0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan31 halaman

Pembentukan Masyarakat Peduli Api

I

Diunggah oleh

Bio Hoata
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan31 halaman

Pembentukan Masyarakat Peduli Api

I

Diunggah oleh

Bio Hoata
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL

PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM


NOMOR : P. 2/IV-SET/2014

TENTANG

PEMBENTUKAN DAN PEMBINAAN MASYARAKAT


PEDULI API

DIREKTUR JENDERAL PERLINDUNGAN HUTAN


DAN KONSERVASI ALAM,

Menimbang : a. bahwa berdasarkan Pasal 36, Pasal 37


dan Pasal 38 Peraturan Menteri
Kehutanan Nomor P. 12/Menhut-II/2009
tentang Pengendalian Kebakaran
Hutan, diatur pembentukan dan
pembinaan masyarakat peduli api;

b. bahwa untuk mendukung pelaksa-


naan kegiatan sebagaimana dimak-
sud pada huruf a, perlu kejelasan
mekanisme pembentukan dan
pembinaan masyarakat peduli api;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan


sebagaimana dimaksud pada
huruf a dan huruf b, perlu

1
ditetapkan Peraturan Direktur
Jenderal Perlindungan Hutan
dan Konservasi Alam tentang
Pembentukan dan Pembinaan
Masyarakat Peduli Api.

Mengingat :
Peraturan Menteri Kehutanan
Nomor P. 12/Menhut-II/2009 tentang
Pengendalian Kebakaran Hutan.

MEMUTUSKAN:

Menetapkan
: PERATURAN DIREKTUR JENDERAL
PERLINDUNGAN HUTAN DAN
KONSERVASI ALAM TENTANG
PEMBENTUKAN DAN PEMBINAAN
MASYARAKAT PEDULI API.

2
BAB I
KETENTUAN UMUM

Bagian Kesatu
Pengertian

Pasal 1

Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan:


1. Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa
hamparan lahan yang berisi sumber daya alam
hayati yang didominasi pepohonan dalam
persekutuan alam lingkungannya yang satu
dengan lain tidak dapat dipisahkan.
2. Hutan konservasi adalah hutan dengan ciri
khas tertentu yang mempunyai fungsi pokok
pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan
satwa serta ekosistemnya.
3. Lahan adalah suatu hamparan ekosistem
daratan yang peruntukannya untuk usaha dan
atau kegiatan ladang dan atau kebun bagi
masyarakat.
4. Kebakaran hutan adalah suatu keadaan dimana
hutan dilanda api sehingga mengakibatkan
kerusakan hutan dan atau hasil hutan yang
menimbulkan kerugian ekonomis dan atau nilai
lingkungan.

3
5. Pengendalian kebakaran hutan adalah semua
usaha pencegahan, pemadaman, penanganan
pasca kebakaran hutan dan penyelamatan.
6. Pencegahan kebakaran hutan adalah semua
usaha, tindakan atau kegiatan yang dilakukan
untuk mencegah atau mengurangi kemungkinan
terjadinya kebakaran hutan.
7. Pemadaman kebakaran hutan adalah semua
usaha, tindakan atau kegiatan yang dilakukan
untuk menghilangkan atau mematikan api yang
membakar hutan.
8. Penanganan pasca kebakaran hutan adalah
semua usaha, tindakan atau kegiatan yang
meliputi inventarisasi, monitoring dan evaluasi
serta koordinasi dalam rangka menangani suatu
areal setelah terbakar.
9. Sarana dan prasarana adalah peralatan dan
fasilitas yang digunakan untuk mendukung
pengendalian kebakaran hutan.
10. Masyarakat adalah orang seorang, kelompok
orang, termasuk masyarakat hukum adat atau
Badan Hukum.
11. Manggala Agni adalah regu pengendali
kebakaran hutan yang personilnya berasal dari
Pegawai Negeri Sipil dan masyarakat yang telah
diberikan pembekalan pengendalian kebakaran
hutan.

4
12. Masyarakat Peduli Api yang selanjutnya disebut
MPA adalah masyarakat yang secara sukarela
peduli terhadap pengendalian kebakaran hutan
dan lahan yang telah dilatih/diberi pembekalan
serta dapat diberdayakan untuk membantu
kegiatan pengendalian kebakaran hutan.
13. Patroli adalah kegiatan pengawasan yang
dilakukan oleh Manggala Agni dan semua pihak
dalam rangka pencegahan dan pemadaman
kebakaran hutan dan lahan.
14. Patroli pencegahan adalah upaya mobilisasi
petugas oleh dua orang atau lebih ke suatu lokasi
untuk kegiatan pencegahan dan mengetahui
secara dini terjadinya kebakaran hutan dan lahan
dengan menggunakan sarana sesuai dengan
kondisi setempat sehingga ancaman bahaya
kebakaran dapat dicegah sedini mungkin.
15. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal yang
diserahi tugas dan tanggungjawab di bidang
Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam.
16. Unit atau Kesatuan Pengelolaan Hutan adalah
wilayah pengelolaan hutan sesuai fungsi pokok
dan peruntukannya yang dapat dikelola secara
efisien dan lestari.
17. Unit atau Kesatuan Pengelolaan Hutan melliputi
Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP),
Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK),
Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL).

5
18. Desa sasaran adalah desa yang telah ditetapkan
untuk direncanakan pelaksanaan kegiatan
pembentukan MPA.

Bagian Kedua
Tujuan

Pasal 2

Tujuan penyusunan peraturan ini yaitu sebagai


pedoman dan arahan dalam pelaksanaan
pembentukan dan pembinaan MPA agar dapat
dilakukan secara efektif dan efisien.

Bagian Ketiga
Ruang Lingkup

Pasal 3

Ruang lingkup peraturan ini, meliputi:


a. pembentukan;
b. organisasi;
c. sarana dan prasarana;
d. pembinaan, monitoring, evaluasi dan pelaporan;
dan
e. pembiayaan.

6
BAB II
PEMBENTUKAN

Bagian Kesatu
Umum

Pasal 4

(1) Pembentukan MPA sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 3 huruf a, didahului dengan
penetapan desa sasaran, meliputi desa yang
berbatasan dengan kawasan hutan, rawan
kebakaran lahan dan berpotensi meluas ke
hutan dan atau yang ditetapkan oleh Kepala
Unit atau Kesatuan Pengelolaan Hutan sebagai
desa sasaran.

(2) Pembentukan MPA sebagaimana dimaksud pada


ayat (1), dilakukan melalui tahapan kegiatan:
a. perencanaan;
b. persyaratan;
c. pembekalan; dan
d. penetapan.

7
Bagian Kedua
Perencanaan

Pasal 5

(1) Perencanaan sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 4 ayat (2) huruf a, meliputi kegiatan
sosialisasi program kepada masyarakat di
wilayah desa sasaran atau kecamatan.

(2) Kegiatan sosialisasi program sebagaimana


dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan terhadap
masyarakat di wilayah:
a. desa sasaran; dan
b. calon anggota MPA.

Bagian Ketiga
Persyaratan

Pasal 6

(1) Persyaratan calon anggota MPA sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf b:
a. warga negara indonesia;
b. masyarakat yang bertempat tinggal dan
atau memiliki lahan garapan di desa sasaran
yang berbatasan langsung dengan kawasan
hutan;

8
c. sehat jasmani dan rohani;
d. berusia minimal 17 tahun;
e. dapat membaca dan menulis secara aktif;
f. berkelakuan baik;
g. mendaftarkan diri sebagai tenaga relawan;
h. membuat surat pernyataan sebagai tenaga
relawan; dan
i. mengikuti pembekalan bidang pengendalian
kebakaran hutan.

(2) Calon anggota MPA sebagaimana dimaksud


pada ayat (1), harus berasal dari desa sasaran
yang berada dalam satu kecamatan.

(3) Calon anggota MPA sebagaimana dimaksud


pada ayat (2), diusulkan oleh perangkat desa
atau kecamatan yang membawahi desa sasaran.

(4) Jumlah calon anggota MPA sebagaimana


dimaksud pada ayat (3), paling sedikit 2 (dua)
regu yang beranggotakan masing-masing
15 (lima belas) orang dalam 1 (satu) kali
pembentukan.

(5) Format surat pernyataan sebagai tenaga relawan


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf h,
sebagaimana lampiran I peraturan ini.

9
Bagian Keempat
Pembekalan

Pasal 7

(1) Calon anggota MPA sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 6, harus mengikuti pembekalan
teknis.

(2) Pembekalan teknis sebagaimana dimaksud


pada ayat (1), dilaksanakan paling sedikit selama
2 (dua) hari dengan materi 16 (enam belas) jam
mata pelajaran.

(3) Materi sebagaimana dimaksud pada ayat (2),


terdiri atas teori dan praktek yang meliputi 8
(delapan) jam mata pelajaran dan 8 (delapan)
jam praktek.

(4) Materi teori dan praktek sebagaimana dimaksud


pada ayat (3), disampaikan melalui metode
ceramah, diskusi dan simulasi yang dilakukan
fasilitator dari:
a. Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan;
b. Unit Pelaksana Teknis; atau
c. Lembaga terkait yang membidangi
Kebakaran.

10
(5) Fasilitator sebagaimana dimaksud pada ayat (4),
harus memiliki:
a. kemampuan mengajar, menguasai materi
yang diajarkan baik teori maupun praktek;
b. pengalaman yang cukup di bidang yang
akan diajarkan; dan
c. kemampuan menerapkan berbagai metoda
mengajar dan mengevaluasi proses
pembelajaran.

(6) Materi teori dan praktek sebagaimana dimaksud


pada ayat (3), mengikuti silabus sebagaimana
lampiran II dan III peraturan ini.

Bagian Kelima
Penetapan

Pasal 8

(1) Penetapan anggota MPA sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 4 ayat (2) huruf d, dilakukan dengan
ketentuan:
a. telah mengikuti pembekalan teknis MPA
yang dibuktikan dengan Surat Keputusan
Bersama antara Kepala Unit Pelaksana
Teknis atau Kesatuan Pengelolaan Hutan
dan Camat yang membawahi desa sasaran;

11
b. diberikan sertifikat sebagai bukti telah lulus
mengikuti pembekalan kebakaran hutan
dan lahan; dan
c. memiliki kartu anggota yang diberikan pada
saat penetapan.

(2) Format kartu anggota dan sertifikat sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c,
sebagaimana lampiran IV dan V peraturan ini.

BAB III
ORGANISASI

Pasal 9

(1) Organisasi anggota MPA sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 3 huruf b, terdiri atas kelompok atau
regu, dipimpin oleh ketua dan sekretaris yang
ditunjuk dan disepakati oleh para anggotanya.

(2) Kelompok atau regu sebagaimana dimaksud


pada ayat (1), bertugas ikut aktif membantu Unit
Pelaksana Teknis atau Kesatuan Pengelolaan
Hutan serta Manggala Agni dalam melaksanakan
kegiatan pencegahan, pemadaman dan
penanganan pasca kebakaran hutan dan lahan.

(3) Selain tugas sebagaimana dimaksud pada


ayat (2), kelompok atau regu juga bertugas

12
melakukan kegiatan antara lain:
a. memberikan informasi kepada personil
unit atau Kesatuan Pengelolaan Hutan
terkait kejadian kebakaran dan atau pelaku
pembakaran;
b. menyebarluaskan informasi peringkat
bahaya kebakaran hutan dan lahan;
c. melakukan penyuluhan secara mandiri atau
bersama-sama dengan petugas unit atau
Kesatuan Pengelolaan Hutan;
d. melakukan pertemuan secara rutin dalam
rangka penguatan kelembagaan.

(4) Kelompok atau regu sebagaimana dimaksud


pada ayat (2), berkedudukan di sekretariat kantor
desa setempat atau lokasi yang disepakati.

Pasal 10

Anggota MPA, dapat diberikan penghargaan apabila:


a. berpartisipasi aktif secara mandiri dalam upaya
pencegahan kebakaran hutan dan penyuluhan
kepada masyarakat;
b. menggalang masyarakat dalam rangka
meningkatkan kesadaran untuk tidak melakukan
pembakaran, memberikan informasi secara
cepat kepada manggala agni sebagai upaya
peringatan dini;

13
c. ikut aktif membantu manggala agni dalam
pemadaman kebakaran hutan dan lahan.

Pasal 11

(1) Keanggotaan MPA berakhir, apabila:


a. mengundurkan diri;
b. meninggal dunia; atau
c. diberhentikan.

(2) Pemberhentian keanggotaan MPA sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) huruf c, dilakukan
apabila:
a. tidak aktif dalam kegiatan organisasi dalam
waktu selama 6 (enam) bulan berturut-turut;
b. melakukan tindak pidana; dan
c. melanggar tata tertib organisasi yang telah
disepakati.

14
BAB IV
SARANA DAN PRASARANA

Pasal 12

(1) Sarana dan prasarana sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 3 huruf c, dapat berupa alat tulis,
GPS, peta, kompas, papan tulis, komputer, alat
komunikasi, peralatan tangan dan mekanik.

(2) Selain sarana dan prasarana sebagaimana


dimaksud pada ayat (1), juga dapat berupa
kentongan, pengeras suara di masjid, bendera,
papan informasi desa, maupun papan peringkat
bahaya kebakaran.

(3) Sarana dan prasarana sebagaimana dimaksud


pada ayat (2), sebagaimana lampiran VI dan VII
peraturan ini.

15
BAB V
PEMBINAAN, MONITORING, EVALUASI DAN
PELAPORAN

Bagian Kesatu
Pembinaan

Pasal 12

(1) Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal


3 huruf d, dilakukan dalam bentuk pemberian
motivasi, pengetahuan dan keterampilan
pengendalian kebakaran hutan konservasi dan
lahan.
(2) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), dilakukan oleh Unit Pelaksana Teknis
atau Kesatuan Pengelolaan Hutan, dengan
mekanisme:
a. pertemuan rutin dalam rangka penguatan
kelembagaan; dan
b. pelatihan (inhouse training) pengendalian
kebakaran hutan dan lahan secara bertahap
dan berkesinambungan.

16
Bagian Kedua
Monitoring dan Evaluasi
Pasal 13

(1) Monitoring dan evaluasi sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 3 huruf d, dilakukan secara
berjenjang oleh Unit Pelaksana Teknis atau
Kesatuan Pengelolaan Hutan.

(2) Monitoring dan evaluasi sebagaimana dimaksud


pada ayat (1), dilakukan untuk:
a. mengetahui progres, realisasi serta
permasalahan yang dihadapi oleh MPA;
b. mengetahui efektifitas kegiatan pengendalian
kebakaran hutan dan lahan oleh MPA; dan
c. mengetahui dampak terhadap peningkatan
ekonomi, serta kelestarian fungsi hutan dan
lingkungan.

Bagian Ketiga
Pelaporan

Pasal 14
(1) Pelaporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
huruf d, dapat berupa data dan informasi antara
lain meliputi kondisi, jumlah dan kegiatan.

17
(2) Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), disampaikan oleh Unit Pelaksana Teknis atau
Kesatuan Pengelolaan Hutan kepada Direktur
Jenderal setiap 6 (enam) bulan.

BAB VI
PEMBIAYAAN

Pasal 15

Pembiayaan pembentukan MPA dapat bersumber


dari dana Pemerintah atau Pemerintah Daerah atau
sumber dana lain yang tidak mengikat.

18
BAB VII
PENUTUP

Pasal 16

Peraturan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di : J a k a r t a
pada tanggal : 19 Mei 2014

DIREKTUR JENDERAL,

Ir. SONNY PARTONO, MM


NIP. NIP. 19550617 198103 1 008

19
LAMPIRAN I : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL
PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM
NOMOR : P. 2/IV-SET/2014
TANGGAL : 19 Mei 2014
TENTANG : PETUNJUK TEKNIS PEMBENTUKAN DAN
PEMBINAAN MASYARAKAT PEDULI API

SURAT PERNYATAAN SEBAGAI TENAGA RELAWAN/


SUKARELA

Nama : .......................................................
Warga Negara : .......................................................
Penduduk Asli/Pendatang : .......................................................
Agama : .......................................................
Pekerjaan : .......................................................
Alamat lengkap : .......................................................
No Tlp/Hp : .......................................................

Dengan ini menyatakan bahwa:


1. Bersedia menjadi tenaga sukarela Masyarakat Peduli Api/
MPA di Desa …. Kecamatan…..Kabupaten….Provinsi….
2. Bersedia membantu Manggala Agni, BBKSDA/BBTN,
BKSDA/BTN dalam kegiatan pencegahan, pemadaman dan
penanganan paska kebakaran.
3. Bersedia melaksanakan tugas sesuai dengan kewajiban MPA
secara mandiri atau kelompok

Demikian, surat pernyataaan ini dibuat dengan sebenar-


benarnya.

Desa, ............................. 20 ..........

Meterai Rp 6000
ttd

Nama lengkap

20
LAMPIRAN II : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL
PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM
NOMOR : P. 2/IV-SET/2014
TANGGAL : 19 Mei 2014
TENTANG : PETUNJUK TEKNIS PEMBENTUKAN DAN
PEMBINAAN MASYARAKAT PEDULI API

MATERI TEORI DAN PRAKTEK


PEMBEKALAN TEKNIS CALON ANGGOTA MPA 16 JPL (2 HARI)

MATERI TEORI BAHASAN POKOK JPL


Gambaran a. Kebakaran hutan dan lahan di 1
Umum Praktek Indonesia, dampak dan upaya
Pengendalian pengendalian.
Kebakaran Hutan b. Kebijakan Pengendalian Kebakaran
dan Lahan Hutan dan Lahan (peraturan
perundangan terkait kebakaran hutan
dan lahan serta penerapan sanksi)
Teknik Dasar a. Teori dasar kebakaran hutan dan 3
Pencegahan lahan (segitiga api, sumber api, type
Kebakaran Hutan kebakaran, jenis bahan bakaran,dll)
dan Lahan b. Uji remas daun tunggal
c. Pembuatan sekat bakar bagi lahan
masyarakat.
d. Pengenalan SPBK/Sistem Peringkat
Bahaya Kebakaran dan rambu-rambu
kebakaran
Dasar-dasar PLTB a. Pemanfaatan bahan bakaran untuk 2
(Pembukaan Lahan pembuatan kompos organik dan
Tanpa Bakar) briket arang

21
MATERI TEORI BAHASAN POKOK JPL
Teknik Dasar a. Pengenalan peralatan pemadaman 2
Pemadaman kebakaran hutan dan lahan (prosedur
Kebakaran Hutan penggunaan, mobilisasi, dan
dan Lahan pemeliharaan peralatan)
b. Sistem informasi kejadian kebakaran
c. Teknik pemadaman (pemadaman
langsung, tidak langsung dan moping
up)

MATERI PRAKTEK BAHASAN POKOK JPL


Pencegahan a. Pembuatan sekat bakar 2
Kebakaran Hutan b. Uji remas daun tunggal
dan Lahan c. Pembuatan rambu-rambu SPBK
PLTB a. Pembuatan kompos organik dan 2
pembuaan briket arang
Simulasi a. Penggunaan peralatan tangan untuk 4
Pemadaman pemadaman dini kebakaran hutan
kebakaran hutan dan lahan
dan lahan b. Simulasi sistem informasi kejadian
kebakaran hutan dan lahan
c. Simulasi pemadaman kebakaran
hutan dan lahan

22
LAMPIRAN III : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL
PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM.
NOMOR : P. 2/IV-SET/2014
TANGGAL : 19 Mei 2014
TENTANG : PETUNJUK TEKNIS PEMBENTUKAN DAN
PEMBINAAN MASYARAKAT PEDULI API

SILABUS MATERI PELATIHAN DAN PRAKTEK LAPANGAN


BAGI MPA

METODA
MATERI POKOK INDIKATOR
NO DAN ALAT
PELAJARAN BAHASAN KEBERHASILAN
BANTU
A. MATERI PELATIHAN:
1 Gambaran a. Kebakaran Setelah mengikuti a. Ceramah,
Umum hutan dan pelajaran ini peserta Tanya
Pengendalian lahan di diharapkan mampu; jawab,
Kebakaran Indonesia, • Mampu menjelaskan diskusi
Hutan dan dampak tentang penyebab b. LCD,
Lahan dan upaya kebakaran hutan dan Laptop
pengendalian. lahan
b. Kebijakan • Mampu menjelaskan
Pengendalian dasar hukum,
Kebakaran pemberian sanksi
Hutan bagi pelaku
dan Lahan kebakaran hutan dan
(peraturan lahan
perundangan
terkait
kebakaran
hutan dan
lahan serta
penerapan
sanksi)

23
METODA
MATERI POKOK INDIKATOR
NO DAN ALAT
PELAJARAN BAHASAN KEBERHASILAN
BANTU
2 Teknik Dasar a. Teori dasar Setelah mengikuti a. Ceramah,
Pencegahan kebakaran pelajaran ini peserta Tanya
Kebakaran hutan dan diharapkan mampu : jawab,
Hutan dan lahan (segitiga • Mampu menjelaskan diskusi.
Lahan api, sumber teori dasar b. LCD,
api, type kebakaran Laptop,
kebakaran, • Mampu menjelaskan White
jenis bahan tentang indikator board,
bakaran,dll) bahan bakaran yang spidol
b. Uji remas mudah terbakar
daun kering • Mampu menyusun
c. Pembuatan Peta Desa Rawan
sekat bakar Kebakaran secara
bagi lahan partisipatif.
masyarakat. • Mampu
d. Pengenalan menggunakan
SPBK/Sistem peralatan perpetaan
PerIngkat dan groundchek
Bahaya hotspot
Kebakaran
dan rambu-
rambu
kebakaran
3 Dasar-Dasar a. Pemanfaatan Setelah mengikuti a. Ceramah,
PLTB / bahan pelajaran ini peserta Tanya
Pembukaan bakaran untuk diharapkan mampu : jawab,
Lahan Tanpa pembuatan • Mampu mengolah diskusi
Bakar kompos lahan yang akan b. LCD,
organik dan ditanami tanpa Laptop,
briket arang bakar dengan
mengolah daun,
serasah, ranting
menjadi kompos dan
briket arang serta
rumah abu

24
METODA
MATERI POKOK INDIKATOR
NO DAN ALAT
PELAJARAN BAHASAN KEBERHASILAN
BANTU
4 Teknik Dasar a. Pengenalan Setelah mengikuti a. Ceramah,
Pemadaman peralatan pelajaran ini peserta Tanya
kebakaran pemadaman diharapkan mampu : jawab,
Hutan dan kebakaran • Mampu diskusi
Lahan hutan menggunakan b. LCD,
dan lahan peralatan Laptop
(prosedur pemadaman c. Alat
penggunaan, • Mampu melakukan peraga
mobilisasi dan pemadaman
pemeliharaan dengan berbagai
teknik pemadaman
peralatan
(pemadaman
b. Sistem
langsung, tidak
informasi
langsung dan
kejadian moping up)
kebakaran, • Mampu
c. Tehnik melaksanakan
pemadaman kerjasama dalam
(pemadaman Tim/Regu dan lintas
langsung, sektoral
tidak • Mampu
langsung dan mengkomunikasikan
moping up) dan memberikan
informasi kejadian
kebakaran

25
PRAKTEK POKOK INDIKATOR METODA DAN
NO
LAPANGAN BAHASAN KEBERHASILAN ALAT BANTU
B. PRAKTEK LAPANGAN
1 Pencegahan a. Praktek Setelah mengikuti a. Praktek,
Kebakaran pembuatan praktek ini peserta Bimbingan
Hutan dan sekat bakar diharapkan mampu b. Perlengkapan
Lahan b. Praktek Uji mengidentifikasikan Praktek
remas daun indikator bahan c. Lokasi
tunggal bakaran yang Praktek
c. Pembuatan mudah terbakar
rambu-rambu
SPBK

2 PLTB Praktek Setelah mengikuti a. Praktek,


pembuatan praktek ini peserta Bimbingan
kompos organik diharapkan mampu b. Perlengkapan
dan briket arang mempraktekan Praktek,
pemanfaatan mesin cacah
dan pengolahan dan mesin
lahan yang akan pencetak
dibuka (serasah, briket
ranting tanaman, c. Lokasi
dedaunan) sebagai Praktek
bahan baku kompos
organik dan briket
arang

26
PRAKTEK POKOK INDIKATOR METODA DAN
NO
LAPANGAN BAHASAN KEBERHASILAN ALAT BANTU
3 Simulasi a. Penggunaan Setelah mengikuti a. Praktek,
Pemadaman peralatan praktek ini Bimbingan
kebakaran tangan untuk peserta diharapkan b. Perlengkapan
hutan dan pemadaman mampu dan Praktek
lahan dini kebakaran mahir c. Lokasi
hutan dan menggunakan Praktek
lahan peralatan
b. Simulasi sistem pemadaman
informasi, kebakaran,
kejadian penyampaian
kebakaran informasi
hutan dan serta koordinasi
lahan dalam dan luar
c. Simulasi Tim/Regu
pemadaman
kebakaran
hutan dan
lahan

27
LAMPIRAN IV : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL
PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM
NOMOR : P. 2/IV-SET/2014
TANGGAL : 19 Mei 2014
TENTANG : PETUNJUK TEKNIS PEMBENTUKAN DAN
PEMBINAAN MASYARAKAT PEDULI API

KARTU ANGGOTA MPA


TANGGAL REGISTRASI : .....................................................................
NOMOR REGISTRASI : .....................................................................

TANGGAL PEMBENTUKAN : ..................................................................... 4x6


LOKASI PEMBENTUKAN : .....................................................................
( Kabupaten/Kota, Provinsi)
ALAMAT SEKRETARIAT : .....................................................................

NAMA REGU /KELOMPOK : .....................................................................................................

Nama : .....................................................................................................
Tempat/Tgl Lahir : .....................................................................................................
Agama : .....................................................................................................
Pendidikan : .....................................................................................................
Alamat : .....................................................................................................
.....................................................................................................
Telp : .....................................................................................................

28
LAMPIRAN V : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERLINDUNGAN
HUTAN DAN KONSERVASI ALAM
NOMOR : P. 2/IV-SET/2014
TANGGAL : 19 Mei 2014
TENTANG : PETUNJUK TEKNIS PEMBENTUKAN DAN
PEMBINAAN MASYARAKAT PEDULI API

29
LAMPIRAN VI: PERATURAN DIREKTUR JENDERAL
PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM
NOMOR : P. 2/IV-SET/2014
TANGGAL : 19 Mei 2014
TENTANG : PETUNJUK TEKNIS PEMBENTUKAN DAN
PEMBINAAN MASYARAKAT PEDULI API

PERALATAN TANGAN (HAND TOOLS)


PEMADAMAN KEBAKARAN

Kapak Dua Fungsi Garu Pacul

Gepyok Garu tajam

Pompa Punggung Obor Sulut

30
LAMPIRAN VII : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL
PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM
NOMOR : P. 2/IV-SET/2014
TANGGAL : 19 Mei 2014
TENTANG : PETUNJUK TEKNIS PEMBENTUKAN DAN
PEMBINAAN MASYARAKAT PEDULI API

PERALATAN MEKANIK
PEMADAMAN KEBAKARAN

Pompa Induk Pompa Portable

Pompa Jinjing Pompa Apung (Floating Pump)

Selang Kirim (Delivery House) Tangki Air Lipat

DIREKTUR JENDERAL,

Ir. SONNY PARTONO, MM


NIP. NIP. 19550617 198103 1 008

31

Anda mungkin juga menyukai