0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
58 tayangan27 halaman

Krim Antioksidan Ekstrak Cocor Bebek

Ringkasan dokumen tersebut adalah sebagai berikut: 1. Memformulasi sediaan krim dari ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata L.) dan menguji aktivitas antioksidannya 2. Cocor bebek (Kalanchoe pinnata L.) memiliki aktivitas antioksidan tinggi yang berpotensi untuk digunakan dalam kosmetik 3. Penelitian ini akan mengembangkan formulasi krim stabil dari ekstrak etanol daun cocor bebek s
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
58 tayangan27 halaman

Krim Antioksidan Ekstrak Cocor Bebek

Ringkasan dokumen tersebut adalah sebagai berikut: 1. Memformulasi sediaan krim dari ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata L.) dan menguji aktivitas antioksidannya 2. Cocor bebek (Kalanchoe pinnata L.) memiliki aktivitas antioksidan tinggi yang berpotensi untuk digunakan dalam kosmetik 3. Penelitian ini akan mengembangkan formulasi krim stabil dari ekstrak etanol daun cocor bebek s
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

FORMULASI SEDIAAN KRIM EKSTRAK ETANOL DAUN COCOR

BEBEK (KALANCHOE PINNATA L.) DAN UJI AKTIFITAS


ANTIOKSIDAN

PROPOSAL PENELITIAN

DISUSUN OLEH:

SULASTARI CAHYANI

1601123

DOSEN PEMBIMBING : [Link] NOVITA,[Link],APT

PROGRAM STUDI S1 FARMASI

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU

YAYASAN UNIVERSITAS RIAU

2019
BAB 1

PENDAHULUAN

Radikal bebas merupakan salah satu molekul yang dianggap bertanggung


jawab dalam berbagai penyakit yang diderita manusia, termasuk faktor yang paling
berpengaruh pada penuaan dini. Delapan puluh persen penuaann pada wajah
merupakan tanda dari pengaruh paparan sinar matahari, walaupun faktor lain seperti
merokok, alkohol, stress dan lainnya berperan pada proses timbulnya kerut wajah
dini (Uiito, 1997). Antioksidan atau reduktor berfungsi untuk mencegah terjadinya
oksidasi atau menetralkan senyawa yang telah teroksidasi dengan cara
menyumbangkan hidrogen atau elektron (Silalahi, 2006).
Tanaman cocor bebek (Kalanchoe pinnata (Lam.)) merupakan tanaman
obat tradisional Indonesia (Bagun, 2012). Tanaman cocor bebek merupakan
tanaman yang telah dikenal dan digunakan sebagai tanaman obat yang dapat
digunakan untuk menyembuhkan berbagai penyakit oleh nenek moyang kita sejak
zaman dahulu. Pada zaman sekarang, fungsi tanaman ini dalam bidang pengobatan
dan kosmetik kurang dimanfaatkan dengan baik. Tanaman ini banyak
dikembangkan sebagai tanaman hias karena bentuknya yang indah. Tanaman cocor
bebek memiliki banyak kegunaan, antara lain meringankan gejala maag dan
penyakit usus, sakit kepala, hipertensi, dan demam (Nwose, 2013). Tanaman cocor
bebek kaya alkaloid, triterpen, glikosida, steroid lipid,dan flavonoid. (Joseph, et.
al., 2011). Kelompok flavonoid mempunyai kemampuan untuk bertransformasi
menghasilkan senyawa-senyawa yang mempunyai aktivitas biologi lebih tinggi
yang mempunyai aktivitas antioksidan. Flavonoid diketahui sebagai antioksidan
yang baik karena mempunyai sedikitnya dua gugus hidroksil pada posisi orto dan
para. Menurut Chaeles ,et .al., (2013), aktifitas antioksidan telah terdeteksi untuk
semua ekstrak baik dari daun segar, daun kering, dan ekstrak kering beku dari daun
cocor bebek. Ekstrak metanol Kalanchoe pinnata L. memiliki potensi antioksidan
dengan nilai IC50(Inhibition Concentration) 134.56 ppm (Mohan, 2011). Menurut
penelitiann Nascimento,et .al., (2013), aktifitas antioksidan Kalanchoe pinnata L.
Menunjukkan nilai EC50 (effective concentration) yang sangat rendah (1.41 lg Ml1)

2
yang menandakan bahwa Kalanchoe pinnata L. memiliki potensial antioksidan
yang tinggi. Rajsekhar et al., (2014) melaporkan bahwa ekstrak etanol dari K.
pinnata memiliki potensi perlindungan antioksidan standar yang kuat terhadap stres
oksidatif baik dalam air dan fase lemak.
Krim adalah sediaan setengah padat, berupa emulsi mengandung air tidak
kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar. Ada 2 tipe krim, yaitu
krim tipe minyak dalam air dan tipe air dalam minyak (Anonim, 1979). Dipilih
bentuk sediaan krim karena sediaan krim cocok untuk sediaan antioksidan karena
sediaan krim lama kontaknya dengan kulit, sehingga senyawa antioksidan terserap
masuk kedalam kulit dan fungsi dari antioksidan sebagai penghambat radikal bebas
kulit bisa tercapai (Harry, 1973). Bentuk sediaan yang dipilih dalam penelitian ini
adalah tipe M/A karena tipe M/A memiliki daya menyebar yang lebih baik daripada
krim tipe A/M (Voigt, 1984). Selain itu keuntungan umum dari krim ini sendiri
antara lain sederhana dalam pembuatan, mudah dalam penggunaan, bentuk menarik
serta menimbulkan rasa nyaman bagi si pamakai karena mudah dioleskan dan
menimbulkan rasa dingin pada kulit (Anonim, 1982).
Penelitian ini menggunakan ekstrak etanol karena etanol merupakan pelarut
yang paling banyak digunakan dalam proses isolasi senyawa organik bahan alam
dan dapat melarutkan golongan metabolit sekunder. Etanol dapat melarutkan
hampir semua senyawa organik, baik polar maupun non polar. Selain itu, tingkat
toksik etanol lebih rendah dibandingkan metanol.
Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik memformulasi sediaan krim yang
stabil dari cocor bebek (Kalanchoe pinnata L.). Sehingga dapat memberikan
gambaran secara langsung mengenai pemanfaatan daun cocor bebek dalam
kosmetik dan sebagai pengayaan wawasan karena selama ini daun cocor bebek
hanya digunakan sebagai tanaman hias.
Tujuan dari penelitian ini adalah memformulasi sediaan krim dari ekstrak
etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata L.) dan melihat aktivitas antioksidan
ekstrak etanol daun cocor bebek (Kalanchoe pinnata L.).

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Cocor Bebek (Kalanchoe pinnata L.)


2.1.1 Klasifikasi
Tanaman cocor bebek memiliki nama latin Kalanchoe pinnata (Lam.)
termasuk ke dalam famili tumbuhan Crassulaceae (Bagun, 2012).
Klasifikasi tanaman cocor bebek adalah sebagai berikut (Majaz, dkk 2011) :

Sub kingdom : Viridiplantae


Infra kigndom : Streptophyta
Super devisi : Embryophyta
Devisi : Tracheophyta
Sub devisi : Spermatophytina
Kelas : Magnoliopsida
Super ordo : Saxifraganae
Ordo : Saxifragales
Famili : Crassulaceae
Genus : Kalanchoe adans
Spesies : Kalanchoe pinnata (Lam.) Pers.

2.2 Metoda Ekstraksi


Ekstraksi adalah proses pengambilan komponen yang larut dari bahan atau
campuran dengan menggunakan pelarut seperti air ,alkohol, eter, aseton dan
sebagainya. Metode ekstraksi yang dipilih untuk mendapatkan senyawa bahan alam
tergantung pada keadaann fisik senyawa tersebut, misalnya senyawa barupa cairan
yang mudah menguap (Harborne, 1987).
Ada beberapa ekstraksi senyawa bahan alam yang umum digunakan antara
lain :
1. Maserasi (Perendaman)
Meserasi biasanya dilakukan untuk bagian tumbuhan yang
teksturnya lunak, seperti bunga dan daun. Senyawa organik

4
metabolit sekunder yang ada dalam bahan alam tersebut umumnya
dalam persentase yang cukup banyak, perendaman tidak dilakukan
dengan pemanasan. Hasil perendaman kemudian disaring dan filtrat
yang didapatkan diuapkan dengan alat rotary evaporator sampai
diperoleh ekstrak kental tumbuhan.
2. Perkolasi
Pada prinsipnya perkolasi menggunakan suatu pelarut dimana
pelarut tersebut dilewatkan secara perlahan (tetes demi tetes)
kepada bahan alam yang mengandung senyawa organik tersebut.
Pada teknik ini juga digunakan pelarut yang tidak mudah menguap,
tetapi melarutkan senyawa organik yang terkandung dalam bahan
alam tersebut cukup besar.
3. Sokletasi
Sokletasi merupakan teknik ekstraksi yang digunakan terhadap
bahan alam padat yang senyawa kimianya tahan panas. Prinsipnya
yaitu menggunakn suatu pelarut yang mudah menguap dan dapat
melarutkan senyawa organik yang terdapat pada bahan alam
tersebut. Metode sokletasi mempunyai keunggulan dari metode
lainnya, karena metode ini penyarian dapat dilakukan beberapa kali
dan pelarut yang digunakan tidak banyak.
4. Destilasi Uap
Cara destilasi uap khusus digunakan untuk seyawa yang dapat ikut
diuapkan bersama uang air. Pada prinsipnya ada dua teknik
pengerjaan dalam metose ini, yaitu uap air dihasilkan sendiri atau
bahan alam langsung ditambahkan air dan dipanaskan.
5. Fraksinasi
Pemisahan komponen sneyawa kimia dapat dilakukan dengan cara
fraksinasi. Fraksinasi pada prinsipnya adalah proses penarikan
senyawa dari suatu ekstrak dengan menggunakan dua macam
pelarut. Pelarut yang biasa digunakan adalah pelarut nonpolar
seperti n-heksana, petroleum eter, pelarut semi polar seperti etil
asetat,kloroforom,dan terakhir pelarut polar seperti butanol dan

5
etanol, sehinga diperoleh fraksi yang megandung senyawa nonpolar,
semipolar, dan polar.

2.3 Antioksidan
Antioksidan merupakan senyawa yang dapat memperlambat atau mencegah
terjadinya reaksi oksidasi molekul lainnya. Antioksidan bereaksi dengan radikal
bebas sehingga mengurangi kapasitas radikal bebas untuk menimbulkan kerusakan.
Antioksidan alami yang terdapat dalam bahan pangan antara lain adalah vitamin C,
vitamin E, antosianin, dan senyawa flavonoid.

2.3.1 Penggolongan Antioksidan


Penggolongan antioksidan berdasarkan mekanisme kerjanya (Winarsi,
2007)
1. Antioksidan primer, bekerja dengann mencegah pembentukan senyawa
radikal bebas baru. Mengubah radikal bebas yang ada menjadi molekul yang
kurang dampak negatifnya sebelum radikal bebas ini sempat beraksi.
Contohnya enzim peroksida dismutase yang berfungsi sebagai pelindung
rusaknya sel-sel dalam tubuhh serta mencegah proses peradangan yang
disebabkan oleh radikal bebas.
2. Antioksidan sekunder, bekerja dengan cara menangkap senyawa radikal
bebas dan mencegah terjadinya reaksi berantau, contohnya vitamin C,
vitamin E dan β-karoten.
3. Antioksidan terseir, bekerja memperbaiki kerusakan sel-sel yang
disebabkakn oleh radikal bebas. Contohnya enzim yang memperbaiki DNA
pada inti sel adalah metionin salfoksida. Adanya enzim-enzim perbaikan
DNA ini berguna untuk mencegah penyakit kanker.

6
2.3.2 Sumber-sumber Antioksidan
Sumber-sumber antioksidan dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu :
1. Antioksidan Alami
Antioksidan alami adalah senyawa antioksidan yang diperoleh dari
hasil ekstraksi bahan alam. Ada banyak sumber pangan yang menjadi
sumber antioksidan alami, misalnya rempah-rempah, teh, coklat,dedaunan,
biji-bijian, sayur-sayuran, enzim dan protein. Senyawa antioksidan yang
diisolasi dari sumber alami umumnya adalah yang berasal dari tumbuhan.
Antioksidan alami tersebut bibeberapa bagian tanaman seperti pada kayu,
kulit, akar, daun, bunga, biji, dan serbuk sari. Umumnya merupakan
senyawa fenolik atau polifenol golongan flavonoid, terpenoid, terutama
asam sinamat, tokoferol dan asam-asam organik polifungsional. Contohnya
β-karoten, katekin, kaemferol dan lain-lain (Sarastani, 2002)
2. Antioksidan sintetik
Antioksidan sintetik adalah senyawa antioksidan yang diperoleh
dari hasil sintesa reaksi kimia. Antioksidan ini merupakan senyawa
antioksidan alami atau senyawa fenol yang telah diproduksi secara sintesis
untuk tujuan komersil. Contohnya butil hidroksi anisol (BHA), butil
hidroksil toluen (BHT), propil galat, dan tersier butil hidroksi quinon
(TBHQ).

2.3.3 Sumber-sumber Radikal Bebas


Radikal bebas terbentuk melalui dua cara (Winarsi, 2007), yaitu:
1. Secara endogen
Radikal bebas dihasilkan sebagai respon normal dari reaksi biokimia dalam
tubuh berupa hasil sampingan dari proses oksidasi sel yang berlangsung
pada saat metabolisme tubuh.
2. Secara eksogen
Radikal bebas dihasilkan dari beberapa polutan lingkungan (emisi
kendaraan bermotor dan industri, asap rokok dan limbah), makanan,
paparan zat kimia dan radiasi sinar UV yang masuk kedalam tubuh melalui
jalan inhalasi (terhirup), mulut dan penyerapan melalui kulit.

7
[Link] Tahap-tahap Reaksi Radikal Bebas
Tahap-tahap reaksi radikal bebas didalam tubuh (Fessenden, 1992):
1. Tahap inisiasi, yaitu tahapan awal yang menyebabkan terbentuknya radikal
bebas.
2. Tahap propagasi,yaitu tahap dimana radikal bebas cenderung bertambah
banyak dengan membuat reaksi berantai dengan molekul lain.
3. Tahap terminasi, yaitu apabila terjadi reaksi antara radikal bebas dengan
radikal bebas lain atau antara radikal bebas dengan senyawa antioksidan
sehinga membentuk produk yang non radikal.

2.3.4 Metode Penentuan Uji Aktivitas Antioksidan DPPH (2,2-Difenil


Pikrilhidrazin)
DPPH adalah radikal bebas yang diperdagangkan , stabil pada suhu
kamar dengan bentuk serbuk ungu kehitaman, sepat teroksidasi oleh
temperatur dan cahaya, mudah larut dalam metanol, memiliki BM 394,3.
DPPH disimpan pada suhu dibawah 0°C (Prakash, 2001).
Metode DPPH diperkenalkan oleh Marsden Blois pada tahun 1958.
Metode ini hanya menggunakan sempel dalam jumlah yang sedikit dan waktu
pengukuran yang singkat. Konsentrasi DPPH yang digunakan 50-100µM.
Panjang gelombang maksimum DPPH berkisar antara 515-520 nm. Aktivitas
antioksidan dari suatu senyawa ditunjukkan oleh hambatan serapan DPPH pada
panjang gelombang serapan maksimum DPPH. Karena memiliki elektron
sunyi menyebabkan DPPH sangat reaktif untuk menangkap elektronn atau
radikal hidrogen lainnya untuk menjadi molekul yang stabil. Penangkapan
radikal bebas ditandai dengan menurunnya absorban DPPH serta perubahan
intensitas warna ungu menjadi warna kuning. Semakin besar kadar dari sampel
dengan perbandingan yang digunakan (kontrol positif) maka nilai pengapan
terhadap DPPH juga semakin besar dan aktivitas antioksian semakin baik
(Molyneux, 2004).

8
2.3 Penentuan IC50
Nilai IC50 merupakan bilangan yang menunjukkan konsentrasi sampel
uji(ppm) yang memberikan peredaman DPPH sebesar 50% (mampu
menghambat/meredam proses oksidasi sebesar 50%). Secara spesifik, suatu
senyawa dikatakan sebagai antioksidan dapat dilihat dari tabel berikut
(Molyneux, 2004) :
Tabel 1. Tingkat Kekuatan Antioksidan Dengan Metode DPPH
(Molyneux, P.2004)

Nilai IC50 Aktivitas Antioksidan


< 50 ppm Sangat kuat
50-100 ppm Kuat
100-150 ppm Sedang
151-200 ppm Lemah
201-1000 ppm Sangat lemah

Nilai 0% berarti tidak mempunyai aktivitas antiradikal bebas atau


antioksidan, sedangkan nilai 100% berarti peredaman total dan pengujian perlu
dilanjutkan dengan pengenceran larutan uji untuk melihat batas konsentrasi
aktivitasnya. Selanjutnya dibuat kurva linear antara konsentrasi larutan uji
dengan % peredamann dan ditentukan harga IC50 yaitu dengan memasukkan
nilai dari konsentrasi larutan uji (µg/ml) sebagai basis (sumbu x) dan nilai persen
peredaman (%) sebagai ordinat (sumbu y) kedalam pesamaan garis linear.

9
2.4 Kulit
2.5.1 Pengertian
Kulit merupakan organ tubuh yang terletak pada bagian paling luar
tubuh yang mempunyai peranan paling penting dalam kehidupan dan aktivitas
manusia. Kulit mempunyai ketebalan 0,5-5 mm dengan luas lebih kurang 20.000
cm2 dan beratnya 15% dari berat keseluruhan (Aulton, 1988). Kulit manusia
yang sehat mempunyai reaksi asam lemah dan kulit yang rusak bersifat basa.
Keasaman kulit ini disebabkan adanya lapisan tipis permukaan film lipid
teremulsi pada lapisan tantuk. Film pelindung ini mempunyai pH antara 4,5-6,5
disebut mantel asam. Mantel asam ini bersifat asam sehingga dapat melindungi
tubuh dari serangan mikroba yang cenderung tumbuh lebuh baik pada pH yang
lebih tinggi (Harahap, 2000).

2.5.2 Anatomi Kulit


Secara umum kulit terdiri dari 3 lapisan utama, yaitu (Ansel, 1989 ):

1. Epidermis
Lapisan epidermis dapat dibagi menjadi 5 bagian yang saling berhubungan
erat, yaitu:
a. Lapisan tanduk (stratum corneum)
Lapisan ini terdiri dari sel-sel mati dan sel-sel keratin yang mengalami
keratinasi, selnya berbentuk gepeng, tidak berinti dan tidak berwarna. Lapisan
tanduk ini mempunyai ketebalan ±15 µm dalam keadaan kering dan dapat
menjadi ±48 µm dalam keadaann basah.
Lapisan ini berfungsi mengatur perpindahan zat-zat kimia dari lapisan
dalam kelapisan luar dan sebaliknya. Lapisan ini juga merupakan perintang
terhadap kehilangan air.

10
b. Lapisan jernih (stratum lusidium)
Lapisan ini terdapat langsung dibawah stratum korneum yang hanya terdiri
dua atau tiga lapisan sel yang intinya tidak tampak. Sel-selnya berbentuk
gepeng tersusun rapat satu sama lain.
c. Lapisan berbutir (stratum gramdosum)
Lapisan ini terdiri dari 2 atau 3 lapisan sel yang berbentuk gepeng, intinya
pucat dan sukar dilihat. Sel-sel inilah yang akan menggantikan lapisan tanduk
yang telah mengelupas pada stratum korneum.
d. Lapisan malphigi (stratum sspinosum)
Lapisan ini terdiri dari beberapa lapisan sel berbentuk pilygonal dan makin
kepermukaan makin gepeng. Protoplasmanya jernih kerena banyak
mengandung glikogen dan inti jelas terlihat ditengah-tengah. Lapisan basal
(stratum germinativum)
Lapisan ini terdiri dari satu atau dua lapisan berbentuk kubus. Sel ini disebut
juga sel keratinosit dan merupakan benih atau asal dari sel-sel pada lapisan
atasnya. Protoplasmanya mengandung butiran zat warna kulit atau pigmen.
2. Dermis
Dalam lapisan ini terdapat serabut saraf perasa, pembuluh darah kapiler,
folikel, rambut, air, kelenjar lemak, dan kelenjar keringat bermuara pada
permukaan kulit yang disebut pori.
3. Subdermis
Lapisan ini terdiri dari jaringan ikat longgar berisi lemak yang berbentuk
bulat besar yang terletak dipinggir sitoplasma. Berfungsi sebagai cadangan
makanan dan melindungi organ dibawahnya dan benturan mekanik. Pada
lapisan ini terdapat pembuluh darah, ujung saraf tepi, kelenjar keringat dan
pembuluh limfe.

11
2.5.3 pH Kulit
pH kulit normal adalah berkisar anatara 4,5-7 (Wasitaaadmaja,1997)
3-6, 4-6 (Jelinek, 1970). Keasaman dari kulit ini disebabkan oleh adanya suatu
mantel asam dari kulit yang berasal dari zat-zat yang bersifat asam seperti asam
amino, asam laktat dan asam lemak yang merupakan sekresi dari kelenjar
sebaseus. Perubahan drastis pH mantel asam ini menyebabkan bermacam-
macam penyakit kulit (Osol, 1975)

2.6 Krim
Krim adalah sedian setengah padat, berupa emulsi mengandung air
tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar (Anonim, 1979;
Ansel, 1983). Dasar krim digunakan dapat berupa emulsi minyak dalam air
atau emulsi air dalam minyak. Ada beberapa alasan yang menguntungkan pada
penggunaan sediaan dalam bentuk krim (Osol, 1975)
Krim memiliki beberapa keuntungan seperti sedehana dalam
pembuatan, mudah dalam penggunaan, dan bentuknya menarik serta
menimbulkan rasa nyaman bagi si pemakaai karena mengandung kadar air
yang tinggi sehingga dioleskan pada kulit, air akan menguap dan menimbulkan
rasa dingin pada kulit (Anonim, 1982).
Syarat Dasar Krim yang Baik dan Ideal yaitu mudah digunakan dan
mencair pada suhu tubuh, mudah dicuci, tidak toksik, tidak mengiritasi kulit ,
tidak mempunyai efek terapi, stabil secara fisika dan kimia ,bebas dari bau yang
tidak enak, mempunyai pH yang sesuai atau mendekati pH normal kulit yaitu
sekitar 4,5-6,5, bahan obat dapat terbagi halus dan terdispersi merata kedalam
dasar krim, lunak dan bebas dari partikel kera/tajam, mempunyai kesanggupan
untuk mudah melepaskan zat-zat berkhasiat yang dimasukkan kedalamnya
agar beraksi dengan kulit untuk menimbulkan efek yang dikehendaki (Anonim,
1982; Lachman, 1994).

12
Dasar salep (termasuk krim) berdasarkan efek yang diinginkan dapat
dibagi menjadi 3 golongan (Goodman, 1991):
1. Dasar krim epidemik
Merupakan dasar krim yang digunakan untuk mendapatkan efek lokal,
tidak diserap, hanya sebagai pelindung dan umumnya bersifat stabil.
Contohnya vaselin putih, vaselin kuning, paraffin padat dan paraffin
cair.
2. Dasar krim endodermik
Merupakan dasar krim yang dapat menembus kulit tetapi hanya
sebagian dan biasanya untuk terapi subepidermik, berguna sebagai
pelumas kulit dan emolien.
Contohnya : lemak bulu domba.
3. Dasar krim diadermik
Merupakan dasar krim yang bertujuan agar dapat menembus kulit dan
dapat menimbulkan efek sistemik.
Contohnya : cetyl alkohol

2.6.1 Komposisi Krim


Selain dari zat berkhasiat, krim juga mengandung bahan-bahan yang
mempunyai fungsi berbeda (Anonim, 1982;Jelinek 1970).
1. Bahan dasar krim
Berfungsi sebagai pembawa zat berkhasiat serta merupakan bagian
terbesar dari suatu sediaan krim. Bahan dasar krim yang dipakai ada
beberapa macam yaitu:
a. Golongan asam lemak: asam stearat, asam palmitat,
asam laurat, asam miristat.
b. Golongan hidrokarbon: vaselin album, vaselin flava,
paraffin.
c. Golongn monogliserida dan digliserida: emulgid.
d. Golongan cera dan zat yang menyerupai cera: cera flava,
cera album, cetaseum.

13
2. Bahan pengemulsi
Berfungsi sebagai bahan pembantu yang diperlukan untuk
menstabilkan suatu emulsi dan krim yang disesuaikan dengan tipe
dan sifat krim yang dikehendaki.
Contoh: TEA, Na Lauril sulfat.
3. Bahan humektan
Merupakan bahan yang berfungsi mencegah penguapan air
dari sediaan dan mempertahankan kelembaban kulit.
Contoh: sorbitol, gliserin, propilenglikol.
4. Bahan pengawet
Digunakan untuk mencegah perusakan dan pembusukan oleh
mikroorganisme.
Contoh: asam benzoat, nipagi, nipasol, dan lain-lain.
5. Antioksidan
Berfungsi untuk mencegah terjadinya oksidasi yang menyebabkan
rusaknya bahan-bahan yang terdapat dalam sediaan.
Contoh: vitamin E, propilgalat, bityl hidroksi toluen, dan lain-lain.

2.6.2 Pembuatan Krim


Dalam pembuatan krim berlaku peraturan salep dimana semua bahan
larut dalam minyak dimasukkan dalam fase minyak, dipanaskan pada suhu 70-
80°C diatas tangas air. Bahan-bahan yang larut dalam air dilarutkan dalam fasa
air dan dipanaskan diatas tangas air pada suhu 70-80°C setelah suhu keduanya
kira-kira sama, maka kedua fase tersebut dicampur dan diaduk perlahan-lahan
sampai terbentuk massa krim yang homogen.
Terganggunya sistem campuran krim disebabkan oleh bebrapa faktor
yaitu karena terjadinya perubahan suhu, penguapan air, terkontaminasi oleh
bakteri dan jamur (Anonim, 1995).

14
2.7 Evaluasi krim
Pemeriksaan homogenitas sediaan krim harus memenuhi syarat homogenitas
karena sifat ini mencerminkan pembagian yang merata dari bahan berkhasiat
dalam suatu pembawa (Anonim, 1979).
Stabilitas dan efektifitas bahan berkhasiat serta kecepatan berdifusi dalam
bahan berkhasiat kedalam kulit dari suatu krim, dipengaruhi oleh pH. Pemeriksaan
pH sediaan dilakukan secara potensiometer. Cara potensiometri dilakukan dengan
alat pH meter. Cara ini menggunakan suatu elektroda yang dicelupkan pada suatu
sediaan. Sebelum dilakukan pemeriksaan pH terlebih dahulu alat dikalibrasi
dengan menggunakan larutan dapar standar (Anonim, 1979;Martin, 1994).
Krim adalah sediaan padat yang berupa emulsi,dimana fase pendispersi
disebut fasa luar aur maka emulsi diebut M/A dan jika fasa dalam berupa air dan
fasa luar berupa minyak maka emulsi disebut M/A. Untuk mengetahui tipe emulsi
dapat digunakan beberapa cara yaitu pengenceran dengan air, fluoresensi,
konduktifitas elektrik, penambahan zat warna, daya tercuci (Jellinek, 1970).
Iritasi kulit adalah reaksi kulit yang terjadi karena pelekatan toksikan
golongan iritan. Golongan iritan ini dapat dijumpai dalam bebrapa produk
kosmetik yang dapat menyebabkan pada kulit bagi [Link] iritasi
merupakan uji kepekaan yang dilakukan secara uji tempel dengan mengoleskan
sediaan uji langsung pada kulit lengan atau kulut belakang telinga menusia dengan
maksud untuk mengetahui apakah sediaan uji tersebut dapat menimbulkan reaksi
iritasi kulit atau tidak. Iritasi yang terjadi setelah pelekatan disebut iritasi
sekunder. Dalam uji iritasi sukarelawan yang digunakan harus memenuhi
ketentuan sebagai berikut:
a. Sukarelawan harus berusia tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda,
anatar 20-30 tahun
b. Tidak sedang menderita penyakit lain
c. Tidak memakan obat golongan antihistamin, kortikoid dan
sitostatikum.
Karena panel yang digunakan dalam uji sampel ini adakah manusia(sukarelawan
atau penderita), maka reaksi kulit yang diharapkan timbul hanya diperboleh

15
hingga tinglat kerusakan kulit yang tidak parah, sekedar hanya menimbulkan
hipermia, eritema, pruiritus, atau paling parah hingga vasikula kulit saja.
Daya tercuci krim adalah mudah atau sukarnya suatu krim tercuci oleh
sejumlah air. Beberapa faktor yang mempengaruhi daya tercuci krim yaitu sifat
fisika dan kimia dari zat berkhasiat, macam dan sifat dasar krim sebagai pembawa,
daerah pemakaian, sifat dan kondisi kulit sipemakai (Jellinek, 1970).
Kestabilan krim dapat dipengaruhi oleh perubahan suhu, baik oleh
kenaikan atau penurunannya terhadap suhu kamar. Perubahan suhu ini selain
mempengaruhi suatu sediaan krim juga mempengaruhi khasiat zat aktifmya
karena terjadi penguraian (Martin, 1993;Osol, 1975)

16
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Farmasetika. Laboratorium


Penelitian Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau (STIFAR) Pekanbaru. Laboratorium
Penelitian Kimia Bahan Alam. Waktu penelitian dimulai pada Desember 2019
sampai April 2020

3.2 Metode Penelitian

Alat dan Bahan

a. Alat-alat
Alat yang dibutuhkan dalam penelitian adalah timbangan analitik, cawan
penguap, lumpang, stemfer, sudip, labu ukur, gelas ukur, lemari pendingin,
pipet tets, penjepit, gelas beker, tabung reaksi, spatel, termometer, penangas
air, lampu spiritus, destilasi, rotary evaporator, microplate reader.
b. Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekstrak cocor bebek
(Kalanchoe pinnata L.), asam stearat, cetyl alkohol, gliserol, TEA, nipagin,
nipasol, air suling.

3.3 Rencangan Penelitian

a. Pengambilan sampel

b. Pemeriksaan bahan tambahan

c. Pembuatan ekstrak

d. Rancangan formula

e. Formulasi basis krim

e. Evaluasi basis krim

17
f. Formulasi krim antioksidan

g. Evaluasi krim antioksidan

h. Uji aktivitas antioksidan sediaan

i. Analisis data

3.4 Pelaksanaan Penelitian

3.4.1 Pengambilan Sampel

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah bibit daun cocor bebek
(Kalanchoe pinnata L.) yang diperoleh dari daerah Dabo Singkep, Kab. Lingga.

3.4.2 Pemeriksaan Bahan Tambahan

Pemeriksaan asam stearat, cetyl alkohol, TEA, nipagin, nipasol dilakukan


menurut Farmakope Indonesia edisi IV, Farmakope Indonesia edisi III dan
Handbook of Pharmaceutical of Excipient.

3.4.3 Pembuatan Ekstrak

Simplisia serbuk ditimbang sejumlah 40 g dimeserasi dalam 100 mL etanol


70%. Meserasi dilakukan selama 48 jam. Selanjutnya larutan disaring
menggunakan kertas saring dengan bantuan pompa vacum. Residu kemudian
diuapkan menggunakan vacuum rotary evaporator dengan suhu 55°C dan
dilanjutkan di atas waterbath pada suhu 70°C selama 3 jam dengan pengadukan
seriap 30 menit. Metode ini mengacu pada penelitian Nwose(2013) dengan
modifikasi pelarut dan proses pemekatan.

18
3.4.4 Formulasi Basis Krim

Tabel 2. Formula Basis Krim Tipe Minyak daalam Air (m/a)

No. Bahan Formula krim (%)


1. Asam stearat 25
2. Cetyl alkohol 1
3. Gliserol 5
4. TEA 2
5. Nipagin 0,1
6. Nipasol 0,05
7. Air suling ad 100
(Anonim, 1971)

Cara pembuatan:

Ditimbang semua bahan yang diperlukan. Bahan-bahan yang terdapat


dalam formula dipisahkan dalam 2 kelompok, yaitu fase minyak dan fase air. Fase
minyak (asam stearat, cetyl alkohol, glisero) dan fase air (TEA, nipagin, nipasol,
air suling). Setiap fase dipanaskan pada suhu 60°C -70°C di tangas air. Pindahkan
fase minyak kedalam lumpang panas dan ditambahkan fase air, gerus sampai
homogen sampai dingin hingga terbentuk massa krim.

3.4.5 Evaluasi Basis Krim

1. Pemeriksaan organoleptis

Meliputi : penampilan, warna, dan bau yang dilakukan secara visual


(Anonim, 1995).

2. Pemeriksaan Homogenitas

Pemeriksaan sediaan dilakukan dengan cara : 0,1 gram sediaan pada


sekeping kaca ynag transparan, harus menunjukkan susunan yang homogen dan
tidak boleh terlihat adanya bintik-bintik partikel (carter, 1975).

19
3. Pemeriksan Ph

Alat terlebih dahulu dikalibrasi dengan menggunakan larutan dengan


standar pH 4, larutan dapar standar pH 7 dan pH 9, angka dimonitor menunjukkan
harga pH tersebut diatas. Kemudian elektroda dicuci dengan air suling, lalu
dikeringkan dengan tisu. Pengukuran pH sediaan dilakukan dengann cara
mengencerkan 1 gram sediaan dengan 10 ml air suling dalam suatu wadah,
kemudian celupkan elektroda kedalam larutan tersebut dan biarkan angka
menunjukkan sampai posisi konstan. Angka yang ditunjukkan oleh pH meter
merupakan harga pH sediaan (Carter,1975, Martin et al,1993).

4. Pemeriksaan Stabilitas Fisik sediaan krim

Dilakukan dengan dua suhu perlakuan yaitu pada suhu kamar dan
pendinginan dengan cara sebagai berikut, sediaan yang akan diuji biarkan selama 2
bulan pada suhu kamar. Pada setiap minggunya diamati apakah terjadi pemisahan
atau tidak. Pemeriksaan stabilitas sediaan krim dilakukan menggunakan wadah
yang cocok, lalu disimpan dalam lemari es pada suhu 0-4°C dan dibiarkan selama
1 minggu lalu dikeluarkan. Setelah itu amati apakah terjadi pemisahan atau tidak.
Sediaan krim yang tidak menunjukkan pemisahan dinilai sabagai sediaan yang
stabil (Martin et al,1993).

5. Pemeriksaan daya tercuci

Sediaan ditimbang sebanyak 1 g, dioleskan pada telapak tangan kemudian


dicuci dengan sejumlah volume air sambil membilas tangan. Air dilewatkan dari
buret dengan perlahan-lahan, amati secara visual sampai tidak ada sisa krim yang
tersisa pada telapak tangan, catat volume air yang terpakai (Jellinek, 1970).

6. Uji daya menyebar

Sediaan sebanyak 0,5 g diletakkan dengan hati-hati diatas kertas grafik yang
dilapisi kaca transparan biarkan (15 detik) dihitung luas daerah yang diberikan oleh
suatu sediaan, kemudian ditutup lagi dengan lempengan kaca diberi bebab tertentu

20
(5 gram sampai 30 gram) dan dibiarkan selama 60 detik. Kemudiaan dihitung luas
yang diberikan oleh sediaan.

7. Uji iritasi kulit

Sebanyak 0,1 g krim ditimbang, dioleskan pada kulit lengan bagian dalam
dengan ukuran 2x2 cm, kemudian ditutupi dengan kain kasa dan plester, setelah itu
dilihat gejala yang ditimbulkan setelah 24 jam pemakaian. Uji iritasi ini dilakukan
untuk masing-masing pada 6 orang penelis (Anonim, 1982).

3.4.6 Formulasi Sediaan Krim Ekstrak Cocor Bebek (Kalanchoe pinnata L.)
Formula krim menggunakan ekstrak cocor bebek dengan konsentrasi 2,5 %
dan 5% .
Tabel 3. Formula Krim Antioksidan Tipe Minyak Dalam Air (M/A)
Kontrol positif
No. Bahan FI(%) FII(%)
(%)
1. Ekstrak cocor bebek 2,5 5
2. Vitamin E 0,02
3. Basis krim ad 100 100 100

3.4.7 Evaluasi Krim Ekstrak Cocor Bebek

1. Pemeriksaan organoleptis

Meliputi : penampilan, warna, dan bau yang dilakukan secara visual


(Anonim, 1995).

2. Pemeriksaan Homogenitas

Sediaan 0,1 gram pada sekeping kaca ynag transparan, harus menunjukkan
susunan yang homogen dan tidak boleh terlihat adanya bintik-bintik partikel (carter,
1975).

3. Pemeriksan Ph

21
Alat terlebih dahulu dikalibrasi dengan menggunakan larutan dengan
standar pH 4, larutan dapar standar pH 7 dan pH 9, angka dimonitor menunjukkan
harga pH tersebut diatas. Kemudian elektroda dicuci dengan air suling, lalu
dikeringkan dengan tisu. Pengukuran pH sediaan dilakukan dengann cara
mengencerkan 1 gram sediaan dengan 10 ml air suling dalam suatu wadah,
kemudian celupkan elektroda kedalam larutan tersebut dan biarkan angka
menunjukkan sampai posisi konstan. Angka yang ditunjukkan oleh pH meter
merupakan harga pH sediaan (Carter,1975, Martin et al,1993).

4. Pemeriksaan Stabilitas Fisik sediaan krim

Dilakukan dengan dua sushu perlakuan yaitupada sushu kamar dan


pendinginan dengan cara sebagai berikut, sediaan yang akan diuji biarkan selama 2
bulan pada sushu kamar. Pada setiap minggunya diamati apakah terjadi pemisahan
atau tidak. Pemeriksaan stabilitas sediaan krim dilakukan menggunakan wadah
yang cocok, lalu disimpan dalam lemari es pada suhu 0-4°C dan dibiarkan selama
1 minggu lalu dikeluarkan. Setelah itu amati apakah terjadi pemisahan atau tidak.
Sediaan krim yang tidak menunjukkan pemisahan dinilai sabagai sediaan yang
stabil (Martin et al,1993).

5. Pemeriksaan daya tercuci

Caranya : sediaan ditimbang sebanyak 1 g, dioleskan pada telapak tangan


kemudian dicuci dengan sejumlah volume air sambil membilas tangan. Air
dilewatkan dari buret dengan perlahan-lahan, amati secara visual sampai tidak ada
sisa krim yang tersisa pada telapak tangan, catat volume air yang terpakai (Jellinek,
1970).

6. Uji daya menyebar

Sediaan sebanyak 0,5 g diletakkan dengan hati-hati diatas kertas grafik yang
dilapisi kaca transparan biarkan (15 detik) dihitung luas daerah yang diberikan oleh
suatu sediaan, kemudian ditutup lagi dengan lempengan kaca diberi bebab tertentu
(5 gram sampai 30 gram) dan dibiarkan selama 60 detik. Kemudiaan dihitung luas
yang diberikan oleh sediaan.

22
7. Uji iritasi kulit

Sebanyak 0,1 g krim ditimbang, dioleskan pada kulit lengan bagian dalam
dengan ukuran 2x2 cm, kemudian ditutupi dengan kain kasa dan plester, setelah itu
dilihat gejala yang ditimbulkan setelah 24 jam pemakaian. Uji iritasi ini dilakukan
untuk masing-masing pada 6 orang penelis (Anonim, 1982).

3.4.8 Pengujian Aktivitas Antioksidan Sediaan

1. Pembuatan Larutan DPPH

Sejumlah 2 mg DPPH ditimbang dan dilarutkan dalam 2 ml metanol


sehingga didapatkan konsentrasi DPPH 1000 ppm. Kemudian dilakukan
pengenceran dengan konsentrasi 80 µg/ml.

2. Pengujian Aktivitas Antioksidan Sediaan

Uji aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan microplate reade two fold


delution dengan metode DPPH. Sejumlah krim yang mengandung ekatrak cocor
bebek 1 g ditimbang dan dilarutkan dalam 1 ml metanol hingga homogen.
Kemudian masukkan ke dalam alat ultrasonik selama 5 menit. Baris A dan B
dimasukkan larutan sampel sebanyak 50 µg/ml (plate terdiri dari basris A-H
masing-masing berjumlah 12 sumur tetapi yang diisi larutan sampel hanya 3 sumur
pada masing-masing baris yang berarti 3 kali pengulangan untuk satu larutan
sampel). Sebanyak 50 µg/ml matanol dimasukkan pada masing-masing sumur pada
baris B-F. Baris B dipipet sebanyak 50 µg/ml dan dimasukkan ke baris C, baris C
dipipet 50 µg/ml dimasukkan ke baris D dan dilakukan sampai baris F, baris F
dipipet 50 µg/ml lalu dibuang, sehingga diperoleh konsentrasi 1000; 500; 250; 62,5
dan 31,25 mg/ml. Sedangkan pada baris G-H dengan metanol 50 µg/ml. Baris A-G
ditambahkan DPPH sebanyak 80 µl dengan konsentrasi 80 µg/ml, kemudian
dilapisi dengan aluminium foil dan diinkubasi selama 30 menit pada tempat yang
gelap.

23
3. Penentuan Persen Inhibisi

Aktivitas penangkapan radikal diukur sebagai penurunan absorbansi DPPH


dengan microplate reader pada panjang gelombang 520 nm dan diolah data. Nilai
% inhibisi dihitung dengan menggunakan rumus :

% Inhibisi = Absorbansi kontrol-Absorbansi sampel X 100%


Absorbansi Kontrol
Absorbansi kontrol : Absorbansi DPPH + MeOH

Absorbansi sampel : Absorbansi sampel

3.4.9 Analisis Data

Dilakukan analisis data sevara deskriptif dalam bentuk tabel dan grafik.

24
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan Republik


Indonesia. Jakarta
Anonim. [Link] Kosmetika Indonesia. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. Jakarta
Ansel, H. C., 1989., Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, ed IV diterjemahkan oleh
Farida Ibrahim, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta
Bagun, A., 2012, Ensiklopedia Tanaman Obat Indonesia, Indonesia Publishing
House, Bandung, hal. 394-395
Charles et [Link] Study of Two Kalanchoe spesie: Total Flavonoid,
Phenolic contents and Antioxidant Properties. 2012. 65-73
Fessenden, R. J. and J. Fessenden. 1992. Kimia Organik I,Ed ke-3, Aloysius
Hadinata, penerjemah, Jakarta : Erlangga. 224-226
Goodman, L.S and A gilman, 1991., (eds), Pharmacological Basis of Terapeutic,
18 th Ed, Pergamon Press, New York
Harahap, M. 2000. Ilmu Penyakit Kulit,Hipokrates,Jakarta
Harborne, J. B. 1987. Metode Fitokimia Penentuan Cara Modern Menganalisa
Tumbuhan. Edisi II. Terjemahan Kosasih Padmawinata. ITB. Bandung
Jellinek, S.J, 1970., Formulation and Fuction of Cosmetics, Willey Intercienci,New
York, London
Joseph B., Sridhar B., Sankarganesh,J. And B. T. E 2011. Rare Medicinal Plant-
Kalanhie pinnata
Lachman, L., H. A.. Liberman & J. L Kning. 1994. Teori dan Praktek Farmasi
Industri. Jilid I Edisi II, Diterjemahkan Oleh Siti Suyatmi. Jakarta : Penerbit
Universitas Indonesia
Majaz, Q., Tatiya, A.u., Khushid, M., Nazim, S., dan Siraj, S., 2011, The Miracle
Plant (Kalanchoe pinnata ) : A Phytochemical and Pharmacological
Review, IJRAP, 2(5), 1478-1482
Mohan et al. Antioxidant and Phytochemical Potential of Medical Plant Kalanchoe
pinnata. IJPSR.2012

25
Molyneux, P. 2004. The Use Of The Stable Free Radikal Diphenilpicryllhydrazil
(DPPH) For Estimating Antioxidant Activity. Songklanakarin J. [Link].
26(2),211-219
Nascimento. Increase Antioxidant Activity and Change of Kalanchoe pinnata
(Lamark) Persoon (Crassulaceaea) Specimens Grown Under Supplemental
Blue Light. 2013. 391-399
Nwose, C., 2013 Effect of Ethanolic Leaf of Klanchoe pinnata on Serum
CreatineKinase in Albino Rats, Journal of Pharmacognosy and
Phytochemistry, 1, 8-12
Osol, A. 1975. Remingtone Pharmaceutical Science, 15th Merck Publising Comp,
Easton, Pennsylanin
Prakash, A. 2001. Antioxidant Activity, Analytical Progress. Medallion
Laboratories, Volume 19, no. 2
Rajsekhar et al. The “Wonder Plant” Kalanchoe pinnata(Linn.): Journal of Applied
Pharmaceutical Science 6 (03);2016:151-158
Silalahi, J. 2006. Makanan Fungsional. Penerbit Kanisius. Yogyakarta
Uiito, J. 1997. Understanding Premature Skin Aging. N Engl J Med: No 20,337:
1463-1465
Voigt. 1984. Buku Ajar Teknologi Farmasi.(S. Neoroto & S., Eds). Yogyakarta
Wasiatmaja, S.M. 1997. Penuntun Ilmu Kosmetika Medik. Universitas Indonesia.
Jakarta
Winarsi, H. 2007. Antioksidan Alami dan Radikal Bebas. Kanisus. Yogyaakarta

26
LAMPIRAN

Gambar 1. Kalanchoe pinnata L.

Gambar 2. Struktur Flavonoid Kalanchoe pinnata.(A)


quercetin 3-O-a-L-arabinopyranosyl dann (B) quercetin
3-O-a-rhamnopyranoside

27

Anda mungkin juga menyukai