DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................... 3
2.1. Definisi .................................................................................................................... 3
2.2. Sinonim ................................................................................................................... 3
2.3. Etiologi .................................................................................................................... 3
2.4. Klasifikasi ............................................................................................................... 4
2.5. Patogenesis .............................................................................................................. 5
2.6. Gejala Klinis ........................................................................................................... 6
2.7. Pemeriksaan Penunjang ...................................................................................... 14
2.8. Diagnosia Banding ............................................................................................... 15
2.9. Tatalaksana .......................................................................................................... 17
BAB III KESIMPULAN................................................................................................. 20
Daftar Pustaka ................................................................................................................ 21
1
BAB I
PENDAHULUAN
Dermatofitosis harus dibedakan dengan dermatomikosis. Dermatofitosis
adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya stratum
korneum pada epidermis, rambut, dan kuku, yang disebabkan golongan jamur
dermatofita, sedangkan dermatomikosis mempunyai arti umum, yaitu semua
penyakit jamur yang menyerang kulit.1
Dermatofitosis disebut juga tinea, ringworm, kurap, herpes sirsinata adalah
salah satu kelompok dermatomikosis superfisialis yang disebabkan oleh jamur dan
akibat invasi oleh suatu organisme pada jaringan hidup. Terdapat tiga langkah
utama terjadinya infeksi dermatofit, yaitu perlekatan dermatofit pada keratin,
penetrasi melalui dan di antara sel, serta terbentuknya respon host. Patogenesis
dermatofitosis tergantung pada faktor lingkungan, antara lain iklim yang panas,
hygiene perseorangan, sumber penularan, penggunaan obat steroid, antibiotik dan
sitostatika, imunogenitas, kemampuan invasi organisme, lokasi infeksi serta respon
imun dari pasien.1
2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Definisi
Dermatofitosis adalah penyakit yang disebabkan oleh kolonisasi jamur
Dermatofita yang menyerang jaringan yang mengandung keratin seperti stratum
korneum kulit, rambut, dan kuku.2
2.2. Sinonim
Tinea, ringworm, kurap, teigne, herpes sirsinata.2
2.3. Etiologi
Dermatifita ialah golongan jamur yang menyebabkan Dermatifitosis.
Dermatofita termasuk kelas Fungi imperfecti (jamur yang belum diketahui dengan
pasti cara pembiakan secara generatif), yang terbagi dalam 3 genus, yaitu
Microsporum, Trichophyton, dan Epidermophyton. Selain sifat keratofilik, masih
banyakn sifat yang sama di antara dermatofita, misalnya sifat faali, taksonomis,
antigenik, kebutuhan zat makanan untuk pertumbuhannya, dan penyebab penyakit.2
Hingga kini dikenal sekitar 41 spesies Dermatofita, masing-masing 2
spesies Epidermophyton, 17 spesies Microsporum, dan 21 spesies Trichophyton.
Pada tahun-tahun terakhir ditemukan bentuk sempurna (perfect stage), yang
terbentuk oleh dua koloni yang berlainan “jenis kelaminnya”. Adanya bentuk
sempurna ini menyebabkan Dermatofita dapat dimasukkan ke dalam famili
Gymnoascaceae. Dikenal genus Nannizzia dan Arthroderma yang masing-masing
dihubungkan dengan genus Microsporum dan Trichophyton.2
3
Gambar 1. Microsporum dan Trichophyton
Gambar 2. Epidermophyton
2.4. Klasifikasi
Klasifikasi yang paling sering dipakai oleh para spesialis kulit adalah
berdasarkan lokasi:2
a. Tinea kapitis, Dermatofitosis pada kulit dan rambut kepala
b. Tinea barbe, Dermatofitosis pada dagu dan jenggot
c. Tinea kruris, Dermatofitosis pada daerah genitokrural, sekitar anus,
bokong, dan kadang-kadang sampai perut bagian bawah
d. Tinea pedis et manum, Dermatofitosis pada kaki dan tangan
e. Tinea unguium, Dermatofitosis pada kuku kaki dan tangan
f. Tinea korporis, Dermatofitosis pada badan
Selain 6 bentuk tinea di atas, masih dikenal istilah yang mempunyai arti
khusus, yaitu :2
4
a. Tinea imbrikata : Dermatofitosis dengan susunan skuama yang kosentris
dan disebabkan oleh Trichophyton concentricum.
b. Tinea favosa atau favus : Dermatofitosis yang terutama disebabkan oleh
Trihcophyton schoenleini: secara klinis antara lain berbentuk skutula
(bintik-bintik berwarna merah kuning ditutupi oleh krusta yang
berbentuk cawan) dan berbau seperti tikus (mousy odor).
c. Tinea fasialis, Tinea aksilaris, yang juga menunjukkan daerah kelainan.
d. Tinea sirsinata, arkuata yang merupakan penamaan deskriptif
morfologis.
Pada akhir-akhir ini dikenal nama Tinea inkognito, yang berarti
Dermatofitosis dengan bentuk klinis yang tidak khas oleh karena telah diobati
dengan steroid topikal kuat.2
2.5. Patogenesis
Tejadinya penularan Dermatofitosis adalah melalui 3 cara, yaitu :3
a. Antropofilik, transmisi dari manusia ke manusia. Ditularkan baik secara
langsung maupun tidak langsung melalui lantai kolam renang dan udara
sekitar rumah sakit/klinik, dengan atau tanpa reaksi keradangan (silent
“carrier”).
b. Zoofilik, transmisi dari hewan ke manusia. Ditularkan melalui kontak
langsung maupun tidak langsung melalui bulu binatang yang terinfeksi dan
melekat di pakaian, atau sebagai kontaminan pada rumah/tempat tidur
hewan, tempat makanan dan minuman hewan. Sumber penularan utama
adalah anjing, kucing, sapi, kuda, dan mencit.
c. Geofilik, transmisi dari tanah ke manusia. Secara sporadis menginfeksi
manusia dan menimbulkan reaksi radang.
Untuk dapat menimbulkan suatu penyakit, jamur harus dapat melawan
pertahanan tubuh non spesifik dan spesifik. Jamur harus mempunyai kemampuan
melekat pada kulit dan mukosa pejamu, dan mampu bertahan dalam lingkungan
5
pejamu, dan menyesuaikan diri dengan suhu dan keadaan biokimia penjamu untuk
dapat berkembang biak dan menimbulkan reaksi jaringan atau radang.3
Terjadinya infeksi Dermatofita melalui 3 langkah utama, yaitu : perlekatan
pada keratinosit, penetrasi melewati dan diantara sel, serta pembentukan respon
penjamu.3
2.6. Gejala Klinis
Tinea glabrosa atau dermatofitosis pada kulit tidak berambut mempunyai
morfologi yang khas. Penderita merasa gatal dan kelainan berbatas tegas, terdiri
dari berbagai macam efloresensi (polimorfik). Bagian tepi lesi lebih aktif (lebih
banyak tanda-tanda peradangan) daripada bagian tengah sehingga kepustakaan
lama menyebutnya sebagai ecsema marginatum.
Berdasarkan lokalisasi, dermatofitosis terdiri dari :
a. Tinea kapitis (ringworm of the scalp)
Kelainan pada kulit dan rambut kepala yang disebabkan oleh spesies
Dermatofita. Kelainan dapat ditandai dengan lesi bersisik, kemerahan, alopesia dan
kadang-kadang terjadi gambaran klinis yang lebih berat, yang disebut kerion.
Berdasarkan bentuk yang khas Tinea Kapitis dibagi dalam 3 bentuk :
1. Gray pacth ringworm
6
Penyakit ini dimulai dengan papul merah kecil yang melebar ke sekitarnya
dan membentuk bercak yang berwarna pucat dan bersisik. Warna rambut jadi abu-
abu dan tidak mengkilat lagi, serta mudah patah dan terlepas dari akarnya, sehingga
menimbulkan alopesia setempat. Dengan pemeriksaan sinar wood tampak
flourisensi kekuning-kuningan pada rambut yang sakit melalui batas “Grey pacth”
tersebut. Jenis ini biasanya disebabkan spesies Microsporum. Tinea kapitis yang
disebabkan oleh Microsporum audouini biasanya disertai peradangan ringan.
2. Kerion
Bentuk ini adalah yang serius, karena disertai dengan radang yang hebat
yang bersifat lokal, sehingga pada kulit kepala tampak bisul-bisul kecil yang
berkelompok dan kadang-kadang ditutupi sisik-sisik tebal. Rambut di daerah ini
putus-putus dan mudah dicabut. Bila kerion ini pecah akan meninggalkan suatu
daerah yang botak permanen oleh karena terjadi sikatrik. Bentuk ini terutama
disebabkan oleh M. canis, M. gypseum , T. tonsurans dan T. Violaceum.
7
3. Black dot ringworm
Terutama disebabkan oleh T. tonsurans dan T. violaceum. Infeksi jamur
terjadi di dalam rambut (endotrik) atau luar rambut (ektotrik) yang menyebabkan
rambut putus tepat pada permukaan kulit kepala. Ujung rambut tampak sebagai
titik-titik hitam diatas permukaan ulit, yang berwarna kelabu sehingga tarnpak
sebagai gambaran “black dot”. Biasanya bentuk ini terdapat pada orang dewasa dan
lebih sering pada wanita. Rambut sekitar lesi juga jadi tidak bercahaya lagi
disebabkan kemungkinan sudah terkena infeksi penyebab utama adalah T.
tonsurans dan T. violaceum1,4,7,8.
b. Tinea korporis (Tinea sirsinata, Tinea glabrosa, Scherende Flechte, kurap)
Penyakit ini banyak diderita oleh orang-orang yang kurang menjaga
kebersihan dan banyak bekerja ditempat panas, yang banyak berkeringat serta
8
kelembaban kulit yang lebih tinggi. Predileksi biasanya terdapat dimuka, anggota
gerak atas, dada, punggung dan anggota gerak bawah. Bentuk yang klasik dimulai
dengan lesi yang bulat atau lonjong dengan tepi yang aktif. Dengan perkembangan
ke arah luar maka bercak-bercak bisa melebar dan akhirnya dapat memberi
gambaran yang polisiklis, arsiner, atau sinsiner. Pada bagian tepi tampak aktif
dengan tanda-tanda eritema, adanya papul-papul dan vesikel, sedangkan pada
bagian tengah lesi relatif lebih tenang. Bila tinea korporis ini menahun tanda-tanda
aktif jadi menghilang selanjutnya hanya meningggalkan daerah-daerah yang
hiperpigmentasi saja. Kelainan-kelainan ini dapat terjadi bersama-sama dengan
Tinea kruris. Penyebab utamanya adalah : [Link], [Link],
[Link], [Link], [Link], dan M. audouinii.
c. Tinea imbrikata
Penyakit ini adalah bentuk yang khas dari Tinea korporis yang disebabkan
oleh Trichophyton concentricum.
d. Tinea favosa
9
Kelainan di kepala dimulai dengan bintik-bintik kecil di bawah kulit yang
berwarna merah kekuningan dan berkembang menjadi krusta yang berbentuk
cawan (skutula), serta memberi bau busuk seperti bau tikus “moussy odor”. Rambut
di atas skutula putus-putus dan mudah lepas dan tidak mengkilat lagi. Bila
menyembuh akan meninggalkan jaringan parut dan alopesia yang permanen.
Penyebab utamanya adalah T. schoenleinii, T. violaceum dan T. gypsum. Kadang-
kadang penyakit ini menyerupai Dermatitis seboroika.
e. Tinea kruris (Eczema marginatum, dhoble itch, jockey itch, ringworm of the
groin)
Penyakit ini memberikan keluhan perasaan gatal yang menahun, bertambah
hebat bila disertai dengan keluarnya keringat. Kelainan yang timbul dapat bersifat
akut atau menahun. Kelainan yang akut memberikan gambaran yang berupa makula
yang eritematous dengan erosi dan kadang-kadang terjadi ekskoriasi. Pinggir
10
kelainan kulit tampak tegas dan aktif. Apabila kelainan menjadi menahun maka
efloresensi yang nampak hanya makula yang hiperpigmentasi disertai skuamasi dan
likenifikasi. Gambaran yang khas adalah lokalisasi kelainan, yakni daerah lipat
paha sebelah dalam, daerah perineum dan sekitar anus. Kadang-kadang dapat
meluas sampai ke gluteus, perut bagian bawah dan bahkan dapat sampai ke aksila.
f. Tinea pedis
Tinea pedis disebut juga Athlete’s foot atau “Ring worm of the foot”.
Penyakit ini sering menyerang orang-orang dewasa yang banyak bekerja di tempat
basah seperti tukang cuci, pekerja-pekerja di sawah atau orang-orang yang setiap
hari harus memakai sepatu yang tertutup seperti anggota tentara. Keluhan subjektif
bervariasi mulai dari tanpa keluhan sampai rasa gatal yang hebat dan nyeri bila ada
infeksi sekunder.
Ada 3 bentuk Tinea pedis
1. Bentuk interdigitalis
Keluhan yang tampak berupa maserasi, skuamasi serta erosi, di celah-celah
jari terutama jari IV dan jari V. Hal ini terjadi disebabkan kelembaban di celah-
ceIah jari tersebut membuat jamur-jamur hidup lebih subur. Bila menahun dapat
terjadi fisura yang nyeri bila kena sentuh. Bila terjadi infeksi dapat menimbulkan
selulitis atau erisipelas disertai gejala-gejala umum.
2. Moccasin Foot
Disini lebih jelas tampak ialah terjadi penebalan kulit disertai sisik terutama
ditelapak kaki, tepi kaki dan punggung kaki. Bila hiperkeratosisnya hebat dapat
terjadi fisura-fisura yang dalam pada bagian lateral telapak kaki.
11
3. Bentuk vesikuler subakut
Kelainan-kelainan yang timbul di mulai pada daerah sekitar antar jari,
kemudian meluas ke punggung kaki atau telapak kaki. Tampak ada vesikel dan bula
yang terletak agak dalam di bawah kulit, diserta perasaan gatal yang hebat. Bila
vesikel-vesikel ini memecah akan meninggalkan skuama melingkar yang disebut
Collorette. Bila terjadi infeksi akan memperhebat dan memperberat keadaan
sehingga dapat terjadi erisipelas. Semua bentuk yang terdapat pada Tinea pedis,
dapat terjadi pada Tinea manus, yaitu Dermatofitosis yang menyerang tangan.
Penyebab utamanya ialah : T .rubrum, T .mentagrofites, dan Epidermophyton
floccosum.
g. Tinea unguium (Onikomikosis = ring worm of the nail)
Penyakit ini dapat dibedakan dalam 3 bentuk :
1. Subungual distalis
Dimulai dari tepi distal atau distolateral kuku. Proses ini menjalar ke
proksimal dan di bawah kuku terbentuk sisa kuku yang rapuh. Jika
proses berlanjut, maka permukaan kuku bagian distal akan hancur
dan yang terlihat hanya kuku rapuh yang menyerupai kapur1.
2. Leukonikia trikofita
12
Kelainannya merupakan bentuk leukonikia atau keputihan di
permukaan kuku yang dapat dikerok untuk dibuktikan adanya
elemen jamur. Kelainan ini dihubungkan dengan T. mentagrophytes
sebagai penyebabnya1.
3. Subungual proksimalis
Dimulai dari pangkal kuku bagian proksimal terutama menyerang
kuku dan membentuk gambaran klinis yang khas, yaitu terlihat kuku
di bagian distal masih utuh, sedangkan bagian proksimal rusak.
Biasanya penderita Tinea unguium mempunyai Dermatofitosis di
tempat lain yang sudah sembuh maupun belum sembuh.
h. Tinea barbae
Penderita Tinea barbae ini biasanya mengeluh rasa gatal di daerah jenggot,
jambang dan kumis, disertai rambut-rambut di daerah itu menjadi putus. Ada 2
bentuk yaitu superfisialis dan kerion.
Superfisialis
13
Kelainan-kelainan berupa gejala eritem, papul dan skuama yang mula-mula
kecil selanjutnya meluas ke arah luar dan memberi gambaran polisiklik, dengan
bagian tepi yang aktif. Biasanya gambaran seperti ini menyerupai Tinea korporis3,4.
Kerion
Bentuk ini membentuk lesi-lesi yang eritematous dengan ditutupi krusta
atau abses kecil dengan permukaan membasah oleh karena erosi.
2.7. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan mikologik untuk membantu menegakkan diagnosis terdiri dari
pemeriksaan langsung sediaan basah dan biakan. Pemeriksaan lain, misalnya
histopatologik. Bahan pemeriksaan berupa kerokan kulit, rambut, dan kuku.
1. Kulit berambut halus (glabrous skin). Skuama pada lesi dikerok dengan pisau
tumpul steril. Skuama dikumpulkan pada gelas obyek.
2. Kulit berambut. Sampel rambut diambil dengan forsep dan skuama dikerok
dengan skapel tumpul. Rambut yang diambil adalah rambut yang goyah (mudah
dicabut) pada daerah lesi. Pemeriksaan dengan lampu Wood dilakukan sebelum
pengumpulan bahan untuk melihat kemungkinan adanya fluoresensi di daerah lesi
pada kasus Tinea kapitis tertentu.
3. Kuku. Bahan diambil dari permukaan kuku yang sakit, dipotong atau dikerok
sedalam-dalamnya sehingga mengenai seluruh tebal kuku. Bahan di bawah kuku
diambil juga. Pada leukonikia, cukup kerok permukaan kuku yang sakit.
Sediaan basah dibuat dengan meletakkan bahan di atas gelas obyek,
kemudian ditambah 1-2 tetes larutan KOH 20%. Tunggu 15-20 menit untuk
melarutkan jaringan. Pemanasan di atas api kecil mempercepat proses pelarutan.
Pada saat mulai keluar uap, pemanasan cukup. Bila terjadi penguapan, akan
terbentuk kristal KOH sehingga mengganggu pembacaan. Teknik lain yaitu dengan
penambahan dimetil sulfoksida (DMSO) 40% pada KOH akan mempercepat
penjernihan sediaan tanpa pemanasan. Untuk melihat elemen jamur lebih nyata,
14
ditambahkan zat warna pada sediaan KOH, misalnya tinta Parker superchrom blue
black.
Pemeriksaan langsung sediaan basah dilakukan dengan mikroskop, mula-
mula dengan pembesaran 10 x 10, kemudian 10 x 45. Pemeriksaan dengan
pembesaran 10 x 100 biasanya tidak diperlukan.
Pada sediaan kulit dan kuku yang terlihat adalah hifa, sebagai dua garis
sejajar, terbagi oleh sekat dan bercabang, maupun spora berderet (artrospora) pada
kelainan kulit lama dan atau sudah diobati. Pada sediaan rambut yang dilihat adalah
spora kecil (mikrospora) atau besar (makrospora). Spora dapat tersusun di luar
rambut (ektotriks) atau di dalam rambut (endotriks). Kadang-kadang dapat terlihat
pula hifa pada sediaan rambut.
Pembiakan dapat dilakukan pada medium agar dekstrosa Sabouraud, dapat
ditambahkan kloramfenikol dan kloheksimid untuk menghindarkan kontaminasi
bakteri maupun jamur kontaminan. Selain itu dapat pula digunakan Dermatophyte
Test Medium (DTM) yang bila ditumbuhi Dermatofita akan berubah warna karena
pengaruh metabolit Dermatofita.
2.8. Diagnosia Banding
Tinea pedis et manum harus dibedakan dengan dermatitis, yang biasanya
batasnya tidak jelas, bagian tepi lebih aktif dari pada bagian tengah. Adanya
vesikel-vesikel steril pada jari-jari kaki dan tangan (pomfoliks) dapat merupakan
reaksi id, yaitu akibat setempat hasil reaksi antigen dengan zat anti pada tempat
tersebut. Efek samping obat juga dapat memberi gambaran serupa yang menyerupai
ekzem atau dermatitis, pertama-tama harus dipikirkan adanya suatu dermatitis
kontak. Pada hiperhidrosis terlihat kulit yang mengelupas (maserasi). Kalau hanya
terlihat vesikel-vesikel, biasanya terletak sangat dalam dan terbatas pada telapak
kaki dan tangan. Kelainan tidak meluas sampai di sela-sela jari.2
Penyakit lain yang harus mendapat perhatian adalah kandidiosis,
membedakannya dengan tinea pedis murni kadang-kadang sangat sulit.
15
Pemeriksaan sediaan langsung dengan KOH dan pembiakan dapat menolong.
Infeksi sekunder dengan spesies candida atau bakteri lain sering menyertai tinea
pedis, sehingga pada kasus-kasus demikian diperlukan interpretasi bijaksana
terhadap hasil-hasil pemeriksaan laboraturium. 2
Sifilis II dapat berupa kelainan kulit di telapak tangan dan kaki. Lesi yang
merah dan basah dapat merupakan petunjuk. Dalalm hal ini tanda-tanda lain sifilis
akan terdapat misalnya: kondiloma lata, pembesaran kelenjar getah bening yang
menyeluruh, anamnesa tentang afek primer dan pemeriksaan serologi serta
lapangan gelap dapat menolong. Tinea unguium yang disebabkan oleh bermacam-
macam dermatofita memberikan gambaran akhir yang sama. 2
Psoriasis yang menyerang kuku pun dapat berakhir dengan kelainan yang
sama. Lekukan-lekukan pada kuku (nail pits), yang terlihat pada psoriasis tidak
didapati pada tinea unguium. Lesi-lesi psoriasis pada bagian lain badan dapat
menolong membedakannya dengan tinea unguium. Banyak penyakit kulit yang
menyerang bagian dorsal jari-jari tangan dan kaki dapat menyebabkan kelainan
yang berakhir dengan distrofi kuku, misalnya: Paronikia, yang etiologinya
bermacam-macam ekzem/dermatitis, akrodermatitis perstans. 2
Tidak begitu sukar menentukan tinea korporis pada umumnya, namun ada
beberapa penyakit kulit yang dapat mericuhkan diagnosa itu, misalnya dermatitis
seboroika, psoriasis, dan pitiriasis rosea. Kelainan kulit pada dermatitis seboroika
selain dapat menyerupai tinea korporis, biasanya terlihat pada tempat-tempat
predileksi, misalnya di kulit kepala (scalp), lipatan-lipatan kulit , misalnya belakang
telinga, daerah nasolabial, dan sebagainya. 2
Psoriasis dapat dikenal pada kelainan kulit pada tempat predileksinya, yaitu
daerah ekstensor misalnya lutut, siku dan punggung. Kulit kepala berambut juga
sering terkena pada penyakit ini. Adanya lekukan-lekukan pada kuku dapat pula
menolong menentukan diagnosa. Ptiriasis rosea distribusi kelainan kulitnya
simetris dan terbatas pada bagian tubuh dan bagian proksimal anggota badan, sukar
dibedakan dengan tinea korporis. Pemeriksaan laboraturiumlah yang dapat
16
memastikan diagnosanya. Tinea korporis kadang sukar dibedakan dengan
dermatitis seboroik pada sela paha. Lesi-lesi ditempat predileksi sangat menolong
dalm menentukan diagnosa. 2
Psoriasis pada sela paha dapat menyerupai tinea kruris. Lesi pada psoriasis
lebih merah, skuama lebih banyak dan lamelar. Adanya lesi psoriasis pada tempat
lain dapat membantu menentukan diagnosa. Kandidosis pada daerah lipat paha
mempunyai konfigurasi hen and chicken. Kelainan ini biasanya basah dan
berkrusta. Pada wanita ada tidaknya flour abus dapat membantu pengarahan
diagnosa. Pada penderita diabetes mellitus, kandidosis merupakan penyakit yang
sering dijumpai. 2
Eritrasma merupakan penyakit yang tersering berlokasi di sela paha.
Efloresensi yang sama yaitu eritema dan skuama, pada seluruh lesi merupakan
tanda-tanda khas dari penyakit ini. Pemeriksaan dengan lampu wood dapat
menolong dengan adanya floresensi merah (coral red). Tinea barbe kadang sukar
dibedakan dengan sikosis barbe, yang disebabkan oleh piokokus. Pemeriksaan
sediaan langsung dapat membedakan kedua penyakit ini. 2
2.9. Tatalaksana
Penatalaksanaan pada kasus dermatofitosis dibagi menjadi penatalaksanaan
umum dan khusus, seperti berikut : 5
1. Penatalaksanaan umum
Pada pasien dermatofitosis penatalaksanaan umum adalah sebagai edukasi pada
pasien tentang penyakitnya, termasuk penyebab, cara pengobatan dan pencegahan
dari penyakitnya.
2. Penatalaksanaan khusus
Penatalaksanaan khusus dengan menggunakan obat-obatan yang diberikan secara
oral (sistemik) maupun topikal. Pengobatan dermatofitosis sering tergantung pada
klinis. Sebagai contoh lesi tunggal pada kulit dapat diterapi secara adekuat dengan
anti jamur topikal. walaupun pengobatan topikal pada kulit kepala dan kuku sering
17
tidak efektif dan biasanya membutuhkan terapi sistemik untuk sembuh. Infeksi
dermatofitosis yang kronik atau luas, tinea dengan implamasi akut dan tipe
"moccasin" atau tipe kering jenis [Link] termasuk tapak kaki dan dorsum kaki
biasanya juga membutuhkan terapi sistemik. Idealnya, konfirmasi diagnosis
mikologi hendaknya diperoleh sebelum terapi sistemik anti jamur dimulai.
Tabel 1. Pilihan obat untuk dematofotosis 5
Jenis obat anti jamur topikal yang sering digunakan yaitu :
1. Azol-imidazol: ketokonazol, klotrimazol, mikonazol, ekonazol, sulkonazol,
oksikonazol, terkonazol, tiokonazol, sertakonazol
2. Alilamin dan benzilamin: naftifin, terbinafin, butenafin
3. Polien: nystatin
18
Beberapa obat topikal tidak termasuk dalam golongan ini namun dapat
digunakan untuk terapi non spesifik seperti golongan keratolitik (asam salisilat)
atau antiseptik (gentian violet), siklopiroks, haloprogin, serta amorolfin. Efek
samping yang dapat ditimbulkan oleh obat antijamur topikal lebih sedikit
dibandingkan obat anti jamur sistemik. Pengobatan topikal memiliki beberapa
keuntungan yaitu sedikit efek samping dan interaksi dengan obat lain, pengobatan
terlokalisir pada tempat yang sakit, dan biaya yang murah.
19
BAB III
KESIMPULAN
Dermatofitosis merupakan kelompok penyakit yang disebabkan oleh jamur
dermatofit dari tiga genus, Epidermophyton, Trichophyton, dan Microsporum, yang
bersifat keratinofilik mengenai stratum korneum pada kulit, rambut dan kukuj
dengan cara transmisi melalui zoofilik, antropofilik dan geofilik.
Klasifikasi penyakit ini digolongkan berdasarkan lokasi atau ciri khusus
tertentu, dan jenis struktur keratin yang terlibat yaitu kulit, kuku dan rambut.
Terjadinya dermatofitosis melalui 3 tahap utama, yaitu perlekatan, dengan
keratinosit, penetrasi melewati dalam sel dan pembentukan respon imun. Adanya
virulensi jamur, mekanisme penghindaran, kondisi imunitas host yang lemah
memudahkan infeksi dermatofit. Mekanisme pertahanan host terhadap infeksi
dermatofit terediri dari pertahanan non spesifik dan spesifik yang melibatkan
surveilan system imun.
Terapi yang diberikan secara umum dan khusus, umum yaitu edukasi pada
pasien untuk menghindari faktor predisposisi. Pengobatan secara khusus dengan
obat-obatan anti jamur baik secara sistemik maupun topikal.
20
Daftar Pustaka
1. Adiguna MS. Epidemiologi Dermatomikosis di Indoneisa. Dalam: Budimulya
U, Kuswadji, Bramono K, Menaldi SL, Dwihastuti P, Widati S, editor,
Dermatomikosis Superfisialis. Edisi ketiga Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 2004.
hal 1-6
2. Menaldi S. Mikosis. Dalam : Djuanda A, Hamzah Has, Aisah S, editor. Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ketujuh. Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 2016.
Hal 109-116.
3. Kurniati, Rosita C. Etiopatogenesis Dermatofitosis. Berkala Ilmu Kesehatan
Kulit dan Kelamin. Vol. 20 No. 3 Desember 2008; 243-50. Available at:
[Link]
%2020%20no%203_des%202008_Acc_3.pdf . Accessed on 17th May 2015.
4. Siregar R.S. Penyakit Jamur Kulit. Edisi kedua. Jakarta: EGC; 2004.
5. Harahap M. Ilmu Penyakit Kulit. edisi pertama. Jakarta: Hipokrates, 2000. Hal
73-87.
6. Widaty, Sandra. Obat Antijamur. Dalam :Bramono K, Suyoso S, Indriatmi W,
Ramali LM, Widaty S, Ervianti E. Dermatomikosis Superfisialis. Fakultas
Kedokteran Universitas [Link] Kedua. 2013. Hal 167-179.
21