0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
941 tayangan27 halaman

Praktikum RJP dan Penanganan Choking

Dokumen tersebut membahas tentang praktikum Resusitasi Jantung dan Paru (RJP) serta tersedak (choking) yang meliputi penjelasan tentang definisi RJP, langkah-langkah pemberian bantuan nafas dan sirkulasi, serta penanganan terhadap tersedak.

Diunggah oleh

Gazza ayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
941 tayangan27 halaman

Praktikum RJP dan Penanganan Choking

Dokumen tersebut membahas tentang praktikum Resusitasi Jantung dan Paru (RJP) serta tersedak (choking) yang meliputi penjelasan tentang definisi RJP, langkah-langkah pemberian bantuan nafas dan sirkulasi, serta penanganan terhadap tersedak.

Diunggah oleh

Gazza ayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

RESUSITASI JANTUNG DAN PARU (RJP) DAN CHOKING

OLEH:

1 ANASTASIA MARIA NIKEN (0516040030)


2 MAY ZELA SETYONING TIAS (0516040041)
3 RIZKA NOOR RACHMASARI (0516040044)
4 AGUSTIN RAHMATYA BASUKI (0516040045)

TEKNIK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA


POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA
2018
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kasus kegawatdaruratan henti jantung merupakan suatu kondisi
dimana jantung kehilangan fungsi secara mendadak dan sangat tiba-tiba
ditandai dengan terjadinya henti nafas dan jantung. Kondisi kegawatdaruratan
dapat terjadi dimana saja dan pada siapa saja dan merupakan kondisi
kegawatdaruratan yang dapat mengancam jiwa yang membutuhkan
penanganan segera.
Di Indonesia, menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS)
yang dilakukan oleh Balitbangkes pada tahun 2013 menunjukkan bahwa
prevalensi nasional penyakit jantung koroner sebesar 1,5%, sedangkan
prevalensi untuk kejadian henti jantung mendadak belum didapatkan. Namun
hasil Riset Kesehatan Dasar (2007) menunjukkan data bahwa kematian yang
disebabkan oleh penyakit jantung mendapatkan porsi 4,6% dari 4.552
mortalitas dalam 3 tahun. Sedangkan data yang diperoleh dari WHO pada
tahun 2002 di Indonesia sudah terjadi 220 372 kasus kematian yang
disebabkan oleh penyakit jantung (WHO, 2014: 1).
Untuk mengurangi angka kematian akibat henti jantung, maka
dibutuhkan penatalaksanaan yang tepat dalam penanganan penderita henti
jantung. Salah satu penanganan yang dikembangkan adalah Resusitasi Jantung
Paru (RJP). Hingga saat ini RJP merupakan penatalaksanaan yang sangat vital
dalam kasus henti jantung. Sebagai calon ahli K3, perlu dipahami bagaimana
tahapan dalam melakukan tindakan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan
(P3K) yang benar dan tanggap. Oleh karena itu, perlu dilaksanakan
praktikum pertolongan pertama pada kecelakaan yang meliputi penilaian
penderita (Primary Assessment), Resusitasi Jantung Paru (RJP), dan tersedak
(chocking) agar dapat di pahami prosedur tindakan P3K yang benar.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana cara memperoleh gambaran umum tentang apa yang
dihadapi, fakyot-faktor yang mendukung dan menghambat serta
menilai bahaya-bahaya lain yang dapat terjadi terhadap penderita,
penolong, maupun orang-orang yang disekitarnya?
2. Bagaimana cara menilai tanda vital kehidupan dan memeriksan fisik
penderita?
3. Bagaimana kesimpulan yang didapat setelah melakukan penilaian
terhadap penderita?
1.3 Tujuan
a. Tujun Umum
Mahasiswa diharapkan dapat mengaplikasikan teori Pertolongan Pertama
Pada Kecelakaan (P3K)
b. Tujuan Khusus
1. Mahasiswa mengetahui tanda-tanda kehidupan dan tanda-tanda
kematian
2. Mahasiswa mampu memberikan bantuan nafas
3. Mahasiswa mampu memberikan bantuan nafas dan pijatan jantung
BAB 2

DASAR TEORI

2.1 Definisi Resusitasi Jantung dan Paru (RJP)


Resusitasi Jantung Paru (RJP) adalah serangkaian tindakan
penyelamatan jiwa untuk meningkatkan kemungkinan bertahan hidup dari
korban yang mengalami henti jantung. Inti dari RJP yang optimal adalah
bagaimana cara memberikan RJP sedini mungkin dan seefektif mungkin, oleh
karena itu pada bahasan ini akan dijelaskan mengenai bagaimana cara
mengenali korban henti jantung sedini mungkin hingga bagaimana cara
menanganinya. dengan Bantuan Hidup Dasar (BHD). Cardio Pulmonary
Resusitation (CPR) atau yang biasa disebut Resusitasi Jantung Paru (RJP) adalah
sekumpulan intervensi yang bertujuan untuk mengembalikan dan
mempertahankan fungsi vital organ pada korban henti jantung dan henti nafas.
Intervensi ini terdiri dari pemberian kompresi dada dan bantuan nafas
(Hardisman, 2014 dalam Ngirarung, 2017). Bantuan Hidup Dasar dalam hal ini
yaitu tindakan Resusitasi Jantung Paru (RJP) merupakan penentu penting dalam
kelangsungan hidup korban henti jantung. Hal ini berarti membutuhkan
peningkatan jumlah bystander BHD di lingkungan masyarakat (AHA, 2010
dalam Ngirarung, 2017).

2.2 Bantuan Nafas


Jika penderita henti nafas, tetapi nadi masih terdeteksi, maka penolong
memberikan bantuan nafas saja. Kandungan oksigen di udara bebas kurang
lebih 21%. Proses bernafas manusia hanya memanfaatkan sekitar 5% saja,
yang berarti udara yang kita keluarkan masih mengandung sebanyak kira-kira
16% oksigen. Udara ini dapat diberikan kepada penderita yang mengalami
henti nafas sampai ada sumber oksigen yang lebih tinggi kandungannya.
Pemberian nafas bantuan tetap harus diawali penilaian penderita:
1. Penilaian penderita termasuk pembukaan jalan nafas penderita
2. Pemberian 2x bantuan nafas untuk melihat apakah ada sumbatan dalam
jalan nafas
3. Jika nafas yang diberikan menghembus balik ke penolong, maka diduga
ada sumbatan. Jika benda yang menyumbat jalan nafas terlihat, gunakan
sapuan jari. Tetapi jika tidak terlihat, gunakan Heimlich Manuefer.
4. Apabila benda penyumbat sudah keluar, maka beri bantuan nafas 10-12
kali nafas (dewasa)
5. Lakukan terus sampai muncul nafas normal

2.3 Bantuan Sirkulasi (Circulation Support)


Bantuan sirkulasi diberikan kepada penderita dengan henti nadi.
Biasanya henti nadi diikuti dengan henti nafas, sehingga pijatan jantung
disertai dengan bantuan nafas. Cara untuk melakukan pijatan dada adalah
sebagai berikut:
1. Posisikan penderita berbaring telentang di atas dasar yang keras,
misalnya lantai. Jangan di atsa kasur/busa.
2. Bebaskan pakaian penderita di sekitar dada.
3. Posisikan diri penolong pada salah satu sisi penderita. Upayakan
senyaman mungkin. Kedua lutut penolong dibuka kira-kira selebar
bahu penolong.
4. Raba lengkung rusuk paling bawah. Tentukan pertemuan lengkung iga
kiri dan kanan.
5. Tentukan titik pijatan dari pertemuan kedua rusuk tersebut diukur 2
jari ke atas pada garis tengah tulang dada.
6. Posisikan tangan penolong pada titik pijatan. Bagian yang menekan
adalah tumit tangan. Tangan penolong yang bebas diletakkan di atas
tangan satunya untuk penopang.
7. Posisikan bahu penolong tegak lurus dengan tangan yang menekan.
8. Lakukan Pijatan Jantung Luar (PJL) atau Resusitasi Jantung dan Paru
(RJP). Jaga agar posisi tangan tetap
9. lurus, berikan tekanan yang sesuai kekuatan dan kedalamannya
dengan keadaan penderita.
10. Periksa nadi setiap menit. Lanjutkan terus tanpa berhenti, sampai
munculnya tanda-tanda kehidupan, atau adanya tanda-tanda kematian
biologis, atau penolong kecapekan, atau bantuan ahli tiba.

2.4 Langkah-Langkah RJP oleh 1 Orang Penolong


Gambar 2.1 Langkah RJP satu penolong
(Sumber: American Health Association, 2015)

2.5 Langkah-Langkah RJP oleh 2 Orang Penolong


Gambar 2.2 Langkah RJP dua penolong
(Sumber: American Health Association, 2015)

2.6 Definisi Tersedak (Choking)


Tersedak adalah sumbatan pada saluran pernapasan karena adanya
benda asing atau penyebab lainnya. Adapun penyebab tersedak antara lain:
 Ketika makanan tidak dikunyah sempurna
 Makan sambil berbicara atau tertawa
 Pembengkakan saluran pernafasan

2.7 Tanda dan Gejala Tersedak


Korban yang tersedak biasanya akan memperlihatkan perilaku sulit bicara,
mata melotot, wajah kemerahan, dan lama-kelamaan akan menghitam, tiba-
tiba terlihat seperti mencekik lehernya sendiri, napas berbunyi seperti orang
mendengkur, batuk-batuk, napas tersengal atau sulit bernapas, lemas, dan bisa
berakhir tidak sadarkan diri.

2.8 Macam-Macam Penanganan Tersedak (Choking)


A. Tepukan di Punggung (Back Blow)
1. Berdiri di belakang korban dan sedikit bergeser kesamping
2. Miringkan korban sedikit ke depan dan sangga dada korban
dengan salah satu tangan
3. Berikan lima kali tepukan di punggung bagian atas di antara
tulang belikat menggunakan tangan bagian bawah
B. Hentakan Pada Perut (Manuver Heimlich)
1 Miringkan korban sedikit ke depan dan berdiri di belakang
korban dan letakkan salah satu kaki di sela kedua kaki korban.
2 Buat kepalan pada satu tangan dengan tangan lain
menggenggam kepalan tangan tersebut. Lingkarkan tubuh
korban dengan kedua lengan kita.
3 Letakkan kepalan tangan pada garis tengah tubuh korban tepat
di bawah tulang dada atau di ulu hati.
4 Buat gerakan ke dalam dan ke atas secara cepat dan kuat untuk
membantu korban membatukkan benda yang menyumbat
saluran napasnya. Manuver ini terus diulang hingga korban
dapat kembali bernapas atau hingga korban kehilangan
kesadaran

Gambar 2.3 Hentakan Pada Perut (Manuver Heimlich)


(Sumber: Modul Bantuan Hidup Dasar dan Penanganan Tersedak,
2015)

Jika korban kehilangan kesadaran, baringkan korban secara


perlahan sehingga posisinya terlentang dan mulai lakukan RJP.
Setiap saluran napas dibuka saat RJP, penyelamat harus
memeriksa apakah terdapat benda asing pada mulut korban dan
mengambilnya apabila menemukannya.
C. Hentakan Pada Dada (Chest Thrust) untuk Ibu Hamil / Orang yang
Obesitas
1 Letakkan tangan di bawah ketiak korban
2 Lingkari dada korban dengan lengan kita
3 Letakkan bagian ibu jari pada kepalan di tengah-tengah tulang
dada korban (sama seperti tempat melakukan penekanan dada
pada RJP)
4 Genggam kepalan tangan tersebut dengan tangan satunya dan
hentakan ke dalam dan ke atas

Gambar 2.4 Chest Trust pada Ibu Hamil


(Sumber: Modul Bantuan Hidup Dasar dan Penanganan Tersedak,
2015)

D. Tepukan Punggung dan Hentakan Dada pada Bayi


1. Posisikan bayi menelungkup seperti pada gambar disamping dan
lakukan tepukan di punggung dengan menggunakan pangkal
telapak tangan sebanyak lima kali.
2. Kemudian, dari posisi menelungkup, telapak tangan kita yang
bebas menopang bagian belakang kepala bayi sehingga bayi berada
di antara kedua tangan kita (tangan satu menopang bagian belakang
kepala bayi, dan satunya menopang mulut dan wajah bayi).
Gambar 2.5 Posisi Menelungkup
(Sumber: Modul Bantuan Hidup Dasar dan Penanganan Tersedak,
2015)

3. Lalu, balikan bayi sehingga bayi berada pada posisi menengadah


dengan telapak tangan yang berada di atas paha menopang
belakang kepala bayi dan tangan lainnya bebas.
4. Lakukan manuver hentakan pada dada sebanyak lima kali dengan
menggunakan jari tengah dan telunjuk tangan yang bebas di tempat
yang sama dilakukan penekanan dada saat RJP pada bayi
5. Jika korban menjadi tidak sadar, lakukan RJP

Gambar 2.6 RJP pada Bayi


(Sumber: Modul Bantuan Hidup Dasar dan Penanganan Tersedak,
2015)
BAB 3

LANGKAH PRAKTIKUM

3.1 Peralatan
1. Jam tangan dengan penunjuk detik yang jelas atau stop watch
2. Sarung tangan
3. Alkohol
4. Kapas
5. Senter kecil
6. Stetoskop
7. Tensimeter/stigmanometer (pengukur tekanan darah)
8. Alat tulis untuk mencatat
9. Termometer badan
10. Satu set boneka RJP

3.2 Langkah Percobaan


3.2.1 RJP
1. Posisikan penderita berbaring telentang di atas dasar yang keras,
misalnya lantai. Jangan di atsa kasur/busa.
2. Bebaskan pakaian penderita di sekitar dada.
3. Posisikan diri penolong pada salah satu sisi penderita. Upayakan
senyaman mungkin. Kedua lutut penolong dibuka kira-kira selebar
bahu penolong.
4. Raba lengkung rusuk paling bawah. Tentukan pertemuan lengkung
iga kiri dan kanan.
5. Tentukan titik pijatan dari pertemuan kedua rusuk tersebut diukur 2
jari ke atas pada garis tengah tulang dada.
6. Posisikan tangan penolong pada titik pijatan. Bagian yang menekan
adalah tumit tangan. Tangan penolong yang bebas diletakkan di atas
tangan satunya untuk penopang.
7. Posisikan bahu penolong tegak lurus dengan tangan yang menekan.
8. Lakukan Pijatan Jantung Luar (PJL) atau Resusitasi Jantung dan
Paru (RJP). Jaga agar posisi tangan tetap lurus, berikan tekanan
yang sesuai kekuatan dan kedalamannya dengan keadaan penderita.
9. Periksa nadi setiap menit. Lanjutkan terus tanpa berhenti, sampai
munculnya tanda-tanda kehidupan, atau adanya tanda-tanda
kematian biologis, atau penolong kecapekan, atau bantuan ahli tiba.

3.1.2 Choking
 Penderita ada respon
1. Penolong berdiri di belakang penderita. Posisikan tangan
penolong memeluk diatas perut penderita melalui ketiak
penderita.
2. Sisi genggaman tangan penolong diletakkan diatas perut
penderitatepat pada pertengahan antar pusar dan batas
pertemuan iga kiri dan kanan.
3. Letakkan tangan yang lainnya diatas genggaman pertama, lalu
hentakkan tangan penolong ke arah belakang dan atas, posisi
kedua siku penolong kearah luar. Lakukan hentakan sambil
meminta penderita untuk memuntahkan.
4. Lakukan berulang-ulang sampai berhasil atau penderita menjadi
tidak respon.
 Penderita tidak ada respon
1. Baringkan penderita dalam posisi terlentang
2. Berjongkoklah diatas paha penderita dan tempatkan tumit
tangan sedikit di atas pusat tepat pada garis tengah antara pusat
dan pertemuan rusuk kiri dan kanan.
3. Lakukan lima kali hentakan perut ke atas
4. Periksa mulut penderita dan lakukan sapuan jari. Bila perlu
dapat dilakukan penarikan rahang kebawah.
5. Bila belum berhasil lakukan kembali langkah 2 sampai 4
berulang-ulang sampai jalan nafas terbuka.
BAB 4

HASIL PRAKTIKUM

4.1 Analisa dan Pembahasan


1. Hasil Praktikum 1
Formulir Tindakan

Nama : Tina
Umur : 20 Tahun
Nama Ketua : Anastasia Niken
Informasi Masuk : Jam 11.20
Waktu Kejadian : Jam 11.15
Tiba dilokasi : Jam 11.25
Jenis Kejadian : Medis
Keadaan Pasien : Pingsan
Respon
 Awas : -
 Suara : -
 Nyeri : -
 Tidak respon : √
Nafas :-
Nadi :-
Suhu : Dingin
Riwayat Pasien
a. Keluhan : Nyeri dada
b. Obat :-
c. Makanan/Minuman : Nasi pecel dan Air putih
d. Penyakit : Asma
e. Alergi :-
f. Kejadian : Seorang siswa SMA bernama Tina (20
tahun) saat itu sedang berada di lab kimia untuk menyelesaikan
praktikumnya. Tiba-tiba korban merasakan sesak nafas dan
korban terjatuh dan kemudian pingsan.

Penjelasan Tindakan:
Mengecek nadi karotis korban, nadi karotis korban tidak ada sehingga
dilakukan Resusitasi Jantung Paru 1 siklus, memeriksa airway, melakukan
breathing, terus mengontrol CAB.
Tanda Vital / Pemeriksaan Berkala
Jam Nafas Nadi Kullit Suhu KET
11.30 10 x/menit 59x/menit Hangat 36oC
11.33 10x/menit 60x/menit Hangat 37 oC
11.36 12x/menit 61x/menit Hangat 37 oC

Rujukan: Rumah Sakit

Pembahasan
1. Penilaian Korban
Pada saat kecelakaan terjdi, korban masih berada di tempat
kecelakaan dengn dikrumuni banyak orang. Penolong menyarankan agar
orang disekitar memberikan ruang bagi korbaan. Penolong meminta
bantuan pada orang sekitar untuk menelepon ambulan. Selanjutnya
penolong memperkenalkan diri kepada korban dan orang sekitar sebagai
penolong.
2. Penilaian Dini
 Kesan Umum :
Pada saat ditemukan, korban telah pingsan. Menurut orang-orang
disekitar korban yang melihat korban, korban mengalami sesak
nafas lalu pingsan. Untuk sementara, penolong menyimpulkan
bahwa korban mengalami kasus medis karena terlihat dari riwayat
korban sebelumnya bahw korban memiliki sakit asma.
 Respon :
Untuk memastikan respon korban, penolong menggerakkan tangn
diatas wajah korban sebagai respon awas tetapi korban tidak respon.
Selanjutnya, peolong mengguncang bahu korban dan memanggil
korban tetapi korban tidak ada respon dari korban. Lalu penolong
mencubit lengan atas bagian dalam korban tetapi korban tetap tidak
merespon, sehingga penolong menyimpullkan bahwa korban tidak
respon.
Penolong melakukan langkah CAB (Circulation, Airway,
Breathing) . penlong memeriksa nadi karotis korban, ternyata nadi
karotis korban tidak ada. Untuk menyelamatkan korban, penolong
melakukan resusitasi jantung paru (RJP) pada korban. RJP dilakukan
selama 1 siklus dengan perbandingan 30:2x5 kali. Setelah RJP 1 siklus
dilakukan, penolonng mengecek nadi karotis korban dan ternyata nadi
karotiis korban sudah ada sehingga penolong dapat melakukan
pemeriksaan jalan nafas (airway). Penolong menduga bahwa tidak ada
cidera pada korban sehingga penolong memeriksa airway korban dengan
head tilt chin lift. Pada airway korban tidak ditemukan benda asing di
dlam mulut korban sehingga penolong melakukan breathing. Penolong
melakukan breathing pada korban dengan cara LDR (lihat, dengar,
rasakan), ternyata nafas korban ada maka selanjutnya penolong dapat
memonitor CAB pada korban sampai bantuan medis datang.
3. Pemeriksaan Fisik
Pemolong melakukan pemeriksaan fisik pada korban mulai dari
kepala sampai ujung kaki. Pada saaat pemeriksaan fisik, korban
mengeluh dada nyeri, setelah itu penolong melakukan pemeriksaan pada
tanda vital korban.
4. Riwayat Penderita
Pada tahap ini, penolong mencari informasi sebanyak-banyaknya
tentang korban dengan tujuan untuk mengetahui penyebab suatu
kejadian yang dialami oleh korban. Berkut ini hasil dari pencarian
riwayat penderita:
a. Keluhan : Nyeri dada
b. Obat :-
c. Makanan/Minuman : Nasi pecel dan Air putih
d. Penyakit : Asma
e. Alergi :-
f. Kejadian : Seorang siswa SMA bernama Tina (20
tahun) saat itu sedang berada di lab kimia untuk menyelesaikan
praktikumnya. Tiba-tiba korban merasakan sesak nafas dan
korban terjatuh dan kemudian pingsan.
5. Pemeriksaan Berkala/Lanjut
Penolong meakukan pemeriksaan berkala pada korban dengan
memeriksa tanda vital korban mulai dari nafas, nadi, kulit, dan suhu.
Berikut adalah pemeriksaan tanda vital korban:
Tanda Vital / Pemeriksaan Berkala
Jam Nafas Nadi Kullit Suhu KET
o
11.30 10 x/menit 59x/menit Hangat 36 C
11.33 10x/menit 60x/menit Hangat 37 oC
11.36 12x/menit 61x/menit Hangat 37 oC

6. Pelaporan
Pada tahap ini penolong melaporkan secara singkat dan jelas
kepada penolong selanjutnya tentang tindakan yang telah dilakukan
pada korban dan kondisi korban. Pada kasus ini korban telah ditangani
dengan Resusitasi Jantung Paru 1 siklus, memeriksa airway, melakukan
breathing, terus mengontrol CA sehingga korban telah sadar kembali.
2. Hasil Praktikum 2
Formulir Tindakan

Nama : Rahma Nuzula


Umur : 21 Tahun (W)
Informasi masuk : 15.00 WIB
Waktu Kejadian : 14.45 WIB
Tiba di lokasi : 15.10 WIB
Jenis kejadian : Trauma
Keadaan pasien : Pingsan dan shock
Penilaian Dini
a. Respon : Tidak respon
b. Nafas : lemah 5 x/menit
c. Nadi : Tidak ada
d. Suhu : Dingin/lembab berkeringat
Riwayat Pasien :
a. Keluhan :-
b. Obat :-
c. Makanan/minuman :-
d. Penyakit :-
e. Alergi :-
f. Kejadian : mata penderita terkena kerak las yang
masih panas yang menyebabkan buram, keluar dari poliklinik yang
berada di lantai 2 ternyata terpeleset dan jatuh berguling-guling.

Penjelasan Tindakan :
Melakukan pemeriksaan dini lalu melakukan RJP 1 siklus, pemeriksaan
airway/jalan nafas, pemeriksaan breathing/pernapasan. Lalu dilakukan
control C-A-B sampai pertolongan ambulance dating.

Rujukan : Rumah sakit


Tanda-tanda vital Berkala
Nafas Nadi
Jam Kulit Suhu (0C) KET
(kali/menit) (kali/menit)

15.18 12 65 Hangat 35

15.23 11 67 Hangat 34

15.38 12 70 Hangat 33

15.43 11 66 Hangat 35
Pembahasan
1. Penilaian Keadaan
Pada saat penolong tiba dilokasi, pasien masih berada pada lokasi
kejadian dalam keadaan pingsan dan terdapat luka berdarah pada pelipis
kanan. Korban dikerumuni oleh banyak orang dan penolong memberikan
instruksi untuk memberikan ruang yang cukup. Penolong meminta
bantuan kepada salah seorang dilokasi supaya menghubungi ambulance.
Kemudian penolong memperkenalkan diri kepada orang yang
disana/saksi dan korban bahwa penolong dapat melakukan pertolongan
pertama
2. Penilaian Dini
Penolong menetapkan bahwa kasus ini termasuk ke dalam kasus
trauma. Kemudian penolong melakukan penilaian respon, mulai dari
respon awas dengan menggerakkan tangan di atas mata penderita, dan
tidak ada respon. Lalu menepuk bahu korban dengan berteriak “Apakah
mbak mendengar suara saya” sebagai respon suara, tetapi juga tidak ada
respon. Kemudian diberikan cubitan di lengan kiri atas bagian dalam
untuk memberikan respon nyeri, tetapi juga tetap tidak respon. Penolong
menetapkan penderita tidak respon. Kemudian penolong memeriksan C
pada nadi karotis penderita, ternyata nadi tidak berdenyut, lalu penolong
melakukan RJP 1 siklus. Setelah memberi RJP 1 siklus penolong
mengecek lagi nadi karotis penderita ternyata sudah berdenyut, lalu
dilanjutkan dengan memeriksa A. karena tidak ada dugaan penderita
mengalami cedera kepala maupun leher maka pemeriksaan A dilakukan
dengan headtilt-chinlift. Setelah dilakukan pemeriksaan A, ternyata A
penderita terbuka. Kemudian dilakukan pemeriksaan B dengan cara
LDR (Lihat, dengan, Rasakan). Dan B juga sudah berjalan, kemudian
penolong melakukan monitoring C-A-B pada penderita sampai
ambulance datang.
3. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan mulai dari ujung kepala hingga ujung
kaki. Ditemukan L (luka terbuka), N (nyeri tekan), dan B (bengkak).
Kemudian dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital. Denyut nadi,
pernapasan, tekanan darah, dan suhu tubuh mendekati normal.
4. Riwayat Penderita
Kejadian yang dialami penderita adalah ketika penderita menuruni
tangga dengan mata buram dan tidak berpegangan kemudian tetiba
terpeleset jatuh kebawah dengan berguling-guling.
5. Evaluasi Ulang Kondisi Korban
Penolong memastikan tidak ada tindakan pertolongan pertama
yang terlewatkan
6. Pelaporan
Dilaporkan bahwa telah dilakukan tindakan pertolongan pertama
dengan RJP 1 siklus, pemeriksaan airway dan breathing serta control C-
A-B dan pemeriksaan tanda vital berkala sampai ambulance dating.

3. Hasil Praktikum 3
Formulir Tindakan

Nama : Jubaedah
Umur : 20 Tahun (W)
Waktu Kejadian : 09.45 WIB
Tiba di lokasi : 09.50 WIB
Jenis kejadian : Trauma
Keadaan pasien : Tidak sadar
Penilaian Dini :
a. Respon : Tidak respon
b. Nafas : Tidak ada
c. Nadi : Tidak ada
d. Suhu : Dingin/lembab berkeringat
Riwayat Pasien :
a. Keluhan : Pusing, mata berkunang-kunang
b. Obat :-
c. Makanan/minuman : Ayam kremes dan es teh
d. Penyakit : Tekanan darah rendah
e. Alergi :-
f. Kejadian : Mahasiswa berjalan menuruni tangga
kemudian merasa pusing dan lemah serta mata berkunang-kunang.
Kemudian kaki kanan terkilir dan penderita terjatuh dari tangga.
Pergelangan tangan kanan terkilir dan kepalanya terbentur.

Penjelasan Tindakan :
Mengamankan lokasi kejadian, mengendorkan aksesoris dan baju agar
sirkulasi darah lancer, menghubungi poliklinik, memastikan Ismi
mendapatkan udara yag cukup

Rujukan : Rumah sakit

Tanda vital Berkala :


Nafas Nadi
Jam Kulit Suhu (0C) KET
(kali/menit) (kali/menit)
10.15 10 50 Hangat 34

10.33 11 57 Hangat 34

10.58 11 60 Hangat 35

Pembahasan
Dalam melakukan pertolongan pertama pada penderita, perlu
dilakukan hal-hal berikut:
1. Penilaian Keadaan
Saat menemui kasus kecelakaan, sebaiknya sebelum melakukan
pertolongan pertama perlu dilakukan pengecekan kondisi di sekitar
korban. Korban tidak boleh dikerumuni banyak orang agar sirkulasi
udara di sekitar korban dalam keadaan cukup. Namun perlu dipastikan
bahwa ada saksi mata agar penolong tidak diurigai sebagai seseorang
yang dapat mengancam kesehatan korban atau dapat mencelakai korban.
Setelah itu penolong meminta bantuan kepada orang disekitar yang
sekiranya dapat membawa korban ke rumah sakit atau dapat
menghubungi Rumah Sakit atau Poliklinik terdekat agar korban bisa
mendapatkan pertolongan medis. Sebelum melakukan pertolongan
pertama. Penolong harus memperkenalkan diri pada saksi atau korban
(jika korban sadar) bahwa penolong dapat melakukan pertolongan
pertama.
2. Penilaian Dini
Setelah melakukan penilaian keadaan, penolong perlu melakukan
penilaian dini. Dalam kasus ini, korban (Ismi, 20tahun) mengalami kasus
trauma. Setelah menentukan kasus, perlu dilakukan pengecekan respons
pada korban. Pengecekan pertama adalah respons awas, dalam kasus ini
korban tidak sadarkan diri sehingga perlu dilakukan pengecekan respon
suara, namun korban masih tidak memberikan respon. Oleh sebab itu
dilakukan pengecekan respon nyeri dengan memberikan rangsangan
berupa cubitan di area lengan atas bagian dalam, namun dalam kasus ini
korban tidak memberikan respon apapun. Maka, korban masuk kedalam
kategori tidak ada respon.
Setelah itu perlu dilakukan tindakan pengecekan terhadap
peredaran darah (circulation) dengan cara menyentuh leher bagian kiri
atas dan merasakan denyut nadi karotisnya. Dalam kasus ini denyut nadi
karotis korban tidak dapat dirasakan sehingga perlu dilakukan Resusitasi
Jantung Paru-paru (RJP).
Resusitasi jantung paru-paru dapat dilakukan dengan cara berlutut
disamping korban, tungkai tangan kiri menekan 2 jari dari tulang
pertemuan tulang rusuk kanan dan kiri korban, kemudian tangan kanan
menggenggam tangan kiri dari sela-sela jari. Kemudian dilakukan
pemijatan sebanyak 30 kali, dan diberikan nafas buatan sebanyak 2 kali
dengan durasi tidak lebih dari 5 detik. Dalam satu siklus dilakukan
pemijatan sebanyak 30 x 5 kali dan setiap 30 pijatan diberikan bantuan
nafas sebanyak 2 kali dalam rentang waktu maksimal 5 detik. Setelah
satu siklus RJP perlu dilakukan pengecekan nenyut nadi karotis. Dalam
kasus ini setelah dilakukan satu siklus RJP denyut nadi karotis korban
dapat dirasakan. Sehingga langkah dapat dilanjutkan dengan
pemeriksaan jalan napas (airway).
Pemeriksaan jalan nafas korban dapat dilakukan dengan jaw thrust
maneuver karena terdapat cedera kepala pada tubuh korban. Dalam
kasus ini, airway korban dalam keadaan baik dan tidak ada sumbatan.
Maka, tidak perlu dilakukan Heimlich Manuever serta teknik sapuan jari.
Setelah itu, dilakukan pemeriksaan nafas korban (breathing)
dengan cara meletakkan pipi penolong dekat dengan bagian antara
hidung dan mulut korban, kepala penolong dimiringkan ke kanan untuk
dapat melihat pergerakan rongga dada korban, serta menyentuh dada
korban untuk memastikan bahwa korban bernafas. Dalam kasus ini
korban tidak bernafas sehingga perlu diberikan bantuan nafas sebanyak
24 kali dalam 2 menit dan dalam periode tidak lebih dari 5 detik. Dalam
kasus ini korban telah bernafas setelah diberikan bantuan pernafasan.
Selanjutnya penolong memantau kembali denyut karotis dan pernafasan
korban. Apabila sudah berangsur stabil maka dapat dilanjutkan ke
langkah selanjutnya yaitu pemeriksaan fisik.
3. Pemeriksaan Fisik
Setelah memeriksa sirkulasi darah, jalan nafas, dan pernafasan
korban perlu dilakukan pemeriksaan kondisi fisik korban dengan cara
memeriksa perubahan bentuk tubuh korban. Dalam kasus ini tidak ada
perubahan bentuk tubuh korban. Maka langkah dilanjutkan dengan
melakukan pemeriksaan luka terbuka pada tubuh korban. Dalam kasus
ini tidak terdapat luka terbuka pada tubuh korban. Setelah itu dilakukan
pemeriksaan nyeri tekan. Dalam kasus ini korban merasakan nyeri saat
pergelangan kaki kanan dan pergelangan tangan kanannya diberikan
tekanan. Setelah itu dilakukan pemeriksaan fisik terakhir yaitu bengkak,
namun dalam kasus ini tidak terdapat bagian tubuh yang bengkak.
Langkah berikutnya adalah melakukan pengecekan tanda-tanda
vital. Dalam kasus ini penolong tidak melakukan pengukuran tekanan
darah. Namun penolong melakukan pemeriksaan denyut nadi korban,
denyut nadi korban adalah 50 kali/menit. Maka dapat dikatakan bahwa
denyut nadi korban lemah. Setelah itu dilakukan pemeriksaan pernafasan
korban, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa frekuensi pernafasan
korban adalah 10 kali/menit dan termasuk kedalam frekuensi lemah.
Selanjutnya pemeriksaan suhu tubuh korban, hasil pemeriksaan
menunjukkan bahwa suhu korban adalah 34 C.
4. Riwayat Penyakit
Pemeriksaan riwayat penyakit dapat dilakukan dengan menanyai
korban apabila korban sadar atau dapat ditanyakan pada teman atau
orang terdekat yang mengetahui kondisi korban. Dalam kasus ini
penolong menanyakan kepada teman korban yang saat itu ada di tempat
korban terjatuh. Dari hasil wawancara dengan teman korban didapatkan
keterangan bahwa korban mengeluh pusing saat menuruni tangga.
Korban tidak mengonsumsi obat-obatan apapun sehingga kejadian ini
tidak dipegaruhi oleh obat-obatan. Sebelum kejadian ini, korban
mengonsumsi ayam kremes dan es teh manis di kantin PPNS. Korban
menderita penyakit tekanan darah rendah. Korban tidak memiliki alergi
apapun sehingga kejadian ini bukanlah efek dari alergi. Kejadian
terjatuhnya korban dari tangga ini disebabkan karena korban mengalami
pusing dan lemas, mata korban berkunang-kunang sehingga korban tidak
melihat bahwa kaki korban belum menginjak anak tangga dengan tepat
sehingga kaki korban terkilir dan korban jatuh dari tangga sebanyak 5
anak tangga, tangan korban terkilir saat hendak menggapai pegangan
dan kepala korban terbentur anak tangga.
5. Evaluasi Ulang Kondisi Korban
Setelah melakukan pertolongan pada korban, penolong masih harus
memeriksa korban secara berkala, pemeriksaan diulang dari awal atau
mencari hal-hal yang terlewati. Hal ini dilakukan hingga bantuan datang
atau hingga korban sadar.
6. Pelaporan
Setelah selesai menangani korban, maka perlu dilakukan pelaporan
secara singkat dan jelas kepada penolong selanjutnya.

4. Hasil Praktikum 4
Formulir Tindakan

Nama : Zaskia Gotik


Umur : 26 Tahun (W)
Waktu Kejadian : 05.55 WIB
Tiba di lokasi : 06.10 WIB
Jenis kejadian : Trauma
Keadaan pasien : Tidak sadar
Penilaian Dini :
a. Respon : Tidak respon
b. Nafas : Tidak ada
c. Nadi : Tidak ada
d. Suhu : Dingin/lembab berkeringat
Riwayat Pasien :
a. Keluhan : memar pada tangan
b. Obat :-
c. Makanan/minuman : Nasi pecel dan air putih
d. Penyakit :-
e. Alergi :-
f. Kejadian : pekerja terjatuh dari tangga dengan
ketinggian 5 meter. Korban terjatuh tepat pada tumpukan kardus
sehingga mengurangi benturan

Penjelasan Tindakan :
Melakukan pemeriksaan keadaan. Mengecek respon korban. Pada kasus ini
pekerja tidak merespon dan nadi karotis tidak ada sehingga perlu melakukan
tindakan lanjutan yaitu RJP hingga korban kembali bernafas.

Rujukan : Rumah sakit

Tanda vital Berkala :

Nafas Nadi
Jam Kulit Suhu (0C) KET
(kali/menit) (kali/menit)

06.20 11 60 Hangat 35

06.38 11 63 Hangat 36

06.53 12 66 Hangat 36

Pembahasan
Pada kasus diatas, tindakan yang harus dilakukan untuk tindakan
pertolongan pertama yaitu:
1. Penilaian Keadaan
Pada kasus ini, penolong dan korban dalam keadaan aman,
sehingga dapat dilakukan pemeriksaan. Kemungkinan yang terjadi
adalah korban terjatuh ketika sedang ada pada tangga dengan ketinggian
5 meter. Kondisi korban dalam keadaan tidak sadar.
2. Penilaian Dini
Pada penilaian dini, tindakan pertama adalah mengetahui respon
korban. Tahap ini adalah cara sederhana untuk mengetahui berat atau
ringgannya gangguan pada otak korban. Setelah mengecek dan
mengetahui respon korban yang perlu dilakukan adalah melakukan
tindakan C (Circulation), A (Airway) dan B (Breathing).
Kronologi kejadian pada kasus ini adalah seorang pekerja bernama
Miftah Nuriel R berumur 20 tahun terjatuh ketika berada menaiki tangga
dan berada pada ketinggian 5 meter. Korban terjatuh tepat pada
tumpukan kardus sehingga mengurangi benturan. Dalam kasus ini
respon korban adalah tidak dapat merespon dengan rangsangan yang
diberikan.
Berdasarkan pemeriksaan diperoleh data sebagai berikut:
1) C (Circulation)
Pemeriksaan dilakukan dengan mengecek nadi karotis masih ada
atau tidak. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tidak ada nadi
karotis. Sehingga perlu dilakukan tindakan lanjutan yaitu RJP.
RJP dilakukan dengan 1 siklus penuh yaitu sebanyak (30:2x5).
Setelah 1 siklus RJP pemeriksaan nadi karotis kembali dilakukan,
dan telah nadi karotis telah teraba.
2) A (Airway)
Setelah nadi karotis telah teraba pengecekan selanjutnya adalah
airway atau jalan nafas untuk mengetahui apakah ada sumbatan
atau tidak. Dari hasil pemeriksaan diketahui tidak ada sumbatan
dan airway telah terbuka.
3) B (Breathing)
Selanjutnya adalah mengecek pernapasan korban dengan metode
LDR (Lihat, Dengar dan Rasakan). Berdasarkan hasil
pemeriksaan masih belum terdapat nafas. Sehingga perlu
dilakukan nafas buatan 2 menit dengan 1 kali hembus dan
dilakukan setiap 5 detik. Kemudian dilakukan pengecekan
kembali dengan metode LDR (Lihat, Dengar dan Rasakan). Hasil
pemerikasaan terakhir menunjukkan bahwa telah terdapat nafas.
Sehingga langkah selanjutnya yang dilakukan adalah
pemeriksaan fisik.
3. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik merupakan pemeriksaan seluruh anggota badan
korban yang dilakukan berurutan mulai ujung rambut sampai dengan
ujung kaki. Pemeriksaan dilakukan dengan penglihatan dan perabaan.
Hal-hal yang harus diperiksa adalah P (perubahan bentuk), L (luka
terbuka), N (nyeri) dan B (bengkak).
Pada kasus ini hasil pemeriksaan adalah sebagai berikut :
1) P (Perubahan bentuk) : tidak terdapat perubahan bentuk
2) L (luka terbuka) : tidak terdapat luka terbuka
3) N (Nyeri) : terdapat keluhan nyeri pada pergelangan
kaki, pinggang dan punggung.
4) B (bengkak) : terdapat memar pada siku tangan dan
diduga terjadi pergeseran pada tulang.

Pemeriksaan tanda-tanda vital :


a. Nafas : 11 kali/menit
b. Nadi : 60 kali/menit
c. Suhu tubuh : 35 C
d. Sistole : 110 mmHg
e. Diastole : 70 mmHg
f. Kulit : Lembab
4. Riwayat Penderita
Pada tahap ini wawancara pada korban atau saksi mata penting
dilakukan untuk mendapatkan informasi pada korban. Hal ini dapat
dilakukan langsung pada korban apabila dalam kondisi sadar dan pada
saksi atau keluarga apabila korban tidak sadar.
Pada kasus ini korban tidak sadar dan wawancara dilakukan pada
kerabat korabn yang pada saat itu bersama dengan korban. Dan
diperoleh hasil sebagai berikut :
a. Keluhan : memar pada tangan
b. Obat yang dikonsumsi :-
c. Makanan/minuman yang terakhir dikonsumsi : nasi pecel dan air
putih
d. Penyakit yang diderita: anemia dan tekanan darah rendah
e. Kejadian: pekerja terjatuh dari tangga dengan ketinggian 5 meter.
Korban terjatuh tepat pada tumpukan kardus sehingga
mengurangi benturan.
5. Pemeriksaan Berkala
Setelah pertolongan dilakukan, penolong harus melakukan
pemeriksaan berkala kepada korban setidaknya setiap 5 menit sekali.
Pemeriksaan dilakukan mulai dari awal sampai akhir sebelum
pertolongan selanjutnya datang. Hal ini bertujuan untuk untuk mengecek
kembali ada yang tertinggal atau tidak dan untuk mengamati adakah
perkembangan atau justru penurunan keadan dari korban.
6. Pelaporan
Pelaporan informasi penting tentang korban berdasarkan
pemeriksaan yang telah dilakukan perlu dilakukan kepada penolong
selanjutnya yaitu rumah sakit.
BAB 5

KESIMPULAN

Dari praktikum yang telah dilakukan, maka dpat diambil kesimpulan sebagai
berikut:
1. Melakukan pertolongan semampunya, jangan sampai penolong menjadi
korban.
2. Memberikan laporan yang lengkap kepada petugas agar tidak terjdi
kesalahan dalam penangangan.
3. Metode resusitasi jantung paru (RJP) yang dilakukan adalah CAB selama
1 siklus dengan perbandingan 30:2 yang dilakukan sebanyak 5 kali.
DAFTAR PUSTAKA

American Health Association. 2015. ”Fokus Utama Pedoman”. Amerika: AHA


Santiasih, Indri. 2014. “Modul Pertolongan Pertama pada Kecelakaan”. Surabaya:
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya.
Tim bantuan Medis BEM IKM FKUI. 2015. “Modul Bantuan Hidup Dasar dan
Penanganan Tersedak”. Jakarta: BEM IKM FKUI.
Shinta A. A. Ngirarung, Mulyadi, Reginus T. Malara. 2017. “Pengaruh Simulasi
Tindakan Resusitasi Jantung Paru (RJP) Terhadap Tingkat Motivasi Siswa
Menolong Korban Henti Jantung di SMA Negeri 9 Binsus Manado”.
Manado: Universitas Sam Ratulangi Manado.

Anda mungkin juga menyukai