ANALISIS LIMA KEKUATAN PORTER INDUSTRI FARMASI (sanbe
FARMA, PHAROS INDONESIAA, KIMIA FARMA, DEXA MEDICA)
Tugas ini diajukan untuk memenuhi sebagian tugas Ekonomi Industri
Dosen Pengampu: Aan Julia, S.E., [Link]
Disusun oleh:
Radi Gilang Purnama (10090216021)
PROGRAM STUDI ILMU EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa, karena atas
berkat dan limpahan rahmatnyalah maka saya dapat menyelesaikan makalah ini
tepat pada waktunya yang berjudul “Analisis Lima Kekuatan Porter Industri
Obat-Obatan (Obat Sakit Kepala)”.
Makalah ini berisikan tentang analisis lima kekuatan porter industri
shampoo hijab di Indonesia yang telah saya susun dengan baik dan sistematis,
sehingga mudah untuk dibaca dan dipahami.
Dalam makalah ini saya merasa masih banyak kekurangan baik pada teknik
penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang saya miliki. Untuk itu,
kritik dan saran dari semua pihak sangat saya harapkan demi penyempurnaan
pembuatan makalah ini.
Akhir kata, saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu
dalam menyelesaikan makalah ini, sehingga makalah ini dapat terealisasikan
dengan baik. Semoga Allah SWT meridhoi segala usaha saya.
Bandung, 28 Oktober 2019
Penulis
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .......................................................................................... i
DAFTAR ISI ........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................ 1
1.3 Tujuan dan Manfaat ..........................................................................................1
BAB II LANDASAN TEORI .............................................................................. 3
2.1 Definisi Industri .............................................................................................. 3
2.2 Definisi perusahaan ......................................................................................... 3
2.3 Teori lima kekuatan Porter .............................................................................. 4
2.3.1 Threat of New Entrants (Hambatan bagi Pendatang Baru) ................ 5
2.3.2 Bargaining Power of Suppliers (Daya Tawar Pemasok) .................... 6
2.3.3 Bargaining Power of Buyers (Daya Tawar Pembeli) ......................... 6
2.3.4 Threat of Subtitutes (Hambatan Bagi Produk Pengganti) ................... 7
2.3.5 Rivalry Among Existing Competitors (Tingkat Persaingan Dengan
Kompetitor) ......................................................................................... 8
BAB III PEMBAHASAN ...................................................................................12
3.1 iyaiyaiaya ........................................................................................................12
3.2 hehehe .............................................................................................................12
BAB IV PENUTUP .............................................................................................13
3.1 Kesimpulan ......................................................................................................12
3.2 Saran .................................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 13
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Persaingan usaha berisi ketentuan-ketentuan substansial tentang
tindakantindakan yang dilarang (beserta konsekuensi hukum yang bisa timbul)
dan ketentuanketentuan prosedural mengenai penegakan hukum persaingan
usaha. Pada hakikatnya hukum persaingan usaha dimaksudkan untuk mengatur
persaingan dan monopoli demi tujuan yang menguntungkan. Apabila hukum
persaingan usaha diberi arti luas, bukan hanya meliputi pengaturan persaingan,
melainkan juga soal boleh tidaknya monopoli digunakan sebagai saran kebijakan
publik untuk mengatur daya mana yang boleh dikelolah oleh swasta.
Hukum persaingan usaha adalah hukum yang mengatur tentang interaksi
perusahaan atau pelaku usaha di pasar, sementara tingkah laku perusahaan ketika
berinteraksi dilandasi atas motif-motif ekonomi.
Menurut Supartika (2017) kondisi perkembangan dinamika bisnis yang
selalu berubah, membuat perusahaan memerlukan pengelolaan pemasaran yang
tepat. Perusahaan harus dapat mengembangkan produk yang baik, menawarkan
dengan harga yang menarik dan membuatnya mudah diperoleh oleh pelangan
yang membutuhkan, sehingga dapat tercipta citra merek yang positif dibenak
konsumen.
Farmasi sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia berkembang seiring
dengan perkembangan peradaban manusia. Farmasi awalnya berupa pelayanan
yang berfungsi melindungi manusia dari penderitaan, namun sekarang telah
berkembang menjadi profesi yang menjanjikan. Seiring dengan perkembangan
teknologi dan informasi, kebutuhan akan farmasi berkembang. Pasar farmasi perlu
diorganisir dan pengorganisasiannya mulai mempengaruhi pasar industri.
Tujuan utama industri farmasi adalah untuk menghasilkan obat yang aman
dan efektif untuk digunakan dalam terapi (efficary, safety, toxicity) dan untuk
1
kepentingan ekonomi suatu negara. Industri farmasi juga bertujuan untuk daya
tahan setiap negara (Agoes, 1999).
Menurut Sampurno dan Ahaditomo dalam GP Farmasi (2003), di negara
maju asuransi kesehatan berperan sebagai kontrol harga obat. Obat-obat yang
mahal tidak akan masuk dalam daftar plafon harga obat yang mereka susun karena
70 persen belanja obat ditanggung oleh asuransi. Di Indonesia, ada regulasi yang
mengatur harga obat sehingga produsen wajib mencantumkan harga tertinggi. Jadi,
pengaturan harga obat yang seharusnya dikontrol oleh pemerintah dengan
mekanisme pasar, kini dikontrol dengan regulasi harga.
Dilihat dari sisi lain, sektor farmasi di Indonesia menarik untuk dikaji
karena jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 200 juta jiwa, iklim tropis,
penyebaran penduduk yang tidak merata dan keadaan geografis mengakibatkan
banyaknya virus dan bakteri berkembang. Ini merupakan pasar yang potensial bagi
industri farmasi nasional dan dunia. Jadi tidak berlebihan jika dikatakan bahwa
industri farmasi Indonesia merupakan peluang bisnis yang menjanjikan (Biantoro,
2003).
Menurut Wahdah (2011) ada beberapa gejala yang berguna untuk
menentukan diagnosa bahwa seseorang menderita hipertensi. Gejala-gejala tersebut
antara lain pusing, muka merah, sakit kepala, keluar darah dari hidung secara tiba-
tiba dan tengkuk terasa pegal. Jika gejala-gejala tersebut diabaikan dan tidak segera
ditangani maka efek lain yang akan timbul karena hipertensi adalah kerusakan
ginjal, perdarahan pada selaput bening, pecahnya pembuluh darah di otak dan
menyebabkan kelumpuhan.
Salah satu tanda gejala hipertensi adalah nyeri kepala. Nyeri secara umum,
diartikan sebagai suatu keadaan yang tidak menyenangkan akibat terjadinya
rangsangan fisik atau mental yang terjadi secara alami yang bersifat subjektif dan
personal (Potter & perry, 2009). Nyeri kepala atau cephalgia adalah salah satu
keluhan fisik paling utama pada manusia. Nyeri kepala pada kenyataannya adalah
gejala, bukan penyakit dan dapat menunjukkan penyakit organik (neurologik atau
penyakit lain), respons stress, vasodilatasi (migren), tegang otot rangka (nyeri
kepala tegang) (Smeltzer & Bare, 2002).
2
Pengobatan sakit kepala ada berbagai macam cara, ada pengobatan modern
dan tradisional/alternatif. Pengobatan alternatif bukan barang langka lagi pada masa
sekarang. Sekarang, pengobatan alternatif banyak ditemukan di berbagai kota besar
dan juga di kota-kota kecil lainnya di Indonesia. Pengobatan alternatif bermunculan
pada saat masyarakat mulai memberikan perhatian yang lebih terhadap alterantif
pengobatan yang biasanya hanya mengandalkan pihakpihak rumah sakit (medis)
dengan pengobatan modern. Bisa dikatakan juga, pengobatan alternatif merupakan
pelengkap pengobatan kedokteran yang bersifat holistik (Haryono, 2010).
Hasil dari Riset Kesehatan Dasar 2007 penyakit hipertensi telah menjadi
masalah utama dalam kesehatan masyarakat yang ada di Indonesia maupun di
beberapa negara yang ada di dunia, angka prevalensi hipertensi di Indonesia sangat
tinggi, yakni mencapai 31,7% dari total jumlah penduduk dewasa. Berdasarkan data
Profil kesehatan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009 kasus tertinggi penyakit tidak
menular Tahun 2009 pada kelompok penyakit jantung dan pembuluh darah adalah
penyakit Hipertensi Esensial, yaitu sebanyak 698.816 kasus (83,88 %). Dari data
survey untuk kasus hipertensi di daerah Kabupaten Sukoharjo tahun 2010 dari data
kabid P2PL DKK Sukoharjo untuk Puskesmas dan Rumah Sakit ada 35.750 jiwa
(33.908 untuk Puskesmas dan 1.842 untuk 1 rumah sakit), data yang diambil adalah
data pasien dengan kasus Hipertensi Esensial.
Namun, yang tidak boleh dilupakan oleh para pemain di dalamnya adalah
masalah distribusi. Obat merupakan produk yang mudah ditemukan oleh konsumen
ketika dibutuhkan. Jadi masalah distribusi harus bisa diselesaikan secara baik, baik
di apotek, modern retail, hingga toko-toko di pelosok Indonesia.
Persaingan di dalam industri ini memang amat ketat, dalam beberapa
kategori memang tipis, bahkan ada yang harus berbagi angka yang sama. Hal ini
menjadi tantangan buat para brand di dalamnya untuk bisa memperluas komunikasi
pemasarannya, baik tradisional dan digital, untuk mempertahankan dan meraih
konsumen baru. Sembari menjaga kualitas produk dan meningkatkan distribusi
produknya, agar semakin mudah diakses oleh konsumen.
3
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, penulis telah
mengidentifikasi masalah yang akan dibahas, yaitu:
1. Bagaimana intensitas kompetisi di dalam industri farmasi (khususnya obat
pereda sakit kepala)?
1.3 Tujuan dan Manfaat
Berdasarkan rumusan masalah di atas, makan tujuan dan manfaat dari penelitian ini
yaitu:
1. Mengindentifikasi dan menganalisis intensitas kompetisi di dalam industri
farmasi (khususnya obat pereda sakit kepala) menggunakan Porter’s Five-
Forces Model.
4
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Definisi Industri
Menurut Kartasapoetra Industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah
bahan baku, bahan baku, barang setengah jadi atau barang jadi menjadi barang
dengan menggunakan nilai yang lebih tinggi, termasuk kegiatan desain industri dan
teknik industri.
2.2 Definisi Perusahaan
Menurut Prof. Mr. W.L.P.A. Molengraff Dari sudut padang ekonomi,
perusahaan adalah semua perbuatan yang dilakukan dengan terus-menerus,
bertindak keluar untuk mendapatkan penghasilan dengan cara memperniagakan
barang-barang, meyerahkan barang-barang, atau mengadakan perjanjian-
perjanjian.
ujuan perusahaan pada umumnya terdiri dari dua tujuan. Pertama, membantu
keggiatan operasional seperti memotivasi karyawan untuk meningkatkan
kinerjanya, menarik pelanggan, membantu invesor dan memudahkan evaluasi
kinerja. Kedua, maksimisasi laba.
2.3 Struktur Industri
Struktur (Structure)
Struktur pasar didefinisikan sebagai jumlah penjual dan pembeli serta
besarnya pangsa pasar (market share) yang ditentukan oleh adanya differensiasi
produk, serta dipengaruhi oleh keluar masuknya pendatang atau pesaing (Greer
1992 dalam Kartika 2002). Struktur pasar dapat menunjukkan lingkungan
persaingan antara penjual dan pembeli melalui proses terbentuknya harga dan
jumlah produk yang ditawarkan dalam pasar.
Struktur industri biasanya dijelaskan oleh ukuran distribusi perusahaan
dalam pasar. Terdapat tiga ukuran utama yang biasa diperhatikan dalam struktur
5
pasar yaitu pangsa pasar (market share), konsentrasi dan hambatan masuk pasar
(barrier to entry).
Seberapa tinggi derajat konsentrasi diferensiasi produk dan seberapa tinggi
tingkat kesulitan yang ditemui oleh perusahaan baru untuk masuk ke dalam suatu
industri (Clarke, 2003).
Tipe-tipe struktur pasar menurut Sheperd (1990), yaitu:
a) Tipe monopoli murni, dimana satu perusahaan menguasai 100 persen
pasar.
b) Perusahaan dominan, dimana satu perusahaan memiliki 50 – 100 persen
pasar tanpa ada pesaing yang sepadan.
c) Oligopoli ketat, dimana empat perusahaan terbesar secara kumulatif
memiliki 60 – 100 persen pasar. Kolusi diantara mereka untuk menetapkan
harga relative lebih mudah.
d) Oligopoli longgar, dimana empat perusahaan besar secara kumulatif
memiliki 40 persen atau kurang dari pasar. Kolusi diantara mereka untuk
menetapkan harga tidak mungkin.
e) Persaingan monopolistik, dimana ada banyak pesaing yang efektif, tetapi
tidak satupun yang memiliki pasar lebih dari 10 persen.
f) Persaingan murni, dimana ada lebih dari 50 perusahaan atau pesaing,
namun tidak satupun dari mereka yang memiliki pangsa pasar yang berarti.
2.4 Porter’s Five Forces
6
Mengacu pada Lipczynski, et al. (2005), salah satu bahasan yang dianggap
penting dalam ekonomika industri masa modern adalah penciptaan lingkungan
yang mampu membentuk kondisi kompetitif (competitive environment) dalam
suatu pasar atau industri. Salah satu alat analisis yang dibangun dengan penekanan
pada penciptaan kondisi kompetitif tersebut adalah kerangka analisis five-forces
model.
Dalam kerangka analisis Porter’s five-forces model, kondisi kompetitif dalam
suatu industri terbentuk dari lima komponen berikut, yaitu:
1. Cakupan dan intensitas kompetisi;
2. Pesaing potensial (potential entrants);
3. Keberadaan produk pengganti (subtitute products);
4. Daya tawar pembeli (buyer’s power); dan
5. Daya tawar pemasok (supplier;s power).
Ormanidhi dan Stringa (2008), mengacu pada Porter, menyatakan bahwa
kelima elemen five-forces model di atas, secara bersama-sama menentukan
intensitas kompetisi di dalam industri (dimana intensitas kekuatan dari setiap
elemen bersifat spesifik untuk tiap-tiap industri). Tekanan dari kelima elemen
tersebut secara keseluruhan cenderung dikaitkan secara negatif dengan profabilitas
(yang menjadi representasi tingkat pengembalian modal/return of invested capital).
7
Gambar 2.1 Porter’s Five-Forces Model
1. Cakupan dan intensitas kompetisi dalam industri (rivalry)
Komponen ini terutama ditentukan oleh jumlah dan skala distribusi
perusahaan dalam industri. Apabila di dalam pasar terdapat perusahaan dalam
jumlah besar dan skala usaha yang relatif sama maka kondisi kompetisi yang
tercipta di pasar akan semakin intensif jika dibandingkan dengan kondisi
dimana hanya terdapat satu atau sedikit perusahaan saja yang mendominasi
pasar. Pertumbuhan penjualan industri, struktur biaya perusahaan yang sudah
ada di pasar (incumbent firms) dan ketersediaan ruang yang potensial untuk
mendorong permintaan juga cenderung menentukan cakupan dan intensitas
kompetisi dalam industri.
2. Ancaman dari pesaing potensial (potential entrants)
Semakin tinggi pesaing potensial bagi industri, maka semakin tinggi pula
tingkat kompetisi dalam industri. Ancaman dari pesaing potensial cenderung
semakin tinggi pada industri dimana perusahaan-perusahaan di dalamnya
memiliki tingkat profitabilitas yang tinggi. Dalam merespons hal ini,
perusahaan-perusahaan dengan tingkat profitabilitas yang tinggi tersebut
cenderung berusaha untuk mencari cara untuk memunculkan hambatan-
8
hambatan yang mampu menghalangi pesaing potensial untuk masuk ke dalam
pasar. Tingkat ancaman dari pesaing potensial dapat juga dipengaruhi oleh
sejumlah faktor berikut, yaitu:
a) Regulasi pemerintah;
b) Pencapaian skala ekonomis perusahaan-perusahaan dalam industri;
c) Derajat difrensiasi produk dan loyalitas terhadap merk di dalam industri;
d) Tingkat dan derajat kekhususan investasi modal; serta
e) Ketersediaan akses terhadap outlet pemasaran.
3. Ancaman dari produk pengganti (subtitute products)
Semakin banyak produk pengganti produk industri dan semakin menarik
produk pengganti tersebut bagi konsumen, maka tingkat kompetisi yang terjadi
di pasar juga menjadi semakin tinggi. Daya tarik suatu produk pengganti bagi
konsumen ditentukan oleh harga, kualitas dan cost yang harus ditanggung oleh
konsumen untuk beralih ke suatu produk (switching cost). Banyaknya barang
pengganti dari suatu produk cenderung meningkatkan elastisitas permintaan
terhadap produk tersebut, dan selanjutnya akan menurunkan kekuatan pasar dari
perusahaan yang memproduksi produk tersebut. Untuk mengatasi hal tersebut,
biasanya perusahaan yang memproduksi produk dengan tingkat substitusi yang
tinggi cenderung menekankan strategi diferensiasi produk, yaitu meningkatkan
keunikan dari produk yang dijualnya, melakukan strategi penguatan merk
(branding) dan peningkatan aktivitas periklanan.
4. Daya tawar pembeli (buyer’s power)
Daya tawar pembeli produk ditentukan oleh jumlah, skala usaha dari
pembeli tersebut, dan derajat ketergantungan pembeli terhadap produk tersebut.
Apabila di pasar hanya terdapat sedikit pembeli produk suatu perusahaan,
sementara derajat ketergantungan pembeli terhadap produk relatif rendah
(karena banyaknya produk substitusi), maka daya tawar pembeli akan sangat
tinggi. Akibatnya, pembeli lebih mampu mengendalikan harga dan pembelian
9
produk perusahaan. Selanjutnya, hal ini dapat menjadi ancaman terhadap
tingkat profitabilitas dan daya saing perusahaan dalam industri.
5. Daya tawar pemasok (supplier’s power)
Jika pemasok dari suatu input jumlahnya terbatas dan skalanya besar,
apalagi produk yang dihasilkannya sangat penting bagi perusahaan, maka daya
tawar pemasok akan sangat tinggi. Dalam hal ini, pemasok tersebut dapat
menetapkan harga yang tinggi atau mengurangi kualitas produk untuk
memperoleh keuntungan yang tinggi. Hal ini dapat menjadi ancaman terhadap
tingkat profitabilitas dan daya saing perusahaan dalam industri.
Ormanidhi dan Stringa (2008) menyatakan analisis five-forces model
menjadi sarana bagi perusahaan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahannya
dalam bersaing (daya saing perusahaan) di dalam industri. Melalui hal tersebut,
perusahaan dalam industri dapat menentukan strategi yang tepat untuk diambil
oleh perusahaan (baik yang sifatnya defensif atau ofensif) dalam menghadapi
tekanan dari kelima elemen five-forces model.
10
BAB III
PEMBAHASAN
3.1. Industri Farmasi di Indonesia
3.1.1. Sanbe Farma
PT Sanbe Farma merupakan group perusahaan farmasi yang melaksanakan
pengembangan formulasi, produksi, dan penjualan produk obat yang aman dan
berkualitas tinggi. Sanbe Farma didirikan oleh Jahja Santosa Apt pada tahun
1975. Unit yang pertama kali berdiri adalah Unit I yang bertempat di Leuwigajah.
Pada mulanya Unit I ini memproduksi obat steril dan obat non steril. Pada tahun
1985 Sanbe mulai memproduksi obat-obatan β-laktam dan sefalosporin. Produksi
antibiotik ini dilakukan di pabrik Unit II yang juga terletak di Leuwigajah.
Memasuki tahun 1992, Sanbe Farma mulai memproduksi obat-obatan warung atau
obat over the counter (OTC), salah satunya adalah Sanaflu. Setelah tiga puluh
tahun, Sanbe Farma menjadi perusahaan farmasi terbesar di Indonesia dan menurut
IMS report tahun 2007. Sanbe Farma menempati posisi teratas dari 205 industri
farmasi, termasuk 41 industri multinasional di Indonesia. Dari lima belas produk
ethical yang diresepkan di Indonesia, empat produk berasal dari Sanbe Farma.
Jangkauan pasar Sanbe Farma mencakup lebih dari 60.000 dokter yang
dilayani oleh 1.000 medical representative, melalui jaringan distributor yang terdri
dari 1.100 sales, 35 cabang, 60 sub depot, dan industri dengan 8000 personel.
Seluruh fasilitas di Indonesia sesuai dengan cGMP Indonesia untuk pabrik farmasi
dan sesuai dengan Standar Internasional. Sanbe Farma mempunyai 22 pusat
distribusi di seluruh Indonesia. Seluruh produk Sanbe Farma dipasarkan melalui
distributor tunggalnya, PT Bina San Prima. Dengan demikian, distribusi produk
dapat terkoordinasi dengan baik. Untuk meningkatkan peran sertanya dalam
memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, Sanbe Farma juga
mendirikan Santosa Bandung International Hospital. Dengan pesatnya
perkembangan ilmu kesehatan dan bioteknologi, Sanbe Farma saat ini juga
mengembangkan obat-obat modern berbasis bioteknologi seperti vaksin, protein,
dan hormon. Seluruh kegiatan operasional Sanbe Farma dilaksanakan oleh tiga unit
11
pabrik. Unit I dan II terletak di Kawasan Industri Leuwigajah sedangkan Unit III
berada di Kawasan Industri Cimareme.
Gambar 3.1 menunjukan bentuk logo Sanbe Farma.
Gambar 3.1 Logo Sanbe Farma.
PT Sanbe Farma merupakan group perusahaan farmasi yang melaksanakan
pengembangan formulasi, produksi, dan penjualan produk obat yang aman dan
berkualitas tinggi. Sanbe Farma didirikan oleh bapak Jahja Santosa Apt pada tahun
1975.
Unit yang pertama kali berdiri adalah Unit I yang bertempat di Leuwigajah.
Pada mulanya Unit I ini memproduksi obat steril dan obat non steril. Pada tahun
1985 Sanbe mulai memproduksi obat-obatan β-laktam dan sefalosporin. Produksi
antibiotik ini dilakukan di pabrik Unit II yang juga terletak di Leuwigajah.
Memasuki tahun 1992, Sanbe Farma mulai memproduksi obat-obatan
warung atau obat over the counter (OTC), salah satunya adalah Sanaflu.
Setelah tiga puluh tahun, Sanbe Farma menjadi perusahaan farmasi terbesar
di Indonesia dan menurut IMS report tahun 2007. Sanbe Farma menempati posisi
teratas dari 205 industri farmasi, termasuk 41 industri multinasional di Indonesia.
Dari lima belas produk ethical yang diresepkan di Indonesia, empat produk berasal
dari Sanbe Farma.
Jangkauan pasar Sanbe Farma mencakup lebih dari 60.000 dokter yang
dilayani oleh 1.000 medical representative, melalui jaringan distributor yang terdri
dari 1.100 sales, 35 cabang, 60 sub depot, dan industri dengan 8000 personel.
12
Seluruh fasilitas di Indonesia sesuai dengan cGMP Indonesia untuk pabrik farmasi
dan sesuai dengan Standar Internasional.
Sanbe Farma mempunyai 22 pusat distribusi di seluruh Indonesia. Seluruh
produk Sanbe Farma dipasarkan melalui distributor tunggalnya, PT Bina San
Prima. Dengan demikian, distribusi produk dapat terkoordinasi dengan baik.
Tabel 3.1 produk dan harga Air Minum Dalam Kemasan Aqua
No Nama produk Harga jual
1 Folavit 1000 mcg suplement 4 tablet 8.500
2 Epexol obat 50 mg 10 tablet 9.900
3 Santibi plus 10 tablet 10.000
4 Lodia tablet obat kesehatan 2 mg 10 12.200
tablet strip
6 Santibi 500 mg 10 tablet 13.500
7 Folavit 1000mcg suplement 4 tablet 12.600
8 Sanmol sirup obat kesehatan 60 ml 14.499
9 Epexol obat 30 mg 4 tablet 14.700
10 Santa E 200 Chawable Calpet 15.500
multivitamin
Sumber : [Link]
3.1.2 kimia farma
Kimia Farma adalah perusahaan industri farmasi pertama di Indonesia yang
didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda tahun 1817. Nama perusahaan ini pada
awalnya adalah NV Chemicalien Handle Rathkamp & Co. Berdasarkan
kebijaksanaan nasionalisasi atas eks perusahaan Belanda di masa awal
kemerdekaan, pada tahun 1958, Pemerintah Republik Indonesia melakukan
peleburan sejumlah perusahaan farmasi menjadi PNF (Perusahaan Negara Farmasi)
Bhinneka Kimia Farma. Kemudian pada tanggal 16 Agustus 1971, bentuk badan
hukum PNF diubah menjadi Perseroan Terbatas, sehingga nama perusahaan
berubah menjadi PT Kimia Farma (Persero).
13
Gambar 3.2 Logo kimia farma
Tabel 3.2 produk dan harga kimia farma
No Nama produk Harga jual
1 Batugin elixir 21.800
2 Amoxilin 39.700
3 simvastatin 20.000
4 Ethambutol 500mg 9.000
5 Nitrokaf retard forte 26.450
6 nitrokafretard 21.500
7 azytromycin 113.500
Sumber: [Link]
3.1.3. Pharos Indonesia
Pharos Indonesia adalah salah satu dari beberapa perusahaan farmasi tertua
dan terbesar di Indonesia. Berdiri sejak 30 September 1971 ,dan merupakan
perusahaan farmasi pertama di Indonesia yang mendapatkan sertifikat CPOB ( Cara
Pembuatan Obat yang Baik ) dari Badan POM pada 30 Juni 1990 serta memiliki
sertifikat ISO 9001/2000.
Gambar 3.3 Logo Pharos Indonesia.
14
Tabel 3.3 produk dan Harga Pharos Indonesia
No Nama produk Harga jual
1 Proris sirup 27.800
2 Thermolyte plus 185.550
3 Nourishkin multivitamin 293.246
4 Oroxin sirup 43.800
Sumber: [Link]
3.1.4. dexa medica
Dexa Medica adalah perusahaan yang didirikan pada tahun 1969 yang
tumbuh dan berkembang menjadi salah satu perusahaan farmasi terkemuka di
Indonesia. Dexa Medica berkomitmen untuk memberikan pelayanan di bidang
kesehatan dengan menitikberatkan profesionalisme dalam menyediakan produk
etikal dan OTC yang berkualitas. Perusahaan yang berbasis di Palembang ini
semula hanya bertujuan menyuplai obat-obatan di wilayah Palembang saja. Namun
seiring dengan perkembangannya, pada tahun 1978 Dexa Media pun
mendistribusikan produk-produknya ke seluruh Indonesia dan kemudian
memindahkan kantor pemasaran ke Jakarta. Untuk mendukung aktivitasnya,
perusahaan ini pun mendirikan PT Ferron Par Pharmaceuticals guna meningkatkan
jumlah produksi dan pemasaran produknya.
Gambar 3.4 Logo dexa medica
15
Keunggulan dexa medica antara lain adalah
1. Menggunakan Biodiversitas Indonesia
2. Menggunakan prinsip farmakologi modern dengan pendekatan Biomolekular
untuk mencari obat-obat baru
3. Melakukan uji klinik untuk melengkapi medical-evidence sesuai prinsip Good
Clinical Practice (GCP) dan melakukan uji pada hewan coba secara etis sesuai
dengan sertifikasi AAALAC (Association for Assessment and Accreditation of
Laboratory Animal Care) International yang diterima oleh DLBS.
4. Sarat dengan muatan Intellectual Property Right (HaKI)
5. Memproduksi bahan baku obat herbal sesuai CPOTB-IEBA (Cara Pembuatan
Obat Tradisional yang Baik- Industri Ekstrak Bahan Alam), dan memenuhi
persyaratan internasional lainnya, seperti; ISO22000 dan HACCP (Hazard
Analysis and Critical Control Points).
Tabel 3.3 produk dan harga dexa medica
No Nama produk Harga jual
1 Medica orinox 139.000
2 Omz omprazole 70.000
3 Vectrin kapsul 88.200
3.3 Analisis Porter’s Five Forces Models
1. Cakupan dan Intensitas Kompetisi dalam Industri (Farmasi)
Kebutuhan masyarakat akan obat-obatan terus meningkat seiring dengan
meningkatnya pertumbuhan penduduk. Kesadaran masyarakat untuk menjaga
kesehatan sangat di perhatikan ketika sakit masyarakat cenderung
beketergantungan dengan obat-obatan kimia yang aman dan harga relatif terjangkau
. Atas dasar itulah, banyak industri yang bersaing di produk ini.
16
Indonesia menjadi pangsa besar obat-obatan. Sejumlah perusahaan menguasai
pangsa pasar obat-obatan di Indonesia. Berikut daftar perusahaan-
perusahan farmasi tersebut (berdasarkan data 2016):
Perusahaan Persentase pangsa pasar
1. Kalbe Farma 6,5%
2. Sanbe Farma 5,92%
3. Dexa Medica 3,88%
4. Pharos Indonesia 3,28%
5. Tempo Scan Pasific 2,58%
6. Kimia Farma 2,50%
Sumber: [Link]
Persainagn di dalam Industri ini sangat ketat karena banyak pesaing menjual
prouduk yang sama. Untuk itu diperlukan informasi pasar dan kondisi pesaing
terutama kelemahan dan kekuatan pesaing. Informasi itu penting berhubungan
dengan penggunaan kebijakan tentang produk, harga, promosi dan distribusi.
2. Ancaman dari Pesaing Potensial (potential entrants)
Di Indonesia dari tahun ke tahun konsumsi air kemasan terus meningkat.
Tercatta tahun 1973 kapasitas produksi hanya 6 Juta Liter per tahun. Tahun 2001
meningkat tajam mencapai 5,4 Miliar Liter lalu pada tahun 2011 konsumsi air
kemasan mencapai 17,3 Miliar Liter. Tahun 2016 konsumsi air kemasan
17
meningkat lebih pesat di banding tahun-tahun sebelumnya yaitu mencapai 26
Miliar Liter.
Dengan data diatas maka terdapat potensi masuknya pesaing baru di
Indonesia, karena permintaan AMDK semakin meningkat, tetapi dengan
banyaknya merk yang sudah ada sekarang, maka pemerintah harus ekstra ketat
mengawasi keberlangsungan produk tersebut, karena banyak survey yang
menyatakan terdapat produk AMDK yang membahayakan untuk konsumen.
Sehingga proses dan pengolahan dan pembuatan AMDK harus mempunyai standar
khusus yang sudah ditetapkan. Dan pendatang baru juga harus memperhatikan
skala ekonomi, perbedaan produk, identitas merk, kebutuhan modal, akses ke
dalam distribusi, keuntungan dari biaya absolute, akses yang dibutuhkan dan
kebijakan pemerintah. Dengan demikian tidak semakin bertambah merk AMDK
di dalam pasar dan akan mengurangi persaingan didalam industri.
3. Potensi pengembangan dari Produk Pengganti (substitute product)
Salah satu ancaman dalam industri farmasi adalah obat-obatan ilegal dengan
harga yang murah, ketersediaan bahan baku karena lebih dari 90% kebutuhan
bahan baku farmasi masih bergantung dengan impor. meskipun pemerintah terus
mengupayakan menggunaan bhan baku dalam negeri akan tetapi hl tersebut tidak
sesuai dengan kualitas penjamin mutu obat-obatan resmi bestandar internasional.
Daya Tawar Pemasok (supplier’s power)
Dalam industri farmasi tentu pemasok mempunyai daya tawar yang tinggi,
karena kebutuhan bahan baku obat kimia maupun campuran alami tidak ada
penggantinya di dalam negeri. Dan tentu akan berpengaruh terhadap persaingan
dan juga biaya yang akan dikeluarkan oleh industri.
18
4. Daya Tawar Pembeli (buyer’s power)
Dalam industri Farmasi daya tawar pembeli cukup rendah, mengingat tidak
adanya alternative lain yang tersedia dipasaran. Tetapi tidak terlalu mengancam
dalam industri terutama merek dexa medica karena beriorentasi terhadap
kualiatas. Jika konsumen sudah percaya dan loyal terhadap obat yang di konsumsi
pasti ia tidak akan mudah beralih. Apalagi produk yang dikonsumsi berkaitan
dengan standar dan kualitas terjamin, pasti tidak akan main-main dalam
menentukan pilihannya, meskipun banyak merk obat-obatan yang tersedia.
19
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis Porter Five Force diatas, dapat disimpulkan bahwa
iklim persaingan industri Farmasi di Indonesia cenderung stabil hal ini diketahui
dari jumlah pesaing yang ada di Indonesia tidak banyak.
20
DAFTAR PUSTAKA
21