JNPH
Volume 6 No. 1 (April 2018)
© The Author(s) 2018
HUBUNGAN ANTARA PENGALAMAN MEMPEROLEH HUKUMAN FISIK DI MASA
ANAK DENGAN PERILAKU AGRESIF PADA REMAJA DI SMKN 02 KOTA
BENGKULU
COORELATION BETWEEN EXPERIENCE GAINING PHYSICAL PUNISHMENT IN
CHILDHOOD WITH AGGRESSIVE BEHAVIOR ON TEENS AT SMKN 02
BENGKULU
IDA SAMIDAH, MURWATI, DAN MIRAWATI
DOSEN FIKES UNIVED BENGKULU
ABSTRAK
Pengalaman memperoleh hukuman fisik anak adalah pelecehan fisik dari orang tua fisik yang
dapat menyebabkan rasa sakit sebagai risiko atau hasil dari kesalahan seseorang. Pengalaman
ini akan mempengaruhi sisi fisik dan psikologis anak yang akan menyebabkan trauma pada
anak dan sikap pemodelan perilaku yang diterima oleh anak. Tujuan Penelitian Mengetahui
hubungan antara pengalaman mendapatkan hukuman fisik sejak kecil dengan perilaku agresif
sebagai remaja di kelas XI di SMKN 2 Kota Bengkulu. Metodologi Penelitian Rancangan
penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional
yaitu penelitian untuk mempelajari korelasi dinamika antara faktor risiko dengan pengaruh,
dengan pendekatan, observasi atau pengumpulan data pada satu waktu (pendekatan titik waktu).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 42 (46,2%) siswa memiliki perilaku agresif dan non-
agresif dari 36 (53,8%), dimana 54 (69,2%) siswa mengalami pengalaman hukuman fisik
sementara 24 (30,8%) Siswa yang tidak mengalami hukuman fisik orang tua mereka. Hasil uji
chi-square menunjukkan bahwa Ha diterima, ini ditunjukkan oleh angka yang signifikan (nilai
p) = 0,004 <ά = 0,05. Jadi dapat disimpulkan bahwa, ada hubungan antara pengalaman
mendapatkan hukuman fisik di masa kecil dengan perilaku agresif pada remaja di SMK N 02
Kota Bengkulu.
Kata kunci: Hukuman fisik dan Perilaku Agresif
ABSTRACT
The experience of acquiring the child's physical punishment is the physical abuse of a physical
parent that can cause pain as a risk or result of a person's wrongdoing. This experience will
affect the physical and psychological side of the child that will cause trauma to the child and the
attitude of modeling of the behavior received by the child. Research Objectives Known the
relationship between experience of obtaining physical punishment since childhood with
aggressive behavior as a teenager in class XI in SMKN 2 Kota Bengkulu. Research
Methodology The research design which is used is descriptive analytic method with cross
sectional approach that is research to study correlation dynamics between risk factors with
effect, by approach, observation or data collection at one time (point time approaches).The
results showed that 42 (46.2%) students had aggressive and non-aggressive behaviors of 36
(53.8%), of which 54 (69.2%) students had experience of corporal punishment while 24 (30.8%
31
) Students who did not experience the physical punishment of their parents. The results of the
chi-square test show that Ha is accepted, this is indicated by a significant number (p value) =
0.004 <ά = 0.05. So it can be concluded that, there is a relationship between experience of
obtaining physical punishment in childhood with aggressive behavior in adolescents at SMK N
02 Kota Bengkulu.
Keywords: Physical punishment and Aggressive Behavior
PENDAHULUAN TUJUAN PENELITIAN
Remaja merupakan populasi yang besar Mengetahui hubungan antara
dari penduduk dunia. Data demografi pengalaman memperoleh hukuman fisik sejak
menunjukkan bahwa penduduk didunia masa anak dengan perilaku agresif saat remaja
jumlah populasi remaja merupakan populasi dikelas XI di SMKN 2 Kota Bengkulu.
yang besar.
Menurut World Health Organization METODE PENELITIAN
(WHO) sekitar seperlima dari penduduk
dunia dari remaja berumur 10-19 tahun, Desain penelitian yang digunakan
sekitar 900 juta berada dinegara sedang adalah metode deskriptif analitik dengan
berkembang. Di asia pasifik jumlah pendekatan cross sectional yaitu penelitian
penduduknya merupakan 60% dari penduduk untuk mempelajari dinamika korelasi antara
dunia, seperlimanya adalah remaja umur 10- faktor-faktor resiko dengan efek, dengan cara
19 tahun. pendekatan, observasi atau pengumpulan data
Di indonesia menurut Biro Pusat sekaligus pada suatu saat (point time
Statistik kelompok umur 10-19 tahun adalah apporach). Artinya tipe subjek penelitian
22%, yang terdiri dari 50,9% remaja laki-laki hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran
dan 49,1% remaja perempuan (Biro Pusat terhadap status karakter atau variabel subjek
Statistik, 2010). pada saat pemeriksaan (Notoadmojo, 2010).
Penelitian dan pengembangan Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
(LITBANG) juga menunjukan di Jakarta , siswa laki-laki SMK N 02 Bengkulu Kelas XI
pada tahun 2010 tercatat 128 kasus tawuran yaitu sebanyak 351. Sampel pada penelitian
antar pelajar. Angka tersebut meningkat 100% ini adalah sebanyak 78 siswa Kelas XI Di
pada 2011, yakni 330 kasus tawuran yang SMK N 02 Bengkulu.
menewaskan 82 pelajar. Pada bulan januari-
juni 2012, telah terjadi 139 tawuran yang HASIL PENELITIAN
menewaskan 82 pelajar. (Lukmansyah &
andini, 2012). [Link] univariat
Pengalaman memperoleh hukuman fisik
masa anak adalah perlakuan kasar orang tua Tabel 1. Distribusi Frekuensi Perilaku
secara jasmani yang dapat menimbulkan rasa Agresif
sakit sebagai resiko atau akibat dari kesalahan
yang dilakukan seseorang. Pengalaman ini Perilaku Agresif Frekuensi Persentase
(F) (%)
akan berdampak dari segi fisik maupun
Tidak Berperilaku Agresif 37 47.4
psikologis anak yang akan menimbulkan agresif 41 52.6
trauma pada anak dan sikap modelling dari
Total 78 100
perilaku yang diterima oleh anak tersebut.
Walaupun itu hukuman fisik, ini juga
Berdasarkan tabel 1 diatas menunjukan
mengakibatkan rasa sakit secara fisik atau
jasmani. bahwa perilaku yang ditujukan siswa kelas XI
32 Journal of Nursing and Public Health
SMK N 02 Bengkulu di dominasi dengan PEMBAHASAN
tidak berperilaku agresif dengan persentase
sebesar (47,4 %) hampir sebagian dari A. Gambaran Pengalaman Memperoleh
responden ,sedangkan siswa yang berperilaku Hukuman Fisik di Masa Anak Dengan
agresif sebesar (52,6 %) sebagian besar dari Perilaku Agresif Pada Remaja Di SMKN
responden. 02 Kota Bengkulu
Tabel 2. Frekuensi Berdasarkan Berdasarkan tabel 1 diatas menunjukan
Pengalaman Memperoleh Hukuman Fisik bahwa perilaku yang ditujukan siswa kelas XI
SMK N 02 Bengkulu di dominasi dengan
Pengalaman Frekuensi Persentase tidak berperilaku agresif dengan persentase
(F) (%) sebesar (47,4 %) hampir sebagian dari
Tidak Memperoleh 34 43.6 responden ,sedangkan siswa yang berperilaku
hukuman fisik 44 56.4 agresif sebesar (52,6%) sebagian besar dari
memperoleh hukuman fisik
responden.
Total 78 100
Dari hasil kuesioner yang dibagikan
kepada responden maka dapat disimpulkan
Berdasarkan tabel 2 diatas menunjukan
bahwa memberikan hukuman fisik yang
bahwa perilaku yang ditujukan siswa kelas XI dilakukan oleh orang tua terhadap siswa di
SMK N 02 Bengkulu di dominasi dengan SMK N 02 Kota Bengkulu masih menerapkan
tidak memperoleh hukuman fisik dengan pengalaman yang tidak baik.
persentase sebesar (43,6%) hampir sebagian Hasil penelitian tersebut sejalan dengan
dari respoden , sedangkan siswa yang penelitian yang dilakukan oleh Fortuna
memperoleh hukuman fisik sebesar (56,4%) (2008) salah satu hal yang mempengaruhi
sebagian besar dari responden. terbentuknya perilaku agresif adalah dari
pengalaman mendapat hukuman fisik di
B. Analisis Bivariat
waktu anak. Jika orang tua dapat mengurangi
kebiasaan berperilaku agresif, diharapkan
Tabel 3. Hubungan Antara Pengalaman
anak-anak juga akan berkurang
Memperoleh Hukuman Fisik Di Masa
agresivitasnya. Dari hasil pengamatan
Anak Dengan Perilaku Agresif Pada
ternyata anak banyak meniru dari orang tua
Remaja
yang sedikit-sedikit berteriak, menjerit,
marah-marah sampai dengan memukul baik
Pengalaman perilaku
Memperoleh Tdk Total % P antara suami-istri, dengan tetangga, maupun
Agresi
kepada anak-anak sendiri. Belajar model
hukuman agresif % f %
fisik adalah proses peniruan tingkah laku orang
Memperoleh 23 29.5 11 14.1 34 100 lain yang dilihat, dilakukan secara sadar atau
Tdk 14 17.9 30 38.5 44 100 0,004 tidak sadar.
memperoleh
Total 37 47,4 41 69.2 78 100 B. Gambaran Pengalaman Memperoleh
Hukuman Fisik di Masa Anak Dengan
Pada tabel 3 diatas menunjukkan bahwa Perilaku Agresif Pada Remaja Di
dari 37 (100%) Siswa memperoleh hukuman SMKN 02 Kota Bengkulu
fisik , siswa tidak berperilaku agresif (29.5%)
hampir sebagian dari responden , siswa yang Berdasarkan tabel 2 diatas menunjukan
berperilaku agresif (14.1%) sebagian kecil bahwa perilaku yang ditujukan siswa kelas XI
dari responden. SMK N 02 Bengkulu di dominasi dengan
tidak memperoleh hukuman fisik dengan
persentase sebesar (43,6%) hampir sebagian
33
dari respoden , sedangkan siswa yang dan siswa yang agresif (38.5 %) hampir
memperoleh hukuman fisik sebesar (56,4%) sebagian dari responden.
sebagian besar dari responden. Hasil uji chi-square menunjukkan
Penelitian yang dilakukan oleh ismail bahwa Ha diterima, hal ini ditunjukkan oleh
(2014) salah satu hal yang mempengaruhi angka signifikan (p value) = 0,004 < ά =
terbentuknya perilaku agresif adalah 0,005. Sehingga dapat disimpulkan bahwa,
pengalaman memperoleh hukuman fisik ada hubungan antara pengalaman memperoleh
dimasa anak. Menurut Scheinders (2011), hukuman fisik di masa anak dengan perilaku
mengatakan bahwa agresif merupakan luapan agresif pada remaja di SMK N 02 Kota
emosi sebagai reaksi terhadap kegagalan Bengkulu.
individu yang ditampakkan dalam bentuk Masa remaja ialah usia dimana indvidu
pengrusakan terhadap orang atau benda berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia
dengan unsur kesengajaan yang diekspresikan dimana anak-anak tidak lagi merasa dibawah
dengan kata-kata (verbal) dan perilaku non tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya
verbal. dalam masalah hak. Intergritas dalam
Menurut Koeswara (2012) faktor masyarakat (dewasa), yang kenyataannya
penyebab remaja berperilaku agresif merupakan ciri khas yang umum dari periode
bermacam-macam, sehingga dapat perkembangan ini (Hurlock,2011).
dikelompokkan menjadi faktor sosial, faktor Thorndike (Koeswara, 2012) dengan
lingkungan,faktor hormon, alkohol,obat- law of effect menekankan bahwa dalam proses
obatan (faktor yang berasal dari luar individu) belajar atau pembentukan suatu tingkah laku,
dan sifat kepribadian (faktor-faktor yang reward dan punishmnet memainkan peranan
berasal dari dalam individu). penting. Agresi terbentuk dan diulang
Dari beberapa teori dan penelitian dilakukan oleh individu karena dengan
diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa agresinya itu individu tersebut memperoleh
perilaku agresif pada remaja di SMKN 02 efek atau hasil yang menyenangkan. Adapun
Kota Bengkulu adalah suatu perilaku yang apabila dengan agresinya itu individu
dimaksudkan unutk melukai atau menyakiti memperoleh efek yang sebaliknya, yakni efek
yang mengandung unsur kekerasan, serangan atau hasil yang tidak menyenangkan, maka
atau gangguan baik secara fisik ataupun agresi itu tidak akan diulang.
verbal, dan merusak atau mengambil hak
milik orang lain dengan atau tanpa tujuan dan Hukuman fisik ini juga mengakibatkan
korban tidak menghendaki perilaku tersebut. psikologis yang terganggu pada korbannya
yang menyebabkan si anak menjadi trauma
C. Hubungan antara pengalaman tersendiri atau malah anak terbentuk suatu
memperoleh hukuman fisik dimasa sifat atau sikap untuk membalas dendam
anak dengan perilaku agresif pada apabila sudah menginjak remaja. Ini lah
remaja di SMKN 02 Kota Bengkulu akibat dari pengalaman memperoleh hukuman
tahun 2017 fisik di masa anak.
Pada tabel 3 diatas menunjukkan bahwa KESIMPULAN
dari 37 (100%) Siswa memperoleh hukuman
fisik, siswa tidak berperilaku agresif (29.5%) Berdasarkan tujuan dan hasil dari
hampir sebagian dari responden , siswa yang penelitian mengenai hubungan antara
berperilaku agresif (14.1%) sebagian kecil pengalaman memperoleh hukuman fisik di
dari responden. masa anak dengan perilaku agresif pada
Dari 41 (100 %) siswa yang tidak remaja di SMKN 02 Kota Bengkulu tahun
memperoleh hukuman fisik, siswa yang tidak 2017 maka dapat diambil kesimpulan sebagai
agresif (17.9%) sebagian kecil dari responden berikut :
34 Journal of Nursing and Public Health
1. Sebagian besar dari responden memiliki DAFTAR PUSTAKA
berperilaku agresif di SMKN 02 Kota
Bengkulu Anisa Siti Maryanti. 2012. Pengaruh
2. Sebagian besar dari responden Hukuman Fisik Terhadap Perilaku
memperoleh hukuman fisik di SMKN 02 Agresif Anak Usia 4-5 Tahun. Skripsi.
Kota Bengkulu. Universitas Negeri Semarang.
3. Ada hubungan antara pengalaman Aprilia, K. 2011. Hubungan antara
memperoleh hukuman fisik di masa anak kecerdasan emosional dengan perilaku
dengan perilaku agresif pada remaja di agresif Pada siswa kelas 2 smk 45 di
SMKN 02 Kota Bengkulu Tahun 2017. lembang. Diunduh februari 2017, dari :
http:/[Link]
SARAN Ardi, 2013, Harian Rakyat Bengkulu,
Bengkulu: Rakyat Bengkulu.
Berdasarkan hasil kesimpulan [Link]
penelitian yang dilakukan, maka peneliti 19 Februari 2017
menyarankan : Bailey, R.H. 2012. Kekerasan dan Agresi.
diterjemahkan oleh Wirono S., Jakarta:
1. Bagi pendidikan Tira Pustaka.
Hasil penelitian diharapkan dapat Fotuna Fini, 2008. “ Hubungan Pola Asuh
memberikan informasi bagi mahasiswa Dengan Perilaku Agresif Pada Remaja Di
STIKes Dehasen Bengkulu untuk SMKN 1 Jakarta”, Jakarta:
perkembangan ilmu keperawatan dan Universitas Gunadarma.
referensi di masa yang akan datang. Fuad Nashori. 2007. Hubungan Komunikasi
Remaja dan Orang Tua dengan
2. Bagi Sekolah Agresifitas Remaja. Skripsi. Fakultas
Sebagai informasi dan masukan bagi Psikologi: Universitas Islam Indonesia
guru SMKN 2 Kota Bengkulu, khususnya Hockenberry, M.J. 2010, Nursing Care Of
guru bagian kemahasiswaan dan Infants And Children, (8th
bimbingan konseling dalam memberikan ed.).[Link] : Mosby Elsevier.
bimbingan dan penyuluhan pada siswa- Lazaro. 2011. Gangguan psikologi pada
siswa yang bermasalah. remaja . Diunduh 12 februari 2017, dari
: http// gangguan-psikologi-pada-
3. Bagi Orang Tua [Link]
Secara praktis hasil penelitian ini Masykouri, 2005, Perilaku Agresif Remaja,
diharapkan dapat menjadi dasar Jakarta : PT. Pustaka Cipta.
pertimbangan dan pengetahuan bagi orang Monks, F.J 2010 Psikologi Perkembangan.
tua dan masyarakat untuk menyiapkan Yogyakarta: Gajah Mada University
kehidupan yang lebih baik bagi remaja Press
dengan cara memberikan gambaran akan Schneinders, A.A 2011. Personality
pentingnya peranan keluarga terhadap Adjusment And Mental Health. New
terbentuknya perilaku remaja yang baik. York: Holt, Rinehart & Winston.
Setiawan. 2012 pengaruh menonton video
4. Bagi Peneliti kekerasan terhadap perilaku agresif
Kegiatan penulisan ini dapat pada anak-anak di SD N 1 pasundan, di
memperluas wawasan peneliti tentang unduh Februari 2017, dari :
konsep-konsep penelitian dan http//[Link]
mengembangkan kemampuan penulis
dalam menerapkan ilmu pengetahuan yang
didapat diperkuliahan
35