A.
Pengertian Shaping
Shaping merupakan salah satu prosedur untuk membentuk perilaku yang belum
dimunculkan oleh individu. Shaping adalah teknik yang mengembangkan perilaku baru
dengan cara memberikan reinforcement pada setiap urutan perilaku baru yang berhasil
dicapai sehingga semakin lama akan semakin mendekati target perilaku yang diinginkan.
Perilaku-perilaku yang diperoleh seorang individu di sepanjang hidupnya berkembang
dari beragam sumber dan pengaruh. Kadang sebuah perilaku yang benar-benar baru
berkembang ketika individu menampilkan sejumlah perilaku awal dan lingkungan kemudian
sedikit menguatkan variasi perilaku tersebut. Akhirnya perilaku awal tersebut dapat dibentuk
agar bentuk finalnyatidak lagi mirip dengannya. Contohnya banyak orangtua menggunakan
shaping untuk mengajarkan anak-anaknya berbicara. Bayi awalnya mengucapkan celotehan
yang masih jauh dari kemiripan dengan bahasa orangtua. Ketika ini terjadi, orangtua
biasanya langsung menguatkan perilaku dengan pelukan, ciuman atau senyuman. Bunyi
“mmm” dan “paa” dari bayi biasanya akan mendapatkan penguatan dari orangtua. Akhirnya
bayi mengucapkan “ma-ma” dan “pa-pa” dan menerima penguatan besar sehingga bentuk
primitive “mmm” dan “daa” hilang (punah). Di tahap berikutnya, penguatan diberikan lagi
setelah bayi berhasil mengatakan “mama” dan “papa” sehingga ucapan “ma-ma” dan “pa-pa”
hilang.
Terdapat 5 aspek atau dimensi perilaku yang dapat dibentuk yaitu topografi, frekuensi,
durasi, latensi dan intensitasnya (kekuatan).
a. Topografi (bentuk) yaitu gerakan-gerakan fisik yang terlibat di sebuah perilaku.
Contoh : taraf perilaku yang menunjukkan cara servis tenis yang baik.
b. Frekuensi yaitu jumlah munculnya perilaku di periode waktu tertentu.
Contoh : jumlah piring yang dicuci dalam waktu 5 menit.
c. Durasi yaitu jumlah waktu bagi sebuah perilaku untuk bertahan.
Contoh : lamanya waktu yang dibutuhkan untuk air menetes dari sebuah tabung
percobaan.
d. Latensi yaitu waktu antara pengendalian stimulus dan munculnya perilaku.
Contoh : waktu antara pertanyaan “jam berapa sekarang?” dan respon melihat jam
tangan.
e. Intensitasnya (kekuatan) yaitu jumlah energi yang dikeluarkan bagi sebuah perilaku.
Contoh : kekuatan pukulan saat memukul samsak tinju.
B. Langkah-langkah melakukan Shaping
1. Tentukan target perilaku yang ingin dibentuk.
Dengan menentukan target perilaku, psikolog bisa mengetahui kapan dan apakah
program shaping berhasil.
2. Tentukan apakah shaping adalah prosedur yang paling tepat untuk digunakan.
Apabila individu sudah memperlihatkan perilaku yang ingin dicapai meskipun hanya
sekali, maka tidak perlu menggunakan shaping, cukup di berikan differential
reinforcement untuk meningkatkan frekuensi dari perilaku yang ditargetkan. Psikolog
tidak perlu untuk menggunakan shaping apabila ia bisa hanya mendorong partisipan
untuk membentuk perilaku yang diinginkan, apabila ia anda dapat menunjukkan
kepada partisipan perilaku yang benar , atau apabila ia bisa menginstruksikan
partisipan untuk terlibat dalam perilaku yang benar.
3. Mengidentifikasi perilaku awal.
Perilaku awal haruslah perilaku yang sudah ada pada partisipan meskipun hanya
sesekali. Selain itu, perilaku awal harus memiliki beberapa perilaku yang relevan
dengan perilaku target. Perilaku awal itu dipilih karena perilaku tersebut sudah terjadi
dan itu adalah sebuah pendekatan yang bisa dibangun untuk sampai ke perilaku target
(perilaku yang diinginkan).
4. Memilih langkah-langkah shaping.
Dalam teknik shaping, partisipan harus menguasai setiap langkah sebelum bergerak
ke langkah selanjutnya. Setiap langkah harus menjadi lebih dekat dengan perilaku
yang ditargetkan daripada langkah yang sebelumnya. Namun, perubahan perilaky dari
satu langkah ke langkah berikutnya tidak boleh terlalu besar sehingga membuat
partisipan terhenti untuk maju ke perilaku yang ditargetkan. Perubahan perilaku yang
moderat (sedang) dari satu langkah ke langkah berikutnya adalah yang paling tepat.
Jika langkah shaping terlalu kecil, kemajuan akan lambat dan melelahkan. Psikolog
harus menyusun langkah demi langkah dalam teknik shaping dengan harapan bahwa
sekali langkah itu dikuasai oleh partisipan, maka akan memudahkan perilaku yang
ditentukan dalam langkah berikutnya.
5. Memilih reinforcement yang akan digunakan selama prosedur shaping dilakukan.
Psikolog harus memilih konsequensi yang akan menjadi penguat untuk partisipan.
Psikolog harus segera memberikan penguatan apabila partisipan menunjukkan
perilaku yang tepat.
6. Memperkuat masing-masing tahap secara berurutan.
Dimulai dari perilaku awal, perkuat setiap perilaku yang sesuai sampai perilaku bisa
terbentuk dengan baik. Kemudian mulai memperkuat tahap berikutnya dan tidak lagi
memberikan penguatan pada tahap sebelumnya. Setelah perilaku di tahap ini terjadi
secara konsisten, berhenti memperkuat perilaku ini dan mulai memperkuat perilaku di
tahap selanjutnya. Lanjutkan dengan proses differential reinforcement dari setiap
tahap ini sampai perilaku yang ditargetkan dapat terjadi dan diperkuat.
7. Lewati setiap tahap dengan kecepatan yang tepat.
Apabila partisipan menguasai satu tahap (berhasil melakukan perilaku setidaknya
beberapa kali), maka bisa dilanjutkan ke tahap berikutnya. Jika sebuah perilaku di
tahapan tertentu di perkuat terlalu lama atau terlalu banyak, ia akan menjadi terlalu
kuat sehingga perilaku baru akan rendah kemungkinannya untuk bisa muncul. Harus
diingat bahwa perilaku di tahap sebelumnya harus hilang agar perilaku berikutnya
muncul, dan demikian seterusnya hingga perilaku target final tercapai. Di lain sisi,
apabila partisipan tidak menguasai satu tahapan maka akan sulit untuk bergerak ke
tahap berikutnya. Oleh karena itu jangan terlalu tergesa-gesa untuk melangkah ke
tahap yang baru sebelum tahap sebelumnya dikuasai dengan baik.
C. Shaping pada perilaku bermasalah
Contoh kasus:
Ny. Smith mengalami masalah dengan putranya yang berusia 4 tahun, Tommy dengan
perilaku yang mengganggu. Mrs. Smith menjalankan bisnis online dari rumahnya. Ketika dia
sibuk, Tommy sering menyela dan bertanya atau menuntut agar dia bermain dengannya.
Karena Tommy bersikeras, Ny. Smith biasanya menghentikan apa yang dia lakukan untuk
bermain sebentar.
Dokter anak menyarankan bahwa Ny. Smith menggunakan extinction (tidak
memberikan positive reinforcement yang selama ini memperkuat perilaku tersebut) dan
belajar untuk tidak memperkuat tuntutan Tommy padanya. Pertama kali Ny. Smith
melakukan extinction, Tommy menjadi kesal. Dia berlari ke kamar lain dan berteriak
(extinction gagal). Prihatin akan putranya, Mrs. Smith mengikutinya, menenangkannya, dan
kemudian bermain selama beberapa menit. Dia mencoba extinction ketika Tommy menuntut
agar dia bermain dengannya. Sekali lagi, dia menjerit dan berlari ke kamar lain. Mrs Smith
mengikutinya, menenangkannya, dan bermain dengannya lagi, sehingga dia akan berhenti
berteriak.
Perilaku Mrs. Smith bermain-main dengan Tommy ketika dia berteriak diperkuat secara
negatif karena dia berhenti berteriak.
Ny. Smith mulai memperhatikan bahwa Tommy sering berteriak agar dia bermain
dengannya. Dia memutuskan untuk menggunakan saran dokter anak dan mencoba
mengabaikan perilaku baru ini. Ketika Tommy menjerit, Ny. Smith tetap di mejanya dan
mengabaikan perilaku itu. Tommy menjerit 3 menit berturut-turut, lalu Ny. Smith mendengar
bunyi tabrakan. Dia berlari ke kamar lain dan melihat bahwa Tommy telah melemparkan
mainan truk monsternya ke dinding (extinction gagal). Tommy masih berteriak dan terisak.
Mrs. Smith mendudukkan Tommy dan menyuruhnya untuk tidak melempar mainannya dan
mereka akan bermain nanti. Dia membantunya mengambil potongan-potongan truk dan
memasangnya kembali. Dia berbicara dengan Tommy sampai dia tenang.
Ny. Smith kembali bekerja dan, tak lama kemudian, Tommy mulai menjerit lagi. Ketika
Ny. Smith tidak masuk ke kamar, dia melemparkan mainannya lagi. Mrs Smith percaya dia
tidak bisa mengabaikan perilaku ini, jadi dia berlari ke kamar dan memarahi Tommy. Dia
menyuruhnya duduk di sofa sambil menasehati perilakunya yang tidak pantas. Pada saat Ny.
Smith kembali ke dokter anak, 2 minggu setelah kunjungan sebelumnya, Tommy sering
berteriak dan melempar mainannya. Perilaku bermasalahnya jauh lebih buruk daripada
sebelumnya. Tanpa diketahui Ny. Smith, dia telah menggunakan shaping untuk
mengembangkan topografi yang lebih buruk dari perilaku bermasalah. Tanpa menyadarinya,
Ny. Smith memperkuat setiap masalah perilaku baru dengan perhatiannya. Kemungkinan
besar, banyak perilaku bermasalah parah yang ditunjukkan orang (terutama anak-anak)
dikembangkan melalui proses shaping yang serupa.
Contoh lain adalah perilaku mencederai diri sendiri, seperti menampar kepala, yang
mungkin telah dimulai sebagai perilaku ringan dan tumbuh lebih parah melalui pembentukan.
Awalnya, ketika anak itu kesal dan menampar kepalanya, orang tua menanggapi dengan
perhatian (perhatian), yang memperkuat perilaku. Ketika perilakunya berlanjut, orang tua
berusaha mengabaikannya. Namun, anak itu menampar lebih keras, dan orang tua merespons
lagi dengan khawatir. Ini memperkuat kepala yang menampar lebih keras. Proses ini diulang
beberapa kali lagi; dengan demikian, semakin keras kepala menampar diperkuat, sampai
perilaku itu menyebabkan cedera.
DAFTAR PUSTAKA
Martin, G. & Pear, J. (2015). Modifikasi Perilaku: Makna dan penerapannya. Yogyakarta :
Pustaka pelajar.
Miltenberger, R. G. (2012). Behavior Modification : Principles & Prosedures (Fifth Edition).
USA : Wadsworth, Cengage Learning.