Modul Sistem Elektrikal Dasar
Modul Sistem Elektrikal Dasar
ELECTRICAL SYSTEM
Puji syukur penulis panjatkan kepada ALLAH SWT yang selalu melimpahkan rahmat
dan kasih sayang kepada seluruh umat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan modul
ini sesuai dengan yang diharapkan. Modul ini berjudul “Electrical System” sebagai salah
satu materi dalam program Basic Mechanic Course di PT United Tractors Tbk.
Penulis telah berusaha semaksimal mungkin dalam penyusunan modul ini. Namun
demikian, tidak menutup kemungkinan adanya kekurangan yang dikarenakan keterbatasan
pengetahuan, kemampuan dan pengalaman yang dimiliki penulis. Penulis mengharapkan
saran dan kritik yang membangun atas segala kekurangannya, sehingga akan menjadi
sebuah perbaikan di kemudian hari.
Penulis
ii
DAFTAR ISI
iv
DAFTAR GAMBAR
viii
PERISTILAHAN / GLOSSARY
Alternating Current (Arus Bolak-balik) : Arus yang mengalir dengan polaritas yang selalu
berubah-ubah. Dimana masing-masing terminalnya polaritas yang selalu bergantian.
Armature : Bagian dari starting motor yang dapat berputar dan mengeluarkan arus listrik.
Avometer (Multi Tester) : alat ukur yang multi guna untuk mengukur ampere, volt dan ohm.
Battery : Alat perubah energi kimia menjadi energi listrik untuk menyediakan listrik bagi
sistem kelistrikan pada unit.
Battery Relay Switch : Komponen starting system yang digunakan untuk memutuskan atau
menghubungkan negatif battery dengan body/chasis dan positif battery dengan starting
motor.
Charging System : Suatu sistem yang digunakan untuk mengembalikan kondisi battery
agar selalu siap digunakan.
Circuit Breaker : Suatu alat yang digunakan untuk mencegah kerusakan kerusakan
komponen-komponen dan kabel-kabel pada preheating system (sistem pemanasan
awal) yang dikarenakan arus berlebihan (short circuit).
Diode : Suatu komponen elektronika yang mempunyai dua kutub yaitu anoda dan katoda.
Dioda terdiri dari gabungan material N dan material P.
Direct Current (Arus Searah) : Arus yang mengalir dalam arah yang tetap (konstan).
Dimana masing-masing terminal selalu tetap polaritasnya.
Electromagnet adalah medan magnet yang ditimbulkan oleh adanya aliran arus listrik pada
sebuah konduktor atau coil.
Glow Plug : Alat pemanas yang dengan komponen-komponen lain akan memanaskan
udara untuk pembakaran pada engine.
Konduktor : Bahan yang atom–atomnya mempunyai jumlah elektron lebih kecil dari 4 pada
lintasan (kulit) terluar.
Preheating System : Suatu sistem yang digunakan untuk memanaskan udara yang akan
masuk ke ruang bakar dengan tujuan mempermudah menghidupkan engine pada
waktu udara sekeliling engine masih dingin.
Resistor Non Linier : Resistor yang harganya berubah-ubah (tidak sesuai dengan hukum
ohm), tetapi merupakan fungsi dari temperatur, tegangan dan cahaya yang jatuh
terserap.
Resistor Tetap : Resistor yang sengaja dibuat dengan harga resistansi (ohm= Ω) tertentu.
ix
Resistor Variable : Resistor yang mempunyai terminal tetap dan terminal tidak tetap yang
dapat digeser sepanjang elemen resistor tersebut.
Safety Relay : Komponen starting system yang digunakan sebagai relay (penghubung)
antara starting switch dan starting motor selain fungsi lainnya.
Self Discharge : Suatu battery yang mengalami kehilangan muatan listrik yang tersimpan
tanpa pemakaian melalui rangkaian luar.
Self Induction (Induksi Diri) : Gaya gerak listrik yang berbalik dengan arah aliran arus pada
lilitan ketika switch dibuka (off) dari kondisi tertutup (on).
Semi Konduktor : Sedangkan bahan atom–atomnya mempunyai 4 elektron pada lintasan
(kulit) terluar.
Starting Motor : Komponen starting system yang digunakan untuk menghidupkan engine
dengan prinsip merubah energi listrik menjadi energi mekanis.
Starting System : Sustu sistem yang bertujuan untuk menghidupkan suatu engine atau unit.
Komponen utama dalam sistem ini adalah starting switch, battery relay switch, starting
motor dan safety relay.
Thermistor : Resistor yang mempunyai koeffisien temperatur yang sangat tinggi, dimana
dengan adanya perubahan temperatur, resistansinya juga akan berubah.
Thermistor NTC : Resistor dengan koefiisien temperatur negatif yang sangat tinggi. Dimana
ketika temperatur naik maka harga resistansi turun.
Thermistor PTC : Resistor dengan temperatur positif yang sangat tinggi. Dimana ketika
temperatur naik maka harga resistansi naik.
Transistor adalah suatu komponen elektronika yang dibuat dengan penggabungan dari
material P dan N. yang disisipkan suatu lapisan tipis P atau N. Komponen ini berfungsi
sebagai electric switch dan sebagai penguat.
Transistor NPN : Transistor yang pembuatannya terdiri dari dua buah lapisan N yang
disisipkan ditengahnya satu lapisan tipis P.
Transistor PNP : Transistor yang pembuatannya terdiri dari dua buah lapisan P yang
disisipkan ditengahnya satu lapisan tipis N.
Trimmer : Potensiometer dengan bahan dasar karbon yang biasanya dipasang pada PCB
dimana dibutuhkan suatu pengkalibrasian.
Wirewound Potentiometer : Potentiometer yang terbuat dari lilitan kawat yang berbentuk
lingkaran.
Zener diode : sebuah diode yang dirancang khusus untuk menghantarkan arus reverse
tanpa merusaknya.
x
BAB I
PENDAHULUAN
A. Deskripsi
Modul electrical system membahas tentang pengetahuan dasar electrical yang
harus dimiliki oleh seorang calon mekanik khususnya mekanik di bidang alat berat. Tujuan
dari modul ini adalah agar mekanik memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam
membentuk kompetensi mengetahui nama komponen, lokasi, fungsi, cara kerja, system
dan simple troubleshooting electrical system
B. Prasyarat
Sebelum memulai modul ini, anda harus sudah menyelesaikan modul-modul yang harus
dipelajari lebih awal sesuai dengan peta kedudukan modul.
1
c. Untuk kegiatan belajar yang terdiri dari teori dan praktek, perhatikanlah hal-hal
berikut ini:
1) Perhatikan petunjuk-petunjuk keselamatan kerja yang diberikan.
2) Pahami setiap langkah kerja (Shop Manual, QA Sheet, SOP) dengan baik.
3) Sebelum melaksanakan praktik, rencanakan tools yang diperlukan secara
cermat.
4) Gunakan alat sesuai prosedur yang pemakaian yang benar.
5) Untuk melakukan kegiatan belajar praktek yang belum jelas, harus meminta ijin
instruktur lebih dahulu.
6) Setelah selesai praktek, kembalikan alat dan bahan ke tempat semula.
d. Jika belum menguasai tingkat materi yang diharapkan, ulangi lagi pada kegiatan
belajar sebelumnya atau bertanyalah kepada instruktur yang bersangkutan.
2. Peran instruktur antara lain
a. Membantu peserta dalam merencanakan proses belajar.
b. Membimbing peserta melalui tugas-tugas pelatihan yang dijelaskan dalam tahap
belajar.
c. Membantu peserta dalam memahami konsep dan praktek baru dan menjawab
pertanyaan peserta mengenai proses belajar peserta.
d. Membantu siswa untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain yang
diperlukan untuk belajar.
e. Mengorganisasikan kegiatan belajar kelompok jika diperlukan.
f. Merencanakan mentor/ pendamping (among) dari tempat kerja untuk membantu jika
diperlukan (peserta OJT/experience).
g. Merencanakan proses penilaian dan menyiapkan perangkatnya.
h. Melakasanakan penilaian.
i. Menjelaskan kepada siswa tentang sikap pengetahuan dan keterampilan dari suatu
kompetensi yang perlu untuk dibenahi dan merundingkan rencana pembelajaran
selanjutnya,
j. Mencatat pencapaian kemajuan siswa.
D. Tujuan Akhir
Setelah mempelajari secara keseluruhan materi kegiatan belajar dalam modul ini peserta
diharapkan “Mampu mendeskripsikan komponen, lokasi, fungsi, cara kerja, system
dan simple troubleshooting pada electrical system dengan tepat dan benar”
2
E. Kompetensi
Modul ini membantu peserta dalam membentuk kompetensi mengetahui nama, lokasi,
fungsi, cara kerja, system dan simple troubleshooting pada electrical sistem dengan tepat
dan benar.
Elemen Kriteria Unjuk Lingkup Pokok Pemelajaran
Kompetensi Kerja Bahasan Pengetahuan Ketrampilan Sikap
1. Mengetahui Prinsip dasar listrik 1. Teori electron - Memahami teori - Mengikuti
prinsip dasar dapat diketahui electron, pembelajaran
2. Besaran listrik
listrik besaran listrik, sesuai dengan
3. Hukum ohm prosedur
hukum ohm,
- Memperhatikan
4. Arus searah dan arus searah dan faktor-faktor
arus bolak balik arus bolak balik keselamatan
dan memahami kerja dan
5. Tenaga listrik
tenaga listrik lingkungan
3
sytem electric dapat dipahami unit komponen dari
2. Charging system electrical
system
unit
- Memahami
3. Preheating fungsi
system unit komponen dari
electrical
4. Lighting system
system
unit
7. Memahami Prosedur trouble 1. Prosedur trouble - Dapat - Dapat melakukan sda
prosedur shooting electric melakukan simple trouble
shooting electric
trouble system dapat pembacaan shooting
shooting dipahami
trouble shooting
electric
system chart pada shop
manual
F. Cek Kemampuan
Sebelum mempelajari modul ini, isilah dengan tanda cek (v) kemampuan yang telah dimiliki
peserta dengan sikap jujur dan dapat dipetanggungjawabkan.
4
BAB II
PEMBELAJARAN
2. Komponen dan
rangkaian listrik
3. Prinsip dasar
kemagnetan
4. Tools electric
5. Wiring dan
connection system
6. System electric
7. Prosedur trouble
shooting electric
6
B. Kegiatan Belajar Peserta Diklat
KEGIATAN BELAJAR I
Tujuan Kegiatan Belajar 1
Prinsip Dasar Listrik
Ranah
Elemen Kegiatan
Indikator Keberhasilan Kompetensi
Kompetensi Pembelajaran
P K S
Dapat menjelaskan teori dari
Teori Elektron
elektron
Dapat menjelaskan besaran
Besaran Listrik
Prinsip Dasar listrik
Elektrik Hukum Ohm Dapat menjelaskan hukum Ohm
Arus searah dan arus Dapat menjelaskan prisnip arus
bolak balik searah dan arus bolak balik
Tenaga Listrik Dapat menjelaskan tenag listrik
7
Uraian Materi Kegiatan Belajar 1
Teori Elektron
Atom tersusun atas proton, neutron dan elektron. Proton dan neutron terdapat dalam
inti atom, sedangkan elektron selalu bergerak mengelilingi inti atom. Menurut Bohr, dalam
mengelilingi inti atom, elektron berada pada kulit-kulit (lintasan) tertentu. Elektron adalah
bagian terkecil dari suatu atom, lihat gambar berikut ini :
Atom yang sederhana adalah atom hydrogen. Atom ini mempunyai satu elektron yang
mengorbit pada satu inti (proton). Atom yang elektronnya lebih banyak adalah atom uranium.
Atom ini mempunyai 92 elektron dan 92 proton. Setiap atom mempunyai struktur sendiri-
sendiri. Tetapi pada umunya setiap atom mempunyai jumlah proton dan elektron yang sama.
Menurut pauli, banyaknya elektron maksimum yang dapat menempati tiap kulit dirumuskan
dengan :
8
Simbol kulit dan banyaknya elektron maksimum dalam setiap kulit :
K(n=1)= 2 x ( 1 )2 = 2 elektron.
L(n=2) = 2 x ( 2 )2 = 8 elektron.
M(n=3)= 2 x ( 3 )2 = 18 elektron.
N(n=4)= 2 x ( 4 )2 = 32 elektron.
O(n=5)= 2 x ( 5 )2 = 50 elektron.
P(n=6) = 2 x ( 6 )2 = 72 elektron.
NA 13 K = 2 elektron.
L = 8 elektron.
M = 3 elektron.
9
dalam sistem kelistrikan, karena dapat menghantarkan listirk dengan baik. Atom tembaga
terdiri dari 29 proton dan 29 elektron. Elektron – elektron menyebar dalam 4 lintasan ( kulit )
terluar hanya mempunyai satu elektron seperti terlihat pada gambar berikut ini :
NA 14 K = 2 elektron.
L = 8 elektron.
M = 18 elektron.
N = 1 elektron
Berarti Atom Cu mempunyai valensi 1.
(Jika kulit N belum terisi penuh dengan 32 elektron maka akan membentuk sub-kulit
maksimal dengan 18 atau 8 elektron)
- Bahan yang atom-atomnya mempunyai jumlah elektron lebih kecil dari 4 pada lintasan
(kulit) terluar disebut Konduktor.
- Bahan yang atom-atomnya mempunyai jumlah elektron lebih besar dari 4 pada lintasan
(kulit) terluar disebut Isolator.
- Bahan yang atom-atomnya mempunyai jumlah elektron sama dengan 4 pada lintasan
(kulit) terluar disebut Semikonduktor.
Dengan demikian alumunium dan tembaga adalah bahan konduktor karena memiliki
jumlah elektron terluar kurang dari 4, sedangkan silicon adalah bahan semiconductor karena
memiliki jumlah elektron terluar sama dengan 4.
Inti ( proton ) menarik elektron dan mempertahankan dalam lintasannya, ada saat
muatan positif ( proton ) sebanding dengan muatan negatif ( elektron ), maka atom menjadi
netral. Meskipun demikian, muatan atom dapat berubah dari netral menjadi bermuatan
positip jika elektron terluarnya ada yang terlepas atau negatip jika mendapat tambahan
elektron dari atom lain pada kulit terluarnya.
10
Uraian Materi Kegiatan Belajar 1
Besaran Listrik
A. Arus ( I )
Ketika dua konduktor (A) dan (B) diisi muatan positif dan negatif yang dihubungkan
dengan kawat penghantar (C). Elektron-elektron bebas yang berada pada konduktor (B)
akan ditarik oleh konduktor (A) melalui kawat penghantar (C). Hal ini akan menyebabkan
terjadinya arus elektron dari konduktor (B) yang bermuatan negatif ke konduktor (A) yang
bermuatan positif. Pergerakan elekton inilah yang kemudian menyebabkan terjadinya arus
listrik dari konduktor (A) yang bermuatan positif ke konduktor (B) yang bermuatan negatif.
Arus adalah jumlah muatan listrik yang mengalir melalui suatu titik tertentu selama
satu detik.
11
Keterangan :
I = Arus ( Ampere )
Q = Muatan listrik ( Coloumb )
t = Waktu ( detik )
B. Tegangan ( V )
Tegangan adalah gaya yang mengakibatkan terjadinya arus listrik. Terjadinya
tegangan akibat beda / selisih potensial dan dikatakan ada tegangan ( voltage ). Arus
listrik akan mengalir dari tegangan tinggi ke tegangan yang lebih rendah. Satuan
tegangan listrik disebut “ Volt “ dan disimbolkan “ V “.
Keterangan :
R = Hambatan ( ohm ).
ρ = Tahanan jenis ( ohm meter ).
L = Panjang kawat ( meter ).
A = Luas penampang kawat ( m2 ).
Arus ( I ) yang mengalir melalu dua titik “ a “ dan “ b “ dalam suatu konduktor ( kawat
penghantar ) adalah berbanding lurus dengan tegangannya dan berbanding terbalik dengan
hambatannya ( R ).
Keterangan :
I = Arus yang mengalir ( Ampere ).
V = Tegangan ( Volt ).
R = Hambatan ( Ohm ).
13
Uraian Materi Kegiatan Belajar 1
Arus Searah dan Arus Bolak balik
14
Uraian Materi Kegiatan Belajar 1
Tenaga Listrik
Satuan tenaga listrik dinyatakan dengan Watt, yaitu jumlah dari usaha listrik yang
dihasilkan atau dihilangkan adalah ditetapkan sesuai dengan usaha yang digunakan dalam
periode waktu satu detik. Satuan tenaga listrik adalah “watt“ disingkat W. Satu (1) watt
menunjukkan tenaga yang membutuhkan arus listrik sebesar 1 A , pada tegangan 1 V dalam
setiap detik.
Keterangan :
15
Horse power ( HP ) digunakan sebagai satuan tenaga mekanik, jika dikonversikan ke
tenaga listrik :
Tenaga listrik adalah jumlah dari kemampuan kerja listrik dalam setiap satuan waktu
(detik). Jumlah tenaga listrik diartikan salah satu jumlah usaha listrik yang dihasilkan atau
ditetapkan dalam periode tertentu.
Satuan energi listrik adalah watt detik disingkat dengan ( WS ) atau joule ( J ) jika
jumlah pengukuran besar satuan yang digunakan (Wh) Watt – jam.
PANAS JOULE.
Joule menemukan bahwa tenaga listrik yang dipakai dalam sebuah hambatan berubah
semuanya menjadi panas. Penemuan ini disebut “Hukum Joule“ Panas yang dihasilkan
berasal dari aliran listrik dalam sebuah hambatan dan disebut “ Panas Joule “ dan 1 ( WS ) =
1 joule.
16
Rangkuman Materi 1
1. Atom tersusun atas proton, neutron dan elektron
2. Bahan yang atom-atomnya mempunyai jumlah elektron lebih kecil dari 4 pada lintasan
(kulit) terluar disebut Konduktor.
3. Bahan yang atom-atomnya mempunyai jumlah elektron lebih besar dari 4 pada
lintasan (kulit) terluar disebut Isolator.
4. Bahan yang atom-atomnya mempunyai jumlah elektron sama dengan 4 pada lintasan
(kulit) terluar disebut Semikonduktor.
5. Arus adalah jumlah muatan listrik yang mengalir melalui suatu titik tertentu selama satu
detik.
6. Tegangan adalah gaya yang mengakibatkan terjadinya arus listrik
7. Makin besar hambatan listrik suatu penghantar, makin kecil arus listrik yang mengalir
8. Tenaga listrik adalah jumlah dari kemampuan kerja listrik dalam setiap satuan waktu
(detik).
Tugas 1
1. Electron merupakan partikel sub atom yang bermuatan….
2. Banyaknya muatan listrik (electron) yang mengalir melalui suatu titik pada sebuah
penghantar disebut….
3. Atom yang sederhana adalah atom….
4. Electron yang terdapat pada kulit terluar disebut….
5. Aluminium mempunyai electron valensi sebanyak…
6. Bahan yang atom-atomnya mempunyai electron valensi lebih kecil dari 4 disebut…
7. Bahan yang atom-atomnya mempunyai electron valensi sama dengan 4 disebut…
8. Banyaknya muatan listrik yang mengalir melalui suatu titik penghantar disebut…
9. Gaya yang mengakibatkan terjadinya arus listrik disebut…
10. Jelaskan pengertian dari resistansi!
Soal Latihan 1
1. Tuliskan konfigurasi atom Kalium dengan nomor atom 19!
2. Tuliskan konfigurasi atom Bromin dengan nomor atom 35!
3. Tuliskan konfigurasi atom Nickel dengan nomor atom 28!
4. Hitunglah, sebuah lampu 5 Watt dipasang pada instalasi rumah, maka arus listrik yang
mengalir pada lampu tersebut adalah sebesar?
5. Jelaskan pengertian arus AC dan arus DC!Gambarkan sinyalnya!
17
Kunci jawaban soal latihan 1
1. Kulit K dihuni 2 elektron; kulit L dihuni 8 elektron; kulit M dihuni 1 elektron.
2. Kulit K dihuni 2 elektron; kulit L dihuni 8 elektron; kulit M dihuni 18 elektron; kulit N
dihuni 7 elektron.
3. Kulit K dihuni 2 elektron; kulit L dihuni 8 elektron; kulit M dihuni 8 elektron; kulit N
dihuni 8 elektron; kullit O dihuni 2 elektron
4. P=V.I
5=220.I
I=5/220
I=0,02 A
5. Arus bolak - balik ( AC ) adalah arus yang mengalir dengan polaritas yang selalu
berubah-ubah. Dimana masing-masing terminalnya memiliki polaritas yang selalu
bergantian.
Bentuk Sinyal :
Arus searah ( DC ) adalah arus yang mengalir dalam arah yang tetap ( konstan ).
Dimana masing - masing terminal polaritasnya selalu tetap. Kutup positip akan
selalu menghasilkan polaritas positip begitu pula sebaliknya.
Bentuk Sinyal :
18
KEGIATAN BELAJAR II
Tujuan Kegiatan Belajar 2
Komponen dan Rangkaian Listrik
Ranah
Elemen Kegiatan
Indikator Keberhasilan Kompetensi
Kompetensi Pembelajaran
P K S
Dapat menjelaskan komponen –
Komponen electric
Komponen dan komponen elektrik
rangkaian listrik Dapat menjelaskan rangkaian
rangkaian electric
elektrik
19
Uraian Materi Kegiatan Belajar 2
Komponen Electric
A. Battery / Accumulator
Battery merupakan sumber energi listrik utama dalam unit. Proses kerja battery
adalah sebuah reaksi kimia antara dua buah plat timbal yang berbeda sifat kimia dan
terendam dalam larutan elektrolit. Berdasarkan kondisi operasional di unit maka fungsi
battery adalah sebagai berikut:
Pada saat engine off berfungsi untuk menyediakan arus listrik untuk lampu dan
accesoris lainnya;
Pada saat engine start battery berfungsi untuk mensuplay arus ke starting motor dan
sistem elctric control engine;
Pada saat engine running pada saat ini kebutuhan arus listrik sepenuhnya telah
disuplay dari charging system battery bias dikatakan hanya berfungsi untuk penstabil
tegangan atau filter sehingga komponen komponen yang sangat sensitive terhadap
kenaikan dan penurunan tegangan seperti controller akan aman;
1. Konstruksi.
Battery dapat dibedakan berdasarkan kontruksi dan tipenya yaitu :
Konstruksi compound.
Konstruksi Solid.
a. Konstruksi compound.
Battery ini sel-selnya berdiri sendiri-sendiri dan antara sel yang satu
dengan yang lain dihubungkan dengan lead bar ( connector ) di luar case, seperti
pada gambar berikut ini :
20
b. Konstruksi Solid.
Battery ini antara sel yang satu dengan yang alin dihubungkan dengan lead
bar di dalam case. Terminal yang kelihatan hanya dua buah hasil hubungan seri
dari sel-selnya seperti gambar berikut ini.
2. Tipe Battery.
Battery menurut tipenya ada 2 macam yaitu :
a. Battery tipe basah ( Wet Type )
Terdiri dari elemen - elemen yang telah diisi penuh dengan muatan listrik ( full
charged ) dan dalam penyimpanannya telah diisi dengan elektrolit. Battery ini tidak
bisa dipertahankan tetap dalam kondisi full charge. Sehingga harus diisi (charge)
secara periodik. Selama battery tidak digunakan dalam penyimpanan, akan terjadi
reaksi kimia secara lambat yang menyebabkan berkurangnya kapasitas battery,
reaksi ini disebut “ Self Discharge “.
21
dicuci dengan air dan dikeringkan. Kemudian plat -plat tersebut diassembling dalam
case [Link] bila battery tersebut akan dipakai, cukup diisi elektrolit dan
langsung bisa digunakan tanpa charge kembali. Cara pengisian elektrolit dapat
dilihat pada gambar berikut ini :
3. Vent Plug.
Vent plug terpasang pada tutup di setiap sel. Fungsi tutup itu adalah untuk
mencegah masuknya debu dan kotoran ke dalam sel. Fungsi yang lebih penting lagi
adalah agar tersedia saluran (lubang) untuk melepas gas yang timbul saat charging ke
udara bebas. Untuk membebaskan gas dan memungkinkan terbentuknya lagi asam
sulfat yang terkandung dalam uap asam yang terbentuk pada saat pengisian battery
(lihat bentuk saluran vent plug ).Membiarkan tutup sel itu tetap terbuka menyebabkan
kotornya sekitar lubang oleh arena adanya uap asam.
22
b. Plat Negatif.
Plat negatif terbuat dari material Pb (spongy lead) yang berwarna kelabu. Untuk
mencegah plat positif dan plat negatif bersinggungan, dipasang separator yang
terbuat dari polyvinyl chloride ( PVC ) yang berpori - pori.
5. Elektrolit ( H2SO4 ).
Standard berat jenis ( specific gravity ) elektrolit battery pada temperature
standard ( 200 Celsius ) adalah 1.280. Apabila temperature larutan elektrolit berubah,
maka standard berat jenis dapat dicari dengan rumus:
Perubahan berat jenis ini dapat dilihat pada gambar - gambar berikut ini :
23
Gambar 2. 6 Perubahan berat jenis elektrolit saat
pengisian battery.
Larutan elektrolit dapat membeku pada temoeratur tertentu. Oleh karena itu
kalau menyimpan battery boleh ditempat sedingin mungkin asalkan tidak sampai
larutan elektrolitnya membeku. Seperti terlihat pada tabel berikut ini :
6. Reaksi Kimia.
Battery pada saat discharging maupun recharging akan terjadi reaksi kimia.
Pada akhir discharging, plat positif dan plat negatif akan menjadi Pb SO4 dan
elektrolitnya akan menjadi H2O.
24
b. Reaksi Kimia Pada Saat Recharging.
Recharging adalah proses pengisian battery. Reaksi kimia terjadi ialah :
Akhir dari proses recharging ini, pl;at positif kembali menjadi PbO2 dan plat
negatifnya Pb, sedangkan elektrolit kembali terbentuk menjadi H2SO4.
7. Larutan Elektrolit.
Hasil campuran 36 % Asam sulfat dan 64 % air akan menghasilkan elektrolit
yang berat jenisnya 1.270 pada 80º F ( 27ºC ). Larutan elektrolit ini terdiri dari
pencampuran antara Asam Sulfat (H2SO4) yang berat jenisnya 1,835 dan air ( H2O )
yang berat jenisnya 1 dengan komposisi tertentui seperti gambar berikut ini :
8. Terminal Voltage.
Terminal voltage adalah batas tegangan battery yang diijinkan pada saat
discharging dan recharging.
a. Saat Dicharging.
Ketika battery dipakai dengan arus besar, sebagai contoh digunakan untuk
memutar engine waktu start, maka tahanannya dalam battery akan naik. Hal ini
tidak hanya disebabkan berkurangnya asam sulfat (yang semestinya untuk
mempertahankan kecepatan reaksi kimia antara plat - plat dan elektrolit), tetapi
juga akibat polarisasi battery itu. Terminal volatge battery dalam satu sel yang
dipakai selama 20 jam (untuk battery N 200) dan arus yang digunakan 10A adalah
seperti pada kurva berikut ini :
25
Gambar 2. 9 Final terminal voltage untuk 1 sel battery saat discharge.
b. Saat Recharging.
Pada saat recharging (arus pengisian kurang lebih sepersepuluh dari arus
discharging rata - rata) maka akan menghasilkan naiknya perbedaaan potensial antara
terminal positif dan negatif.
Pada saat recharging tersebut, akan timbul gelembung - gelembung karena
peristiwa elektrolisa (penguraian) H2O. Gelembung - gelembung tersebut dapat
menyebabkan umur battery pendek. Oleh karena itu, ketika recharging apabila sudah
mencapai terminal voltage, maka recharging dihentikan. Lihat kurva berikut ini :
9. Self Discharge
Suatu battery yang telah diisi elektrolit, jika didiamkan (tidak dipakai) akan
kehilangan muatan listriknya. Hal ini disebabkan setelah battery diisi elektrolit, maka
battery mulai mengalami suatu reaksi kimia, meskipun battery tersebut dipakai atau
tidak. Sifat seperti ini tidak dapat dihindarkan pada semua battery. Kehilangan muatan
26
listrik yang tersimpan tanpa pemakaian melalui rangkaian luar disebut “Self
Discharge“.
Sebab - sebab self discharge sebagai berikut :
1. Plat negatif beraksi langsung dengan asam sulfat dari elektrolit membentuk timbal
sulfat ( PbSO4 ).
2. Hubungan singkat antara plat positif dan plat negatif melalui endapan dari material
aktif.
3. Jika suhu dan konsentrasi elektrolit tidak merata disekitar plat positif dan negatif
akan terjadi reaksi elektrokimia lokal.
Hal - hal seperti diatas ini yang menyebabkan muatan battery akan berkurang
meskipun tidak dipakai. Reaksi kimia yang terjadi dalam battery akan lebih cepat
dengan kenaikan suhu elektrolit. Hal ini juga berarti “ Self Discharge “ akan bertambah
cepat jika suhu lebih tinggi. Jadi penyimpanan battery pada suhu rendah lebih effektif
dalam memperkecil kecepatan “ Self Discharge “ seperti terlihat pada kurva berikut ini.
Faktor lain yang mempercepat “ Self Discharge “ adalah bila elektrolit atau air
suling yang diisikan ke dalam battery mengandung material - material pengetes,
karena akan menimbulkan reaksi lokal.
27
Misalnya suatu battery mempunyai kapasitas 100 AH untuk laju arus 20 jam. Ini
berarti battery tersebut sanggup melepaskan muatan sebesar 5 ampere selama 20
jam. Tapi tidak berarti sanggup melepaskan muatan sebesar 10 ampere selama 10
jam. Suatu battery yang sanggup melepaskan muatan sebesar 10 ampere selama 10
jam disebut mempunyai kapasitas 100 AH untuk laju arus 10 jam. Sedang battery yang
sanggup melepaskan muatan sebesar 5 ampere selama 20 jam disebut battery
mempunyai kapasitas 100 AH untuk laju arus 20 jam.
Jadi jika ingin membandingkan kapasitas battery perlu disamakan dahulu laju
arus pelepasan muatan listriknya. Makin besar arus pelepasan, makin kecil laju arus
pelepasan. Hubungan antara laju arus pelepasan kapasitas battery ( untuk battery 120
AH / 20 H ) dapat dilihat pada kurva berikut ini :
Selain arus pelepasan dan laju arus pelepasan, suhu elektrolit juga
mempengaruhi kapasitas battery. Standard suhu untuk menentukan kapasitas battery
adalah 25ºC. Misalnya suatu battery yang dinyatakan mempunyai kapsitas 200 AH
untuk laju arus 20 jam adalah bila battery tersebut dipakai ( Discharge ) dengan arus
konstan 10 A, akan sampai pada final terminal voltage selama laju arus 20 jam pada
suhu elektrolit 25ºC. Pengaruh suhu elektrolit terhadap kapasitas battery dapat dilihat
pada kurva berikut ini :
28
Gambar 2. 13 Hubungan temperatur elektrolit dan kapasitas battery.
Sebagai contoh, pada suhu 49ºC ( 68ºF ) didapatkan pembacaan berat jenis
elektrolit 1,2597. Dimana pengukuran ini suhu elektrolitnya 29ºC diatas standard yang
ditetapkan yaitu 20ºC (68ºF) JIS. Sehingga pembacaan berat jenis yang sebenarnya
dihitung dengan rumus sebagai berikut :
S20 = St + 0,0007 ( t - 20 )
= 1,2597 + 0,0007 ( 49 - 20 )
= 1,28
Jadi pembacaan yang benar setelah dikoreksi dengan temperatur adalah 1,28.
Pada contoh yang lain, suhu elektrolit pada saat pengukueran 0ºC (32ºF) berat jenis
29
elektrolit terbaca 1,294. Dimana temperatur elektrolit 20ºC (68º F) dibawah standard
(JIS). Sehingga pembacaan berat jenis yang benar adalah :
S20 = St + 0,0007 ( t - 20 )
= 1,294 + 0,0007 ( 0 - 20 )
= 1,294 + 0,0203
= 1,28
Jadi pembacaan yang benar adalah 1,28 setelah dikoreksi dengan temperatur
elektrolitnya. Oleh karena itu, kalau kita mengukur berat jenis elektrolit harus dikoreksi
dengan temperatur elektrolitnya. Pembacaan skala pada hydrometer harus dipastikan
bahwa hydrometer floatnya benar - benar bebas, dan kita luruskan mata kita dengan
permukaan zat cair untuk mendapatkan pembacaan yang tepat. Pembacaan yang
dengan menyudut akan didapatkan hasil yang kurang tepat lihat gambar berikut ini :
Jika level elektrolit terlalu rendah, tambahkan air suling ditiap - tiap sel dan
battery recharging beberapa lama untuk memastikan percampuran antara air dan
elektrolit. Kemudian check dengan hydrometer. Apabila dalam pengetesan berat jenis
elektrolit lebih kecil dari 1,28 berarti battery tersebut perlu recharging kembali.
30
- Pemakaian arus battery untuk 6 volt tidak boleh lebih dari 2x kapasitasnya,
sedangkan untuk 12 volt tidak boleh lebih dari 3x kapasitasnya, karena dapat
memperpendek umur dari battery.
- Pembebanan battery tidak boleh melebihi batas terminal voltage (final terminal
voltage) yang diijinkan. Untuk tiap sel final terminal voltagenya 1,75 volt.
- Tutup battery terutam vent plugnya tidak boleh tersumbat, karena bisa
menyebabkan battery meledak.
- Bila air battery kurang, harus ditambah dengan air suling.
b) Hal - hal yang perlu diperhatikan pada saat Recharging.
- Sebelum Recharging harus diperiksa jumlah elektrolit dalam battery. Bila kurang
tambahkan air suling.
- Jangan sekali - kali menambahkan larutan asam sulfat (H2SO4), karena akan
mengakibatkan berat jenis elektrolit terlalu tinggi, yang akan mengurangi umur
battery dan tidak memungkinkan untuk mengukur keadaan muatan listrik battery
melalui berat jenis.
- Kencangkan kabel - kabel penghubung, sebab bila kabel kendor akan terjadi
loncatan bunga api.
- Gas yang terjadi pada proses recharging harus segera dibebaskan ( Perhatikan
vent plugnya atau buka tutup jika perlu ).
- Bila memakai battery charger, harus ada fan untuk membuang gas - gas yang
terjadi dan harus dicegah supaya tidak terjadi bunga api yang bisa menyebabkan
kebakaran.
- Arus pengisian dianjurkan sebagai berikut :
Untuk fast charging : 40 - 70 Ampere.
Untuk slow charging : Kurang lebih 7 % dari AH - nya. Saat pengisian,
Temperatur Elektrolit tidak boleh melebihi 55 °C.
c) Hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat penyimpanan battery.
- Battery yang tidak dipakai harus disimpan di tempat yang kering, sejuk dan tidak
kena sinar matahari langsung, karena bisa mempercepat reaksi kimia (self
discharge).
- Battery yang diterima lebih dahulu sebaiknya didahulukan pemakaiannya.
- Pada waktu dikeluarkan dari kemasan, periksalah dengan teliti apakah ada
kerusakan luar. Jika ada kerusakan perbaiki.
- Untuk battery tipe basah, perlu adanya pengisian secara periodik, yaitu minimal
sebulan sekali. Untuk menjaga agar battery tetap full charge dan tidak cepat
rusak.
31
13. Penyebab Kerusakan Battery
Semua battery mempunyai umur tertentu, tetapi terdapat beberapa hal yang
akan memperpendek umur battery diantaranya adalah :
a. Electrolyte level
Level electrolyte yang rendah akan merusak active material yang ada di
dalam pelat battery dan menyebabkan pembentukan asam sulfat sehingga akan
menurunkan reaksi kimia [Link] level yang rendah antara lain :
- Rumah battery yang pecah
- Perawatan yang jelek terutma tidak dilakukannya penambhan air pda saat
dibutuhkan.
- Terjadi overcharging pada battery sehingga penguapan meningkat yang pada
akhirnya electrolyte akan berkurang.
Level air battery yang terlalu banyak juga tidak bagus karena akan
mencairkan electrolyte (menurunkan berat jenis) dan suatu saat akan tumpah keluar
melalui vent hole sehingga menimbulkan korosi pada terminal.
b. Overcharging
Overcharging bisa terjadi saat di unit atau pada saat di charge dengan
charger. Overcharging akan menyebabkan penguapan yang tinggi dan kenaikan
panas pada batter. Penguapan yang berlebih akan melrutkan active material dari
battery serta kebutuhan penambahan air akan bertambah. Peningkatan suhu yang
berlebih akan menimbulkan oksidasi pada pelat dan membuat pelat battery
bergelombang.
c. Undercharging
Kerusakan sistem pengisian pada unit biasanya menjadikan battery
undercharging. Undercharging akan membuat asam sulfat dari pelat battery akan
mengeras dan sulit untuk dikembalikan ke posisi semula,selain itu juga akan
membuat electrolyte battery mudah membeku. Battery yang dalam kondisi
undercharge tidak dapat digunakan untuk men-start engine.
d. Corrosion
Tumpahnya electrolyte dn kondensasi dari proses penguapn akan
menyebabkan korosi pada terminal, connentor dan bahan – bahan logam dari
bracket battery. Korosi akn menyebabkan kenaikan tahanan sehingga akan
mengurangi tegangan yang dialirkan serta efektifitas charging system.
32
e. Cycling
Proses charging dan discharging yang terjadi secara berulang akan
menyebabkan active material dari pelat positif battery [Link] bahan aktif
plat posisi baterai yang lepas dari platnya akan menurunkan kapasitas battery dan
pada akhirnya akan mengurangi umur battery.
f. Temperature
Kenaikan temperatur dari battery bisa disebabkan karena battery mengalami
overcharge atau karena engine mengalami overhead. Kenaikan suhu tersebut akan
mempercepat umur battery. Temperature yang terlalu rendah juga akan
menyebabkan electrolyte battery menjadi mudah membeku. Pada suhu 0 F sebuah
battery dengan kondisi full charge hanya mampu mengirimkan arus sebesar
setengah atau bahkan kurang dibandingkan dengan pada kondisi normal. Pada saat
yang sama ( 0 F ) atau - 17,8 C, engine yang dalam kondisi dingin membutuhkan
tenaga dua kali lebih banyak jika dibandingkan dengan kondisi normal. Electrolyte
dalam kondisi full charge beru dapat membeku pada suhu – 60 F atau di bawahnya,
sedangkan apabila dalam kondisi tidak bermuatan sama sekali akan lebih mudah
membeku yaitu pada suhu 17,8 F
g. Vibration
Battery harus diikat sekencang mungkin supaya tidak bisa bergerak dari
[Link] dari battery akan menyebabkan lepasnya konektor, retak pada
casenya dan kerusakan pada komponen dalam battery
h. Kekencangan Terminal
Kekencangan terminal battery perlu diperhatikan secara [Link]
yang kendor akan mengakibatkan koneksi yang tidak [Link] konektor tersebut
kendor pada saat dibutuhkan arus yang besar maka akan mengakibatkan bunga api
sehingga pada akhirnya akan merusak konektor dan terminal battery itu sendiri.
Pemilihan konektor yang terlalu besar dibandingkan dengan terminal battery
sehingga kekencangan sebuah konektor dapaksakan dengan menambah pelat dan
sebagainya akan mengakibatkan penyaluran arus menjadi jelek. Akibatnya adalah
sama yaitu munsul bunga api pada saat digunakan menstart engine
14. Charging
a. Tahapan Proses Charging
Battery dapat diisi kembali dengan menggunakan charger. Diperlukan
beberapa langkah yang dimulai dari persiapan dengan pemeriksaan akhir untuk
mendapatkan hasil charging yang maksimal. Beberapa langkah tersebut antara lain
33
- Persiapan
Bersihkan kotoran, debu, tanah dan korosi dari battery, serta bersihkan
terminal battery dengan soda dan air atau ammonium dan air.
Check level electrolit dan tambahkan dengan air suling bila dibutuhkan.
Jika battery akan di charge di unit maka kabel positif dan negative battery
harus dilepas dari terminalnya.
- Penetuan besarnya arus dan lamanya waktu charging
Penentuan besarnya arus dan lamanya waktu harus didasarkan pada
spesifikasi battery.
Terdapat 2 metode dalam penentuan besarnya arus charging yaitu charging
dengan arus tinggi (fast charging) dan charging arus rendah (slow charging).
1) Charging dengan arus rendah (slow charging)
Metode charging dengan arus rendah (slow charging) adalah cara yang
paling tepat untuk mengembalikan battery ke kondisi semula. Pengisian dengan
arus rendah akan memperpanjang umur battery karena reaksi yang terjadi dalam
battery berlangsung pelan, sehingga tidak menimbulkan beban yang berlebih
pada battery.
Contoh :
- Battery dengan kode N200 memiliki kapasitas 200 Ah
- Berat jenis electrolit 1.20 pada suhu 20° C
- Dengan melihat grafik maka kehilangan muatan battery pada berat jenis 1.20
adalah 30%
Artinya adalah:
200 Ah x 30 % = 60 Ah
= 30 Ampere
34
2) Charging dengan arus tinggi ( fast charging )
Metode charging dengan arus tinggi pada dasrnya mencharging battery
dengan arus sebesar-besarnya untuk mendapatkan waktu yang sesingkat-
singkatnya. Pengisian dengan arus tinggi harus dihindari karena metode ini akan
memperpendek umur battery.
Contoh :
- Battery dengan kode N200 memiliki kapasitas 200 Ah
- Berat jenis electrolit 1.20 pada suhu 20° C
- Dengan melihat grafik maka kehilangan muatan battery pada berat jenis 1.20
adalah 30%
Artinya adalah:
Tingkat kehilangan muatan battery adalah
200 Ah x 30 % = 60 Ah
Apabila besarnya arus yang digunakan untuk charging adalah 5 Ampere maka :
60
Ah
Waktu X
Pengisian
(
jam
) 1.
21
.
5
5A
= 4 X 1.2-1.5
b. Penggunaan Charger
- Pastikan main switch dan timer switch dalam kondisi off dan Switch pengatur
arus dalam posisi minimum.
- Hubungkan terminal positif charger ke terminal positif battery
- Hubungkan terminal negatif charger ke terminal negatif battery.
- Hubungkan kabel power charger ke stop kontak.
- Atur switch voltage sesuai dengan spesifikasi battery
- Posisikan main switch ke ON
- Atur switch waktu charging sesuai dengan spesifikasi battery
35
- Atur switch arus charging sesuai dengan spesifikasi battery
- Setelah timer Off, check tegangan battery menggunakan voltmeter.
Tegangan battery:12.6 Volt atau lebih.
Jika tegangan tidak naik atau tidak ada gas yang muncul selama pengisian
maka battery rersebut rusak atau terjadi internal short.
- Ketika tegangan telah mencapai tegangan standart
Posisikan switch pengatur arus ke posisi minimum.
Matikan main switch charger.
Lepaskan kabel charger dari kedua terminal.
Cuci rumah battery dengan air untuk membersihkan dari asam.
36
Gambar 2. 14 Prosedur Jump Starting
d. Kebersihan battery
Battery yang bersih akan memudahkan dalam proses pemeriksaan visual dan
mengurangi terjadinya peningkatan nilai tahanan pada terminal battery karena
banyaknya kotoran yang menempel. Rumah battery dapat dibersihkan dengan cara
mencuci rumah battery tersebut dengan air dicampur dengan ammonia atau baking
soda.
Terminal battery dan connector-nya dapat dibersihkan dengan menggunakan
sikat kawat yang telah didesain khusus untuk membersihkan terminal dan connector
battery.
B. Circuit Breaker.
Fungsi circuit breaker adalah untuk mencegah kerusakan komponen - komponen
dan kabel - kabel pada sistem elekrik yang dikarenakan arus berlebihan (short circuit).
Circuit breaker dapat digunakan berulang kali.
38
Gambar 2. 15 Konstruksi Circuit breaker
C. Fuse
Fungsi fuse juga untuk mencegah kerusakan komponen - komponen dan kabel -
kabel pada sistem elektrik yang dikarenakan arus berlebihan (short circuit). Namun hanya
dapat digunakan sekali saja, jika rusak langsung diganti.
D. Switch
Switch berfungsi untuk menghubungkan dan memutuskan satu hubungan kabel
dangan kabel yang lain. Beberapa contoh switch adalah : toogle switch dan push button
switch.
39
Gambar 2. 17 Toogle switch
E. Resistor
Resistor merupakan salah satu komponen dasar yang paling sering dipakai dalam
rangkaian - rangkaian listrik. Dalam rangkaian, diperlukan resistor dengan harga yang
tepat agar rangkaian dapat berfungsi sesuai dengan yang diharapkan.
Tabel berikut ini dapat dipergunakan untuk menentukan harga resistansi sebuah
resistor 4 band
41
Gambar 2. 21 Tabel harga resistansi resistor.
Contoh :
42
2. Resistor 5 band
b. Wirewound resistor
43
Gambar 2. 23 Gambar konstruksi dan dan jenis-jenis wirewound resistor
Testing Resistor
Dalam pengetesan sebuah
resistor, resistor dikatakan baik apabila
saat diukur, terbaca nilai tahanan yang
tidak melebihi range toleransinya.
Contoh : sebuah resistor 2000 Ω ± 5%
(sesuai warna cincin pada badan
resistor) dikatakan baik apabila saat
diukur, terbaca nilai tahanan antara 1900
s/d 2100 Ω .
2. Resistor Variabel
.
2) Carbon Potentiometer.
Potentiometer ini mempunyai elemen resistor daklam suatu jalur yang
berbentuk lingkaran. Lengan variablenya berhubungan dengan elemen resistor
oleh suatu pemutar. Apabila sumbu pemutar diputar, maka lengan variablenya
akan menggerakkan wiper dan membuat hubungan pada beberapa terminal.
Contoh konstruksi dan bentuk carbon potentiometer ini adalah sebagai
berikut :
45
b. Trimmer potentiometer (TRIMPOT)
Resistor variable ini mempunyai terminal tetap dan terminal tidak tetap yang
dapat digeser sepanjang elemen resistor tersebut Potensio jenis ini biasanya
dipasang pada PCB dimana dibutuhkan suatu pengkalibrasian. Bahan yang
digunakan adalah karbon. Contoh berbagai macam bentuk trimer adalah sebagai
berikut :
46
- Ukur salah satu ujung kaki (ujung
kanan atau kiri) dengan kaki
tengah dari potentiometer.
Kemudian putar shaft dari awal
hingga akhir putaran, maka disaat
yang bersamaan pembacaan
pada ohm meter harus dari 0 Ω
hingga 10K Ω atau dari 10KΩ
hingga 0 Ω.
Ketiga jenis resistor diatas harganya berubah - ubah ( tidak sesuai dengan
hukum ohm ), tetapi merupakan fungsi dari temperatur, tegangan dan cahaya yang
jatuh terserap.
Selanjutnya pada buku ini hjanya dibahas mengenai thermistor yang banyak
digunakan dalam sistem kelistrikan alat - alat besar.
a. Termistor
Thermistor adalah salah satu jenis resistor yang mempunyai koeffisien
temperatur yang sangat tinggi, dimana dengan adanya perubahan temperatur,
resistansinya juga akan berubah.
47
atau Fe2 O3. Harga nominal biasanya ditetapkan pada temperaur 25ºC.
Perubahan resistansinya yang diakibatkan dalam bentuk non liniernya
ditunjukkan dalam bentuk diagram resistansi dengan temperatur.
2) Thermistor PTC
Thermistor PTC merupakan resistor dengan temperatur positif yang sangat
tinggi. Thermistor jenis ini pada umumnya dibuat dari Ba Ti O3. Skala
resistansinya berubah mulai dari beberepa ratus ohm pada temperatur 75º dan
beberapa kilo ohm pada temperatur 150ºC.
Berikut ini adalah contoh diagram resistansi dengan temperatur untuk
thermistor PTC.
48
b. Voltage Dependent Resistor (VDR)
Voltage Dependent Resistor merupakan resistor yang perubahan
resistansinya tergantung pada tegangan.
49
Gambar 2. 32 Pengetesan LDR
F. CAPASITOR
Kapasitor atau Kondensator adalah suatu komponen elektronika yang mempunyai
sifat - sifat :
- Dapat menyimpan muatan listrik.
- Dapat menahan arus searah ( DC ).
- Dapat melewatkan arus bolak - balik ( AC ).
Dalam pemakaian, kapasitor dapat diisi muatan dan dikosongkan kembali yang
sangat tergantung pada sirkuit yang memakainya.
1. Kontruksi
Kapasitor berdasarkan polaritsnya dibagi menjadi 2, yaitu: Non Polar (mika,
mylar, keramik, kertas, polyster) dan Polar (Electrolit kondensator ; Tantalum).
Pada gambar berikut ini diperlihatkan bahwa kapasitor terbuat dari 2 (dua) buah
plat. Plat konduktor tersebuit dibuat sejajar dan dipisahkan oleh bahan dielektrika.
50
Gambar 2. 34 Konstruksi dasar kapasitor.
51
Adapun yang dimaksud dengan permitivitas ( Er ) adalah suatu konstanta
pembanding antara permitivitas suatu bahan dielektrika dengan permitivitas ruang
hampa udara.
b. Discharge :
Elektron - elektron yang terkumpul pada salah satu plat akan bergerak untuk
mengisi elektron yang hilang pada plat yang lainnya.
Dengan demikian, pada bahan dielektrika yang sama, bila luas penampang plat
makin besar, berarti makin besar kemampuan kapasitor menyimpan muatan listrik.
Sebaliknya bila jarak antara kedua plat semakin jauh maka kapasitas kapasitor akan
semakin kecil.
Rumus kapasitansi dari suatu kapasitor dapat dituliskan sebagai berikut :
C = Eo . Er . A/d
Keterangan :
C = Kapasitansi dalam Farad ( F ).
Eo = Permitivitas ruang hampa udara ( 8.854 x 10 -12F/m ).
Er = Permitivitas relatif bahan dielektrika.
A = Luas penampang plat ( m2 ).
d = Jarak antara kedua plat ( m ).
53
Pada saat switch S dihubungkan ke posisi 1, maka arus akan mengalir dari
battery, switch S, hambatan R dan capasitor C. Perbedaannya potensial pada
kapasitor akan mulai naik bersamaan dengan menurunnya arus, sedemikian rupa
sehingga saat perbedaan potensial pada kapasitor maksimum, arus akan berhenti. Hal
ini dapat dilihat pada gambar berikut ini :
54
akan menurun hingga tegangan pada kapasitor nol dan arus pun berhenti mengalir
seperti dijelaskan pada gambar berikut ini :
5. Testing Capasitor
Pada pengetesan capasitor baik non polar maupun polar. Gunakan Range untuk
mengukur kapasitas dari capasitor yang kita ukur.
55
Contoh:
1. Sebuah capasitor non polar (mika)
bertuliskan dibadannya 104 (10 x 104
nF), dikatakan baik apabila saat
dilakukan pengukuran, terbaca pada
display avo meter 100 nF.
G. Semi Conductor
Keuntungan penggunaan semi conductor
- Kecil dan ringan.
- Tegangan operasi rendah.
- Mempunyai effisiensi yang tinggi dengan konsumsi tenaga yang rendah.
- Tahan lama.
- Tahan terhadap goncangan.
- Kebisingan suara rendah.
56
1. Material Semi Konduktor
Bahan semi konduktor yang banyak dipergunakan dalam pembuatan komponen
semi konduktor adalah silikon (Si) dan Germanium (Ge). Pada umumnya Si
dipergunakan untuk komponen dengan kapasitas besar, sedangkan Ge untuk
kapasitas kecil karena Ge mempunyai sifat lebih buruk dari Si.
Semi konduktor memiliki jumlah elektron terluar 4 (ingat teori elektron). Dalam
material atom Si atau Ge terikat dalam bentuk ikatan covalent. Dimana elaktron terluar
saling mengisi sehingga jumlah elektron terluar tersebut adalah 8.
a. Material N
Bila kristal Si atau Ge ditambah ( di-doping ) dengan material P ( phosphorus )
yang mempunyai 5 elektron di-outer ring, maka akan terjadi salah satu elektron P
yang tidak saling mengikat dengan kristal Si atau [Link] satu elektron dari
material P tersebut dapat bergerak bebas ke seluruh kristal sehingga menjadi
elektron bebas ( free electron ). Selanjutnya material tersebut dinamakan Material -
N ( material donor ), Selain material P ( phosphorus ), untuk membuat material N
dapat juga digunakan materal Arsenic ( As ) atau Antimony ( Sb ).
57
b. Material P.
Bila kristal Si atau Ge ditambah (di-doping) dengan material Al
(Alumunium) yang mempunyai 3 elektron di-outer ring, maka untuk membentuk
ikatan kristal / covalent bonding akan kekurangan elektron yang disebut dengan
hole. Dengan sifat yang demikian maka kristal Si atau Ge yang didoping dengan Al
disebut dengan Material P (material akseptor),selain material Al ( aluminium ),
untuk membuat material P dapat juga digunakan materal B (boron)
Bila material P dihubungkan dengan sebuah sumber, maka arus yang terjadi
adalah gerakan “ postive Charged Holes “ seperti terlihat berikut ini :
58
Gambar 2. 44 Gerak hole di sirkuit dgn menggunakan material jenis P.
Gerakkan hole yang secara terus - menerus dari terminal positif ke negatif inilah
yang merupakan dasar pengoperasian komponen semi konduktor (misalnya diode dan
transistor).
59
2) Prinsip Kerja Diode.
Diode dikatakan mendapat forward Bias apabila anode (A) lebih positif dari
Cathode (K) dan dikatakan mendapat reverse Bias apabila Cathode (K) lebih
positif dari anode (A). Arus listrik hanya bisa mengalir apabila diode mendapat
Forward Bias atau arus hanya mengalir dari anode ke cathode saja.
3) Karakteristik Diode.
Untuk menelaah karakteristik sebuah diode, maka pada gambar berikut ini
diberikan suatu contoh karakteristik sebuah diode.
60
4) Bentuk - bentuk Diode.
Berikut ini contoh bentuk - bentuk diode pada umumnya.
5) Testing Diode
Pengetesan dioda dapat dilakukan dengan menggunakan multimeter analog dan
digital.
OHM METER
61
b) Hubungkan test pin merah
dengan kaki anoda dan test pin
hitam dengan kaki katoda
sesuai gambar (B). Maka jarum
pada ohm meter menunjukkan
nilai tahanan yang sangat tinggi
(tidak terhubung).
Jika hasil pengukuran sesuai dengan langkah diatas maka dioda dinyatakan
baik.
Jika hasil pengukuran sesuai dengan langkah diatas maka dioda dinyatakan
baik.
62
b. Zener Diode.
Zener diode adalah sebuah diode yang dirancang khusus untuk
menghantarkan arus reverse tanpa merusaknya. Simbol dan contoh karakter Zener
diode dapat dilihat pada gambar berikut ini :
Contoh : sebuah dioda zener 6.1 V tidak mengalirkan arus bila reverse bias voltage
lebih rendah dari 6.1 volt. Tetapi bila reverse bias voltage menjadi 6.1 volt atau
lebih, maka zener diode mengalirkan arus reverse.
POWER SUPPLY
(7.5 V)
100 Ω
6.1V
VOLTMETER
63
c. Transistor
1) Transistor PNP.
Dalam pembuatan transistor PNP adalah dua buah lapisan P yang
disisipkan ditengahnya suatu lapisan tipis N.
64
Prinsip kerja transistor PNP dapat dijelaskan sebagai berikut :
Pada prinsipnya akan ada arus mengalir dari emitter ( E ) ke collector ( C ) bila
sudah ada arus dari emitter ( E ) ke base ( B ).
Dan bila : lb = arus base.
Lc = arus collector.
Le = arus emitter.
maka : le = lb + lc.
2) Transistor NPN.
Di dalam pembuatan transisitor NPN, diantara dua buah lapisan N
disisipkan satu lapisan tipis P. Dengan demikian konstruksi dasar transistor NPN
dan simbolnya dapat digambarkan sebagai berikut :
65
Prinsip kerja transistor NPN dapat dijelaskan sebagai berikut :
3) Karakteristik NPN.
Dalam keadaan kerja normal, transistor harus diberi polaritas sebagai berikut :
- Pertemuan emitter base diberi polaritas dalam arah maju.
- Pertemuan base collector diberi polaritas dalam arah mundur.
66
4) Bentuk - bentuk transistor
Berikut ini adalah contoh bentuk - bentuk transistor pada umumnya.
Testing Transistor
Pengetesan sebuah transistor dapat dilakukan dengan
beberapa cara, salah satu contoh adalah sebagai berikut :
67
b) Perhatikan warna test pin yang berhubungan
dengan kaki 2 apakah hitam atau merah . Jika
hitam (seperti gambar A dan B) maka Transistor
bertype NPN, sebaliknya jika merah, maka
transistor bertype PNP.
68
Uraian Materi Kegiatan Pembelajaran 2
Rangkaian Electric
A. Rangkaian Seri
1. Tegangan (voltage)
Tegangan kalau diseri akan berlaku rumus :
Keterangan :
Vt = V1 + V2 + V3 + ….. Vn
Vt = Voltage total seri
V1 .. Vn = Voltage masing–masing resistor
2. Hambatan (Resistansi)
Hambatan dirangkaikan seri akan berlaku rumus :
Keterangan:
Rt = R1 + R2 + R3 + ….. Rn
Rt = Hambatan total seri
Rt .. Rn = Hambatan masing–masing resistor
3. A r u s
Arus listrik yang mengalir dalam rangkaian seri dirumuskan dengan :
Kerangan :
It = I1 = I2 = I3 = ….. In It = Arus total
I1 .. In =Arus masing–masing yang mengalir
pada rangkaian
69
B. Rangkaian Paralel
1. Tegangan (voltage)
Tegangan sumber dirangkai parallel berlaku rumus :
Dimana :
Vt = Tegangan total paralel
V1 .. Vn = Tegangan masing-masing resistor
2. Hambatan (resistansi)
Hambatan dirangkaikan secara paralel akan berlaku rumus :
Dimana :
Rt = Hambatan total paralel
R1 .. Rn =Hambatan masing-masing
resistor
3. Arus
Arus listrik yang mengalir dalam rangkaian paralel dirumuskan dengan :
Dimana :
It = I1 + I2 + I3 …. In
It = Arus total paralel
I1 .. In = Arus yang masing-masing
rangkaian
70
C. Rangkaian Seri-Paralel
1. Tegangan (voltage)
Tegangan sumber dirangkai seri-paralel berlaku rumus :
Keterangan :
VRp = V2 + V3
Vt = Tegangan total seri-paralel
Vt = V1 + VRp
VRp = Tegangan pengganti paralel
2. Hambatan (resistansi)
Hambatan dirangkaikan secara seri-parallel akan berlaku rumus :
Keterangan :
Rt = Hambatan total seri-paralel
R1 .. Rn = Hambatan masing-masing resistor
3. A r u s
Arus listrik yang mengalir dalam rangkaian seri-paralel dirumuskan dengan :
Keterangan :
It = Arus total paralel.
I1 .. In = Arus yang masing-masing rangkaian.
71
D. Contoh Soal Rangkaian
1. Dari rangkaian seri berikut :
Diketahui :
Sebuah sumber 12 volt dihubungkan seri dengan dua buah lampu masing–masing 24
W/12V dan 12 W/12V.
Hitung :
a. Arus total (It) ?
b. Voltage drop (Vd1 dan Vd2)?
c. Power (P1 dan P2) ?
Jawab :
Lampu 1
Arus yang diminta : IL1 = WL1/VL1 = 24/12 = 2 [A]
Hambatan lampu 1 : RL1 = VL1/IL1 = 12/2 = 6 [Ω]
Lampu 2 :
Arus yang diminta : IL2 = WL2/VL2 = 12/12 = 1 [A]
Hambatan lampu 2 : RL2 = VL2/IL2 = 12/1 = 12 [Ω]
Rt = RL1 + RL2 = 6 + 12 = 18 [Ω]
72
Besarnya voltage drop pada hambatan yang dihubungkan seri adalah tergantung
besarnya arus yang mengalir dan besarnya hambatannya.
= ( 0.66 )2 x 6 = ( 0.66 )2 x 12
Diketahui :
Sebuah sumber 12 volt dihubungkan paralel dengan dua buah lampu masing–masing
24 W/12 V dan 12 W/12 V.
Hitung :
a. Arus total (It) ?
b. Arus (IL1 dan IL2) ?
c. Power (P1 dan P2) ?
Jawab :
Lampu 1 :
Arus yang diminta : IL1 = WL1 /VL1 = 24/12 = 2 [A]
Habatan lampu 1 : RL1 = VL1 /IL1 = 12/2 = 6 [Ω]
Lampu 2 :
Arus yang diminta : IL2 = WL2 /VL2 = 12/12 = 1 [A]
73
Hambatan lampu 2 : RL2 = VL2 /IL2 = 12/1 = 12 [Ω]
1/Rt = 1/6 +1/12 = 2/12 + 1/12 = 3/12
Rt = 12/3 = 4 [Ω]
a. It = Vt/ Rt = 12/4 = 3 [A]
b. IL1 = It x R2 / (R1+R2)
IL2 = It x R1 / (R1+R2)
IL1 = 3 x 12/18 = 2 [A]
IL2 = 3 x 6/18 = 1 [A]
c. Tenaga pada :
Lampu 1 : Lampu 2 :
P1 = ( IL2 )2 x R1 P2 = ( IL2 )2 x R2
= 22 x 6 = 12 x 12
P1 = 24 [W] P2 = 12 [W]
Diketahui :
Sebuah sumber 12 volt dihubungkan dengan 3 buah lampu, dan dirangkai seperti
gambar di atas.
74
Hitung :
a. Arus total (It) ?
b. Arus (IL1, IL2, dan IL3) ?
c. Voltage drop (Vd1, Vd2 dan Vd3) ?
d. Power ( P1, P2, dan P3)?
Jawab :
Lampu 1 :
Arus yang diminta : IL1 = WL1 /VL1 = 12/12 = 1 [A]
Hambatan lampu 1 : RL1 = VL1 /IL1 = 12/1 = 12 [Ω]
Lampu 2 :
Arus yang diminta : IL2 = WL2/VL2 = 24/12 = 2 [A]
Hambatan lampu 2 : RL2 = VL2/IL2 = 12/2 = 6 [Ω]
Lampu 3 :
Arus yang diminta : IL3 = WL3/VL3 = 24/12 = 2 [A]
Hambatan lampu 3 : RL3 = VL3/IL3 = 12/2 = 6 [Ω]
1/R2,3 = 1/6 + 1/6 = 2/6
R2,3 = 6/2 = 3 [Ω]
Rt = R1 + R2,3 = 12 + 3 = 15 [Ω]
a. It = Vt/Rt = 12/15 = 0,8 [A]
b. IL1 = It x R2 / (R1+R2)
IL2 = It x R1 / (R1+R2)
I2 = 0.8 x 6/12 = 0,4 [A]
I3 = 0.8 x 6/12 = 0,4 [A]
c. Voltage drop pada R1 :
Vd1 = It x R1 = 0,8 x 12 = 9,6 [V]
Vd2,3 = It x R2,3 = 0,8 x 3 = 2,4 [V]
d. Tenaga yang diserap :
Lampu 1 : Lampu 2 : Lampu 3 :
P1 = (IL1)2 x R1 P2 = (IL2)2 x R2 P3 = (IL3)2 x R3
= 0,82 x 12 = 0,42 x 6 = 0,42 x 6
P1 = 7,68 [W] P2 = 0,96 [W] P3 = 0,96 [W]
Besarnya voltage drop pada hambatan yang dihubungkan paralel adalah sama
meskipun hambatan yang diparalelkan berbeda-beda.
75
Rangkuman Materi 2
1. Battery merupakan sumber energi listrik utama dalam unit. Proses kerja battery adalah
sebuah reaksi kimia antara dua buah plat timbal yang berbeda sifat kimia dan terendam
dalam larutan elektrolit;
2. Vent plug terpasang pada tutup di setiap sel. Fungsi tutup itu adalah untuk mencegah
masuknya debu dan kotoran ke dalam sel. Fungsi yang lebih penting lagi adalah agar
tersedia saluran (lubang) untuk melepas gas yang timbul saat charging ke udara bebas.
2. Standard berat jenis ( specific gravity ) elektrolit battery pada temperature standard ( 20 0
Celsius ) adalah 1.280;
3. Apabila temperature larutan elektrolit berubah, maka standard berat jenis dapatdicari
dengan rumus: S20 = St + 0.0007 ( t-20 )
4. Hasil campuran 36 % Asam sulfat dan 64 % air akan menghasilkan elektrolit yang berat
jenisnya 1.270 pada 80º F ( 27ºC ).
5. Fungsi circuit breaker adalah untuk mencegah kerusakan komponen - komponen dan
kabel - kabel pada sistem elekrik yang dikarenakan arus berlebihan (short circuit).
Circuit breaker dapat digunakan berulang kali.
6. Fungsi fuse juga untuk mencegah kerusakan komponen - komponen dan kabel - kabel
pada sistem elektrik yang dikarenakan arus berlebihan (short circuit). Namun hanya
dapat digunakan sekali saja, jika rusak langsung diganti.
7. Switch berfungsi untuk menghubungkan dan memutuskan satu hubungan kabel dangan
kabel yang lain;
8. Resistor merupakan salah satu komponen dasar yang paling sering dipakai dalam
rangkaian - rangkaian listrik. Dalam rangkaian, diperlukan resistor dengan harga yang
tepat agar rangkaian dapat berfungsi sesuai dengan yang diharapkan.
9. Resistor dapat digolongkan menjadi 3 ( tiga ) jenis :
1. Resistor tetap.
[Link] resistor
[Link] resistor
2. Resistor variabel
[Link] potentiometer
[Link] potentiometer
[Link] potentiometer (TRIMPOT)
3. Resistor non linier
10. Kapasitor atau Kondensator adalah suatu komponen elektronika yang mempunyai sifat
- sifat :
76
1. Dapat menyimpan muatan listrik.
2. Dapat menahan arus searah ( DC ).
3. Dapat melewatkan arus bolak - balik ( AC ).
11. Yang dimaksud dengan kapasitor adalah kemampuan suatu kapasitor di dalam
menyimpan muatan listrik;
12. Diode adalah suatu komponen elektronika yang mempunyai dua kutub yaitu Anode (A)
dan Cathode (K);
13. Zener diode adalah sebuah diode yang dirancang khusus untuk menghantarkan arus
reverse tanpa merusaknya.
14. Transistor adalah suatu komponen elektronika yang juga merupakan pertemuan
(junction) material P dan N. Dalam pembuatannya, diantara material P atau N disisipkan
suatu lapisan tipis P atau N. Dengan demikian terdapat dua kemungkinan jenis transitor
yaitu PNP atau NPN.
15. Ada tiga jenis rangkaian dasar listrik.
[Link] seri
[Link] paralel
[Link] seri paralel
Tugas 2
1.
Tentukan : Itotal?
V1,V2,V3?
2.
77
Tentukan :I1,I2,I3?
3.
Tentukan : I1,I2,I3?
V1,V2,V3?
Itotal?
Soal Latihan 2
1. Berapa nilai standart berat jenis electrolit battery pada suhu 200 C?
2. Suatu battery yang sanggup melepaskan muatan sebesar 10 ampere selama 10 jam
disebut?
3. Jelaskan perbedaan antara battery konstruksi compound dengan battery konstruksi
solid!
4. Jelaskan fungsi vent plug pada battery!
5. Jelaskan pengertian dari self discharge!
6. Jumlah llistrik yang dapat dihasilkan dengan melepaskan arus tetap, sampai dicapai
voltage akhir disebut....
7. Alat untuk mengukur berat jenis elektrolit battery disebut....
8. Selain harga resistansi, yang perlu diperhatikan pada saat akan menggunakan
resistor adalah?
9. Jenis resistor yang tahanannya dapat diubah-ubah adalah....
10. Jenis resistor yang perubahan resistansinya bergantung pada perubahan suhu
adalah....
11. Komponen elektronika yang mempunyai sifat dapat menyimpan muatan listrik
adalah....
12. Pengertian bahan dielektronika adalah...
13. Sebuah resistor 5 band bernilai 15K Ω ± 1% , warna apa saja yang ada badan
78
resistor tersebut?
14. Jelaskan perbedaan antara Thermistor NTC dengan Thermistor PTC!
15. Light Dependent Resistor merupakan jenis resistor yang perubahan resistansinya
ditentukan oleh….
16. Material semi konduktor yang banyak digunakan adalah….
17. Komponen elektronika yang mempunyai dua kutub yaitu Anode dan Katode
adalah….
18. Forward bias pada diode terjadi apabila….
19. Dioda yang dirancang khusus untuk menghantarkan arus reverse tanpa merusak
diode itu sendiri adalah….
20. Komponen elektronika yang merupakan pertemuan junction antara material P dan N
adalah….
79
Thermistor PTC merupakan resistor dengan temperatur positif yang sangat tinggi.
Thermistor jenis ini pada umumnya dibuat dari Ba Ti O3.
15. Cahaya
16. Silikon dan Germanium
17. Dioda
18. Forward bias terjadi apabila anode (A) lebih positif dari Cathode (K)
19. Dioda zener
20. Transistor
Lembar Kerja 2
1) Tugas Praktek
Membuktikan testing component electric
2) Alat dan Bahan
a. Power supply
b. Battery
c. Komponen electric
d. Project board
e. Kabel
f. AVO meter digital dan analog
3) Keselamatan Kerja
Memakai APD di area workshop
Perhatikan test pin pada multimeter jangan sampai terbalik.
Perhatikan kutub battery jangan sampai terbalik
4) Langkah kerja
Dengarkan penjelasan dari instruktur
Lakukan pembuktian component electric
80
KEGIATAN BELAJAR III
Tujuan Kegiatan Belajar 3
Prinsip Dasar Kemagnetan
Ranah
Elemen Kegiatan
Indikator Keberhasilan Kompetensi
Kompetensi Pembelajaran
S K A
Prinsip Dasar Dapat menjelaskan prinsip dasar
Magnet
Kemagnetan dari kemagnetan
81
Uraian Materi Kegiatan Belajar 3
Magnet
A. Magnet
82
b. Kutub - kutub yang senama akan saling tolak - menolak, sedangkan kutub kutub
yang tidak senama akan saling tarik menarik.
83
B. Electromagnet
1. Pengertian Electromagnet
Electromagnet adalah medan magnet yang ditimbulkan oleh adanya aliran arus
listrik pada sebuah konduktor atau coil.
b. Arah medan magnet yang timbul tergantung dari arah arus yang melewati konduktor
tersebut. Arah medan magnet akan terbalik, bila arah arus yang melewati konduktor
tersebut berbalik.
84
c. Makin besar arus yang mengalir, makin besar medan magnet yang timbul.
d. Bila gulungan(coil) dialiri arus listrik, maka pada gulungan(coil) tersebut akan timbul
medan magnet.
e. Bila arah gulungan atau arah arus listrik berubah, maka arah medan magnet yang
timbul juga akan berbalik.
85
f. Untuk memperbesar medan magnet dapat dilakukan :
- Memperbesar arus yang mengalir.
- Menambahkan inti besi ke dalam gulungan (coil).
- Memperbanyak jumlah gulungan (coil).
Ketika switch dibuka ( off ) dengan tiba - tiba hilang dan medan magnet akan
turun tiba-tiba yang menyebabkan berbaliknya gaya gerak listrik, gaya gerak listrik
yang berbalik akan aliran arus pada lilitan dicegah agar tidak turun (tetap ada) dan
disebut Induksi diri (self Induction ).
86
Adapun tegangan yang terjadi pun akan berbalik seperti diperlihatkan pada
gambar berikut ini.
Di dalam percoban seperti pada gambar berikut ini, ketika switch ihubungkan
dengan battery 6 volt, lampu tidak menyala. Tetapi jika switch dibuka dengan tiba -
tiba lampu akan menyala sesaat. Makin cepat switch dilepas, makin terang nyala
lampu tersebut. Hal ini membuktikan bahwa ada induksi diri di dalam lilitan tersebut.
P S
87
4. Transformator.
Pada gambar berikut ini diperlihatkan bahwa prim3ary coil yang dihubungkan
serie dengan battery dan switch, maka ketika switch digerak gerakkan ON dan OFF
lampu akan menyala.
Sedangkan bila primary coil dihubungkan dengan sumber AC, lampu akan
menyala. Hal ini disebabkan perubahan arus bolak -balik berubah secara periodik
dengan frequency yang sama besar. Induksi medan magnet ini menjadikan gaya gerak
listrik di secondary coil berlangsung terus - menerus. Inilah yang merupakan prinsip
dasar sebuah transformer.
Pada umumnya transformer dibuat dalam bentuk seperti pada gambar berikut ini,
dimana ketebalan plat core pada umumnya 0.35 mm.
Adapun hubungan antara tegangan dan arus di primary coil dan secondary coil adalah
88
V N I
1
1 2
V2 N2 I1
Gambar 3. 18 Arah gaya gerak magnet dan kaidah tangan kiri Fleming
89
Gambar 3. 19 Gaya-gaya magnet pada konduktor sejajar
90
Gambar 3. 21 Induksi electro magnet.
Medan magnet didalam lilitan akan berubah yang mengakibatkan gaya gerak
listrik sehingga arus akan mengalir. Hal ini disebut dengan Induksi electro magnet.
3. Prinsip generator.
Generator adalah sebuah alat yang merubah garis - garis gaya magnet yang
memotong lilitanl menjadi tenaga listrik. Prinsip dasar dari keduanya ini adalah sama
91
namun dengan konstruksi yang berbeda. Perbedaan konstruksi inilah yang pada
akhirnya generator dibagi atas dua jenis yaitu:
- AC (Alternating Current) generator (alternator).
- DC (Direct Current) generator (dinamo).
4. Alternator.
Pada alternator ditandai dengan tidak adanya magnet tetap, dengan demikian
alternator harus diberikan arus listrik awal agar tercipta medan magnet.
Bagian yang berputar pada alternator disebut rotor coil atau field coil yang
sekalligus sebagai pembangkit medan magnet bila coil tersebut dialiri arus. Sedangkan
bagian yang diam disebut Stator coil atau armature coil. Armature coil inilah yang
kemudian akan mengeluarkan arus listrik bila field coil berputar.
Flux yang melalui stator coil akan berubah perlahan - lahan seperti berikut :
Ketika rotor diputar searah jarum jam maka induksi gaya gerak listrik akan
maksimum pada 90º dan 270º dan minimum pada 180º dan 360º, dengan demikian
arus listrik selalu berbeda polaritas setiap 180 derajat. Polaritas yang demikian ini
disebut dengan arus bolak balik (alternating current)
5. DC generator ( Dynamo ).
Pada DC generator ditandai dengan adanya magnet tetap. Dimana magnet tetap
ini diam sedangkan armature coilnya berputar didalam magnet tersebut. Akibatnya
92
terjadilah pemotongan garis gaya magnet oleh armature coil akan ada arus listrik.
Pada shaft armature terdapat comutator.
Adanya cincin ini menyebabkan arus yang berbalik polaritasnya selalu diarahkan
ke tempat yang sama. Dengan demikian biarpun pada armature coil terjadi polaritas
bolak balik,tetapi keluarannya setelah melewati comutator memiliki polaritas yang
selalu tetap. Arus yang polaritasnya tetap ini dinamakan arus searah.
93
Rangkuman Materi 3
1. Magnet adalah sebuah benda logam yang mempunyai sifat menarik benda-benda
besi
2. Pada sebuah magnet selalu memiliki dua buah kutub yang dinamakan kutub utara
(N pole) dan kutub selatan (S pole)
3. Kutub - kutub yang senama akan saling tolak - menolak, sedangkan kutub kutub
yang tidak senama akan saling tarik menarik.
4. Kemagnetan yang terkuat terdapat pada ujung – ujung magnet.
5. Magnet mempunyai garis-garis gaya magnet
a. Diluar magnet mengarah ke kutub utara (N pole) ke kutub selatan.
b. Sedangkan di dalam magnet mengarah dari kutub selatan (S pole) ke kutub utara
(N pole).
6. Electromagnet adalah medan magnet yang ditimbulkan oleh adanya aliran arus
listrik pada sebuah konduktor atau coil.
7. Untuk memperbesar medan magnet dapat dilakukan :
- Memperbesar arus yang mengalir.
- Menambahkan inti besi ke dalam gulungan (coil).
- Memperbanyak jumlah gulungan (coil).
8. Bila sebuah konduktor digerak gerakan memotong garis gaya magnet maka pada
konduktor akan mengalir arus listrik Medan magnet didalam lilitan akan berubah
yang mengakibatkan gaya gerak listrik sehingga arus akan mengalir. Hal ini disebut
dengan Induksi Electro Magnet
9. Bila sebuah konduktor diletakkan kutub N dan S dari magnet tapal kuda dan
konduktor dialiri arus, maka konduktor akan terlempar keluar dari kutub-kutub
magnet tersebut
10. Generator adalah sebuah alat yang merubah garis - garis gaya magnet yang
memotong lilitanl menjadi tenaga listrik.
Soal Latihan 3
1. Benda logam yang mempunyai sifat menarik benda-benda besi disebut..
2. Kemampuan magnet untuk menyimpan kemagnetan dengan baik dalam waktu yang
lama disebut…
3. Pengertian dari elektro magnet adalah…
4. Untuk memperbesar medan magnet, maka dilakukan…
5. Alat yang digunakan untuk menaikkan/menurunkan teganga atau arus listrik disebut
94
6. Bagian yang berputar pada motor disebut
7. medan magnet yang ditimbulkan oleh adanya aliran arus listrik pada sebuah
konduktor atau coil disebut...
8. alat yang bekerja dengan cara merubah garis - garis gaya magnet yang memotong
lilitanl menjadi tenaga listrik disebut...
9. Sebuah trafo step down memiliki lilitan primer 2000, lilitan sekunder 1000, tegangan
primernya 220 Vac, berapakah tegangan pada lilitan sekundernya?
10. Untuk mendapatkan tegangan sekunder 12 Vac ,jika tegangan primernya 220 Vac
dengan jumlah lilitan 1000. Tentukan jumlah lilitan sekunder yang dibutuhkan!
Lembar Kerja 3
1) Tugas Praktek
Membuktikan sifat-sifat magnet dan sifat-sifat elektromagnet
2) Alat dan Bahan
95
g. Batang magnet
h. Kompas
i. Power supply
j. Project board
k. Kabel
l. coil
3) Keselamatan Kerja
Memakai APD di area workshop
4) Langkah kerja
Dengarkan penjelasan dari instruktur
Lakukan pembuktian -sifat magnet dan sifat-sifat elektromagnet
96
KEGIATAN BELAJAR IV
Tujuan Kegiatan Belajar 4
Tools Electric
Ranah
Elemen Kegiatan
Indikator Keberhasilan Kompetensi
Kompetensi Pembelajaran
P K S
Dapat menjelaskan pemakaian
Tools Electric Tools electric
tools electric
97
Uraian Materi Kegiatan Belajar 4
Tool Electric
A. Multimeter
1. Fungsi Multimeter
Multimeter adalah salah satu jenis alat ukur yang berfungsi untuk mengukur arus
(Amperemeter), tegangan (Voltmeter), dan hambatan (Ohmmeter). Sehingga
multimeter dikenal juga dengan nama AVO meter. Tetapi multimeter terbaru sudah
menyediakan fasilitas untuk mengukur kapasitansi kapasitor, faktor penguatan
transistor (hfe), frekwensi, dan mengukur resistansi diode.
2. Jenis-Jenis Multimeter
a. Multimeter analog
- Menggunakan pergerakan mekanis untuk mengerakkan jarum
- Menampilkan hasil ukur dimana jarum terhubung dengan skala kalibarasi.
- Tidak cocok untuk mengukur komponen elektronik sensitif (seperti ECU).
98
2) Mengukur Tegangan (Volt Meter)
- Mengetahui kira-kira besarnya tegangan yang akan diukur.
- Mengetahui sumber tegangannya DC atau AC. Bila sumbernya adalah DC
maka harus diketahui kutub (+) atau kutub (-).
- Posisikan selektor (rotary switch) pada skala volt (DC volt atau AC volt).
- Posisikan skala selektor di atas atau lebih besar dari tegangan yang akan
diukur.
- Set pointer pada posisi 0 (nol) dengan menyetel zero point adjusting screw.
- Pasang volt meter paralel dengan sirkuit yang akan diukur.
- Pembacaan besarnya tegangan yang akan diukur adalah sesuai dengan skala
pada selektor (rotary switch).
99
- Pembacaan besarnya hambatan yang diukur adalah sesuai dengan
penunjukan pada pointer dikalikan dengan faktor pengali selektor switchnya
OHM METER
Gambar 4. 2 Setting meter
100
5) Penggunaan/Perawatan
- Memilih batas ukur yang tepat untuk menambah keakuratan / ketepatan.
Gunakanlah batas ukur yang nilainya terdekat dengan nilai yang sedang
dicheck/diperiksa. Sebagai contoh untuk mengukur tegangan battery kering
1.5 volt, gunakan batas ukur DC 2.5 V.
- Mengukur nilai yang tidak diketahui.
Mulailah dengan memilih batas ukur yang tertinggi. Jika tidak terbaca,
turunkan batas ukur dengan memilih batas ukur yang menghasilkan
penununjukkan kira-kira ½ kali batas ukur, untuk membaca/mengukur lebih
akurat.
- Perlindungan dari tester.
Tester adalah instrumen presisi, guncangan atau getaran yang kuat harus
dihindari, Jangan membiarkan terlalu lama pada tempat yang bertemperatur
atau kelembaban tinggi.
- Penggantian battery di dalam AVO.
Jika penyetelan 0 Ω tidak bisa dilakukan, maka ganti battery dalam AVO.
b. Multimeter digital
1) Karakteristik :
- Menampilkan nilai melalui penampilan digital
- Menampilkan nilai pengukuran sesuai nilai aktual
- Cocok untuk mengukur komponen elektronik sensitif
(seperti ECU).
- Mempunyai battery yang tahan lama.
- Mempunyai nilai resistansi dalam yang lebih tinggi.
2) Informasi Safety
- Yakinkan test lead dan rotary switch pada posisi yang benar untuk
pengukuran.
- Jangan gunakan meter jika meter dan test lead kelihatan rusak.
- Jangan mengukur resistansi dalam rangkaian ketika masih terpasang
pada power supply.
- Jangan sentuhkan probe ke sumber tegangan ketika test lead terpasang pada
input jack 10 A atau 300 mA.
101
- Untuk menghindari kerusakan atau hampir rusak, jangan
menggunakan meter pada rangkaian yang lebih dari 4800 watt.
- Jangan digunakan untuk tegangan yang lebih dari nominalnya antara input
jack dan ground (mis : 600 V).
- Hati-hati ketika bekerja dengan tegangan diatas 60 VDC atau 30 VAC rms. Hal
ini akan mengakibatkan kejutan.
- Jaga jari-jari Anda di belakang pelindung jari pada test lead ketika melakukan
pengukuran.
102
c) Tombol-tombol fungsi
b) Select switch
Switch ini berguna untuk memilih fungsi dalam satu switch. Misalnya : Ω,
c) Range
Tekan tombol range sebentar untuk mengeset mode range manual. Kemudian
‟AUTO‟ muncul di display. Dalam mode range manual tekan tombol lagi untuk
melangkah ke range. Untuk kembali ke mode auto, tekan tombol selama 1
detik atau lebih, kemudian „AUTO‟ akan muncul di display.
d) ∆ Rel
Relative zero memungkinkan pemakai untuk menyeimbangkan meter pada
pengukuran berurutan dengan menampilkan pembacaan sebagai nilai acuan.
103
Tekan tombol ∆ Rel sebentar untuk mengaktifkan dan untuk keluar dari mode
relative zero.
f) Hz/%
Fungsi pengukuran frekwensi dan duty cycle diaktifkan secara bergantian
dengan menekan tombol ini. Dalam hal ini mode berubah Hz %.
5) Test lead
Sebagai media yang menghubungkan antara komponen yang akan diukur dan
alat ukur.
4. Penggantian fuse
Cara penggantian fuse :
5. Membersihkan multimeter
Untuk membersihkan multimeter gunakan kain bekas dan deterjen lembut jangan
gunakan abrasif dan solvent pada meter.
105
C. BATTERY LOAD TESTER
1. Fungsi
Battery load tester adalah alat yang dapat digunakan untuk mengukur tegangan
battery, tegangan per cell battery, dan kemampuan battery untuk dibebani.
2. Safety
- Gunakan safety glases untuk mencegah kecelakaan mata.
- Pelindung untuk mencegah kejutan listrik terhubung dengan permukaan ground,
jangan menggunakan tester pada permukaan basah.
- Jaga kebersihan area kerja, jangan biarkan anak-anak berada dalam area
pengetesan.
- PENTING ! selalu hubungkan clamp merah ke terminal positif dan clamp hitam ke
terminal negatif. Kesalahan dalam pemasangan dapat mengakibatkan kerusakan
permanen pada battery atau tester.
- Jangan biarkan tangan atau bagian lain menyentuh larutan battery.
- Ketika memegang clamp, peganglah hanya pada bagian rubber merah / hitam. Hati-
hatilah lubang-lubang di bagian depan tester akan menjadi sangat panas selama
pengetesan dan setetah pengetesan.
- Selalu baca prosedur pengetesan sebelum mengunakan tester.
- Jangan buang label pada tester.
D. Deskripsi Tester
1. Bagian umum
Battery load tester memiliki beberapa komponen yang saling mendukung untuk
melakukan pengetesan battery. Batery load tester memiliki Layar, Test clamp, Heater,
Test switch, LED indicator, Berikut adalah gambar secara keselurahan battery load
tester :
106
2. Layar
Layar untuk melihat hasil pengetesan. Layar ii dilengkapi dengan pointer yang
akan bergerak sesuai dengan kondisi batter yang sedang ditest. Kode warna yang
mengislustrasikan kondisi dan kapasitas battery. Arti dari kode warna ini dapat dilihat
pada bagian belakang casing battery load tester.
3. Test Clamp
Test clamp untuk menghubungkan antara battery dengan tester agar terhubung
dengan baik. Test clamp ada dua terdiri dari test clamp merah untuk dihubungkan ke
terminal positif battery, dan test clamp hitam untuk dihubungkan dengan terminal
negatif battery.
107
4. Test switch
Test switch untuk menghubungkan battery dengan heater pada saat pengetesan
load battery.
5. Heater
Heater untuk membebani battery pada saat pengetesan load battery. Heater
akan panas selama test switch ditekan.
Gambar 4. 16 Heater
6. LED
LED indicator, untuk mengetahui terminal posisitif pada battery, yang mana LED
ini akan menyala saat diberikan terminal positif battery.
108
7. Parameter Teknik
Range pengetesan untuk battery dengan tegangan nominalnya adalah 6 V
sampai 12 V dan kapasitas nominalnya adalah 32 A sampai 500 A per jam. Arus
discharge adalah 100 A – 120 A.
8. Persiapan Pengetesan
Ketika battery ditest, lingkungannya harus berventilasi baik. Operator
tidak diijinkan untuk merokok dan tidak boleh ada api didekatnya. Jaga kebersihan
tempat dimana akan dilakukan pengetesan battery dan periksa keadaan casing luar
terhadap kerusakannya.
12. Maintenance
- Bersihkan tool setelah digunakan.
- Jangan menyimpan tool di tempat yang lembab.
- Fungsikan tool sesuai fungsinya.
109
E. Hydrometer
Terdapat dua jenis Hydrometer, yaitu:
- Hydrometer floating beam
- Hydrometer pembiasan cahaya (refractometer)
Floating beam
Pembiasan cahaya
110
b. Teteskan air murni pada permukaan glass prism
(2) dan tutup daylight plate (1).
111
Gambar 4. 18 Harness checker dan T adapters
Contoh aplikasi penggunaan Harness checker dan T adapter pada trouble shooting
controller.
Keterangan
(a) Dengan menggunakan Hexagonal wrench ,lepas connector yang akan diukur
(b) Juga menggunakan hexagonal wrech , pasang dan kencangkan connector
dengan T adapter.
(c) Hubungkan T adapter dengan Harness checker (detail : seperti gambar
dibawah).
(d) Lakukan pengukuran pada Harness checker dengan menggunakan AVO meter.
112
(d)
G. Crimping Tool
Crimping tool adalah alat yang digunakan untuk menginstalasikan kabel pada
konektornya. Tujuannya adalah agar kabel melekat kuat pada konektornya sehingga tidak
mudah lepas oleh pengaruh getaran, gerakan, dan sebagainya.
113
1) Langkah awal adalah menempatkan crimp tool
pada tabung kabel yang akan dikerutkan dan
menekannya keatas kira-kira satu inch. Ketika
menempatkan crimp tool di bentuk pertama,
gunakan jari untuk memisahkan kawat sehingga
kawat berada pada masing-masing sisi tabung.
4) Pada saat meng-crimp terminal, cara yang benar adalah seperti yang ditunjukkan
gambar di bawah ini:
b. Perhatian Khusus
- Ketika membuat crimp jangan menekan
crimping tool terlalu keras.
- Buang isolasi sebelum di crimping.
114
- Bersihkan kabel terlebih dahulu
c. Maintenance
- Bersihkan tool setelah digunakan
- Jangan menyimpan tool di tempat yang lembab
Cara pengguaan :
a. Kupas kabel yang akan kita pasang dengan pin
contact. Kupas isolasi kabel sekitar 1 cm.
116
117
Rangkuman Materi 4
1. Multimeter adalah salah satu jenis alat ukur yang berfungsi untuk mengukur arus
(Amperemeter), tegangan (Voltmeter), dan hambatan (Ohmmeter). Sehingga
multimeter dikenal juga dengan nama AVO meter.
2. Multimeter terbagi 2 jenis yaitu: multimeter analog dan multimeter digital
3. Multimeter digital cocok untuk mengukur komponen elektronik sensitif (seperti ECU).
4. Battery load tester adalah alat yang dapat digunakan untuk mengukur tegangan
battery, tegangan per cell battery, dan kemampuan battery untuk dibebani.
5. Terdapat dua jenis Hydrometer, yaitu:
Hydrometer floating beam;
Hydrometer pembiasan cahaya (refractometer);
6. Harness checker dan T Adapter adalah tools yang digunakan untuk memudahkan
dalam melakukan trouble shooting elektrik. Dengan tools ini, kita tidak perlu
merusak isolasi ataupun connector untuk mengukur voltage ataupun kontinuitas
(short circuit) wiring yang kita ukur.
7. Crimping tool adalah alat yang digunakan untuk menginstalasikan kabel pada
konektornya. Tujuannya adalah agar kabel melekat kuat pada konektornya sehingga
tidak mudah lepas oleh pengaruh getaran, gerakan, dan sebagainya.
Soal Latihan 4
1. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur arus, tegangan dan hambatan adalah…
multimeter
2. Penyetelan yang dilakukan pada multimeter analog dengan cara memastikan posisi
jarum pada angka nol adalah
3. Untuk melakukan pengukuran pada komponen elektronik yang bersifat sensitive
maka digunakan multimeter jenis…
4. Tombol data hold switch pada multimeter digital berfungsi untuk….
5. Battery load tester berfungsi untuk….
6. Untuk menghubungkan battery dengan heater pada saat pengetesan load battery
adalah…
7. Kecepatn motor yang diputar pada saat melakukan test charging system adalah
sebesar….
8. Jenis hydrometer yang digunakan dengan memanfaatkan pembiasan cahaya
adalah…
118
9. Jelaskan fungsi dari harness checker dan T adapter!
10. Tool yang berfungsi untuk melekatkan kabel pada konektor agar tidak lepas oleh
pengaruh getaran, gerakan dsb adalah…
Lembar Kerja 4
1) Tugas Praktek
Mempraktekkan cara menggunakan tool electric.
2) Alat dan Bahan
a. Tool electric
b. Battery
c. Komponen electric
3) Keselamatan Kerja
Memakai APD di area workshop
Perhatikan test pin pada multimeter jangan sampai terbalik.
Perhatikan kutub battery jangan sampai terbalik
4) Langkah kerja
Dengarkan penjelasan dari instruktur
Lakukan penggunaan tool electric
119
KEGIATAN BELAJAR V
Tujuan Kegiatan Belajar 5
Wiring dan Connection System
Ranah
Elemen Kegiatan
Indikator Keberhasilan Kompetensi
Kompetensi Pembelajaran
P K S
Dapat menjelaskan
Wiring dan
Wiring dan pembacaan wiring dan
connection
Connection connection
System Dapat menjelaskan tentang
Deutch connector
deutch connector
120
Uraian Materi Kegiatan Belajar 5
Wiring and connection
121
2. Pada electric circuit diagram yang terbaru ini, komponen electric sudah dikelompokkan
tempat posisinya pada unit. Sehingga lebih memudahkan dalam pencarian pada saat
troubleshooting.
3. Circuit diagram Komatsu yang terbaru ini tidak terlihat adanya kabel yang
menghubungkan antara dua atau lebih komponen electric. Yang ditampilkan hanyalah
nomor connector yang dituju dari suatu komponen, jenis kabel yang digunakan, jenis
connector dan jumlah pin dari connector, jenis connector (male atau female). Untuk
lebih jelasnya silahkan dilihat pada Gambar 3. Gambar Legend seperti di bawah ini
berada di setiap electric circuit diagram yang terbaru pada posisi pojok kanan atas
122
a. Pada bagian ini yang ditampilkan adalah nomor connector dan tipe connector. Pada
contoh diatas, H01(S) artinya nomor connector-nya adalah H01 dan tipe connector-
nya adalah connector tipe S. Alamat dari connector ini terdapat pada tabel
Connector Location yang terdapat pada posisi kanan atas dari electric circuit
diagram.
b. Pada bagian ini yang ditampilkan adalah ukuran dan warna kabel. Pada contoh
diatas, kode kabel 0.5R ini mempunyai arti kabel yang keluar dari connector H01 (S)
female pin nomor 1 mempunyai diameter luar kabel sebesar 2,0 mm yang berwarna
Merah. Penjelasan dari kode kabel diatas lebih detail dijelaskan pada bagian Index-
and Foreword pada setiap Shop Manual Komatsu yang terbaru. Kode 0.5R pada
kabel jika dilihat pada Gambar 5 mempunyai data teknis sebagai berikut:
123
Jenis isolator yang dipakai dalam circuit Komatsu dibagi menjadi tiga tipe:
AVS, AV, AEX. Setiap jenis dari kabel ini mempunyai bahan dan karakteristik yang
berbeda. Untuk kabel dengan isolator tipe AV mempunyai material yang terbuat dari
tembaga (annealed copper) untuk konduktornya dan Soft Polyvinyl Chloride (PVC)
untuk isolatornya. Aplikasi dari kabel yang isolator tipe AV ini adalah untuk
pengkabelan umum (general circuit) yang ada di unit dengan ukuran nominal kabel
lima keatas dengan ambient temperature antara -30 - +60°C, misalnya pada bagian
chasis dan cabin.
Untuk kabel dengan isolator AVS material yang terbuat dari tembaga
(annealed copper) untuk konduktornya dan Soft Polyvinyl Chloride (PVC) untuk
isolatornya. Aplikasi dari kabel yang isolator tipe AV ini adalah untuk pengkabelan
umum (general circuit) yang ada di unit dengan ukuran nominal kabel tiga kebawah
dengan ambient temperature antara -30 - +60°C. Perbedaan kabel dengan isolator
AV dengan AVS adalah pada tebalnya isolator kabel dan diamater luar kabel.
Untuk kabel dengan isolator AEX material yang terbuat dari tembaga
(annealed copper) untuk konduktornya dan polyethylene (PE) untuk isolatornya,
yang mempunyai sifat tahan panas. Aplikasi dari kabel yang isolator tipe AV ini
adalah untuk pengkabelan di tempat yang temperatur udara ekstrim di unit dengan
ukuran nominal kabel 0.5 - 100 dengan ambient temperature antara -50 - +110°C,
misalnya kabel pada selenoid valve injector (TWV) engine, dan sensor-sensor di
124
bagian engine. Untuk warna kabel juga dijelaskan pada Shop Manual bagian Index
and Foreword.
Kabel dengan warna tunggal disimbolkan dengan kode warna hanya satu
warna saja, apabila dalam satu kabel terdapat dua warna maka kabel itu terdiri dari
warna dasar dan warna stripping yang membujur atau melintang sepanjang kabel.
Huruf pertama adalah sebagai warna dasar dan huruf kedua adalah sebagai warna
stripping-nya. Misalnya kode warna RL, maka kabel tersebut mempunyai warna
dasar merah dan stripping warna biru.
c. Pada bagian ini yang ditampilkan adalah nama connector atau terminal yang akan
dituju. Pada contoh Gambar 3, kabel yang keluar dari connector HOI (S) female pin
nomor satu berkode 0.5R akan menuju connector dengan nomor M01. Alamat dari
connector M01 dapat dicari pada Connector Location Table yang berada pada
bagian pojok kanan atas setiap Circuit Diagram.
d. Pada bagian ini yang ditampilkan adalah nomor pin pada connector yang akan
dituju. Pada contoh Gambar 3, kabel yang keluar dari connector HOI (S) female pin
nomor satu berkode 0.5R akan menuju connector dengan nomor M01 pada pin
satu.
125
e. Pada bagian ini yang ditampilkan adalah jenis dari connector yang dituju, female
atau male. Pada contoh Gambar 9, kabel yang keluar dari connector HOI (S) female
pin nomor satu berkode 0.5R akan menuju connector dengan nomor M01 pada pin
satu dan jenis connector yang akan dituju adalah male.
f. Pada bagian ini yang ditampilkan adalah jenis dari connector yang dituju, female
atau male. Pada contoh Gambar 9, kabel yang keluar dari connector HOI (S) female
pin nomor dua berkode 0.85R akan menuju connector dengan nomor S01 pada pin
satu dan jenis connector yang akan dituju adalah female.
g. Pada bagian ini yang ditampilkan adalah jenis komponen yang dituju. Pada contoh
Gambar 9, kabel yang keluar dari connector HOI (S) female pin nomor tiga berkode
1.25R akan menuju fuse box ^FBi; dengan fuse yang bernomor urut (row) nomor
satu.
h. Pada bagian ini yang ditampilkan adalah nama terminal yang dituju. Pada contoh
Gambar 9, kabel yang keluar dari connector HOI (S) female pin nomor empat
berkode 1.25L akan menuju ke sebuah terminal komponen melewati connector A01.
Sebagai contoh terminal Battery B+, terminal Alternator R, dan lain sebagainya.
i. Pada bagian ini yang ditampilkan adalah jenis komponen yang dituju. Pada contoh
Gambar 9, kabel yang keluar dari connector H01 (S) female pin nomor lima berkode
0.5B akan menuju ground melewati sebuah connector T01.
Apabila sebuah connector dalam satu pin dicabang menjadi dua atau lebih
menuju ke connector/komponen lain maka menunjukkan bahwa kabel pada pin
tersebut di paralel ke komponen yang lain.
126
Misalnya dalam kasus Gambar 10, maka pin 2 pada connector R08 female
yang menggunakan kabel dengan kode 0.5 B dicabang/paralel ke connector J05
female pin 9 dan connector R12 female pin 2.
Untuk lebih memperjelas pemahaman tentang electric circuit diagram yang
terbaru ini marilah kita mencoba mengurutkan suatu connector sampai bertemu
dengan connector yang lain. Kita ambil sebagai contoh adalah sensor fuel level
pada unit PC300-8.
Fuuel Level Sensor yang berada di group komponen Chasis dengan alamat
pada electric circuit diagram di J-8 hanya mempunyai keluaran satu kabel saja.
Kabel dengan kode AEX1.25Y menuju ke connector male P21(X) pin 1. Dari bagian
connector female P21(X) pin 1 menuju ke connector female CM01 pin 9 melalui
kabel 0.85Y.
127
Kegiatan Pembelajaran 5
Deutch Connector
128
129
130
131
Rangkuman Materi 5
1. Diagram circuit Komatsu yang terbaru ini tidak memperlihatkan kabel yang
menghubungkan antara dua atau lebih komponen electric. Yang ditampilkan hanyalah
nomor connector yang dituju dari suatu komponen, jenis kabel yang digunakan, jenis
connector dan jumlah pin dari connector, jenis connector (male atau female).
2. Kabel dengan isolator tipe AV mempunyai material yang terbuat dari tembaga
(annealed copper) untuk konduktornya dan Soft Polyvinyl Chloride (PVC) untuk
isolatornya.
3. Aplikasi dari kabel yang isolator tipe AV adalah untuk pengkabelan umum (general
circuit) yang ada di unit dengan ukuran nominal kabel lima keatas dengan ambient
temperature antara -30 - +60°C, misalnya pada bagian chasis dan cabin.
4. Kabel dengan warna tunggal disimbolkan dengan kode warna hanya satu warna saja,
apabila dalam satu kabel terdapat dua warna maka kabel itu terdiri dari warna dasar
dan warna stripping yang membujur atau melintang sepanjang kabel. Huruf pertama
adalah sebagai warna dasar dan huruf kedua adalah sebagai warna stripping-nya.
Tugas 5
1. Sebutkan dan jelaskan arti symbol pada diagram circuit d bawah ini..
1……………
2……………
3……………
4……………
5……………
132
Soal Latihan 5
1. Pada diagram circuit komatsu yang terbaru, item yang ditampilkan adalah…
2. Kabel isolasi tipe AV digunakan di unit untuk mengisolasi pada bagian…
3. Ambient temperature yang diizinkan untuk kabel isolasi tipe AV adalah sebesar..
4. Apabila sebuah kabel mempunai dua kode warna maka huruf pertama adalah
sebagai…
5. Kode warna LgY menunjukan bahwa kabel tersebut berwarna…
Lembar Kerja 5
1) Tugas Praktek
Membaca wiring diagram
2) Alat dan Bahan
Shop Manual
3) Keselamatan Kerja
Memakai APD di area workshop
4) Langkah kerja
Dengarkan penjelasan dari instruktur
Lakukan pembacaan wiring diagram
133
KEGIATAN BELAJAR VI
Tujuan Kegiatan Belajar 6
System Electric
Ranah
Elemen Kegiatan
Indikator Keberhasilan Kompetensi
Kompetensi Pembelajaran
P K S
Dapat menjelaskan tantang
Starting system cara kerja dari starting
system
Dapat menjelaskan tantang
Charging system cara kerja dari charging
system
System electric
Dapat menjelaskan tantang
Preheating system cara kerja dari preheating
system
Dapat menjelaskan tantang
Lighting system cara kerja dari lighting
system
134
Kegiatan Materi Kegiatan Belajar 6
Starting System
A. Definisi
Starting system adalah suatu sistem yang terdiri dari beberapa komponen yang
digunakan untuk menghidupkan engine. Komponen - komponen utama yang termasuk
dalam starting system ini adalah :
1. Battery.
2. Starting switch.
3. Battery relay switch.
4. Starting motor.
5. Safety relay.
Testing :
Dengan menggunakan ohm meter, ukur kontinuitas terminal-terminal starting switch
sesuai tabel diatas.
2. Battery Relay.
Fungsi battery relay adalah untuk :
- Memutuskan ataupun menghubungkan negatif battery dengan body/chasis
(negative battery relay).
136
- Memutuskan ataupun menghubungkan positif battery dengan starting motor
(positive battery relay).
Keterangan :
[Link] 4. Cover
[Link] 5. Plate
[Link] 6. Sub
switch
Gambar 6. 4 Konstruksi dan gambar battery relay.
Pada saat starting switch posisi ON, maka jalannya arus adalah :
BR D2 C ─b
C menjadi magnet
R D3 Sub switch C ─b
Dengan demikian, jika engine hidup kemudian starting switch di OFF kan, maka P1
– P2 dan sub switch tidak terbuka secara mengejut hingga tegangan dari alternator
turun menjadi 9 volt.
B E
Ohm
138
Testing :
Dengan memberikan tegangan 24 volt ke terminal Br (+) dan E (-) maka, terminal
yang ke starting motor dan dari + battery haruslah terbaca nilai tahanan antara 0 s/d
15Ω (terhubung). Sebaliknya jika diputus sumber tegangan ke terminal Br (+) dan
E (-), maka terminal yang ke starting motor dan dari + battery haruslah terbaca nilai
tahanan minimum 1MΩ (terputus).
3. Starting Motor
Fungsi dari starting motor adalah untuk memutar engine saat start awal
menghidupkan engine dengan prinsip merubah energi listrik menjadi energi mekanis.
a. Konstruksi starting motor
Ada beberapa konstruksi starting motor yang umum dipakai di alat berat antara lain:
- Starting motor without reduction
- Starting motor with reduction
139
b. Prinsip kerja starting motor adalah sebagai berikut :
Hold in Ground
coil 1
C
140
1)
M chasis
C
C
2) 3)
Testing :
1) Testing starting motor : Dengan memberikan sumber tegangan 24 Vdc (+) ke
terminal C dan (-) ke terminal ground, maka solenoid haruslah ON dan pinion
gear bergerak maju kemudian motor (pinion gear) berputar.
2) Testing pull in coil : Dengan memberikan sumber tegangan 24 Vdc (+) ke
terminal C dan (-) ke terminal M, maka solenoid haruslah mampu menarik
plunger ke arah kanan.
3) Testing hold in coil : Dengan memberikan sumber tegangan 24 Vdc (+) ke
terminal C dan (-) ke chasis/ground, kemudian dorong plunger ke arah kanan dan
lepaskan, maka plunger haruslah tertahan.
4. Safety Relay
a. Fungsi relay
Fungsi dari safety relay adalah (penghubung) antara starting switch dan
starting motor, juga berfungsi untuk :
141
1) Memutus dan memghubungkan terminal B dan C pada starting motor;
2) Mencegah mengalirnya arus ke starting motor jika starting switch diputar ke
posisi START sementara engine sudah hidup;
3) Secara otomatis memutus arus ke starting motor sehingga starting motor lepas
(disengaged) dari fly wheel (setelah engine hidup) sementara starting switch
masih posisi START.
S
E
B
143
Testing :
Dengan memberikan tegangan 24 Vdc pada terminal S (dari C starting switch) dan
terminal E ke ground maka, pada ohm meter harus terbaca nilai tahanan antara 0 –
15 Ω atau dengan kata lain terminal C dan B harus terhubung. Kemudian jika
diberikan tegangan 24 Vdc pada terminal R maka, pada ohm meter harus terbaca
nilai tahanan minimun 1M Ω atau dengan kata lain terminal C dan B harus terputus.
A. CHARGING SYSTEM
Charging System adalah suatu system yang berfungsi mengisi battery agar full
charge. Hal ini disebabkan kapasitas battery tidak mungkin digunakan secara terus-
menerus.
Sistim pengisian (charging system) ini, pada produk - produk Komatsu dapat
diklasifikasikan menjadi 2 (dua), yaitu :
- Sistem pengisian dengan Alternator dan Semi Conductor Regulator.
- Sistem pengisian dengan Alternator Brushless dan Semi Conductor Regulator.
a. Alternator
Konstruksi dan prinsip kerja alternator jenis ini dapat di jelaskan sebagai berikut:
144
Gambar 6. 14 Wiring alternator
145
Prinsip kerja adalah sebagai berikut:
1) Field coil (rotor coil) mendapat arus listrik sehingga pada rotor coil timbul medan
magnet.
2) Bila alternator diputar oleh engine, maka medan magnet pada rotor coil akan
dipotong oleh konduktor pada stator coil, sehingga pada stator akan timbul arus
listrik.
3) Tegangan arus bolak balik (Vac) yang keluar dari stator kemudian disearahkan
oleh diode sehingga menjadi tegangan arus searah (Vdc).
1) Bila starting switch posisi ON, maka arus listrik dari battery akan mengalir ke
rotor coil. Jalannya arus penguat adalah :
146
2) Setelah rotor coil menjadi magnet dan alternator diputar oleh engine, maka dari
alternator akan menghasilkan tegangan.
3) Bila output voltage dari alternator masih kecil ,maka arus yang keluar dari
alternator akan memperkuat medan magnet pada rotor coil, sehingga output
voltage dari alternator naik. Out put voltage dari alternator adalah sebanding
dengan putaran dan kekuatan medan magnetnya.
4) Saat tegangan mencapai 29,5 volt maka voltage drop di V3 akan menyebabkan
zener diode mendapat reverse voltage sehingga T2 akan ON dan T1 akan OFF.
Dengan demikian arus penguat ke rotor coil tidak mendapat ground dan
kemagnetan akan berkurang sehingga tegangan yang dihasilkan alternator akan
turun.
5) Bila out put voltage turun mencapai 27,5 volt, maka T2 akan OFF dan T1 kembali
ON (bekerja) dan field coil mendapat arus penguat kembali dan out put voltage
alternator naik kembali.
6) Kejadian tersebut diatas berulang - ulang sehingga regulating voltage 27,5 volt
- 29,5 volt.
147
terletak pad konstruksi alternator yang tidak menggunakan brush serta adanya sistem
penguat yang di sebut dengan Darlington pada regulatornya.
148
Gambar 6. 18 Komponen utama brushless alternator
Gambar 6. 19 Darlington
149
Dengan menggunakan Darlington maka, untuk mendapatkan arus output yang
besar hanya membutuhkan arus input yang kecil. Bisa dilihat pada perhitungan sperti
dibawah ini :
- Bila switch ON, Tr1 ON dengan demikian akan ada arus B-E Tr2, Sehingga Tr2
akan ON.
Jadi
IB2 = IB1 + IC1
Misal hfe Tr1 = Tr2 = 20
hfe = Nilai penguatan (berarti penguatan yang terjadi 20 kali)
Bila :
IB1 = 1 mA
IC1 = 20 mA
Berarti :
IB2 = IB1 + IC1
= 1 +20
= 21 mA
Dengan demikian :
IC2 = 21 x 20
= 420 mA
150
Uraian Materi Kegiatan Belajar 6
Preheating System
A. Preheating System
Fungsi sistem pemanasan awal adalah suatu sistem untuk memanaskan udara
yang akan masuk ke ruang bakar dengan tujuan mempermudah menghidupkan engine
pada waktu udara sekeliling engine masih dingin.
Pada waktu produk - produk Komatsu terdapat beberapa jenis sistem pemanasan awal
yaitu :
- Sistem pemanasan awal dengan Glow Plug.
- Sistem pemanasan awal dengan Ribbon Heater.
- Sistem pemanasan awal dengan Thermostat.
- Sistem pemanasan awal dengan APS ( Auto Priming System ).
1. Sistem Pemanasan Awal Dengan Glow Plug
Sistem pemanasan awal ini biasanya dipakai pada engine indirect combustion
sistem pembakaran tidak langsung dimana pada ruang bakar muka dipasang glow
plug sehingga udara pada ruang bakar muka menjadi panas pada saat sistem
difungsikan.
Hubungan komponen-komponen pada sistem pemanasan awal ini adalah
sebagai berikut:
151
Glow plug adalah sebuah alat pemanas yang dengan komponen – komponen
lain akan memanaskan udara untuk didalam ruang bakar muka sehingga
mempermudah pembakaran pada pembakaran engine.
152
Prinsip kerja sistem pemanasan awal dengan glow plug adalah sebagai berikut :
a. Starting switch diposisikan HEAT dan heater Switch ON, maka jalannya arus listrik
adalah :
Karena glow plug yang dipakai 6 volt, maka resistor R1 dan R2 berfungsi untuk
menurunkan tegangan battery sehingga tegangan yang masuk glow plug 6 volt.
b. Starting switch posisi START dan heater switch ON, maka jalannya arus adalah :
Saat START starting motor memerlukan arus yang besar sehingga resistor yang
dilewati hanya R2 saja.
153
2. Sistem Pemanasan Awal Dengan Ribbon Heater.
Sistem pemanasan jenis ini biasanya dipakai pada engine direct Injection dengan
memanaskan intake air heater di intake manifold.
Hubungan komponen dan prinsip kerja sistem pemanasan awal dengan ribbon
heater adalah sebagai berikut :
156
Gambar 6. 27 Konstruksi Dan Skematik Diagram Sistem Pemanasan Awal dengan Thermostart
Prinsip kerja :
b. Ketika heater coil mulai panas, valve steam mengembang dan ball valve terbuka.
c. Fuel yang keluar dari valve stem akan menyembur igniter dan terbakar (udara
menjadi panas).
157
Uraian Materi Kegiatan Belajar 6
Lighting System
158
B. Rangkaian Sistem Penerangan Pada D375
Pada gambar di atas, jika switch di-ON-kan, maka arus dari battery akan mengalir
ke Head lamp relay, head lamp relay akan termagnetisasi sehingga menarik kontaktor.
hal ini membuat arus dari battery juga mengalir ke kontaktor head lamp relay kemudian ke
lampu
Pada gambar di atas, rear lamp akan menyala jika rear lamp switch di-ON-kan.
159
C. Rangkaian Turn Signal
Rangkaian Turn signal terdiri dari turn signal lamp, pilot lamp, turn signal switch dan
flashing unit yang dapat dilihat pada sirkuit diagram berikut ini:
160
2. Flashing Unit
Fungsi flasing unit adalah rangkaian untuk membuat hidup (ON) dan mati (OFF)
pada turn signal lamp ketika turn signal switch diposisikan ON. Konstruksi dan
skematik diagram flashing unit adalah sebagai berikut :
161
E. Rangkaian Stop Lamp
Fungsi sirkuit ini adalah untuk menyalakan lampu stop ketika brake pedal ditekan.
Sirkuit diagram stop lamp adalah sebagai berikut :
Ketika brake pedal ditekan, maka stop lamp switch akan ON dan stop lamp akan
menyala.
Bila parking lamp switch bekerja (ON) maka lampu parking akan menyala.
162
Rangkuman Materi 6
1. Starting system adalah suatu sistem yang terdiri dari beberapa komponen yang
digunakan untuk menghidupkan engine;
2. Fungsi starting switch adalah untuk memutuskan ataupun menghubungkan
komponen-komponen dalam starting sistem ;
3. Fungsi battery relay adalah untuk memutuskan ataupun menghubungkan negatif
battery dengan body/chasis (negative battery relay). Dan memutuskan ataupun
menghubungkan positif battery dengan starting motor (positive battery relay);
4. Fungsi dari starting motor adalah untuk memutar engine saat start awal
menghidupkan engine dengan prinsip merubah energi listrik menjadi energi mekanis;
5. Charging System adalah suatu system yang berfungsi mengisi battery agar full
charge. Hal ini disebabkan kapasitas battery tidak mungkin digunakan secara terus-
menerus;
6. Charging System adalah suatu system yang berfungsi mengisi battery agar full
charge;
7. Fungsi semi conductor regulator adalah untuk mengontrol arus penguat ke field coil
(rotor coil) sehingga didapatkan tegangan yang dihasilkan alternator antara 27,5 - 29,
5 volt;
8. Dengan menggunakan Darlington maka, untuk mendapatkan arus output yang besar
hanya membutuhkan arus input yang kecil;
9. Fungsi sistem pemanasan awal adalah Suatu sistem untuk memanaskan udara yang
akan masuk ke ruang bakar dengan tujuan mempermudah menghidupkan engine
pada waktu udara sekeliling engine masih dingin;
10. Lighting system adalah sistem penerangan dan perlengkapan unit untuk
kenyamanan operator saat kerja malam, atau untuk safety saat kondisi tertentu dari
unit.
Tugas 6
1. Gambarkan rangkaian starting system dan charging sederhana D65!
2. Gambarkan rangkaian starting system sedaerhana dengan menggunakan positive
battery relay?
3. Sebutkan jenis-jenis dari preheating system!
4. Jelaskan fungsi dari lighting system!
163
5. Jelaskan prinsip kerja dari battery relay switch 4 terminal di bawah ini
Soal Latihan 6
1. Tuliskan fungsi positive battery relay?
2. Pada safety relay, terminal S dihubungkan dengan terminal …… starting key.
3. Bagian dari starting motor yang berfungsi untuk mempertahankan pinion gear
mesh dengan fly wheel adalah……………….
4. Bagian dari alternator yang berfungsi untuk membatasi tegangan output dari
terminal R alternator sebesar 27,5 – 29,5 adalah…………….
5. Dioda zener pada regulatornya alternator akan tembus apabila tegangan pada
terminal R sebesar……….Volt.
6. Pada saat starting switch pada posisi on, maka terminal yang terhubung adalah…
7. Komponen yang berfungsi untuk memutuskan atau menghubungkan negative
battery dengan body/chasis adalah….
8. Mencegah arus mengalir ke starting motor jika starting switch diputar ke posisi start
pada saat starting motor masih berputar karena gagal menghidupkan engine
adalah fungsi dari….
9. Jelaskan fungsi dari charging system!
10. Besarnya tegangan battery yang masuk ke glow plug pada pre heating system
adalah sebesar….
164
8. Safety relay
9. Charging System adalah suatu system yang berfungsi mengisi battery agar full
charge. Hal ini disebabkan kapasitas battery tidak mungkin digunakan secara terus-
menerus.
10. 6 volt
Lembar Kerja 6
1) Tugas Praktek
Merangkai komponen starting, charging, pre heating, and lighting system
2) Alat dan Bahan
- Modul praktek electric system
- Battery 24V
- Jumper
- AVO meter
3) Keselamatan Kerja
- Memakai APD di area workshop;
- Perhatikan Range dan selector pada AVO meter, jangan sampai salah posisi;
- Perhatikan test pin merah dan hitam AVO meter saat melakukan pengukuran
arus atau tegangan, jangan sampai terbalik;
- Perhatikan saat hendak menggunakan battery 24 V, jangan sampai terbalik
dalam pemasangan terminal.
4) Langkah kerja
- Dengarkan penjelasan dari instruktur;
- Identifikasi komponen starting, charging, pre heating, and lighting system;
- Rangkai komponen starting, charging, pre heating, dan lighting system.
165
KEGIATAN BELAJAR VII
Tujuan Kegiatan Belajar 7
Minor Trouble Shooting Electric
Ranah
Elemen Kegiatan
Indikator Keberhasilan Kompetensi
Kompetensi Pembelajaran
P K S
Dapat menjelaskan dan
Prosedur trouble Prosedur trouble
melakukan prosdur trouble
shooting electric shooting electric
shooting electric
166
Uraian Materi Kegiatan Belajar 7
Troubleshooting
TINDAKAN YANG
PROBLEM PENYEBAB UTAMA
HARUS DILAKUKAN
Starting motor tidak - Kerusakan kabel kabel (Check , repair) charge
mau berputar saat kunci - Pengisian battery battery .
kontak diputar ke posisi tidak mencukupi (Setel safety switch )
“Start” - Penyetelan yang tidak
sesuai pada Safety switch
Penting !
Untuk lebih detail, dapat dilihat dari table yang ada di Shop Manual seperti contoh dibawah ini
167
1. Ada beberapa penyebab dari trouble ( gangguan ) tersebut : Battery, Starting motor,
panel switch, battery relay. Temukan yang paling sederhana dan paling sering terjadi.
2. Bila analisa kita mengarah ke kesimpulan bahwa ternyata battery tidak normal langkah
langkah yang diambil adalah :
a. Mengganti battery
b. Mengusahakan untuk melakukan “jamper” menggunakan batteray lain
1) Pastikan kabel positif kedua ujungnya berwarna merah .
2) Urutan pemasangan kabel bantuan :
a) Pasang klam kabel bantuan ke terminal
positip (+) battery yang bermasalah (1)
b) Pasang Clamp ujung lainnya di battery
bantuan (2)
c) Pasangkan clamp kable lainnya di
kedua terminal negatip (-) . (3) dan (4).
PERHATIAN !!!
Hal hal yang perlu diperhatikan saat melakukan starting dengan bantuan battery lain
(jamper) :
- Jangan sampai terminal positip (+) terhubung
dengan terminal negatip (-) , atau chasis, atau
ujung kabel sambungan saling beradu .
- Perhatikan kemungkinan adanya percikan api
didekat terminal battery saat melakukan
starting .
- Perhatikan diameter kable sambungan , harus mencukupi .
- Jangan sampai salah posisi antara positip (+) dan negatip (-) .
- Pastikan semua posisi lever harus netral dan semua lock lever harus terpasang
168
Bila belum berhasil dalam melakukan trouble shooting, bisa diteruskan dengan
mempelajari memakai wiring diagram diagram starting system
169
170
Rangkuman Materi 7
Tugas 7
Presentasikan cara melakukan trouble shooting electric pada unit D85ESS-2 “lamps do
not light up” dengan menggunakan troubleshooting chart pada shop manual
171
BAB III
EVALUASI
A. EVALUASI
Aspek Pengetahuan
I. PILIHAN GANDA
Berilah tanda silang (X) pada jawaban a, b , c dan d yang paling benar dari soal-soal
di bawah ini.
2. Atom yang paling sederhana adalah atom .........., yang memiliki 1 proton dan 1
elektron
a. Silicon c. Aluminium
b. Hydrogen d. Silicon
4. Jenis resistor yang tahanannya dapat diubah-ubah yang diakibatkan oleh pengaruh
suhu (temperatur) adalah....
a. Potentiometer c. Dioda
b. Prolix switch d. Thermistor
5. Komponen elektronika yang mempunyai dua kutub yaitu Anode dan Katode
adalah….
a. Potentiometer c. Dioda
b. Prolix switch d. Thermistor
172
6. Komponen elektronika yang merupakan pertemuan junction antara material P dan N
adalah….
a. Capasitor [Link]
b. Transistor d. Dioda
9. Jumlah llistrik yang dapat dihasilkan dengan melepaskan arus tetap, sampai dicapai
voltage akhir disebut....
a. Tegangan battery c. Arus battery
b. Hambatan battery d. Kapasitas battery
10. Berapa nilai standart berat jenis electrolit battery pada suhu 200o C?
a. 1, 20 c. 1, 25
b. 1, 27 d. 1, 28
13. Alat yang digunakan untuk menaikkan/menurunkan tegangan atau arus listrik
disebut ...
a. Battery load tester c. Charger
b. Trafo d. AVO meter
173
14. Battery load tester berfungsi untuk….
a. Untuk mengukur tegangan battery, tegangan per cell battery, dan kemampuan
battery untuk dibebani.
b. Untuk mengukur arus battery, tegangan per cell battery, dan kemampuan
battery untuk dibebani.
c. Untuk mengukur tegangan battery, tegangan per cell battery, dan kemampuan
battery saat kosong.
d. Untuk mengukur hambatan pada battery, tegangan per cell battery, dan
kemampuan battery untuk dibebani.
16. Ambient temperature yang diizinkan untuk kabel isolasi tipe AV adalah sebesar..
a. -30 °C c. -30 + 100°C
b. -30°C +60°C d. 50 °C
17. Apabila sebuah kabel mempunai dua kode warna maka huruf pertama adalah
sebagai…
a. Bahan isolator yang digunakan c. Alamat kabel
b. Fungsi kabel d. Warna dasar
19. Pada safety relay, terminal S dihubungkan dengan terminal …… starting key.
a. BR - c. C
b. BR + d. Ground
20. Besarnya tegangan battery yang masuk ke glow plug pada pre heating system
adalah sebesar….
a. 24 Volt c. 6 Volt
b. 17,5 Volt d. 12 volt
174
II. BENAR-SALAH
Berikan tanda silang pada lembar jawaban, pada huruf B bila pernyataan di bawah
betul dan pada huruf S bila pernyataannya salah.
Aspek Ketrampilan
WAKTU Nilai
NO MATERI / KOMPONEN
(menit)
1 Melakukan pengukuran berat jenis electrolite battery
2 Melakukan pengukuran komponen elektrik 30”
3 Menggunakan crimping tools
175
Aspek Sikap
B. KUNCI JAWABAN
I. PILIHAN GANDA
1. A 11. D
2. B 12. D
3. C 13. B
4. D 14. A
5. D 15. C
6. B 16. B
7. C 17. D
8. A 18. A
9. D 19. C
10. A 20. C
II. BENAR-SALAH
1. B
2. S
3. B
4. B
5. S
6. B
7. S
8. S
9. B
10. B
176
C. KRITERIA KELULUSAN
1. Nilai minimum standar kelulusan untuk setiap pelatihan adalah sebagai berikut:
2. Nilai test teori dan praktek minimal pada point (1) diatas mempunyai bobot yang
sama dan berdiri sendiri pada setiap pelajaran, salah satu tidak memenuhi nilai
minimal tersebut, berarti tidak lulus, baik pada ujian per paket maupun pada ujian
akhir.
177
3. Nilai Prestasi Rata-rata merupakan penggabungan Nilai Pengetahuan Rata-rata
dengan bobot 30% dan Nilai Ketrampilan Rata-rata dengan bobot 70%. Nilai Prestasi
Rata-rata ini merupakan tolak ukur prestasi Peserta Pelatihan.
178
BAB IV
PENUTUP
179
Fast charging involves higher amperage and shorter time, which can lead to overheating and reduce battery lifespan as it stresses the battery with quick chemical reactions . Slow charging uses a lower current, which is gentler on the battery because the chemical processes occur more gradually, extending the battery’s lifespan by avoiding excessive stress . Thus, although fast charging is time-efficient, slow charging is more beneficial for longevity .
Mutual induction relates to transformer operation by inducing a voltage in the secondary coil when alternating current flows through the primary coil . The alternating current in the primary coil creates a changing magnetic field, which through mutual induction, produces an electromotive force (EMF) in the secondary coil proportional to the turns ratio between the coils . This principle enables transformers to convert voltages efficiently between different circuit components, which is essential for voltage regulation in power systems .
Self-induction occurs within a single coil when a change in current creates a changing magnetic field, inducing an EMF in the same coil . In contrast, mutual induction occurs when a change in current in one coil generates a changing magnetic field that induces an EMF in another nearby coil . Self-induction affects only one conductor, whereas mutual induction involves interaction between two separate coils .
Several factors can shorten the lifespan of a battery including low electrolyte levels, overcharging, undercharging, and corrosion . Low electrolyte levels can lead to damage of the active material and promote the formation of hard sulfate crystals which impair the chemical reaction . Overcharging causes excessive evaporation and heat, damaging battery plates . Undercharging can cause sulfate from the battery plates to harden, making it hard to reverse back into solution and affecting performance . Corrosion from spilled electrolyte increases resistance, decreasing voltage transmission . Mitigation includes regular checks and maintenance, ensuring proper electrolyte levels, avoiding overcharging, and cleaning terminals to prevent corrosion .
In an alternator, the field coil (rotor coil) is responsible for creating a magnetic field that interacts with the stationary armature coil (stator), inducing an electromotive force (EMF). The field coil must initially be powered with a small current to establish this initial magnetic field, without which the alternator cannot generate electricity . Powering the field coil initiates the electromagnetic process necessary for energy conversion in the alternator .
A Darlington configuration is used in semiconductor regulators to amplify the input current, achieving high gain with low input current. This arrangement allows the alternator system to efficiently control and adjust the field coil current, ensuring the alternator outputs the correct voltage, typically between 27.5 and 29.5 volts . It reduces the alternator's current demand and thus improves efficiency in generating the required voltage .
Faraday's Law of Electromagnetic Induction states that a change in magnetic field within a closed loop induces an electromotive force (EMF) in the loop . In electric generators, a conductor (often a coil) moves through a magnetic field, prompting a change in magnetic flux and thus inducing an EMF that generates electrical current . This principle is the core mechanism by which mechanical energy is converted into electrical energy in generators .
Switching a battery charger to the 'on' position before ensuring that all connections are properly made can result in dangerous sparks, which could ignite any flammable gases emitted from the battery during charging . This step is crucial for safety as it prevents shorts and minimizes the risk of explosions from igniting released hydrogen gas . Proper sequencing in connections ensures a stable environment for safe charging .
Batteries should be stored in a dry, cool, and shaded location to minimize self-discharge and chemical reactions that can damage the battery . Direct sunlight and heat increase the rate of chemical reactions within the battery, reducing its lifespan by causing it to self-discharge faster . Proper storage is crucial for preserving battery charge and preventing deterioration when the battery is not in active use .
When jump-starting a battery, use cables with a size at least equal to the battery cables to handle the current safely . Connect both positive terminals first and then the negative terminal on the good battery, and a metal part of the car frame on the discharged one to prevent sparks near the battery . Following this sequence minimizes risk of causing electrical shorts and prevents sparking that could ignite battery gases .