Tahapan Audit Laporan Keuangan
Tahapan Audit Laporan Keuangan
Tim penyusun
1
DAFTAR ISI
Table of Contents
KATA PENGANTAR .............................................................................................................. 1
DAFTAR ISI............................................................................................................................. 2
BAB 1 ....................................................................................................................................... 4
PENDAHULUAN .................................................................................................................... 4
1.1 LATAR BELAKANG ................................................................................................. 4
1.2. RUMUSAN MASALAH ............................................................................................. 5
1.3. TUJUAN PENULISAN .............................................................................................. 5
BAB II....................................................................................................................................... 6
PEMBAHASAN ....................................................................................................................... 6
2.1 Tahap-tahap kegiatan audit atas laporan keuangan ........................................... 6
2.2 Penerimaan Penugasan Audit ................................................................................ 6
1. Mengevaluasi Integritas Manajemen (SPAP SA Seksi 319 p.9) ......................... 7
2. Mengidentifikasi Keadaan Khusus dan Resiko tidak biasa (SPAP SA Seksi 315
p.9) 8
3. Menetapkan Kompetensi untuk Melaksanakan Audit (SPAP SA Seksi 210) ... 9
4. Mengevaluasi Independensi (SPAP SA Seksi 220) ............................................. 10
5. Keputusan untuk menerima atau menolak (SPAP SA Seksi 230, 310 ) ........... 11
6. Pembuatan Surat Penugasan ............................................................................... 12
2.3 Perencanaan Audit................................................................................................ 13
2.3.1 Tahap-tahap perencanaan audit laporan keuangan (Mulyadi, 2002) ...... 13
2.3.2 Tahap-tahap perencanaan audit laporan keuangan (Boynton et al, 2003)
14
2.3.3 Tahap-tahap perencanaan audit laporan keuangan menurut Standar
Auditing (IAI, 2001) ...................................................................................................... 14
2
2.3.4 Abdul Halim (2018) menyebutkan ada enam langkah yang dilakukan
dalam perencanaan audit, yaitu : ................................................................................ 15
2.3.5 Materialitas .................................................................................................... 15
2.3.6 Resiko Audit .................................................................................................. 16
2.3.7 Hubungan Materialitas,Risiko Audit dan Bukti Audit ............................. 19
3.1 Pelaksanaan Pengujian Audit .............................................................................. 20
4.1 Pelaporan ............................................................................................................... 20
4.1.1 Standar Pelaporan Audit.............................................................................. 21
BAB III................................................................................................................................... 23
KESIMPULAN ..................................................................................................................... 23
5.1 Kesimpulan ............................................................................................................ 23
5.2 Saran ...................................................................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 25
LAMPIRAN ............................................................................................................................... 27
3
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Perkembangan dunia usaha di Indonesia memberikan dampak bagi
peningkatan kegiatan usaha perusahaan. Disertai dengan semakin kompleksnya
kegiatan perusahaan, perusahaan dituntut untuk mengembangkan kemampuan
bersaingnya (Dewi dan Widasedana, 2015). Manajemen perusahaan harus memastian
bahwa laporan keuangan yang disajikan bebas dari salah saji material, maka
perusahaan membutuhkan jasa akutan publik karena laporan keuangan yang teruji
secara independen dapat menunjang pembuatan keputusan bisnis (Hidayat, 2011).
(Alfiah,[Link]:Analisis Perencanaan Audit Laporan Keuangan Studi
pada Kantor Akuntan Publik XYZ).
Pertimbangan auditor tentang materialitas adalah suatu masalah kebijakan
profesional dan dipengaruhi oleh persepsi auditor tentang kebutuhan yang beralasan
dari laporan keuangan. Definisi materialitas itu sendiri adalah besarnya nilai yang
dihilangkan atau salah saji informasi akuntansi, yang dilihat dari keadaan yang
melingkupinya, dapat mengakibatkan perubahan atas atau pengaruh terhadap
pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan terhadap informasi tersebut,
karena adanya penghilangan atau salah saji (Mulyadi, 2002 : 158).( Jasmadeti,Tri
Widyastuti ,[Link]:Pengaruh Prrofesionalisme Auditor dan
Pertimbangan Tingkat Materialitas Terhadap Kualitas Audit(studi empiris pada
kantor KAP Jakarta Pusat. Vol.6 Edisi 12, Mar 2018)
Perencanaan audit merupakan tahap penting bagi auditor dalam setiap hendak
melakukan audit baik dalam audit keuangan, audit kinerja maupun audit investigatif.
Setiap penugasan audit kinerja, auditor harus menyusun rencana audit. Rencana audit
dimaksudkan untuk menjamin bahwa tujuan audit tercapai secara berkualitas,
ekonomi, efisien, dan efektif (Hasanah, 2013). Menciptakan audit yang efisien dan
efektif diperlukan perencanaan audit yang baik sebelum melaksanakan audit.
Kegagalan untuk merencanakan penugasan audit secara tepat dapat menyebabkan
penerbitan laporan keuangan yang keliru atau audit menjadi tidak efisien dan tidak
efektif (Utami, 2013). Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa-tahap perencanaan audit
merupakan tahapan yang harus menjadi salah satu perhatian yang serius dari auditor.(
4
Alfiah,[Link]:Analisis Perencanaan Audit Laporan Keuangan Studi
pada Kantor Akuntan Publik XYZ).
5
BAB II
PEMBAHASAN
Abdul Halim (2015) menyebutkan ada 4 tahap pada saat melaksanakan audit
laporan keuangan ,yaitu: (Ruchmawati,Jenny Morasa,Meily [Link].2016).
Analisis Perencanaan Audit Laporan keuangan Berdasarkan Standar Profesional
Akuntan Publik (Studi Kasus Pada KAP Ariesman Auly ,[Link] Berkala Ilmiah
Efisiensi Volume 16 No. 03) :
6
Akuntan Publik antara lain sebagai berikut : (Susanti,[Link]:Analisis
Penerimaan Penugasan Audit Atas Laporan Keuangan,Studi kasus pada KAP
Ardaniah [Link] Islam Negeri Aluddin Makasar).
7
2. Mengidentifikasi Keadaan Khusus dan Resiko tidak biasa (SPAP SA
Seksi 315 p.9)
Selain untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan integritas
manajemen, komunikasi antara auditor pendahulu dengan auditor pengganti bertujuan
agar auditor pengganti memperoleh informasi mengenai kecurangan, unsur
pelanggaran hukum oleh klien, dan masalah-masalah yang berkaitan dengan
pengendalian intern.
Secara umun ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengidentifikasi
kondisi khusus dan risiko tidak biasa , anatara lain sebagai berikut :
a. Mengidentifikasi pemakai laporan keuangan Auditor harus mempertimbangkan
apakah klien merupakan perusahaan publik (menjual saham-sahamnya kepada
masyarakat umum) atau perusahaan privat, kepada siapa saja atau kepada pihak
ketiga mana diperkirakan klien berpotensi mempunyai kewajiban sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penambahan persyaratan pelaporan
berarti dapat menambah persyaratan kompetensi, peningkatan biaya audit dan
memperluas kewajiban hukum auditor.
b. Memperkirakan adanya persoalan hukum dan stabilitas keuangan klien Prosedur
yang dapat digunakan auditor untuk mengidentifikasi hal-hal semacam itu adalah
dengan mengajukan pertanyaan kepada manajemen, menganalisa laporan keuangan
yang pernah diterbitkan baik yang diaudit maupun yang tidak diaudit dan bila mana
ada mereview laporan-laporan yang disampaikan kepada berbagai instansi.
c. Mengidentifikasi apakah terdapat pembatasan ruang lingkup audit oleh klien
Ketika mempertimbangkan apakah akan menerima suatu perikatan, auditor harus
mengevaluasi apakah pembatasan terhadap ruang lingkup pemeriksaan audit
menerima resiko yang menyebabkan auditor tidak dapat menerbitkan pendapat
wajar tanpa pengecualian. Jika manajemen mencegah kunjungan ke lokasi-lokasi
tertentu yang dianggap material oleh auditor, atau membatasi hubungan dengan
konsumen atau pemasok tertentu, auditor harus mempertimbangkan apakah
tindakan-tindakan tersebut menyebabkan diterbitkannya pendapat wajar tanpa
pengecualian.
d. Mengevalusi auditabilitas perusahaan klien Auditor harus mengevaluasi apakah
terdapat kondisi-kondisi lain yang menimbulkan pertanyaan mengenai auditabilitas
klien. Kemungkinan perusahaan tidak memiliki catatan-catatan akuntansi atau
catatan akuntansi yang dimiliki buruk sekali, perusahaan juga tidak memiliki
8
struktur organisasi yang jelas, pengendalian intern yang tidak memadai, adanya
kemungkinan pembatasan klien atas audit yang akan dilakukan.
Sedangkan berdasarkan SPAP ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk
mengidentifikasi kondisi khusus dan risiko tidak biasa, yaitu ;
a. Menilai apakah terdapat kondisi yang memerlukan evisi terhadap ketentuan
perikatan audit dan apakah perlu untuk mengingatkan antitas yang
bersangkutan tentang ketentuan perikatan audit yang masih berlaku
b. Mengidentifikasi apakah terdapat alasan yang memadai untuk melakukan
perubahan dalam ketentuan perikatan audit
c. Mengidentifikasi apakah kerangka pelaporan keuangan yang akan diterapkan
dalam penyusunan laporan keuangan dapat diterima
d. Memperoleh persetujuan dari manajemen bahwa manajemen mengakui dan
memahami tanggu jawabnya
e. Mengidentifikasi apakah terdapat pembatasan ruang lingkup audit oleh klien
f. Menilai apkah terdapat pertimbangan lainnya dalam penerimaan perikatan
audit
9
b. Penetapan tim audit
Tim audit dapat ditentukan dengan kriteria,yaitu:
1) Seorang partner yang bertanggungjawab penuh dan merupakan
penanggungjawab akhir dari semua proses penugasan audit laporan keuangan
2) Seorang manajer atau lebih yang mengkoordinasi dan melakukan supervisi
pelaksanakan program audit
3) Seorang supervisi atau lebih yang membantu pengkoordinasian dan
melakanakan review terhadap hal kinerja tim audit
4) Seorang senior lebih bertanggungjawab atas sebagian program audit
5) Staff asisten yang mengerjakan berbagai prosedur audit yang diperlukan
c. Mempertimbangkan kebutuhan konsultasi dan pengguna spesialis (SA seksi
336)
Auditor tidak diharapkan untuk memiliki keahlian atau pelatihan untuk suatu
pekerjaan yang merupakan bidang profesi yang lain (PSA No. 39, SA seksi 336).
Penggunaan Pekerjaan Spesial menyatakan bahwa auditor bisa menggunakan
pekerjaan special untuk mendapatkan bukti yang kompeten, misalnya menggunakan
spesialis appraise guna mendapatkan bukti penilaian barang-barang seni, insinyur
tambang untuk menentukan jumlah cadangan atau deposit barang tambang yang ada
di suatu pertambangan, aktuaris untuk menentukan jumlah rupiah program pension
yang akan digunakan dalam akuntansi, penasehat hukum untuk memperkirakan hasil
akhir dari suatu perkara pengadilan yang masih berjalan dan konsultan lingkungan
untuk menentukan pengaruh undang-undang dan peraturan tentang lingkungan.
Sebelum menggunakan spesialis, auditor harus memperkirakan apakah ia akan puas
dengan kualifikasi profesional, reputasi dan objektivitas spesialis yang digunakannya
walaupun pada akhirnya hasil keputusan dari para spesialis ini akan menjadi
tanggungjawab auditor sepenuhnya.
Beberapa hal lain yang perlu diperhatikan dalam hal ini, meliputi :
a. Pemahaman dan pengalaman praktik atas perikatan audit .
b. Pemahaman standar profesi serta ketentuan hukum yang berlaku
c. Keahlian teknis ( bidang teknologi dan informasi ) dan bidang tertentu ( bidang
akuntansi atau audit)
d. Pengetahuan industry yang relevan dengan bidang usaha klien
e. Kemampuan menggunakan pertimbangan professional
f. Pemahaman tentang kebijakan dan pengendalian mutu KAP.
10
Independensi dalam audit berarti mengambil sudut pandang yang tidak biasa
dalam melakukan pengujian audit, evaluasi hasil pengujian dan penerbitan laporan
audit. Independensi merupakan salah satu karakteristik terpenting seorang auditor dan
merupakan dasar prinsip integritas dan objektivitas (Diah dan Bambang, 2017).
Menurut Rizqi dan Sujtipto (2017) Independensi mencakup dua aspek yaitu
independensi dalam fakta (in fact) dan independensi dalam penampilan (in
appearance). Independensi in fact merupakan kemampuan auditor untuk bersikap
bebas, jujur, dan objektif dalam melakukan penugasan audit. Sedangkan independensi
in appearance adalah independensi yang dipandang dari pihak-pihak yang
berkepentingan terhadap perusahaan yang di audit yang mengetahui hubungan antara
auditor dengan kliennya.
Standar auditing pada Standar umum kedua menyatakan bahwa dalam semua
hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental harus
dipertahankan oleh auditor. Salah satu prosedur yang lazim ditempuh adalah
mengirim surat edaran kepada semua staf profesional kantor akuntan publik yang
bersangkutan dengan menyebutkan nama calon klien, untuk mengidentifikasi
kemungkinan adanya hubungan keuangan atau ada hubungan keluarga dengan klien
tersebut. Apabila disimpulkan bahwa persyaratan independensi tidak dapat dipenuhi,
maka penugasan harus dibatalkan atau ditolak dengan cara calon klien diberi
informasi bahwa apabila audit tetap akan dilaksanakan, maka auditor akan menolak
memberikan pendapat. Selain dari itu Kantor akuntan publik harus memastikan
bahwa menerima klien tersebut tidak akan menimbulkan pertentangan kepentingan
dengan klien lainnya. (Al. Haryanto Jusuf, 2001 : 178) . beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam mengevalusi independensi berdasarkan SPAP , antara lan:
a. Memperoleh informasi yang relevan untuk mengidentifikasi dan
mengevaluasihubungan yang menciptakan ancaman terhadap independensi
b. Mengevaluasi informasi tentang pelanggaran yang teridentifikasi apakah
menciptakan pelanggaran terhadap independensi
c. Melakukan tindakan yang tepat untuk menghilangkan ancaman atau
menguranginya ke tingkat yang dapat diterima
11
organisasi auditor independen untuk mengamati standar pekerjaan lapangan dan
standar pelaporan.
Dalam menentukan keputusan mengenai apakah akan menerima atau menolak
suatu penugasan audit, penggunaan kemahiran profesional dengan kecermatan dan
keseksamaan diperlukan untuk melihat kondisi-kondisi yang dapat menyebabkan
kantor akuntan publik menarik diri dari suatu audit termasuk kekhawatiran mengenai
integritas manajemen atau penahanan bukti yang tampak selama audit, klien menolak
untuk membenarkan salah saji material dalam laporan keuangan dan klien mengambil
langkah-langkah yang tepat untuk memperbaiki kecurangan atau tindakan melawan
hukum yang ditemukan selama audit.
Selain hal diatas ada hal lain yang perlu dipertimbangkan oleh auditor adalah
mengenai penunjukkan auditor independen. Standar pekerjaan lapangan petama
berupa pekerjaan yang harus direncanakan dengan sebaik-baiknya dan jika digunakan
asisten harus melalui supervisi sebagaimana mestinya. Pertimbangan atas standar
pekerjaan lapangan pertama ini memicu kesadaran bahwa penunjukkan auditor
independen secara dini akan memberikan banyak manfaat bagi auditor maupun klien.
Penunjukkan secara dini memungkinkan auditor merencanakan pekerjannya
sedemikian rupa sehingga pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan sebelum tanggal
neraca. (SA 310.p3) .
12
e. Fakta bahwa karena sifat pengujian dan keterbatasan bawaan lain suatu audit dan
dengan keterbatasan bawaan pengendalian intern, terdapat resiko yang tidak dapat
dihindarkan tentang kemungkinan beberapa salah saji material tidak dapat
dideteksi.
f. Akses yang tidak dibatasi terhadap catatan, dokumen, dan informasi lain apa pun
yang diminta auditor dalam hubunganya dengan audit.
g. Pembatasan atas tanggungjawab auditor
h. Komunikasi melalui e-mail
13
3. Mempertimbangkan tingkat materialitas awal.
4. Mempertimbangkan risiko bawaan.
5. Memahami pengendalian intern klien.
6. Mempertimbangkan beberapa faktor yang berpengaruh terhadap saldo awal,
jika perikatan dengan klien berupa audit tahun pertama.
7. Memahami pengendalian intern klien.
14
9. Membuat kertas kerja (SA seksi 339)
10. Pos laporan keuangan yang mungkin memerlukan penyesuaian atau
adjustment. (SA seksi 311)
11. Sifat laporan auditor yang diharapkan akan diserahkan (sebagai contoh,
laporan auditor tentang laporan keuangan konsolidasian, laporan keuangan
yang akan diserahkan ke Bapepam, laporan khusus untuk menggambarkan
kepatuhan klien terhadap kontrak perjanjian). (SA seksi 311)
2.3.4 Abdul Halim (2018) menyebutkan ada enam langkah yang dilakukan
dalam perencanaan audit, yaitu :
1. Menghimpun pemahaman bisnis klien dan industri klien
2. Melakukan prosedur analitis
3. Melakukan penilaian awal terhadap materialitas
4. Menilai risiko audit
5. Mengembangkan strategi audit pendahuluan untuk asersi-asersi yang
signifikan
6. Menghimpun pemahaman struktur pengendalian intern klien
2.3.5 Materialitas
Materialitas merupakan suatu konsep yang sangat penting dalam audit laporan
keuangan karena materialitas mendasari penerapan standar auditing, khususnya
standar pekerjaan lapangan, dan standar pelaporan. Materialitas adalah besarnya
kelalaian atau pernyataan yang salah pada informasi akuntansi yang dapat
menimbulkan kesalahan dalam pengambilan keputusan (Abdul Halim :2018).
Auditor melakukan penilaian awal mengenai tingkat materialitas dalam
perencanaan audit. Penilaian ini sering disebut sebagai planning materiality. Penilaian
ini mungkin berbeda dengan tingkat materialitas yang digunakan nanti pada saat
pengevaluasian temuan audit (Abdul Halim :2018).
Dalam perencanaan audit, auditor menentukan materialitas pada dua tingkat (Abdul
Halim :2018):
a) Materialitas tingkat laporan keuangan.
Auditor menentukan materialitas pada tingkat laporan keuangan karena
pendapat auditor tentang kewajaran adalah mengenai laporan keuangan secara
keseluruhan dan tidak sepotong-potong. Laporan keuangan mengandung salah saji
yang material bila berisi kekeliruan dan ketidakberesan yang secara individu maupun
kolektif sangat besar pengaruhnya terhadap kewajaran laporan keuangan.
15
b) Materialitas tingkat saldo akun (akun adalah istilah dalam Standar
Profesional Akuntan Publik yang berarti sama dengan perkiraan).
Materialitas pada tingkat saldo akun sering disebut juga dengan tolerable
misstatement. Tolerable misstatement adalah salah saji maksimum yang boleh ada
dalam saldo akun sehingga tidak dianggap sebagai salah saji material. Ada hubungan
erat antara tolerable misstatement dengan materialitas pada tingkat laporan keuangan.
Akun-akun yang secara individual tidak materialitas, bila diakumulasikan dapat
menjadi material secara kumulatif pada tingkat laporan keuangan.
Konsep materialitas diterapkan oleh auditor pada tahap perencanaan dan
pelaksanaan audit, serta pada saat mengevaluasi dampak kesalahan penyajian yang
teridentifikasi dalam audit dan kesatahan penyajian yang tidak dikoreksi; jika ada,
terhadap laporan keuangan dan pada saat merumuskan opini datam laporan auditor.
Sebagaimana ditetapkan da|am standar audit (SA 320. A1) “ ......... Materialitas dan
risiko audit perlu dipertimbangkan sepanjang pelaksanaan audit , khususnya pada saat
(Al Haryono Jusup. 2014):
a) Mengidentifikasi dan menitai kesalahan penyaiian material;
b) Menentukan sifat, saat; dan luas prosedur audit selanjutnya; dan
c) Mengevaluasi dampak kesalahan penyajian yang tidak dikoreksi; jika ada;
terhadap laporan keuangan dan dalam merumuskan opini dalam laporan
auditor.”
16
penyajian material sebelum audit dlakukan. Risiko kesalahan penyajian material
dapat terjadi di dua tingkat (Al Haryono Jusup. 2014):
1) Tingkat laporan keuangan secara keseluruhan; dan
2) Tingkat asersi untuk golongan transaksi, saldo, akun, dan pengungkapan.
Risiko kesalahan penyajian material pada tingkat laporan keuangan secara
keseluruhan mengacu ke risiko kesalahan penyajian material yang berdampak tuas
(pervasif) terhadap laporan keuangan secara keseluruhan dan berpotensi
memengaruhi banyak asersi (Al Haryono Jusup. 2014).
Risiko kesalahan penyajian material pada tingkat asersi dinilai untuk
menentukan sifat, saat, dan luas prosedur audit yang diperlukan untuk memperoteh
bukti audit yang cukup dan tepat. Bukti audit tersebut memungkinkan auditor untuk
menyatakan opini atas laporan keuangan pada tingkat rendah yang dapat diterima.
Risiko kesalahan material pada tingkat asersi terdiri dari dua komponen, yaitu: risiko
inheren dan risiko pengendalian (Al Haryono Jusup. 2014).
Penilaian risiko auditor atas risiko kesalahan penyajian material pada tingkat
asersi dapat berubah selama pelaksanaan audit, sejalan dengan diperolehnya bukti
audit tambahan. Dalam kondisi ketika auditor memperoleh bukti audit dari prosedur
audit lanjutan, atau ketika infomasi baru diperoleh, yang kedua bukti tersebut tidak
konsisten dengan bukti audit awal yang menjadi dasar penilaian, auditor harus
merevisi penilaian tersebut. dan oleh karena itu memodifikasi prosedur audit lanjutan
yang direncanakan sebelumnya (Al Haryono Jusup. 2014).
Auditor menggunakan beberapa pendekatan untuk mencapai tujuan penilaian
risiko kesalahan penyajian material. Salah satu pendekatan yang banyak digunakan
para auditor adalah dengan menggunakan suatu model yang menggambarkan
hubungan umum berbagai komponen risiko audit dalam istilah matematis untuk
mencapai tingkat risiko deteksi yang dapat diterima yang disebut model risiko audit.
Model tersebut berguna untuk merencanakan prosedur audit. Dalam prosedur
perencanaan, auditor mempertimbangkan risiko untuk mendapatkan bukti audit
terutama dengan menerapkan model risiko audit (Al Haryono Jusup. 2014).
a. risiko deteksi
Standar audit (SA 200. 13 (a)) mendefinisikan risiko deteksi sebagai berikut:
Risiko deteksi adalah risiko bahwa prosedur yang dilaksanakan oleh auditor
untuk menurunkan risiko audit ke tingkat rendah yang dapat diterima tidak akan
mendeteksi suatu kesalahan penyajian yang ada dan yang mungkin material, baik
secara individual maupun secara kolektif ketika digabungkan dengan kesalahan
penyajian lainnya (Al Haryono Jusup. 2014).
17
Dengan lain perkataan, risiko deteksi adalah risiko yang timbul karena bukti
audit tidak berhasil mendeteksi kesalahan penyajian yang melebihi kesalahan
penyaiian yang bisa ditoleransi (atau disebut juga materialitas pelaksanaan).
b. risiko inheren
Standar audit (SA 200.13 (n)) mendefinisikan tisiko inheren sebagai berikut:
Risiko inheren: Kerentanan suatu asersi tentang suatu golongan transaksi,
saldo akun, atau pengungkapan terhadap suatu kesalahan penyajian yang mungkin
material, baik secara individual maupun secara kolektif ketika digabungkan dengan
kesalahan penyajian lainnya, sebelum mempertimbangkan pengendalian internet yang
terkait (Al Haryono Jusup. 2014).
Dengan perkataan lain, risiko inheren adalah penilaian auditor mengenai
kemungkinan adanya kesalahan penyajian material yang disebabkan karena
kekeliruan atau kecurangan sebetum mempertimbangkan efektivitas pengendalian
internal.
c. risiko pengendalian
Standar audit (SA 200. 13 (n)) mendefinisikan nsrko pengendalian sebagai
berikut:
Risiko pengendalian: Risiko bahwa suatu kesalahan penyayan yang mungkin
terjadi dalam suatu asersi tentang suatu gotongan transaksi, saldo akun, atau
pengungkapan yang mungkin material, baik secara individual maupun secara kolektif
ketika digabungkan dengan kesalahan penyajian lainnya, tidak akan dapat dicegah,
atau dideteksi dan dikoreksi, secara tepat waktu oleh pengendalian internal entitas (Al
Haryono Jusup. 2014).
Dengan perkataan lain, risiko pengendalian mengukur penilaian auditor
tentang apakah kesalahan penyajian yang melebihi jumlah kesalahan penyajian bisa
ditoleransi pada suatu segmen akan dapat dicegah atau dideteksi secara tepat waktu
oleh sistem pengendalian internal klien.
Dalam semua audit, auditor harus memperoleh pemahaman tentang
pengendalian intern yang memadai untuk merencanakan audit dengan melaksanakan
prosedur untuk memahami desain pengendalian yang relevan dengan audit atas
laporan keuangan, dan apakah pengendalian intern tersebut dioperasikan. Setelah
memperoleh pemahaman tersebut, auditor menaksir risiko pengendalian untuk asersi
yang terdapat dalam saldo akun, golongan transaksi, dan komponen pengungkapan
dalam laporan keuangan.
Auditor dapat menaksir risiko pengendalian pada tingkat maksimum
(probabilitas tertinggi bahwa salah saji material dapat terjadi dalam suatu asersi tidak
akan dicegah atau dideteksi pada saatnya oleh pengendalian intern entitas) karena
18
auditor yakin bahwa pengendalian tidak mungkin berkenaan dengan suatu asersi,
tidak mungkin efektif, atau karena evaluasi terhadap efektivitasnya tidak akan efisien.
Sebagai alternatifnya, auditor dapat memperoleh bukti audit tentang efektivitas baik
desain maupun operasi suatu pengendalian yang mendukung risiko pengendalian
taksiran rendah.
Bukti audit semacam itu dapat diperoleh dari pengujian pengendalian yang
direncanakan atau dilaksanakan bersamaan prosedur yang dilaksanakan untuk
memperoleh pemahaman yang tidak secara khusus direncanakan sebagai pengujian
pengendalian.
Setelah memperoleh pemahaman dan menaksir risiko pengendalian, auditor
dapat menilai lebih lanjut tingkat asersi tertentu. Dalam hal seperti ini, auditor
mempertimbangkan apakah bukti audit yang di dapat cukup untuk mendukung dalam
penilaian tingkat asersi dan apakah perlu melaksanaan pengujian pengendalian
tambahan untuk memperoleh bukti audit. Auditor menggunakan pengetahuannya
untuk menilai asersi laporan keungan berdasarkan hasil dari pemahaman atas
pengendalian intern dan tingkat risiko atas taksiran dalam menentukan sifat, saat, dan
luas pengujian substantive.
Bukti audit adalah semua informasi yang digunakan auditor untuk mencapai
kesimpulan yang menjadi dasar Opini audit. dalam hal ini bukti audit (audit evidence)
berbeda dengan bukti hukum (legal evidence) yang diatur secara tegas oleh peraturan
yang ketat. Bukti audit sangat bervariasi pengaruhnya terhadap kesimpulan yang
ditarik oleh auditor independen dalam rangka memberikan opini atas laporan
keuangan auditan. Relevansi, obyektivitas, ketepatan waktu, dan keberadaan bukti
audit !ain yang menguatkan kesimpulan, seluruhnya berpengaruh terhadap
kompetensi bukti (Al Haryono Jusup. 2014).
19
bersedia untuk menanggung resiko audit tinggi sehingga tingkat kepastian yang
diinginkan oleh auditor adalah rendah-auditor perlu mengumpulkan bukti audit
kompeten dalam jumlah kecil saja (Mulyadi, 2014).
Berbagai kemungkinan Hubungan antara materialitas, risiko audit, dan
bukti audit digambarkan sebagai berikut (Mulyadi, 2014) :
1. Jika auditor mempertahankan risiko audit konstan dan tingkat materialitas
dikurangi, auditor harus menambah bukti audit yang dikumpulkan.
2. Jika auditor mempertahankan tingkat materialitas konstan danmengurangi
bukti audit yang dikumpulkan, resiko audit menjadi meningkat
3. Jika auditor menginginkan untuk mengurangi risiko audit, auditor dapat
menempuh salah satu dari tiga cara berikut :
a) Menambah tingkat materialitas, sementara itu mempertahankan jumlah
bukti audit yang dikumpulkan.
b) Menambah jumlah bukti audit yang dikumpulkan, sementara itu
tingkat materialitas tetap dipertahankan.
c) Menambah sediki jumlah bukti audit yang dikumpulkan dan tingkat
materialitas secara bersama-sama.
4.1 Pelaporan
Dalam tahap akhir pekerjaan audit atas laporan keuangan berupa pelaporan
audit, terdapat dua tahap penting :
1. Menyelesaikan audit dengan meringkas semua hasil pengujian dan menarik
simpulan,
2. Menerbitkan laporan audit.
20
Dari hasil tahap pelaksanaan pengujian audit yang berupa kertas kerja tersebut,
auditor menarik simpulan secara menyeluruh dan memberikan pendapat atas
kewajaran laporan keuangan auditan. Proses ini sangat subyektif sifatnya, yang
sangat tergantung pada pertimbangan profesional auditor. (Pradipto,Adhiyudho
[Link]:Analisi Perencanaan Audit Laporan Keuangan Pada KAP
Joachim Sulistyo & [Link] Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta).
Pelaporan Audit sangat penting dan menentukan untuk mencapai hasil audit
yang memuaskan. Agar dapat memenuhi tanggung jawabnya auditor harus:
1. Memahami keempat standar pelaporan
2. Mengerti penyajian kata yang tepat dalam laporan audit bentuk baku
3. Memahami jenis-jenis penyimpangan
4. Memahami berbagai pertimbangan pelaporan khusus lain yang penting
21
Pengaitan Nama Auditor Dengan Laporan Keuangan Standar pelaporan
keempat menyatakan: “Laporan audit harus memuat suatu pernyataan pendapat
mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan
demikian tidak dapat diberikan. Jika pendapat secar keseluruhan tidak dapat
diberikan, maka alasannya harus dinyatakan. Dalam semua hal yang nama auditor
dikaitkan dengan laporan keuangan, laporan audit harus memuat petunjuk yang jelas
mengenai sifat pekerjaan auditor, jika ada, dan tingkat tanggung jawab yang
dipikulnya”.
(Diakses melalui: [Link]
audit)
22
BAB III
KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Tahap-tahap kegiatan audit atas laporan keuangan menurut Abdul Halim
(2015), yaitu : 1)Penerimaan penugasan audit, 2)Perencanaan audit, 3)Pelaksanaan
audit, 4)Pelaporan hasil temuan. Sedangkan menurut Mulyadi (2002: 121-123),tahap-
tahap audit atas laporan keuangan, yaitu : 1)Penerimaan perikatan audit,
2)Perencanaan audit, 3)Pelaksanaan pengujian audit, 4)Pelaporan audit.
Menurut SPAP, Penerimaan Penugasan Audit, tahap pertamanya
mengevaluasi Integritas Manajemen. Informasi yang kemungkinan berkaitan dengan
integritas manajemen, antara lain adalah : a)Menelaah Klien Baru, b)Melanjutkan
Klien Lama. Tahap keduanya mengidentifikasi Keadaan Khusus dan Resiko tidak
[Link] umun ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengidentifikasi
kondisi khusu dan risiko tidak biasa, yaitu : a)Mengidentifikasi pemakai laporan
keuangan, b)Memperkirakan adanya persoalan hukum dan stabilitas keuangan klien,
c)Mengidentifikasi apakah terdapat pembatasan ruang lingkup audit oleh klien,
d)Mengevalusi auditabilitas perusahaan klien. Tahap selanjutnya Menetapkan
Kompetensi untuk Melaksanakan Audit. Prinsip-prinsip akuntansi dan standar
auditing yang ditetapkan oleh Institute Akuntan Publik Indoensia :
a)Mempertimbangkan jasa yang diinginkan, b)Penetapan tim audit,
c)Mempertimbangkan kebutuhan konsultasi dan pengguna spesialis. Tahap Keempat,
yaitu Mengevaluasi Independensi, tahap kelima yaitu : Keputusan untuk menerima
atau menolak. Dan tahap terakhir yaitu : Pembuatan Surat Penugasan
Perencanaan Audit, Tahap-tahap perencanaan audit laporan keuangan
menurut Mulyadi, 2002, yaitu : 1)Memahami bisnis dan industri klien ,
2)Melaksanakan prosedur analitik, 3)Mempertimbangkan tingkat materialitas awal,
4)Mempertimbangkan risiko bawaan, 5)Memahami pengendalian intern klien,
6)Mempertimbangkan beberapa faktor yang berpengaruh terhadap saldo awal, jika
23
perikatan dengan klien berupa audit tahun pertama, 7)Memahami pengendalian intern
klien.
Materialitas adalah besarnya kelalaian atau pernyataan yang salah pada
informasi akuntansi yang dapat menimbulkan kesalahan dalam pengambilan
keputusan. Dalam perencanaan audit, auditor menentukan materialitas pada dua
tingkat, yaitu : a)Materialitas tingkat laporan keuangan, b)Materialitas tingkat saldo
akun.
Risiko kesalahan penyajian material dapat terjadi di dua tingkat, yaitu :
1)Tingkat laporan keuangan secara keseluruhan; dan Tingkat asersi untuk golongan
transaksi, saldo, akun, dan pengungkapan. Model risiko audit, yaitu : risiko deteksi,
risiko inheren, risiko pengendalian.
Terdapat hubungan berlawanan antara materialitas dan bukti audit.
Demikian pula hubungan antara risiko audit dengan bukti audit.
Tahap pelaksanaan pengujian audit ini juga disebut dengan pekerjaan lapangan.
Tujuan utama pelaksanaan pengujian audit adalah untuk memperoleh bukti audit
tentang efektivitas pengendalian intern klien dan kewajaran laporan keuangan klien.
Dalam tahap akhir pekerjaan audit atas laporan keuangan berupa pelaporan
audit, terdapat dua tahap penting : 1)Menyelesaikan audit dengan meringkas semua
hasil pengujian dan menarik simpulan, 3)Menerbitkan laporan audit. Standar
Pelaporan Audit ada empat, yaitu : Standar Pelaporan Pertama, Standar Pelaporan
Kedua, Standar Pelaporan Ketiga, Standar Pelaporan Keempat.
5.2 Saran
Kami sadar makalah ini yang berjudul “Tahapan Audit Atas Laporan Keuangan”
masih sangat jauh dari kata sempurna. Maka dari itu kami meminta kritik dan
sarannya yang bersifat membangun.
24
DAFTAR PUSTAKA
Halim, Abdul. 2018. Auditing 1, Dasar-Dasar Audit Laporan Keuangan. Edisi Revisi.
Yogyakarta: Unit Penerbitan dan Percetakan Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN
Hidayat, M. (2011). Peranan Audit Intern sebagai Strategic Business Partner di PT.
Pertani (Persero) Wilayah Sumatera Bagian Selatan. Jurnal Ekonomi dan Informasi
Akuntansi Vol.1 No. 1.
25
Jasmadeti,Tri Widyastuti ,[Link]:Pengaruh Prrofesionalisme Auditor
dan Pertimbangan Tingkat Materialitas Terhadap Kualitas Audit(studi empiris pada
kantor KAP Jakarta Pusat. Vol.6 Edisi 12, Mar 2018
26
LAMPIRAN
UP : HENRY SUPANNI
Pembukuan merupakan sarana yang sangat penting dalam penyajian informasi keuangan
perusahaan yang disajikan dalam bentuk laporan keuangan dan menjadi dasar dalam
Perencanaan, Pengawasan serta alat untuk membantu pengambilan keputusan juga dalam
menghitung besarnya jumlah pajak terhutang.
Mengingat pentingnya pembukuan maka Pasal 28 Ayat 1 Undang-undang No.6 Tahun 1983
sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No 16 Tahun 2000 tentang ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan, telah menetapkan bahwa Wajib pajak orang pribadi yang
melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dan Wajib Pajak Badan di Indonesia wajib
melakukan Pembukuan.
Untuk kebutuhan tersebut kami menawarkan Jasa Accounting Service dan Perpajakan.
1. Melakukan proses Akuntansi melalui pencatatan dimulai dari Transaksi harian, Chart
Of Account (KodeAkun), Jurnal, Neracalajur, BukuBesar (GL), Buku Pembantu
Sampai kepada penyusunan laporan keuangan Komersial (triwulanan dan Tahunan
2012) dan Fiskal serta informasi tambaha sesuai dengan kebutuhan Perusahaan.
2. Accounting Service akan diselesaikan sesuai dengan periode Pelaporan Akuntansi
yang normal atau sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Sedangkan untuk
pelaporan pajak akan disesuaikan waktu yang ditetapkan oleh peraturan
perundang-undangan perpajakan.
27
3. PerhitunganAkumulasiDepresiasiPenyusutanAktivatetapdenganmetode yang
telahditentukan.
B. RuangLingkupPekerjaanPerpajakan
Cara Pembayaran :
Pembayaran 1 - DP 50 % x Rp 50.000.000 = Rp 25.000.000,- (SaatPersetujuanKontrak)
Pembayaran 2 – Sisa 50 % xRp 50.000.000 = Rp 25.000.000,- (SelesaiLaporan Final Report
)
Transfer Pembayaran ke :
28
Demikianlah Surat Penawaran ini Kami buat ,tidak lupa sebelumnya kami ucapkan
terimakasih kepada Bapak atas kesempatan yang telah diberikan kepada Kami.
Konsultan Direktur
29