0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
99 tayangan4 halaman

Model Pembelajaran Problem Based Learning

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Problem Based Learning (PBL) merupakan model pembelajaran yang menghadapkan siswa pada masalah nyata untuk memulai pembelajaran secara aktif. 2. Model ini memiliki tahapan pemecahan masalah secara sistematis dan berpusat pada siswa untuk membangun pengetahuan mandiri. 3. PBL bertujuan mengembangkan keterampilan siswa dalam memecahkan masalah kompleks.

Diunggah oleh

Khoir Uddin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
99 tayangan4 halaman

Model Pembelajaran Problem Based Learning

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Problem Based Learning (PBL) merupakan model pembelajaran yang menghadapkan siswa pada masalah nyata untuk memulai pembelajaran secara aktif. 2. Model ini memiliki tahapan pemecahan masalah secara sistematis dan berpusat pada siswa untuk membangun pengetahuan mandiri. 3. PBL bertujuan mengembangkan keterampilan siswa dalam memecahkan masalah kompleks.

Diunggah oleh

Khoir Uddin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

menurut Kamdi (2007:77) berpendapat bahwa:

Model Problem Based Learning diartikan sebagai sebuah model pembelajaran yang didalamnya melibatkan siswa
untuk berusaha memecahkan masalah dengan melalui beberapa tahap metode ilmiah sehingga siswa diharapkan
mampu mempelajari pengetahuan yang berkaitan dengan masalah tersebut dan sekaligus siswa diharapkan akan
memilki keterampilan dalam memecahkan masalah.

Kelebihan Model Problem Based Learning (PBL)

Aris Shoimin (2014:132) berpendapat bahwa kelebihan model Problem Based Learning diantaranya:

1. Siswa didorong untuk memiliki kemampuan memecahkan masalah dalam situasi nyata.
2. Siswa memiliki kemampuan membangun pengetahuannya sendiri melalui aktivitas belajar.
3. Pembelajaran berfokus pada masalah sehingga materi yang tidak ada hubungannya tidak perlu dipelajari
oleh siswa. Hal ini mengurangi beban siswa dengan menghafal atau menyimpan informasi.
4. Terjadi aktivitas ilmiah pada siswa melalui kerja kelompok.
5. Siswa terbiasa menggunakan sumber-sumber pengetahuan, baik dari perpustakaan, internet, wawancara,
dan observasi.
6. Siswa memiliki kemampuan menilai kemajuan belajarnya sendiri.
7. Siswa memiliki kemampuan untuk melakukan komunikasi ilmiah dalam kegiatan diskusi atau presentasi hasil
pekerjaan mereka.
8. Kesulitan belajar siswa secara individual dapat diatasi melalui kerja kelompok dalam bentuk peer teaching.

Kelemahan Model Problem Based Learning (PBL)

Aris Shoimin (2014:132) berpendapat bahwa selain memiliki kelebihan, model Problem Based Learning juga
memilki kelemahan, diantaranya sebagai berikut:

1. PBM tidak dapat diterapkan untuk setiap materi pelajaran, ada bagian guru berperan aktif dalam menyajikan
materi. PBM lebih cocok untuk pembelajaran yang menuntut kemampuan tertentu yang kaitannya dengan
pemecahan masalah.
2. Dalam suatu kelas yang memiliki tingkat keragaman siswa yang tinggi akan terjadi kesulitan dalam
pembagian tugas.

Sedangkan menurut Suyanti (2010) kelemahan dalam penerapan model Problem Based Learning diantaranya
adalah:

1. Manakala siswa tidak memilki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit
untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.
2. Keberhasilan strategi pembelajaran melalui Problem Based learning membutuhkan cukup waktu untuk
persiapan.
3. Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka
mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.

1. Pengertian Problem Based Learning (PBL)

Problem Based Learning (PBL) merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat menolong siswa untuk
meningkatkan keterampilan yang dibutuhkan pada pada era globalisasi saat ini. Problem Based Learning (PBL)
dikembangkan untuk pertama kali oleh Prof. Howard Barrows sekitar tahun 1970-an dalam pembelajaran ilmu medis
di McMaster University Canada (Amir, 2009 ,h. 124). Model pembelajaran ini menyajikan suatu masalah yang nyata
bagi siswa sebagai awal pembelajaran kemudian diselesaikan melalui penyelidikan dan diterapkan dengan
menggunakan pendekatan pemecahan masalah.

Beberapa definisi tentang Problem Based Learning (PBL) :

1. Menurut Duch (1995,h. 201), Problem Based Learning (PBL) merupakan model pembelajaran yang menantang
siswa untuk “belajar bagaimana belajar”, bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia
nyata. Masalah ini digunakan untuk mengikat siswa pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud.

2. Menurut Arends (Trianto, 2007,h. 68), Problem Based Learning (PBL) merupakan suatu pendekatan pembelajaran
di mana siswa dihadapkan pada masalah autentik (nyata) sehingga diharapkan mereka dapat menyusun
pengetahuannya sendiri, menumbuh kembangkan keterampilan tingkat tinggi dan inkuiri, memandirikan siswa, dan
meningkatkan kepercayaan dirinya.

3. Menurut Glazer (2001,h.89 ), mengemukakan Problem Based Learning merupakan suatu strategi pengajaran
dimana siswa secara aktif dihadapkan pada masalah kompleks dalam situasi yang nyata.

16

Dari beberapa uraian mengenai pengertian Problem Based Learning dapat disimpulkan bahwa Problem Based
Learning merupakan model pembelajaran yang menghadapkan siswa pada masalah dunia nyata (real world) untuk
memulai pembelajaran dan merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi
belajar aktif kepada siswa. Problem Based Learning adalah pengembangan kurikulum dan proses pembelajaran.
Dalam kurikulumnya, dirancang masalah-masalah yang menuntut siswa mendapatkan pengetahuan yang penting,
membuat mereka mahir dalam memecahkan masalah, dan memiliki strategi belajar sendiri serta kecakapan
berpartisipasi dalam tim. Proses pembelajarannya menggunakan pendekatan yang sistemik untuk memecahkan
masalah atau tantangan yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Model Problem Based Learning bercirikan penggunaan masalah kehidupan nyata sebagai suatu yang harus dipelajari
siswa. Dengan model Problem Based Learning diharapkan siswa mendapatkan lebih banyak kecakapan daripada
pengetahuan yang dihafal. Mulai dari kecakapan memecahkan masalah, kecakapan berpikir kritis, kecakapan bekerja
dalam kelompok, kecakapan interpersonal dan komunikasi, serta kecakapan pencarian dan pengolahan informasi
(Amir, 2007 h. 35).

Savery, Duffy, dan Thomas (1995) mengemukakan dua hal yang harus dijadikan pedoman dalam menyajikan
permasalahan. Pertama, permasalahan harus sesuai dengan konsep dan prinsip yang akan dipelajari. Kedua,
permasalahan yang disajikan adalah permasalahan riil, artinya masalah itu nyata ada dalam kehidupan sehari-hari
siswa. 17

Sehingga dapat disimpulkan, bahwa dalam Problem Based Learning pembelajarannya lebih mengutamakan proses
belajar, dimana tugas guru harus memfokuskan diri untuk membantu siswa, mencapai keterampilan mengarahkan
diri. Guru dalam model ini berperan sebagai penyaji masalah, penanya, mengadakan dialog, membantu menemukan
masalah, dan pemberi fasilitas pembelajaran. Selain itu, guru memberikan dukungan yang dapat meningkatkan
pertumbuhan inkuiri dan intelektual siswa. Model ini hanya dapat terjadi jika guru dapat menciptakan lingkungan
kelas yang terbuka dan membimbing pertukaran gagasan.

2. Karakteristik Model Problem Based Learning

Ciri yang paling utama dari model pembelajaran Problem Based Learning yaitu dimunculkannya masalah pada awal
pembelajarannya.. Menurut Arends (Trianto, 2007,h. 68 ), berbagai pengembangan pengajaran berdasarkan masalah
telah memberikan model pengajaran itu memiliki karakteristik sebagai berikut :

a. Pengajuan pertanyaan atau masalah

1. Autentik, yaitu masalah harus berakar pada kehidupan dunia nyata siswa dari pada berakar pada prinsip-prinsip
disiplin ilmu tertentu.

2. Jelas, yaitu masalah dirumuskan dengan jelas, dalam arti tidak menimbulkan masalah baru bagi siswa yang pada
akhirnya menyulitkan penyelesaian siswa.

3. Mudah dipahami, yaitu masalah yang diberikan harusnya mudah dipahami siswa dan disesuaikan dengan tingkat
perkembangan siswa.

4. Luas dan sesuai tujuan pembelajaran. Luas artinya masalah tersebut harus mencakup seluruh materi pelajaran
yang akan diajarkan sesuai dengan waktu, ruang, dan sumber yang tersedia.

5. Bermanfaat, yaitu masalah tersebut bermanfaat bagi siswa sebagai pemecah masalah dan guru sebagai pembuat
masalah.

b. Berfokus pada keterkaitan antar disiplin ilmu


Masalah yang diajukan hendaknya melibatkan berbagai disiplin ilmu. 18

c. Penyelidikan autentik (nyata)

Dalam penyelidikan siswa menganalisis dan merumuskan masalah, mengembangkan dan meramalkan hipotesis,
mengumpulkan dan menganalisis informasi, melakukan eksperimen, membuat kesimpulan, dan menggambarkan
hasil akhir.

d. Menghasilkan produk dan memamerkannya

Siswa bertugas menyusun hasil belajarnya dalam bentuk karya dan memamerkan hasil karyanya.

e. Kolaboratif

Pada model pembelajaran ini, tugas-tugas belajar berupa masalah diselesaikan bersama-sama antar siswa.

Adapun beberapa karakteristik proses Problem based learning menurut Tan (Amir, 2007,h. 23 ) diantaranya :

1) Masalah digunakan sebagai awal pembelajaran.

2) Biasanya, masalah yang digunakan merupakan masalah dunia nyata yang disajikan secara mengambang.

3) Masalah biasanya menuntut perspektif majemuk. Solusinya menuntut siswa menggunakan dan mendapatkan
konsep dari beberapa ilmu yang sebelumnya telah diajarkan atau lintas ilmu ke bidang lainnya.

4) Masalah membuat siswa tertantang untuk mendapatkan pembelajaran di ranah pembelajaran yang baru.

5) Sangat mengutamakan belajar mandiri (self directed learning).

6) Memanfaatkan sumber pengetahuan yang bervariasi, tidak dari satu sumber saja.

7) Pembelajarannya kolaboratif, komunikatif, dan kooperatif. Siswa bekerja dalam kelompok, berinteraksi, saling
mengajarkan (peer teaching), dan melakukan presentasi.

Dari beberapa penjelasan mengenai karakteristik proses Problem Based Learning dapat disimpulkan bahwa tiga
unsur yang esensial dalam proses Problem Based Learning yaitu adanya suatu permasalahan, pembelajaran berpusat
pada siswa, dan belajar dalam kelompok kecil. 19

3. Tahap-Tahap dalam Problem Based Learning

Pelaksanaan model Problem Based Learning terdiri dari 5 tahap proses, yaitu :

Tahap pertama, adalah proses orientasi peserta didik pada masalah. Pada tahap ini guru menjelaskan tujuan
pembelajaran, menjelaskan logistik yang diperlukan, memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam aktivitas
pemecahan masalah, dan mengajukan masalah.

Tahap kedua, mengorganisasi peserta didik. Pada tahap ini guru membagi peserta didik kedalam kelompok,
membantu peserta didik mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah.

Tahap ketiga, membimbing penyelidikan individu maupun kelompok. Pada tahap ini guru mendorong peserta didik
untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan, melaksanakan eksperimen dan penyelidikan untuk mendapatkan
penjelasan dan pemecahan masalah.
Tahap keempat, mengembangkan dan menyajikan hasil. Pada tahap ini guru membantu peserta didik dalam
merencanakan dan menyiapkan laporan, dokumentasi, atau model, dan membantu mereka berbagi tugas dengan
sesama temannya.

Tahap kelima, menganalisis dan mengevaluasi proses dan hasil pemecahan masalah. Pada tahap ini guru membantu
peserta didik untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap proses dan hasil penyelidikan yang mereka lakukan.
(Trianto, 2007 h. 70 )

Kelima tahap yang dilakukan dalam Kegiatan Guru


pelaksanaan model Problem Based
Learning ini selengkapnya dapat
disimpulkan melalui tabel 2.1 yang
dapat dilihat di bawah ini : Tahapan
Pembelajaran

Tahap 1 Guru menjelaskan tujuan pembelajaran,


menjelaskan logistik yang diperlukan,
Orientasi peserta didik
mengajukan fenomena atau
pada masalah demonstrasi atau cerita untuk
memunculkan masalah, memotivasi
siswa untuk terlibat dalam aktivitas
pemecahan masalah.

Tahap 2 Guru membagi siswa ke dalam


kelompok, membantu siswa
Mengorganisasi peserta
mendefinisikan dan mengorganisasikan
Didik tugas belajar yang berhubungan dengan
masalah.

Tahap 3 Guru mendorong peserta didik untuk


mengumpulkan
Membimbing penyelidikan individu
maupun kelompok informasi yang dibutuhkan,
melaksanakan eksperimen dan
penyelidikan untuk mendapatkan
penjelasan dan pemecahan masalah.

Tahap 4 Guru membantu siswa dalam


merencanakan dan
Mengembangkan dan
menyiapkan laporan, dokumentasi, atau
menyajikan hasil
model, dan

membantu mereka berbagi tugas


dengan sesama

Anda mungkin juga menyukai