Optimasi Penjadwalan Produksi Efisien
Optimasi Penjadwalan Produksi Efisien
BAB I
PENDAHULUAN
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 1
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 2
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
BAB II
TEORI DASAR
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 3
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 4
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 5
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
produk (bahan baku) atau dengan kata lain adalah ketika pekerjaan j sampai
di peralatan proses atau mesin.
b. Waktu menunggu (waiting time), 𝑊𝑖
Waktu menunggu adalah waktu tunggu pekerjaan 𝑖 dari saat pekerjaan siap
dikerjakan sampai saat operasi pendahulu selesai.
c. Set up time
Set up time adalah waktu yang dibutuhkan untuk kegiatan persiapan
sebelum pemrosesan job dilaksanakan.
d. Arrival time (𝑎𝑖)
Arrival time adalah saat job mulai berada di shop floor.
e. Delivery Date
Delivery date adalah saat pengiriman job dari shop floor ke proses
berikutnya atau ke konsumen.
f. Processing Time (𝑡𝑖)
Processing time adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan suatu
pekerjaan. Waktu proses ini sudah termasuk waktu yang dibutuhkan untuk
persiapan dan pengaturan (setup) selama proses berlangsung.
g. Due date (𝑑𝑖)
Due date adalah batas waktu operasi terakhir suatu pekerjaan harus selesai
atau batas waktu penyelesaian yang ditentukan untuk job ke-i.
h. Slack Time (𝑆𝐿𝑖)
Slack time adalah waktu tersisa yang muncul akibat dari waktu prosesnya
lebih kecil dari due date-nya.
𝑆𝐿𝑖 = 𝑑𝑖 – 𝑡𝑖 ............................................................................................ (1)
i. Flow Time (𝐹𝑖)
Flow time adalah waktu yang dibutuhkan oleh suatu pekerjaan dari saat
pekerjaan tersebut masuk ke dalam suatu tahap proses sampai pekerjaan
yang bersangkutan selesai dikerjakan.
𝐹𝑖 = 𝐶𝑖 – 𝑟𝑖 ............................................................................................. (2)
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 6
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
j. Lateness (𝐿𝑖)
Lateness adalah selisih antara completion time (𝐶𝑖) dengan due date (𝑑𝑖).
Suatu pekerjaan memiliki lateness yang bernilai positif apabila pekerjaan
tersebut diselesaikan setelah due date, pekerjaan tersebut akan memiliki
keterlambatan yang negatif. Sebaliknya jika pekerjaan diselesaikan setelah
batas waktunya, pekerjaan tersebut memiliki keterlambatan yang positif.
𝐿𝑖 = 𝐶𝑖 − 𝑑𝑖 < 0, saat penyelesaian job sebelum batas akhir.
𝐿𝑖 = 𝐶𝑖 − 𝑑𝑖 = 0, saat penyelesaian job tepat sesuai batas akhir.
𝐿𝑖 = 𝐶𝑖 − 𝑑𝑖 > 0, saat penyelesaian job setelah batas akhir.
k. Completion time (𝐶𝑖)
Completion time adalah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan
pekerjaan mulai dari saat tersedianya pekerjaan (𝑡 = 0) sampai pada
pekerjaan tersebut selesai dikerjakan atau menunjukkan rentang waktu sejak
pekerjaan pertama mulai dikerjakan sampai proses tersebut selesai.
𝐶𝑖 = 𝐹𝑖 + 𝑟𝑖 .............................................................................................. (3)
l. Tardiness (𝑇𝑖)
Tardiness adalah ukuran dari lateness yang bernilai positif dan juga
merupakan keterlambatan pekerjaan j untuk diselesaikan sebelum due date
yang diberikan atau waktu keterlambatan selesainya suatu pekerjaan j.
m. Earliness (𝑒𝑗)
Earliness adalah keterlambatan yang bernilai negatif.
n. Makespan (𝑀)
Makespan adalah total waktu penyelesaian pekerjaan-pekerjaan mulai dari
urutan pertama yang dikerjakan pada mesin atau work center pertama
sampai kepada urutan pekerjaan terakhir pada mesin atau work center
terakhir.
(K. R. Baker, 1974).
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 7
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 8
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 9
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2) Jika waktu proses minimum terdapat pada mesin pertama, tempatkan job
tersebut pada awal deret penjadwalan.
3) Jika waktu proses minimum terdapat pada mesin kedua, tempatkan job
tersebut pada akhir deret penjadwalan.
4) Pindahkan job tersebut dari daftarnya dan susun dalam bentuk deret
penjadwalan. Jika masih ada job yang tersisa, maka kembali ke langkah
satu, sebaliknya jika tidak ada lagi job yang tersisa, maka penjadwalan
sudah selesai.
(Ginting, 2009).
Contoh penerapan:
Tabel 2.1 Data Waktu Proses pada Mesin 1 dan Mesin 2
M1 M2
J1 15 12
J2 8 5
J3 6 11
J4 7 13
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 10
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2) Waktu proses terpendek pada pusat kerja III harus lebih lama dari proses
terpanjang di pusat kerja II.
(Johnson, 1954).
Contoh penerapan:
Terdapat tiga mesin untuk melakukan proses pembuatan biskuit. Waktu
proses ketiga pekerjaan tersebut pada masing-masing mesin yaitu:
Tabel 2.2 Job dan Waktu Proses
Mesin (menit)
Job
M1 M2 M3
A 70 40 50
B 90 50 90
C 60 50 70
D 70 20 60
2.8 Dannenbring
Metode Dannenbring adalah perluasan dari aturan Johnson, dimana
memperluas menjadi lebih dari dua masalah penjadwalan mesin. Melalui dua
formula berikut ini:
Waktu urutan proses pada mesin pertama:
𝑎𝑖 = ∑𝑚
𝑗=1(𝑚 − 𝑗 + 1) × 𝑡𝑖𝑗 ....................................................................... (4)
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 11
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
Maka,
5
𝑎1 = ∑(5 − 1 + 1) × 𝑡𝑗𝑖
𝑗=1
= 5 × 5 + 4 × 9 + 3 × 8 + 2 × 10 + 1 × 1
= 106
5
𝑎2 = ∑(5 − 1 + 1) × 𝑡𝑗𝑖
𝑗=1
= 5 × 9 + 4 × 3 + 3 × 10 + 2 × 1 + 1 × 8
= 97
5
𝑎3 = ∑(5 − 1 + 1) × 𝑡𝑗𝑖
𝑗=1
=5×9+4×4+3×5+2×8+1×6
= 98
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 12
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
𝑎4 = ∑(5 − 1 + 1) × 𝑡𝑗𝑖
𝑗=1
=5×4+4×8+3×8+2×7+1×2
= 92
5
𝑏1 = ∑ 𝐽𝑡1𝑗
𝑗=1
= 1 × 5 + 2 × 9 + 3 × 8 + 4 × 10 + 5 × 1
= 92
5
𝑏2 = ∑ 𝐽𝑡2𝑗
𝑗=1
= 1 × 9 + 2 × 3 + 3 × 10 + 4 × 1 + 5 × 8
= 89
5
𝑏3 = ∑ 𝐽𝑡3𝑗
𝑗=1
=1×9+2×4+3×5+4×8+5×6
= 94
5
𝑏4 = ∑ 𝐽𝑡4𝑗
𝑗=1
=1×4+2×8+3×8+4×7+5×2
= 82
Urutan = 3-1-2-4
(Ginting, 2009).
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 13
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 14
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 15
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 16
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
d. Kurangi semua angka yang tidak tercoret oleh garis dengan angka terkecil
yang juga tidak tercoret oleh garis (100), dan tambahkan angka terkecil
tersebut pada setiap kotak yang merupakan persilangan di antara dua garis.
Kemudian coret semua angka nol dengan garis.
Tabel 2.10 Hasil perhitungan dari King Finance Co
Kantor
Omaha Miami Dallas New York
Pegawai
Jones 0 0 $100 0
Smith 0 $800 $500 0
Wilson 0 $200 $1500 $700
Dummy 200 0 0 100
e. Kurangi semua angka yang tidak tercoret oleh garis dengan angka terkecil
yang juga tidak tercoret oleh garis (100), dan tambahkan angka terkecil
tersebut pada setiap kotak yang merupakan persilangan di antara dua garis.
Kemudian coret semua angka nol dengan garis.
Tabel 2.11 Hasil perhitungan dari King Finance Co
Kantor
Omaha Miami Dallas New York
Pegawai
Jones 100 0 $100 0
Smith 0 $700 $400 0
Wilson 0 $100 $1400 $600
Dummy 400 0 0 100
f. Oleh karena diperlukan empat garis untuk mencoret semua angka nol, maka
penugasan yang optimal dapat ditentukan. Penugasan tersebut adalah:
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 17
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
1) Wilson ke Omaha
2) Jones ke Miami
3) Dummy (tidak seorang pun) ke Dallas.
4) Smith ke New York
Maka Biaya = 0 + 500 + 800 + 1.100 = $ 2.400
2.10 Sequencing
Pengurutan (Sequencing) adalah menentukan urutan pekerjaan yang
harus dilakukan pada setiap pusat kerja melalui pembagian tugas atau
dispatching. Metode pengurutan memberikan informasi rinci mengenai
kegiatan atau pekerjaan mana yang terlebih dahulu akan dilakukan dalam
fokus produksi. Dalam pengurutan proses produksi terdapat aturan prioritas
atau metode pengurutan, yaitu aturan yang dipergunakan dalam menentukan
urutan pekerjaan dalam fasilitas yang berorientasi pada proses (Jay Heizer &
Reinder, 2010).
Penggunaan metode pengurutan memiliki tujuan yang dapat
meminimalkan keterlambatan pesanan, memaksimalkan jumlah pekerja, dan
mengurangi waktu pengerjaan tugas agar lebih cepat selesai. Dalam kegiatan
pengurutan terdapat lima aturan yang diprioritaskan, sebagai berikut :
a. FCFS (First Come, First Served)
FCFS (First Come, First Served) adalah pekerjaan yang diproses
berdasarkan urutan kedatangan pesanan dalam sebuah pusat kerja.
Pekerjaan yang pertama datang adalah yang pertama dikerjakan oleh
bagian penugasan.
Contoh Perhitungan :
Tabel 2.12 Data FCFS
Waktu Batas waktu
Pekerjaan
Pemrosesan (Hari) pekerjaan (Hari)
A 6 8
B 2 6
C 3 18
D 8 15
E 9 23
Urutan FCFS diperlihatkan dalam tabel berikut, yaitu A-B-C-D-E. Aliran
waktu dalam sistem untuk urutan ini menghitung waktu yang dihabiskan
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 18
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 19
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 20
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 21
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 22
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
Contoh Perhitungan :
Tabel 2.20 Data CR
Waktu Batas waktu
Pekerjaan
Pemrosesan (Hari) pekerjaan (Hari)
A 6 22
B 12 16
C 14 30
D 2 18
E 10 25
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 23
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 24
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 25
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 26
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 27
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
Contoh penerapan job shop yaitu pabrik perakitan motor yang dimana
komponen seperti kaca spion dan ban bisa dikerjakan terlebih dahulu tanpa
harus menunggu komponen dalam mesin selesai.
d. Flow Shop
Penjadwalan flow shop merupakan penjadwalan dari seluruh job dengan
urutan proses sama dan masing - masing job menuju ke masing - masing
mesin dalam waktu tertentu. Sistem ini dapat digambarkan seperti urutan
linier pada mesin-mesin seperti pada lini perakitan. Setiap job diproses
sesuai dengan urutan prosesnya dan dari suatu mesin ke mesin lainnya
(Raditya, 2006).
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 28
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
Mesin 2.2
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 29
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 30
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 31
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 32
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 33
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
9) Mengulangi langkah 1-8 untuk job yang akan ditempatkan pada posisi
berikutnya yaitu posisi kedua, ketiga dan seterusnya setelah terpilih job
untuk posisi pertama dengan nilai Fmax minimum.
b. Simulated Annealing
Sejak dipublikasikan oleh Kirkpatrick, metode Simulated Annealing (SA)
adalah salah satu metode metaheuristik yang banyak diterapkan dalam
memecahkan persoalan optimasi kombinatorial. Algoritma Simulated
Annealing (SA) bekerja dengan meniru proses annealing untuk
memecahkan persoalan optimisasi. SA menggunakan parameter suhu yang
mengontrol pencarian. Parameter suhu biasanya dimulai dari suhu tinggi
dan secara perlahan menurun pada setiap iterasi. Pada tiap-tiap iterasi satu
titik baru dibangkitkan dan jaraknya terhadap titik semula merupakan
proporsional terhadap suhu. Jika titik yang baru mempunyai nilai fungsi
yang lebih baik, maka titik tersebut menggantikan titik semula dan
penghitungan iterasi dinaikkan. Adalah hal yang mungkin untuk berpindah
ke titik yang lebih buruk, hal ini terkait secara langsung pada pengaruh
suhu. Langkah seperti ini terkadang membantu menemukan area pencarian
baru dalam upaya mendapatkan nilai mimimum yang lebih baik (Liao,
Tjandradjaja, & Chung, 2012).
Penjadwalan dengan metode simulated annealing memiliki langkah-
langkah sebagai berikut:
1) Menentukan solusi awal penjadwalan
Pada tahap ini dilakukan perhitungan makespan sesuai dengan
penjadwalan order yang ada di perusahaan pada keadaan aktual. Tahap
ini penting dilakukan untuk mengetahui total waktu penyelesaiaan
seluruh job order yang datang.
2) Menentukan temperatur awal (T0)
Sebelum melakukan pencarian solusi baru terlebih dahulu ditentukan
temperatur awal. Temperatur awal ini cukup besar tujuannya adalah
untuk mendapatkan ruang solusi yang lebih besar pada tahap awal
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 34
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 35
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
Keterangan :
F(i) = Nilai Index pada job ke-i
A = Index, apabila waktu mesin i job ke-i > mesin I job ke-i+1 =1, apabila waktu
mesin i job ke-i < mesin I job ke-i+1 =-1
tim = waktu mesin i pada job ke-i
tim+1 = waktu mesin i pada job ke-i
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 36
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
Keterangan :
Si = Slope index job i
ti,j = Waktu proses job i pada mesin j (menit)
(Modrak & Pandian, 2010).
f. NEH (Nawaz Enscore & Ham)
Nawaz, Enscore and Ham (1983) menguraikan suatu metode heuristik
yang mudah untuk membangun dan memberi hasil yang baik dalam
banyak kasus. Dimana menurut Nawaz, Enscore and Ham dengan total
waktu proses pada semua mesin yang lebih besar seharusnya
diprioritaskan untuk dikerjakan lebih dahulu daripada job dengan total
waktu proses yang lebih kecil. Proses ini berulang sampai semua job sudah
dijadwalkan sehingga banyaknya iterasi tersebut adalah :
(𝑛 × (𝑛 + 1)
.............................................................................................. (9)
2−1
Langkah-langkahnya adalah :
1) Hitung waktu total proses masing-masing job.
𝑚
𝑇 = ∑𝑗 =1 𝑡𝑦 ................................................................................... (10)
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 37
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 38
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 39
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 40
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
BAB III
b. Metode Dannenbring
Tabel di bawah ini merupakan data produksi pada CV. Namirah yang
diurutkan menggunakan metode Dannenbring. Data di bawah merupakan
data yang telah ditambah 8 menit sesuai dengan ketentuan yang telah
ditetapkan.
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 41
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
c. Metode Penugasan
Tabel di bawah ini merupakan data produksi pada CV. Namirah yang
diurutkan menggunakan metode penugasan. Data di bawah merupakan data
yang telah ditambah 8 menit sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
Tabel 3.3 Data Metode Penugasan
Mesin (Menit)
Job
M1 M2 M3 M4 M5 M6 M7 M8
1 101 84 93 99 85 95 91 102
2 88 89 109 81 88 75 89 109
3 85 80 81 93 81 97 101 87
4 76 96 107 102 76 78 81 88
5 101 98 116 92 78 101 112 91
6 83 84 74 84 90 81 98 102
7 89 97 87 98 86 110 84 99
8 87 88 110 97 94 87 92 98
d. Metode Sequencing
Tabel di bawah ini merupakan data produksi pada CV. Namirah yang akan
dijadwalkan dengan metode sequencing. Data di bawah merupakan data
yang telah ditambah 8 menit sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
Tabel 3.4 Data Metode Sequencing
Job Processing Time Due Date
1 93 91
2 109 108
3 81 77
4 107 104
5 74 78
6 116 115
7 96 94
8 98 95
9 109 107
10 107 105
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 42
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
Data proses pembuatan roti pada tabel 3.5 memenuhi syarat aturan Johnson
untuk tiga pusat kerja sehingga dilanjutkan ke tahap selanjutnya. Waktu
proses pada M1 dijumlahkan dengan waktu proses pada M2 menjadi P1 dan
waktu proses pada M2 dijumlahkan dengan waktu proses pada M3 menjadi
P2. Hasil penjumlahan tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah.
Tabel 3.6 Proses Pengurutan Aturan Johnson
Mesin (Menit)
Job
P1 P2
1 166 178
2 171 163
3 167 172
4 176 186
5 156 166
6 177 182
7 176 164
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 43
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
1) Gantt Chart
Berdasarkan hasil pengurutan pekerjaan menggunakan aturan Johnson,
dapat dibuat gantt chart yang dapat dilihat pada gambar di bawah.
b. Metode Dannenbring
Berdasarkan data yang telah dikumpulkan akan diolah menggunakan
metode Dannenbring. Tabel di bawah menunjukkan waktu proses,
kemudian mencari nilai P1 dan P2 untuk tiap job yang dapat dilihat pada
uraian berikut.
Tabel 3.7 Data Waktu Proses Metode Dannenbring
Mesin (Menit)
Job
M1 M2 M3 M4 M5 M6 M7
1 93 84 101 99 85 97 78
2 109 89 88 81 88 80 93
3 107 80 85 93 81 98 83
4 81 96 76 92 76 86 88
5 74 98 101 107 90 83 79
6 116 84 83 84 78 99 97
7 74 106 85 87 83 90 94
8 96 98 108 103 101 97 98
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 44
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
1) Mencari nilai P1
P1J1 = ∑𝑚
𝑗=1(𝑚 − 𝑗 + 1) ∗ 𝑡𝑖𝑗
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 45
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
P1J8 = ∑𝑚
𝑗=1(𝑚 − 𝑗 + 1) ∗ 𝑡𝑖𝑗
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 46
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
P2J7 = ∑𝑚
𝑗=1 𝑗 ∗ 𝑡𝑖𝑗
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 47
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 48
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
4) Makespan
Berdasarkan hasil gantt chart penyelesaian pengurutan menggunakan
metode Dannenbring, dapat diperoleh makespan sebesar 1.343 menit.
5) Idle Time
Berdasarkan hasil gantt chart penyelesaian pengurutan menggunakan
metode Dannenbring, dapat diperoleh idle time dengan perhitungan
sebagai berikut:
Idle time = 81 + 23 + 177 + 30 + 13 + 253 + 23 + 34 + 345 + 34 + 54
+ 29 + 421 + 31 + 65 + 507 + 33 + 68 + 25
= 2.246 menit
c. Metode Penugasan
Tabel di bawah merupakan data waktu proses pembuatan roti yang akan
diurutkan dengan menggunakan metode penugasan.
Tabel 3.9 Data Waktu Proses Metode Penugasan
Mesin (Menit)
Job
M1 M2 M3 M4 M5 M6 M7 M8
1 101 84 93 99 85 95 91 102
2 88 89 109 81 88 75 89 109
3 85 80 81 93 81 97 101 87
4 76 96 107 102 76 78 81 88
5 101 98 116 92 78 101 112 91
6 83 84 74 84 90 81 98 102
7 89 97 87 98 86 110 84 99
8 87 88 110 97 94 87 92 98
Berdasarkan data di atas, akan dibuat pengurutan job menggunakan metode
penugasan dengan langkah-langkah berikut:
1) Angka pada tiap baris dikurangi dengan angka terkecil pada baris
tersebut. Angka terkecil pada baris pertama (job 1) adalah 84, baris kedua
(job 2) adalah 75, baris ketiga (job 3) adalah 80, baris keempat (job 4)
adalah 76, baris kelima (job 5) adalah 78, baris keenam (job 6) adalah 74,
baris ketujuh (job 7) adalah 84, dan baris kedelapan (job 8) adalah 87.
Hasil pengurangan baris dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 49
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2) Angka pada tiap kolom dikurangi dengan angka terkecil pada kolom
tersebut. Angka terkecil pada kolom pertama (job 1) adalah 0, baris
kedua (job 2) adalah 0, baris ketiga (job 3) adalah 0, baris keempat (job
4) adalah 6, baris kelima (job 5) adalah 0, baris keenam (job 6) adalah 0,
baris ketujuh (job 7) adalah 0, dan baris kedelapan (job 8) adalah 7. Hasil
pengurangan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 3.11 Pengurangan Pada Kolom
Mesin (Menit)
Job
M1 M2 M3 M4 M5 M6 M7 M8
1 17 0 9 9 1 11 7 11
2 13 14 34 0 13 0 14 27
3 5 0 1 7 1 17 21 0
4 0 20 31 20 0 2 5 5
5 23 20 38 8 0 23 34 6
6 9 10 0 4 16 7 24 21
7 5 13 3 8 2 26 0 8
8 0 1 23 4 7 0 5 4
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 50
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
Hasil dari row scanning dan column scanning telah optimal sehingga
diperoleh pengurutan job yang dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
M2 J1 M4 J2 M8 J3 M1 J4 M5 J5 M3 J6 M7 J7 M6 J8
Gambar 3.5 Pengurutan Pekerjaan Menggunakan Metode Penugasan
Berdasarkan gambar, maka total waktu pengerjaan job menggunakan
metode penugasan adalah sebagai berikut:
Tabel 3.13 Total Waktu Pengerjaan Metode Penugasan
Job Mesin Waktu (Menit)
1 M2 84
2 M4 81
3 M8 87
4 M1 76
5 M5 78
6 M3 74
7 M7 84
8 M6 87
Total 651
d. Metode Sequencing
Tabel di bawah merupakan data waktu proses pembuatan roti yang akan
diurutkan dengan menggunakan metode sequencing.
Tabel 3.14 Waktu Proses Metode Sequencing
Job Processing Time Due Date
1 93 91
2 109 108
3 81 77
4 107 104
5 74 78
6 116 115
7 96 94
8 98 95
9 109 107
10 107 105
Berdasarkan data di atas, akan dibuat pengurutan job menggunakan metode
sequencing dengan beberapa aturan prioritas sebagai berikut:
1) FCFS (First Come First Serve)
Tabel di bawah merupakan tabel yang berisi data waktu proses
pembuatan roti yang telah diurutkan dengan menggunakan aturan FCFS.
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 51
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
∑ 𝐹𝑙𝑜𝑤𝑡𝑖𝑚𝑒 5335
= = 533,5 ≈ 534 menit/𝐽𝑜𝑏
∑ 𝐽𝑜𝑏 10
b) Utilization
∑ 𝑃𝑟𝑜𝑐𝑒𝑠𝑠𝑖𝑛𝑔 𝑇𝑖𝑚𝑒 990
𝑥 100% = 𝑥 100% = 18,56%
∑ 𝐹𝑙𝑜𝑤𝑡𝑖𝑚𝑒 5335
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 52
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
∑ 𝐹𝑙𝑜𝑤𝑡𝑖𝑚𝑒 5097
= = 509,7 ≈ 510 menit/𝐽𝑜𝑏
∑ 𝐽𝑜𝑏 10
b) Utilization
∑ 𝑃𝑟𝑜𝑐𝑒𝑠𝑠𝑖𝑛𝑔 𝑇𝑖𝑚𝑒 990
𝑥 100% = 𝑥 100% = 19,42%
∑ 𝐹𝑙𝑜𝑤𝑡𝑖𝑚𝑒 5097
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 53
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
∑ 𝐹𝑙𝑜𝑤𝑡𝑖𝑚𝑒 5104
= = 510,4 ≈ 510 menit/𝐽𝑜𝑏
∑ 𝐽𝑜𝑏 10
b) Utilization
∑ 𝑃𝑟𝑜𝑐𝑒𝑠𝑠𝑖𝑛𝑔 𝑇𝑖𝑚𝑒 990
𝑥 100% = 𝑥 100% = 19,40%
∑ 𝐹𝑙𝑜𝑤𝑡𝑖𝑚𝑒 5104
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 54
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
∑ 𝐹𝑙𝑜𝑤𝑡𝑖𝑚𝑒 5379
= = 537,9 ≈ 538 menit/𝐽𝑜𝑏
∑ 𝐽𝑜𝑏 10
b) Utilization
∑ 𝑃𝑟𝑜𝑐𝑒𝑠𝑠𝑖𝑛𝑔 𝑇𝑖𝑚𝑒 990
𝑥 100% = 𝑥 100% = 18,40%
∑ 𝐹𝑙𝑜𝑤𝑡𝑖𝑚𝑒 5379
e. Software POM QM
1) Aturan Johnson
Tabel di bawah merupakan tabel yang berisi data proses pembuatan roti
di CV. Namirah yang akan diurutkan dengan menggunakan aturan
Johnson.
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 55
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 56
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 57
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
Hasil dari Gantt Chart tersebut dapat dilihat pada gambar 3.9.
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 58
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 59
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 60
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
BAB IV
PEMBAHASAN
a. Aturan Johnson
Aturan Johnson memiliki Batasan 3 mesin dengan jumlah pekerjaan
sebanyak 7 job maka diperoleh urutan pekerjaannya yaitu J5-J1-J3-J4-J6-
J7-J2. Selanjutnya, untuk melihat penggambaran visual beban kerja dan
mengetahui total makespan dan idle time digambarkan menggunakan gantt
chart. Berdasarkan penggambaran menggunakan gantt chart, diperoleh
waktu penyelesaian (makespan) sebesar 822 menit dan waktu menganggur
(idle time) sebesar 341 menit.
b. Metode Dannenbring
Metode Dannenbring adalah salah satu metode untuk menentukan urutan
penjadwalan yang optimal guna mengurangi makespan. Hasil dari
penggunaan metode ini adalah pengurutan job dimulai dari J4-J7-J8-J6-J1-
J5-J3-J2. Selanjutnya, untuk melihat penggambaran visual beban kerja dan
mengetahui total makespan dan idle time digambarkan menggunakan gantt
chart. Berdasarkan penggambaran menggunakan gantt chart, diperoleh
waktu penyelesaian (makespan) sebesar 1.343 menit dan waktu
menganggur (idle time) sebesar 2.246 menit.
c. Metode Penugasan
Dalam kasus ini metode penugasan digunakan untuk mencari waktu
minimum dengan jumlah pekerjaan sebanyak 8 job dan jumlah mesin
sebanyak 8 unit, maka maka dapat diketahui penugasan pada setiap mesin
untuk setiap job adalah M2-J1, M4-J2, M8-J3, M1-J4, M5-J5, M3-J6, M7-
J7, M6-J8. Dari urutan permesinan tersebut, maka dapat diketahui total
waktu penyelesaian adalah sebesar 651 menit.
d. Sequencing
Metode sequencing menggunakan aturan prioritas yaitu FCFS, SPT, LPT,
EDD dan CR. Dari aturan prioritas tersebut akan diperoleh average
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 61
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
completion time (rentang waktu antara awal pekerjaan pada tugas pertama
dan waktu ketika sebuah tugas diselesaikan), utilization (persentase
pendayagunaan sumber daya ), average number of job in system dan
average job lateness (keterlambatan job dikerjakan hingga batas waktu
penyerahannya kepada konsumen). Pada model pengurutan FCFS (First
Come First Serve), job diurutkan dari pekerjaan yang datang terlebih
dahulu. Diperoleh hasil pengurutan J1-J2-J3-J4-J5-J6-J7-J8-J9-J10 dan
diperoleh hasil average completion time, utilization, average number of job
in system dan average job lateness yaitu secara berturut-turut 534 menit/job,
18,56%, 5 jobs, dan 436 menit/job. Pada model pengurutan SPT (Shortest
Processing Time), job diurutkan dari pekerjaan yang memiiki waktu proses
yang terpendek untuk dikerjakan terlebih dahulu. Diperoleh hasil
pengurutan J5-J3-J1-J7-J8-J4-J10-J9-J2-J6 dan diperoleh hasil average
completion time, utilization, average number of job in system dan average
job lateness yaitu secara berturut-turut 510 menit/job, 19,42%, 5 jobs, dan
413 menit/job. Pada model pengurutan LPT (Longest Processing Time), job
diurutkan dari pekerjaan yang memiiki waktu proses yang terpanjang untuk
dikerjakan terlebih dahulu. Diperoleh hasil pengurutan J6-J2-J9-J10-J4-J8-
J7-J1-J3-J5 dan diperoleh hasil average completion time, utilization,
average number of job in system dan average job lateness yaitu secara
berturut-turut 580 menit/job, 17,09%, 6 jobs, dan 482 menit/job. Pada
model pengurutan EDD (Earliest Due Date), job diurutkan dari pekerjaan
yang memiiki due date yang terkecil untuk dikerjakan terlebih dahulu.
Diperoleh hasil pengurutan J3-J5-J1-J7-J8-J4-J10-J9-J2-J6 dan diperoleh
hasil average completion time, utilization, average number of job in system
dan average job lateness yaitu secara berturut-turut 510 menit/job, 19,40%,
5 jobs, dan 413 menit/job. Pada model pengurutan CR (Critical Ratio), job
diurutkan dari pekerjaan yang memiiki nilai critical ratio terkecil untuk
dikerjakan terlebih dahulu. Diperoleh hasil pengurutan J3-J8-J4-J1-J7-J10-
J9-J2-J6-J5dan diperoleh hasil average completion time, utilization,
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 62
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
average number of job in system dan average job lateness yaitu secara
berturut-turut 538 menit/job, 18,40%, 5 jobs, dan 441 menit/job.
Dari hasil perbandingan kelima metode di atas, dapat disimpulkan bahwa
metode SPT merupakan metode pengurutan yang paling optimal karena
menghasilkan average completion time paling singkat yaitu 510 menit/job,
tingkat utilitas paling tinggi yaitu sebesar 19,42%, average number of job
in system sebanyak 5 jobs dan average job lateness sebesar 213 menit/job.
Review Jurnal
Judul
Tahun
2019
Penulis
Tujuan Penelitian
Untuk meminimalkan makespan mesin yang tersusun secara seri dan penelitian
ini menghasilkan aplikasi yang dapat menjadwalkan produk yang akan
diproduksi oleh mesin secara otomastis.
Metode Penelitian
Metode yang digunakan yaitu metode Campbell, Dudek, and Smith (CDS)
Algorithm berdasarkan waktu kerja terkecil pada proses produksi.
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 63
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
Kesimpulan
Optimalisasi waktu produksi menggunakan algoritma Campbell Dudek dan
Smith (CDS) dapat mengoptimalkan waktu produksi karena algoritma CDS
menggunakan perhitungan perbandingan waktu proses pada setiap mesin di
perusahaan dengan memprioritaskan waktu pemrosesan terkecil untuk
penjadwalan dengan mengulangi 6 iterasi. Dari hasil perhitungan, diperoleh
nilai minimum makespan adalah 210,12 menit dengan urutan produk skillet 20
- skillet 18 - skillet 16 - skillet 14 - skillet 12.
Kekurangan
a. Tidak menjelaskan tujuan penelitian dan data yang digunakan.
b. Tidak menjelaskan sistem apa yang digunakan untuk membandingkan hasil
pengolahan data.
c. Pada bab pendahuluan menjelaskan mengenai SCM yang menurut saya
tidak perlu karena tidak berkaitan dengan CDS.
Kelebihan
Menjelaskan metode CDS dengan jelas menggunakan flowchart dan
memasukkan tabel hasil perhitungan.
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 64
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum pada modul 4 scheduling, dapat
disimpulkan beberapa hal, antara lain:
a. Metode penugasan dapat digunakan untuk menentukan alokasi pekerjaan
terhadap pusat-pusat kerja, mesin, tenaga kerja dan sumber daya yang ada.
Adapun urutan pekerjaan yang didapatkan adalah 2-J1, M4-J2, M8-J3, M1-
J4, M5-J5, M3-J6, M7-J7, M6-J8 dengan total waktu penyelesaian yaitu 651
menit.
b. Metode pengurutan pekerjaan menurut aturan pengambilan keputusan
antara lain:
1) FCFS (First Come First Serve) yaitu pekerjaan yang datang di sebuah
pusat kerja akan diproses terlebih dahulu. Hasil average completion time,
utilization, average number of job in system dan average job lateness
yaitu secara berturut-turut 534 menit/job, 18,56%, 5 jobs, dan 436
menit/job.
2) SPT (Shortest Processing Time) yaitu pekerjaan yang memiliki waktu
proses terpendek akan diproses terlebih dahulu. Hasil average
completion time, utilization, average number of job in system dan
average job lateness yaitu secara berturut-turut 510 menit/job, 19,42%,
5 jobs, dan 413 menit/job.
3) LPT (Longest Processing Time) yaitu pekerjaan yang memiliki waktu
proses terpanjang akan diproses terlebih dahulu. Hasil average
completion time, utilization, average number of job in system dan
average job lateness yaitu secara berturut-turut 580 menit/job, 17,09%,
6 jobs, dan 482 menit/job.
4) EDD (Earliest Due Date) yaitu pekerjaan dengan due date yang terkecil
akan diproses terlebih dahulu. Hasil average completion time, utilization,
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 65
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
average number of job in system dan average job lateness yaitu secara
berturut-turut 510 menit/job, 19,40%, 5 jobs, dan 413 menit/job.
5) CR (Critical Ratio) yaitu pekerjaan dengan nilai critical ratio terkecil
akan diproses terlebih dahulu. Hasil average completion time, utilization,
average number of job in system dan average job lateness yaitu secara
berturut-turut 538 menit/job, 18,40%, 5 jobs, dan 441 menit/job.
c. Perhitungan makespan dapat dilakukan dengan beberapa metode seperti
metode SPT, LPT, dan EDD. Pada model pengurutan SPT (Shortest
Processing Time), job diurutkan dari pekerjaan yang memiiki waktu proses
yang terpendek untuk dikerjakan terlebih dahulu. Model pengurutan LPT
(Longest Processing Time), job diurutkan dari pekerjaan yang memiiki
waktu proses yang terpanjang untuk dikerjakan terlebih dahulu. Pada model
pengurutan EDD (Earliest Due Date), job diurutkan dari pekerjaan yang
memiiki due date yang terkecil untuk dikerjakan terlebih dahulu.
d. Aturan Johnson adalah salah satu metode penjadwalan yang bertujuan untuk
menemukan urutan yang optimal dalam pekerjaan guna mengurangi
makespan. Adapun urutan pekerjaan yang didapatkan dengan menggunakan
aturan Johnson adalah J5-J1-J3-J4-J6-J7-J2, dengan total waktu
penyelesaian (makespan) 822 menit dan waktu menganggur (idle time) 341
menit.
5.2 Saran
a. Saran untuk Laboratorium
Saran saya untuk laboratorium adalah agar memperbaiki AC agar airnya
tidak tumpah dan menjaga kebersihan laboratorium.
b. Saran untuk Asisten
1) Sesario Oktobianra
Agar tetap semangat dalam menghadapi praktikan dan menjelaskan
materi kepada praktikan.
2) Try Nurul Istiqa
Agar tetap menjaga keramahan kepada praktikan.
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 66
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
DAFTAR PUSTAKA
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 67
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 68
LABORATORIUM SISTEM MANUFAKTUR
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
SCHEDULING
NAMIRAH MAULIDINA / D221 16 501 69