BARU
LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL II
Topik : Resin Komposit
Kelompok : A-12
Tgl. Praktikum : Senin, 9 September 2019
Pembimbing : Dr. Intan Nirwana, drg., [Link].
Penyusun:
Rizki Annisa Ro’ifa 021811133054
Salwa Aulia Rahmawati 021811133057
Rafly Zauko Fahrezy 021811133059
DEPARTEMEN MATERIAL KEDOKTERAN GIGI
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2019
1
1. TUJUAN
Setelah praktikum mahasiswa mampu
a. melakukan manipulasi komposit secara tepat
b. mengetahui perbedaan kekerasan hasil polimeralisasi resin komposit berdasarkan
pengamatan.
2. ALAT DAN BAHAN
2.1. Bahan :
a. Resin komposit
b. Resin komposit bulk fill
c. Vaseline
A B C
2.2. Alat :
a. Cetakan teflon ketebalan 2mm, 5mm dan 8mm lubang kecil serta lubang besar
b. Plat kaca
c. Celluloid strip
d. Cure light meter
e. Light curing unit LED
f. Sonde
g. Plastic filling
h. Semen stopper
i. Pemberat
2
A B C D
E F G H
3. CARA KERJA
1. Disiapkan semua alat dan bahan
2. Lapisi semua lubang cetakan teflon dengan vaselin
3. Cetakan teflon ketebalan 2 mm diletakkan diatas plat kaca
4. Isi lubang cetakan teflon dengan resin komposit menggunakan plastic filling
5. Pepatkan resin komposit dengan semen stopper
6. Celluloid strip diletakkan di atas cetakkan teflon
7. Diberikan pemberat diatasnya
8. Dilakukan pengecekan kekuatan sinar menggunakan cure light meter dengan jarak 0 mm
(menempel)
9. Catat besar kekuatan sinar
3
10. Mengaplikasikan light curing unit pada cetakan teflon yang telah terisi resin komposit
dengan jarak 0 mm (menempel pada celluloid strip)
11. Mengecek kekerasan resin komposit dengan cara menggoreskan sonde
12. Mencatat keras atau lunaknya bagian atas dan bawah
13. Melakukan hal yang sama untuk cetakan teflon ukuran 5 mm dan 8 mm lubang kecil dan
penyinaran jarak 10 mm untuk cetakan teflon ukuran 2 dan 5 mm
14. Cetakan teflon ketebalan 8 mm lubang besar diletakkan diatas plat kaca
15. Isi lubang pada cetakan teflon dengan resin komposit menggunakan plastic filling setinggi
+/- 2 mm (layer 1)
16. Pepatkan resin komposit dengan semen stopper
17. Celluloid strip diletakkan di atas cetakkan teflon
18. Diberikan pemberat diatasnya
19. Dilakukan pengecekan kekuatan sinar menggunakan cure light meter dengan jarak 0 mm
(menempel)
20. Catat besar kekuatan sinar
21. Mengaplikasikan light curing unit pada cetakan teflon yang telah terisi resin komposit
dengan jarak 0 mm (menempel pada celluloid strip)
22. Lakukan hal yang sama berulang untuk layer ke dua, tiga dan empat.
23. Mengecek kekerasan resin komposit dengan cara menggoreskan sonde sekuat mungkin
24. Mencatat keras atau lunaknya bagian atas dan bawah
4
4. TINJAUAN PUSTAKA
4.1. Definisi
Resin komposit dapat didefinisikan sebagai gabungan dari dua atau lebih bahan yang
berbeda sifat dan strukturnya yang bertujuan untuk menghasilkan sifat lebih baik yang tidak dapat
didapatkan apabila bahan-bahan tersebut berdiri sendiri. (Mc Cabe & Walls,2008)
4.2. Komposisi
Resin komposit terdiri dari beberapa campuran material yaitu resin matriks, filler, dan
coupling agent. Sistem aktivator-inisator juga diperlukan untuk mengubah pasta resin dari lunak,
moldable, sampai keras. Komponen lain ditambahkan untuk meningkatkan kualitas kinerja,
penampilan, dan durabilitas material. Pigmen atau zat warna ditambahkan untuk menyesuaikan
warna gigi. Ultraviolet (UV) absorber dan bahan tambahan lain berfungsi untuk meningkatkan
stabilitas warna, dan inhibitor dapat mempercepat waktu kerja pada pengaktifan resin secara
kimiawi. (Anusavice, 2012)
4.3. Klasifikasi Resin Komposit
Berdasarkan ukuran partikel filler, berikut klasifikasi jenis resin komposit (Anusavice,
2012).
5
Gambar 1. Klasifikasi dari resin komposit berdasarkan ukuran partikel dengan indikasi penggunaan
(Anusavice, 2012:279)
Selain berdasarkan ukuran partikel fillernya, komposit juga dapat dikelompokkan
berdasarkan cara aktivasinya. Berdasarkan cara aktivasinya, komposit dapat dikelompokkan
menjadi dua yaitu secara kimiawi (self cured) dan menggunakan cahaya atau sinar (light cured).
6
a.) Aktivasi secara Kimiawi (self cured )
Komposit pada awalnya diaktivasi dengan proses polimerasi kimia. Proses ini juga disebut
cold curing atau self curing. Polimerasi aktivasi secara kimia dilakukan dengan
mencampurkan dua pasta sebelum penggunaan komposit. Selama pencampuran, mustahil
untuk menghidari masuknya udara ke dalam campuran yang menyebabkan terbentuknya
pori-pori yang membuat struktur lebih rapuh dan membuat oksigen terjebak. Oksigen ini
menghambat proses polimerasi selama proses curing. Operator juga tidak memiliki kontrol
terhadap waktu pengerjaan setelah kedua komponen tercampur. Insersi dan pembentukkan
kontur harus dilakukan segera setelah komponen resin tercampur (Anusavice, 2012:286).
b.) Aktivasi menggunakan Cahaya (Light Cured)
Untuk mengatasi masalah pada aktivasi kimia, dilakukan pada pengambangan terhadap
resin komposit yang tidak membutuhkan proses pencampuran. Hal ini dilakukan dengan
penggunaan inisiator photosensitive dan sumber cahaya untuk aktivasi (Anusavice,
2012:287).
4.4. Jenis Curing Lamp Komposit
Kebanyakan curing lamp merupakan alat yang memiliki sumber cahaya dan beberapa
juga terhubung dengan jalur cahaya fleksibel berisi cairan pada dental handpiece. Sumber
cahayanya berasal dari quartz bulb dengan filamen tungsten dalam lingkungan halogen yang
hampir sama dengan yang digunakan pada lampu mobil dan proyektor digital. Curing lamp yang
digunakan berturut-turut dari intensitas rendah ke intensitas tinggi, yaitu (Anusavice, 2013) :
a. Light-emitting diode (LED) lamps
Menggunakan proses elektronik. Sumber cahaya ini memancarkan radiasi hanya
pada bagian biru dalam spektrum yang tampak antara 440-480 nm, dan tidak
membutuhkan filter. LED membutuhkan watt yang rendah, dapat menggunakan baterai
sebagai sumber energinya, tidak menghasilkan kalor, dan tidak membutuhkan kipas angin
sehingga tidak menimbulkan suara bising. Meskipun lampu ini menghasilkan intensitas
cahaya radiasi yang rendah, pada versi paling terbaru telah memiliki intensitas yang lebih
tinggi dengan meningkatkan dua atau lebih unit LED baik untuk meningkatkan intensitas
ataupun menambah jangkauan gelombang.
7
b. Quartz-tungsten-halogen (QTH) lamps
Lampu QTH memiliki quartz bulb dengan filamen tungsten yang memancarkan singar
UV dan cahaya putih yang harus di-filter untuk menghilangkan kalor dan semua panjang
gelombang kecuali cahaya yang berada dalam jangkauan violet-biru (400-500 nm).
c. Plasma arc curing (PAC) lamps
Lampu PAC menggunakan gas xenon yang terionisasi untuk memproduksi plasma.
Cahaya putih intensitas tinggi di-filter untuk menghilangkan kalor dan agar dapat
memancarkan cahaya biru (400-500 nm).
d. Argon laser lamps
Lampu ini memiliki intensitas tertinggi dan memancarkan panjang gelombang tunggal.
Lampu ini dapat memancarkan gelombang cahaya sekitar 490 nm.
4.5. Pengaruh Intensitas Cahaya dan Ketebalan Restorasi
Intensitas cahaya kuring pada permukaan restorasi merupakan faktor penting dalam
kesempurnaan kuring. Intensitas cahaya akan berkurang seiringan dengan semakin menjauhnya
dengan permukaan objek. Cahaya akan terus menembus partikel-partikel medium komposit
bersamaan dengan intensitas cahaya berkurang. Kedalaman cahaya yang masuk atau penetrasi
kedalam komposit dipengaruhi oleh panjang gelombang, pancaran yang dihasilkan, dan hamburan
cahaya yang diterima oleh restorasi. Konsentrasi dari photo-initiator harus dapat bereaksi pada
panjang gelombang yang tepat dan tersedia dalam jumlah yang cukup. Dispersi cahaya sangat
dipengaruhi oleh filler dan ukuran partikel. Jarak optimal alat dengan permukaan restorasi untuk
mendapatkan hasil yang optimal adalah 1 mm. Waktu standar yang diperlukan dalam proses kuring
adalah sekitar 20 detik yang cukup digunakan untuk resin komposit dengan ketebalan 2-2,5 mm
(Sakaguchi, 2012.)
Semakin tebal resin komposit yang digunakan akan memiliki kekerasan dan kekuatan yang
menurun jika tidak diberikan waktu penyinaran tambahan yang lebih lama dari yang dianjurkan.
Hal ini terjadi karena adanya tidak sempurnanya reaksi polimerisasi (McCabe, 2008).
8
4.6. Bulk Fill Composite
Bulk Fill Composite merupakan komposit yang lebih translusen jika dibandingkan dengan
komposit lain sehingga memungkinkan cahaya untuk masuk lebih dalam. Keuntungan utama dari
material Bulk Fill Composite ini adalah peningkatan ketebalan dari material yang mungkin dapat
meningkatkan tingkat translusen dan shrinkage stress rendah yang berhubungan dengan
modifikasi dari filler dan/atau matriks organic. Bulk Fill Resin baru-baru ini ditemukan dengan
klasifikasi low-viscosity (flowable) dan high-viscosity (sculptable). Bulk Fill Composite
memungkinkan berguna pada restorasi gigi posterior karena adanya kelebihannya dalam teknik
aplikasi dan polymerization shrinkage (Gupta, 2017).
5. HASIL PRAKTIKUM
Ketebalan Cetakan Jarak Intensitas Keterangan
NO Teknik
Teflon Penyinaran Sinar Atas Bawah
926 Tidak
1 0 mm Keras Keras
mWatt/cm2 berlapis
Keras
2 mm
217 Tidak (sedikit
2 10 mm Keras
mWatt/cm2 berlapis lebih
lunak)
952 Tidak
3 0 mm 2 Keras Lunak
mWatt/cm berlapis
5 mm
248 Tidak Sangat
4 10 mm 2 Keras
mWatt/cm berlapis lunak
5 mm (BULK 965 Tidak
5 0 mm Keras Keras
FILL) mWatt/cm2 berlapis
1004 Tidak Sangat
6 0 mm 2 Keras
mWatt/cm berlapis lunak
8 mm
960
7 0 mm Berlapis Keras Keras
mWatt/cm2
Tabel 1. Hasil manipulasi resin komposit universal restorative dan resin komposit bulk fill
posterior restorative dengan variasi jarak penyinaran dan teknik manipulasi.
9
Gambar 2. Hasil manipulasi resin komposit universal restorative dan resin komposit bulk fill
posterior restorative dengan variasi jarak penyinaran dan teknik manipulasi.
Hasil percobaan manipulasi resin komposit Nano Hybrid – Universal Restorative dan
filtek Bulk Fill – Posterior Restorative dengan variasi ketebalan cetakan teflon, jarak dan
posisi sinar terhadap resin komposit, dan intensitas dari gelombang sinar. Pada percobaan
dengan menggunakan cetakan teflon tebal 2 mm dan 5 mm, dilakukan masing-masing dengan
jarak sinar sejauh 0 mm dan 10 mm. pada percobaan menggunakan cetakan teflon setebal 8
mm, dilakukan penyinaran dengan jarak 0 mm, yang dilakukan sebanyak dua kali yaitu
dengan teknik memasukkan seluruh bahan resin komposit secara langsung kedalam cetakan
teflon dan dengan dilakukan perlapisan. Pada manipulasi resin komposit yang menggunakan
Filtek Bulk Fill – Posterior Restorative, dilakukan pada cetakan teflon dengan ketebalan 5
mm dan jarak penyinaran 0 mm.
6. PEMBAHASAN
Pada percobaan pertama, dilakukan percobaan dengan cetakan yang memiliki ketebalan 2
mm dengan jarak sinar 0 mm dan dengan teknik tidak berlapis. Dengan intensitas sinar sebesar
926 nm, didapatkan hasil cetakan setelah dilakukan penggoresan dengan sonde yaitu pada bagian
atas keras yaitu tidak terdapat goresan dari sonde dan pada bagian bawah cetakan juga keras tanpa
10
adanya goresan dari sonde. Kekerasan hasil cetakan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni
ketebalan cetakan, jarak penyinaran, intensitas sinar, dan lama penyinaran. Pada percobaan kali
ini, tebal cetakan sebesar 2 mm sehingga tergolong ideal untuk dilakukan penyinaran dengan lama
penyinaran sebesar 20 detik, intensitas penyinaran pada percobaan ini sebesar 926 nm yang berarti
melebihi intensitas optimum yaitu 400 nm – 500 nm sehingga sinar dapat menembus ke lapisan
bawah dan terjadi proses polimerasi pada resin komposit.
Pada percobaan kedua, dilakukan percobaan dengan cetakan yang memiliki ketebalan 2
mm dan jarak sinar 10 mm, setelah melakukan penggoresan dengan sonde didapatkan hasil yaitu
bagian atas dan bawah memiliki kekerasan yang sama-sama keras, tetapi sedikit lebih lunak
daripada dengan jarak penyinaran 0 mm. Hal itu berarti tebal cetakan masih dalam ketebalan
normal yaitu 2 mm sehingga penyinaran dapat menembus hingga dasar dan terjadi polimerisasi
pada resin komposit.
Pada percobaan ketiga, dilakukan percobaan dengan cetakan yang memiliki ketebalan 5
mm dengan jarak sinar 0 mm dan teknik tidak berlapis, dengan intensitas sinar sebesar 1004 nm,
setelah dilakukan penggoresan dengan sonde didapatkan hasil yaitu pada bagian atas keras yaitu
tidak terdapat goresan dan pada bagian bawah cetakan sangat lunak yang berarti terdapat goresan
dari sonde. Hasil tersebut dikarenakan pada bagian atas cetakan dekat dengan sinar sehingga
menyebabkan hasil cetakan keras, sedangkan pada bagian bawah cetakan lunak dikarenakan
cetakan memiliki ketebalan yang melebihi ketebalan normal ( 2 – 2,5 mm ) yaitu 5 mm sehingga
pada saat melakukan proses penyinaran, resin komposit tidak dapat mengeras dengan maksimal,
sehingga pada penyinaran bagian atas tidak sama konsistensinya dengan bagian bawah, dan pada
hasil cetakan bagian bawah menjadi lunak. Meskipun intensitas sinar tinggi, jika cetakan resin
komposit terlalu tebal maka akan menyebabkan hasil polimerisasi menjadi lunak.
Pada percobaan keempat, tingkat kekerasan lebih tinggi daripada tingkat kekerasan sisi
bawah. Hal ini disebabkan oleh ketebalan yang dalam (5 mm) mengakibatkan penyebaran dari
energi light curing mengalami divergen terhadap permukaan resin komposit. Hal ini
mengakibatkan menurunnya polimerisasi resin komposit yang ditandai dengan kekerasan yang
meningkat pada bagian atas cetakan, dan menurun pada bagian bawah cetakan. Perbedaan tingkat
kekerasan pada kedua sisi juga dapat disebabkan oleh jarak penyinaran. Semakin besar jarak
penyinaran (10 mm), maka dispersi cahaya light curing unit akan meningkat sehingga akan sulit
untuk memperoleh polimerisasi yang efektif. Semakin jauh jarak ujung light curing unit dengan
11
permukaan resin komposit menyebabkan semakin berkurangnya kekerasan permukaan resin
komposit.
Pada percobaan kelima, cetakan dengan ketebalan 8 mm dengan diameter cetakan kecil,
dengan jarak sinar 0 mm dan teknik tidak berlapis, dengan intensitas sinar sebesar 1004 nm, setelah
dilakukan penggoresan dengan sonde didapatkan hasil yaitu pada bagian atas keras yaitu tidak
terdapat goresan dan pada bagian bawah cetakan sangat lunak sehingga terdapat goresan dari
sonde.
Pada percobaan keenam, cetakan dengan ketebalan 8 mm dan diameter yang kecil serta
teknik light curing layer by layer memiliki tingkat kekerasan yang sama. Hal ini disebabkan oleh
teknik pengaplikasian dengan menggunakan layer by layer setebal kira-kira 2 mm per layer.
Dengan menggunakan teknik ini, sinar dapat menembus masuk sampai lapisan yang paling bawah
sehingga polimerisasi berjalan efektif. Hasilnya, didapatkan tingkat kekerasan yang tinggi.
Pada percobaan ketujuh, menggunakan bulk fill, tingkat kekerasan pada sisi atas dan bawah
sama-sama tinggi (keras). Resin komposit tipe bulk fill dapat disinar hingga kedalaman kurang
lebih 5 mm, karena resin komposit tipe bulk fill ini memiliki kandungan polymerization booster
(ivocerin) pengganti fotoinisiator camphorquinone. Inisiator ini memiliki absorbsi panjang
gelombang dengan rasio yang lebih luas dibandingkan camphorquinone
7. KESIMPULAN
Tingkat kekerasan dari resin komposit dipengaruhi oleh jarak penyinaran curing lamp
terhadap permukaan restorasi, waktu penyinaran, dan ketebalan tumpatan.
12
DAFTAR PUSTAKA
Anusavice, K. Shen, C. and Rawls, H. 2013. Phillip’s Science of Dental Materials. 12th ed. St
Louis : Elsevier Saunders.
Gupta, Ruchi et al. 2017. Bulkfill flowable composite resins. International Journal of Applied
Dental Sciences vol. 3(2). Pp. 38-40.
McCabe, J. F. Walls, A.W.G. 2008. Applied Dental Materials. 9th ed. Oxford : Blackwell
Publishing Ltd.
Powers, J., and Sakaguchi, R. 2012. Craig’s Restorative Dental Materials 13th ed. St. Louis :
Elsevier/Mobsy.
13