BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Untuk mempertahankan kesehatan dibutuhkan keseimbangan cairan,
elektrolit, asam dan basa di dalam tubuh. Keseimbangan ini dipertahankan oleh
asupan, distribusi, dan haluaran air dan elektrolit, serta pengaturan komponen-
komponen tersebut oleh sistem renal dan paru. Banyak faktor yang dapat
menyebabkan ketidakseimbangan, salah satunya karena penyakit. Oleh karena itu,
asuhan keperawatan untuk beragam pasien meliputi pengkajian dan perbaikan
keseimbangan serta mempertahankan keseimbangan cairan, elektolit, asam dan
basa.
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan Hipoklorida dan
Hiperklorida.
2. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan diare.
3. Untuk mengetahui prosedur pemberian transfusi faktor pembekuan
(kryopresipitasi).
BAB II
PEMBAHASAN
A. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Hipoklorida dan Hiperklorida
1. Konsep Dasar Hipokrorida/Hipokloremia
a. Pengertian
Hipoklorida/Hipokloremia terjadi jika kadar klorida serum turun
sampai dibawah 100 mEq/L. Muntah atau drainase nasogastrik ataupun
drainase fistula yang berlebihan dan lama dapat menyebabkan
hipoklorida/ hipokloremia. Bayi baru lahir yang menderita diare dapat
mengalami hipokloremia dengan cepat. Beberapa obat- obatan diuretic
juga menyebabkan peningkatan ekskresi klorida. Ketika kadar klorida
serum turun, tubuh beradaptasi dengan meningkatkan reabsorpsi ion
bikarbonat sehingga mempengaruhi keseimbangan asam basa. (Perry &
Potter. 2005)
b. Etiologi
Etiologi terjadinya hipokloremia adalah berkurangnya asupan dan
peningkatan pengeluaran dari sumber NG atau ginjal (muntah
berkepanjangan atau aspirasi NG; kehilangan melalui ginjal sekunder
akibat terapi diuretik)
c. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis terjadinya hipokloremia alkalosis metabolik,
hipokalemia dan gagal tubuh. Biasanya juga disertai dengan baal pada
jari-jari dan pusing.
d. Patofisiologis
Hipokloremia sering dijumpai pada alkalosis metabolik. Klorida
berperan penting dalam menimbulkan dan mempertahankan alkalosis
metabolik. Kekurangan klorida sebagai penyebab alkalosis metabolik
terjadi jika kehilangan klorida melebihi kehilangan Natrium. (Behrman,
Kliegman. 1999)
e. Proses Keperawatan
1) Pengkajian
a) Sirkulasi
Tanda : Takikardi, tidak teratur/ disritmia, sianosis
b) Eliminasi
Gejala : Diare
c) Makanan/ Cairan
Gejala : muntah, mual, diare, Masukan garam tinggi
d) Neuronsensori
Gejala : Kesemutan jari tangan dan jari kaki, parestesia
sirkumoral, pusing.
Tanda : Hipertonisitas otot, tetani, fremor, kejang, kacau
mental, peka rangsang, gelisah, bermusuhan, apatis, koma,
melepaskan pakaian.
2) Diagnosa
a) Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan faktor-faktor
listrik (resiko disritmia) sekunder terhadap alkalosis metabolik
akibat tindakan pengisian lambung atau diuretik-boros kalium.
b) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan
kelebihan dari sistem gastrointestinal.
3) Intervensi
a) Pantau frekuensi, irama, dan kedalaman pernafasan. Hipoventilasi
adalah mekanisme kompensasi terhadap pengubahan asam
karbonat dan menunjukkan risiko pasti terhadap individu,
misalnya hipoksemia dan kegagalan bernafas.
b) Kaji tingkat kesadaran dan status neuromuscular, misalnya
kekuatan, tonus, gerakan, perhatikan adanya tanda Chvostek dan
Trousseau SSP mungkin sangat peka rangsang (peningkatan PH
cairan SSP mengakibatkan kesemutan, kebas, pusing, gelisah, atau
apatis dan kacau mental). Hipokalsemia dapat memperberat tetani
(meskipun jarang terjadi kekambuhan)
c) Pantau frekuensi/irama jantung. Ektopik atrium/ventrikel dan
takidistritmia dapat terjadi
d) Catat jumlah dan sumber haluaran. Pantau masukan dan timbang
berat badan setiap hari. Membantu dalam mengidentifikasi sumber
kehilangan ion, misalnya kalum dan HCl yang hilang karena
muntah dan pengisapan gastric.
e) Batasi masukan oral dan kurang rangsang lingkungan yang
berbahaya, gunakan penghisapan intermitten/rendah selama
pengisapan NG, irigasi selang gastric dengan larutan isotonic
daripada air.
f) Membatasi kehilangan melalui lambung terhadap asam
hidroklorik, kalium dan kalsium.
g) Bantu identifikasi/pengobatan kelainan dasar. Rujuk pada daftar
faktor predisposisi/pemberat
h) Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi, misalnya
GDA/pH, elektrolit serum (khususnya kalium), dan BUN
i) Mengevaluasi kebutuhan/keefektifan terapi dan memantau fungsi
ginjal.
4) Evaluasi
Evaluasi gas-gas darah menunjukkan pH yang lebih tinggi dari
7,45 dan konsentrasi bikarbonat serum lebih besar dari 26 mEq/L.
tekanan parsial karbon dioksida akan eningkat karena paru-paru
berupaya untuk mengkompensasi kelebihan bikarbonat dengan
menahan karbon dioksida. Hipoventilasi ini lebih menonjol pada
pasien-pasien semi-sadar, tidak sadar, atau lemah dibanding dengan
pasien yang sadar. Pasien semi sadar dapat mengalami hipoksemia
jelas sebagai akibat hipoventilasi. Hipokalemia dapat menyertai
alkalosis metabolik.
Kadar klorida urin dapat membantu dalam mengidentifikasi
penyebab alkalosis metabolic jika dirawat pasien tidak member
informasi yang adekuat. Alkalosis metabolik adalah suatu situasi
dimana konsentrasi klorida urin mungkin perkiraan yang lebih akurat
dibanding dengan konsentrasi natrium urin. Konsentrasi klorida urin
membantu untuk membedakan antara muntah-muntah atau
mengkonsumsi diuretic atau salah satu penyebab kelebihan
mineralokortikoid. Hipovolemia dan hipokloremia pada pasien
muntah-muntah atau kristik fibrosis, pasien yang diberi makan
kembali, atau mereka yang menggunakan diuretic menghasilkan
konsentrasi klorida urin kurang dari 25 mEq/L. tanda-tanda
hipovolemia tidak ada dan konsentrasi klorida urin melebihi 40mEq/L
pada pasien dengan kelebihan mineralokortikoid atau kebanjiran
alkali; pasien ini biasanya mempunyai volume yang lebih banyak.
Konsentrasi klorida urin harus kurang dari 15 mEq/L bila terdapat
penurunan kadar klorida dan hipovolemia.
2. Konsep Dasar Hiperklorida/ Hiperkloremia
a. Pengertian
Hiperklorida/Hiperkloremia terjadi jika kadar klorida serum
meningkat sampai diatas 106 mEq/ L, menyebabkan penurunan nilai karbonat
serum. Hipokloremia dan Hiperkloremia jarang terjadi sebagai proses
penyakit yang tunggal, tetapi umumnya berhubungan dengan
ketidakseimbangan asam- basa. Tidak ada satu rangkaian gejala yang
berhubungan dengan perubahan ini. (Perry & Potter. 2005)
b. Etiologi
Etiologi terjadinya hiperkloremia adalah pemecahan bikarbonat
sebagai akibat dari diare atau kehilangan melalui ginjal sekunder akibat
asidosis tubular ginjal; asupan klorida meningkat (mis., pemberian NaCl
berlebihan) (Behrman.K, 1999)
c. Patofisiologis
Selama proses koreksi Pada saat asidosis Pemberian resusitasi
alkalosis oleh ginjal. tubulus distal ginjal cairan akut
Klorida dikonservasi di Reabsorpsi fraksional Sejumlah besar cairan
ginjal melebihi Na dan K klorida di tubulus ginjal parenteral yang
proksimal mengandung klorida
Kadar klorida Kadar Klorida Contohnya Normal
Saline dan Ringer
Laktat
Kadar klorida
Hiperkloremia
d. Proses Keperawatan
1) Pengkajian
Hiperklorida/Hiperkloremia sering dijumpai pada asidosis
metabolic. Menurut Muttaqin (2007), pengkajian pada pasien dengan
asidosis metabolik terdiri atas:
a) Riwayat klinis, pasien yang mengalami asidosis metabolic
mempunyai riwayat sesuai dengan enyakit yang mendasari atau
menyebabkan ketidakseimbangan penurunan kadar asam.
b) Pengakjian fisik, tanda dan gejala asidosis metabolic cenderung
tidak jelas pasien dapat asimtomatik, kecuali jika HCO3- serum
turun sampai di bawah 15 mEq/ L.
2) Diagnosa
Menurut Muttaqin (2007), dari sekian banyak masalah
keperawatan yang mungkin ada pada pasien dengan asidosis
metabolik, terdapat dua masalah keperawatan utama yang dibahas
disini, meliputi hal-hal berikut ini:
a) Aktual/risiko gangguan pola napas yang berhubungan dengan
penurunan pH pada cairan serebrospinal, penekanan pacu dan
pernapasan, serta pernapasan kusmaul.
b) Aktual/risiko penurunan perfusi serebral yang berhubungan
dengan penurunan pH pada cairan serebrospinal sekunder dari
asidosis metabolik.
3) Intervensi
Menurut Muttaqin (2007), intervensi yang dapat diberikan
adalah:
a) Aktual/ resiko gangguan pola napas yang berhubungan dengan
penurunan pH pada cairan serebropinal, penekanan pacu dan
pernapasan, serta pernapasan kuusmaul.
Tujuan : Dalam waktu 1x24 jam tidak terjadi perubahan
pola napas.
Kriteria Hasil : Pasien tidak sesak napas, RR dalam batas
normal 16-20 kali/menit.
Intervensi Rasional
1. Kaji factor penyebab asidosis 1. Mengidentifikasi untuk mengatasi
metabolik. penyebab dasar dari asidosis
2. Pantau ketat TTV metabolik.
3. Istirahat pasien dengan posisi fowler 2. Perubahan TTV akan memberikan
4. Ukur intake dan output dampak pada risiko asidosis yang
5. Manajemen lingkungan bertambah berat dan berindikasi pada
intervensi untuk secepatnya
melakukan koreksi asidosis
3. Posisi fowler akan meningkatkan
eksansi paru optimal
4. Penurunan curah jantung
mengakibatkan gangguan perfusi
ginjal, retensi natrium/air, dan
penurunan pengeluaran urin
5. Lingkungan tenang akan
menurunkan stimulus nyeri eksternal
dan pembatasan pengunjung akan
membantu meningkatkan kondisi O2
ruangan yang akan berkurang
b) Aktual/resiko penurunan perfusi serebral yang berhubungan
dengan penurunan pH pada cairan serebropinal sekunder dari
asidosis metabolik.
Tujuan : Dalam waktu 2x24 jam perfusi jaringan otak
dapat tercapai secara optimal.
Kriteria Hasil : Pasien tidak gelisah, tidak ada keluhan nyeri
kepala, mual, kejang, GCS 4,5,6. Pupil isokor,
reflex cahaya (+). Tanda-tandan vital normal
(nadi 60-100 kali/menit, suhu 36-37oC.
Pernapasan 16-20 kali/menit), serta pasien
tidak mengalami deficit neurologis seperti
lemas, agitasi, iritabilitas, hiperefleksi, dan
spastisitas dapat terjadi dan akhirnya timbul
koma, kejang.
Intervensi Rasional
1. Monitor tanda-tanda status 1. Dapat mengurangi kerusakan otak lebih
neurologis dengan GCS lanjut
2. Monitor tanda-tanda vita seprti 2. Pada keadaan normal, autoregulasi
TD, nadi, suhu, respirasi, dan mempertahankan keadaan tekanan darah
hati-hati pada hipertensi sistolik sistemik berubah secara fluktuasi.
3. Bantu pasien untuk membatasi Kegagalan autoreguler akan menyebabkan
muntah batuk. Anjurkan pasien kerusakan vascular serebral yang dapat
untuk mengeluarkan napas dimanifestasikan dengan peningkatan
apabila bergerak atau berbalik sistolik dan diikuti oleh penurunan tekanan
di tempat tidur diastolic. Sedangkan peningkatan suhu
4. Anjurkan pasien untuk dapat menggambarkan erjalanan infeksi
menghindari batuk dan 3. Aktivitas ini dapat meningkatkan tekanan
mengejan berlebihan intracranial dan intraandomen,
5. Ciptakan lingkungan yang Mengeluarkan napas sewaktu bergerak
tenang dan batasi pengunjung atau mengubah posisi dapat melindungi
6. Pantau kalium serum diri dari efek valsava.
4. Batuk dan mengejak dapat meningkatkan
tekanan intracranial dan potensial terjadi
perdarahan ulang
5. Rangsangan aktivitas yang meningkat
dapat meningkatkan kenaikan TIK.
Istirahat total dan ketenangan mungkin
diperlukan untuk pencegahan terhadap
perdarahan dalam kasus stroke
hemoragik/perdarahan lainnya.
6. Hiperkalemi terjadi dengan asidosis,
hipokalemi dapat terjadi ada kebalikan
asidosis dan perpindahan kalium kembali
ke sel.
4) Evaluasi
Evaluasi pada asidosis metabolik lebih berfokus kepada sistem
respirasi, TTV, keadaan fisik dan klinis.
B. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Diare
1. Pengertian Diare
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cairan
atau setengah cairan, dengan demikian kandungan air pada tinja lebih banyak
dari keadaan normal yakni 100-200 ml sekali defekasi (Hendarwanto, 1999).
Diare ialah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan
lebih dari 3 kali pada anak dengan konsistensi feses encer, dapat berwarna
hijau atau dapat bercampur lendir dan darah (Ngastiyah, 1997).
2. Etiologi
a. Faktor infeksi
1) Infeksi interal. Infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab
utama diare, meliputi infeksi bakteri (Vibrio, E. coli, Salmonella,
Shigella, Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dsb), infeksi virus
(Enterovirus, Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus, dll), infeksi parasit
(E. hystolytica, [Link], T. hominis) dan jamur (C. albicans).
2) Infeksi parenteral, merupakan infeksi di luar sistem pencernaan yang
dapat menimbulkan diare seperti : otitis media akut, tonsilitis,
bronkopneumonia, ensefalitis dan sebagainya.
b. Faktor Malabsorbsi
Malabsorbsi karbohidrat : disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan
sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa).
Intoleransi laktosa merupakan penyebab diare yang terpenting pada bayi
dan anak. Di samping itu dapat pula terjadi malabsorbsi lemak dan
protein.
c. Faktor Makanan
Diare dapat terjadi karena mengkonsumsi makanan basi, beracun dan
alergi terhadap jenis makanan tertentu.
d. Faktor Psikologis
Diare dapat terjadi karena faktor psikologis (rasa takut dan cemas).
3. Patofisiologi
4. Manifestasi Klinis
a. Diare
b. Muntah
c. Demam
d. Nyeri abdomen
e. Membran mukosa mulut dan bibir kering
f. Fontanel cekung
g. Kehilangan berat badan
h. Tidak nafsu makan
i. Badan terasa lemah.
5. Komplikasi Klinis
a. Dehidrasi
b. Renjatan hipovolemik
c. Kejang
d. Bakterimia
e. Mal nutrisi
f. Hipoglikemia
g. Intoleransi sekunder akibat kerusakan mukosa usus.
6. Penatalaksanaan Medis
a. Pemberian cairan.
b. Diuretik : pemberian makanan dan minuman khusus pada klien dengan
tujuan penyembuhan dan menjaga kesehatan adapun hal yang perlu
diperhatikan :
1) Memberikan asi
2) Memberikan bahan makanan yang mengandung kalori, protein,
vitamin, mineral dan makanan yang bersih.
c. Obat-obatan
1) Obat anti sekresi
2) Obat anti spasmolitik
3) Obat antibiotik.
7. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
1) Pemeriksaan tinja.
2) Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah astrup,
bila memungkinkan dengan menentukan PH keseimbangan analisa gas
darah atau astrup, bila memungkinkan.
3) Pemeriksaan kadar ureum dan creatinin untuk mengetahui fungsi
ginjal.
b. Pemeriksaan elektrolit intubasi duodenum untuk mengetahui jasad renik
atau parasit secara kuantitatif, terutama dilakukan pada klien diare kronik.
8. Proses Keperawatan
a. Pengkajian
1) Identitas pasien
2) Riwayat keperawatan :
a) Awalan serangan : Awalnya anak cengeng, gelisah, suhu tubuh
meningkat, anoreksia kemudian timbul diare.
b) Keluhan utama : Feses semakin cair, muntah, bila kehilangan
banyak air dan elektrolit terjadi gejala dehidrasi, berat badan
menurun. Pada bayi ubun-ubun besar cekung, tonus dan turgor
kulit berkurang, selaput lendir mulut dan bibir kering, frekwensi
BAB lebih dari 4 kali dengan konsistensi encer.
3) Riwayat kesehatan masa lalu :
Riwayat penyakit yang diderita, riwayat pemberian imunisasi.
4) Riwayat psikososial keluarga :
Hospitalisasi akan menjadi stressor bagi anak itu sendiri maupun bagi
keluarga, kecemasan meningkat jika orang tua tidak mengetahui
prosedur dan pengobatan anak, setelah menyadari penyakit anaknya,
mereka akan bereaksi dengan marah dan merasa bersalah.
5) Kebutuhan dasar :
a) Pola eliminasi : akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4
kali sehari, BAK sedikit atau jarang.
b) Pola nutrisi : diawali dengan mual, muntah, anoreksia, menyebabkan
penurunan berat badan pasien.
c) Pola tidur dan istirahat akan terganggu karena adanya distensi
abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman.
d) Pola hygiene : kebiasaan mandi setiap harinya.
e) Aktivitas : akan terganggu karena kondisi tubuh yang lemah dan
adanya nyeri akibat distensi abdomen.
b. Pemerikasaan fisik
1) Pemeriksaan psikologis : keadaan umum tampak lemah, kesadaran
composmentis sampai koma, suhu tubuh tinggi, nadi cepat dan lemah,
pernapasan agak cepat.
2) Pemeriksaan sistematik :
a) Inspeksi : mata cekung, ubun-ubun besar, selaput lendir, mulut dan
bibir kering, berat badan menurun, anus kemerahan.
b) Perkusi : adanya distensi abdomen.
c) Palpasi : Turgor kulit kurang elastis.
d) Auskultasi : terdengarnya bising usus.
c. Diagnosa Keperawatan
1) Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.
2) Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan mual dan muntah.
3) Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi, frekwensi BAB
yang berlebihan.
4) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.
5) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang
penyakit, prognosis dan pengobatan.
6) Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua, prosedur
yang menakutkan.
d. Intervensi
Diagnosa 1 : Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.
Tujuan : Devisit cairan dan elektrolit teratasi
Kriteria hasil : Tanda-tanda dehidrasi tidak ada, mukosa mulut dan bibir
lembab, balan cairan seimbang.
Intervensi : Observasi tanda-tanda vital. Observasi tanda-tanda dehidrasi.
Ukur input dan output cairan (balan cairan). Berikan dan anjurkan keluarga
untuk memberikan minum yang banyak kurang lebih 2000 – 2500 cc per
hari. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi cairan, pemeriksaan
lab elektrolit. Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian cairan rendah
sodium.
Diagnosa 2 : Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubuingan dengan mual dan muntah.
Tujuan: Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi teratasi.
Kriteria hasil: Intake nutrisi klien meningkat, diet habis 1 porsi yang
disediakan, mual, muntah tidak ada.
Intervensi: Kaji pola nutrisi klien dan perubahan yang terjadi. Timbang
berat badan klien. Kaji faktor penyebab gangguan pemenuhan nutrisi.
Lakukan pemeriksaan fisik abdomen (palpasi, perkusi, dan auskultasi).
Berikan diet dalam kondisi hangat dan porsi kecil tapi sering. Kolaborasi
dengan tim gizi dalam penentuan diet klien.
Diagnosa 3 : Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi,
frekwensi BAB yang berlebihan.
Tujuan : Gangguan integritas kulit teratasi.
Kriteria hasil : Integritas kulit kembali normal, iritasi tidak ada, tanda-
tanda infeksi tidak ada.
Intervensi : Ganti popok anak jika basah. Bersihkan bokong secara
perlahan menggunakan sabun non alkohol. Beri zalp seperti zinc oxsida
bila terjadi iritasi pada kulit. Observasi bokong dan perineum dari infeksi.
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi antifungi sesuai
indikasi.
Diagnosa 4 : Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi
abdomen.
Tujuan : Nyeri dapat teratasi
Kriteria hasil : Berkurang/ hilang, ekspresi wajah tenang.
Intervensi : Observasi tanda-tanda vital. Kaji tingkat rasa nyeri. Atur
posisi yang nyaman bagi klien. Beri kompres hangat pada daerah abdomen.
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi analgetik sesuai indikasi.
Diagnosa 5 : Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya
informasi tentang penyakit, prognosis dan pengobatan.
Tujuan : Pengetahuan keluarga meningkat
Kriteria hasil : Keluarga klien mengerti dengan proses penyakit klien,
ekspresi wajah tenang, keluarga tidak banyak bertanya lagi
tentang proses penyakit klien.
Intervensi : Kaji tingkat pendidikan keluarga klien. Kaji tingkat
pengetahuan keluarga tentang proses penyakit klien. Jelaskan tentang
proses penyakit klien dengan melalui pendidikan kesehatan. Berikan
kesempatan pada keluarga bila ada yang belum dimengertinya. Libatkan
keluarga dalam pemberian tindakan pada klien.
Diagnosa 6 : Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua,
prosedur yang menakutkan.
Tujuan : Klien akan memperlihatkan penurunan tingkat kecemasan
Intervensi : Kaji tingkat kecemasan klien. Kaji faktor pencetus cemas.
Buat jadwal kontak dengan klien. Kaji hal yang disukai klien. Berikan
mainan sesuai kesukaan klien. Libatkan keluarga dalam setiap tindakan.
Anjurkan pada keluarga untuk selalu mendampingi klien.
e. Evaluasi
1) Volume cairan dan elektrolit kembali normal sesuai kebutuhan.
2) Kebutuhan nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhan tubuh.
3) Integritas kulit kembali normal.
4) Rasa nyaman terpenuhi.
5) Pengetahuan kelurga meningkat.
6) Cemas pada klien teratasi.
C. Prosedur Pemberian Transfusi Faktor Pembekuan (Kryopresipitasi)
1. Pengertian
Kriopresipitat, juga disebut “Faktor Antihemophilic Cryoprecipitated”,
“Cryoprecipitated AHF”, dan paling sering hanya “cryo’, adalah produk darah
beku yang disiapkan dari plasma.
Hal ini sering ditransfusikan sebagai kolam satuan 05:56 bukan sebagai
produk tunggal. Banyak menggunakan produk telah digantikan oleh
konsentrat faktor, tetapi masih rutin ditebar oleh bank darah rumah sakit
banyak. Seperti plasma beku segar, pengujian kompatibilitas tidak benar-
benar diperlukan, tapi cryo diberikan sebagai yang kompatibel ABO bila
memungkinkan. Kompatibilitas terbalik untuk produk plasma: tipe AB adalah
donor plasma yang universal
2. Komposisi
Setiap unit 15 mL biasanya mengandung 100 IU faktor VIII, dan 250
mg fibrinogen. Hal ini juga mengandung faktor von Willebrand (vWF) dan
faktor XIII. Standar AS mengharuskan produsen untuk menguji setidaknya
empat unit setiap bulan, dan produk harus memiliki rata-rata 150 mg atau
lebih dari fibrinogen dan 80 IU faktor VIII. [1] produk individu sebenarnya
mungkin memiliki kurang dari jumlah tersebut selama tetap berada di atas
rata-rata minimum tersebut. Nilai-nilai khas untuk unit secara substansial
lebih tinggi, dan selain dari bayi sangat jarang untuk transfusi hanya satu unit.
3. Indikasi
Indikasi untuk memberikan kriopresipitasi meliputi:
a. Hemofilia : digunakan untuk keadaan darurat kembali ketika konsentrat
faktor tidak tersedia.
b. Penyakit von Willebrands, saat ini tidak dianjurkan kecuali cadangan
terakhir.
c. DDAVP adalah garis pertama, diikuti oleh faktor konsentrat.
d. Hypofibrinogenaemia (tingkat fibrinogen rendah), seperti yang dapat
terjadi dengan transfusi masif.
e. Perdarahan dari antikoagulan yang berlebihan : FFP berisi sebagian besar
faktor-faktor koagulasi dan merupakan pilihan yang jauh lebih baik bila
antikoagulan harus dibalik dengan cepat.
4. Persiapan Alat dan bahan
a. Komponen darah yang digunakan sudah disetujui administrasi rumah sakit
dan diatur dengan filter
b. Kateter besar (18 atau 19 gram)
c. Sarung tangan sekali pakai.
d. Kapas alkohol
e. Plester
f. Manset tekanan darah
g. Stetoskop
h. Thermometer
i. Format persetujuan pemberian transfuse darah.
j. Bila tersedia dapat digunakan alat pemompa darah elektronik untuk
transfusi darah
k. Cairan NaCl 0,9%
5. Prosedur tindakan
a. Pastikan akses IV dan mempertahankan patensi klien dengan normal saline
atau larutan yang kompatibel/cocok dengan darah.
b. Pastikan bahwa informed concern telah diberikan
c. Pastikan bahwa komponen sudah diresepkan dan ditandatangani oleh
dokter pada klien seperti diagram keseimbangan cairan, tanggal, waktu dan
tingkat infus.
d. Pesan komponen darah yang dibutuhkan dari bank darah dan atur
pengumpulannya.
e. Periksa dengan seksama bahwa unit / komponen darah yang dikirim adalah
unit yang benar untuk lingkungan anda dan pasien.
f. Periksa tanggal kadaluwarsa bahwa rincian donor pada kantung darah
sesuai dengan label, warna dan penampilan komponen tersebut.
g. Tanyakan identitas klien baik secara lisan, jika memungkinkan tulis pada
lembar catatan klinis.
h. Periksa rincian wristband klien yang tergantung label pada tas.
i. Periksa kompatibilitas ABO dan rhesus klien dengan komponen / unit
donor :
1) Kelompok (Rh) ABO dan rhesus harus kompatibel dengan klien.
2) Ketika memeriksa kriopresipitasi pada klien, kelompok golongan darah
ABO dari komponen yang dipilih untuk transfusi harus sesuai dengan
penerima, jika komponen ABO tidak tersedia, unit dapat diberikan
tanpa memperhatikan kelompok golongan ABO, tidak ada memberikan
instruksi yang bertentangan pada label.
3) Ketika Rh (D) positif diberikan ke Rh (D) negatif reproduksi
perempuan yang lebih muda, pertimbangan harus diberikan untuk
profilaksis dengan Ant-D.
4) Kedua orang yang mengelola komponen dan orang tersebut yang
memeriksa komponen tersebut harus menandatangani label yang
tertempel pada kantung darah serta diberi tanggal dan waktunya, ini
harus dilakukan sampai transfusi ini selesai.
5) Transfusi produk harus dimulai dalam 30 menit dari bank darah. Sel
darah merah harus diselesaikan dalam waktu 4 jam; plasma beku segar
dan kriopresipitasi harus dicairkan dan ditransfusilan dalam waktu 4
jam, sedangkan pada trombosit harus diselesaikan dalam waktu 60
menit.
6) Pada awal pengamatan: suhu, nadi, tekanan darah, dan laju respirasi
dicatat.
7) Pasang kantung darah dan sesuaikan dengan kondisi klien.
8) Pompa volumetrik Alaris Gp dapat digunakan untuk mengatur aliran
dari unit yang ditransfusikan.
9) Tetaplah bersama klien selam 20-30 menit pertama, ini dilakukan untuk
mencegah kemungkinan buruk yang mungkin terjadi pada klien.
10) Pastikan bahwa pasien memiliki akses untuk memanggil perawat dan
diinstruksikan untuk memberitahukan staf setiap terjadi efek samping
pada klien.
11) Ulangi semua pengamatan awal setiap 15 dan 30 menit setelah
dimulainya transfusi pada setiap unit/ komponen.
12) Setelah 30 menit pertama rekam denyut nadi dan tingkat pernapasan
klien per jam, suhu dan B / P jam.
13) Amati urin pada grafik keseimbangan cairan pasien yang terindikasi
secara klinis.
14) Setelah menyelesaikan pada masing-masing komponen: lampirkan cek
yang menggantung label untuk label lembaran bantalan produk darah
yang tepat dam dokumen waktu penyelesaian pada kotak yang
disediakan dan mencatat jumlah yang diberikan pada grafik
keseimbangan cairan.
15) Dokumen transfusi dalam catatan klien.
16) Kembalikan kantong darah kosong pada bank darah.
17) Buang set transfusi setelah selesai digunakan.
18) Terus amati klien selama 30 menit setelah transfusi.
j. Dokumentasikan dalam catatan klinis pasien.
6. Komplikasi
a. Reaksi transfusi cepat reaksi hemolitik kuat, reaksi demam dan alergi,
hipervolemia, edema paru non kardiogenik, hemolisis non imun, serta
sepsis bacterial.
b. Reaksi transfusi lambatreaksi hemolitik lambat, penyakit infeksi
(hepatitis B, C, HIV, malria, toksoplasmosis).
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Fungsi klorida biasanya bersatu dengan natrium yaitu mempertahankan
keseimbangan tekanan osmotik dalam darah. Hipokloremia merupakan suatu
keadaan kekurangan kadar klorida dalam darah, sedangkan hiperkloremia
merupakan kelebihan kadar klorida dalam darah. Kadar Klorida yang normal
dalam darah orang dewasa adalah 95-108 mEq/L.
Diare adalah defikasi dalam bentuk encer yang disebabkan oleh infeksi
saluran pencernaan, malabsorbsi zat-zat makanan, dan lain-lain, dan dapat
menyebabkan dehidrasi, kehilangan berat badan, hipokalemia, hipoglikemia, dan
malnutrisi. Dalam menjalankan asuhan keperawatan untuk pasien diare, perawat
melakukan asuhan keperawatan dalam lima tahap, yaitu pengkajian, diagnosa,
intervensi, implementasi, dan evaluasi.
Kriopresipitat, juga disebut “Faktor Antihemophilic Cryoprecipitated”,
“Cryoprecipitated AHF”, dan paling sering hanya “cryo”, adalah produk darah
beku yang disiapkan dari plasma. Cara pemberian kriopresipitat adalah dengan
menyuntikkan secara IV langsung, tidak melalui tetesan infus. Komponen ini
tidak tahan dalam suhu kamar, jadi diberikan sesegera mungkin setelah mencair.
B. Saran
1. Perawat harus mampu memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan
hipoklorida dan hiperklorida.
2. Perawat harus mampu memberikan asuhan keperawatan pada pasien yang
menderita diare.
3. Perawat harus mampu mengetahui prosedur pemberian transfusi faktor
pembekuan (kryopresipitasi).