Analisis Laboratorium
Narkotik dan Psikotropik
NURUL HIDAYAH, [Link]., [Link]., APT.
Golongan narkotika: ganja
Golongan psikotropika: amfetamin dan
metamfetamin
“
ANALISIS NARKOTIKA
”
Narkotika adalah obat untuk menenangkan saraf, menghilangkan
rasa sakit, menimbulkan rasa mengantuk, atau merangsang (seperti
opium, ganja).
Narkotika dapat berasal dari bahan alami seperti golongan opium, dan
sintetis.
Narkotika sintetis antara lain: fentanyl, metadon, dekstropropoksifen,
pethidin.
Narkotika diatur dalam Undang-undang Narkotika nomor 35 tahun
2009, dengan klasifikasi menurut Permenkes nomor 2 tahun 2017.
Ganja
Ganja adalah tanaman yang
termasuk dalam family
Cannabaceae, kadang dikenal
sebagai Cannabinaceae.
Marijuana biasanya mengarah pada
campuran daun dan bagian atas
bunga begitu juga dengan bhang,
dagga, kif, maconha. Hashish dan
charas biasanya berupa resin.
Kanabis mengandung lebih dari 60 derivat dari 2-[2-isopropyl-
methylphenyl]-5-pentylresorcinol yang disebut kanabinoid.
Kanabis mengandung campuran bervariasi zat kimia yang disebut
kanabinoid.
Empat kandungan mayor adalah :
a. ∆-9-tetrahydrocannabinol (THC)
b. Cannabinol (CBN)
c. Cannabidiol (CBD)
d. Cannabichromene(CBCh)
Kandungan THC bervariasi tergantung pada bagian tanaman: 10-12% pada bunga
pistillat (betina), 1-2% pada daun, 0,1-0,3% pada tangkai dan <0,03% di akar.
Tetrahydrocannabinol (THC) adalah kanabinoid yang paling menyebabkan efek psikologik
dari produk kanabis.
Bentuk-bentuk kanabis :
a. Marijuana (produk herbal) Karakteristik kimia bervariasi biasa dengan atau tanpa CBD dan
THCV (tetrahydrocannabivarin).
b. Produk Resin Kanabis Afrika utara: kandungan CBC lebih rendah dibanding THC, THCV
sangat rendah.
c. Kanabis cair kanabis herbal : 0,5-5 % ; kanabis resin : 2-10 % ; kanabis cair : 10-30 %
Jumlah tersebut hanya panduan, pada kenyataannya produk yang ditemukan
mengandung jumlah yang jauh lebih tinggi. ∆9-THC mempunyai efek psikomimetik 20
kali lebih kuat dari ∆8-THC.
∆9-THC mudah terikat dengan gelas dan plastic mengurangi perolehan kembali
(recovery) pada proses analisis. Hal ini dapat diminimalisasi dengan penggunaan
peralatan gelas amber dan penyimpanan senyawa dalam larutan standar (basic) atau
pelarut organic (BNN, 2008).
MEKANISME KERJA
Ganja digunakan dengan cara dihisap atau sebagai rokok.
Ganja masuk melalui hidung atau mulut Saluran pernapasan diabsorpsi
pembuluh darah jantung seluruh tubuh.
Tetrahydrocannabinol (THC) + reseptor cannabinoid (otak) mengganggu fs ingatan,
pikiran, konsentrasi, persepsi waktu dan kedalaman, dan gerakan terkoordinasi.
Molekul endogen yang mengikatnya secara alami telah diidentifikasi yaitu anandamide.
Anandamide terlibat dalam mengatur mood, memori, nafsu makan, rasa sakit, kognisi,
dan emosi.
Ketika ganja dimasukkan ke dalam tubuh, bahan aktifnya, Delta-9-
Tetrahydrocannabinol (THC) dapat mengganggu semua fungsi ini.
Efek akut ganja bervariasi, termasuk tertawa dan cekikikan, peningkatan nafsu
makan, perubahan persepsi dan mood, dan efek stimulan atau sedatif.
Dengan dosis yang sangat besar menimbulkan halusinasi, kegelisahan,
paranoid, gangguan memori jangka pendek, dan keseimbangan.
Penggunaan ganja secara intravena dapat menyebabkan kolaps kardiovaskular,
koagulopati intravaskular diseminata, atau kematian. (UNODC,2014)
Farmakokinetik Ganja
Disposisi dalam Tubuh
D9-THC diserap dari saluran pencernaan dengan lambat, dapat diukur dalam plasma dalam
hitungan detik setelah menghirup asap ganja pertama.
D9-THC bersifat lipofilik dan terdistribusi secara luas di dalam tubuh.
Di Hati D9-THC dioksidasi oleh enzim sitokrom p450 metabolit aktif + metabolit inaktif.
11-hidroksi-D9-THC + 8b-hidroksi-D9-THC Metabolit aktif
8a-hidroksi-D9-THC + 8a, 11-dihidroksi-D9-THC Metabolit inaktif.
Metabolit asam mayor, 11-nor-∆-9-tetrahydrocannabinol-9-carboxylic acid (9-carboxyTHC)
diubah menjadi konjugat mono + di-glukoronida yang merupakan bentuk terbanyak yang
dikeluarkan dalam urin Identifikasi 9-carboxy-THC dalam urin merupakan indikator terbaik untuk
mendeteksi konsumsi kanabis.
T1/2 > dari 20 jam THC terdapat dalam tubuh dalam waktu lama sampai 12 hari setelah
konsumsi terakhir.
Pada pengguna yang jarang, metabolit dapat terdeteksi dalam urin dalam 1-3 hari tergantung
dari metode pemeriksaan, pada pengguna kronis metabolit dapat terdeteksi 1 minggu atau lebih.
Analisis Ganja dalam Cuplikan Herbal,
Resin dan Hashis Oil
Untuk produk ganja yang menunjukkan karakteristik botani, kombinasi
uji warna, kromatografi lapis tipis dan pemeriksaan fisik (makroskopis dan
mikroskopis) dianggap sebagai pendekatan analitik minimum yang dapat
diterima untuk identifikasi positif.
Uji Makroskopis
Bunga pada tanaman individu bersifat uniseksual. Tanaman jantan biasanya lebih tinggi
tapi kurang kuat dibanding tanaman betina.
Batang berwarna hijau, tegak, berongga dan beralur longitudinal (Gambar 5).
Tingginya dapat bervariasi dari 0,2-6 m, meskipun sebagian besar tanaman mencapai
ketinggian 1-3 m.
Batang daun (petioles) panjangnya 2-7 cm dengan alur sempit di sepanjang sisi atas.
Daunnya adalah palmate dan terdiri dari 3-9 lembar lanseolat lurus 3-15 x 0,2-1,7 cm.
Tepinya bergerigi kasar, gerigi mengarah ke ujungnya.
Karakteristik Mikroskopik
Cannabis sativa dapat diidentifikasi dengan struktur mikroskopik
permukaan tanaman, yaitu ditandai oleh trikoma (seperti proyeksi
rambut dari sel epidermis tumbuhan).
Dua jenis trikoma dapat diamati dengan mikroskop binokuler
dengan faktor pembesaran 40.
(a) Trichome non-glandular sangat banyak, tidak bulat, kaku dan
melengkung, dengan ujung ramping yang runcing:
(1) Cystolithic trichome yang ditemukan di permukaan atas daun
ganja memiliki bentuk cakar beruang yang khas dan mungkin
memiliki kristal kalsium karbonat (cystoliths) yang terlihat di
pangkalannya. Seringkali, trichome rusak dan sistolis terbebas (a);
(2) Trikoma non-kistolitik berada terutama pada sisi bawah daun,
bract dan bracteola dan tidak memiliki dasar yang membesar (b);
(3) Trikoma berbentuk cakar beruang di permukaan atas dan trikoma
non-cystolithicyang halus dan ramping pada permukaan bawah
daun adalah karakteristik ganja.
Preparasi
1) Preparasi ganja herbal Bahan tanaman segar (basah) dikeringkan
pada suhu kamar selama beberapa hari atau dikeringkan pada suhu
70°C sampai daunnya menjadi rapuh. Bahan kering kemudian dipilih
secara kasar (hanya bunga dan daun yang digunakan), dilumatkan
(sebaiknya dengan pemotong dengan kecepatan tinggi, yaitu 100 rps)
dan disaring (ukuran mesh 1 mm).
2) Preparasi resin (damar) ganja Damar ganja dipotong kecil atau
dengan parutan. Sebagai alternatif untuk bahan yang lengket, sampel
didinginkan dengan nitrogen cair dan segera dilumatkan.
3) Preparasi minyak ganja (Hashis oil): Minyak ganja bisa langsung
dianalisis.
Tes Presumtif
1) Tes warna
Tes warna positif kemungkinan hanya +/- mengandung ganja wajib
dilakukan pengujian yang lebih spesifik.
Sebagai contoh, sebuah laboratorium memungkinkan kombinasi tes
warna, kromatografi lapis tipis dan mikroskopi untuk bahan tanaman
ganja untuk identifikasi positif, asalkan setidaknya tiga cannabinoids
diidentifikasi oleh KLT.
Analis juga sangat disarankan untuk menganalisa sampel kontrol
ganja (misalnya bahan referensi yang mengandung campuran standar
referensi cannabinoid) dan blind sampel untuk memverifikasi hasil
pengujian dan fungsionalitas serta keandalan semua reagen uji.
(1) Pereaksi:
• Reagen A: petroleum eter, reagen B: garam Fast Corint V (1% w/w Dichloro zinc; 2-
methoxy- 5-methyl-4- (4-methyl- 2-nitrophenyl) diazenyl- benzenediazonium; di
chloride dalam sodium sulfat anhidrat, reagen C: 1% w/w sodium bikarbonat dalam air.
(2) Prosedur
• Lipat dua kertas saring yang diletakkan satu di atas yang lain, lipat membentuk
corong letakkan sampel bubuk ke bagian tengah kertas atas Tambahkan dua
tetes reagen A yang memungkinkan cairan untuk menembus ke kertas saring yang
lebih rendah. Buang kertas saring atas dan biarkan kertas saring yang bawah
mengering. Tambahkan sedikit pereaksi B ke bagian tengah kertas saring dan
tambahkan dua tetes reagen C.
(3) Pengamatan
• Adanya bercak berwarna merah ungu di bagian tengah kertas saring adalah indikasi
dari produk yang mengandung ganja. THC, CBN dan CBD menghasilkan rona yang
sama.
b) Tes Fast Blue B
• Reagen A: petroleum eter,
• Reagen B: garam Fast Blue B (1% w/w Di-oanisidinetetrazolium chloride dalam
(1) sodium sulfat anhidrat,
Pereaksi: • Reagen C: 10% w/w sodium bikarbonat dalam air
• sama seperti pada prosedur Fast Corin V.
(2)
Prosedur,
• Bercak berwarna merah ungu di bagian tengah kertas saring adalah indikasi dari
produk yang mengandung ganja.
(3) • Warna ini adalah kombinasi dari warna cannabinoids yang berbeda yang
Pengamat merupakan komponen utama ganja: THC = merah, CBN = ungu, CBD = orange.
an : • Catatan: Garam Fast Blue B harus disimpan dalam kulkas, agar tidak mengeras.
Uji Konfirmasi (Prosedur seperti pada
Sampel Biologis)
1) KLT (TLC)
2) KG (GC / GC-MS)
3) KCKT (HPLC)
Analisis Marijuana dalam
Sampel Biologis
Tes Skrining: Pemeriksaan skrining dapat dilakukan di luar laboratorium dengan
metode onsite strip test maupun di dalam laboratorium dengan metode ELISA
(enzyme linked immunosorbent assay).
Sampel
•urine
Metode
•Immunochromatografi Kompetitif
Prinsip
•Test didasarkan pada kompetisi penjenuhan IgG anti-narkoba (Ab pendeteksi di dalam
strip) ada dalam keadaan bebas di zone S) narkoba di urin (Antigen dalam Sample)
atau narkoba yang telah dikonjugasi enzim “Antigen dalam Strip Test” (ada dan terfiksir
di zone T).
•Jika dijenuhi oleh narkoba dalam sampel (sampel positif narkoba), maka IgG anti
narkoba substrat tidak akan berikatan dengan narkoba-enzimnya, sehingga tidak terjadi
reaksi enzim-subtrat yang berwarna.
•Sebaliknya jika tidak dijenuhi (sampel negatif narkoba) atau hanya sebagian dijenuhi
(sampel mengandung narkoba dalam jumlah di bawah ambang batas pemeriksaan/cut
off value), maka IgG anti-narkoba-substrat akan berikatan dengan narkoba-enzimnya
secara penuh atau sebagian, sehingga terjadi reaksi enzim-substrat yang berwarna
penuh atau samar-samar.
Alat dan Bahan
•Strip test Narkoba
Cara Kerja :
•a) Biarkan strip test dalam suhu kamar.
•b) Buka penutup strip test, kemudian celupkan strip test tersebut secara vertical ke dalam sample urine
selama 10-15 detik.
•c) Ketika strip test dicelupkan tidak boleh melewati batas garis yang paling bawah Zona Sample (S).
•d) Tempatkan test strip itu pada bidang datar, baca hasil setelah 5-10 menit.
Interpretasi Hasil
•Positif : Hanya terbentuk pita pink pada Control (C)
•Negative : Terbentuk dua pita pink pada Control (C) dan pada Test (T)
•Invalid : Tidak terbentuk pita pink pada Control (C) dan pada Test (T) atauterbentuk pita pink pada Test
(T) sedangkan pada Control (C) tidak terbentuk pita pink
Uji Konfirmasi
1) Analisis THC Metode Kromatografi Lapisan Tipis ( KLT )
2) Prinsip :
•Residu hasil hidrolisa yang dilanjutkan dengan ekstraksi yang dielusi dengan pelarut
tertentu akan membentuk bercak yang berwarna khas.
3) Perlatan:
•Alat KLT :Bejana kromatografi; Pipakapiler pipet mikro; Botol semprot sprayer
•Oven dan lampu UV
4) Reagen :
•Lapisan tipis Silica Gel G
•Eluen, dipilih salah satu : A : Etil asetat-metanol-amonia-akuades (12 : 5 : 1 : 0.5); B: Kloroform-
metanol-amonia (70 : 30 : 2)
•Larutan penampak bercak Fast Blue B, harus dibuat baru:
•Larutan standar: Larutan 9-carboxy-THC 1 mg/mL dalam metanol
Cara Kerja:
• Persiapan specimen
• (1) Hidrolisis: Hidrolisis alkali Pipet 10 ml urin kedalam tabung gelas bertutup,
untuk pemeriksaan dengan KG ditambah standar internal. Tambahkan 2ml kalium
hidroksida 10 N, tutup tabung dan inkubasi pada 50oC selama 20 menit
dengan sekali-kali diaduk. Lanjutkan dengan ekstraksi.
Ekstraksi
• Prinsip ekstraksi: 9 karboksil THC dari urin yang telah dihidrolisa diekstraksi dalam
suasana asam. Hasil ekstraksi diuapkan pada suhu 35-40oC Residu siap
untuk pemeriksaan dengan KLT dan KG.
Cara ekstraksi ada 2
• Cair-cair
• Solid-phase extraction (SPE)
Pemeriksaan Kromatografi Lapis Tipis
• Totolkan 5-10 µl larutan standart dan hasil ekstraksi pada plate
dengan jarak 2 cm, kemudian elusi dalam bejana kromatografi
dengan salah satu larutan eluen.
• Keluarkan plate dari bejana kromatografi, kemudian plate
dikeringkan sebelum disemprot dengan penamoak bercak.
• Plate yang telah dikeringkan disemprot dengan larutan
penampak bercak amati dibawah lampu UV.
• Pembacaan hasil : Bandingkan nilai Rf ekstrak dengan Rf standart
Analisis Psikotropika
Sifat Fisika Kimia Amfetamin
Fisika bubuk atau tablet warna putih dan keabu- abuan, dapat berupa
kapsul atau cairan.
Merupakan senyawa sintetis dengan rumus kimia C9H13N. Amfetamin
dan metamfetamin termasuk psikotropika golongan II.
Waktu paruh 9 – 15 jam.
Absorbsi dan distribusi
•Cara pemakaian amfetamin secara oral, intravena, rektal, inhalasi, bawah lidah (sub
lingual).
•Bioavailabilitas oral 20-25 %, nasal 75 %, rektal 95-99%, injeksi intravena 100 %.
•Bioavailabilitas metamfetamin oral 62,7%, nasal 79%, rokok 90,3%, rektal 99%, injeksi
intravena 100%.
•Kebanyakan derivat amfetamin dengan cepat diabsorbsi dari saluran pencernaan.
Metabolisme dan ekskresi
•Setelah mengkonsumsi dosis oral sebanyak 2,5-15 mg amfetamin Cmaks sebesar 30-
170 µg/mL akan dicapai dalam 2 jam, dan t1/2 8-12 jam.
•Kadar dalam darah yang menyebabkan kematian biasanya di atas 500 µg/mL.
•Metamfetamin dan amfetamin mulai terdeteksi dalam urin 20 menit setelah pemakaian.
•Amfetamin dikeluarkan dalam bentuk aslinya 20-30%, sedangkan 25% adalah bentuk
asam hipurat dan asam benzoat (deaminasi) serta metabolit terhidroksilasi sebagian
sebagai konjugat.
•Kecepatan dan jumlah zat yang dikeluarkan dalam bentuk aslinya berganutng pada pH urin.
•Dalam urin alkali 45% zat yang dikeluarkan dalam 24 jam, 2% adalah bentuk asli, sedangkan
dalam urin asam, 78% dikeluarkan dalam 24 jam, 68% adalah bentuk bebas.
Analisis Amphetamin dan Derivatnya pada
Sampel Biologis
Screening test
Metode Kromatografi Lapisan Tipis (KLT)
• Prinsip : Residu hasil ekstraksi yang dielusi dengan eluen tertentu sehingga
terbentuk bercak dengan warna yang khas.
• Peralatan : Alat KL; Bejana kromatografi; Pipa kapiler; Botol semprot; Oven;
Lampu UV.
• Reagen :a) Lapisan tipis silica gel G/F; b) Eluen, pilih salah satu : A: Metanol –
Ammonia (100 : 1,5); B : Etil asetat – methanol – ammonia (85 : 10 : 5); c)
Larutan penampak bercak pilih salah satu : (1) Fast Black K Salt (2)
Ninhidrin (3) Reagen fluoreskamin (fluram) (4) Simons.
• Larutan standar: amfetamin dan metamfetamin: siapkan larutan standar
dalam metanol mengandung masing-masing 5 mg/mL
Metoda Kromatografi Gas (KG)
• Prinsip : Derivatisasi hasil ekstraksi dilarutkan dengan pelarut etil asetat dan pelarut tertentu
sesuai dengan metodanya, diinjeksikan ke dalam injektor dengan kondisi tertentu, sehingga
dapat diketahui waktu retensi (retention time=Rt), luas area dan puncak kromatogram yang
dihasilkan.
b. Peralatan :
• 1) Derivatisasi : Tabung runcing berskala; Labu ukur 10 ml
• 2) Kromatografi gas
Reagen
• 1) Larutan standar kalibrasi: Dibuat dari larutan induk amfetamin, metamfetamin dan
larutan standar internal dengan kadar 1 mg/ml dalam etanol.
• Larutan standar kalibrasi dibuat dari larutan induk dalam urin dengan konsentrasi antara 0-5 𝜇
g/ml, dan standar internal konsentrasi 5𝜇g/ml.
• 2) Derivatisasi dipilih salah satu : a) Larutan HFBA (heptafluorobutyric acid) dan b) Larutan
TFAA (trifluoroacetic anhydride).
Metoda Spektrofotometri
•Metoda ini digunakan untuk pemeriksaan derivat amfetamin dalam sediaan tunggal dan dosis tinggi yang
terdapat dalam sisa bahan makanan, minuman, obat yang diduga menyebabkan keracunan.
Prinsip
•3,4 methylene dioxyamphetamin (MDA) diekstraksi dari spesimen dengan pelarut chloroform dan
kemudian dilarutkan dalam asam sulfat 0,1 M diukur pada spektrofotometer pada 340-220 nm secara
kuantitatif.
b. Peralatan :
•1) Corong pisah 250 mL
•2) Tabung sentrifus & sentrifus
•3) Spektrofotometer & pencatat
•4) Kertas saring
c. Reagen :
•NaOH 20% (20 g/dL)
•NaOH 2 % (2 g/dL)
•Kloroform
•Asam sulfat 0,1 M
Cara Kerja :
• (1) Ke dalam corong pisah 250mL, masukkan 10mL spesimen (darah, urine,
cairan lambung dan larutan standar darah MDA) dengan larutan NaOH 20%
• (2) Ekstrak 2 kali dengan 100mL kloroform (CHCl3) selama 5 menit.
• (3) Cuci lapisan campuran CHCl3 dengan 10mL NaOH 2%, kemudian
dengan 20mL air. Pisahkan lapisan air.
• (4) Saring dengan kertas saring lapisan CHCl3. Ke dalam corong pisah
250mL yang lain tambahkan 5 mL 0,1 N asam sulfat dan ekstraksi selama 5
menit.
• (5) Pisahkan lapisan asam sulfat dan sentrifus.
• (6) Tempatkan 3 mL ekstrak Asam Sulfat dalam kuvet dan 0,1 N Asam Sulfat
dalam sel standard.
• (7) Catat absorban pada 340-220 nm.
• (8) Absorbsikan pada 285 nm dan 234
• (9) Ukur absorban pada panjang gelombang 285 nm.