0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
45 tayangan14 halaman

Pencegahan Risiko Kecelakaan Stevedoring

Upaya Pencegahan Risiko Kecelakaan Kerja Kegiatan Stevedoring Supply Vessel Osam Manila Pada PT Eastern Logistics Lamongan Shorebase membahas risiko kecelakaan kerja dalam kegiatan bongkar muat dan upaya pencegahannya melalui pengawasan, pelatihan, dan rambu-rambu keselamatan kerja."

Diunggah oleh

Yolandazh
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
45 tayangan14 halaman

Pencegahan Risiko Kecelakaan Stevedoring

Upaya Pencegahan Risiko Kecelakaan Kerja Kegiatan Stevedoring Supply Vessel Osam Manila Pada PT Eastern Logistics Lamongan Shorebase membahas risiko kecelakaan kerja dalam kegiatan bongkar muat dan upaya pencegahannya melalui pengawasan, pelatihan, dan rambu-rambu keselamatan kerja."

Diunggah oleh

Yolandazh
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

UPAYA PENCEGAHAN RISIKO KECELAKAAN KERJA

DALAM KEGIATAN STEVEDORING SUPPLY VESSEL OSAM MANILA


PADA PT EASTERN LOGISTICS LAMONGAN SHOREBASE

Haidar Nur Fauzan, Supriyanta, Hotmanahan Sihombing

Program Studi Ketatalaksanaan Pelayaran Niaga dan Kepelabuhanan


Akademi Pelayaran Nasional Surakarta.

ABSTRAK
Upaya Pencegahan Risiko Kecelakaan Kerja Kegiatan Stevedoring
Supply Vessel Osam Manila Pada PT Eastern Logistics Lamongan Shorebase
masih terdapat kendala. Permasalahan dalam penelitian ini adalah : kurangnya
kepedulian Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) terhadap Keselamatan dan
Kesehatan Kerja, tidak ada pengawasan dari Departement Health Safety and
Environment (HSE) saat kegiatan stevedoring berlangsung. Tujuan penelitian ini
adalah : Untuk mengetahui upaya pencegahan risiko kecelakaan kerja terhadap
Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) pada saat kegiatan stevedoring di jetty pada
PT Eastern Logistics Lamongan Shorebase.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
deskriptif dengan desain kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan di PT Eastern
Logistics Lamongan Shorebase dari bulan Februari 2018 sampai dengan bulan
Juli 2018. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara (interview),
observasi dan dokumentasi. Data yang telah terkumpul kemudian dilakukan
reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sedangkan informan
yang dijadikan penelitian adalah Supervisor Jetty, dan Tallyman.
Hasil penelitian ini adalah : 1) upaya pencegahan penyebab timbulnya
risiko kecelakaan kerja terhadap Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) saat
kegiatan stevedoring di jetty pada PT Eastern Logistics Lamongan Shorebase
adalah : terpasangnya cctv dan kartu Hazard Observation Card (HOC) sebagai
alat untuk mengetahui jika terjadinya keadaan/ kondisi tidak aman, pada saat
proses stevedoring berlangsung wajib dibawah pengawasan Departement Health
Safety and Environment (HSE), mensosialisasikan peraturan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja yang berlaku dengan memberikan sanksi tegas kepada TKBM
yang masih tetap melanggar, mengadakan diklat Basic Safety Trainning untuk
TKBM dan pekerja lainnya, sebelum melaksanakan kegiatan stevedoring wajib
melaksanakan safety briefing/ internal meeting, menambah rambu-rambu
Keselamatan dan Kesehatan Kerja di area jetty yang disesuaikan dengan risiko
yang ada pada saat kegiatan stevedoring tersebut. 2) penyebab timbulnya risiko
kecelakaan kerja kegiatan stevedoring perlu adanya pengawasan, yaitu :
mencegah terjadinya risiko kecelakaan kerja, memperbaiki dan memberikan
arahan ketika terdapat kondisi yang tidak aman, untuk meningkatkan Keselamatan
dan Kesehatan Kerja, sehingga tercipta rasa aman dan nyaman.
Kata Kunci : Pencegahan, Risiko Kecelakaan Kerja, Stevedoring
PENDAHULUAN buruk dengan kecepatan angin 20 Knot dan
ombak bergelombang, kegiatan tersebut
Pelaksanaan Keselamatan dan masih terus dilanjutkan. Terlebih apabila
Kesehatan Kerja merupakan salah satu bentuk kegiatan dilakukan di malam hari. Banyak
upaya untuk menciptakan tempat kerja yang Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) yang
aman, sehat, bebas dari pencemaran meremehkan risiko kecelakaan kerja sehingga
lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan dapat membahayakan keselamatan diri,
atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit sebagai contoh tidak menggunakan Alat
akibat kerja yang pada akhirnya dapat Pelindung Diri (APD) seperti Life Jacket,
meningkatkan efisiensi dan produktivitas tidak menggunakan Pull Stick atau Tagline
kerja. Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan saat mengatur posisi muatan sehingga
Kecelakaan Akibat Kerja (KAK) di kalangan berkontak langsung dengan barang yang akan
petugas kesehatan dan non kesehatan di mendarat dari atas crane ke chasis truck,
Indonesia belum terekam dengan baik. serta posisi TKBM yang tidak tepat berada
Banyak pekerja yang meremehkan dibawah langsung dengan crane saat operator
resiko kerja, sehingga tidak mematuhi crane hendak mendaratkan muatan ke chasis
peraturan yang dapat membahayakan truck.
keselamatan dan kesehatan diri walaupun Keadaan demikian menimbulkan ke
sudah tersedia peraturan tersebut. Dalam khawatiran risiko kecelakaan kerja yang
penjelasan Undang-Undang Kesehatan berdampak pada Tenaga Kerja Bongkar Muat
Nomor 23 Tahun 1992 Pasal 23 Bagian (TKBM). Kurangnya pengawasan dan
Keenam Ayat (3) Tentang Kesehatan Kerja kesadaran dalam mematuhi peraturan dan
telah mengamanatkan antara lain, setiap mengakibatkan timbulnya risiko kecelakaan
tempat kerja harus melaksanakan upaya kerja sehingga berdampak buruknya tingkat
kesehatan kerja, agar tidak terjadi gangguan keamanan kerja di wilayah perusahaan serta
kesehatan pada pekerja, keluarga, masyarakat dapat tercemarnya nama baik Keselamatan
dan lingkungan disekitarnya. dan Kesehatan Kerja perusahaan di mata
Demikian pula halnya pada PT konsumen dan masyarakat.
Eastern Logistics Lamongan Shorebase. Beberapa kajian mengenai kecelakaan
Perusahaan ini merupakan anak perusahaan kerja sudah pernah dilakukan beberapa
dari perusahaan Singapura Eastlog Holding peneliti, dengan hasil bahwa pada dasarnya
Ltd yang melakukan kontrak kerjasama setiap perusahaan terutama perusahaan yang
dengan Badan Usaha Milik Daerah Provinsi bergerak di bidang bongkar muat sudah
Jawa Timur yang terletak di Tanjung Pakis melaksanakan secara maksimal upaya
Desa Kemantren Kecamatan Paciran keselamatan dan kecelakaan kerja , namun
Kabupaten Lamongan. Perusahaan ini adakalanya didapati kurangnya kesadaran dan
bergerak dibidang pelayanan/ jasa untuk keahlian tenaga kerja dalam melaksanakan
industri minyak dan gas bumi serta untuk sistem keselamatan kerja tersebut. (Purwito,
kebutuhan pelabuhan umum di Jawa Timur. 2015; Aminudin, 2016). Sedangkan
Dalam kegiatan operasionalnya, penelitian yang dilakukan Ilfani, (2013)
perusahaan ini masih mengalami masalah mengatakan bahwa Keselamatan dan
pada saat melakukan kegiatan Stevedoring. Kesehatan Kerja berpengaruh positif dan
Masalah tersebut adalah tidak ada signifikan terhadap terhadap kinerja
pengawasan dari departemen HSE saat karyawan.
kegiatan Stevedoring. Misalnya ketika cuaca
Namun demikian, penelitian- menyelenggarakan kesehatan kerja.
penelitian tersebut belum ada yang secara Dari beberapa pendapat para ahli
spesifik membahas tentang faktor-faktor mengenai definisi Keselamatan dan
penyebab kecelakan kerja, serta bagaimana Kesehatan Kerja (K3), peneliti dapat
cara meminimalisir kecelakan kerja terutama menyimpulkan bahwa Keselamatan dan
pada kegiatan bongkar muat di pelabuhan. Kesehatan Kerja (K3) merupakan bentuk
Berdasarkan masalah yang diuraikan dimana untuk menghindarkan kesalahan dan
diatas maka peneliti merasa tertarik untuk kerusakan kerja yang dilakukan oleh
meneliti lebih jauh tentang Upaya pegawai.
Pencegahan Risiko Kecelakaan Kerja Kajian mengenai keseamatan kerja,
Kegiatan Stevedoring Supply Vessel Osam tidak dapat dipisahkan dengan kajian
Manila Pada PT Eastern Logistics Lamongan mengenai resiko yaitu kemungkinan situasi
Shorebase”. atau keadaan yang dapat mengancam
Keselamatan dan Kesehatan Kerja pencapaian tujuan serta sasaran sebuah
(K3) difilosofikan sebagai suatu pemikiran organisasi atau individu. Resiko adalah suatu
dan upaya untuk menjamin keutuhan dan variasi dari hasil-hasil yang dapat terjadi
kesempurnaan baik jasmani maupun rohani selama periode tertentu. (Williams dan
tenaga kerja pada khususnya dan manusia Richard, 1987). Sementara pendapat ahli lain
pada umumnya, hasil karya dan budayanya mengatakan Risiko adalah ketidaktentuan
menuju masyarakat makmur dan sejahtera. (uncertainty) yang mungkin melahirkan
Sedangkan pengertian secara keilmuan peristiwa kerugian atau loss. (Salim, 2007).
adalah suatu ilmu pengetahuan dan Menurut sumber-sumbernya, risiko dapat
penerapannya dalam usaha mencegah dibedakan sebagai berikut :
kemungkinan terjadinya kecelakaan dan a. Risiko Internal, yaitu risiko yang berasal
penyakit akibat kerja. (Armanda, 2006) dari dalam perusahaan itu sendiri yang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja disebabkan karena ulah karyawannya
(K3) tidak dapat dipisahkan dengan proses sendiri, kecelakaan kerja, mis manajemen,
produksi baik jasa maupun industri. dan lain-lain.
Perkembangan pembangunan setelah b. Risiko Eksternal, adalah risiko yang
Indonesia merdeka menimbulkan disebabkan karena peristiwa yang terjadi
konsekuensi meningkatkan intensitas kerja di luar kontrol perusahaan.
yang mengakibatkan pula meningkatnya c. Risiko Operasional, disebabkan oleh
risiko kecelakaan di lingkungan kerja. faktor-faktor manusia, alam, dan
(Ramli, 2010) teknologi. (Pramana, 2011)
Sementara itu, Undang-Undang Dari beberapa pendapat para ahli
Kesehatan No.23 Tahun 1992 Bagian 6 mengenai definisi risiko, peneliti dapat
Tentang Kesehatan Kerja, Pada Pasal 23 menyimpulkan bahwa risiko merupakan
berisi : kemungkinan atau kondisi dan tindakan tidak
a. Kesehatan kerja diselenggarakan untuk aman (berbahaya) yang berpotensi terjadinya
mewujudkan produktivitas kerja yang kecelakaan sehingga dapat mengancam
optimal. pencapaian sasaran serta tujuan tertentu.
b. Kesehatan kerja meliputi perlindungan Kecelakaan adalah kejadian yang
kesehatan kerja, pencegahan penyakit tidak terduga dan tidak diharapkan. Tidak
akibat kerja, dan syarat kesehatan kerja. terduga oleh karena latar belakang peristiwa
c. Setiap tempat kerja wajib itu tidak terdapat adanya unsur kesengajaan,
lebih-lebih dalam bentuk perencanaan. Oleh (SV) Osam Manila. Observasi, dengan secara
karena peristiwa kecelakaan disertai langsung mengamati kegiatan stevedoring
kerugian material ataupun penderitaan dari yang dilakukan oleh PT Eastern Logistics
yang paling ringan sampai pada yang paling Lamongan Shorebase. Sementara,
berat. (Austen dan Neale, 1991) Dokumentasi yaitu mencari data yang berupa
Secara umum, faktor penyebab catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah,
terjadinya kecelakaan kerja dapat dibedakan prasasti, notulen rapat, legger, agenda dan
menjadi Faktor pekerja itu sendiri, Faktor sebagainya.
metoda konstruksi , Peralatan, dan Validitas dan reabilitas data diuji
Manajemen dengan menggunakan teknik Triangulasi data.
Sementara itu, mengenai kecelakaan Data yang telah diperoleh akan dianalisis
kerja, terdapat 3 jenis, yaitu : secara kualitatif serta diuraikan dalam bentuk
1. Accident yaitu kejadian yang tidak deskriptif. Teknik analisis data penelitian ini
diinginkan yang menimbulkan kerugian dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Reduksi
baik bagi insan juga terhadap harta benda. Data , dilakukan dengan memfokuskan hal-
hal yang berkaitan dengan Keselamatan dan
2. Incident yaitu kejadian yang tidak
Kesehatan Kerja terhadap kegiatan
diinginkan yang belum mengakibatkan
stevedoring di jetty pada PT Eastern Logistics
kerugian.
Lamongan Shorebase. 2. Penyajian Data,
3. Near Miss yaitu kejadian hampir celaka
dalam bentuk teks naratif agar mudah
dengan kata lain kejadian ini hampir
dipahami, sehingga dapat ditarik kesimpulan
menimbulkan peristiwa incident ataupun
mengenai upaya pencegahan risiko
accident. (Bird dan Germain, 1990)
kecelakaan kerja terhadap kegiatan
Dengan merencanakan program
stevedoring pada PT Eastern Logistics
Keselamatan dan Kesehatan Kerja, PT
Lamongan Shorebase. 3. Penarikan
Eastern Logistics Lamongan Shorebase
Kesimpulan dari hasil analisis data terkait
menerapkan program yang sesuai dengan
upaya pencegahan risiko kecelakaan kerja
penetapan program dengan mematuhinya
terhadap kegiatan stevedoring pada PT
peraturan yang berlaku. Dengan
Eastern Logistics Lamongan Shorebase.
diberlakukannya peraturan dan melaksanakan
program Keselamatan dan Kesehatan Kerja
yang telah ditetapkan maka akan terciptanya HASIL PEMBAHASAN
lingkungan kerja yang aman, nyaman, dan PT Eastern Logistics Lamongan
produktif serta meningkatnya Keselamatan Shorebase merupakan salah satu perusahaan
dan Kesehatan Kerja. yang sangat mengutamakan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja dengan menerapkan
METODE PENELITIAN teknologi pengendalian Keselamatan dan
Kesehatan Kerja. Pelaksanaan Keselamatan
Pendekatan yang digunakan dalam
dan Kesehatan Kerja merupakan salah satu
penelitian ini adalah pendekatan kualitatif
bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja
karena sesuai dengan kondisi objektif di
yang aman, sehat, dan bebas dari pencemaran
lapangan tanpa adanya manipulasi. Teknik
lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan
pengumpulan data melalui wawancara, yang
atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit
dilakukan kepada supervisor jetty, dan
akibat kerja yang pada akhirnya dapat
tallyman dan pihak lain yang berhubungan
dengan kegiatan stevedoring Supply Vessel
meningkatkan efisiensi dan produktivitas terjadi kecelakaan kerja dan ketentuan
kerja. lainnya.
Banyak pekerja yang meremehkan Untuk mencapai komitmen yang
risiko kecelakaan kerja seperti halnya tidak telah dibuat, maka perusahaan
mematuhi peraturan yang dapat melakukan :
membahayakan keselamatan dan kesehatan 1) Mengidentifikasi, mengevaluasi,
diri walaupun sudah tersedia peraturan dan mengendalikan suatu potensi
tersebut sehingga timbulnya risiko bahaya yang berkaitan dengan
kecelakaan kerja terhadap Tenaga Kerja Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Bongkar Muat (TKBM) saat kegiatan pada kegiatan stevedoring.
stevedoring di jetty. 2) Mematuhi semua undang-undang
Dengan demikian perusahaan merencanakan dan peraturan yang terkait dengan
program Keselamatan dan Kesehatan Kerja K3 dan persyaratan-persyaratan
dan melaksanakan program tersebut untuk lainnya.
meningkatkan Keselamatan dan Kesehatan 3) Melaksanakan dan melakukan
Kerja agar terciptanya lingkungan kerja yang perbaikan berkelanjutan terhadap
aman. Untuk mengetahui upaya pencegahan pencegahan risiko kecelakaan
penyebab timbulnya risiko kecelakaan kerja kerja serta melakukan perbaikan
dan sesuai dengan kerangka berpikir yang berkelanjutan dalam peraturan
terdiri dari input, proses, dan output maka dan kinerja K3.
perencanaan program Keselamatan dan 4) Meningkatkan kemampuan dan
Kesehatan Kerja adalah sebagai berikut : kesadaran pekerja dalam hal K3
1. Merencanakan Program Keselamatan untuk menunjang pekerjaan dan
dan Kesehatan Kerja aktifitasnya sehari-hari.
a. Mengidentifikasi penyebab timbulnya 5) Mendorong keterlibatan dan
risiko kecelakaan kerja komitmen dari semua pekerjaan
PT Eastern Logistics Lamongan dan rekan bisnis untuk berperan
Shorebase melakukan penerapan dalam pencegahan dan
identifikasi bahaya, penilaian, dan perlindungan K3 dan program
pengendalian risiko. Identifikasi pencegahan risiko kecelakaan.
bahaya, penilaian dan pengendalian Berdasarkan identifikasi bahaya,
risiko dilakukan dengan observasi penilaian, dan pengendalian risiko yang
terhadap pekerjaan kegiatan telah di analisis, penyebab dari timbulnya
stevedoring dan melakukan risiko kecelakaan kerja terhadap Tenaga
pengambilan data wawancara dari Kerja Bongkar Muat (TKBM) saat
beberapa karyawan yang ada di area kegiatan stevedoring di jetty adalah
kerja jetty dengan mengidentifikasikan sebagai berikut:
bahaya pada kegiatan tersebut, 1) Tidak ada pengawasan dari
kemudian melakukan penilaian risiko departemen HSE saat kegiatan
dari bahaya tersebut dan melakukan stevedoring berlangsung.
upaya pengendalian seperti pemakaian 2) Cuaca buruk dengan kecepatan angin
alat pelindung diri saat kegiatan 20 Knot dan ombak bergelombang
berlangsung. Observasi tersebut kegiatan stevedoring tidak
dilakukan jika ada pekerjaan baru, diberhentikan, namun tetap
timbulnya risiko kecelakaan kerja, dilanjutkan terlebih jika malam hari.
Hal tersebut karena kurangnya yang akan diangkut memiliki beban
kesadaran pekerja dalam mematuhi yang berat, dimensi yang tidak
peraturan dan beranggapan tidak beraturan maka jenis trailer yang
pentingnya keselamatan bagi dirinya. digunakan yaitu Low Back Truck.
3) Banyaknya Tenaga Kerja Bongkar Banyaknya aktivitas kendaraan berat
Muat (TKBM) yang meremehkan di perusahaan menyebabkan adanya
risiko kecelakaan kerja, yaitu tidak potensi tertabrak antar alat berat
menggunakan Alat Pelindung Diri maupun kendaraan lainnya.
(APD) seperti Life Jacket dan tidak Dalam kegiatan stevedoring ini,
menggunakan Pull Stick atau Tagline menggunakan lifting and hauling yang
saat mengatur posisi muatan sehingga di pantau oleh specialist lifting dan di
berkontak langsung dengan barang bantu oleh TKBM serta pengawasan
yang akan mendarat. dari departemen HSE. TKBM yang
4) Posisi Tenaga Kerja Bongkar Muat membantu dalam proses stevedoring
(TKBM) yang tidak tepat berada di perusahaan diwajibkan
dibawah langsung dengan crane saat menggunakan pull stick atau tagline
operator crane hendak mendaratkan sehingga TKBM tidak boleh kontak
muatan ke chasis truck, hal tersebut langsung dengan barang yang akan
biasa disebut sebagai kondisi tidak diangkat. Namun pada keadaan yang
aman/ berbahaya. ada dilapangan hal tersebut tidak
Hal tersebut beresiko dalam sesuai dengan peraturan yang telah
Keselamatan dan Kesehatan Kerja sehingga ditetapkan oleh perusahaan.
dilaksanakannya program K3 sebagai tindak Sehingga untuk pengendalian
lanjut program yang telah direncanakan oleh masalah tersebut sebagai upaya
PT Eastern Logistics Lamongan Shorebase. perusahaan dalam pencegahan
2. Melaksanakan Program Keselamatan penyebab timbulnya risiko kecelakaan
dan Kesehatan Kerja kerja kegiatan stevedoring, maka yang
a. Upaya pencegahan penyebab dilakukan PT Eastern Logistics
timbulnya risiko kecelakaan kerja Lamongan Shorebase adalah :
Setiap pekerjaan layanan jasa 1) Setiap pengemudi truk trailer harus
support industri minyak dan gas bumi memiliki Surat Ijin Mengemudi
selalu ada kegiatan stevedoring (SIM), sedangkan operator yang
menggunakan kendaraan dan mengemudikan alat berat seperti
penggeraknya, salah satunya yaitu crane dan forklift harus memiliki
Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM). Surat Ijin Operasi (SIO).
Kegiatan stevedoring selalu dibantu 2) Alat berat yang digunakan (crane,
menggunakan alat bantu kerja forklift dan trailer) selalu di
mekanik seperti crane, forklift inspeksi setiap minggu dan
maupun trailer untuk memindahkan dilakukan perbaikan/ service setiap
barang dari kapal ke trailer maupun sebulan sekali. Selain itu, alat berat
dari trailer ke kapal. Jenis dan yang digunakan harus disertifikasi
kapasitas alat bantu kerja yang setiap setahun sekali.
digunakan akan berbeda sesuai 3) Memberikan pengawasan dari
dengan berat beban dan dimensi beban pihak Departement Security yang
yang akan diangkut. Apabila benda terpantau secara langsung dari
lapangan serta adanya cctv, dan Cold Work Permit (CWP) atau surat ijin
adanya kartu Hazard Observation kerja dingin adalah surat izin untuk
Card (HOC) sebagai alat untuk setiap jenis pekerjaan yang tidak
mengetahui jika terjadinya menimbulkan sumber penyalaan
keadaan/ kondisi tidak aman. setempat. CWP biasanya digunakan pada
4) Pada saat proses stevedoring semua jenis pekerjaan general loading-
berlangsung wajib di bawah unloading (stevedoring), segala
pengawasan Departement Health perbaikan fasilitas gedung, penggalian
Safety and Environment (HSE). dan lain sebagainya yang tidak
5) Mensosialisasikan peraturan menimbulkan percikan api.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Permit to Work diajukan kepada
yang berlaku dengan memberikan supervisor area dan kepala departemen
sanksi tegas kepada TKBM yang area, kemudian permohonan ijin tersebut
masih tetap melanggar. diajukan ke HSE untuk diregistrasi.
6) Mengadakan diklat Basic Safety Selain itu, PT Eastern Logistics
Trainning untuk TKBM dan Lamongan Shorebase juga memberikan
pekerja lainnya mengenai wajibnya arahan mengenai Permit to Work yang
penggunaan Alat Pelindung Diri telah diajukan. Untuk setiap pekerjaan
dan Pull Stick atau Tagline serta yang akan dilakukan harus membuat Job
peraturan K3 lainnya yang Safety & Environment Analysis (JSEA)
berhubungan dengan risiko terlebih dahulu yang dibuat oleh pekerja
kegiatan stevedoring. itu sendiri sebelum pekerjaan dimulai.
7) Sebelum melaksanakan kegiatan Tujuan pembuatan JSEA adalah sebagai
stevedoring, wajib melaksanakan cara mengidentifikasi bahaya pada
safety briefing/ internal meeting. masing-masing langkah dalam suatu
8) Menambah rambu-rambu pekerjaan untuk memastikan bahwa
Keselamatan dan Kesehatan Kerja semua risiko terhadap kesehatan,
di area jetty yang disesuaikan keselamatan, lingkungan secara efektif
dengan risiko yang ada pada saat telah dikelola sebelum dimulainya
kegiatan stevedoring tersebut. pekerjaan.
Dalam pengendalian masalah tersebut PT Eastern Logistics Lamongan
PT Eastern Logistics Lamongan Shorebase Shorebase menerapkan sebuah sistem ijin
juga menerapkan sistem Surat Ijin Kerja atau kerja yang digunakan untuk mengontrol
Permit to Work (PTW) yang berlaku untuk bahaya suatu pekerjaan dan sebagai
pekerjaan-pekerjaan yang bersifat high risk. sarana komunikasi aspek K3 antara HSE
PT Eastern Logistics Lamongan Shorebase dan peminta izin pekerjaan. Sistem izin
memiliki banyak potensi bahaya dan faktor kerja tersebut dinamai dengan permit to
bahaya yang dapat menimbulkan risiko work (PTW). PTW bertujuan untuk
kecelakaan kerja yang tidak diinginkan, maka menciptakan lingkungan kerja yang
perlu Surat Ijin Kerja atau Permit to Work aman dan selamat dengan cara
(PTW). Pada program K3 ini melaksanakan mencegah/ mengurangi terjadinya
Surat Ijin Kerja (Permit to Work) pada kegagalan, kecelakaan yang dapat
kegiatan khusus stevedoring : mengakibatkan kerugian baik pada
1) Cold Work Permit peralatan, manusia, ataupun lingkungan.
Implementasi kesesuaian sistem ijin kerja meminimalisir risiko kecelakaan
sebagai berikut: kerja.
Peraturan Pemerintah No. 50 4) Hazard Observation Card (HOC)
Tahun 2012 tentang Sistem Manajemen Hazard Observation Card (HOC)
K3 lampiran II elemen 6 kriteria 6.1.5 merupakan media untuk identifikasi
Terdapat prosedur kerja yang di bahaya agar tidak terjadi Penyakit
dokumentasikan dan jika diperlukan Akibat Kerja (PAK), Kecelakaan
diterapkan suatu sistem “ijin kerja” untuk Akibat Kerja (KAK), dan
tugas-tugas yang berisiko tinggi. pencemaran lingkungan. Prosedur
Selain Surat Ijin Kerja (Permit to Hazard Observation Card (HOC)
Work), PT Eastern Logistics Lamongan dengan cara observasi di lapangan,
Shorebase juga menerapkan komunikasi menemukan suatu kondisi tidak
K3 sebagai program peningkatan aman, tindakan tidak aman, bahaya
Keselamatan dan Kesehatan Kerja lingkungan kemudian ditegur, hasil
kegiatan stevedoring, komunikasi K3 temuan dicatat lalu dimasukan
tersebut sebagai berikut : kedalam kotak HOC atau diberikan
1) Safety Induction kepada HSE departement.
Safety induction merupakan program Selanjutnya akan diinput dan
yang diberikan HSE kepada dievaluasi oleh HSE departement
karyawan, kontraktor dan visitor untuk menentukan tindakan
baru yang akan memasuki area kerja program. Sebagai apresiasi, setiap
PT Eastern Logistics Lamongan bulannya pembuat HOC terbaik dan
Shorebase. Tujuan dari safety terbanyak akan mendapatkan reward.
induction adalah memberitahukan Pemenang dipilih oleh HSE dan
kebijakan dan peraturan perusahaan semua departemen yang ada di PT
mengenai kesehatan dan Eastern Logistics Lamongan
keselamatan kerja. Shorebase.
2) Safety Briefing/ Internal Meeting 5) HSE News Letter
Safety briefing/ internal meeting HSE News Letter merupakan
dilaksanakan di awal sebelum program yang dibuat oleh HSE
memulai pekerjaan baik shift siang, departement untuk memberitahukan
maupun shift malam. Safety briefing/ isu tentang Keselamatan dan
internal meeting dilakukan untuk Kesehatan Kerja kepada semua
menyampaikan informasi mengenai pekerja di PT Eastern Logistics
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lamongan Shorebase. HSE News
serta menyampaikan aktivitas kerja Letter terbit setiap 1 bulan sekali.
apa saja yang akan dilaksanakan. 6) Safety Alert
3) Toolbox Meeting Safety Alert merupakan program
Toolbox Meeting dilakukan sebelum sebagai upaya sosialisasi tentang
pekerjaan dimulai dan disampaikan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
untuk membahas pekerjaan yang serta Lingkungan. Safety Alert dibuat
akan dilakukan beserta potensi oleh departemen HSE setiap 1 bulan
bahaya yang dapat terjadi, sehingga sekali diawal bulan dan dipasang
dapat diidentifikasi bagaimana pada papan pengumuman yang ada
pengendalian untuk mencegah atau
di PT Eastern Logistics Lamongan 1) OHSAS 18001 : 2007 tentang
Shorebase. Sistem Manajemen Keselamatan
7) Papan Informasi K3 dan Kesehatan Kerja
Papan informasi K3 terletak di Audit eksternal dilaksanakan setiap
beberapa area kerja baik kantor tahun sekali oleh PJK3 SGS United
maupun lapangan yang berisi Kingdom dan sertifikat valid
mengenai kebijakan K3, HSE News hingga 5 Desember 2019.
Letter, Safety Alert, dan alur Sertifikasi OHSAS 18001 : 2007
emergency response plan. terakhir yang didapat pada bulan
8) Dokumentasi K3 September 2016.
PT Eastern Logistics Lamongan 2) ISO 14001 : 2015 tentang Sistem
Shorebase telah menjalankan sistem Manajemen Lingkungan.
pendokumentasian laporan mengenai Audit eksternal dilaksanakan setiap
inspeksi, investigasi, meeting, tahun sekali oleh PJK3 SGS United
training, briefing, work permit log Kingdom dan sertifikat valid
book dan lain sebagainya. hingga 6 Maret 2020. Sertifikasi
Dokumentasi dilakukan bertujuan ISO 14001 : 2015 terakhir yang
untuk monitoring dan bukti telah didapat pada bulan Februari 2017
terlaksananya program dari 3) ISO 9001 : 2015 tentang Sistem
perusahaan. Manajemen Mutu.
9) Pengendalian Dokumen Audit internal dilaksanakan setiap
Pengendalian dokumen di PT tahun dan terakhir dilaksanakan
Eastern Logistics Lamongan pada 19-26 Maret 2018. Audit
Shoerebase dikendalikan oleh sistem eksternal dilaksanakan setiap tahun
perusahaan melalui internet, sistem sekali oleh PJK3 SGS United
ini hanya bisa dibuka atau diakses Kingdom dan setifikat valid hingga
sendiri oleh pekerja yang memiliki 5 Mei 2020. Sertifikasi ISO 9001 :
user dan password. 2015 terakhir yang didapat pada
b. Pengelolaan K3 bulan April 2017.
PT Eastern Logistics Lamongan
Shorebase memiliki panduan mengenai 3. Meningkatnya Keselamatan dan
peraturan perundangan maupun Kesehatan Kerja
peraturan yang terkait dengan kegiatan PT Eastern Logistics Lamongan
yang ada diperusahaan terutama tentang Shorebase telah memberlakukan
K3. Hal tersebut bertujuan untuk peraturan Keselamatan dan Kesehatan
menyesuaikan serta mematuhi Kerja yang mana merupakan kebijakan
peraturan perundangan yang berlaku dan upaya perusahaan dalam
dan dilakukan peninjauan untuk meningkatkan lingkungan kerja yang
dilakukan perbaruan. aman, nyaman, dan produktif. Sehingga
PT Eastern Logistics Lamongan telah meningkatnya Keselamatan dan
Shorebase telah menerapkan Kesehatan Kerja di area jetty perusahaan.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Berikut ketentuan yang telah
sebagai acuan pedoman pengelolaan K3 diberlakukan PT Eastern Logistics
yang bersumber pada : Lamongan Shorebase :
a. Alat Pelindung Diri
Alat pelindung diri yang ada di PT bahwa pesawat angkat-angkut harus
Eastern Logistics Lamongan dioperasikan oleh operator pesawat
Shorebase disesuaikan dengan angkat dan angkut yang memiliki
potensi bahaya yang ada pada setiap lisensi K3 dan buku kerja sesuai
area produksi. Hal ini sesuai dengan jenis dan kualifikasinya.
Permenakertrans No. 8 tahun 2010 Perusahaan telah melakukan
tentang Alat Pelindung Diri. pengendalian sebagai upaya
Dalam melakukan sebuah pekerjaan, pencegahan untuk mengurangi
pekerja di PT Eastern Logistics penyebab timbulnya risiko
Lamongan Shorebase diwajibkan kecelakaan kerja yaitu seperti
menggunakan APD sesuai dengan menambah rambu-rambu K3 di area
potensi bahaya di tempat kerja jetty dan jalan, mewajibkan TKBM
khususnya. Hal ini sesuai dengan yang membantu angkat-angkut
peraturan perundangan sebagai barang harus menggunakan Alat
berikut : Pelindung Diri (APD) seperti Life
Undang-undang No. 01 Tahun 1970 Jacket dan Pull Stick atau Tagline,
tentang Keselamatan Kerja alat berat yang digunakan (crane,
1) Pasal 13 Barangsiapa akan forklift dan trailer) selalu di inspeksi
memasuki suatu tempat kerja setiap minggu dan dilakukan
diwajibkan mentaati K3 dan APD. perbaikan/ service setiap sebulan
2) Pasal 14 Pengurus wajib sekali selain itu alat berat yang
Menempatkan syarat-syarat K3 di digunakan harus disertifikasi setiap
tempat kerja (UU No. 1/1970 dan setahun sekali, memberikan
peraturan pelaksananya), memasang pengawasan dari pihak departement
semua gambar keselamatan kerja security yang terpantau secara
yang diwajibkan serta menyediakan langsung dari lapangan serta adanya
APD yang wajib digunakan untuk cctv dan kartu Hazard Observation
tamu atau pekerja yang memasuki Card (HOC) sebagai alat untuk
area kerja tertentu. Untuk mengetahui jika terjadinya keadaan/
penggantian coverall dan sepatu kondisi tidak aman, pada saat proses
safety dilakukan setahun sekali atau stevedoring berlangsung wajib di
apabila coverall dan sepatu safety bawah pengawasan Departement
sudah rusak. Untuk penggantian Health Safety and Environment
helm dilakukan setelah helm (HSE), mensosialisasikan peraturan
digunakan selama 3 tahun atau Keselamatan dan Kesehatan Kerja
ketika helm sudah rusak. Sudah yang berlaku dengan memberikan
terdapat sistem yang mengatur sanksi tegas kepada TKBM yang
penggantian APD. masih tetap melanggar, mengadakan
b. Keselamatan Bidang Stevedoring diklat Basic Safety Trainning untuk
Setiap pekerja yang mengoperasikan TKBM dan pekerja lainnya, sebelum
alat tersebut harus memiliki SIO dan melaksanakan kegiatan stevedoring
lisensi K3. Hal ini sesuai wajib melaksanakan safety briefing/
Permenaker No 9 tahun 2010 tentang internal meeting.
Operator dan Petugas Angkat-angkut Hal ini sesuai Undang-Undang No 1
pasal 5 ayat 1 yang menyatakan tahun 1970 tentang Keselamatan
Kerja Pasal 3 ayat 1 Poin a menyelenggarakan
Mencegah dan mengurangi pembinaan bagi semua
kecelakaan. tenaga kerja dalam
c. Penerapan dan kebijakan K3 pencegahan kecelakaan dan
Penerapan K3 di perusahaan telah pemberantasan kebakaran
sesuai dengan peraturan serta peningkatan
perundangan sebagai berikut : keselamatan dan kesehatan
1) Undang-Undang No. 1 tahun kerja, pula dalam pemberian
1970 tentang Keselamatan Kerja pertolongan pertama pada
a) Pasal 2, Pengurus kecelakaan.
diwajibkan memasang PT Eastern Logistics Lamongan
dalam tempat kerja yang Shorebase telah memiliki kebijakan K3 yang
dipimpinnya, semua gambar telah ditandatangani oleh CEO dengan
keselamatan kerja yang komitmen sebagai berikut :
diwajibkan pada tempat- Kebijakan K3 merupakan tanggung
tempat yang mudah dilihat jawab perusahaan secara moral dan hukum
dan terbaca menurut untuk memelihara lingkungan kerja agar
petunjuk pegawai pengawas pekerja, kontraktor, client dan pengunjung
atau ahli keselamatan kerja. agar tidak terpapar oleh bahaya sebagai upaya
b) Pasal 14 Pengurus mencapai hasil yang terbaik dalam penerapan
diwajibkan secara tertulis keselamatan kesehatan kerja dan lingkungan
menempatkan dalam tempat hidup di PT Eastern Logistics Lamongan
kerja yang dipimpinnya, Shorebase.
semua syarat keselamatan Seluruh tingkat manajemen
kerja yang diwajibkan pada bertanggung jawab untuk menerapkan
tempat-tempat yang mudah kebijakan di masing-masing area.
dilihat dan terbaca dan Pelaksanaan dari kebijakan akan diukur pada
menurut petunjuk pegawai waktu peninjauan kinerja tahunan.
pengawas atau ahli Manajemen bertanggung jawab untuk :
keselamatan kerja. 1) Menetapkan dan memelihara tempat
c) Pasal 9 Pengurus kerja dalam kondisi aman.
diwajibkan menunjukkan 2) Terlibat dalam mengembangkan,
dan menjelaskan pada tiap mempromosikan dan melaksanakan
tenaga kerja baru tentang kebijakan dan prosedur K3.
kondisi dan bahaya yang 3) Melatih pekerja untuk bekerja secara
dapat timbul dalam tempat aman sesuai dengan pekerjaannya.
kerja, semua pengaman dan 4) Menentukan sumber daya untuk
alat perlindungan yang memenuhi komitmen terhadap K3.
diharuskan dalam Semua pekerja (TKBM) bertanggung
tempatnya, alat-alat jawab untuk :
pelindung diri bagi tenaga 1) Mematuhi semua kebijakan dan
kerja serta sikap yang aman prosedur K3.
dalam melaksanakan 2) Melaporkan semua bahaya yang
pekerjaannya. Pengurus diketahui maupun diamati kepada
diwajibkan tallyman lalu melaporkan ke supervisor
jetty dan mengetahui port master dan sementara kegiatan tersebut untuk
akan di tindak lanjuti oleh manajemen menegur dan memberikan arahan
atau HSE Departement. kepada TKBM yang memicu
3) Mematuhi semua undang-undang dan keadaan tidak aman tersebut, atau
peraturan yang terkait dengan K3 dan disaat kegiatan stevedoring
persyaratan-persyaratan lainnya. berlangsung terjadi cuaca buruk
4) Meningkatkan kemampuan dan seperti angin kencang yang
kesadaran pekerja dalam hal K3 untuk melebihi 20 Knot pihak pengawas
menunjang pekerjaan dan aktifitasnya dapat memberhentikan kegiatan
sehari-hari. tersebut sampai cuaca benar-benar
5) Mendorong keterlibatan dan komitmen aman. bahwasannya kecepatan
dari semua pekerjaan dan rekan bisnis angin melebihi batas tingkat
untuk berperan dalam pencegahan dan keamanan. Pengawas mengetahui
perlindungan K3 dan program kecepatan angin tersebut dari
pencegahan lingkungan. pemberitahuan pihak radio officer
melalui radio HT, mengingat
A. Manfaat Pengawasan Kegiatan bahwa alat pengukur kecepatan
Stevedoring angin (wind tracker) tersebut
Dalam melaksanakan kegiatan berada di ruang radio officer. Hal
stevedoring tidaklah lepas dari suatu tersebut pengawas dari HSE akan
tindakan dan keadaan yang berisiko, menunggu keputusan dari
dengan demikian perlu diadakannya manajemen untuk dapat
pengawasan yang baik. Berikut adalah melanjutkan kembali atau tidak
manfaat pengawasan kegiatan kegiatan tersebut ketika cuaca
stevedoring : sudah mereda.
1. Mencegah terjadinya risiko 3. Meningkatkan Keselamatan dan
kecelakaan kerja. Kesehatan Kerja.
Dengan adanya pengawasan Dengan diterapkannya
dari pihak departemen HSE saat kebijakan mengenai wajib adanya
kegiatan stevedoring berlangsung pengawasan kegiatan stevedoring
akan meningkatnya keselamatan tingkat keamanan dan keselamatan
kerja karena TKBM yang biasanya di lingkungan kerja (jetty) dapat
tidak mematuhi aturan akan tercapai. Sebab kegiatan tersebut
mengikuti aturan yang diatur oleh dibawah pengawasan departemen
pengawas departemen HSE, HSE sehingga TKBM dan pekerja
sehingga dapat mendukung lainnya akan meningkatkan
pencapaian hasil yang diharapkan pengetahuan, keterampilan, dan
sesuai dengan kinerja yang telah profesional mereka dalam bekerja.
ditetapkan tersebut. Hal tersebut dapat mendorong
2. Memperbaiki dan memberikan lingkungan kerja yang produktif.
arahan ketika terdapat suatu 4. Menjamin tempat kerja yang aman
kondisi yang tidak aman. dan nyaman.
Ketika terdapat kondisi yang tidak Pengawasan yang sudah
aman saat kegiatan stvedoring diterapkan dan mencapai tujuan
pengawas dapat menghentikan dapat menjamin keselamatan kerja
dari risiko, dengan adanya kartu Hazard Observation Card (HOC)
pengawasan dapat diketahuinya sebagai alat untuk mengetahui jika
atau sebagai penilai apakah setiap terjadinya keadaan/ kondisi tidak aman,
pekerja telah melaksanakan pada saat proses stevedoring
kebijakan atau aturan yang berlangsung wajib di bawah
diterapkan oleh perusahaan dan pengawasan Departement Health Safety
prosedur yang menjadi tanggung and Environment (HSE),
jawabnya masing-masing, sebagai mensosialisasikan peraturan
penilai apakah kegiatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang
stevedoring telah dilaksanakan berlaku dengan memberikan sanksi
secara efektif yakni mencapai tegas kepada TKBM yang masih tetap
tujuan yang sudah ditetapkan melanggar, mengadakan diklat Basic
sebelumnya. Sehingga dengan Safety Trainning untuk TKBM dan
adanya pengawasan kegiatan pekerja lainnya mengenai wajibnya
stevedoring akan terciptanya penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
lingkungan kerja yang aman, seperti Life Jacket dan Pull Stick atau
nyaman, dan produktif. Tagline serta peraturan K3 lainnya yang
berhubungan dengan risiko kegiatan
KESIMPULAN DAN SARAN stevedoring, sebelum melaksanakan
Berdasarkan uraian dan pembahasan kegiatan stevedoring wajib
yang telah dikemukakan pada bab-bab melaksanakan safety briefing/ internal
sebelumnya mengenai Upaya Pencegahan meeting, menambah rambu-rambu
Risiko Kecelakaan Kerja Kegiatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di
Stevedoring Supply Vessel Osam Manila Pada area jetty yang disesuaikan dengan
PT Eastern Logistics Lamongan Shorebase, risiko yang ada pada saat kegiatan
maka dapat diambil kesimpulan bahwa upaya stevedoring tersebut.
pencegahan penyebab timbulnya risiko 2. Mencegah terjadinya risiko kecelakaan
kecelakaan kerja dan manfaat pengawasan kerja, memperbaiki dan memberikan
kegiatan stevedoring adalah sebagai berikut : arahan ketika terdapat suatu kondisi
1. Setiap pengemudi truk trailer harus yang tidak aman, meningkatkan
memiliki Surat Ijin Mengemudi (SIM) Keselamatan dan Kesehatan Kerja,
sedangkan operator yang menjamin tempat kerja yang aman dan
mengemudikan alat berat seperti crane nyaman.
dan forklift harus memiliki Surat Ijin Berdasar pada kesimpulan diatas,
Operasi (SIO), alat berat yang peneliti mencoba memberikan saran-saran
digunakan (crane, forklift dan trailer) sesuai dengan kemampuan peneliti, yang
selalu di inspeksi setiap minggu dan diharapkan dapat memberikan solusi serta
dilakukan perbaikan/ service setiap manfaat bagi kemajuan dan perkembangan
sebulan sekali selain itu alat berat yang perusahaan dan instansi terkait Keselamatan
digunakan harus disertifikasi setiap dan Kesehatan Kerja di masa yang akan
setahun sekali, memberikan datang :
pengawasan dari pihak departement 1. Memberikan pengawasan oleh pihak
security yang terpantau secara langsung Departement Health Safety and
dari lapangan serta adanya cctv dan Environment (HSE) saat kegiatan
stevedoring berlangsung agar kegiatan
tersebut dapat terpantau dengan tatanan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 Pasal
kerja yang aman. 23 ayat (3) Tentang Keselamatan dan
2. Memberikan fasilitas alat pengukur Kesehatan Kerja.
kecepatan angin (Wind Tracker) di area Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 Pasal 2
jetty dan pada alat bongkar muat yaitu ayat (1) Bab II Tentang Ruang Lingkup
crane jetty. Keselamatan Kerja.
3. Mengadakan sosialisasi atau diklat Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 Pasal
basic safety trainning untuk Tenaga 23 Bagian ke 6 Tentang Kesehatan
Kerja Bongkar Muat (TKBM) Kerja.
mengenai peraturan Keselamatan dan William & Heins. 1985. Manajemen Risiko
Kesehatan Kerja secara berkala. Bisnis. Jakarta: PT. Rosada Karya.
4. Membuat peraturan tentang wajibnya [Link] diakses pada
kegiatan safety briefing/ internal 21 November 2017
meeting sebelum melakukan kegiatan
stevedoring.
5. Pada saat proses stevedoring setiap
pengoperasian alat bantu kerja wajib
dipandu oleh satu signalman sebagai
pengarah dan pemberi aba-aba.

Referensi

Armanda. 2006. Kesehatan dan Keselamatan


Kerja. Bandung: CV Haji Masagung.
Arthur Williams dan Richard M.H. 1987.
Risk Management and Insurance. New
York; London: McGraw-Hill Book
Company.
Abas, Salim. 2007. Asuransi & Manajemen
Risiko. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Austen dan [Link]. 1991. Manajemen
Proyek Konstruksi. Jakarta: PPM.
Bird dan Germain. 1990. Practical Loss
Control Leadership. Logville: Institute
Publishing (A Divion of International
Loss Control Institute).
Pramana. Tony 2011. Manajemen Risiko
Bisnis. Jakarta: Sinar Ilmu Publishing.
Ramli. 2010. Pedoman Praktis Manajemen
Risiko Dalam Prespektif K3 OHS Risk
Management. Jakarta: Dian Rakyat.
Suyono. 2005. Shipping: Pengangkutan
Intermoda Ekspor Impor Melalui Laut.
Jakarta: PPM.

Anda mungkin juga menyukai