100% menganggap dokumen ini bermanfaat (3 suara)
2K tayangan16 halaman

Strategi Pertumbuhan Gereja Efektif

Dokumen tersebut membahas tentang strategi pertumbuhan gereja, dimulai dari pengertian gereja sebagai tubuh Kristus yang terdiri dari orang-orang percaya, tujuan gereja untuk memuliakan Allah melalui ibadah, persekutuan, dan pelayanan, serta asal usul gerakan pertumbuhan gereja yang dimulai oleh Donald McGavran pada tahun 1950-an.

Diunggah oleh

Jireh Gevariel
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (3 suara)
2K tayangan16 halaman

Strategi Pertumbuhan Gereja Efektif

Dokumen tersebut membahas tentang strategi pertumbuhan gereja, dimulai dari pengertian gereja sebagai tubuh Kristus yang terdiri dari orang-orang percaya, tujuan gereja untuk memuliakan Allah melalui ibadah, persekutuan, dan pelayanan, serta asal usul gerakan pertumbuhan gereja yang dimulai oleh Donald McGavran pada tahun 1950-an.

Diunggah oleh

Jireh Gevariel
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

STRATEGI PERTUMBUHAN GEREJA

Pengertian Gereja

Kata Inggris untuk church berhubungan dengan kata scosttish kirk dan kirche dalam
bahasa Jerman. Semua istilah itu berasal dari kata Yunani kuriakon. Bentuk ajektif netral
dari kurios (“Lord”) berarti “milik dari Tuhan”. Kata Inggris churchjuga merupakan terjemahan
dari kata Yunani ekklesia, yang berasal dari kata ek, berarti “keluar dari”, dankaleo yangberarti
“memanggil”.Gereja adalah suatu kelompok orang yang dipanggil keluar dari hal-hal dosa dan
menjadi milik Allah.

Ronald W. Leight dalam bukunya “Melayani Dengan Efektif” memberikan


penjelasan mengenai pengertian gereja yang sesungguhnya sebagai berikut: Di seluruh
Perjanjian Baru kata “gereja” (Yunani: ekklesia) digunakan untuk menunjuk pada orang
dan bukan pada gedung atau bangunan, organisasi atau program. Dalam Perjanjian Baru
“gereja” selalu berarti orang. Kata Yunani: ekklesia(yang secara harafiah berarti “mereka yang
dipanggil keluar”) hampir sama dengan kata “kelompok” dalam arti dan penggunaannya.

Konteks masing-masing penggunaan kata ini dalam Perjanjian Baru biasanya


membedakan kelompok ini dengan kelompok lainnya dengan menunjuk hubungan positif
mereka dengan Yesus atau Allah. Dengan demikian, mungkindefinisi yang paling pendek dan
singkat dari gereja setempat adalah kumpulan orang yang diselamatkan. Gereja setempat secara
singkat dapat dimengerti sebagai kumpulan orang-orang yang telah diselamatkan, orang-
orang yang disebarkan untuk menginjili orang-orang yang sesat, orang yang berkumpul
untuk saling membangun dan saling mengasihi, dan orang-orang yang dikelompokkan kembali
dalam berbagai lembaga untuk melaksanakan pelayanan-pelayanan khusus.

Menurut Charles C. Ryrie dalam bukunya “Teologi Dasar 2” memberi pernyataan


tentang gereja sebagai berikut: Di sini perhimpunan itu adalah jemaat yang merupakan tubuh
Kristus. Sifat dari kelompok ini seluruhnya telah dilahirkan kembali, dan penyeba
keberadaannya adalah pelayanan baptisan oleh Roh Kudus yang menempatkan orang-orang
percaya ke dalam tubuh Kristus ini (1 Korintus 12:13). Gereja adalah Tubuh Kristus.
Efesus 1:22-23 mengatakan, “Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus
dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang
adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.”
Tubuh Kristus terdiri dari semua orang percaya.

Menurut Henry Clarence Thiessen dalam bukunya yang berjudul “Teologi


Sistematika” menyatakan bahwa istilah “gereja” dipakai dengan dua macam arti, yaitu: arti
yang universal dan arti yang lokal. Gereja universal/sedunia adalah gereja yang terdiri dari
semua orang yang memiliki hubungan pribadi dengan Yesus Kristus. 1 Korintus 12:13-14
mengatakan “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang
Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita
semua diberi minum dari satu Roh. Karenatubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi
atas banyak anggota.” Kita dapat memahami bahwa siapapun yang percaya adalah bagian
dari tubuh Kristus. Sedangkan gereja lokal digambarkan dalam Galatia 1:1-2, “Dari Paulus,
seorang rasul dan dari semua saudara yang ada bersama-sama dengan aku, kepada jemaat-
jemaat di Galatia.” Di sini kita melihat bahwa di propinsi Galatia ada banyak gereja, yang kita
sebut sebagai gereja lokal. Gereja Baptis, gereja Lutheran, gereja Katholik, dan lain-
lain bukanlahgereja sebagaimana gereja universal, namun adalah gereja lokal. Gereja
universal/sedunia terdiri dari semua orang yang telah percaya pada Yesus untuk keselamatan
mereka.

Anggota-anggota gereja universal/sedunia ini sepatutnya mencari persekutuan dan pembi

naan dalam gereja lokal. Secara ringkas, gereja bukanlah bangunan atau denominasi.
Menurut Alkitab, gereja adalah Tubuh Kristus, dimana setiap orang yang memiliki iman kepada
Yesus Kristus memperoleh hidup kekal atau keselamatan (Yohanes 3:16; 1 Korintus 12:13).
Pemahaman Tentang Perkataan ekklesia yang dipakai dalam Perjanjian Baru sebenarnya
mempunyai dua latar belakang, yaitu latar belakang Yunani dan latar belakang Ibrani.
Herman Soekahar dalam bukunya “Bagaimana memotivasi jemaat melayani” menjelaskan
tentang latar belakang ekklesia sebagai berikut:

Latar belakang Yunani Dalam kehidupan orang Atena zaman Purba, ekklesia
berarti perhimpunan rakyat yang dipanggil untuk mengadakan rapat. Orang-orang yang
dipanggil itu terdiri dari penduduk kota yang tidak kelihatan haknya sebagai warga negara.
Rapat yang diadakan itu biasanya untuk menyatakan perang, membuat perjanjian
perdamaian, mengadakan persekutuan dengan bangsa-bangsa lain, memilih jenderal atau
pejabat-pejabat militer yang baru. Pertemuan yang besar tersebut biasanya didahului
dengan doa dan mempersembahkan korban, setelah itu pembicaraan yang bersifat
demokratis berlangsung.

Latar belakang Ibrani Kata ekklesia yang dipakai dalam Septuaginta sebenarnya
merupakan terjemahan dari kata Ibrani qahal, berasal dari akar kata yang berarti
”mengundang, memanggil”. Dalam Septuaginta ekklesia biasanya diasosiasikan dengan
“perkumpulan atau perhimpunan” umat Israel (Ulangan 18:16; Hakim-hakim 20:2;
Bilangan 1:16). Dalam pengertian orang Ibrani ekklesia berarti umat Allah yang dipanggil
berhimpun oleh Allah untuk mendengar atau berbuat sesuatu bagi Allah. Kedua latar
belakang pemakaian kata ekklesia dalam Perjanjian Baru tersebut sebenarnya
menekankan perbuatan Allah.

Tujuan Dari Gereja

Menurut B. Samuel Sidjabat dalam bukunya “Strategi Pendidikan Kristen”, gereja hadir
di dunia ini atas rencana dan kehendak Allah sendiri. Melalui kehidupan dan tugasnya,
gereja terpanggil untuk memuliakan Allah dalam segala aspek, “memberitakan perbuatan-
perbuatan yang besar dari Dia” atau menceritakan pelbagai ragam hikmat-Nya” kepada semua
bangsa. Panggilan memuliakan Allah ini dapat diwujudkan oleh gereja melalui tiga hal,
yaitu: 1) Kegiatan ibadah, dimana pengajaran Firman Tuhan lebih ditekankan kepada
jemaat atau jiwa baru. 2) Persekutuan (koinonia) diantara sesama, dimana disiplin, kasih,
saling melayani, dan pengembangan talenta karunia-karunia rohani. 3) Tugas kesaksian
(diakonia dan marturia), dalam pekabaran Injil dan pelayanan terhadap sesama.

Menurut Richard Lovelace dalam bukunya “Pola Hidup Kristen Penerapan Praktis”,
gereja memiliki empat peranan yang sangat penting dalam pertumbuhan rohani. Empat peranan
gereja adalah sebagai berikut:1)Ibadah, ketika kita berkumpul dengan sesama orang kristen
untuk beribadah, cakrawala kita diperluas dan kita semakin dikuatkan. 2) Pengasuhan,
tugas gereja adalah mencari karunia rohani dari setiap anggotanya supaya setiap orang
mengetahui kasih karunia yang harus ia berikan kepada orang lain. Setiap gereja
harus mengusahakan perkembangan dan pemanfaatan karunia rohani setiap anggotanya
agar gereja dapat menerima berkat-berkat Allah. 3) Nasihat, bila kita bersekutu dengan
sesama orang kristen, kita memperoleh kekuatan dari mereka, dan hidup kita diperkaya
oleh karunia-karunia rohani mereka. 4) Pelayanan, di dalam jemaat, kita dapat menyatukan
dana dan kemampuan kita untuk menjangkau orang lain agar datang kepada Kristus.

Pertumbuhan rohani tidak terjadi tanpa unsur-unsur tersebut. Kita tidak diasuh
hanya dengan tujuan untuk bertumbuh dengan mementingkan diri sendiri. Secara rohani, kita
menjadi kuat karena sumbangan kita kepada tubuh Kristus dan juga karena kita dengan
sengaja hidup dari makanan [Link] yang mengekspresikan kasih Kristus, baik kepada
anggota gereja maupun orang-orang di luar gereja, berarti mentaati dua perintah utama
Kristus pada gereja-Nya. Dalam “Perintah Agung” Ia menyuruh kita untuk mengasihi, dalam
“Amanat Agung” Ia menyuruh kita untuk menjadikan murid. Dua tujuan yang tidak dapat
dikesampingkan dari gereja adalah dikumpulkan untuk melayani tubuh Kristus dan tersebar
untuk melayani dunia. Tujuan pertama, gereja dikumpulkan adalah supaya gereja menjadi
dewasa (Efesus 4:13). Gereja berkumpul sebagai satu tubuh Kristus untuk saling melayani
orang percaya, tetapi gereja juga harus melayani orang yang belum percaya di dunia
dengan Injil. Agar gereja menjadi dewasa, gereja perlu melakukan pengajaran,
persekutuan, dan ibadah.

Tujuan kedua, gereja tersebar di tengah dunia adalah untuk menjadikan murid
Kristus, membaptis mereka, dan membawa mereka ke dalam persekutuan orang percaya.
Pelayanan penginjilan tidak hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu, melainkan oleh
semua orang percaya.

Asal- usul Pertumbuhan Gereja

Pertumbuhan gereja sebagai suatu gerakan memasuki Amerika Utara pada tahun
1972. Pencetus dari gerakan pertumbuhan gereja adalah Donald McGavran, waktu ia sedang
melayani sebagai utusan gerejawi generasi ketiga ke India selama lebih dari 30 tahun. Ia mulai
menuangkan idenya dalam bentuk tulis sejak tahun 1936. Namun penyebarluasan gerakan ini
dimulai dengan penerbitan buku-buku The Bridges of God (Friendship Press, 1955) dan How
Churches Grow (Friendship Press, 1959). Buku ini mendiskusikan 4 (empat) bidangyaitu
teologis, etis, misi, dan prosedur. Pada tahun 1970, Donald McGavran kembali
menerbitkan buku berjudul Understanding Church Growth. Isi buku tersebut menandai
kedewasaan pemahaman penulis tentang prinsip-prinsip pertumbuhan gereja. Ia
mempromosikan dan mendiskusikan teologis, sosiologis, dan metode pertumbuhan gereja.

Buku- buku tersebut memiliki pengaruh yang sangat luas di berbagai kalangan
antar denominasi di Amerika Utara, maupun di belahan dunia yang lain. Namun, hal ini
tidak berarti bahwa prinsip pertumbuhan gereja telah mencapai kematangan.

DASAR ALKITABIAH DAN PRINSIP PERTUMBUHAN GEREJA

Dasar Alkitabiah Pertumbuhan Gereja

Ada orang yang mengkritik Gerakan Pertumbuhan Gereja dengan mengatakan bahwa
gerakan ini tidak memiliki dasar Alkitabiah yang cukup kuat. Gerakan ini disebut-sebut
sebagai gerakan yang “tidak teologis” atau miskin akan materi eksegesis. C. Peter Wagner
dalam bukunya “Strategi perkembangan gereja” menjelaskan bahwa gerakan ini adalah benar-
benar teologis. Maksud keseluruhan Allah bagi dunia yang belum selamat adalah dasar
bagi kekristenan Perjanjian Baru dan juga bagi pertumbuhan gereja.“Sebab Anak Manusia
datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Lukas 19:10). Tuhan itu panjang
sabar, “karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan semua orang
berbalik dan bertobat” (2 Petrus 3:9). Dalam Perjanjian Lama, Allah memanggil Adam di
Taman Eden “dimanakah engkau?” (Kejadian 3:9). Allah serius dalam pencarian atau
penyelamatan, sehingga Ia “mengutus Anak-Nya yang Tunggal, supaya setiap orang yang
percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).

Rasul Paulus menjelaskan tentang proses dan tanggung jawab gereja dalam
memenangkan jiwa bagi Kristus (Roma 10:9-14). Murid-murid Yesus menunggu untuk
diperlengkapi Roh Kudus dalam misi pelayanan yang begitu luas (Lukas 24:9, Kisah Para
Rasul 1:8). Paulus menganggap dirinyasebagai hamba “yang kepadanya dipercayakan
rahasia Allah” (1 Korintus 4:1). Pengakuan Paulus tentang kunci pertumbuhan gereja “aku
menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberikan pertumbuhan” (1 Korintus 3:6-7).

George W. Peters dalam bukunya “Teologi Pertumbuhan Gereja”, mengatakan bahwa


“Roh Kudus, Sang Penolong, adalah inti dari kitab Kisah Para Rasul. Dia adalah penyebab
langsung dari pertumbuhan gereja”.Roh Kudus adalah pelaksana dalam pelayanan gereja,
setiap hamba Tuhan atau orang percaya harus taat kepada pimpinan dan kehendak
Roh Kudus. Jadi, dasar Alkitabiah dari pertumbuhan gereja adalah pekerjaan Allah dan

kuasa Roh Kudus yang bekerja di dalam dan melalui orang yang telah ditebus
oleh-Nya yakni umat kepunyaan-Nya sendiri, yang dilengkapi dengan karunia-karunia
rohani guna pengembangan Tubuh Kristus di dunia ini.

Prinsip Pertumbuhan Gereja

Apabila kita dengan teliti mempelajari dan memahami Alkitab, maka kita akan
mengetahui bahwa pertumbuhan gereja adalah kehendak Allah, suatu rencana Allah dalam
kekekalan dan juga suatu amanat dari Tuhan Yesus Kristus kepada murid-Nya (Matius 28:18-
20).Pada saat Allah menciptakan manusia, Ia mengumumkan kehendak-Nya yang kekal
kepada mereka, supaya mereka beranak-cucu, bertambah banyak, dan memenuhi seluruh
bumi (Kejadian 1:26-28).

Sifat asal atau esensi hidup yang Tuhan karuniakan kepada manusia adalah
dapat bertumbuh. Dari masa kanak-kanak bertumbuh menjadi dewasa, dari hidup secara
individu menjadi hidup yang bermasyarakat, dari hidup yang kecil dan -lemah bertumbuh
menjadi hidup dewasa yang besar dan kuat. Dalam pertumbuhan hidup yang
dikaruniakan Tuhan kepada kita, Tuhan mewahyukan agar kita dapat mengembangkan
daya hidup dengan maksimal. Melalui pertolongan Roh Kudus yang telah memberikan hidup
kekal kepada orang-orang yang percaya, supaya orang-orang yang belum mengenal Yesus
menjadi percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, sehingga mereka
dapat memiliki hidup kekal.

Menurut Jose R. Silva Delgado dalam bukunya “Orang Kristen Yang Bertanggung
Jawab” mengatakan bahwa kita harus hidup untuk Tuhan, dan bukannya untuk diri kita
sendiri, sebab kita adalah milik Tuhan (Roma 14:7-8).

Kehendak Tuhan bukan saja supaya seisi rumah kita beroleh hidup yang kekal,
melainkan supaya semua umat manusia memperoleh hidup yang kekal karena memiliki iman
kepada Yesus. Oleh sebab itu, semua orang percaya bertanggung jawab untuk menyampaikan
kabar baik ini kepada segala bangsa.
STRATEGI PERTUMBUHAN GEREJA

Definisi Pertumbuhan Gereja

Gerakan pertumbuhan gereja semakin berkembang dengan cepat di berbagainegara,


oleh sebab itu sangat penting untuk mendefinisikan pertumbuhan gereja. Menurut Ron
Jenson dan Jim Stevens dalambukunya “Dinamika Pertumbuhan Gereja”, mendefinisikan
pertumbuhan gereja sebagai berikut: Pertumbuhan gereja adalah kenaikan yang
seimbang dalam kuantitas, kualitas, dan kompleksitas organisasi sebuah gereja lokal.

Saat gereja mengalami pertumbuhan secara kualitas, maka dengan sendirinya


pertumbuhan secara kuantitas dan secara organisasi pasti akan mengikutinya. Menurut C.
Peter Wagner dalam bukunya “Gereja Saudara Dapat Bertumbuh”, definisi pertumbuhan gereja
berarti segala sesuatu yang mencakup soal membawa orang-orang yang tidak memiliki
hubungan pribadi dengan Yesus Kristus ke dalam persekutuan dengan Dia dan membawa
mereka menjadi anggota gereja yang bertanggung jawab.

Jadi, strategi pertumbuhan gereja adalah suatu cara atau siasat yang digunakan
dalam bentuk segala aktifitas yang menyangkut jiwa baru bagi Kristus, pembinaan dan
pemuridan orang-orang yang percaya agar mereka menjadi dewasa secara rohani serta
memberdayakan mereka bagi pengembangan Tubuh Kristus di dunia ini, baik secara kualitas,
kuantitas, maupun organisasi.

TUJUAN PERTUMBUHAN GEREJA

Menurut Donald McGavran, tujuan pertumbuhan gereja adalah untuk lebih


mengefektifkan penyebaran Injil dan melipat gandakan gereja-gereja di daerah [Link]
penulis pertumbuhan gereja bertujuan untuk memenangkan sebanyak mungkin jiwa baru
bagi Kristus, mendewasakan dan memperlengkapi orang-orang percaya sesuai dengan
karunia masing-masing untuk dapat berperan secara aktif dalam segala upaya
pengembangan gereja-Nya.

SEGMEN PERTUMBUHAN GEREJA

Menurut Yunus Cipta Wilangga dan Matius Heryanto dalam bukunya “Menang
Dalam Persaingan Gereja”, bahwa konsep untuk mendirikan sebuah gereja dimulai dari
segmentasi. Apakah segmentasi itu? Secara sederhana, segmentasi berarti kita membagi-bagi
pelayanan ataupun jemaat yang kita layani ke dalam kategori-kategori tertentu.

Dalam hubungannya dengan pertumbuhan gereja, segmentasi sangat penting


supaya tujuan pelayanan kita lebih terfokus dan menghasilkan dampakyang maksimaPada
umumnya gereja dapat bertumbuh dan mendapatkan anggota melalui tiga segmen atau
bagian, yaitu melalui: 1) Pertumbuhan secara biologis, terjadi karena anak-anak dari
keluarga kristen yang bertumbuh menjadi dewasa, dilayani di gereja, diperlengkapi untuk
bertanggungjawab.2) Pertumbuhan secara perpindahan anggota gereja, terjadi ketika orang-
orang yang telah percaya meninggalkan keanggotaan pada suatu gereja dan beralih ke
gereja lainnya. 3) Pertumbuhan karena pertobatan jiwa baru, jiwa baru yang dimenangkan
melalui penginjilan bagi orang yang belum percaya kemudian dibawa ke gereja untuk menjadi
anggota gereja setempat.

Menurut penulis, dari ketiga segmen atau bagian diatas yang mendukung
pertumbuhan gereja secara efektif adalah segmen ketiga, yaitu pertumbuhankarena
pertobatan jiwa baru. Karena hal ini merupakan Amanat Agung Tuhan Yesus bagi gereja-
Nya, bahwa kita harus pergi dan menjadikan semua bangsa murid-Nya. Memuridkan
yang dimaksud disini adalah memuridkan jiwa baru yang sudah percaya kepada Yesus,
agar mereka mampu memuridkan orang lain yang belum percaya kepada Kristus.
PRINSIP-PRINSIP PERTUMBUHAN GEREJA ALAMIAH

Rick Warren dalam bukunya “The Purpose Driven Church “mengatakan bahwa:
wajar bagi organisme-organisme yang hidup untuk bertumbuh apabila ia sehat. Pertumbuhan
itu bersifat alamiah bagi setiap organisme. Demikian juga halnya dengan gereja, karena
gereja adalah organisme yang hidup, sudah sewajarnya gereja akan bertumbuh jika gereja
itu sehat. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya bahwa gereja merupakan suatu tubuh
bukan perusahaan. Gereja adalah organisme, bukan hanya sebuah organisasi. Gereja itu
hidup dan harus bertumbuh, oleh sebab itu gereja harus sehat agar mengalami pertumbuhan
yang maksimal.

C. Peter Wagner dalam bukunya “Manfaat Karunia Roh Untuk Pertumbuhan


Gereja”, mengatakan bahwa: Pertumbuhan gereja dan kesehatan gereja saling berhubungan.
Hanya tubuh yang sehat bertumbuh dengan baik dan hanya gereja yang sehat
bertumbuh dengan baik. Sebaliknya, gereja-gereja yang sehat diharapkan akan
bertumbuh. Pertumbuhan adalah salah satu tanda dari kesehatan yang baik. Salah satu
contoh gereja yang sehat dalam Perjanjian Baru adalah gereja di Yerusalem sesudah Pentakosta.

Di antara tanda-tanda lain dari kesehatan yang baik, Tuhan menambah jumlah
mereka dengan orang yang diselamatkan tiap-tiap hari (Kisah Para Rasul 2:47). Jika Tuhan
tidak menambah anggota-anggota baru secara tetap, maka ada sesuatu yang tidak beres dengan
gereja tersebut. Christian A. Schwarz dalam bukunya “Ringkasan Mengenai Pertumbuhan
Gereja Yang Alamiah”, menemukan sebuah konsep pertumbuhan gereja suprabudaya.
Artinya prinsip-prinsip yang dapat dipraktekkan oleh semua budaya, situasi, dan kondisi.
Inti dari konsep yang dikemukakan sangat sederhana, tetapi sangat tepat: “Buatlah gereja
menjadi sehat, maka ia pasti bertumbuh secara alamiah”.

Pertumbuhan bukanlah usaha kita, tetapi dari Tuhan. Bagian kita adalah menanam dan
menyiramnya (1 Korintus 3:16). Melalui penelitiannya menghasilkan delapan barometer
gereja yang sehat. Delapan barometer ini sering disebut dengan delapan karakteristik
kualitas gereja yang sehat atau bertumbuh, diantaranya adalah: Kepemimpinan Yang
Melakukan Pemberdayaan. Kepemimpinan adalah pengaruh dan bukan posisi, tempat atau
kedudukan. Oswald Sanders dalam bukunya “Kepemimpinan Rohani” mengatakan bahwa
kepemimpinan adalah pengaruh, yakni kemampuan untuk mempengaruhi orang lain.
Seseorang hanya dapat memimpin orang lain bila ia dapat mempengaruhi mereka.

Banyak orang yang memiliki konsep keliru mengenai kepemimpinan. Jika mereka
mendengar bahwa seseorang memiliki gelar mengesankan atau posisi yang berhubungan
Christian A. Schwarz, Ringkasan Mengenai Pertumbuhan Gereja Yang Alamiah
Christian A. Schwarz adalah direktur Institut for Natural Church Development. Ia
melakukan penelitian yang ilmiah selama 10 tahun, lebih dari 1.000 gereja yang terlibat dalam
proyek penelitian ini, di 32 negara, dan di 5 benua. Buku-bukunya mengenai teori dan hal
praktis mengenai pertumbuhan gereja alamiah sudah diterbitkan di 34 negara.

Potensi kepemimpinan ada di dalam diri setiap orang dan ia memiliki peluang serta
potensi yang sama untuk meningkatkan pengaruhnya terhadap orang lain. Peluang yang sama
dapat terjadi dalam manajemen gereja. Mulai dari aktifis yang paling rendah sampai pada
tingkatan hamba Tuhan memiliki kesempatan mengembangkan diri sedemikian rupa untuk
mencapai tingkat kepemimpinan yang paling tinggi. Kepemimpinan memiliki arti penting bagi
perkembangan gereja. Yesus Kristus sebagai kepala gereja, telah membuktikan kemampuan
memimpin-Nya melalui pelayanan selama Ia hidup di dunia ini. Pola kepemimpinan juga
telah diterapkan dalam gereja yang mula-mula oleh para rasul dan sepanjang perjalanan
pelayanan mereka di luar Yerusalem untuk memberitakan Injil. Setelah pencurahan Roh
Kudus, Petrus tampil sebagai pemimpin diantara para rasul dan dalam pendirian serta
perkembangan gereja Tuhan selanjutnya, Paulus mengambil alih peran tersebut.
Kepemimpinan dalam gereja terutama berfungsi untuk penggembalaan
jemaat. Oleh karena sumber dan arah tujuan gereja adalah Yesus Kristus, maka arah
kepemimpinan di dalam gereja difokuskan pada teladan Yesus Kristus. Pola
kepemimpinan seperti ini disebut kepemimpinan rohani. Disebut rohani bukan semata-mata
karena wilayah pengaruhnya, tetapi dari potensi kekuatan pengaruh yang dimilikinya berasal
dari Allah dan mencapai keefektifan maksimal untuk melayani Allah. Kepemimpinan
merupakan sebuah faktor yang sangat penting bagi pertumbuhan gereja. Sonny Eli Zaluchu
dalam bukunya “Pemimpin Pertumbuhan Gereja”, menyatakan bahwa: kepemimpinan
merupakan faktor dasar dari pertumbuhan gereja. Peran pemimpin jemaat adalah sebagai
penanggung jawab, yang mempertanggung jawabkan doktrin atau ajaran dan program,
serta kegiatan gereja setempat.

Pemimpin harus memikul tanggung jawab bagi pertumbuhan. Menurut Wagner dalam
bukunya “Memimpin Gereja Anda Agar Bertumbuh” mengatakan bahwa kebanyakan
pertumbuhan gereja dimulai dari gembalanya. Konsep utama kepemimpinan
pertumbuhan gereja ialah gembala harus mau gerejanya bertumbuh. Dalam mengejar
pertumbuhan pasti membawa setiap pemimpin dalam tekanan emosional dan benturan-
benturan komunikasi atau paradigma. Peter Scazzero dalam bukunya “Gereja Yang Sehat
Secara Emosional” menyatakan bahwa: kesehatan yang menyeluruh dari gereja atau pelayanan
apa pun bergantung terutama pada kesehatan emosional dan spiritual dari pemimpinnya.

Bahkan, kunci dari kepemimpinan rohani yang sukses banyak bergantung kepada
kehidupan batiniah pemimpinnya daripada kemahiran ataupun pengalaman pemimpinnya.
Seperti apa para pemimpinnya, seperti itu juga gereja yang dipimpinnya. Jadi sudah
seharusnya seorang pemimpin Kristen mampu menjaga dan mengelola emosinya,
semangatnya, dan seluruh aspek perilakunya sehari-hari dengan baik dan bijaksana.

Pemimpin tidak boleh melupakan bahwa Allah mempunyai rencana dan tujuan bagi
gereja. Pemimpin berfungsi sebagai operator lapangan dari rencana Allah. Pemimpin dituntut
untuk merancang dan menguasai secara utuh program-program gereja yang harus sesuai
dengan kehendak Allah. Pemimpin berada dalam posisi untuk mengarahkan dan
memperlengkapi jemaat untuk mencapai tujuan gereja. Dalam hal ini, pemimpin harus
berperan sebagai “bapa rohani atau mentor” bagi jemaat atau orang yang dipimpinnya.

Pemimpin harus memperlengkapi dan melakukan pemberdayaan kepada setiap


anggota jemaat untuk mencapai potensi illahi, sehingga mereka dapat berperan aktif dalam
mendukung pertumbuhan gereja sesuai dengan karunia yang dimiliki. Sebagai
pelengkap dalam mendukung pertumbuhan gereja, pemimpin harus memiliki kualitas
pemberdayaan. Menurut Tim Elmore dalam bukunya “Mentoring”, mengatakan bahwa kata lain
untuk pemberdayaan adalah istilah “mengembangkan”.

Mengembangkan berurusan dengan menumbuhkan seseorang tidak hanya untuk menjadi


dewasa dan melayani, tetapi juga untuk bermultiplikasi. Larry Stockstill dalam bukunya “Gereja
Sel Mempersiapkan Gereja Menghadapi MasaPenuaian” menyatakan bahwa: setiap orang
percaya dapat menjadi seorang pemimpin. Walaupun tingkat kepemimpinan mereka
berbeda-beda sesuai dengan kemampuan masing-masing, semua orang percaya dapat
dilatih dalam pengajaran, memperhatikan (dari gembala), memberi kesaksian, karunia
spiritual, dan melatih orang lain.

Inilah peran pemimpin yang melakukan pemberdayaan. Menurut Christian A. Schwarz


dalam bukunya “Pertumbuhan Gereja Yang Alamiah” mengatakan bahwa kualitas seorang
pemimpin dapat dilihat dari pemberdayaannya kepada orang lain dalam gereja untuk
mencapai potensi rohani yang diberikan Allah kepada mereka. Selain berfungsi
menanamkan pengaruh, seorang pemimpin dituntut mengembangkan karakter orang
lain di bawah tanggung jawabnya menjadi serupa dengan karakter Kristus.
Ini hanya bisa dilakukan dengan memberdayakan kepemimpinan dan kehidupan
rohani mereka. Myron Rush menyatakan bahwa: sebagaimana Yesus datang ke dunia untuk
melatih dua belas murid menjadi pemimpin masa depan yang bertanggung jawab
bagi perintisan gereja pertama lalu mengerahkan gereja itu menjadi titik orientasi
pelayanan sedunia, demikian juga gembala memimpin gereja sebagai seorang pelayan. Sangat
jelas bahwa untuk menjadi pemimpin pertumbuhan gereja adalah orang yang memiliki
karakter dan kemampuan memimpin yang kuat dalam gereja. Tong menyatakan bahwa
karakter bagi seorang pemimpin rohani sangat penting. Karakter menentukan berhasil atau
hancurnya karya seorang pemimpin.

Jimmy Oentoro mengatakan bahwa maju tidaknya dan jatuh bangunnya sebuah
gereja, organisasi dan bangsa, tergantung dari para [Link] pemimpin harus
rela berkorban untuk mendukung pertumbuhan gereja. Berkorban waktu, tenaga, perasaan,
pikiran, dan hal-hal materi (uang). Allah memberikan potensi itu kepada pemimpin, dan
sudah menjadi tugas pemimpin/manusia melalui usahanya yang terampil untuk
mengupayakan pertumbuhan. Tokoh utama dalam mengupayakan pertumbuhan itu adalah
pemimpin. Melalui pemimpin, gereja dibimbing kepada langkah-langkah strategis, dengan
bantuan Roh Kudus, untuk mengalami peningkatan kualitas rohani dalam jemaat dan
bertumbuh sebagaimana yang dikehendaki Allah.

Pelayanan Yang Berorientasi Pada Karunia

Allah telah menetapkan orang tertentu yang paling tepat untuk melakukan
pelayanan tertentu di gereja. Peran pemimpin gereja adalah membantu anggotanya untuk
menggenali karunia mereka dan memadukan mereka ke dalam pelayanan yang cocok dengan
karunia mereka. Ted Hagard di dalam bukunya “Gereja Yang Memberi Kehidupan”,
memberikan pernyataan tentang karunia-karunia Roh Kudus sebagai berikut:

“Roh Kudus dimanifestasikan melalui berbagai macam karunia roh untuk membangun
dan menguduskan gereja, mendemonstrasikan keabsahan kebangkitan dan
meneguhkan kuasa Injil. Daftar karunia ini di dalam Alkitab tidak mesti
melelahkan, dan karunia-karunia itu bisa terjadi dalam berbagai kombinasi. Semua
orang percaya diperintahkan untuk sungguh-sungguh merindukan manifestasi
karunia-karunia ini di dalam hidup mereka. Karunia-karunia selalu beroperasi di
dalam keselarasan dengan firman dan tidak boleh digunakan untuk melanggar
menurut ukuran Alkitab”.

Setiap hamba Tuhan atau orang percaya membutuhkan karunia rohani dalam
pelayanan. Karunia rohani tidak dapat diberikan oleh manusia, hanya Roh Kudus yang
empunya karunia, yang mampu dan dapat memberikan karunia rohani kepada hamba
Tuhan atau orang percaya sesuai dengan kehendak-Nya sendiri untuk melengkapi setiap
hamba Tuhan atau orang percaya dalam pelayanan dan pertumbuhan gereja-Nya di muka bumi
ini (1 Korintus12-14, Efesus 4, Roma 12). Pelayanan yang berorientasi pada karunia sangat
mendukung pertumbuhan gereja, sehingga pelayanan menjadi lebih efektif dan lebih
maksimal.

Kerohanian Yang Haus Dan Penuh Antusiasme

Christian A. Schwarz dan Christoph Schalk dalam bukunya “Pedoman Penerapan


Praktis Pertumbuhan Gereja Alamiah” menyatakan bahwa rahasia gereja yang bertumbuh jelas
tidak tergantung pada gaya khusus kerohanian mereka (kharismatik, nonkarismatik, liturgis,
nonliturgis, dan sebagainya). Tetapi pertumbuhan itu justru dipengaruhi oleh tingkat
kehausan jemaat dimana iman hidup di tengah-tengah mereka.

Sehubungan dengan pertumbuhan gereja bahwa kenyataan yang penting


bukanlah bagaimana cara kerohanian diekspresikan, melainkan kenyataan bahwa iman dihayati
dan diamalkan berdasarkan komitmen, berapi-api, dan antusiasme. Tingkat kehausan rohani
jelas merupakan titik yang memisahkan gereja yang bertumbuh dengan yang tidak bertumbuh.
Gereja yang menjalani imannya dengan kegairahan yang penuh kehausan akan tetap
mengalami sukses walaupun dengan banyak metode berbeda. Sebaliknya, gereja yang
kekurangan dalam bidang ini, metode terbaik sekalipun tidak dapat menyelesaikan apapun.
Ibarat mesin modern yang bagus, tapi tidak memiliki bahan bakar (bensin), tidak ada
energi maka semua itu tidak ada gunanya.

Kerohanian yang haus dan penuh antusiasme dapat mengalir dan selalu muncul
“dengan sendirinya” ketika hubungan pribadi dengan Kristus ditingkatkan. Tanpa hubungan
pribadi dengan Kristus, tidak ada “gaya kerohanian” yang dapat mencapai tujuan tersebut.

Struktur Pelayanan Yang Tepat Guna

Kriteria yang paling penting untuk bentuk dan struktur di dalam gereja adalah jika
mereka memenuhi tujuan mereka atau tidak. Struktur gereja sendiri tidak pernah menjadi
tujuan, tetapi selalu hanya merupakan sarana untuk mencapai suatu tujuan. Struktur apa
pun yang tidak memenuhi persyaratan ini, lebih baik diubah atau dinonaktifkan. Melalui
proses pembaruan diri ini, kebiasaan yang bersifat tradisi dapat dipertahankan bila
masih efektif. Pada umumnya yang menyebabkan gereja itu tidak sehat dalam bidang ini
adalah kecenderungan orang untuk menjadi semakin tradisional.

Tradisionalisme berarti bentuk gereja harus tetap sama karena saya sudah terbiasa
dengan bentuk tersebut. Bukan kebetulan bahwa tradisonalisme merupakan faktor yang
paling berakibat negatif dalam pertumbuhan gereja. Sangat penting untuk disadari dan
dipahami bahwa masalah struktur pelayanan yang tepat guna sama sekali bukan masalah
sekunder, melainkan memiliki arti rohani yang penting. Tujuannya adalah untuk semakin
mengembangkan struktur gereja yang dapat menunjang proses pertumbuhan gereja
semaksimal mungkin. Ibadah Yang Membangkitkan Inspirasi Roh Kudus (dalam kata Latin
“spiritus”) adalah pribadi yang “menginspirasi”. Selain Roh Kudus tidak ada pribadi lain
yang dapat membangkitkan inspirasi. Ibadah tidak boleh “memadamkan api Roh”.

Semua bagian pelayanan gereja, mulai dari pengaturan tempat duduk, musik, dan
penyampaian khotbah, seharusnya menjadi sarana dialaminya. Roh dan kasih Allah dalam
komunitas orang percaya. Faktor penentu untuk pertumbuhan gereja tidak dilihat dari model
ibadah, seperti menggunakan pendekatan yang liturgis atau lebih mengalir bebas. Sebaliknya,
kriteria utamanya adalah sesuatu yang lain: apakah ibadahnya merupakan pengalaman yang
membangkitkan inspirasi bagi mereka yang menghadirinya? Bidang inilah yang secara
jelas memisahkan gereja yang bertumbuh dengan gereja yang tidak bertumbuh.

Ibadah yang membangkitkan inspirasi merupakan salah satu sarana yang


mendukung proses pertumbuhan gereja. Kelompok Kecil Yang Dapat Menjawab Kebutuhan
Secara Menyeluruh. Wolfgang Simson dalam hal prinsip pertumbuhan alamiah
mengatakan bahwa: prinsip-prinsip alamiah memanfaatkan jumlah minimum untuk
memperoleh hasil-hasil maksimum, dan semuanya itu terjadi “dengan sendirinya”. Gereja
yang bertumbuh biasanya telah mengembangkan suatu sistem kelompok kecil di mana setiap
orang kristen dapat berkomunitas dengan intim, mendapat pertolongan sehari-hari, demikian
juga dukungan pertumbuhan rohani yang intensif.

Tujuan kelompok kecil menurut P. Tuhumury dalam bukunya “Strategi Pelayanan


Sel” adalah sebagai berikut:

1) Saling memperhatikan. Hal yang paling sulit dialami dalam ibadah rayaialah
saling mempedulikan. Dalam sel yang sehat, Kristus bekerja memberkati setiap
anggota, sehingga setiap orang menerima dan memiliki hidup Kristus, saling
mengasihi dengan kasih Kristus, saling menolong, dan saling membantu.
2) Penjangkauan keluar. Pertumbuhan rohani yang sehat tidak dapat dipisahkan dari
upaya untuk mengasihi yang terhilang dalam dosa. Sebaliknya, kasih Kristus
yang dialami dalam kelompok sel adalah dorongan kuat untuk menjangkau jiwa
bagi Tuhan. Tugas ini dapat dikerjakan oleh setiap orang, tetapi akan lebih
efektif bila dilaksanakan dalam kelompok sel.
3) Mengembangkan karunia rohani. Banyak orang percaya hidup tanpa mengetahui
dengan jelas karunia apa yang dimilikinya, Itulah sebabnya, ia tidak bertumbuh
secara sehat dan kurang giat dalam pekerjaan Tuhan. Tentu ada banyak alasan, tetapi
salah satunya yang penting ialah orang itu tidak berada dalam satu kelompok
kecil yang dapat saling memperhatikan atau saling mendoakan dan saling
mendorong dalam pertumbuhan.
4) Mempersiapkan gereja di masa sulit. Kelompok sel bukan hanya
mempersiapkan orang Kristen agar hidup dalam anugerah Allah, tetapi juga
menolong orang Kristen agar dapat bertahan terus di masa-masa sulit. Kelompok
sel dapat berlangsung di mana-mana, di rumah anggota atau di ruangan yang
sederhana, itulah salah satu cirinya yang dinamis.

Inilah sesungguhnya elemen konsep dari keseluruhan Alkitabiah. Dalam kelompok


sel, orang tidak hanya mendalami isi Alkitab atau mendengarkan penguraian yang menarik
dari seorang pakar atau pengkotbah yang hebat, tetapi mereka menerapkan kebenaran
Alkitabiah ke dalam kehidupan sehari-hari. Kelompok kecil orang Kristen bukanlah suatu
pilihan hobi dan kesenangan yang dilakukan bila ada waktu. Hal ini adalah pokok kehidupan
yang sebenarnya dari gereja Yesus Kristus yang terdapat dalam kelompok-kelompok
kecil. Kelompok kecil yang menjawab kebutuhan secara menyeluruh harus diarahkan
untuk bermultiplikasi dan menyertakan lebih banyak orang dalam persekutuan mereka
sehingga hal ini merupakan salah satu sarana yang efektif untuk mendukung proses
pertumbuhan gereja.

Penginjilan Yang Berorientasi Pada Kebutuhan

Tidak dapat disangkal bahwa pertumbuhan gereja tidak dapat terjadi tanpa
penginjilan. Gereja tidak dapat bertumbuh tanpa melalui proses penyampaian kabar baik
untuk membawa lebih banyak orang ke dalam gereja atau menerima Yesussebagai Tuhan
dan Juruselamat. Proses ini disebut penginjilan. Billy Graham dalam bukunya “Beritakanlah
Injil, Standar Alkitabiah Bagi Penginjil” mengatakan bahwa: Tragis sekali, gereja sering
terlena dan tidak melihat pentingnya ada pemberita Injil sebagaimana yang ditekankan
oleh Alkitab. Akibatnya, gereja menjadi dingin dan seolah-olah mati, jumlahnya berkurang
dan dampak rohaninya pun menurun. Akan tetapi kalau gereja sudah kembali
memperhatikan pentingnya karunia pemberita Injil, Tuhan memberkati gereja itu dengan
panen rohani yang melimpah.

Jadi, penginjilan yang berorientasi pada kebutuhan sangat diperlukan untuk


mendukung pertumbuhan gereja. Rahasia sukses dalam menyampaikan Injil adalah
dengan cara “menjawab” kebingungan dan memenuhi kebutuhan mereka yang belum percaya
dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Hubungan Yang Penuh Kasih

Gereja-gereja yang bertumbuh memanifestasikan “derajat kasih” yang jauh lebih hangat
daripada gereja yang tidak bertumbuh. Hubungan kasih antara pemimpin gereja, para
pekerja, dan anggota jemaat di luar kegiatan rutin atau acara pertemuan ibadah di gereja
sangat berkaitan erat dalam mendukung pertumbuhan suatu gereja. Kasih yang nyata dan tidak
berpura-pura dapat menghidupkan gereja dengan kekuatan daya tarik yang lebih besar
dibandingkan semua upaya dan prinsip pemasaran “dunia” ini. Kasih sejati menyebarkan
wangi-wangian yang memikat dan sulit untuk menolaknya. Sudah seharusnya setiap
orang percaya memiliki hubungan yang penuh kasih, sehingga mereka yang belum percaya
dapat melihat kasih
Kristus melalui hidup orang percaya. Hubungan yang penuh kasih perlu
ditingkatkan kualitasnya, karena hal ini merupakan salah satu sarana pendukung dalam proses
pertumbuhan gereja.

PENTINGNYA PERENCANAAN STRATEGIS DALAM PERTUMBUHAN GEREJA

Salah satu ciri organisme atau mahluk hidup adalah pertumbuhan, pertumbuhan adalah
salah satu ciri atau tanda dari kehidupan, tetapi bukan saja organisme yang mengalami
pertumbuhan, organisasi juga dalam hal ini gereja Tuhan harus mengalami pertumbuhan,
megapa ? karena ini adalah tanda gereja Tuhan yang sehat. Beberapa arti pertumbuhan gereja:
Pertumbuhan gereja ialah segala sesuatu yang mencakup soal membawa orang-orang yang tidak
mempunyai hubungan pribadi dengan Yesus Kristus ke dalam persekutuan dengan Dia dan
membawa mereka menjadi anggota gereja yang bertanggung jawab.

(C. Peter Wagner) Pertumbuhan gereja ialah kenaikan yang seimbang dalam kualitas,
kuantitas dan kompleksitas organisasi gereja local. (Ron Jenson Dan Jim Stevens) Pertumbuhan
gereja ialah berkurangnya penduduk Neraka dan bertambahnya penduduk Surga. Dalam
pertumbuhan gereja ada tiga komponen pertumbuhan arah yang kita harapkan dapat tercapai,
yaitu Pertumbuhan secara Kuantitas, Pertumbuhan secara Kualitatif dan Pertumbuhan secara
Organisasi.

1. Pertumbuhan Kuantitatif.

Pertumbuhan Gereja secara kuantitaf atau jumlah adalah alkitabiah karena disebut dalam
Alkitab khususnya dalam kitab Kisah Para Rasul. Gereja mula-mula bertumbuh secara
kuantitatif:

 Jumlah jemaat pemula 120 orang. (Kis 1:15);


 Bertambah menjadi 3.120 orang (Kis 2:41);
 Bertambah menjadi 5.000 orang (Kis 4:4);
 Bertambah terus menjadi puluhan ribu orang percaya (Kis 6:7; 11:21; 21:20)

2. Pertumbuhan Kualitatif

Dalam Kisah Para Rasul 2:42-47; 4:32-37 dijelaskan tentang gereja mula-mula yang
mengalami pertumbuhan kualitatif baik dalam hubungan mereka dengan Tuhan (vertikal)
maupun dalam hubungan mereka dengan sesama (horizontal). Pertumbuhan kualitatif itu
nampak dalam hal:

 Adanya perubahan tingkah laku dan karakter, di mana mereka hidup dalam
”ketakutan” (ayat 43), ”kesatuan” (ayat 44), dan ”kasih” (ayat 45).
 Adanya ketekunan dalam pengajaran Rasul-Rasul, dalam persekutuan, dalam
doa, dan dalam ibadah bersama (ayat 42,47).
 Adanya pengorbanan harta benda untuk keperluan sesama dan pelayanan (ayat
45).

3. Pertumbuhan Organik.

Pertumbuhan gereja secara organik dicerminkan dalam perkembangan organisasi


dan struktural. Gereja adalah organisme yang kompleks yang harus memenuhi
kebutuhan-kebutuhan yang berbeda. Apabila kebutuhan itu tidak terpenuhi, maka akan
timbul berbagai masalah. Akibatnya mungkin gereja akan berhenti bertumbuh secara
kualitatif karena gereja tidak mengembangkan kepemimpinan yang cakap dan cukup
untuk melayani anggota jemaat. Semantara gereja bertumbuh secara kuantitatif dan
kualitatif, gereja harus bertumbuh juga secara organik. Dengan demikian akan dapat
mempertahankan pertumbuhanya.
Hal ini sangat jelas dalam gereja mula-mula dalam Kisah Para Rasul 6, bahwa
ketika jumlah murid makin bertambah, maka muncullah persungutan diantara orang-
orang Yahudi karena pembagian kepada janda-janda diabaikan. Hal itu terjadi karena
jumlah anggota telah mencapai ribuan orang, sedangkam yang melayani sangat kurang.
Dengan adanya masalah itu maka para Rasul mulai mengembangkan kepemimpinan
untuk melayani anggota jemaat, dengan memilih tujuh orang dari antara mereka yang
penuh iman dan Roh Kudus untuk melayani. Dengan demikian, Firman Allah makin
tersebar dan jumalah murid bertambah banyak.

Jika kita ingin agar supaya ketiga komponen pertumbuhan tersebut bertumbuh
seimbang dan saling mendukung, maka gereja harus menjadi suatu persekutuan
(organisasi) yang sehat sehingga berdampak pada tingkat pertumbuhan secara kualitatif
maupun kuantitas. Untuk mewujudkan hal tersebut gereja sebagai suatu persekutuan
harus memiliki suatu perecanaan jangka panjang untuk dapat menjawab pertanyaan dasar
: “Siapakah kita?, “Kemana kita pergi?”, “Bagaimana kita ke sana?”, “Apa makna
(keberadaan) kita?”

Membantu gereja mengungkapkan visinya dan mengidentifikasi langkah-langkah


menuju visi tersebut. Pendekatan yang berkelanjutan atas pemikiran strategis terhadap
pelayanan masa depan. Menciptakan fokus dan kemampuan gereja terhadap perubahan
internal-eksternal dalam perjalanannya. Suatu proses agar gereja melihat dirinya dan
lingkungannya dan berusaha mengoptimalkan “fungsi” dan keberadaannya bagi
lingkungan tersebut.

Suatu studi baru-baru ini tentang hubungan antara proses perencanaan jangka
panjang dan keefektifan pelayanan yang dilakukan di tengah-tengah para pendeta senior
ditemukan bahwa[3] : Gereja-gereja yang lebih besar (jemaatnya terdiri dari 2.500 orang
atau lebih) di Jakarta cenderung melakukan perencanaan jangka panjang secara tertulis.
Kebanyakan gereja telah menggunakan perencanaan jangka panjang selama kurang lebih
tiga tahun dan telah mencapai peningkatan pengunjung 100 persen, dua kali rata-rata
tingkat pertumbuhan yang dialami oleh gereja-gereja yang tidak menggunakan
perencanaan jangka panjang.

Keefektifan pelayanan ditingkatkan dengan rencana tahunan dan rencana jangka


panjang secara tertulis. Kekurangan dalam perencanaan tertulis ( tahunan / jangka
panjang ) merintangi kemampuan maupun efektivitas gereja / pendeta dalam melayani
jemaat ( masyarakat ).

Apakah Perencanaan itu ?

Perencanaan dapat didefenisikan sebagai “Suatu aktivitas manajerial yang mencakup


menganalisa lingkungan, menetapkan tujuan, menentukan tindakan yang khas yang diperlukan
untuk mencapai tujuan, dan juga untuk memberikan umpan balik atas hasil yang dicapai”. Ada
beberapa Type Perencanaan, tetapi kebanyakan dapat dikategorikan dalam 2 (dua) type Strategis
atau Taktis.

Rencana-rencana yang strategis meliputi suatu periode waktu yang panjang dan dapat
disebut Rencana Jangka Panjang. Rencana-rencana jangka panjang mempunyai cakupan yang
luas dan pada dasarnya menjawab pertanyaan bagaimana suatu organisasi harus menggunakan
sumber dayanya selama lima hingga sepuluh tahun berikutnya. Rencana-rencana strategis
tersebut tidak terlalu sering diubah demi merefleksikan perubahan-perubahan dalam lingkungan
atau keseluruhan arah pelayanan.

Rencana-rencana taktis meliputi suatu periode waktu yang pendek, biasanya setahun atau
kurang dari setahun. Rencana taktis disebut juga Rencana Jangka Pendek atau Rencana
Operasional. Rencana-rencana ini menentukan apa yang harus dikerjakan pada satu tahun
tertentu untuk menggerakkan organisasi menuju tujuan jangka panjang. Dengan kata lain, apa
yang kita kerjakan tahun ini (jangka pendek) perlu dihubungkan dengan kemana kita hendak
berada dalam lima tahun sampai sepuluh tahun mendatang (jangka panjang)

KONDISI PERENCANAAN GEREJA MASA KINI

Kenyataannya kebanyakan gereja dan pelayanan yang telah terlibat dalam perencanaan
lebih berfokus pada jangka pendek dari pada jangka panjang, yang berarti bahwa setiap rencana
tahunan tersebut tidak berhubungan dengan segala sesuatu yang sifatnya jangka panjang dan
biasanya gagal dalam menggerakkan organisasi ke arah yang diinginkan pada masa depan.

Lebih lanjut Alvin J. Lindgren mengamati bahwa : “Kebanyakan gereja tidak terlibat
dalam perencanaan jangka panjang yang sistematis. Barangkali inilah alasan mengapa gereja
belum mampu menjangkau masyarakat dan mengubah masyarkat dengan lebih efektif. Banyak
gereja yang beroperasi berdasarkan perencanaan yang payah (parah). Mereka
mempertimbangkan berbagai masalah yang mendesak dalam setiap pertemuan pengurus tanpa
menempatkan maalah-masalah itu dalam perspektif yang tepat dalam kaitannya dengan masa
lampau maupun masa depan”.

Lebih lanjut untuk menganalisa apakah gereja kita telah memiliki perencanaan yang
strategis (jangka panjang) pertimbangkanlah pertanyaan-pertanyaan berikut ini :

 Apakah anda tahu kemana anda pergi dan bagaimana Anda bisa sampai kesana
 Apakah setiap orang tahu apa yang sedang Anda coba capai? apakah setiap
orang yang terlibat mengetahui apa yang diharapkan?

Jika jawaban salah satu pertanyaan adalah tidak, gereja Anda atau pelayanan Anda perlu
mengembangkan suatu rencana jangka panjang dengan melibatkan sebanyak mungkin orang.
Ada tiga alasan mengapa Perencanaan tidak dilaksanakan dalam gereja dan pelayanan saat ini,
yakni[5] :

A. Kurangnya Pelatihan Manajemen


Kebanyakan pendeta mempunyai pendidikan dan pengalaman manajemen yang
kurang memadai sebelum memasuki kegiatan pelayanan dan mereka menghabiskan
waktu melakukan fungsi pastoral karena dalam bidang itulah mereka terlatih.
Selanjutnya, sedikit gereja yang dapat mengumpulkan sekelompok warga jemaat yang
berpendidikan atau memiliki keterampilan menajemen. Dengan demikian, perencanaan,
penetapan tujuan (sasaran), dan Fungsi manajemen lainnya sebagaian besar justru
diabaikan.
B. Perencanaan Dianggap Tidak Alkitabiah
Penerapan dan penetapan tujuan dari tipe strategis sebagian besar dengan sengaja
diabaikan atau dihindari oleh gereja-gereja. Keengganan menerapkan perencanaan
bertitik tolak dari kenyataan bahwa banyak orang memandang penerapan perencanaan
yang strategis ini tidak tepat dan tidak rohani (Van Auken dan Johnson, 1984). sebagian
merasa gereja bukanlah perusahaan bisnis, mereka seharusnya tidak diatur sedemikian
rupa.
Suatu studi yang cermat tentang Alkitab menunjukkan bahwa orang-orang
percaya patut dan harus melakukan perencanaan untuk urusan-urusan mereka sehari-
hari. Apakah yang dikatakan oleh Alkitab tentang perencanaan? Kita percaya bahwa
Roh Kudus menolong kita untuk mengetahui kehendak dan tindakan Allah. Kita
melakukan yang terbaik, kemudian meminta Allah memberikan yang terbaik. Roh kita
dikuatkan ketika rencana yang benar berada dalam kehendak Allah. Pertimbangkanlah
ayat-ayat ini :
 Mazmur 20 : 5 : “Kiranya diberikan-Nya kepadamu apa yang kau
kehendaki dan dijadikanNya berhasil apa yang kau rancangkan”.
 Mazmur 127:1 : “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah,
sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang
mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga”.
 Amsal 15 : 22 : “Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi
terlaksana kalau penasihat banyak”
 Amsal 16 : 3 : “Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka
terlaksanalah segala rencanamu”.
 Amsal 16 : 9 : “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi
TUHANlah yang menentukan arah langkahnya”.
 Amsal 20 : 18 : “Rancangan terlaksana oleh pertimbangan, sebab itu
berperanglah dengan siasat”.
 Lukas 14 : 28 : “Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau
mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran
biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu
?”
 Kolose 3 : 23 : “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan
segenap hatimu seperti untuk Tuhan bukan untuk manusia”.

Tokoh – tokoh Alkitab yang mengunakan perencanaan adalah [6]:

MUSA

Kita dapat melihat dengan jelas dalam Injil bahwa Musa adalah seseorang yang strategis
— atau setidaknya ia belajar menjadi seseorang yang strategis. Musa berjuang sebagai pemimpin
setelah ia memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Ayah mertuanya, Yitro, datang
menemuinya setelah mendengar perkara besar yang Tuhan lakukan. Yitro melihat bahwa Musa
dipenuhi dengan beban kepemimpinan dan memberikan rencana pemberian Tuhan — sebuah
strategi — untuk menghadapi masalah yang dialaminya. Yitro mengajar Musa bagaimana
menetapkan rencana strategis dengan mendelegasikan tugas sehingga ia tidak menanggung
beban seorang diri. Hasilnya, tenaga manusia yang ada saat itu digunakan dengan lebih efektif
dan tujuannya tercapai. Musa juga berpikir strategis saat dia mengirim mata-mata ke tanah
Kanaan.

YOSUA

Yosua, anak didik Musa, juga menampilkan kepemimpinan yang strategis. Dalam Yosua
6, Tuhan memberi Yosua sedikit pelajaran tentang pemikiran yang strategis. Yosua akan
membawa bangsa Israel ke Tanah Perjanjian, mereka menghadapi musuh pertama di Tanah
Perjanjian itu. Mereka menghadapi yang namanya tembok Yerikho. Tuhan memberi Yosua
sebuah strategi. Ia bisa saja turun dari surga dan memorak-porandakan kota Yerikho, namun
Tuhan memilih untuk bekerja melalui sebuah strategi yang melibatkan umat-Nya. Tuhan terus
bekerja melalui anak-anak-Nya sampai sekarang.

NEHEMIA

Nehemia adalah seorang pemimpin yang ditunjuk Allah yang menggunakan strategi
dalam memimpin. Saat Tuhan memberinya tugas kepemimpinan untuk membangun kembali
tembok Yerusalem, Nehemia mulai menetapkan dan kemudian bekerja melalui strategi yang
direncanakan dengan baik untuk mencapai visi yang Tuhan berikan. Ia menilai kerusakannya. Ia
mengamankan sumber-sumber yang ada. Ia memilih pemimpin-pemimpin dan memberi mereka
tugas. Semua orang yang pernah membuat sebuah bangunan, dari sebuah rumah anjing sampai
rumah tiga kamar, akan mengakui pemikiran strategis Nehemia — membangun terlebih dulu
tembok kota Yerusalem.
DAUD

Sejak kecil, Daud adalah seorang pemikir yang strategis. Ia tidak mengalahkan Goliat
dengan kekuatannya atau kehebatan senjata yang dimilikinya. Dia mengalahkan Goliat dengan
menggunakan strategi yang diberikan Tuhan kepada-Nya yang menunjukkan kelemahan
lawannya. Kemudian, sebagai pemimpin pasukan, Daud menggunakan strategi dalam berperang.
Daud memerlukan orang-orang yang dapat memikirkan dan merencanakan segala sesuatu
dengan strategis, dan Tuhan memberikannya bani Isakhar (1 Taw. 12:32).

YESUS

Perjanjian Lama dipenuhi dengan teladan-teladan pemimpin yang menetapkan rencana


strategis dan melaksanakannya. Bagaimana dengan Perjanjian Baru? Kita dapat melihat Yesus
sebagai teladan yang luar biasa dalam hal penerapan strategi. Ia memulai misi-Nya dengan
memilih murid-murid, mengembangkan mereka, kemudian mengirim mereka “sampai ke ujung
bumi” (Kis. 1:8). Strateginya meliputi beberapa pengajaran di hadapan publik dan mukjizat.
Akhirnya, strategi-Nya membawanya sampai kepada salib, kubur, dan kebangkitan. Yesus
Kristus mengerti benar rencana untuk menebus semua manusia jauh sebelum Ia meninggalkan
surga untuk kemudian menjalankan rencana-Nya tersebut.

PAULUS

Rasul Paulus, pemain kunci yang mendirikan gereja mula-mula, memiliki strategi. Jelas
sekali jika kita baca perjalanan pelayanannya, Paulus memilih kota-kota penting untuk
mendirikan pangkalan pelayanannya. Ia memilih kota-kota di mana kemungkinan ia dapat
memberi dampak besar kepada sebanyak mungkin orang. Efesus, misalnya, adalah pintu gerbang
menuju Asia kecil.

Keuntungan Perencanaan dalam gereja dan pelayanan

Pada dasarnya ada dua alasan membuat perencanaan yaitu :

 Manfaat protektif, yakni berkurangnya kemungkinan membuat kesalahan dalam


pengambilan keputusan dan
 Manfaat positif, yaitu bertambahnya keberhasilan dalam mencapai sasaran
pelayanan.

Lebih penting lagi perencanaan jangka panjang dapat menjadi sebuah sarana pembaruan
dalam kehidupan jemaat jika hal-hal berikut diperhatikan :

Kesatuan jemaat dapat dicapai hanya jika semua segi kehidupan gereja melihat dirinya
sendiri sebagai bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar dengan satu sasaran tunggal; Jika
perencanaan kurang hati-hati, maka sering terjadi persaingan antara kelompok-kelompok dalam
gereja dan meniru pekerjaan antara yang satu dengan yang lain. Tanpa perencanaan yang
terorganisasi, kelompok-kelompok dalam gereja dapat merasa dirinya sebagai suatu tujuan pada
dirinya sendiri dan kehilangan perspektif dalam hubungannya terhadap gereja Perencanaan
jangka panjang dibutuhkan karena besarnya tugas gereja (Lingren,1965).

Gereja dapat memperoleh keuntungan dari proses perencanaan ini karena proses yang
sistematis dan berkelanjutan ini memungkinkan kita untuk : Menganalisa posisi gereja, yaitu
dengan cara analisis SWOT (singkatan dari Strengths, weaknesses, Opportunities, Threats) yang
menilai kekuatan, kelemahan internal gereja serta kesempatan atau peluang dan ancaman dari
eksternal gereja. Tanpa perencanaan yang jelas dan berkelanjutan mustahil unsur ini diketahui.
Menentukan Tujuan, sasaran, priorotas, dan strategi yang dilengkapi dalam periode tertentu.
Perencanaan akan memampukan gereja untuk menilai sasaran yang telah ditetapkan dan akan
menolong memotivasi Majelis Jemaat dan Anggota Jemaat untuk bekerja bersama-sama guna
mencapai tujuan bersama. Mencapai komitmen dan kerjasama yang lebih besar dari para Penatua
/ Diaken dan anggota jemaat yang diarahkan untuk menghadapi tantangan dan menanggulangi
masalah yang ditimbulkan oleh kondidi-kondisi yang berubah-ubah, Mengarahkan sumber
dayanya untuk menghadapi perubahan-perubahan tersebut melalui antisipasi dan perisiapan.
“Menyesuaikan diri atau mati” adalah suatu peringatan yang sangat tepat

Bagaimana dengan gereja kita? Apakah ketiga komponen pertumbuhan gereja itu telah
berjalan seimbang? Ingat, kehidupan bergereja tidak cukup hanya dengan ‘4-D’ (Datang,
Duduk, Diam-dengar firman Tuhan-, dan Duit-persembahan). Sangatlah baik Jemaatnya dapat
menjadi berkat bagi orang lain, baik lewat kesaksian secara verbal yang mereka beritakan
tentang Yesus kepada sesama maupun lewat kehidupan nyata mereka sehari-hari, serta akan
lebih baik kehadiran gereja dan pelayanan dapat membawa dampak yang baik bagi masyarakat.

Common questions

Didukung oleh AI

Sonny Eli Zaluchu menyatakan bahwa pemimpin merupakan faktor dasar dari pertumbuhan gereja. Pemimpin harus memikul tanggung jawab untuk pertumbuhan dengan menjaga doktrin, program, dan kegiatan gereja. Pemimpin gereja harus memiliki kesehatan emosional dan spiritual yang baik karena ini sangat mempengaruhi kesehatan dan kesuksesan gereja .

Menurut Yunus Cipta Wilangga dan Matius Heryanto, tiga segmen yang mendukung pertumbuhan gereja adalah pertumbuhan biologis, perpindahan anggota, dan pertobatan jiwa baru. Di antara ketiga segmen tersebut, pertobatan jiwa baru dianggap paling efektif dalam mendukung pertumbuhan gereja karena sejalan dengan Amanat Agung Yesus .

Perencanaan dianggap tidak alkitabiah karena beberapa orang berpendapat bahwa gereja bukanlah perusahaan bisnis dan seharusnya tidak diatur secara strategis. Pandangan ini mengakibatkan gereja gagal menjangkau dan mengubah masyarakat secara efektif karena tidak memiliki arah dan tujuan jangka panjang yang jelas .

Perencanaan jangka panjang penting karena gereja-gereja yang menerapkannya cenderung mengalami peningkatan kunjungan dua kali rata-rata pertumbuhan dibanding yang tidak. Ini membantu dalam menetapkan tujuan yang jelas dan menyelaraskan semua kegiatan dengan visi jangka panjang yang meningkatkan efektivitas pelayanan .

Ron Jenson dan Jim Stevens mendefinisikan pertumbuhan gereja sebagai kenaikan yang seimbang dalam kuantitas, kualitas, dan kompleksitas organisasi sebuah gereja lokal. Mereka berpendapat bahwa pertumbuhan kualitas gereja akan diikuti dengan pertumbuhan kuantitas dan organisasi .

Manfaat protektif perencanaan mengurangi kemungkinan kesalahan dalam pengambilan keputusan. Manfaat positifnya meningkatkan keberhasilan mencapai sasaran pelayanan serta dapat memperbarui kehidupan jemaat jika semua terlibat dalam proses ini dan memiliki kesatuan tujuan .

Pertumbuhan organik gereja dicerminkan melalui perkembangan organisasi dan struktural. Ini terjadi ketika masalah manajemen yang muncul akibat pertumbuhan kuantitatif dan kualitatif diatasi dengan pengembangan kepemimpinan yang melayani dan memenuhi kebutuhan jemaat, seperti yang terjadi dalam Kisah Para Rasul 6 .

Daud menggunakan strategi yang diberikan Tuhan untuk mengalahkan Goliat bukan dengan kekuatan fisiknya melainkan melalui pemahaman kelemahan lawannya. Sebagai pemimpin pasukan, Daud memerlukan orang-orang yang dapat merencanakan dengan strategis, seperti yang dilakukan oleh bani Isakhar .

Kepemimpinan rohani berpusat pada teladan Yesus Kristus dan memiliki potensi pengaruh dari Allah. Efektivitasnya bergantung pada kesehatan emosional dan spiritual pemimpin. Pemimpin yang sehat dapat memberdayakan jemaat dan memungkinkan gereja bertumbuh baik secara kualitatif maupun kuantitatif .

Pelayanan yang berorientasi pada karunia didasarkan pada manifestasi karunia Roh Kudus yang membangun dan menguduskan gereja. Pelayanan ini diorientasikan agar setiap orang percaya memahami dan menggunakan karunia rohani mereka untuk mendukung pertumbuhan gereja secara efektual .

Anda mungkin juga menyukai