Current Transformer atau lebih dikenal dengan CT – merupakan trafo arus yang
berfungsi untuk mengkonversi arus yang melewatinya dari level tinggi ke level rendah
yang dapat dimanfaatkan untuk input alat metering maupun alat proteksi pada suatu
jaringan sistim tenaga lisrik.
Current Transformer merupakan komponen utama dalam sistim tenaga listrik, baik pada
distribusi maupun pada pembangkitan. Dengan adanya current transformer , suatu
peralatan ataupun jaringan dapat dimonitoring kondisinya melalui hasil pengukuan
(metering) serta dapat dilindungi melalui proteksi apabila adanya gangguan yang
menimbulkan arus yang sangat besar sebagai akibat short circuit (hubungan singkat)
ataupun overload (kelebihan beban) dan lain sebagainya.
Dari hal diatas, pemanfaatan output dari current transformer dapat dibagi atas 2 hal, yaitu
:
Metering, output dari Current Transfomer digunakan sebagai input pada alat ukur.
Proteksi, output dari Current Transfomer digunakan sebagai input untuk alat
proteksi yang nantinya akan mentriger alat proteksi untuk bekerja apabila ada
gangguan.
Prisip kerja dari current transfer mirip dengan prinsip kerja transformator pada umunya,
dimana terdapat belitan sisi primer dan belitan sisi sekunder yang dihubungkan melalui
kopling medan magnet pada inti besi transformator. Sehingga arus yang melewati sisi
primer akan menghasilkan induksi pada inti besi yang akan menimbulkan arus pada sisi
sekunder.
Pada rancangannya, sebuah Current Transformer (CT) memiliki satu atau lebih gulungan
pada sisi sekunder, sehingga sebuah current transformer memilki satu atau lebih output
yang masing-masingnya bisa dimanfaatkan sekaligus sesuai dengan kebutuhan, seperti
untuk metering, proteksi over current, differential dan lain-lain.
Seperti halnya transformator secara umum, current transformer juga memliki ratio belitan
antara sisi primer dan sekunder untuk menghasilkan perbandingan antara arus yang
melewati sisi primer dan arus yang dikeluarkan pada sisi sekunder. Lebih mudahnya,
dapat dilihat pada contoh dibawah ini :
Sebuah Current transformer dengan ratio 1000 : 5 , menyatakan bahwa apabila arus yang
melewati sisi primer sebesar 1000 A, maka output current transformer (sisi sekunder)
adalah sebesar 5 Ampere. Hal ini sesuai dengna ratio perbandingannya yaitu 1000 : 5.
Sehingga bila arus yang melewati sisi primer sebesar 500 A, maka sisi sekunder akan
mengeluarkan arus sebesar 2,5 A.
Untuk spesifikasi sebuah current transformer, tidak saja ratio CT saja yang perlu
diperhatikan, ada beberapa hal yang mesti dipenuhi agar sebuah current transformer
dapat berfungsi dengan baik sesuai dengan yang dibutuhkan pada sebuah jaringan sistim
tenaga lisrik, yaitu :
turns ratio – perbandingan arus disisi primer dengan arus disisi sekunder
burden - beban normal dalam satuan VA yang dapat disuplay oleh sebuah current
transformer
accuracy factors - batas akurasi pada kondisi steady dan transient
physical configuration – jumlah belitan pada sisi primer dan sekunder, ukuran,
bentuk, dimensi dll yang disesuaikan dengan kondisi dilapangan.
Untuk keamanannya , jika output pada sisi
sekunder sebuah current transformer yang
terpasang pada sebuah jaringan listrik tidak
digunakan maka terminal output tersebut harus
dihubung singkatkan. Bila dibiarkan terbuka
maka pada sisi sekunder akan terdapat tegangan
yang nilainya sangat tinggi yang dapat merusak
Current Transformer tersebut.
Akurasi sebuah Current Transformer – Trafo Arus
Keakurasian sebuah current transformer ditentukan melalui besar kecilnya error yang
ditimbulkan dari perbedaan antara nilai ideal arus RMS dengan nilai arus sebenarnya
pada sisi sekunder.
Current Transformer untuk pemakaian pada alat proteksi harus dapat menjaga
keakurasian nya pada range arus yang besar yang dinyatakan dengan istilah accuracy
limit current. Rasio perbandingan antara accuracy limit current dengan rated current
dinyatakan dengan istilah accuracy limit factor.
Klas akurasi Current Transformer untuk metering
(pengukuran)
Class ± percentage ± phase displacement error minutes
current/ratio error Purposes
Current 5% 20% 50% 100% 120% 5% 20% 100% 120%
0.1 0.4 0.2 0.1 0.1 15 8 5 5 precision measurements
0.2 0.75 0.35 0.2 0.2 10 15 10 10 precision measurements
0.5 1.5 0.75 0.5 0.5 30 45 30 30 high grade kWhr meters
1 3 1.5 1.0 1.0 60 90 60 60 general measurements
3 3 3 general measurements
5 5 5 approximate measurements
Klas akurasi Current Transformer untuk proteksi
Untuk pemakaian pada alat proteksi, current transformer dikenali dengan kode 5P atau
10P, yang menandakan 5 atau 10 adalah accuracy limit factor dan P adalah untuk
Protection (Proteksi). Keterangan untuk kedua tipe ini dapat dilihat pada table berikut :
Class Current Displacement Accuracy
Error Error Limit Factor
5P ± 1% ± 60 minutes 5
10P ± 3% - 10
[Link]
Pada pembahasan sebelumnya, disampaikan bahwa trafo arus atau transformator
arus bertujuan untuk mengkonversi arus primer yang memiliki nilai arus yang besar,
biasanya kisaran puluhan hingga ribuan ampere, menjadi arus sekunder yang
memilik inilai rendah sebesar 1A atau 5A, tergantung dari aplikasi yang dibutuhkan.
Karena bertujuan untuk mengkonversikan arus, maka pada kedua sisi trafo arus
tersebut harus terbentuk rangkaian tertutup sehingga dimungkinkan mengalirnya
arus pada rangkaian tersebut. Dengan kata lain, pada sisi primer trafo arus harus di
pasang seri dengan beban dan pada sisi sekunder trafo arus harus diterkoneksi pada
beban peralatan ukur atau peralatan proteksi.
Gambar dibawah ini adalah ilustrasi atau contoh sederhana dari penggunaan trafo
arus dalam sistem distribusi tenaga listrik. Trafo arus dipasang diantara beban dan
sumber. Trafo arus dipasang pada Perangkat Hubung bagi tegangan menengah (PHB
TM)atau perangkat hubung bagi tegangan rendah (PHB TR) sebelum arus di
distribusikan ke masing-masing beban.
Gambar1. Lokasi Peletakan CT pada sistem distribusi jaringan listrik
Prinsip kerja trafo arus.
Arus yang mengalir pada sistem distribusi tegangan menegah ataupun tegangan
rendah berkisar ratusan hingga ribuan ampere. Oleh karena itu, belitan primer dari
trafo arus terbuat dari batangan tembaga dengan dimensi yang relative besar agar
mampu menahan arus yang mengalir secara terus-menerus disisi primer ataupun
arus sesaat ketika terjadi kegagalan sistem. Karena belitan primer terbuat dari
batang tembaga yang dimensinya cukup besar, maka impedansi disisi primer bisa
dianggap tidak ada karena terlalu kecil dibandingkan impedansi sistem.
Gambar2 dibawah ini adalah contoh sederhana dari trafo arus yang menggunakan
batang tembaga lilitan tunggal sebagai belitan primer.
Gambar2. Trafo arus dengan batang tembaga tunggal disisi primer.
Prinsip kerja dari trafo adalah sebagai berikut:
Pada saat arus primer Ip mengalir pada lilitan primer, maka akan muncul medan
magnet disekeliling lilitan primer tersebut.
Medan magnet tersebut akan terkumpul lebih banyak pada inti atau core. Medan
magnet yang berputar di dalam inti atau core menghasilkan perubahan flux
primer dan memotong lilitan sekunder sehingga menginduksikan tegangan pada
lilitan sekunder sesuai hukum faraday.
Karena lilitan sekunder membentuk loop tertutup, maka akan mengalir arus
sekunder Is yang akan membangkitkan medan magnet untuk melawan flux
magnet yang dihasilkan oleh belitan primer sesuai hukum lenz.
Gambar3 dibawah ini adalah model diagram listrik dari trafo arus.
Gambar3. Model diagram listrik Trafo Arus
Dimana:
N1 dan N2 adalah jumlah lilitan primer.
Zm adalah impedansi untuk magnetisasi.
Es adalah tegangan induksi pada sisi sekunder.
JX1 dan JX2 adalah reaktansi bocor dikedua sisi dari trafo. Karena nilainya kecil,
maka bisa kita hilangkan dalam perhitungan. Karena impedansi primer dan
reaktansi bocor bisa diabaikan, maka model diagram listrik dari trafo arus yang lebih
sederhana ditunjukan pada gambar4.
Gambar4. Model diagram listrik sederhana dari trafo arus.
Dari gambar4 diatas terlihat bahwa arus sekunder Is yang mengalir pada burden
atau beban mengalami perubahan karena adanya arus eksitasi yang diperlukan
untuk menjamin terlaksananya proses transformasi.
Rasio Kesalahan Arus.
Dari gambaran diatas, terlihat bahwa tidak semua arus primer akan terduplikasi
disisi kumparan sekunder. Akan dibutuhkan suatu arus eksitasi Im agar proses
reproduksi arus sekunder dapat terjadi. Dengan demikian, apabila arus eksitasi Im
atau Ie kita masukan dalam formulasi, besarnya arus sekunder menjadi:
Gbr5. Arus Eksitasi pada Inti
Dimana Ie adalah arus eksitasi yang dibutuhkan agar proses reproduksi arus
sekunder dapat terjadi. Karena Arus eksitasi tidak dapat diabaikan, maka proses
reproduksi arus sekunder akan mengalami kesalahan dan biasa disebut sebagai
kesalahan transformasi ( transformation error). Selain daripada itu, akan terjadi juga
pergeseran fasa. Kesalahan pada fasa biasa disebut sebagai pergeseran fasa.
Perhitungan Kesalahan Arus (Current Error/ Ratio Error).
Standar IEC 60044-1 telah mendefinisikan secara khusus tentang hal tersebut diatas,
yaitu:
Kesalahan arus atau kesalahan perbandingan adalah kesalahan yang
ditimbulkan oleh transformer dalam melakukan pengukuran disebabkan karena
adanya kenyataan bahwa aktual perbandingan transformasi adalah tidak sama
dengan perbandingan transformasi pengenal (Rated Transformation Ratio).
Kesalahan Arus (Current Error) atau kesalahan perbandingan (Ratio
Error) diekspresikan dalam persen (%) dan diformulasikan dengan persamaan
sebagai berikut:
Kesalahan Arus atau Kesalahan Perbandingan
Dimana:
Kn adalah Perbandingan transformasi pengenal (Rated Transformation Ratio).
Ip adalah arus primer actual/sebenarnya (Actual Primary Current).
Is adalah arus sekunder actual/sebenarnya (Actual Secondary Current) pada saat Ip
mengalir disisi primer dan kondisi pengukuran terjadi.
Ilustrasi sederhana dari penggunaan formulasi diatas adalah sebagai berikut:
Contoh1:
Sebuah trafo arus dengan ratio 2000/5, memiliki tingkat kesalahan transformasi
atau ratio error sebesar 0.5%. Jika pada trafo tersebut mengalir arus primer sebesar
1900A, berapakah arus sekunder sebenarnya yang akan mengalir pada sisi
kumparan sekunder?
Penyelesaian:
Diketahui bahwa error ratio adalah 0.5%, rated ratio adalah 2000/5 dan arus primer
sebenarnya yang mengalir adalah 1950. Maka besarnya arus sekunder adalah:
(0.5 * 1950) = ((2000/5 * Is) – 1950) * 100
975 /100 = 400 * Is – 1950
9,75 + 1950 = 400Is
Is = 1957,75/400
Is = 4,8994A.
Dengan demikian, besarnya arus sekunder yang mengalir adalah 4,8994A ketika
mengalir arus di sisi primer sebesar 1950A.
Contoh2:
Sebuah trafo arus dengan pengenal ratio 2000/5A, mengalir arus sebesar 2005A
dibelitan primer. Disaat yang bersamaan, dilakukan pengukuran pada arus
sekunder, dan hasilnya tercatat 4,955Ampere. Hitungkan tingkat kesahan yang
dibagikan.
Penyelesaian:
diketahui Kn= 2000/4 = 400
Ip actual = 2005A
Is actual = 4.955A
maka besarnya tingkat kesalahan dari trafo tersebut adalah:
X% = ((kn * Is) – Ip) * 100 / Ip
X% = ((2000/5 * 4.955)-2005)*100/2005
X% = (1982-2005)*0.049
X% = -1.15
Sumber Referensi:
Basic of Current and Voltage Transformer, Siemens AG
Current Transformers, ALSTOM
Instrument Transformers, Technical Information and Application Guide, ABB.
Standar Internasional tentang trafo arus, IEC60044-1
[Link]
transformer/
CT ( current transformer ) trafo arus
Oleh ElectricChannel - November 22, 2018
Trafo Arus (CT) .
Trafo arus atau current transformer (CT) adalah jenis trafo yang digunakan untuk
mengukur besarnya arus listrik yang mengalir. Trafo ini akan menghasilkan arus yang
sebanding dengan arus yang berada pada penghantar listrik. Trafo arus merupakan unit
sensor arus dari sistem tenaga listrik yang digunakan di stasiun pembangkit, gardu
listrik, dan dalam distribusi tenaga listrik industri maupun komersial.
Trafo arus biasanya terdiri dari inti baja silikon yang berbentuk cincin dengan banyak
belitan kawat tembaga yang kemudian dibungkus dengan isolasi. Kabel konduktor yang
memiliki arus utama kemudian dilewatkan melalui cincin CT. Arus bolak - balik pada
kabel konduktor akan menghasilkan medan magnet bolak - balik pada inti CT, yang
kemudian menginduksi arus bolak - balik pada gulungan tembaga yang berada pada
trafo arus.
Bentuk dan ukuran trafo arus sangat bervariasi, tergantung pada penggunaannya.
Transformator arus inti terpisah memiliki dua bagian core atau dengan bagian core yang
dapat dilepas. Hal ini dapat memungkinkan trafo arus dapat ditempatkan pada kabel
konduktor tanpa harus melepaskannya terlebih dahulu. Transformator arus split core
biasanya digunakan dalam alat ukur arus rendah, seperti tang ampere.
Sirkuit utama sebagian besar tidak terpengaruh oleh penyisipan CT. Trafo arus yang
akurat membutuhkan penggabungan yang erat antara primer dan sekunder untuk
memastikan bahwa arus sekunder sebanding dengan arus utama. Arus di sekunder
adalah arus di primer (dengan asumsi satu putaran utama) dibagi dengan jumlah
putaran sekunder.
CT ditentukan oleh rasio arus mereka dari primer ke sekunder. Arus sekunder
pengenal biasanya distandarkan pada 1 atau 5 ampere. Sebagai contoh, sebuah
gulungan sekunder CT 4000: 5 akan memasok arus keluaran sebesar 5 ampere ketika
arus utama lilitan adalah 4000 ampere. Rasio ini juga dapat digunakan untuk mencari
impedansi atau tegangan pada satu sisi trafo, diberi nilai yang sesuai di sisi lain. Untuk
CT 4000: 5, impedansi sekunder dapat ditemukan sebagai ZS = NZP = 800ZP, dan
tegangan sekunder dapat ditemukan sebagai VS = NVP = 800VP. Dalam beberapa
kasus, impedansi sekunder disebut ke sisi primer, dan ditemukan sebagai ZS ′ = N2ZP.
Mengacu impedansi dilakukan cukup dengan mengalikan nilai impedansi sekunder awal
dengan rasio saat ini.
Beban impedansi tidak boleh melebihi nilai maksimum yang ditentukan untuk
menghindari tegangan sekunder melebihi batas untuk trafo arus. Nilai arus utama dari
trafo arus tidak boleh dilampaui atau intinya dapat memasuki wilayah non liniernya dan
akhirnya jenuh. Ini akan terjadi di dekat akhir paruh pertama setiap setengah (positif dan
negatif) dari gelombang sinus AC di primer dan akan membahayakan akurasi.
[Link]
CURRENT TRANSFORMER (TRAFO ARUS)
Current transformer (CT) atau Trafo Arus adalah peralatan pada sistem tenaga listrik yang
berupa trafo yang digunakan untuk pengukuran arus yang besarnya hingga ratusan ampere dan arus
yang mengalir pada jaringan tegangan tinggi. Di samping untuk pengukuran arus, trafo arus juga
digunakan untuk pengukuran daya dan energi, pengukuran jarak jauh, dan rele proteksi. Kumparan
primer trafo dihubungkan seri dengan rangkaian atau jaringan yang akan dikur arusnya sedangkan
kumparan sekunder dihubungkan dengan meter atau dengan rele proteksi.
Prinsip kerja trafo arus sama dengan trafo daya satu fasa. Bila pada kumparan primer
mengalir arus I1, maka pada kumparan timbul gaya gerak magnet sebesar N1I1. Gaya gerak ini
memproduksi fluks pada inti, dan fluks ini membangkitkan gaya gerak listrik pada kumparan
sekunder. Bila terminal kumparan sekunder tertutup, maka pada kumparan sekunder mengalir arus
I1. Arus ini menimbulkan gaya gerak magnet N2I2 pada kumparan sekunder. Pada trafo arus biasa
dipasang burden pada bagian sekunder yang berfungsi sebagai impedansi beban, sehingga trafo
tidak benar-benar short circuit. Apabila trafo adalah trafo ideal, maka berlaku persamaan :
N1I1 = N2I2
I1/I2 = N2/N1
di mana, N1 : Jumlah belitan kumparan primer
N2 : Jumlah belitan kumparan sekunder
I1 : Arus kumparan primer
I2 : Arus kumparan sekunder
Dalam pemakaian sehari-hari, trafo arus dibagi menjadi jenis-jenis tertentu berdasarkan
syarat-syarat tertentu pula, adapun pembagian jenis trafo arus adalah sebagai berikut :
§ Jenis Trafo Arus Menurut Jumlah Kumparan Primer
a. Jenis Kumparan (Wound)
Biasa digunakan untuk pengukuran pada arus rendah, burden yang besar, atau pengukuran yang
membutuhkan ketelitian tinggi. Belitan primer tergantung pada arus primer yang akan diukur,
biasanya tidak lebih dari 5 belitan. Penambahan belitan primer akan mengurangi faktor thermal dan
dinamis arus hubung singkat.
b. Jenis Bar (Bar)
Konstruksinya mampu menahan arus hubung singkat yang cukup tinggi sehingga memiliki faktor
thermis dan dinamis arus hubung singkat yang tinggi. Keburukannya, ukuran inti yang paling
ekonomis diperoleh pada arus pengenal yang cukup tinggi yaitu 1000A.
§ Jenis Trafo Arus Menurut Jumlah Rasio
a. Jenis Rasio Tunggal
Rasio tunggal adalah trafo arus dengan satu kumparan primer dan satu kumparan sekunder.
b. Jenis Rasio Ganda
Rasio ganda diperoleh dengan membagi kumparan primer menjadi beberapa kelompok yang
dihubungkan seri atau paralel.
§ Jenis Trafo Arus Menurut Jumlah Inti
a. Inti Tunggal
Digunakan apabila sistem membutuhkan salah satu fungsi saja, yaitu untuk pengukuran atau
proteksi.
b. Inti Ganda
Digunakan apabila sistem membutuhkan arus untuk pengukuran dan proteksi sekaligus.
§ Jenis Trafo Arus Menurut Konstruksi Isolasi
a. Isolasi Epoksi-Resin
Biasa dipakai hingga tegangan 110KV. Memiliki kekuatan hubung singkat yang cukup tinggi karena
semua belitan tertanam pada bahan isolasi. Terdapat 2 jenis, yaitu jenis bushing dan pendukung.
b. Isolasi Minyak-Kertas
Isolasi minyak kertas ditempatkan pada kerangka porselen. Merupakan trafo arus untuk tegangan
tinggi yang digunakan pada gardu induk dengan pemasangan luar. Dibedakan menjadi jenis tangki
logam, kerangka isolasi, dan jenis gardu. Kelebihannya, penyulang pada sisi primer lebih pendek,
digunakan untuk arus pengenal dan arus hubung singkat yang besar.
c. Isolasi Koaksial
Jenis trafo arus dengan isolasi koaksial biasa ditemui pada kabel, bushing trafo, atau pada rel daya
berisolasi gas SF6. Sering digunakan inti berbentuk cincin dengan belitan sekunder yang dibelit
secara seragam pada cincin dan dimasukkan pada isolasi, dengan demikian terbuka jalan untuk
membawa lapisan terluar bagian yang di-ground keluar dari trafo arus
Pengujian Trafo Arus (Current Transformer)
CT atau Trafo Arus merupakan perantara pengukuran arus, dimana keterbatasan kemampuan baca
alat ukur. Misal pada sistem saluran tegangan tinggi, arus yang mengalir adalah 2000A sedangkan
alat ukur yang ada hanya sebatas 5A. Maka dibutuhkan sebuah CT yang mengubah representasi nilai
aktual 2000A di lapangan menjadi 5A sehingga terbaca oleh alat ukur.
CT umumnya selain digunakan sebagai media pembacaan juga digunakan dalam sistem proteksi
sistem tenaga listrik. Sistem proteksi dalam sistem tenaga listrik sangatlah kompleks sehingga CT itu
sendiri dibuat dengan spesifikasi dan kelas yang bervariatif sesuai dengan kebituhan sistem yang
ada.
Spesifikasi pada CT antara lain:
1. Ratio CT, rasio CT merupakan spesifikasi dasar yang harus ada pada CT, dimana
representasi nilai arus yang ada di lapangan di hitung dari besarnya rasio CT. Misal CT
dengan rasio 2000/5A, nilai yang terukur di skunder CT adalah 2.5A, maka nilai aktual arus
yang mengalir di penghantar adalah 1000A. Kesalahan rasio ataupun besarnya presentasi
error (%err.) dapat berdampak pada besarnya kesalahan pembacaan di alat ukur, kesalahan
penghitungan tarif, dan kesalahan operasi sistem proteksi.
2. Burden atau nilai maksimum daya (dalam satuan VA) yang mampu dipikul oleh CT.
Nilai daya ini harus lebih besar dari nilai yang terukur dari terminal skunder CT sampai
dengan koil relay proteksi yang dikerjakan. Apabila lebih kecil, maka relay proteksi tidak
akan bekerja untuk mengetripkan CB/PMT apabila terjadi gangguan.
3. Class, kelas CT menentukan untuk sistem proteksi jenis apakah core CT tersebut.
Misal untuk proteksi arus lebih digunakan kelas 5P20, untuk kelas tarif metering digunakan
kelas 0.2 atau 0.5, untuk sistem proteksi busbar digunakan Class X atau PX.
4. Kneepoint, adalah titik saturasi/jenuh saat CT melakukan excitasi tegangan.
Umumnya proteksi busbar menggunakan tegangan sebagai penggerak koilnya. Tegangan
dapat dihasilkan oleh CT ketika skunder CT diberikan impedansi seperti yang tertera pada
Hukum Ohm. Kneepoint hanya terdapat pada CT dengan Class X atau PX. Besarnya tegangan
kneepoint bisa mencapai 2000Volt, dan tentu saja besarnya kneepoint tergantung dari nilai
atau desain yang diinginkan.
5. Secondary Winding Resistance (Rct), atau impedansi dalam CT. Impedansi dalam CT
pada umumnya sangat kecil, namun pada Class X nilai ini ditentukan dan tidak boleh
melebihi nilai yang tertera disana. Misal: <2.5Ohm, maka impedansi CT pada Class X tidak
boleh lebih dari 2.5Ohm atau CT tersebut dikembalikan ke pabrik untuk dilakukan
penggantian.
Berdasarkan kriteria diatas, maka dapat dilakukan pengujian CT sebagai berikut:
Contoh-contoh beserta uraian dalam artikel kali ini saya ambil dari pengalaman-pengalaman saya
melakukan SAT CT dan HV Equipments pada Project: Cikarang Listrindo 4x60MW Gas Power Plant
Project, Inalum 275kV OHL Prot’n Panel Replacement Project, dan 2x250MW Muara Karang Gas
Power Plant Project.
Ratio Test
Misal: Ratio CT = 2000/5A
Untuk melakukan pengujian bahwa apakah benar nilai skunder CT tersebut apabila line primer diberi
arus sebesar 2000A adalah 5A, maka disini diperlukan alat injeksi arus yang mampu mengalirkan
arus sebesar 2000A. Tentu saja alat ini sangat langka dan besar sekali.
Cara alternatif yang biasa digunakan adalah dengan alat inject yang lebih kecil, misal 500A. Untuk
mendapatkan nilai 2000A maka kita dapat membuat gulungan atau lilitan sebanyak 2000A/500A = 4
kali gulungan.
Tentu saja nilainya tidaklah tepat seperti yang tertera pada kalkulator tapi setidaknya nilai tersebut
dapat tercapai. Metering ataupun instrument terpasang harus menunjukkan nilai kurang-lebih
2000A.
Pada kasus umumnya yang terjadi di lapangan, ternyata jenis alat test yang mampu menghasilkan
arus dalam jumlah yang besar ini cukup susah untuk dicari (karena harganya mahal maka umumnya
kami rental dari temen-temen)
Di balik itu ternyata banyak CT yang hasil pengukurannya tidak linear / atau tidak berbanding lurus
dengan rasio yang tertera. Dengan kata lain nilai presentase error-reading-nya bervariatif dan
umumnya semakin kecil arus yang diberikan, presentase error-reading-nya semakin besar
melampaui batas spesifikasi CT yang tertera pada nameplate. Padahal untuk beberapa sistem
proteksi seperti Distance Relay menggunakan pembacaan parameter arus pada nilai yang rendah.
sumber: [Link]