Hubungan Pola Asuh Orangtua Dengan Agresivitas Anak Di SMPN 194 Jakarta Timur
Hubungan Pola Asuh Orangtua Dengan Agresivitas Anak Di SMPN 194 Jakarta Timur
Abstrak
Abstract
PENDAHULUAN
Salah satu fenomena yang sangat memprihatinkan adalah aksi-aksi kekerasan baik individual
maupun masal sudah merupakan berita harian di media masa, baik media cetak maupun media
elektronik. Aksi- aksi kekerasan dapat terjadi di mana saja, seperti di jalan-jalan, di sekolah, bahkan
di komplek perumahan. Aksi tersebut dapat berupa kekerasan verbal (mencaci maki) maupun
kekerasan fisik (memukul, meninju, dan melukai).
Pada kalangan remaja aksi yang biasa dikenal sebagai tawuran pelajar / masal merupakan
hal yang sudah terlalu sering kita saksikan, bahkan cenderung dianggap biasa. Pelaku-pelaku
tindakan aksi ini bahkan sudah mulai dilakukan oleh remaja-remaja di tingkat SMP. Berdasarkan
fakta di atas, hal itulah yang penulis temukan di SMP Negeri 194 bahwa banyak remaja yang sangat
agresif terhadap teman sebayanya. Ini terbukti dari keterlibatan siswa dalam tawuran yang terjadi
pada hari jumat, 25 Oktober 2013 dan seringgnya siswa berkelahi di kelas baik secara fisik
ataupun nonfisik.
Bentuk nyata agresivitas yang dilakukan anak-anak / remaja adalah maraknya perkelahian/
tawuran antar pelajar, yang sering membawa korban jiwa, hal yang terjadi pada saat tawuran.
Perkelahian merupakan tindak agresivitas dari seorang individu atau kelompok, dimana individu
atau kelompok tersebut merasa lebih punya kekuasaan karena dianggap sebagai senior.
Agresivitas merupakan salah satu perilaku yang dimanifestasikan dalam bentuk menyerang pihak
lain dengan tujuan tertentu. Perilaku agresi dapat berbentuk tindakan fisik atau nonfisik (verbal atau
nonverbal), secara langsung atau tidak langsung, secara individual atau kelompok, secara reaktif
atau proaktif, dan secara aktif atau pasif
Perilaku agresif muncul diawali dengan adanya niat untuk melakukan agresivitas tersebut
yang apabila niat tersebut diperkuat oleh faktor-faktor yang dapat memicu, maka akan terjadilah
perilaku Agresi. Sebaliknya, jika niat tersebut tidak ada yang mendukung, maka akan kecil
kemungkinan untuk terjadinya perilaku agresif tersebut.
Perkembangan kepribadian anak sangat dipengaruhi oleh lingkungannya, baik lingkungan
rumah maupun lingkungan masyarakat. Hal ini didasari karena lingkungan merupakan media yang
paling dibutuhkan anak untuk mengembangkan keterampilan sosialnya. Anak akan banyak belajar
mengenai nilai dan norma yang berlaku di dalam lingkungannya. Anak sering kali menghabiskan
waktunya dengan cara berkumpul dengan teman-teman sebaya. Saat mereka berinteraksi, akan
terjadi masukan nilai-nilai baru kedalam diri anak. Impuls tersebut dapat berupa nilai positif atau
justru negatif. Impuls positif terjadi apabila memunculkan pengaruh yang baik ke dalam diri anak
setelah ia berinteraksi. Impuls negatif terjadi ketika interaksi justru mendatangkan pengaruh yang
buruk ke dalam diri anak. Keprihatinan yang muncul akhir- akhir ini adalah meningkatnya kekerasan
antar remaja, pelakunnya antara lain adalah remaja. Lebih parah lagi, korban kekejaman adalah
teman sendiri. Lingkungan mengambil peranan penting dalam perkembangan psikis anak. Remaja
seringkali dengan gampang bertindak agresif, misalnya dengan cara memukul, berteriak dan
mendorong orang lain sehingga terjatuh dan tersingkir dalam kompetisi, sementara ia akan berhasil
mencapai tujuannya. Hal ini membuktikan bahwa lingkungan memiliki peran yang besar terhadap
munculnya agresivitas.
Prasangka seseorang terhadap suatu kelompok tertentu juga dapat menjadi salah satu
faktor pemicu tindakan agresivitas seperti tawuran dari masa kemasa, kegiatan (tawuran) ini
memang tidak berakhir. Tawuran pelajar sekolah menjadi potret buram dunia pendidikan
Indonesia. Pada 2010, terjadi 128 kasus tawuran antar pelajar. Angka itu melonjak tajam lebih
dari 100% pada 2011, yakni 330 kasus tawuran yang menewaskan 82 pelajar. Pada Januari-
Juni 2012, telah terjadi 139 tawuran yang menewaskan 12 pelajar (Kompas, edisi Juni 2013,
kolom 1 hal 4).
Salah satu faktor penyebabnya adalah rasa bermusuhan yang diwariskan secara turun
temurun dari angkatan sebelumnya. Perasaan bermusuhan seperti itu mereka tanamkan untuk
membuat marah para juniornya, sehingga remaja yang tadinya tidak memiliki sikap negatif
terhadap kelompok pelajar tertentu tanpa alasan yang jelas mereka saling membenci. Dari
kondisi tersebut, terbentuk suatu sikap negatif atau prasangka terhadap kelompok pelajar dari
sekolah lain. Sehingga ketika seorang pelajar melihat kelompok pelajar lain yang pernah
terlibat dalam suatu pekelahian antar pelajar dengan kelompok atau sekolahnya, maka ia akan
beranggapan anak tersebut atau kelompok pelajar itu adalah musuhnya. Dengan kata lain,
prasangka dapat memicu terjadinya perilaku agresi pada anak.
Salah satu faktor yang mempengaruhi agresivitas adalah pola asuh orang tua. Pola asuh
orang tua bertujuan untuk mendidik anak agar dapat menyesuaikan diri dan diterima oleh
lingkungan masyarakatnya (Hurlock, 1973:134). Pola asuh orang tua sangat sering dikaitkan
dengan agresivitas anak. Hal tersebut dikarenakan keluarga merupakan lingkungan yang pertama
kali menerima kehadiran anak. Salah satu peran orang tua adalah mengasuh dan membesarkan
anak. Perkembangan psikologis anak sangat dipengaruhi oleh pola asuh yang diterapkan orang tua
sejak awal. Selama mengasuh anaknya, orang tua dipengaruhi oleh budaya yang ada di
lingkungannya dan cenderung menggunakan pola asuh tertentu.
Pola asuh yang dipilih orang tua dalam membesarkan anaknya akan berpengaruh terhadap
perkembangan perilaku anak. Pengaruh keluarga dalam pembentukan dan perkembangan
kepribadian anak sangatlah besar artinya. Keluarga yang dilandasi kasih sayang sangat penting
bagi anak supaya anak dapat mengembangkan tingkah laku sosial yang baik. Bila kasih sayang
tersebut tidak ada, maka seringkali anak akan mengalami kesulitan dalam hubungan sosial, dan
kesulitan ini akan mengakibatkan berbagai macam kelainan tingkah laku sebagai upaya
kompensasi dari anak. Sebenarnya, setiap orang tua itu menyayangi anaknya, akan tetapi
manifestasi dari rasa sayang itu berbeda-beda dalam penerapannya, perbedaan itu akan nampak
dalam pola asuh yang diterapkan. Pengawasan orang tua yang kurang memadai, meliputi
rendahnya pengawasan terhadap remaja dan penerapan disiplin yang tidak efektif dan tidak
sesuai merupakan faktor utama dalam menentukan kenakalan anak. Tetapi pada kenyataanya
tidak sedikit pola asuh orang tua yang salah dalam mendidik anak sehingga menyebabkan
anak agresif dalam lingkungan bermain (sekolah). Hal inilah yang membuat penulis tertarik untuk
meneliti bagaimana hubungan antara pola asuh orang tua dengan agresivitas anak, terkhusus di
SMP Negeri 194Jakarta Timur.
Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa agresivitas sebagai gejala sosial
cenderung dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya karena faktor lingkungan sosial, prasangka
rasial, tanyangan televisi, kecerdasan emosional dan pola asuh orang tua.
METODE PENELITIAN
Tempat penelitian dilaksanakan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 194, yang beralamat
di Jl. Pendidikan Raya IX, Komplek IKIP, Duren Sawit, Jakarta Timur. Tempat ini dipilih karena
peneliti menemukan adanya perilaku agresif di sekolah tersebut, selain itu juga letaknya yang
strategis dan tersedianya data yang diperlukan peneliti. Waktu penelitian dilaksanakan selama
empat bulan, dari bulan Oktober 2013 hingga bulan Februari 2014.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dalam
pendekatan penelitian korelasional. Hal ini dikarenakan data dari variabel-variabal penelitian yang
dikumpulkan atau didapat sesuai dengan keadaan yang sebenarnya pada saat sekarang dan
penelitian ini tidak memanipulasi atau mengkontrol situasi yang terjadi serta mengkorelasikan antara
data yang berasal dari variabel X dan variabel Y.
Adapun alasan menggunakan pendekatan korelasional adalah untuk menemukan ada
tidaknya hubungan dan apabila ada, seberapa erat dan berarti hubungan tersebut. Dengan
pendekatan korelasional dapat dilihat hubungan variabel yaitu pola asuh (variabel bebas) dengan
agresivitas (variabel terikat).
Dalam penelitian ilmiah diperlukan sumber data yang berkaitan dengan masalah penelitian
yang dapat memberikan keterangan yang dibutuhkan. Sumber data dalam suatu penelitian disebut
dengan populasi. Populasi juga merupakan keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia,
benda, hewan, tumbuhan, gejala, nilai tes, atau peristiwa sebagai gambaran data yang memiliki
karakteristik tertentu didalam suatu penelitian (Nurul, 2006: 116). Berdasarkan penjelasan diatas
maka populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik yang terdapat di siswa kelas IX SMP 194
Jakarta Timur yang berjumlah 200 orang.
Sampel menurut Arikunto (2006:117) adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.
Sampel juga sering didefinisikan sebagai bagian dari populasi sebagai contoh (master) yang diambil
dengan menggunakan cara-cara tertentu peneliti bermaksud mereduksi objek penelitian sebagai
akibat dari besarnya jumlah populasi sehingga harus meneliti sebagian saja dari populasi. Sampel
dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Teknik sampling
ini diberi nama demikian karena di dalam pengambilan sampelnya, peneliti “mencampur” subjek-
subjek di dalam populasi sehingga semua subyek dianggap sama. Sampling purposive dilakukan
dengan orang- orang yang terpilih betul oleh peneliti menurut ciri-ciri spesifik yang dimiliki oleh
sampel itu. Adapun pertimbangan peneliti menggunakan teknik ini yaitu, peneliti hanya
mengambil siswa yang selalu melakukan perilaku agresif melalui pengamatan dan bertanya kepada
guru BP (bimbingan dan penyuluhan). Dari pertimbangan tersebut maka jumlah sampel atau
responden dalam penelitian ini berjumlah 35 orang.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil penelitian sebagai berikut:
1. Data hasil peneliian berdistribusi normal dan terjadi regresi linier antarvariabel penelitian.
2. Berdasarkan hasil uji korelasi dengan metode Pearson Product Moment diperoleh koefisien
korelasi rxy sebesar -0.495. Tanda negatif menunjukan arah bahwa hubunan yang terjadi adalah
hubungan negatif.
3. Korelasi signifikan. Hal tersebut diketahui berdasarkan nilai thitung sebesar 3.271 > ttabel 1.70.
4. Hasil uji determinasi diperoleh koefisien determinasi sebesar 24,48% yang berarti bahwa pola
asuh orang tua berkontribusi terhadap agresivitas anak sebesar 24,48%. Sementara sisanya
sebesar 75,52% disebabkan oleh faktor lain.
5. Hasil uji regresi diperoleh persamaan regresi sebagai berikut: Ŷ=54,08-0,36X. Hal ini
berarti bahwa setiap kenaikan 1 skor/ nilai variabel X (pola asuh orang tua) akan mengakibatkan
penurunan angka/ skor variabel Y (agresivitas) sebesar pada konstanta 54,08.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa terdapat
korelasi negatif antara pola asuh dengan agresivitas. Hal ini berarti semakin baik pola asuh orang
tua maka akan menurun atau sedikit agresivitas anak, Dengan nilai koefisien korelasi sebesar -
0,495. Orang tua hendaknya menerapkan pola asuh yang tepat bagi anak-anaknya dengan
memberikan penghargaan, penilian yang wajar sebagai dorongan moral dan intensif yang berupa
perhatian, cara berkomunikasi , disiplin dan perawatan anak oleh orang tua baik secara jasmani
maupun rohani.
Untuk tenaga pengajar agar selalu memahami dan memperhatikan perkembangan perilaku
siswa/Inya di sekolah, sehingga akan mempermudah untuk membimbing dan membantu
menyelesaikan masalah yang dihadapi anak didiknya, karena hal ini penting untuk membantu
siswa dalam memahami dang mengenal dirinya. Untuk siswa dalam melaksanakan tugas-
tugas perkembangannya dengan baik agar dapat berperilaku positif.
DAFTAR PUSTAKA