Optimalisasi Posbindu PTM Puskesmas Bangetayu
Optimalisasi Posbindu PTM Puskesmas Bangetayu
Disusun oleh:
Nama : dr. Aris Maulana
NIP : 19920514 201902 1 004
Gol./Angkatan : III / II
No. Presensi : 10
Jabatan : Dokter Ahli Pertama
Unit Kerja : UPTD PUSKESMAS BANGETAYU
Coach : Tri Mardiyanti Ratnasari, SE, [Link]
Mentor : dr. Suryanto Setyo Priyadi
i
HALAMAN PERSETUJUAN
Menyetujui,
Coach, Mentor,
ii
HALAMAN PENGESAHAN
Telah diseminarkan,
Coach, Mentor,
Narasumber,
iii
PRAKATA
iv
11. Keluarga Besar UPTD Puskesmas Bangetayu Kota Semarang;
12. Semua pihak yang membantu terselesaikannya karya tulis ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan rancangan Aktualisasi ini
masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis berharap kritik
dan saran yang membangun untuk perbaikan rancangan ini. Semoga
rancangan ini bermanfaat dan dapat penulis realisasikan seluruhnya
dengan baik.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL……………………………………….………….. I
HALAMAN PERSETUJUAN......................................................... ii
LEMBAR PENGESAHAN............................................................. iii
PRAKATA………………………………………................................ iv
DAFTAR ISI…………………………………..………....................... vi
DAFTAR GAMBAR………………………………………………….. viii
v
DAFTAR TABEL……………………………………………..……..... ix
BAB I PENDAHULUAN……………………………………...…...... 1
A. Latar Belakang………………...................................... 1
B. Identifikasi Isu 4
C. Dampak Jika Isu Tidak diselesaikan 8
D. Rumusan Masalah…………….... 8
[Link]..………………………………………………… 8
[Link]………………………………………………… 9
BAB II LANDASAN TEORI………………………………………… 10
[Link] dan Perilaku Bela Negara…………………….. 10
[Link] Dasar Pegawai Negeri Sipil……………………. 11
[Link] dan Peran PNS dalam NKRI…………... 27
BAB III PROFIL ORGANISASI……………………………………. 32
[Link] Organisasi…………………………………... 32
1. Dasar hukum pembentukan Organisasi…………. 32
2. Visi, Misi Dan Tujuan Organisasi………………….. 32
3. Struktur Organisa Dan Job Deskripsi……………… 34
4. Deskripsi SDM, Sarpras Dan Sumber Daya Lain 36
[Link] Jabatan Peserta Diklat………………………. 37
[Link] model……………………………………………. 37
BAB IV RANCANGAN KEGIATAN AKTUALISASI……………... 39
[Link] Rancangan Kegiatan Aktualisasi dan Keterkaitan
dengan Nilai ANEKA……................................. 40
[Link] Rencana Pelaksanaan Kegiatan Aktualisasi 53
[Link] dan Strategi Menghadapi Kendala…… 54
BAB V PENUTUP………………………………………… 56
DAFTAR PUSTAKA……………………………………… 57
DAFTAR RIWAYAT HIDUP……………………………… 58
vi
DAFTAR GAMBAR
vii
DAFTAR TABEL
viii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Aparatur Sipil Negara (ASN) terdiri dari Pegawai Negeri Sipil dan
pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang bekerja pada
instansi pemerintah dan diangkat oleh petugas pembina
kepegawaian serta digaji berdasarkan peraturan perundang-
undangan. Kondisi ideal tata perilaku ASN diatur dengan detail
dalam UU ASN No.5 th.2014 pasal 3 yaitu bertingkah laku sesuai
nilai dasar, berkode etik, komitmen, integritas, tanggung jawab
pada pelayan publik bagi masyarakat, berkompeten, professional
dalam bertugas, dan mampu menjalankan peran sebagai perekat
persatuan dan kesatuan bangsa berdasarkan Pancasila serta UUD
1945. ASN memiliki peranan yang penting menentukan dalam
mengelola kekayaan alam yang melimpah, potensi sumber daya
manusia, peluang pasar yang besar dan demokrasi yang stabil
secara efektif dan efisien. Sejumlah keputusan strategis mulai dari
merumuskan kebijakan sampai pada implementasi kebijakan dalam
berbagai sektor pembangunan dilaksanakan oleh PNS.
Untuk dapat membentuk sosok ASN yang mampu mengerti
tugas pokok dan fungsi yang sesuai kode etik, nilai dasar, dan kode
perilaku ASN yang diaktualisasikan kedalam tindakan sehari hari
maka perlu dilaks anakan pembinaan melalui jalur pendidikan dan
pelatihan (diklat). Dasar penyelenggaraan pelatihan dasar CPNS
adalah mengacu pada UU Nomor 5 tahun 2014 tentang Aparatur
Sipil Negara dan PP No. 11 tahun 2017 tentang manajemen ASN.
Tujuan dari diklat prajabatan ini yaitu untuk membangun integritas
moral, kejujuran, semangat dan motivasi nasionalisme dan
kebangsaan, karakter kepribadian yang unggul dan bertanggung
jawab dan memperkuat profesionalisme serta kompetensi bidang.
Menurut Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN),
nomor 12 tahun 2018 tentang pedoman penyelenggaraan diklat
latsar CPNS golongan III, dinyatakan untuk membentuk ASN
1
profesional dibutuhkan pembaharuan pola diklat. Untuk itu LAN
memadukan pembelajaran klasikal dan non-klasikal. Untuk
pembelajaran klasikal berfungsi untuk memperkuat nilai-nilai dasar
ASN, yaitu mengenai Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik,
Komitmen Mutu, dan Anti korupsi. Lima nilai dasar ini dikenal
dengan ANEKA. Sedangkan untuk pembelajaran non klasikal dapat
dilaksanakan di tempat pelatihan lain maupun di tempat kerja
sehingga memungkinkan peserta mampu menginternalisasi,
menerapkan, serta membuatnya menjadi kebiasaan (habituasi).
Program aktualisasi ditujukan untuk membentuk ASN yang
berkarakter yang sesuai dengan nilai nilai dasar ASN. Aktualisasi
dilaksanakan pada tiap unit kerja masing-masing dengan tahapan
pertama yaitu menyusun rancangan aktualisasi. Penulis akan
melakukan aktualisasi pada unit kerjanya yaitu Puskesmas
Bangetayu. Puskesmas Bangetayu adalah unit pelaksana teknis
Dinas Kesehatan Kota Semarang yang bertanggung jawab
menyelenggaraan pembangunan Kesehatan di wilayah kerja
sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan kota Semarang,
Puskesmas Bangetayu berperan menyelenggarakan sebagian dari
tugas teknis operasional Dinas Kesehatan Kota Semarang dan
merupakan unit pelaksana tingkat pertama dalam memberikan
pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Puskesmas berperan
menyelenggarakan upaya kesehatan untuk meningkatkan
kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap
penduduk agar memperoleh derajat kesehatan yang optimal.
Dengan demikian Puskesmas berfungsi sebagai pusat penggerak
pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan
keluarga dan masyarakat serta pusat pelayanan kesehatan strata
pertama.
Penyakit tidak menular (PTM) telah menjadi masalah besar di
masyarakat Indonesia. Penyakit tidak menular cenderung terus
meningkat secara global dan nasional telah menduduki sepuluh
besar penyakit penyebab kematian. Kasus terbanyak dari penyakit
2
tidak menular tersebut salah satunya adalah diabetes melitus (DM)
dan hipertensi.
Meningkatnya Penyakit Tidak Menular (PTM) tidak saja
berdampak pada meningkatnya morbiditas, mortalitas, dan
disabilitas di kalangan masyarakat, melainkan juga berdampak
pada meningkatnya beban ekonomi baik di tingkat individu maupun
di tingkat negara pada skala nasional. Sebab, PTM berakibat pada
63% atau 57 juta kematian di seluruh dunia setiap tahun. Total
biaya yang dikeluarkan untuk menanggulangi penyakit diabetes di
Amerika pada tahun 2007 mencapai 218 milyar dolar. Sementara
itu, World Economic Forum menyatakan bahwa total pengeluaran
dunia untuk mengatasi PTM adalah lebih dari US $ 30 triliun untuk
20 tahun ke depan.
Data dari puskesmas Bangetayu menunjukkan angka penyakit
tidak menular meningkat dari tahun 2017 hingga tahun 2018.
Penyakit hipertensi dan diabetes mellitus menjadi penyakit
terbanyak yang mendominasi pada sektor penyakit tidak menular di
wilayah kerja Puskesmas Bangetayu. Pada tahun 2017, jumlah
penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Bangetayu
mencapai 4165, sedangkan tahun 2018 mencapai 4464. Penderita
DM di wilayah kerja puskesmas Bangetayu mencapai 1641 jiwa
pada tahun 2017, sedangkan pada tahun 2018 mencapai 1793.
Prinsip pencegahan penyakit tidak menular dilakukan dengan
mengutamakan preventif, promotif melalui berbagai kegiatan
edukasi dan promotif-preventif, dengan tidak mengesampingkan
aspek kuratif-rehabilitatif melalui peningkatan jangkauan dan
kualitas pelayanan gizi dan kesehatan. Cara lain yang dapat
dilakukan yaitu dengan cara menggerakkan masyarakat untuk
melakukan aktivitas fisik dan menimbang berat badan secara
teratur. Puskesmas juga dapat melibatkan semua sektor, baik
Pemerintah maupun masyarakat, untuk secara nyata melakukan
sinergi dalam melakukan PTM.
Berdasarkan uraian tersebut, peserta berniat untuk mengambil
peningkatan kasus tidak menular dikarenakan jumlah dan
3
penanganan kasus tidak menular di puskesmas Bangetayu masih
belum optimal.
B. Identifikasi Isu
Rancangan aktualisasi ini disusun berdasarkan identifikasi
beberapa isu yang ditemukan penulis dalam melaksanakan tugas
sebagai Dokter Umum di instansi tempat kerja, yaitu di UPTD
Puskesmas Bangetayu, diantaranya:
Tabel 1.1 identifikasi isu
Sumber
Isu/Peran dan
Kondisi yang
No Identifikasi Isu Kedudukan Kondisi Saat Ini
Diharapkan
ASN Dalam
NKRI
4
Belum optimalnya Manajemen Belum optimalnya Diharapkan pasien
kerjasama lintas ASN kerjasama dalam dengan (Penyakit
program di UKP dengan penangan gizi pada Tidak Menular)
mendapatkan
poli gizi untuk melawan pasien dengan
penangan/ konseling
dan mencegah PTM di Penyakit Tidak gizi secara optimal.
3 wilayah lingkup UPTD Menular (PTM).
Puskesmas Bangetayu
Kota Semarang.
5
3. Kekhalayakan artinya isu tersebut menyangkut hajat hidup orang
banyak.
4. Layak artinya isu tersebut masuk akal, realistis, relevan, dan dapat
dimunculkan inisiatif pemecahan masalahnya.
Kurang maksimalnya
upaya promotif dan
preventif kepada penderita
Pelayanan
1 PTM/ dengan resiko PTM + + + + MS
Publik
di wilayah UPTD
Puskesmas Bangetayu
Kota Semarang.
Belum optimalnya
Manajemen kerjasama lintas program
ASN di UKP dengan poli gizi
untuk melawan dan
3 + + + - TMS
WoG (Whole mencegah PTM di wilayah
of lingkup UPTD Puskesmas
Government) Bangetayu Kota
Semarang.
Belum optimalnya
Posyandu remaja dalam
Pelayanan upaya pencegahan
5 penyakit tidak menular di + + + - MS
Publik wilayah UPTD
Puskesmas bangetayu
Kota Semarang.
6
Berdasarkan metode APKL dari tabel di atas diperoleh 3 (tiga)
isu yang memenuhi syarat yaitu: Kurang maksimalnya upaya
promotif dan preventif kepada penderita PTM/ dengan resiko PTM
di wilayah UPTD Puskesmas Bangetayu, Belum optimalnya
promosi kegiatan Posbindu di wilayah yang sudah terbentuk
Posbindu PTM di wilayah bangetayu Wetan UPTD Puskesmas
Bangetayu, dan Belum optimalnya Posyandu remaja dalam upaya
pencegahan penyakit tidak menular di wilayah UPTD Puskesmas
bangetayu. Beberapa isu tersebut kemudian dianalisis lagi dengan
menggunakan metode USG (Urgency, Seriousness, Growth)
dengan rentang penilaian 1-5.
1. Urgency yaitu seberapa mendesak suatu isu harus dibahas,
dianalisis dan ditindaklanjuti.
2. Seriousness yaitu seberapa serius suatu isu harus dibahas
yang dikaitkan dengan akibat yang ditimbulkan.
3. Growth didefinisikan sebagai seberapa besar memburuknya isu
tersebut jika tidak ditangani dengan segera.
Tabel 1.3 Indikator USG
7
Dari analisis USG yang telah dilakukan, isu yang terpilih atau
core issu adalah “Belum optimalnya kegiatan Posbindu di PTM di
wilayah UPTD Puskesmas Bangetayu” mendapat prioritas pertama
untuk diselesaikan dengan perolehan skor 14.
C. Dampak Jika Isu Tidak Diselesaikan
Dampak isu belum optimalnya kegiatan Posbindu PTM di
wilayah kelurahan bangetayu Wetan UPTD Puskesmas Bangetayu”
jika tidak dilakukan upaya peningkatan adalah:
1. Meningkatnya jumlah kasus resiko penyakit tidak menular di
UPTD Puskesmas Bangetayu
2. Kurang optimal dalam deteksi dini jumlah penyakit tidak
menular
3. Meningkatnya angka kecacatan karana komplikasi penyakit
tidak menular
4. meningkatnya angka kematian akibat penyakit tidak menular
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah pada rancangan
aktualisasi ini adalah
“Bagaimana menginternalisasi Nilai Dasar ASN Akuntabilitas,
Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, Anti Korupsi dalam
rangka Optimalisasi penangan penyakit tidak menular melalui
kegiatan posbindu di wilayah kecamatan genuk puskesmas
bangetayu sehingga dapet memberikan kontribusi visi misi dan nilai
organisasi?”
E. Tujuan
Untuk menginternalisasi Nilai Dasar ASN Akuntabilitas,
Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, Anti Korupsi dalam
rangka Optimalisasi penangan penyakit tidak menular melalui
kegiatan posbindu di wilayah kecamatan genuk puskesmas
bangetayu sehingga dapet memberikan kontribusi visi misi dan nilai
organisasi.
8
F. Manfaat
1. Manfaat
a. Bagi peserta latsar
1) Dapat menerapkan nilai-nilai dasar ASN pada saat
menjalankan tugas di Puskesmas Bangetayu
2) Dapat merubah pola pikir sehingga menjadi individu
yang lebih professional, berkomitmen, beretika dan
berintegritas.
3) Sebagai tempat belajar mengembang tugas dan
tanggung jawab sebagai abdi masyarakat
b. Manfaat bagi unit kerja
1) Terwujudnya visi, misi unit kerja
2) Semakin optimalnya Puskesmas Bangetayu dalam
BAB II
PROFIL ORGANISASI
9
A. IDENTITAS ORGANISASI
10
1) Tujuan Umum
Melaksanakan pelayanan, pembinaan dan
pengembangan upaya kesehatan secara paripurna
kepada masyarakat di wilayah kerjanya
2) Tujuan Khusus
a) Pelayanan upaya kesehatan, kesejahteraan ibu dan
anak, KB, perbaikan gizi, perawatan kesehatan
masyarakat, pencegahan dan pemberantasan
penyakit, upaya kesehatan institusi, olah raga,
pengobatan termasuk pelayanan darurat karena
kecelakaan, kesehatan gigi dan mulut, laboratorium
kesehatan lainnya dan pencatatan serta pelaporan
b) Pembinaan upaya kesehatan, peran serta masyarakat,
koordinasi semua upaya kesehatan, sarana pelayanan
kesehatan, pelaksanaan pelayanan rujukan medic dan
rujukan kesehatan, pemantauan sarana dan
pembinaan teknis kepada Pustu, sarana pelayanan
kesehatan lainnya dan kader pembangunan kesehatan
c) Pengembangan upaya kesehatan dalam hal
pembangunan kader dibidang kesehatan di wilayah
kerjanya dan pengembangan kegiatan swadaya
masyarakat
d) Pelaksanaan tugas lainnya yang diberikan oleh Kepala
Dinas Kesehatan
e. Sasaran
1) Melaksanakan dan mengembangkan upaya kesehatan
dalam rangka meningkatkan status kesehatan masyarakat.
2) Mengurangi penderita sakit
3) Membina masyarakat di wilayah kerja untuk berperan serta
aktif dan diharapkan mampu menolong diri sendiri dibidang
kesehatan
3. STRUKTUR ORGANISASI DAN JOB DESKRIPSI
a. Struktur organisasi
Sesuai dengan Peraturan Walikota Semarang No. 97 tahun
2016 tentang Pembentukan, Kedudukan, Susunan Organisasi,
Tugas Dan Fungsi, Serta Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis
Dinas Pusat Kesehatan Masyarakat Kota Semarang, susunan
11
organisasi UPTD Pusat Kesehatan Masyarakat adalah sebagai
berikut:
1) Susunan Organisasi UPTD Puskemas Bangetayu
terdiri dari :
a) Kepala
b) Sub Bagian Tata Usaha
c) Jabatan Fungsional.
2) Sub Bagian dipimpin oleh seorang Kepala Sub Bagian
yang berkedudukan dibawah dan bertanggung jawab
kepada Kepala UPTD.
3) Bagan organisasi UPTD Pusat Kesehatan Masyarakat
sebagaimana berikut :
12
STRUKTUR ORGANISASI PUSKESMAS BANGETAYU DINAS KESEHATAN KOTA SEMARANG TAHUN 2019
KEPALA PUSKESMAS
dr. SURYANTO SETYO PRIYADI
13
4. DESKRIPSI SDM, SARPRAS, DAN SUMBER DAYA LAIN
a. Keadaan Pegawai
Pegawai di UPTD Puskesmas Bangetayu berjumlah 59 orang
yang terdiri dari 31 orang PNS, 5 orang CPNS, dan 23 orang
pegawai non ASN.
b. Struktur Bangunan
UPTD Puskesmas Bangetayu memiliki 4 bangunan, yaitu :
c. Sarana/ peralatan
Peralatan medis Puskesmas Bangetayu sudah cukup
memadai, missal : tensimeter, timbangan tinggi badan/ berat
badan, stetoskop, penlight, pulse oxymeter, alat bedah minor,
ekg, peralatan pelayanan BP Umum, BP Gigi, BP Lansia ,
laboratorium , KB, KIA, cukup untuk dapat menunjang
pelayanan dan masih dalam keadaan baik, berfungsi dan
terpelihara.
14
B. TUGAS DAN JABATAN PESERTA DIKLAT
Peserta Diklat ditempatkan di UPTD Puskesmas Bangetayu,
sebagai Dokter Umum. Tugas Pokok dan fungsi melaksanakan
tugas pelayanan di Puskesmas Bangetayu antara lain :
1. Pelaksana tindakan khusus o/ dr. Umum Tk pertama ;
2. Melakukan tindakan khusus o/ dr. Umum tk sederhana;
3. Melakukan kunjungan atau visit pada pasien rawat inap;
4. Menguji kesehatan individu;
5. Melakukan pemeriksaan fisik tk. sederhana;
6. Melakukan pemeliharaan kesehatan anak;
7. Melakukan penyuluhan medik;
8. Melakukan pencatatan medik baik rawat jalan maupun rawat
inap;
Prof. Dr. dr. Nila Djuwita Faried Anfasa Moeloek, SpM (K). (lahir
di Jakarta, 11 April 1949; umur 69 tahun) adalah Menteri Kesehatan
Indonesia pada Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo. Ia juga seorang
ahli oftalmologi (ilmu penyakit mata) dan guru besar Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).
Nila Moeloek adalah putri pasangan perantau Minangkabau. Dia
menyelesaikan pendidikan sarjananya di Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Kemudian ia melanjutkan pendidikan spesialis
mata, serta mengikuti program sub-spesialis di International
Fellowship di Orbita Centre, University of Amsterdam, Belanda dan di
15
Kobe University, Jepang. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan
konsultan Onkologi Mata dan Program Doktor Pasca-Sarjana di FKUI.
Selain menjadi dokter di Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo Kirana, ia juga menjadi ketua umum Dharma Wanita
Persatuan Pusat (2004-2009), Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis
Mata (Perdami), dan Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI)
periode 2011-2016. Beliau juga sangat memikirkan perkembangan
kesehatan yang menyeluruh untuk seluruh masyarakat Indonesia.
Penulis berharap dapat mencontoh teladan yang diberikan oleh
Menteri Kesehatan Republik Indonesia tersebut dan menerapkan hal-
hal yang beliau lakukan sesuai dengan kapasitas dan peranan di
lingkungan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
16
BAB IV
RANCANGAN KEGIATAN AKTUALISASI
Identifikasi isu :
1. Kurang maksimalnya upaya promotif dan
preventif kepada penderita PTM/ dengan
resiko PTM di wilayah UPTD Puskesmas
Bangetayu Kota semarang
2. Minimnya peran serta kader untuk mengikuti
program Posbindu diwilayah UPTD
Puskesmas Bangetayu Kota Semarang.
3. Belum optimalnya kerjasama lintas program
di UKP dengan poli gizi untuk melawan dan
mencegah PTM di wilayah lingkup UPTD
Puskesmas Bangetayu Kota Semarang.
4. Belum optimalnya kegiatan Posbindu PTM di
wilayah bangetayu Wetan UPTD Puskesmas
Bangetayu Kota Semarang.
5. Belum optimalnya Posyandu remaja dalam
upaya pencegahan penyakit tidak menular di
wilayah UPTD Puskesmas bangetayu Kota
Semarang.
17
Tabel 4.1 Rancangan Gagasan : Optimalisasi kegiatan Posbindu PTM (penyakit Kegiatan Aktualisasi
di UPTD Puskesmas penyelesaian Tidak Menular) di wilayah bangetayu Wetan Bangetayu Kota
Semarang isu UPTD Puskesmas Bangetayu Kota Semarang.
:
1. Melakukan koordinasi dengan kader-kader
Kegiatan yang
untuk sosialisasi dan menjalankan kembali
akan dilakukan
kegiatan posbindu di kelurahan bangetayu
wetan.
2. Melakukan penyuluhan dengan memberikan
leaflet tentang Penyakit Tidak Menular
3. Melakukan Deteksi Dini dengan pengukuran
Tekan Darah, BB, TB, dan Pemeriksaan lab
dengan GDS stik.
4. Melakukan pelatihan atau refresing kader
posbindu tentang tugas dan peran masing –
masing kader dalam melaksanakan kegiatan
posbindu .
5. Membuat Group WA berkoordinasi dengan
kader- kader posbindu.
18
N Kegiatan Tahapan Output/hasil Keterkaitan Kontribusi Penguatan Dampak jika
o Kegiatan Kegiatan dengan terhadap Visi Nilai-Nilai kegiatan tidak
Materi Misi Organisasi Dilaksanakan
Organisasi
1 2 3 4 5 6 7 8
19
N Kegiatan Tahapan Output/hasil Keterkaitan Kontribusi Penguatan Dampak jika
o Kegiatan Kegiatan dengan terhadap Visi Nilai-Nilai kegiatan tidak
Materi Misi Organisasi Dilaksanakan
Organisasi
1 2 3 4 5 6 7 8
20
N Kegiatan Tahapan Output/hasil Keterkaitan Kontribusi Penguatan Dampak jika
o Kegiatan Kegiatan dengan terhadap Visi Nilai-Nilai kegiatan tidak
Materi Misi Organisasi Dilaksanakan
Organisasi
1 2 3 4 5 6 7 8
21
N Kegiatan Tahapan Output/hasil Keterkaitan Kontribusi Penguatan Dampak jika
o Kegiatan Kegiatan dengan terhadap Visi Nilai-Nilai kegiatan tidak
Materi Misi Organisasi Dilaksanakan
Organisasi
1 2 3 4 5 6 7 8
2. Mencetak 1. Tercetaknya .
leaflet leaflet yang Anti Korupsi
sudah ( jujur)
dikonsultasikan,
dalam mencetak
menggunakan
dana secara
jujur apa
adanya.
22
N Kegiatan Tahapan Output/hasil Keterkaitan Kontribusi Penguatan Dampak jika
o Kegiatan Kegiatan dengan terhadap Visi Nilai-Nilai kegiatan tidak
Materi Misi Organisasi Dilaksanakan
Organisasi
1 2 3 4 5 6 7 8
23
N Kegiatan Tahapan Output/hasil Keterkaitan Kontribusi Penguatan Dampak jika
o Kegiatan Kegiatan dengan terhadap Visi Nilai-Nilai kegiatan tidak
Materi Misi Organisasi Dilaksanakan
Organisasi
1 2 3 4 5 6 7 8
24
N Kegiatan Tahapan Output/hasil Keterkaitan Kontribusi Penguatan Dampak jika
o Kegiatan Kegiatan dengan terhadap Visi Nilai-Nilai kegiatan tidak
Materi Misi Organisasi Dilaksanakan
Organisasi
1 2 3 4 5 6 7 8
25
N Kegiatan Tahapan Output/hasil Keterkaitan Kontribusi Penguatan Dampak jika
o Kegiatan Kegiatan dengan terhadap Visi Nilai-Nilai kegiatan tidak
Materi Misi Organisasi Dilaksanakan
Organisasi
1 2 3 4 5 6 7 8
26
N Kegiatan Tahapan Output/hasil Keterkaitan Kontribusi Penguatan Dampak jika
o Kegiatan Kegiatan dengan terhadap Visi Nilai-Nilai kegiatan tidak
Materi Misi Organisasi Dilaksanakan
Organisasi
1 2 3 4 5 6 7 8
27
N Kegiatan Tahapan Output/hasil Keterkaitan Kontribusi Penguatan Dampak jika
o Kegiatan Kegiatan dengan terhadap Visi Nilai-Nilai kegiatan tidak
Materi Misi Organisasi Dilaksanakan
Organisasi
1 2 3 4 5 6 7 8
28
N Kegiatan Tahapan Output/hasil Keterkaitan Kontribusi Penguatan Dampak jika
o Kegiatan Kegiatan dengan terhadap Visi Nilai-Nilai kegiatan tidak
Materi Misi Organisasi Dilaksanakan
Organisasi
1 2 3 4 5 6 7 8
29
N Kegiatan Tahapan Output/hasil Keterkaitan Kontribusi Penguatan Dampak jika
o Kegiatan Kegiatan dengan terhadap Visi Nilai-Nilai kegiatan tidak
Materi Misi Organisasi Dilaksanakan
Organisasi
1 2 3 4 5 6 7 8
30
N Kegiatan Tahapan Output/hasil Keterkaitan Kontribusi Penguatan Dampak jika
o Kegiatan Kegiatan dengan terhadap Visi Nilai-Nilai kegiatan tidak
Materi Misi Organisasi Dilaksanakan
Organisasi
1 2 3 4 5 6 7 8
31
N Kegiatan Tahapan Output/hasil Keterkaitan Kontribusi Penguatan Dampak jika
o Kegiatan Kegiatan dengan terhadap Visi Nilai-Nilai kegiatan tidak
Materi Misi Organisasi Dilaksanakan
Organisasi
1 2 3 4 5 6 7 8
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10
12
13
14
15
11
32
Foto,
notulen,
Koordinasi
undanga
1. dengan kader-
ndan
kader
daftar
hadir
Foto,
Melakukan
Dislipidemi
undanga
Hipertensi
Jantung
penyuluhan
n, leaflet
SEMINAR HASIL
Foto,
Melakukan undanga
pengukuran n, daftar
3. Tekan Darah, hadir,
BB, TB, dan dan hasil
GDS pemeriks
aan
Foto,
Melakukan
materi,
pelatihan atau
4. dan
refresing kader
daftar
posbindu
hadir
Tangkapa
Membuat Group n layar
5.
WA group
whatsapp
33
kurang optimal. Oleh karena itu diperlukan antisipasi untuk menghadapi kendala-kendala tersebut, sehingga dampak
yang menghambat kegiatan tersebut dapat diminimalisir. Antisipasi dalam menghadapi kendala-kendala selama
aktualisasi dapat dijelaskan lebih lanjut pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.3 Antisipasi dan Strategi Menghadapi Kendala
Antisipasi dan Strategi
No Kegiatan Kendala
Menghadapi Kendala
Melakukan koordinasi dengan Beberapa kader tidak hadir dalam Mengunjungi rumah kader agar
kader-kader untuk sosialisasi dan undangan tersebut. tidak miss communication.
menjalankan kembali kegiatan
1
posbindu di kelurahan bangetayu
wetan.
Melakukan penyuluhan dengan Peserta tidak paham tentang materi Membuat rancangan penyuluhan
memberikan leaflet tentang yang di sampaikan. semenarik mungkin.
2
Penyakit Tidak Menular
Melakukan Deteksi Dini dengan Stik GDS kurang atau habis sehingga Mengedukasi untuk cek di
pengukuran Tekan Darah, BB, TB, peserta tidak mendapatkan puskesmas.
3 dan Pemeriksaan lab dengan gds pemeriksaan lab Menambah stik GDS
stik.
Melakukan pelatihan atau jumlah kader yang datang sedikit dan Melaksanakan kegiatan di hari
refresing kader posbindu tentang kader tidak paham materi pelatihan minggu dan membuat materi
tugas dan peran masing – masing dengan bahasa yang mudah
4
kader dalam melaksanakan dipahami.
kegiatan posbindu .
5 Membuat Group WA berkoordinasi Tidak semua kader memiliki Melakukan koordinasi dengan
34
dengan kader- kader posbindu. smartphone jaringan komunikasi lewat sms
35
BAB V
PENUTUP
36
DAFTAR PUSTAKA
37
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nomor HP 081225803647
Alamat Kantor Jl. Raya Bangetayu Genuk Semarang Telp (024)
6584353
Alamat e-mail lanaaries@[Link]
RIWAYAT PENDIDIKAN
38
Program Posyandu remaja berkontribusi dalam pencegahan penyakit tidak menular melalui kegiatan deteksi dini dan konseling kesehatan yang berfokus pada kelompok usia remaja, sehingga dapat menangkal faktor risiko sejak dini. Ini termasuk edukasi gaya hidup sehat yang penting dalam membangun kebiasaan baik pada remaja untuk menurunkan risiko PTM .
Pendekatan APKL digunakan untuk menilai apakah isu tersebut aktual, problematik, relevan untuk khalayak banyak, dan layak untuk dibahas lebih lanjut. Dalam kasus Puskesmas Bangetayu, hanya isu yang memenuhi keempat kriteria ini yang dianggap memenuhi syarat untuk ditindaklanjuti, sehingga memprioritaskan tindakan yang lebih terfokus dan efektif .
Melakukan deteksi dini melalui pengukuran tekanan darah, berat badan, dan tes laboratorium membantu dalam mengidentifikasi individu dengan risiko tinggi penyakit tidak menular lebih awal, sehingga memungkinkan intervensi tepat waktu dan upaya pencegahan yang lebih efektif .
Puskesmas dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam program Posbindu dengan melakukan sosialisasi yang efektif, melatih dan memberdayakan kader kesehatan, serta menyediakan fasilitas dan dukungan agar kegiatan posbindu dapat berjalan dengan baik. Studi kasus dari Puskesmas Bangetayu menunjukkan bahwa koordinasi dengan kader dan penyediaan informasi melalui sosialisasi dapat meningkatkan antusiasme masyarakat .
Pelatihan kader posbindu dapat mengoptimalkan kegiatan deteksi dini PTM dengan mempersiapkan kader dalam tugas dan peran mereka, memberikan pengetahuan dan alat yang mereka butuhkan untuk mendeteksi risiko PTM secara efektif. Ini memastikan bahwa mereka mampu menjalankan tugas secara mandiri dan tepat sasaran, yang membuat kegiatan posbindu lebih efektif .
Kegiatan promotif dan preventif lebih diutamakan karena bertujuan untuk mengurangi kejadian penyakit sebelum muncul dan menurunkan beban layanan kesehatan dengan mencegah penyakit dari awal. Ini merupakan pendekatan yang lebih berkelanjutan dan cost-effective. Studi di Puskesmas Bangetayu menunjukkan bahwa pendekatan ini kurang maksimal diterapkan saat ini, sehingga menjadi fokus pengembangan .
Dampak dari tidak optimalnya kegiatan Posbindu PTM di wilayah UPTD Puskesmas Bangetayu antara lain meningkatnya jumlah kasus risiko penyakit tidak menular, kurang optimalnya deteksi dini penyakit tidak menular, meningkatnya angka kecacatan akibat komplikasi penyakit tidak menular, serta meningkatnya angka kematian akibat penyakit tidak menular .
Indikator yang digunakan dalam metode USG untuk menetapkan prioritas isu adalah Urgency (mendesaknya isu untuk dibahas), Seriousness (keseriusan isu terkait akibatnya), dan Growth (potensi memburuknya isu jika tidak segera ditangani). Isu dengan skor total tertinggi akan diprioritaskan untuk diselesaikan .
Tujuan internalisasi Nilai Dasar ASN adalah untuk meningkatkan akuntabilitas, nasionalisme, etika publik, komitmen mutu, serta mencegah korupsi dalam rangka optimalisasi penanganan penyakit tidak menular. Hal ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap visi misi organisasi serta meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Puskesmas Bangetayu .
Koordinasi lintas program penting dilakukan untuk memastikan bahwa berbagai aspek penanganan PTM dapat dijalankan secara efektif dan komprehensif. Tanpa kerjasama optimal antara program seperti UKP dan poli gizi, upaya pencegahan dan penanganannya dapat terhambat, yang berpotensi menyebabkan tingginya angka kasus PTM .