Knowledge Management
1. Pengertian Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management)
Armstrong (2009:149) mengartikan manajemen pengetahuan
sebagai setiap proses atau praktek membuat, memperoleh, menangkap,
berbagi, dan menggunakan pengetahuan untuk meningkatkan pembelajaran
dan kinerja organisasi. Menurut Tobing (2007:23) manajemen pengetahuan
adalah pengelolaan knowledge perusahaan dalam menciptakan nilai bisnis
dan menghasilkan keunggulan kompetitif yang berkesinambungan dengan
mengoptimlkan proses penciptaan, pengkomunikasian, dan pengaplikasian
semua knowledge yang dibutuhkan dalam rangka pencapaian tujuan bisnis.
Tobing (2007:23) mengartikan manajemen pengetahuan sebagai
pendekatan-pedekatan sistemik yang membantu muncul dan mengalirnya
informasi dan knowledge kepada orang yang tepat pada saat yang tepat
untuk menciptakan nilai.
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa
manajemen pengetahuan adalah serangkaian proses penciptaan,
pengkomunikasian, dan penerapan knowledge perusahaan untuk
menciptakan nilai bisnis serta meningkatkan pembelajaran dan kinerja
karyawan maupun organisasi. Menurut Tobing (2007:23) Dua pendekatan
fundamental mengenai knowledge, yaitu tacit knowledge yang pada
dasarnya bersifat pribadi sehingga sulit untuk diekstraksi dari kepala
individu (personal knowledge) dan explicit knowledge yang
mengasumsikan bahwa pengetahuan yang bermanfaat bagi individu dalam
organisasi dapat diartikulasikan dan dibuat explicit. Explicit knowledge
dalam penelitian ini adalah job procedure dan technology.
2. Fungsi Knowledge Management
Menurut Garvin (2000), fungsi aplikasi knowladge management
dalam suatu organisasi ada lima, yaitu sebagai berikut:
a. Intermediation yaitu peran perantara transfer pengetahuan
antara penyedia dan pencari pengetahuan. Peran tersebut untuk
mencocokkan (to match) kebutuhan pencari pengetahuan
dengan sumber pengetahuan secara optimal. Dengan demikian
intermediation menjamin transfer pengetahuan berjalan lebih
efisien.
b. Externalization yaitu transfer pengetahuan dari pikiran
pemiliknya ke tempat penyimpanan (repisotory) eksternal,
dnegan cara seefisien mungkin. Externalization dengan
demikian adalag menyediakan sharing pengetahuan.
c. Internalization adalah “pengambilan” (extraction) pengetahuan
dari tempat penyimpanan eksternal, dan menyaring pengetahuan
tersebut untuk disediakan bagi pencari yang relevan.
Pengetahuan harus disajikan bagi pengguna dalam bentuk yang
lebih cocok dengan pemahamannya. Maka, fungsi ini mencakup
interpretasi dan/atau format ulang penyajian pengetahuan.
d. Cognition adalah gungsi suatu sistem untuk membuat keputusan
yang didasarkan atas ketersediaan pengetahuan. Cognition
merupakan penerapan pengetahuan yang telah berubah melalui
tiga fungsi terdahulu.
e. Measurement yaitu kegiatan knowledge management untuk
mengukur, memetakan dan mengkuantifikasi pengetahuan
korporat dan kinerja dari solusi knowledge management.
3. Tujuan Penerapan Knowledge Management
Menurut Garvin, (2000) alasan penerapan manajemen pengetahuan
di perusahaan dilatarbelakangi oleh:
1) Peningkatan persaingan pasar dan tingkat inovasi
2) Penghematan waktu mencari pengalaman bisnis dan
mengakuisisi pengetahuan
3) Adanya pemberhentian karyawan dan peningkatan mobilitas
karyawan di lingkungan kerja menimbulkan kehilangan
pengetahuan perusahaan
4) Terdapat kebutuhan untuk mengatur peningkatan kompleksitas
kea rah operasional perusahaan kecil dn sumber operasi
transnational
5) Perubahan dalam strategi menimbulkan kehilangan
pengetahuan, dalam area yang spesifik semakin banyak
pekerjaan yang membutuhkan informasi
6) Adanya persaingan organisai berdasar pada penguasaan
pengetahuan
7) Kebutuhan pembelajaran sepanjang hayat
8) Kemampuan dalam pengaturan knowledge merupakan
kesempatan yang utama untk mencapai pengehamatan yang
substansial, peningkatan dalam kinerja SDM dan keunggulan
bersaing
9) Kebutuhan untuk dapat memperoleh pengetahuan dari sumber-
sumber eksternal
10) Penggunaan pengetahuan dalam pengambilan keputusan
11) Pertumbuhan dari barang dan jasa yang knowledge intensif
12) Meningkatkan retesni karyawan melalui penentuan nilai
pengetahuan karyawan dan penghargaan.
Organisasi yang umum kita dengar merupakan sekumpulan orang
yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama yang sudah ditetapkan.
Sekarang ini organisasi telah merubah pendekatan bisnisnya dari yang
berlandaskan sumber daya menjadi arah yang berlandaskan pengetahuan.
Knowledge Management (KM) menjadi suatu strategi untuk mendorong
perusahaan terus berinovasi, untuk mendukung penerapan KM maka
perusahaan memerlukan suatu sistem atau sistem tersebut sering disebut
dengan Knowledge Management System (KMS). Knowledge management
menjadi sarana utama dalam pelaksanaan proses-proses yang ada di dalam
KM itu sendiri, maka perlu dilakukan analisis untuk mencari tahu sejauh
mana proses-proses yang ada mempengaruhi kinerja karyawan.
4. Jenis Pengetahuan (Knowledge)
Pengetahuan pekerja dapat dianggap sebagai karyawan yang
menerapkan pengetahuan mereka yang berharga dan keterampilan
(dikembangkan melalui pengalaman) ke kompleks dan masalah abstrak
dalam lingkungan yang memberikan pengetahuan kolektif yang kaya dan
sumber daya relasional. Adapun pembagian jenis – jenis pengetahuan yaitu
sebagai berikut:
a. Tacit knowledge adalah pengetahuan yang diperoleh dari
pengalaman, kegiatan-kegiatan yang dilakukan dan sudah
didefinisikan dimana biasanya dibagikan lewat diskusi-diskusi dan
cerita-cerita. Menurut Polanyi (1996) tacit knowledge adalah
pengetahuan yang biasanya dibagikan melalui demonstrasi, lebih
dari sekedar pendeskripsian dan memandu sebagai keterampilan.
b. Explicit knowledge adalah pengetahuan yang sudah diformulasikan,
biasanya disajikan dalam bentuk tulisan misalnya peraturan, buku-
buku literatur. Menurut Polanyi (1996), expelicit knowledge adalah
sesuatu yang mudah untuk dituliskan atau dirangkum. Hal tersebut
relatif mudah untuk diucapkan dan dikomunikasikan dan mudah
dibagikan antara pribadi seseorang dengan organisasi
5. Pengukuran Knowledge Management
Knowledge management (KM), yang mengacu pada cara organisasi
menangani pengetahuan pada berbagai tahap kehidupannya dalam sebuah
organisasi. Ada empat proses utama: penemuan pengetahuan, penangkapan
pengetahuan, berbagi pengetahuan, dan aplikasi pengetahuan (Becerra-
Fernandez dan Sabherwal, 2010). Ada empat pengukuran knowledge
management menurut Becerra-Fernandez dan Sabherwal (2010):
a. Knowledge Discovery
Penemuan pengetahuan dapat didefinisikan sebagai
pengembangan pengetahuan diam-diam atau eksplisit dari data
informasi atau dari sintesis pengetahuan sebelumnya. Penemuan
pengetahuan eksplisit baru sangat bergantung
langsung di kombinasi.
Menurut Becerra-Fernandez & Sabherwal (2010), dapat dikatakan
Knowledge Discovery jika dalam prosesnya terjadi sintesa atau
pembentukan pengetahuan baru dari knowledge-knowledge yang sudah ada.
Tentu dalam konteks knowledge management di perusahaan sangatlah
penting pengetahuan yang ada lebih menitik beratkan kepada pemenuhan
kebutuhan dan sudut pandang customer.
Penemuan pengetahuan tacit baru sangat bergantung pada
sosialisasi, yaitu pengetahuan tacit sintesis antar individu, biasanya melalui
kegiatan bersama daripada tertulis atau lisan petunjuk. Misalnya
mentransfer ide dan gambar, magang membantu pendatang baru untuk
melihat bagaimana pemikiran lainnya.
b. Knowledge Capture
Knowledge Capture dapat didefinisikan sebagai proses
pengambilan pengetahuan baik itu explicit ataupun tacit yang
berada dalam diri people (individual atau grup), artifacts
(practices, technologies, atau repositories) atau entitas
organiasai (Becerra-Fernandez & Sabherwal, 2010).
Pengetahuan yang ditangkap mungkin berada di luar organisasi.
Batasan termasuk konsultan, pesaing, pelanggan, pemasok, dll.
c. Knowledge Sharing
Berbagi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan
eksplisit atau diam-diam dikomunikasikan ke individu yang lain.
Misalnya, menulis makalah penelitian, memberikan ceramah,
berpartisipasi dalam dialog mengenai kopi. Atau makan siang,
dan berpartisipasi dalam komunitas. Bergantung pada apakah
pengetahuan eksplisit atau diam-diam dibagikan, proses
pertukaran atau sosialisasi digunakan.
d. Knowledge Application
Aplikasi pengetahuan adalah bila pengetahuan tersedia
digunakan untuk membuat keputusan dan melakukan tugas arah
dan rutinitas. Proses ini terbagi atas dua hal yaitu direction dan
routines. Directions memproses knowledge dengan tindakan,
tanpa proses transfer knowledge. Ketika seorang pekerja
meminta bantuan kepada seorang expert untuk memecahkan
permasalahan yang dihadapinya. Routines melibatkan
pemanfaatan dari knowledge yang ada pada prosedur, aturan dan
norma yang ada yang memandu masa depan.
Pendapat berbeda dikemukakan oleh Lindner & Wald (2011)
mengenai pengukuran knolwedge management sebagai berikut:
a. Knowledge Obtaining
Pengetahuan yang didapat terdiri dari dua kegiatan, yaitu
pengetahuan dan penciptaan pengetahuan. Dua cara
memperoleh pengetahuan adalah mencari dan memperoleh
pengetahuan baru, atau untuk menciptakan pengetahuan baru
dari pengetahuan lama yang ada melalui kerja sama antara
aliansi bisnis dan individu.
b. Knowledge Organizing
Pengorganisasian pengetahuan terdiri dari penyempurnaan
pengetahuan, penyimpanan pengetahuan, dan
berbagipengetahuan. Penyelesaian pengetahuan adalah proses
penambahan nilai organisasi terhadap informasi atau
pengetahuan yang baru diperoleh dengan menyaring,
mengkategorikan, mengkodifikasi, mengintegrasikan, dan
mengindeks.
c. Knowledge Applying
Penerapan pengetahuan adalah untuk membuat pengetahuan
aktif dan lebih tepat bagi organisasi dalam menciptakan nilai
dengan produk dan layanan baru. Pengetahuan yang diterapkan
adalah penggunaan pengetahuan karyawan untuk memecahkan
masalah atau tantangan organisasi yang menyebabkan lebih
sedikit kesalahan atau peningkatan efisiensi.
Pengukuran knowledge management menurut Alavi & Leidnar
(2001) dibagi menjadi beberapa proses seperti:
a. Knowledge Creation
Proses pertama, yaitu penciptaan pengetahuan, melibatkan
kegiatan yang berhubungan dengan pengetahuan masuk ke
dalam sistem, yaitu pengembangan, penemuan, dan
penangkapan dan pemahaman. Ini adalah proses di mana
pengetahuan baru dibuat atau konten pengetahuan saat ini
diganti dengan konten baru.
b. Knowledge Storage and Retrieval
Proses kedua, yaitu penyimpanan dan pengambilan
pengetahuan, berhubungan dengan aktivitas yang membuat
pengetahuan tetap dalam sistem. Para ilmuwan telah dengan
tegas berpendapat bahwa faktor kunci dalam menyelesaikannya
adalah memori organisasi yang berkaitan dengan kemampuan
organisasi untuk menyimpan dan memelihara pengetahuan.
c. Knowledge Distribution and Transfer
Tahap ketiga, distribusi pengetahuan dan transfer, melibatkan
arus pengetahuan dari satu sektor atau individu ke bidang
lainnya. Ini termasuk hubungan yang terkait dengan
menerjemahkan, mentransfer, menafsirkan, dan mendaur ulang
pengetahuan.
d. Knowledge Application
Pada akhirnya, aplikasi pengetahuan merupakan kegiatan yang
berkaitan dengan pelaksanaan pengetahuan dalam proses
organisasi. Aplikasi pengetahuan adalah proses utama siklus
hidup pengetahuan mikro. Dalam proses ini pengetahuan secara
langsung diterapkan pada kinerja tugas atau pemecahan
masalah.
Pada dasarnya manajemen pengetahuan itu bertujuan pada
pengumpulan perangkat, teknik, dan strategi untuk mempertahankan,
menganalisis, mengorganisasi, meningkatkan, dan membagikan pengertian
dan pengalaman. Artinya peranan pengetahuan yang ada dalam sebuah
perusahaan perlu dikelola dengan baik sehingga setiap pekerja atau karyawan
dapat berperan dan menggunanakan pengetahuan yang dimilikinya masing-
masing.