Pahami SGPT: Normal dan Penyebab Tinggi
Pahami SGPT: Normal dan Penyebab Tinggi
SGPT atau juga dinamakan ALT (alanin aminotransferase) merupakan enzim yang banyak
ditemukan pada sel hati serta efektif untuk mendiagnosis destruksi hepatoseluler. Enzim ini
dalam jumlah yang kecil dijumpai pada otot jantung, ginjal dan otot rangka. Pada umumnya
nilai tes SGPT/ALT lebih tinggi daripada SGOT/AST pada kerusakan parenkim hati akut,
sedangkan pada proses kronis didapat sebaliknya.
SGPT/ALT serum umumnya diperiksa secara fotometri atau spektrofotometri, secara semi
otomatis atau otomatis. Nilai rujukan untuk SGPT/ALT adalah :
Laki-laki: 0 - 50 U/L
Perempuan:0 - 35 U/L
Masalah Klinis
Peningkatan SGOT/SGPT > 20 kali normal : hepatitis viral akut, nekrosis hati
(toksisitas obat atau kimia)
Peningkatan 3-10 kali normal : infeksi mononuklear, hepatitis kronis aktif, sumbatan
empedu ekstra hepatik, sindrom Reye, dan infark miokard (SGOT>SGPT)
Peningkatan 1-3 kali normal : pankreatitis, perlemakan hati, sirosis Laennec, sirosis
biliaris.
Pengambilan darah pada area yang terpasang jalur intra-vena dapat menurunkan kadar
Trauma pada proses pengambilan sampel akibat tidak sekali tusuk kena dapat
meningkatkan kadar
Hemolisis sampel
Obat-obatan dapat meningkatkan kadar : antibiotik (klindamisin, karbenisilin,
eritromisin, gentamisin, linkomisin, mitramisin, spektinomisin, tetrasiklin), narkotika
(meperidin/demerol, morfin, kodein), antihipertensi (metildopa, guanetidin), preparat
digitalis, indometasin (Indosin), salisilat, rifampin, flurazepam (Dalmane), propanolol
(Inderal), kontrasepsi oral (progestin-estrogen), lead, heparin.
Aspirin dapat meningkatkan atau menurunkan kadar.
Bahan bacaan :
1. Frances K. Widmann, alih bahasa : S. Boedina Kresno dkk., Tinjauan Klinis Atas
Hasil Pemeriksaan Laboratorium, edisi 9, cetakan ke-1, EGC, Jakarta, 1992.
2. Joyce LeFever Kee, Pedoman Pemeriksaan Laboratorium & Diagnostik, EGC,
Jakarta, 2007.
3. Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik Cabang Jakarta, SI Units : Tabel
Konversi Sisten Satuan SI – Konvensional dan Nilai Rujukan Dewasa – Anak
Parameter Laboratorium Klinik, Jakarta, 2004.
4. Ronald A. Sacher & Richard A. McPherson, alih bahasa : Brahm U. Pendit dan Dewi
Wulandari, editor : Huriawati Hartanto, Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan
Laboratorium, Edisi 11, EGC, Jakarta, 2004.
5. The Royal College of Pathologists of Australasia, Manual of Use and Interpretation
of Pathology Test, Griffin Press Ltd., Netley, Australia, 1990
SGOT singkatan dari Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase, sebuah enzim yang secara
normal berada di sel hati dan organ lain. SGOT dikeluarkan kedalam darah ketika hati rusak.
Level SGOT darah kemudian dihubungkan dengan kerusakan sel hati, seperti serangan virus
hepatitis. SGOT juga disebut aspartate aminotransferase(AST). Sedangkan SGPT adalah
singkatan dari Serum Glutamic Piruvic Transaminase, enzim ini banyak terdapat di
hati. Dalam uji SGOT dan SGPT, hati dapat dikatakan rusak bila jumlah enzim tersebut
dalam plasma lebih besar dari kadar normalnya.
Pada percobaan yang digunakan kontrol negatif adalah mencit yang diberikan paraffin cair
saja sebagai pembawa. Kontrol positif adalah mencit yang diberikan CCl4 dan kelompok uji
adalah mencit yang diberikan CCl4 dan Obat yaitu Silimarin. CCl4digunakan sebagai kontrol
positif karena dapat merusak sel hati. Mekanismenya dalah CCl4 akan dimetabolisme oleh
enzim sitokrom P450 dalam hati menjadi CCl3* yang radikal. CCl3 radikal ini kemudian
berikatan pada sel hepatosit pada organ hati sehingga membran hati berubah
permeabilitasnya (meningkat). Berubahnya membran sel hati ini dapat menimbulkan dua
macam konsekuensi. Pertama zat –zat dari dalam sel keluar dengan bebas sehingga hati
mengalami pengkerutan dan terjadi nekrosis. Sebaliknya zat-zat yang berada diluar sel hati
juga dapat masuk dan menyebabkan hati menjadi besar dan terjadi apoptosis. Pada hewan uji,
selain diberikan CCl4 juga diberikan Silimarin, silimarin digunakan sebagai hepatoprotektor
karena dapat menekan peningkatan enzim-enzim transaminase dan pencegahan pengausan
glutation hati.
Maka seharusnya sesuai teori diatas, SGOT dan SGPT dari kontrol negatif paling kecil,
kontrol positif paling besar dan uji silimarin diantara keduanya. Data SGOT dapat
menyimpang karena ada kemungkinan mencit sedang mengalami gangguan juga pada organ
selain hati, karena sebenarnya SGOT terdapat di hampir seluruh tubuh, berbeda dengan
SGPT yang spesifik pada hati. Berikut Alat yang digunakan dalam uji SGOT-SGPT.
Alat Uji SGOT-SGPT Pereaksi SGOT
Selain peningkatan enzim transaminase ternyata juga terdapat beberapa parameter lain yang
menyatakan kerusakan hati. Berikut parameter-paremeter tersebut.
Prakata
Suatu langkah awal dalam mendeteksi kerusakan hati adalah suatu tes darah sederhana untuk
menentukan kehadiran dari enzim-enzim hati tertentu dalam darah. Dibawah keadaan-
keadaan normal, enzim-enzim ini berada dalam sel-sel hati. Namun ketika hati luka, enzim-
enzim ini ditumpahkan keluar kedalam aliran darah.
Diantara yang paling sensitif dan digunakan secara luas dari enzim-enzim hati ini adalah
aminotransferase-aminotransferase. Mereka meliputi aspartate aminotransferase (AST
atau SGOT) dan alanine aminotransferase (ALT atau SGPT). Enzim-enzim ini biasanya
terkandung dalam sel-sel hati. Jika hati terluka, sel-sel hati menumpahkan enzim-enzim
kedalam darah, menaikan tingkat-tingkat enzim dalam darah dan menandai kerusakan hati.
Definisi Aminotransferase-Aminotransferase
Aminotransferase-aminotransferase mengkatalisasi reaksi-reaksi kimia dalam sel-sel dimana
suatu kelompok amino ditransfer dari suatu molekul donor ke suatu molekul penerima.
Makanya, namanya "aminotransferases".
Istilah-istilah medis adakalaya dapat membingungkan, seperti dengan kasus enzim-enzim ini.
Nama lain untuk aminotransferase adalah transaminase. Enzim aspartate aminotransferase
(AST) juga dikenal sebagai serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT);
dan alanine aminotransferase (ALT) juga dikenal sebagaiserum glutamic pyruvic
transaminase (SGPT). Untuk menyederhanakannya, AST = SGOT dan ALT = SGPT.
ALT (SGPT) – suatu enzim yang bila dalam keadaan normal berada di dalam sel hati
dan di dalam darah. Ketika sel hati rusak, enzim ini merembes ke dalam aliran darah
sehingga menyebabkan kadar ALT (SGPT) meningkat. Tes ALT (SGPT) yang hanya
dilakukan sekali belum tentu bisa menunjukkan seberapa parah perusakan yang telah
terjadi dan seringkali orang yang menderita hepatitis C kronis memiliki kadar ALT
(SGPT) normal. Enzim hati lainnya yang biasanya diukur melalui tes darah ini adalah
AST (aspartate aminotransferase/ SGPT), GGT (gamma-glutamyl transferase), dan
alkaline phosphatase.
Bilirubin - suatu pigmen berwarna kuning yang disalurkan ke dalam hati ketika sel
darah merah pecah. Jika hati tidak bekerja dengan baik maka kadar bilirubin dalam
darah akan naik.
Albumin – adalah suatu protein yang dihasilkan oleh hati. Penurunan jumlah albumin
dapat mencerminkan buruknya fungsi hati.
Prothrombin Time – Ketika mengalami kerusakan, hati akan gagal memproduksi zat
pembeku darah dalam jumlah yang memadai. Tes ini mengukur kemampuan
pembekuan darah. Pada gangguan fungsi hati Prothrombin Time (PT) memanjang.
Bila diperlukan dokter Anda juga mungkin akan melakukan biopsi hati yaitu suatu prosedur
yang dilakukan dengan mengambil sepotong kecil jaringan hati dengan menggunakan jarum
biopsi, yang kemudian dianalisis di bawah mikroskop oleh ahli patologi anatomi. Biopsi hati
biasanya direkomendasikan untuk diagnosis kelainan hati atau untuk menentukan derajat
beratnya kelainan hati.
Dalam dunia kesehatan SGOT-SGPT bukanlah istilah baru. Meski begitu masih banyak
orang kecele dengan angka-angka yang ditampilkannya.
Pemilik angka SGOT-SGPT di atas normal dianggap sakit. Sebaliknya, kadar di bawah
normal diyakini sehat. Padahal kenyataannya belum tentu begitu.
"Wah gawat, SGPT gue tinggi! Padahal gue enggak ngerasa sakit apa-apa tuh,” keluh Indra,
pelamar kerja yang baru saja melakukan tes kesehatan. Wajahnya gusar, memandangi hasil
tes laboratorium. Kegusaran Indra bak mewakili kegusaran banyak orang, yang serta-merta
risau ketika tahu kadar SGPT dan SGOT-nya melampaui batas atas normal (BAN).
SGOT-SGPT merupakan dua enzim transaminase yang dihasilkan terutama oleh sel-sel hati.
Bila sel-sel liver rusak, misalnya pada kasus hepatitis atau sirosis, biasanya kadar kedua
enzim ini meningkat. Makanya, lewat hasil tes laboratorium, keduanya dianggap memberi
gambaran adanya gangguan pada hati.
Penyimpangan Populasi
Kembali pada keluhan Indra, apakah SGOT-SGPT yang melampaui BAN memang pertanda
awal datangnya malapetaka?
Jawabannya, belum tentu! SGOT-SGPT yang berada sedikit di atas normal tak selalu
menunjukkan seseorang sedang sakit. Bisa saja peningkatan itu terjadi bukan akibat
gangguan pada liver. “Kalau kita tes darah sesudah main bola atau kerokan, sangat mungkin
SGOT-SGPT kita bakal naik,” kata dr. Rino A. Gani, [Link]-KGEH, hepatolog Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Kadar SGOT-SGPT juga gampang naik turun. Mungkin saja saat diperiksa, kadarnya sedang
tinggi. Namun setelah itu, dia kembali normal. Pada orang lain, mungkin saat diperiksa,
kadarnya sedang normal, padahal biasanya justru tinggi. Karena itu, satu kali pemeriksaan
saja sebenarnya belum bisa dijadikan dalil untuk membuat kesimpulan.
Angka BAN pun dibuat berdasarkan statistik. Di dalam statistik selalu ada simpangan baku.
Artinya, ada sebagian kecil orang yang memang berbeda dari kebanyakan orang. Menurut
American Gastroenterological Association, penyimpangan ini terjadi pada 1- 4% dari
populasi. Mereka punya nilai SGOT-SGPT yang sedikit lebih tinggi dari BAN, tapi tidak
menunjukkan gejala sakit.
Jelas tidak! Meski bisa saja sebaliknya, seseorang mengidap sakit liver kronis, walaupun
kadar SGOT-SGPT-nya normal. “Sekitar 30% penderita hepatitis C kronis memiliki kadar
ALT (SGPT) normal,” ungkap Goerge K. K. Lau, guru besar Department of Medicine, Queen
Mary Hospital, University of Hong Kong, di kongres Asian Pacific Association for the Study
of Liver (APASL) 2005 di Bali, belum lama ini.
Sisanya, 40% penderita hanya menunjukkan kenaikan sedikit SGPT di atas BAN. Rino pun
sependapat dengan George Lau.
“Pada sekitar 60 - 70% pasien kami, nilai ALT (SGPT)-nya hanya sekitar 1,3 - 1,5 kali batas
atas normal,” ungkapnya. Meski tidak begitu “tinggi” (tak sampai dua kali BAN), mereka
ternyata sudah positif terinfeksi virus hepatitis C.
Gangguan hati sendiri bentuknya berjenis-jenis, dengan jumlah penderita tak sedikit. Jumlah
pengidap hepatitis C saja sekitar 3% dari populasi. Belum lagi hepatitis A dan B yang
jumlahnya jauh lebih banyak. Apalagi jika ditambah dengan perlemakan hati, sirosis,
intoksikasi obat, fibrosis hati, dan penyakit lain yang nama-nya jarang kita dengar.
Rusaknya sel-sel otot bisa disebabkan oleh banyak hal, misalnya aktivitas fisik yang berat,
luka, trauma, atau bahkan kerokan. Ketika kita mendapat injeksi intra muskular (suntik lewat
jaringan otot), sel-sel otot pun bisa mengalami sedikit kerusakan dan meningkatkan kadar
enzim transaminase ini. Pendek kata, ada banyak faktor yang bisa menyebabkan kenaikan
SGOT-SGPT.
Dibandingkan dengan SGOT, SGPT lebih spesifik menunjukkan ketidakberesan sel hati,
karena SGPT hanya sedikit saja diproduksi oleh sel nonliver. Biasanya, faktor nonliver tidak
menaikkan SGOT-SGPT secara drastis. Umumnya, tidak sampai 100% di atas BAN.
Misalnya, jika BAN kadar SGPT adalah 65 unit/liter (u/l), kenaikan akibat bermain sepakbola
lazimnya tak sampai dua kali lipat.
Jika kadarnya melampaui dua kali lipat, ini pertanda mulai menyalanya lampu merah yang
harus diwaspadai. Jangan “sakit hati” jika dokter curiga kita mengidap sakit hati. BAN
sendiri bisa berbeda antarlaboratorium. Jika pernah tes darah di dua laboratorium yang
berbeda, dan mendapatkan BAN yang berbeda, Anda tak perlu heran.
“Batas atas normal tergantung pada reagen dan alat yang digunakan,” jelas Rino. Di rumah
sakit tertentu, BAN kadar SGPT bisa 40 u/l, tapi di klinik lain bisa 65 u/l. Ini hanya masalah
teknis pemeriksaan. itu sebabnya, kita tak bisa menyatakan tinggi rendahnya SGOT-SGPT
dari angka absolut, tetapi dari nilai relatif (dibandingkan dengan BAN).
Sebagaimana organ lain, hati punya mekanisme pertahanan diri. Ketika diserang virus, ia
berusaha melawan. Jika kalah, ia punya dua pilihan: berjuang sampai akhir hayat atau bunuh
diri. Pada hepatitis A dan B, hati mengambil pilihan pertama, berjuang sampai mati.
Begitu sel-sel liver mati, dindingnya jebol. dan akhirnya hati mengalami peradangan. Kondisi
ini menyebabkan naiknya kadar SGOT-SGPT di dalam darah. Karena kadarnya meningkat,
dokter lebih mudah mendiagnosis.
Namun pada hepatitis C, urusannya lebih kompleks. Tak semua sel hati merespons kekalahan
dengan tetap berjuang sampai mati. Sebagian yang lain bunuh diri secara terencana. Dalam
istilah kedokteran itu disebut apotosis (programmed cell death). Acara bunuh diri ini bukan
tanpa tujuan. Dengan bunuh diri, sel-sel liver berusaha “membunuh” virus secara tidak
langsung.
Salah satu kelemahan virus yaitu tidak punya mekanisme sendiri dalam berkembang biak.
Mereka beranak pinak dengan cara memanfaatkan mekanisme hidup sel makhluk hidup
lainnya. Dalam kasus hepatitis, sel yang ditumpangi adalah sel-sel liver. Dengan bunuh diri,
sel liver berusaha membuat virus tak bisa berkembang biak.
Karena bunuh diri, sel-sel hati tidak pecah, tapi menciut. Yang terjadi selanjutnya bukan
proses peradangan, melainkan pengerutan. Karena liver tak meradang, kadar SGPT pun tak
terpengaruh. Itulah yang menyebabkan penderita hepatitis C bisa memiliki kadar SGPT
normal, meskipun sebenarnya ia telah menderita penyakit kronis.
Itu pula yang membuat dokter harus berulang-ulang membetulkan letak kacamata, karena
sulit menegakkan diagnosis.
Menurut Rino, SGOT-SGPT hanya menggambarkan tingkat kerusakan sel hati. Kedua enzim
lain itu tak bisa menggambarkan tingkat kemampuan sel hati untuk meregenerasi diri. Dalam
kondisi normal, sel-sel tubuh memiliki kemampuan regenerasi. Jika rusak, mereka akan
menggantinya dengan sel-sel baru. Kemampuan regenerasi inilah yang akan mengimbangi
kerusakan sel.
Hal itulah yang tidak tergambar dari hasil tes SGOT-SGPT. Bisa saja seseorang mengalami
kenaikan SGOT-SGPT hingga di atas normal, tapi sebetulnya liver tidak dalam kondisi sakit,
karena sel yang telah mati segera diganti oleh sel baru.
Selama masa pemantauan itu, pasien harus 4 - 5 kali pergi ke laboratorium untuk menjalani
tes fungsi hati tiap 1 - 2 bulan sekali. Tes fungsi hati di sini bukan hanya tes SGOT dan
SGPT. Ada banyak komponen kimia darah lain yang perlu diperiksa. Untuk memastikan,
dokter perlu melakukan biopsi. Secuplik sampel jaringan diambil dari liver untuk diperiksa
lewat mikroskop.
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan nilai normal, pasien boleh sedikit lega hati. Ia hanya
perlu kontrol setahun lagi. Namun, jika rangkaian pemeriksaan menunjukkan pasien telah
sakit hati, ia harus berbesar hati untuk menjalani terapi.
*****
Sudah menjadi kelaziman di masyarakat kita, salah satu upaya menurunkan SGOT-SGPT
dilakukan dengan minum jamu. Menurut Rino, persoalan jamu ini cukup dilematis. Di satu
sisi, pasien berhak minum jamu atas kehendak sendiri. Namun di sisi lain, jamu bisa
mengganggu interpretasi dokter dalam menegakkan diagnosis.
Jamu-jamu tertentu memang terbukti bisa menurunkan kadar SGOT-SGPT. Jika kenaikan
SGOT-SGPT hanya bersifat sementara, minum jamu tak akan menimbulkan masalah.
Problem akan muncul jika kenaikan SGOT-SGPT memang disebabkan oleh penyakit liver
yang masih malu-malu untuk membuka identitas. Dalam keadaan itu, jamu bisa
menimbulkan efek masking. SGOT-SGPT turun, tapi sebetulnya proses perusakan liver terus
terjadi.
Bila kadar SGOT turun, dokter mungkin akan menganggap pasien sehat-sehat saja. Padahal,
mungkin ia telah menderita penyakit kronis. Akibatnya pasien tidak mendapat terapi yang
diperlukan. Hal itu akan merugikan si pasien sendiri.
Jalan tengahnya, Rino menyarankan agar pasien memberi tahu dokter ketika minum jamu.
Dengan begitu, proses diagnosis tak terganggu. Selain itu, Rino juga menyarankan pasien
mengurangi aktivitas fisik yang berat. Jika ada undangan bermain futsal, misalnya, lupakan
saja untuk sementara.
SGPT dan SGOT merupakan enzim-enzim pada hati yang akan meningkat jumlahnya di
dalam tubuh jika hati mengalami kerusakan baik kerusakan fungsi hati secara akut maupun
kronis. Lebih lanjut kami akan mencoba menjelaskannya satu persatu:
Nilai normal SGOT adalah 3-45 u/L, sedangkan nilai normal SGPT adalah 0-35 u/L
(terdapat sedikit variasi dari nilai normal dan sangat tergantung dari laboratorium
tempat pemeriksaan). Namun hasil SGOT dan SGPT yang normal belum tentu
menandakan bahwa Anda bebas dari penyakit hati. Pada kasus penyakit hati yang
kronik (menahun), misal akibat hepatitis B kronik atau hepatitis C kronik, dapat
ditemukan kadar enzim SGOT dan SGPT yang normal atau sedikit meningkat. Pada
infeksi hati yang kronik (menahun), sel hati secara perlahan-lahan mengalami
kerusakan dan hal ini tidak dapat diketahui hanya dari pemeriksaan enzim hati di
dalam [Link] dan SGPT merupakan enzim yang dapat ditemukan pada sel-sel
hati. Karena itu jika terjadi kerusakan (nekrosis) sel-sel hati, seperti yang terjadi pada
infeksi akut virus hepatitis, enzim-enzim tersebut keluar dari sel hati dan masuk ke
dalam darah. Semakin banyak sel-sel hati yang rusak, semakin tinggi pula kadar
SGOT/SGPT yang terukur di dalam darah. .Apakah keluhan yang anda rasakan saat
ini?
SGOT dan SGPT merupakan enzim yang dapat ditemukan pada sel-sel hati. Karena itu jika
terjadi kerusakan (nekrosis) sel-sel hati, seperti yang terjadi pada infeksi akut virus hepatitis,
enzim-enzim tersebut keluar dari sel hati dan masuk ke dalam darah. Semakin banyak sel-sel
hati yang rusak, semakin tinggi pula kadar SGOT/SGPT yang terukur di dalam darah. Secara
laboratoris pemeriksaan enzim hati pada hepatitis akut didapati adanya peninggian SGOT dan
SGPT sampai 20-50 kali normal dengan SGPT lebih tinggi SGOT daripada SGPT
(SGOT/SGPT < 0,7).
Sebagian besar orang dengan hepatitis B tidak memerlukan pengobatan yang khusus selain
beristirahat dan mereka akan sembuh kembali. Apabila infeksi VHB bertahan lebih dari 6
bulan (infeksi hepatitis kronik), dapat diberikan obat antivirus yang disebut interferon alfa.
Pengobatan ini bertujuan untuk mengurangi risiko terjadinya sirosis hati dan kanker hati.
Sewaktu terjadi nekrosis sel-sel hati, konsentrasi kolesistokinin dan bombesin dalam darah
meningkat tajam. Peningkatan hormon-hormon ini dapat menyebabkan rasa tidak enak pada
lambung, mual dan muntah (dispepsia) dan berkurangnya nafsu makan yang menandai fase
awal infeksi akut virus hepatitis. Untuk menanganinya, diberikan obat-obat yang dapat
mengurangi produksi asam lambungdari sel-sel parietal lambung seperti proton-pump
inhibitor (contoh: Pariet), dan yang dapat mengurangi rasa mual dan muntah yang ada seperti
domperidon (contoh: Vosedon).
Sedangkan ursodeoxycholic acid pada infeksi akut hepatitis digunakan untuk mengurangi
kadar enzim yang meningkat dengan cara memfasilitasi aliran empedu melalui hati dan
memproteksi sel-sel hati.
Tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang adalah penyebab paling utama.
Tidak buang air di pagi hari.
Pola makan yang terlalu berlebihan.
Tidak makan pagi.
Terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan.
Terlalu banyak mengkonsumsi bahan pengawet, zat tambahan, zat pewarna, pemanis
buatan.
Minyak goreng yang tidak sehat.
Sedapat mungkin kurangi penggunaan minyak goreng saat menggoreng makanan, hal ini juga
berlaku meski menggunakan minyak goreng terbaik sekalipun seperti olive oil.
Jangan mengkonsumsi makanan yang digoreng bila kita dalam kondisi penat, kecuali dalam
kondisi tubuh yang fit.
Perawatan dari pola makan dan kondisi waktu sangat diperlukan agar tubuh kita dapat
melakukan penyerapan dan pembuangan zat-zat yang tidak berguna sesuai dengan
jadwalnya.
Sebab:
Malam hari pk 9 - 11 : adalah pembuangan zat-zat tidak berguna/ beracun (detoxin) di bagian
sistem antibodi (kelenjar getah bening). Selama durasi waktu ini seharusnya dilalui dengan
suasana tenang atau mendengarkan musik. Bila saat itu seorang ibu rumah tangga masih
dalam kondisi yang tidak santai seperti misalnya mencuci piring atau mengawasi anak
belajar, hal ini dapat berdampak negatif bagi kesehatan.
Malam hari pk 11 - dini hari pk 1 : saat proses de-toxin di bagian hati, harus berlangsung
dalam kondisi tidur pulas.
Dini hari pk 1 - 3 : proses de-toxin di bagian empedu, juga berlangsung dalam kondisi tidur.
Dini hari pk 3 - 5 : de-toxin di bagian paru-paru. Sebab itu akan terjadi batuk yang hebat bagi
penderita batuk selama durasi waktu ini. Karena proses pembersihan (de-toxin) telah
mencapai saluran pernafasan, maka tak Perlu minum obat batuk agar supaya tidak merintangi
proses pembuangan kotoran.
Pagi pk 5 - 7 : de-toxin di bagian usus besar, harus buang air di kamar kecil.
Pagi pk 7 - 9 : waktu penyerapan gizi makanan bagi usus kecil, harus makan pagi. Bagi orang
yang sakit sebaiknya makan lebih pagi yaitu sebelum pk 6:30. Makan pagi sebelum pk 7:30
sangat baik bagi mereka yang ingin menjaga kesehatannya. Bagi mereka yang tidak makan
pagi harap merubah kebiasaannya ini, bahkan masih lebih baik terlambat makan pagi hingga
pk 9-10 daripada tidak makan sama sekali. Tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang akan
mengacaukan proses pembuangan zat-zat tidak berguna. Selain itu, dari tengah malam hingga
pukul 4 dini hari adalah waktu bagi sumsum tulang belakang untuk memproduksi darah
Stabilitas : 3 hari pada 15-25 °C, 7 hari pada 2 €“8 °C, >7 hari pada €“70 °C
Sampel
Persiapan : -
Pasien
Nilai Rujukan : Laki-laki dewasa : < 50 U/L; perempuan dewasa : < 34 U/L
Catatan : -
BIOKIMIA - ENZIM
Apa itu enzim? enzim merupakan sekelompok protein yang mempunyai fungsi sebagai
katalisator. Katalisator adalah senyawa yang mempercepat terjadinya reaksi. Ikut dalam
reaksi tetapi tidak ikut bereaksi dan tidak merubah Keq (konstanta equivalen).
Berikut ini adalah beberapa sifat enzim:
1. Enzim bisa menggumpal dalam suhu tinggi, mudah terpengaruh asam basa, sebagaimana
sifat protein pada umumnya.
2. Enzim mudah rusak oleh suhu panas yang tinggi, biasanya pada suhu 50 derajat celcius.
Enzim yang rusak tidak bisa berfungsi lagi.
3. Enzim dapat bekerja berulang-ulang.
4. Sebagian enzim bekerja di dalam sel (endoenzim) dan sebagian lagi bekerja di luar sel
(ektoenzim).
5. Sebagian besar enzim bekerja dalam reaksi satu arah dan beberapa diantaranya dalam
jumlah sedikit, bekerja dalam reaksi bolak-balik.
6. Satu jenis enzim hanya bisa mempengaruhi reaksi tertentu.
7. Untuk mengaktifasi dirinya, enzim memerlukan kofaktor.
8. Enzim bekerja dipengaruhi oleh suhu, pH, dan inhibitor atau penghambat enzim.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kerja enzim, yaitu :
1. Konsentrasi enzim
Pada suatu konsentrasi substrat tertentu, kecepatan reaksi bertambah dengan bertambahnya
konsentrasi enzim.
2. Konsentarsi Substrat
Hasil eksperimen menunjukkan bahwa dengan konsentrasi enzim yang tetap, maka
pertambahan konsentrasi substrat akan menaikkan kecepatan reaksi. Akan tetapi pada batas
konsentrasi tertentu, tidak terjadi kenaikan kecepatan reaksi walaupun konsentrasi substrat
diperbesar.
3. Suhu
Pada suhu rendah reaksi kimia berlangsung lambat, sedangkan pada suhu yang lebih tinggi
reaksi berlangsung lebih cepat. Di samping itu, karena enzim adalah suatu protein, maka
kenaikan suhu dapat menyebabkan terjadinya proses denaturasi, sehingga bagian aktif enzim
akan terganggu dan dengan demikian konsentrasi efektif enzim menjadi berkurang dan
kecepatan reaksinya pun menurun. Kenaikan suhu sebelum terjadinya proses denaturasi
dapat menaikkan kecepatan reaksi. Namun kenaikan suhu pada saat terjadinya denaturasi
akan mengurangi kecepatan reaksi. Oleh karena ada dua pengaruh yang berlawanan, maka
akan terjadi suatu titik optimum, yaitu suhu yang paling tepat bagi suatu proses reaksi yang
menggunakan enzim tersebut.
4. Pengaruh pH
Struktur ion enzim tergantung pada pH lingkungan. Enzim dapat berbentuk ion positif, ion
negative atau ion bermuatan ganda (zwitter ion). Dengan demikian perubahan pH lingkungan
akan berpengaruh terhadap efektifitas bagian aktif enzim dalam membentuk kompleks enzim
substrat. Tinggi rendahnya pH juga dapat menyebabkan denaturasi yang dapat menurunkan
aktifitas enzim, sehingga diperlukan suatu pH optimum yang dapat menyebabkan kecepatan
reaksi enzim yang paling tinggi.
5. Pengaruh Inhibitor
Molekul atau ion yang dapat menghambat reaksi pembentukan kompleks enzim-substrat
disebut inhibitor.
Saya tertarik untuk mengembangkan materi tentang enzim SGOT dan SGPT. Karena
dalam klinisnya di rumah sakit nantinya kita akan banyak menemukan kasus-kasus yang
berkaitan dengan enzim-enzim tersebut. Contohnya saja kasus dengan pasien yang menderita
hepatitis akut nantinya akan diperiksa kadar SGOT/ SGPTnya.
SGOT singkatan dari Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase, Sebuah enzim yang
biasanya hadir dalam dan jantung sel-sel hati. SGOT dilepaskan ke dalam darah ketika hati
atau jantung rusak. Tingkat darah SGOT ini adalah demikian tinggi dengan kerusakan hati
(misalnya,dari hepatitis virus ) atau dengan penghinaan terhadap jantung (misalnya, dari
serangan jantung). Beberapa obat juga dapat meningkatkan kadar SGOT. SGOT juga disebut
aspartateaminotransferase (AST).
Sedangkan SGPT adalah singkatan dari Serum Glutamic Piruvic Transaminase,
SGPTatau juga dinamakan ALT (alanin aminotransferase) merupakan enzim yang banyak
ditemukanpada sel hati serta efektif untuk mendiagnosis destruksi hepatoseluler. Enzim ini
dalam jumlah yang kecil dijumpai pada otot jantung, ginjal dan otot rangka. Pada umumnya
nilai tes SGPT/ ALT lebih tinggi daripada SGOT/ AST pada kerusakan parenkim hati akut,
sedangkan pada proses kronis didapat sebaliknya.
SGPT/ALT serum umumnya diperiksa secara fotometri atau spektrofotometri,
secarasemi otomatis atau otomatis. Nilai rujukan untuk SGPT/ALT adalah :
Laki-laki : 0 – 50 U/L
Perempuan : 0 – 35 U/L
Dalam uji SGOT dan SGPT, hati dapat dikatakan rusak bila jumlah enzim
tersebutdalam plasma lebih besar dari kadar [Link] yang meningkatkan kadar
SGPT/ALT adalah :
Peningkatan SGOT/SGPT > 20 kali normal : hepatitis viral akut, nekrosis hati
(toksisitasobat atau kimia)
Peningkatan 3-10 kali normal : infeksi mononuklear, hepatitis kronis aktif, sumbatan
empedu ekstra hepatik, sindrom Reye, dan infark miokard (SGOT>SGPT)
Peningkatan 1-3 kali normal : pankreatitis, perlemakan hati, sirosis Laennec,
sirosisbiliaris
Untuk masyarakat
Oleh karena kontrol aktivitas enzim yang ketat diperlukan untuk menjaga
homeostasis, malfungsi (mutasi, kelebihan produksi, kekurangan produksi ataupun delesi)
enzim tunggal yang penting dapat menyebabkan penyakit genetik.
Pentingnya enzim ditunjukkan oleh fakta bahwa penyakit- penyakit mematikan dapat
disebabkan oleh hanya malfungsi satu enzim dari ribuan enzim yang ada dalam tubuh
kita. Salah satu contohnya adalah fenilketonuria. Mutasi asam amino tunggal pada enzim
fenilalanin hidrolase yang mengkatalisis langkah pertama degradasi fenilalanin
mengakibatkan penumpukkan fenilalanin dan senyawa terkait. Hal ini dapat
menyebabkan keterbelakangan mental jika ia tidak diobati. Contoh lainnya adalah mutasi
silsilah nutfah ( germline mutation) pada gen yangmengkode enzim reparasi DNA.
Ia dapat menyebabkan sindroma penyakit kanker keturunan seperti xeroderma
pigmentosum. Kerusakan pada enzim ini dapat menyebabkan kanker karena kemampuan
tubuh memperbaiki mutasi pada genom menjadi berkurang. Hal ini menyebabkan akumulasi
mutasi dan mengakibatkan berkembangnya berbagai jenis kanker pada penderita.
Jadi sebagai seorang dokter nantinya kita harus paham betul mengenai enzim-enzim
beserta peranannya agar nantinya kita bisa memberi edukasi ke masyarakat tentang
pentingnya enzim itu sendiri.
kesimpulan:
Aplikasi enzim di klinis.
Hati (liver) merupakan salah satu organ penting dalam tubuh manusia. Didalam hati
terjadi proses-proses penting bagi kehidupan kita yaitu proses penyimpanan energi,
pembentukan protein dan asam empedu, pengaturan metabolisme kolesterol, dan penetralan
racun/ obat yang masuk dalam tubuh kita. Sehingga dapat dibayangkan akibat yang akan
timbul apabila terjadi kerusakan pada liver. Kerusakan sel hati preikterik dapat dideteksi dari
peningkatan transaminase plasma.
[Link]
pemeriksaan sgpt
18.42 |
SGPT adalah singkatan dari Serum Glutamic Piruvic Transaminase, SGPTatau juga
dinamakan ALT (alanin aminotransferase) merupakan enzim yang banyak ditemukanpada sel
hati serta efektif untuk mendiagnosis destruksi hepatoseluler. Enzim ini dalam jumlahyang
kecil dijumpai pada otot jantung, ginjal dan otot rangka. Pada umumnya nilai tesSGPT/ALT
lebih tinggi daripada SGOT/AST pada kerusakan parenkim hati akut, sedangkanpada proses
kronis didapat sebaliknya.
SGPTatau juga dinamakan ALT (alanin aminotransferase) merupakan enzim yang banyak
ditemukan pada sel hati serta efektif untuk mendiagnosis destruksi hepatoseluler. Enzim ini
dalam jumlahyang kecil dijumpai pada otot jantung, ginjal dan otot rangka. Pada umumnya
nilai tesSGPT/ALT lebih tinggi daripada SGOT/AST pada kerusakan parenkim hati akut,
sedangkan pada proses kronis didapat [Link]/ALT serum umumnya diperiksa
secara fotometri atau spektrofotometri, secarasemi otomatis atau otomatis. Nilai rujukan
untuk SGPT/ALT adalah :Laki-laki : 0 - 50 U/LPerempuan : 0 - 35 U/LDalam uji SGOT dan
SGPT, hati dapat dikatakan rusak bila jumlah enzim tersebutdalam plasma lebih besar dari
kadar [Link] yang meningkatkan kadar SGPT/ALT adalah :
Peningkatan SGOT/SGPT > 20 kali normal : hepatitis viral akut, nekrosis hati (toksisitasobat
atau kimia)
Peningkatan 3-10 kali normal : infeksi mononuklear, hepatitis kronis aktif, sumbatanempedu
ekstra hepatik, sindrom Reye, dan infark miokard (SGOT>SGPT)
Peningkatan 1-3 kali normal : pankreatitis, perlemakan hati, sirosis Laennec, sirosis biliari
Pengambilan darah pada area yang terpasang jalur intra-vena dapat menurunkan kadar
Trauma pada proses pengambilan sampel akibat tidak sekali tusuk kena dapatmeningkatkan
kadar
hemolisis sampel
[Link]
[Link]
[Link]
I. Metode
Kinetik – IFCC
II. Tujuan
Mengetahui cara pemeriksaan SGPT dan mengetahui aktivitas SGPT dalam serum
yang diperiksa.
III. Prinsip reaksi
2. Reagen 2
NADH 1 mmol
2-oxoglutarat 85 mmol
Dari ragen 1 dan 2 dibuat monoreagen dengan perbandingan 4 bagian reagen 1
ditambah 1 bagian reagen 2.
VIII. Cara kerja
- Masukkan ke dalam tabung reaksi
Blanko Pemeriksaan
Reagen - 1000µl
Serum - 100 µl
menit = = =0,026
Tujuan:
Teori singkat
SGOT singkatan dari Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase, Sebuah enzim
yangbiasanya hadir dalam dan jantung sel-sel hati. SGOT dilepaskan ke dalam darah ketika
hati ataujantung rusak. Tingkat darah SGOT ini adalah demikian tinggi dengan kerusakan
hati (misalnya,dari hepatitis virus ) atau dengan penghinaan terhadap jantung (misalnya, dari
serangan jantung).Beberapa obat juga dapat meningkatkan kadar SGOT. SGOT juga disebut
aspartateaminotransferase (AST).
Sedangkan SGPT adalah singkatan dari Serum Glutamic Piruvic Transaminase, SGPTatau
juga dinamakan ALT (alanin aminotransferase) merupakan enzim yang banyak
ditemukanpada sel hati serta efektif untuk mendiagnosis destruksi hepatoseluler. Enzim ini
dalam jumlahyang kecil dijumpai pada otot jantung, ginjal dan otot rangka. Pada umumnya
nilai tesSGPT/ALT lebih tinggi daripada SGOT/AST pada kerusakan parenkim hati akut,
sedangkanpada proses kronis didapat sebaliknya.
Laki-laki : 0 – 50 U/L
Perempuan : 0 – 35 U/L
Dalam uji SGOT dan SGPT, hati dapat dikatakan rusak bila jumlah enzim tersebutdalam
plasma lebih besar dari kadar [Link] yang meningkatkan kadar SGPT/ALT
adalah :
Peningkatan SGOT/SGPT > 20 kali normal : hepatitis viral akut, nekrosis hati
(toksisitasobat atau kimia)
Peningkatan 1-3 kali normal : pankreatitis, perlemakan hati, sirosis Laennec, sirosisbiliaris
Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :
Pengambilan darah pada area yang terpasang jalur intra-vena dapat menurunkan kadar
Trauma pada proses pengambilan sampel akibat tidak sekali tusuk kena dapatmeningkatkan
kadar
Hemolisis sampel
Alat:
Spekrtrofotometer
Jarum suntik
Alcohol pads
Mikropipet
Tipp
Bahan:
Cara kerja:
2. Hangatkan reagen dan cuvet pada temperature yang diinginkan dan temperature
haruskonstan (±0,5ÛC)
5. Campurkan reagen dengan sampel, baca absorbansi pada panjang gelombang 365nm,setelah
1 menit dan pada saat yang sama, hitung waktu dengan stopwatch
6. Baca lagi absorbansi dengan pasti setelah 1 menit, 2 menit dan 3 menit
Pemeriksaan SGOT dan SGPT
Posted on Desember 29, 2011 by drdjebrut
PRAKTIKUM 5
PEMERIKSAAN SGOT (ASAT)
1. Hari / tanggal :
2. Merode : Kinetik UV
3. Prinsip : GOT
2- Oxoglutarate + L-aspartate -----> L-glutamate + Oxaloacetate
dcccc
MDH
Oxaloacetate + NADH + H2 -----> L Malate + NAD+
Oksaloasetetat yang dihasilkan sebanding dengan oksidasi dari NADH menjadi NAD. Reaksi
tersebut menggambarkan aktifitas AST dan diukur secara fotometrik
4. Dasar Teori :
Glutamic Oxal acetic Transaminase (GOT) ialah suatu enzim yang mempengaruhi suatu
reaksi pemindahan suatu gugus α amino keasam keton. Enzim ini terdapat dalam kadar yang
tinggi dalam sel-sel hepar, jantung dan otot. Suatu kerusakan pada sel-sel ini akan
menyebabkan kenaikan kadar enzim didalam serum. Dikatakan juga kadar enzim didalam
serum. Dikatakan juga kadar enzim ini meningkat pada suatu Acute Hepatocelluler Damage.
5. Cara Kerja :
1) Persiapan Reagen Kerja :
Buffer/R1 Substrat/R2
2000 µl 500 µl
Campur reagen buffer dan substrat dengan
perbandingan 4 : 1
2) Pemeriksaan SGOT
Pipet kedalam tabung
Reagen Kerja 500 µl
Serum 50 µl
Sebelum ditambahkan serum, reagen kerja diinkubasi
terlebiuh dahulu selama 10 menit pada suhu 37 0C
3) Serum ditambahkan kedalam reagen kerja pada saat pembacaan pada photometer.
4) Baca pada fotometer dengan panjang gelombang 546 nm.
6. Nilai Normal
Ø Laki-laki : sampai 37 U/L
Ø Perempuan : sampai 31 U/L
7. Hasil :
[Link]
tra&id=106%3AGangguan+Faal+(Fungsi)+Hati+Yang+Sering+Ditanyakan+Oleh+Penderita
&tmpl=component&print=1&page=&option=com_content
Penderita sering memperlihatkan kepada dokter hasil laboratorium yang mencatat adanya
gangguan faal hati, kemudian meminta penjelasan dari hasil laboratorium bahkan memohon
pengobatan atas gangguan faal hati tersebut.
Sebagai seorang dokter klinis kita tidak boleh lupa bahwa pertanyaan penderita itu
sebenarnya mengacu pada diagnosis penyakit saya itu apa sebenarnya! Untuk bisa menjawab
pertanyaan tadi dengan jitu, kita harus mengetahui bagaimana riwayat penyakitnya,
simptomatologi serta riwayat yang relevan dengan kondisi klinisnya. Riwayat mengkonsumsi
obat-obatan, termasuk obat tradisionil, eksposisi dengan zat kimia/makanan juga perlu
diperhatikan. Permeriksaan fisik untuk mencari tanda penyakit hati kronis seperti palmar
erithema, jaundice, spider nevi dansebagainya sangat membantu dalam menganalisis hasil
laboratorium tadi. Harus diingat bahwa kelainan faal hati, dapat juga dijumpai pada penyakit-
penyakit lain diluar penyakit hati, misalnya penyakit kelenjar thyroid, payah jantung dan
payah ginjal. Karena itu, kita memerlukan pemeriksaan penunjang lainnya sehingga dapat
memberikan kesimpulan dari hasil laboratorium tadi.
Hati merupakan organ padat yang terbesar yang letaknya di rongga perut bagian kanan atas.
Organ ini mempunyai peran yang penting karena merupakan regulator dari semua
metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Tempat sintesa dari berbagai komponen protein,
pembekuan darah, kolesterol, ureum dan zat-zat lain yang sangat vital. Selain itu, juga
merupakan tempat pembentukan dan penyaluran asam empedu serta pusat pendetoksifikasi
racun dan penghancuran (degradasi) hormon-hormon steroid seperti estrogen.
Pada jaringan hati, terdapat sel-sel Kupfer, yang sangat penting dalam eliminasi organisme
asing baik bakteri maupun virus. Karena itu untuk memperlihatkan adanya gangguan faal
hati, terdapat satu deretan tes yang biasanya dibuat untuk menilai faal hati tersebut. Perlu
diingat bahwa semua tes kesehatan mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang berlainan,
maka interpretasi dari hasil tes sangat dipengaruhi oleh hal-hal tersebut.
Untuk fungsi sintesis seperti protein, zat pembekuan darah dan lemak biasanya diperiksa
albumin, masa protrombin dan cholesterol. Fungsi ekskresi/transportasi, diperiksa bilirubin,
alkali fosfatase. ∂-GT. Kerusakan sel hati atau jaringan hati, diperiksa SGOT(AST),
SGPT(ALT). Adanya pertumbuhan sel hati yang muda (karsinoma sel hati), alfa feto protein.
Kontak dengan virus hepatitis B yaitu; HBsAg, AntiHBs, HBeAg, anti HBe, Anti HBc,
HBVDNA, dan virus hepatitis C yaitu; anti HCV, HCV RNA, genotype HCV.
Tes faal hati yang terjadi pada infeksi bakterial maupun virus yang sistemik yang bukan virus
hepatitis. Penderita semacam ini, biasanya ditandai dengan demam tinggi, myalgia, nausea,
asthenia dan sebagainya. Disini faal hati terlihat akan terjadinya peningkatan SGOT, SGPT
serta ∂-GT antara 3-5X nilai normal. Albumin dapat sedikit menurun bila infeksi sudah
terjadi lama dan bilirubin dapat meningkat sedikit terutama bila infeksi cukup berat. (lihat
table 1)
Tes faal hati pada hepatitis virus akut maupun drug induce hepatitis. Faal hati
seperti Bilirubin direct/indirect dapat meningkat biasanya kurang dari 10 mg%, kecuali pada
hepatitis kolestatik, bilirubindapat lebih dari 10 mg%. SGOT, SGPT meningkat lebih dari 5
sampai 20 kali nilai normal. ∂-GT dan alkalifosfatase meningkat 2 sampai 4 kali nilai normal,
kecuali pada hepatitis kolestatik dapat lebih tinggi. Albumin/globulin biasanya masih normal
kecuali bila terjadi hepatitis fulminan maka rasio albumin globulin dapat terbalik dan
masa protrombin dapat memanjang ( lihat tabel2)
Tes faal hati pada sumbatan saluran empedu. Bilirubin direct/indirect dapat tinggi sekali (>20
mg%), terutama bila sumbatan sudah cukup lama. Peningkatan SGOT dan SGPT biasanya
tidak terlalu tinggi, sekitar kurang dari 4 kali nilai normal. ∂-GT
dan alkalifosfatase meningkat sekali dapat lebih dari 5 kali nilai normal. Kolesterol juga
meningkat (lihat table 3).
Tes faal hati pada perlemakan hati (fatty liver). Albumin/globulin dan Bilirubin biasanya
masih normal. SGOT dan SGPT meningkat sekitar 2 sampai 3 kali nilai normal demikian
juga ∂-GT danalkalifosfatase meningkat sekitar ½ sampai 1 kali dari nilai normal .
Kadar triglyserida dan kolesterol juga terlihat meninggi. Kelainan ini sering pada wanita
dengan usia muda/pertengahan, gemuk dan biasanya tidak ada keluhan atau mengeluh adanya
perasaan tak nyaman pada perut bagian kanan atas. Pada kasus perlemakan hati yang primer
maka semua pertanda hepatitis C harus negatif. (lihat tabel 4)
Penderita hepatitis A akut atau baru sembuh dari hepatitis A, ditandai dengan IgM anti HAV
yang positif. Sedang IgG anti HAV positif sering ditemukan pada anak atau orang dewasa
dari negara berkembang dengan sanitasi lingkungan yang jelek. Ini menandakan penderita
pernah terinfeksi virus hepatitis A dimasa lalu. Karena itu prevalensi IgG HAV dapat dipakai
sebagai indeks sanitasi lingkungan suatu negara.
Sembuh dari infeksi Hepatitis B, ditandai dengan menghilangnya HBsAg dan timbulnya anti
HBs. Sedang IgM Anti HBc pos, berarti baru (recent) terinfeksi dengan hepatitis B.
4. Hepatitis inaktif/integratif. HBsAg+, Anti HBe+, HBV DNA negatif atau dibawah <
103 copy/ml dan faal hatinya normal.
5. Sirosis hati B, rasio albumin/globulin terbalik, Bilirubin meningkat (< dari 5 mg%),
SGOT> SGPT, biasanya meningkat sekitar 2 s/d 4 kali normal, tapi pada yang sirosis
berat SGOT/SGPT dapat normal. HBsAg+, HBeAg/anti HBe dapat positif. HBV-DNA
seringnya sudah negatif.
Hepatitis C
1. Sembuh dari hepatitis C, ditandai dengan anti HCV+, HCV-RNA – (negatif), faal hati
yang normal.
2. Hepatitis C kronik, ditandai dengan Anti HCV+, HCV-RNA +, faal hati sebagian
terbesar terganggu, tapi bisa normal pada sebagian kecil penderita.
3. Sirosis hati C, rasio albumin/globulin terbalik, Bilirubin meningkat( < dari 5mg%),
SGOT > SGPT, biasanya meningkat sekitar 2 s/d 4 kali normal, tapi pada yang sirosis
berat SGOT/SGPT dapat normal. Anti HCV dan HCV-RNA positif.
Genotype hepatitis.
Pada hepatitis B ada 8 genotipe dan diberi nama abjad A sampai dengan H. Di Indonesia
terutama genotipe B dan C. Hepatitis C ada 6 genotipe dan diberi nama angka 1 sampai 6.
Dalam satu genotipe ada dibagi lagi menjadi sub-genotipe dan tambahan huruf kecil dari a
sampai c. Di Indonesia yang terbanyak adalah genotipe 1b. (> 65%)
Kelainan faal hati yang tidak specific
Hal ini biasanya terjadi pada penderita penyakit hati yang telah mempengaruhi fungsi dari
organ lain seperti ginjal, paru jantung dsb. Dalam hal seperti ini, gambaran klinis serta
pemeriksaan penunjang seperti USG, CT scan dan ERCP (Endoscopy Retrograde Cholangio
Pancreatography) atau bahkan biopsi hati biasanya diperlukan untuk menegakan
diagnosisnya.
Hasil laboratorium faal hati yang normal pada penderita penyakit hati yang menahun.
Penderita kronik hepatitis B pada yang fase replikatif, inaktif/integratif sering menunjukan
hasil laboratorium yang normal. Juga pada penderita hepatitis C (dengan HCV-RNA+), juga
dapat menunjukan tes faal hati yang normal. Pada penderita sirosis hati yang kompensata
juga sering mempunyai tes faal hati yang normal. Pada sirosis hati yang sudah lanjut sering
kita mendapatkan kadar SGPT/SGOT normal, hal ini terjadi karena jumlah sel hati pada
sirosis berat sudah sangat kurang sehingga kerusakan sel hati relatif sedikit. Tapi
kadar bilirubin akan terlihat meninggi dan perbandinganalbumin/globulin akan terbalik. Bila
kita cermati lebih teliti maka kadar SGOT akan lebih tinggi SGPT.
1. Hepatitis B.
Pemeriksaan kualitatif selalu lebih sensitif dari pada pemeriksaan kuantitatif. Cara
pemeriksaan kuantitiatif hepatitis B dikerjakan dengan bermacam cara dan tiap cara
mempunyai sensitivitas tertentu dan juga pelaporannya dapat memakai satuan tertentu.
Lihat tabel 5. Hasil kuantitiatif hepatitis B diatas 105 copy/ml dianggap batas untuk
diobati.
2. Hepatitis C.
Juga pemeriksaan kualitatif lebih sensitif dari kuantitatif. Ada bermacam cara
pemeriksaan kuantiatif HCV dan mempunyai rentang sensitivitas yang berbeda. Hasil
kuantitatif dari 1 cara pemeriksaan kuantitatif HCV, tidak dapat disamakan hasilnya
dengan pemeriksaan HCV dengan cara yang lain. Tabel 6
Penyakit yang jarang tapi menunjukan gangguan faal hati
[Link]
SGOT (Serum Glutamic Pyruvate Transaminase) adalah enzim yang terdapat di dalam sel
hati. Fungsinya adalah mengkonversi senyawa aspartat dan alfaketoglutarat menjadi
oksaloasetat dan glutamat, dan sebaliknya. SGOT disebut juga dengan AST atau aspartate
aminotransferase.
SGPT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase) juga merupakan enzim yang terdapat di
dalam sel hati. Fungsinya untuk membantu pemindahan gugus amino dari alanin ke
alfaketoglutarat. Nama lain SGPT adalah ALT atau alanine aminotransferase.
Jika sel hati normal, maka SGOT dan SGPT tetap berada di dalam sel. Tidak ada atau hanya
sedikit yang keluar dari sel dan masuk ke pembuluh darah.
Lain halnya jika sel hati rusak dan dindingnya pecah, SGOT dan SGPT akan keluar sel dan
masuk ke aliran darah. Akibatnya, kadar SGOT dan SGPT yang harusnya tidak ada atau
rendah dalam darah, menjadi tinggi.
Keadaan-keadaan yang dapat menyebabkan kerusakan sel hati antara lain penyakit hepatitis
virus, perlemakan hati, keracunan obat, dan lain sebagainya. Keadaan ini, seringkali
menyebabkan kadar SGOT dan SGPT tinggi.
Selain di sel hati, SGOT dan SGPT juga ditemukan di otot jantung dan beberapa sel tubuh
lainnya. Kerusakan sel jantung akibat serangan jantung juga dapat meningkatkan kadar
keduanya.
Kadar normal SGOT adalah sekitar 3-45 u/L dan SGPT adalah 0-35 u/L. Perlu dicatat bahwa
nilai standar ini mungkin sedikit berbeda antar laboratorium, tergantung dari teknik
pemeriksaan yang digunakan.
Menjawab pernyataan di atas, maka ada kemungkinan telah terjadi kerusakan sel-sel hati.
Penyebabnya harus dicari lagi, apakah oleh virus hepatitis atau lainnya. Jika dokter curiga
karena virus hepatitis B, dokter biasanya akan meminta pemeriksaan lain untuk mendeteksi
virus tersebut, misalnya HBsAg atau PCR.
[Link]
pemeriksaan sgot/asat
04.52 |
SGOT singkatan dari Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase,sebuah enzim yang secara
normal berada di sel hati dan organ lain. SGOT dikeluarkan kedalam darah ketika hati rusak.
Level SGOT darah kemudian dihubungkan dengan kerusakan sel hati, seperti serangan virus
hepatitis. SGOT juga disebut aspartate aminotransferase (AST). Sedangkan SGPT adalah
singkatan dariSerum Glutamic Piruvic Transaminase, enzim ini banyak terdapat di
hati. Dalam uji SGOT dan SGPT, hati dapat dikatakan rusak bila jumlah enzim tersebut
dalam plasma lebih besar dari kadar normalnya.
Pada percobaan yang digunakan kontrol negatif adalah mencit yang diberikan paraffin cair
saja sebagai pembawa. Kontrol positif adalah mencit yang diberikan CCl4 dan kelompok uji
adalah mencit yang diberikan CCl4 dan Obat yaitu Silimarin. CCl4 digunakan sebagai kontrol
positif karena dapat merusak sel hati. Mekanismenya dalah CCl4 akan dimetabolisme oleh
enzim sitokrom P450 dalam hati menjadi CCl3* yang radikal. CCl3 radikal ini kemudian
berikatan pada sel hepatosit pada organ hati sehingga membran hati berubah
permeabilitasnya (meningkat). Berubahnya membran sel hati ini dapat menimbulkan dua
macam konsekuensi. Pertama zat –zat dari dalam sel keluar dengan bebas sehingga hati
mengalami pengkerutan dan terjadi nekrosis. Sebaliknya zat-zat yang berada diluar sel hati
juga dapat masuk dan menyebabkan hati menjadi besar dan terjadi apoptosis. Pada hewan uji,
selain diberikan CCl4 juga diberikan Silimarin, silimarin digunakan sebagai hepatoprotektor
karena dapat menekan peningkatan enzim-enzim transaminase dan pencegahan pengausan
glutation hati.
Maka seharusnya sesuai teori diatas, SGOT dan SGPT dari kontrol negatif paling kecil,
kontrol positif paling besar dan uji silimarin diantara keduanya. Data SGOT dapat
menyimpang karena ada kemungkinan mencit sedang mengalami gangguan juga pada organ
selain hati, karena sebenarnya SGOT terdapat di hampir seluruh tubuh, berbeda dengan
SGPT yang spesifik pada hati. Berikut Alat yang digunakan dalam uji SGOT-SGPT.
[Link]
SGOT atau juga dinamakan AST (Aspartat aminotransferase) merupakan enzim yang
dijumpai dalam otot jantung dan hati, sementara dalam konsentrasi sedang dijumpai pada otot
rangka, ginjal dan pankreas. Konsentrasi rendah dijumpai dalam darah, kecuali jika terjadi
cedera seluler, kemudian dalam jumlah banyak dilepaskan ke dalam sirkulasi. Pada infark
jantung, SGOT/AST akan meningkat setelah 10 jam dan mencapai puncaknya 24-48 jam
setelah terjadinya infark. SGOT/AST akan normal kembali setelah 4-6 hari jika tidak terjadi
infark tambahan. Kadar SGOT/AST biasanya dibandingkan dengan kadar enzim jantung
lainnya, seperti CK (creatin kinase), LDH (lactat dehydrogenase). Pada penyakit hati,
kadarnya akan meningkat 10 kali lebih dan akan tetap demikian dalam waktu yang lama.
SGOT/AST serum umumnya diperiksa secara fotometri atau spektrofotometri, semi otomatis
menggunakan fotometer atau spektrofotometer, atau secara otomatis menggunakan chemistry
analyzer. Nilai rujukan untuk SGOT/AST adalah :
Laki-laki : 0 - 50 U/L
Perempuan : 0 - 35 U/L
Masalah Klinis
Peningkatan tinggi ( > 5 kali nilai normal) : kerusakan hepatoseluler akut, infark miokard,
kolaps sirkulasi, pankreatitis akut, mononukleosis infeksiosa
Peningkatan sedang ( 3-5 kali nilai normal ) : obstruksi saluran empedu, aritmia jantung,
gagal jantung kongestif, tumor hati (metastasis atau primer), distrophia muscularis
Peningkatan ringan ( sampai 3 kali normal ) : perikarditis, sirosis, infark paru, delirium
tremeus, cerebrovascular accident (CVA)
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :
[Link]
Categories :
KIMIA KLINIK . LABORATORIUM
Penyakit Hepatitis A, B dan C
Penyakit hepatitis adalah sebuah penyakit yang menyerang hati. Kebanyakan orang indonesia
menggunakan ejaan bahasa penyakit kuning. Ini tidak mengherankan sebab gejala hepatitis
adalah timbulnya warna kuning pada kulit, kuku dan bagian putih bola mata.
Penyakit hepatitis terjadi akibat pada peradangan organ hati (lever). Penyebab penyakit yang
utama adalah virus hepatitis. Ada beranekaragam virus hepatitis yaitu A,B,C. Itulah kenapa
mungkin kamu sering mendengar hepatitis A, hepatitis B, hepatitis C.
Pada awal gejala penyakit hepatitis, mungkin si penderita tidak merasakan sesuaTU,paling
hanya gejala umum seperti muntah, mual, gemar tidur atau tidak nafsu makan plus tubuh
tidak berstamina. Walau begitu gejala hepatitis diatas juga dapat disertai dengan demam.
Sedangkan gejala penyakit hepatitis yang mudah dilihat dari fisik adalah urine berwarna
gelap, perut bagian atas membesar, penurunan berat badan, feses berwarna putih dan seperti
gejala hepatitis yang sudah disebutkan diatas : kuku berwarna kuning, kulit berwarna kuning,
dan putih mata menjadi kuning.
Pencegahan penyakit hepatitis adalah dengan cara pemberian imunisasi untuk hepatitis A dan
Hepatitis B sejak usia dua tahun sudah cukup untuk mencegah terserangnya penyakit
hepatitis. Kamu juga harus melakukan pola makan yang sehat, olahraga yang teratur
Jenis pemeriksaan laboratorium untuk diagnosa hepatitis :
1) SGOT
Prinsip : aminotransferasi ( AST ) mengkatalis transaminasi dari L aspartate dan a -
kataglutarate membentuk L – glutamate dan oxaloacetate. Oxaloacetate direduksi menjadi
malate oleh enzym malate oleh enzym malate dehydrogenase ( MDH ) dan niconamide
adenine dinucleotide ( NADH ) teroksidasi menjadi NAD. Banyaknya NADH yang
teroksidasi, berbanding langsung dengan aktivitas AST dan diukur secara fotometrik.
Reaksi :
AST
L – aspartate +a- kataloglutarate l – glutamate + oxaloacetate
pH 7,8
MDH
Oxaloacetate + NAD Malate + NAD
Cara kerja :
Nilai Normal : Kadar SGOT dalam serum normal adalah 10 – 45 U/L (370C)
2) SGPT
Prinsip : Alanine aminotransferase ( ALT ) mengkatalis transiminasi dari L – alanine dana -
kataglutarate membentuk l – glutamate dan pyruvate, pyruvate yang terbentuk di reduksi
menjadi laktat oleh enzym laktat dehidrogenase ( LDH ) dan nicotinamide adenine
dinucleotide ( NADH ) teroksidasi menjadi NAD. Banyaknya NADH yang teroksidasi hasil
penurunan serapan ( absobance ) berbanding langsung dengan aktivitas ALT dan diukur
secara fotometrik dengan panjang gelombang 340
Reaksi :
ALT
L - alanine +a- kataglutarate l – glutamate + pyruvate
pH 7,4
Kedua ensim tersebut bisa meningkat tanpa adanya penyakit yang mendasari, seperti latihan
atau olahraga yang berlebihan, sebelumnya dilakukan suntikan intramuskuler, dan pemberian
obat-obatan.
Kadar normal SGOT: 4-35 unit/L; SGPT: 4-36 unit/L (bervariasi tergantung laboratorium
yang memeriksa)