0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
45 tayangan34 halaman

Perjalanan Baru Kim Yoora

Cerita ini menceritakan tentang perasaan Yoora yang ragu dengan perubahan hidupnya. Ia kini tinggal bersama keluarga baru di Busan setelah ayahnya meninggal. Namun, saudara tirinya Baekhyun tampak membencinya dan bersikap dingin sejak pertemuan pertama.

Diunggah oleh

Kevin Tirtana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
45 tayangan34 halaman

Perjalanan Baru Kim Yoora

Cerita ini menceritakan tentang perasaan Yoora yang ragu dengan perubahan hidupnya. Ia kini tinggal bersama keluarga baru di Busan setelah ayahnya meninggal. Namun, saudara tirinya Baekhyun tampak membencinya dan bersikap dingin sejak pertemuan pertama.

Diunggah oleh

Kevin Tirtana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Yoora POV

Aku menatap pantulan diriku di depan cermin dengan pandangan kosong. Sempat aku bertanya, siapa
aku ini.. Apakah aku masih tetap sosok yang sama seperti lima tahun yang lalu? Apakah aku masih Kim
Yoora yang cengeng itu? Benarkah ini aku? Tapi kenapa rasanya begitu berbeda? Apakah ini semua
karena takdir baru yang akan kujalani sebentar lagi? Entahlah…

Aku memundurkan tubuhku beberapa langkah dari cermin. Mencoba melihat dengan jelas keseluruhan
bagian tubuhku yang terbalut gaun putih ini. Cantik.. Bukan aku, melainkan wedding dress ini. Gaun
berwarna broken white sederhana selutut yang memanjang di bagian belakangnya. Sungguh. Aku benar-
benar tak percaya jika aku akan menikah hari ini. Rasanya seperti sedang merefleksikan sebuah mimpi.
Kupikir baru kemarin aku memasuki bangku sekolah menengah dan sekarang aku sudah berada di
tempat ini dengan takdir yang benar-benar jauh berbeda dari hari kemarin.

Aku mengalihkan pandanganku ke arah jendela kaca yang terdapat pada salah satu sisi ruangan ini.
Melangkah ringan mendekati bingkai jendela bercat putih itu lalu membukanya perlahan. Membiarkan
lembutnya hembusan menerpa wajah pucatku, memenuhi ruangan ini dan menyatu denganku.

Aku menerawang jauh ke arah matahari senja yang semakin mengarah ke peraduannya di ufuk barat.
Mencoba mengingat setiap kenangan yang telah kubuat selama dua puluh empat tahun terakhir
bersama orang-orang yang kucintai. Tanpa sengaja, pandanganku kini beralih pada sebuah piano klasik
berwarna hitam yang berdiri kokoh di salah satu sudut ruangan ini. Aku menghampiri piano itu.
Mengamati tuts-tuts berwarna hitam-putih yang tertata rapi itu dengan pandangan sedikit berharap.
Aku duduk di atas kursi pemain dan mencoba untuk mulai memainkan beberapa melodi yang masih
terngiang jelas di sudut memoriku..

XOXO

Aku menatap sekilas senja kota Busan yang indah.. Saat ini aku tengah berada di depan sebuah rumah
yang tampak sedikit asing bagiku. Ya. Ini bukan rumahku, melainkan rumah yang akan menjadi tempat
tinggal baruku nanti. Tempat tinggal baru dimana aku akan memulai kehidupanku yang jauh berbeda
dari kehidupan lamaku. Menumpang? Mungkin itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan
keadaanku saat ini. Aku tak punya pilihan lain..

Aku membuka pintu pagar rendah yang tepat berada dihadapanku dan mulai melangkahkan kakiku ke
halaman bangunan bergaya eropa yang cukup besar itu. Decitan engsel pintu yang sudah tua itu
menimbulkan suara yang terdengar sedikit aneh di telingaku. Aku menatap ke sekeliling dengan
pandangan ragu. Rapi.. aku yakin, pasti penghuni rumah ini adalah sosok yang perawat. Dinding bata
berwarna merah maroon itu dibiarkan ditumbuhi oleh tanaman mawar liar, membuat bangunan itu
semakin menunjukkan kesan artistiknya. Tampaknya keluarga ini adalah penyuka seni.
“Yoora-ya, kau sudah tiba? Kenapa hanya diam saja, ayo masuk! Jangan sungkan, anggap saja ini
rumahmu sendiri” seorang wanita yang sepertinya seumuran dengan ibuku itu menyambutku dengan
ramah di depan pintu masuk.

“annyeonghaseyo” aku membungkuk singkat kepadanya lalu menatap wanita itu tidak yakin.

“Bibi…” aku menggantungkan kalimatku. Mencoba mengingat kembali, siapa nama wanita itu. Terlalu
banyak yang harus kuingat, dan itu membuatku sering melupakan hal-hal kecil yang sederhana. Wanita
itu seakan mengerti apa yang sedang kupikirkan. Ia tersenyum lembut kepadaku lalu menghampiriku
dan mengajakku untuk ikut memasuki bangunan itu bersamanya.

”tidak apa. Sudah kubilang jangan sungkan.. Selamat datang dirumah barumu”

Tak ada yang bisa kukatakan. Aku tak mengelak dan memilih untuk mengikuti langkah wanita itu. Tata
ruang di dalam bangunan itu tak kalah rapinya dari halaman depan tadi. Namun yang terlihat begitu
kontras adalah interiornya. Meskipun bangunan ini bergaya eropa, namun kesan koreanya tetap terjaga
dengan baik di bagian dalam bangunan ini.

“Bibi sangat menyesal atas apa yang telah terjadi pada ayahmu. Aku tidak menyangka bahwa dia akan
pergi meninggalkanmu secepat ini, Yoora-ya” ungkap wanita itu memulai pembicaraan. Mimik wajahnya
yang sedikit berubah karena pembicaraan ini membuatku sedikit merasa tidak enak pada wanita itu. Ini
awal pertemuanku, tidak seharusnya awal yang baik dibuka dengan sesuatu yang terdengar
‘menyedihkan’.

Aku mencoba memaksakan senyumku agar tetap menimbulkan kesan pertama yang baik di hadapan
wanita ini. “Aku tidak apa-apa, bi. Bibi tak perlu terlalu mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja”

“Kau masih muda, aku yakin kau bisa melewati semua ini dengan mudah. Aku akan membantumu
sebisaku. Apapun yang kau butuhkan katakana saja padaku. Oh ya, kamarmu ada di lantai dua. Di kamar
paling ujung di sisi kamar puteraku. Kau ingat dia bukan? Kalian sering bermain bersama saat kecil”

Aku mengerutkan dahiku, “teman kecilku?”

Aku tak pernah ingat jika aku pernah memiliki kenangan masa kecil di tempat ini. Apa ini karena aku
terlalu sibuk dengan segala hal yang terasa begitu rumit di Seoul? Teman kecilku? Kedengarannya cukup
menarik..

Aku melayangkan pandanganku ke arah tangga kayu di sudut ruangan ini begitu aku mendengar suara
langkah kaki di sana. Terlihat olehku, dua orang pria muda yang tampak seusia denganku sedang
berjalan menuruni tangga. Yang satu terlihat tersenyum lepas dan yang satu lagi.. Yang satu lagi itu
terlihat tidak begitu senang. Apa suasana hatinya sedang dalam keadaan yang tidak begitu baik?

“Baekhyun-ah, pas sekali kau turun sekarang. Kenalkan, ini Yoora. Gadis yang kuceritakan kemarin.
Mulai sekarang dia akan tinggal bersama kita. Ibu harap kau akan memperlakukannya dengan baik.
Yoora tidak begitu mengenal daerah ini, bisakah nanti kau membawanya berkeliling?”
“whoahh.. kau beruntung memiliki saudara baru yang cantik sepertinya, Baekhyun-ah. Kenalkan, aku
Chanyeol. Park Chanyeol” celetuk pria jakung yang berdiri di sisi pria yang sepertinya bernama
Baekhyun itu. Baekhyun.. pria itu tampaknya tidak begitu menyukai kehadiranku. Raut wajahnya tampak
dua kali lebih keruh dibandingkan dengan saat sebelum ia melihatku.

“annyeong.. Kim Yoora imnida” ucapku ragu.

Pria yang bernama Chanyeol itu tampak menyambutku dengan baik. Ia tersenyum ramah sembari
melambai singkat ke arahku. Berbeda dengan Baekhyun. Pria itu hanya menatapku singkat dengan
tatapan dinginnya, lalu beberapa detik kemudian ia membuang pandangannya ke arah lain dengan
sengaja. Jujur saja, aku sama sekali tak melihat sedikit senyum pun di wajah pria itu sejak pertama kali
aku melihatnya, tadi. Apakah dulu dia juga seperti itu?

“Baekhyun-ah, apa kau tidak ingin memperkenalkan dirimu pada Yoora? Dia akan menjadi saudara
perempuanmu mulai saat ini. Setidaknya, berikanlah sedikit kesan awal yang baik untuknya!”

Pria itu menatapku dengan pandangan malas. Mengamatiku sesaat, masih dengan tatapan dinginnya
lalu menyeringai singkat, “kesan awal yang baik? Apa itu penting? Aku tidak pernah memiliki seorang
saudara perempuan sebelumnya. Dan tidak akan pernah! Jika ibu memintaku untuk bersikap baik
padanya, ibu meminta kepada orang yang salah” ucap Baekhyun dengan penekanan di setiap kata yang
diucapkannya sebelum ia berbalik dan melangkah pergi. Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang
baru saja kudengar. Apa dia.. benar-benar membenciku? Tapi kenapa?

“Baekhyun-ah! Apa yang baru saja kau katakan? Begitukah caramu memberikan kesan awal kepada
seseorang yang baru kau temui? Jangan mengabaikan ibu yang sedang berbicara denganmu! Apa kau
tidak dengar? Baekhyun-ah!”

Baekhyun mengabaikan wanita itu. Ia kembali menaiki tangga kayu tadi dengan langkah angkuh yang
benar-benar menggambarkan rasa ketidaksenangannya. Aku terus menatapnya dengan pandangan tak
percaya sampai pria itu menghilang di ujung tangga. Terdengar dengan jelas olehku, suara pintu yang
dibanting cukup keras dari lantai atas. Detik berikutnya yang ada hanyalah sebuah keheningan.

“Yoora-ya, aku minta maaf karena sikap buruk puteraku. Ini tidak seharusnya terjadi di hari pertamamu
berada di tempat ini. Aku harap kau tak memasukannya dalam hati”

“Bibi benar, Yoora-sshi.. jangan kau masukkan dalam hati. Baekhyun memang seperti itu terhadap
orang-orang yang baru ditemuinya. Emm.. bagaimana kalau aku yang menemanimu berkeliling
menggantikan si pemarah itu? Tadi kudengar kau belum mengenal dengan baik daerah ini. Jika aku yang
menemaninya tak apa kan, bi?” sambung Chanyeol.

Wanita itu memandang ke arahku dan Chanyeol secara bergantian lalu mengangguk pasti, “pergilah..
aku pikir itu akan lebih baik”

Aku mengangguk pelan, lalu berjalan mengekor di belakang Chanyeol dengan langkah yang tidak pasti.
Pikiranku masih berada di ruangan tadi. Aku benar-benar tak mengerti apa yang membuat Baekhyun
bersikap seperti itu kepadaku. Sikapnya yang kasar dan dingin itu.. belum lagi kata-katanya yang tajam,
Hhh.. ini bukanlah awal yang baik. Aku yakin ini akan sulit..

Hari ini adalah tepat satu tahun aku tinggal di tempat ini. Busan.. Aku melangkah pelan meninggalkan
halte bus yang sempat kusinggahi tadi. Hari ini aku pulang lebih awal, dan saat aku kembali masuk ke
sekolah nanti, aku akan memasuki tahun ketigaku di SMU Chang-hee. Tidak terasa, sebentar lagi aku
akan menjadi seorang gadis dewasa.

Liburan musim panas akan dimulai besok dan aku yakin jika liburan musim panas kali ini akan menjadi
liburan yang paling menyiksa seumur hidupku. Seharian penuh aku harus bertatap muka dengan si
pemilik tatapan dingin itu. Oh.. ini buruk! Kau tahu? sikapnya kepadaku tak pernah membaik sejak
pertemuan pertamaku dengannya dulu. Dan bahkan kurasa.. lebih buruk lagi. Dia tetap sama.. masih
membenciku. Membenci dengan alasan yang masih belum kuketahui apa itu, sampai saat ini.

Baekhyun tidak pernah makan satu meja denganku meskipun itu adalah saat makan bersama. Dia baru
akan menyentuh makanannya ketika aku sudah selesai makan bersama paman dan bibi. Dia tak pernah
mengajakku berbicara. Jika pun ia berbicara padaku, yang keluar dari bibirnya hanyalah kata-kata pedas
yang menyakitkan. Dia selalu membanting pintunya keras-keras setiap kali aku tak sengaja melewati
kamarnya yang masih dalam keadaan terbuka. Belum lagi tatapan dingin yang selalu diciptakannya
setiap kali ia berpapasan denganku. Sedikit pun ia tak pernah menganggapku ada selama ini. Tapi dibalik
itu semua.. yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa aku menyukai pria itu. Aku begitu
menyukai Baekhyun seburuk apa pun perlakuannya terhadapku. Ironis! Selama ini yang masih
membuatku bertanya-tanya adalah, kenapa dia begitu membenciku? Tak ada alasan konkret yang
kudapat meskipun aku berusaha mati-matian untuk mendapatkan jawaban pastinya.

“YA! Apa yang sedang kau lamunkan di tengah hari seperti ini?” kehadiran Chanyeol yang tiba-tiba
sedikit membuatku tersentak.

Aku menatap si happy virus itu dengan malas, “eobseo..” jawabku singkat.

“ckckck! Jawaban apa itu? Apakah dari ribuan kosa kata yang ada di kepalamu itu hanya kata ‘eobseo’
yang bisa kau pakai? Lalu kau kemanakan yang lain,hah?”

“kuhapus.. Kau puas?”jawabku ketus.

“ya!ya!ya! sejak kapan kau tertular penyakit mudah marah dari orang itu? Secepat itukah penyebaran
virusnya?”
“apa yang kau bicarakan? Sudahlah, aku pusing. Kumohon.. hari ini jangan mengangguku! Aku lelah”

“aku tidak mengganggumu” ucapnya santai.

“jika kau tidak menggangguku, lalu kenapa kau masih mengikutiku? Dasar penguntit!”

“hahaha.. apa kau bilang? Penguntit? Aku pikir kau salah sangka, aku memang sedang menuju tempat
yang sama denganmu. Aku ingin menemui Baekhyun. Jangan terlalu sering marah sepertinya! Kau akan
cepat tua nanti. Jika kau cepat tua, maka kecantikanmu juga akan cepat pudar..” ucapnya sembari
tersenyum lembut padaku. Chanyeol mengacak rambutku pelan lalu melangkah pergi.

“ck! Apa-apaan pria itu? Menyebalkan!”

Aku menaiki tangga kayu ini dengan langkah ragu. Benar-benar menyedihkan! Aku merasa seperti ini
hampir setiap kali aku hendak melewatinya. Aku takut berpapasan dengan Baekhyun dan terlihat lebih
menyedihkan lagi di hadapannya.

Namun di luar dugaan, aku tak menemukan apa pun ketika kakiku berpijak pada anak tangga yang
terakhir. Sunyi.. Apa pria itu sedang pergi? Aku melangkah dengan sangat hati-hati ketika aku hendak
melewati ruangannya. Pintu kamarnya sedikit terbuka. Pria itu tak pernah meninggalkan kamarnya
dalam keadaan terbuka, tapi kamar itu kosong. Aneh.. mm, baiklah. Itu bukan urusanku! Aku pikir dia
memang sedang tidak berada di rumah. Pergi keluar dengan Chanyeol, mungkin?

Namun ada sesuatu yang memancing pandanganku ketika aku hendak memasuki kamarku. Baekhyun.
Pria itu sedang melakukan sesuatu di beranda luar. Aku mendekat ke arah pria itu perlahan, tanpa suara.
Ini adalah saat pertama kalinya aku melihat pria itu keluar dari kamarnya tanpa memperdulikan adanya
kehadiran diriku.

Semuanya terlihat begitu jelas ketika jarak antara diriku dengan pria itu tidak begitu jauh. Di hadapan
pria itu tampak sebuah kanvas yang sudah tergores oleh warna-warni cat dan beberapa kuas yang
berlumuran cat. Baekhyun sedang melukis. Tampaknya ia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri sehingga
tidak menyadari kehadiranku di tempat ini.

“Baekhyun-ah..” suaraku tercekat ketika aku hendak memulai pembicaraan. Wajar saja, selama satu
tahun terakhir ini aku tak pernah mengajaknya berbicara. Begitu pula sebaliknya. Perlu adanya
segenggam keberanian untukku agar bisa bertatap muka secara langsung seperti ini, dengannya.

Baekhyun langsung menghentikan aktivitasnya begitu aku memanggilnya seperti itu. Ia melirikku sinis
tanpa merubah posisi awalnya, membelakangiku. Meskipun pria itu tak mengeluarkan sepatah kata pun,
aku tahu benar bahwa sebenarnya ia tidak menyukai kehadiranku.
“kau.. emm, apa yang sedang kau lakukan? Melukis..?”

“pergi! Aku tidak memiliki urusan apa-apa denganmu. Jadi pergilah dan jangan menggangguku! Aku
benar-benar benci terhadap orang yang telah mengusik ketenanganku”

Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat begitu pria itu menyelesaikan kalimat cercaannya terhadapku
dengan sempurna. Kesal? Tentu saja! Siapa orang yang tidak akan merasa kesal jika terus menerus
diperlakukan seperti itu? Tidak ada!

“ah, itu.. maaf karena telah mengganggumu. Anggap saja aku tak pernah kemari. Aku pergi”

Tak ada jawaban. Dia mengacuhkanku… lagi? Tampaknya seperti itu. Tak apa, ini sudah menjadi hal yang
biasa bagiku.

“emm, Baekhyun-ah..”

“…”

“lukisanmu.. indah” pujiku dengan tulus sebelum aku beranjak pergi dari tempat itu. Namun tampaknya
aku telah melakukan suatu hal yang salah. Baekhyun bangkit dari duduknya dengan kasar sehingga
menimbulkan suara hentakan yang cukup keras. Pria itu menatapku dengan tajam dan..

BRAKK..

Ia melemparkan kanvas yang berisi lukisan setengah jadi itu tepat dihadapanku. Membuatku sedikit
tersentak dan mundur beberapa langkah karena terkejut. Mataku membulat sempurna dan jantungku
berdetak tak beraturan saat itu. Aku takut..

“apakah sekarang sudah terlihat lebih bagus? Kau benar-benar telah menyempurnakannya dengan amat
sangat baik Yoora-sshi!”

Hatiku terasa begitu sakit mendengar Baekhyun mengucapkan kata-kata kasar seperti itu kepadaku. Apa
yang salah? Apakah setiap hal yang kulakukan tidak pernah terlihat baik di matanya?

“aku muak harus melihatmu setiap hari muncul di hadapanku! Kau benar-benar terlihat seperti anak
anjing yang menyedihkan”

“Baekhyun-ah.. aku---“

“BYUN BAEKHYUN! Apa yang kau lakukan? Kau pikir Yoora itu siapa sehingga kau bisa seenaknya
mengatainya seperti itu. Dia wanita yang punya derajat dan harga diri. Aku tak menyangka perlakuanmu
bisa serendah itu!” ucap Chanyeol yang baru saja tiba dengan kemarahan yang menuncak.

“jadi sekarang kau mulai berpihak pada gadis ini? Tapi maaf, ini bukan urusanmu Chanyeol-sshi!”
“ini memang bukan urusanku. Tapi caramu berbicara pada Yora tadi benar-benar sudah keterlaluan! Kau
keterlaluan Baekhyun-ah! Sekarang jika dipikir-pikir, sebenarnya apa alasanmu membencinya? Apakah
Yoora pernah membuat suatu kesalahan yang begitu besar terhadapmu? Tak ada, kan? Lalu apa?”

“HENTIKAN!” teriakku frustasi. “kau tak perlu membelaku Chanyeol-ah, aku akan baik-baik saja
meskipun kau tak membantuku. Dan kau Baekhyun! Jika aku memang pernah membuat kesalahan besar
yang membuatmu jadi begitu membenciku seperti ini, maka beritahu aku! Beritahu aku agar aku bisa
memperbaikinya, agar aku bisa menerima semua perlakuan burukmu dengan hati terbuka. Apa kau pikir
selama ini aku tidak pernah terluka setiap kali kau memperlakukanku seperti ini? Aku terluka Baekhyun-
ah.. karena aku juga manusia, sama sepertimu”

Hanya itu yang mampu kukatakan padanya. Aku tak bisa berlama-lama di tempat ini karena aku yakin
sebentar lagi air mataku akan segera tumpah, sehingga aku lebih memilih untuk pergi dan meningalkan
mereka berdua di dalam pemikiran mereka masing-masing.

Aku pulang terlambat hari ini. Dan lagi-lagi.. seorang diri. Sejak insiden liburan musim panas beberapa
bulan yang lalu, hubunganku dengan Baekhyun tak pernah semakin membaik. Begitu pula dengan
Chanyeol, aku tak pernah melihat mereka bersama-sama lagi sejak saat itu. Yang sedikit berbeda kali ini
adalah, aku sudah tidak begitu mempermasalahkan betapa buruk sikap pria itu terhadapku, karena saat
ini aku lebih memilih untuk mengabaikannya. Namun sialnya, beberapa pekan ke depan aku diharuskan
berada di dalam satu rumah bersama orang itu tanapa kehadiran paman dan bibi. Mereka pergi ke Seoul
untuk mewakili perusahaan ayahku dalam suatu even. Benar-benar buruk!

Aku melirik jam tanganku sekilas. Hampir pukul setengah sepuluh malam.. Aku benar-benar pulang
terlambat hari ini. Jika bukan karena ada jam pelajaran tambahan, aku tak akan mau pulang selarut ini
seorang diri. Apa Baekhyun sudah sampai di rumah? Mungkin. Hhhh~ ayolah Kim Yoora, untuk apa kau
memikirkan pria jahat itu?

Hembusan angin malam yang dingin menerpa tubuhku dengan cukup keras, mebuatku sedikit menggigil
di balik seragam sekolahku yang tergolong tipis ini. Sial! Aku lupa mebawa jaket hari ini. Sudah
kukatakan, akau benci musim gugur! Dingin, lembab, dan..

Tunggu dulu! Aku rasa ada yang tidak beres di tempat ini. Samar-samar terdengar olehku, ada sebuah
suara langkah seseorang yang mengikutiku dengan gerakan acak. Aku tidak begitu yakin dengan siapa
yang sebenarnya tengah mengikutiku, namun firasatku mengatakan bahwa ini bukanlah sesuatu yang
baik. Aku mempercepat langkahku dan berusaha mencari tempat yang agak ramai, namun bersamaan
dengan itu suara langkah kaki yang kudengar tadi juga kian cepat. Aku berlari namun sial! Sosok yang
tengah mengikutiku sejak tadi mulai menampakkan dirinya dihadapanku. Lima orang lelaki bertampang
acak-acakan berdiri dihadapanku sambil menyeringai puas. Mereka berlima mengenakan seragam
sekolah yang berbeda denganku. Siapa mereka? Aku tak pernah melihat mereka sebelumnya.

Jantungku berdetak kencang tak beraturan saat ini. Takut? Tentu saja.. jujur saja, aku tak sanggup
mengelak lagi saat ini. Aku memundurkan tubuhku beberapa langkah ketika salah seorang dari mereka
mulai mendekat ke arahku dengan pandangan murka. Sebenarnya apa yang mereka inginkan? Aku
hendak berbalik dan melarikan diri secepat mungkin namun pria yang sepertinya pemimpin dari
keempat orang itu dengan sigap menahanku. Ia mencengkeram pergelangan tanganku dengan kuat,
menyudutkanku pada dinding sebuah gang kecil yang tak jauh darinya, lalu menarik rambutku dengan
kasar. Aku tak bisa menjerit karena dinginnya udara malam ini seakan membekukan pita suaraku.
Nafasku sedikit terengah-engah karena rasa takut yang tiba-tiba membelenggu seonggok keberanianku.

“apa yang kau inginkan?”

Pria itu tertawa beringas mendengarkan pertanyaan yang baru saja kuutarakan. Ia menarik daguku
dengan kasar dan berusaha membuatku balas menatapnya.

“kau tidak ingat aku? Setelah hidup enak selama bertahun-tahun di atas penderitaan adikku, bagaimana
kau masih bisa bertanya apa yang kuinginkan?!” pria itu berteriak dengan keras, tepat di depan
wajahku. Membuatku harus menelan salivaku dengan susah payah. Apa dia gila? Aku benar-benar tak
pernah bertemu dengannya sebelumnya. Apalagi adiknya..

“apa maksudmu? Aku tidak mengenalmu, dan tidak tahu menahu perihal adikmu!”

“Kim Yoora. Kau.. gadis yang telah membuat adik perempuanku meninggal dalam insiden itu, tujuh
tahun yang lalu. Masih pura-pura tidak ingat?”

Aku menutup mulutku rapat-rapat dengan punggung tanganku. Aku ingat! Kebakaran itu..

“kenapa? Kau takut? Sayang sekali, padahal aku baru saja akan memulainya? Aku benar-benar
beruntung karena kau kembali ke tempat ini tepat pada waktunya”

“apa yang kau-“

“membuatmu merasakan penderitaan yang sama seperti apa yang telah dirasakan adikku saat itu.
Hanya karena kau puteri seorang pemilik perusahaan besar, apakah itu alasan kenapa mereka lebih
memilih untuk menyelamatkanmu dibandingkan dengan adikku? Persetan dengan semua itu!”

"Youngmin-sshi, aku-“

“DIAM! Berani sekali kau menyebut namaku seperti itu?”

PLAKK..

Tamparan keras mendarat dengan sempurna di permukaan kulit pipiku yang dingin, meninggalkan
sedikit rasa panas dan perih di sana. Bau darah segar mulai tercium oleh indera penciumanku selang
beberapa detik setelah adegan itu berlangsung. Aku mengernyit pelan. Sudut bibirku terasa basah dan
perih. Namun tampaknya pria itu tidak merasa menyesal dengan apa yang telah dilakukannya. Ia
tertawa keras dan hendak melayangkan pukulan kerasnya lagi ke wajahku. Aku menutup mataku rapat-
rapat dan…

Tidak terjadi apa-apa? Aku membuka mataku perlahan dan mencoba memastikan apa yang sebenarnya
terjadi. Dan yang pertama kali terlihat olehku adalah.. Baekhyun! Pria itu menahan lengan Youngmin
yang hendak menampar wajahku kembali, dengan salah satu tangannya. Baekhyun menatap Youngmin
tajam, begitu pula sebaliknya. Namun dari setiap tatapan tajam Baekhyun yang pernah kulihat,
sepertinya tatapan inilah yang paling mengerikan. Detik berikutnya, pria itu melepaskan cengkeraman
tangannya pada Youngmin dengan kasar. Youngmin menyeringai licik mendapati perlakuan Baekhyun
barusan. Ia merasa tidak terima.

“kenapa kau membelanya? Bukankah kau juga membencinya. Gadis itu telah membunuh orang yang
kau cintai! Kau tidak ingat?”

“itu bukan urusanmu! Kematian Youngran sama sekali tidak ada hubungannya dengan dia!”

Mataku membulat sempurna ketika rahasia ini mulai terungkap satu per satu. Mungkinkah ini alasan
mengapa Baekhyun benar-benar membenciku selama ini? oh.. kumohon, kecelakaan itu adalah suatu
ketidaksengajaan..

“hentikan omong kosongmu, Byun Baekhyun!”

“seharusnya kau yang menghentikan omong kosongmu! Sejak kapan kau keluar dari pusat rehabilitasi
itu? Aku benar-benar meragukan isi kepalamu”

“apa kau bilang?” Youngmin mulai berteriak. Pria itu mengambil botol bir kosong yang tak jauh darinya
dengan tangkas, hendak memukulkannya pada Baekhyun. Dan..

BRAKK..

Aku mematung di tempatku ketika menyaksikan kejadian yang berlangsung sangat cepat itu. Aku takut..
Baekhyun menendang Youngmin dengan keras sebelum rencana pria itu untuk melukainya benar-benar
terlaksana. Youngmin jatuh tersungkur memegangi bagian perutnya sambil mengerang kesakitan.
Melihat salah satu temannya diperlakukan seperti itu, keempat pria yang lain ikut maju dan hendak
menyerang Baekhyun. Dengan tenang Baekhyun memungut pecahan botol kaca yang terjatuh sebelum
sempat mengenainya itu, lalu menatapnya sambil menyeringai licik. Detik berikutnya seringaian itu
menghilang dan berganti dengan tatapan dinginnya yang khas. Ia menatap tajam keempat pria itu
secara bergantian. Ia melangkah santai mendekati keempat pria itu sambil mengayun-ayunkan pecahan
botol kaca yang ada di tangannya.

“apakah ada salah seorang dari kalian yang ingin pulang dengan wajah yang mendapat goresan indah
dari benda ini? Katakan padaku sekarang, maka aku akan mewujudkannya! Ini.. juga berlaku untukmu”
Baekhyun menatap Youngmin yang masih tersungkur di aspal dengan pandangan tegas.
“jika tidak, maka menyingkirlah dari hadapanku.. SEKARANG!”

Kelima pria itu tampaknya menyadari jika ancaman Baekhyun bukanlah ancaman biasa. Mereka memilih
mundur lalu pergi meninggalkan tempat itu secepat mungkin.

Hening.. Kini yang tersisa di tempat ini hanya ada aku dan Baekhyun. Pria itu melemparkan pecahan
botol kaca tadi ke dalam tong sampah yang berada di dekatku lalu menatapku sekilas. Suasana canggung
mulai menyelimuti kami berdua ketika tatapan kami bertemu pada satu titik. Ini pertama kalinya aku
bisa menatap dengan jelas bagaimana manik mata kelabu yang dimiliki oleh pria berwajah pucat itu
tanpa harus memperdulikan tatapan dingin yang biasa ia tunjukkan kepadaku. Hanya beberapa detik..
namun tatapan pria itu seakan bisa menghipnotisku dengan mudah. Lagi-lagi aku terjatuh ke dalam
ketidaksadaran yang terasa begitu ambigu…

“pulanglah dan cepat bersihkan luka yang ada di wajahmu itu! Kau paham sifatku, kan? Aku tidak akan
pernah mengasihani anak anjing yang terlihat begitu menyedihkan meskipun ia berlutut dan memohon
di hadapanku, karena aku tidak peduli dengan hal-hal semacam itu. Itu bukan urusanku!” Baekhyun
memalingkan wajahnya ke arah lain kemudian berlalu begitu saja dari hadapanku tanpa memberiku
kesempatan untuk mengucapkan sepatah kata pun. Punggungnya yang kian menjauh seakan
memberitahuku dalam diam, bahwa aku tak akan pernah memiliki secuil kesempatan pun untuk
memenangkan hatinya. Aku berada di sini dan dia berada jauh di depan sana, di tempat yang sama
sekali tak sanggup untuk dapat kujangkau.

“Baekhyun-ah..” panggilku lirih.

Pria itu tampak menghentikan langkahnya selang beberapa detik setelah aku memanggilnya. Aku tak
menyangka jika dia akan menghentikan langkahnya hanya karena aku sempat menggumamkan
namanya. Padahal volume suara yang keluar dari bibirku terdengar begitu lirih, dan bahkan hampir
menyerupai bisikan. Kenapa dia bisa mendengarku? Pada waktu-waktu yang sebelumnya Baekhyun
selalu mengabaikanku meskipun aku berteriak sekeras apa pun untuk memanggilnya, tapi ini..

“apa lagi?” Tanya pria itu, masih dengan pososi memunggungiku.

“…”
“kenapa kau selalu memanggilku untuk urusan yang tidak penting-“

“aku menyukaimu..”

“…”

“aku benar-benar menyukaimu, Baekhyun-ah.. Tidak tahukah kau jika aku begitu terluka setiap kali kau
mengabaikanku..? Kau tahu? Aku tetap menyukaimu, tak peduli seberapa buruknya sikapmu
terhadapku. Ketika kau menatapku dengan tatapan dinginmu, mengataiku dengan kata-kata kasar,
mencercaku, membentakku, membuatku terkejut karena kau tiba-tiba membanting pintu di hadapanku
ataupun kanvas yang berisi lukisan setengah jadi itu.. aku tidak apa-apa. Karena aku menyukaimu.. Aku
tahu jika ini adalah hal terbodoh yang pernah kukatakan, tapi--- aku akan sangat berterimakasih jika kau
mengizinkanku untuk mengatakannya sekali ini saja..”

Baekhyun berbalik lalu menatapku lekat-lekat. Kali ini bukan tatapan dinginnya yang aku dapati,
melainkan tatapan yang sama sekali tak bisa kutebak apa artinya.. Ia tak mengucapkan sepatah kata
pun, melainkan hanya diam dan menatapku. Untuk sesaat aku sempat berpikir, apakah pria itu kini
mulai memahami perasaan yang kumiliki. Dan berharap seandainya saja ia akan membalas perasaanku.
Namun pikiranku itu benar-benar salah besar!

“Baekhyunnie, kenapa kau tiba-tiba menghilang, huh? Aku mencarimu kemana-mana tadi” Teriak
Taeyeon, teman sekelasku di ujung persimpangan yang tak jauh dari tempatku berada.

Gadis berperawakan mungil itu langsung menghambur pada Baekhyun begitu ia melihat sosok pria itu
dari kejauhan. Ia memeluk erat lengan pria itu dan tersenyum senang. Baekhyun tak menolak perlakuan
gadis itu dan balas tersenyum singkat padanya. Senyum itu.. senyum yang belum pernah kulihat sekali
pun sejauh aku mengenalnya selama ini. Senyum yang begitu ingin kulihat itu ternyata bukan untukku.
Pantas saja aku tak pernah mendapatinya.. karena senyum itu untuk Taeyeon.

“ tadi ada suatu hal yang harus kuurus. Tidak terlalu penting.. maaf karena sudah membuatmu
menunggu” Baekhyun tersenyum lembut lalu mengusap wajah gadis itu perlahan.

DEGG

Jantungku rasanya dihujam oleh beribu-ribu belati tajam ketika Baekhyun mengucapkan kalimat
barusan. Sakit.. rasanya jauh lebih sakit dibandingkan ketika aku harus menerima perlakuan buruknya
terhadapku. Sosok yang begitu kucintai itu ternyata sudah memiliki seorang kekasih dan ia
menunjukannya tepat di depan kedua bola mataku tanpa sedikit pengertian pun, padahal aku baru saja
mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya terhadap pria itu beberapa saat yang lalu. Dimana letak
hati kecilmu Byun Baekhyun? Aku ingin berteriak, marah, dan meluapkan segalanya saat ini juga pada
pria itu, namun lidahku terasa begitu kelu untuk digerakkan.

“oh, bukankah kau Yoora? Baekhyunnie, bukankah dia saudara sepupumu yang tinggal bersama
denganmu itu? Dia teman sekelasku”

“benarkah? Kenapa kau tidak menyapanya?”

“ah benar.. Annyeong Yoora-ya” gadis itu melambai singkat ke arahku dengan senyum bahagianya.

mereka berdua benar-benar cocok. Aku menatap Baekhyun dengan pandangan terluka, pasti aku benar-
benar mirip dengan anak anjing menyedihkan seperti yang pernah dikatakannya kepadaku sebelumnya.
Tanpa sadar, buliran bening air mata ini mulai mengair turun dengan sendirinya. Membasahi kedua
pipiku yang dingin dengan membentuk dua buah sungai kecil di sana. Untuk yang pertama kalinya aku
menangis di hadapan pria itu. Benar-benar menangis di hadapannya, mengungkapkan bagaimana
keadaan hatiku saat ini tanpa harus bersembunyi di balik senyum palsuku seperti yang sebelumnya.
“Yoora-ya.. kau kenapa?” tanya Taeyeon dengan nada sedikit khawatir melihatku yang tiba-tiba
menangis. Baekhyun diam tak bergeming. Pandangannya masih tertuju padaku. Namun kali ini
tatapannya terkesan sedikit lebih melunak dari yang pernah kulihat sebelumnya. Apa yang sedang kau
rasakan saat ini, Byun Baekhyun? Kau senang sekarang, setelah melihatku tampak begitu menyedihkan
seperti ini?

“kau..” aku menggantungkan kalimatku, berusaha sebisa mungkin untuk mengatur aliran udara di
tenggorokanku ini karena terdesak oleh isakkan tangisku yang tertahan. Rasanya begitu menyesakkan.

“..sekarang aku tahu, apa alasanmu memperlakukanku seperti ini. Aku tidak akan menuntut apapun lagi
darimu. Aku benar-benar minta maaf atas apa yang telah ku lakukan..”

“…” tak ada jawaban. Pria itu tetap diam membisu di tempatnya. Oh Byun Baekhyun, bisakah kau
mengucapkan beberapa butir kata dan jangan terus menatapku dengan tatapan seperti itu? Aku tidak
sanggup melihatnya.. kau membuat semuanya terasa lebih rumit sekarang.

“Ah.. ini sudah larut, lebih baik aku [Link] sudah mengganggumu, Baekhyun-ah.. jangan pulang
terlalu larut!--- Aku pergi”

BODOH! Kau benar-benar bodoh Kim Yoora! Hanya itukah yang bisa kau katakana padanya? Padahal ada
lebih dari beribu-ribu kata yang tersimpan di benakku. Aku benar-benar bodoh. Tak ada gunanya aku
menyesali semuanya sekarang. Semua sudah berakhir..

Aku terbangun dari tidur singkatku dan menggeliat pelan di balik selimut tebalku karena udara dingin
yang tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam ruangan berdinding empat ini mebuatku sedikit mengigil.
Penghangat ruangannya sepertinya tidak berfungsi lagi. Aku memandang ke setiap sudut ruangan yang
tampak gelap itu lalu mendesah ringan. Aku terbangun lagi di tengah malam. Sejak aku pindah kemari,
belum pernah satu hari pun aku bisa merasakan apa yang dinamakan dengan tidur nyenyak. Ada banyak
hal yang membebani pikiranku sehingga membuat otakku tak bisa beristirahat dengan normal
sebagaimana mestinya. Baekhyun.. lagi-lagi nama itu berkelebat di dalam pemikiranku. Sudah tiga hari
ini aku berusaha menghindari pertemuanku dengan pria itu. Bukan menghindari, lebih tepatnya
melindungi hatiku agar tidak tergores lebih dalam lagi..

Aku menyingkap selimutku dan beranjak dari ranjang nyamanku itu untuk menyeduh hot chocolate
seperti yang biasa kulakukan di malam-malam sebelumnya. Cara yang biasa kugunakan untuk menepis
sedikit rasa dingin yang menyerangku dengan merasakan sensasi hangatnya yang khas. Aku berjalan
menuruni tangga dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara kegaduhan di sana. Namun ada
yang mengusik benakku ketika indera pendengaranku menangkap samar suara dentingan gelas yang
berasal dari arah dapur. Aku melangkah cepat ke arah sumber suara untuk memastikan suara apa itu
sebenarnya. Apa itu Baekhyun? Gelap. Ruangan yang biasa kusebut dapur itu tampak begitu gelap saat
ini. Hanya seberkas cahaya berwarna biru laut dari lemari pendingin di sudut ruangan itu saja yang
tampak samar-samar tertangkap oleh pandanganku.

Aku menekan saklar lampu yang berada di balik pintu agar memberikan kesan terang pada ruangan itu.
Kosong? Tak ada siapa pun di ruangan itu selain diriku. Lalu itu tadi suara apa? Aku melangkah ke sisi
lain ruangan itu untuk membenarkan kemungkinan lain yang muncul bergantian di kepalaku. Aku
mendapati seorang pemuda berkulit pucat pemilik tatapan dingin yang khas itu, sedang duduk
menyandarkan tubuhnya di depan pintu lemari pendingin dengan mata tertutup. Tangan kanannya
memegang sebuah gelas berisi air yang tampaknya baru saja diminumya setengah bagian itu. Rasanya
jantung ini hampir saja berhenti berdetak karena terlalu terkejut melihat kehadiran pria itu di tempat
ini.

“Baekhyun-ah..” panggilku lirih. Pria itu tidak bergeming. Apa dia tidur?

Aku memberanikan diriku untuk mendekatinya dan mencoba untuk membangunkannya. Aku berlutut di
sisinya dan mulai mengguncang tubuhnya perlahan.

“Baekhyun-ah, bangunlah! Kau bisa terserang flu jika terus berlama-lama di tempat ini. Baekhyun-ah..”

Betapa terkejutnya diriku ketika mendapati tubuh pria ini limbung dengan mudahnya ke arahku. Lebih
tepatnya ke dalam pelukanku, karena aku menahannya dengan posisi seperti ini. Baekhyun tak sadarkan
diri.

“Baekhyun-ah, kau kenapa?”nada bicaraku sedikit meninggi. Aku mengguncang tubuhnya lebih keras
saat ini. Pria itu tetap tak membuka matanya. Deru nafasnya yang tidak beraturan terdengar begitu jelas
di dalam keheningan ini. Aku meletakkan telapak tanganku di atas dahinya dan merasakan sesuatu yang
tidak biasa di sana. Suhu tubuh pria ini berada di atas batas kenormalan. Dia demam.

“Baekhyun-ah, bertahanlah..” aku menarik tubuh pria itu, melingkarkan lengannya di pudakku, dan
membawanya berjalan bersamaku. Aku menaiki tangga dengan sedikit kepayahan karena tenagaku yang
tidak sebanding dengannya. Aku dan Baekhyun terjatuh bersama ketika kami sudah mencapai puncak
tangga dengan posisi yang.. ah! Aku bisa gila karena hal ini. Baekhyun menindih tubuhku dan
membuatku hampir kehabisan nafas. Aku menggulingkan tubuhnya ke sisi tubuhku dan mencoba
mengumpulkan kembali ribuan oksigen yang sempat terkuras habis dari paru-paruku. Oh, gila! Ini benar-
benar gila! Apa yang sedang memenuhi otakmu saat ini Kim Yoora?

Aku kembali menarik tubuh pria itu dan membawanya berjalan bersamaku. Aku memutar kenop pintu
kamar berwarna putih gading itu dengan ragu, lalu membawanya masuk ke dalam ruangan berdinding
empat itu dan menempatkannya di atas ranjang berwarna senada dengan dinding yang mengelilinginya.
Kamar Baekhyun.. beginikah sisi bagian dalam ruangan yang biasanya hanya bisa kulewati itu? Rapi..
jendela kamar ini menghadap langsung ke arah taman belakang, tepat di belakang pohon maple yang
telah merubah warna daun-daunnya menjadi merah dan jingga di pertengahan musim gugur ini. Sebuah
piano berwarna putih tampak berdiri elegan di sudut ruangan itu. Benar-benar penyuka seni..
Aku beranjak dari tempat itu dan mengambil sebuah handuk beserta air es dari lantai bawah. Ketika aku
kembali dari lantai bawah dan hendak meletakkan handuk dingin itu ke dahi Baekhyun, aku terdiam
sesaat. Aku tersenyum samar ketika aku baru menyadari bahwa ini adalah pertama kalinya aku berada
pada jarak sedekat ini dengan pria itu. Aku menarik selimut yang masih terlipat rapi di ujung kakinya,
lalu menyelimutinya hingga sebatas dada. Aku duduk di sisinya lalu memeras handuk itu dan
mencelupkannya kembali ke dalam air dingin secara berulang-ulang sampai aku merasa benar-benar
yakin bahwa suhu tubuhnya sudah kembali normal.

Sesekali aku mengamati wajah pria itu dengan ragu, lalu tersenyum tipis. Kau benar-benar makhluk yang
indah Baekhyun-ah.. tanpa tatapan dingin itu, kau jauh terlihat lebih sempurna saat ini. Seandainya saja
senyum itu milikku, aku pasti akan menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini.

Perlahan jemariku mulai bergerak mendekat ke arah wajah pria itu, hendak menyentuhnya. Namun
bagaikan kilat yang menyambar, tangan kanan Baekhyun menahanku dengan cepat sebelum jemariku
sampai menyentuh permukaan kulit wajahnya yang lembut itu. Padahal pria itu masih menutup kedua
matanya, kenapa dia bisa sepeka itu? Aku tersentak kaget dan menarik tanganku menjauh darinya
dengan cepat, namun gerakannya jauh lebih cepat dariku. Pria itu mencengkeram pergelangan tanganku
dan menarik tubuhku dengan kasar. Membuatku limbung dan jatuh dengan mudahnya di atas tubuh
pria itu.

Aroma tubuhnya menguar dengan sangat liar memasuki rongga hidungku begitu diriku mencapai titik
terdekatku dengannya. Detak jantungku benar-benar mencelos dengan sangat cepat saat ini. Oh,
Tuhan.. apa yang ingin dilakukan pria ini terhadapku? Pikiranku benar-benar kacau saat ini.

“apa yang kau lakukan?” ucapnya pada akhirnya.

“ak..aku, aku hanya-“

Baekhyun merubah posisi tubuhku menjadi menyaampingnya dengan sekali hentakkan, hal itu
membuat kami harus saling berhadapan dengan jarak yang amat sangat dekat. Aku menahan nafasku
kuat-kuat karenanya.

“kenapa..” ucapnya dengan nada bicara yang sedikit digantungkan. Membuatku merasa semakin
bingung di dalam permainan bodohnya.

“aa..apa maksudmu?

“kenapa kau terus bersikap baik meskipun aku selalu memperlakukanmu dengan sangat buruk?”

Aku terdiam. Aku rasa aku tak bisa terus menerus berada di dalam keadaan ini bersama pria itu, atau
aku akan gila dalam waktu dekat.

“mencintaiku? Apakah itu merupakan suatu alasan? Jika benar, maka itu adalah alasan terbodoh yang
pernah kudengar”

Kau menggores lukaku lebih dalam lagi Baekhyun-ah..


“benar. Lalu kenapa? Apakah mencintai seseorang merupakan sebuah kesalahan? Lalu apa alasanmu
begitu membenciku seperti ini? Apakah ini juga karena cinta? Apa benar yang dikatakan Youngmin oppa
tempo hari? Kau begitu membenciku karena aku tanpa sengaja telah merenggut cinta pertamamu di
dalam kecelakaan itu, benar begitu bukan? Aku rasa itu benar..”

“kau benar-benar menyukai orang yang salah Kim Yoora. Apakah cinta telah membuatmu menjadi orang
yang begitu bodoh? Benar-benar menyedihkan! Aku yakin kau akan menyesal karena telah mencintaiku”

“kenapa kau tak menjawab pertanyaanku? Apa kau tak sadar jika kau telah mengalihkan pembicaraan?”

“Karena kau memang tak pernah membuatku membencimu! Aku tidak pernah membencimu. Aku hanya
tidak suka karena kau tiba-tiba masuk ke dalam kehidupanku tanpa seijinku.”

Aku terdiam, termenung di dalam keheningan ini dan tenggelam di dalam pemikiran-pemikiran rumitku.
Benarkah Baekhyun tak pernah membenciku? Tapi kenapa sikapnya selalu seperti itu? Air mataku mulai
mengalir turun perlahan. Lagi..

“kau..”

“pergilah..” Baekhyun mulai merenggangkan cengkeramannya padaku, perlahan. “aku ingin tidur, jadi
pergilah!” Baekhyun berbalik dan merubah posisinya menjadi memunggungiku.

Aku menghapus air mataku dengan cepat dan meinggalkan pria itu tanpa mengucapkan sepatah kata
pun. Dari percakapan tadi, kau benar-benar meyakinkanku jika aku memang tak memiliki kesempatan
untuk masuk lebih jauh lagi ke dalam kehidupanmu, Baekhyun-ah. Baiklah, aku memilih untuk mundur.
Kurasa itu jauh lebih baik..

XOXO

“Yoora-ya, kau di dalam? Bibi masuk..”

Aku menghentikan lamunanku dan beralih menatap pintu kaca yang tengah diketuk pelan itu. Wanita
berparas anggun itu tampak tersenyum hangat ke arahku begitu aku menyadari kehadirannya. Ia
menghambur masuk ke dalam ruangan ini lalu merengkuh tubuhku dengan lembut.

“bibi Byun..” Aku balas memeluk wanita paruh baya itu dengan perasaan yang tak sanggup kuartikan.
Wanita yang sudah kuanggap seperti ibuku sendiri itu tampak meneteskan air mata bahagianya begitu ia
melepaskan pelukanya perlahan.

“sudah lama sekali.. kau tampak lebih dewasa dan.. cantik! Tentu saja..”

“sungguh. Aku sangat merindukan bibi, padahal ini baru lima tahun..”

“itu harus! Lima tahun bukanlah waktu yang singkat. Kau menyelesaikan studimu lebih cepat dari yang
kukira, lalu pulang ke Korea dengan menyandang gelar sebagai seorang arsitek hebat yang terkenal. Dan
sekarang puteri bibi yang satu ini akan menyandang status sebagi seorang isteri dari seorang pria yang
begitu mencintaimu. Bisakah aku menjadi orang yang paling bahagia di dunia, sekarang?

“ini tidak seperti itu, bi.. Tidak akan semudah ini jika tanpa bantuan paman”

Wanita itu tertawa renyah ketika aku mulai memuji suaminya. Ia tidak berubah. Masih sehangat dan
seramah dulu..

“apakah paman mengalami kesulitan dalam menjalankan perusahaan ayah? Maafkan aku karena
memilih untuk menolak meneruskannaya”

Wanita itu menggeleng. “ ini adalah jalan yang kau pilih Yoora-ya, begitu pula dengan hatimu..”

Aku terdiam begitu wanita ini menyebut kata ‘hatimu’ di ujung kalimatnya. Hatiku..

“Inggris merupakan Negara yang indah, bi.. Bibi harus ke sana suatu hari nanti, aku yakin bibi akan betah
berada di sana”

“tidak. Pergilah sendiri dengan suamimu! Aku lebih senang melewati hari tuaku bersama paman di
tempat asal kami. Kau masih muda, ciptakanlah banyak kenangan manis bersama suamimu itu. Kelak
kau akan membanggakannya dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajahmu kepada anak
cucumu nanti”

Aku tersenyum tipis, “itu.. pasti,bi”

“sampai kapan ibu akan mengajaknya berbicara seperti itu? Aku juga ingin mengajaknya berbicara..”

Aku mengarahkan pandanganku ke arah pintu dengan cepat begitu aku mendengar suara khas yang
jujur saja, begitu kurindukan itu.

“Baekhyun-ah..” gumamku lirih. Pria yang sedang bersandar santai pada bingkai pintu itu menatapku
seraya tersenyum lembut. Aku tertegun antuk beberapa saat. Senyum itu.. apakah itu untukku?

“apa kabar?” Baekhyun melangkah mendekat dengan langkah santai ke arahku, masih dengan senyum
yang.. entahlah! Rasanya aku bisa gila hanya dengan melihat lengkung sempurna di bibirnya.

“aku ingin berbicara sebentar dengannya, bu. Hanya berdua..” lanjut Baekhyun

“aku tahu.. Yoora-ya, bibi pergi. Bocah ini benar-benar ingin mengusirku, rupanya” aku terkekeh ringan
lalu mengangguk pasti.

Hanya perlu beberapa detik untuk membuat ruangan ini menjadi begitu hening. Sepeninggal wanita itu,
suasana di ruangan ini menjadi begitu canggung dan terasa aneh. Ini pertama kalinya aku kembali
bertatap muka dengan Baekhyun setelah tidak bertemu cukup lama. Dia tidak berubah.. tetap tampan
dan mempesona. Yang berubah hanyalah mimik mukanya. Dia menjadi lebih sering tersenyum saat ini.
Apa dia bahagia? Aku tak menyangka jika ia akan menghadiri acara pernikahanku dengan Chanyeol, hari
ini.
“kau banyak berubah..”

Kau juga. Kau tampak lebih mudah untuk tersenyum saat ini..

“aku tahu”

“menjadi jauh lebih cantik dari yang terakhir kali kulihat” tambahnya lagi.

Apa yang kau bicarakan Byun Baekhyun? Apa kau ingin aku tergoda lagi padamu di hari pernikahanku?
Aku tak menyangka kau bisa seramah ini padaku. Kemana tatapan dinginmu yang waktu itu?

“selamat.. aku bahagia kau akhirnya menikah, Yoora-ya”

Seharusnya kau memberiku ucapan selamat dengan wajah yang gembira. Tapi kenapa senyummu itu
terasa begitu palsu, Byun Baekhyun?

“ah, gomapta”

Hening.. aku sedikit bingung dengan apa yang akan kukatakan selanjutnya. Karena sepertinya memang
tidak ada yang ingin kukatakan. Bukankah tadi sudah jelas, yang ingin memulai pembicaraan ini adalah
Baekhyun?

Dugaanku salah! Aku tampak sedikit terkejut ketika pria itu mulai mendekatkan dirinya kepadaku
dengan gerakkan perlahan namun pasti. Dan sial! Kenapa tubuhku terasa begitu kaku? Aku berdiri
mematung di tempatku. Demi Tuhan, apa yang telah kau lakukan padaku Baekhyun-ah?

Baekhyun berhenti dengan jarak yang terhitung hanya beberapa inchi saja dariku. Ia mencondongkan
tubuhnya ke arahku lebih dekat lagi, lalu menyeringai singkat. Menunjukkan smirk sempurna dari lekuk
bibir tipisnya yang menawan. Kedekatan jarak antara diriku dengannya membuatku dapat merasakan
hembusan nafasnya yang hangat di permukaan wajahku. Damn! Apa pria ini ingin membuatku mati
karena terkena serangan jantung?

“aaa..apa yang kau inginkan dariku”

“..”

“tak ada..”

“lalu?”

Smirk di wajah pria itu menghilang perlahan dan berganti dengan senyum lembut yang kupikir.. aku
pernah melihat senyum seperti itu sebelumnya. Senyum yang pernah ditujukannya pada Taeyeon di
malam yang begitu menyedihkan itu.. Miris!

Baekhyun memundurkan tubuhnya selangkah dariku lalu merogoh sesuatu di dalam saku celanananya.
Setelah cukup yakin dengan apa yang sedang dicarinya, pria itu menarik tangan kananku dan
meletakkan sebuah benda berukuran kecil itu ke atas telapak tanganku yang tengah terbalut sarung
tanagan putih dengan sangat hati-hati.

Aku menatap pria itu dengan tatapan bertanya, “sebuah kunci?”

Baekhyun tak menjawab. Ia hanya tersenyum dan mengangguk pasti.

“apa maksud semua ini? Aku benar-benar tak mengerti..”

Pria itu menahanku dengan cepat ketika aku hendak mengembalikan benda itu kepadanya “aku mohon
simpanlah.. kau akan mengetahuinya setelah kau menikah nanti. Itu adalah kunci dari salah satu bagian
ruanganku yang tidak pernah kau ketahui sebelumnya. Ruangan itu seperti bagian dari hidupku, jadi
bukalah ketika hatimu benar-benar bersedia. Itu adalah tanda permohonan maafku.. ”

“permohonan maaf? Untuk apa? Kau tidak pernah melakukan kesalahan apapun padaku. Emm..
maksudku.. sedikit..”

Baekhyun menggeleng lalu tersenyum tipis. Pria itu mengalihkan pandangannya ke arah piano yang
sempat menarik perhatianku tadi ketika aku hendak angkat bicara.

“tiba-tiba saja aku ingin bernyanyi ketika melihat piano hitam itu sekilas saat aku masuk kemari. Kau
ingin mendengarku bernyanyi?”

Tentu saja, tapi..

Aku melirik sekilas jam dinding yang bertengger pada salah satu dinding ruangan ini lalu kembali
menatap Baekhyun dengan pandangan ragu.

“tenang saja, ini hanya sebentar. Kau bisa melaksakan prosesi pernikahanmu tepat waktu nanti.. hanya
10 menit” ucap pria itu lagi mencoba untuk meyakinkanku.

Dengan langkah ragu, aku mulai mendekat ke arah pria itu lalu duduk tepat di sisinya. Tanpa menunggu
lama, jemari lentik Baekhyun mulai menekan tus-tuts yang ada dihadapannya dengan lincah.
Melantunkan sebuah melodi lembut yang terdengar begitu manis..

I do believe all the love you give


All of the things you do
Love you, Love you….
I’ll keep you safe, don’t you worry
I wouldn’t leave, wanna keep you near
Cause i feel the same way too
Love you, Love you….
Want you to know that I’m with you
Aku terdiam seketika saat satu per satu kalimat di dalam lagu yang tengah dinyanyikan Baekhyun itu
mulai mengalir masuk memenuhi indera pendengaranku. Sesekali pria itu menoleh kepadaku dan
sekedar tersenyum di tengah-tengah permainannya. Oh, Tuhan.. adilkah ini semua untukku? Kenapa
pria yang hampir saja berhasil untuk kulupakan itu tiba-tiba saja muncul di hadapanku dengan banyak
hal baru yang begitu sulit untuk kupahami?

I will love you and love you and love you


Gonna hold you and hold you and squeeze you
I will please you for all time
I don’t wanna lose you and lose you and lose you
Cause I need you and need you and need you
So I want you to be my lady
You’ve got to understand my love….

You are beautiful, beautiful, beautiful, beautiful, beautiful, beautiful---

CHU~

---girl..
Sebuah kecupan lembut mendarat perlahan di bibirku yang dingin, memberikan sedikit sensasi basah
yang terasa aneh di sana. Aku tertegun, mematung di tempatku tanpa bisa mengucapkan sepatah kata
pun karena Baekhyun yang tiba-tiba menciumku tanpa aba-aba sebelumnya.

“jika yang telah kuberikan tadi adalah sebuah permohonan maaf, maka yang kuberikan kali ini adalah
sebuah hadiah..”

Aku terdiam, “apa maksudmu?

“ciuman pertamamu..aku berniat mengambilnya lebih dulu sebelum Chanyeol mengambilnya nanti.
Karena kau mencintaiku lebih dulu dibandingkan dengannya. Namun harus kau ketahui juga.. ini adalah
ciuman perpisahan—karena aku telah meninggalkanmu lebih dulu dibandingkan dengannya, melukaimu
jauh lebih sering jika dibandingkan dengannya.. kau tahu? aku pantas menerima ciuman perpisahan ini.
Kesempatanku untuk dapat mencintaimu sudah berakhir, sekarang. Kau bebas…”

“Baekhyun-ah..”

“aku mencintaimu..”

DEG..

Apa yang baru saja dikatakan pria itu? Apa aku tidak salah dengar?

“ Ini adalah kalimat sederhana yang begitu ingin kusampaikan padamu berkali-kali, sebelumnya. Tapi
aku tak bisa---“
“--- Kau tahu? Sebenarnya aku mencintaimu jauh lebih lama sebelum kau mencintaiku. Kau ingat
pertemuan masa kecil kita dulu, bukan? Aku, kau, dan Youngran. Sejak pertama kali aku melihatmu,
gadis kecil dengan tatapan lembut yang berdiri di bawah pohon maple itu aku sudah menyukaimu.
Bukan youngran. Namun kenyataannya sekarang kau bukanlah Yoora yang kukenal dulu. Yoora yang
kukenal sekarang adalah seorang saudara perempuan dari seorang Byun Baekhyun. Kesempatanku
untuk mencintaimu terbatas karena itu. Itulah alasan kenapa aku selalu menghindarimu...”

“Baekhyun-ah..”

“maafkan aku karena sangat terlambat mengatakannya, karena telah melukaimu terlalu banyak
sebelumnya. Membiarkan buliran Kristal bening yang berharga itu mengalir terlalu banyak dari pelupuk
matamu. Aku benar-benar minta maaf..” Baekhyun menatapku dengan pandangan nanar. Sungguh! Aku
merasa jauh lebih sakit ketika pria itu menatapku dengan tatapan seperti ini dibandingkan saat ia
menatapku dengan tatapan dinginnya.

“…”

Kau benar-benar pria jahat, Byun Baekhyun!

“kau tenang saja.. saat itu kau tidak terluka sendirian, karena aku juga terluka. Jadi kita impas..”

“Yoora-sshi? Apa Anda sudah siap? Mempelai pria sudah menunggu Anda di depan altar, saya akan
membenahi beberapa bagian make up Anda yang sedikit memudar. Bolehkah saya masuk?”

Aku melirik sekilas ke arah pintu masuk. Kukira siapa.. Ternyata salah seorang stylish yang dikirimkan ibu
Chanyeol kepadaku. Aku berusaha bersikap senormal mungkin saat itu agar dia tidak curiga.

“ah, tentu saja..” ucapku sedikit kik-kuk.

Aku masih menatap Baekhyun dengan tatapan tak percaya. Sebelum meninggalkanku, pria itu sempat
berbisik di telingaku. Membisikkan beberapa kalimat yang menurutku.. terdengan seperti sebuah teka-
teki yang begitu sulit untuk kupecahkan. Sampai kapan kau ingin membuatku terus terombang-ambing
di dalam suatu ketidak pastian, Baekhyun-ah? Aku lelah..

“Baekhyun-ah..” panggilanku tadi berhasil membuatku menahannya sesaat. Ia berbalik ke arahku


dengan tatapan sendunya. Kemana perginya senyuman yang sempat kulihat tadi? Tatapannya yang
sekarang benar-benar menggores luka lamaku.

“ada apa?”

“aku minta maaf..”

Maafkan aku Baekhyun-ah.. seandainya saja kau mengatakannya lebih cepat maka semuanya tak akan
jadi serumit ini.

Baekhyun tersenyum simpul, “ini adalah jalan yang kau pilih.. tak akan ada lagi batu sandungan dan
rumput berduri yang akan mengganggumu di depan sana, Yoora-ya. Kau bebas, sekarang. Terbanglah
seperti dandelion yang tertiup angin. Carilah tempat yang pas untuk tumbuh menjadi tanaman
dandelion yang baru. berbungalah sebanyak mungkin, dan lepaskanlah bunga-bungamu yang baru
ketika angin berhembus. Biarkan bunga-bunga itu menemui takdir baru mereka, sama sepertimu..”

“kau pembohong yang handal, Baekhyun-ah”

“tidak! Aku tidak pernah sejujur ini sebelumnya..”

Matahari semakin mengarah ke tempat peraduannya ketika prosesi pernikahanku dan Chanyeol akan
segera dimulai. Menyisakan warna lembayung senja yang dibiaskan dengan sempurna oleh jendela kaca
yang mengitari gereja tempat dimana aku dan Chanyeol akan mengikrarkan janji suci kami hari ini,
memberikan efek terang berwarna jingga yang terlihat begitu indah dan terkesan lembut, namun sedikit
sayu..

Aku berdiri di depan altar suci ini bersama Chanyeol, pria yang sebentar lagi akan menjadi teman
seumur hidupku. Ini gila.. teman baikku yang biasa mendengarkan curahan isi hatiku yang begitu abstrak
itu, kini akan menyandang status sebagai suamiku. Aku tak percaya jika sebentar lagi marga Kim yang
melekat pada diriku sekarang akan segera berganti menjadi Park. Park Yoora.. tidak buruk.

“kau siap?” Chanyeol tersenyum lembut kepadaku. Ia menggenggam erat jemari tanganku yang
bergetar hebat karena begitu gugup dan berusaha meyakinkanku kembali untuk yang terakhir kalinya.
Aku tersenyum samar melihat perlakuannya yang begitu baik itu terhadapku, lalu mengangguk pelan.

“Saudara sekalian yang berbahagia di hadapan Tuhan, ini adalah saatnya bagi kita semua di sini untuk
meneguhkan pasangan suami isteri ini di dalam ikatan suci pernikahan. Pegang teguh janji pernikahan
kalian berdua di hadapan Tuhan, supaya pernikahan kalian abadi, sebab janji tersebut merupakan dasar
untuk menghadapi berbagai perubahan kemerosotan nilai-nilai moral dan kegoncangan finansial
moneter. Ditengah badai kehidupan, perbedaan pendapat dan benturan-benturan. Tetaplah setia untuk
bersama mencari jalan keluar dan tabah mengarungi samudra kehidupan yang ganas ini. Pernikahan
memberikan wewenang atas kebahagiaan dan kesejahteraan berkeluarga, yang perlu dibina, dipelihara,
supaya bertumbuh dan berbuah. Sebagai imbangan dimana ada wewenang disitu ada tanggung jawab.”

Aku menggenggam jemari Chanyeol lebih erat dari yang sebelumnya ketika pendeta yang bertugas
untuk menikahkan kami berdua di hadapan Tuhan dan semua orang yang ada di tempat ini mulai
melontarkan kalimat pembukanya. Aku menatap Chanyeol sekilas, dan lagi-lagi pria itu melontarkan
senyuman lembutnya yang begitu menenangkan. Baiklah Kim Yoora.. aku siap!

“Saudara Park Chanyeol, apakah Anda mengakui dihadapan Tuhan dan JemaatNya bahwa Anda bersedia
dan mau menerima Kim Yoora, mempelai wanita Anda sebagai istri Anda satu-satunya dan hidup
bersamanya dalam pernikahan suci seumur hidup Anda? mengasihinya sama seperti Anda mengasihi diri
Anda sendiri, mengasuh dan merawatnya, menghormati dan memeliharanya dalam keadaan susah dan
senang, dalam keadaan kelimpahan atau kekurangan, dalam keadaan sakit dan sehat dan setia
kepadanya selama kalian berdua hidup? menjaga kesucian perkawinan Anda ini sebagai suami yang
setia dan takut akan Tuhan sepanjang umur hidup Anda?”

“Ya. Saya mengakui dihadapan Tuhan dan JemaatNya bahwa saya bersedia dan mau menerima Kim
Yoora, mempelai wanita saya sebagai istri saya satu-satunya dan hidup bersamanya dalam pernikahan
suci ini seumur hidup saya. Mengasihinya sama seperti saya mengasihi diri saya sendiri, mengasuh dan
merawatnya, menghormati dan memeliharanya dalam keadaan susah dan senang, dalam keadaan
kelimpahan atau kekurangan, dalam keadaan sakit dan sehat dan setia kepadanya selama kami berdua
hidup. Menjaga kesucian perkawinan kami ini sebagai suami yang setia dan takut akan Tuhan sepanjang
umur hidup kami”

Chanyeol berhasil mengucapkan janji pernikahannya dengan baik. Itu artinya sekarang giliranku. Oh..
kumohon, siapa saja. Bantu aku menjalani semua ini dengan mudah. Aku tidak ingin mengecewakan
sosok pria yang tengah berdiri di sampingku ini. Aku menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya
perlahan. Aku merenggangkan genggaman tanganku pada Chanyeol dan membuat diriku menjadi
serileks mungkin. Aku siap.. Kau siap Park Yoora.

“Saudari Kim Yoora, apakah Anda mengakui di hadapan Tuhan dan JemaatNya bahwa Anda bersedia
dan mau menerima Park Chanyeol sebagai suami Anda satu-satunya dan hidup bersamanya dalam
pernikahan suci seumur hidup Anda? Apakah Anda bersedia tunduk kepada suami seperti jemaat
tunduk kepada Tuhan, mengasuh dan merawatnya, menghormati dan memeliharanya dalam keadaan
susah dan senang, dalam keadaan kelimpahan atau kekurangan, dalam keadaan sakit dan sehat dan
setia kepadanya selama kalian berdua hidup?Apakah Anda bersedia menjaga kesucian perkawinan ini
sebagai istri yang setia dan takut akan Tuhan sepanjang umur hidup kalian?”

“Saya --- “

Tenggorokanku terasa tercekat saat ini. Aku menatap ke sekeliling dengan pandangan bingung. Aku rasa
ada yang salah dengan kepalaku. Melihat semua orang yang sedang berkumpul di tempat ini, tiba-tiba
saja kepalaku menjadi terasa pening. Oh.. ini buruk! Semua orang yang hadir di tempat itu tampaknya
sedang menungguku untuk membalas ikrar yang telah di ucapkan Chanyeol sebelumnya. Aku tahu, aku
akan segera membalasnya sebentar lagi. Tapi apa yang sebenarnya ku tunggu? Aku menatap ke
sekeliling. Mencoba mencari-cari sosok yang sedang memenuhi isi kepalaku sat ini, namun tak ada. Aku
tak menemukan sosok Baekhyun di antara semua tamu undangan yang telah memenuhi tempat ini. Apa
dia pergi? Rasanya sedikit aneh ketika pikiranku mulai mengingat kembali perkataan yang sempat
dibisikkan Baekhyun di telingaku tadi..

Bintang yang cantik akan terlihat jauh lebih indah jika diamati dari kejauhan, dengan jarak pandang
tertentu yang akan membuat kita merasa nyaman saat memandangnya..

“Yoora-sshi?”

“saudara Yoora?”

“Yoora-ya, kau tak apa?” Chanyeol menyentuh jemariku perlahan. Perlakuannya barusan berhasil
membuyarkan lamunanku. Aku terlalu lama mengulur waktu.

“gwaenchana.. aku baik-baik saja”


Aku menghela nafas pelan lalu kembali memfokuskan diriku pada janji yang akan kuucapkan.

“Saya.. Kim Yoora, mengakui di hadapan Tuhan dan JemaatNya bahwa saya bersedia dan mau,
menerima Park Chanyeol sebagai--- “

“ANDWAE!” aku menghentikan kalimat yang masih belum sempat kuselesaikan dengan sempurna ketika
sebuah teriakan histeris dari bangku jemaat mulai menggema di dalam ruangan ini. suasana di tempat
ini menjadi terkesan sedikit gaduh sekarang. Aku memalingkan pandanganku ke arah sumber suara
untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi dan mendapati bibi Byun sedang menangis sedih di
dalam pelukan bibi Park. Di sisi lain, paman yang tadi sempat menahan bibi yang hampir saja terjatuh,
kini terlihat sedang melangkah pergi dari bangunan gereja dengan langkah tergesa. Ada sesuatu yang
sedikit mengganjal di hatiku begitu aku menyaksikan kejadian barusan. Kumohon siapapun, katakan
padaku apa yang sebenarnya terjadi?

Aku berlari menuruni altar dengan cepat, menghampiri bibi Byun yang masih menangis lalu berlutut di
sisinya. Jantungku berdetak tak keruan saat itu. Sebagian hatiku seakan melarangku untuk mengetahui
apa yang terjadi.

“Bibi, ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Dan.. dimana Baekhyun?”

“ibu.. apa yang terjadi? Kenapa bibi Byun menangis seperti ini?” celetuk Chanyeol yang juga ikut
bergabung bersamaku.

“Yoora-ya.. Baekhyun.. Baekhyunku..”

“apa yang terjadi pada Baekhyun, Bi? Dia kenapa?”

“Baekhyun..” wanita itu tak sanggup menyelesaikan kalimatnya dan tampak semakin terisak.

“Baekhyun mengalami kecelakaan, Yoora-ya. Baru saja.. tak lama setelah ia meninggalkan gereja ini.
Saat ini belum ada yang tahu pasti tentang keadaanya” ungkap bibi Park pada akhirnya.

Aku diam terpaku di tempatku. Jantungku seakan berhenti berdetak, dan aliran darahku seakan
melambat. Aku rasa ada sesuatu yang menekan dadaku, membuatku hampir terisak karenanya.

“tidak mungkin.. itu tidak mungkin!”

Aku bangkit berdiri, lalu berlari meninggalkan ruangan itu dengan perasaan kacau. Di dalam
ketidakpastian ini aku mulai terisak. Aku berusaha meluapkan perasaanku yang tertahan ini dengan
berlari sejauh-jauhnya dari tempat itu dan menemui Baekhyun dengan cepat. Sebelumnya aku bisa
mengatasi sisi emosional perasaanku dengan baik dan dengan akal sehat, namut tidak untuk kali ini.

Aku merasakan hentakan yang cukup keras pada tubuhku ketika aku hendak melewati batas gerbang
bangunan itu. Chanyeol memelukku dari belakang dengan erat, berusaha menahanku agar tidak pergi. Ia
semakin mengeratkan pelukannya ketika aku mulai meronta atas apa yang telah dilakukannya itu.

“Lepaskan! Aku mohon biarkan aku pergi. Aku ingin memastikan bahwa pria itu baik-baik saja saat ini.
hanya memastikannya..” tangisku mulai menjadi saat itu. Aku benar-benar kehilangan akal sehatku saat
ini. Memori yang ada di kepalaku seakan terhapus begitu saja dalam sekejap mata, dan yang tersisa
hanyalah sebagian memori tentang pria itu, dan bahkan hanya tentang pria itu. Baekhyun..

“Chanyeol-ah, kumohon..”
“aku tidak bisa. Maafkan aku, Yoora-ya..”

“kenapa?” tanyaku dengan perasaan terluka.

Chanyeol terdiam sesaat. Pria itu mulai merenggangkan pelukannya perlahan dan mencoba untuk
merubah posisi tubuhku agar berbalik ke arahnya.

“Yoora-ya, lihat aku! Aku tidak mengijinkanmu pergi karena aku tidak yakin kau akan datang kembali
kepadaku setelah kau pergi nanti.”

“Chanyeol-ah..”

“Kau masih mencintainya. Aku tahu itu. Sejak dulu hatimu tak pernah berada di tempat ini dan sampai
kapan pun tak akan pernah berada di sini! Aku tidak yakin kau akan bahagia bersamaku setelah kita
menikah nanti.”

“…”

Jika aku menjawab iya, maka aku yakin jika diriku akan menjadi orang yang terlihat begitu buruk,
Chanyeol-ah.. aku sudah banyak melukaimu dan kau masih tetap berusaha mempertahankanku. Apa
yang kau lihat pada diriku, hm?

“baiklah.. jika kau ingin pergi, maka pergilah! Tapi kumohon, bawa ini bersamamu” Chanyeol
menyerahkan kotak kecil berwarna merah maroon berisi cincin yang telah kami pilih beberapa waktu
yang lalu kepadaku.

“kenapa kau memintaku melakukan ini?”

“aku memintamu membawa ini bukan karena aku akan menahanmu di dalam kehidupanku, melainkan
untuk melepasmu pergi bersama orang yang benar-benar kau cintai. Menikahlah dengan Baekhyun..
Aku memang tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang. Tapi yang jelas, aku berharap dia akan segera
bangun dan memperbaiki semua yang telah ia lakukan kepadamu, itu harus!”

Aku tak percaya jika Chanyeol akan membatalkan pernikahan kami semudah itu. Tak ada yang bisa
kukatakan. Yang dapat kulakukan sekarang hanyalah mengangguk pelan. Pria itu.. apa yang ia rasakan
saat ini? oh.. kumohon, aku tidak ingin melukai pria sebaik dirinya. Terlalu banyak yang telah ia lakukan
untukku. Namun kenyataannya, aku tidak memiliki pilihan lain. Perlahan, jemari Chanyeol mulai tergerak
untuk menghapus air mata yang membasahi pipiku, membelai puncak kepalaku dengan lembut, lalu
memelukku hangat.

“berjanjilah padaku untuk selalu tersenyum mulai saat ini! aku tidak akan memberimu kesempatan
sebanyak dua kali, jadi manfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin! Tidak ada kesedihan lagi dan tidak
akan ada air mata lagi, arra-chi?”

“Chanyeol-ah.. aku benar-benar minta maaf. Aku tak mengerti kenapa ada orang sebaik dirimu di dunia
ini. Dan orang sebaik itu harus terluka hanya karena seorang gadis seperti diriku ini. Apakah itu adil? Ini
begitu tidak adil bagimu dan aku sungguh menyesal..”

Chanyeol menggeleng pelan, “jika kau tidak ingin membuatku terluka lebih dalam lagi, maka pergilah..”

.
.

Aku meraih jemari pucat Baekhyun lalu mulai menggenggamnya perlahan. Ini adalah hari ketiga dimana
pria itu tidak sadarkan diri akibat kecelakaan yang dialaminya. Keadaannya tak pernah membaik sejak
saat itu. Pemilik tatapan dingin yang sempat tersenyum manis padaku beberapa saat yang lalu itu, kini
diam tak bergerak. Hanya dadanya yang naik turun saja yang sanggup memberiku secercah harapan
bahwa pria ini pasti akan terbangun dari tidur pulasnya, nanti.

“aku tahu kau lelah Baekhyun-ah.. tapi alangkah baiknya jika kau bangun sekarang. Aku sudah
menunggumu cukup lama terhitung sampai detik ini, apa kau ingin membuatku menunggu lebih lama
lagi? Itu sungguh tidak adil Byun Baekhyun..”

FLASHBACK

Aku terdiam sesaat di depan pintu sebuah ruangan yang tampak begitu familiar bagiku. Kamar
Baekhyun. Pintu ruangan itu tampak sedikit terbuka, memperlihatkan sebagian kecil sisi dari ruangan
yang tampak kosong itu. Aku mencoba melangkah masuk dengan langkah ragu. Aroma tubuh pria itu
masih tercium samar di sana. Masih teringat dengan sangat jelas olehku.. bagaimana aroma yang begitu
kurindukan itu. Aku merindukanmu Baekhyun-ah..

Aku tidak ingin berlama-lama di tempat itu karena tiba-tiba saja aku mengingat janjiku untuk menemui
Baekhyun di rumah sakit hari ini. Namun, baru saja aku hendak melangkah pergi dari ruangan itu, aku
merasa telah menjatuhkan sesuatu dari saku mantelku. Sebuah benda kecil berwarna keperakan tampak
tergeletak tak jauh dari tempatku berdiri. Sebuah kunci.

“Bukankah ini kunci pemberian Baekhyun di hari pernikahanku kemarin?”

Aku mengamati setiap sudut ruangan itu dengan seksama, berharap seakan-akan ada lubang kunci yang
pas untuk benda ini. Dan.. ada! Ada sebuah pintu yang mengarah ke ruangan lain di dalam ruangan ini.
letak pintu itu gdak sedikit tersembunyi karena terhalang oleh piano putih yang berada di sudut ruangan
itu. Aku mendekat ke arah pintu itu dan mulai memasukan kunci ini ke lubang pintu yang terdapat di
salah satu sisinya. Cocok! berarti kunci ini memang benar-benar diperuntukkan untuk ruangan ini.

Terlihat olehku sebuah ruangan sederhana berukuran sempit dengan dinding bata dan sebuah jendela
kaca yang berukuran cukup besar di dalamnya, cahaya matahari musim semi yang pucat tampak
memenuhi setiap sudut ruangan itu dengan sempurna. Aku melangkah perlahan memasuki ruangan
kecil itu dan mendapati beberapa kanvas yang tertutup kain putih, tumpukan cat dan beberapa set kuas.
Apakah ini ruang kerja Baekhyun? Aku benar-benar tak menyangka jika ada ruangan seperti ini di dalam
kamar pria itu.

Jemariku menarik kain penutup salah satu kanvas yang terdapat di tempat itu dan mendapati sebuah
pemandangan yang tampak tidak asing. Terlihat olehku sebuah lukisan yang menampakkan suatu
keadaan, dimana seorang gadis berseragam tengah menatap lepas suatu objek di depannya dari balik
jendela kaca. Gadis itu tersenyum lembut.. namun tatapannya terkesan begitu sendu. Dan dia.. mirip
aku? Aku rasa itu benar. Terlihat jelas dari nametag yang [Link] salah lagi, gadis yang
berada di dalam lukisan itu memang benar-benar aku. Tapi apa artinya semua ini?

Aku beranjak dari tempatku dan mulai menarik satu per satu kain penutup kanvas yang berjajar rapi di
tempat itu. Perkiraanku benar! Semua lukisan yang ada di tempat itu menampakan beberapa bentuk
aktivitas dari satu objek yang sama.. Yaitu aku! Aku yang sedang menunggu hujan reda di depan gedung
sekolah kami, aku yang sedang tertawa bahagia di hari kelulusanku, aku yang sedang duduk di beranda
loteng sambil mengamati indahnya pemandangan matahari senja di musim gugur--- dan masih banyak
lagi. Semuanya aku..

Oh, Byun Baekhyun.. apa ini yang kau sebut sebagai tanda permohonan maafmu? Kau malah membuat
hatiku tergores semakin dalam saat ini. Kenapa kau tidak pernah mengatakannya, hmm? Kenapa kau
terus mencintaiku dalam diam? Kau bodoh, Baekhyun-ah! Kau berhasil membuatku tersiksa selama ini,
tapi kau berhasil membuat dirimu dua kali jauh lebih tersiksa lagi..

Aku mencoba sebisa mungkin untuk tidak menangis saat ini. Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat dan
mencoba untuk menarik kain penutup kanvas terakhir di tempat itu dengan jemariku yang bergetar
hebat.

DEG..

Lukisan ini.. lukisan terakhir ini menampakkan sebuah pemandangan dimana Baekhyun sedang
memelukku erat ketika aku sedang menangis. Di sudut bagian bawah kanvas ini terdapat sebuah kalimat
pendek yang kurang lebih berbunyi seperti ini,

‘aku ingin merengkuh bintang ini, namun dia terlalu jauh..’

Kumohon hentikan semua ini! ini terlalu menyakitkan bagiku..

Di lukisan-lukisan yang sebelumnya juga terdapat beberapa kalimat yang menjelaskan arti dari lukisan
itu, seperti,

‘apa yang sedang kau lamunkan? Aku berharap kau sedang melamunkan diriku saat itu’

‘jangan beranjak dari tempat itu karena aku tidak mau buliran air hujan itu membuatmu basah kuyup’

‘aku juga ingin melihat senja itu bersamamu’ atau juga..

‘selamat atas kelulusanmu! Seandainya saja aku bisa mengatakan bahwa aku benar-benar mencintaimu
sebelum kau pergi..’

Baekhyun tak pernah mengabaikanku! Dia selalu mengamatiku dari kejauhan, memperhatikanku, dan
melindungiku..

FLASHBACK END..

Aku menggenggam jemari Baekhyun dengan erat. Dingin. Meskipun aku tak pernah menyentuh
jemarinya secara langsung seperti ini, aku yakin jika genggaman tangannya tak akan sedingin dan
selemah ini. Kemana cengkeraman kuat yang biasa kau berikan padaku itu? Lebih baik kau marah dan
mengabaikanku daripada aku harus melihatmu seperti ini. ini menyesakkanku Baekhyun-ah..

“bodoh! Kenapa ada orang sebodoh dirimu di dunia ini, hm? Apa kau pikir dengan aku tinggal di
rumahmu maka aku akan seutuhnya menjadi saudaramu? Tidakkah kau berpikir jika aku selalu
menunggumu? Aku menunggumu untuk segala hal. Menunggumu untuk mau berbicara denganku,
menunggumu agar bersedia makan semeja denganku, menunggumu untuk mau berbagi suka dan duka,
dan menunggumu untuk---“ aku menghentikan kalimatku karena berusaha menahan isakkan yang sedari
tadi kutahan.
“menunggumu untuk merespon perasaanku..”

Aku melepaskan genggaman tanganku perlahan dan beranjak untuk membuka jendela kaca yang berada
tak jauh dari sisiku untuk menghalangi udara senja hari yang semakin mendingin. Aku melakukannya
karena aku tahu jika itu tidak baik untuk Baekhyun. Namun baru selangkah aku beranjak dari ranjang
Baekhyun tiba-tiba saja aku merasa jika ada sebuah sentuhan lembut yang terasa begitu hangat pada
jemari mungilku. Tubuhku seakan membatu ketika aku mendapati bahwa sentuhan itu mulai berubah
menjadi sebuah genggaman yang terasa begitu lemah. Aku berbalik dan menatap Baekhyun dengan
tatapan tidak yakin.

“mianhae..” ucap Baekhyun dengan suara yang terdengar begitu parau ketika aku berhasil mengalihkan
perhatianku padanya. Pria itu berusaha untuk tersenyum lembut padaku meskipun wajahnya terlihat
begitu lelah. Baekhyun bangun..

“Baekhyun-ah..”

“hmm? Kenapa kau menatapku dengan tatapan seolah-olah kau baru saja melihat hantu? Aneh sekali..”
guraunya singkat.

“jangan banyak bicara, kau baru saja sadar. Tunggulah sebentar, aku akan memanggilkan dokter
untukmu”

Pria itu menggeleng lemah, “aku tidak butuh itu. Tetaplah disini dan jangan pernah menghilang dari
jarak pandangku untuk beberapa saat kedepan..”

Aku menatap Baekhyun dengan pandangan nanar. Sebegitu gilanya kah kau terhadap diriku, sampai-
sampai dalam keadaan apapun kau selalu menempatkanku pada jarak terdekat yang dapat terjangkau
oleh pandanganmu? Asal kau tahu saja Byun Baekhyun, aku tidak pernah kemanapun selama ini..

Tanpa berkata-kata aku langsung memeluk tubuh pria itu dan mulai meluapkan segalanya di sana. Aku
tidak menangis namun aku juga tidak bisa tersenyum lepas. Aku masih takut apakah semua ini hanyalah
bayanganku semata. Baekhyun, dia..

“hey, bodoh! Apa yang akan dikatakan suamimu jika dia melihatmu memeluk pria lain seperti ini?”
gurau Baekhyun masih dengan suara paraunya.

Aku terdiam. Suara ini.. aroma tubuh ini.. aku rasa aku memang sedang tidak bermimpi saat ini. pria ini
memang benar-benar Byun Baekhyun yang kurindukan.

“dia tidak akan marah, aku yakin.. Kumohon, biarkan tetap seperti ini beberapa saat lagi”

Pria itu tak lagi mengeluhkan apa yang kuperbuat padanya. Dia hanya diam dan mulai membalas
pelukanku perlahan.

“aku merindukanmu..” bisiknya lirih.

“aku juga--- sangat merindukanmu, Baekhyun-ah”

“benarkah? Aku senang mendengarnya. Kau tahu? Aku sempat benar-benar merasa lelah beberapa
waktu yang lalu. Rasanya lelah sekali sampai-sampai aku ingin tidur nyenyak dalam waktu yang cukup
lama”
“apakah itu adalah hal yang harus kudengar? Apa kau ingin bercerita bahwa sempat terlintas
dibayanganmu bahwa kau ingin pergi meninggalkanku untuk waktu yang cukup lama?”

“kenapa kau bisa berpikiran seperti itu? Aku hanya bercerita. Jika kau tidak ingin mendengarnya,
baiklah“

“anni!--- Lanjutkan..” sergahku dengan cepat.

Baekhyun tampak menghela nafas panjang. Aku tahu dia lelah. Tapi pria itu tampaknya masih bersedia
mengabulkan permintaanku.

“Di dalam mimpiku.. aku seperti tengah berada di hamparan padang ilalang yang begitu luas. Seorang
diri.. Langit tampak begitu mendung dan terdengar samar-samar suara deburan ombak yang
menghantam karang dari kejauhan. Aku berjalan menyusuri jalan setapak kecil yang berakhir di suatu
bibir tebing, tepat di ujung padang ilalang itu. Aku berharap akan mendapati kehadiran orang lain di
tempat itu. Namun aku tak menemui kehadiran siapapun di tempat itu. Semuanya terasa begitu sunyi
dan hambar. Aku sempat berpikir apakah itu semua adalah refleksi dari keegoisanku selama ini. Rasanya
aku benar-benar marah dan putus asa saat itu. Ketika aku sudah mencapai klimaks dari titik
kejenuhanku rasanya aku ingin melompat ke laut, ditelan ganasnya ombak dan melupakan segalanya
dalam waktu yang singkat kapanpun aku ingin. Menurutku itu adalah salah satu cara untuk melepaskan
segalanya dengan cara yang mudah.. Tapi seorang gadis berwajah malaikat berhasil menahanku dan
menarikku menjauh dari jurang keputusasaan itu. Tatapan sendu dari gadis itu berhasil membuatku
tersadar dari lamunan bodohku. Tatapannya seakan-akan memberikan sebuah harapan, sesuatu yang
tak akan pernah bisa kudapati dimanapun…”

Aku melapaskan pelukankanku dan mulai menatap dalam ke arah pria pemilik iris mata berwarna
cokelat caramel itu.

“Baekhyun-ah..”

“hmm?”

“aku tidak menikah..”

Raut wajah Baekhyun sedikit berubah ketika aku menyatakan kalimat tersebut, “apa maksudmu?”

“aku--- anni! Chanyeol membatalkan pernikahan kami beberapa hari yang lalu”

“Kenapa? Apa karena aku?”

Aku menggeleng, “tidak! Tapi karena aku. Karena aku masih dan tetap mencintaimu sampai kapanpun,
Baekhyun-ah. Bukankah ini semua terasa begitu tidak adil?”

“kenapa— kau tidak mengizinkanku untuk mengatakannya terlebih dahulu? Aku juga ingin
mengatakannya lebih awal dan lebih sering dari dirimu, Yoora-ya”

Mataku membulat sempurna. Apakah kalimat barusan benar-benar terucap dari bibir Baekhyun,
“benarkah? Tapi kenapa kau tidak pernah mengatakannya? Kenapa kau selalu membuatku menunggu
seperti orang bodoh? Kenapa kau tidak pernah mengungkapkannya jika kau memang benar-benar
memiliki perasaan seperti itu kepadaku? Kenapa kau hanya mengungkapkannya dalam diam? Aku
menunggumu Baekhyun-ah..”
Pandanganku terasa sedikit kabur karena banyaknya air mata yang mulai berkumpul di pelupuk mataku.
Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat untuk menahan isakkanku yang sudah kutahan sejak tadi.

Baekhyun terdiam dan menatapku dengan tatapan kecewa, “karena setelah sekian lama aku
menunggumu untuk sebuah kepastian, tiba-tiba saja kau hadir di dalam kehidupanku dengan
menyandang status baru sebagai saudara angkatku. Di dalam surat wasiat ayahmu, telah disebutkan
bahwa beliau telah meminta agar namamu dicatatkan di dalam daftar nama keluarga kami. Aku tidak
bisa,Yoora-ya.. aku tidak bisa mencintai saudaraku sendiri. Kau bukanlah dirimu yang kukenal dulu lagi,
Kau berbeda.. Tapi setelah sekian lama aku memikirkan hal itu baik-baik, akhirnya aku menyadari apa
kesalahan terbesar yang telah kuperbuat selama ini. Aku membohongi hatiku sendiri…”

Hatiku terasa begitu sakit mendengar satu per satu pernyataan yang diungkapkan Baekhyun. Aku tak
menyangka jika tadir bisa dipermainkan dengan mudahnya hanya dengan suatu kalimat yang tertulis di
selembar kertas putih. Benar-benar ironis!

“tapi sekarang sudah jelas bukan? Kau tidak lagi berpura-pura dengan hatimu. Kau bebas merengkuh
bintang itu kapan saja, Baekhyun-ah..” Baekhyun tampak mengerutkan keningnya begitu aku menyebut
kata ‘bintang’ di dalam kalimatku.

“kau.. lukisan itu---”

Aku tersenyum tipis lalu mengangguk pelan, “aku sudah melihatnya.. bagaimana bisa kau menyuruhku
untuk melihat itu semua setelah aku menikah? Aku tidak bisa, bodoh! Dan sekarang… Semuanya telah
kembali berjalan sesuai dengan alur takdir. Aku berhasil melihat jauh ke dalam relung hatimu Byun
Baekhyun. Semuanya..”

XOXO

6 month later..

AUTHOR POV

Musim gugur dan musim dingin selalu terlihat buruk di mata Yoora. Gadis itu mulai menggeliat pelan di
atas tempat tidurnya ketika udara dingin yang menusuk mulai menyeruak memasuki ruangannya dan
berhasil menyentuh permukaan kulit tubuhnya dengan mudah. Terbangun di tengah malam ataupun di
pagi buta karena udara dingin bukan lagi hal baru bagi gadis itu, tapi yang berbeda adalah adanya
kehadiran sosok lain di dalam ruangan itu. Baekhyun..

Yoora melepaskan pelukan Baekhyun pada tubuhnya dan mulai menggerakkan kakinya untuk menuruni
ranjang yang ditempatinya bersama pria itu. Namun sebuah cengkeraman pada pergelangaan
tangannya sukses menggagalkan niatnya barusan.

“kau mau kemana lagi?” ucap Baekhyun tiba-tiba masih dengan mata yang tertutup. Gadis itu menatap
pria yang telah menyandang status sebagai suaminya itu dengan tatapan malas.

“kau belum tidur”

Baekhyun membuka sebelah matanya lalu tersenyum jahil,memamerkan sederetan gigi putihnya yang
tertata rapi.
“tidak. Aku sudah tidur sejak tadi, tapi apa kau lupa jika aku begitu peka dengan setiap gerakan yang
kau buat sekecil apapun itu? Kau sedikit mengganggu tidur nyenyakku Nona Byun”

“hah, pria ini benar-benar! Sejak kapan aku pemperbolehkanmu memanggilku dengan sebutan itu?”

“aku? Tentu saja aku boleh menyebutmu dengan panggilan itu kapanpun aku ingin. Kau istriku
sekarang..”

Yora meniup poninya keras-keras karena kesal, “ya, ya, ya.. aku istrimu sekarang. Kau puas? Sekarang
lepaskan aku karena aku ingin turun”

Baekhyun tak mengabulkan keinginan gadis itu dengan begitu mudahnya. Ia menarik Yoora dengan satu
hentakan yang cukup keras sehingga tubuh gadis itu limbung dan jatuh tepat di sisi tubuhnya dengan
mudah. Sama seperti yang pernah ia lakukan dulu.

“ya! Apa yang kau lakukan Byun Baekhyun!”

“menghangatkanmu..” jawab pria itu seadanya. Yoora menghela nafas kesal.

“pernyataan macam apa itu? Alibi..”

“tidak..” Baekhyun menarik tubuh Yoora lebih mendekat lagi ke tubuhnya hingga tak menyisakan jarak
satu senti pun, lebih tepatnya merengkuhnya.

“ternyata seperti ini rasanya..”

“apa?”

“merengkuh sebuah bintang yang sebelumnya hanya bisa kuamati dari kejauhan.”

Yoora tak berkutik. Gadis itu terdiam pada posisi tubuhnya yang sekarang dengan rona merah alami
yang semakin terlihat jelas di kedua pipinya. Tanpa sadar gadis itu mulai tersenyum setelah mendapati
pernyataan dari Baekhyun barusan. Gadis itu membenamkan wajahnya ke dalam dada bidang Baekhyun
dan mulai balas memeluk tubuh pria yang tengah terbaring di sisinya itu.

“aku bukan bintang. Kau terlalu berlebihan Baekhyun-ah..”

Yoora masih tersenyum. Gadis itu mendekatkan telinganya ke arah dada Baekhyun, tepat dimana
jantung pria itu berdetak dengan irama yang teratur setiap detiknya. Dan ia menyukainya..

“kau suka..”

“apa?”

“detak jantungku” Yoora terdiam. Tampaknya pria yang tengah memeluknya itu mengerti apa yang
sedang dipikirkannya. Gadis itu selalu berusaha memutar otaknya setiap kali berada di dekat Baekhyun
agar apapun yang ia lakukan tidak mudah ditebak oleh pria itu. Namun sia-sia. Baekhyun tampaknya
jauh lebih pintar darinya. Dan bahkan, apa yang masih berada di dalam pikirannya pun dapat dengan
mudah ditebak oleh Baekhyun. Yoora memilih diam dan mengakui kebenaran tersebut di dalam
keheningan.

Baekhyun mengecup puncak kepala gadis itu singkat, “aku mencintaimu, Kim Yoora..”
Gadis itu terdiam. Di dalam diam, perlahan Yoora mulai mengulum sebuah senyuman khas di wajahnya,
“aku lebih mencintaimu lagi, Byun Baekhyun..” ucapnya sambil berpaling ke arah lain. Tampaknya gadis
itu agak tersipu. Melihat hal itu, Baekhyun tersenyum simpul lalu mengacak rambut Yoora dengan
gemas pada detik berikutnya. Membuat gadis itu berdecak kesal dan balas mengacak rambut Baekhyun.

“aku rasa kau lebih mahir mengatakannya ketika kau masih berada di bangku sekolah dulu” sindir
Baekhyun, lengkap dengan smirk khas menyebalkan yang sempat menghiasi wajahnya sesaat. Yoora
menyipitkan matanya, menatap tajam ke arah Baekhyun lalu meniup sebagian poni yang menutupi
wajahnya dengan keras.

“aishh jinjja.. rasanya aku benar-benar ingin musim semi segera tiba. Aku benci udara dingin seperti ini.”
Yoora melepaskan pelukan erat Baekhyun dengan sekali hentakan, lalu bagkit dari posisi tidurnya
dengan cepat. Benar-benar tidak memberikan kesempatan sedikitpun kepada Baekhyun untuk kembali
menariknya ke dalam pelukan mengerikan yang dimiliki pria itu.

Yoora menyingkap sebagian gorden yang menutupi sebuah jendela besar yang bertengger megah pada
salah satu sisi ruangan yang ditempatinya, mencoba mengintip ke luar dan mencari tahu apakah sang
penguasa siang sudah mulai menampakkan dirinya di ufuk timur. Hanya sesaat, kemudian ia kembali
mengalihkan pandangannya pada Baekhyun.

“ingin pergi jalan-jalan denganku?”

“hm?” Baekhyun mengangkat sebelah alisnya dan menatap gadis itu dengan pandangan bertanya.

“ayolah.. ini Inggris. Kurasa pemandangan musim gugur di tempat ini bukanlah sesuatu yang buruk.
Walaupun aku benci dingin, aku tetap menyukai musim gugur di tempat ini karena kuakui jika itu cukup
indah..”

“beri aku morning kiss terlebih dahulu, maka aku akan bangun” ucap Baekhyun dengan santai.
Mendengar hal itu Yoora langsung membulatkan kedua matanya dengan sempurna lalu melemparkan
bantal sofa yang berada tak jauh darinya itu, tepat ke wajah Baekhyun.

“dasar mesum! Cepat bangun atau aku akan menindihmu sampai kau kehabisan nafas” ucap Yoora
dengan tegas sebelum ia beranjak pergi. Baekhyun hanya menanggapi ucapan istrinya itu dengan
kekehan singkat lalu bangkit dari posisi tidurnya dan mulai berjalan mengekor di belakang Yoora.

Udara pagi kota London mulai terasa sedikit hangat begitu cahaya matahari pucat mulai membakar
tebalnya kabut pagi saat itu. Kumpulan awan yang tampak seperti kawanan biri-biri itu terlihat
menghiasi hamparan langit biru yang luas, memberikan kesan bahwa hari ini pasti akan cerah.
Sederetan pohon maple yang tengah merubah warna daunnya menjadi merah dan kuning itu tampak
menggugurkan daunnya di sepanjang jalanan yang dilewati oleh beberapa pejalan kaki.
Baekhyun menarik jemari mungil Yoora dan mulai menggenggamnya dengan erat. Berjalan di tengah
Greenwich park saat musim gugur adalah salah satu hal yang tepat untuk mereka berdua.

“sudah kubilang, tempat ini indah bukan?”

“tidak buruk..”

“hanya itu? Hah, sudah kuduga responmu akan seperti ini..”

“tidak. Aku hanya bercanda..” Baekhyun melingkarkan lengannya di bahu Yoora, berusaha
mengembalikan senyum cantik yang sempat hilang dari wajah gadis itu. Dan berhasil.

“kau benar-benar menyebalkan Byun Baekhyun! Ah, ada bebek!” Yoora menunjuk angsa yang tengah
berenang di sebuah danau buatan dan menyebutnya ‘bebek’ dengan wajah polos.

“dasar bodoh! Kau tidak akan menemukan bebek di tempat ini. apakah kau tidak bisa membedakan apa
itu angsa dan apa itu bebek?”

“apa itu penting? Tidak peduli itu angsa atau bebek, mereka tetap satu spesies yang sama. Jika aku lebih
senang menyebutnya bebek, kau mau apa?”

“hah, gadis ini benar-benar!”

Tiba-tiba Baekhyun menggenggam kedua tangan Yoora lalu berlutut tepat di hadapan gadis itu dengan
sangat yakin. Ia tidak tersenyun, manik mata gelapnya yang menawan memandang lurus tepat ke dalam
mata Yoora.

“Ya! Ap.. apa yang kau lakukan? Semua orang melihat ke arah kita”

Baekhyun mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku mantelnya lalu kembali menatap gadis itu dengan
pandangan pasti.

“Yoora-ya, lihat dan dengarkan aku baik-baik” Baekhyun tampak menarik nafas panjang sebelum ia
melanjutkan kalimat yang akan diutarakannya itu, “Apakah kau tahu jika aku benar-benar ingin
melakukan hal ini sejak lama? Karena kesibukanmu dan kesibukanku, kita hanya bisa mendaftarkan
pernikahan kita di Gucheong tanpa sempat mengucapkan janji suci seperti yang hendak kau lakukan
bersama Chanyeol beberapa waktu yang lalu. Maka dari itu aku akan melakukannya di sini”

“apa maksudmu? Aku---“

Baekhyun membuka kotak kecil tadi dan menunjukkan sebuah cincin dengan motif sederhana yang
tampak begitu elegan itu kepada Yoora.

“menikahlah denganku..”

“…”

“di sini, di hadapan Tuhan aku memintamu menjadi teman seumur hidupku. Menjadi mempelai
wanitaku satu-satunya, dan hidup bersamaku dalam pernikahan suci ini seumur hidupku. Mengasihimu
sama seperti aku mengasihi diriku sendiri, mengasuh dan merawatmu, menghormati dan
memeliharamu dalam keadaan susah dan senang, dalam keadaan kelimpahan atau kekurangan, dalam
keadaan sakit dan sehat dan setia kepadamu kita berdua hidup. Menjaga kesucian perkawinan kita ini
sebagai suami yang setia dan takut akan Tuhan sepanjang hidup kita..”

Yoora kehilangan kata-kata. Lidahnya terlalu kelu untuk dapat digerakkan karena rasa bahagia yang
memuncak itu seakan membatasi ruang bernafasnya.

“kau tahu, aku bukanlah tipe pria yang romantis. Aku tidak suka dengan segala sesuatu yang begitu
berlebihan, itu sebabnya aku terus mencintaimu dalam diam meskipun aku tahu bahwa itu adalah hal
yang bodoh. Dulu, terlalu sulit bagiku untuk dapat mengucapkan kalimat ‘aku mencintaimu’ kepada
seorang gadis yang sebenarnya sudah kuketahui dengan jelas bahwa ia mencintaiku, padahal ini adalah
sebuah kalimat yang begitu sederhana. Tapi sekarang aku akan mencoba mengatakannya sesering
mungkin kepadamu. Ini adalah lukisan terakhir tentang dirimu yang kubuat di dalam hidupku. Lukisan
setengah jadi yang pernah kau lihat dulu dan aku mengacaukan segalanya. Aku melukiskan adegan ini
dengan segenap hatiku dan mencoba sebisa mungkin untuk merefleksikannya ke dalam realita. Maafkan
aku karena terlalu lama membuatmu menunggu dan terlalu lama menyakitimu. Aku mencintaimu Kim
Yoora..”

“Baekhyun-ah..”

“apakah kau bersedia menerimaku sebagai suamimu dengan segala kekurangan yang kumiliki ini?”

Yoora terdiam, ingin sekali di dalam benaknya untuk bisa mengulum sebuah senyum cantik yang dapat
ia tunjukkan kepada pria itu, namun yang ada hanyalah sebuah senyum tipis yang terkesan begitu
sendu.

“aku..”

“…”

Yoora mengangguk pasti, “Aku bersedia Byun Baekhyun.. aku bersedia menerimamu sebagai suamiku
dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Menyayangimu dengan segenap hatiku, mengasihi dan
merawatmu dalam duka sekalipun. Mendukungmu dan memberimu semangat, melahirkan anak-
anakmu. Menyelipkan pedangmu di kala kau pergi berperang, dan menjadi selimutmu di kala kau lelah
dan rebah. Menjaga kesucian perkawinan kita ini sebagai istri yang setia dan takut akan Tuhan
sepanjang hidup kita,” ucap Yoora pada akhirnya. Entah apa yang telah merasuki jiwa gadis itu sehingga
dengan mudah ia bisa mengucapkan janji suci yang nyaris, sempat hampir ia ucapkan kepada orang lain
itu.

Baekhyun tersenyum simpul. Ia menyelipkan cincin tadi ke dalam jari manis Yoora dan menciptakan
sebuah pemandangan yang sempurna di sana. Pria itu bangkit berdiri dan menatap lekat gadis yang
tengah tersenyum lembut kepadanya itu dengan tatapan dalam.

“setelah sampai di Seoul nanti, semuanya akan jelas. Aku ingin mendengarkanmu mengucapkan janji
suci itu sekali lagi di depan altar. Di hadapan Tuhan dan seluruh jemaatnya. Ayahku dan ibuku, Chanyeol
dan Soojin, teman kita dan kerabat kita, semuanya akan terlihat jelas bahwa kita adalah sepasangan
suami istri yang sah dihadapan Tuhan..” Yoora mengangguk. Dengan gerakan halus Baekhyun meraih
dagu gadis itu dan mulai mendaratkan kecupan lembutnya di bibir merah cherry itu perlahan. 1 detik.. 2
detik.. 3 detik.. Kecupan singkat namun terkesan berarti itu diakhiri Baekhyun dalam selang waktu tiga
detik. Tiga detik adalah angka yang berarti, karena hanya dalam tiga hitungan itu Baekhyun mampu
jatuh cinta kepada gadis lembut yang berada di hadapannya saat itu.
“di dalam diam bukan berarti aku tidak bisa mengungkapkan apa-apa..”

“dan di dalam diam bukan berarti aku tidak mengetahui apa pun..”

“saranghae..”

Angin musim gugur berhembus lembut hari ini. Menerbangkan rerontokan daun pepohonan yang
mengering dan menyapu debu halus yang tidak kasat mata. Sesekali tampak anak-anak bunga dandelion
yang ikut melayang bersama hembusan angin yang membawa aroma pinus dan bunga krisan yang
selalu hadir di hari-hari penghujung musim gugur yang singkat. Bersamaan dengan itu semua, banyak
pula mimpi yang ikut terbang dan melayang bersama angin. Terbang ke suatu tempat di mana mimpi-
mimpi itu akan terwujud sesuai dengan alur takdir yang telah digariskan, seperti dandelion..

FIN

Anda mungkin juga menyukai