100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
288 tayangan22 halaman

Pemilu dalam Ilmu Politik Indonesia

Buku ini membahas tentang pemilihan umum di Indonesia sebagai salah satu cara bagi rakyat untuk berpartisipasi dalam sistem demokrasi perwakilan. Pemilihan umum merupakan instrumen penting untuk menyatakan pilihan dan preferensi politik rakyat. Buku ini juga menjelaskan definisi pemilihan umum dari berbagai sudut pandang dan jenis-jenis sistem pemilihan umum yang ada."

Diunggah oleh

Markuso Simamora
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
288 tayangan22 halaman

Pemilu dalam Ilmu Politik Indonesia

Buku ini membahas tentang pemilihan umum di Indonesia sebagai salah satu cara bagi rakyat untuk berpartisipasi dalam sistem demokrasi perwakilan. Pemilihan umum merupakan instrumen penting untuk menyatakan pilihan dan preferensi politik rakyat. Buku ini juga menjelaskan definisi pemilihan umum dari berbagai sudut pandang dan jenis-jenis sistem pemilihan umum yang ada."

Diunggah oleh

Markuso Simamora
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PEMILIHAN UMUM (PEMILU)

TUGAS INDIVIDU
CRITICAL BOOK REPORT

OLEH :

[Link] MUHAJIR

190902011

KELAS REGULER-A(GANJIL) 2019

DOSEN PENGAMPU : [Link] [Link]

PROGRAM STUDI S1 ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL –


FAKULTAS ILMU-ILMU SOSIAL –ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
saya kesempatan dalam menyelesaikan makalah ini, sehingga kritik buku (critical book
report) ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Terimakasih saya ucapkan kepada Bapak.
[Link] [Link] selaku dosen pengampu mata kuliah Pengantar Ilmu Politik yang telah
membimbing kami mahasiswa/i semester 1 tahun ajaran 2019/[Link] Terimakasih Saya
Ucapkan Kepada Teman Saya Fadhillah Triayu Dan Yulia Ramadhani atas masukkan dan
saran nya Yang telah membantu saya dan meluangkan waktunya Dalam mencari buku
pengantar ilmu politik di perpustakaan Usu dan mensupport saya dalam mengerjakan CBR
ini Dalam makalah ini saya membahas dan menjelaskan mengenai buku yang berjudul
pengantar Ilmu politik karangan [Link] Djuyandi ,[Link],[Link] serta buku pembanding yang
yang berjudul pengantar ilmu politik karangan Yoyoh Rohaniah Dan Efriza bertujuan untuk
memberikan pengetahuan kepada para pembaca tentang Pemilu diindonesia mengingat
Indonesia adalah negara yang berdemokrasi . Selaku manusia biasa, saya menyadari bahwa
dalam hasil makalah ini masih terdapat kekurangan dan kekeliruan yang tidak disengaja.
Oleh karena itu saya sangat membutuhkan kritik dan saran,Agar kedepannya makalah yang
saya buat lebih baik baik lagi. Saya berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua,
khususnya pada mata kuliah Pengantar Ilmu Politik Program Studi Ilmu kesejahteraan sosial
Universitas Sumatra Utara

Medan, 18 Agustus 2019


Penulis

[Link] Muhajir
DAFTAR ISI

Kata Pengantar....................................................................................................................i

Daftar Isi............................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ..............................................................................................1

B. Tujuan Penulisan ...........................................................................................2

C. Manfaat Penulisan .........................................................................................2

D. Identitas Buku ...............................................................................................3

BAB II RINGKASAN

2.1 RINGKASAN BUKU UTAMA ..................................................................4

2.2 RINGKASAN BUKU PEMBANDING.....................................................16

BAB III PEMBAHASAN

3.1 PEMBAHASAN BUKU UTAMA ............................................................20

3.2 PEMBAHASAN BUKU PEMBANDING.................................................20

3.3 PERBANDINGAN BUKU UTAMA DENGAN BUKU PEMBANDING21

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan.................................................................................................22

4.2 Saran ..........................................................................................................22

Daftar Pustaka..................................................................................................................23
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan ilmu pengetahuan yang minim di karenakan rendahnya minat baca


masyarakat pada saat ini. Mengkritik buku salah satu cara yang dilakukan untuk menaikkan
ketertarikan minat baca seseorang terhadap suatu pokok bahasan. Mengkritik buku (critical
book report) ini adalah suatu tulisan atau ulasan mengenai sebuah hasil karya atau buku, baik
berupa buku fiksi ataupun nonfiksi, juga dapat diartikan sebagai karya ilmiah yang
melukiskan pemahaman terhadap isi sebuah buku.

Mengkritik buku dilakukan bukan untuk menjatuhkan atau menaikkan nilai suatu
buku melainkan untuk menjelaskan apaa danya suatu buku yaitu kelebihan atau
kekurangannya yang akan menjadi bahan pertimbangan atau ulasan tentang sebuah buku
kepada pembaca perihal buku-buku baru dan ulasan kelebihan maupun kekurangan buku
tersebut. Yang lebih jelasnya dalam mengkritik buku, kita dapat menguraikan isi pokok
pemikiran pengarang dari buku yang bersangkutan diikuti dengan pendapat terhadap isi buku.

Uraian isi pokok buku memuat ruang lingkup permasalahan yang dibahas pengarang,
cara pengarang menjelaskan dan menyelesaikan permasalahan, konsep dan teori yang
dikembangkan, serta kesimpulan. Dengan demikian laporan buku atau resensi sangat
bermanfaat untuk mengetahui isi buku selain itu, akan tahu mengenai kekurangan dan
kelebihan dari isi buku yang telah dibaca. Untuk itu, kami harapkan kepada pembaca
agar mengetahui dan memahami mengenai laporan buku atau resensi sehingga dapat
menilai isi buku tersebut dengan baik dan bukan hanya sekedar membaca sekilas buku
tersebut melainkan dapat memahami apa yang ada dalam buku tersebut secara mendalam.
B. Tujuan Penulisan Critical Book Report (CBR)
Kritik buku (critical book report) ini dibuat sebagai salah satu referensi ilmu yang
bermanfaat untuk menambah wawasan penulis maupun pembaca dalam mengetahui
kelebihan dan kekurangan suatu buku, menjadi bahan pertimbangan, dan juga menyelesaikan
salah satu tugas individu mata kuliah Ilmu Politik

C. Manfaat Penulisan Critical Book Report (CBR)

 Membantu pembaca mengetahui gambaran dan penilaian umum dari sebuah buku
atau hasil karya lainnya secara ringkas.

 Mengetahui kelebihan dan kelemahan buku yang diresensi.

 Mengetahui latar belakang dan alasann buku tersebut diterbitkan.

 Menguji kualitas buku dengan membandingkan terhadap karya dari penulis yang
penulis lainnya.

 Memberi masukan kepada penulis buku berupa kritik dan saran terhadap cara
penulisan, isi, dan substansi buku

 Melatih Mahasiswa dalam mengkritik suatu buku agar kedepannya edisi buku
yang dicetak lebih baik lagi
D. Identitas Buku
BUKU UTUMA
 Judul Buku : Pengantar Ilmu Politik

 Penulis : Yoyoh Rohaniah Dan Efriza

 Penerbit : Intrans Publishing

 Tebal Buku : 547 Halaman

 Ukuran Buku : 15,5 Cm X 23 CM

 Kota Terbit : Malang

 Tahun Terbit : September 2015

 ISBN : 978-979-3580-81-4
BUKU PEMBANDING
 Judul Buku : Pengantar Ilmu Politik

 Penulis : [Link] Djuyandi ,[Link],[Link]

 Penerbit : Rajawali pers

 Tebal Buku : 189 Halaman

 Ukuran Buku : 23 Cm

 Kota Terbit : Depok

 Tahun Terbit : April 2017

 ISBN : 978-602-425-151-2
BAB II
RINGKASAN ISI BUKU

2.1 RINGKASAN BUKU UTAMA


BAB 8 . Pemilihan Umum (pemilu )

Pemilu merupakan cara yang terkuat bagi rakyat untuk berpatisipasi didalam sistem
demokrasi perwakilan Modern .Sebuah Instrumen yang diperlukan bagi partisipasi ialah
sistem pemilu .Jika sistem ini tidak memperbolehkan warga negara untuk menyatakan
piluhan pilihan dan preferensi politik mereka ,maka pemilu bisa menjadi kegiatan yang
hampir tidak bermakna

[Link] Pemilu

Pemilu merupakan instrument dalam mewujudkan kedaulatan rakyat ,tentu saja dalam teknis
pelaksanaannya membutuhkan aturan-aturan yang spesifik ,meski demikian pemilu saja
bukanlah merupakan suatu jaminan dari demokrasi itu sendiri ,akan tetapi pemilu merupakan
cara dari didapatkannya legistimasi atas kekuasaan bagi rezim dalam memerintah .untuk
pembahasan pemilu ini ,diawali dari definisi pemilu sebagai berikut .

-Definisi pemilu terkait dengan implementasi kedaulatan rakyat

Menurut lances Castles

“pemilu merupakan sarana tak terpisahkan dari kehidupan politik negara demokrasi modern “

Menurut Dieter Nohlen

“pemilu adalah “satu-satunya metode demokratik “untuk memilih wakil rakyat “

Menurut Ibnu Tricahyo

‘pemilu merupakan isntrument mewujudkan kedaulatan rakyat yang bermaksud membentuk


pemerintahan yang absah serta sarana mengartikulasikan aspirasi dan kepentingan rakyat

-Definisi Pemilu Terkait dengan teknis pelaksanaanya

Menurut Sigit Pamungkas

“pemilu adalah arena kompetisi untuk mengisi jabatan-jabatan politik di pemerintahan yang
didadasarkan pada pilihan formal dari warga negara yang memenuhi syarat .peserta pemilu
dapat berupa perseorangan dan parpol tetapi yang paling utama adalah parpol , parpol
mengajukan kandidat dalam pemilu untuk kemudian dipilih oleh rakyat

-Menurut Indria Semego

“pemilu adalah pasar politik tempat individu atau masyarakat berinteraksi untuk melakukan
kontrak sosial {perjanjian Masyarakat}antara peserta pemilu(parpol)bagi keterlibatan rakyat
dalam jabatan-jabatan politik ini merupakan arena kompetisi yang diperebutkan secara wajar
Dan melibatkan setiap warga negara tanpa diksriminasi rasial ,suku,agama,golongan
(bangsawan dan rakyat jelata ) dan streotype lainnya yang meminimalkan partisipasi setiap
orang.”

[Link] –Macam sistem pemilu

Mengawali pembahasan ini ,kiranya perlu mengelaborasi maksud sistem pemilu secara
bahasa ,kamus besar bahasa indonesia mengartikan “sistem sebagai perangkat unsur yang
secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk totalitas .”sistem terdiri dari bebarapa
unsur dimana satu sama lain saling berkaitan untuk membentuk sesuatu yang lebih besar
yang disebut sistem .sedangkan pemilu diartikan sebagai proses,cara perbuatan memilih yang
dilakukan secara serentak oleh seluruh rakyat suatu negara

Menurut Sigit pamungkas

“Sistem pemilu sebagai seperangkat metode atau aturan untuk mentransfer suara pemilih
kedalam suatu lembaga perwakilan .

Menurut Giovanni sartori

“sistem pemilu sebagai “ sebuah bagian yang paling esensal dari kerja sistem politik .sistem
pemilu bukan hanya instrumen politik yang paling mudah dimanipulasi .ia juga membentuk
sistem kepartaian dan memengaruhi spektrum representasi .selain itu sistem pemilu adalah
sarana rakyat

Menurut Benjuino Theodore

“sistem pemilu adalah rangkain aturan yang menurutnya pemilihan mengekspresikan


preferensi politik mereka ,dan suara dari para pemilihan diterjemahkan menjadi kursi”

-Tipe-Tipe Sistem pemilu

[Link] Pemilihan Organis

Dalam pandangan G.Y .Wolhoff ,pada sistem organisme ini rakyat dipandang sebagai
sejumlah individu-individu yang hidup bersama-bersama dalam beraneka warna persekutuan
hidup seperti geneolog(rumah tangga) ,teritorial (desa-kota )Fungsional spesial (cabang
,industri) ,lapisan-lapisan sosial dan lembaga sosial .

Dalam sistem pemilihan organis ini partai-partai atau organisasi politik tidak perlu
dikembangkan ,karena pemilihan diselenggarakan dan dipimpin oleh setiap persekutuan
hidup dalam lingkungan sendiri .

Badan perwakilan menurut sistem organisme ini bersifat badan perwakilan kepentingan-
kepentingan khusus persekutuan hidup yang biasa disebut dewan korporatif .

B. Sistem Pemilihan Mekanis

Dalam pemilihan mekanis menurut Wolhoof ,rakyat dipandang sebagai massa individu-
individu yang sama .individu-individu inilah sebagai pengendali hak pilih aktif dalam
masing-masing mengeluarkan satu suara dalam tiap pemilihan untuk satu lembaga pemeri
tahan untuk satu lembaga perwakilan .
Dalam sistem mekanisme ,partai-partai atau organisasi politik mengorganisir pemilih-
pemilih dan disini partai politik berkembang baik menurut sistem satu partai ,dua partai ,dan
multipartai. Lembaga perwakilan rakyat yang terbentuk bersifat lembaga perwakilan
kepentingan rakyat seluruhnya atau menghasilkan parlemen atau dalam lembaga perwakilan
dengan satu kamar disebut DPR .Dalam praktek sistem pemilihan organis dapat dipraktikkan
dengan sistem pemilihan organis .

Sistem pemilihan mekanis biasanya dilaksanakan dengan dua pemilu ,yaitu(1) Sistem
distrik (single –member constituency yakni satu daerah pemilian memilih satu wakil dan (2)
sitem proporsional (satu daerah pemilihan memilih beberapa wakil .

- Sistem pemilihan dikstrik

Sistem distrik disebut juga sebagai sistem pemilihan mayoritas / singe-member constituency.
Sistem pemilihan distrik adalah suatu sistem pemilu yang mana wilayah suatu negara yang
menyelenggarakan suatu pemilihan untuk memilih wakil di parlemen ,dibagi atas distrik-
distrik pemiliha yang jumlahnya sama dengan kursi yang tersedia diparlemen (kursi yang
diperebutkan dalam kursi tersebut ) dan tiap dikstrik memilih hanya satu wakil untuk duduk
diparlemen dari sekian calon untuk distrik tersebut (karena itu sistem pemilihan ini sering
disebut singer member contittuecy,yaitu yang memperoleh suara terbanyak (mayoritas )dalam
pemilihan yang bersangkutan .

Sistem pemilihan ini merupakan sistem pemilihan yang paling tua dan didasarkan atas
kesatuan geografis .dalam sistem ini yang memperoleh kursi diparlemen adalah kandidat
yang memperoleh suara terbanyak ,jadi yang dipentingkan disini bukan mayoritas obsolut
,melainkan mayoritas relatif .

Dampak sistem Distrik yaitu ada kelebihandan kekurangan

Kelebihan Sistem Distrik

1. Aspek tingkat proporsionalitas perwakilan

Pada aspek ini tidak ditemukan adanya hal yang dapat dikategorikan sebagai keuntungan dari
sistem politik .persoalan utama atau yang merupakan kelemahan utama sistem distrik terletak
pada disprorsionalitas suara pemilih,dengan perolehan kursi dilembaga perwakilan .

2. Sistem kepartaian

[Link] ini dapat bertindak sebagai penghalang munculnya partai baru dan juga
berkecenderungan menghapus partai yang paling lemah

B. mendorong kearah bekerja sama serta integrasi antara partai-partai untuk memenangkan
kursi ,selain itu dorongan kearah integrasi partai-partai politij disebabkan karena kursi yang
diperebutkan dalam setiap distrik pemilihan hanya satu

C. Bagi partai besar sistem ini menguntungkan karena melalui efek distorsi dapat meraihg
suara dari pemilih-pemilih lain ,sehingga memperoleh kedudkan mayoritas \

[Link] perwakilan dan Efektivitas pemerintahan

A. Lebih mudah bagi suatu partai untuk mencapai kedudukan mayoritas dalam parlemen
,sehingga tidak perlu diadakan koalisi dengan partai lain .
[Link] sering dianggap sebuah keuntungan adalah sistemini tidak menimbulkan perpecahan
dalam parlemen dan partai kecil sekalipun dapat berkembang sehingga peranan yang
menentukan –sehingga minoritas bisa turut menentukan partai besar mana yang akan
membentuk pemerintahan dan politik mana yang akan menjalankan

[Link] wakil terpilih dan konstituen

A. Distrik wilayahnya lebih kecil ,maka pemilih dapat mengenali calon-calon wakil rakyat
yang akan dipilih distriknya .

B, Sistem ini juga dapat dimanfaatkan untuk mengintegrasikan semua potensi keragaman
kultural ,seperti keragaman ras dan etnis ,keragaman anutan agama ,tingkat sosial ekonomi .

[Link] pemlih dapat lebih melihat dan menilai penwaran yang diberikan kandidat dalam
distrik pemilihan .

5. Teknis Penyelenggaraan

A. Organisasi dari penyelengaraan pemilihan dengan sisten ini adalah sederhana ,tidak perlu
memakai banyak orang untuk duduk dalam panitia pemilihan ,juga biayanya lebih murah dan
penyelengaraanya singkat karena tidak perlu menghitung suara yang terbuang

b. Sistem distrik sederhana dan mudah diselenggarakan

Kelemahan Sistem Distrik

1. Aspek tingkat proporsionalitas perwakilan

A. Ada “distorsi “(penyimpangan) sehingga partai yang menang akan memperoleh persentase
kursi lebih banyak dari persentase suara yang diperolehnya dari masyarakat ,sehingga
menjadi “over-represented”(keterlebihan perwakilan)

B. Distorsi “(penyimpangan) kurang menguntungkan partai kecil dan golongan minoritas


.persentase kursi lebih kecil dari persentase suara sehingga “under represented “(kekurangan
perwakilan )

2. Sistem kepartaian

[Link] ini kurang representif dari partai yang ada dalam lingkunga dikstriknya

[Link] ini mendorong pertumbuhan partai-partai politik berdasarkan etnis,suku ,agama


atau wilayah yang memperkeras pembelahan sehingga memicu konflik.

3. Lembaga perwakilan dan efektivitas pemerintahan

[Link]-wakil yang dipilih cenderung lebih memerhatikan kepentingan distrik serta warga
distriknya daripada kepentingan nasional

[Link] wakil terhadap pimpinan partai tidak hanya dipandang sebagai suatu
keuntungan tetapi juga dapat dilihat dari sisi negatifnya .karena hal ini dapat mengakibatkan
tidak adanya mayoritas yang stabil dan dapat menopang ,sehingga wakil dapat dibeli oleh
pihak eksekutif untuk setiap persetujuan dengan dimintai imbalan tertentu .
[Link] wakil terpilih dan konstituen

Keputusan politik seringkali tidak politis ,karena kandidat meyakinkan para pemilih melalui
jaringan ,keanggotan keluarga tertentu atau penampilannya yang kharismatis ,sementara
politiknya sendiri sering diabaikan .bersamaan dengan itu ,meningkatkan keprihatinan
apakah para anggota akan mampu membuat kebijakan ,menjalankan kebijakan-kebijakan
yang tekah ditetapkan ,atau mengawasi kebijakan yang dijalankan

5. Penyelenggaraan

Terbuka Terhadap manipulasi batasan pemilu :yaitu pemberian kesempatan secara curang
kepada parpol atau pembagian distrik secara tidak adil

Pemilu Dengan Sistem Representasi Proporsional

Sistem pemilihan ini disebut juga sebagai sistem pemilihan ,multi-member


constituency/sistem perwakilan berimbang ,dengan menggunakan distrik-distrik wakil
majemuk ,jumlah wakil yang terpilih untuk suatu distrik ditentukan oleh persentase suara sah
yang diraih oleh partai atau kandidat peserta pemilu dalam distrik tersebut.

Sistem pemilihan proporsional adalah sistem pemilu yang mana kusi yang tersedia
diparlemen pusat untuk diperebutkan dalam suatu pemilu ,dibagikan kepada partai-partai atau
golongan-golongan politik yang turut dalam pemilihan tersebut sesuai dengan imbangan
suara yang diperolehnya dalam pemilihan yang bersangkutan .

Untuk kepentingan ini ditentukan suatu perimbangan misalnya 1:400.000 yang berarti
sejumlah 400.000 pemilih memunyai wakil diparlemen .negara dianggap sebagai satu dapil
,dan setiap suara dihitung dalam arti bahwa suara yang diperoleh dalam satu daerah dapat
ditambahkan dengan suara yang diperoleh dengan daerah yang lainnya atau suara yang lebih
dari suatu daerah dapat ditambahkan kepada suara yang diperoleh pada dapil lainnya
.sehingga besar kemungkinan setiap organisasi peserta pemilu memperoleg kursi atau wakil
diparlemen pusat .

Kelebihan Sistem Proporsional

[Link] Tingkat proporsionalitas perwakilan

A.”Multi –member constituency”dengan provinsi sebagai dapil

B. Dari aspek perwakilan politik ,untuk sistem ini terdapat lebih satu wakil dalam setiap dapil

[Link] ,karena setiap suara dihitung dan suara yang hilang terbatas

[Link] Kepartaian

Dari sudut kepartaian representatif ,karena juga memberi kesempatan kepada partai kecil dan
minoritas untuk memperoleh kursi dalam parlemen

3. Lembaga perwakilan dan Efektivitas pemerintahan

[Link]-golongan bagaimanapun kecilnya menempatkan wakilnya dalam lembaga


perwakilan rakyat
[Link] sistem ini mengenai Efektivitas pemerintahan dianggap merupakan kelemahan
dalam sistem proporsional sebab mengarah pada terbentuknya pemerintahan koalisi

[Link] wakil terpilih dan konstituen

Pada aspek ini,kelemahan sistem proporsional lebih menonjol .oleh karenanya ,aspek ini
bukanlah kelebihan sistem proporsional

5. Teknis penyelengaraan

[Link] ini sangat mudah bagi para pemilih karena mereka hanya perlu memilih
sekelompok kecil dari partai-partai yang ada.

B. Dari sudut organisasi penyelenggara pemilu dalam sistem ini bersifat otonom

Kelemahan sistem proporsional

[Link] Tingkat proporsionalitas Perwakilan

Pada variabel ini tidak dijumpainadanya kelemahan dari sistem proporsional .sebab
proporsionalitas perolehan suara dan kursi peserta pemilundalam sistem ini paling baik dari
sistem lainnya .

2. Sistem Kepartaian

A. Sistem ini cenderung membentuk sistem multipartai .banyak partai yang ikut pemilu
karena peluang mendapatkan kursi sangat besar

B. Sistem ini juga memperlambat atau menghalangin dihapusnya partai-partai yang sudah
lama (tua)yang sedianya dapat hilang karena adanya perubahan dalam suasana politik
maupun sosial

[Link] perwakilan dan efektivitas pemerintahan

[Link] sistem ini sulit bagi partai untuk meraih suara mayoritas dalam lembaga perwakilan

[Link] legislatif dan ketidakmampuan untuk menjalankan kebijakan yang sesuai pada
saat paling dibutuhkan

[Link] menyingkirkan partai yang cukup besar dari kekuasaan

[Link] Wakil Terpilih dan Konstituen

[Link] jawab terhadap pemilih sangat kecil

B. Tidak adanya ikatan langsung antara pemilih dan anggota parlemen

C. Karena peranan partai dalam meraih kemenangan lebih besar ketimbang kepribadian
seseorang .sehingga wakil terpilih akan terdorong untuk memerhatikan kepentingan partai

[Link] pemilih diindonesia

Berbicara perilaku pemilih di Indonesia konteksnya masyarakat hanya menganggap pemilu


sebagai siklus lima tahunan dan hanya ingin merotasi pemimpin, Hal ini tidak dapat
Dilepaskan dari realitas tidak adanya upaya memperbesar pertanggungjawaban dari anggota
dewan dan lembaga perwakilan terhadap rakyat. Bahkan ,melihat realita rakyat indonesia
umpamanya memilih presidennya hanya berdasarkan persepsi bahwa salah satu kandidat
dianggap bisa mensejahterakan masyarakat ,hal ini disebabkan karena calon presiden dan
calon wakil presiden tidak memunyai misi yang jelas yang akan diperjuangkan ,jika terpilih
menjadi pemimpin indonesia 5 tahun kedepan .

Oleh karena pemilih tidak mengetahui visi-misi yang bakal dilakukan capres dan
cawapres ,maka penyelengaraan pilpres hanya bersifat seremonial semata dan tidak
menyentuh esensi dari melahirkan pemimpin berkualitas .Akibatnya seorang kandidat
mempunyai program atau tidak seolah bukan hal yang penting dalam proses karakter perilaku
pemilu diindonesia.,sehingga siapa yang berhasil merebut simpati dan dianggap dapat
mensejahterahkan rakyat maka akan dipilih menjadi pemimpin ,ini fakta dari perilaku pemilu
diindonesia

[Link] di indonesia

Sejak proklamasi kemerdekaan republik indonesia pada 17 agustus 1945 sampai tahun
2009 ,dalam periode pemerintahan ,telah dilaksanakan 14 kali pemilihan umum tingkat
nasional

1. periode orde lama

[Link] orde baru

[Link] orde reformasi

Meskipun telah 14(empat belas)kali indonesia melaksanakan pemilihan secara nasional


.posisi indonesia dalam pelaksanaan pemilu –pemilu tersebut menempatkan indonesia
sebagai penganut sistem proporsional dengan pelembagaan sistem multipartai
2.2 RINGKASAN BUKU PEMBANDING
[Link] umum (pemilu )

Pemilihan umum merupakan salah satu sarana pergantian kepemimpinan yang


demokratis,sistem ini juga dianggap sebagai sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat .Alasan
bahwa pemilu adalah sistem yang demokratis karena rakyat dapat langsung memilih wakil
mereka diparlemen dan juga pasangan presiden-wakil presiden . akan tetapi pemilu yang
demokratis dijalankan secara langsung ,umum ,bebas dan rahasia serta jujur dan adil .

Pada umumnya yang menjadi peserta pemilu adalah partai politik ,dimana partai kemudian
mengajukan para kader atau calonnya kepada masyrakat untuk dipilih .namun seiring dengan
perkembangan ,pemilu juga memilih orang per orang yang bukan berasal dari partai politik
untuk dipilih sebagai anggota DPD .

1. Fungsi Pemilihan Umum

Pemilu mempunyai empat fungsi ,yaitu menyalurkan hak pilih rakyat ,membentuk
pemerintahan yang bertanggung jawab ,akuntabel dan transparan ,serta untuk mereflesikan
demokrasi yang ada disebuah wilayah /negara

Menurut Arbi sanit ,pemilihan umum memiliki funsi (1997:158) pembentukan legitimasi
penguasa dan pemerintahan ,pembentukan perwakilan politik rakyat sirkulasi elite penguasa
dan pendidikan politik .partisispasi pemilih sangat penting dalam keberhasilan suatu pemilu
untuk itu,maka pendidikan politik menjadi sebuah kebutuhan untuk meningkatkan
pengetahuan politik rakyat agar dapat berpatisipasi secara maksimal dalam penyelengaraan
kehidupan bernegara

[Link] pemilihan umum

Sistem pemilihan umum adalah metode atau cara yang mengatur dan memungkin warga
negara untuk memilih para wakil rakyat dari anggota masyarakat itu sendiri . metode
berhubungan dengan prosedur dan pengaturan penetapan kursi dilembaga perwakilan ,.

A. Sistem Distrik

Dalam sistem distrik satu daerah pemilihan memilih satu wakil .karena hanya ada satu
wakil dalam satu distrik maka sistem ini menerapkan suara terbanyak untuk dapat
menentukan mereka yang menjadi wakil [Link] bahwa hanya ada satu wakil untuk satu
distrik karena sistem ini didadarskan atas kesatuan geografis .sebagai ilustrasi ,satu wilayah
(provinsi) dibagi kedalam beberapa distrik ,dimana setiap distrik hanya akan diwakili oleh
satu wakil yang memperoleh suara terbanyak .

Menurut Mirriam budiardjo (2009:466) sistem distrik memiliki sejumlah keuntungan dan
kelemahan .adapun keuntungan sistem ini adalah

Keuntungan nya

1. sistem ini lebih mendorong kearah integrasi partai-partai politik,karena kursi yang

diperebutkan dalam setiap distrik ha nya satu


[Link] kecilnya distrik ,maka wakil yang terpilih dapat dikenal oleh komunitas atau
masyarakatnya .sehingga hubungan dengan konstituen lebih erat

[Link] ini sederhana dan murah diselengarakan

Kelemahan nya

[Link] ini kurang memerhatikan kepentingan partai-partai kecil atau dari golongan
minoritas

[Link] distrik dianggap kurang efektif dalam masyarakat plural

[Link] kecendurungan wakil yang terpilih akan lebih memerhatikan distrik daripada
kepentingan nasional

[Link] proporsional

Adalah sistem dimaba satu daerah pemilihan memilih beberapa wakil .sistem ini memiliki
perhintungan yang cukup rumit ,yaitu calon peserta politik mengumpulkan dengan
menggunakan bilangan bagi pemilih. Didalam sistem ini proporsional ,wilayah dianggap
sebagai satu kesatuan yang tidak dipecah ,kursi untuk perwakilan wilayah dibagi berdasarkan
jumlah suara yangt diperoleh para konstetan

Kelebihan sistem proporsional adalah

[Link] terjaidntya integrasi antar partai politik ,karena partai politik cenderung bertambah

[Link] partai sulit berkembang ,karena kuatnya kedudukan pimpinan partai ,khususnya
dalam menentukan nomor urut calon

[Link] banyak partai yang bersaing .maka partai sulit untuk mendapatkan suara mayoritas

[Link]

Dikarenakan adanya kekurangan atau kelemahan dari sistem distrik dan proporsional
.beberapa negara mencoba untuk menerapkan sistem pemilihan umum campuran .sistem ini
mengambil beberapa sisi positif dari masing-masing sistem yang sudah ada ,dimana cara
tersebut dianggap baik olehnya ,karena bersifat campuran .sistem ini juga terkadang disebut
semi distrik atau semi proporsional

3. Pemilihan umum di indonesia

Sampai dengan 2014 indonesia sudah menyelenggarakan sebelas kali pemilihan umum umum
yaitu dari 1955,1971,1977,1982,1987,1992,1997,1999.2004,2009,2014 .dari pemilu yang
telah dilaksanakan dapat diketahui adanya upaya untuk mencari sistem pemilihan umum yang
cocok diindonesia

[Link] demokrasi parlementer (1945-1959)

Pada masa ini pemilu dilaksanakan oleh kabinet baharuddin harahap pada 1955 .pada
pemilu ini pemungutan suara dilakukan dua kali ,yaitu pertama untuk memilih anggota DPR
pada september dan kedua untuk memilih anggota kontituante pada desember .sistem ini
digunakan pada masa ini adalah sistem proporsional
Dalam pelaksanaanya ,pemilu berlangsung dengan lancar dan sangat demokratis sebab tidak
ada pebatasan partai partai dan tidak usaha dari pemrintah mengadakan intevensi terhadap
partai ,kampanye oun berjalan seru .pemilu menghasilkan 27 partai dan satu perorangan
adapun total kursi yang ada sebanyak 257 [Link] pada kenyataannya ,stabilitas politik
yang sangat diharahapkan dari pemilu tidak terwujud .kabinet ali 1 dan yang memerintah
selama dua tahun dan terdiri atas tiga koalisi besar .yakni masyumi ,pnu,dan Nu ternyata
tidak kompak dalam menghadapi beberapa persoalan ,terutama terkait dengan konsepsi
presiden soekarno pada 21 februari [Link] dengan pembubaran konstituante oleh
presiden soekarno .zaman demokrasi parlementer berakhir

[Link] demokrasi Terpimpin(1959-1965)

Setelah pencabutan maklumat pemrintah November 1945 tentang kebebasan untuk


mendirikan partai ,presiden soekarno mengurangi jumlah parai menjadi 10 partai .dizaman
demokrasi terpimpin tidak diadakan pemilihan umum .sebab kekuasaan dipegang secara
terpusat oleh presiden

[Link] Demokrasi Pancasila (1959-1998)

Setelah jatuhnya rezim demokrasi terpimpin yang bersifat semiotoriter ,masyarakat menaruh
harapan untuk dapat mendirikan suatu sistem politik yang demokrasi dan stabil .usaha yang
dilakukan untuk mencapai harapan tersebut diantaranya melakukan berbagai forum diskusi
yang membicarakan tentang sistem distrik yang masih baru bagi bangsa indonesia .

D. Zaman Reformasi (1998-hingga saat ini)

Setelah jatuhnya kekuasaan Orde Baru ,pelaksanaan pemilu mengalami perubahan .pada
1999 cukup banyak partai politik peserta pemilu yang baru bermunculam ,sehingga jumlah
parpol keseluruhan mencapai 48 partai [Link] itu ada lembaga baru didalam legislatif
yaitu DPD(Dewan Perwakilan Daerah) .

Untuk pemilihan anggota DPR dan DPRD digunakan sistem proporsional dengan daftar
terbuaka ,sehingga para pemilih dapat memberikan suaranya secara langsung kepada calon
yang dipilih .pada 2004,untuk pertama kalinya diadakan pemilihan presiden dan wakilnya
secara langsung ,bukan melalui MPR .
BAB III
PEMBAHASAN(MENGKRITIK)
3.1 Kritik Buku Utama

Buku utama yang berjudul “Pengantar Ilmu Politik ” merupakan buku karangan
Yoyoh Rohaniah Dan Efriza yang membahas tentang Ilmu politik..dalam buku ini terdapat
sebanyak XIV BAB ,disini saya Membahas pokok kajian utama dalam CBR ini pada Bab ke
XII Dengan judul materi pemilu ,dimana pada babnya itu terdapat 4 bagian yaitu tentang
pengertian pemilu ,macam-macam sistem pemilu ,perilaku pemilih dindonesia,dan pemilu
diindonesia . Buku ini diterbitkan oleh INTRANS PUBLISHING dengan tebal buku 547
halaman. Dan ukuran bukunya yaitu 15,5 cm X 23 cm Dari segi fisik kertas yang digunakan
pada buku ini kurang bagus karena masih menggunakan kertas yang berwarna kuning
sehingga kurang menarik

Dari segi isi atau makna, buku ini sudah sangat bagus, dan dalam buku ini juga
disajikan dengan sangat lengkap dimulai dari pengertian-pengertian hingga sampai pada
hakikat-hakikat pembahasannya. Selain isi sub bab nya yang lengkap buku ini juga disajikan
dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh pembaca. Dengan penyajian yang
sederhana itu maka akan meningkatkan minat pembaca terhadap buku ini, sebab mereka tidak
akan memukan kata-kata yang sulit untuk diinterpretasikan. Tetapi materi yang dibahas
dalam buku ini terlalu banyak yaitu terdapat XIV bab, Dan buku ini sangat tebal sehingga
pembaca agak sedikit sulit untuk memahami keseluruhan materinya karena begitu banyak
materi yang dibahas secara mendalam Dan buku ini terlalu banyak menggunakan teori-teori
dan ketika membahas atau mendefenisikan suatu masalah selalu mengemukakan berbagai
pandangan dari para ahli , sehingga hal ini sangat membantu para pembaca untuk
menemukan referensi dan wawasan pembaca lebih luas.
3.2 Kritik Buku Pembanding

Buku kedua yang berjudul pengantar Ilmu politik merupakan buku karangan [Link]
Djuyandi ,[Link],[Link] yang membahas tentang ilmu politik, buku ini diterbitkan oleh
RAJAWALI PERS dengan tebal buku 189 [Link] saya membahas pokok
pembahasan pada bab ke 8 tentang pemilu dimana pada bagian babnya yaitu tentang Fungsi
pemilihan Umum,Sistem pemilihan umum ,pemilihan umum diindonesia. Dari segi fisik
buku, buku ini agak besar dari dari pada buku pertama, tetapi jumlah halamannya lebih
sedikit dibandingkan dari buku pertama.

Dari segini kertas yang digunakan buku pembanding kertasnya cukup bagus karena
menggunakan kertas HVS yang berwarna putih sehingga pembaca lebih enak ketika
membaca bukunya karena lebih jelas

Dari segi fisik buku, buku ini Sama besar dari pada buku utama namun jumlah halamannya
buku pembanding lebih sedikit dibandingkan buku utama yaitu buku ‘pengantar ilmu politik
karangan dengan penerbit INTRANS PUBLISHING Yang isinya lebih tebal, namun itu
bukan berarti menjadi penghalang bagi pelajar ataupun mahasiswa yang ingin mengupas atau
membahas buku ini. Dari segi design isi ataupun pembahasan materi yang ada dalam buku
tersebut, teks yang ditulis dalam isi buku tersebut sangat tersusun secara sistematis, antara
judul besar dan sub-sub judul sudah dapat diketahuai dengan jelas sehingga pembaca lebih
mudah untuk memahaminya, dan materi yang ada di dalam buku tersebut sangan simpel, dan
terdapat juga pada sub-sub bab-babnya yang ada di dalam buku ini tidak terlalu banyak
sehingga para pembaca lebih mudah memahaminya. Dari segi isi atau makna, buku ini sudah
sangat bagus..

3.3 Perbandingan Buku Utama Dengan Buku Pembanding

Dari segi besar dan tebal buku, halaman pada buku utama jauh lebih tebal daripada
buku pembanding, pada buku utama tebal buku yaitu 547 halaman, sedangkan pada buku
pembanding yaitu 189 halaman. Namun, dari segi bentuk dan lebarnya, buku pembanding
sama besar dengan buku utama,namun buku utama jauh lebih tebal dibandingkan buku
pembanding oleh karena itu buku utama jauh lebih berat dan tidak praktis untuk dibawa
kemana-mana daripada buku pembanding. Dan harga buku utama jauh lebih mahal
dibandingkan buku pembanding
Dari segi isi buku, kedua buku ini sifatnya saling melengkapi, dalam buku utama

menjelaskan materinya secara terperinci, sedangkan buku pembanding kurang

menjelaskan materi secara [Link] buku pembanding hanya membahas secara

umumnya saja tidak secara mendalam dalam pembahasan materinya .Namun diantara

keduanya hanya saja yang berbeda sub-sub bab nya

pada buka utama sub babnya lebih banyak yaitu XiV sub bab sedangkan pada buku

pembanding terdapat IX sub bab. Tetapi dengan perbedaan tersebut bukan berarti kedua buku
itu tidak baik, materi pada buku tersebut saling melengkapi satu sama lainnya

3.4 Saran untuk Buku Utama dan Buku pembanding

Saran untuk buku utama : Sebaiknya menggunakan kertas berwarna putih agar lebih menarik
dibaca

- Ketebalan buku sebaiknya [Link] pada buku ini terlalu banyak menggunakan
pengertian-pengertian menurut para ahli

Saran untuk Buku Pembanding : sebaiknya materi pada buku pembanding ditambah karena
materi yang dibahas terlalu simple dan hanya secara umumnya saja sehingga sangat dikit
ilmu yang didapat oleh pembaca .semoga kemudian hari dalam percetakan buku berikutnya
materinya ditambah lebih mendalam lagi ,sehingga informasi yang didapat oleh pembaca
tidak sedikit
BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Bangsa Indonesia adalah bangsa transisi dimana sebuah bangsa yang baru mulai
peralihan untuk merubah masa depan negara dan rakyatnya melalui pemilu, sudah
berkali-kali memilih pemimpin agar dapat merubah nasibnya. Jadi kita sebagai
rakyat harus tahu dan selektif memilih calonnya agar tidak salah pilih, sekali
salah pilih patal akhirnya. Begitu pula seorang pemimpin yang terpilih dia harus
dan sadar ia bisa jadi seperti itu
bukan karena siapa-siapa melainkan kehendak Allah SWT dan rakyat yang
mendukungnya. Jadi antara pemimpin dan rakyatnya harus tetap sejalur jangan
berlawanan arah, seorang pemimpin harus berani menjalankan amanahnya karena
itu adalah sebuah tanggung jawwab dan kewajibannya untuk tetap amanah .
begitu juga rakyat yang harus mendukung dan memantau pemerintahannya. Jika
para pemimpin dan rakyatnya sudah bisa bekerja sama tidak ada yang
memandang sebelah mata dan beriman sepenuhnya kepada Allah SWT insya
Allah negara Indonesia ini akan menjadi negara yang Bhaldatun tayyibatun
Warabbun Ghafuur.

4.2 SARAN
Buku utama dan buku pembanding sebaiknya bisa saling mengisi kekurangannya.

Bisa meningkatkan semangat penulis ketika ingin merevisi masing-masing buku

[Link] dari segi fisik ataupun isi yang kurang baik dapat diperbaiki dengan melihat

kelebihan dan kekurangan dari masing-masing buku. Materi yang kurang jelas

pemahamannya didalam buku utama maupun buku pembanding hendaknya bisa diperluas.
Daftar Pustaka

[Link] Djuyandi [Link],[Link],Pengantar ilmu politik ,Rajawali pers Depok

Yoyoh Rohaniah Dan Efriza ,Pengantar ilmu politik ,Intrans Publishing Malang

Common questions

Didukung oleh AI

Elections in Indonesia are perceived as critical but largely ritualistic exercises in democracy, reflecting public disconnection with political processes beyond voting. They are often seen as mechanisms for leadership change without substantive issues being addressed, as the electorate tends to focus on candidates' perceived ability to enhance welfare rather than their explicit policies or agendas. This perception highlights a need for greater political engagement and accountability from elected representatives to fulfill democratic ideals .

The main book, 'Pengantar Ilmu Politik,' provides a detailed discussion with multiple subtopics including definitions, types of electoral systems, and voter behavior in Indonesia. It offers a comprehensive exploration with numerous expert perspectives. In contrast, the comparison book, authored by Dr. Yusa Djuyandi, presents the topics more concisely and does not delve deeply into each subject matter. The main book is thus filled with extensive theoretical explanations, whereas the comparison book is simpler and more general in its approach .

The district electoral system has several advantages, including encouraging political party integration, fostering closer relationships between elected representatives and their constituencies, and its simplicity and low cost in administration. However, it also has disadvantages, such as neglecting the interests of smaller parties or minorities, being less effective in plural societies, and a tendency for elected representatives to focus on district rather than national interests .

The main book includes a comprehensive analysis of political education through elections, emphasizing its role in legitimizing governance and enhancing voter participation. It delves into the importance of political communication and public understanding of electoral processes. Meanwhile, the supporting book briefly touches on the function of elections in promoting political awareness without as much depth, illustrating its role in shaping political understanding in a more straightforward narrative .

The main book offers extensive coverage of complex political concepts with a multitude of theoretical perspectives and detailed discussions, potentially overwhelming for some readers but beneficial for thorough understanding and academic purposes. The comparison book provides a simpler, more structured presentation of political concepts, which may assist in clearer understanding for beginners or those seeking primary insights, though it sacrifices depth in favor of readability and ease of comprehension .

Indonesia's use of a proportional electoral system has led to the emergence of a multiparty system, allowing small and minority parties to gain representation. While this ensures a broader spectrum of political voices in the legislative process, it can also result in fragmented parliaments and coalition governments, which can complicate decision-making and slow down legislative processes .

The district system is criticized for potential disproportionality in voter representation, as it often benefits larger parties and marginalizes smaller ones, which may undermine overall representational fairness. However, it typically enhances governance stability. The proportional system is praised for its accurate reflection of voter proportions and inclusiveness, offering fairer representation to smaller parties. Nevertheless, its tendency to result in coalition governments can limit effective decision-making .

The district system tends to favor larger parties, often marginalizing smaller parties and minorities, yet it supports stable governance by potentially eliminating the need for coalitions. The proportional system, meanwhile, allows for greater representation of smaller parties and minorities in governance but may lead to coalition governments, which can hinder effective governance. The district system emphasizes closer constituent-representative relationships, whereas the proportional system ensures voter preferences are more accurately reflected in representation .

To improve engagement and understanding, Indonesian political texts could incorporate more contextual examples and case studies that relate directly to students' lives and current events. Using interactive digital platforms and multimedia resources can make the content more relatable. Reducing reliance on dense theoretical discussions and enhancing practical applications and analysis sections could also increase student interest and comprehension. Encouraging critical debates and assignments that involve real-world analysis of political events can further foster an active learning environment .

Election systems play a significant role in shaping the political behavior of Indonesian voters. The proportional system used tends to result in voter alignment with specific parties based on perceived benefits, rather than ideological platforms, reflecting practical considerations over genuine party affinity. These systems, while offering representation for smaller parties, often fail to demand clear accountability or transparent political programs from candidates, leading to voter behavior characterized by short-term allegiances and immediate economic considerations over long-term political commitments .

Anda mungkin juga menyukai