0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
36 tayangan31 halaman

Asuhan Keperawatan Hipoklorida dan Hiperklorida

Dokumen tersebut membahas tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan ketidakseimbangan elektrolit khususnya hipoklorida dan hiperklorida. Secara singkat, dibahas tentang konsep dasar, etiologi, manifestasi klinis, dan proses keperawatan untuk mendeteksi, mendiagnosis, dan menangani ketidakseimbangan elektrolit tersebut.

Diunggah oleh

Ikhwan Asshiddqy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
36 tayangan31 halaman

Asuhan Keperawatan Hipoklorida dan Hiperklorida

Dokumen tersebut membahas tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan ketidakseimbangan elektrolit khususnya hipoklorida dan hiperklorida. Secara singkat, dibahas tentang konsep dasar, etiologi, manifestasi klinis, dan proses keperawatan untuk mendeteksi, mendiagnosis, dan menangani ketidakseimbangan elektrolit tersebut.

Diunggah oleh

Ikhwan Asshiddqy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Untuk mempertahankan kesehatan dibutuhkan keseimbangan cairan,

elektrolit, asam dan basa di dalam tubuh. Keseimbangan ini dipertahankan oleh

asupan, distribusi, dan haluaran air dan elektrolit, serta pengaturan komponen-

komponen tersebut oleh sistem renal dan paru. Banyak faktor yang dapat

menyebabkan ketidakseimbangan, salah satunya karena penyakit. Oleh karena itu,

asuhan keperawatan untuk beragam pasien meliputi pengkajian dan perbaikan

keseimbangan serta mempertahankan keseimbangan cairan, elektolit, asam dan

basa.

B. Tujuan

1. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan Hipoklorida dan

Hiperklorida.

2. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan diare.

3. Untuk mengetahui prosedur pemberian transfusi faktor pembekuan

(kryopresipitasi).
BAB II

PEMBAHASAN

A. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Hipoklorida dan Hiperklorida

1. Konsep Dasar Hipokrorida/Hipokloremia

a. Pengertian

Hipoklorida/Hipokloremia terjadi jika kadar klorida serum turun

sampai dibawah 100 mEq/L. Muntah atau drainase nasogastrik ataupun

drainase fistula yang berlebihan dan lama dapat menyebabkan

hipoklorida/ hipokloremia. Bayi baru lahir yang menderita diare dapat

mengalami hipokloremia dengan cepat. Beberapa obat- obatan diuretic

juga menyebabkan peningkatan ekskresi klorida. Ketika kadar klorida

serum turun, tubuh beradaptasi dengan meningkatkan reabsorpsi ion

bikarbonat sehingga mempengaruhi keseimbangan asam basa. (Perry &

Potter. 2005)

b. Etiologi

Etiologi terjadinya hipokloremia adalah berkurangnya asupan dan

peningkatan pengeluaran dari sumber NG atau ginjal (muntah

berkepanjangan atau aspirasi NG; kehilangan melalui ginjal sekunder

akibat terapi diuretik)


c. Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis terjadinya hipokloremia alkalosis metabolik,

hipokalemia dan gagal tubuh. Biasanya juga disertai dengan baal pada

jari-jari dan pusing.

d. Patofisiologis

Hipokloremia sering dijumpai pada alkalosis metabolik. Klorida

berperan penting dalam menimbulkan dan mempertahankan alkalosis

metabolik. Kekurangan klorida sebagai penyebab alkalosis metabolik

terjadi jika kehilangan klorida melebihi kehilangan Natrium. (Behrman,

Kliegman. 1999)

e. Proses Keperawatan

1) Pengkajian

a) Sirkulasi

Tanda : Takikardi, tidak teratur/ disritmia, sianosis

b) Eliminasi

Gejala : Diare

c) Makanan/ Cairan

Gejala : muntah, mual, diare, Masukan garam tinggi


d) Neuronsensori

Gejala : Kesemutan jari tangan dan jari kaki, parestesia

sirkumoral, pusing.

Tanda : Hipertonisitas otot, tetani, fremor, kejang, kacau

mental, peka rangsang, gelisah, bermusuhan, apatis, koma,

melepaskan pakaian.

2) Diagnosa

a) Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan faktor-faktor

listrik (resiko disritmia) sekunder terhadap alkalosis metabolik

akibat tindakan pengisian lambung atau diuretik-boros kalium.

b) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan

kelebihan dari sistem gastrointestinal.

3) Intervensi

a) Pantau frekuensi, irama, dan kedalaman pernafasan. Hipoventilasi

adalah mekanisme kompensasi terhadap pengubahan asam

karbonat dan menunjukkan risiko pasti terhadap individu,

misalnya hipoksemia dan kegagalan bernafas.

b) Kaji tingkat kesadaran dan status neuromuscular, misalnya

kekuatan, tonus, gerakan, perhatikan adanya tanda Chvostek dan

Trousseau SSP mungkin sangat peka rangsang (peningkatan PH


cairan SSP mengakibatkan kesemutan, kebas, pusing, gelisah, atau

apatis dan kacau mental). Hipokalsemia dapat memperberat tetani

(meskipun jarang terjadi kekambuhan)

c) Pantau frekuensi/irama jantung. Ektopik atrium/ventrikel dan

takidistritmia dapat terjadi

d) Catat jumlah dan sumber haluaran. Pantau masukan dan timbang

berat badan setiap hari. Membantu dalam mengidentifikasi sumber

kehilangan ion, misalnya kalum dan HCl yang hilang karena

muntah dan pengisapan gastric.

e) Batasi masukan oral dan kurang rangsang lingkungan yang

berbahaya, gunakan penghisapan intermitten/rendah selama

pengisapan NG, irigasi selang gastric dengan larutan isotonic

daripada air.

f) Membatasi kehilangan melalui lambung terhadap asam

hidroklorik, kalium dan kalsium.

g) Bantu identifikasi/pengobatan kelainan dasar. Rujuk pada daftar

faktor predisposisi/pemberat

h) Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi, misalnya

GDA/pH, elektrolit serum (khususnya kalium), dan BUN

i) Mengevaluasi kebutuhan/keefektifan terapi dan memantau fungsi

ginjal.
4) Evaluasi

Evaluasi gas-gas darah menunjukkan pH yang lebih tinggi dari

7,45 dan konsentrasi bikarbonat serum lebih besar dari 26 mEq/L.

tekanan parsial karbon dioksida akan eningkat karena paru-paru

berupaya untuk mengkompensasi kelebihan bikarbonat dengan

menahan karbon dioksida. Hipoventilasi ini lebih menonjol pada

pasien-pasien semi-sadar, tidak sadar, atau lemah dibanding dengan

pasien yang sadar. Pasien semi sadar dapat mengalami hipoksemia

jelas sebagai akibat hipoventilasi. Hipokalemia dapat menyertai

alkalosis metabolik.

Kadar klorida urin dapat membantu dalam mengidentifikasi

penyebab alkalosis metabolic jika dirawat pasien tidak member

informasi yang adekuat. Alkalosis metabolik adalah suatu situasi

dimana konsentrasi klorida urin mungkin perkiraan yang lebih akurat

dibanding dengan konsentrasi natrium urin. Konsentrasi klorida urin

membantu untuk membedakan antara muntah-muntah atau

mengkonsumsi diuretic atau salah satu penyebab kelebihan

mineralokortikoid. Hipovolemia dan hipokloremia pada pasien

muntah-muntah atau kristik fibrosis, pasien yang diberi makan

kembali, atau mereka yang menggunakan diuretic menghasilkan

konsentrasi klorida urin kurang dari 25 mEq/L. tanda-tanda

hipovolemia tidak ada dan konsentrasi klorida urin melebihi 40mEq/L


pada pasien dengan kelebihan mineralokortikoid atau kebanjiran

alkali; pasien ini biasanya mempunyai volume yang lebih banyak.

Konsentrasi klorida urin harus kurang dari 15 mEq/L bila terdapat

penurunan kadar klorida dan hipovolemia.

2. Konsep Dasar Hiperklorida/ Hiperkloremia

a. Pengertian

Hiperklorida/Hiperkloremia terjadi jika kadar klorida serum

meningkat sampai diatas 106 mEq/ L, menyebabkan penurunan nilai karbonat

serum. Hipokloremia dan Hiperkloremia jarang terjadi sebagai proses

penyakit yang tunggal, tetapi umumnya berhubungan dengan

ketidakseimbangan asam- basa. Tidak ada satu rangkaian gejala yang

berhubungan dengan perubahan ini. (Perry & Potter. 2005)

b. Etiologi

Etiologi terjadinya hiperkloremia adalah pemecahan bikarbonat

sebagai akibat dari diare atau kehilangan melalui ginjal sekunder akibat

asidosis tubular ginjal; asupan klorida meningkat (mis., pemberian NaCl

berlebihan) (Behrman.K, 1999)


c. Patofisiologis

Selama proses koreksi Pada saat asidosis Pemberian resusitasi


alkalosis oleh ginjal. tubulus distal ginjal cairan akut

Klorida dikonservasi di Reabsorpsi fraksional Sejumlah besar cairan


ginjal melebihi Na dan K klorida di tubulus ginjal parenteral yang
proksimal mengandung klorida

Kadar klorida Kadar Klorida Contohnya Normal


Saline dan Ringer
Laktat

Kadar klorida

Hiperkloremia

d. Proses Keperawatan

1) Pengkajian

Hiperklorida/Hiperkloremia sering dijumpai pada asidosis

metabolic. Menurut Muttaqin (2007), pengkajian pada pasien dengan

asidosis metabolik terdiri atas:


a) Riwayat klinis, pasien yang mengalami asidosis metabolic

mempunyai riwayat sesuai dengan enyakit yang mendasari atau

menyebabkan ketidakseimbangan penurunan kadar asam.

b) Pengakjian fisik, tanda dan gejala asidosis metabolic cenderung

tidak jelas pasien dapat asimtomatik, kecuali jika HCO3- serum

turun sampai di bawah 15 mEq/ L.

2) Diagnosa

Menurut Muttaqin (2007), dari sekian banyak masalah

keperawatan yang mungkin ada pada pasien dengan asidosis

metabolik, terdapat dua masalah keperawatan utama yang dibahas

disini, meliputi hal-hal berikut ini:

a) Aktual/risiko gangguan pola napas yang berhubungan dengan

penurunan pH pada cairan serebrospinal, penekanan pacu dan

pernapasan, serta pernapasan kusmaul.

b) Aktual/risiko penurunan perfusi serebral yang berhubungan

dengan penurunan pH pada cairan serebrospinal sekunder dari

asidosis metabolik.
3) Intervensi

Menurut Muttaqin (2007), intervensi yang dapat diberikan

adalah:

a) Aktual/ resiko gangguan pola napas yang berhubungan dengan

penurunan pH pada cairan serebropinal, penekanan pacu dan

pernapasan, serta pernapasan kuusmaul.

Tujuan : Dalam waktu 1x24 jam tidak terjadi perubahan

pola napas.

Kriteria Hasil : Pasien tidak sesak napas, RR dalam batas

normal 16-20 kali/menit.

Intervensi Rasional

1. Kaji factor penyebab asidosis 1. Mengidentifikasi untuk mengatasi


metabolik. penyebab dasar dari asidosis
2. Pantau ketat TTV metabolik.
3. Istirahat pasien dengan posisi fowler 2. Perubahan TTV akan memberikan
4. Ukur intake dan output dampak pada risiko asidosis yang
5. Manajemen lingkungan bertambah berat dan berindikasi pada
intervensi untuk secepatnya
melakukan koreksi asidosis
3. Posisi fowler akan meningkatkan
eksansi paru optimal
4. Penurunan curah jantung
mengakibatkan gangguan perfusi
ginjal, retensi natrium/air, dan
penurunan pengeluaran urin
5. Lingkungan tenang akan
menurunkan stimulus nyeri eksternal
dan pembatasan pengunjung akan
membantu meningkatkan kondisi O2
ruangan yang akan berkurang

b) Aktual/resiko penurunan perfusi serebral yang berhubungan

dengan penurunan pH pada cairan serebropinal sekunder dari

asidosis metabolik.

Tujuan : Dalam waktu 2x24 jam perfusi jaringan otak

dapat tercapai secara optimal.

Kriteria Hasil : Pasien tidak gelisah, tidak ada keluhan nyeri

kepala, mual, kejang, GCS 4,5,6. Pupil isokor,

reflex cahaya (+). Tanda-tandan vital normal

(nadi 60-100 kali/menit, suhu 36-37oC.

Pernapasan 16-20 kali/menit), serta pasien

tidak mengalami deficit neurologis seperti

lemas, agitasi, iritabilitas, hiperefleksi, dan

spastisitas dapat terjadi dan akhirnya timbul

koma, kejang.
Intervensi Rasional

1. Monitor tanda-tanda status 1. Dapat mengurangi kerusakan otak lebih


neurologis dengan GCS lanjut
2. Monitor tanda-tanda vita seprti 2. Pada keadaan normal, autoregulasi
TD, nadi, suhu, respirasi, dan mempertahankan keadaan tekanan darah
hati-hati pada hipertensi sistolik sistemik berubah secara fluktuasi.
3. Bantu pasien untuk membatasi Kegagalan autoreguler akan menyebabkan
muntah batuk. Anjurkan pasien kerusakan vascular serebral yang dapat
untuk mengeluarkan napas dimanifestasikan dengan peningkatan
apabila bergerak atau berbalik sistolik dan diikuti oleh penurunan tekanan
di tempat tidur diastolic. Sedangkan peningkatan suhu
4. Anjurkan pasien untuk dapat menggambarkan erjalanan infeksi
menghindari batuk dan 3. Aktivitas ini dapat meningkatkan tekanan
mengejan berlebihan intracranial dan intraandomen,
5. Ciptakan lingkungan yang Mengeluarkan napas sewaktu bergerak
tenang dan batasi pengunjung atau mengubah posisi dapat melindungi
6. Pantau kalium serum diri dari efek valsava.
4. Batuk dan mengejak dapat meningkatkan
tekanan intracranial dan potensial terjadi
perdarahan ulang
5. Rangsangan aktivitas yang meningkat
dapat meningkatkan kenaikan TIK.
Istirahat total dan ketenangan mungkin
diperlukan untuk pencegahan terhadap
perdarahan dalam kasus stroke
hemoragik/perdarahan lainnya.
6. Hiperkalemi terjadi dengan asidosis,
hipokalemi dapat terjadi ada kebalikan
asidosis dan perpindahan kalium kembali
ke sel.

4) Evaluasi

Evaluasi pada asidosis metabolik lebih berfokus kepada sistem

respirasi, TTV, keadaan fisik dan klinis.

B. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Diare

1. Pengertian Diare

Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cairan

atau setengah cairan, dengan demikian kandungan air pada tinja lebih banyak

dari keadaan normal yakni 100-200 ml sekali defekasi (Hendarwanto, 1999).

Diare ialah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan

lebih dari 3 kali pada anak dengan konsistensi feses encer, dapat berwarna

hijau atau dapat bercampur lendir dan darah (Ngastiyah, 1997).

2. Etiologi

a. Faktor infeksi

1) Infeksi interal. Infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab

utama diare, meliputi infeksi bakteri (Vibrio, E. coli, Salmonella,

Shigella, Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dsb), infeksi virus


(Enterovirus, Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus, dll), infeksi parasit

(E. hystolytica, [Link], T. hominis) dan jamur (C. albicans).

2) Infeksi parenteral, merupakan infeksi di luar sistem pencernaan yang

dapat menimbulkan diare seperti : otitis media akut, tonsilitis,

bronkopneumonia, ensefalitis dan sebagainya.

b. Faktor Malabsorbsi

Malabsorbsi karbohidrat : disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan

sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa).

Intoleransi laktosa merupakan penyebab diare yang terpenting pada bayi

dan anak. Di samping itu dapat pula terjadi malabsorbsi lemak dan

protein.

c. Faktor Makanan

Diare dapat terjadi karena mengkonsumsi makanan basi, beracun dan

alergi terhadap jenis makanan tertentu.

d. Faktor Psikologis

Diare dapat terjadi karena faktor psikologis (rasa takut dan cemas).
3. Patofisiologi
4. Manifestasi Klinis

a. Diare

b. Muntah

c. Demam

d. Nyeri abdomen

e. Membran mukosa mulut dan bibir kering

f. Fontanel cekung

g. Kehilangan berat badan

h. Tidak nafsu makan

i. Badan terasa lemah.

5. Komplikasi Klinis

a. Dehidrasi
b. Renjatan hipovolemik
c. Kejang
d. Bakterimia
e. Mal nutrisi
f. Hipoglikemia
g. Intoleransi sekunder akibat kerusakan mukosa usus.
6. Penatalaksanaan Medis

a. Pemberian cairan.

b. Diuretik : pemberian makanan dan minuman khusus pada klien dengan

tujuan penyembuhan dan menjaga kesehatan adapun hal yang perlu

diperhatikan :

1) Memberikan asi

2) Memberikan bahan makanan yang mengandung kalori, protein,

vitamin, mineral dan makanan yang bersih.

c. Obat-obatan

1) Obat anti sekresi

2) Obat anti spasmolitik

3) Obat antibiotik.

7. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan laboratorium

1) Pemeriksaan tinja.

2) Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah astrup,

bila memungkinkan dengan menentukan PH keseimbangan analisa gas

darah atau astrup, bila memungkinkan.

3) Pemeriksaan kadar ureum dan creatinin untuk mengetahui fungsi

ginjal.
b. Pemeriksaan elektrolit intubasi duodenum untuk mengetahui jasad renik

atau parasit secara kuantitatif, terutama dilakukan pada klien diare kronik.

8. Proses Keperawatan

a. Pengkajian

1) Identitas pasien

2) Riwayat keperawatan :

a) Awalan serangan : Awalnya anak cengeng, gelisah, suhu tubuh

meningkat, anoreksia kemudian timbul diare.

b) Keluhan utama : Feses semakin cair, muntah, bila kehilangan

banyak air dan elektrolit terjadi gejala dehidrasi, berat badan

menurun. Pada bayi ubun-ubun besar cekung, tonus dan turgor

kulit berkurang, selaput lendir mulut dan bibir kering, frekwensi

BAB lebih dari 4 kali dengan konsistensi encer.

3) Riwayat kesehatan masa lalu :

Riwayat penyakit yang diderita, riwayat pemberian imunisasi.

4) Riwayat psikososial keluarga :

Hospitalisasi akan menjadi stressor bagi anak itu sendiri maupun bagi

keluarga, kecemasan meningkat jika orang tua tidak mengetahui

prosedur dan pengobatan anak, setelah menyadari penyakit anaknya,

mereka akan bereaksi dengan marah dan merasa bersalah.


5) Kebutuhan dasar :

a) Pola eliminasi : akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4

kali sehari, BAK sedikit atau jarang.

b) Pola nutrisi : diawali dengan mual, muntah, anoreksia, menyebabkan

penurunan berat badan pasien.

c) Pola tidur dan istirahat akan terganggu karena adanya distensi

abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman.

d) Pola hygiene : kebiasaan mandi setiap harinya.

e) Aktivitas : akan terganggu karena kondisi tubuh yang lemah dan

adanya nyeri akibat distensi abdomen.

b. Pemerikasaan fisik

1) Pemeriksaan psikologis : keadaan umum tampak lemah, kesadaran

composmentis sampai koma, suhu tubuh tinggi, nadi cepat dan lemah,

pernapasan agak cepat.

2) Pemeriksaan sistematik :

a) Inspeksi : mata cekung, ubun-ubun besar, selaput lendir, mulut dan

bibir kering, berat badan menurun, anus kemerahan.

b) Perkusi : adanya distensi abdomen.

c) Palpasi : Turgor kulit kurang elastis.

d) Auskultasi : terdengarnya bising usus.


c. Diagnosa Keperawatan

1) Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh

berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.

2) Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan mual dan muntah.

3) Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi, frekwensi BAB

yang berlebihan.

4) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.

5) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang

penyakit, prognosis dan pengobatan.

6) Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua, prosedur

yang menakutkan.

d. Intervensi

Diagnosa 1 : Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan

tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.

Tujuan : Devisit cairan dan elektrolit teratasi

Kriteria hasil : Tanda-tanda dehidrasi tidak ada, mukosa mulut dan bibir

lembab, balan cairan seimbang.

Intervensi : Observasi tanda-tanda vital. Observasi tanda-tanda dehidrasi.

Ukur input dan output cairan (balan cairan). Berikan dan anjurkan keluarga

untuk memberikan minum yang banyak kurang lebih 2000 – 2500 cc per
hari. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi cairan, pemeriksaan

lab elektrolit. Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian cairan rendah

sodium.

Diagnosa 2 : Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

berhubuingan dengan mual dan muntah.

Tujuan: Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi teratasi.

Kriteria hasil: Intake nutrisi klien meningkat, diet habis 1 porsi yang

disediakan, mual, muntah tidak ada.

Intervensi: Kaji pola nutrisi klien dan perubahan yang terjadi. Timbang

berat badan klien. Kaji faktor penyebab gangguan pemenuhan nutrisi.

Lakukan pemeriksaan fisik abdomen (palpasi, perkusi, dan auskultasi).

Berikan diet dalam kondisi hangat dan porsi kecil tapi sering. Kolaborasi

dengan tim gizi dalam penentuan diet klien.

Diagnosa 3 : Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi,

frekwensi BAB yang berlebihan.

Tujuan : Gangguan integritas kulit teratasi.

Kriteria hasil : Integritas kulit kembali normal, iritasi tidak ada, tanda-

tanda infeksi tidak ada.

Intervensi : Ganti popok anak jika basah. Bersihkan bokong secara

perlahan menggunakan sabun non alkohol. Beri zalp seperti zinc oxsida

bila terjadi iritasi pada kulit. Observasi bokong dan perineum dari infeksi.
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi antifungi sesuai

indikasi.

Diagnosa 4 : Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi

abdomen.

Tujuan : Nyeri dapat teratasi

Kriteria hasil : Berkurang/ hilang, ekspresi wajah tenang.

Intervensi : Observasi tanda-tanda vital. Kaji tingkat rasa nyeri. Atur

posisi yang nyaman bagi klien. Beri kompres hangat pada daerah abdomen.

Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi analgetik sesuai indikasi.

Diagnosa 5 : Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya

informasi tentang penyakit, prognosis dan pengobatan.

Tujuan : Pengetahuan keluarga meningkat

Kriteria hasil : Keluarga klien mengerti dengan proses penyakit klien,

ekspresi wajah tenang, keluarga tidak banyak bertanya lagi

tentang proses penyakit klien.

Intervensi : Kaji tingkat pendidikan keluarga klien. Kaji tingkat

pengetahuan keluarga tentang proses penyakit klien. Jelaskan tentang

proses penyakit klien dengan melalui pendidikan kesehatan. Berikan

kesempatan pada keluarga bila ada yang belum dimengertinya. Libatkan

keluarga dalam pemberian tindakan pada klien.


Diagnosa 6 : Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua,

prosedur yang menakutkan.

Tujuan : Klien akan memperlihatkan penurunan tingkat kecemasan

Intervensi : Kaji tingkat kecemasan klien. Kaji faktor pencetus cemas.

Buat jadwal kontak dengan klien. Kaji hal yang disukai klien. Berikan

mainan sesuai kesukaan klien. Libatkan keluarga dalam setiap tindakan.

Anjurkan pada keluarga untuk selalu mendampingi klien.

e. Evaluasi

1) Volume cairan dan elektrolit kembali normal sesuai kebutuhan.

2) Kebutuhan nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhan tubuh.

3) Integritas kulit kembali normal.

4) Rasa nyaman terpenuhi.

5) Pengetahuan kelurga meningkat.

6) Cemas pada klien teratasi.

C. Prosedur Pemberian Transfusi Faktor Pembekuan (Kryopresipitasi)

1. Pengertian

Kriopresipitat, juga disebut “Faktor Antihemophilic Cryoprecipitated”,

“Cryoprecipitated AHF”, dan paling sering hanya “cryo’, adalah produk darah

beku yang disiapkan dari plasma.


Hal ini sering ditransfusikan sebagai kolam satuan 05:56 bukan sebagai

produk tunggal. Banyak menggunakan produk telah digantikan oleh

konsentrat faktor, tetapi masih rutin ditebar oleh bank darah rumah sakit

banyak. Seperti plasma beku segar, pengujian kompatibilitas tidak benar-

benar diperlukan, tapi cryo diberikan sebagai yang kompatibel ABO bila

memungkinkan. Kompatibilitas terbalik untuk produk plasma: tipe AB adalah

donor plasma yang universal

2. Komposisi

Setiap unit 15 mL biasanya mengandung 100 IU faktor VIII, dan 250

mg fibrinogen. Hal ini juga mengandung faktor von Willebrand (vWF) dan

faktor XIII. Standar AS mengharuskan produsen untuk menguji setidaknya

empat unit setiap bulan, dan produk harus memiliki rata-rata 150 mg atau

lebih dari fibrinogen dan 80 IU faktor VIII. [1] produk individu sebenarnya

mungkin memiliki kurang dari jumlah tersebut selama tetap berada di atas

rata-rata minimum tersebut. Nilai-nilai khas untuk unit secara substansial

lebih tinggi, dan selain dari bayi sangat jarang untuk transfusi hanya satu unit.

3. Indikasi

Indikasi untuk memberikan kriopresipitasi meliputi:

a. Hemofilia : digunakan untuk keadaan darurat kembali ketika konsentrat

faktor tidak tersedia.


b. Penyakit von Willebrands, saat ini tidak dianjurkan kecuali cadangan

terakhir.

c. DDAVP adalah garis pertama, diikuti oleh faktor konsentrat.

d. Hypofibrinogenaemia (tingkat fibrinogen rendah), seperti yang dapat

terjadi dengan transfusi masif.

e. Perdarahan dari antikoagulan yang berlebihan : FFP berisi sebagian besar

faktor-faktor koagulasi dan merupakan pilihan yang jauh lebih baik bila

antikoagulan harus dibalik dengan cepat.

4. Persiapan Alat dan bahan

a. Komponen darah yang digunakan sudah disetujui administrasi rumah sakit

dan diatur dengan filter

b. Kateter besar (18 atau 19 gram)

c. Sarung tangan sekali pakai.

d. Kapas alkohol

e. Plester

f. Manset tekanan darah

g. Stetoskop

h. Thermometer

i. Format persetujuan pemberian transfuse darah.

j. Bila tersedia dapat digunakan alat pemompa darah elektronik untuk

transfusi darah
k. Cairan NaCl 0,9%

5. Prosedur tindakan

a. Pastikan akses IV dan mempertahankan patensi klien dengan normal saline

atau larutan yang kompatibel/cocok dengan darah.

b. Pastikan bahwa informed concern telah diberikan

c. Pastikan bahwa komponen sudah diresepkan dan ditandatangani oleh

dokter pada klien seperti diagram keseimbangan cairan, tanggal, waktu dan

tingkat infus.

d. Pesan komponen darah yang dibutuhkan dari bank darah dan atur

pengumpulannya.

e. Periksa dengan seksama bahwa unit / komponen darah yang dikirim adalah

unit yang benar untuk lingkungan anda dan pasien.

f. Periksa tanggal kadaluwarsa bahwa rincian donor pada kantung darah

sesuai dengan label, warna dan penampilan komponen tersebut.

g. Tanyakan identitas klien baik secara lisan, jika memungkinkan tulis pada

lembar catatan klinis.

h. Periksa rincian wristband klien yang tergantung label pada tas.

i. Periksa kompatibilitas ABO dan rhesus klien dengan komponen / unit

donor :

1) Kelompok (Rh) ABO dan rhesus harus kompatibel dengan klien.


2) Ketika memeriksa kriopresipitasi pada klien, kelompok golongan darah

ABO dari komponen yang dipilih untuk transfusi harus sesuai dengan

penerima, jika komponen ABO tidak tersedia, unit dapat diberikan

tanpa memperhatikan kelompok golongan ABO, tidak ada memberikan

instruksi yang bertentangan pada label.

3) Ketika Rh (D) positif diberikan ke Rh (D) negatif reproduksi

perempuan yang lebih muda, pertimbangan harus diberikan untuk

profilaksis dengan Ant-D.

4) Kedua orang yang mengelola komponen dan orang tersebut yang

memeriksa komponen tersebut harus menandatangani label yang

tertempel pada kantung darah serta diberi tanggal dan waktunya, ini

harus dilakukan sampai transfusi ini selesai.

5) Transfusi produk harus dimulai dalam 30 menit dari bank darah. Sel

darah merah harus diselesaikan dalam waktu 4 jam; plasma beku segar

dan kriopresipitasi harus dicairkan dan ditransfusilan dalam waktu 4

jam, sedangkan pada trombosit harus diselesaikan dalam waktu 60

menit.

6) Pada awal pengamatan: suhu, nadi, tekanan darah, dan laju respirasi

dicatat.

7) Pasang kantung darah dan sesuaikan dengan kondisi klien.

8) Pompa volumetrik Alaris Gp dapat digunakan untuk mengatur aliran

dari unit yang ditransfusikan.


9) Tetaplah bersama klien selam 20-30 menit pertama, ini dilakukan untuk

mencegah kemungkinan buruk yang mungkin terjadi pada klien.

10) Pastikan bahwa pasien memiliki akses untuk memanggil perawat dan

diinstruksikan untuk memberitahukan staf setiap terjadi efek samping

pada klien.

11) Ulangi semua pengamatan awal setiap 15 dan 30 menit setelah

dimulainya transfusi pada setiap unit/ komponen.

12) Setelah 30 menit pertama rekam denyut nadi dan tingkat pernapasan

klien per jam, suhu dan B / P jam.

13) Amati urin pada grafik keseimbangan cairan pasien yang terindikasi

secara klinis.

14) Setelah menyelesaikan pada masing-masing komponen: lampirkan cek

yang menggantung label untuk label lembaran bantalan produk darah

yang tepat dam dokumen waktu penyelesaian pada kotak yang

disediakan dan mencatat jumlah yang diberikan pada grafik

keseimbangan cairan.

15) Dokumen transfusi dalam catatan klien.

16) Kembalikan kantong darah kosong pada bank darah.

17) Buang set transfusi setelah selesai digunakan.

18) Terus amati klien selama 30 menit setelah transfusi.

j. Dokumentasikan dalam catatan klinis pasien.


6. Komplikasi

a. Reaksi transfusi cepat  reaksi hemolitik kuat, reaksi demam dan alergi,

hipervolemia, edema paru non kardiogenik, hemolisis non imun, serta

sepsis bacterial.

b. Reaksi transfusi lambatreaksi hemolitik lambat, penyakit infeksi

(hepatitis B, C, HIV, malria, toksoplasmosis).


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Fungsi klorida biasanya bersatu dengan natrium yaitu mempertahankan

keseimbangan tekanan osmotik dalam darah. Hipokloremia merupakan suatu

keadaan kekurangan kadar klorida dalam darah, sedangkan hiperkloremia

merupakan kelebihan kadar klorida dalam darah. Kadar Klorida yang normal

dalam darah orang dewasa adalah 95-108 mEq/L.

Diare adalah defikasi dalam bentuk encer yang disebabkan oleh infeksi

saluran pencernaan, malabsorbsi zat-zat makanan, dan lain-lain, dan dapat

menyebabkan dehidrasi, kehilangan berat badan, hipokalemia, hipoglikemia, dan

malnutrisi. Dalam menjalankan asuhan keperawatan untuk pasien diare, perawat

melakukan asuhan keperawatan dalam lima tahap, yaitu pengkajian, diagnosa,

intervensi, implementasi, dan evaluasi.

Kriopresipitat, juga disebut “Faktor Antihemophilic Cryoprecipitated”,

“Cryoprecipitated AHF”, dan paling sering hanya “cryo”, adalah produk darah

beku yang disiapkan dari plasma. Cara pemberian kriopresipitat adalah dengan

menyuntikkan secara IV langsung, tidak melalui tetesan infus. Komponen ini

tidak tahan dalam suhu kamar, jadi diberikan sesegera mungkin setelah mencair.
B. Saran

1. Perawat harus mampu memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan

hipoklorida dan hiperklorida.

2. Perawat harus mampu memberikan asuhan keperawatan pada pasien yang

menderita diare.

3. Perawat harus mampu mengetahui prosedur pemberian transfusi faktor

pembekuan (kryopresipitasi).

Anda mungkin juga menyukai