WAWANCARA PEKERJAAN
Wawancara menurut Dwyer (2003:474), merupakan alat untuk mengumpulkan
informasi atau pertukaran informasi. Wawancara, merupakan percakapan yang terencana
dengan tujuan tertentu, yang melibatkan dua orang. Bahkan, menurut bovee dan Thill
(1983:415), setiap dua orang bertemu untuk mendiskusikan suatu masalah, berarti mereka
terlibat dalam suatu wawancara. Suatu wawancara melibatkan pewawancara (interviewer)
dan orang yang diwawancarai (interviewee). Agar wawancara dapat berhasil baik, infornasi
harus mengalir dengan baik diantara mereka. Oleh karena itu ketrampilan dan pemahaman
mengenai proses wawancara menjadi penting bagi keduanya. Wawancara pekerjaan adalah
salah satu wawancara bisnis yang biasa dihadapi oleh semua orang pada saat akan mulai
bekerja pada suatu organisasi atau perusahaan.
A. Pentingnya Wawancara Kerja
Wawancara merupakan salah satu cara yang sangat penting bagi suatu perusahaan
untuk menjaring pelamar yang ada. Jumlah pelamar pada umunnya jauh lebih banyak
daripada posisi atau lowongan yang tersedia. Oleh karena itu, dibutuhkan alat penyaring atau
alat seleksi yang dapat menemukan orang-orang yang paling cocok untuk menempati posisi
tersebut. Bagi pelamar, keberhasilan dalam menghadapi wawancara sangat menentukan masa
depan karirnya. Selain berlatih menulis resume dan surat lamaran kerja, menyiapkan diri
untuk diri untuk wawancara juga termasuk bagian dari usaha untuk mendapatkan pekerjaan.
Pelamar harus benar-benar mempersiapkan diri agar bias memberikan kesan yang baik, dan
meyakinkan pewawancara (interviewer) akan kemampuan pelamar.
Berbagai aspek, khususnya aspek kepribadian, baik secara verbal maupun nonverbal,
sejak memasuki ruang wawancara akan diperhatikan oleh pewawancara. Aspek-aspek
kepribadian (personality aspects) yang akan dinilai mencakup:
1. Penampilan secara fisik
2. Gerak-gerik dan sopan santun
3. Rasa percaya diri
4. Inisiatif
5. Kebijaksanaan
6. Tanggap dan keja sama
7. Ekspresi wajah
8. Kemampuan berkomunikasi
9. Sikap terhadap pekerjaan
10. Selera humor
Penilaian terhadap aspek-aspek di atas akan membantu pewawancara untuk
memprediksi keberhasilan pelamar menduduki posisi tertentu di dalam perusahaan. Jika
peiamar lemah dalam suatu aspek penting yang sangat dituntut pada jabatan yang diinginkan,
atau yang merupakan faktor penentu keberhasilan dalam mendudukr jabatan tersebut,
tentunya pelamar tidak akan diterima.
1. Jenis-jenis Wawancara Pekerjaan
Mengingat banyaknya pelamar atau ketatnya proses seleksi, seorang pelamar mungkin
saja diwawancarai lebih dari satu kali. Berdasarkan frekuensi atau tahapan proses seleksi,
wawancara dapat terdiri dari wawancara tahap awal, dan wawancara seleksi. baik.
a. Wawancara Pendahuluan (preliminary interview)
Pada tahap ini wawancara dilakukan berdasarkan surat lamaran atau ikhtisar
resume yang telah dibuat oleh pelamar. Hal ituuntuk memastikan bahwa pelamar telah
menyelesaikan proses administrasi atau telah memberikan semua informasi penting
berkaitan dengan jabatan yang diinginkan. Pada tahap ini juga dinilai kesesuaian antara
kualifikasi dengan jenis jabatan yang akan diisi. Dalam proses wawancara, berikanlah
informasi yang padat dan akurat dengan jelas dan tidak berbelit-belit. Jawablah semua
pertanyaan yang diminta dengan baik, dan janganlah memberikan informasi yang tidak
ditanyakan atau yang tidak relevan dengan pertanyaan pewawancara. baik.
b. Wawancara Seleksi (Selection Interview)
Sebagai kelanjutan dari wawancara pendahuluan, biasanya dilakukan
wawancara seleksi (selection interview) yang pada umumnya memerlukan waktu yang
lebih lama daripada wawancara pendahuluan. Dalam wawancara seleksi, pelamar
mungkin akan diwawancarai oleh lebih dari satu orang pewawancara. Pada tahap ini,
pelamar akan ditanyai mengenai latar belakangnya, mencakup kualifikasi, pengalaman
kerja, pelatihan, dan semangat kerja secara umum, untuk mengetahui apakah pelamar
memiliki kualifikasi yang sesuai dengan tuntutan jabatan yang dikehendakinya. Setelah
itu, bentuk pertanyaan akan lebih terbuka, di mana pelamar diberi kesempatan seluas-
luasnya untuk mengungkapkan latar belakang dirinya.
Selain berdasarkan frekuensi atau tahapannya, Dwyer (2003:476) membagi jenis
wawancara berdasarkan jumlah pewawancaranya menjadi wawancara tunggal, wawancara
berangkai, dan wawancara panel.
a. Wawancara Tunggal (the single interview)
Wawancara tunggal dilakukan oleh satu orang pewawancara untuk
mewawancara semua pelamar. Tipe wawancara seperti ini dapat dipengaruhioleh bias
pewawancara, karena ia satu-satunya orang yang terlibat dalam menilai kemampuan
calon pegawai.
b. Wawancara Berangkai (the series interview)
Wawancara berangkai dilakukan beberapa pewawancara secara bergiliran.
Masing-masing pewawancara mewawancarai masing-masing pelamar untuk bidang
keahlian tertentu. Setelah rangkaian wawancara selesai, para pewawancara
mendiskusikan hasilnya untuk membuat pilihan secara berkelompok. Proses wawancara
berangkai ini tidak jauh berbeda dengan wawancara panel.
c. Wawancara Panel (the panel interview)
Wawancara panel dilaksanakan oleh sekelompok pewawancara dalam waktu
bersamaan. Masing-masing pewawancara mengajukan pertanyaan tertentu sesuai
dengan pengalaman dan bidang keahlian yang dimilikinya. Beragamnya pengalaman
dan keahlian yang dimiliki oleh para pewawancara membuat pertanyaan lebih beragam
dan dapat membentu meminimalkan bias pribadi. Pewawancara panel selanjutnya
menilai pelamar secara bersama-sama. Anggota dari wawancara panel harus memahami
bagaimana melakukan atau berpartisipasi dalam wawancara. Mereka harus berusaha
mencegah adanya bias yang dapat mempengaruhi keputusan mereka. Pelamar perlu
mengetahui adanya jenis-jenis wawancara di atas, sebagai pengetahuan dalam
mempersiapkan diri menghadapi wawancara.
B. Persiapan Menghadapi Wawancara Kerja
Mengingat pentingnya wawancara dalam memasuki dunia kerja, sudah selayaknya
pelamar mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Berikut ini merupakan berbagai hal
yang perlu diperhatikan saat akan menghadapi wawancara kerja:
1. Datang tepat pada waktunya
2. Bersikap yakin
3. Siapkan sertifikat diploma, surat-surat penghargaan, atau berkas penting lainnya
4. Berpakaian yang rapi dan sopan
5. Bersikap tenang
6. Ketuk pintu sebelum memasuki ruang wawancara, kecuali jika ada yang mengantar
7. Tersenyumlah, tetapi jangan tersenyum terus
8. Tunggu sampai dipersilakan duduk, atau jika tidak dipersilahkan, mintalah izin
untuk duduk
9. Ingat nama pewawancara dengan benar
10. Tataplah pewawancara saat berbicara
11. Tunjukkan kemampuan diri tetapi jangan berlebihan
12. Perhatikan pertanyaan pewawancara dengan baik
13. Bicaralah dengan jelas
14. Atur nada suara
15. Tunjukkan minat dan kesungguhan
16. Bersikaplah jujur
Berikut ini adalah hal-hal yang juga perlu diperhatikan saat melakukan wawancara
kerja sebagai berikut:
1. Jangan datang terlambat
2. Jangan kelihatan kesal karena sudah menunggu lama
3. Jangan datang untuk wawancara tanpa persiapan
4. Jangan berpenampilan berlebihan
5. Jangan membawa tas belanja atau yang sejenisnya
6. Jangan membawa teman atau keluarga saat wawancara
7. Jangan duduk sebelum dipersilakan
8. Jangan meletakkan tas di atas meja wawancara
9. Jangan membungkuk atau menundukkan kepala
10. Jangan bertopang dagu
11. Jangan melipat tangan di muka dada
12. Jangan merokok atau mengulum perrnen
13. Jangan membuka percakapan
14. Jangan memotong pewawancara di tengah kalimat
15. Jangan melebih-lebihkan diri
16. Jangan mengatakan kepada perusahaan hal-hal yang seharusnya dilakukan mereka
kepada anda
17. Jangan membual
18. Jangan mengkritik diri sendiri
19. Jangan mengkritik atau menjelek-jelekkan calon atasan atau mantan atasan anda
20. Jangan memberikan informasi yang tidak relevan
21. Jangan memberikan kesan sangat membutuhkan pekerjaan
22. Jangan berlama-lama dengan apa yang ditawarkan perusahaan
23. Jangan mengajukan pertanyaan yang tidak berbobot
24. Jangan emosional
25. Jangan membuka rahasia perusahaan tempat kerja sebelumnya, atau tempat kerja sekarang
26. Jangan memberikan kesan tidak sabar.
DAFTAR PUSTAKA
Bovee, C.L. & Thill, J.V. (2007). Komunikasi Bisnis. Jilid 1& 2. Edisi Kedelapan.
Indeks:Jakarta. Guffey, M.E., Rhodes & K., Rogin, P. (2006). Komunikasi Bisnis:
Proses dan Produk. Edisi Keempat. Jakarta: Salemba Empat.
Purwanto,D. (2006). Komunikasi Bisnis. Edisi Ketiga. Jakarta: Erlangga
Sutrisna, Dewi. (2007), komunikasi Bisnis, edisi 1, Jakarta : CV Andi Ofset.
Walgito, Bimo,( 2004), Bimbingan dan konseling (Studi dan Karir) Yogyakarta : CV. Andi
Offset