0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
268 tayangan25 halaman

Model Pembelajaran Terpadu Threaded

Model pembelajaran terpadu threaded merupakan model pembelajaran yang menghubungkan berbagai konsep, keterampilan, topik, dan unit tematis secara sistematis. Model ini memadukan pembelajaran beberapa mata pelajaran sekaligus dan melatih keterampilan berfikir peserta didik secara utuh dan bermakna.

Diunggah oleh

Joko Sutrisno
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
268 tayangan25 halaman

Model Pembelajaran Terpadu Threaded

Model pembelajaran terpadu threaded merupakan model pembelajaran yang menghubungkan berbagai konsep, keterampilan, topik, dan unit tematis secara sistematis. Model ini memadukan pembelajaran beberapa mata pelajaran sekaligus dan melatih keterampilan berfikir peserta didik secara utuh dan bermakna.

Diunggah oleh

Joko Sutrisno
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODEL PEMBELAJARAN TERPADU THREADED SERTA

PERBANDINGANNYA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN


PERILAKU

Penyusun
Kelompok 7
Nama Anggota : Anggi Amallia 1813033036
Joko Sutrisno 1813033013
Nelyta Sudarno 1853033008
Novita Sari 1813033042
Nur Afifah 1813033017

P.S. : Pendidikan Sejarah

Mata Kuliah : Sejarah Eropa


Dosen : Suparman Arif, [Link]., [Link].
Valensy Rachmedita, [Link]., [Link].

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
perlindungannya yang telah diberikan kepada kami sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “ Model Pembelajaran Terpadu
Threaded serta Perbandingannya dengan Model Pembelajaran Perilaku.”Atas
dukungannya kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Suparman Arif, [Link].,
[Link]., dan Ibu Valensy Rachmedita, [Link]., [Link]., selaku dosen yang
membimbing kami sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Tidak lupa kami
ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam
menyelesaikan makalah ini.
Kami berharap makalah ini dapat berguna semua pihak dan dapat menambah
pengetahuan bagi para [Link] menyadari bahwa makalah ini masih
banyak kekurangan, oleh karena itu kami membutuhkan kritik dan saran dari
semua pihak yang bersifat mendidik dan [Link] terdapat kesalahan
kata dalam penulisan dan penyusunan makalah ini kami mohon maaf.

Bandar Lampung, September 2019

Penyusun
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................... i


KATA PENGANTAR .................................................................................. ii
DAFTAR ISI ................................................................................................. iii
BAB I
PENDAHULUAN ......................................................................................... 4
1.1. Latar Belakang Masalah ................................................................
1.2. Rumusan Masalah...........................................................................
1.3. Tujuan ..............................................................................................

BAB II
PEMBAHASAN ...........................................................................................
2.1. Model Pembelajaran Terpadu Threaded ....................................
2.2. Bentuk Model Pembelajaran Threaded .......................................
2.3. Cara Berfikir Model Pembelajaran Threaded ............................
2.4. Keuntungan dan Kerugian Model
Pembelajaran Threaded ...............................................................
2.5. Penggunaan Model Pembelajaran Threaded ..............................
2.6. Model Pembelajaran Perilaku ....................................................
2.7Perbandingan model pembelajaran Threaded dengan model
pembelajaran perilaku.................................................................
BAB III
PENUTUP .....................................................................................................
3.1. Kesimpulan .....................................................................................
3.2. Saran ...............................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


model pembelajaran terpadu dalam pembelajaran sengaja mengkaitkan
beberapa aspek baik dalam intra pembelajaran maupun antar mata pelajaran.
Dengan adanya pemaduan itu peserta didik akan memperoleh keterampilan dan
pengetahuan yang utuh sehingga pembelajaran akan menjadi bermakna.
Dengan menggunakan pembelajaran terpadu maka akan meningkatkan peran
keterlibatkan dan keaktivan peserta didik, begitu pula dengan menggunakan
model pembelajaran Threaded, dengan model pembelajaran Threaded dapat
memadukan konsep, keterampilan, topik, dan unit lainnya.
Model pembelajaran terpadu Threaded ini tidak hanya menerangkan secara
konsep secara teori saja juga adanya penerapan dan pengkajian sehingga
kompetensi pembelajaran dapat tercapai dan terlaksana oleh peserta didik,
dengan model pembelajaran Threaded ini dapat melatih keterampilan berfikir
dari beberapa mata pelajaran.
Pembelajaran model terpadu dimaksudkan agar pembelajaran tidak
terpisah-pisah, dan menjadi satu kesatuan bahan yang utuh dan cara belajar
yang sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan siswa, pembelajaran terpadu
memberikan hasil yang dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan
serta keteramilan anak. Keterampilan-keterampilan ini merupakan dasar yang
saling berkaitan. Keterampilan yang digunakan dalam model ini disesuaikan
pula dengan perkembangan usia siswa sehingga tidak tumpang [Link] ini
dapat kita temukan dalam model pembelajaran Thereaded.
1.2. Rumusan Masalah
Berikut rumusan masalah dalam makalah model pembelajaran threaded terpadu
ssrta perbandingannya dengan model pembelajaran perilaku:
1. Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran threaded?
2. Apa saja keunggulan dan kelemahan menggunakan model pembelajaran
threaded?
3. Bagaimana penerapan dan penggunaan model pembelajaran threaded?
4. Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran perilaku?
5. Bagaimana perbandingan antara model pembelajaran threaded dengan
model pembelajaran perilaku?

1.3. Tujuan
Berikut tujuan dari rumusan masalah diatas:
1. Untuk mengetahui pengertian dari model pembelajaran threaded.
2. Untuk mengetahui bentuk dan kerangka berpikir model pembelajaran
threaded.
3. Untuk mengetahui keunggulan dan kelemahan menggunakan model
pembelajaran threaded.
4. Untuk mengetahui model pembelajaran perilaku.
5. Untuk membandingkan model pembelajaran threaded dengan model
pembelajaran perilaku.
BAB II
PEMBAHASAN

[Link] Model Pembelajaran Terpadu Threaded


Trianto (2011:52) menjelaskan model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau
pola yang dapat digunakan untuk mendesain pola-pola mengajar secara tatap muka
di kelas atau mengatur tutorial dan untuk menentukan material/perangkat
pembelajaran termasuk didalamnya buku-buku, film-film, program media
computer dan kurikulum. Berdasarkan paparan ahli diatas maka dapatlah dipahami
bahwa model pembelajaran ialah suatu kerangka konseptual yang menggambarkan
prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk
mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Model pembelajaran biasanya digunakan
sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dalam merencanakan dan
melaksanakan proses pembelajaran. Sehingga dengan demikian kegiatan/proses
pembelajaran yang dilakukan baik di sekolah maupun diluar sekolah, benar-benar
merupakan suatu kegiatan bertujuan yang tertat secara [Link]
pembalajaran merupakan suatu rencana atau pola yang bisa dipergunakan dalam
pengembangan kurikulum, merancang materi pembelajaran, dan membimbing
pelajaran. ( Rusydi Ananda & Abdillah, 2018:63 )

Menurut Joni ( Trianto, 2014:56 ) menyatakan bahwa pembelajaran terpadu


merupakan suatu sistem pembelajaran yang memeungkinkan siswa, baik secara
individual maupun kelompok, aktif mencari, menggali dan menemukan konsep
serta prinsip keilmuan secara holistic, bermakna dan otentik. Pembelajaran terpadu
akan terjadi apabila peristiwa-peristiwa otentik atau eksplorasi topic/tema menjadi
pengendali didalam kegiatan pembelajaran, dengan berpartisipasi didalam
eksplorasi tema/peristiwa tersebut siswa belajar sekaligus proses dan isi beberapa
mata pelajaran secara serempak.
Pembelajaran terpadu bukan lagi sebuah pembelajaran yang sulit diterakan
oleh setiap guru dalam memberikan pengajarannya kepada anak didiknya,
pembelajaran terpadu tentunya melihat materi secara utuh bukan lagi secara parsial
sehingga adanya gambaran yang besar dalam menerima materi. Pembelajran
terpadu memberikan kepada peseta didik untuk menggali apa yang belum diketahui
dalam menerima materi yang disampaikan dari gurunya. Pembelajaran terpadu ini
memberikan rangsangan kepada peserta didik untuk bertanya atau mengobservasi,
atau menalar sebab akibat yang mungkin ditimbulkannya dari materi yang
diterimanya, atau juga melakukan sebuah pendekatan ilmiah yang sederhana untuk
mengembangkannya secara mandiri apa-apa yang menjadi rasa penasarannya
dalam menggali apa-apa yang belum diketahuinya tersebut atau juga mempertajam
pengetahuan yang sudah diketahuinya. ( Uum Murfiah, 2017:60-61).
Ditinjau dari cara memdaukan konsep, ketrampilan, konsep, topic dan unit
tematisnya, menurut seorang ahli yang bernama Robin Forgaty (1991)
mengemukakan bahwa terdapat sepuluh cara atau model dalam merencanakan
pembelajaran terpadu. Kesepuluh cara atau model tersebut adalah: (1) fragmented,
(2) connected, (3) nested, (4) sequenced, (5) shared, (6) webbed, (7) threaded, (8)
integraded, (9) immersed (10) networked. Namun yang akan saya bahas yaitu
model pembelajaran threaded

Model bergalur (Threaded) merupakan suatu pendekatan pembelajaran


dengan menggunakan keterampilan berfikir, keterampilan sosial, keterampilan
studi, pengorganisasian pembeljaran yang jelas, teknologi dan multi intelegensi dari
berbagai mata [Link] pembelajaran ini adalah sebagai integrias kurikulum
yang terfokus pada metakurikulum dengan memasukkan seperangkat keterampilan
diatas, kedalam konten materi pokok dari berbagai mata pelajaran. Contoh: prediksi
adalah suatu keterampilan yang digunakan untuk menaksir dalam matematika,
meramal peristiwa-peristiwa yang terjadi saat ini, harapan dalam suatu novel dan
hipotesis dalam labolatorium IPA sebagai srategi dalam memecahkan kekonflikan
pada suasana problem solving.
Dengan menggunakan ide yang ada dalam metakurikulum dapat ditargetkan
serangkaian ketrampilan berpikir tertentu untuk memasukkan prioritas isi
pembelajaran yang ada. Misalnya dengan akan menggunakan kurikulum
berkelompok (cluster curriculum), pengajar (tim) mungkin akan memilih kelompok
ketrampilan analysis untuk memasukkan esensi ketrampilan berpikir dari masing-
masing kemampuan yang ada: IPA (pengelompokkan/classify), IPS (perbandingan
dan pembedaan/ compare and contrast), bahasa dan seni (menunjukkan/attribute),
matematika (mengurutkan/sequence). Demikian juga ketrampilan social (social
skills) dan kecerdasan ganda (multiple intelligence) lainnya akan disambungkan
melalui berbagai macam disiplin ilmu. (Sinau, 2011)
Ketrampilan berpikir (thinking skills), ketrampilan sosial (social skills),
ketrampilan belajar, grafis organizer, teknologi, dan kecerdasan ganda (multiple
intelligence skills) yang terdapat dalam semua disiplin ilmu dapat dilakukan dengan
pendekatan untaian.

Model Threaded adalah model bersambungan atau model integrasi yang


memfokus pada metakurikulum yang merupakan jantung dari semua pokok
bahasan. Misalnya, perkiraan (prediction) adalah suatu ketrampilan yang digunakan
untuk memperkirakan sesuatu yang ada pada bidang ilmu matematika,
memperkirakan peristiwa masa sekarang, atau mengantisipasi peristiwa yang ada
dalam sebuah novel, dan proses membuat berbagai macam dugaan di laboratorium
IPA. Strategi mencari kesepakatan juga digunakan untuk menyelesaikan konflik
dalam segala situasi permasalahan. Ketrampilan ini pada intinya akan dihubungkan
melalui isi standar kurikulum yang ada. (Asep, 2011).

2.1.1 Bentuk Model Bergalur ( Threaded)


Dengan menggunakan ide dari suatu metakurikulum, tim dari suatukelas atau antar
departemen memasukkan seperangkat ketermapilan berfikir dalam perioritas
konten yang telah ada. Misalnya dengan menggunakan kurikulum klutser, untuk
tim mahasiswa tahun pertama mungkin memilih kelompok analisis keterampilan
berfikir untuk ditanamkan kedalam setiap konten: science (mengklasifikasi), studi
sossial ( compare dan contrast), seni bahasa (atribut), matematika (sequence).
Untuk hal-hal yang sama “keterampilan sosial dan multi intelegensi” dapat
dirangkaikan melalui berbagai mata pelajaran.
2.1.2 Cara Berfikir Model Bergalur (Threaded)
Ketika keterampilan berfikir dan keterampilan sosial dikaitkan kedalam konten,
dimana guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
1. Bagimana pemikiranmu tentang hal itu?
2. Keterampilan berfikir yang manakah yang kamu anggap paling
bermanfaaat?
3. Seberapa jauhkah pekerjaan kelompokmu hari ini?
4. Sudahkah kamu menggunakan intelegensi musikalmu hari ini?
Pertanyaan-pertanyaan pemrosesan ini berbeda sekali dengan pertanyaan-
pertanyaan biasa seperti dibawah ini:
a. Jawaban apa yang kamu peroleh?
b. Siapa saja yang setuju atas jawabanmu?
Kadang-kadang pertanyaan-pertanyaan metakognisi seperti pada a dan b bagi anak
dianggap seperti pertanyaan-pertanyaan membuang waktu saja. Para siswa
mungkin sering berkata: “setuju”, atau sah-sah saja atas pertanyaan itu (a dan b),
namun hatinya berkata, apa yang sesungguhnya anda inginkan untuk kami lakukan?
Sebagai kemampuan berpikir atau keterampilan sosial yang berulir ke dalam isi
guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti: "bagaimana Anda berpikir
tentang hal itu?", "Apa keterampilan berpikir yang Anda temukan paling
bermanfaat?", "Seberapa baik melakukan kerja kelompok kita hari ini? ", dan" harus
Anda menggunakan kecerdasan musikal Anda hari ini? ". Pertanyaan pengolahan
ini kontras tajam dengan pertanyaan kognitif biasa seperti, "apa jawaban yang Anda
dapatkan?", "Berapa banyak setuju?" (Kadang-kadang, pertanyaan-pertanyaan di
atas metakognitif suara untuk anak-anak seperti guru adalah: membuang-buang
waktu "Siswa akan. sering mengatakan, "OK, apa yang Anda benar-benar ingin kita
lakukan? (Nurul, ips terpadu 2010).

Fungsi pembelajaran model Threaded


Model threaded digunakan untuk mengintegrasikan kurikulum ketika
metakurikulum menjadi fokusnya. Model ini cocok digunakan sebagai salah satu
langkah alternatif menuju integrasi mata pelajaran yang lebih intensif. Model ini
sangat sesuai jika digunakan sebagai salah satu alternatif untuk menuju penyatuan
pokok bahasan. Oleh karena itu model Threaded ini merupakan model yang utama
digunakan oleh guru jika ingin memasukkan pemikiran, kerjasama, dan berbagai
macam kecerdasan dalam isi pembelajaran.

2.2 Keuntungan dan Kerugian Model Bergalur ( Threaded)


Berdasarkan pada metakurikulum merupakan kesdaran dan control keterampilan
dan strategi berfikir, dan belajar diluar konten materi pokok, maka keuntungannya
sebagai berikut:
a. Mengembangkan konsep metakurikulum, dan kepedulian pada
keterampilan berpikir yang dikembangkan pada diri siswa di sebalik materi
(content) pelajaran.
b. Guru menekankan perilaku metakognitif, sehingga siswa belajar bagaimana
mereka belajar (to learn how they learn)
c. Bahwa konten untuk setiap mata pelajaran tetap murni.
d. Bagi siswa mempunyai pemikiran tingkat tinggi yang mempunya daya
transfer pada berbagai keterampilan hidup.
e. Dengan membuat para siswa mengetahui proses belajar yang sedang
berlangsung para siswa mudah menstransfernya pada tahap berikutnya.
f. Dari masing-masig disiplin dan menemukan overlapping skills, konsep,
sikap, dari semua disiplin tersebut. Model ini menuntut kecanggihan dalam
perencanaan dan implementasi, sehingga perlu dilakukan melalui “team
teaching”.
g. siswa memperoleh manfaat tambahan dari berbagai jenis keterampilan
berpikir yang dapat ditransfer menjadi kecakapan hidup.
h. Model ini membuat siswa dapat belajar bagaimana seharusnya belajar di
masa yang akan dating sesuai dengan laju perkembangan era globalisasi.

(Ghery Priscylio, Sjaeful Anwar, 2019:7)

Kerugian atau kekurangan menggunakan model threaded adalah sebagai berikut.


a. Koneksi materi pelajaran antardisiplin tidak diajarkan secara eksplisist dan
tidak mendapat penekanan.
b. Mempersyaratkan guru memahami keterampilan-keterampilan yang
potensial dibawa oleh konten pelajaran.
c. Memerlukan adanya tambahan atau keterlibatan suatu kurikulum lain.
d. Hubungan konten antara materi pokok tidak dibahas secara jelas.
e. Aspek metakurikulum meningkat, tetapi aspek disiplin (mata pelajaran)
satatis.
f. Bagi para guru memerlukan pemahaman terhadap semua keteramplan dan
strategi yang akan digunakan.
g. Aspek metakurikulum meningkat, tetapi aspek disiplin (mata pelajaran)
satatis.
h. Bagi para guru memerlukan pemahaman terhadap semua keteramplan dan
strategi yang akan digunakan.
(Ghery Priscylio, Sjaeful Anwar, 2019:7)

2.3 Penerapan dan Penggunaan Model Bergalur (Threaded)


Langkah-langkah penerapan dalam model pembelajaran Threaded adalah :
1. Menetapkan keterampilan yang diuntaikan dalam pembelajaran.
2. Memilih mata pelajaran yang cocok untuk dipadukan dengan dengan model
ini.
3. Mencocokan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dapat
diuntaikan.
4. Merumuskan indikator pembelajaran secara terpadu.
5. Menetapkan keterampilan berfikir yang akan diuntaikan.
Penggunaan model bergalur (Threaded) ini dengan cara antara lain.
a. Model ini digunakan pada waktu mengintegrasikan kurikulum yang
terfokus pada metakurikulum suatu distrik.
b. Model ini tepat digunakan sebagai salah satu alternative tindakan untuk
mengintegrasikan materi pokok suatu pembelajaran.
c. Model ini bisa dilaksanakan pada sekolah lanjutan, dimana para guru tetap
menjaga perioritas materi pokok dan memasukkan pemikiran, kerjasama
dan multi intelegensi kedalam konten materi pokok pembelajaran itu.
Model ini sangat sesuai jika digunakan sebagai salah satu alternatif untuk
menuju penyatuan pokok bahasan. Oleh karena model Threaded ini merupakan
model yang utama digunakan oleh guru jika ingin memasukkan pemikiran,
kerjasama, dan berbagai macam kecerdasan dalam isi pembelajaran. ( Pargito,
2010:47-49)

Sekali kecakapan hidup telah digambarkan, guru-guru memilih satu keterampilan


untuk difokuskan untuk satu periode yang disetujui (mingguan, bulanan). Mereka
dapat membangun keterampilan di pembelajaran mereka dan mencari waktu
pembelajaran yang tepat untuk menguntaikan keterampilan ke dalam area mata
pelajaran yang [Link] contoh penerapan model Threaded pada materi
kelas IV SD :
 IPA
Mendeskripsikan hubungan antara SDA dengan lingkungan, teknologi dan
Masyarakat
 IPS
Memahami manusia dalam dinamika interaksi dengan lingkungan alam,
sosial, budaya, dan ekonomi
 Matematika
Menyatakan kesimpulan berdasarkan tabel atau grafik
 bahasa Indonesia Menggali informasi dari teks wawancara tentang jenis-
jenis pekerjaan, serta kegiatan ekonomi dan koperasi dengan bantuan guru
dan teman dalam Bahasa Indonesia lisan dan tulis dengan memilih dan
memilah kosakata baku.
(Christin Natalia. 2018. Pembelajaran Terpadu Model Threaded. Jakarta.
Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Esa Unggul.
20171101054)

2.4 Model Pembelajaran Perilaku


Konsep pembelajaran menurut Corey (Sagala, 2010:61) adalah ”suatu proses
dimana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia
turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau
menghasilkan respon terhadap situasi tertentu, pembelajaran merupakan subset
khusus dari pendidikan”. Lingkungan belajar hendaknya dikelola dengan baik
karenapembelajaran memiliki peranan penting dalam pendidikan. Sejalandengan
pendapat Sagala (2010: 61) bahwa pembelajaran adalah”membelajarkan siswa
menggunakan asas pendidikan maupun teoribelajar merupakan penentu utama
keberhasilan pendidikan”.Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41
Tahun 2007mengenai Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar
danMenengah, diuraikan bahwa: “pembelajaran adalah proses interaksipeserta
didik dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkunganbelajar. Proses
pembelajaran perlu direncanakan, dilaksanakan, dinilai,dan diawasi. Pelaksanaan
pembelajaran merupakan implementasi dariRPP. Pelaksanaan pembelajaran
meliputi kegiatan pendahuluan,kegiatan inti dan kegiatan penutup.”.

Konsep model pembalajaran menurut Trianto (2010: 51),menyebutkan


bahwa model pembelajaran adalah suatu perencanaanatau pola yang digunakan
sebagai pedoman dalam merencanakanpembelajaran di kelas atau pembelajaran
tutorial. Model pembelajaranmengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan
digunakan,termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap
dalamkegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas.
(Muhamad Afandi, Evi Chamalah, Oktarina Puspita [Link] dan
metode pembelajaran di sekolah. Semarang. UNISSULA [Link], 148 halISBN
978-602-7525-64-1)

Rumpun model pembelajaran Sistem Prilaku ini didasarkan pada the body
ofknowledge yang kita sebut teori prilaku (behavior theory). Istilah-istilah lain
seperti teoribelajar, teori belajar sosial, modifikasi perilaku, atau perilaku terapi
digunakan oleh para ahliyang merujuk pada setiap model dalam kelompok ini. Pada
dasarnya model-modelpembelajaran rumpun ini mementingkan penciptaan
lingkungan belajar yangmemungkinkan memanipulasi penguatan perilaku secara
efektif sehingga terbentuk polaperilaku pebelajar yang dikehendaki. Adapun yang
termasuk rumpun model pembelajaranprilaku adalah:
a. Model Manajemen dari Akibat Hasil Perlakuan (Contingency
Management)
Prinsip yang digunakan dalam model ini adalah pengondisian operan.
Menurut para ahli, teori perilaku, perilaku manusia dapat dipersepsikan
sebagai suatu fungsi dari lingkungan terdekat, khususnya untuk
memunculkan dan menguatkan rangsangan (stimulus). Ciri pokok dari
model ini adalah hubungan antara respon dan penguatan rangsangan
(atimull). Apabila penguatan diberikan jikan dan hanya ada respon itu
muncul, maka penguatan itu merupakan contingent. Jadi, contingentcy
management adalah kontrol sistemik penguatan rangsangan yang disajikan
pada waktu-waktu yang dipilih dan setelah respon yang diinginkan
diberikan.

b. Model Kontrol Diri (Self Control Model)


Seperti halnya model sebelumnya, model kontrol diri juga menggunakan
prinsip operant conditioning, terutama pada kontrol stimulus dan
penguatan positif. Namun demikian, aspek dari model ini secara total ada
di tangan peserta. Alasan utama berpindah ke model pengendalian diri
adalah banyak perilaku yang lingkungan tidak memberikan nilai dan
waktu, yang sebenarnya indovidu membutuhkan mereka untuk
mengembangkan perilaku baru. Misalnya belajar, berolah raga, berlatih
piano, dan perilaku sosial yang mengarah pada anggota lawan jenis.
Akibatnya penting bagi diri seseorang untuk mengadiahi dirinya sendiri.
Masalah kontrol diri hampir selalu melibatkan orang lain dengan kepuasan
positif jangka pendek dan akibat negatif untuk jangka panjang. Misalnya
perokok, jangan merasa efek potensial jangka panjang sejelas yang mereka
alami untuk kepuasan jangka pendek lebih dari hanya sebatang rokok.
Membuat orang menyadari efek respon jangka pendek dan jangka panjang
yang memelihara perilaku mereka adalah langkah pertama untuk
membantu mereka dalam memilih penguatan baru.

c. Model Latihan: observasi dan praktik (Training: observation & practice)


Model inindugunakan untuk merancang, demonstrasi, praktek, umapn
balik. Ada empat aliran yang mendasari pemikiran model ini yaitu:
psikologi training, pskikologi sibernetik, analisis system dan psikologi
perilaku. Semua aliran ini berpendapat bahwa orang dapat dideskripsikan
berdasarkan perilakunya yang muncul, setiap usaha untuk mengubah
perilaku individu yang tampak berkaitan dengan suatu domain
pemfungsian khusus, seperti memecahkan masalah fisika, matematika,
membaca, menulis, mengajar, dan lain sebagaimya. Setiap aliran
menggunakan pendekatan tugas untuk merancang program training dari
ide awal yang berbeda, berfokus pada aspek proses training yang berbeda,
dan menekankan pada perbedaan ciri-ciri dari program perubahan
perilaku.
Psikologi training berfokus pada kegiatan orang yang menunjukkan fungsi
yang perlu dieksekusi dengan ketapatan yang dipertimbangkan dan harus
dihubungkan secara [Link] sibernetik didasarkan pada
koneptualisasi manusia dalam istilah pada mesin. Manusia disamakan
denagan mesin listrik yang menggunakan proses umpan balik panca indera
untuk mengontrol dan memodifikasi perilakunya sendiri. Desain system
berhubungan eat denagn psikologi training dansibernetik yang disebut
dengan pengembangan system.

d. Model Releksasi (Relaxation Model)


Model ini merupakam siuatu prosedur dasar untuk mengurangi
kecemasan. Kita percaya bahwa stress tidak hanya sebuah fenomena untuk
orang dewasa dan control stress tidak “untuk orang dewasa saja”. Bahkan,
beberapa tahapan yang paling stress dalam siklus hidup terjadi selama
masa kanak-kanak dan anak muda, terutama remaja. Kita menekankan
bahwa kegiatan-kegiatan reduksi stress adalah bagian dari kebiasaan
sehari-hari setiap orang. Ada teknik-teknik tetntang reduksi stress yang
tidak melibatkan sejumlah waktu yang dapat diapresiasi da nada bentuk
relaksasi yang lebih dikembangkan yang disebut sebagai suatu model
pembelajaran. Tipe relaksasi didasarakan pada metode disebut sebagai
moving focus relaxation. Sebaliknya, teknik-teknik untuk menegangkan
oto sebelum merelaksasikan mereka, moving focus tidak memerlukan
penegangan, secara sederhana a letting-go relaxing. Akhir dari model
dengan penegangan dan relaks otot masih ada tegangan
[Link] dacker (joice dan Weil, 2000) menyatakan bahawa
orang tidak perlu menegangkan ototnya untuk mencapai suatu keadaan
rileks.

e. Model Desensititation
Model ini adalah salah satu model system perilaku yang bertujuan untuk
menggantikan kecemasan dengan rileksasai. Beberapa orang mengalami
cemas dalam beberapa tugas atau situasi, dan pada saat-saat cemas
beberapa cukup untuk mencegah perilaku pemechan masalah yang
efefktif. Cemas yang akut akan merintangi performansi efektif adalam
tugas-tugas seseorang, seperti mengikuti tes, dan situasai sosial umum
seperti mengekspresikan ketidaksetujuan seseorang dengan ide orang lain.
Menurut aliran terapi perilku tentang psikologi klinis, semua prosedur
umum yang berhubungan langsung dengan stress disebut desensilitasi.

f. Model Latihan Tegas (Assertive Training Model)


Merupakan salah satu kelompok model system perilaku yang
mengekspresikan perasaan secara jujur dan [Link] definisi
tentang assertiveness telah ditawarkan sejak lama. Joseph Wolpe dan
Arnold A.(Joice and Weil,2000) merujuk assertiveness sebagai ekspresi
yang tepat untuk setiap emosi lain dari bentuk cemas. Hamper semua
sumber merujuk perilaku tegas (assertive behaviour) sebagai ekspresi jujur
dan bertersu terang pada orang lain atau kita sendirir tentang bagaimana
kita merasakan. Ekspresi ini dicirikan dengan keterbukaan, langsung,
spontan, dan [Link] yang berbeda, ketegasan adalah bukan alat
untuk penyerangan tetapi alat untuk berhubungan. Harapannya adalah
seseorang akan merasa lebih baik dan menjadi kurang cemas jika dia dapat
menyatakan perasaannya ke orang lain, karena akan menghasilkan suatu
hubungan yang memuaskan dengannya dank arena interaksi sosial akan
disertai dengan sedikit cemas.

Tiga model pertama (1 sampai 3) utamanya menggunakan prinsip


operantconditioning, sedangkan tiga model terakhir didasarkan pada prinsip
[Link] yang berprinsip pada teori operant conditioning adalah
Skinner, sedangkan tokohyang berprinsip pada counter-conditioning adalah Wolpe
(Joyce & Weil, 2000). Prinsipoperant conditioning menekankan pada peranan
penguatan (reinforcement) khususnyapada hadiah (reward) dan hukuman
(punishment). Counter-conditioning menekankan padaprosedur untuk mengganti
respon adaftif (adaptive) pada respon tidak adaptif (maladaptive). Misalnya
mengetuk-ngetuk meja dengan satu jari digantikan denganmenggigit kuku.
(Indrawati, 2011. Perencanaan Pembelajaran Fisika: Model-Model
[Link]. Pmipa Fkip Universitas Jember)

Semua model pembelajaran rumpun ini didasarkan pada suatu pengetahuan


yang mengacu pada teori perilaku, seperti teori belajar, teori belajar sosial,
modifikasi perilaku, atau perilaku terapi. Model-model pembelajaran rumpun ini
mementingkan penciptaan lingkungan belajar yang memungkinkan manipulasi
penguatan perilaku secara efektifsehingga terbentuk pola perilaku yang
dikehendaki.
(Indrawati. 2009. Model Pembelajaran Terpadu di Sekolah Dasar. Jakarta: Pusat
Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu
Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA) untuk Program BERMUTU.)

Model perilaku direkayasa atas dasar kerangka teori perilaku yang


dihubungkan dengan proses belajar mengajar. Aktivitas mengajar, menurut teori ini
harus ditujukan pada timbulnya perilaku baru atau berubahnya perilaku siswa ke
arah yang sejalan dengan harapan. Di antara model mengajar behavioral adalah
mastery learning (model belajar tuntas). Model ini pada dasarnya merupakan
pendekatan mengajar yang mengacu pada penetapan kriteria hasil belajar. Kriteria
tingkat keberhasilan belajar ini meliputi pengetahuan, konsep, keterampilan, sikap
dan nilai.
Belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.
Pembelajaran yang didasarkan pada tingkah laku diperoleh dari pengkondisian.
Pengkondisian tersebut terjadi melalui interaksi dengan lingkungan. Denagn
demikian, dalam tingklah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi
perilaku dan stimulusnya. Model perilaku mempelajari perbuatan manusia bukan
dari kesadarannya, melainkan hanya mengamati perbuatan dan tingkah laku yang
berdasarkan kenyataan. Pengalaman-pengalaman batin dikesampingkan dan hanya
perubahan serta gerak-gerak pada badan yang dipelajari.
Menurut Watson tingkah laku manusia merupakan hasil dari pembawan
genetis dan pengaruh lingkungan atau situasional. Tingkah laku dikendalikan oleh
kekuatan-kekuatan yang tidak rasional. Sebaliknya, menurut Pavlov dengan teori
kondisioning klasik merujuk pada sejumlah prosesdur pelatihan karena satu
stimulus dan rangsangan muncul untuk menggantikan stimulus lainnya dalam
mengembangkan suatu respon. Prosedur ini disebut klasik karena perioritas
historisnya seperti dikembangkan Pavlov. Selanjutnya, menurut Skinner belajar
lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. Skinner menjelaskan konsep
belajar secara sederhana tetapi lebih komprehensif. Menurutnya hubungn antara
stimulus dan respon terjadi melalui interaksi dengan lingkungan kemudian
menimbulkabn perubahan tingkah laku.
Model belajar perilaku berpengaruh terhadap masalah belajar, karena
belajar ditafsirkan sebagai latihan-latihan untuk pembentukan hubungan anatara
stimulus dan respon. Dengan memeberika rangsanagn, siswa akan bereaksi dan
menanggi rangasanagn tersebut. Oleh sebab itu, belajar merupakan akibat adanya
interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar jika dapat
menunjukkan perubahan perilakunya. Model belajar perilakuy cenderung
mengarahakan siswa untuk berfikir. Pandanagan model be;lajar ini merupakan
proses pembentukan, yaiutu membawa siswa untuk mencapai target tertentu,
sehingga menjadikan siswa yang tidak bebas berkreasi dan berimajinasi.
Pembelajaran yang dirancang pada model belajar perilaku memandang
pengetahuan adalah objektiv, sehingga belajar merupakan perolehan pengetahuan,
sedangkan belajar adalah memindahkan pengetahuan kepada siswa. Hal yang
paling penting dalam model pembelajaran perilaku adalah masukan dan keluaran
yang berupa respon. Menurut model ini anatara stimulus dan respon dianggap tidak
penting untuk diperhatikan. Karena tidak dapat diamati dan diukur. Dengan
demikian, yang dapat diamati adalah stimulus dan respon. Oleh sebab itu, apa saja
yang diberikan oleh guru dan apa saja yang dihasilka oleh siswa semuanya harus
dapat diamati dan diukur guna melihat terjadinya perbuhan tingkah laku.
(Nahar, Novi Iwan, 2016:72-73).
Kelebihan dan Kekurangan Model pembelajaran perilaku
Kelebihan dari model pembelajaran tingkah lakuk adalah: (a) Membiasakan guru
untuk
bersikap jeli dan peka terhadap situasi
dan kondisi belajar. (b) Guru tidak
membiasakan memberikan ceramah sehingga murid dibiasakan belajar mandiri.
Jika murid menemukan kesulitan,
baru ditanyakan pada guru yang bersangkutan. (c) Mampu membentuk suatu
perilaku yang diinginkan dengan
mendapatkan pengakuan positif dan
perilaku yang kurang sesuai mendapat
penghargaan negatif yang didasari pada
perilaku yang tampak. (d) Melalui pengulangan dan pelatihan yang
berkesinambungan, dapat mengoptimalkan bakat dan kecerdasan siswa yang sudah
terbentuk sebelumnya. Jika anak sudah
mahir dalam satu bidang tertentu, akan
lebih dapat dikuatkan lagi dengan pembiasaan dan pengulangan yang
berkesinambungan tersebut dan lebih optimal. (e) Bahan pelajaran yang telah
disusun hirarkis dari yang sederhana sampai pada yang kompleks dengan tujuan
pembelajaran dibagi dalam bagian-bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian
suatu keterampilan tertentu,
mampu menghasilkan suatu perilaku
yang konsisten terhadap bidang tertentu.
(f) Dapat mengganti stimulus yang satu
dengan stimulus yang lainnya dan seterusnya sampai respons yang diinginkan
muncul. (g) Teori ini cocok untuk memperoleh kemampuan yang membutuhkan
praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur kecepatan, spontanitas, dan
daya tahan. (h) Teori behavioristik juga cocok diterapkan untuk
anak yang masih membutuhkan dominasi peran orang dewasa, suka mengulangi
dan harus dibiasakan, suka meniru,
dan suka dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung.
Kekurangan dari model pembalajaran pe adalah: (a) Sebuah konsekuensi
untuk menyusun bahan pelajaran dalam
bentuk yang sudah siap. (b) Tidak setiap
pelajaran dapat menggunakan metode
ini. (c) Murid berperan sebagai pendengar dalam proses pembelajaran dan
menghapalkan apa yang didengar dan
dipandang sebagai cara belajar yang
efektif. (d) Penggunaan hukuman yang
sangat dihindari oleh para tokoh behavioristik justru dianggap sebagai metode yang
paling efektif untuk menertibkan siswa. (e) Murid dipandang pasif,
perlu motivasi dari luar, dan sangat
dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan oleh guru. (f) Murid hanya
mendengarkan dengan tertib penjelasan
dari guru dan mendengarkan apa yang
didengar dan dipandang sebagai cara
belajar yang efektif sehingga inisiatif
siswa terhadap suatu permasalahan yang
muncul secara temporer tidak bisa diselesaikan oleh siswa. (g) Cenderung
mengarahkan siswa untuk berpikir linier, konvergen, tidak kreatif, tidak
produktif, dan menundukkan siswa sebagai individu yang pasif. (h) Pembelajaran
siswa yang berpusat pada guru
(teacher centered learning) bersifat mekanistik dan hanya berorientasi pada
hasil yang dapat diamati dan diukur. (i)
Penerapan metode yang salah dalam
pembelajaran mengakibatkan terjadinya
proses pembelajaran yang tidak menyenangkan bagi siswa, yaitu guru sebagai
center, otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih, dan
menentukan apa yang harus dipelajari
murid
2.5 Analisis Perbandingan Antara Model Pembelajaran Threadead Dengan
Model Pembelajaran Perilaku
Model pembelajaran Threadead merupakan suatu pendekatan pembelajaran dengan
menggunakan keterampilan berfikir, keterampilan sosial, keterampilan studi,
pengorganisasian pembelajaran yang jelas, teknologi dan multi intelegensi dari
berbagai mata pelajaran. Model pembelajaran Thereadead ini adalah sebagai
integrias kurikulum yang terfokus pada metakurikulum dengan memasukkan
seperangkat keterampilan diatas, kedalam konten materi pokok dari berbagai mata
pelajaran.
Sedangakan, Model Pembelajaran perilaku adalah Rumpun yang didasarkan
pada the body of knowledge yang kita sebut teori prilaku (behavior theory). Pada
dasarnya model-model pembelajaran rumpun ini mementingkan penciptaan
lingkungan belajar yang memungkinkan memanipulasi penguatan perilaku secara
efektif sehingga terbentuk pola perilaku pebelajar yang dikehendaki.

Kelompok kami dapat menganalisis bahwa model pembelajaran Threaded


adalah model pemberajaran terpadu yang menyatukan atau mengintegrasi
keterampilan berfikir, sosial, pengetahuan, dan pengorganisasian, serta kemampuan
kemampuan multi intelegensi. Artinya model ini adalalah model integrasi yang
penting dan saling keterkaitan dalam mata pelajaran. Dan model pembelajaran
Threaded ini akan cocok jika diterapkan bersama dengan model pembelajaran
perilaku, dikarenakan model pembelajaran Threaded ini juga menerapkan
kemampuan belajar sosial yang didalamnya terdapat kemampuan berperilaku.
Dalam model pembelajaran perilaku sendiri mengacu pada teori perilaku, seperti
teori belajar, teori belajar sosial. Hal ini akan membuat model Threaded dan model
perilaku akan saling berhubungan karena mempunyai kecocokan dalam bentuk
penerapan modelnya dalam proses pembelajaran.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Model bergalur (Threaded) merupakan suatu pendekatan pembelajaran dengan
menggunakan keterampilan berfikir, keterampilan sosial, keterampilan studi,
pengorganisasian pembeljaran yang jelas, teknologi dan multi intelegensi dari
berbagai mata pelajaran. dengan menggunakan ide dari suatu metakurikulum, tim
dari suatukelas atau antar departemen memasukkan seperangkat ketermapilan
berfikir dalam perioritas konten yang telah ada.
Keuntungan Model Bergalur ( Threaded) :
a. Mengembangkan konsep metakurikulum, dan kepedulian pada
keterampilan berpikir yang dikembangkan pada diri siswa di sebalik materi
(content) pelajaran.
b. Guru menekankan perilaku metakognitif, sehingga siswa belajar bagaimana
mereka belajar (to learn how they learn)
Kerugian Model Bergalur ( Threaded) :
a. Koneksi materi pelajaran antardisiplin tidak diajarkan secara eksplisist dan
tidak mendapat penekanan.
b. Mempersyaratkan guru memahami keterampilan-keterampilan yang
potensial dibawa oleh konten pelajaran.

Model Threaded sangat sesuai jika digunakan sebagai salah satu alternatif untuk
menuju penyatuan pokok bahasan. model Threaded ini model yang utama
digunakan oleh guru jika ingin memasukkan pemikiran, kerjasama, dan berbagai
macam kecerdasan dalam isi pembelajaran. Konsep pembelajaran menurut Corey
adalah ”suatu proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk
memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi
khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu, pembelajaran
merupakan subset khusus dari pendidikan. Artinya model ini adalalah model
integrasi yang penting dan saling keterkaitan dalam mata pelajaran. Dan model
pembelajaran Threaded ini akan cocok jika diterapkan bersama dengan model
pembelajaran perilaku, dikarenakan model pembelajaran Threaded ini juga
menerapkan kemampuan belajar sosial yang didalamnya terdapat kemampuan
berperilaku. Dalam model pembelajaran perilaku sendiri mengacu pada teori
perilaku, seperti teori belajar, teori belajar sosial. Hal ini akan membuat model
Threaded dan model perilaku akan saling berhubungan karena mempunyai
kecocokan dalam bentuk penerapan modelnya dalam proses pembelajaran.

3.2 Saran
Sebagai calon seorang guru kita harus menerapkan pembelajaran kreatif dan
inovatif supaya para siswa mempunyai keterampilan unutk hidup di masa depan.
Demikian makalah yang dapat kami buat dengan semaksimal mungkin. Apabila ada
kesalahan dari penulisan, penyajian materi, dan kejelasannya kami mohon maaf.
Terimakasih bagi pembaca karena telah membaca makalah ini. Dan semoga apa
yang kami sajikan dapat bermanfaat bagi pembaca. Kritik dan saran diperlukan
dalam penyempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA

Anada, Rusydi & Abdillah. Pembelajaran Terpadu Karakteristik, Landasan,


Fungsi, Prinsip dan Model. (LPPPI) lembaga Peduli Pengembangan
Pendidikan Indonesia
Christin Natalia. 2018. Pembelajaran Terpadu Model Threaded. Jakarta.
Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Esa Unggul.
20171101054
Indrawati. 2011. Perencanaan Pembelajaran Fisika: Model-Model Pembelajaran.
Jember. Pmipa Fkip Universitas Jember
Indrawati. 2009. Model Pembelajaran Terpadu di Sekolah Dasar. Jakarta: Pusat
Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA) untuk Program BERMUTU.
Muhamad Afandi, Evi Chamalah, Oktarina Puspita
Wardani.2013. Model Dan Metode Pembelajaran Di Sekolah. Semarang.
UNISSULA [Link], Halaman 148
Murfiah Uum, Model Pembelajaran Terpadu Di Sekolah Dasar. Jurnal Pesona
Dasar. Vol.1. no.5. PGSD (Universitas Syiah Kuala)
Nahar, Novi Iwan, 2016. Penerapan teori belajar behavioristik dalam proses
pemebelajaran. jurnal ilmu pengetahuan sosial. Vol.1. halaman 72-73
Sjaeful Anwar. 2019. Integrasi Bahan Ajar IPA Menggunakan Model Robin
Fogarty untuk Proses Pembelajaran IPA di SMP. Jurnal Pijar MIPA. Vol.
14 No. 1. Halaman 7

Common questions

Didukung oleh AI

The Threaded Model is particularly suitable for secondary or higher education levels where students benefit from integrating multiple intelligences and critical thinking across diverse disciplines. It fosters a deeper understanding of how subjects interrelate. Conversely, the Behavioral Model is highly effective in elementary education due to its focus on observable behavior changes through reinforcement, which helps establish foundational skills through repetition and conditioning in young learners .

The application of the Threaded Model requires teachers to understand and integrate different skills across disciplines without explicit emphasis on interconnections, demanding an intricate understanding of content-potential skills. It necessitates collaboration with other educational curricula, adjusting strategies to fuse various intelligences, critical thinking, and social skills into their teaching. Teachers need to focus on metacognitive aspects, emphasizing how students learn, which transforms curriculum planning to ensure cohesion and continuity across subjects .

The Threaded Learning Model integrates various skills such as thinking, social, and organizational skills by focusing on metacurriculum and multi-intelligence, supporting a holistic learning experience. In contrast, the Behavioral Learning Model emphasizes creating a learning environment that uses reinforcement to shape a learner’s behavior effectively and focuses on observable outcomes based on the stimulus-response approach. The Threaded Model calls for integrating multiple disciplines, whereas the Behavioral Model is more about conditioning through practice and repetition .

Educators might struggle with explicitly connecting interdisciplinary content, requiring a deep comprehension of potential skill integration across subjects. The need for collaborative curriculum development and resource allocation can be demanding, and aligning different curricular standards into a cohesive program requires significant planning and effort. Teachers must also acquire skills in facilitating metacognitive strategies, which can be complex and requires ongoing professional development .

While the Behavioral Learning Model primarily focuses on conditioning through stimulus-response mechanisms, it can accommodate different learning styles by tailoring the type and frequency of reinforcements to individual preferences. Visual learners can benefit from visual stimuli, while kinesthetic learners can be engaged through actions and repetitive tasks. However, its structured nature may not fully engage all learning styles equally, especially those that require creative or abstract thinking .

The metacurriculum in the Threaded Learning Model functions as a framework that goes beyond traditional subject boundaries to incorporate skills such as critical thinking, self-reflection, and learning strategies. This approach helps students become aware of their learning processes, enhancing their ability to self-assess and adapt their learning techniques. It places an emphasis on learning how to learn, enabling students to transfer skills across various disciplines, fostering a more profound and autonomous learning experience .

The Threaded Learning Model potentially increases engagement and motivation by connecting learning to real-world contexts and encouraging critical thinking, which can appeal to students' intrinsic motivations and support lifelong learning skills. It presents students with various interactions across multiple intelligences, aligning with their interests. In contrast, the Behavioral Model relies on extrinsic motivators like rewards and punishments, which may boost short-term engagement but not sustain long-term motivation or foster deep learning .

Teachers can balance these skills by creating cross-disciplinary projects that require both collaboration and critical thinking, emphasizing skills such as problem-solving and communication. They can integrate technology to foster interaction and innovation, use group discussions to develop social skills, and incorporate assessments that measure understanding and application rather than rote memorization. Teachers must be adept at differentiating instruction to cater to various skill levels and learning preferences, ensuring cognitive diversity is both a focus and a tool for social integration .

These models can complement each other by integrating the social learning and metacognitive skills from the Threaded Model with the rigorous conditioning and behavior reinforcement from the Behavioral Model. While the Threaded Model promotes integrated thinking and application across subjects, the Behavioral Model ensures procedural practice and formative learning goals are met. This synergy could lead to a well-rounded educational experience that addresses cognitive, social, and practical skills development .

Benefits include fostering a sensitive and student-centered learning atmosphere where teachers identify effective learning situations, encouraging student independence, and reinforcing desired behaviors through positive and negative feedback. The method excels in developing skills requiring practice and habituation. However, its drawbacks include overemphasis on prepared content, learner passivity, limited scope applicable mostly to measurable and observable learning outcomes, and potential discouragement of creativity due to its linear and convergent focus .

Anda mungkin juga menyukai