang

c) Rumah Sakit kelas C


(1) Tenaga Kesehatan Masyarakat K3 DIII dan S1 minimal 1 orang
yang mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3
RS
(2) Dokter/dokter gigi spesialis dan dokter umum/dokter gigi minimal
1 orang dengan sertifikasi K3 dan mendapat pelatihan khusus yang
terakreditasi mengenai K3 RS
(3) Tenaga paramedis yang mendapat pelatihan khusus yang
terakreditasi mengenai K3 RS minimal 1 orang
(4) Tenaga teknis lainnya mendapat pelatihan khusus terakreditasi
mengenai K3 RS minimal 1 orang

6) Pembinaan, Pengawasan, Pencatatan, dan Pelaporan


a) Pembinaan dan pengawasan
Pembinaan dan pengawasan dilakukan melalui sistem berjenjang.
Pembinaan dan pengawasan tertinggi dilakukan oleh Kementrian
Kesehatan. Pembinaan dapat dilaksanakan antara lain dengan melalui
pelatihan, penyuluhan, bimbingan teknis, dan temu konsultasi.
Pengawasan pelaksanaan Standar Kesehatan dan Keselamatan
Kerja di rumah sakit dibedakan dalam dua macam, yakni pengawasan
internal, yang dilakukan oleh pimpinan langsung rumah sakit yang
bersangkutan, dan pengawasan eksternal, yang dilakukan oleh Menteri
kesehatan dan Dinas Kesehatan setempat, sesuai dengan fungsi dan
tugasnya masing-masing.
b) Pencatatan dan pelaporan
Pencatatan dan pelaporan adalah pendokumentasian kegiatan K3
secara tertulis dari masing-masing unit kerja rumah sakit dan kegiatan
K3RS secara keseluruhan yang dilakukan oleh organisasi K3RS, yang
dikumpulkan dan dilaporkan /diinformasikan oleh organisasi K3RS, ke
Direktur Rumah Sakit dan unit teknis terkait di wilayah Rumah Sakit.
Tujuan kegiatan pencatatan dan pelaporan kegiatan K3 adalah

8
menghimpun dan menyediakan data dan informasi kegiatan K3,
mendokumentasikan hasil-hasil pelaksanaan kegiatan K3; mencatat
dan melaporkan setiap kejadian/kasus K3, dan menyusun dan
melaksanakan pelaporan kegiatan K3.
Pelaporan terdiri dari; pelaporan berkala (bulanan, semester, dan
tahunan) dilakukan sesuai dengan jadual yang telah ditetapkan dan
pelaporan sesaat/insidentil, yaitu pelaporan yang dilakukan sewaktu-
waktu pada saat kejadian atau terjadi kasus yang berkaitan dengan K3.
Sasaran kegiatan pencatatan dan pelaporan kegiatan K3 adalah
mencatat dan melaporkan pelaksanaan seluruh kegiatan K3, yang
tercakup di dalam :
(1) Program K3, termasuk penanggulangan kebakaran dan kesehatan
lingkungan rumah sakit.
(2) Kejadian/kasus yang berkaitan dengan K3 serta upaya
penanggulangan dan tindak lanjutnya.

D. LANDASAN HUKUM

Pemberlakuan K3 untuk seluruh Perusahaan maupun Rumah Sakit di Indonesia


wajib mematuhi Undang-undang dan Peraturan-peraturan yang telah
ditetapkan/dikeluarkan/ diberlakukan mengenai Kesehatan dan Keselamatan Kerja
yang terangkum sebagai berikut :
1. Undang-undang Dasar 1945 Pasal 27 ayat (2) menyatakan bahwa ”Setiap
Warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi
kemanusiaan”. Atas dasar pasal tersebut maka telah disusun :
a. UU No.1 th.1951 tentang Pernyataan berlakunya UU Kerja th. 1948
No.12
b. UU No.3 th.1969 tentang Persetujuan Konvensi ILO no.120 mengenai
Higiene dalam Perniagaan dan Kantor-kantor
c. UU No.14 th.1969 tentang Pokok-Pokok mengenai Tenaga Kerja sebagai
pelaksanaan dari Pasal 27 ayat (2) UUD 1945 tersebut di Pasal 9 UU
No.14 th.1969 yang menyatakan

9
”Setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatan,
kesehatan, pemeliharaan moril kerja serta perlakukan sesuai dengan
harkat dan martabat manusia dan moral agama ” dan di pasal 10
menyatakan Pemerintah membina perlindungan kerja yangmencakup :
 Norma keselamatan kerja
 Norma kesehatan kerja
 Norma kerja
 Pemberian ganti kerugian, perawatan, dan rehabilitasi dalam hal
kecelakaan kerja
2. Undang-undang no.1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, cakupan
materinya termasuk pula masalah kesehatan kerja.
3. Undang-undang No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan.
4. Permenkes No. 453/Menkes/Per/XI/1992 tentang Persyaratan Keselamatan
Lingkungan Rumah Sakit.
5. Permenaker No. 5/Menaker/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja.

E. TATA LAKSANA

A. UPAYA / LANGKAH-LANGKAH PENGENDALIAN K3RS


Untuk mengatasi ancaman bahaya di rumah sakit terdiri atas : ancaman bahaya
biologi, ancaman bahaya kimia, ancaman bahaya fisika, ergonomi, ancaman
bahaya psikososial, keselamatan dan kecelakaan kerja di rumah sakit, langkah-
langkah yang perlu dilakukan adalah :
1. Pengenalan/Identifikasi Lingkungan Kerja
Informasi yang perlu diketahui adalah : pekerja yang terlibat, proses
kerja dan limbah/sisabuangan, potensi bahaya yang mungkin ada dan
bahaya kecelakaan kerja. Sebagai contoh: pekerja yang bekerja di ruang
radiologi, sebaiknya bukan orang sedang hamil, pekerjadilengkapi
dengan alat deteksi paparan zat radiasi serta ruang dibuat sesuai dengan
standaryang berwenang.
2. Evaluasi Lingkungan Kerja

10
Penilaian karakteristik dan besarnya potensipotensi bahaya yang
mungkin timbul di lingkungan kerja. Sebagai contoh : lingkungan kerja
secara berkala dinilai apakah ada kebocoran zat berbahaya bagi
kesehatan.
3. Pengendalian Lingkungan Kerja
Pengendalian dibedakan atas pengendalian lingkungan dan
pengendalian [Link] lingkungan meliputi perubahan
dari proses kerja dan/atau lingkungan kerjadengan maksud untuk
pengendalian terhadap bahaya kesehatan baik dengan meniadakanatau
mengurangi serta mencegah kontak. Pengendalian ancaman bahaya
kesehatan dapatdilakukan pencegahan dengan peraturanperaturan,
standar, pengawasan serta pendidikandan latihan untuk mencegah
ancaman-ancaman tersebut.
4. Pelayanan Kesehatan Kerja
Meliputi upaya pelayanan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.
Bentuk kegiatan dapatberupa pemberian informasi pencegahan
kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja atauberupa klinik yang
dilengkapi dengan alat deteksi dini kemungkinan terjadi penyakit akibat
kerja, pengobatan dan pemulihan yang berkaitan dengan penyakit dan
kecelakaan akibat kerja. Contoh : ada prosedur kerja tentang cara
pengamanan pekerja pengambil contoh darah di laboratorium klinik,
atas kemungkinan Hepatitis serta terapi dan rehabilitasi karena Hepatitis

B. MANAJEMEN K3RS
1. Tahapan Perencanaan :
1. Analisa situasi kesehatan dan keselamatan kerja Rumah Sakit
Analisa situasi merupakan langkah pertama yang harus dilakukan, dengan
melihat sumber daya yang kita miliki, sumber dana yang tersedia dan
bahaya potensial apa yang mengancam kesehatan dan keselamatan kerja
2. Identifikasi masalah kesehatan dan keselamatan kerja Rumah Sakit

11
Identifikasi masalah kesehatan dan keselamatan kerja dapat dilakukan
dengan mengadakan inspeksi tempat kerja dan mengadakan pengukuran
lingkungan kerja. Dari kegiatan ini kita dapat menentukan masalah-masalah
Kesehatan dan Keselamatan Kerja.
3. Alternatif rencana upaya penanggulangannya
Dari masalah-masalah yang ditemukan dicari alternatif upaya
penanggulangannya berdasarkan dana dan daya yang tersedia
Dari kegiatan perencanaan tersebut maka telah ditetapkan :
1. Denah lokasi bahaya potensial di Rumah Sakit Umum Bhakti Rahayu Denpasar
2. Rumusan alternatif rencana upaya penanggulangannya

2. Penggerakan Pelaksanaan K3RS


1. Pemeriksaan kesehatan awal dan pemeriksaan kesehatan berkala.
Pemeriksaan kesehatan ini berlaku bagi semua pekerja di Rumah Sakit
Umum Daerah Kabupaten Badung, dilakukan setidak-tidaknya sekali
setahun.
2. Pemberian paket penanggulangan anemia.
Pada penelitian-penelitian terdahulu diketahui banyak tenaga kerja
perempuanyang menderita anemia,
3. Pemberian paket pertolongan gizi.
Paket ini merupakan makanan tambahan yang diberikan di luar makanan
utama.
4. Upaya-upaya yang dilakukan sehubungan dengan kapasitas dan beban
kerja :
 pengaturan kerja bergilir (shift work)
 penempatan petugas pada jabatannya (fit to job)
 pendidikan dan pelatihan petugas RS tentang kesehatan dan
keselamatan kerja
5. Pelaksanaan upaya penanggulangan bahaya potensial
Memberikan penyuluhan kesehatan, sehingga meningkatkan kepedulian
petugas
kesehatan dan meningkatkan penggunaan alat pelindung, dll.
Alat pelindung tubuh antara lain :

12
- pelindung pernafasan : masker
- pelindung mata : kaca mata
- pelindung pendengaran : tutup telinga
- pakaian kerja khusus : jas lab
- sarung tangan
- pelindung kepala (safety helmets)
- pelindung kaki : sepatu booth/karet
6. Pelaksanaan Cara Pelaksanaan Kerja yang Baik (CPKB)
Setiap bagian sudah mempunyai Operating Procedure (SOP) yang
tergantungdi dinding, sehingga setiap petugas dapatmembaca dan
mentaatinya.

7. Pengorganisasian dan pembagian tugas yang jelas

3. Pemantauan Dan Evaluasi K3RS


Pemantauan dan evaluasi K3RS ini dilaksanakan setiap 6 bulan dengan
pengisian quisioner kepada semua pekerja di RSU Bhakti Rahayu Denpasar
yang selajutnya diolah dan di tabulasi.

4. Pembinaan K3RS
Pembinaan diarahkan agar :
1. Rumah Sakit melakukan upaya-upaya K3 sehingga dicapai nihil kecelakaan
dan nihil penyakit akibat kerja.
2. Indikator keberhasilan K3RS adalah :
- Nihil kecelakaan
- Nihil penyakit akibat kerja
- Terlaksananya proses kesehatan dan keselamatan kerja di Rumah Sakit
- Tersedianya masukan sumber daya yang memadai (fasilitas dan tenaga)
3. Mengingat beberapa indikator masih sulit dicapai, pemantauan diutamakan
pada :
- kasus kecelakaan
- proses terlaksananya kegiatan kesehatan dan keselamatan kerja di RS
- masukan sumber daya manusia

13
C. PROSEDUR K3RS
1. Kebakaran :
a). Upaya Pencegahan Kebakaran
1. Dilarang merokok dan membuang puntung rokok berapi
2. Dilarang membiarkan orang lain main api
3. Dilarang menyalakan lampu pelita maupun lilin
4. Dilarang memasak baik dengan coockplat listrik maupun kompor gas
5. Dilarang membakar sampah atau sisa-sisa bahan pengemas lainnya
6. Dilarang lengah menyimpan bahan mudah terbakar : elpiji, bensin,
aceton dll.
7. Dilarang membiarkan orang yang tidak berkepentingan berada ditempat
yang peka terhadap bahaya kebakaran
b. Penanggulangan bila terjadi kebakaran
1. Jangan panik
2. Jangan berteriak .......” Kebakaran”
3. Matikan listrik, amankan semua gas
 Bila terjadi kebakaran kecil, panel listrik yang menuju kelokasi
kebakaran dimatikan
 Bila terjadi kebakaran besar, aliran listrik diseluruh gedung
dimatikan
4. Selamatkan dahulu jiwa manusia
5. Dapatkan APAR (alat pemadam api ringan), buka segel & padamkan api
6. Jauhkan barang-barang yang mudah terbakar dari api
7. Tutup pintu gudang tahan api
8. Kosongkan koridor & jalan penghubung dan atur agar jalanjalan menuju
pintu bebas hambatan
9. Bukalah pintu darurat
10. Bila mungkin selamatkan dokumendokumen penting
11. Siapkan evakuasi obat bius, injeksi, obat–obat resusitasi & cairan
intravena
12. Catat nama staf yang bertugas
13. Hubungi posko

14
14. Siapkan kebutuhan obat dan alat kesehatan untuk kebutuhan darurat

c. Mencegah meluasnya kebakaran


1. Semua pekerja menyiapkan alat pemadam api dan peralatan lainnya
sesuai kebutuhan
2. Lakukan tindakan dengan menggunakan alat pemadam kebakaran bila
dianggap api merembet bangunan di unit kerjanya
3. Sekali lagi cek kesiapan alat pemadam kebakaran

Jenis alat kebakaran yang digunakan


a. Air : Hydrant
b. Busa (foam)
c. Serbuk kimia kering
d. Gas CO2
e. Cairan kimia (Halon)

2. Bahan-Bahan Berbahaya
a). Upaya pencegahan kecelakaan oleh bahan berbahaya adalah dengan cara
:
a. Memasang LABEL
b. Memasang TANDA BAHAYA memakai LAMBANG/ Peringatan
c. Melaksanakan KEBERSIHAN
d. Melaksanakan PROSEDUR TETAP
e. Ventilasi Umum dan setempat harus baik
f. Kontak dengan Bahan Korosif harus ditiadakan/ dicegah/ ditekan sekecil
mungkin
g. Menggunakan alat proteksi diri lab jas, pakaian kerja, pelindung kaki,
tangan dan lengan (sarung tangan) serta masker
h. Seluruh tenaga kerja harus memperoleh penjelasan yang cukup
i. Untuk pertolongan pertama, air untuk mandi, cuci dan air untuk
membersihkan mata perlu disediakan.
j. Penggunaan larutan penetral sebaiknya tidak dilakukan.

15
b). Penanggulangan kecelakaan oleh bahan berbahaya
a. Melaksanakan upaya preventif yaitu mengurangi volume atau bahan
berbahaya yang dikeluarkan kelingkungan atau “Minimasi Bahan
Berbahaya“.
 Mengubah cara pembelian danpengendalian bahan berbahaya
 Mengganti bahan berbahaya dengan bahan yang kurangbahayanya
 Mengurangi volume bahanberbahaya dari sumbernya
b. Mengurangi volume, konsentrasi toksisitas dan tingkat bahaya dari
bahan berbahaya melalui proses kimia, fisika dan atau hayati dengan
cara menetralkan dengan bahan penetral, mengencerkan volume dengan
air atau udara atau zat netral lain, membiarkan bahan berbahaya dalam
tempat tertentu agar tereduksi secara alami oleh sinar matahari maupun
zat organik yang ada
c. Melaksanakan pembersihan bahan berbahaya yang menyebabkan
kontaminasi ruangan dengan pengamankan petugas kebersihan terlebih
dahulu
 Petugas menggunakan masker
 Petugas menggunakan sarungtangan karet dan sepatu karet
 Menyiapkan air atau zat penetral lain dalam rangka menetralkan
bahan berbahaya tersebut
 Melaksanakan penetralan bahan berbahaya tersebut.
 Mengemas bahan berbahaya sisa agar aman dan tidak
menjadisumber kontaminasi susulan
d. Melaporkan terjadinya kontaminasi

c). Pertolongan pertama pada kecelakaan


a. Singkirkan racun dari sentuhan dengan korban
b. Jika korban pingsan atau hampir pingsan, baringkan korban dengan
posisi telungkup, kepala dimiringkan, dan mulut ditarik ke depan
c. Hangatkan korban dalam posisi terbaring
d. Jika korban menunjukkan tandatanda kesukaran nafas, lakukan
pertolongan pertama dengan nafas buatan .
e. Jangan diberi alkohol, kecuali atas saran dokter. Alkohol dapat
meningkatkan penyerapan beberapa racun.

16
Pertolongan pertama pada kecelakaan dapat dibedakan atas :
 Pertolongan pertama bila korban tertelan racun
a. Segera berikan 2 hingga 4 gelas air. Jika air tidak tersedia dapat
diberikan susu atau putih telur
Perhatian : Tidak boleh memberikan sesuatu melalui mulut jika korban
pingsan
b. Lakukan segera tindakan pemuntahan dengan cara :
 Memasukkan telunjuk jari korban ke dalam mulut bagian
belakang, gosokkan ke kiri dan ke kanan atau
 Memberikan air garam dapur hangat kuku sebanyakbanyaknya (1
st garam dapur + 1 gelas air hangat) atau
 Memberikan 1 st soda roti + 1 gelas air hangat atau
 1/2 st serbuk mustar + 1 gelas air hangat atau 1/4 st serbuktawas +
1 gelas air hangat
c. Lakukan tindakan pemuntahan berulang-ulang hingga cairan muntah
itu jernih
d. Jika identifikasi racun tidak dapat dilakukan, berikan 15 gr atau
1sendok makan norit + 1/2 gelas air hangat
e. Sedapat mungkin dilakukan pengambilan sampel muntah.
 Pertolongan pertama bila korban terhirup gas beracun
a. Penolong harus menggunakan masker yang tepat, jika tidak ada
masker yang tepat, penolong harus dapat menahan nafas selama masa
penyelamatan.
b. Usahakan untuk dapat mengidentifikasi gas racun yang dicurigai
c. Korban harus segera dibawa ke tempat udara segar. Jika tempat itu
ruangan berjendela, buka semua jendela yang [Link] semua
pakaian yang
d. Jika korban susah bernafas, beri nafas buatan terus menerus hingga
dianggap cukup.
e. Jaga korban tetap hangat,hindarkan korban menggigil, jika perlu
korban diselimuti rapat-rapat
f. Jagalah agar korban setenang mungkin.

17
g. Tidak boleh memberikan alkohol dalam bentuk apapun

3 Pengelolaan Perbekalan Dan Bahan-Bahan Berbahaya


a). Prosedur Pengadaan Bahan Berbahaya
a. Barang harus bersumber dari distributor utama/resmi
b. Mempunyai sertifikat analisa dari pabrik
c. Melampirkan MSDS (Material Safety Data Sheet)
b). Prosedur Penerimaan Bahan Berbahaya
a. Memeriksa wadah dan pengemas.
Kemasan yang diterima harus dalam bentuk asli dan dalam keadaan utuh
serta mencantumkan :
 nama sediaan atau nama Barang
 isi/bobot netto
 komposisi isinya dalam nama kimia
 nomor registrasi
 petunjuk cara penggunaan
 petunjuk cara penanganan untuk mencegah bahaya
 tanda peringatan lainnya
 nama dan alamat pabrik yang memproduksi
 cara pertolongan pertamaakibat bahan berbahaya
b. Memperhatikan label berupa simbol, gambar dan atau tulisan berupa kalimat
peringatan bahaya misalnya : “bahan peledak”, “bahan racun”, “bahan korosif”,
“bahan berbahaya”, “bahan iritasi”, “bahan mudah terbakar”, dll.

4. Prosedur Penyimpanan Bahan Berbahaya


Menyimpan bahan berbahaya sesuai dengan keterangan pada pengemas,
misalnya :
 Harus terpisah dari bahan makanan, bahan pakaian dan bahan lainnya
 Tidak menimbulkan interaksi antar bahan berbahaya satu dengan yang lain
 Bahan yang mudah menguap harus disimpan dalam wadah tertutup rapat
 Bahan yang mudah menyerap uap air harus disimpan dalam wadah
tertutup rapat yang berisi zat penyerap lembab
 Bahan yang mudah menyerap CO2 harus disimpan dengan pertolongan
kapur tohor
 Bahan yang harus terlindung dari cahaya disimpan dalam wadah yang
buram atau kaca dari kaca hitam, merah, hijau, atau coklat tua

18
 Bahan yang mudah mengoksidasi harus disimpan di tempat yang sejuk dan
mendapat pertukaran udara yang baik
 Bahan yang mudah terbakar harus disimpan di tempat terpisah dari tempat
penyimpanan perbekalan lain, mudah dilokalisir bila terjadi kebakaran,
tahan gempa dan dilengkapi dengan Pemadam Api
 Bahan beracun harus disimpan ditempat yang sejuk, mendapat pertukaran
udara yang baik, tidak kena sinar matahari langsung dan jauh dari sumber
panas
 Bahan korosif harus disimpan ditempat yang dilengkapi dengan sumber air
untuk mandi dan mencuci
 Bahan yang mudah meledak dijauhkan dari bangunan yang menyimpan
oli, gemuk, api yangmenyala

D. PENGENDALIAN K3RS
Penyakit akibat kerja di rumah sakit umumnya berkaitan dengan faktor
biologi (kuman Patogen yang umumnya berasal dari pasien), faktor kimia
(antiseptik pada kulit, gas anestesi), faktor ergonomik (cara duduk yang salah,
cara mengangkat pasien salah), faktor fisik dalam dosis kecil dan terus menerus
(panas pada kulit, radiasi pada sistem reproduksi/pemproduksi darah), faktor
psikososial (ketegangan di kamar bedah, penerimaan pasien gawat darurat,
bangsal penyakit jiwa)
1. BAHAYA BIOLOGI
Bahaya Biologi adalah penyakit atau gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh
mikroorganisme hidup seperti bakteri, virus, riketsia, parasit dan jamur.
Sedangkan infeksi nosokomial adalah suatu keadaan infeksi yang diperoleh dari
dalam lingkungan rumah sakit, dapat merupakan suatu infeksi endogen yang
berasal dari penderita sendiri atau suatu Infeksi eksogen yang berasal dari luar
penderita. Sesuai dengan perkembangan pelayanan Seperti contohnya kefarmasian
di rumah sakit didasarkan atas tuntutan pasien dan masyarakat akan mutu
pelayanan kefarmasian, maka Rumah Sakit diharuskan mengadakan perubahan
pelayanan dari paradigma lama (drug oriented) ke paradigma baru (patient
oriented) dengan filosofi pharmaceutical care (pelayanan kefarmasian). Hal ini

19
tentunya sangat menguntungkan pasien dan masyarakat, namun dari segi
negatifnya petugas farmasi juga akan rentan tertular penyakit pasien karena
petugas farmasi akan berhubungan langsung dengan pasien atau masyarakat
terutama pada saat memberikan konseling kepada pasien maupun pada saat visite
ke ruangan. Oleh karena itu agar petugas farmasi tidak mudah tertularpenyakit
perlu memperhatikan upaya pencegahan infeksi terutama di rumah sakit.
Upaya pencegahan infeksi di rumah sakit terdiri dari penerapan 2 tingkat
kewaspadaan, yaitu kewaspadaan universal dan kewaspadaan khusus.
Kewaspadaan Universal :
Prinsip utama prosedur kewaspadaan universal pelayanan kesehatan adalah
menjaga higiene sanitasi individu, higiene sanitasi ruangan dan sterilisasi
peralatan. Ketiga prinsip tersebut dijabarkan menjadi 5 (lima) kegiatan pokok
yaitu :
1. Cuci tangan guna mencegah infeksi silang
2. Pemakaian alat pelindung diantaranya pemakaian sarung tangan guna
mencegah kontak dengan darah serta cairan infeksius yang lain,
3. Pengelolaan alat kesehatan bekas pakai
4. Pengelolaan jarum suntik dan alat tajam untuk mencegah perlukaan
5. Pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan

Kewaspadaan khusus terdiri dari tiga jenis kewaspadaan yaitu :


1. Kewaspadaan terhadap penularan melalui udara (airborne)
2. Kewaspadaan terhadap penularan melalui percikan (droplet)
3. Kewaspadaan terhadap penularan melalui kontak.

1. Kewaspadaan terhadap penularan melalui udara (airborne)


Yaitu digunakan untuk menurunkan penularan penyakit melalui udara baik
yang berupa bintik percikan di udara (ukuran 5 μm atau lebih kecil) atau partikel
kecil yang berisi agen infeksi pada pasien yang diketahui atau diduga menderita
penyakit serius dengan penularan melalui percikan halus di udara.
Penyakit yang dapat ditularkan melalui udara antara
lain :

20
- Campak
- Varisela
- Tuberkulosis.

2. Kewaspadaan terhadap penularan melalui percikan (droplet)


Kewaspadaan ini ditujukan untuk mencegah terjadinya penularan penyakit
dari pasien yang diketahui atau diduga menderita penyakit serius dengan
penularan percikan partikel besar diameter > 5 μm) dari orang yang terinfeksi
mengenai lapisan mukosa hidung, mulut atau konjungtiva mata orang yang rentan.
Percikan dapat terjadi pada waktu seseorang berbicara, batuk, bersin ataupun pada
waktu pemeriksaan jalan nafas seperti intubasi atau bronkhoskopi. Transmisi
melalui percikan besar berbeda dengan transmisi penularan melalui udara karena
pada transmisi percikan memerlukan kontak yang dekat antara sumber dengan
penerima, karena percikan besar tidak dapat bertahan lama di udara dan hanya
dapat berpindah dari dan ke tempat yang dekat. Beberapa penyakit yang
ditularkan melalui droplet diantaranya :
1. Haemophyllus Influenza invasive type B, termasuk meningitis, pneumonia dan
sepsis.
2. Neisseria Meningitis invasive, termasuk meningitis, pneumonia dan sepsis.
3. Staphylococcus Pneumonia invasive multidrug resisten, termasuk meningitis
pneumonia, sinusitis, dan otitis media.
4. Bakteri infeksi saluran nafas lain dengan transmisi droplet :
a. Diptheria (faringeal)
b. Mycoplasma pneumonia
c. Pertusis
d. Pneumonia plague
e. Streptococcal pharingitis, fever pada bayi dan anak, pneumonia, atau
scarlet
5. Infeksi virus serius dengan transmisi percikan, termasuk :
a. Adenovirus
b. Influenza
c. Mumps

21
d. Parvovirus B 19
e. Rubella

3. Kewaspadaan terhadap penularan melalui kontak


Digunakan untuk mencegah penularan penyakit dari pasien yang diketahui
atau diduga penderita penyakit yang ditularkan melalui kontak langsung
(misalnya kontak tangan atau kulit ke kulit) yang terjadi selama perawatan rutin,
atau kontak tak langsung (persinggungan) dengan benda di lingkungan pasien.
Contoh penyakit yang ditularkan melalui kontak adalah :
1. Infeksi gastrointestinal, respirasi, kulit luka atau kolonisasi bakteri yang
multidrug resisten sesuai pedoman program pemberantasan.
2. Infeksi interik dengan dosis infeksi rendah atau berkepanjangan termasuk :
a. Clostridium difficile
b. Enterohemorrhagic E. Coli, Shigella, hepatitis A, atau rotavirus pada pasien
inkontenensia.
3. RSV, virus para influenza, atau infeksi enteroviral pada bayi dan anak-anak.
4. Infeksi kulit yang sangat menular atau yang biasa timbul pada kulit kering,
termasuk :
a. Difteri (kulit)
b. Herpes simpleks (neonatus atau mukoneonatus)
c. Impetigo
d. Abses besar, selulitis atau dekubitus
e. Pedikulosis
f. Skabies
g. Stapilococcal furunculosis pada bayi dan anak-anak
h. Stapilococcal scalded skin syndrome
i. Zoster (diseminata atau immunocompromised host)
5. Viral hemorrhagic conjungtivitis
6. Viral hemorrhagic fever (demam lessa atau virus Marburg)

Ketentuan Umum Pencegahan :

22
1) Tempatkan pasien pada tempat yang terpisah atau bersama pasien lain dengan
infeksi aktif organisme yang sama dan tanpa infeksi lain.
2) Melaksanakan kewaspadaan universal.
3) Perawatan lingkungan yaitu dengan membersihkan setiap hari peralatan dan
permukaan lain yang sering tersentuh oleh pasien.
4) Peralatan perawatan pasien gunakan terpisah satu sama lain, jika terpaksa harus
digunakan satu sama lain secara bersama maka peralatan tersebut harus selalu
dibersihkan dan didesinfeksi sebelum digunakan pada yang lain.

Tindakan yang harus dilakukan :


1) Tempatkan pasien pada ruang tersendiri atau bersama pasien lain dengan ruang
kerja lainnya.
2) Mencuci tangan sebelum dan sesudah bekerja pada air yang mengalir atau
alcuta.
3) Menggunakan alat pelindung kerja seperti masker, gaun pelindung dan sarung
tangan.
4) Melakukan tindakan desinfeksi, dekontaminasi dan sterilisasi, terhadap
berbagai peralatan yang digunakan, meja kerja, lantai dan lain-lain terutama
yang sering tersentuh oleh pasien.
5) Melaksanakan penanganan dan pengolahan limbah dengan cara yang benar,
khususnya limbah infeksi.
6) Memberikan pengobatan yang adekuat pada penderita.

1.1 Tuberkulosis Paru :


Adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium Asam
(BTA). Penularan penyakit ini dapat melalui dropletdroplet yang dibawa oleh
udara tuberkulosis yang berbentuk batang (basil) dan disebut pula Basil Tahan
Asam dari seseorang yang terinfeksi dengan tuberkulosis. Kecurigaan adanya
tuberkulosis paru adalah batuk lebih dari 4 minggu, dahak bercampur darah, nyeri
dada, nafsu makan menurun, berat badan menurun, berkeringat pada malam
hari,demam dan sesak nafas.

23
Ketentuan Umum Pencegahan :
- Melakukan pekerjaan sesuai dengan prosedur tetap (SOP).
- Memberikan penyuluhan kesehatan melalui pertemuan berkala, seminar
ilmiah, selebaran, poster dan lain-lain.
- Melaksanakan kewaspadaan universal (Universal Precaution = UP)
- Melaksanakan kewaspadaan khusus, dengan cara menempatkan pasien pada
tempat tersendiri dengan tekanan tinggi terpantau, minimal pergantian udara
enam kali setiap jam, pembuangan udara keluar memadai.
- Melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja dan pemeriksaan
kesehatan berkala.
Tindakan yang harus dilakukan :
1) Mengupayakan ventilasi dan pencahayaan yang baik dalam ruang perawatan,
ruang konseling dan ruang kerja lainnya.
2) Mencuci tangan sebelum dan sesudah bekerja pada air yang mengalir atau
alcuta.
3) Menggunakan alat pelindung kerja seperti masker dan sarung tangan.
4) Melakukan tindakan desinfeksi, sterilisasi, dan dekontaminasi terhadap
berbagai peralatan yang digunakan, meja kerja, lantai dan lain-lain terutama
bila terkena bahan infeksi.
5) Melaksanakan penanganan dan pengolahan limbah dengan cara yang benar,
khususnya limbah infeksi.
6) Melaksanakan pemeriksaan kesehatan secara berkala termasuk pemeriksaan
radiologi.
7) Memberikan pengobatan yang adekuat pada penderita.

1.2 Influenza :
Adalah penyakit infeksi saluran nafas atas yang disebabkan oleh virus influenza,
yang penularannya dapat melalui batuk, bersin, dan tangan yang tidak dicuci
setelah kontak dengan cairan hidung/mulut. Gejala-gejala influenza dapat berupa :
demam, kedinginan, mata kemerahan, otot/tulang sakit, batuk, hidung berair yang
mungkin menetap selama 1-2 minggu setelah gejala lain hilang.
Ketentuan Umum Pencegahan :
- Melakukan pekerjaan sesuai dengan prosedur tetap (SOP).
- Memberikan penyuluhan kesehatan melalui pertemuan berkala, seminar
ilmiah, leaflet/brosur, poster dan lain-lain.

24
- Melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja dan pemeriksaan
kesehatan berkala .
- Melakukan pengaturan/pemisahan penderita untuk menghindari terjadinya
penularan.
- Melaksanakan kewaspadaan universal (Universal Precaution =UP).
- Instruksikan pada pasien untuk tutup mulut saat batuk/bersin.
Tindakan yang harus dilakukan :
1) Mengupayakan ventilasi dan pencahayaan yang baik dalam ruang perawatan,
ruang
2) konseling. Tempatkan pasien pada ruang tersendiri dan atau bersama pasien
lain dengan ruang kerja lainnya.
3) Mencuci tangan sebelum dan sesudah bekerja pada air yang mengalir atau
alcuta.
4) Menggunakan alat pelindung kerja seperti masker N 95 bila berada/bekerja
dengan jarak kurang dari 1 m dari pasien, dan sarung tangan.
5) Melakukan tindakan desinfeksi, dekontaminasi dan sterilisasi, terhadap
berbagai peralatan yang digunakan, meja kerja, lantai dan lain-lain terutama
bila terkena bahan infeksi.
6) Melaksanakan penanganan dan pengolahan limbah dengan cara yang benar,
khususnya limbah infeksi.
7) Melaksanakan pemeriksaan kesehatan secara berkala termasuk pemeriksaan
radiologi.
8) Memberikan pengobatan yang adekuat pada pasien.

1.3 Hepatitis
Adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus Hepatitis B (HBV), yang
manifestasinya dapat sebagai Hepatitis B akut maupun dalam bentuk sebagai
pengidap (karier) kronik HBsAg. Cara penularannya dapat melalui darah atau
cairan tubuh lainnya dari penderita HBV maupun pengidap HBsAg. Gejala
penyakitnya dapat berupa demam, lemah, mual/muntah, rasa tak enak di
epigastrium dan kemungkinan disertai ikterik.
Ketentuan Umum Pencegahan :
- Melakukan pekerjaan sesuai dengan prosedur tetap (SOP).
- Memberikan penyuluhan kesehatan melalui pertemuan berkala, seminar
ilmiah, selebaran, poster dan lain-lain.

25
- Melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja dan pemeriksaan
kesehatan berkala .
- Melakukan pengaturan/pemisahan pasien untuk menghindari terjadinya
penularan.
- Tutuplah luka bila ada.
Tindakan yang harus dilakukan :
1) Meningkatkan pengetahuan dan kepedulian petugas farmasi terhadap penyakit
hepatitis B dan penularannya.
2) Mencuci tangan sebelum dan sesudah bekerja pada air yang mengalir atau
alcuta.
3) Menggunakan alat pelindung kerja seperti masker dan sarung tangan.
4) Melakukan tindakan desinfeksi, sterilisasi, dan dekontaminasi terhadap
berbagai peralatan yang digunakan, meja kerja, lantai dan lain-lain terutama
bila terkena bahan infeksi.
5) Melaksanakan penanganan dan pengolahan limbah dengan cara yang benar,
khususnya limbah infeksi.
6) Memberikan vaksinasi kepada petugas.
7) Melaksanakan pemeriksaan kesehatan secara berkala termasuk pemeriksaan
radiologi.
8) Memberikan pengobatan yang adekuat pada penderita.

1.4 Resistensi
Adalah suatu keadaan dimana mikroba sudah tidak peka lagi terhadap antimikroba
pada pemberian yang rasional. Resistensi dapat terjadi karena kita menghirup atau
terpajan antimikroba atau sitostatika dalam pembuatan dan peracikan obat. Ciri-
ciri resistensi adalah bila kita terinfeksi dengan mikroba tertentu kemudian diberi
antimikroba yang sesuai namun tidak memberikan respon yang positif.
Ketentuan Umum Pencegahan :
- Melakukan pekerjaan sesuai dengan prosedur tetap (SOP).
- Melakukan pekerjaan dengan sarana dan prasarana yang memenuhi syarat.
- Memberikan pengetahuan tentang resistensi serta bahaya resistensi terhadap
tubuh.
- Melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja dan sesudah bekerja
secara berkala.
Tindakan yang harus dilakukan :
1) Cuci tangan sebelum bekerja.

26
2) Gunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan, masker, baju lab, tutup
kepala sebelum bekerja.
3) Bekerja pada tempat yang memenuhi syarat.
4) Laporkan hasil pemeriksaan berkala.
5) Jika terjadi kelainan maka perlu dilakukan tindak lanjut pekerjaan.
6) Berikan pengobatan sesuai dengan standar medis.

2. BAHAYA FISIKA
Faktor fisika merupakan salah satu beban tambahan bagi pekerja di rumah sakit
yang apabila tidak dilakukan upaya-upaya penanggulangannya dapat
menyebabkan penyakit akibat kerja.
Faktor fisika di Rumah Sakit Umum Daerah Bhakti Rahayu Denpasar terdiri dari
bising, listrik, panas, getaran radiasi dan cahaya.

2.1 BISING
Dalam kesehatan kerja, bising diartikan sebagai suara yang dapat menurunkan
pendengaran baik secara kuantitatif (peningkatan ambang pendengaran) maupun
kualitatif (penyempitan spektrum pendengaran), berkaitan dengan faktor
intensitas, frekuensi, durasi dan pola waktu. Di rumah sakit, bising merupakan
masalah di power house/generator, ruangan AHU (Air Handling Unit), sumber
bising lain dapat berasal dari ruang cuci piring, mesin cuci pakaian, mesin pompa
air, dan mesin potong rumput.

2.1.1 Identifikasi
Bising tinggi dapat menyebabkan dampak negatif baik yang bersifat auditorial
maupun non auditorial
a. Non auditorial
Antara lain mengganggu komunikasi, gangguan tidur, gangguan perilaku,
gangguan fisiologis antara lain ditandai dengan sakit kepala, mual, berdebar.
b. Auditorial
Dikenal sebagai Occupational hearing loss termasuk trauma akustik dan Noise
Induce hearing Loss (NIHIL).
Trauma akustik disebabkan oleh bising impulsif dengan intensitas yang sangat
tinggi, biasanya melebihi 140 desibel (dB), bisa hanya terjadi satu kali pajanan.

27
Energi suara yang dihasilkan melampaui batas kemampuan fisiologis struktur alat
pendengaran, sehingga dapat merusak organ corti di telinga dalam, juga dapat
merusak membran timpani dan tulang pendengaran di telinga tengah. Kejadiannya
dramatis, sehingga penderita ingat betul permulaan terjadinya, misalnya terpapar
suara ledakan boiler. Berbeda dengan trauma akustik, NIHL terjadi karena pajanan
bising yang relatif rendah (85 dB atau lebih), dalam waktu yang lama. Jadi
terdapat efek kumulatif dan bertingkat.

2.1.2 Pengukuran
Untuk mengetahui intensitas bising di lingkungan kerja, digunakan Sound Level
Meter. Bila memungkinkan idealnya dengan menggunakan Octave Band Analyzer
untuk mengetahui spektrum/frekuensi dari bising tersebut. Untuk menilai tingkat
pajanan pekerja lebih tepat digunakan Noise Dose Meter karena pekerja umumnya
tidak menetap pada suatu tempat kerja selama 8 jam ia bekerja. Nilai ambang
batas intensitas bising adalah 85 dB. Dengan mengatur waktu kerja pekerja
didapatkan tabel sbb :
a. Mengatur jam kerja
b. Mengatur jumlah impuls per hari
2.1.3 Evaluasi
Secara sosial NIHL dapat menganggu keharmonisan baik antar teman sekerja
maupun dengan keluarga, karena yang bersangkutan sulit berkomunikasi dan
sering berbicara dengan suara keras tanpa disadari karena kurang dengar, yang
sering disalah artikan oleh lawan bicara sebagai bentakan atau kemarahan. Juga
menurunkan kualitas hidupnya, antara lain kemampuan mendengar musik,
kesigapan terhadap tanda bahaya bunyi.
Secara ekonomi dapat sangat merugikan karena bersifat kontra produktif bagi
lingkungan kerja, selain biaya tanggungan penyakit akibat kerja yang besar, yang
lebih merugikan adalah organisasi terpaksa kehilangan pekerja terampil akibat
dimutasi.

2.1.4 Pengendalian :

28
Yang terpenting adalah mengurangi dosis pemajanan dengan memperhatikan 3
(tiga)
unsur :
a. Sumber : mengurangi intensitas bising
- Desain akustik
- Menggunakan mesin/alat yg kurang bising
- Merubah metoda proses
b. Media : mengurangi transmisi bising
- Menjauhkan sumber dari pekerja
- Mengabsorpsi dan mengurangi pantulan bising secara akustik pada
dinding, langit-langit dan lantai
- Menutup sumber bising dengan barier
c. Pekerja : mengurangi penerimaan bising
- Alat pelindung diri Berupa sumbat telinga (ear plug) yang dapat
menurunkan pajanan sebesar 6 – 30 dB atau penutup telinga (ear muff)
yang dapat menurunkan 20 – 40 dB
- Ruang isolasi untuk istirahat
- Rotasi pekerja untuk periode waktu tertentu antara lingkungan kerja yang
bising dengan yang tidak bising
- Pengendalian secara administratif dengan menggunakan jadwal kerja
sesuai Nilai Ambang batas (NAB)

2.2 LISTRIK
Di Rumah Sakit pemanfaatan aliran listrik digunakan untuk penerangan
dan penggerak peralatan. Namun jika penggunanya tanpa didukung pengetahuan
listrik yang memadai dapat menimbulkan kecelakaan terhadap listrik. Ada dua
tingkatan listrik yang berbahaya yaitu makroshok dan mikroshok. Timbulnya
aliran listrik akibat perbedaan potensial antara 2 (dua) kutub yang bermuatan
listrik. Aliran listrik ini dapat berupa arus searah (DC) atau arus bolak balik (AC).

2.2.1 Identifikasi
Keluhan :
- Terasa panas dan kedutan Walk through survey :
- Adanya aliran listrik yang tidak terpelihara
Efek Kesehatan :

29
- Luka bakar ditempat tersengat aliran listrik
- Kaku pada otot ditempat yang tersengat listrik
- Tahanan tubuh membesar

2.2.2 Pengendalian
1. Enginering
- Pemasangan grounding (pertanahan) sesuai ketentuan.
- Pengukuran jaringan/instalasi listrik
- NAB bocor arus 50 miliamper, 60 Hz (sakit)
- Pemasangan pengamanan/alat pengamanan sesuai ketentuan
- Pemasangan tanda-tanda bahaya dan indikator
2. Administrasi
- Penempatan petugas sesuai dengan keterampilan
- Waktu kerja petugas digilir
3. Interfensi medan elektro magnetis
- terhadap alat-alat elektronis
4. Memakai sepatu isolasi

2.3 PANAS
Secara umum panas dirasakan bila suhu udara diatas suhu nyaman, suhu nyaman
di Indonesia berkisar antara 26oC-28oC dengan Relative Humidity (kelembaban)
antara 60- 70 %. Lingkungan suhu nyaman adalah kombinasi dari suhu udara,
kelembaban, kecepatan aliran udara dan suhu radiasi. Bekerja ditempat yang
panas akan menyebabkan ketidaknyamanan, bahkan dapat mengganggu
kesehatan.

2.3.1 Identifikasi
Ditempat kerja yang panas, pekerja akan mengeluh :
- Rasa tidak enak, serba salah
- Mudah marah
- Suhu kulit panas/basah karena berkeringat atau kering karena keringat terus
menguap
- Lelah, mual, sakit kepala urine berkurang.

30
Pada walk trough survey, akan dirasakan suhu ruang kerja yang panas, ditemukan
sumber panas; pekerja berkeringat dengan beberapa keluhan seperti diatas. Akibat
terpajan panas yang tinggi, maka suhu badan akan naik, kenaikan suhu tubuh
badan tersebut tidak dapat diimbangi dengan pendinginan melalui penguapan.
Dapur; salah satu tempat kerja di rumah sakit yang menimbulkan bahaya panas
Pengaturan ventilasi dan penyediaan air minum merupakan alternatif pencegahan
dampak panas. Efek panas terhadap kesehatan yang ringan adalah heat syncope,
yaitu pingsan karena panas. Penyebabnya adalah terjadi hipostasis aliran darah,
karena terjadi pooling di pembuluh darah yang melebar, pada kulit dan tubuh
bagian bawah, sehingga suplai darah ke otak berkurang. Sedangkan Heat
Disorder, adalah kumpulan gejala yang berhubungan dengan kenaikan suhu tubuh
dan
mengakibatkan kekurangan cairan tubuh a.l. :
1. Heat stress/Heat exhaustion, terasa panas dan tidak nyaman, karena
dehidrasi, tekanan darah turun menyebabkan gejala pusing dan mual.
2. Heat cramps, adalah spasme otot yang disebabkan cairan dengan elektrolit
yang rendah, masuk ke dalam otot, akibat banyak cairan tubuh keluar
melalui keringat, sedangkan penggantinya hanya berupa air minum biasa
tanpa elektrolit.
3. Heat Stroke, disebabkan kegagalan bekerja SSP dalam mengatur
pengeluaran keringat, suhu tubuh dapat mencapai 40,5C. Selain itu
gangguan perilaku bisa sangat menonjol akibat perasaan kepanasan dan
gangguan fisiologis SSP.

2.3.2 Pengendalian
a. Terhadap lingkungan
1). Terhadap suhu udara yang tinggi (memperkecil panas konveksi)
a) Isolasi dari peralatan yang menimbulkan panas.
b) Menyempurnakan sistem ventilasi
- Ventilasi yang ditempatkan diatas sumber panas yang bertujuan untuk
menarik udara panas keluar ruangan ( dapat dipergunakan kipas angin
di langit-langit ruangan).

31
- Ventilasi lokal untuk tiaptiap tenaga kerja dengan menghembuskan
udara dingin.
- Pemasanganalat pendingin
- Pakaian kerja khusus yang diberi ventilasi untuk lingkungan kerja
yang sangat panas.
2).Terhadap kelembaban ( mempengaru hipanas penguapan).
a) Menutup kebocoran uap air atau sumber lain yang mempengaruhi
kelembaban.
b) Menyempurnakan ventilasi umum.
c) Pengurangan kelembaban dilakukan dengan penggunaan alat dehumidifier.
d) Pakaian dengan sistem ventilasi (ventilasi suits) untuk kondisi yang sangat
lembab.
3).Umum
a) Pemasangan AC hanya efisiensi pada ruang kerja yang tidak luas (misal :
panel operation room).
b) Menyediakan tempat istirahat yang memenuhi syarat untuk recovery

b. Pengendalian terhadap pekerja


1) 1).Menyediakan persediaan air minum dekat tempat kerja yang cukup dan
memenuhi syarat dan kalau perlu disediakan extra salt (harus dengan
pengawasan dokter). (extra salt : 250 gr NaCl, 7 gr CaCl2, 100 gr Citric
Acid, 32 gr KCl, 100 gr gula, 50 gr Vinegar dalam 100 l air).
2) Pada kondisi dimana lingkungan kerja mempunyai tingkat radiasi rendah,
dianjurkan dengan pakaian kerja yang menutup seluruh permukaan kulit
dan berwarna putih.
3) Hindarkan tenaga kerja yang harus bekerja dilingkungan panas apabila :
a. Berbadan gemuk sekali
b. Menderita suatu penyakit cardiovaskuler
- Perlu pre employment medical examination / pemeriksaan
kesehatan sebelum bekerja
- Periodic medical examination / pemeriksaan kesehatan berkala.

c. Pengendalian secara administratif


Pengaturan waktu kerja dan istirahat berkaitan dengan suhu ruangan.

2.4. GETARAN

32
Getaran/vibrasi adalah faktor fisik yang ditimbulkan oleh subyek dengan
gerakan osilasi. Mesin, peralatan atau perkakas kerja yang bergetar dapat
memajani pekerja melalui transmisi/penjalaran, baik getaran yang mengenai
seluruh tubuh misalnya waktu duduk dalam kendaraan berjalan atau getaran mesin
diesel maupun getaran setempat yang merambat melalui tangan atau lengan
operator alat bergetar.

2.4.1 Identifikasi
Penyakit akibat getaran, dari ringan sampai berat, gejala yang ditimbulkan secara
keseluruhan disebut sebagai sindrom vibrasi.

Efek Kesehatan
Penyakitnya dikenal sebagai penyakit Raynaud atau White Finger, terutama
terjadi pada ruangan yang dingin.
Keluhan :
a. Gejala dini berupa rasa kesemutan jari tangan waktu bekerja atau sesaat
setelah berhenti bekerja.
b. Fase selanjutnya ujung jari kadangkadang memucat yang disertai rasa
nyeri, gejala hilang setelah tangan dipanaskan 15–30 menit.
c. Fase lebih lanjut, seluruh jari memucat secara paroksismal yang dapat
terjadi pada suhu udara biasa, umumnya tidak mengenai ibu jari. Lebih
lanjut lagi pekerja mengeluh parese, kepekaan rasa raba terganggu, namun
nekrosis hampir tidak pernah terjadi.
Test diagnosis dilakukan dengan mencelupkan kedua lengan bawah ke
dalam air es selama ±10 menit, bila positif akan timbul gejala White
finger. Pemeriksaan penunjang lain berupa Finger Pletysmography,
pemeriksaan mikroskopik kapiler, pengukuran suhu kulit dengan
termometer atau termografi.
Getaran juga dapat menyebabkan pendarahan mikro, test viscositas dan
plasma cydic nucleotide sangat berguna mendeteksi dini fenomena
Raynaud.

2.4.2 Pengendalian

33
Terhadap sumber, diusahakan menurunkan getaran dengan bantalan anti
vibrasi/isolator dan pemeliharaan mesin yang baik. Mengganti proses gerinda
menjadi proses menggiling. Alat yang dijinjing diganti dengan alat yang didorong.
Terhadap pekerja, tidak ada pelindung
khusus, hanya dianjurkan menggunakan sarung tangan untuk menghangatkan
tangan terutama dalam suhu tinggi untuk perlindungan terhadap gangguan
vaskular.

2.5. RADIASI
Sebagaimana diketahui bahwa radiasi disamping bermanfaat juga dapat
menimbulkan bahaya bagi umat manusia. Radiasi dapat digunakan untuk
pemeriksaan (radiodiagnostik) maupun untuk pengobatan (radioterapi). Agar
radiasi dapat dimanfaatkan dengan baik, pemberian dosis kepada pasien harus
tepat dan para pekerja radiasi dilengkapi dengan alat monitor yang biasa disebut
film bagde. Film bagde tersebut diperiksa secara berkala. Apabila pekerja telah
menerima paparan radiasi diatas Nilai Ambang Batas yang ditentukan (diketahui
dari film bagde pekerja) maka pekerja ditempat radiasi dipindahkan. Radiasi
dibagi menjadi :

a. Radiasi pengion
Radiasi pengion mempunyai kemampuan untuk melepas elektron dari orbitnya
pada suatu atom membentuk suatu ion.
Termasuk disini :
- Sinar X
- Sinar Gamma
- Sinar Kosmis
Sifat radioaktifitas yang berasal dari mineral
Efek Kesehatan
Efek radiasi terhadap kesehatan dapat akut atau kronik
1. Radiasi yang akut dapat menimbulkan :
- Sindrom sistem syaraf pusat
- Gangguan gastrointestinal
- Gangguan sistem hemopeoetik
2. Radiasi yang kronik menimbulkan :

34
- Leukomogenesis
- Karsiogenesis
- Kerusakan genetik
Efek kesehatan ini tergantung dosis dan waktu pemajanan mulai dari gejala akut
ringan sampai kematian .
Pengendalian
1. Enginering :
- Peralatan ditaruh pada ruang isolasi (beton-Fb)
- Operator harus dilindungi dari paparan
2. Administrasi :
- Penggantian operator X-ray bila film badge telah mencapai NAB.
3. Alat Pelindung Diri :
- Apron
b. Radiasi non pengion
Radiasi yang tanpa ada pelepasan elektron tergantung panjang gelombang
Termasuk disini :
- Sinar ultraviolet (A, B dan C)
- Sinar yang bisa dilihat (sinar biru yang berbahaya, sinar laser)
- Sinar dengan gelombang pendek (microwave).
Keluhan :
Bervariasi tergantung intensitas sinar, jenis sinar dan waktu pemaparan.

Efek Kesehatan
(1)Efek kesehatan negatif :
- Gangguan pada mata, kebutaan sementara sampai permanen
- Gangguan pada kulit (terbakar)
(2)Efek kesehatan positif :
- Dapat digunakan untuk terapi

Pengendalian
Menggunakan alat pelindung mata : Sunglasses, Filter untuk mikroskop elektron,
dan pelindung mata untuk sinar laser.

[Link]

35
Pencahayaan dirumah sakit berkaitan langsung dengan keselamatan pasien dan
petugas rumah sakit, peningkatan pencermatan, kesehatan yang lebih baik dan
suasana yang nyaman. Pemilihan sistem penerangan/ pencahayaan yang baik,
ditentukan oleh beberapa penerangan umum dalam ruangan, biaya instalasi, biaya
pemakaian energi dan biaya pergantian termasuk pergantian lampulampu.
Pedoman pencahayaan di rumah sakit memuat beberapa teori pencahayaan serta
kategori pencahayaan pada ruanganruangan di rumah sakit yang sesuai dengan
bidang kerjanya. Kategori pencahayaan diberikan nilai dengan notasi huruf A, B,
C, D, E, F, G, H dan I. Masingmasing notasi huruf mempunyai nilai intensitas
penerangan 3 (tiga) macam yaitu nilai minimal, nilai yang diharapkan dan nilai
maksimal.

2.6.1 Identifikasi

Keluhan :
- Orang yang terpajan akan gangguan pencahayaan akan mengeluh kelelahan
mata.
Walk trough survey :
Ruangan/tempat kerja denganpenerangan yang kurang.

Efek Kesehatan
- Iritasi (conjunctivitis)
- Penglihatan rangkap
- Sakit kepala
- Ketajaman penglihatan terganggu
- Akomodasi dan konvergensimenurun
2.6.2 Pengukuran
Satuan penting yang digunakan adalah :
- Untuk intensitas cahaya: Candela(Cd)
- Untuk Flux cahaya : lumen (lm)
- Untuk intensitas perorangan : lux (lx)
- Untuk sudut ruangan : steradian (Str)

2.6.3 Pengendalian
Adanya pelindung bagi pekerja :

36
- Pemakaian kaca mata yang cocok
- Pemasangan tabir antara pekerja dengan sumber cahaya
- Adakan rotasi pekerja
- Pengaturan jumlah jam pekerja
- Pemeriksaan kesehatan secara berkala.

3 BAHAYA KIMIA
Adanya zat-zat kimia di rumah sakit dapat menimbulkan bahaya bagi para
penderita maupun para pekerjanya, baik bagi para dokter, perawat, teknisi dan
semua yang berkaitan dengan pengelolaan rumah sakit maupun perawatan
penderita. Walaupun orang menyadari arti bahan-bahan kimia dan bahayanya,
kecelakaan bahan-bahan kimia terjadi semata-mata karena kurang hati-hati dan
kurang peduli terhadap bahan-bahan kimia tersebut. Hal-hal tersebut dapat
menyebabkan keracunan kronik akibat tumpahan-tumpahan, kebocoran tempat
penyimpanan dan ventilasi yang tidak baik. Bahan kimia yang mempunyai risiko
mengakibatkan gangguan kesehatan antara lain adalah gas zat-zat anestetik
(halotan, nitrooksida, etil eter), formaldehid, etilen oksida, merkuri, dan debu.

3.1 Gas Nitrogen Oksida


Type Bahaya : Kebakaran.
Bahaya : bersifat oksidator membantu proses pembakaran atau memperbesar
nyala api
Pencegahan : jauhkan dari minyak, oli, gemuk, api dan zat-zat lain yang mudah
terbakar.
Tindakan : jika terjadi kebakaran gunakan pemadam api: Dry Chemical , CO2 ,
semprotkan air pada silinder N2O yang ada disekitarnya supaya dingin.

Type Bahaya : Ledakan


B a h a y a : bisa menimbulkan ledakan atau pecahnya tabung Silinder
Pencegahan :
- jauhkan dari api atau sumber panas lainnya.
- pasang safety .
- tabung silinder N2O bertekanan tinggi (70Atm.) dapat meledak atau pecah
bila terkena panas yang tinggi.

37
Pemaparan : Inhalasi
Gejala Akut: menyebabkan iritasi, pusing jika terhirup dan dapat membius pada
konsentrasi N2O tertentu (70%).
Pencegahan :
- hindari hirup N2O dalam jumlah besar.
- pindahkan jika ada tabung bocor.
Pertolongan Pertama :
bawa penderita ke tempat yang segar dan istirahatkan.

Pemaparan : Kulit
Gejala Akut : kulit melepuhatau luka
Pencegahan :
- pakai sarung tangan, sepatu pelindung.
- hindari kontak kulit dengan N2O.
Pertolongan Pertama :
siram dengan air hangat (30-400C) pada bagian kulit yang terbakar.

Pemaparan : Mata
Gejala akut : penglihatan kabur atau beku ke mata.
Pencegahan : pakai perlindungan mata saat menangani N2O.
Pertolongan Pertama :
bilas mata dengan air bersih ± 15 menit.
Penyimpanan :
- N2O dijauhkan dari minyak oli, gemuk dan bahan lain yang mudah
terbakar, metal garam, metal oksida, peroksida dan basa.
- Tabung N2O harus dijauhkan dari panas yang tinggi dan suhu silinder
harus dijaga tidak boleh melampaui 52oC.

Sifat-sifat :
- Bersifat narkotik dalam konsentrasi yang tinggi
- Dapat membentuk campuran yang explosif dengan udara.
- TCLo (manusia) :24 mg/kg/2 Jam.
- Stabil pada suhu dan tekanan normal.
- Berbentuk gas/cair.

38
- Bersifat oksidator,membantu pembakaran.
- Tidak berwarna, sedikit berbau dan berasa manis.
- Berat molekul = 44,013 gr/mol.
- Titik Didih pada 1 Atm.= - 88,52oC
- Spesifikasi gravity gas ( 0oC, 1 atm) = 1,529
- Berat jenis ( 21,11oC, 1atm) = 1,84 gr/lt.
- Dapat larut di alkohol, ether.

3.2 Gas O2

Type Bahaya : Kebakaran.


Bahaya : bersifat oksidator membantu proses pembakaran/ memperbesar nyala
api.
Pencegahan : jauhkan dari minyak, oli, gemuk, api dan zat-zat lain yang mudah
terbakar.
Tindakan : jika terjadi kebakaran gunakan pemadam api: Dry Chemical , CO2 ,
semprotkan air pada silinder O2 yang ada disekitarnya supaya dingin.

Type Bahaya : Ledakan


Bahaya : bisa menimbulkan ledakan/pecahnya tabung silinder.
Pencegahan :
- Jauhkan dari api atau sumber panas lainnya.
- Pasang safety.
- Tabung silinder Oksigen bertekanan tinggi (150 Atm.) dapat meledak atau
pecah terkena panas yang tinggi.

Pemaparan : Inhalasi
Gejala Akut :
menyebabkan iritasi, pusing jika terhirup Oksigen murni dalam jumlah besar.
Pencegahan :
- Hindari hirup O2 dalam jumlah besar.
- Pindahkan, jika ada tabung bocor.
Pertolongan Pertama :
bawa penderita ke tempat yang segar dan istirahatkan.

39
Pemaparan : Kulit
Gejala Akut : kulit melepuh atau luka/beku karena pengaruh dingin jika terkena
O2 cair.
Pencegahan :
- Pakai sarung tangan, sepatu pelindung.
- Hindari kontak kulit dengan O2 cair.
Pertolongan Pertama :
siram dengan air hangat (30-400C) pada bagian kulit yang terbakar atau luka .

Pemaparan : Mata
Gejala akut : penglihatan kabur atau iritasi ke mata.
Pencegahan : pakai perlindungan mata saat menangani O2 cair.
Pertolongan Pertama :
bilas mata dengan air bersih ± 15 Menit

Penyimpanan :
- harus dijauhkan dari minyak oli, gemuk dan bahan lain yang mudah
terbakar.
- harus dijauhkan dari suhu/panas yang tinggi karena bisa meledak jika
terkena panas yang tinggi.
- harus dijauhkan dari zatzat yang dapat menyebabkan terjadinya karatan
atau kerusakan.

Sifat-sifat :
- TCLo (manusia) terhirup 100 pph, selama 14 jam.
- Stabil pada suhu dan tekanan normal.
- Berbentuk gas atau cair.
- Bersifat oksidator, membantu pembakaran.
- Tidak berwarna, sedikit berbau dan tidak berasa.
- Berat molekul = 31,9988 gr/mol.
- Titik Didih pada 1 Atm.= - 182,92oC
- Spesifikasi gravity gas(21,11oC, 1 atm) =1,1053
- Berat jenis (21,11oC, 1atm) = 1,3265 gr/lt.
- Dapat larut di alkohol.

40
3.2 Penanganan Obat Kanker
a). Prosedur penanganan obat sitostatika yang aman perlu dilaksanakan untuk
mencegah risiko yang tidak diinginkan. Risiko yang tidak diinginkan dapat
terjadi pada transportasi, penyimpanan, pendistribusian, preparasi, dan
pemberian obat sitostatika. Potensial paparan pada petugas pemberian
sitostatika telah banyak diteliti.

Tujuan Safe Handling Cytostatic


 Produk terlindung dari kontaminasi mikroba (teknik aseptis) sehingga mutu
terjamin
 Personal dan lingkungan yang terlibat, terlindung dari paparan bahan
berbahaya
 Efisiensi biaya dan efisiensi waktu perawatan
Cara terpaparnya obat sitostatika ke dalam tubuh
 inhalasi
 absorbsi
 ingestion
Standar Prosedur Kerja meliputi :
 Fasilitas fisik yang dibutuhkan untuk melindungi operator dan produk
 Perlengkapan pelindung yang melindungi operator dan produk
 Personal yang mengerjakan
 Prosedur rekonstitusi obat dan teknik khusus yang diperlukan
 Prosedur pembuatan label, pengemasan, transportasi dan pembuangan
limbah sitostatika
 Prosedur penanganan kecelakaan
Fasilitas Ruangan :
 Clean room
 Area penyimpanan
 Area administrasi
 Area cuci
 Area ganti pakaian
 Ruang antara
 Pass box
 Laminar Air Flow (LAF)/Biological Safety Cabinet (BSC)
Clean Room :
 25 % - 30 % dari total area

41
 Konstruksi khusus, dinding mudah dibersihkan
 Partikel udara sangat dibatasi : kelas 100, 1000, 10.000 partikel/lt udara
 Aliran udara diketahui dan terkontrol
 Tekanan ruangan diatur
 Suhu dan kelembaban udara terkontrol Suhu : 18º - 22º C Kelembaban :
35-50 %
 Dilengkapi HEPA filter Fasilitas Ruangan
 Ruang antara : Ruang yang terletak antara ruang cuci tangan dan clean
room (barrier) pada ruangan ini petugas menggunakan perlengkapan steril
 Pass Box adalah jendela antara ruang administrasi dan clean room (barrier)
berfungsi sebagai keluar masuk obat ke clean room

Perlengkapan Pelindung :
 Pakaian/Baju Pelindung
 Tutup Kepala
 Masker dan Kaca Mata
 Sarung tangan
 Kaos Kaki dan Sepatu Personal
 Personal yang akan terlibat dalam preparasi obat sitostatika harus
mendapatkan pelatihan yang memadai tentang teknik aseptik dan
penanganan obat sitostatika.
 Petugas wanita yang sedang hamil atau merencanakan untuk hamil tidak
dianjurkan untuk terlibat dalam rekonstitusi obat sitostatika.
 Petugas yang sedang sakit atau mengalami infeksi pada kulit harus
diistirahatkan dari tugas ini.
 Setiap petugas yang akan terlibat dalam rekonstitusi seminggu sebelumnya
harus mendapat pemeriksaan laboratorium.

Pemeriksaan Laboratorium pada Petugas :


1. Complete blood count
2. Liver Function Test
3. Renal Function Test
Pemeriksaan laboratorium harus dilakukan secara periodik setiap 6 bulan sampai
1 tahun, jika terdapat kelainan hasil pemeriksaan harus diteliti lebih dalam.
Pemeriksaan laboratorium juga harus dilakukan jika terjadi paparan obat
sitostatik. Semua hasil harus di dokumentasikan

42
Formulir Permintaan Rekonstitusi terdiri dari :
 Nama & No. MR
 Jenis obat dan dosis
 Jenis dan jumlah pelarut yang digunakan
 Tgl Persiapan
 Tgl kadaluarsa
Obat sitostatik yang telah direkonstitusi harus dikemas yang aman untuk dibawa
ke ruang perawatan, dan diberi label peringatan obat berbahaya.

Prosedur Pembersihan Tumpahan Obat Sitostatik (di dalam BSC)


 Pastikan bahwa cytogard berjalan dengan baik pada saat kejadian
 Nyalakan exhaust fan
 Gantilah sarung tangan dan baju yang terkena tumpahan dan letakkan
dalam kantong khusus
 Gunakan pakaian pelindung lengkap
 Angkat pecahan benda tajam dengan pinset dan masukkan dalam wadah
buangan khusus
 Jika tumpahan berupa liquid, hisap dengan flannel kering
 Jika tumpahan berupa serbuk, hisap dengan flannel basah
 Catat jenis obat dan kemungkinan disiapkan antidot khusus
 Tanggalkan seluruh pakaian pelindung
 Laporkan ke supervisor
 Lengkapi format kecelakaan

b). Kulit Tertusuk Jarum Berisi Obat Kanker


 Jangan segera mengangkat jarum, tarik kembali plungger untuk menghisap
obat-obat yang mungkin telah terinjeksi.
 Angkat jarum dari kulit dan tutup jarum, kemudian buang.
 Tanggalkan sarung tangan
 Bilas area dengan air hangat
 Cuci dengan air sabun, bilas dengan air hangat
 Catat jenis obat dan perkiraan berapa banyak yang terinjeksi
 Tanggalkan semua pakaian pelindung
 Laporkan ke supervisor
 Lengkapi format kecelakaan
 Suntikkan antidot yang spesifik
 Segera konsultasikan ke dokter

c). Tumpahan Obat Sitostatika pada Mata


 Minta pertolongan (Call For Help)

43
 Tanggalkan sarung tangan
 Segera rendam dan bilas mata terbuka dengan air hangat selama 5 menit
 Letakkan tangan sekitar mata dan cuci mata terbuka dengan 500 ml NaCl
0,9 %
 Catat jenis obat yang tertumpah
 Tanggalkan seluruh pakaian pelindung
 Laporkan ke supervisor
 Lengkapi format kecelakaan

Transportasi dan Pembuangan Limbah


 Petugas membawa dengan troli khusus untuk obat sitostatik
 Pembuangan limbah sitostatik harus dalam wadah terpisah, untuk limbah
tajam masukkan dalam container khusus yang tidak tembus benda tajam
 Semua limbah kemoterapi harus dibakar dalam incenerator

4. BAHAYA ERGONOMI
Instalasi farmasi rumah sakit merupakan salah satu instalasi yang berada di rumah
sakit. Seperti halnya instalasi-instalasi yang lainnya di rumah sakit, tentu ada
risiko dari pajanan bahaya di lingkungan tempat kerja dimana seharusnya ada
kewaspadaan dari masing-masing pihak yang terlibat di instalasi tersebut.
Kewaspadaan ini bisa berupa pengaturan atau manajemen yang baik terhadap
risiko yang timbul di lingkungan tempat kerja di instalasi farmasi di rumah sakit.
Dengan kata lain, faktor-faktor penyebab risiko bahaya kerja ditempat tersebut,
harus dikendalikan melalui upaya pencegahan dan penanggulangan yang benar
sehingga kasus-kasus kejadian penyakit dan kecelakaan akibat kerja dapat
dihindari, direduksi dan atau diminimalkan.
Risiko bahaya kerja yang dimaksud, selain faktor fisik, biologik, kimia dan
psikososial di instalasi farmasi, ada juga risiko bahaya ergonomik, yang
merupakan hasil dari ketidak sesuaian antara pekerja dengan cara kerja dan
lingkungan kerjanya. Saat ini bahaya
dan permasalahan ergonomik tidak hanya dirasakan oleh para pekerja di
industri/perusahaan saja, akan tetapi permasalahan ergonomik sesungguhnya ada
dimana – mana termasuk di rumah sakit secara umum.

44
Permasalahan Ergonomik
Secara umum permasalahan ergonomik di rumah sakit hampir sama dengan
permasalahan ergonomik di industry industry lain. Masalah yang berkaitan
dengan postur,kekuatan dan frekuensi (posture, force, and frequency) adalah
permasalahan ergonomik yang mendasar yang terjadi di tempat kerja manapun.
Begitu juga permasalahan ergonomik yang ada di rumah sakit.
Permasalahan ergonomik di rumah sakit bisa diidentifikasi berdasarkan :
1. Rutinitas dari pekerjaan yang dilakukan di instalasi tersebut, misalnya
dalam pekerjaan penyimpanan, risiko ergonomik biasanya postur yang kaku,
berarti menekuk atau memutar bagian tubuh, beban statis yang berarti
bertahan lama pada satu postur sehingga penyebabkan kontraksi otot. Risiko
ergonomik lainnya antara lain tekanan, artinya tubuh tertekan pada suatu
permukaan atau tepian saat bekerja.
2. Permasalahan ergonomik yang umum terjadi di rumah sakit, seperti dalam
hal mengangkut beban atau peralatan kefarmasian yang tidak ergonomik
dalam rangka pendistribusian, bahaya potensial ergonomik yang terjadi
adalah cidera punggung dan leher, gangguan otot rangka seperti pengapuran
dan peradangan. Pekerjaan yang dilakukan dengan posisi duduk terus-
menerus tanpa disertai istirahat yang cukup, misalnya petugas administrasi
dll. Bahaya potensial ergonomik yang muncul yakni; melembeknya otot-
otot perut dan melengkungnya tulang.
3. Permasalahan ergonomik lainnya adalah yang berhubungan dengan
lingkungan kerja seperti display unit, yaitu penataan ruang kerja termasuk
pencahayaan dan warna nya yang apabila tidak ergonomik akan
menimbulkan masalah dan kecelakaan kerja.
4. Permasalahan yang tidak kalah pentingnya adalah masalah manajemen
waktu dan hubungan antar manusia dilingkungan pekerjaannya.

Pengaturan Risiko Ergonomik

Dalam pengaturan untuk mengurangi dan meminimalisir risiko ergonomik maka


perlu beberapa tahapan sesuai dengan tujuan yang diinginkan semula :

45
1. Perencanaan
a. Analisa situasi yang berpotensi menimbulkan risiko ergonomik di Rumah
Sakit. Analisa situasi merupakan langkah pertama yang harus dilakukan
dengan melihat sumber daya yang dimiliki, sumber dana yang tersedia dan
bahaya potensial ergonomik apa yang frekeuensinya sungguh mengancam
para pekerja Rumah Sakit.
b. Identifikasi masalah ergonomik di Rumah Sakit beserta bahaya yang
mungkin terjadi. Identifikasi masalah ergonomik dapat dilakukan dengan
mengadakan inspeksi tempat kerja dan mengadakan survei ergonomik
(ergonomic hazard assessment) di tempat kerja. Dari kegiatan ini
diharapkan dapat menemukan permasalahan ergonomik secara
menyeluruh.
c. Alternatif rencana upaya penanggulangannya. Dari masalah-masalah yang
ditemukan dicari alternatif upaya penanggulangannya, berdasarkan dana
dan daya yang tersedia. Hasil yang ingin diharapkan dari kegiatan
perencanaan adalah adanya peta/denah lokasi bahaya potensial ergonomik
dan rumusan alternatif rencana upaya penanggulangannya. Adanya
denah/peta lokasi bahaya potensial ergonomik akan memberikan gambaran
kepedulian akan risiko ergonomik yang timbul terhadap pekerjanya.

2. Pengorganisasian kegiatan
Dimaksudkan untuk lebih terarahnya penanganan risiko ergonomik yang
dilakukan di Rumah [Link] kegiatan bisa dilakukan melalui
pembentukan kelompok kerja ergonomi tiap – tiap instalasi yang merupakan
perpanjangan tugas dan tanggung jawab kelompok kerja ergonomi rumah sakit.

3. Penggerakkan pelaksanaan kegiatan


a. Pemeriksaan kesehatan awal dan pemeriksaan kesehatan berkala
Pemeriksaan kesehatan ini berlaku bagi semua pekerja di Rumah Sakit,
dilakukan setidaktidaknya sekali setahun, bahkan dibeberapa bagian
seyogyanya dilakukan setiap 6 bulan – 1 tahun.
b. Upaya yang dilakukan sehubungan dengan kapasitas dan beban kerja :
 Pengaturan kerja bergilir (shift work)
 Penempatan petugas pada jabatannya (fit to job)

46
 Pendidikan dan pelatihan petugas Rumah Sakit tentang cara kerja
yang ergonomik.
c. Pelaksanaan upaya penanggulangan bahaya potensial, misalnya dengan
memberikan penyuluhan yang berhubungan dengan permasalahan
ergonomik di tempat kerja, sehingga meningkatkan kesadaran para
pekerja, meningkatkan penggunaan alat pelindung, dll.
d. Pelaksanaan CPKB (Cara Pelaksanaan Kerja yang Baik).

4. Pengendalian ergonomik
a. Pengendalian ergonomik dipakai untuk menyesuaikan tempat kerja dengan
pekerja.
b. Pengendalian ergonomik berusaha mengatur agar tubuh pekerja berada di
posisi yang baik dan mengurangi risiko kerja. Pengendalian ini harus dapat
mengakomodasi segala macam pekerja.
c. Pengendalian ergonomik dikelompokkan dalam tiga kategori utama, yang
disusun sesuai dengan metoda yang lebih baik dalam mencegah dan
mengendalikan risiko ergonomik.
 Pengendalian teknik adalah metoda yang lebih diutamakan karena
lebih permanen dan efektif dalam menghilangkan risiko ergonomi.
Pengendalian teknik yang bisa dilakukan adalah memodifikasi,
mendesain kembali tata ruang atau mengganti tempat kerja,
bahan/objek/desain tempat penyimpan dan pengoperasian peralatan
 Pengendalian administratif yang berhubungan dengan bagaimana
pekerjaan disusun, seperti: jadwal kerja, penggiliran kerja dan waktu
istirahat, program pelatihan dan serta program perawatan dan
perbaikan.
 Pengendalian cara kerja yang berfokus pada cara pekerjaan dilakukan,
yakni : menggunakan mekanik tubuh yang baik dan menjaga tubuh
untuk berada pada posisi netral.

5. Mengevaluasi pekerjaan
Untuk mengevaluasi pekerjaan, pisahkan bagianbagian pekerjaan menjadi
bagian yang sekecil mungkin, sehingga evaluasi bisa spesifik dan detil.
Evaluasi tersebut harus mencakup tiga bagian :

47
a. Gambaran pekerjaan
Kumpulkan informasi untuk menggambarkan tiap tugas, pekerjaan,
tempat kerja, dan peralatan yang dievaluasi.
Pengamatan dan pengukuran (membuat ceklist) Evaluator harus
memperhatikan :
 bagaimana pekerja bergerak
 posisi ketika bekerja
 berapa lama seseorang melakukan suatu aktivitas
 berat dari benda-benda yang dipegang atau Dipindahkan
 ukuran dari peralatan dan tempat kerja
 suhu di tempat kerja
b. Cara yang paling efektif untuk mencatat hasil evaluasi adalah dengan
menggunakan ceklist ergonomi.
c. Gejala pada pekerja (survei/wawancara)
Pada saat mengadakan evaluasi, tanyakanlah :
 Apakah mereka mengalami rasa sakit atau rasa tak nyaman ketika
melakukan pekerjaan.
 Aktivitas apa yang mendatangkan rasa sakit,hubungan antara rasa
sakit atau rasa tidak nyaman dengan suatu aktivitas dapat
membantu menemukan tugas, tempat kerja, atau peralatan yang
mungkin mengakibatkan cedera yang berhubungan dengan
ergonomi. Pengumpulan informasi bisa melalui wawancara pribadi
atau daftar pertanyaan tertulis bagi pekerja atau survei.

5. BAHAYA PSIKOSOSIAL DAN STRES

5.1 Pendahuluan dan Konsep Dasar


Pekerja yang bekerja di rumah sakit seperti pekerja juga ditempat lain dapat
dipengaruhi
oleh faktor-faktor psikososial yang dapat mempengaruhi kesehatan, baik pengaruh
positif maupun pengaruh negatif. Faktor-faktor psikososial adalah faktor psikologi
individu misalnya faktor personalitas dan perilaku, sedangkan faktor sosial dalam
kelompok misalnya pola interaksi dalam kelompok/dalam keluarga. Pengaruh
negatif dari bahaya psikososial ini adalah memacu terjadinya stres.
Stres dapat didefinisikan sebagai reaksi yang disebabkan oleh stresor (penyebab
stres)

48
yang menimbulkan akibat jangka panjang. Definisi lain stres yang berkaitan
dengan kerja
adalah respons yang timbul pada seseorang akibat tidak seimbangnya beban kerja
atau
tekanan dengan pengetahuan dan kemampuan. Tekanan pada tempat kerja adalah
sesuatu
yang tidak dapat dihindari karena kebutuhan di tempat kerja. Walaupun
sebenarnya tekanan kerja dapat memberi motivasi untuk belajar atau bekerja lebih
giat, tetapi hal ini sangat bergantung pada individu. Bila tekanan tersebut
berlebihan atau tidak dapat dikelola maka dapat menimbulkan stress.

5.2 Penyebab Stres di Tempat Kerja.


5.2.1 Bentuk tugas
Monoton, tugas yang tidak berarti, tidak ada variasi, tugas yang tidak
menyenangkan, tugas yang tidak disukai.
5.2.2 Beban dan kecepatan kerja
Terlalu banyak atau terlalu sedikit dan bekerja dibawah tekanan waktu.
5.2.3 Jam kerja
Jadual kerja yang ketat dan tidak fleksibel.
Jam kerja yang panjang
Jam kerja yang tidak dapat diprediksi.
Rancangan sistem shift yang buruk.
5.2.4 Kontrol dan partisipasi
Tidak berpartisipasi dalam penentuan kebijakan.
Tidak adanya kontrol dalam sistem kerja misalnya jam kerja, jam lembur.
5.2.5 Pengembangan karir, status dan pembayaran
- Posisi kerja yang tidak didukung atau tidak aman.
- Tidak adanya prospek promosi.
- Promosi yang kurang atau berlebihan.
- Nilai sosial kerja rendah.
- Sistem penggajian yang tidak memuaskan.
- Sistem evaluasi yang tidak adil.
- Tugas tidak sesuai dengan kemampuan, terlalu tinggi atau terlalu rendah.
5.2.6 Peran di organisasi

49
- Peran tidak jelas.
- Peran yang menimbulkan masalah.
- Terlalu besar tanggung jawab.
- Terus menerus menyelesaikan masalah.

5.2.7 Hubungan antar individu


- Hubungan antar sesama, antar posisi tidak baik.
- Tidak ada dukungan.
- Terisolasi atau pekerjaan yang terisolasi.
- Pelecehan termasuk pelecehan seks, dijahati, ditekan.
5.2.8 Kultur organisasi
- Kepemimpinan dan komunikasi yang buruk.
- Tujuan dan struktur organisasi yang tidak jelas.
5.2.9 Lingkungan kerja
- Tidak nyaman, berbahaya, bising,polusi.
5.2.10 Lain-lain
- Konflik antara beban tugas di tempat kerja dan di rumah.
- Tidak adanya dukungan di tempat kerja bila ada masalah di rumah atau
sebaliknya.

5.3 Akibat Dari Stres


Pengaruh stress pada setiap orang [Link] yang timbul akibat
stres dapat berupa perubahan perilaku dan mempengaruhi kesehatan
mental dan fisik.
Stres yang berkepanjangan dapat menyebabkan masalah psikologis yang
mengarah ke psikiatri penyalahgunaan obat, minum alkohol dan kemudian
tidak datang untuk bekerja. Stres juga dapat menurunkan daya tahan tubuh
sehingga mudah terserang infeksi.
5.3.1 Masalah psikologis yang mungkin muncul akibat stres.
 Lebih mudah tersinggung atau sedih
 Makan berlebihan
 Tidak dapat berkonsentrasi atau santai
 Sulit berfikir secara logis dan sulit mengambil keputusan
 Sulit menikmati pekerjaan dan tidak patuh
 Merasa lelah, tertekan dan terganggu.
 Sulit/gangguan tidur
 Histeri dan gangguan psikiatri

50
 Bunuh diri

5.3.2 Masalah fisik yang mungkin muncul akibat stres


· Penyakit kardiovaskuler seperti peningkatan tekanan darah
 Gangguan saluran cerna seperti dispepsia, ulkus peptikus.
 Gangguan neuro-musculoskeleta seperti sakit punggung/ pinggang, sakit
kepala.
 Kanker

5.3.3 Pengaruh stres pada organisasi/ rumah sakit


 Sering tidak masuk
 Komitmen bekerja menurun
 Produktivitas menurun
 Peningkatan terjadinya kecelakaan kerja
 Peningkatan ketidakpuasan pelanggan
 Merusak citra

5.4 Pencegahan dan Pengelolaan Stres


Adanya masalah stres di tempat kerja merupakan tantangan organisasi untuk
menyehatkan organisasi dan pekerjanya. Ada dua hal yang dapat dilakukan oleh
organisasi yaitu :
5.4.1 Terapi organisasi/Pencegahan stres
Hal ini adalah cara langsung untuk mengurangi stres di tempat kerja.
Pendekatan yang dilakukan adalah :
• Mengidentifikasi penyebab stres (stressor)
• Mengembangkan strategi untuk menurunkan atau menghilangkan penyebab stres
tersebut.

5.4.2 Terapi individu/Pengelolaan stres


Pendekatan ini adalah pendekatan yang berfokus pada individu dan cara untuk
mengatasi sesuai dengan kebutuhan melalui penyusunan program pengelolaan
stres. Pekerja
belajar dari program tersebut mengenai sifat, sumber stres, efek pada kesehatan
dan kemampuan/ ketrampilan untuk mengurangi stres.

51
Cara ini mudah untuk diterapkan tetapi ada kelemahannya yaitu hanya
berkonsentrasi pada individu sehingga sering akar masalah penyebab stres
terabaikan. Sehingga stres akan muncul lagi. Kombinasi dari kedua pendekatan ini
akan lebih efektif untuk mencegah
terjadinya stres ditempat kerja.

6 PROSEDUR PEMERIKSAAN TENAGA KERJA DAN KESEHATAN


KERJA

6.1 Prosedur Pemeriksaan Tenaga Kerja :


Prosedur pemeriksaan tenaga kerja telah diatur sebagai berikut :
1. Semua perusahaan sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang no.1
tahun 1970 harus melakukan pemeriksaan kesehatan bagi tenaga kerja
dan wajib membuat perencanaan untuk pemeriksaan kesehatan sebelum
bekerja, berkala dan khusus.
2. Pengurus/pengusaha dan dokter wajib menyusun pedoman pemeriksaan
kesehatan tenaga kerja dan pedoman tersebut harus mendapat persetujuan
terlebih dahulu dari direktorat/pejabat Kementrian Tenaga kerja dan
Transmigrasi.
3. Pedoman pemeriksaan kesehatan tenaga kerja tersebut dikembangkan
sesuai dengan kemampuan perusahaan dan kemajuan ilmu kedokteran
dalam bidang keselamatan kerja.
4. Setelah selesai dilakukan pemeriksaan kesehatan tenaga kerja maka
dalam waktu selambat-lambatnya 2 (dua) bulan, pengusaha wajib
membuat laporan kepada Direktorat Jenderal Binwasnaker Kementrian
Tenaga Kerja.

6.2 Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja :


Sebagaimana diatur dalam peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
[Link]-02/MEN/1980, maka pemeriksaan kesehatan tenaga kerja terdiri dari:

52
Pemeriksaan Kesehatan Sebelum Bekerja. yaitu pemeriksaan kesehatan yang
dilakukan oleh dokter pada seorang tenaga kerja sebelum diterima untuk
melakukan pekerjaannya.
Tujuan:
- Agar tenaga kerja yang akan diterima berada dalam kondisi kesehatan
setinggitingginya, tidak mempunyai penyakit menular yang akan mengenai
tenaga kerja lainnya dan cocok untuk pekerjaan yang akan dilakukan.
- Sebagai data medis dasar yang dapat dipakai sebagai pertimbangan untuk
kepentingan pengajuan kompensasi, apabila dikemudian hari terjadi suatu
penyakit/gangguan kesehatan sebagai akibat dari pekerjaannya.
- Adapun pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja meliputi :
- Identitas : Nama, umur, jenis kelamin, alamat, status perkawinan, riwayat
pekerjaan terdahulu, serta rencana penempatan/jenis pekerjaan.
- Anamnesis : ditujukan untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya
mengenai kemungkinan adanya penyakit yang diderita saat ini, riwayat
penyakit terdahulu, riwayat penyakit keluarga serta adanya pemaparan faktor
risiko lingkungan kerja sebelumnya dan pada tenaga kerja wanita harus
ditanyakan pula riwayat kehamilan, persalinan. Dari anamnesa yang lengkap
ini diharapkan dapat diketahui kemungkinan penyakit degenaratif, penyakit
keturunan serta gangguan kesehatan yang dapat menghambat pelaksanaan
pekerjaannya.
- Pemeriksaan fisik: yaitu pemeriksaan keadaan umum, tanda vital, pemeriksaan
ketajaman penglihatan, THT, pemeriksaan jantung, paru, perut dan organ
gerak.
- Pemeriksaan penunjang: meliputi pemeriksaan foto rontgen, laboratorium
rutin serta pemeriksaan lain yang dianggap perlu .
- Jika seorang tenaga kerja 3 bulan sebelumnya telah menjalani pemeriksaan
kesehatan oleh dokter yang berkompeten, dan tidak ada keragu-raguan, maka
tidak perlu dilakukan pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja.

Kesimpulan hasil pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja digolongkan menjadi :


- Fit for duty : dapat melakukan segala macam pekerjaan dan tidak ada
kelainan fisik atau cacat.

53
- Fit for duty with minor correctable defect: dapat melakukan tugas/pekerjaan
dengan kelainan ringan yang dapat dikoreksi, misalnya gangguan ketajaman
penglihatan, gigi berlubang.
- Fit for selected/limited duty : dapat melakukan pekerjaan atau tugas tertentu
yang terbatas karena adanya defek atau penyakit yang menetap.
- Unfit for duty : tidak dapat diperkerjakan pada saat ini, misalnya sedang
menderita penyakit menular akut, gangguan jiwa, dan sebagainya.

7. KEWASPADAAN UNIVERSAL (UNIVERSAL PRECAUTION = UP)


Prinsip utama prosedur kewaspadaan universal pelayanan kesehatan adalah
menjaga hygiene sanitasi individu, hygiene sanitasi ruangan dan sterilisasi
peralatan. Ketiga prinsip tersebut dijabarkan menjadi 5 (lima) kegiatan pokok
yaitu:
1. Cuci tangan guna mencegah infeksi silang
2. Pemakaian alat pelindung diantaranya pemakaian sarung tangan guna
mencegah kontak dengan darah serta cairan infeksi yang lain,
3. Pengelolaan alat kesehatan bekas pakai
4. Pengelolaan jarum suntik dan alat tajam untuk mencegah perlukaan
5. Pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan

7.1 Cuci Tangan


Ada tiga cara cuci tangan yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan, yaitu :
1) Cuci tangan higienik atau rutin: yaitu untuk mengurangi kotoran dan flora
yang ada di tangan dengan menggunakan sabun atau detergen.
2) Cuci tangan aseptik: dilakukan sebelum tindakan aseptik pada pasien atau
melakukan pekerjaan aseptik dengan menggunakan antiseptik.
3) Cuci tangan bedah : dilakukan sebelum melakukan tindakan bedah cara
aseptik dengan antiseptik dan sikat steril.

54
Sarana Cuci Tangan :
- air mengalir : dapat berupa kran atau dengan cara mengguyur dengan
gayung, namun cara mengguyur dengan gayung memiliki risiko cukup besar
untuk terjadinya pencemaran, baik melalui gagang gayung maupun percikan
air bekas cucian kembali ke bak penampung air bersih. Air kran bukan
berarti harus dari PAM, namun diupayakan secara sederhana dengan tangki
berkran di ruang pelayanan agar mudah dijangkau oleh para petugas
kesehatan yang memerlukan.
- sabun dan detergen : bahan tersebut tidak membunuh m i k r o o r g a n i s m
e t e t a p I menghambat dan mengurangi jumlah mikroorganisme dengan
tegangan permukaan sehingga mikroorganisme terlepas dari permukaan
kulit dan mudah terbawa air.
- larutan antiseptik : dipakai pada kulit atau jaringan hidup lainnya untuk
menghambat aktivitas atau membunuh mikroorganisme pada kulit.

Prosedur Cuci Tangan :

Cuci Tangan Higienis/Rutin :


- Basahi tangan setinggi pertengahan lengan bawah dengan air mengalir
- Taruh sabun dibagian telapak tangan yang telah basah. Buat busa
secukupnya tanpa percikan
- Gerakan cuci tangan terdiri dari gosokan kedua telapak tangan, gosokan
telapak tangan kanan di atas punggung tangan kiri dan sebaliknya, gosok
kedua telapak tangan dengan jari saling mengait, gosok kedua ibu jari
dengan menggenggam dan memutar, gosok pergelangan tangan.
- Proses berlangsung selama 10-15 detik
- Bilas kembali dengan air sampai bersih.
- Keringkan tangan dengan handuk atau kertas yang bersih atau tisu atau
handuk katun sekali pakai
- Matikan kran dengan kertas atau tisu
- Pada cuci tangan aseptik/bedah diikuti larangan menyentuh permukaan yang
tidak steril

Alternatif Cuci Tangan Higienis

55
- Dilakukan bila tidak ada air mengalir.
- Yaitu buat campuran 100 ml alkohol 70% dengan 1-2 ml gliserin 10%
- Caranya : gosoklah kedua cairan pada kedua tangan secara merata.

Cuci Tangan Aseptik :


Prosedur sama dengan cuci tangan higienis hanya saja bahan deterjen atau sabun
diganti dengan antiseptik dan setelah mencuci tangan tidak boleh menyentuh
bahan yang tidak steril

Cuci Tangan Bedah :


- Nyalakan kran
- Basahi tangan dan lengan bawah dengan air
- Taruh sabun antiseptik dibagian telapak tangan yang telah basah. Buat busa
secukupnya tanpa percikan.
- Sikat bagian bawah kuku dengan sikat lembut
- Buat gerakan mencuci tangan seperti cuci tangan biasa dengan waktu lebih
lama. Gosok tangan dan lengan satu persatu secara bergantian dengan
gerakan melingkar.
- Sikat lembut hanya digunakan untuk membersihkan kuku saja bukan untuk
menyikat kulit yang lain oleh karena dapat melukainya. Untuk menggosok
kulit dapat digunakan spons steril sekali pakai
- Proses cuci tangan berlangsung 3 (tiga) hingga 5 (lima) menit dengan
prinsip sependek mungkin tapi cukup memadai untuk mengurangi jumlah
bakteri yang menempel di tangan.
- Selama cuci tangan jaga agar letak tangan lebih tinggi dari siku agar air
mengalir dari arah tangan ke wastafel
- Jangan sentuh wastafel, kran, atau gaun pelindung
- Keringkan tangan dengan lap steril
- Gosok dengan alkohol 70% atau campuran alkohol 70% dengan
klorheksedin 0,5 % selama 5 (lima) menit dan keringkan kembali.
- Kenakan gaun pelindung dan sarung tangan steril.

7.2 Alat Pelindung :


Digunakan untuk melindungi kulit dan selaput lendir petugas dari risiko pajanan
darah, semua jenis cairan tubuh, sekret, ekskreta, kulit yang tidak utuh dan selaput
lendir pasien.
Macam-macam alat pelindung :

56
a. Sarung tangan
b. Pelindung wajah/Masker/Kaca mata
c. Penutup kepala
d. Gaun pelindung (baju kerja/celemek)
e. Sepatu pelindung (sturdy foot wear)

a. Sarung Tangan :
Sarung tangan harus selalu dipakai pada saat melakukan tindakan yang kontak
atau diperkirakan akan terjadi kontak dengan darah, cairan tubuh, sekret, ekskreta,
kulit yang tidak utuh, selaput lendir pasien dan benda yang terkontaminasi.
Hal harus diperhatikan pada penggunaan sarung tangan : yaitu cuci tangan harus
selalu
dilakukan pada saat sebelum memakai dan sesudah melepas sarung tangan.
Dikenal tiga jenis sarung tangan :
1) Sarung tangan bersih : digunakansebelum tindakan rutin pada kulit dan
selaput lendir dan sekali pakai harus dibuang.
2) Sarung tangan steril : digunakan jika akan melakukan tindakan steril,
sarung tangan ini bisa disterilisasi ulang.
3) Sarung tangan rumah tangga : dipakai pada waktu akan membersihkan alat
kesehatan,
permukaan meja kerja dll. Sarung tangan ini dapat digunakan lagi setelah
dicuci dan dibilas bersih.

Prosedur Pemakaian dan Pelepasan Sarung Tangan Pemakaian Sarung


Tangan Steril:
- Cuci tangan
- Siapkan area yang cukup luas, bersih dan kering untuk membuka paket sarung
tangan. Perhatikan tempat menaruhnya (Steril atau minimal DDT)
- Buka pembungkus sarung tangan, minta bantuan petugas lain untuk membuka
pembungkus sarung tangan, letakkan sarung tangan dengan bagian telapak
tangan menghadap ke atas.
- Ambil salah satu sarung tangan dengan memegang pada sisi sebelah dalam
lipatannya, yaitu bagian yang akan bersentuhan dengan kulit tangan saat
dipakai.

57
- Posisikan sarung tangan setinggi pinggang dan menggantung ke lantai,
sehingga bagian lubang jari-jari tangannya terbuka. Masukkan tangan jaga
sarung tangan supaya tetap tidak menyentuh permukaan.
- Ambil sarung tangan ke dua dengan cara menyelipkan jari-jari tangan yang
sudah memakai sarung tangan ke bagian lipatan, yaitu bagian yang tidak akan
bersentuhan dengan kulit tangan saat dipakai.
- Pasang sarung tangan yang ke dua dengan cara memasukkan jari-jari tangan
yang belum memakai sarung tangan, kemudian luruskan lipatan, dan atur
posisi sarung tangan, sehingga terasa pas dan enak di tangan .

Pelepasan Sarung Tangan :


- Masukkan sarung tangan yang masih dipakai ke dalam larutan klorin,
gosokkan untukmengangkat bercak darah atau cairan tubuh lainnya, atau
kotorankotoran lainnya yang menempel.
- Pegang salah satu sarung tangan pada lipatan lalu tarik ke arah ujung jari-
jari tangan sehingga bagian dalam dari sarung tangan pertama menjadi sisi
luar.
- Jangan dibuka sampai terlepas sama sekali, biarkan sebagian masih berada
pada tangansebelum melepas sarung tangan yang ke dua. Hal ini penting
untuk mencegah terpajannya kulit tangan yang terbuka dengan permukaan
sebelah luar sarung tangan.
- Biarkan sarung tangan yang pertama sampai sekitar jari-jari, lalu pegang
sarung tangan yang ke dua pada lipatannya lalu tarik ke arah ujung jari
hingga bagian dalam sarung tangan menjadi sisi luar.
- Demikian dilakukan secarabergantian.
- Pada akhir setelah hampir di ujung jari, maka secara bersamaan dan dengan
sangat hati-hati sarung tangan tadi dilepas.
- Perlu diperhatikan bahwa tangan yang terbuka hanya boleh menyentuh
bagian dalam sarung tangan .
- Cuci tangan setelah sarung tangan dilepas, ada kemungkinan sarung tangan
berlubang namun sangat kecil dan tidak terlihat. Tindakan mencuci tangan
setelah melepas sarung tangan ini akan memperkecil risiko terpajan.

58
b. Pelindung wajah :
Pelindung wajah terdiri dari masker dan kaca mata Pelindung wajah ini digunakan
untuk
maksud :
- Untuk melindungi selaput lendir hidung, mulut dan mata selama melakukan
tindakan atau
perawatan pasien yang memungkinkan terjadi percikan darah dan cairan tubuh
lain, termasuk tindakan bedah ortopedi atau perawatan gigi.
- Masker tanpa kacamata hanya digunakan pada saat tertentu
misalnya merawat pasien tuberkulosis terbuka tanpa luka dibagian
kulit/pendarahan .
- Masker digunakan bila berada dalam jarak 1 meter dari pasien.

c. Penutup Kepala :
yaitu mencegah jatuhnya mikroorganisme yang ada di rambut dan kulit petugas
terhadap
alat-alat/daerah steril juga sebaiknya untuk melindungi kepala/rambut petugas dari
percikan bahan-bahan dari pasien.

d. Gaun/Baja Pelindung :
tujuannya yaitu untuk melindungi petugas dari kemungkinan genangan atau
percikan darah
atau cairan tubuh lain yang dapat mencemari baju atau seragam. Gaun pelindung
harus dipakai apabila ada indikasi , misalnya pada saat membersihkan luka,
melakukan irigasi, melakukan tindakan draenase, menuangkan cairan
terkontaminasi ke dalam lubang pembuangan/ w.c/toilet

e. Sepatu Pelindung :
tujuannya adalah melindungi kaki petugas dari tumpahan/percikan darah atau
cairan tubuh lainnya dan bahan berbahaya lainnya dan mencegah dari
kemungkinan tusukan benda tajam atau kejatuhan alat kesehatan. Sepatu harus
menutupi seluruh ujung dan telapak kaki dan tidak dianjurkan untuk

59
menggunakan sandal atau sepatu terbuka. Sepatu khusus sebaiknya terbuat dari
bahan yang mudah dicuci dan tahan tusukan misalnya karet atau
plastik.

60
7.3 Pengelolaan Alat Kesehatan :
Tujuannya adalah untuk mencegah penyebaran infeksi melalui alat kesehatan, atau
untuk menjamin alat tersebut dalam kondisi steril dan siap pakai
Proses penatalaksanaan peralatan dilakukan melalui 4 (empat) tahap kegiatan :
a. Dekontaminasi
b. Pencucian
c. Sterilisasi atau DTT
d. Penyimpanan

a. Dekontaminasi:
yaitu menghilangkan mikroorganisme pathogen dan kotoran dari suatu benda
sehingga aman untuk pengelolaan selanjutnya dan dilakukan sebagai langkah
pertama bagi pengelolaan alat kesehatan bekas pakai.
Tujuan : mencegah infeksi melalui alat kesehatan atau permukaan benda, mis HIV,
HBV atau kotoran lain yang tidak tampak sehingga dapat melindungi petugas atau
pasien.

Prosedur Dekontaminasi Alkes :


- Kenakan sarung tangan rumah tangga, celemek kedap air atau pelindung
wajah kalau perlu
- Rendam alat kesehatan segera setelah dipakai dalam larutan klorin 0,5
%selama 10 menit (bila lebih, dapat memudahkan korosi alat). Seluruh alat
harus terendam larutan klorin
- Segera bilas dengan air hingga bersih dan lanjutkan dengan pembersihan
- Apabila alat kesehatan tidak langsung dicuci, rendam dalam ember atau
wadah plastik berisi air bersih setelah dikontaminasi
- Buka sarung tangan,masukkan dalam wadah sementara menunggu
dekontaminasi dan proses selanjutnya
- Cuci tangan

Catatan :
- Larutan klorin hanya bertahan 24 jam, buat larutan segar setiap hari dan
ganti dengan

61
- yang baru bila perlu, misalnya, bila menjadi keruh, terkontaminasi berat
dengan darah atau cairan tubuh.
- Cara membuat klorin 0,5 % yaitu: larutan Natrium hipoklorit (tersedia
klorin 5 %) ambil 100ml encerkan dengan air sampai satu liter.

Prosedur DekontaminasiTumpahan Darah/Cairan Tubuh :


- Pakai sarung tangan rumah t a n g g a ( m a s k e r ,kacamata/pelindung
wajah bila perlu).
- Serap darah/cairan tubuh sebanyak-banyaknya dengan kertas/koran
bekas/tisu
- Buang kertas penyerap bersama sampah medis dalam kantong yang kedap
cairan
- Tuangi atau semprot area bekas tumpahan darah dengan natrium hipoklorit
0,5 % biarkan 10 menit kemudian bersihkan.
- Bilas dengan lap basah yang bersih hingga klorin terangkat
- Buka sarung tangan, masukkan dalam wadah sementara menunggu
dekontaminasi sarung tangan dan proses selanjutnya.
- Cuci tangan. (tersedia klorin 5 %) ambil 100 ml encerkan dengan air sampai
satu liter.

Prosedur Dekontaminasi Tumpahan Darah/Cairan Tubuh :


- Pakai sarung tangan rumah tangga ( masker, kacamata/pelindung wajah bila
perlu).
- Serap darah/cairan tubuh sebanyak-banyaknya dengan kertas/koran
bekas/tisu
- Buang kertas penyerap bersama sampah medis dalam kantong yang kedap
cairan
- Tuangi atau semprot area bekas tumpahan darah dengan natrium hipoklorit
0,5 % biarkan 10 menit kemudian bersihkan.
- Bilas dengan lap basah yang bersih hingga klorin terangkat
- Buka sarung tangan, masukkan dalam wadah sementara menunggu
dekontaminasi sarung tangan dan proses selanjutnya.
- Cuci tangan.

b. Prosedur Pencucian Peralatan Menurut Jenisnya


c. Desinfeksi dan Sterilisasi :

62
1. Desinfeksi adalah : suatu proses untuk menghilangkan sebagian atau
semua mikroorganisme dari alat kesehatan kecuali endospora bakteri.
Macam dan cara desinfeksi :
2. Desinfektan Kimiawi : alkohol, klorin dan ikatan klorin, formaldehid,
glutardehid, hydrogen peroksida, yodifora, asam parasetat, fenol, ikatan
ammonium kuartener.
3. Cara desinfeksi lainnya : radiasi sinar ultraviolet, pasteurisasi, mesin
pencuci.
4. Desinfeksi Tingkat Tinggi (DTT) yaitu dilakukan apabila sterilisator tidak
tersedia atau tidak mungkin dilaksanakan. DTT dapat membunuh semua
mikroorganisme termasuk hepatitis B dan HIV, namun tidak dapat
membunuh endospora dengan sempurna seperti tetanus atau gas gangrene.

Prosedur DTT dengan merebus


1. Isi panci atau alat pemanas dengan air
2. Buka penutup alat kesehatan dan lepaskan komponennya
3. Masukkan alat dan peralatan lainnya hingga terendam seluruhnya (supaya
air dapat mengenahi semua permukaan alat) dalam air. Taruh mangkok dan
wadah menghadap keatas (bukan telungkup) dan terisi air
4. Tutup panci, panaskan perlahan-lahan sampai mendidih
5. Ketika air mulai mendidih, mulai catat waktu, tunggu selama 20 menit.
Pada saat itu, dilarang mengambil atau menambahkan alat kesehatan
lainnya atau air ke dalamnya.
6. Kecilkan api dan pertahankan air mendidih secara halus selama 20 menit,
kemudian keluarkan alat kesehatan dengan penjepit yang kering dan sudah
di DTT.
7. Taruh peralatan pada nampan atau wadah yang sudah di DTT. Biarkan
kering di udarasebelum dilakukan penyimpanan. Jangan biarkan alat
kesehatan tertinggal pada air yang berhenti mendidih, karena dapat
menyebabkan terkontaminasi kembali.
8. Gunakan peralatan segera atau disimpan dalam wadah yang telah di DTT
dalam keadaan kering dan tertutup paling lama 1 minggu.

Prosedur DTT dengan bahan kimia


1. Jika menggunakan larutan glutaraldehyde

63
Siapkan glutaraldehid sesuai dengan instruksi dari pabrik; atau gunakan
larutan yang sudah disiapkan sebelumnya sepanjang masih tampak jernih
(tidak keruh) dan belum melewati batas kadaluarsa. Tempatkan larutan
dalam wadah bersih yang ada tutupnya. Tuliskan tanggal penyiapan
larutan dan tanggal kadaluarsanya.
2. Jika menggunakan larutan klorin :
Larutan klorin harus disiapkan setiap hari (bahkan lebih cepat, jika larutan
menjadi
keruh). Siapkan larutan dalam wadah yang ada tutupnya. Pisahkan
peralatan yang terdiri dari beberapa bagian, buka tutup (kalau ada).
3. Rendam alat kesehatan sedemikian rupa, sehingga seluruhnya berada
dibawah permukaan larutan. Tempatkan mangkok dan wadah menghadap
ke atas, bukan kebawah dan diisi larutan.
4. Tutup wadah dan biarkan alat kesehatan terendam selama 20 menit.
Jangan mengambil atau menambahkan peralatan dalam kurun waktu ini.
5. Keluarkan alat kesehatan dengan penjepit yang telah di DTT dan kering.
6. Bilas dengan air yang telah dididihkan, untuk menghilangkan sisa-sisa
larutan kimia pada peralatan, bahan residu ini bersifat toksik terhadap kulit
dan jaringan.
7. Gunakan peralatan segera atau disimpan dalam wadah yang telah di DTT
dalam keadaan kering dan tertutup paling lama 1 minggu

DTT Sarung Tangan dengan uap


1. Isi dandang paling bawah dengan air, tempatkan angsang/kukusan
diatasnya.
2. Lipat sarung tangan berpasangan, bagian pangkal dibalik untuk
menyatukan. Isi 5-15 pasang sarung tangan pada satu nampan, jika diatur
dalam 2 lapisan atau lebih, tumpuk secara silang untuk memungkinkan
aliran uap mengenahi semua permukaan.
3. Letakkan nampan berisi sarung tangan diatas angsang.
4. Tutup dandang dan panaskan sampai mendidih. Air mendidih ditandai
dengan keluarnya uap dari tutup, kecilkan api, jaga agar uap masih tetap
keluar (tanda masih mendidih).
5. Pertahankan sampai 20 menit, gunakan timer untuk mencatat.
6. Lepaskan nampan yang berisi sarung tangan, goyangkan untuk membuang
kelebihan air. Jangan meletakkan nampan langsung (selalu diatas nampan
air) karena ada lobang yang memungkinkan kontaminasi.

64
7. Gunakan segera, atau biarkan kering di udara selama 4-6 jam

Sterilisasi
Adalah suatu proses untuk menghilangkan seluruh mikroorganisme dari alat
kesehatan termasuk endospora bakteri.
Macam-macam Sterilisasi :
- Fisik, seperti pemanasan atau radiasi, filtrasi
- Kimiawi, menggunakan bahan kimia dengan cara merendam (mis: dalam
larutan glutardehid) dan menguapi dengan gas kimia (diantaranya dengan
gas etilen oksida)

BAB V PENUTUP

Diharapkan dengan adanya buku pedoman ini, pembinaan upaya kesehatan kerja
yang selama ini sudah dijalankan dapat ditingkatkan hasilnya. Untuk pekerja di
Rumah Sakit Umum Bhakti Rahayu Denpasar, diharapkan buku pedoman ini
dapat membantu dalam memahami masalah-masalah kesehatan kerja Rumah Sakit
dan dapat melakukan upaya-upaya antisipasi terhadap akibat-akibat yang
ditimbulkannya sehingga tercapai budaya sehat dalam bekerja. Tentu saja buku
pedoman ini masih belum menggambarkan permasalahan dan cara
penanggulangan yang lengkap.

65

Anda mungkin juga menyukai