Hubungan Karakteristik Orang Tua Dengan Kejadian Verbal Abuse Pada Anak Usia Pra Sekolah Di Jogoyudan RW 9 Gowongan Jetis Yogyakarta
Hubungan Karakteristik Orang Tua Dengan Kejadian Verbal Abuse Pada Anak Usia Pra Sekolah Di Jogoyudan RW 9 Gowongan Jetis Yogyakarta
NASKAH PUBLIKASI
Disusun Oleh:
Annisa Nur Fitriana
1610104351
NASKAH PUBLIKASI
Disusun Oleh:
Annisa Nur Fitriana
1610104351
i
HUBUNGAN KARAKTERISTIK ORANG TUA DENGAN KEJADIAN
VERBAL ABUSE PADA ANAK USIA PRA SEKOLAH
1.* 2
Annisa Nur Fitriana , Enny Fitriahadi
Program Studi Kebidanan Program Sarjana Terapan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas
Aisyiyah Yogyakarta
*
sayaannisanf@[Link] , ennyfitriahadi@[Link]
*corresponding author
Abstrak
Penelitian berjudul hubungan karakteristik orang tua dengan kejadian verbal abuse pada anak
usia pra sekolah di Jogoyudan RW 9 Jetis Yogyakarta. Tujuan penelitian diketahuinya hubungan
karakteristik orang tua dengan kejadian verbal abuse pada anak usia pra sekolah. Desain
penelitian korelasi dengan pendekatan cross sectional. Sampel sebanyak 30 responden dengan
teknik total sampling. Metode analisis menggunakan Chi Square dan Kendall Tau. Hasil
penelitian ditemukan data semua orang tua pernah melakukan verbal abuse dengan kejadian
terbanyak dalam kategori sedang 83,3% (25 responden) dan tidak ada hubungan antara
karakteristik orang tua dengan kejadian verbal abuse pada anak usia pra sekolah.
Abstract
The study entitled the relationship between parents’ characteristics and verbal abuse
incidences in pre-school age children in Jogoyudan RW 9 Jetis Yogyakarta. The research
objective was to determine the relationship between the parents’ characteristics and verbal
abuse incidents pre-school age children. The research design was correlational research with
cross sectional approach. The samples were 30 respondents taken by total sampling
technique. The analytical method used Chi Square and Kendall Tau. The results of the study
show that all parents had ever had verbal abuse with the highest incidence in the moderate
category that was 83.3% (25 respondents). There was no relationship between parents’
characteristics and verbal abuse incident in pre-school age children..
1
PENDAHULUAN
Verbal abuse atau kekerasan verbal merupakan kekerasan terhadap perasaan, dengan
memuntahkan kata – kata kasar tanpa menyentuh fisik, kata –kata yang memfitnah, kata –
kata yang mengancam, menakutkan, menghina atau memebesar – besarkan kesalahan orang
lain merupakan kekerasan verbal (Sutikno, 2010 dalam Kuspartianingsih, 2012).
UNICEF merilis laporan mengenai kekerasan yang terjadi terhadap anak-anak di
dunia yang diambil dari 190 negara menunjukkan anak-anak menjadi korban kekerasan fisik,
seksual, dan psikologis. Secara umum, enam dari sepuluh atau 60% anak di dunia telah
menjadi korban kekerasan (Camalia dkk, 2009).
Hasil pemantauan Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan
bahwa angka kekerasan terhadap anak di Indonesia dari 2011 sampai 2014 selalu mengalami
peningkatan yang signifikan, tercatat pada 2011 terdapat 2178 kasus, 2012 terdapat 3512
kasus, 2013 terdapat 4311 kasus, dan 2014 terdapat 5066 kasus (KPAI, 2015).
Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta
(BPPM DIY) (2015) melaporkan tindak kekerasan pada anak di Provinsi DIY, khususnya
untuk kasus verbal abuse atau kekerasan verbal pada 2013 tercatat 497 kasus dan 2014
tercatat 403 kasus, meskipun mengalami penurunan akan tetapi kondisi ini masih perlu
diwaspadai. Dari 5 kabupaten di DIY, kasus tertinggi verbal abuse terjadi di Kota Yogyakarta
yaitu dengan menyumbang 57% dari angka kejadian dan di Kota Yogyakarta verbal abuse
pada 2014 menduduki kekerasan tertinggi dibanding kekerasan fisik dan seksual.
Asih (2010) dalam Herlina (2015) mengatakan dampak dari verbal abuse dapat
bersifat holistik, diantaranya yaitu dampak psikis berupa berkeringat, jantung berdebar
kencang, sulit berkonsentrasi, gangguan pencernaan, kemudian dampak psikologis berupa
gangguan rasa percaya diri, pemalu, emosian, pemarah, depresi, kecemasan berlebih,
ketakutan berlebih, serta dampak sosial berupa menarik diri dari lingkungan pergaulan,
antisosil, berperilaku kasar terhadap oranglain, dan bahkan sampai kepada dampak spiritual
dengan bentuk yang dialami adalah anak akan merasa bahwa Tuhan tidak adil.
Pemerintah telah mengupayakan pencegahan dan penyelesaian kasus kekerasan
terhadap anak dengan adanya pelaksanaan UU No 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak
yang diperbarui menjadi UU No 35 Tahun 2013 yang mengatakan bahwa ada perlindungan
hukum bagi anak terhadap kekerasan. Begitu pula dengan pasal 78 dan 80 yang menyatakan
adanya sanksi bagi pelaku tindak kekerasan anak termasuk kekerasan verbal. Peraturan
Gubernur DIY No 34 Tahun 2013 tentang rencana aksi daerah perlindungan perempuan dan
anak korban kekerasan pasal 4, 5, dan 14 yang menyatakan diantaranya pemerintah DIY
melindungi anak-anak dari kekerasan yang dilakukan orangtua (Fitriana, 2015).
Sebuah organisasi kemasyarakatan yang bernama Aisyiyah, dalam hal ini Pimpinan
Wilayah Aisyiyah Daerah Istimewa Yogyakarta juga meluncurkan gerakan kepedulian
terhadap anak yang diberi nama GACA (Gerakan Aisyiyah Cinta Anak) sebagai gerakan
massif dalam upaya membentuk generasi penerus yang kokoh, unggul, dan berkemajuan
dengan utamanya adalah menanggulangi kekerasan yang masih marak terjadi pada anak
(Ribas, 2016).
Fenomena yang terjadi di masyarakat sekarang, masih banyak yang menganggap
berbicara kasar, mencaci maki, membentak, memarahi, mengancam dan berbicara tidak pantas
pada anak merupakan hal biasa, dalam hal ini termasuk yang dilakukan oleh orang tua. Padahal
begitu pentingnya peran orang tua pada perkembangan masa anak-anak (Needlman, 2008).
Ada 5 bentuk kekerasan verbal menurut Lestari (2016), diantaranya : (1) Tidak sayang
dan dingin (2) Intimidasi (3) Mengecilkan atau mempermalukan anak (4) Kebiasaan mencela
anak (5) Tidak mengindahkan dan menolak anak.
2
Banyak orang tua yang menyepelekan kekerasan verbal yang mereka lakukan. Mereka
merasa dampak yang timbul akibat kekerasan verbal tidak terlalu berat dibanding kekerasan
fisik. Faktor yang membuat para orang tua melakukan kekerasan verbal adalah anggapan
bahwa anak mereka nakal. Padahal usia pra sekolah memang usia yang membuat anak-anak
senang mencoba hal baru (Putri dan Santoso, 2012).
Usia pra sekolah adalah waktu peralihan antara masa bayi dan masa anak sekolah, ada
yang mengatakan antara usia 2 – 6 tahun atau usia 3 – 5 tahun (Suryana dalam Astuti, 2014).
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di Jogoyudan RW 9 Gowongan Jetis
Yogyakarta didapatkan jumlah orang tua yang memiliki anak usia pra sekolah yaitu sebanyak
30 orang, dan dari hasil wawancara dengan 5 orang ibu di RW 9, mereka mengatakan bahwa
masih ada ibu yang memiliki anak usia pra sekolah yang kerap memarahi dan membentak
anaknya, khususnya ibu-ibu yang berusia muda, mereka lebih sering tidak sabar sehingga
mudah marah dan kesal terhadap anaknya, selain itu ada pula kondisi orang tua yang tidak
begitu memperhatikan anaknya, karena anak tersebut hasil dari kehamilan yang tidak
diinginkan. Peneliti juga pernah menemukan secara langsung kejadian orang tua yang
membentak anaknya dengan keras di lingkungan tersebut.
Oleh karena itu berdasarkan hasil studi pendahuluan diatas, peneliti tertarik untuk
meneliti tentang hubungan karakteristik ibu dengan kejadian verbal abuse pada anak usia pra
sekolah di Jogoyudan RW 9 Gowongan, Jetis, Yogyakarta.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dimana data penelitian yang disajikan
berupa angka-angka dan dianalisis menggunakan statistik. Desain penelitian dalam penelitian
ini adalah korelasi yaitu tindakan pengumpulan data guna menentukan kejadian apakah ada
hubungan antar variabel, yang berarti apakah ada hubungan karakteristik orang tua dengan
kejadian verbal abuse pada anak usia pra sekolah di Jogoyudan RW 9 Jetis Yogyakarta
(Sukardi, 2011).
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan cross sectional.
Menurut Notoatmodjo (2010) pendekatan cross sectional yaitu pedekatan untuk mempelajari
dinamika korelasi antara faktor – faktor resiko yang dalam penelitian ini berupa karakteristik
orang tua berupa umur, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, dan jumlah anak yang dimiliki
dengan kejadian verbal abuse pada anak pra sekolah sebagai efek yang keseluruhannya
diteliti pada satu kondisi (point time approach).
Populasi adalah wilayah tertentu yang terdiri dari obyek atau subyek yang mempunyai
kualitas maupun kuantitas serta karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2015).
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh orang tua yang memiliki anak usia pra
sekolah yaitu anak usia 2 sampai 6 tahun sebagaimana yang disebutkan oleh Suryana dalam
Astuti (2014) yang bertempat di Jogoyudan RW 9 Gowongan Jetis Yogyakarta berjumlah 30
orang.
Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah seluruh populasi orang tua yang
memiliki anak usia pra sekolah di Jogoyudan RW 9 Gowongan Jetis Yogyakarta sebanyak 30
orang.
Teknik penggunaan seluruh anggota populasi untuk dijadikan sampel dinamakan teknik
total populasi (Sugiyono, 2015). Alasan mengambil total populasi karena menurut Sugiyono
(2015) jumlah populasi yang kurang dari 100 seluruh populasi dijadikan sampel penelitian.
Instrumen pengumpulan data adalah alat-alat yang akan digunakan untuk pelaksanaan
pengumpulan data (Notoatmodjo, 2010). Instrumen dalam penelitian ini menggunakan
kuesioner guna mengukur kejadian verbal abuse orang tua, umur orang tua, pendidikan orang
3
tua, pekerjaan orang tua, pendapatan orang tua, dan jumalah anak orang tua. Adapun instrumen
yang digunakan berasal dari peneliti sendiri yang sebelumnya telah dilakukan uji validitas dan
reliabilitas di Jogoyudan RW 8 Gowongan Yogyakarta dengan jumlah responden 20.
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer karena
pengambilan data menggunakan kuesioner untuk mengetahui hubungan antara variabel yang
datanya diambil langsung dari responden.
Analisa bivariat dilakukan dengan dua variabel yang di duga berhubungan atau
berkorelasi (Notoatmodjo, 2010). Uji hipotesa akan menggunakan teknik korelasi Chi square
untuk variabel pekerjaan orang tua dan Kendal Tau untuk variabel umur orang tua,
pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, pendapatan orang tua, dan jumlah anak orang tua.
Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui sebagian besar angka kejadian verbal abuse yang
terjadi dalam kategori sedang, yaitu sebanyak 25 responden (83,3%), sedangkan posisi kedua
dalam kategori rendah sebanyak 3 responden (6,7%) dan untuk kategori tinggi ada 2
responden (6,7%), dan yang berarti setiap responden pernah melakukan tindakan verbal
abuse pada anak mereka yang berusia pra sekolah.
Berdasarkan tabel 2 menunjukan bahwa karakteristik orang tua pada penelitian ini
dalam kategori umur paling banyak pada masa dewasa awal yaitu 26 responden (86,7%),
kemudian dalam kategori pendidikan paling banyak memiliki pendidikan terakhir tingkat
menengah yaitu 21 responden (70%), untuk kategori pekerjaan 15 responden (50%) bekerja
dan 15 responden (50%) tidak bekerja, sedangkan untuk kategori pendapatan 20 responden
(66,7%) berpendapatan rendah, dan terakhir untuk kategori jumlah anak terbanyak yang
dimiliki orang tua adalah dalam kategori ≤ 2 anak yaitu sebanyak 26 responden (83,3%).
Analisa bivariat dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara
variabel bebas dan terikat, sehingga untuk mengetahui hubungan antara karakteristik orang
tua dengan kejadian verbal abuse pada anak pra sekolah.
5
kematangan psikologis dan mental untuk menentukan sesuatu, akan tetapi pengetahuan
terkait agama dan pendidikan terhadap anaklah yang diperlukan untuk mencegah
terjadinya tindak kekerasan terhadap anak, khususnya kekerasan verbal (Lestari, 2016).
6
Berdasarkan tabel 5 didapatkan data jika jumlah responden yang tidak bekerja
dan bekerja masing – masing berjumlah 15 responden (50%). Persebaran angka kejadian
verbal abuse pada kelompok responden yang tidak bekerja bekerja terdapat beberapa
kemiripan, yakni terdapat dominasi pada angka kejadian kategori sedang yaitu 12
responden (40%) untuk kelompok tidak bekerja dan 13 responden (43,3%) untuk
kelompok bekerja. Kemudian masing – masing kelompok juga mempunyai angka
kejadian verbal abuse kategori rendah dan tinggi, perbedaannya ada pada jumlah
kejadian kategori rendah untuk kelompok tidak bekerja sebanyak 2 orang (6,7%) dan
untuk kelompok bekerja 1 orang (3,3%).
Uji Chi Square pada pekerjaan orang tua dengan kejadian verbal abuse ditemukan
nilai p – value sebesar 0,830 > α 0,05, yang artinya tidak ada hubungan antara
karakteristik pekerjaan orang tua dengan kejadian verbal abuse pada anak usia pra
sekolah di Jogoyudan RW 9, Gowongan, Jetis, Yogyakarta. Persebaran pada penelitian ini
menggambarkan jika kondisi orang tua yang bekerja ataupun tidak bekerja sama – sama
dapat memunculkan kejadian verbal abuse pada anak. Hal ini dikarenakan dengan
bekerja seseorang akan dapat mendapat penghasilan untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya guna meningkatkan kesejahteraan keluarga, sebagaimana menurut UU RI
Nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan bahwa tenaga kerja adalah setiap orang
yang mampu melakukan suatu pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa untuk
memenuhi kebutuhannya maupun masyarakat.
Berdasarkan tabel 6 didapatkan data orang tua yang memiliki pendapatan rendah
lebih banyak jumlahnya yaitu 20 orang (66,7%) dibandingkan orang tua yang memiliki
pendapatan tinggi sejumlah 10 orang (33,3%). Persebaran data kejadian kekerasan verbal
pada keduanya memiliki kemiripan. Keduanya ditemukan kejadian kekerasan verbal
dengan kategori tinggi sebanyak masing – masing 1 orang (3,3%) dan sama – sama
ditemukan dominasi kejadian kekerasan verbal kategori sedang yaitu 16 orang (53,3%)
pada pendapatan rendah dan 9 orang (30%) pada pendapatan tinggi.
Hasil uji Kendal Tau pada pendapatan orang tua dengan kejadian verbal abuse
ditemukan nilai p – value sebesar 0,209 > α 0,05, yang artinya tidak ada hubungan antara
karakteristik pendapatan orang tua dengan kejadian verbal abuse pada anak usia pra
sekolah di Jogoyudan RW 9, Gowongan, Jetis, Yogyakarta.
Melihat persebaran angka kejadian pada tabel 4.8 maka dapat digambarkan jika
pendapatan orang tua yang tinggi tidak menentukan penurunan angka kejadian verbal
abuse yang semakin rendah. Hasil penelitian ini berbeda dengan apa yang disampaikan
oleh Kuspartianingsih (2012) dalam penelitiannya, yaitu kondisi orang tua yang dekat
dengan kemiskinan meningkatkan tekanan atau stress dan rasa ketidakberdayaan serta
kekecewaan dalam mengatasi masalah ekonomi yang menjadikannya mudah
7
melampiaskan kepada anak, karena anak dianggap sebagai makhluk yang lemah, tidak
berdaya dan sepenuhnya kepemilikan orang tua.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fitriana, Yuni, dkk
(2015) yang dilakukan di Dusun Sawahan Kelurahan Pendowoharjo Kecamatan Sewon
Kabupaten Bantul yang menyatakan tidak ada hubungan antara pendapatan orang tua
dengan kejadian verbal abuse pada anak usia pra sekolah. Hal ini dapat terjadi karena
jika seseorang memiliki pengelolaan stress yang baik maka perasaan kecewa dan
ketidakberdayaan dalam menghadapi kondisi ekonomi yang kurang tidak menjadi alasan
untuk melampiaskan kepada anak.
SIMPULAN
8
kejadian verbal abuse pada anak usia pra sekolah, dengan hasil uji Kendal Tau ditemukan
nilai p – value sebesar 0,099 > α 0,05, tidak ada hubungan antara pekerjaan orang tua dengan
kejadian verbal abuse pada anak usia pra sekolah, dengan hasil uji Chi Square pada
ditemukan nilai p – value sebesar 0,830 > α 0,05, tidak ada hubungan antara pendapatan
orang tua dengan kejadian verbal abuse pada anak usia pra sekolah, dengan hasil uji Kendal
Tau ditemukan nilai p – value sebesar 0,209 > α 0,05, tidak ada hubungan antara jumlah anak
orang tua dengan kejadian verbal abuse pada anak usia pra sekolah, dengan hasil uji Kendal
Tau ditemukan nilai p – value sebesar 0,170 > α 0,05.
SARAN
DAFTAR PUSTAKA
Astuti, Wahyu Ruby. (2014). Hubungan Tingkat Verbal Abuse Orang Tua Terhadap
Perkembangan Kognitif Anak Usia Pra Sekolah di TK Atma Bakti Desa Pringapus
Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang : STIKES Ngudi Waluyo Ungaran.
BPPM DIY. (2015). Data Gender dan Anak Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2015. DIY :
BPPM DIY
Camalia dkk. (2009). Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Terjadinya Kekerasan
Verbal pada Anak Usia Pra Sekolah di TK 7 PAUD Pondok Marinir Sukodono
Sidoarjo. Surabaya : Universitas Airlangga.
Fitriana, Yuni, dkk. (2015). Faktor-Faktor yang Berubungan dengan Perilaku Verbal Abuse
Orang Tua dalam Melakukan Kekerasan Verbal terhadap Anak Usia Pra Sekolah.
Universitas Diponegoro Semarang : Jurnal Psikologi Undip Vol.14 No. 1 April 2015,
81-93
Hamdani, Moh. Firman. (2014). Hubungan Jumlah Anak dalam Keluarga dengan Status Gizi
pada Balita di desa Plalangan Kecamatan Kalikasat Kabupaten Jember. Jember :
Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember
Herlina, Ani. (2015). Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Perilaku Verbal Abuse Orang
Tua Pada Anak Di Dusun Kuwon Sidomulyo Bambanglipuro Bantul Yogyakarta.
Yogyakarta : Skripsi Unisa
Kelrey, Dina Setya Rahmah. (2015). Hubungan Karakteristik Orang Tua dengan
Pengetahuan Orang Tua tentang Kekerasan Seksual pada Anak Usia Pra Sekolah (3
– 5 tahun) di Kelurahan Grogol Selatan Kebayoran Lama Jakarta Selatan. Jakarta :
UIN Syarif Hidayatullah Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan.
KPAI. (2015). Kasus Kekerasan pada Anak. Dalam [Link] pada pukul 10.33 WIB,
diakses pada tanggal 09 Maret Mei 2016
Kuspartianingsih, Sri.(2012). Hubungan Antara Verbal Abuse Orang Tua dengan Perilaku
Agresif pada Remaja Agresif di Sekolah Menengah Pertama Negeri 129 Jakarta Tahun
2012. Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan.
Lestari, Titik.(2016).Verbal Abuse : Dampak Buruk dan Solusi Penanganannya pada Anak.
Yogyakarta : Psikosain
Needlman D Robert. (2008). Child growth and develop. In: Behrman, Kliegman, Arvin. Nelson
text book of pediatric. Philadelphia : Saunders Company.
Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta ; Jakarta
Putri, Annora Mentari dan Agus Santoso. (2012). Presepsi Orang Tua Tentang Kekerasan Verbal
Anak. Universitas Diponegoro : Jurnal Nursing Studies Vol 1 No 1 Tahun 2012.
9
Ribas. (2016). Aisyiyah DIY Luncurkan GACA (Gerakan Aisyiyah Cinta Anak). Dalam
[Link]
gerakan-aisyiyah-cinta-anak/ diakses tanggal 3 Juni 2017
Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Bandung : Afabeta
Sukardi. (2011). Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.
Undang Undang No 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan..
10