0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
123 tayangan5 halaman

Pendekatan dan Metode Antropologi

Dokumen tersebut membahas pendekatan dan metodologi dalam penelitian antropologi. Secara ringkas, dibahas tiga pendekatan utama yaitu pendekatan holistik, komperatif, dan historis. Metodologi yang digunakan antropolog meliputi observasi partisipatif, wawancara mendalam, upaya meminimalkan kesalahan, serta kecenderungan menggunakan metode tradisional. Dijelaskan pula fungsi antropolog sebagai ahli ri

Diunggah oleh

eka
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
123 tayangan5 halaman

Pendekatan dan Metode Antropologi

Dokumen tersebut membahas pendekatan dan metodologi dalam penelitian antropologi. Secara ringkas, dibahas tiga pendekatan utama yaitu pendekatan holistik, komperatif, dan historis. Metodologi yang digunakan antropolog meliputi observasi partisipatif, wawancara mendalam, upaya meminimalkan kesalahan, serta kecenderungan menggunakan metode tradisional. Dijelaskan pula fungsi antropolog sebagai ahli ri

Diunggah oleh

eka
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

an budaya.

C. Pendekatan dan Metodologi dalam Penelitian Antropologi

1. Pendekatan dalam Antropologi

Studi kebudayaan adalah sentral dalam antropologi. Bidang kajian utama


antropologi adalah kebudayaan dan dipelajari melalui pendekatan. Berikut 3
macam pendekatan utama yang biasa digunakan oleh para ilmuwan antropologi.

a. Pendekatan Holistik

Kebudayaan dipandang secara utuh (holistik). Pendekatan ini digunakan oleh


para pakar antropologi apabila mereka sedang mempelajari kebudayaan disuatu
masyarakat. Kebudayaan dipandang sebagai keutuhan, setiap unsur didalamnya
mungkin dipahami dalam keadaan terpisah dari keutuhan tersebut.

b. Pendekatan Komperatif

Pendekatan komperatif juga merupakan pendekatan yang unik dalam


antropologi untuk mempelajari kebudayaan masyarakat yang belum mengenal
baca-tulis (praaksara). Masyarakat-masyarakat praaksara yang hidup didaerah
terpencil merupakan laboratorium bagi para ilmuwan antropologi.

c. Pendekatan Historis

Pendekatan dan unsur-unsur historis mempunyai arti yang sangat penting dalam
antropologi, lebih penting daripada ilmu lain dalam kelompok tingkah laku
manusia. Para ilmuwan antropologi tertarik pertama-tama pada asal-usul
historik dari unsur-unsur kebudayaan, dan setelah itu tertarik pada unsur-unsur
kebudayaan yang unik dan khusus.

2. Metodologi dalam Antropologi

a. Kelangkaan Metode yang Baku


Antropologi adalah ilmu yang relatif masih muda, sehingga belum berhasil
mengembangkan metode-metode penelitian yang jelas dan sistematik. Dalam
tulisan-tulisan etnografis dapat dilihat terlalu sedikitnya perhatian para penulis
pada metode penelitian.

b. Participant Observation

Seorang ilmuwan antropologi sedang melakukan penelitian tentang suatu


kebudayaan, maka ia hidup bersama orang-orang pemilik kebudayaan tersebut,
memelajari bahasa mereka, ikut aktif ambil bagian dalam kegiatan sehari-hari
masyarakat (komunitas) tersebut.

c. Indepth Interview (Wawancara Mendalam)

Wawancara mendalam (Indepth Interview) biasanya dipergunakan bersama-


sama atau kombinasi dengan observasi dalam. Wawancara dilakukan secara
informal dan nonsistematik.

d. Upaya Memperkecil Kesalahan

Informasi yang ia peroleh dari berbagai subjek seringkali berbeda-beda atau


bahkan saling bertentangan. Para ilmuwan antropologi berusaha meminimalkan
kesalahan pada data mereka dengan jalan mengulang-ulang observasi atau
wawancara.

e. Kecenderungan Menggunakan Metode Tradisional

Para ilmuwan antropologi hanya sedikit menggunakan kuesioner tertulis,


terutama karena sebagian besar subjek mereka buta aksara.

Kesatuan pengetahuan antropologi menurut Koentjaraningrat dicapai


melalui 3 tingkatan, yaitu ;

1. Pengumpulan Fakta

Pengumpulan fakta yang dimaksud ialah mengenai kejadian, gejala


masyarakat, dan kebudayaan. Fakta ini mereka peroleh melalui metode
wawancara dan catatan lapangan (fields notes).

2. Penentuan Ciri-Ciri Umum dan Sistem


Proses ini menyimpulkan konsep-konsep yang memuat ciri-ciri umum yang
lebih abstrak dari pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa dan fakta-fakta
khusus dan konkret.

3. Tahapan Verifikasi

Dilakukan untuk memperkuat pemahaman yang diperoleh, para antropolog


menggunakan metode verifikasi atau pengujian dengan proses berpikir deduktif.

D. Fungsi dan Peran Antropolog


Dalam konteks negara kita yang mejemuk, peran dan relevansi antropolog
sebenarnya sudah mulai dirintis oleh Koentjaraningrat sebagai Bapak
Antropologi Indonesia. Peran antropologi sebagai berikut ;

1. Antropolog sebagai Ahli Riset

Hasil penelitiandapat dimanfaatkan sebagai referensi untuk mengenal


masyarakat dan kebudayaannya. Dari hasil penelitiannya, seorang antropolog
harus dapat menyajikan fakta-fakta dan sejumlah informasi yang akurat untuk
menghindari kesalahpahaman.

2. Antropolog sebagai Konsultan Kebijakan

Antropolog menggunakan hasil karya penelitiannya sebagai sarana untuk


menyusun dan menentukan suatu langkah atau kebijakan tertentu. Dengan kata
lain, seorang antropolog berperan untuk memperkirakan pengaruh suatu
kebijakan.

3. Antropolog sebagai Praktisi

Seorang antropolog terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan


masyarakat. Antropolog menggunakan hasil penelitiannya untuk membuat
masyarakat yang ditelitinya mampu memberdayakan diri mereka sendiri dan
berkembang dengan cara-cara yang membuat kebudayaan mereka tetap lestari.
4. Antropolog sebagai Guru atau Pendidik

Seorang antropolog juga dituntut untuk memiliki sikap netral dan objektif
dalam menyajikan sebuah fakta terkait manusia dan kebudayaannya. Seorang
antropolog bertugas mengajar dan mendidik masyarakat agar memahami
pentingnya keberagaman manusia dan kebudayaannya, serta menumbuhkan
sikap menerima dan menghargai keberagaman sosial budaya tersebut.

E. Hubungan Antropologi dengan Ilmu-Ilmu Lain


1. Hubungan Antropologi dengan Ilmu Sosiologi

Objek kajian sosiologi adalah masyarakat. Masyarakat selalu berkebudayaan.


Masyarakat dan kebudayaan tidak sama, tetapi berhubungan dengan sangat erat.
Masyarakat menjadi kajian poko sosiologi dan kebudayaan menjadi kajian
pokok antropologi. Masyarakat berhubungan dengan susunan suatu proses
hubungan antara manusia dan golongan, sedangkan kebudayaan berhubungan
dengan isi atau corak dari hubungan manusia dan golongan.

2. Hubungan Antropologi dengan Ilmu Sejarah

Antropologi memberi bahan prehistori sebagai pangkal bagi para ahli sejarah.
Sebagai contoh, sumber sejarah seperti prasasti, dokumen, naskah tradisional,
dan arsip kuno sering hanya dapat memberikan informasi tentang peristiwa-
peristiwa politik saja.

3. Hubungan Antropologi dengan Ilmu Geografi

Geografi merupakan ilmu yang mempelajari tentang berbagai macam bentuk


makhluk hidup dibumi, antara lain flora, fauna, serta [Link] tdiak
dapat mengabaikan ilmu antropologi, karena antropologi adalah sebuah ilmu
pengetahuan yang mampu menyelami masalah aneka warna manusia.

4. Hubungan Antropologi dengan Ilmu Ekonomi

Untuk membangun perekonomian disuatu negara, seorang ahli ekonomi


memerlukan bahan komparatif mengenai berbagai unsur kemasyarakatan
tersebut.

5. Hubungan Antropologi dengan Ilmu Politik


Adapun yang menyangkut latar belakang kekuatan politik, yaitu prinsip
ideologi, sistem norma, adat-istiadat, dan tradisib dari semua kalangan yang
menyusun kekuatan politik tersebut.

6. Hubungan Ilmu Anatomi dengan Antropologi

Ilmu anatomi sangat perlu, karena ciri-ciri dari berbagai bagian kerangka
manusia, berbagai bagian tengkorak, dan ciri-ciri dari bagian tubuh manusia
pada umumnya.

Daftar Pustaka
Buku Antropologi tingkat SMA/MA semester 1

Koentjaraningrat. 1990. Sejarah Teori Antropologi.

Koentjaraningrat. 1990. Manusia dan Kebudayaan.

Koentjaraningrat. 1985. Beberapa Pokok Antropologi Sosial.

Kelompok 5

Anda mungkin juga menyukai