Dinamika Seni Ukir Jepara 1989-2008
Dinamika Seni Ukir Jepara 1989-2008
RINGKASAN SKRIPSI
Oleh :
DAMAS PRASTIYAN
12406244015
ABSTRAK
Jepara terkenal dengan sebutan Kota Ukir, karena industri seni ukir
banyak terdapat di Jepara. Pemerintah memberikan peranan dalam jalananya
industri seni ukir. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui berdirinya
Industri seni Ukir Jepara (2) mengetahui perkembangan Industri seni Ukir pada
tahun 1989-1998 (3) mengetahui perkekembangan Industri seni Ukir pada tahun
1998-2008.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah menurut
Kuntowijoyo yang terdiri dari beberapa tahapan. Tahap pertama ialah menentukan
topik penelitian. Tahap dua ialah heuristik atau pengumpulan sumber. Tahap
ketiga verifikasi atau kritik sumber. Tahap keempat ialah interprestasi atau
menafsirkan fakta-fakta sejarah yang ditemukan. Tahap kelima atau terakhir ialah
historiografi atau penulisan sejarah.
Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Industri seni Ukir Jepara
dimulai sejak masa Ratu Kalinyamat dengan bukti banyaknya hiasan ukiran yang
berada pada dinding Masjid mantingan yang merupakan peninggalan beliau.
Ketika pada masa R.A Kartini dan kedua adiknya, Rukmini dan Kardinah melihat
seni ukir hanya sekedar seni yang belum bisa memberikan dampak ekonomis
pada masyarakat yang membuatnya. Langkah yang dilakukan R.A Kartini dengan
adiknya yaitu mereka mengenalkan hasil dengan menulis surat kabar dikenalkan
pada sahabatnya di Belanda serta mengenalakan kepada kepala daerah teman
ayahnya. (2) Pada masa sebelum reformasi bisa dikatakn sebagai masa awal
Industri seni ukir Jepara dikenal banyak konsumen dari luar negeri. Dikenalnya
Industri seni ukir Jepara ini akibat dari jerih payah pemerintah yang mengadakan
pameran di Bali dan pameran lainnya. Pemerintah juga mendukung dengan
bantuan modal agar Industri seni Ukir Jepara tetap menjadi penopang kehidupan
masyarakat dan jadi identitas Jepara. (3) Pengaruh dampak reformasi yang terjadi
di Indonesia juga bedampak pada Industri seni Ukir Jepara. Industri seni Ukir
Jepara mengalami kenaikan pesat pada periode reformasi karena banyaknya bahan
baku hasil penjarahan serta munculnya pengusaha-pengusaha baru. Pesatnya
Industri ini juga dipengaruhi oleh nilai tukar Rupiah rendah sehingga orang luar
negeri melihat produk Industri seni Ukir ini murah. Industri ini tidak bisa bertahan
lama pada posisi atas karena tidak ada kesetabilan penggunaan bahan baku dan
kurang jelinya perhitungan biaya oleh para pengusaha.
Kata Kunci: industri, seni, ukir, Jepara,
I. PENDAHULUAN
1
Gustami S.P, Seni Kerajinan Meubel Ukir Jepara: Kajian Estetika Melalui
Pendekatan Multidisiplin, (Yogyakarta: Kanisius, 2000), hlm. 1.
2
Pemerintah Kabupaten Jepara, Buku Analisis: Penanganan Masalah Budaya
Lokal Seni Ukir Kabupaten Jepara, (Jepara: 014), hlm. II-1.
3
Priyanto Hadi, dkk. Mozaik seni ukir Jepara. (Semarang. Lembaga pelestarian
seni ukir, batik, dan tenun Jepara. 2013), hlm. 22
adalah salah satu pengerajin seni ukir yang dibimbing oleh R.A Kartini
secara langsung untuk mengembangkan seni ukir, hal ini merupakan
terobosan yang sangat berarti bagi masyarakat Jepara yang mayoritas
pengerajin seni ukir. Sebelum melakukan promosi secara luas, R.A.
Kartini membimbing para pengerajin untuk meningkatkan kualitas hasil
kerajinan mereka, dan menambah motif-motif pada seni ukir dan jenis-
jenis barang baru.4
Peranan pemerintah daerah dalam membina dan memfasilitasi
masyarakat Jepara, yang sebagian besar pengerajin ukir kayu sangat
dibutuhkan, agar kebijakan optimalisasi industri ukir kayu mampu
mendorong tumbuhnya dinamika industri, terhadap perubahan sosial
budaya masyarakat Jepara. Sumber daya manusia dalam penguasaan
teknologi khususnya keterampilan ukir perlu menjadi prioritas semua
pihak, khususnya pemerintah. Penguasaan teknologi yang mendukung
pada keterampilan ukir diharapkan dapat mengoptimalkan kemampuan
untuk menghasilkan produk yang bermutu dan berdaya saing tinggi dalam
kompetensi pasar global.5
Melihat perhatian pemerintah terhadap industri ukir Jepara dapat
dikatakan kebijakan yang dilakukan pemerintah sangat dibutuhkan oleh
para pengusaha industri. Berjalannya suatu usaha tidak terlepas dari
kebijakan pemerintah yang melakukan terobosan, agar usaha seperti seni
ukir bisa berkembang, seperti penyebaran undangan terhadap pembeli dari
luar negeri melalui berbagai macam pameran mulai berbuah hasil. Pada
tahun 1990, Jepara mulai menarik perhatian pembeli dari beberapa benua,
seperti Eropa, Amerika dan Asia. Pada umumnya mereka memiliki modal
dan menguasai pasar serta menguasai selera konsumen.6
4
Ibid. hlm. 192
5
Pusat Studi Kebudayaan UGM, Inventarisasi Perlindungan Karya Budaya Seni
Ukir Kayu Jepara, (Yogyakarta: BPNB Yogyakarta, 2013). hlm. 22
6
Priyanto Hadi, dkk, [Link],.hlm. 209
A. Kajian Pustaka
Pada penelitian “Dinamika Industri Kerajinan Seni Ukir
Jepara (1989-2008)” penulis menggunakan beberapa buku sebagai
acuan teoritis yang terkait dengan penelitian ini.
Latar belakang berdirinya industri seni ukir Jepara dikaji dengan
buku yang relevan. Buku pertama berjudul “ Seni Kerajinan Mebel Ukir
Jepara (2000) ” , karya Sp. Gustami, membahas tentang seni ukir
Jepara yang sebelumnya hanya sekedar kerajinan rumah, yang belum
bisa memberikan pengasilan bagi pengerajin itu sendiri. Pada masa R.A
Kartini seni ukir Jepara diubah menjadi suatu industri yang dapat
memberikan kehidupan bagi pengerajin, selain itu dilakukan
pengenalan kerajian seni ukir Jepara kepada masyarkat luar, hingga
kepada teman-teman R.A Kartini yang berada di luar negeri. Selain itu
diadakan pameran yang bertujuan memperkenalkan seni ukir dan
membuka pasar untuk para pengerajin itu sendiri.
Buku kedua membahas latar belakang berdirinya industri seni
ukir Jepara, berjudul “Risalah dan Kumpulan Data tentang
Perkembangan Seni Ukir Jepara(1979)”, karya Abdul Kadir. Buku ini
membahas tentang seni ukir Jepara, dari sekedar kerajinan biasa
menjadi industri yang bisa membantu perekonomian para pengerajin.
Buku ini juga memaparkan proses pengindustrian atau pengenalan seni
ukir itu sendiri dengan berbagai cara.
Selanjutnya, rumusan masalah perkembangan industri seni ukir
Jepara pada masa sebelum reformasi (1989-1998) dan pasca reformasi
(1999-2008),. Buku yang digunakan yaitu “Mozaik seni ukir Jepara
2013”, karya Hadi Priyanto dkk. Buku ini membahas perkembangan
industri seni ukir Jepara sebelum reformasi, adanya kebijakan-
kebijakan pemerintah untuk industri seni ukir ini agar terus dikenal dan
terkenal, sehinga memberikan masukan ke pemerintah. Kebijakan-
kebijakan yang diberikan pemerintah kepada pengusaha industri seni
ukir ini antara lain, pameran dan membuat lembaga-lembaga yang
menaungi industri ini. Buku ini juga membahas industri seni ukir
sampai pada saat reformasi dan pasca reformasi. Buku ini juga
memberikan informasi mengenai hasil dari karya-karya pengerajin yang
dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah.
Buku kedua yang digunakan berjudul “Menunggang Badai:
Untaian Kehidupan, Tradisi dan Kreasi Aktor Mebel Jepara (2010)”,
karya Herry Purnomo, dkk. Buku ini membahas tentang beberapa
pengalaman para pengusaha industri seni ukir Jepara, sebelum tahun
1990 sampai tahun 2010. Buku ini menjelaskan pengalaman para
pengusaha, memaparkan tentang industri seni ukir dari pemasaran hasil
pengerajin, dampak reformasi terhadap industri seni ukir, sampai
kebijakan pemerintah. Dampak reformasi 1998 yang membuat Jepara
menjadi semakin populer karena seni ukirnya, akan tetapi di awal tahun
2000 mulai menurun, dan hal ini tidak terlalu di sadari oleh para
pengerajin seni ukir di Jepara.
B. Metode Penelitian
Menurut Kuntowijoyo, penelitian mempunyai lima tahap, yaitu:
(1) pemilihan topik, (2) pengumpulan sumber, (3) verifikasi (Kritik
sejarah, keabsahan sumber), (4) interpretasi: analisis dan sintesis, dan (5)
penulisan (historiografi).7
Pengumpulan sumber atau heuristik dibagi dua, yaitu sumber primer
dan sekunder. Sumber primer berasal dari wawancara pengusaha seni
ukir Jepara. Sumber sekunder berasal dari berbagai macam literatur baik
buku, majalah maupun karya ilmiah.
Verifikasi atau kritik sumber dilakukan setelah sumber-sumber
yang diperlukan terkumpul. Kritik diperlukan untuk validitas atau
keabsahan dari sumber yang diperoleh, sehingga hasil penelitian bisa
dipertanggungjawabkan. Tahapan selanjutnya adalah Interpretasi , yaitu
7
Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah,( Yogyakarta: Tiara Wacana, 2013),
hlm. 69.
menetapkan makna yang saling berhubungan dari fakta-fakta yang
diperoleh setelah dilakukan kritik sehingga dapat memberikan kesatuan
berupa bentuk peristiwa lampau, yang dalam hal ini tentang dinamika
industri kerajinan seni ukir Jepara tahun 1989-2008.
II. PEMBAHASAN
A. Latar Belakang Berdirinya Industri Seni Ukir Jepara
1. Profil Kota Jepara
Kabupaten Jepara mempunyai luas sekitar 100.413.189 Ha
yang meliputi 16 Kecamatan, 184 Desa. Di sebelah Utara dan Barat
berbatasan dengan Laut Jawa, di sebelah selatan berbatasan dengan
Kabupaten Demak, sedangkan di sebelah timur dengan Kabupaten
Pati dan Kudus. Lebih dari 95% wilayah Kabupaten Jepara berada di
daratan Pulau Jawa, sedangkan sisanya merupakan gugusan pulau
yang dikenal dengan Karimunjawa.8
Jepara memiliki topografi antara 0-1.301 m di atas
permukaan laut. Kondisi daratan sebagian merupakan daratan rendah,
pantai dan daratan tinggi yang terletak di sekitar Gunung Muria dan
Gunung Clering. Penduduk Kabupaten Jepara lebih dari satu juta jiwa,
dengan proporsi yang hampir seimbang antara laki-laki dengan
perempuan. Penyebaran penduduk hingga ke bagian barat dan selatan
Kabupaten Jepara, selain itu juga ada di bagian timur Kabupaten, yaitu
di sekitar Gunung Muria dan Pantai bagian Utara.9 Sedangkan
8
Pemerintah Kabupaten Jepara, Buku Analisis: Penanggulangan Maslah
Budaya Lokal Seni Ukir Kabupaten Jepara. (Jepara: Pemerintah Kabupaten Jepara,
2014), hlm. II-2
9
Ibid, [Link]-3
dibagian Timur Kabupaten tidak terlalu padat karena masih banyak
hutan.
Jepara memiliki garis pantai sepanjang 72km yang
membentang di 32 desa, mulai dari Kabupaten Demak sebelah Selatan
sampai perbatasan Kabupaten Pati di sebelah Utara. Garis pantai
tersebut, belum termasuk Kecamatan Kepulauan Karimunjawa yang
terdiri dari 27 pulau besar hingga kecil. Luas daratan kepulauan
Karimunjawa adalah 7.120ha dengan ketinggian 0-506m dari atas
permukaan laut. Sebagian besar daratan merupakan daerah hutan
tropis, dan kawasan pantai ditumbuhi oleh hutan bakau.10
Jepara yang berada di bagian paling utara pulau Jawa, tidak
dilewati oleh jalur transportasi Pantura, yang merupakan jalur
ekonomi terbesar di pulau Jawa. Namun Jepara mampu memanfaatkan
potensi sumber daya yang dimiliki, serta mengubahnya menjadi
kekuatan perekonomian daerah. Hal ini membuat Jepara mampu
mensejajarkan ekonomi dengan daerah-daerah lain, bahkan dalam
beberapa sektor Jepara jauh lebih maju dibandingkan daerah lain.11
Industri yang mampu mengangkat dan menjadi kekuatan Kabupaten
Jepara antara lain Industri, pertanian dan kehutanan.
2. Latar belakang Berdirinya Seni Ukir Sampai Menjadi
Industri
Perkembangan kerajinan seni ukir kayu Jepara tidak terlepas
dari peninggalan seni ukir yang terdapat pada dinding-dinding Masjid
dan Makam Mantingan, yang merupakan hasil karya seni ukir dan
memilki kualitas cukup tinggi.12 Dinding masjid ini dihiasi oleh
berbagai ornamen ukiran, yang terbuat dari batu karang putih. Panil-
panil dindingnya dihiasi relief-relief bundar, bujur sangkar, persegi
10
Drs. Soenarto, MM, Jepara Surga Industri Mebel Ukir. (Jepara: Pemerintah
Kabupaten Jepara Kantor Informasi dan Komunikasi, 2002), hlm.8
11
Ibid, hlm.11
12
Ibid,.hlm. 35
panjang yang jumlahnya mencapai 114 buah motif13, hiasannya
berupa bunga teratai dan hewan yang telah disesuaikan dengan nilai
budaya islam.14
Ornamen Mantingan dibuat oleh Patih Sungging Badar
Duwung atau Chi Hui Gwan yang berasal dari Tiongkok, namun dia
tidak mengerjakan sendiri.15 Para pengikut Sunan Haldirin dan Ratu
Kalinyamat juga ikut berperan dalam pembuatan ornamen tersebut.
Hiasan ornamen Mantingan telah menjadi inspirasi bagi para
pengerajin ukir Jepara untuk meniru, mengembangkan dan
menerapkan pada benda-benda lain. Pada awalnya pengerajin, tukang
kayu, tukang perkakas dan hiasan menerapkan pada gerabah saja
untuk menerapkan seni ukir. Mereka menghasilkan kebutuhan hidup,
mengembangkan macam-macam motif hias seni ukir dan mebel yang
bakal dibantu mengembangkan oleh R.A Kartini.16
Ketika membahas seni ukir kayu Jepara, maka tidak terlepas
dari R.A Kartini, tokoh satu ini adalah putri bangsawan dari Jepara,
beliau juga selalu bersama dua saudara perempuannya, yaitu Kardinah
dan Rukmini. Hal ini membuat mereka bertiga dikenal dengan sebutan
tiga bersaudara, yang memperhatikan nasib para rakyatnya.
Masyarakat Jepara pada masa R.A Kartini belum menadapatkan
pendidikan yang cukup, dan kondisi sosial ekonominya benar-benar
memprihatinkan, sehingga timbul hasrat R.A Kartini untuk
mengangkat nasib para rakyatnya dan memajukan nasib bangsanya.17
Perhatian R.A Kartini terhadap budaya bangsa terlihat dari
usahanya dalam mengembangkan bidang-bidang kesenian.
13
Lihat lampiran hal 2-4 ,. hlm. 67
14
Priyanto Hadi, dkk. [Link],.hlm. 22
15
Ibid,.
16
Gustami S.P, Seni Kerajinan Meubel Ukir Jepara: Kajian Estetika Melalui
Pendekatan Multidisiplin, (Yogyakarta: Kanisius, 2000).hlm.101
17
Abdul Kadir,. [Link]. hlm. 47
Keterlibatan R.A Kartini dalam mengembangkan kesenian tidak
diragukan lagi, terlihat dalam pembinaan kesenian salah satunya yaitu
seni ukir.18 Sebelumnya R.A Kartini melihat ketimpangan keadaan
yang terjadi pada pengerajin seni ukir, beliau berharap ada perbaikan,
sehingga para pengerajin mendapatkan penghasilan yang lebih layak
sesuai dengan karya yang dihasilkan. Pada kenyataannya hasil karya
yang berkualitas dan indah, belum dihargai sebagaiman mestinya.
Pengerajin hanya mendapatkan upah yang rendah. 19
Kondisi yang dialami masyarakat Jepara membuat R.A
Kartini berusaha mencari jalan keluar, agar para pengerajin bisa
berubah dari kondisi sebelumnya, menjadi lebih baik. Ada dua cara
yang dilakukan R.A Kartini untuk mengembangkan seni ukir Jepara,
pertama dengan mempromosikan potensi seni ukir Jepara dengan
tulisan-tulisanya, dalam bentuk prosa yang berjudul Van een
Vergenten Uithockje atau Pojok yang dilupakan serta di ceritakan
kepada sahabat lewat surat atau secara langsung.20
Langkah kedua yang dilakukan oleh R.A Kartini yang sangat
monumental bagi perkembangan seni ukir Jepara, adalah keberanian
untuk mengumpulkan para pengerajin seni ukir dari Belakang
Gunung21. R.A Kartini meminta kepada para pengerajin, untuk
membuat barang-barang ukuran kecil seperti kotak rokok, tempat
perhiasan dan berbagai souvenir. Tidak lama kemudian, produksi
ditingkatkan dengan membuat barang-barang seperti meja, kursi,
lemari dan tempat tidur. R.A Kartini telah mengubah Seni ukir yang
telah melekat pada Kota Jepara dan menjadi bagian dari keterampilan
18
Gustami S.P [Link],.hlm. 111
19
Abdul Kadir,. [Link],.hlm. 48
20
Hadi Priyanto. Kartini: Pembaharu Peradaban. (Jepara:Tim Penggerak PKK
Kab. Jepara, 2010 ),. hlm. 207
21
Belakang Gunung merupakan wilayah yang terdapat banyak perajin seni ukir
yang sekarang wilayah tersebut bernama sentra industri seni patung dan uki jepara.
Wawancara dengan Bapak Hadi Priyanto,. Jepara, 22 November 2016
masyarakat Jepara, yang sudah menemukan jalan terang serta
mengangkat taraf hidup para pengerajin secara luas. Semua barang
laku terjual dengan harga yang lebih mahal dari yang mereka jual
sendiri.22
Barang-barang yang telah selesai dibuat pengerajin seni ukir
dan siap dipasarkan, dijual ke Semarang dan Jakarta, agar masyarakat
dilain daerah mengetahui bahwa penduduk Jepara pandai membuat
barang ukiran yang indah dan bermanfaat. Semua barang terjual
dengan harga yang tinggi ketika di distribusikan di luar kota, jika
dibandingkan di kota Jepara sendiri. Hasil penjualan barang
diserahkan kepada para pengerajin, setelah dipotong biaya transport
dan lain-lain. Setelah merasakan kondisi yang seperti ini para
pengerajin semakin giat membuat kerajinan karena banyak pesanan
datang.23
Para pengerajin juga mendapatkan pesanan kotak dengan
ukiran cerita wayang dari Bupati-Bupati Jawa dan Madura, yang
kelak akan digunakan untuk panel foto. Panel ini akan
dipersembahkan kepada Sri Ratu Belanda. R.A Kartini mengkreasikan
kotak-kotak tersebut, dengan memadukan hiasan perak sehingga
menjadi hasil kerajinan tangan yang sangat indah. Barang-barang
yang sudah jadi kemudian dikirim ke berbagai kota besar melaui
sahabat-sahabatnya. Keterampilan yang dimiliki para pengerajin dapat
meningkatkan kesejahteraan dari produk yang dijual.24 Ternyata
ukiran Jepara sangat digemari oleh konsumen.25 Hal ini membuktikan
bahwa R.A Kartini sangat berpangaruh terhadap mengembangkan seni
ukir.
22
Ibid., hlm. 208
23
Abdul Kadir,. [Link],.
24
Priyanto Hadi, dkk,. [Link],.hlm.191
25
Hadi Priyanto. Kartini: Pembaharu Peradaban., [Link].208
B. Perkembangan Industri Kerajinan Seni Ukir Jepara Pada Masa
Sebelum Reformasi(1989-1998)
1. Peran Pemerintah Dalam Bidang Industri ukir Jepara
Sebelum Reformasi
Pada tahun 1989 Bupati Jepara, Hisom Prasetyo beserta
jajaran pemerintah dan Asmindo Komda26 ingin melalukan hal yang
bisa membuat industri ukir Jepara bisa menembus pasar internasional.
Cara yang ingin ditempuh yaitu dengan cara pameran untuk
mengenalkan produk-produk ukir Jepara kepada dunia. Keinginan
untuk melakukan pameran itu terkendala anggaran yang terbatas
anggaran. Melalui Susilo Sudarman yang pada waktu itu menjabat
Menteri Pariwisata dan Telekomunikasi menwarkan keinginan
tersebut pada Gubernur Bali yang secara spontan menyambut baik dan
bersedia menjadi tuan rumah pameran.27
Asmido Komda sebagai mitra Pemerintah secara konsisten
memasarkan produk-produk Mebel Jepara. Pemerintah juga
melakukan kunjungan kerja dengan negara-negara seperti korea,
Denmark dan Jerman. Hal ini dilakukan untuk menjalin investasi
pengusaha asing yang mempunyai modal dan mengusai pasar
internasional. Mulai tahun 1990 para pembeli dan pengusaha asing
mulai berdatangan ke Jepara. mereka berdatangan dari korea,
Denmark dan Jerman karena pemerintah sebelumnyamelakukan
kerjasama sehingga mereka pun datang ke Jepara.28
Pada tahun1992-1998, BUMN memberikan bantuan dana
dalam bidang permodalan lewat kredit lunak. Disamping itu berbagai
26
Asmindo adalah wadah bagi pengusaha industri permebelan dan kerajinan
Indonesia, industri bahan setengah jadi dan bahan baku yang berhubungan erat dengan
industri permebelan itu sendiri. Herry Purnomo, Rika Harini Irawati dan Melati,
Menunggang Badai : Untaian Kehidupan, Tradisi dan Kreasi Aktor Mebel Jepara.
(Bogor: CIFOR 2010). hlm. 93
27
Priyanto Hadi, dkk. Mozaik seni ukir Jepara. (Jepara: Lembaga pelestarian
seni ukir, batik, dan tenun Jepara, 2013). Hlm. 203.
28
Ibid,.hlm. 208
kemudahan diberikan oleh berbagai lembaga perbankan yang ada di
Jepara. Bahkan didirikan money charger untuk membantu para pelaku
industri ukir di Jepara yang notabene pengusaha asing dan pembeli
asing yang sudah masuk.29
Pada periode yang sama pemerintah memberikan pelatihan
terhadap pelaku industri ukir Jepara. pelatihan ini dibiayai oleh APBD
II maupun APBD I dengan materi manjemen Usaha kecil,
Kewirausahaan dan Manajemen pemasaran. Disamping diadakannya
pelatihan, juga dibukanya klinik konsultasi bisnis secara gratis yang
merupakan hubungan informasi, konsultasi dan advokasi bisnis secara
profesional.30
Peran pemerintah tidak hanya memberikan bantuan modal
dan kegiatan pameran maupun pelatihan terhadap pelaku industri ukir
Jepara. kebijakan pemerintah daerah Tingkat II Jepara juga
membangun sarana penunjang yaitu dengan memperbaiki jalan-jalan
yang kurang bagus, terutama jalan desa menuju kota. Jalan merupakan
hal penting dalam menjalankan roda perekonomian, khusu untuk
dunia industri ukir Jepara yang sangat berpengaruh dengan bagus
tidaknya jalan karena jalan mempercepat atau memperlambat
pengiriman hasil industri ukir maupun pengiriman bahan baku.31
Pemerintah mendirikan Lembaga Pendidikan Tinggi yang
saat ini dikelola oleh Yayasan Pendidikan Nahdlatul Ulama untuk
menunjang pekerja industri ukir Jepara. Lembaga Pendidikan Tinggi
ini didirikan pada tahun 1993. Lembaga ini memiliki dua jurusan yaitu
jurusan menejemen industri kayu dan desain interior. Untuk
menampung anak-anak yang putus sekolah pemerintah memberikan
ruang untuk mereka didik keterampilan mengukir. Pendidikan yang
29
Pemerintah Kab. Jepara. Sejarah dan Perkembangan Seni Ukir Jepara. (Jepara:
Pemerintah Kab. Jepara 1999).hlm. 23
30
Ibid.
31
Ibid,.hlm. 25
dinamakan Kelas Pembangunan ini memilki masa pendidikan selama
satu tahun.32
Mengingat seni ukir Jepara yang menggunakan bahan baku
dari kayu.33 Pada tahun 1998 yang bersamaan dengan krisis moneter,
kemelut politik dan keamanan yang terjadi di Indonesia tapi di Jepara
tidak berpengaruh dalam hal mendapatkan bahan baku kayu.
Kebanyakan bahan baku kayu yang didapat para pelaku industri ukir
diperoleh dari penjarahan kayu diberbagai daerah karena gelombang
reformasi mengakibatkan suasana yang tidak [Link] harga
kayu pun murah dan melimpah.34
32
Ibid,.hlm. 27
33
Pemerintah Kabupaten Jepara, Buku Analisis: Penanggulangan Maslah Budaya
Lokal Seni Ukir Kabupaten Jepara. (Jepara: Pemerintah Kabupaten Jepara, 2014), hlm.
IV-9
34
Priyanto Hadi, dkk. [Link]. hlm. 214
35
Ibid,.hlm. 204
setelah itu pemerintah mengadakan pameran di Jepara dengan nama
Jepara fair yang di ikuti 81 stand terdiri 51 stand industri ukir dan
lainya kerajinan lain. Pameran yang dilaksanakan di pendopo
Kabupaten ini sangat memberikan wawasan bahwa para pelaku
industri ukir menyadari pentingnya mata rantai promosi dalam
mengembangkan usahanya. Secara pribadi maupun kelompok mereka
mulai mengikuti pameran, baik dalam skala regional, nasional bahkan
internasional. Mereka mengikuti pameran menjadikan industri ukir
Jepara terkenal dan merambah pasar Internasional dengan banyaknya
para pemebeli mancanegara yang langsung datang mebeli ke Jepara ,
ke pelaku industri ukir sendiri.36
Sejak tahun 1991, masuknya pelaku industri dari asing yang
membawa desain-desain Eropa Barat ternyata telah menimbulkan
persaingan yang cukup tajam dalam hal perekrutan tenaga kerja,
sehingga mengakibatkan upah kerja sangat tinggi. Dampaknya,
banyak tenaga ahli mebel ukir yang berkualitas baik pindah ke
perusahaan asing karena mengahrapkan imbalan gaji yang lebih
tinggi. Kondisi yang sangat kompetitif tersebut sulit diatasi oleh para
pelaku usaha ukir Jepara dan akibatnya banyak pelaku usaha ukir
Jepara yang kesulitan mengembangkan usahanya. Kemudian hal ini
dianggap serius sehingga Menteri Perindustrian memberikan arahan
untuk mengatasinya.37
Adanya pembeli dan pengusaha asing yang datang ke Jepara
juga dampak dari kunjungan pemerintah ke negara asia timur dan
negara – negara eropa. Hal ini mendorong para pengusaha Jepara
untuk lebih memperhatikan prinsip, kaidah, dan norma perdagangan
Internasional. Pengetahuan ini sangat penting bagi para pengusaha
36
Ibid,.hlm. 207
37
Gustami S.P,,[Link] 158
Jepara yang latar belakang pengelolaan usahanya adalah usaha
keluarga yang dikelola secara tradisional.38
Bantuan yang diberikan oleh BUMN untuk pelaku industri
ukir skala kecil dan koperasi sangat membantu untuk menjalankan
usahanya. Dana yang di berikan mencapai Rp. [Link],- ,
disamping itu berbagai kemudahan kredit juga telah diberikan
berbagai perbankan yang ada di Jepara. Pelatihan kewirausahaan yang
dilakukan pemerintah juga dipandang sebagai kegiatan yang cukup
strategis dalam membangun usaha secara profesional. Untuk melatih
para pelaku industri ukir Jepara agar bisa bersaing dalam persaingan
dengan pelaku usaha asing. Klinik konsultasi juga memberikan arahan
untuk para pelaku industri agar dapat mengeola usahanya secara lebih
baik sehingga mampu memanfaatkan peluang pasar yang ada,
utamanya setelah terbukanya peluang pasar internasional.39
Sarana jalan merupakan hal yang sangat penting dalam roda
perekonomian. Kebijakan pemda Tingkat II Jepara sengan
membangun bersama-sama masyarakat jaingan jalan lingkungan dan
jalan antar desa terbukti mampu memacu pertumbuhan unit-unit
usaha baru. Pertumbuhan ini sekaligus mengantisipasi permintaan
pasar yang terus meningkat. Cerminan ini nampak pada peningkatan
semakin banyaknya kontainer yang merambah kedesa-desa dan
tumbuhnya sentra-sentra usaha baru.40
Masuknya peti kemas ini menuntut tersedianya jalan sesuai
dengan standarnya. Disisi lain jalan Jepara yang masuk ke dalam
kategori kelas III sebetulnya belum layak untuk jalan peti kemas.
Untuk itu Pemerintah Daerah telah mengajukan despensasi jalan
sehingga jalan di Jepara yang semula tertutup utnuk peti kemas, saat
ini sudah dapat masuk ke Jepara. bukan itu saja bahkan Pemda Jepara
38
Priyanto Hadi, dkk. [Link],. hlm. 208
39
Pemerintah Kab. Jepara. Sejarah dan Perkembangan Seni Ukir Jepara. [Link],.
hlm. 23
40
Ibid,. hlm. 25
memberikan keleluasaan sarana transportasi ini untuk masuk ke jalan-
jalan desa.41
Pada tahun 1998 bersamaan dengan reformasi. Krisis
ekonomi yang sangat parah telah menimbulkan krisis dalm berbagai
bidang. Dengan nuansa yang agak berbeda di Jepara juga terjadi
gelombang reformasi.42 Gelombang reformasi mengakibatkan suasana
menjadi tidak menentu. Banyak terjadi penjarahan ribuan hektar hutan
jati di berbagai daerah, termasuk Jepara.43
Melimpahnya bahan baku jati yang dapat diperoleh dengan
mudah dengan harga yang jauh lebih murah dari harga yang berlaku,
mendorong munculnya pelaku-pelaku usaha industri ukir baru. Jepara
telah masuk dan dikenal di pasar internasional. Banyaknya pelaku
usah industri ukir baru dan melimpahnya bahan baku kayu
menjadikan Jepara bagaikan tumpukan gula yang manis.
Dimungkinkan terjadi karena modal untuk membeli bahan baku yang
murah dan daya jual tinggi serta perputaran jual beli begitu cepat. Ini
memberikan dampak yang kurang baik, karna pola ini tidak bisa
bertahan lama. Sebab para pelaku usah industri ukir tidak menghitung
secara cermat harga berdasarkan struktur perhitungan harga yang
benar. Sebab komponen bahan baku dihitung dari harga kayu jati hasil
penjarahan.44
41
Ibid,. hlm. 24
42
Drs. Soenarto,. Buku Saku : Menyikapi Krisis Ekonomi & Otonomi Daerah.
(Jepara: Kantor Informasi dan Komunikasi Kab. Jepara, 2001),. Hlm. 16
43
Priyanto Hadi, dkk. [Link],. hlm. 215
44
Ibid.
Pada tahun 1999-2000 pemerintah masih belum bisa
mengawasi terjadinya penjarahan kayu yang begitu ramai, sehingga
bahan baku kayu masih melimpah khususnya kayu Jati. Kondisi ini
tidak jauh berbeda dengan masa krisis moneter yang melanda
Indonesia pada tahun sebelumnya. Kondisi di mana industri mebel
Jepara masih kokoh berjalan, karena bahan baku yang melimpah
dengan harga murah.45
Pada tahun 1999-2001 terjadi booming diindustri seni ukir
yang luar biasa. Boomingnya industri seni ukir disebabkan bbanyak
masuknya desain model baru, yaitu Garden Furniture yang
pengerjaanya relatif mudah dan tidak memerlukan keterampilan
khusus. Akibat dari masuknya desain Garden Furniture, banyak
bermunculan sentra-sentra usaha garden furniture ini di berbagai
wilayah.46
Produk Garden Furniture ini muncul pada saat maraknya
pembalakan liar setelah krisis moneter. Hal ini memungkinkan untuk
dijadikan model Garden Furniture karena model seperti ini
memerlukan bahan kayu berkualitas dan mudah membuatnya.
Dampak negatif dari usaha tersebut adalah banyaknya limbah
pengolahan kayu yang tidak efesien atau banyak kayu yang terbuang
dengan ukuran yang cukup besar.47
Pada tahun 2002, penggunaan kayu yang begitu banyak untuk
industri seni ukir, dapat berkurangnya kayuuntuk industri ukir Jepara.
Banyak pelaku industri asing yang pada awalnya berada di Jepara
pindah ke luar daerah. Kekurangan bahan baku kayu yang menjadi
faktor pengusaha asing pindah karena bahan baku yang didapat sudah
menipis karena penjarahan pada tahun-tahun sebelumnya.
Menurunnya masa keemasan industri ukir di Jepara dipengaruhi oleh
45
Herry Purnomo, Rika Harini Irawati dan Melati, Menunggang Badai : Untaian
Kehidupan, Tradisi dan Kreasi Aktor Mebel Jepara. (Bogor: CIFOR 2010). hlm. 82
46
Ibid., hlm 216
47
Wawancara dengan Bapak Hadi Priyanto,. Jepara, 22 November 2016
perhitungan struktur harga yang keliru karena mendapatkan bahan
baku kayu yang murah tidak menjadi perhitungan. Kualitas produk
yang jadi tidak berkualitas karena mengajar permintaan pasar
sehingga saat bahan kayu belum kering sudah dibuat.48
Pada tahun 2002 dilakukan pembukaan permodalan, terhadap
pengusaha industri lokal dari berbagai bank. Melihat pasar ukir mebel
dunia menurun, pemerintah mengadakan pameran lokal di berbagai
kota besar seperti Jakarta, Medan, Makasar, Bandung dan lain-lain.
Selain pemodalan diberikan bantuan peralatan oven kayu. Pameran
dilaksanakan setiap tahun dan diikuti para pengusaha industri ukir
Jepara.49
Pada tahun 2003 pemerintah menjadikan Desa Mulyoharjo
sebagai Sentra Patung Mulyoharjo. Sentra ini bertujuan untuk
mengembalikan kekuatan industri ukir Jepara. Wilayah Desa
Mulyoharjo yang banyak pengerajin mempunyai banyak potensi untuk
industri seni ukir Jepara. Melihat potensi ini pemerintah berharap
Sentra Patung Mulyoharjo dapat menjadi kekuatan nyata. Pemerintah
menata infrastruktur, menata jalan desa yang semua hanya memilki
lebar 3 meter kemudian dilebarkan menjadi 6 meter dan dibangun
jalan paving ukuran 6 x 1.000 meter. Untuk kenyamanan pengunjung,
jalan ini juga dilengkapi dengan trotoar. Peresmian dilakukan oleh
Bupati Jepara Bapak Hendro Martojo pada tahun 2005.50
Selain itu dibangun sentra relief di desa Senenan pada tahun
2005 yang diresmikan oleh Bupati Jepara Bapak Hendro Martojo.
Dibangunnya sentra relief desa Senenan ini diprakarsai oleh Sutrisno
yang seorang pengukir relief Jepara. Hal ini wajar terjadi karena di
daerah desa Senenan banyak sekali para pengukir relief, mereka juga
48
Joko Legowo dkk,. Kapitalisme Perkayuan dan Advokasi Buruh di
Jepara:Sebuah Evaluasi atas Advokasi Buruh Ukir di Jepara 2007-2009.(Jepara:
Yayasan Pamerdi Luhur, 2011). hlm. 5
49
Wawancara dengan Bapak Hadi Priyanto,. Jepara, 22 November 2016
50
Priyanto Hadi, dkk.. [Link]. hlm. 219
ada keinginan mengembalikan keorisinalan ciri khas Jepara dengan
ukiran bukan mebelan. Hal ini juga didukung oleh pemerintah Jepara
karena melihat pasar relief mengalami penurunan akibat persaingan
dengan model produk industri ukir yang dipengaruh oleh desain-
desain asing seperti garden furniture.51
Pada masa pemerintahan Pak Hendro Martojo yang kedua,
tahun 2007 mulai ada pembatasan modal yang dikeluarkan untuk para
pengusaha industri ukir Jepara. Hal ini terjadi karena melihat
kemampuan pemerintah melakukan pembiayaan untuk pengusaha
industri ukir Jepara makin menurun.52 Pada tahun 2008 terjadinya
krisis finansial yang berdampak pada dunia industri ukir Jepara, krisis
finansial ini mengakibatkan penurunan nilai ekspor industri ukir
hingga 50%. Sejak meledaknya industri ukir Jepara pada tahun 1998,
produksi secara besar-besaran produk industri ukir bernilai rendah
untuk pasar nasional dan internasional telah menghadirkan ancaman
serius terhadap keberlanjutan hutan tanaman Mahoni dan jati dan
ketidakefesienan penggunaan bahan baku serta kacaunya pemasaran
produk industri ukir itu sendiri.53 Bahan baku banyak terbuang sia-sia
karena banyak menggunakan kayu bagian tengah dan yang bagin
samping tidak digunakan, itu yang membuat kesediaan kayu cepat
menipis
Adanya permasalah yang muncul akibat dari krisis finasial
membuat Australian Centre for Agricultural Rescarch (ACIAR)
mendanai program Furniture Value Chain (FVC) atau penelitian kaji
tindak rantai nilai mebel. Program ini dilaksanakan oleh CIFOR
berkerja sama dengan Forum Rembuk Klaster (FRK) Jepara,
Pemerintah Daerah Jepara, Badan Penelitian dan Pengembangan
Kehutanan (Balitbanghut) Kementrian Kehutanan, dan Fakultas
51
Ibid., hlm. 220
52
Wawancara dengan Bapak Hadi Priyanto,. Jepara, 22 November 2016
53
Herry Purnomo, Rika Harini Irawati dan Melati,. [Link]. hlm. 4
Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Program ini mengupayakan
terciptanya perbaikan struktur dan fungsi industri mebel ukir Jepara
dari perolehan bahan baku kayu hingga proses pemasaran. Pemerintah
juga mengharapakan peningkatan efesiensi dapat menghidupi ribuan
pengusaha usaha industri ukir, mempertahankan lapangan kerja,
meningkatkan pengerajin skala kecil dan memberikan mereka peran
yang lebih besar dalam rantai nilai ndustri mebel ukir Jepara.54
54
Ibid., hlm. 5
55
Priyanto Hadi, dkk.. [Link]. hlm. 214
kayu ini tiang utamanya adalah industri ukir sejak tahun 1998 telah
mampu melampaui sektor pertanian yang selam ini memberikan
sumbangsih terbesar terhadap total PDRB. Depresi rupiah yang
mencapai Rp. 15.000 per dolar serta tersedianya bahan baku yang
murah akibat kayu jarahan, membuat sektor ini melakukan loncatan
pertumbuhan sebesar 20,03 persen.56
Penggunaan yang masih basah dan belum waktunya diproses,
akan membuat produk yang dikirim ke berbagai belahan dunia itu
cepat rusak, apalagi ke negara yang memilki iklim yang ekstrim, akan
tetapi pengusaha tidak mempertimbangkan hal itu. Rendahnya
pengawasan pada kualitas ekspor dan menurunya permintaan mebel
dunia sebagai dampak dari melemahnya ekonomi dunia pada tahun
2001, turut memberikan efek negatif bagi perkembangan industri
mebel Jepara. Akibatnya pada tahun 2001 industri mebel Jepara
mengalami penurunan yang nyata dengan nilai investasi sebesar Rp.
172,5 miliyar, dannilai ekspor mencapai Rp. 776,4 miliyar.57
Munculnya pengusaha industri baru yang tidak memiliki
kemampuan berbisnis yang baik juga jadi faktor. Kebanyakan dari
mereka banyak yang tidak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih
tinggi. Mereka memilih langsung terjun ke dunia usaha dan hanya
melihat keuntungan, hal ini didasari pada awal reformasi yang begitu
pesat untuk bidang industri ukir ini. Pemerintah luput untuk
mengendalikan anak usia muda yang tidak mau melanjutkan
sekolahnya, karena saat itu hanya terfokus dalam bidang sosial
ekonomi.58
Melihat terhjadinya penurunan yang nyata pada tahun 2001,
pada tahun 2002 bapak Hendro Martojoyang sebagai Bupati Jepara
memberikan solusi untuk membantu para pengusaha industri ukir
56
Ibid,.
57
Herry Purnomo, Rika Harini Irawati, Melati,. [Link]. hlm.82
58
Joko Legowo dkk,.[Link] .hlm. 112
Jepara yang mengalami penurunan. Diadakan pameran, bantuan alat
seperti oven kayu dan dibuka permodalan di bank-bank daerah.
Bantuan oven sangat membantu para pengusaha industri untk
mempercepat pengeringan bahan yang akan diproduksi. Serta modal
diberikan menjadi modal untuk membeli bahan baku kayu.59 Diadakan
pameran lokal berbagai kota, diharapkan dapat meningkatkan daya
jual produk-produk yang mengalami penurunan, akan tetapi tidak
semua pelaku bisa mengikuti pameran karena banyak kendala seperti
biaya transport dan lain-lain. Sedangkan para pengusaha yang bisa
mengikuti pameran dan mendapatkan konsumen, mereka hanya
dikerjakan sendiri dan tidak memberikan apa yang menjadi
permintaan pasar kepada pelaku industri lain.60
Pada masa bapak Hendro Martojo juga dibangun sentra
Mulyo sebagai sentra patung dan sentra relief Senenan. Pembangunan
sentra ini melihat potensi dua desa yang cukup menjanjikan untuk
meningkatkan nilai dunia ukir Jepara yang sedang turun. Sarana
sekitar desa diperbaiki sehingga menarik para pembeli dan mereka
yang datang merasa nyaman, karena jalan desa di paving dan diberi
trotoar. Dibangunnya sentra-sentra seperti ini sangat membantu para
pelaku industri ukir Jepara yang pada terpengaruh asing bisa
mempertahankan industri ukir yang benar-benanr menjadi identitas
61
daerah. Kebijakan yang diberikan bapak Hendro Martojo yang
memberikan modal serta dibangunnya sentra-sentra patung dan relief
ini bisa memberikan sumbangsih pada industri ukir Jepara.
Peningkatan ini bisa dilihat pada tahun 2004 nilai ekspor mencapai
138,4 juta dollar AS ke 84 negara tujuan yang sebelumnya mengalami
59
Wawancara dengan Bapak Hadi Priyanto,. Jepara, 22 November 2016
60
Wanwancara dengan Bapak Aris,.Jepara, 24 November 2016
61
Priyanto Hadi, dkk.. [Link]. hlm. 221
penurunan yang hanya mencapai 74,7 juta dollar AS nilai ekspornya
pada tahun 2001.62
Pada tahun 2005-2007 mengalami penurunan lagi pada
perjalanan industr ukir Jepara.63 Hal ini membuat pemerintah
melakukan pembatasan pinjaman modal yang diberikan bank kepada
para pengusaha industri ukir karena kemampuan pemerintah juga
menurun.64 Pembatasan ini sangat mempengaruhi para pengusaha
industri ukir Jepara karena para pengusaha industri ukir juga
bergantung pada modal untuk bisa membeli bahan baku kayu. Ketika
modal berkurang para pengusaha insdustri ukir ini menyiasati dengan
sistem menghutang bahan baku kayu dulu, setelah produk jadi dan
terjual, hutang tersebut baru dibayar. Sistem seperti ini sangat
merugikan pengusaha industri ukir itu sendiri, karna kayu yang
seharusnya memiliki harga ketika dibayar langsung Rp. 1.500.000
akan tetapi dengan sitem membawa bahan baku dulu sehingga
harganya beda, bisa mencapai Rp. 2.000.000. hal tersebut sangat
merungari keuntungan, yang seharusnya untung besar akan tetapi
dengan sitem seperti ini membuat keuntungan diarahkan untuk
membayar kayu yang sebelumnya hutang. 65
Pada tahun 2008 terjadinya krisis finansial dunia yang juga
berdampak dapa industri ukir jepara. terjadinya krisis ini menjadikan
industri ukir mengalami penurunan sampai 50%. ACIAR yang
merupakan penggagas pengakjian dalam industri ukir Jepara bersam
pemerintah daerah dan instasi terkait melakukan programnya dengan
menulis para pelaku industri ukir yang mamapu bertahan dalam
perjalanannya. Penggambaran perjalanan para pelaku industri ini
membuat para pelaku industri lain belajar dari pengalaman mereka
dari segi positif maupun negatif sehingga kedapan bisa menghadapi
62
Herry Purnomo, Rika Harini Irawati, Melati,. [Link].
63
Ibid.
64
Wawancara dengan Bapak Hadi Priyanto,. Jepara, 22 November 2016
65
Wawancara dengan Bapak Hadi Priyanto,. Jepara, 22 November 2016
rintangan dunia industri ukir bisa teratasi dengan belajar pengalaman
dengan pelaku yang sudah dahulu berjalan dalam dunia industri ukir
Jepara.66
III. KESIMPULAN
Seni ukir kayu Jepara juga tidak bisa dilepaskan dengan tokoh satu
ini. R.A Kartini adalah putri bangsawan dari Jepara yang bersama-sama
dengan saudaranya yang lain yang kemudian dikenal dengan tiga
bersaudara (Kartini, Kardinah, Rukmini) yang memperhatikan nasib para
rakyatnya. Rakyat pada masa itu belum menadapatkan pendidikan dan
keadaan sosial ekonominya benar-benar memperhatinkan.R.A Kartini
melihat ketimpangan keadaan yang terjadi pada pengrajin seni ukir. Ia
berharap ada perbaikan, sehingga para pengrajin mendapat penghasilan
yang lebih layak sesuai dengan karya yang dihasilkan. Karena hasil yang
sedemikian indahnya, belum dihargai sebagaiman mestinya. Pengrajin
hanya mendapatkan upah yang rendah.
Peran pemrintah dalam mengembangkan industri seni ukir Jepara
bisa dikatakan seirus. Pemerintah mengembangan industri seni ukir
Jepara dengan memebrikan bantuan melaului perbankan, memperbaiki
insfrastruktur penunjang serta mempermudah membuka usaha.
Disamping itu juga banyaknya peralihan profesi pekerjaan di masyarakat
akibat banyaknya bahan baku dan munculnya pengusaha ukir. beralih
profesinya para tenaga kerja yang beralih dari pola lama ke pola baru
dapat dimengerti karena tiga hal. Pertama, upah tenaga kerja perajin ukir
yang berbeda secara signifikan dibandingkan upah jenis lain yang lebih
murah. Kedua, kebutuhan usah industri ukir semakin banyak dibutuhkan.
Ketiga, banyaknya stok bahan baku kayu yang merupakan stok kayu
jarahan.
66
Herry Purnomo, Rika Harini Irawati dan Melati,. [Link]. hlm. 6
kekurangan kayu mengancam bagi pelaku industri ukir Jepara.
Banyak pelaku industri asing yang semula berada di Jepara pindah ke
luar daerah. Kekurangan bahan baku kayu yang menjadi faktornya
karena bahan baku yang didapat dari perhutani sudah menipis karena
penjarahan pada tahun-tahun sebelumnya. Menurunya masa keemasan
industri ukir di Jepara dipengaruhi oleh perhitungan struktur harga yang
keliru karena mendapatkan bahan baku kayu yang murah tidak menjadi
perhitungan. Adanya penurunan dalam dunia ukir Jepara, pemerintah
mendirikan pusat-pusat kerajinan ukir untuk melestarikan dan
memberikan daya tarik. Pemerintah mendirikan sentra Patung
Mulyoharjo dan sentra relief Senenan. Adanya dampak penurunan
diindustri ukir, maka pemerintah melakukan pembatasan pemberian
modal karena pemerintah dalam dalam pembiayaan juga menurun
kemampuanya.
Gustami S.P, Seni Kerajinan Meubel Ukir Jepara: Kajian Estetika Melalui
Pendekatan Multidisiplin, (Yogyakarta: Kanisius, 2000)
Indonesia dalam Arus Sejarah : Orde Baru dan Reformasi. (Jakarta: PT Ichitiar
Baru Van Hoeve. 2012).