I.
DIODA ESAKI
Dioda Tunnel atau Dioda Terowongan adalah jenis Dioda yang memiliki kemampuan untuk
beroperasi dengan kecepatan yang sangat tinggi dan dapat berfungsi dengan baik pada Gelombang
Mikro (Microwave) sehingga dimungkinkan untuk penggunaan pada Efek Mekanika Kuantum
(Quantum Mechanical Effect) yang disebut dengan Tunneling (Terowongan). Dioda Tunnel
ditemukan oleh Dr. Leo Esaki pada tahun 1957, oleh karena itu Dioda Tunnel sering disebut juga
sebagai Dioda Esaki. Dioda Tunnel terbuat dari konsentrasi ketidakmurnian yang tinggi sehingga
timbul efek tunnel.
STRUKTUR DASAR DAN SIMBOL
CARA KERJA
Ketika suatu tegangan yang nilainya kecil dihubungkan pada dioda tunnel,maka dioda tersebut mulai
menghantarkan arus. Begitu tegangannya dinaikkan,arus yang dialirkan dioda juga ikut naik hingga
mencapai suatu nilai puncak (peak current, Ip).Tetapi, apabila tegangannya masih terus dinaikkan
sedikit lagi, arusnya malah berkurang hinggamencapai nilai terendahnya(current calley, IV). Lalu,
apabila tegangan dinaikkan lagi, maka arusyang dialirkan dioda tersebut akan ikut naik, namun kali
ini arusnya tidak akan pernah turun lagi.
SUSUNAN PN-JUCNTION
Daerah penipisan atau lapisan penipisan dalam dioda persimpangan p-n terdiri dari ion positif dan
ion negatif. Karena ion positif dan negatif ini, terdapat medan listrik atau listrik bawaan di wilayah
penipisan. Medan listrik di daerah penipisan ini memberikan gaya listrik ke arah yang berlawanan
dengan medan listrik eksternal (tegangan).
Hal lain yang perlu kita ingat adalah bahwa pita energi valensi dan pita konduksi pada
semikonduktor tipe-n sedikit lebih rendah daripada pita valensi dan tingkat energi pita konduksi pada
semikonduktor tipe-p. Perbedaan tingkat energi ini disebabkan oleh perbedaan tingkat energi atom
yang digunakan untuk membentuk semikonduktor tipe-n dan tipe-p.
GRAFIK KARAKTERISTIK
Dari gambar karakteristik diatas terlihat bahwa ketika Tegangan bias maju (Forward Bias) kecil
diberikan ke Dioda Tunnel, arus pun ikut meningkat. Seiring dengan bertambah Tegangan bias maju,
arus meningkat mencapai puncak arus (Ip), namun ketika Tegangan meningkat lagi sedikit pada nilai
tertentu Arus berubah menjadi menurun hingga titik terendahnya atau disebut dengan arus lembah
(Iv). Apabila Tegangan yang diberikan meningkat lebih lanjut lagi, maka Arus pada Dioda Tunnel
akan mulai meningkat lagi.
Tegangan bias maju yang diperlukan untuk menggerakan Dioda Tunnel ke puncak arus dan
kemudian menurun menuju ke lembah arus disebut sebagai Puncak Tegangan (Vp) sedangkan
Tegangan pada Lembah itu sendiri disebut dengan Tegangan Lembah (Vv). Wilayah dimana arus
mulai menurun dari Ip ke Iv pada saat diberikan Tegangan Maju ini disebuh dengan wilay Resistansi
Negatif (wilayah antara Vp an Vv pada Grafik).
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
Kelebihannya :
Murah
Noise rendah
Berkecepatan tinggi
Imun terhadap lingkungan, dan
Berdaya rendah.
Kekurangannya
Selisih tegangan-keluaran rendah dan hanya merupakan komponen-dua terminal serta
menyebabkan tidak ada isolasi input-output, sehingga menimbulkan kesulitan dalam disain
rangkaian.
CONTOH PENGGUNAAN
Dioda Tunnel ini biasanya digunakan di rangkaian pendeteksi frekuensi dan konverter.
Satu aplikasi yang menarik dari dioda tunnel adalah sebagai saklar kecepatan sangat tinggi. Karena
proses terobosan (tunneling) terjadi dengan kecepatan cahaya, respon transien hanya dibatasi oleh
kapasitansi shunt (kapasitansi junction dan perkabelan) dan arus pengendali puncak. Waktu
switching dalam order nanodetik hingga 50 ps dapat diperoleh melalui dioda ini. Aplikasi ke dua dari
dioda tunnel adalah sebagai osilator frekuensi tinggi (microwave).
II. SCR / THYRISTOR
Silicon Controlled Rectifier atau sering disingkat dengan SCR adalah Dioda yang memiliki fungsi
sebagai pengendali. Berbeda dengan Dioda pada umumnya yang hanya mempunyai 2 kaki terminal,
SCR adalah dioda yang memiliki 3 kaki Terminal. Kaki Terminal ke-3 pada SCR tersebut dinamai
dengan Terminal “Gate” atau “Gerbang” yang berfungsi sebagai pengendali (Control), sedangkan
kaki lainnya sama seperti Dioda pada umumnya yaitu Terminal “Anoda” dan Terminal
“Katoda”. Silicon Controlled Rectifier (SCR) merupakan salah satu dari anggota kelompok
komponen Thyristor.
STRUKTUR DASAR DAN SIMBOL
CARA KERJA
Pada prinsipnya, cara kerja SCR sama seperti dioda normal, namun SCR memerlukan tegangan
positif pada kaki “Gate (Gerbang)” untuk dapat mengaktifkannya. Pada saat kaki Gate diberikan
tegangan positif sebagai pemicu (trigger), SCR akan menghantarkan arus listrik dari Anoda (A) ke
Katoda (K). Sekali SCR mencapai keadaan “ON” maka selamanya akan ON meskipun tegangan
positif yang berfungsi sebagai pemicu (trigger) tersebut dilepaskan. Untuk membuat SCR menjadi
kondisi “OFF”, arus maju Anoda-Katoda harus diturunkan hingga berada pada titik Ih (Holding
Current) SCR. Besarnya arus Holding atau Ih sebuah SCR dapat dilihat dari datasheet SCR itu
sendiri. Karena masing-masing jenis SCR memiliki arus Holding yang berbeda-beda. Namun, pada
dasarnya untuk mengembalikan SCR ke kondisi “OFF”, kita hanya perlu menurunkan tegangan maju
Anoda-Katoda ke titik Nol.
SUSUNAN PN-JUCNTION
Pada dasarnya SCR atau Thyristor terdiri dari 4 lapis Semikonduktor yaitu PNPN (Positif Negatif
Positif Negatif) atau sering disebut dengan PNPN Trioda. Terminal “Gate” yang berfungsi sebagai
pengendali terletak di lapisan bahan tipe-P yang berdekatan dengan Kaki Terminal “Katoda”. Cara
kerja sebuah SCR hampir sama dengan sambungan dua buah bipolar transistor (bipolar junction
transistor).
Untuk membuat thyristor menjadi ON adalah dengan memberi arus trigger lapisan P yang dekat
dengan katoda. Yaitu dengan membuat kaki gate pada thyristor PNPN. Karena letaknya yang dekat
dengan katoda, bisa juga pin gate ini disebut pin gate katoda (cathode gate. SCR dalam banyak
literatur disebut Thyristor saja.
Melalui kaki (pin) gate tersebut memungkinkan komponen ini di trigger menjadi ON, yaitu dengan
memberi arus gate. Ternyata dengan memberi arus gate Ig yang semakin besar dapat menurunkan
tegangan breakover (Vbo) sebuah SCR. Dimana tegangan ini adalah tegangan minimum yang
diperlukan SCR untuk menjadi ON. Sampai pada suatu besar arus gate tertentu, ternyata akan sangat
mudah membuat SCR menjadi ON. Bahkan dengan tegangan forward yang kecil sekalipun.
GRAFIK KARAKTERISTIK
Pada gambar tertera tegangan breakover Vbo, yang jika tegangan forward SCR mencapai titik ini,
maka SCR akan ON. Lebih penting lagi adalah arus Ig yang dapat menyebabkan tegangan Vbo turun
menjadi lebih kecil. Pada gambar ditunjukkan beberapa arus Ig dan korelasinya terhadap tegangan
breakover. Pada datasheet SCR, arus trigger gate ini sering ditulis dengan notasi IGT (gate trigger
current). Pada gambar ada ditunjukkan juga arus Ih yaitu arus holding yang mempertahankan SCR
tetap ON. Jadi agar SCR tetap ON maka arus forward dari anoda menuju katoda harus berada di atas
parameter ini.
Satu-satunya cara untuk membuat SCR menjadi OFF adalah dengan membuat arus anoda-katoda
turun dibawah arus Ih(holding current). Pada gambar kurva I-V SCR, jika arus forward berada
dibawah titik Ih, maka SCR kembali pada keadaan OFF. Berapa besar arus holding ini, umumnya ada
di dalam datasheet SCR.
Cara membuat SCR menjadi OFF tersebut adalah sama saja dengan menurunkan tegangan anoda-
katoda ke titik nol. Karena inilah SCR atau thyristor pada umumnya tidak cocok digunakan untuk
aplikasi DC. Komponen ini lebih banyak digunakan untuk aplikasi-aplikasi tegangan AC, dimana
SCR bisa OFF pada saat gelombang tegangan AC berada di titik nol.
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
Kelebihan
Penekanan tombol yang sangat pendek berdasarkan penekanan tombol yang regeneratif. Ini
mengurangi penurunan tegangan di dalam ini dan mengijinkan produksi komponen SCR yang bisa
menahan arus yang sangat besar (100A)
Sebuah transistor bisa juga menekan tombol arus dalam cara yang sama. Keuntungan dari transistor
adalah pematian ini dilakukan dengan sederhana yaitu dengan menghentikan arus di base.
Kekurangan
Kerugiannya adalah waktu penekanan tombol lebih lama dan selama penekanan tombol dalam keadaan
tegangan yang tinggi dibangun dalam ini, dengan demikian ini tidak dapat digunakan untuk penekanan
tombol untuk arus yang besar.
CONTOH PENGGUNAAN
SCR dapat digunakan untuk penghubungan arus pada beban yang dihubungkan pada sumber
AC. Karena SCR adalah penyearah, maka hanya dapat menghantarkan setengah dari
gelombang input AC.
Ketika SCR dihubungkan pada sumber tegangan AC, SCR dapat juga digunakan untuk
merubah atau mengatur jumlah daya yang diberikan pada beban.
Penggunaan SCR juga bisa untuk mengatur dan menyearahkan suplai daya pada motor DC
dari sumber AC.
III. FET
Field Effect Transistor atau disingkat dengan FET adalah komponen Elektronika aktif yang
menggunakan Medan Listrik untuk mengendalikan Konduktifitasnya. Field Effect Transistor (FET)
dalam bahasa Indonesia disebut dengan Transistor Efek Medan. Dikatakan Field Effect atau Efek
Medan karena pengoperasian Transistor jenis ini tergantung pada tegangan (medan listrik) yang
terdapat pada Input Gerbangnya. FET merupakan Komponen Elektronika yang tergolong dalam
keluarga Transistor yang memilki Tiga Terminal Kaki yaitu Gate (G), Drain (D) dan Source (S).
STRUKTUR DASAR DAN SIMBOL
CARA KERJA
Cara Kerja JFET pada prinsipnya seperti kran air yang mengatur aliran air pada pipa. Elektron atau
Hole akan mengalir dari Terminal Source (S) ke Terminal Drain (D). Arus pada Outputnya yaitu
Arus Drain (ID) akan sama dengan Arus Inputnya yaitu Arus Source (IS). Prinsip kerja tersebut sama
dengan prinsip kerja sebuah pipa air di rumah kita dengan asumsi tidak ada kebocoran pada pipa air
kita.
SUSUNAN PN-JUCNTION
GRAFIK KARAKTERISTIK
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
Kelebihan
Dapat bekerja dengan baik di rangkaian elektronika yang bersinyal rendah seperti pada
perangkat komunikasi dan alat-alat penerima (receiver).
FET juga sering digunakan pada rangkaian-rangkaian elektronika yang memerlukan
Impedansi yang tinggi.
Kekurangan
Tidak dapat digunakan pada perangkat atau rangkaian Elektronika yang bekerja untuk
penguatan daya tinggi seperti pada perangkat Komunikasi berdaya tinggi dan alat-alat
Pemancar (Transmitter).
CONTOH PENGGUNAAN
Bisa untuk menaikkan dan menurunkan tegangan
IV. DIAC
Diode Alternating Current atau sering disingkat dengan DIAC adalah komponen aktif Elektronika
yang memiliki dua terminal dan dapat menghantarkan arus listrik dari kedua arah jika tegangan
melampui batas breakover-nya. DIAC merupakan anggota dari keluarga Thyristor, namun berbeda
dengan Thyristor pada umumnya yang hanya menghantarkan arus listrik dari satu arah, DIAC
memiliki fungsi yang dapat menghantarkan arus listrik dari kedua arahnya atau biasanya disebut juga
dengan “Bidirectional Thyristor”. DIAC biasanya digunakan sebagai Pembantu untuk memicu
TRIAC dalam rangkaian AC Switch, DIAC juga sering digunakan dalam berbagai rangkaian seperti
rangkaian lampu dimmer (peredup) dan rangkaian starter untuk lampu neon (florescent lamps).
STRUKTUR DASAR DAN SIMBOL
Ditinjau dari segi strukturnya, DIAC terdiri dari 3 lapis semikonduktor yang hampir mirip dengan
sebuah Transistor PNP. Berbeda dengan Transistor PNP yang lapisan N-nya dibuat dengan tipis agar
elektron mudah melewati lapisan N ini, Lapisan N pada DIAC dibuat cukup tebal agar elektron lebih
sulit untuk menembusnya terkecuali tegangan yang diberikan ke DIAC tersebut melebihi batas
Breakover (VBO) yang [Link] memberikan tegangan yang melebihi batas
Breakovernya, DIAC akan dapat dengan mudah menghantarkan arus listrik dari arah yang
bersangkutan. Kedua Terminal DIAC biasanya dilambangkan dengan A1 (Anoda 1) dan A2 (Anoda
2) atau MT1 (Main Terminal 1) dan MT2 (Main Terminal 2).
Gambar dan Struktur dasar DIAC serta simbolnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
CARA KERJA
Seperti yang disebutkan, DIAC merupakan komponen yang dapat menghantarkan arus listrik dari
dua arah jika diberikan tegangan yang melebih batas Breakovernya. Pada prinsipnya, DIAC
memiliki cara kerja yang mirip dengan dua Dioda yang dipasang paralel berlawanan seperti gambar
Rangkaian Ekuivalen diatas.
Apabila tegangan yang memiliki polaritas diberikan ke DIAC, dioda yang disebelah kiri akan
menghantarkan arus listrik jika tegangan positif yang diberikan melebihi tegangan breakover DIAC.
Sebaliknya, apabila DIAC diberikan tegangan positif yang melebih tegangan breakover DIAC dari
arah yang berlawanan, maka dioda sebelah kanan akan menghantarkan arus listrik.
Setelah DIAC dijadikan ke kondisi “ON” dengan menggunakan tegangan positif ataupun negatif,
DIAC akan terus menghantarkan arus listrik sampai tegangannya dikurangi hingga 0 (Nol) atau
hubungan pemberian listrik diputuskan.
SUSUNAN PN-JUCNTION
Kalau dilihat strukturnya seperti pada gambar, DIAC bukanlah termasuk keluarga thyristor, namun
prisip kerjanya membuat ia digolongkan sebagai thyristor. DIAC dibuat dengan struktur PNP mirip
seperti transistor. Lapisan N pada transistor dibuat sangat tipis sehingga elektron dengan mudah
dapat menyeberang menembus lapisan ini. Sedangkan pada DIAC, lapisan N di buat cukup tebal
sehingga elektron cukup sukar untuk menembusnya. Struktur DIAC yang demikian dapat juga
dipandang sebagai dua buah dioda PN dan NP, sehingga dalam beberapa literatur DIAC digolongkan
sebagai dioda.
GRAFIK KARAKTERISTIK
DIAC adalah suatu komponen yang berprinsip seperti dua buah thyristor yang dihubungkan saling
bertolak belakang. Oleh karena itu DIAC mempunyai dua buah tegangan penyalaan. Tegangan
penyalaan pertama berada pada tegangan maju (+Vbo) sedangkan yang kedua ada pada tegangan
baliknya (-Vbo). Karakteristik tegangan terhadap arus dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Dari kurva diatas kita dapat melihat bahwa DIAC selalu mempunyai karakteristik tahanan negatif
yang secara terus menerus pada saat arus lebih besar daripada arus break overnya.
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
Kelebihan:
Tidak beralih tajam ke kondisi tegangan rendah pada tingkat arus rendah seperti yang dilakukan
oleh SCR atau triac.
Memiliki tegangan rendah pada tegangan tertentu sampai saat ini jatuh di bawah level nya.
Kekurangan:
Penurunan tegangan menurun dengan meningkatnya arus.
CONTOH PENGGUNAAN
Digunakan dalam rangkaian Lampu Dimmer.
Digunakan dalam rangkaian Kontrol Panas.
Digunakan dalam kontrol Kecepatan Motor Universal.
V. TRIAC
TRIAC adalah perangkat semikonduktor berterminal tiga yang berfungsi sebagai pengendali arus
listrik. Nama TRIAC ini merupakan singkatan dari TRIode forAlternating Current (Trioda untuk
arus bolak balik). Sama seperti SCR, TRIAC juga tergolong sebagai Thyristor yang berfungsi
sebagai pengendali atau Switching. Namun, berbeda dengan SCR yang hanya dapat dilewati arus
listrik dari satu arah (unidirectional), TRIAC memiliki kemampuan yang dapat mengalirkan arus
listrik ke kedua arah (bidirectional) ketika dipicu. Terminal Gate TRIAC hanya memerlukan arus
yang relatif rendah untuk dapat mengendalikan aliran arus listrik AC yang tinggi dari dua arah
terminalnya. TRIAC sering juga disebut dengan Bidirectional Triode [Link] dasarnya,
sebuah TRIAC sama dengan dua buah SCR yang disusun dan disambungkan secara antiparalel
(paralel yang berlawanan arah) dengan Terminal Gerbang atau Gate-nya dihubungkan bersama
menjadi satu. Jika dilihat dari strukturnya, TRIAC merupakan komponen elektronika yang terdiri
dari 4 lapis semikonduktor dan 3 Terminal, Ketiga Terminal tersebut diantaranya adalah MT1, MT2
dan Gate. MT adalah singkatan dari Main Terminal.
STRUKTUR DASAR DAN SIMBOL
Berikut ini adalah gambar dan Struktur serta Simbol TRIAC.
CARA KERJA
Secara umum dapat kita ketahui bahwa IC = ß. IB, arus kolektor adalah hasil penguatan dari arus
basis. Contohnya, arus sebesar IB yang mengalir melalui basis transistor Q2, maka akan ada arus IB
yang mengalir pada kolektor Q2. Arus kolektor ini adalah arus basis IB pada transistor Q1, sehingga
akan didapatkan penguatan pada arus kolektor transistor Q1. Arus kolektor transistor Q1 tidak lain
adalah arus base bagi transistor Q2. Demikian seterusnya hingga lama kelamaan sambungan PN dari
thyristor ini di bagian tengah akan mengecil dan hilang yang tertinggal hanya lapisan P dan N di
bagian luar. Pada kondisi ini, struktur ini merupakan struktur dioda PN (anoda-katoda) yang telah
dikenal. Dengan begitu, thyristor dalam keadaan ON dan dapat mengalirkan arus seperti halnya
dioda.
SUSUNAN PN-JUCNTION
Pada simbol triac dapat dilihat bagian komponen pertama yang terdiri dari transistor PNP pada pin
basisnya akan terhubung dengan bagian komponen kedua yang merupakan transistor NPN.
Demikian pula pin kolektor akan terhubung dengan pin basis pada transistor kedua. Ini memastikan
bahwa prinsip kerja triac adalah seperti halnya dua buah transistor yang disambung untuk
mendapatkan karakteristik tertentu.
Pada gambar diatas dapat kita lihat bahwa bagian triac terdiri dari masing-masing PNPN dan kalau
dipilah maka akan diperoleh dua buah transistor PNP dan NPN yang digabung melalui pin atau kaki
basis dan kolektornya. Sehingga karakteristik dari transistor tentu saja masih melekat pada triac ini
yang mana sifat ini akan digunakan untuk menjadikan triac bekerja sebagaimana yang sudah
ditentukan dengan memanfaatkan sifat-sifat seperti halnya dua buah transistor.
GRAFIK KARAKTERISTIK
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
Kelebihan:
Dapat mengalirkan arus listrik dalam 2 arah.
Dapat digunakan untuk mengendalikan tegangan listrik AC (Alternating Current)
Dapat digunakan sebagai interface antara sistem kendali digital dengan beban dengan tegangan
kerja AC
Kekurangan:
Triac tidak menyulut secara simetris. Ini artinya TRIAC biasanya tidak bekerja pada kondisi
tegangan gate yang sama persis
CONTOH PENGGUNAAN
TRIAC merupakan komponen yang sangat cocok untuk digunakan sebagai AC Switching (Saklar
AC) karena dapat megendalikan aliran arus listrik pada dua arah siklus gelombang bolak-balik
AC. Kemampuan inilah yang menjadi kelebihan dari TRIAC jika dibandingkan dengan SCR.
Namun TRIAC pada umumnya tidak digunakan pada rangkaian switching yang melibatkan daya
yang sangat tinggi. Salah satu alasannya adalah karena karakteristik Switching TRIAC yang non-
simetris dan juga gangguan elektromagnetik yang diciptakan oleh listrik yang berdaya tinggi itu
sendiri. Beberapa aplikasi TRIAC pada peralatan-peralatan Elektronika maupun listrik diantaranya
adalah sebagai berikut :
1. Pengatur pada Lampu Dimmer.
2. Pengatur Kecepatan pada Kipas Angin.
3. Pengatur Motor kecil.
4. Pengatur pada peralatan-peralatan rumah tangga yang berarus listrik AC.
VI. IGBT
IGBT adalah sebuah komponen transistor yang memiliki kepanjangan Insulated Gate Bipolar
Transistor. Perangkat transistor semi konduktor ini adalah sebuah komponen yang bisa juga bekerja
sebagai switch atau saklar. IGBT pada umumnya banyak digunakan di rangkaian seperti inverter, AC
drive, servo, stepper, vektor drive dan beberapa power supply yang menggunakan sistem switching.
STRUKTUR DASAR DAN SIMBOL
CARA KERJA
Cara kerja IGBT yang mirip dengan MOSFET membuat transistor ini terkadang disamakan dengan
MOSFET
Untuk mengukur ataupun memeriksa kondisi IGBT, kita bisa menggunakan multimeter berjenis
analog. Sedangkan untuk memeriksa switching atau fungsi saklar, kita bisa menggunakan multimeter
pada posisi ohmmeter dengan nilai x10k. Setelah kita mengetahui arah dioda antara drain dan source
(forward), kita bisa membalik posisi probe pada multimeter. Bila tidak terjadi penyimpangan pada
jarum multimeter analog, maka kondisi IGBT bisa dinilai tidak rusak dan aman digunakan.
Untuk melihat fungsi IGBT, maka kita perlu membandingkan dengan komponen lain yang memiliki
fungsi yang hampir sama. Komponen yang memiliki fungsi yang sama adalah transistor bipolar dan
MOSFET. Transistor bipolar akan memerlukan arus atau daya yang besar. Transistor ini memiliki
sistem slow turn off sehingga memiliki kemampuan untuk dapat digunakan pada frekuensi yang
terbatas. Selain itu, transistor jenis ini merupakan transistor yang cepat panas.
Untuk menilai Transistor IGBT, kita juga bisa membandingkan dengan kinerja MOSFET. Untuk
mendrive Gate, MOSFET bisa dikatakan tidak membutuhkan arus, hal itu karena MOSFET bekerja
dengan menggunakan tegangan. MOSFET juga bisa bekerja di frekuensi yang lebih tinggi di
banding dengan transistor bipolar. Salah satu keunggulan komponen ini adalah bisa bekerja secara
terus menerus, namun tidak mudah panas sehingga akan aman dan lebih awet digunakan.
SUSUNAN PN-JUCNTION
GRAFIK KARAKTERISTIK
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
Kelebihan
Bagian output IGBT memiliki tahanan yang sangat besar saat tidak menghantarkan arus, sehingga
arus yang melaluinya sangat kecil. Sehingga berfungsi sebagai saklar. IGBT memiliki frekuensi dan
kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan transistor umumnya maka banyak digunakan pada
pengendali gerak motor.
Kekurangan
Harga yang mahal sehingga membuat rancangan mesin menjadi lebih mahal apabila menggunakan
IGBT sebagai transistor driver. Rangkaian IGBT harus terus disupply dengan voltase sebesar 2 volt
walaupun sedang tidak bekerja.
CONTOH PENGGUNAAN
Banyak digunakan pada mesin las, mesin inverter, mesin saklar dan gerbang arus, servo, AC Driver.
VII. MOSFET
MOSFET (Metal Oxide Semiconductor Field Effect Transistor) merupakan sebuah perangkat
semionduktor yang secara luas yang digunakan sebagai switch dan sebagai penguat sinyal pada
perangkat elektronik. MOSFET adalah inti dari sebuah IC ( integrated Circuit ) yang di desain dan di
fabrikasi dengan single chip karena ukurannya yang sangat kecil. MOSFET memiliki empat gerbang
terminal antara lain adalah Source (S), Gate (G), Drain (D) dan Body(B).
STRUKTUR DASAR DAN SIMBOL
CARA KERJA
Seperti halnya JFET, Saluran pada MOSFET juga dapat berupa semikonduktor tipe-N ataupun tipe-
P. Terminal atau Elektroda Gerbangnya adalah sepotong logam yang permukaannya dioksidasi.
Lapisan Oksidasi ini berfungsi untuk menghambat hubungan listrik antara Terminal Gerbang dengan
Salurannya. Oleh karena itu, MOSFET sering juga disebut dengan nama Insulated-Gate FET
(IGFET). Karena lapisan Oksidasi ini bertindak sebagai dielektrik, maka pada dasarnya tidak akan
terjadi aliran arus antara Gerbang dan Saluran. Dengan demikian, Impedansi Input pada MOSFET
menjadi sangat tinggi dan jauh melebihi Impedansi Input pada JFET. Pada beberapa jenis MOSFET
Impedansi dapat mencapai Triliunan Ohm (1012 Ohm). Dalam bahasa Indonesia, MOSFET disebut
juga dengan Transistor Efek Medan Semikonduktor Logam-Oksida.
SUSUNAN PN-JUCNTION
GRAFIK KARAKTERISTIK
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
Kelebihan
MOSFET adalah piranti terkendali tegangan
MOSFET mudah dikendalikan
Memiliki impedansi input yang tinggi
MOSFET juga merupakan piranti unipolar
Bila digunakan sebagai switch, maka MOSFET adalah piranti switching berkecepatan
tinggi.
MOSFET memiliki save operating area (SOA) yang lebih lebar dibandingkan dengan
bipolar transistor (BJT) tegangan tinggi dan arus dapat digunakan secara simultan dalam
durasi waktu yang singkat.
Mudah apabila digunakan secara parallel.
Kekurangan
Pada aplikasi-aplikasi tegangan dadal (breakdown) yang tinggi (di atas 200 volt), loss-konduksi
pada MOSFET lebih lebar dibandingkan pada BJT. Pada tegangan dan tingkat arus yang sama
dapat mencapai kondisi drop tegangan.